Ergonomi K3
Ergonomi K3
PENGERTIAN ERGONOMI
Ergonomi dapat diartikan sebagai ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk
menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan
tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi – tingginya melalui pemanfaatan
manusia seoptimal – optimalnya. Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu Ergon
(kerja) dan nomos (aturan dan hukum). Ergonomi adalah penerapan ilmu biologi manusia
sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan
manusia secara optimum, dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.
Sasaran ergonomi adalah seluruh tenaga kerja baik yang bekerja di sektor industri
modern maupun pada sektor industri tradisional dan informal, sesuai dengan tujuannya yaitu
tercapainya produktivitas dan efisiensi kerja yang cukup tinggi.
Ruang lingkup ergonomi tercakup berbagai aspek yang akan dibicarakan berikut ini
antara lain :
1. Prinsip ergonomi
- Efisiensi kerja
- Kelelahan
PENERAPAN ERGONOMI
Antropometri
Posisi atau sikap tubuh dan cara kerja yang sesuai dengan aturan kerja adalah sikap
dan cara kerja ergonomis. Pelaksanaan kerja biasanya menggunakan alat dan sarana kerja.
Agar sikap tubuh dalam kerja sesuai dengan aturan kerja yang diperlukan norma –norma atau
ketentuan – ketentuan alat dan sarana kerja yang sesuai dan serasi dengan karakteristik
tenaga kerja yang akan menggunakannya.
Dengan demikian diusahakan agar semua pekerjaan harus selalu dilaksanakan dalam
sikap kerja yang ergonomis. Sikap tubuh dalam kerja harus memperhatikan:
2. Tempat duduk
Tempat duduk harus dibuat sedemikian agar memberikan posisi dan sikap yang
mantap, memberikan relaksi otot yang tidak sedang digunakan untuk kerja sehingga tidak
mengalami penekanan – penekanan bagi tubuh yang mengganggu sirkulasi darah dan
sensibilitas bagian – bagian tersebut.
Diukur dari lantai sampai pada permukaan atas bagian depan alas duduk. Tinggi alas
duduk harus sedikit lebih pendek dan panjang lekuk sampai ke telapak kaki. Ukuran yang
usulkan 40 – 48 cm.
Diukur dan pertemuan garis proyeksi permukaan depan sandaran duduk dengan
permukaan atas alat duduk. Harus lebih pendek dan jarak lekuk lutut sampai garis punggung.
Ukuran yang diusulkan adalah 40 cm .
Diukur pada garis tengah alas duduk melintang. harus lebih besar dari pinggul.
Ukuran yang diusulkan adalah : 40 – 44 cm
d. Sandaran pinggang
Bagian atas sandaran pinggang tidak melebihi tepi bawah ujung tulang belikat dan
bagian abwahnya setinggi garis pinggul.
Jarak antara topi dalam kedua sandaran tangan lebih besar dari lebar pinggul dan tidak
melebihi lebar bahu. Tinggi sandaran tangan adalah tinggi siku. Panjang sandaran lengan
adalah sepanjang lengan bawah.
Ukuran yang diperkenankan:
Jarak antara tepi dalam kedua sandaran tangan adalah 42 – 46 cm. tinggi sandaran
tangan adalah 20 cm dari alas duduk. Panjang sandaran tangan adalah 21 cm.
Alas duduk harus memiliki rupa sehingga memberikan kemudahan pada pekerja
untuk melaksanakan pemilihan – pemilihan gerakan dan posisi. Ukuran yang diusulkan : Alas
duduk adalah horizontal. Ukuran pekerjaan – pekerjaan yang tidak memerlukan sedikit
membungkuk kedepan alas duduk miring kebelakang 3 – 5 derajat.
3. Meja kerja
Tinggi permukaan atas meja kerja dibaut setinggi siku dan disesuaikan dengan sikap
tubuh pada waktu bekerja. Untuk sikap berdiri, ukuran – ukuran yang diusulkan :
Pada pekerjaan – pekerjaan yang lebih membutuhkan ketelitian tinggi meja kerja
adalah 10 – 20 cm lebih tinggi dari siku. Pada pekerjaan – pekerjaan yang memerlukan
penekanan dengan tangan, tinggi meja adalah 10 – 20 cm lebih rendah dari tinggi siku. Untuk
sikap duduk ukuran yang diusulkan adalah :
Tinggi meja adalah 68 – 78 cm yang diukut dari permukaan daun meja sampai
kelantai.
Ketentuan : tebal daun meja dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
kebebasan bergerak pada kaki.
c. Permukaan meja
d. Lebar meja
Diukur dan pekerja kearah depan
Luas Padangan :
Ketentuan : daerah pandangan yang jelas bila pekerja berdiri tegak dan diukur dari
tinggi mata adalah : 0 – 30o Vertikal kebawah, dan 0 50o horizontal ke kanan dan ke kiri.
Ukuran yang diusulkan adalah :
Selama bekerja pada daerah penglihatan tersebut obyek – obyek utama diletakan pada
jarak lihat yang optimal untuk ketajaman penglihatan. Tinggi huruf adalah 1/200 dari jarak
baca dalam milimeter.
