0% found this document useful (0 votes)
12 views18 pages

Empatiiiiiiiii

Uploaded by

andi setiawan
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PPTX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
12 views18 pages

Empatiiiiiiiii

Uploaded by

andi setiawan
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PPTX, PDF, TXT or read online on Scribd

Assalamu’alaikum Wr Wb..

 IDEALTIAJENG SOLEHA (1814401013)


 PUTRI UTAMA (1814401014)
 EGI YADI RURI BAMA (1814401015)
 SHELFIA (1814401045)
Istilah “empati” menurut Jumarin (Panuntun, 2012),
berasal dari perkataan yunani yaitu “phatos” yang artinya
perasaan mendalam atau kuat. Selain itu, istilah “empati”
juga berasal dari kata “einfuhlung” yang digunakan oleh
seorang psikolog Jerman, yang secara harfiah yaitu
memasuki perasaan orang lain (feeling into).
Ketepatan dalam berempati sangat dipengaruhi
kemampuan seseorang dalam menginterprestsikan
informasi yang diberikan orang lain mengenai situasi
internalnya yang dapat diketahui melalui perilaku dan
sikap-sikap mereka.
Adapun konsep empati menurut Al-Hadits, yaitu
sebagaimana dengan sabda Rasulullah SAW, ''Jika orang-
orang tidak lagi mempedulikan orang miskin,
memamerkan kekayaannya, bertingkah seperti anjing
(menjilat atasan, menendang bawahan), dan hanya
mengeruk keuntungan, maka Allah mendatangkan empat
perkara: paceklik, kezaliman penguasa, pengkhianatan
penegak hukum, dan tekanan dari pihak musuh.'' (HR Ad-
Dailami). Dapat kita tafsirkan dalam hadits tersebut,
Rasulullah mengajarkan kita semua untuk mempunyai
sikap empati. Sehingga, bukan hanya kasih sayang sesama
yang dirasakan, tapi kasih sayang Allah juga kita rasakan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa empati adalah
suatu kemampuan sikap seseorang dari kesadaran
diri dalam memahami orang lain ataupun suatu
kelompok, baik yang berbentuk respon kognitif
maupun afektif dengan ikut merasakan apa yang
dirasakan orang lain.
2. Elemen

 Perkembangan Empati
Menurut Taufik (2012), empati bukanlah sekedar
sifat alami yang dianugerahkan Tuhan yang
keberadaannya secara otomatis dimiliki oleh
individu, melainkan potensi-potensi yang harus
terus dipupuk dan dikembangkan dalam berbagai
setting kehidupan, termasuk pembelajaran yang
diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya
sejak kecil.
Pada perkembangannya, empati selalu dikaitkan dengan
sikap. Batson dkk (1991) dalam tiga eksperimennya
mengenai empati dan sikap menguji bahwa empati akan
membangkitkan motivasi altruistik. Pada penelitian ini
Batson mendefinisikan empati sebagai orientasi lain dari
respons emosional yang kongruen mengenai kondisi orang
lain, jika orang lain dalam tekanan atau dalam kondisi
sedang membutuhkan maka akan tumbuh sikap empathic
feeling. Empathic feeling akan muncul ketika seseorang
sedang melakukan pengamatan terhadap kondisi orang
lain yang sedang membutuhkan atau merasakan kondisi
orang tersebut.
Goleman (1997) menyatakan terdapat 3 (tiga)
karakteristik kemampuan seseorang dalam berempati,
yaitu:
1. Mampu Menerima Sudut Pandang Orang Lain
2. Memiliki Kepekaan Terhadap Perasaan Orang Lain
3. Mampu Mendengarkan Orang Lain
Pada dasarnya setiap anak sudah memiliki kepekaan
(empati) dalam dirinya, tergantung bagaimana cara anak
dan juga orangtuanya mengasah kemampuan anak
tersebut. Oleh karena itu, orangtua ataupun guru sangat
disarankan untuk menanamkan sifat empati kepada anak
sejak dini.

Eisenberg (2002) juga menyatakan empati penting bagi


individu, karena dengan empati seseorang dapat:
1. Menyesuaikan Diri
2. Mempercepat Hubungan dengan Orang Lain
3. Meningkatkan Harga Diri
4. Meningkatkan Pemahaman Diri
Eisenberg (2002) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi proses perkembangan empati pada diri
seseorang, yaitu:
a. Kebutuhan
b. Jenis Kelamin
c. Derajat Kematangan Psikis
d. Sosialisasi

Selain itu, ada pula faktor lain yang mempengaruhi


empati, yaitu:
1. Pola Asuh
2. Variasi Situasi, Pengalaman, dan Objek Respon
Dalam Panuntun (2012) bahwa dalam proses individu
berempati melibatkan aspek afektif dan kognitif. Aspek
afekif merupakan kecenderungan seseorang untuk
mengalami perasaan emosional orang lain yaitu ikut
merasakan ketika orang lain merasa sedih, menangis,
terluka, menderita bahkan disakiti , sedangkan aspek
kognitif dalam empati difokuskan pada proses intelektual
untuk memahami perspektif orang lain dengan tepat dan
menerima pandangan mereka, misalnya membayangkan
perasaan orang lain ketika marah, kecewa, senang,
memahami keadaan orang lain dari; cara berbicara, dari
raut wajah, cara pandang dalam berpendapat.
3. Manfaat Empati

 Disukai oleh orang-orang di sekitarmu


 Membuat hidup lebih sehat
 Menjadi lebih pintar
 Menumbuhkan rasa cinta kasih dari dalam diri
 Mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup
 Menjauhkanmu dari sikap egois

 Menjauhkan dari Sikap Sombong


 Membuat Diri Kita lebih Bersyukur
 Mengembalikan Kemampuan Kontrol Diri dan
Evaluasi Diri
3. Mendengar Aktif

Mendengarkan Aktif adalah sebuah sikap


memperhatikan dan mendengarkan setiap
perkataan atau perbincangan orang lain.sikap
mendengarkan yang terfokus dan selalu
memberikan respon-respon komunikasi non verbal
dan verbal yang sederhana. Mendengarkan aktif
adalah perilaku yang dilandasi dengan tekad kuat
yang terdiri dari empat komponen, yaitu empati
(empathy), penerimaan (acceptance), kongruensi
(congruence), dan kekonkritan (concreteness).
 Keterampilan Mendengarkan Aktif
Untuk melaksanakan MA secara efektif kita perlu
mengembangkan sejumlah keterampilan atau teknik
sebagai berikut :

1) Mendengarkan arti total.


2) Menanggapi perasaan.
3) Memperhatikan semua tanda penting.
4) Menguji pengertian.
5) Menguji kesimpulan.
6) Bertindak konsisten.
• Manfaat Mendengar Aktif

1. Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif


berkurang atau hilang dengan jalan
mengungkapkannya secara terbuka).
2. Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut
terhadap perasaan-perasaan negatif.
3. Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
4. Memudahkan pemecahan masalah.
5. Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan
pendapat orang lain.
6. Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung
jawab dan berdiri sendiri.
 Hambatan – hambatan tersebut dapat digolongkan ke
dalam :
1. Mengatur, memerintah, mengarahkan, memberi
komando.
2. Memberi peringatan, mengancam
3. Berkotbah, membeberkankan kewajiban moral
4. Memberi nasihat, saran atau pemecahan masalah
5. Membujuk dengan logika, mendebat, member kuliah
6. Mengadili, memberi kritikan, tidak menyetuji,
permasalahankan
7. Memuji, menyetujui, member evaluasi positif
8. Mengejek, merendahkan, mempermalukan
9. Bersikap simpatik, membesarkan hati, memberikan
dukungan
Manfaat Empati dalam Asuhan Keperawatan

 Empati adalah salah satu aspek penting yang harus


dimiliki seorang perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan yang tepat dan sesuai kebutuhan kepada
pasien. Perawat adalah pekerjaan kemanusiaan yang
dihargai secara professional. Jika pilihan kita menjadi
seorang perawat maka kita akan menghabiskan hidup
untuk menolong orang lain, menggunakan skill,
memadukan ilmu dengan caring serta teknologi dan.
Sekurang-kurangnya ada tiga tata nilai yang harus
dimiliki oleh seorang perawat dalam menjalankan
tugasnya memberikan asuhan keperawatan pada
paseien yakni caring, empati dan altruisme.
Terimakasiihh..

Wassalamu’alaikum Wr Wb..

You might also like