Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
36Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Good Governance Analysis in the DG of Taxes

Good Governance Analysis in the DG of Taxes

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 2,367 |Likes:
Published by ibrahim_nur
The Directorate General of Taxes (the DGT) has a very important role in the State's revenue collection. Hence, the DGT needs to have a high commitment in applying Good Governance principles. Better implementation of Good Governance in practice will in turn improve the State's revenue as well as increase the country's tax ratio. This paper proposes two different methods to increase the successful implementation of Good Governance principle in the DGT. Firstly, we can use the 7's Mc Kinsey method since we can show that this particular method has been able to increase the organization’s productivity towards Good Governance. Secondly, in addition to the previous method, we also propose David Osborne and Ted Gaebler's Enterprising Bureaucracy Method since this method is very effective in banishing the bureaucracy chain that hinders the implementation of Good Governance. However, prior to applying Good Governance practice, we need to perform SWOT analysis and implement Good Governance Scorecard to select which parameters are critical in order to have a successful implementation of Good Governance in the DGT
The Directorate General of Taxes (the DGT) has a very important role in the State's revenue collection. Hence, the DGT needs to have a high commitment in applying Good Governance principles. Better implementation of Good Governance in practice will in turn improve the State's revenue as well as increase the country's tax ratio. This paper proposes two different methods to increase the successful implementation of Good Governance principle in the DGT. Firstly, we can use the 7's Mc Kinsey method since we can show that this particular method has been able to increase the organization’s productivity towards Good Governance. Secondly, in addition to the previous method, we also propose David Osborne and Ted Gaebler's Enterprising Bureaucracy Method since this method is very effective in banishing the bureaucracy chain that hinders the implementation of Good Governance. However, prior to applying Good Governance practice, we need to perform SWOT analysis and implement Good Governance Scorecard to select which parameters are critical in order to have a successful implementation of Good Governance in the DGT

More info:

Published by: ibrahim_nur on May 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

 
ANALISIS PENERAPAN
GOOD GOVERNANCE 
DI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
oleh: Iim Ibrahim Nur, M.Ak.
Universitas Multimedia Nusantara
ABSTRACT
The Directorate General of Taxes (the DGT) has a very important role in the State's revenue collection. Hence,the DGT needs to have a high commitment in applying Good Governance principles. Better implementation of Good Governance in practice will in turn improve the State's revenue as well as increase the country's taxratio. This paper proposes two different methods to increase the successful implementation of GoodGovernance principle in the DGT. Firstly, we can use the 7's Mc Kinsey method since we can show that thisparticular method has been able to increase the
organization’s
productivity towards Good Governance.Secondly, in addition to the previous method, we also propose David Osborne and Ted Gaebler's EnterprisingBureaucracy Method since this method is very effective in banishing the bureaucracy chain that hinders theimplementation of Good Governance. However, prior to applying Good Governance practice, we need toperform SWOT analysis and implement Good Governance Scorecard to select which parameters are critical inorder to have a successful implementation of Good Governance in the DGT.Key Word:
Good Governance
, 7’s Mc. K
insey, Mewirausahakan Birokrasi, Enterprising Bureaucracy.
I. LATAR BELAKANG
Krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan Juli 1997 telah membuat carut marut perekonomian dibeberapa negara di Asia. Kondisi makro ekonomi Indonesia sangat terpuruk. Mata uang rupiah yang padabulan Juli 1997 masih berkisar pada angka Rp 2.400,-/US$ terpuruk menembus level Rp 16.000,-/US$ padabulan Januari 2000. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 1996 masih 7% anjlok drastismenembus level -13% pada tahun 1998 (lihat gambar 1.1.). Berdasarkan data dari Bank Dunia, inflasiIndonesia sempat naik menembus dua digit pada tahun 2001 (12.55%) dan tahun 2003 meskipunmembaik baru mencapai 6.09% jauh di atas rata-rata inflasi negara-negara berkembang di seluruh dunia(4%).
Country risk 
Indonesia tahun 2002 sebesar 13.6% (sumber data: Badan Pusat Statistik). Sedangkanberdasarkan data dari Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), investasi asing di Indonesia padatahun 2003 berada di bawah level 5% terhadap PDB Indonesia (padahal pada tahun 1995, investasi asingdi Indonesia mencapai level 40% terhadap PDB).Gambar 1.1. Pertumbuhan PDB Indonesia selama 50 tahun terakhir.Krisis ekonomi berdampak pada membengkaknya utang luar negeri Indonesia yang disebabkan olehselisih kurs yang semakin anjlok. Berdasarkan data Badan Analisis Fiskal Departemen Keuangan tercatattotal utang Indonesia sampai tahun 2003 kepada IMF saja mencapai US$ 9,190 Milyar atau 232% dari totalrealisasi penerimaan negara tahun 2003 padahal cadangan devisa Indonesia sampai dengan Minggu IVFebruari 2004 hanya sekitar US$ 36.27 Milyar. Artinya beban utang Indonesia masih sangat besar untukdipikul.Dengan besarnya beban utang Indonesia tersebut, pemerintah terus menggalakan penerimaan yangbersumber dari dalam negeri. Berdasarkan nota keuangan Republik Indonesia Tahun 2004, penerimaandalam negeri dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu penerimaan perpajakan dan penerimaanbukan pajak (termasuk di dalamnya penerimaan sumberdaya alam, minyak dan gas bumi atau dikenal
0201009850 8052 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 78 82 84 86 88 90 92 94 96
 
0201009850 8052 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 78 82 84 86 88 90 92 94 96 10%015%5%-10%-15%-5%
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2003.
 