Efisiensi kerja merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menciptakan suatu
gerakan tubuh yang baik dan maksimal agar dapat dicapai suatu hasil kerja optimal, dan
dapat dicapai dengan :
- Menghindarkan kerja otot statis, karena sangat melelahkan atau paling sedikit
dapat ditekan menjadi sekecil mungkin, secara fisiologis terbukti bahwa kerja otot statis
kurang efisien daripada kerja otot dinamis. Pada kerja otot statis, konsumsi energi lebih
banyak untuk upaya upaya yang lebih kecil.
Pengorganisasian kerja yang baik dengan berpedoman pada hal – hal berikut :
- Semua sikap kerja membungkuk dan sikap tubuh yang tidak alamiah harus
dihindarkan.
- Posisi lengan yang ekstensi terus menerus baik ke depan maupun kesamping
harus dihindarkan.
- Diusahakan bekerja dengan duduk atau bergantian dengan berdiri.
- Kedua lengan harus bergerak bersama – sama sesuai dengan pedoman dan
anjuran yang berlaku.
- Ukuran antropometri tenaga kerja harus disesuaikan dengan alat dan peralatan
yang akan dipergunakan.
- Menghindarkan kelelahan
1. Pengorganisasian kerja
Masalah – masalah akan timbul baik bagi tenaga kerja maupun bagi organisasinya,
apabila pengetahuan dan kemampuan tidak sesuai dengan pekerjaan atau pengaturan kerja
kurang baik.
Pengaturan kerja, setiap hari, setiap minggu, setiap tahun dalam kehidupan tenaga
kerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan
tenaga kerja sendiri. Sehingga hal – hal berikut ini harus mendapat perhatian:
- Pengetahuan tentang pekerjaan: harus sudah diberikan dan dikuasai tenaga kerja
sebelum melakukan pekerjaan.
- Jam kerja : sangat mempengaruhi kehidupan tenaga kerja sehari – hari, sehingga
sangat penting untuk mempunyai kebebasan beristirahat dan berpergian bagi tenaga kerja.
- Semua komponen, peralata, alat kontrol dan sejenisnya harus bisa dipergunakan
oleh operator yang paling kecil, barang/peralatan yang sering digunakan harus mudah
dijangkau, dengan tidak memerlukan gerakan memutar atau membungkuk. Sehingga tempat
kerja yang agak miring atau tegak lurus mungkin diperlukan.
- Tinggi komponen, peralatan, kontrol, pedal dan lain – lain harus dibuat untuk
menghindari penekanan pada bagian pergelangan tangan, leher, perut, kaki.
- Tata letak kerja yang harus memberikan ruang gerak untuk tangan kiri operator,
tetapi untuk ketelitian pekerjaan harus dilakukan oleh tangan yang dominan.
- Kontrol harus didesain, yang memungkinkan operator yang paling kecil mampu
mengoperasikan, juga harus diperhitungkan kemampuan tenaga dari operator yang paling
lemah.
- Pekerjaan yang dilakukan secara manual diusahakan dekat dengan titik pusat
tubuh.
- Tata letak kerja harus dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan kegiatan
operator untuk duduk dan berdiri secara bergantian.
- Faktor penting yang termasuk dalam desain tempat kerja adalah dengan
melibatkan operator untuk menyusun desian kerja yang baru.
Faktor Manusia dalam Ergonomi
Secara fisiologis telah ditentukan bahwa pembebanan manusia tidak boleh melebihi
30 % dan pada tenaga maksimal untuk bekerja selama 8 jam sehari. Beban yang terlalu berat
dapat mengganggu kesehatan tenaga kerja, sehingga perlu pengaturan jam kerja dan waktu
istirahat yang cukup sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja yang dihadapi.
Dengan adanya mesin – mesin yang dapat menggantikan tenaga manusia dengan
kebik baik dan lebih efisien yang banyak dipergunakan sekarang ini, maka fungsi manusia
akan berubah menjadi operator mesin, yang tentunya akan memberikan pengaruh terhadap
manusia sendiri, yang harus diperhatikan yaitu :
Dalam melaksanakan pekerjaan maka manusia sebagai tenaga kerja tidak akan lepas
atau akan sangat dipengaruhi oleh sistem lingkungan, baik lingkungan umum maupun
lingkungan kerjanya sendiri, dan sebaliknya langsung tidak langsung manusia akan
menyebabkan perubahan – perubahan pada lingkungan.
Lingkungan yang baik dan nyaman serta terkendali akan memberikan pengaruh yang
baik bagi prestasi dan semangat kerja karena adanya perasaan nyaman, aman dan terhindar
dari rasa takut dan was – was sehingga produktivitas kerja meningkat.
Untuk dapat memahami dan mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya ergonomi,
maka harus diketahui bahwa tubuh manusia adalah merupakan satu sistem yang utuh, yang
terdiri dari berbagai subsistem yang secara sendiri – sendiri ataupun secara bersama – sama
(terkoordinasi) akan memberikan kekhususan tertentu terhadap tenaga kerja yaitu :
- Sistem otot
- Sistem syaraf
- Faktor manusia
- Faktor informasi
Kerja fisik atau sering juga disebut kerja otot adalah yang menyebabkan gerakan otot
– otot, terhadap tubuh banyak otot lebih kurang 45% dari berat tubuh. Gerakan otot terjadi
bila otot bekerja dengan cara mengerut (kontraksi), dimana otot menjadi lebih panjang. Untuk
berkontraksi dibutuhkan tenaga yang dapat diperoleh dan hasil proses kimiawi cadangan
tenaga dalam otot yang adalah berasal dan zat – zat yang dibawa oleh darah keotot . dikenal
dua macam kerja otot yaitu :
1. Kerja otot statis yaitu kerja otot yang menetap untuk periode waktu tertentu,
dimana pembuluh darah akan tertekan dan peredaran darah berkurang, sehingga sangat
melelahkan.
2. Kerja otot dinamis, yaitu kerja otot yang rytmis dan berirama, dimana
pengerutan dan pengendoran terjadi silih berganti, bekerja sebagai pompa peredaran dalam
berjalan sesuai dengan tingkat kontraksi otot.
Pembebanan fisik yang dibenarkan adalah tidak melebih 30% - 40% dan kemampuan
kerja maksimum tenaga kerja dalam waktu 8 jam sehari. Pembenanan yang lebih besar hanya
dapat diperkenankan untuk waktu lebih singkat dan ditambah dengan waktu istirahat yang
sesuai dengan pertambahan beban kerja yang diterima oleh tenaga kerja.
Dalam hal ini, beban fisik mengangkat dan mengangkut maka beban berat yang
diperkenankan untuk tenaga kerja Indonesia adalah 40 kg dan apabila dilakukan lebih dari 1
kali, harus disesuaikan lagi. Kemampuan kerja fisik maksimum sulit ditentukan sehingga
sering dipakai parameter denyut nadi, dimana diusahakan agar tidak melebihi 30 – 40 denyut
per menit diatas nadi sebelum kerja. Cara mengangkut dan mengangkat yang benar harus
memenuhi dua aturan kerja yaitu :
- Beban kerja diusahakan menekan pada otot tungkai secara kuat dan sedapat
mungkin otot tulang belakang yang lebih lemah disebabkan dan pembebanan.
Pada pekerjaan dan mengangkut, efisiensi kerja dan pencegahan terhadap kerusakan
tulang belakang harus mendapat perhatian yang cukup. Mengangkat dan mengangkut beban
tulang belakang bertambah dari atas kebawah dan tersebar pada ruas – ruas tulang pinggang.
Diantara ruas – ruas tulang belakang terdapat lempengan antara ruas tulang yang tersusun
sebagian dan bahan – bahan cair kental, fungsi lempeng adalah seperti hantal dan juga
memberikan sifat lentur pada tulang belakang. Faktor – faktor yang mempengaruhi kegiatan
mengangkat dan mengangkut adalah :
- Keterampilan bekerja.
Cara mengangkat dan mengangkut yang baik harus memenuhi dua prinsip kinetis
yaitu :
- Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang kuat dan sebanyak mungkin
otot tulang belakang yang lebih lemah dibebaskan dari pembebanan.
Kelelahan
Banyak definisi tentang kelemahan, tetapi secara garis besarnya dapat dikatakan
bahwa kelelahan ini merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara
umum terjadi pada setiap individu, yang telah tidak sanggup lagi untuk melakukan
aktivitasnya. Pada dasarnya pola ini ditimbulkan oleh dua hal, yaitu : akibat kelelahan
fisiologis (fisik atau kimiawi) dan akibat kelelahan psikologis (mental dan fungsional) dan
bisa bersifat subjektif (akibat perubahan – perubahan dalam perasaan dan kesadaran.
Kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul karena adanya perubahan fisiologis
dalam tubuh. Dari segi fisiologis, tubuh manusia dapat dianggap sebagai mesin yang
mengkonsumir bahan bakar dan memberikan output berupa tenaga yang berguna untuk
melaksanakan aktivitas sehari – hari.
Kelelahan pada tenaga kerja akan mengakibatkan antara lain : menurunnya perhatian,
perlambatan dan hambatan persepsi, lambat dan sukar berfikir, penurunan kemauan atau
dorongan untuk bekerja dan berkurangnya efisiensi kegiatan fisik dan mental dan lain – lain,
yang sering menyebabkan timbulnya kecelakaan kerja sebagai akibat kurangnya
kewaspadaan.
Tempat kerja (workplace) adalah merupakan suatu tempat dimana tenaga kerja akan
menghabiskan sebagian besar waktunya sehari – hari. Sehingga kemungkinan atau risiko
bahaya yang terdapat di tempat kerja akan mengancam dan menyerang tenaga kerja untuk
waktu yang lama, serta dapat membawa bahaya tersebut kerumah bila faktor kebersihan
kurang mendapat perhatian/pemeliharaan.
Oleh karena itu pengendalian lingkungan kerja untuk menciptakan suatu lingkungan
yang nyaman, aman, sehat, selamat dan serasi merupakan hal yang mutlak harus mendapat
perhatian dalam upaya menciptakan suasana kerja yang ergonomis.