Pupuk Organik Rev.

1.

PUPUK DAN PEMUPUKAN
Definisi Pupuk Secara Umum:
Bahan yang diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak langsung, guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya, sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman. Pemupukan: Pemberian pupuk kepada tanaman ataupun kepada tanah dan substrat lainnya (Finck, 1982). Tujuan Pemupukan : Memperoleh produksi yng tinggi dan bernilai dengan memperbaiki penyediaan hara sambil mempertahankan/memperbaiki kesuburan tanah tanpa merusak lingkungan.

2. Klasifikasi Pupuk

2.1 Berdasarkan Asal 1. Pupuk Alam: terbentuk di alam dan dipakai tanpa atau dengan sedikit diproses. Contoh: pupuk kandang, pupuk hijau, gambut, serasah, lumpur tinja, abu, kapur, batuan fosfat, dll.
2. Pupuk Buatan atau Pupuk Pabrik: diproduksi oleh teknologi khusus di pabrik, melalui perubahan-perubahan kimia dari pupuk alam atau pun dari bahan dasar sederhana seperti dalam pembentukan pupuk N.

2.2 Berdasarkan Sumber
1. Pupuk Limbah Pertanian (farm manure): berasal dari usahatani seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan sisa hasil pertanian lainnya serta bahan lain dari lahan usahanya. 2. Pupuk Dagang (commercial fertilizers): pupuk yang diperoleh melalui jalur perdagangan.

2.3 Berdasarkan Sifat Kerja 1. Pupuk Langsung: pupuk yang mengandung unsur hara tanaman; pengaruhnya langsung kepada tanaman, seperti pupuk N, P, K, dll., juga pupuk cair. 2. Pupuk Tidak Langsung: pengaruh utama adalah terhadap tanah, tetapi juga mengandung unsur hara seperti: kapur, bahan organik.

2.4. Berdasarkan Kecepatan Kerja 1. Pupuk yang kerja cepat (fast acting): pengaruhnya cepat terlihat: contoh pupuk N, pupuk K, dan pupuk yang larut dalam air. 2. Pupuk yang kerja lambat (slow acting): pupuk yang efektif hanya setelah terjadi perubahan dalam tanah relatif banyak, contoh triple superfosfat.

2.5. Menurut Tipe Senyawa Kimia
1. Pupuk Organik: pupuk yang berasal dari senyawa organik, bagian terbesar tersusun dari C, H, O, N, P, dan S, serta unsur ikutan baik makro maupun mikro. 2. Pupuk anorganik atau pupuk mineral: pupuk yang tersusun dari senyawa anorganik yang mengandung satu atau lebih senyawa anorganik; berupa garam, oksida dan lain-lain; urea adalah senyawa organik tetapi di dalam tanah akan segera diubah menjadi senyawa anorganik melalui proses amonifikasi.

2.6 Menurut Undang-undang Pupuk (Fertilizers Law) 1977

1. Pupuk mineral hara-tunggal: (mineral OneNutrient Fertilizer); 2. Pupuk Mineral Hara-Majemuk (Mineral Multiple Nutrient Fertilizer; 3. Pupuk Organik dan Organik-Mineral; 4. Pupuk Mengandung Hara Mikro.

2.7 Menurut Pandangan Agrokimia
A. Pupuk Mineral a. Pupuk Mineral yang menyediakan unsur hara 1. Pupuk Makro - pupuk tunggal (satu-hara, one nutrient) - pupuk dwi-hara (dua-hara, two-nutrient) - pupuk tiga-hara dan pupuk majemuk lainnya. 2. Pupuk Mikro - pupuk mikro tunggal - pupuk mikro dengan lebih dari satu unsur mikro 3. Pupuk Gabungan Hara Makro Mikro 4. Pupuk Mineral lain yang mengandung zat-zat yang penting bagi tanaman, hewan dan manusia

