Sosiologi Ekonomi

• Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertuukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani “oikos” yang berarti “keluarga, rumah tangga" dan “nomos”, atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." • Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemenuhan kebutuhan manusia jumlahnya terbatas.

Konsep Sosiologi Ekonomi
Sosiologi ekonomi adalah studi tentang bagaimana cara orang atau masyarakat memenuhi kebutuhannya atas jasa dan barang langka dengan menggunakan pendekatan sosiologi. Dari pengertian ini, maka sosiologiekonomi berkaitan dengan fenomena ekonomi dan pendekatan sosiologis. Yang dimaksud dengan fenomena ekonomi adalah gejala bagaimana cara orang/masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya atas barang dan jasa. Yakni semua aktivitas orang dan masyarakat yang berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang dan jasa. Lebih rinci Swedberg menuliskan fenomena ekonomi terdiri dari: konsumsi dan produksi, produktivitas dan inovasi teknologi, pasar, kontrak, uang, tabungan, organisasi ekonomi, ekonomi internasional, ekonomi dan masyarakat luas, dampak faktor gender dan etnik terhadap ekonomi, kekuatan ekonomi, dan ideologi ekonomi.

Dalam pandangan sosiologi, ekonomi merupakan bagian integral dari masyarakat. Sedangkan (studi) ekonomi hanya menitikberatkan pada perhatiannya pada pasar dan ekonomi, sedangkan masyarakat dipandang sebagai ‗outsider‘. Oleh karena itu Weber menetapkan tiga unsur ekonomi yang berbeda dari sosiologi-ekonomi, yaitu: • Tindakan ekonomi adalah sosial. • Tindakan ekonomi selalu mengandung makna. • Tindakan ekonomi selalu memperhatikan kekuasaan. Tindakan ekonomi itu sendiri adalah setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik dan paling menguntungkan. misalnya: Ibu memasak dengan kayu bakar karena harga minyak tanah sangat mahal. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu : • Tindakan ekonomi Rasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan dan kenyataannya demikian. • Tindakan ekonomi Irasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian.

Seiring dengan itu, sosiologi ekonomi memusatkan perhatiannya pada tiga hal: 1. Analisis sosiologis terhadap proses ekonomi, misalnya dalam proses pembentukan harga oleh para pelaku ekonomi. Secara alamiah harga ditentukan oleh peran mekanisme pasar melalui keseimbangan antara pemintaan dan penawaran di pasar. Pada tataran tertentu intervensi pemerintah dibutuhkan untuk menjaga stabilitas harga, yaitu ketika terganggu tindakan distortif oleh para pelaku ekonomi yang sengaja ingin mengacaukan harga pasar. 2. Analisis hubungan dan interaksi antara ekonomi dan instansi lain dari masyarakat, misalnya hubungan antara ekonomi dengan agama. Contoh: sertifikasi halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk setiap produk makanan dan minuman. 3. Studi tentang perubahan institusi dan parameter budaya yang menjadi konteks bagi landasan ekonomi masyarakat, misalnya semangat kewirausahaan di kalangan santri.

Jenis-jenis Masyarakat Ekonomi
Untuk dapat bertahan hidup, semua masyarakat harus membangun sistem teknologi dan ekonomi. Teknologi dan ekonomi adalah dua bidang yang sangat terkait dalam semua masyarakat, tetapi tidak berarti keduanya sama. Teknologi suatu masyarakat terdiri atas peralatan, teknik, dan pengetahuan, yang diciptakan anggotanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan ekonomi suatu masyarakat berisi cara-cara yang diorganisasikan secara sosial, dengan cara tersebut barang dan jasa diproduksi dan didistribusikan.

A. Masyarakat Praindustri.
Terdiri dari lima kategori masyarakat praindustri, yakni: 1. Masyarakat pemburu dan peramu

Masyarakat Pemburu dan peramu adalah masyarakat yang metode bertahan hidup utamanya ialah memburu atau mengumpulkan dan meramu secara langsung binatang dan tumbuh-tumbuhan liar yang dapat dimakan, tanpa usaha-usaha yang nyata untuk membudidayakannya (domestikasi) terlebih dahulu. Karena pemburu-peramu lebih merupakan pengumpul ketimbang penghasil makanan, mereka harus mengembara ke wilayah geografis yang luas dalam usaha mencari makanan. Dengan demikian, mereka umumnya nomadik, dan jarang membangun tempat permanen.