 Analisis Penerapan Good Governance di Direktorat Jenderal Pajak 
2
istilah SDA Migas). Penerimaan negara dari perpajakan merupakan alternatif penerimaan negara yangpaling masuk akal dan memberikan kontribusi yang signifikan. Untuk itu, pemerintah harus berusaha kerasuntuk meningkatkan peran pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara.Direktorat Jenderal Pajak memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan penerimaannegara sehingga diharapkan dapat memperbaiki perekonomian makro Indonesia. Hal ini senada dengan janji Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo dalam jumpa pers pada tanggal 11 Mei 2004 di Kantor PusatDirektorat Jenderal Pajak (disadur dari majalah Berita Pajak No. 1516/Tahun XXXV/1 Juni 2004, hal 4),Direktorat Jenderal Pajak akan mampu membiayai APBN sendiri mulai t
ahun 2007 (“APBN Mandiri 2007”).
Artinya seluruh sektor pembangunan akan dibiayai dari hasil penerimaan sektor perpajakan. Kemudian,pertanyaan yang akan mucul adalah:1.
 
Apakah Direktorat Jenderal Pajak mampu menutupi seluruh pengeluaran APBN 2007 tanpa menindasrakyat Indonesia dengan tarif tinggi? Hal ini sejalan dengan banyaknya komplain publik yangmerasakan tingginya tarif pajak di Indonesia (prinsip
equity and fairness
). Selain itu tren beberapanegara tetangga yang menurunkan tarif pajaknya seperti terlihat pada Tabel 1.1.2.
 
Apakah Direktur Jenderal Pajak mampu untuk menindak secara tegas aparat pajak yang bertindakmenyalahgunakan wewenang? Dan memberikan penghargaan kepada aparat pajak yang berprestasi(prinsip
reward and punishment 
)?3.
 
Apakah Direktorat Jenderal Pajak mampu menegakkan hukum bagi Wajib Pajak yang tidak mematuhiperaturan perpajakan yang berlaku (prinsip
law enforcemnent 
)?Tabel 1.1. Negara-negara ASEAN yang menurunkan tarif pajak.Ketiga pertanyaan di atas sangat erat kaitannya dengan prinsip
good governance
yang harusditegakkan Direktorat Jenderal Pajak. Sehingga prasyarat yang perlu dikembangkan dalam upayamenghadapi pertanyaan tersebut adalah komitmen yang tinggi untuk menerapkan nilai luhur dan prinsip-prinsip
good governance
.Menurut Djalil (2000), sintesis berbagai kajian menunjukkan bahwa krisis ekonomi yang dialami diIndonesia antara lain disebabkan karena tidak adanya
good governance
dalam pengelolaan suatuorganisasi. Sedangkan menurut Akmal (2003:3) menunjukkan bahwa indeks
good governance
Indonesiaadalah 2.88 merupakan yang paling rendah di Asia Timur (nilai 0 paling buruk dan nilai 10 paling baik)dibandingkan dengan Malaysia (7.72), Thailand (4.89), Singapura (8.93) dan Jepang (9.17). Hal tersebutdiperparah oleh tidak efisiennya sistem hukum dan peradilan di Indonesia.
Tabel 1.2. Tax Ratio Indonesia 10 Tahun Terakhir.
Selain diperlukannya keterbukaan dan akuntabilitas organisasi-organisasi publik, khusus padaDirektorat Jenderal Pajak yang tugas utamanya melaksanakan pemungutan pajak dari masyarakat, makaketerbukaan masyarakat dalam melaporkan seluruh kekayaan dan penghasilannya sangat diperlukan.
NoNegaraSubjekSemulaMenjadiKeteranganCorporate tax24.50%22%Mulai tahun 2003 All income bandsMulai tahun 20022PhilipinesResident foreign corporation33%32%Mulai tahun 20003MalaysiaCompany TaxTax rate 28% kecualiOil Company 38%
Sumber: CII yang disadur dari data di Direktorat P2SP Direktorat Jenderal Pajak.
Turun antara 2% s.d. 5%1Singapura
Tanpa MigasTermasuk Migas1994/199510.1910.191.9612.151995/19969.679.671.5711.241996/19979.869.861.3511.211997/19989.909.901.3011.201998/19999.269.261.5510.801999/20008.569.711.3511.0720008.009.891.8611.7520014.9310.641.8612.50200210.0310.962.0713.03200310.5511.192.1413.342004*13.502005**13.55
Sumber: Data Direktorat P2SP Direktorat Jenderal Pajak (Agustus 2004).Keterangan: * = Angka asumsi; ** = Angka rencana.
Persentase Thd PDBDJPTahun AnggaranNon DJPTotalPerpajakan
 