B. Pupuk Organik
Berdasarkan USDA, 1977 pupuk organik dibagi ke dalam: a. Pupuk organik dari usahatani (Farm Manure). b. Pupuk dagang organik (Commercial Organic Fertilizer) c. Pupuk dagang organik-mineral d. Pupuk active agent dll. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian R.I. No. 58/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah, pupuk organik dibagi ke dalam PO padat Granul/pelet, PO padat Curah/Remah, dan PO Cair/Pasta,

3. Problema Dasar Dari Pemupukan
Makin tinggi tingkat produksi makin banyak unsur hara yang diperlukan tanaman. Konsekuensi dari penggunaan HYV (high yielding variety) adalah dibutuhkannya pupuk yang lebih banyak daripada yang berproduksi rendah. HYV merupakan ciri dari pertanian intensif yaitu sistem pertanian dengan mengandalkan produksi yang tinggi tiap satuan luas tanah.

3.1. Aspek Efisiensi Dan Penghematan Pupuk a. Jenis pupuk yang digunakan harus dengan kebutuhan; untuk ini diagnosis harus baik. b. Perimbangan hara c. Dosis, cara dan waktu pemupukan benar. d. Harga pupuk makin mahal karena energi dan bahan baku semakin tinggi. sesuai pupuk

harus
biaya

3.2. Masalah-masalah Teknis Di Lapangan
a. Pengetahuan dan kemampuan petani yang rendah di negara berkembang. b. Perubahan kebutuhan tanaman karena penggunaan HYV; perlu penyesuaian dosis pupuk; c. Biaya tenaga manusia makin mahal dan juga kurang efektif; d. Hadirnya pupuk baru di pasar dalam bentuk baru.

4. Produksi Maksimum Dan Pemupukan
Produksi “maksimum” tidak sama dengan produksi yang mungkin dicapai oleh suatu varietas atau biasa disebut potensi genetik varietas. Potensi ini adalah produksi maksimum dari varietas yang dicapai pada keadaan dimana semua unsur terdapat dalam keadaan cukup dan berimbang serta bebas dari faktor pembatas lainnya.

5. PUPUK ORGANIK
Pupuk organik (PO) adalah pupuk yg berasal dari sisa tanaman dan/atau kotoran hewan yg telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dan dpt diperkaya dengan bahan mineral alami dan/atau mikroba yg bermanfaat memperkaya hara, bahan organik tanah, dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. • PO merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami dpd bahan pembenah buatan/sintetis. • Umumnya PO mengandung hara makro N, P, dan K yang rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah yg cukup dan sangat diperlukan oleh pertumbuhan tanaman. • Sebagai pembenah tanah, PO meningkatkan efektivitas dan efiesiensi pemupukan anorganik karena dapat menyangga hara terhadap pencucian. • PO dapat mencegah terjadinya erosi karena mempertinggi infiltrasi, pengerakan permukaan tanah (crusting) dan retakan tanah, mempertahankan kelembaban tanah dan memperbaiki drainase dalam tubuh tanah.

5.1. Sumber Pupuk Organik
Sumber pupuk organik sangat melimpah di alam, namun penanganannya/pengelolaannya masih terbatas dan pabrikasinya masih terbatas. Sumber pupuk organik tersebut adalah: Sisa tanaman/Limbah pertanian (jerami, sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, belotong, batang jagung, dan bahan hijauan lain). Pupuk kandang (kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, itik, babi). Pupuk hijau (polong-polongan). Kompos Azolla, Blue Green Algae (BGA) Limbah agroindustri. Limbah perkotaan, termasuk limbah rumah tangga.

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7.

Tabel 1. Sumber Bahan Organik yang Umum Dimanfaatkan sebagai Pupuk
Pertanian

Limbah dan residu Jerami dan sekam padi, gulma, daun, batang
dan tongkol jagung, semua bagian vegetasi tanaman, batang pisang, sabut kelapa.