2. Masyarakat hortikultura sederhana
Mereka dicirikan: mengenal cara bercocok tanam dengan cara tebas dan tanam (padi, gandum, dll) dalam konteks sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup, tinggal menetap. Kebanyakan masyarakat hortikultura sederhana tinggal di lingkungan berhutan lebat dan mempraktekkan teknik penanaman yang dikenal dengan tebas-dan-bakar (biasa juga disebut ladang berpindah). Teknik bertanam ini dimulai dengan penebasan sebidang hutan dan kemudian membakar hasil tebasan yang sudah dikumpulkan. Abu yang tertinggal berfungsi sebagai pupuk, dan biasanya tidak ada tambahan pupuk yang lain. Kemudian bibit ditanam di ladang yang sudah dibersihkan ini (biasanya besarnya tidak lebih dari satu are) dengan bantuan tongkat penggali, tongkat panjang yang ujungnya tajam dan keras. Ladang yang telah ada mungkin ditanami hanya dengan satu jenis bibit, tetapi praktik yang lebih umum adalah menanam beberapa bibit tambahan di samping tanaman utama.

3. Masyarakat hortikultura intensif
Seperti masyarakat hotikulutra sederhana, masyarakat hortikultura intensif menggantungkan hidupnya pada hasil kebun sendiri, dan mereka menanam dengan metode tebas-dan-bakar. Sebagian memelihara binatang ternak, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu dan menangkap ikan. Masyarakat hortikultura sederhana umumnya membiarkan ladang mereka kosong sampai 20 atau 30 tahun sebelum menanamnya kembali. Sebaliknya, masyarakat hortikultura intensif memperpendek periode kosong menjadi sekitar 5 sampai 6 tahun. Kompensasi atas penurunan kesuburan tanah karena ditanami lebih sering, masyarakat hortikultura intensif selanjutnya memupuki tanah dengan menambahkan semacam humus atau pupuk kandang. Pemendekan periode kosong menimbulkan efek yang nyata, yakni berubahnya hutan yang lebat menjadi semak-semak. Dibandingkan dengan hortikultura sederhana, hortikultura intensif sangat produktif untuk masing-masing unit ladang. Namun tidak boleh dilupakan bahwa masyarakat hortikultura intensif bekerja lebih keras hanya untuk mencapai hasil material yang kurang lebih sama.

4. Masyarakat agraris
Masyarakat agraris menyandarkan hidup kepada pertanian murni. Tanah dibersihkan dari semua tanaman dan ditanami dengan menggunakan bajak dan binatang-binatang dipergunakan untuk menarik bajak. Ladang dipupuk secara besar-besaran, terutama dengan pupuk kandang. Ketika tanah ditanami dengan cara ini, maka ia dapat dipergunakan secara agak berkesinambungan. Dengan demikian, periode kosong sangat pendek atau bahkan tidak ada lagi. Para petani sering menanami sebidang tanah tertentu setiap tahun, dan dalam beberapa kasus, panen dapat dipungut dari ladang yang sama lebih dari sekali dalam setahun. Kebanyakan anggota masyarakat agraris adalah para petani (peasants). Eric Wolf (1966) menyebut mereka penanam tergantung (dependent cuktivator), karena mereka berada dalam hubungan ketergan-tungan politik ekonomi atau subordinat kepada para pemilik tanah. Mereka sendiri seringkali tidak punya tanah, tetapi hanya dibolehkan memakai. Dalam pengertian ini, mereka hanyalah para penyewa tanah. Dalam kasus di mana para petani mempunyai tanah sendiri, mereka jauh dari penguasaan penuh atas nasib produk dari tanah mereka. Tetapi tidak semua produsen utama dalam masyarakat agraris adalah petani. Sebagian adalah para budak. Budak berbeda dari petani, karena mereka secara hukum dimiliki dan dapat diperjualbelikan.