 Analisis Penerapan Good Governance di Direktorat Jenderal Pajak 
3
Dalam sistem perpajakan
self asssement 
keterbukaan dan kejujuran wajib pajak sangat penting. Namundemikian dalam pelaksanaan pemungutan pajak di lapangan masih banyak praktek-praktek dimanamasyarakat menyembunyikan sebagian kekayaannya agar beban pajak yang harus dibayar menjadi lebihsedikit. Sehingga perlu dibuatnya suatu sistem yang membuat masyarakat tidak dapat menyembunyikankekayaan dan penghasilannya dari aparat Direktorat Jenderal Pajak. Dalam hal ini, prinsip-prinsip
good governance
juga harus dianut oleh masyarakat Indonesia sebagai wajib pajak.Diharapkan dengan semakin membaiknya praktek
good governance
di Direktorat Jenderal Pajak akanmampu meningkatkan penerimaan negara dari sektor perpajakan tanpa harus merugikan publik sertameningkatkan
tax ratio
Indonesia yang masih rendah (asumsi
tax ratio
Indonesia Tahun 2004 = 13.5%,lihat tabel 1.2. dan tabel 1.3). Sulitnya meningkatkan
tax ratio
di Indonesia tidak bisa terlepas dari adanyahambatan akses Direktorat Jenderal Pajak terhadap beberapa transaksi yang memang menurut undang-undang yang berlaku informasinya tidak diperbolehkan mengalir ke luar termasuk ke Direktorat JenderalPajak seperti akses data mengenai deposito terhambat dengan adanya undang-undang kerahasiaan bank,akses lalu lintas devisa terhambat dengan Undang-Undang No. 24 Tahun 1999, dan lain-lain.
Tabel 1.3. Tax Ratio Beberapa Negara Asean
1.1
 
Rumusan Permasalahan dan Pembatasan Masalah
Pembahasan dalam penulisan ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:1.
 
Bagaimana potret pelaksanaan
good governance
pada Direktorat Jenderal Pajak?2.
 
Apakah prinsip-prinsip
good governance
telah diterapkan secara konsisten pada institusi DirektoratJenderal Pajak? Apakah prinsip-prinsip
good governance
sudah dimasukkan dalam implementasistrategi Direktorat Jenderal Pajak?3.
 
Sebagai institusi publik yang bersifat nirlaba dan lebih mengutamakan pelayanan kepada masyarakat,hal-hal apa yang seharusnya mendapatkan penekanan agar penerapan
good governance
dilingkungan Direktorat Jenderal Pajak dapat berjalan efektif?4.
 
Melalui mekanisme apa dan bagaimana penerapan
good governance
tersebut dilaksanakan?
1.2
 
Metode Penelitian dan Pengukuran Hasil Penelitian
Metode penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah metode
kualitatif-deskriptif 
 dengan melakukan survey observasi langsung tentang fakta-fakta penerapan
good governance
di instansiDirektorat Jenderal Pajak. Penelitian ini juga akan melihat dampak implementasi
good governace
diDirektorat Jenderal Pajak terhadap masyarakat.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Dataprimer diperoleh melalui pengumpulan data-data wawancara serta observasi langsung kepada respondenrepresentatif seperti Bagian Organisasi dan Tata Laksana, Bagian Kepegawaian, Direktorat InformasiPerpajakan, Direktorat Perencanaan Potensi dan Sistem Perpajakan, dan lain-lain. Beberapa sumberinformasi yang menjadi landasan penelitian adalah:1.
 
Standard Operating Procedure
(SOP) kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak.2.
 
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah tingkat kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak.3.
 
Pelaksanaan
reward and punishment 
yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak.4.
 
Ada atau tidak adanya komite kode etik (sistem, struktur dan implementasi) yang mengawasipelaksanaan pekerjaan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.5.
 
Pelaksanaan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajakbagi karyawannya berupa pelatihan, kursus atau
on-the-job training
baik di dalam atau di luar negeri.6.
 
Analisis atas peraturan perpajakan yang berlaku dan Rancangan Undang-Undang Perpajakan yangakan dibahas di tingkat DPR pada bulan Oktober 2004. Analisis dilakukan dengan memfokuskan pada
NoNegaraTahunGDP(dalam jutaan dollar)Tax Revenue(dalam jutaan dollar)Tax Ratio1Malaysia200188,05017,76020.17% 2Singapore200185,68119,22722.44% 3Thailand2001114,85919,84817.28% 4Philippines200071,3259,76413.69% 5Indonesia2001145,91118,23912.50%
Sumber: Data Direktorat P2SP Direktorat Jenderal Pajak (Agustus 2004).

Activity (36)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Vivi Indah liked this
Kasron Ncang liked this
Gamal Pradopo liked this
evindyaswati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->