Limbah dan residu Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, tepung tulang, cairan proses ternak
biogas. Gliriside, terrano, mukuna, turi, lamtoro, Pupuk hijau centrosema, albisia. Azola, ganggang biru, rumput laut, enceng Tanaman air gondok, gulma air lainnya. Penambat nitrogen Mikroorganisme, Mikoriza, Rhizobium Biogas. Industri

Limbah padat

Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, kelapa sawit, pengalengan makanan, pemotongan hewan. Alkohol, kertas, bumbu masak (MSG), kelapa sawit (POME). Tinja, Kencing, dapur, kota, dan permukiman.

Limbah Cair
Limbah Sampah Rumah Tangga

Tabel 2. Kandungan Hara Pupuk Organik yang Umum Digunakan (%) Jenis Pupuk Organik Kerbau Sapi Kuda Ayam Guano Tinja Kompos Azola Jerami padi Kopra Limbah tapioca Daun lamtoro Blotong Limbah tahu Darah ternak kering Nitrogen (%) 0,6-0,7 0,5-1,6 1,5-1,7 1,0-2,1 0,5-0,6 3,0-3,2 0,5-0,7 3,0-4,0 0,8 2,1-4,2 0,9 2,0-4,3 0,2 4,2 10,0-12,0 Fosfor (%) 2,0-2,5 2,4-2,9 3,6-3,9 8,9-10,0 23,5-31,6 3,2-3,4 1,7-3,1 1,0-1,5 0,2 0,2-0,4 4,0 1,0-1,5 Kalium (%) 0,4 0,5 4,0 0,4 0,2 0,7 0,3-0,5 2,0-3,0 1,3-4,0 1,5 -

5.2. Karakteristik Umum Pupuk Organik
1. Kandungan unsur hara rendah dan sangat bervariasi. 2. Penyediaan hara terjadi secara lambat 3. Penyediaan hara dalam jumlah terbatas.

5.3. Keuntungan Memanfaatkan Pupuk Organik
1. Mempengaruhi sifat fisik tanah (konsistensi gembur, struktur remah, aerasi baik, kapasitas memegang air bertambah) 2. Mempengaruhi sifat kimia tanah (KTK dan hara meningkat, menyangga kation-kation dan pelapukan bahan mineral) 3. Mempengaruhi sifat biologi tanah (penyediaan energi bagi aktivitas organisme tanah, seperti fungi, bakteri, mikroflora dan mikrofauna tanah) 4. Mempengaruhi sifat kondisi sosial (Sanitasi dan Daur ulang limbah kotoran kota atau pemukiman, membuka lapangan kerja baru dalam penanganan sampah organik sebagai sumber pupuk organik).

5.4.Kelemahan Penggunaan Pupuk Organik
1. Diperlukan dalam jumlah yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dari suatu pertanaman. 2. Hara yang dikandung untuk bahan yang sejenis sangat bervariasi. 3. Bersifat voluminus/memakan tempat, baik dalam pengangkutan dan penggunaannya di lapangan. 4. Kemungkinan akan menimbulkan kekahatan unsur hara apabila bahan organik yang diberikan belum cukup matang, 5. Bila proses pembuatan pupuk organik tidak baik, maka limbah cair dan komponen padat yang berasal dari limbah perkotaan dan bahan organik lainnya mempunyai potensi tinggi dalam meracuni bagi kesehatan manusia. 6. Kemungkinan membawa bibit penyakit yang mempengaruhi tanaman, ternak maupun manusia

Panduan Membuat Campuran Pupuk Organik (PO) dari Bahan Organik (BO) Sbg Sumber Pupuk Organik (SPO): 1. BO yang lazim digunakan telah memenuhi syarat (SPO) dan diketahui komposisi Hara Utama N, P dan K atau unsur hara lainnya berdasarkan analisis laboratorium. 2. Sesuai dengan formula (perbandingan bobot) yg diinginkan dicampur merata dengan peralatan yang dpt mencampurkan secara homogen BO tsb. 3. Campuran ini telah siap sebagai pupuk organik curah.
Sebagai contoh, kombinasi yang dapat dibuat adalah: daun lamtoro, pupuk kandang (sapi dan ayam), guano dan azolla. Presentase kandungan NPK adalah sebagai berikut:

Bahan Daun lamroto Kotoran sapi Kotoran ayam Guano Azola
Total

Nitrogen (%) 4,0 0,5 1,0 0,5 3,5
9,5%

Fosfor (%) 0,3 2,5 9,5 27,5 1,2
41,0%

Kalium (%) 2,5 0,5 0,3 0,2 2,5
6,0%

Setiap 500 kg bahan campuran mengandung NPK sebesar: 9,5 kg N; 41,0 kg P; dan 6,0 kg K≈ 1,9 kg N, 8,2 kg P dan 1,2 kg K per 100 kg campuran
Bahan Tinja Azolla Guano Kotoran kuda Darah kering Daun lamroto Total Nitrogen (%) 3,0 3,5 0,5 1,5 11,0 4,0 23,5% (23,5 kg/600 kg Campuran) Fosfor (%) 3,0 1,2 27,5 3,5 1,2 0,3 36,7% (36,7 kg/600 kg Campuran) Kalium (%) 0,7 2,5 0,2 4,0 0,1 2,5 10,0% (10 kg/600 kg Campuran)

Tabel 3. Komposisi pupuk kandang yang berasal dari berbagai jenis ternak
Jenis ternak Sapi I II III Domba I II III Kotoran Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Padat Cair Bahan organik (%) 14,5 3,5 15,5 4,5 31,4 8,3 33,1 9,3 15,2 2,8 17,0 1,5 21,0 7,1 21,0 8,0 12,7 N (%) 0,32 0,50 0,59 0,38 1,67 0,65 1,40 0,70 1,47 3,75 0,56 0,30 0,59 0,38 3,75 0,55 1,20 0,47 1,29 2,29 0,26 0,62 P (%) 0,11 0,01 0,08 0,004 0,48 0,22 0,01 0,22 0,02 0,82 0,17 0,05 0,20 0,04 0,82 0,13 0,004 0,13 0,004 0,55 0,08 tt K (%) 0,12 0,54 0,15 1,12 0,46 0,12 0,54 0,24 1,63 1,04 0,37 0,79 0,36 0,82 1,04 0,20 1,25 0,25 1,15 1,15 0,14 1,34 Ca (%) 0,26 0,007 0,33 0,11 0,06 0,12 0,32 0,33 -

Babi

I
II III

Kuda

I II III

Kerbau I

6. Aplikasi Pupuk Organik - Biasa diberikan sebelum atau pada saat pengolahan tanah sebelum benih atau bibit ditanam. - Diberikan dengan cara disebar merata di permukaan tanah kemudian tanah dibajak dan digaru. - Pemberian pupuk organik dapat juga diberikan dengan cara membenamkan diantara tanaman sejajar dengan baris tanaman atau dapat pada lubang tanaman. - Untuk pupuk organik cair diberikan dengan cara disemprotkan melalui daun tanaman. Apabila dalam jumlah banyak dapat diberikan bersama-sama air irigasi. 7. Takaran/Dosis Pupuk Organik yang Digunakan - Bervariasi, tergantung : Jenis tanaman, tanah, musim, dan jenis pupuk organik.

Tabel 4. Rekomendasi Penggunaan Pupuk Kandang untuk Tanaman Tertentu

Jenis Tanaman Padi (pertanaman I) Padi (pertanaman II) Jagung Kedelai Tebu (pertanaman I) Tebu (raton)

Pupuk Kandang (ton/ha 20 - 30 15 - 20 20 - 25 20 - 30 40 - 60 60 - 90

Cuplikan Peraturan Menteri No. 28/Permentan/SR. 130/5/2009 Pertanian Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah 1. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan/atau kotoran hewan yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dan dapat diperkaya dengan bahan mineral alami dan/atau mikroba yang bermanfaat memperkaya hara, bahan organik tanah, dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. 2. Pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah. 3. Pembenah tanah adalah bahan-bahan sintetis atau alami, organik atau mineral berbentuk padat dan cair yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. 4. Formula pupuk organik adalah komposisi bahan-bahan organik dan mineral alami penyusun pupuk organik.

5. Formula pupuk hayati adalah komposisi mikroba/mikrofauna dan bahan pembawa penyusun pupuk hayati. 6. Formula pembenah tanah adalah komposisi mineral alami dan/atau bahan sintetis/organik penyusun pembenah. 7. Rekayasa formula pupuk organik adalah serangkai kegiatan rekayasa, baik secara kimiawi, fisik, dan/atau biologis untuk menghasilkan formula pupuk organik. 8. Rekayasa formula pupuk hayatai adalah serangkai kegiatan rekayasa pupuk hayati, baik secara kimiawi, fisik, dan/atau biologis untuk menghasilkan formula pupuk hayati. 9. Rekayasa formula pembenah tanah adalah serangkai kegiatan rekayasa pembenah tanah, baik secara kimiawi, fisik, dan/atau biologis untuk menghasilkan formula pembenah tanah.

PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PUPUK ORGANIK

Persyaratan
No Parameter Satuan Granul /pelet Diperkaya Murni mikroba
>12 15 - 25 <2 4 – 15*) >12 15 - 25

Remah/Curah Cair/Pasta
≥4

Murni
≥12 15 - 25

Diperkaya mikroba
≥12 15 - 25 <2 15 - 25*)

1 2 3 4 5

C-Organik C/N rasio Bahan ikutan Kadar air Kadar logam berat - As - Hg - Pb - Cd pH Kadar total ‐N ‐ P2O5 ‐ K2O Mikroba Kont. E.Coli,Salmonella Sp. Mikroba fungsional Ukuran butiran Kadar unsur mikro ‐ Fe total ‐ Mn ‐ Cu ‐ Zn ‐B ‐ Co ‐ Mo

%

%
%

<2
10 - 20*)

<2
-

<2
15 - 25*)

ppm ppm ppm ppm

6 7

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 4-8
< 6*** < 6** < 6** < 101

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 4-8
< 6*** < 6** < 6** < 102

≤ 2,5 ≤ 0,25 ≤ 12,5 ≤ 2,5 4-8
<2 <2 <2 < 102

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 4-8
< 6*** < 6** < 6** < 102

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 4-8
< 6*** < 6** < 6** < 102

8

% % % cfu/g; cfu/ml cfu/g; cfu/ml mm ppm

9

-

< 103

-

-

< 103

10
11

2–5 (min 80%)
min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10

2–5 (min 80%)
min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10

-

-

-

min 0, maks 800 min 0, maks 1000 min 0, maks 1000 min 0, maks 1000 min 0, maks 500 min 0, maks 5 min 0, maks 1

min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10

min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10

Keterangan Tambahan Pupuk Organik di atas: *) Kadar air berdasarkan bobot asal **) Bahan‐bahan tertentu yang berasal dari bahan organik alami diperbolehkan mengandung kadar P2O5 dan K2O > 6% (dibuktikan dengan hasil laboratorium) ***) N‐total=N‐Organik+N‐NH4+N–NO3;Nkjeldahl=N‐Organik+N‐NH4;C/N,N=N‐total

Persyaratan Teknis Minimal Pembenah Tanah Organik
No
1

Kriteria

Satuan % %

2

5

C‐Organik Kadar Air pH C/N rasio Bahan ikutan (plastik, kaca, kerikil, endapan) Logam berat : ‐ As ‐ Hg ‐ Pb ‐ Cd Kontaminan ‐ E. coli ‐ Salmonela Sp.