5. Masyarakat Pastoralis
Mereka menggantungkan hidup pada penggembalaan ternak di daerah kering dan semi kering yang tidak cocok untuk ditanami. Masyarakat pastoralis menggantungkan kehidupannya kepada sekumpulan binatang gembalaan. Mereka menggembalakan sekumpulan binatang sepanjang tahun, dan berpindah secara musiman bersama kumpulan gembala/ternak mereka untuk mencari padang rumput (pasture). Karena itulah mereka dinamakan nomadisme pastoralis. Binatang yang paling umum dipelihara adalah biri-biri, kambing, onta, sapi, dan kadang-kadang rusa kutub. Sebagian kelompok pastoralis menggantungkan hidup mereka hanya pada satu spesies binatang, sementara yang lain memelihara beberapa spesies. Sebagian masyarakat pastoralis, yang kadang-kadang disebut masyarakat pastoralis ―sejati‖, tidak melaksanakan aktivitas pertanian sama sekali. Kelompok-kelompok ini memperoleh produk pertanian melalui hubungan dagang dengan tetangga mereka yang menjalankan pertanian. Namun, tidak jarang terjadi kelompok pastoralis juga menjalankan pertanian untuk melengkapi makanan yang diperoleh dari peternakan binatang mereka; tetapi ini selalu sangat bersifat sekunder di samping kegiatan menggembala.

B. Masyarakat Pra-Kapitalis
Masyarakat pra-kapitalis diorganisasikan melalui berbagai aktivitas dalam produksi barang yang lebih diarahkan pada nilai gunanya. Dalam hal ini, barang diproduksi untuk dikonsumsi, bukan untuk ditukar dengan barang lain. Sementara dalam masyarakat kapitalis modern, barang diproduksi terutama diarahkan pada nilai tukarnya. Dalam masyarakat prakapitalis ada empat pola kepemilikan: Pertama, komunisme primitif. Pada pertengahan abah XIX, Karl Marx berspekulasi bahwa pola kehidupan ekonomi paling awal dalam sejarah manusia adalah apa yang diistilahkannya sebagai komunisme primitif. Dengan istilah ini, yang dimaksud Marx adalah suatu jenis masyarakat, yang untuk memenuhi kebutuhan subsistensinya dengan berburu dan meramu atau bentuk-bentuk pertanian sederhana, dan semua sumber daya alam yang penting dimiliki secara bersama. Pemilikan peribadi atas berbagai sumber daya oleh individu atau kelompok kecil tidak ada dalam jenis masyarakat ini.

Kedua, pemilikan keluarga besar. Pemilikan oleh keluarga besar serupa dengan komunisme primitif dalam hal bahwa keduanya bukan merupakan bentuk pemilikan kekayaan pribadi. Kekayaan masih dimiliki dan digunakan secara bersama. Tetapi ada perbedaan penting antara komunisme primitif dan pemilikan oleh keluarga besar. Pemilikan oleh keluarga besar lebih eksklusif atau lebih terbatas karena membuat pemilikan dan penggunaan sumber daya berharga bergantung kepada keanggotaan kelompok keluarga. Dalam berbagai masyarakat yang menganut pemilikan oleh keluarga besar, tidak semua anggota masyarakat mempunyai akses yang sama terhadap kekuatan-kekutan produksi, walaupun semua anggota adalah anggota keluarga besar yang sama. Dengan demikian, pemilikan oleh keluarga besar selangkah meninggalkan komunisme primitif dan menuju kepada pemilikan pribadi.

Ketiga, pemilikan oleh pemimpin. Pemilikan oleh pemimpin muncul ketika seorang individu yang kuat –seorang pemimpin— yang merupakan pemimpin keluarga besar, atau seluruh desa, atau jaringan desa-desa yang luas, menyatakan pemilikan pribadi atas tanah yang ada dalam kekuasaannya dan berusaha menggusur hakhak menggunakan tanah pada orang-orang yang hidup di atasnya. Untuk menggunakan tanah, orang-orang ini harus mengikuti batasanbatasan produksi tertentu, seperti menyerahkan sebagian hasil panen mereka kepada pimpinannya.

Keempat, pemilik Seigneurial. Pemilikan seigneurial muncul manakala sekelompok kecil orang, umumnya dikenal sebagai tuan tanah (bahasa Prancisnya: seignuers), mengkalim pemilikan pribadi atas sebidang tanah yang di atasnya hidup dan bekerja para petani dan budak yang membayar rente, pajak, dan berbagai pengabdian tenaga kepada para tuan tanahnya. Tidak ada hal yang dibuat-buat dalam hal jenis pemilikan ini, karena para tuan tanah mempunyai kekuasaan tak terbatas terhadap orang lain dalam memanfaatkan tanah, dan orang tersebut seringkali tidak menentukan keputusan harian tentang bagaimana tanah harus dipergunakan secara produktif. Dalam jenis pemilikan ini, tanah dimiliki secara pribadi oleh kelas tuan tanah yang mewarisinya melalui garis keluarga dan secara pribadi mengatur penanamannya.

