BCP Design for PT.PAM Workshop
BCP Design for PT.PAM Workshop
Humdiana1)
1)
Staf Pengajar Program Studi Sistem Informasi
Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII)
Jl. Yos Sudarso Kav.87 Sunter Jakarta Utara 14350
http://www.humdiana@ibii.ac.id
ABSTRACT
Business Continuity Plan is needed to complement and strengthen the system so that a reliable
system. Indonesia is a disaster prone areas are less aware of the business principals to the disaster.
BCP using Sharing Vision Framework to produce a form of design that suits your needs and business
processes with case studies PT.PAM company that operates in the automotive industry, workshop and
body repair services specialist. Sharing Vision Framework methodology starting from the identification
of business processes, identify conditions and determination of IT Risk Assessment of risk and
analysis that will produce the matrix for the next Risk Assessment and then carried to the process of
collecting data in the Business Impact Assessment malalui questionnaires, interviews, or discussion
by PT.PAM IT managers. Based on the results of Risk Assessment and Business Impact Assessment,
then conducted the search and selection of alternative plans BCP strategy is the reference key in
preparing a BCP document.Risk Assessment Results opportunity to explain the highest ranking
threats to earthquake, fire, hacker attacks, BCP is not affected if there threats to strike and supplier
failure. BIA results most business processes are at high and moderate categories, This shows every
process in the service and Part Shop PT.PAM Workshop has a strong dependency relationship.
Fifteen kinds of threats of disaster, the order of highest to lowest are: earthquakes, fires, hacker
attacks, floods, bomb threats, software problems, hardware problems, problems of telecom, electricity
supply problems, dangerous diseases / accidents, supplier failure, leaks B3, chaos , utility failure, and
strike. Can in anticipation of the Strategy Plan are: Strategy Backup Hardware, Backup Strategy for
electricity supply, Backup Strategy, Backup Strategy tekomunikasi channels, Backup Strategy of
required supplies, personnel Backup Strategy, Site Recovery Strategy, Strategy Offsite libraries,
escalation procedures and activation, and Insurance.
1. PENDAHULUAN
Business Continuity adalah kemampuan Posisi geografi Indonesia yang secara natural
perusahaan atau organisasi untuk dapat tetap memang rawan bencana setiap saat, banyak
melanjutkan proses bisnis yang kritikal dalam perusahaan jasa, khususnya workshop/service
situasi normal maupun gangguan/bencana. Para station tidak menyadarinya [3]. Setidaknya,
pelaku bisnis melakukan perencanaan Business mengacu hasil survei Menurut Sharing Vision pada
Continuity Plan agar dapat mengantisipasi 2008 lalu yang menunjukkan bahwa baru 56%
bencana yang datang dengan tidak terduga. responden perusahaan yang pernah menguji
Bencana bisa berupa apa saja yang menimbulkan sistem menyatakan baru 53% responden yang
kerusakan atau kehilangan dalam jumlah besar. sudah menguji BCP mereka. Responden juga
Contoh dari bencana adalah banjir, gempa bumi, merasa bahwa 78% sistem cadangan mereka baru
kebakaran, demonstrasi merusak, dan lain lengkap. Prihatinnya, responden sendiri tidak
sebagainya. Akibat bencana yang datang sangat teguh betul untuk bertekad terus memelihara dan
cepat, tidak terduga dan tidak memiliki suatu melatih timnya dalam mengembangkan DRP
prosedur dalam menanggapinya, maka bisnis maupun BCP. Ini terlihat dari angka hanya 41%
perusahaan akan kandas. responden yang ingin kembangkan BCP [7]. Masih
1
Jurnal Informatika dan Bisnis
menurut Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Tujuan penelitian ini adalah: Mengetahui
Telematika Sharing Vision dalam bisnis.com kondisi internal perusahaan dalam menghadapi
menyatakan di tengah posisi negara yang memiliki segala resiko yang ditimbulkan akibat bencana
ancaman bencana setiap saat serta berkaca alam atau yang lainnya yang mengakibatkan
pengalaman yang sudah-sudah, kesadaran pelaku sistem terhenti berfungsi, Mengetahui dampak
bisnis BCP masih belum optimal, pelaku bisnis resiko yang timbul akibat terjadinya bencana
sebenarnya tahu bahwa sistemnya belum lengkap, terhadap bisnis perusahaan, Menyusun strategi
sementara potensi bencana terus mengintai, tapi untuk mengatasi sistem yang terhenti akibat
minat perusahaan menyiapkan sistem yang andal bencana.
masih rendah. Melihat situasi tersebut, Sharing Pada bagian berikutnya membahas teori
Vision menilai wajar jika tidak kunjung muncul yang menjadi dasar dalam perancangan BCP dan
perbaikan layanan dari satu bencana ke bencana penelitian terdahulu tentang BCP dan
lainnya. Sebab kedua sistem itu dinilai masih penerapannya pada perusahaan jasa, metodologi
sekadar sistem cadangan yang ada untuk syarat penelitian yang digunakan, hasil analisa penelitian
formalitas. dan pembahasan serta kesimpulan.
Dalam survei lainnya yang dikemukakan
oleh Andrew Hiles FBCI, MBCS-Oxford, UK-
Auditing Business Continuity : Global Best 2. LANDASAN/KERANGKA
Practice menyatakan bahwa sebanyak 85% BCP PEMIKIRAN
gagal diuji ketika pertama kali dan 50% BCP tidak BCP didefinisikan sebagai perencanaan
pernah diuji sama sekali [7]. Pengujian terhadap yang berfokus mempertahankan kelangsungan
BCP harusnya menjadi prioritas utama bagi fungsi – fungsi bisnis saat gangguan terjadi dan
perusahaan sehingga perusahaan dapat setelahnya [7].
meminimalisasi resiko dan kerugian jika terjadi Kerangka kerja Business Continuitiy Plan
bencana. (BCP) sebagai kerangka kerja untuk merancang
Pada penelitian ini akan dilakukan BCP bagi perusahaan terdiri dari beberapa tahap,
perumusan BCP yang sesuai untuk PT.PAM yang yaitu : Risk Assessment (RA), Business Impact
memiliki bidang usaha pada Workshop and Part Assessment (BIA), Strategy Plan, Procedure,
shop (service station). Keberadaan Workshop Testing, Audit, Training, dan Maintenance[7].
(service station) tentu saja tidak terlepas dari Berdasarkan tinjauan studi sebelumnya dan
pertumbuhan penjualan kendaraan dan industri untuk menemukan solusi dari masalah yang ada,
otomotif di Indonesia, khususnya Jabodetabek. maka penelitian yang akan dilakukan dimulai dari
Selain itu pertumbuhan penjualan unit kendaraan menganalisis proses bisnis pada bagian
bermotor khususnya roda empat mulai dari tahun Workshop dan Part shop (service station) PT.PAM
2009 sampai 2015 memiliki rata-rata pertumbuhan untuk menemukan masalah dan
18% pertahunnya diyakini dengan persyaratan membandingkannya dengan peluang yang ada
pertumbuhan ekonomi minimal 5% dan harga untuk selanjutnya dilakukan dengan pendekatan
minyak stabil serta situasi politik di tanah air strategy plan Sharing Vision dan kemudian
kondusif. menentukan strategi pengembangan yang
Untuk wilayah DKI Jakarta saja, melibatkan analisis resiko, analisis dampak bisnis,
berdasarkan data dari Polda Metro Jaya yang dan perumusan strategi yang cocok untuk
diumumkan oleh Komisi Kepolisian Indonesia menjawab masalah yang dihadapi PT.PAM,
bahwa jumlah kendaraan yang terdaftar untuk selanjutnya untuk membuat rancangan BCP yang
wilayah DKI Jakarta dengan jumlah penduduk sesuai dengan kebutuhan PT.PAM, penulis
8.513.385 Jiwa sampai akhir Maret 2009 adalah melakukan wawancara, diskusi, dan kuiesioner
9.993.867 Unit kendaraan yang terdiri dari kepada Manajer TI PT.PAM, selanjutnya dilakukan
7.084.753 unit sepeda motor dan 2.909.114 unit proses implementasi dan secara bertahap
mobil dan kendaraan khusus [3]. Data tersebut dilakukan pengukuran sebagai review agar hasil
diatas belum termasuk kendaraan milik yang di dapat sesuai dengan harapan dan tujuan
TNI/POLRI, dari data tersebut jelas adanya trend BCP PT.PAM.
industri dan pertumbuhan kendaraan yang Sebagai hasil dari rancangan BCP maka
meningkat pesat dan bisa dijadikan peluang bisnis disusunlah rumusan Risk Assessment, Business
perWorkshopan dan suku cadang kendaraan Impact Assessment, dan Strategy Plan yang
(service station) yang memiliki segmen khusus sesuai dengan kebutuhan PT.PAM
dan potensial. Untuk itu perlu dilakukan
peningkatan kualitas pelayanan jasa dan barang
yang dijual ke konsumen kendaraan bermotor
guna mengantisipasi persaingan antar Workshop
terutama Workshop-Workshop ATPM (Agen
Tunggal Pemegang Merek).
2
Jurnal Informatika dan Bisnis
Masalah Peluang manajemen resiko dalam penggunaan
Ketergantungan Resiko dpt diketahui
teknologi informasi yang ditetapkan Bank
terhadap TI utk dgn cara
proses bisnis sangat mengantisipasi
Teknologi Fault Tolerant (Pengalihan
Teknologi) Indonesia No.9/15/PBI/2007 yang telah
tinggi resiko yg terjadi disesuaikan dengan nature bisnis perusahaan
khususnya untuk penetapan definisi dan
syarat minimal yang harus tersedia dalam
Approach Strategy Plan Developement
sebuah dokumen BCP [1]. Templete-templete
Strategy Plan Sharing Vision
Analisis
Analisis
Dampak
Perumusan pada penelitian sebelumnya dapat digunakan
Resiko
Bisnis
Strategi
dalam mengeksekusi tiap langkah
penyusunan BCP di PT.X[4].
d. Selain itu bisa sebagai pembanding dan
Implementasi
Pengukuran acuan dapat dilihat pada contoh output BCP
Business Contingency Plan Review diantaranya berupa dokumen dari penelitian
pembentukan kerangka kerja BCP pada Bank
X (Slamet, 2004) dan kajian dan analisis BCP
Hasil
studi kasus pada PT. Bank XYZ [1].
Risk Assessment
Business Impact
Assessment
Strategy Plan 3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan bersifat
kualitatif. Pola yang dilakukan mengikuti
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian BCP framework Sharing Vision. Penelitian diawali
dengan mengumpulkan data-data pendahuluan
Beberapa pekerjaan terdahulu yang yang diperlukan, data tersebut diperoleh dari
dilakukan oleh beberapa peneliti terkait dengan dokumen internal perusahaan seperti kebijakan
perancangan BCP dan penerapannya pada perusahaan, struktur organisasi, SOP, infrastruktur
perusahaan jasa adalah: TI, dan dokumentasi bencana yang pernah ada.
a. Cahyadi [2] (2006) melakukan penelitian Data internal perusahaan tersebut kemudian
Business Continuity Plan Berdasarkan digunakan sebagai bahan inputan dalam
Kuantifikasi Nilai Ekonomis Sistem Aplikasi menentukan ruang lingkup pada perancangan
Pada Industri Penerbangan : Studi Kasus BCP yang akan dilakukan. Kemudian setelah
Pada PT. Garuda Indonesia. Tujuan dalam ruang lingkup penelitian di tetapkan maka
penelitian tersebut adalah menganalisa dilakukan pengumpulan data-data kemungkinan
pendekatan dalam mengkuantifikasi nilai ancaman dan peluang potensi terjadinya bencana,
ekonomis yang timbul akibat kegagalan atau baik dari sumber internal maupun dari sumber
tidak berfungsinya suatu sistem aplikasi TI eksternal perusahaan, kemudian data tersebut
sebagai dasar dalam melakukan evaluasi dan digunakan sebagai inputan dalam proses
pengukuran investasi TI yang diharapkan identifikasi kemungkinan dan potensi ancaman
dapat digunakan sebagai bagian dari terhadap perusahaan. Selanjutnya dalam proses
implementasi BCP. Penelitian tersebut telah analisa Risk Assessment yang akan menghasilkan
mengkuantifikasi nilai manfaat tangible matriks Risk Assessment dan untuk selanjutnya
maupun intangible dari sistem aplikasi untuk kemudian dilakukan pengumpulan data untuk di
mengetahui kerugian bisnis dan potensi biaya proses dalam Business Impact Assessment
yang akan timbul bila sistem tidak berfungsi malalui kuesioner, wawancara, atau diskusi oleh
serta biaya untuk mengimplementasikan Manajer TI PT.PAM. Berdasarkan hasil Risk
alternatif-alternatif pendekatan BCP. Assessment dan Business Impact Assessment
b. Slamet [6] (2004) dan Novianto [5] (2006) tersebut, maka dilakukan pencarian alternative
melakukan penelitian Kerangka kerja yang dan pemilihan rencana strategi BCP yang menjadi
terbukti lebih teruji adalah menggunakan acuan pokok dalam penyusunan dokumen BCP,
Price Waterhouse System Management selanjutnya dapat dilihat Gambar 2.
Methodology, PWSMM+ terdiri dari tiga tahap
utama, tiap tahap dibagi dalam beberapa fase,
yaitu: tahap analisa dampak bisnis, tahap
seleksi strategi, tahap rencana persiapan,
pengujian, dan pemeliharaan.
c. Kusmayadi [4] (2009) melakukan
penelitian Perancangan BCP studi kasus
PT.X dibuat dengan menggunakan
framework Business Continuity dan Disaster
Recovery dari Sharing Vision serta
berpedoman pada kepada penerapan
3
Jurnal Informatika dan Bisnis
Tahap I 1.Identifikasi Proses Bisnis menduduki peringkat dan mempengaruhi hasil
Analisis Resiko
2.Identifikasi Kondisi SI/TI
3.Identifikasi & Penentuan Resiko
akhir penilaian resiko proses bisnis utama (Risk
Assessment) pada layanan workshop dan part
shop. Peringkat tertinggi berada pada gempa
bumi, kebakaran, hacker, dan banjir dan tingkat
1.Menganalisis dampak kritikal
Tahap II proses bisnis kualitatif (operasional)
terendah berada pada mogok, huru-hara dan
Perumusan Matriks BIA dan kuantitatif (keuangan) utility failure. Selanjutnya data rinciannya dapat di
2.Menentukan formula parameter
nilai efek & nilai MAOT
lihat pada Tabel 1.
Dari tahapan Risk Assessment dapat
Mendefinisikan alternatif strategi
diketahui secara keseluruhan dampak peringkat
Tahap III antisipasi ancaman/bencana potensi gangguan/bencana terhadap layanan
Perumusan Strategy Plan berdasarkan RA, BIA dan daya
Workshop dan Part shop pada PT.TAM seperti
dukung TI perusahaan
yang terlihat pada Tabel 2. Dari Tabel 2. sangat
jelas terlihat peringkat tertinggi berpotensi peluang
ancaman pada gempa bumi, kebakaran, hacker
Mengevaluasi tahap I, II, III dan
Tahap IV
memastikan kebutuhan BCP attack dengan demikian diharapkan setiap
Review PT.PAM
strategi BCP harus lebih efektif menanggulangi
potensi gangguan/bencana sesuai rating.
Berdasarkan pemaparan Peringkat Dampak
Gambar 2. Tahapan Penelitian Potensi Gangguan/Bencana terhadap Layanan
Workshop dan Part shop PT.PAM tersebut BCP
tidak terpengaruh jika terjadi ancaman mogok dan
supplier failure.
4. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN Tabel 1. Hasil Akhir Risk Asseessment.
Berdasarkan studi dokumen dan hasil
wawancara mendalam diperoleh data tentang
proses bisnis, kondisi SI/TI dan analisis resiko
pada PT.PAM maka segera dirumuskan Risk
Assessment, Bisnis Impact Assessment, dan
Strategy Plan.
4
Jurnal Informatika dan Bisnis
Tabel 2. Peringkat Dampak Potensi Gangguan setiap proses pada layanan Workshop dan Part
-Bencana Terhadap Layanan Shop PT.PAM memiliki hubungan ketergantungan
Workshop dan Part shop PT.PAM yang cukup kuat.
5
Jurnal Informatika dan Bisnis
dalam dua kondisi bencana/gangguan
berdasarkan asumsi lamanya penelitian bencana
akan terjadi. Jika jangka pendek (sort term)
Tabel 4. Skala Waktu Target Pemulihan apabila perkiraan lama bencana akan terjadi
antara 0 sampai 7 hari, Jika jangka panjang
(long term) apabila perkiraan lama bencana akan
terjadi >7 hari, kemudian dilakukan inventarisasi
kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk
menjalankan proses bisnis tersebut selama
periode bencana.
Dalam penelitian ini hanya dilakukan
identifikasi kebutuhan sumber daya jangka
pendek. Identifikasi kebutuhan sumber daya
jangka panjang tidak dilakukan dengan asumsi
pada proses layanan Workshop (service station)
dan Parshop PT.PAM apabila terjadi bencana
dalam waktu cukup lama maka proses diundur
atau dilakukan pencatatan secara manual. Selain
itu pada Tabel 5 terlihat hasil identifikasi sumber
data minimum yang harus dipenuhi pada saat
melayani pelanggan pada saat kritikal. Terlihat
pada saat proses kritikal layanan workshop
sumber daya minimum yang harus ada adalah PC,
Vital Record, dan Desk, tetapi pada proses
melakukan pembelian dan penerimaan suku
cadang supplies diperlukan. Sedangkan untuk
printer, fax, phone tidak harus selalu ada,
Mengacu pada penelitian terdahulu, maka analisis kemudian untuk suplies dan other tidak
kebutuhan sumber daya minimum bisa dibedakan diperlukan.
6
Jurnal Informatika dan Bisnis
7
Jurnal Informatika dan Bisnis
dalam satu atau lebih Offsite Libraries untuk
keperluan backup.
i. Prosedur Eskalasi dan Aktifasi 5. KESIMPULAN
Strategi mitigasi yang diterapkan ditopang Dari analisis berdasarkan berbagai data
dengan prosedur dan adaptasi untuk yang didapat, maka analisis atas dampak
membiasakan karyawan agar mengetahui gangguan/bencana terhadap perusahaan dibuat
bagaimana proses evakuasi dan eskalasi berdasarkan tingkat kerusakan (impact to
apabila terjadi bencana. business) dan kemungkinan terjadinya (likelihood
j. Insurance of their occurance). Pada hasil akhir Risk
Proteksi asset perusahaan terdapat beberapa Assessment menjelaskan proses bisnis yang
cakupan asuransi yang dapat dipergunakan menduduki peringkat dan mempengaruhi hasil
seperti asuransi fasilitas dan peralatan sistem akhir penilaian resiko proses bisnis utama (Risk
informasi, media (software) reconstruction, Assessment) pada layanan workshop dan part
extra expense, business interruption, valuable shop. Peringkat tertinggi berada pada gempa
paper and record, kesalahan dan kelalaian bumi, kebakaran, hacker, dan banjir dan tingkat
dan media transparantation. terendah berada pada mogok, huru-hara dan
utility failure.
4.4. Implikasi Penelitian Peringkat Dampak Potensi gangguan
1. Implikasi penelitian pada Manajerial adalah : /bencana terhadap layanan Workshop dan Part
a. Pembentukan Tim Kerja BCP harus Shop sangat jelas terlihat peringkat tertinggi
secara formal dan terdapat job berpotensi peluang ancaman pada gempa bumi,
description, reward and funishment harus kebakaran, hacker attack dengan demikian
jelas. diharapkan setiap strategi BCP harus lebih efektif
b. BCP membuka kesadaran dan menanggulangi potensi gangguan/bencana sesuai
pengetahuan manajerial dalam pentingnya rating. Berdasarkan pemaparan Peringkat Dampak
keselamatan dan kelanjutan proses bisnis Potensi Gangguan/Bencana terhadap Layanan
setelah terjadinya bencana secara Workshop dan Part shop PT.PAM tersebut BCP
terencana dan terarah. tidak terpengaruh jika terjadi ancaman mogok dan
c. Manajemen mempertimbangan supplier failure.
kesiapan dan kemampuan dalam Untuk menentukan tingkat kritikal, maka
menghadapi segala kemungkinan tiap proses bisnis ditentukan tingkat dampak yang
bencana yang terjadi untuk meminimalkan ditimbulkan jika layanan terhenti (severity of
dampak kerugian dan percepatan impact). Dari hasil BIA sebagian besar proses
pemulihan bisnis. bisnis berada pada kategori high dan moderat,
2. Implikasi penelitian pada Sistem adalah : yaitu proses Menerima dan Mengumpulkan data
a. BCP dibuat lebih detil terutama dalam pelanggan service, Menerima dan Mengumpulkan
hal prosedur, testing, dan maintenance data pelanggan asuransi, Mencatat dan
sehingga BCP dapat di evaluasi Menganalisis keluhan dan kerusakan kendaraan
dikemudian hari. pelanggan, Menyimpan data kerusakan
b. Dibuat biaya tambahan karena kendaraan, Menyimpan data perbaikan yang
menggunakan peralatan cadangan, contoh dilakukan oleh mekanik, dan Menerima
: backup data server, tetapi bila pembayaran dari pelanggan. Hal ini menunjukkan
dibandingkan dengan benefitnya yang setiap proses pada layanan Workshop dan Part
sangat tinggi maka biaya tersebut menjadi Shop PT.PAM memiliki hubungan ketergantungan
murah/low cost. yang cukup kuat.
c. BCP memiliki dampak terhadap sistem Disamping itu perlu ditentukan target
yaitu dengan dilengkapinya sistem dengan waktu pemulihan beberapa proses bisnis
peralatan dan infrastruktuktur yang meskipun digolongkan sebagai tingkat kritikal high
mendukung kesehatan, keamanan dan (Menerima dan Mengumpulkan data pelanggan
keselamatan kerja. Sistem mempunyai service, Menerima dan Mengumpulkan data
perencanaan pemulihan yang jelas dan pelanggan asuransi, Mencatat dan Menganalisis
dapat dilaksanakan oleh semua bagian keluhan dan kerusakan Kendaraan Pelanggan,
dengan baik dan benar. Menyimpan data kerusakan kendaraan,
3. Implikasi penelitian pada bidang ilmu adalah Menyimpan data perbaikan yang dilakukan oleh
untuk menambah pustaka keilmuan dalam mekanik, Menerima pembayaran dari pelanggan,
bidang BCP di industri otomotif khususnya dan proses melakukan pembelian dan penerimaan
perbengkelan (workshop/service station) dari suku cadang), dapat ditempatkan pada alokasi
mulai strategi dalam menghadapi bencana waktu pemulihan kurang dari 4 jam karena dapat
sampai proses pemulihan yang mempunyai ditandai dengan proses manual. Sedangkan untuk
bentuk tersendiri. proses bisnis Proses membuat laporan bengkel,
8
Jurnal Informatika dan Bisnis
Proses merawat inventori dan Proses membuat
laporan suku cadang digolongkan pada tingkat 6. DAFTAR PUSTAKA
kritikal low. Untuk menunjang proses BIA
diperlukan sumber daya minimum yang [1] Bank Indonesia. (2007). Pedoman Penerapan
dibutuhkan pada saat melayani pelanggan pada Manajemen Resiko dalam Penggunaan NO.
saat kritikal. Terlihat pada saat proses kritikal 9/15/PBI/2007.
layanan workshop sumber daya minimum yang [2] Cahyadi, Edi. (2006). Kajian Business
harus ada adalah PC, Vital Record, dan Desk, Continuity Plan Berdasarkan Kualifikasi Nilai
tetapi pada proses melakukan pembelian dan Ekonomis Sistem Aplikasi Pada Industri
penerimaan suku cadang supplies diperlukan. Penerbangan GIA. Laporan Proyek Akhir
Sedangkan untuk printer, fax, phone tidak harus Program Magister Teknologi Informasi,
selalu ada, kemudian untuk suplies dan other Fasilkom, Universitas Indonesia. Tidak
tidak diperlukan. diterbitkan.
Ada Sepuluh tahap strategy plan alternatif [3] Komisi Kepolisian Indonesia. (2009, August
strategi mitigasi (peringatan) yang di sesuaikan 5). Jumlah Kendaraan Sampai dengan Maret
dengan hasil Risk Assessment dan Business 2009. February 27, 2010.
Impact Assessment proses layanan Workshop dan http://www.komisikepolisianindonesia.
Part Shop PT. PAM, yaitu : Strategi Backup com/main.php?page=artikle&id=1187
Hardware, Strategi Backup electricity supply, [4] Kusmayadi. (2010). Perancangan Business
Strategi Backup data, Strategi Backup saluran Continuity Plan : Studi Kasus PT. X Laporan
tekomunikasi, Strategi Backup of required Proyek Akhir Program Magister Teknologi
supplies, Strategi Backup personnel, Strategi Informasi, Fasilkom, Universitas Indonesia.
Recovery site, Strategy Offsite libraries, Prosedur Tidak diterbitkan.
eskalasi dan aktifasi, Insurance. Dari sepuluh [5] Novianto, Sandra. (2006). Kajian dan Analisis
strategi seleksi pada layanan Workshop dan Part Business Continuity Plan pada Bank XYZ.
Shop sangat mungkin dapat terancam lima belas Laporan Proyek Akhir Program Magister
macam bencana. Dari ke lima belas ancaman Teknologi Informasi, Fasilkom, Universitas
potensial dari urutan tertinggi ke terendah yaitu : Indonesia. Tidak diterbitkan.
gempa bumi, kebakaran, serangan hacker, banjir, [6] Slamet, K. (2004). Pembentukan Kerangka
ancaman bom, software problem, hardware Kerja Business Continuity Plan pada Bank
problem, telecom problem, electricity supply Ritel X. Laporan Proyek Akhir Program
problem, penyakit berbahaya/kecelakan, supplier Magister Teknologi Informasi, Fasilkom,
failure, kebeocoran B3, huru-hara, utility failure, Universitas Indonesia. Tidak diterbitkan.
dan mogok. [7] Sharing Vision, (2008). Business Continuity
and Disaster Recovery Trend and Issue in
Indonesia 2008. Materi Workshop Sharing
Vision,Bandung.
http://www.sharingvision.biz.