Granul ≥7,0 7 ‐ 15 4‐8 8 ‐ 15 <2

Persyaratan Cair Remah ≥3,0 ≥7,0 ‐ 4‐8 <2 7 ‐ 15 4‐8 ‐ 8 ‐ 15 <2

%

ppm ppm ppm ppm cfu/g; cfu/ml cfu/g; cfu/ml

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 < 102 < 102

≤ 2,5 ≤ 0,25 ≤ 12,5 ≤ 2,5 < 102 < 102

≤ 10 ≤1 ≤ 50 ≤ 10 < 102 < 102

PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PEMBENAH TANAH NON-ORGANIK

No
1 2 3 4 5

Kriteria
Bahan aktif (sintetis)* Kadar Air KTK zeolit** pH Logam berat : ‐ As ‐ Hg ‐ Pb ‐ Cd

Satuan
% % cmol/kg % ppm ppm ppm ppm

Persyaratan Granul dicantumkan 2 ‐ 10 Sesuai SNI*** 4‐8 ≤10 ≤1 ≤50 ≤10 Cair dicantumkan ‐ 4‐8 ≤2,5 ≤0,25 ≤12,5 ≤2,5

Keterangan : *) Khusus untuk bahan yang direkayasa kimia **) Pengukuran KTK zeolit sesuai SNI Nomor 13‐3494‐1994 ***) Syarat mutu zeolit mengacu pada SNI Nomor 13‐7168‐2006

PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PUPUK HAYATI
A. KRITERIA PUPUK HAYATI TUNGGAL a. Bakteri Pembentuk Bintil Akar

PARAMETER Total sel hidup*) bakteri : ‐ Sinorhizobium ‐ Bradyrhizobium ‐ Azorhizobium dan lainnya Kontaminan E.coli dan Salmonella sp. Kadar air (%) pH

SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS KARIER TEPUNG/ GRANUL/ CAIR SERBUK PELET ≥ 107 cfu/g (BK) ≥107 cfu/g (BK) ≥107 cfu/ml

METODE PENGUJIAN TPC di medium YEMA

Nol pada pengenceran 10-3 ≤ 35 5–8 ≤ 20 5‐8 ‐ 3‐8

MPN ‐ Durham ADBB pH ‐ meter

Keterangan : *) Sesuai jenis bakteri yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)

b. Endomikoriza Arbuskular

PARAMETER

SYARAT TEKNIS

METODE PENGUJIAN

Total propagul/g*) Mikoriza Arbuskular (MA) : ‐ Gigaspora margarita ‐ Glomus manihotis ‐ Glomus agregatum

≥ 50 per g (BK) MPN 25 – 30 spora per g Stereomikroskop (BK) ≥ 50 spora per g (BK) ≥ 10 spora per g (BK)

Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.

Nol pada pengenceran MPN ‐ Durham 10‐3

Keterangan : *) Propagul terdiri dari spora, akar terinfeksi, fragmen miselia Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk) BK = Berat kering MPN = Most Propable Number

c. Ektomikoriza PARAMETER SYARAT TEKNIS METODE PENGUJIAN Stereomikroskop

Kepadatan spora*) 5% dari berat bahan Mikoriza Arbuskular (MA) : pembawa ‐ Sceloderma columnnare ‐ Pisholitus tintorius

Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.

Nol pada pengenceran MPN ‐ Durham 10-3

Keterangan : *) Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)

d. Bakteri Non Simbiotik
SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA METODE TEPUNG/SERB PENGUJIAN GRANUL/PELET CAIR UK ≥ 107 cfu/g (BK) ≥ 106 cfu/g (BK) ≥ 107 cfu/ml TPC NA ≥ 106 cfu/g (BK) ≥ 105 cfu/g (BK) ≥ 105 cfu/ml TPC – SCNA ≥ 105 propagul/g ≥ 104 propagul/g ≥ 105 propagul/ml PDA (BK) (BK)