Stratifikasi Sosial Muncul Masyarakat Agraris
Stratifikasi sosial muncul karena ketidaksamaan status dalam masyarakat. Salah satu ciri menonjol dalam masyarakat agraris adalah adanya gap antara kelas dominan dengan subordinatnya. Karena itu, masyarakat agraris adalah masyarakat yang paling terstratifikasi di antara seemua masyarakat pra-industri. Sistem stratifikasi agraris secara umum terdiri dari beberapa kelas, yakni: 1. Kelas Elit Ekonomi Politik (penguasa dan tuan tanah) Dalam masyarakat agraris, pemerintah yang terdiri dari raja, penguasa, dan sejenisnya, adalah orang yang secara resmi menjadi pemimpin politik. Keluas penguasa terdiri dari mereka yang memiliki tanah dan memperoleh keuntungan dari kepemilikan tersebut. Mereka umumnya merupakan tuan-tuan tanah yang sekaligus penguasa politik. Kelas ini menikmati kekuasaan yang besar, hak-hak istimewa, dan prestise yang tinggi disbanding kelas-kelas lainnya. Surplus ekonomi hamper dapat dipastikan mengalir ke tangan elit ekonomi-politik, sehingga penguasa dalam masyarakat agraris umumnya memiliki kekayaan yang besar sekali.

2. Kelas Pengabdi Di bawah kelas penguasa dan pemerintah adalah kelas pengabdi, terdiri dari para fungsionaris seperti pegawai pemerintahan, tentara, dan personil-personil lainnya yang mengabdi secara langsung kepada penguasa dan pemerintah, seperti para penyewa. Mereka menjadi penghubung antara elit dengan massa, termasuk mentransfer surplus ekonomi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Kelas pengabdi ini ratarata menyumbangkan keuntungan yang besar kepada atasan mereka. 3. Kelas pedagang Pedagang merupakan bagian terpenting dari perekonomian masyarakat agraris. Mereka diperlukan oleh kelompok elit karena dapat menyediakan barang-barang mewah. 4. Kelas rohaniawan Meski dalam masyarakat agraris kelas rohaniawan terstratifikasi secara internal, tetapi umumnya mereka mempunyai kedudukan istimewa. Mereka mempunyai hubungan yang dekat dengan kelas pengusaha dan pemerintah terutama dalam mendukung kebijakan-kebijakan pengusaha dan pemerintah.

5. Kelas petani Mayoritas masyarakat agraris adalah petani tetapi kedudukan mereka rendah. Sistem memaksa mereka untuk bekerja keras seharian untuk kepentingan penguasa dan Negara. 6. Kelas seniman Seniman atau mengrajin umumnya bertasal dari para petani yang telah kehilangan hak milik. Pendapatannya biasanya lebih buruk dari pendapatan petani. 7. Kelas ‗sampah masyarakat‘ Mereka terdiri dari para pengemis, pencuri, pelanggar hukum, dan orang-orang yang berada dalam belas kasihan orang.

Stratifikasi Sosial Masyarakat Industri
1. Kelas atas; terdiri dari keluarga kaya dan berkuasa yang diperolehnya secara turun menurun. Mereka menduduki jabatan-jabatan kunci dalam perusahaan, menikmati prestise tinggi dan sangat berorientasi pada budaya konsumksi simbolis elit seperti musik dan kesenian lainnya. Kelas menengah atas; terdiri dari manajer bisnis, para professional, dan pejabat sipil dan militer. Anggotanya berpenghasilan tinggi dan menghimpun kekayaan melalui investasi dan tabungan. Kelas menengah bawah; terdiri dari pengusaha kecil, professional rendahan,salesman, dan karyawan. Pendapatan mereka umumnya adalah sedang dan hanya dapat menabung sedikit. Kelas Pekerja; umumnya sebagai pekerja terampil dan tanpa keterampilan. Kelompok ini umumnya memiliki angka pengangguran yang tinggi, tidak memiliki tabungan, dan prestisenya rendah. Kelas Bawah; terdiri dari orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, misalnya penganhgguran, penganggur tak kentara, ibu-ibu telantar, dan orang miskin sakit-sakitan. Kelompok ini menderita karena tekanan ekonomi dan memiliki prestise sosial yang rendah. Sering dianggap sampah masyarakat.

2.

3.

4.

5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful