Modul Bedah 2021
Modul Bedah 2021
1
MODUL KEPANITERAAN KLINIK
ILMU BEDAH
TIM PENYUSUN/PENULIS
Edisi 2021
2
Modul Kepaniteran Klinik Ilmu Bedah
Bagian Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Editor :
Dr. dr. Efrida, M.Kes, Sp.PK(K)
Dr.dr. Rika Susanti, Sp.F.M (K)
dr. Taufik Hidayat, MSc, Sp.F.M, MSc
Dr.dr. Roni Eka Sahputra Sp.OT(K)
dr. Jon Effendi Sp.B Sp.BA
dr. Avit Suchitra Sp.B KBD
dr Rahmat Taufik, SpB(K)Onk
dr. Westi Permata Wati
dr. Denada Florencia Leona
dr. Atika Indah Sari
Kontributor :
Prof. dr. Kamardi Thalut, SpB
Prof. dr. Azamris Ahmad Sp.B (K)Onk
Prof. Dr. dr. Menkher Manjar, Sp.B, Sp.OT
Prof.Dr.dr. Wirsma Arif Harahap Sp.B (K)Onk
Dr. dr. Daan Khambri Sp.B (K)Onk
Dr. dr. Yusirwan Yusuf, SpB,SpBA
Dr. dr. Raflis Rustam Sp.B(K)V
Dr. dr. Alvarino Sp.B Sp.U(K)
Dr.dr. Yevri Zulfikar Sp.B Sp.U(K)
Dr.dr. Etriyel Myh, Sp.U(K)
Dr. dr. Yahya Marpaung, SpB
dr. Syaiful Saanin Sp.BS
dr. Dody Efmansyah, SpB. SpU
3
dr. Vendry Rivaldy Sp.B K(V)
dr. M. Iqbal Rivai Sp.B KBD
dr. Juni Mitra Sp.B KBD
dr. Deddy Saputra Sp.BP-RE
dr. Benni Raymond Sp.BP-RE
dr. Rizki Rahmadian SpOT(K) M.Kes
dr. Ardian Riza Sp.OT
dr. Hermansyah Sp.OT(K)
dr. Budi Pratama Arnofyan, SpB, SpBA
dr. Roni Rustam, SpB(K)Onk
dr Yopi Triputra, SpB(K)Onk
dr. Ari Oktavendra, SpB
dr. Muhammad Riendra, SpBTKV
dr. Aulia Rahman, SpBTKV
dr. Hendra Maska, SpOT
dr. Almu Muhammad, SpOT(K)
dr. Peri Eriad Yunir, SpU(K)
dr. Hesty Lidya Ningih, SpBS
dr. Ade Ricky Harahap, SpBS
dr. Rini Suswita Sp.B KBD
dr. Irwan Sp.B KBD
dr. Hippocrates Kam Sp.B K(V)
dr. Fory Fortuna, SpBP-RE
dr. Hendra Herizal, SpB
4
Daftar Isi
5
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, dimana buku modul Kepaniteraan Klinik
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP Dr. M. Djamil Padang dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Buku ini merupakan panduan pembelajaran dan modul kepaniteraan klinik yang
dilakukan mahasiswa program pendidikan profesi dokter saat melakukan kegiatan praktik klinik.
Buku ini juga dapat menjadi pegangan bagi mahasiswa dan staf pengajar dalam melakukan
kegiatan praktik klinik, sehingga terdapat keseragaman dalam melakukan kegiatan dan penilaian
sehari-hari.
Kepada semua staf pengajar Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas /
RSUP Dr. M. Djamil Padang yang telah memberikan sumbangan pemikiran dalam pembuatan
naskah buku ini saya ucapkan terima kasih. Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari
sempurna, karena itu kritik serta sumbangan pemikiran dan saran untuk perbaikan buku ini
sangat kami harapkan, semoga kita dapat mendidik dokter Indonesia menjadi dokter yang
mempunyai kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia.
Kepala,
6
MODUL
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH
7
c. Vaskuler
• Dr. dr. Raflis Rustam Sp.B(K)V
• dr. Vendry Rivaldy Sp.B K(V)
• dr. Hippocrates Kam Sp.B K(V)
d. Ortopedi
• Prof. Dr. dr. Menkher Manjar, Sp.B, Sp.OT
• Dr.dr. Roni Eka Sahputra Sp.OT(K)
• dr. Rizki Rahmadian SpOT(K) M.Kes
• dr. Ardian Riza Sp.OT
• dr. Hermansyah Sp.OT(K)
• dr. Hendra Maska, SpOT
• dr. Almu Muhammad, SpOT(K)
e. Urologi
• Dr. dr. Alvarino Sp.B Sp.U(K)
• Dr.dr. Yevri Zulfikar Sp.B Sp.U(K)
• Dr.dr. Etriyel Myh, Sp.U(K)
• dr. Dody Efmansyah, SpB. SpU
• dr. Peri Eriad Yunir, SpU(K)
f. Saraf
• dr. Syaiful Saanin Sp.BS
• dr. Hesty Lidya Ningih, SpBS
• dr. Ade Ricky Harahap, SpBS
g. Plastik
• dr. Deddy Saputra Sp.BP-RE
• dr. Benni Raymond Sp.BP-RE
• dr. Fory Fortuna, SpBP-RE
h. Anak
• Dr. dr. Yusirwan Yusuf, SpB,SpBA
• dr. Jon Effendi Sp.B Sp.BA
• dr. Budi Pratama Arnofyan, SpB, SpBA
8
i. Toraks
• dr. Muhammad Riendra, SpBTKV
• dr. Aulia Rahman, SpBTKV
2. Karakteristik Mahasiswa
Mahasiswa yang dapat mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Bedah adalah
mahasiswa yang sudah mendapatkan materi kuliah Ilmu Bedah dipendidikan S1 Program
Studi Pendidikan dokter dan telah melaksanakan kegiatan PPGD dan LOI
3. Capaian Pembelajaran
a. Capaian Pembelajaran Lulusan
CPL - Sikap dan Tata Nilai:
1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religious
(S1);
2. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama,
moral, dan etika (S2);
3. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila (S3);
4. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki
nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa (S4);
5. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta
pendapat atau temuan orisinal orang lain (S5);
6. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat
dan lingkungan (S6);
7. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (S7);
8. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik (S8);
9. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara
mandiri (S9); dan
10. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan (S10).
9
CPL - Keterampilan Umum:
1. Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks
pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang
keahliannya (KU1);
2. Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur (KU2);
3. Mampu mengkaji implikasi pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan
teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora sesuai dengan
keahliannya berdasarkan kaidah, tata cara dan etika ilmiah dalam rangka
menghasilkan solusi, gagasan, desain atau kritik seni, menyusun deskripsi saintifik
hasil kajiannya dalam bentuk skripsi atau laporan tugas akhir, dan mengunggahnya
dalam laman perguruan tinggi (KU3);
4. Menyusun deskripsi saintifik hasil kajian tersebut di atas dalam bentuk skripsi atau
laporan tugas akhir, dan mengunggahnya dalam laman perguruan tinggi (KU4);
5. Mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah di
bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis informasi dan data (KU5);
6. Mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja dengan pembimbing,
kolega, sejawat baik di dalam maupun di luar lembaganya (KU6);
7. Mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan
supervisi dan evaluasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada
pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya (KU7);
8. Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada di
bawah tanggung jawabnya, dan mampu mengelola pembelajaran secara mandiri
(KU8); dan
9. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali
data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi (KU9).
CPL - Pengetahuan:
1. Mampu menguasai konsep dan teori pengetahuan dasar ilmu dan teknologi biomedis
(Anatomi, Histologi, Fisiologi dan Biokimia) serta aplikasinya dalam penegakkan
10
diagnosis secara holistik dan penatalaksanaan pasien secara komprehensif sebagai
dokter di layanan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga(P1)
2. Mampu menguasai konsep dan teori ilmu paraklinik medis (Patologi Anatomi,
Patologi Klinik, Parasitologi, Mikrobiologi, Farmakologi, dan Ilmu gizi) serta
aplikasinya dalam penegakkan diagnosis secara holistik dan penatalaksanaan pasien
secara komprehensif sebagai dokter di layanan primer dengan pendekatan kedokteran
keluarga (P2)
3. Mampu menguasai konsep dan teori ilmu klinik medis (Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu
Kesehatan Anak, Ilmu Bedah, Ilmu Obstetri Gynecology, Ilmu Penyakit Mata, Ilmu
Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher, Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Ilmu Penyakit Jantung dan
Pembuluh Darah, Neurologi, Psikiatri, Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut, Ilmu
Anastesi dan Terapi intensif, Ilmu Rehabilitasi Medik, Ilmu Radiologi, serta Ilmu
Forensik dan Medikolegal) serta aplikasinya dalam penegakkan diagnosis secara
holistik dan penatalaksanaan pasien secara komprehensif sebagai dokter di layanan
primer dengan pendekatan kedokteran keluarga (P3)
4. Mampu menguasai konsep dan teori Ilmu Kesehatan Keluarga dan Komunitas serta
aplikasinya dalam penegakkan diagnosis secara holistik dan penatalaksanaan pasien
secara komprehensif sebagai dokter di layanan primer dengan pendekatan kedokteran
keluarga (P4)
5. Mampu menguasai konsep dan teori Ilmu Kesehatan Masyarakat serta aplikasinya
dalam penegakkan diagnosis secara holistik, penatalaksanaan pasien secara
komprehensif, dan pengelolaan program kesehatan masyarakat sebagai dokter di
layanan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga (P5).
6. Mampu menguasai konsep dan teori Ilmu Komunikasi, Bioetik dan Etika kedokteran
serta aplikasinya dalam penegakkan diagnosis secara holistik dan penatalaksanaan
pasien secara komprehensif sebagai dokter di layanan primer dengan pendekatan
kedokteran keluarga (P6)
7. Mampu menguasai konsep dan teori Ilmu Kepemimpinan dan Managemen yang
efektif serta aplikasinya dalam pengelolaan program dan organisasi kesehatan
masyarakat serta fasilitas kesehatan (P7)
11
8. Mampu menguasai konsep dan teori metodologi, pelaksanaan dan pengolahan data
penelitian, penulisan dan publikasi hasil penelitian ilmiah (P8)
9. Mampu menguasai konsep dan teori ilmu kewirausahaan dalam bidang pelayanan
kesehatan (P9).
12
secara efektif dalam pengembangan profesi dan keilmuan untuk berkomunikasi,
berekspresi, berkolaborasi dan advokasi (KK6).
7. Kemampuan mengelola masalah kesehatan individu, keluarga, komunitas dan
masyarakat secara komprehensif, holistik, terpadu dan berkesinambungan
menggunakan sumber daya secara efektif dalam konteks pelayanan kesehatan primer
(KK7).
8. Kemampuan melakukan prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah kesehatan
dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan
keselamatan orang lain (KK8).
9. Kemampuan membangun hubungan, menggali informasi, menerima dan bertukar
informasi, bernegoisasi dan persuasi secara verbal dan nonverbal serta menunjukkan
empati kepada pasien dari semua usia, anggota keluarga, masyarakat dan sejawat,
dalam tatanan keragaman budaya lokal, regional dan global (KK9).
Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan
mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai
penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. Lulusan
dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan
dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan
yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu
menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
13
3B. Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/
atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling
tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti
sesudah kembali dari rujukan.
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/ atau Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan (PKB)
Dengan demikian didalam Daftar Penyakit ini level kompetensi tertinggi adalah 4A
14
9. Melakukan pencatatan dan dokumentasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, diagnosis dan penatalaksanaan pada form Medical Record.
10. Membuat resep yang rasional untuk penyakit Bedah
4. Pre Assessment
Dilakukan pre assessment berupa pre-test MCQ kepada dokter muda pada saat masuk
siklus bedah berdasarkan prior knowledge saat preklinik
15
12 Insufisiensi vena kronik 3A
13 Ulkus pada Tungkai 4A
D SISTIM GASTRO INTESTINAL HEPATOBILIER, PANKREAS dan
DINDING ABDOMEN ( DEWASA )
14 Ruptur esofagus 1
15 GERD 3A
16 Hernia (inguinalis, femoralis, skrotalis)
3B
strangulata, inkarserata
17 Hernia umbilikalis 3A
18 Peritonitis 3B
19 Apendisitis akut 3B
20 Abses apendiks 3B
21 Perdarahan gastrointestinal 3B
22 Kolesistitis + Kolelithiasis 3B
23 Divertikulosis/divertikulitis 3A
24 Kolitis 3A
25 Proktitis 3A
26 Abses (peri)anal 3A
27 Hemoroid grade 1-2 4A
28 Hemoroid grade 3-4 3A
29 Prolaps rektum, anus 3A
E SISTIM GASTRO INTESTINAL DAN HEPATOBILIER, PANKREAS
dan DINDING ABDOMEN ( PEDIATRIK )
30 Peritonitis pada anak 3B
31 Apendisitis akut pada anak 3B
32 Intususepsi atau invaginasi 3B
33 Hernia umbilikalis 4A
34 Infeksi pada umbilikus 4A
F SISTIM SALURAN KEMIH Dan REPRODUKSI PRIA
35 Infeksi saluran kemih 4A
16
36 Kolik renal 3A
37 Batu saluran kemih (vesika urinaria, 3A
ureter, uretra ) tanpa kolik
38 Fimosis 4A
39 Parafimosis 4A
40 Prostatitis 3A
41 Torsio testis 3B
42 Infeksi pada epididimis dan testis 4A
43 Ruptur uretra 3B
44 Ruptur kandung kencing 3B
45 Ruptur ginjal 3B
46 Infertilitas 3A
G HEAD, NECK, BREAST, ENDOCRINE
47 Mastitis 4A
48 Cracked Nipple 4A
49 Inverted Nipple 4A
50 Parotitis 4A
51 Limphadenopathy 3A
H SISTIM MUSKULO-SKELETAL
52 Artritis, osteoartritis 3A
53 Fraktur terbuka, tertutup 3B
54 Fraktur klavikula 3A
55 Osteoporosis 3A
56 Tenosinovitis supuratif 3A
57 Carpal tunnel syndrome 3A
58 Peroneal Palsy 3A
59 Trauma sendi 3A
60 Spondilitis tbx 3A
61 Ruptur tendon achilles 3A
62 Lesi meniskus, medial dan lateral 3A
17
63 Osteomielitis 3B
I SISTIM INTEGUMEN DAN SUB-INTEGUMEN
64 Paronichia 4A
65 Lipoma 4A
66 Vulnus laseratum, punctum 4A
67 Vulnus perforatum, penetratum 3B
68 Luka bakar derajat 1 dan 2 4A
69 Luka bakar derajat 3 dan 4 3B
70 Luka akibat bahan kimia 3B
71 Luka akibat sengatan listrik 3B
72 Kista epitel 3A
A BEDAH SYARAF
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
PEMERIKSAAN FISIK
Fungsi Saraf Kranial
1 Inspeksi pupil (ukuran dan bentuk) 4A
2 Reaksi pupil terhadap cahaya 4A
3 Penilaian gerakan bola mata 4A
Penilaian tingkat kesadaran dengan skala 4A
4
koma Glasgow (GCS)
Tulang Belakang
5 Inspeksi tulang belakang saat istirahat 4A
6 Inspeksi tulang belakang saat bergerak 4A
7 Perkusi tulang belakang 4A
8 Palpasi tulang belakang 4A
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
9 Interpretasi X-Ray tengkorak 4A
18
B BEDAH ONKOLOGI
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
PEMERIKSAAN FISIK
1 Inspeksi leher 4A
Palpasi kelenjar ludah (submandibular,
2 4A
parotid)
3 Palpasi nodus limfatikus brachialis 4A
4 Palpasi kelenjar tiroid 4A
5 Pemeriksaan fisik payudara 4A
6 Pemeriksaan KGB leher dan axilla 4A
7 Pemeriksaan tumor jaringan lunak 4A
8 Pemeriksaan tumor kulit 4A
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
KETERAMPILAN TERAPEUTIK
9 Melatih pemeriksaan payudara sendiri 4A
10 Eksterpasi tumor jinak sederhana 4A
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
PEMERIKSAAN FISIK
1 Palpasi arteri karotis 4A
2 Palpasi denyut arteri ekstremitas 4A
3 Penilaian denyut kapiler 4A
Penilaian pengisian ulang kapiler (capillary
4 4A
refill)
5 Deteksi bruits 4A
19
Pemeriksaan Fisik Diagnostik
6 Tes (Brodie) Trendelenburg 4A
Pemeriksaan Diagnostik
7 Pasang WSD 3/2
8 Rawat WSD 4A
D BEDAH DIGESTIVE
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Pemeriksaan FisiK
1 Inspeksi abdomen 4A
Inspeksi lipat paha/ inguinal pd saat tekanan
2 4A
abdomen meningkat
Palpasi (dinding perut, kolon, hepar, lien,
3 4A
aorta, rigiditas dinding perut)
4 Palpasi hernia 4A
Pemeriksaan nyeri tekan dan nyeri lepas
5 4A
(Blumberg test)
6 Pemeriksaan Psoas sign 4A
7 Pemeriksaan Obturator sign 4A
8 Perkusi (pekak hati dan area Traube) 4A
9 Pemeriksaan pekak beralih (shifting dullness) 4A
10 Pemeriksaan undulasi (fluid thrill) 4A
Pemeriksaan colok dubur (digital rectal
11 4A
examination)
12 Inspeksi sarung tangan paska colok dubur 4A
Pemeriksaan Diagnostik
13 Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) 4A
14 Nasogastric suction 4A
15 Mengganti kantong pada kolostomi 4A
20
Pemeriksaan feses (termasuk darah samar,
16 4A
protozoa, parasit, cacing)
E BEDAH UROLOGI
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Pemeriksaan FisiK
1 Pemeriksaan bimanual dan nyeri ketok ginjal 4A
Pemeriksaan penis,scrotum,testis dan ductus
2 4A
spermatikus
3 Perkusi kandung kemih 4A
4 Palpasi prostat (colok dubur) 4A
Prosedur Diagnostik
5 Transiluminasi scrotum 4A
Persiapan dan pemeriksaan sedimen urin
6 4A
(menyiapkan slide dan uji mikroskopis urin)
7 Permintaan pemeriksaan BNO-IVP 4A
8 Intepretasi BNO-IVP 3 / 4A
Ketrampilan Terapeutik
9 Pemasangan kateter uretra 4A
Clean intermitten chatheterization
10 3
(Neurogenic blader)
11 Sirkumsisi 4A
12 Pungsi suprapubik 3 / 4A
F BEDAH PLASTIK
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Pemeriksaan FisiK
21
1 Pemeriksaan mulut 4A
2 Pemeriksaan palatum 4A
Diagnostik
3 Resusitasi cairan luka bakar 4A
4 Pemeriksaan luka bakar 4A
Ketrampilan Terapeutik
5 Rozer plasty 4A
G BEDAH ORTOPEDI
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Pemeriksaan FisiK
1 Inspeksi gait 4A
2 Inspeksi tulang belakang saat berbaring 4A
3 Inspeksi tulang belakang saat bergerak 4A
4 Inspeksi tonus otot ekstremitas 4A
5 Inspeksi sendi ekstremitas 4A
6 Inspeksi postur tulang belakang/ pelvis 4A
7 Inspeksi posisi skapula 4A
8 Inspeksi fleksi dan ekstensi punggung 4A
9 Penilaian fleksi lumbal 4A
Panggul: penilaian fleksi dan ekstensi,
10 4A
adduksi, abduksi dan rotasi
11 Menilai atrofi otot 4A
Lutut: menilai ligamen krusiatus dan
12 4A
kolateral
13 Penilaian meniskus 4A
14 Kaki: inspeksi postur dan bentuk 4A
Kaki: penilaian fleksi dorsal/plantar, inversi
15 4A
dan eversi
22
16 Palpation for tenderness 4A
Palpasi untuk mendeteksi nyeri diakibatkan
17 4A
tekanan vertikal
18 Palpasi tendon dan sendi 4A
Palpasi tulang belakang, sendi sakro-iliaka
19 4A
dan otot-otot punggung
20 Percussion for tenderness 4A
21 Penilaian range of motion (ROM) sendi 4A
22 Menetapkan ROM kepala 4A
23 Tes fungsi otot dan sendi bahu 4A
Tes fungsi sendi pergelangan tangan,
24 4A
metacarpal dan jari-jari tangan
25 Pengukuran panjang ekstremitas bawah 4A
Ketrampilan Terapeutik
26 Reposisi fraktur tertutup 3
27 Stabilisasi fraktur (tanpa gips) 4A
28 Reduksi dislokasi 3
29 Melakukan dressing (sling, bandage) 4A
30 Mengobati ulkus tungkai 4A
31 Removal of splinter 3
Keterampilan Diagnostik
32 Penilaian X Ray Extremitas 4A
33 Penilaian X Ray Tulang Belakang 4A
H BEDAH ANAK
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Pemeriksaan Fisik
1 Pemeriksaan fisik umum dengan perhatian 4A
23
khusus usia pasien
Penilaian keadaan umum, gerakan, prilaku,
2 4A
tangisan
3 Pengamatan malformasi kongenital 4A
4 Pemeriksaan Abdomen 4A
5 Pemeriksaan Anus 4A
6 Punksi vena pada anak 4A
7 Resusitasi pada anak 4A
I BEDAH EMERGENCY
Tingkat
Keterampilan
Keterampilan
Resusitasi
Tatalaksana dehidrasi berat pada kegawat
4A
1 daruratan setelah penatalaksanaan syok
2 Penilaian keadaan umum 4A
3 Penilaian kesadaran 4A
Penunjang
4 Punksi vena 4A
5 Punksi arteri 3
Permintaan & interpretasi pemeriksaan X-
6 4A
ray: foto polos
Permintaan & interpretasi pemeriksaan X-ray
7 3/4A
dengan kontras
Terapeutik
Menyiapkan pre-operasi lapangan operasi
8 untuk bedah minor, asepsis, antisepsis, 4A
anestesi lokal
Persiapan untuk melihat atau menjadi asisten
9 4A
di kamar operasi (cuci tangan, menggunakan
24
baju operasi, menggunakan sarung tangan
steril, dll)
10 Anestesi infiltrasi 4A
11 Jahit luka 4A
12 Pengambilan benang jahitan 4A
13 Vena seksi 3/4A
KEGAWATDARURATAN
14 Bantuan hidup dasar 4A
15 Transport pasien (transport of casualty) 4A
16 Resusitasi cairan 4A
Pemeriksaan turgor kulit untuk menilai
17 4A
dehidrasi
DAFTAR MASALAH
DAFTAR MASALAH
A SISTIM SYARAF
Penurunan kesadaran paska cedera kepala
Kepala anak besar
B SISTIM KARDIORESPIRASI
sesak napas paska trauma
nyeri dada paska trauma
C SISTIM VASCULAR DAN PEMBULUH LYMPH
Varises
Bengkak dan nyeri pada kaki dan tangan
D SISTIM GASTROINTESTINAL, HEPATOBILIER, PANKREAS,
DINDING ABDOMEN
Mata Kuning
Cacat bawaan pada bibir dan langit langit Bibir
Perut kembung
Nyeri ulu hati
25
Nyeri perut
Benjolan di daerah perut
Problem saluran cerna bagian atas : Sulit menelan, Cegukan/hiccup,
Muntah, Muntah darah
Problem saluran cerna bagian bawah : Masalah Sembelit atau tidak
dapat berak, Berak berlendir dan berdarah, Berak berwarna hitam, Berak
seperti dempul
Problem Anus : Gatal daerah anus, Nyeri daerah anus, Benjolan di anus
Benjolan di lipat paha
E SISTIM SALURAN KEMIH DAN REPRODUKSI PRIA
Nyeri pinggang
LUTS, Kencing bercabang
Waktu kencing preputium melembung/balloning
Air kencing merah (hematuria)
Air kencing campur udara (pnemoturia) dan atau
Air kencing campur tinja
Keluar darah dari saluran kencing
Darah keluar bersama produk ejakulat (hemospermia)
Duh (discharge) dari saluran kencing
Benjolan saluran reproduksi eksternal , pembengkakan pada buah zakar
Sulit punya anak
Nyeri buah zakar
Buah zakar tidak teraba
Gangguan fungsi ereksi (organik)
Produk ejakulat sedikit atau encer
F SISTIM ENDOKRINE, HEAD, NECK, BREAST,
Nafsu makan hilang
Tremor
Gangguan pertumbuhan
Benjolan di leher
26
Berkeringat banyak
Benjolan di daerah payudara
Perlukaan pada Puting
Puting tertarik ke dalam (retraksi)
Payudara seperti kulit jeruk
G SISTIM MUSKULO-SKELETAL
Patah tulang
Terkilir
Gangguan jalan
Terlambat dapat berjalan
Gangguan sendi (nyeri, kaku, bengkak, kelainan bentuk)
Gerakan terbatas
Nyeri punggung
Gangguan otot, nyeri otot, kaku otot, otot mengecil
H SISTIM INTEGUMEN DAN SUBINTEGUMEN
Luka gores, Luka tusuk, Luka sayat , luka tembak
Luka bakar
Benjolan pada kulit
Tukak pada kulit
27
II. Psikomotorik
1. Melakukan pemeriksaan fisik pada akut abdomen
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
2. Memberikan inform concern pada pasien apendisitis akut
PEMBAHASAN
Etiologi dan Patogenesis
Penyebab utama apendisitis akut adalah sumbatan lumen apendik vermiformis, penyebab
sumbatan lumen yang paling sering adalah fecolit, diikuti hiperplasi jaringan limfoid sub mukusa
yang dikenal dengan gut asociate limphoid tissue (GALT), tumor , parasit usus atau benda
asing seperti biji buah-buahan atau bubur barium dari pemeriksaan radiologi sebelumnya.
Diagnosis
• Nyeri perut
• Anoreksia, mual dan muntah
• Demam
• Nyeri tekan dan Nyeri lepas
• Rigiditas
• Nyeri tekan kontra lateral
• Pemeriksaan colok dubur
• Alvarado Score
28
Alvarado score dapat di hafal dengan bantuan istilah MANTREL
o M: migratory of pain from peri umbilical to right ilaca fossa, nilainya : 1
o A : Anoreksia, nilainya : 1
o N : Nausea or vomitus, nilainya : 1
o T : Tenderness, Nilainya : 2
o R : Rebound tenderness, nilanya : 1
o E : Elevation of temperature, nilanya : 1
o L : Leukositosis, nilanya: 2
Total score : 9
o 7-9: apendisitis akut
o 5-6: Observasi 24 jam , nilai ulang setelah 24 jam
o < 5 : bukan apendisitis akut, pasien bisa di pulangkan dengan nasehat
Pemeriksaan penunjang
Pada kebanyakan kasus tidak terlalu sulit untuk menegakkan diagnosis appendisitis akut
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik abdomen. Hanya sebagian kecil kasus yang sulit
didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja, sehingga perlu pemeriksaan
tambahan seperti laboratorium, foto polos abdomen, USG
Leukositosis menyatakan peningkatan kadar leukosit dalam sirkulasi yang melebihi 10.000/uL,
peningkatan ini sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme.
Diagnosis Banding
A. Letak apendik vermiformis di atas saekum
B. Letak apendik di posisi iliaka
C. Letak apendik di pelvis
D. Pada wanita
29
dipilih oleh ahli Bedah. Pada apendisitis yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan
observasi. Bila masih didapati keraguan dalam observasi maka dianjurkan melakukan
pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi.
Bila tersedia tindakan laparoskopi diagnostic pada kasus yag meragukan akan segera dapat
menegakkan diagnosa appendisitis atau tidak. Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak
diperlukan pemberian antibiotik. Kecuali pada appendicitis gangrenosa atau appendicitis
perforate.
PEMBAHASAN
Etiologi
Hemoroid adalah pelebaran vena didalam pleksus hemoroidalis yang bukan merupakan keadaan
patologis kecuali bila menimbulkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan.
30
Anatomi dan patogenesis
Hemoroid dibedakan antara yang eksterna dan yang interna. Hemoroid interna adalah pleksus
vena hemoroidalis superior diatas garis mukokutan dan ditutupi mukosa. Hemoroid ini
merupakan bantalan vaskuler didalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah.
Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior
terdapat disebelah distal garis mukokutan didalam jaringan dibawah epitel anus
Diagnosis
• Perdarahan saluaran cerna
• Nyeri
• Prolap
• Colok dubur
Pemeriksaaan penunjang
• Anuskopi
• Proktosigmoidoskopi
• Laboratorium
• Pencitraan
Diagnosis banding
• Karsinoma rektum
• Prolaps rektumpolip ani
• Fissura ani
• Proktitispenyakit divertikel
Penatalaksanaan Hemoroid
• Konservatif
• Skleroterapi.
• Ligasi dengan gelang karet
• Hemoroidektomy
31
5.3 TOPIK : HERNIA
JUDUL: HERNIA
I. Kognitif:
1. Mengetahui etiologi hernia
2. Mengetahui dasar patofisiologi dan diagnosis hernia
3. Mengetahui penatalaksanaan hernia
II. Psikomotorik:
1. Mampu mendiagnosis hernia
2. Mampu menje patofisiologi dan dan menyusun diagnosis banding hernia
3. Mampu menjelaskan waktu untuk melakukan tindakan operasi
III. Attiude:
1. Melakukan inform consent tentang hernia kepada keluarga pasien
2. Memberikan petunjuk cara hidup post operatif hernia agarjangan terjadi residif.
PEMBAHASAN
Definisi
Hernia merupakan protusio ( penonjolan ) ruas organ, isi organ ataupun jaringan melalui bagian
lemah dan dinding rongga yang bersangkutan atau lubang abnormal. Hernia akan sangat
berbahaya jika tidak sesegera mungkin dioperasi.
Hernia memiliki bagian -bagian penting yaitu
1. Kantong hernia
2. Isi hernia
3. Cincin hernia ( daerah penyempitan kantung hernia akibat defek)
Hernia ada banyak jenisnya.
1. Secara umum hernia terbagi atas dua jenis , yaitu
a. Hernia Internal.
b. Hernia Eksternal
2. Hernia berdasar terjadinya :
a. Hernia Kongenital ( bawaan)
b. Hernia yang didapat
3. Hernia berdasar letaknya
32
a. Hernia Inguinalis
b. Hernia Diaphragmatika
c. Hernia Umbilicalis.
4. Hernia berdasar sifatnya
a. Hernia Reponibel
b. Hernia Irreponibel
5. Hernia Lain
a. Hernia Epigastrika
b. Hernia Littre
c. Hernia Spieghel
Epidemologi
Hernia Iebih banyak diderita oleh orang yang sudah berusia lanjut dan sebagian besar
yang mengalami hernia adalah laki-laki. Hal ini dikarenakan pada usia lanjut otot susah semakin
mengendur sehingga peluang untuk mengalami hernia sangatlah besar.
Etiologi
Hernia terjadi karena dinding otot yang melemah atau membran yang secara normal menjaga
organ tubuh pada tempatnya melemah atau mengendur. Hernia kebanyakkan diterita oleh orang
yang berusia lanjut , karena pada usia lanjut otot-otot mulai melemah dan mengendur sehingga
peluangnya sangat besar untuk terjadi hernia.
33
3). Benjolan tidak terasa nyeri tetapi cukup mengganggu.
Benjolan hernia mengganggu tergantung seberapa besar benjolannya
4). Mual, muntah
Patofisiologi
1. Hernia pada abdomen terjadi karena kelemahan pada dinding abdomen di lubang alokasi
hernia atau defek.
2. Hernia dimulai dan masuknya jaringan lemak pada lubang hernia atau organ pada perut
yang dibungkus oleh peritoneum, dan kemudian terjadi penonjolan.
3. Hernia yang terjadi pada discus interveterbral akan terasa nyeri apabila muncul dan dapat
menyebabkan nyeri tulang belakang atau sciatica.
Gambaran klinis
1. Penderita terdapat benjolan pada daerah-daerah kemungkinan terjadi hernia
2. Mual , muntah , susah makan dan tubuh demam
3. Benjolan hilang apabila berdiri atau keadaan relaks
terlalu berat, batuk ,dll
4. Bila diraba terdapat benjolan pada titik — titik hernia.
Diagnosis
1. Hernia femoralis yang terjadi di daerah bawah dan lateral dan tuberculum pubicum.
Biasanya terdapat pada lipatan paha dan sebagian besar dialami oleh wanita.
2. Hernia inguinalis dimulai dan bagian atas dan medial dan tuberculum pubikum dan
dapat meluas jika hernia bertambah besar. Hernia ini sebagian besar tidak mengalami
komplikasi dan kegawat daruratan.
• Hernia ingunalis indirek dapat dimasukkan kembali seperti keadaan normal dengan
tekanan jari-jari disekitar cincin inguinalis interna memiliki leher yang sempit dan
kebanyakan dideriita oleh laki-laki yang berusia muda.
• Hernia inguinalis direk memiliki leher yang lebar , sulit dimasukkan kembali seperti
keadaan normal dengan tekanan jari-jari dan kebanyakan dialami oleh laki-laki yang
berusia tua.
3. Benjolan akan membesar apabila batuk, membungkuk, mengangkat beban yang berat
dan mengejan
34
Penanganan
Cara mengatasi hernia ada dua tindakan yaitu dengan konserfatif dan definitif. Tindakan
konserfatif yaitu dengan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk
mempertahankan isi hernia yang telah direposisi (pengambilan kembali organ pada posisi
normal). Tindakan definitif yaitu dengan jalan operasi. Cara yang paling efektif mengatasi hernia
yaitu dengan pembedahan untuk mengembalikan organ dan menutup lubang hernia agar tidak
terjadi kembali. Ada dua prinsip pembedahan yaitu Herniotomi : dengan memotong kantung
hernia saja kemudian diikat dan Herniorafi perbaikkan defek dengan pemasangan jaring melalui
operasi terbuka atau laparoskopik. Penangan lain tanpa bedah yaitu dengan pemakaian penopang
(truss ) yang bersifat menunjang.
Pencegahan
1. Hindari obesitas atau kelebihan berat badan, usahakan agar berat badan sesuai standard yang
sesuai dengan tinggi badan dan tipe badan.
2. Menghindari agar tubuh tidak mengalami konstipasi ( ketegangan ) dan tarikan dengan
banyak makan makanan yang berserat.
3. Hindari kegiatan mengangkat beban terlalu berat
4. Melakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang menjadi faktor terjadinya hernia,
seperti batuk menahun dan sembelit menahun.
35
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga pasien
2. Memberikan inform concern pada pasien Intestinal Obstrustion
PEMBAHASAN
Pendahuluan
Intestinal obstruction dapat dibagi dalam dua tipe:
• Dinamik
Dimana peristaltik bekerja melawan suatu obstruksi mekanik.
• Adinamik
Ini dapat terjadi dalam dua bentuk. Tidak ada peristaltik (ileus paralitik) atau ada
peristaltic (contoh oklusi vaskular mesenterium atau pseudo obstruksi).
OBSTRUKSI DINAMIK
Diagnosis obstruksi usus didasarkan empat hal klasik yaitu nyeri, kembung, muntah, konstipasi
total.
Obstruksi dapat dibagi dalam dua tipe obstruksi usus halus
- Tinggi
- rendah
• Pada obstruksi usus halus letak tinggi muntah terjadi pada awal dan profuse dan cepat
menyebabkan dehidrasi. Distensi minimal dengan sedikit bukti cairan pada rontgen
abdomen.
• Pada obstruksi usus halus letak rendah nyeri dominan dengan distensi di sentral. Muntah
belakangan. Multiple air fluid level tampak pada rontgen.
• Pada obstruksi usus besar distensi terjadi awal dan berat. Nyeri sedang, muntah dan
dehidrasi belakangan. Proksimal kolon dan saekum melebar pada rontgen abdomen.
Obstruksi dapat juga dibagi menjadi:
• akut
• kronik
• akut dalam kronik
• subakut.
36
Patofisiologi
Tanpa memandang etiologi atau keakutan onset, dilatasi usus proksimal dan mengubah suatu
motilitas. Mula-mula peristaltik meningkat untuk mengatasi obstruksi, yang sepanjang waktu
yang tersisa dengan giat sebanding dengan jarak obstruksi. Jika obstruksi tidak berkurang usus
mulai dilatasi dikarenakan pengurangan kekuatan peristaltic, akhirnya usus flasid dan paralisis.
Ini adalah fenomena protektif untuk mencegah gangguan vaskular sekunder oleh peningkatan
tekanan intraluminal.
Distensi proksimal suatu obstruksi dihasilkan oleh dua factor:
1. Gas.
2. Cairan
Dehidrasi dan kehilangan elektrolit disebabkan oleh:
- Berkurangnya intake oral
- Absorpsi intestinal tidak efektif
- Kehilangan yang diakibatkan oleh muntah
- Sequestrasi dalam lumen usus
Strangulasi
Jika strangulasi terjadi viabilitas usus terancam akibat sekunder dari suplai darah. Ini dapat
diakibatkan oleh:
o Kompresi eksternal (lubang hernia, adhesi, band)
o Gangguan aliran darah mesenterium (volvulus, putaran lengkung usus pada
penggantungnya atau intususepsi dimana sebuah segmen invaginasi kedalam
sebuah segmen sebelahnya.
o Peningkatan tekanan intraluminal (closed-loop obstruction)
o Obstruksi primer dari sirkulasi intestinal (infark mesenterium)
VOLVULUS SIGMOID
Volvulus adalah rotasi dari suatu lengkung usus pada sumbu mesenteriumnya, yang
menyebabkan obstruksi parsial atau total dari lumennya. Lengkung usus yang paling sering
terkena adalah kolon sigmoid. Penyakit ini dapat akut atau subakut dan sering rekuren.
37
Etiologi
Faktor predisposisi ialah mesenterium yang panjang dengan basis yang sempit.
Konstipasi kronik berat sebagian besar dialami penderita volvulus sigmoid.
Diagnosis
Pasien volvulus akut merasakan nyeri perut tiba-tiba yang berkaitan dengan konstipasi
total dan distensi abdomen yang menghebat dengan cepat. Terjadi obstruksi total dan bila tidak
diatasi dapat berkembang dengan cepat menjadi strangulasi dan gangren. Mual dan muntah
terjadi kemudian. Abdomen yang distensi terdengar timpani dan dapat terjadi peritonitis. Dapat
pula terjadi syok hipovolemik. Tidak terdapat kotoran di anus dan rectum.
Pemeriksaan Fisik
Nampak distensi usus yang mencolok. Pada perkusi terdengar timpani karena sigmoid
yang besar sekali.
Pemeriksaan Radiologik
Jika dicurigai adanya volvulus baik akut maupun subakut, maka pemeriksaan lanjutan
yang terpenting adalah pemeriksaan radiografik. Ambil foto polos abdomen dengan posisi
berbaring telentang. Pada kasus volvulus subakut, akan tampak distensi seluruh lengkung usus
yang terkena dengan hilangnya haustra, lengkung usus yang berdilatasi mengarah ke pelvis
dalam bentuk paruh burung. Periksa pula kadar haemoglobin pasien dan periksa adanya glukosa
dan protein dalam urin.
Penanggulangan
Volvulus akut merupakan indikasi untuk laparatomi darurat. Volvulus dibebaskan dan
jika usus tersebut masih viable, perintahkan seorang asisten untuk memasukan selang rectum ke
dalam kolon sigmoid dan kemudian sepanjang kolon yang distensi dengan bimbingan. Selang
tadi difiksasi pada bokong dan luka abdomen ditutup. Selang tersebut harus dicabut setelah 3-4
hari. Pada kasus ganggren pada kolon, lakukan reseksi dengan kolostomi double-barrell atau
kolostomi terminal. Setelah pasien membaik, siapkan untuk merujuk pasien untuk kolostomi
elektif atau untuk menutup kolostomi.
38
5.5 TOPIK ; TRAUMA ABDOMEN
JUDUL ; RUPTUR LIMPA
Tujuan Pembelajaran :
I. Koginitif
1. Menjelaskan anatomi dan fungsi organ abdomen
2. Menjelaskan penyebab tejadinya trauma abdomen
3. Menjelaskan patogenesa trauma abdomen
4. Menjelaskan diagnose trauma abdomen
II. Psikomotorik
1. Melakukan pemeriksaan fisik pada trauma abdomen
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan
pasien.
2. Memberikan inform concern pada pasien trauma abdomen
PEMBAHASAN
RUPTUR LIMPA
Pecahnya limpa dapat terjadi akibat rudapaksa tajam atau tumpul, sewaktu operasi dan, yang
jarang terjadi adalah rupture spontan
Pembagian ruptur limpa berdasarkan penyebab:
1. Trauma Tajam :
Ruptur Limpa jenis ini dapat terjadi akibat luka tembak, tusukan pisau antau benda
tajam lainnya.
2. Trauma Tumpul :
Limpa merupakan organ yang paling sering terluka pada trauma tumpul abdomen
atau trauma thoraks kiri bagian bawah. Keadaan ini mungkin disertai kerusakan usus
halus, hati, dan pancreas. Penyebab utamanya adalah cedera langsung atau tidak langsung
karena kecelakaan lalulintas, terjatuh dari tempat tinggi, pada olahraga luncur dan
olahraga kontak.
39
3. Trauma Iatrogenik :
Ruptur limpa sewaktu operasi dapat terjadi pada operasi abdomen bagian atas,
umpamanya karena lat penarik (retractor) yang dapat menyebabkan limpa terdorong atau
ditarik terlalu jauh sehingga hilus atau pembuluh darah sekitar hilus robek. Cedra
iatrogen lain dapat terjadi akibat pungsi limpa (splenoportografi).
4. Ruptur Spontan :
Limpa pecah spontan sering dilaporkan pada penyakit yang disertai dengan
pembesaran limpa seperti gangguan hematologic jinak maupun ganas, mononucleosis,
malaria kronik, sarkoidosis dan splenomegali kongestif pada hipertensi portal.
Patologi :
Kelainan limpa dikelompokan atas jenis rupture kapsul, kerusakan parenkim, laserasi luas
sampai ke hilus dan avulsi limpa.
Diagnosis :
Pemeriksaan fisik :
Tanda fisik yang ditemukan pada rupture limpa bergantung pada adanya organ lain yang
ikut cedera, banyak sedikitnya perdarahan, dan adanya kontaminasi rongga peritoneum.
Perdarahan dapat sedemikian hebatnya sehingga mengakibatkan syok hipofolemik hebat yang
fatal.
Pada setiap kasus trauma limpa seringkali harus dilakukan pemeriksaan abdomen secara
berulang-ulang oleh pemeriksa yang sama karena yang lebih penting adalah mengamati
perubahan gejala umum (syok, anemia) dan local di perut (cairan bebes, rangsangan
peritoneum).
Pada rupture yang lambat, biasanya penderita datang dalam keadaan syok, tanda
perdarahan intra abdomen, atau dengan gambaran seperti ada tumor intraabdomen pada bagian
kiri atas yang nyeri tekan disertai tanda anemia sekunder.
Penanggulangan
• Splenorafi
• Splenektomi
40
5.5 TOPIK : TUMOR PAYUDARA
JUDUL : KANKER PAYUDARA
Tujuan Pembelajaran :
I. Kognitif
1. Menjelaskan anatomi dan fungsi payudara
2. Menjelaskan penyebab terjadinya kanker payudara
3. Menjelaskan patogenesa kanker payudara
4. Menjelaskan diagnosis kanker payudara
5. Menjelaskan penatalaksanaan kanker payudara
6. Menjelaskan komplikasi dari penatalaksanaan kanker payudara
II. Psikomotorik
1. Melakukan pemeriksaan fisik pada kanker payudara
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
2. Memberikan inform concern pada pasien kanker payudara
PEMBAHASAN
Anatomi dan Fisiologi
Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing
mempunyai saluran ke papilla mamae yang disebut duktus laktiferus. Diantara kelenjar susu dan
fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak.
Diantara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang memberi
rangka untuk payudara.
41
1. Konstitusi genetika
2. Pengaruh hormon, ini berdasarkan bahwa :
3. Virogen :
4. Makanan :.
5. Radiasi daerah dada
DIAGNOSIS
Anamnesis
Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama penderita
dapat berupa : massa tumor di payudara, rasa sakit, cairan dari puting susu, eczema sekitar
aereola, keluhan kulit berupa dimpling, kemerahan, ulserasi, peau d’orange atau keluhan berupa
pembesaran KGB aksila atau tanda metastase jauh. Dan juga yang penting yang ditanyakan
adalah faktor risiko tinggi kanker payudara. Faktor-faktor tersebut yaitu
• Umur > 30 tahun
• Anak pertama lahir pada`usia ibu > 35 tahun
• Tidak kawin
• Menarche < 12 tahun
• Menopause terlambat > 55 tahun
• Pernah operasi tumor jinak payudara
• Mendapat terapi hormonal yang lama
• Adanya kanker payudara kontralateral
• Operasi ginekologi
• Radiasi dada
• Riwayat keluarga
Pemeriksaan Fisik
Untuk kanker dini yang ditemukan adanya tumor kecil dengan batas tidak tegas,
permukaan tidak rata, konsistensi padat keras, hal-hal yang termasuk high risk factor sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis klinis. Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali
dengan mengetahui kriteria inoperabelitas menurut Haagensen sebagai berikut :
• Terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih dari 1/3 luas kulit)
• Adanya nodul satelit pada kulit payudara
42
• Kanker payudara jenis mastitis karsinomatosa
• Terdapat nodul parasternal
• Terdapat nodul supraklavikula
• Adanya metastase jauh
• Terdapat 2 dari tanda-tanda locally advanced
1. Ulserasi kulit
2. Kulit terfiksir pada dinding toraks
3. KGB aksilla diameter nya lebih dari 2,5 cm
4. KGB aksilla melekat satu sama lain.
Pemeriksaan penunjang
1. Mammografi
2. Ultrasonografi
Pemeriksaan lain seperti thorax foto, bone scanning/bone survey, USG abdomen/liver
dilakukan untuk mencari jauhnya ekstensi tumor atau mencari metastasis jauh. Pemeriksaan
laboratorium untuk melihat toleransi penderita juga dapat melihat kemungkinan adanya
metastasis misalnya alkali fosfatase.
Diagnosis Pasti
Hanya dengan pemeriksaan histo-patologi.
Bahan pemeriksaan diambil dengan cara :
1. Eksisional biopsi, kemudian diperiksa potong beku atau PA. Ini untuk kasus-kasus
yang diperkirakan masih operabel/stadium dini
2. Insisional biopsi, cara ini untuk kasus-kasus ganas yang sudah in-operable/lanjut
3. Cara lain yaitu dengan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy). Suatu pemeriksaan
sitologi. Ketepatan hasilnya cukup tinggi.
43
PENATALAKSANAAN
A. Modalitas terapi
- Operasi
- Radiasi
- Kemoterapi
- Hormonal terapi
- Molecular targeting therapy (biology therapy)
Operasi :
Jenis operasi untuk terapi
- BCS (Breast Conserving Surgery)
- Simpel mastektomi
- Modified radikal mastektomi
- Radikal mastektomi
Radiasi :
- primer
- adjuvan
- paliatif
Kemoterapi :
o Harus kombinasi
o Kombinasi yang dipakai
- CMF
- CAF, CEF
- Taxane + Doxorubicin
- Capecetabin
Hormonal :
- Ablative : bilateral ovorektomi
- Additive : Tamoxifen
- Optional :
44
• Aromatase inhibitor
• GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), dsb
Follow up :
▪ tahun 1 dan 2 → kontrol tiap 2 bulan
▪ tahun 3 s/d 5 → kontrol tiap 3 bulan
▪ setelah tahun 5 → kontrol tiap 6 bulan
PEMBAHASAN
Anatomi
Secara topografi kelenjar thyroid terdiri atas 3 lobus, lobus lateralis kanan dan kiri serta
yang ditengah yaitu isthmus. Terkadang dapat ditemukan lobus ke-4 yaitu piramidalis. letak
kelenjar ini antara kartilago thyroidea dan cincin trakea ke-6. Isthmus letaknya antara cincin
trakea ke 2 dan 4.
Etiologi
Karsinoma tiroid dapat diinduksi pada binatang dalam laboratorium dengan memberikan
paparan obat goitrogenik, defisiensi yodium, radiasi eksterna, yodium radioaktif atau pemberian
kombinasi dari faktor diatas. Radiasi dapat mencederai sel dan mengganggu pembelahan dan
replikasi asam nukleat.
Defesiensi yodium memainkan peranan yang berbeda dalam menyebabkan karsinoma
tiroid. Rendahnya level yodium akan menyebabkan penurunan produksi dan kadar hormon
tiroksin dalam darah akan menaikan sekresi hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone), dari
kelenjar hipofisis anterior.
Stadium Klinis
Tujuan utama dalam membuat stadium klinis adalah untuk menentukan prognosa pasien
dan menentukan terapi. Sistim staging yang dipakai adalah menurut UICC / AJCC 2018
Diagnosis
Secara klinis dicurigai ganas bila :
• Benjolan pada kelenjar tiroid pada usia dibawah 20 tahun atau diatas 50 tahun
• Riwayat terapi radiasi daerah leher sewaktu kanak-kanak
46
• Disfagi, sesak napas, perubahan suara
• Nodul soliter, pertumbuhan cepat, konsistensi keras
• Ada pembesaran KGB
• Ada tanda-tanda metastase jauh, seperti benjolan pada kalvaria, tulang belakang,
klavikula, sternum, dll
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
• Pemeriksaan kadar FT4 dan TSHs untuk menilai fungsi tiroid
2. Pemeriksaan Radiologis
• Rontgen foto paru posteroanterior untuk menilai ada tidaknya metastase.
• Foto polos leher AP dan Lateral dengan metode “soft tissue technique” untuk melihat
kalsifikasi dan kelainan pada vetebra servikal.
• Pembuatan foto tulang bila ada tanda-tanda metastase ke tulang yang bersangkutan
3. Pemeriksaan Ultrasonografi
Diperlukan untuk mendeteksi nodul yang kecil atau nodul yang diposterior yang secara
klinis belum dapat dipalpasi, serta dapat dipakai untuk membedakan nodul yang padat
dan kistik.
4. Pemeriksaan Sidik Thyroid ( Thyroid scintigraphy
Hasilnya berupa : - Hot nodule : peningkatan fungsi. ( contoh : pada hipertiroid )
- Warm nodule : fungsi tiroid normal.
- Cold nodule : tidak terdapat fungsi tiroid ( contoh : pada tumor )
5. Pemeriksaan Sitologi melalui aspirasi jarum halus (BAJAH).
6. Pemeriksaan Histopatologi : diagnsosis pasti.
PENATALAKSANAAN
Pembedahan merupakan terapi utama pada karsinoma tiroid berdiferensiasi baik. Jenis
pembedahan dapat berupa lobektomi, isthmolobektomi ataupun tiroidektomi total. Pilihan jenis
pembedahan tergantung kepada faktor prognostik. Adanya metastasis pada kelenjar getah
bening merupakan indikasi untuk melakukan diseksi kelenjar getah bening leher ( radical neck
dissection ) sesuai dengan syarat – syarat yang harus dipenuhi untuk tindakan tersebut.
47
Pemberian radiasi interna sebagai ajuvan diberikan pada pasien kanker tiroid pasca tiroidektomi
total dengan faktor risiko kekambuhan yang tinggi. Pada kasus dengan metastase jauh, terapi
utama adalah dengan ablasi dengan radiasi interna. Namun demikian agar radiasi interna efektif
terhadap lesi metastase, harus dilakukan dahulu tiroidektomi total.
PEMBAHASAN
Pengertian dan Patogenesa
Karsinoma Sel Basal atau Basalioma adalah neoplasma maligna dari “non-skleroting cell” yang
terletak pada bagian basal epidermis dan merupakan karsinoma kulit non melanoma terbanyak.
Patogenesis basalioma adalah peran paparan sinar ultraviolet sinar matahari yang menyebabkan
terjadinya mutasi pada gen supresor.
Lokasi tersering adalah daerah muka disekitar hidung, sifatnya sangat jarang bermetastase tetapi
memiliki kemampuan infiltrasi yang tinggi.
48
Diagnosa
Anamnesa
Dikeluhkan adanya lesi seperti tahi lalat yang membesar, dapat pula lesi berupa borok yang tidak
sembuh-sembuh
Pemeriksaan Fisik
Biasanya mulai tumbuh sebagai benjolan yang transparan, kadang dengan pinggir yang seperti
mutiara. Bagian sentral benjolan tersebut lain, mencekung dan halus, seakan-akan menyembuh.
Tumbuhnya lambat dengan ulserasi. Jenis Ulkus Rodent tumbuh lebih cepat, dan dapat
menyebabkan kerusakan hebat dijaringan sekitarnya.
Pemeriksaan Penunjang
1. Foto polos didaerah lesi untuk melihat infiltrasi, kalau perlu dilakukan CT-Scan
2. Biopsi insisi/ eksisi untuk menentukan diagnosis histopatologisnya
Penatalaksanaan
• Bila mencurigai adanya sifat ganas tumor, maka perlu dilakukan biopsi
• Bila keganasan tumor terbukti secara histologis, maka dilakukan eksisi luas dengan
mengangkat cukup banyak kulit sehat sekeliling tumor. Sesudah pinggir dan dasar
sayatan preparat tersebut pada PA dinyatakan bebas tumor, maka luka ditutup dengan
Split Thickness Skin Graft, penutupan primer atau pembuatan flap.
• Untuk lesi di kelopak mata dan telinga dapat diberikan radioterapi
• Bila radikalitas tidak tercapai, diberi terapi adjuvan radioterapi
• Untuk lesi didaerah kantus, nasolabial fold, periorbital dan periauricular, dianjurkan
untuk melakukan Mohs Micrographic Surgery (MMS)
49
- Menjelaskan prognosis Karsinoma Buli-buli
II. Psikomotorik
- Melakukan pemeriksaan fisik pada Karsinoma Buli-buli
- Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter urologist
III. Attitude
- Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan
pasien
- Memberikan inform concern pada pasien Karsinoma Buli-buli mengenai
tindakan dan komplikasi operasi.
PEMBAHASAN
Etiologi dan faktor resiko
Karsinoma Buli-buli terjadi karena induksi bahan karsinogen yang banyak terdapat di sekitar
kita, Terjadinya tumor ini banyak di hubungkan dengan beberapa faktor, yaitu :
- Perokok
- Pemakaian zat pemanis buatan
- Kontak lama dengan zat-zat kimia pewarna,bahan-bahan karet dan kulit
- Obat-obatan
- Infeksi saluran kemih
Patogenesis
Karsinoma Buli-buli pada awalnya merupakan tumor superfisial, dimana tumor ini
kemudian mengadakan infiltrasi ke lamina propia,otot, dan lemak perivesika yang berlanjut
dengan invasi ke jaringan sekitarnya. Selain itu, tumor ini juga dapat menyebar secara limfogen
maupun hematogen.
Diagnosis
Hematuria
Hematuria makroskopis dan mikroskopis merupakan tanda dini yang terdapat pada hamper
semua kasus, dimana hematuria yang disebabkan oleh tumor ini bersifat Painless, intermittent,
dan hematuria total.
Selain hematuria, gejala lainnya pada tumor buli-buli adalah disuria dan tanda-tanda iritasi buli
lainnya atau obstruksi saluran kemih bagian bawah bila tumor menyumbat muara uretra
50
interna.Rasa nyeri pinggang dapat terjadi bila tumor menyumbat muara ureter sehingga terjadi
hidronefrosis.
Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak dijumpai kelainan, karena pada umumnya tumor ini
berupa tumor superfisial. Adanya massa tumor dalam buli-buli baru dapat di jumpai bila tumor
sudah tumbuh keluar dinding buli-buli. Palpasi bimanual dikerjakan dengan narkose umum.
Stadium
Tingkat dan stadium tumor buli-buli penting di tentukan untuk merencanakan terapi yang
tepat. Stadium menurut TNM
Laboratorium
Selain pemeriksaan laboratorium rutin, diperiksa pula :
Sitologi urin : pemeriksaaan sel uretelium yang terlepas bersama urine.
Cell surface antigen study .
Flow sitometri : mendeteksi kelainan kromosom sel urotelium.
Pencitraan
Pemeriksaan IVP dapat mendeteksi adanya tumor buli-buli berupa filling defect dan
mendeteksi adanya tumor sel transisional yang berada di ureter atau pyelum.
CT-Scan berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnya.
Terapi
Reseksi dengan endoskopi cocok untuk lesi yang superfisial. Kebanyakan tumor akan
berulang pada lesi yang superfisial, sangat sedikit pasien yang mempunyai lesi invasive. Untuk
tumor invasive local, terapi terbaik adalah sistektomi total dengan diversi urinari. Terapi radiasi
defenitif dan kombinasi kemoterapi dapat memberi hasil yang memuaskan
Prognosis
Penyakit ini mempunyai prognosis yang sangat bervariasi walaupun secara umum
tergantung dari stadium dan derajat histology tumor. Pada umumnya penderita dengan tumor
superfisial mempunyai harapan hidup 5 tahun yang cukup baik, sedangkan penderita dengan
tumor yang sudah tumbuh sampai ke lapisan otot dalam mempunyai angka harapan 5 tahun
sekitar 40-50 %.
51
5.9 TOPIK : BATU SALURAN KEMIH
JUDUL : BATU GINJAL
Tujuan Pembelajaran
I. Kognitif
Menjelaskan fungsi dan anatomi ginjal
Menjelaskan defenisi, penyebab batu ginjal
Menjelaskan patogenesa batu ginjal
Menjelaskan cara mendiagnosa batu ginjal
Menjelaskan penatalaksanaan batu ginjal
Menjelaskan komplikasi batu ginjal
II. Psikomotorik
Dapat melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, menegakkan diagnosa batu ginjal
Dapat melakukan rujukan pasien ke rumah sakit yang memiliki dokter bedah/urologist
III. Attitude
Menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan pasien dan keluarga pasien
Memberikan inform consent mengenai tindakan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi
pada pasien batu ginjal
PEMBAHASAN
BATU GINJAL
Definisi:
Massa keras seperti batu yang terbentuk di ginjal dan biasanya menyebabkan nyeri,
perdarahan atau infeksi di ginjal. Proses pembentukan batu ini disebut nefrolithiasis.
Etiologi dan Patogenesis
Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat
membentuk batu, atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang
normal.
52
Faktor-faktor itu adalah :
Faktor instrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang.
Faktor ekstrinsik, pengaruh berasal dari lingkungan sekitar.
Ada beberapa teori terbentuknya batu :
Teori inti / nucleus
Teori matrik
Teori kristalisasi
Gejala :
Batu, terutama yang kecil, biasanya tak menimbulkan gejala.
Batu yang menyumbat pelvis renalis maupun tubula renalis bisa menyebabkan nyeri punggung
atau kolik renalis. Gejala lain mual, muntah, perut kembung, demam, menggigil dan darah di
dalam air kemih.
Jika batu turun ke ureter, nyeri dapat terlokalisir di ipsi lateral bawah abdomen.Pada waktu batu
terletak pada distal ureter, nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal dan perineum
Diagnosa
Pemeriksaan urinalisa secara mikroskopis menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu
yang kecil. Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu diagnosa adalah pengumpulan air kemih
24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar Calsium, Sistin , Asam urat dan
bahan lain.
Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu Calsium dan batu struvit. Pemeriksaan lain yang
bisa IVP, USG, CT-Scan
53
- Batu di dalam pelvis renalis ukuran 1 cm atau kurang bisa dipecahkan dengan
Extracorporal Shock Wave Lithotripsi ( ESWL ). Kadang batu bisa diangkat dengan sayatan
kecil di kulit ( percutaneus nephrolithotripsi )
- Urethro-Renoskopi
- Bedah terbuka : pielolithotomi atau nephrolithotomi untuk mengambil batu yang besar pada
ginjal.
Komplikasi
Batu yang menyumbat sistim kemih ias menimbulkan hidronefrosis dan menyebabkan
infeksi saluran kemih. Kadang kala ada juga batu saluran kemih yang tidak menimbulkan resiko
seperti diatas ,tetapi tetap mempunyai resiko untuk terjadinya sumbatan saat beraktifitas nanti.
Maka dari itu batu harus dikeluarkan.
II. Psikomotorik
1. Melakukan pemeriksaan fisik hiperplasia prostat
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah/urologist
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
tentang hiperplasia prostat
54
2. Memberikan inform concern pada pasien dan keluarga mengenai indikasi dan
komplikasi tindakan yang akan dilakukan .
PEMBAHASAN
Hiperplasia prostat
Etiologi dan Patogenesis
Penyebab dari pembesaran prostat adalah tidak diketahui secara pasti namun diduga
berhubungan dengan faktor hormonal. Benign Prostat Hipertropi ( BPH ) merupakan proliferasi
sel stroma dan sel epitel pada gland prostat yang bisa menyebabkan beberapa gejala. BPH yang
utama terjadi pada zona transisi.
55
Diagnosis
Tanda dan Gejala
Umumnya pasien mempunyai gejala saluran kemih (LUTS) keinginan BAK yang sering dan
kehilagan kekuatan pancaran urin. Rasa ingin BAK yang berlebihan bila vesika urinaria hampir
penuh dapat merupaka gejala awal. Juga dapat ditemukan keluhan nocturia dan rasa tidak puas
sesudah BAK. Komplikasi infeksi juga meningkatka tingkat gejala obstruktif dan sering
ditemukan bersamaan dengan rasa panas / terbakar saat BAK. Dapat terjadi retensio urine akut.
Ini berhubungan dengan rasa ingin BAK, nyeri supra pubik, serta vesika urinaria yang membesar
dan teraba.
Sistem skoring yang dianjurkan oleh WHO adalah skor internasional gejala prostat atau I-
PSS ( International Prostatic Symptom Score ). Sistem skoring I-PSS terdiri atas 7 pertanyaan
yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan
kualitas hidup pasien.
Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5,
sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 1 sampai 7.
Dari skor I-PSS dapat dikelompokan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:
1. ringan : skor 0-7
2. sedang : skor 8-19
3. berat : skor 20-35
Pemeriksaan penunjang
Temuan Laboratorium
Urinalisis dapat menunjukkan tanda-tanda infeksi. Residual urine umumnya meningkat (>50cc)
dan rata-rata aliran urine menurun (<10-15cc/s).
Imaging
Pembesaran dari prostat dapat menyebabkan indentasi pada permukaan inferior vesika urinaria
yang menyebabkan deformitas ”J-Hook” pada distal ureter.Gambaran radiologis sesudah
pengosongan uretra dapat melihat jumlah urin residual.
Pemeriksaan Cytoskopi
Cytoskopi vesika urinaria dapat menunjukkan perubahan sekunder dari vesika urinaria
(trabekulasi) dan pembesaran dari kelenjar prostat periuretral
56
Studi Urodinamik
Monitoring fisiologis pengosongan dan pengisisa vesika urinaria secara simultan, aktivitas
sfingter, tekaan abdominal dan aktivitas otot dasar panggul, dapat berguna dalam
mendokumentasikan apakah terdapat hal-hal lain yang bertanggung jawab terhadap gejala
saluran kemih bawah (LUTS).
Diagnosa Banding
Neuropatic bladder dapat meghasilkan gejala yang sama denga hiperplasia prostat.
Kanker prostat juga menyebabkan gejala obstruksi leher vesika urinaria. Antigen spesifik serum
(PSA) prostat dapat meningkatkan sedikit pada pasien BPH, tapi jika lebih dari 10ng/ml, indikasi
untuk melakukan biopsi prostat melalui perektal
Prostatitis akut dapat menimbulkan gejala obstruksi
Striktur uretra menurunkan pancaran urine.
Penatalaksanaan Hiperplasia Prostat
Terapi Obat
Pembedahan
Pembedahan dianjurkan pada pasien yang terganggu dengan gejala atau retensi urin,
pembedahan juga dianjurkan pada pasien dengan dilatasi saluran atas,insufisiensi renal karena
BPH atau batu buli-buli 80-100 gram dengan pembesaran prostat < 80 endoskopi.standar
prosedur BPH adalah TUR. TUR dilakukan dengan cairan hemolistik seperti 1,5% glisine.
57
II.Psikomotorik
Melakukan pemeriksaan fisik pada trauma uretra
Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III.Attitude
Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
Memberikan inform concern tindakan dan komplikasi yang mungkin terjadi pada keluarga
dan pasien
PEMBAHASAN
TRAUMA URETRA
Anatomi dan Fungsi Uretra
Uretra merupakan saluran bagi urin dan produk sistem genitalia pria. Uretra pria
mempunyai panjang sekitar 23 cm dari leher buli-buli ke meatus dan dibagi menjadi bagian
anterior dan posterior. Uretra anterior dibagi menjadi uretra bulbaris, penil dan glandular. Uretra
anterior dikelilingi oleh badan erektil, korpus spongiosum. Uretra posterior terdiri dari uretra
pars membranasea dan prostatika.
Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-
buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan
posterior.
58
Cidera menyebabkan memar dinding dengan atau tanpa robekan mukosa baik parsial atau
total. Bila mukosa ditraumatisasi, maka urin cenderung diekstravasai dan parut hasilnya
menyebabkan striktura.
59
Penatalaksanaan Ruptur Uretra
Ruptur uretra posterior biasanya diikuti trauma mayor pada organ lain (abdomen dan
pelvis) dengan disertai ancaman jiwa berupa perdarahan..
Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk diversi
urine. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary endoscopic realigment
yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi.
Sebagian ahli lain mengerjakan reparsi uretra (uretroplasti) setelah 3 bulan pasca trauma dengan
asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang sehingga tindakan rekontruksi
membuahkan hasil yang lebih baik.
Kontusio uretra anterior tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat
menimbulkan penyulit di kemudian hari, maka setelah 4-6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan
uretrografi ulangan. Pada ruptur uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan
sistostomi untuk mengalihkan aliran urine. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu.
60
III.Attitude
1. Melakukan pendekatan yang empati kepada orang tua pasien malformasi anorektal
2. Melakukan inform concern yang tepat dan persuasif pada orang tua sehingga orang tua
bisa mengerti permaslahan yang sedang di hadapi dan bisa menerima tindakan medis yan
akan dilakukan.
PEMBAHASAN
ATRESIA ANI
Etiologi
Malformasi anorektal : terjadi sebagi akibat dari gangguan pertumbuhan , fusi, dan
pembentukan anus dari tonjolan embrionik ( kloaka).
61
Klasifikasi malformasi anorekatal
Dikenal molformasi letak tingi, intermedian dan letak rendah. Yang menjadi patokan dalam
klasifikasi tersebut adalah letak ujung terakhir dari atresia terhadap otot dasar panggul atau M.
Levator ani. M.
62
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga pasien
2. Memberikan inform concern pada invaginasi
PEMBAHASAN
INVAGINASI (intussusepsi)
Etiologi dan insiden
Invaginasi merupakan suatu keadaan masuknya suatu segmen usus proksimal ke segmen
bagian distalnya yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. Invaginasi
dapat terjadi pada setiap umur, bahkan dapat terjadi intrauterin. Penyebab terbesar invaginasi
masih idopatik.
Patogenesa
• Suatu segmen usus berikut mesenterium atau mesokolon masuk ke lumen usus bagian
distalnya oleh suatu kausa.
• 90% kausa tidak diketahui dengan pasti, tetapi diduga oleh penebalan dinding usus,
khususnya ileum. Penebalan ini disebabkan oleh hiperplasi jaringan limfoid submukosa
ileum terminal akibat peradangan viral.
• Proses obstruksi usus sebenarnya sudah mulai sejak invaginasi terjadi, tetapi penampilan
klinik obstruksi memerlukan waktu. Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam
gejala dan tanda-tanda seperti abdomen kembung dan muntah hijau atau fekal telah terjadi
Diagnosis
Penemuan pemeriksaan klinik sangat bergantung pada lamanya invaginasi terjadi
• Umumnya bayi dalam keadaan sehat, gizi baik. Mungkin beberapa hari sebelumnya terdapat
peradangan saluran nafas bagian atas.
• Bayi tiba-tiba menangis seperti menahan sakit untuk beberapa menit kemudian diam, main-
main atau tidur kembali ( serangan nyeri kolik ). Sering disertai dengan muntah. Gejala yang
terkenal adalah trias invaginasi yaitu : nyeri kolik, muntah dan perdarahan per anus.
• Beberapa jam kemudian bayi defekasi disertai darah segar dan lendir. Selanjutnya defekasi
hanya darah dan lendir
63
• Pemeriksaan colok dubur terdapat darah segar serta lendir ( currant jelly stool ), dan mungkin
masih terdapat feses.
• Menjelang 24 jam sesudah invaginasi terjadi, dapat ditemukan tanda-tanda obstruksi usus,
seperti abdomen yang kembung dengan terlihat kontur dan peristaltis usus. Pemeriksaan
colok dubur mungkin dapat terba ujung invaginasi, seperti pada perabaan portio
(pseudoportio). Sarung tangan hanya terdapat darah dan lendir, tidak ada fese lagi. Penderita
sudah terdapat pula tanda-tanda dehidrasi dan mungkin juga demam.
Pemeriksaan Radiologi
• Pemeriksaan barium enema untuk diagnostik dan terapi.
Terapi
Tindakan perbaikan keadaan umum mutlak perlu dikerjakan sebelum melakukan
tindakan apapun
Setelah keadaan umum baik, dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah terdapat tanda-
tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi dengan barium enema bila tidak terdapat
kontraindikasi tetapi tindakan ini harus dilakukan hanya dengan partisipasi gabungan ahli
radiologi dan ahli bedah, karena kegagalan reposisi hidrostatik atau perforasi usus tak sengaja
memerlukan eksplorasi abdomen segera.
Komplikasi
Invaginasi dapat terjadi kembali, angka rekurensinya sekitar 4%.
64
II. Psikomotorik
1. Melakukan pemeriksaan fisik pada labioplasti
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
2. Memberikan inform concern pada pasien labioplasti
PEMBAHASAN
Labioscizis
Definisi :
Suatu kelainan sejak lahir pada labium atau bibir untuk memperbaiki bentuk dan fungsi.
Patofisiologi :
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tak terbentuknya mesoderm
pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus nasalis dan maxilaris) tidak
menyatu.
Etiologi :
Belum diketahui pasti. Hipotesis yang diajukan antara lain:
• Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional
• Pengaruh obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal.
• Infeksi, khususnya viral (toksoplasma) dan klamidial
• Faktor genetik
Manifestasi Klinis :
Bila cacat terbentuk lengkap sampai langit-langit, bayi tak dapat menghisap. Karena sfingter
pada muara tuba Eustachii kurang normal, lebih mudah terjadi infeksi ruang telinga tengah.
Klasifikasi :
Berdasarkan organ terlibat :
• Celah vivir (labioskizis)
• Celah gusi (genatoskizis)
• Langitan (palatoskizis)
65
Berdasarkan lengkap/tidaknya celah yang terbentuk :
• Inkomplit
• Komplit
Indikasi Operasi :
Untuk memperoleh bentuk wajah secara morfologi yang normal dan fungsi yang optimal untuk
perkembangan pertumbuhan gigi geligi, mastikasi, pendengaran, pernapasan serta status
psikososial.
Kontra Indikasi Operasi
Malnutrisi, anemia, dan kondisi pediatri lainnya yang dapat mengakibatkan pasien tidak mampu
mentoleransi anastesia umum. Kelainan jantung yang menyertai harus dinilai terlebih dahulu
sebelum dilakukan labioplasti
Penatalaksanaan :
Tindakan operasi pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule of ten,
yaitu >10 minggu (3 bulan), >10 pon (5 kg), >10 g/dl, leukosit > 10.000/ul. Cara operasi yang
umum dipakai adalah cara Millard. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan
(palatoplasti), dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap
sehingga pusat bicara otak belum membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat,
sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal, tak sengau, sulit dicapai.
Setelah operasi, pada usia anak dapat belajar dari orang lain, speech therapist dapat diminta
mengajar/melatih anak bicara yang normal.
Teknik Operasi
Yang paling umum digunakan adalah teknik Millard yang caranya didasari oleh gerakan
memutar dan memajukan (rotation and advancement).
Komplikasi Operasi
• Wound dehiscence
• Wound expansion.
• Wound infection
• Malposisi Premaksilar
• Whistle deformity.
• Abnormalitas atau asimetri tebal bibir
66
Follow – up
Setelah operasi labioplasti, pasien harus dievaluasi secara eriodic terutama status kebersihan
mulut dan gigi, pendengaran dan kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial.
PEMBAHASAN
Luka Bakar
Anatomi
Jar.Lunak (Soft Tissue): Struktur terbesar tubuh.
Terdiri atas: Kulit, Fascia, Otot, pemb.darah, saraf, tendon dan ligamen.
Kulit secara tradisional dibagi dalam 3 lapisan anatomi :
⚫ Epidermis.
⚫ Dermis.
⚫ Jaringan subkutis: Lemak,fascia.
. Prinsip Penatalaksanaan
Menjamin dan menjaga :
1. Air Way
2. Perfusi darah tetap normal.
67
3. Keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Normal body temperatur.
Penatalaksanaan Life Saving pada LB
1. Membebaskan pasien dari :
a. Bahan / material penyebab LB.
b. Pakaian dan perhiasan.
2. Mencegah hypothermia.
3. Pemasangan 2 line – kaliber besar IVFD.
4. Infus hangat cairan Ringer`s Laktate.
68
• Eskhar +, pada grade 2 dalam.
3.Grade 3.
• LB dalam
• Eskhar +
• Bulae - , nyeri –
69
• Identifikasi trauma penyerta yang belum terdeteksi.
• Timbang berat badan pasien saat masuk dan hari ke hari.
• Ukur analisa Gas Darah dan Foto Thoraks.
• Dokumentasi semua data perjalanan LB dalam lembaran khusus..
Obat-obatan .
• Analgetik / Narkotik : penggunaan dibatasi/ kalau ada ada indikasi pemberian IV.
• Antibiotik : pemberian sesuai indikasi, selanjutnya sesuai kultur.
Perawatan Luka.
Prinsip :
• Rawat luka sesuai kondisi luka dan kondisi pasien.
• Ruangan harus bersih dan steril.
• Tenaga medis / para medis harus bekerja bersih dengan alat yang streril.
• Jangan :
o Memecah bulae.
o Mengoles dengan antiseptik.
o Menggunakan air dingin, karena bisa nengganngu perbaikan jaringan pada zona
Stasis.
Jenis Perawatan Luka :
1.Perawatan Terbuka.
2.Perawatan Luka Tertutup.
70
2. Dapat melakukan rujukan ke RS yang memiliki dokter bedah
III. Attitude
1. Menyediakan waktu untuk melakukan komunikasi dengan keluarga dan pasien
2. Memberikan informed consent pada pasien fraktur dan dislokasi
PEMBAHASAN
Tanda-tanda klasik fraktur adalah :
1. Adanya riwayat trauma
2. Timbul rasa nyeri
3. Pembengkakan
4. Deformitas
5. Nyeri lokal dan sumbu
6. Krepitasi
7. Fungsio laesa
Apabila terdapat tanda-tanda tersebut di atas, maka fraktur dapat didiagnosis secara klinis
dengan “CARDINAL SIGN” adalah nyeri sumbu.
KLASIFIKASI FRAKTUR
1. Berdasarkan terjadinya trauma, trauma langsung (direct) dan tidak langsung (indirect).
2. Berdasarkan besar kecilnya kerusakan :
a. Fraktur sederhana (simple fracture), apabila tulang terbagi menjadi 2 fragmen.
b. Fraktur kominutif, apabila tulang terbagi menjadi lebih dari 2 fragmen.
3. Berdasarkan bentuk garis fraktur sebagai akibat traumanya , fraktur dibagi :
- Komplit atau Inkomplit
- Transversal, oblique, segmental dan spiral
- Kompresi
4. Hubungan antara tulang dengan jaringan lunaknya dapat dibagii menjadi fraktur tertutup
dan fraktur terbuka.
Sedangkan peranjakan atau pergeseran diatas menimbulkan istilah dalam pengelolaan fraktur
berupa
- Alignment ( kesegarisan )
71
- Rotasi ( terpuntir )
- Diskrepansi ( perubahan panjang tungkai )
PENYEMBUHAN FRAKTUR
Penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap :
1. Kerusakan jaringan dan hematoma
2. Inflamasi dan Pembentukan sel
3. Pembentukan kalus
4. Konsolidasi
5. Remodelling
Tujuan akhir dari penatalaksanaan fraktur adalah “UNION”
GAMBARAN KLINIS
Anamnesa adanya trauma segala macam jenisnya serta adanya disfungsi, nyeri , memar,
pembengkakan dan adanya deformitas dicurigai suatu fraktur.
Tanda lokal yang paling spesiik adalah : “ ABNORMAL MOVEMENT” artinya tempat yang
bergerak bukan pada sendi, tapi pada tempat fraktur.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
X ray
Untuk menentukan tempat serta konfigurasi fraktur diperlukan pemeriksaan ini, ingat dengan
RULE OF TWO :
a. TWO VIEWS
b. TWO JOINTS
c. TWO LIMBS
d. TWO INJURIES
PENATALAKSANAAN
sistematis, tegas, menelusuri tanda, keluhan dan anamnesa serta kerjasama terpadu.
Advanced Trauma Life Support (ATLS ) terdiri dua tahap berupa :
PRIMARY SURVEY
A : Airway + C spine control
B : Breathing + Ventilation supporte
72
C : Circulation + Hemorrhage control
D : Disability → Evaluasi neorologis untuk menilai tingkat kesadaran secara sederhana dengan
metoda AVPU
A : alert (sadar)
V : respons × suara
P : respons × nyeri
U : Unresponsive ( tidak ada respons )
E : Exposure + Environment
SECONDARY SURVEY
Dasar penatalaksaan adalah “4 R”
RECOGNITION artinya diagnosa
REDUCTION/REPOSITION : dilakukan kedudukan fragmen fraktur bergeser terhadap
alignment.
RETAINING artinya tindakan fiksasi untuk mempertahankan kedudukan
REHABILITATION artinya untuk mengembalikan fungsi dari anggota gerak
FRAKTUR TERTUTUP
Pada fraktur tertutup tindakannya adalah reposisi tertutup dalam pembiusan dan difixasi /
imobilisasi berupa traksi dan gips. Operasi baru dilakukan setelah reposisi tertutup gagal.
FRAKTUR TERBUKA
Ada 3 hal yang merupakan kedaruratan atau “emergency” pada trauma Orthopaedi yang
memerlukan tindakan segera yaitu :
1. Fraktur terbuka
2. Fraktur tertutup dengan gangguan neurovaskuler
3. Dislokasi
Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson
• Grade I : Luka bersih < dari 1 cm (biasanya luka berasal dari fragmen tulang (from
within) dengan kerusakan jaringan lunak yang minimal
• Grade II : laserasi atau luka > 1 cm dengan kerusakan jaringan lunak yang minimal
73
• Grade III : Luka dengan kerusakan jaringan lunak yang luas,avulsi, trauma pada otot
dan nervus
Gustillo membagi menjadi 3
• Grade IIIA : Luka dengan kerusakan jaringan lunak yang luas tapi dengan jaringan
yang masih menutupi tulang yang adekuat
• Grade IIIB : Luka dengan kerusakan jaringan lunak yang luas disertai dengan jaringan
penutup tulang yang tidak adekuat (bone expose), devaskularisasi tulang, kontaminasi
luka yang luas, biasanya memerlukan skin graft atau skin flap
• Grade IIIC : Luka dengan kerusakan pada neurovaskular
74
PEMBAHASAN
1. KLASIFIKASI
Klasifikasi cedera kepala
-------------------------------------------------------
A. Berdasarkan mekanisme
1 Tertutup
2 Penetrans
B. Berdasarkan beratnya
1 Skor Skala Koma Glasgow
2 Ringan, sedang, berat
C. Berdasarkan morfologi
1 Fraktura tengkorak
a Kalvaria
1 Linear atau stelata
2 Depressed atau nondepressed
b Basilar
2 Lesi intrakranial
a Fokal
1 Epidural
2 Subdural
3 Intraserebral
b Difusa
1 Konkusi ringan
2 Konkusi klasik
3 Cedera aksonal difusa
75
2. Stabilisasi Kardiopulmoner:
3. Pemeriksaan Umum
4. Tindakan Emergensi Untuk Cedera Yang Menyertai:
5. Pemeriksaan Neurologis:
Kemampuan membuka mata
Respons motor
Respons verbal
Reaksi cahaya pupil
6. Obat-obat Terapeutik:
Bikarbonat sodium
Mannitol
Hiperventilasi
7. Tes Diagnostik:
CT scan
76
HEMOPNEUMOTORAKS
Anatomi dan Fisisologi
Paru dibungkus oleh 2 lapis jaringan pleura, yaitu pleura parietalis dan pleura viseralis. Ruangan
potensial antara 2 lapisan pleura ini disebut dengan kavitas pleuralis.
Dada berisi organ vital paru dan jantung.
Trauma thoraks sering terjadi, terutama setelah terjadinya peningkatan lalu lintas kendaraan
bermotor. Survey primer ( primary survey ) harus segera dilaksanakan pada pasien dengan
menilai ABC ( airway, breathing, circulatory ; lihat buku manual ATLS ).
PNEUMOTORAKS
Pneumotoraks adalah masuknya udara pada rongga potensial antara pleura viseral dan parietal
akibat trauma dada, luka tusuk bagian dada, dan sebagainya. Pneumotoraks terjadi karena ada
hubungan terbuka antara rongga dada dan dunia luar.
Gejala klinis pneumotoraks tergantung pada ada tidaknya pneumotoraks desak dan berat
ringannya pneumotoraks. Pasien secara spontan mengeluhkan nyeri dan sesak nafas yang muncul
tiba-tiba. Pada pemeriksaan fisik mungkin dada tampak asimetris, suara fremitus menurun atau
menghilang, dan pada perkusi hipersonor. Bila ada pneumotoraks desak, akan timbul sianosis,
takipneu, dan tanda-tanda hipoksia lain. Foto toraks posisi tegak pada saat ekspirasi membantu
menegakkan diagnosis.
77
Pneumotoraks tension membutuhkan dekompresi segera dan penanggulangan awal dengan cepat
berupa insersi jarum yang berukuran besar pada sela iga 2 garis mid clavicula pada hemi toraks
yang terkena. Tindakan ini akan merubah pneumotaks tension menjadi pneumotoraks simple.
Terapi definitif selalu dibutuhkan dengan pemasangan selang dada (chest tube) pada sela iga ke 5
(setinggi puting susu) di anterior dari garis mid aksilaris.
Open Pneumothorax ( pneumothoraks terbuka )
Open pneumothorax disebabkan karena adanya defek pada dinding dada yang besar. Biasanya
defek sebesar 2/3 diameter trakhea untuk dapat menimbulkan keadaan ini. Luka pada dinding
dada akan menimbulkan fenomena yang disebut dengan Sucking chest wound. Ventilasi
menjadi tidak efisien karena pada keadaan ini karena tekanan intra pleura yang negatif tidak
dapat dipertahankan.
Perbaikan ventilasi sementara dapat dilakukan dengan pemasangan verban untuk menutupi luka
secara ketat pada 3 sisinya; hal ini akan membuat semacam katup temporer yang memungkinkan
udara keluar dari rongga pleura namun mencegah masuknya udara kedalam rongga pleura.
Kondisi ini akan mengubah open pneumothoraks menjadi closed pneumothoraks. Pemasangan
WSD harus segera dilakukan untuk mengatasi keadaan patologi yang muncul. Thorakotomi
mungkin diperlukan sebagai terapi defenitif.
HEMOTORAKS TORAKS
Hemotoraks adalah terdapatnya darah dalam rongga pleura.
Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah
intercostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh cedera tajam atau cedera tumpul.
Hemotoraks bisa menimbulkan kematian karena :
- Shock, yaitu keadaan dimana hemostasis terganggu ( in adekuat perfusi jaringan): otak
(kesadaran menurun), ginjal (anuri), dan jantung (takikardi)
- Perdarahan yang ditakutkan adalah kalau > 20% dari jumlah darah(8cc/kgBB)
Diagnosis
Hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai suara nafas yang menghilang dan
perkusi pekakpada sisi dada yangmengalami trauma.
78
Terapi
Penatalaksanaan awal hemotoraks masif adalah dengan penggantian volume darah yang
dilakukan dengan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai
dengan infus cairan kristaloid secara cepat jarum besar dan kemudian pemberian darah
secepatnya.
Hematothoraks masif
Hematothoraks masif didefenisikan sebagai adanya perdarahan lebih dari 1500 cc darah setelah
pemasangan WSD atau lebih dari 200 cc per jam dalam waktu 2 – 4 jam.
Kepaniteraan Klinik Bedah dilaksanakan selama 9 minggu ( beban studi setara 4 SKS). Dalam
pelaksanaan nya beban studu 4 SKS tersebut dapat disetarakan dengan kegiatan belajar mengajar
selama 34 jam dalam seminggu. Waktu tersebut akan digunakan untuk :
1. Kegiatan Tatap muka
a. Tatap muka dengan preseptor CSS , 3 X 50 menit
b. Tatap muka dengan preseptor saat BST, 3 X 50 menit
c. Tatap muka dengan Staf Sub Bagian saat MTE 12 X 50 menit
d. Tatap muka dengan Staf Sub Bag saat CRS 5 X 50 menit
2. Penugasan tertstruktur 2 X 50 menit
3. Praktek lapangan 4 X 160 menit ( mengikuti kegiatan rawat inap, rawat jalan, kamar
operasi )
4. Belajar mandiri 4 X 60 menit
79
Preceptorship
Dokter muda dibagi dalam kelompok kecil ( 4-6 orang ) dan dibimbing selama 7 minggu
oleh 3-4 orang preceptor. Preceptorship terdiri atas 2 kegiatan yaitu ; BST dan CSS . Agar lebih
dapat memahami kasus secara komprehensive maka dokter muda diberi kesempatan mengikuti
perkembangan pasien ruangan yang dirawat oleh dokter spesialis subdivisi.
Dalam kegiatan BST Preceptor akan membimbing dokter muda dengan memanfaatkan
kasus tersebut. gunakan pasien tersebut dalam hal yang berkaitan dengan : Kemampuan
keterampilan klinis ( clinical thinking, anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
laboratorium dan pencitraan ), mengelola informasi dan komunikasi, pengelolaan masalah bedah
dan profesionalisme.
Kegiatan CSS, diisi dengan diskusi mengenai salah satu masalah yang berasal dari pasien
dengan maksud membangun dan mengembangkan landasan ilmiah, dan mengenalkan system
based evidence
80
MTE
MTE dilaksanakan bersamaan dengan laporan Jaga Emergency pada hari selasa. Dalam
kegiatan ini diharapkan dokter muda mendapatkan pemahaman mengenai proses diagnosis dan
manajemen kasus :
• Sumbatan Saluran cerna atas dan bawah, peritonitis, trauma abdomen, hernia inguinalis
• sumbatan jalan nafas
• Trauma tulang panjang dan dislokasi sendi, compartment syndrome, trauma tulang
belakang
• omphalocele, gastroskisis, TEF, Atresia Ani
• Pnemotoraks, hematotoraks, flail chest, tamponade perikardial
• Trauma pembuluh darah
• hematuria, retensio urine,
• Traumatic Brain Injury,
81
apa=apa yang akan direncanakan kemudian di dokumentasi dengan baik dan benar serta
sistematis pada format asesmen pasien yang sudah disediakan ( terlampir ).
Dokumentasi asesmen pasien ini akan digunakan sebagai rujukan ketika melakukan BST, dan
CRS, atau CSS
V. Sumber Daya
7.1 Jadwal Kegiatan
8 MINGGU I
JAM SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT SABTU
06.30- Kegiatan Kegiatan Visite Kegiatan Visite Kegiatan Visite
09.00 Visite yang yang yang yang
Dampingi Dampingi Dampingi Dampingi
PELEPASAN
Residen/ Residen/ Residen/ Residen/
Konsulen Konsulen Konsulen Konsulen
Stase Stase Stase Stase
09.00-
PEMBEKALAN Preseptor Preseptor Preseptor Preseptor
12.00 TUGAS JAGA
12.00-
ISTIRAHAT
13.00
13.30- GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE
14.30
14.30- Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing
16.00 masing masing masing masing masing
MINGGU 2-8
JAM SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT SABTU
06.30- Kegiatan Kegiatan Kegiatan Visite Kegiatan Visite Kegiatan Visite
09.00 Visite yang Visite yang yang yang yang
Dampingi Dampingi Dampingi Dampingi Dampingi TUGAS JAGA
Residen/ Residen/ Residen/ Residen/ Residen/
Konsulen Konsulen Konsulen Konsulen Konsulen
82
Stase Stase Stase Stase Stase
09.00-
Preseptor Preseptor Preseptor Preseptor Preseptor
12.00
12.00-
ISTIRAHAT
13.00
13.30- GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE
14.30
14.30- Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing
16.00 masing masing masing masing masing
09.00-
Preseptor Preseptor OSCE MCQ Preseptor
12.00 TUGAS JAGA
12.00-
ISTIRAHAT
13.00
13.30- GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE GRAND CASE
14.30
14.30- Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing Divisi masing
16.00 masing masing masing masing masing
83
7.3 Pustaka Rujukan
Kepustakaan:
1. R. Sjamsuhidayat, Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed, 2. Peneribit Buku kedokteran
EGC. Jakarta. 2004
2. Scwatrz’s principles of surgery, edited by Charles Brunicardi, dana K. Andersen, et all. The
Mc Graw –Hill companies. 2005
3. Bailey and loves,s. Short Practice of sugery. Edited by Russel, W. Norman, Bulstrode J.k.
Ed. 23,. Northwick park and ST Markl’s Hospital. London
4. Sabiston text book of surgery. Ed 16 . Editor. R. Daniel et all. Saunderr caompany, texas.
2001.
5. R. Soelarto dkk, bagian Bedah Staf Pengajar FKUI, Buku kumpulan kuliah Ilmu Bedah,
penerbit buku Binapura Aksara, Jakarta, 1994
6. Pusponegoro, Aryono. Kumpulan Ilmu Bedah. Bagian Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.1995.
7. Protokol PERABOI 2020
8. Tjindarbumi D. Karsinoma Tiroid. Dalam : Reksoprodjo S, ed Kumpulan Kuliah. Jakarta :
Binarupa Aksara, 1995. Hal 366-376
9. Poetiray EDC. Tumor Ganas Kulit. Dalam : Reksoprodjo S, ed Kumpulan Kuliah. Jakarta :
Binarupa Aksara, 1995. Hal 405-414
10. Purnomo B.: Dasar-dasar urologi : Ed 2 : Sagung Seto : Malang : 2003
11. Rainy Umbas : Kumpulan kuliah ilmu bedah: Ed 1: Bina Rupa Aksara : Jakarta : 1995.
12. Carrol Peter R : Urothelial carcinoma : Cancers of bladder,ureter and renal pelvis in
Smith׳s. General urology: Ed 16 : The Mc Graw Hill : 2004.
13. Alan J, Wein at all, Campbell-Walsh Urology 9th. Saunders, 2007
14. Josef E. Fischer at all, Mastery of Surgery 5th. Lippincot Williams & Wilkins, 2001
15. James M. Cumming. Urethral Trauma. Diakses dari htpp://www.emedicine.com/MED
/topic3082.htm. Jul 13, 2006.
16. Intussusception. Dalam: Raffensperger JG, ed. Swenson’s Pediatric Surgery. New York;
Appleton & Lange, 1990; 221-3
17. Intussusception. Dalam: Rowe MI, O’neill JA, Grosfeld JL, et al. Essentials of Pediatric
Surgery. Missouri; Mosby,1995; 542-4.
84
18. Moenadjat Y. Protokol Penatalaksanaan Kasus Luka Bakar di Unit Pelayanan Khusus Luka
Bakar Prof. Dr. Moenadjat Wiraatmaja , UPK Luka Bakar RSUPN CiptoMangunkusumo,
Jakarta; 2001.
19. Moenadjat Y. Protokol Penatalaksanaan Kasus Luka Bakar di Unit Pelayanan Khusus Luka
Bakar Prof. Dr. Moenadjat Wiraatmaja , UPK Luka Bakar RSUPN CiptoMangunkusumo,
Jakarta; 2001.
20. Moenadjat Y. Protokol Penatalaksanaan Kasus Luka Bakar di Unit Pelayanan Khusus Luka
Bakar Prof. Dr. Moenadjat Wiraatmaja , UPK Luka Bakar RSUPN CiptoMangunkusumo,
Jakarta; 2001.
21. R Vaccaro Alexander, Orthopaedic Knowledge Update, American Academy of
Orthopaedics Surgeons. 2005
22. Baumgaertner MR. Tornetta Paul III, Orthopaedics Update, Orthopaedic Trauma
Association. 2002
23. Simon BR, Koenigsknecht SJ, Emergency Orthopaedics 4th edition , 2001
24. Commite Trauma, Advanced Trauma Life Support, American College of Surgeons, 1993
25. Salter Robert B, Fractures, Dislocation and Soft Tissues Injury. Textbook of disorders &
Injuries of the Muskuloskeletal System. Asian edition. I Shoin Ltd.-Tokyo pp 411-458
26. Mubarak SJ, Hargens AR, Compartment Syndromes and Volkmann’s Ischaemic Vol III in
the series, Saunders Monographs in Clinical Orthopaedics.1981
27. Scaletta T.: Emergent Management of Trauma, McGraw Hill 2001
85
7 Dr. dr. Raflis Rustam Sp.B(K)V RSUP M.Djamil
8 Dr. dr. Alvarino Sp.B Sp.U(K) RSUP M.Djamil
9 Dr.dr. Yevri Zulfikar Sp.B Sp.U(K) RSUP M.Djamil
10 Dr.dr. Roni Eka Sahputra Sp.OT(K) RSUP M.Djamil
11 Dr.dr. Etriyel Myh, Sp.U(K) RSUP M.Djamil
12 Dr. dr. Yahya Marpaung, SpB RSUP M.Djamil
13 dr. Rizki Rahmadian SpOT(K) M.Kes RSUP M.Djamil
14 dr. Ardian Riza Sp.OT RSUP M.Djamil
15 dr. Hermansyah Sp.OT(K) RSUP M.Djamil
16 dr. Hendra Maska, SpOT RSUP M.Djamil
17 dr. Almu Muhammad, SpOT(K) RSUP M.Djamil
18 dr. Dody Efmansyah, SpB. SpU RSUP M.Djamil
19 dr. Peri Eriad Yunir, SpU(K) RSUP M.Djamil
20 dr. H. Syaiful Saanin Sp.BS RSUP M.Djamil
21 dr. Hesty Lidya Ningih, SpBS RSUP M.Djamil
22 dr. Ade Ricky Harahap, SpBS RSUP M.Djamil
23 dr. Roni Rustam, SpB(K)Onk RSUP M.Djamil
24 dr Yopi Triputra, SpB(K)Onk RSUP M.Djamil
25 dr Rahmat Taufik, SpB(K)Onk RSUP M.Djamil
26 dr. Ari Oktavendra, SpB RSUP M.Djamil
27 dr. Hendra Herizal, SpB RSUP M.Djamil
28 dr. M. Iqbal Rivai Sp.B KBD RSUP M.Djamil
29 dr. Juni Mitra Sp.B KBD RSUP M.Djamil
30 dr. Avit Suchitra Sp.B KBD RSUP M.Djamil
31 dr. Rini Suswita Sp.B KBD RSUP M.Djamil
32 dr. Irwan Sp.B KBD RSUP M.Djamil
33 dr. Vendry Rivaldy Sp.B K(V) RSUP M.Djamil
34 dr. Hippocrates Kam Sp.B K(V) RSUP M.Djamil
35 dr. Deddy Saputra Sp.BP-RE RSUP M.Djamil
86
36 dr. Benni Raymond Sp.BP-RE RSUP M.Djamil
37 dr. Fory Fortuna, SpBP-RE RSUP M.Djamil
38 dr. Jon Effendi Sp.B Sp.BA RSUP M.Djamil
39 dr. Budi Pratama Arnofyan, SpB, SpBA RSUP M.Djamil
40 dr. Muhammad Riendra, SpBTKV RSUP M.Djamil
41 dr. Aulia Rahman, SpBTKV RSUP M.Djamil
42 dr. Anbiar Manjas, SpB. KBD RSAM Bukit Tinggi
43 dr. Delsi Hidayat, SpOT RSAM Bukit Tinggi
44 dr. Erinaldi, SpOT RSAM Bukit Tinggi
45 dr. Supriadi, SpU RSAM Bukit Tinggi
46 dr. Arsil Hamzah, SpB RSAM Bukit Tinggi
47 dr. Syafruddin. SpB RSUD Payakumbuh
48 dr. RIdwan Muchtar SpB RSUD Payakumbuh
49 dr. Asuar M.S, SpB RSUD Painan
50 dr. Charli Diky SpB RSUD Painan
51 dr. Kurniadi, SpB RSUD Painan
52 dr. Taufandi, SpB RSUD Batusangkar
53 dr. Adrioki Risa, SpB RSUD Batusangkar
54 dr. Ewi Astuti, Sp.B RSUD Batusangkar
87
• Penilaian Non Preseptor ( 10% )
• Penilaian ujian akhir OSCE ( 30% )
Penialaian preseptor didasarkan atas hasil akhir pengamatan Mini Cex terakhir, serta pengamatan
88
LAMPIRAN
CONTOH OSCE
OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE)
LEMBAR PENILAI
NOMOR KANDIDAT :
Nomor station
Judul station Tumor Tiroid Dextra
Waktu yang dibutuhkan 5 menit
Tujuan station Kandidat mampu melakukan anamnesis, menyebutkan
pemeriksaan fisik tiroid, menyebutkan 2 pemeriksaan
anjuran dan menyebutkan kemungkinan diagnosis pada
pasien
Area kompetensi Mampu melakukan anamnesis, menyebutkan pemeriksaan
fisik tiroid, menyebutkan 2 pemeriksaan anjuran dan
menyebutkan kemungkinan diagnosis pada pasien
Instruksi untuk penguji Seorang pasien perempuan umur 33 tahun datang ke
poliklinik umum dengan keluhan benjolan pada leher depan
bagian kanan yang ikut bergerak pada saat menelan
Tanda vital :
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Nafas : 20 x/menit
Suhu : 37 C
Regio Colli :
Inspeksi : Tampak benjolan pada leher depan bagian
kanan, warna sama dengan kulit sekitar, ikut bergerak saat
menelan, permukaan rata
Palpasi : Teraba massa kenyal padat, tidak nyeri, ikut
bergerak saat menelan, ukuran 6x5x4cm
Auskultasi : Bising usus meningkat
90
KETERANGAN:
Untuk item 1,2,3 dan 4 :
1 = Tidak dilakukan sama sekali
2 = Dilakukan dengan banyak perbaikan
3 = Dilakukan dengan sedikit perbaikan
4 = Dilakukan dengan sempurna
20
Padang, 17 November 2016
Nama dan TT Penilai
91
DAFTAR PASIEN YANG DIPERIKSA ( Rawat Jalan )
92
DAFTAR KEGIATAN KAMAR OPERASI ( IGD )
Panduan Nilai
Penilaian didasarkan atas pembobotan kegiatan yang terdiri atas ; kemampuan Fisik Diagnostik 40 %, Prilaku
Propfesional 20, Presentasi kasus 10% dan Clinical Rreasoning 30%.
93
KEGIATAN CRS
Panduan Nilai
Penilaian didasarkan atas pembobotan kegiatan yang terdiri atas ; kemampuan Fisik Diagnostik 40 %, Prilaku
Propfesional 20, Presentasi kasus 10% dan Clinical Rreasoning 30%.
94
KEGIATAN MTE
95
8
10
11
12
13
96
Lampiran 1. LEMBARAN MINI C-EX
DAFTAR TILIK KETRAMPILAN KLINIK – HISTORY TAKING
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Hari : Tgl :
Skenario :
PESERTA : Setting :
IRNA / RAJAL
PEMBIMBING:
Diusahakan Diusahakan Tidak
PENILAIAN Memuaskan Tidak Diusahakan
Memuaskan
1 Menyiapkan privasi, sarana dan sarana yang
memadai, Memperkenalkan diri dan 5 0
mengenal pasien dengan sopan
2 Mendapatkan dan meng identifikasi 10 5 0
keluhan utama
3 Mendapatkan riwayat penyakit sekarang 10 5 0
secara sistematis
4 Mendapatkan riwayat penyakit dahulu 10 5 0
5 Riwayat obat yang pernah dkonsumsi ( 10 5 0
nama /jenis, dosis, waktu )
6 Review of System
( nervus system, muskulo-skeletal,
kardiovasculer, respirasi, alimentary tract, 10 5 0
urinary tract, endokrin, integumen,
imunology )
7 Faktor resiko, Riwayat Pekerjaan, Sosial,
Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan ( obat 10 5 0
adiktif, rokok, alkohol ), travelling
8 Riwayat Penyakit Keluarga 10 5 0
( berhubungan dengan keluhan utama )
9 Riwayat Sexual : ( dysfunction, 10 5 0
obstetric/gynecological )
10 Riwayat Alergi : 10 5 0
( makanan,obat bahan tertentu )
S K O R T O T AL
97
Lampiran 2. LEMBARAN MINI C-EX
PESERTA : Setting :
IRNA / RAJAL
PEMBIMBING:
Diusahakan Diusahakan Tidak
PENILAIAN Memuaskan Tidak Diusahakan
Memuaskan
1 Menyiapkan privasi, sarana dan sarana yang 10 5 0
memadai
2 Memperkenalkan diri dan mengenal pasien 10 5 0
dengan sopan
3 Melakukan penilaian keadaaan umum 20 10 0
4 Mendapatkan data tanda vital ( HR, RR, 20 10 0
Skala Nyeri, BP, temperature )
5 Melakukan pemeriksaan Fisik 20 15 0
...... ..............................
secara sistematis mulai dari inspeksi,
auskultasi, palpasi, perkusi
6 Menilai / Menyimpulkan hasil temuan fisik 10 5 0
secara sistimatis
S K O R T O T AL
98
Lampiran 3. Rekam Medik Dokter Muda
Keluhan Utama
99
( berhubungan dengan
keluhan utama )
Riwayat Alergi :
( makanan,obat bahan
tertentu )
Riwayat Sexual :
( dysfunction,
obstetric/gynecological )
Review of System
( nervus system, muskulo-
skeletal, kardiovasculer,
respirasi, alimentary tract,
urinary tract, endokrin,
integumen, imunology )
PEMERIKSAAN FISIK
Baik Sedang buruk
GCS Keadaan Umum
Tekanan Darah / mmHg Kesadaran
Frek Nadi X/menit Keadaan Gizi
Frek Nafas X/menit Anemis Ada Tidak
Suhu °C Ikterik Ada Tidak
Sianosis Ada Tidak Edema Ada Tidak
Skala Nyeri
Kulit
100
Kepala, Rambut
Mata
Telinga
Hidung
Tenggorokan
Leher
Dinding dada
Paru
Jantung
Perut
Punggung
Alat Kelamin
Anus
Anggota Gerak
101
STATUS LOKALIS
Gambar
Diagnosa Kerja
Diagnosis Banding
Rencana Pemeriksaan
Penunjang
Hasil Pemeriksaan
Penunjang
( Laboratorium,
IMAGING, dll )
RINGKASAN
(anamnesa, PF,
Penunjang yg
mendukung, se
ringkas
mungkin)
DIAGNOSA
102
RENCANA TATALAKSANA dengan TARGET yang TERUKUR
TUJUAN /TARGET INSTRUKSI PENATALAKSANAAN
1 DIAGNOSTIK
2 DIET – NUTRISI
3 TERAPI NYERI
4 TERAPI
MEDIKAMENTOSA
5 TERAPI BEDAH
6 KONSULTASI
7 DISCHARGE
PLANNING
103
PEMBERIAN INFORMASI DAN EDUKASI
1 Pemberi Informasi
2 Penerima Informasi
3 DIAGNOSIS
4 PEMERIKSAAN
YANG AKAN
DILAKUKAN
( Indikasi dan
Tujuan )
5 RENCANA TERAPI
( Indikasi dan
Tujuan )
6 RESIKO dan
KOMPLIKASI
( Diagnosis dan
Treatment )
7 PROGNOSIS Ad vitam : . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ad Sanam : . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8 LAIN-LAIN
. . . . . . . . . . , tanggal . . . . . . . . .
(.......................)
Dokter Muda
104
Catatan PERJALANAN PENYAKIT PASIEN
105