PARAMETER

Total sel hidup*) ‐ Bakteri ‐ Aktinomiset ‐ Fungi Mikroba : ‐ Azospirillum ‐ Azotobacter ‐ Bacillus ‐ Pseudomonas ‐ Streptomyces ‐ Aspergillus Patogenisitas

Negatif

Keterangan : *) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)

Kontaminan E.coli dan Salmonella sp. Kadar air (%) pH

Nol pada pengenceran 10-3
≤ 35 5–8 ≤ 20 5‐8 3‐8

Infeksi ke daun tembakau MPN ‐ Durham ADBB pH ‐ meter

B. KRITERIA PUPUK HAYATI MAJEMUK
PARAMETER Total sel hidup*) ‐ Bakteri ‐ Aktinomiset ‐ Fungi Mikroba : ‐ Rhizobium+Bacillus ‐ Azotobacter + - Rhizobium + - Streptomyces + - Penicillium Kadar @ Pb, Cd, Hg, As*) Patogenisitas Kontaminan E.coli dan Salmonella sp. Kadar air (%) pH SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA METODE TEPUNG/SERBU GRANUL/PELET CAIR PENGUJIAN K ≥ 105 cfu/g (BK) 105 cfu/g (BK) ≥ 105 cfu/ml TPC NA ≥ 104 cfu/g (BK) ≥ 104 cfu/g (BK) ≥ 104 cfu/ml TPC – SCNA 4 propagul/g 4 propagul/g 4 propagul/ml ≥ 10 ≥ 10 ≥ 10 PDA (BK) (BK)

≤ 50, ≤ 10, ≤ 1, ≤ 10 ppm
Negatif Nol pada pengenceran 10‐3 ≤ 35 5–8 ≤ 20 5‐8 3‐8

SNI, Balit Tanah
Infeksi ke daun tembakau MPN ‐ Durham ADBB pH ‐ meter

Keterangan : *) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)

PERSYARATAN KHUSUS PUPUK HAYATI (Menurut Fungsi Pupuk Hayati)

NO

. FUNGSI

PARAMETER UJI

KRITERIA

METODE PENGUJIAN

1

Penambat N2 a.Simbiotik

- erbentuknya lendir eksopolisakharida pada medium karbohidrat ‐ Pembentukan bintil akar

b. Hidup bebas

2

Pelarut P dan Fasilitator P

Pembentukan pelikel/ gelang pada medium Jnfb ‐ Zona pelarutan P

- Positif Bereaksi asam/basa - Plating pada medium YEMA +congored./BTB ‐ Inokulasi ‐ Positif tanaman siratro Pembentukan bintil akar pada siratro Positif Medium jnfb

‐ Positif Membentuk Zona terang pada Agar Pikovskaya ‐ Pelarutan P ‐ Positif ≥ 10%, selisih P tersedia pada 0 – 48 jam -Persen infeksi/kolonisasi tanaman ‐ Positif inang ≥ 50%

‐ Plating

‐Spektrofotometer

‐ Pewarnaan fuchsin

3 Pemacu Tumbuh

Produksi hormon

Positif

Spektrofotometer

4 5

6

Penghasil anti Terbentuknya zona - Positif mikroba hambatan Perombak Bahan ‐ Aktivitas Selulase ‐ Positif Organik • Terbentuknya terang pada media agar CMC • ≥ 0,3 unit Fp‐ase/ml ‐ Aktivitas ‐ Positif Ligninase • Terbentuk koloni merah pada media agar Indulin • ≥ 1,0 unit lakase/ml, atau ≥ 0,05 unit mangan peroksidase/ml, atau ≥ 0,01 unit lignin peroksidase/ml Pengakumulasi ‐ Akumulasi Pb ‐ Positif logam berat dalam sel Sel bakteri menjadi berwarna hitam ‐ Penurunan ‐ Positif kandungan logam berat

- Plating ‐ Plating

‐Spektrofotometer ‐ Plating

‐Spektrofotometer

‐ Plating

‐ AAS

• Terima kasih • Sampai jumpa lagi !

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful