Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penyelenggaraan Pendidikan Dalam Sistem PerskolahanWEB

Penyelenggaraan Pendidikan Dalam Sistem PerskolahanWEB

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,509 |Likes:
Published by api-3728262
tugas bahasa inggris
tugas bahasa inggris

More info:

Published by: api-3728262 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

MENCERMATI PENYELENGGARAAN PENDI DI KAN DI TANAH AI R:
Rujukan yang Digunakan dan Praktek yang Teramati1
Oleh: T. Raka Joni
Universitas Negeri Malang
Kata kunci: tujuan pentitikan, tujual formeel, tujuan materieel, regulasi, standar
nasional pendidikan, kbk, content transmission, pembelajaran yang mendidik,
pendidikan guru, UAN, NAEP
Abstract: Chronicling the formal frameworks as well as the actual practices in
the formal education system decade by decade from the 1950-s to the 2000-s,
the article traced the demise of the fruitful instructional paradigm that
juxtaposed formal objective (tujuan formeel) and curricular objective( t uj uan
materiel) inherited from the colonial era, to be replaced by the content
transmission paradigm inadvertently brought about by the 1975 Curriculum

(Kurikulum 1975). Subsequent events had also shown that inspite of the efforts
to introduce the competency-based approach to frame curriculum and
instruction, the initiatives seemed to have been effectively thwarted by the
clinging of the content transmission paradigm traceable even to the Government

Decree number 19 of 2005 on National Education Standards, whose conceptual framework has effectively but erroneously governed pedagogical thoughts and educational practice. Professionalization of teachers enacted through Law

number 14 of 2005 on Teachers and University Lecturers, which should have
constituted a strategic vehicle that could enhance the quality of education
throughout the school system, has begun to look that it would offer significantly
much less than what has been expected, due to the awsome obstacles that are

in the way, ranging from the 2 fatal academic flaws found in the law, the
detereoriating capacity of the teacher training institutions mainly due to their
conversion into universities, inefficient teacher personnel management, and even
more daunting would be the prevailing cultural proclivities to prefer easy ways to

attain objectives, even if it means going through less than entirely honest
means, while the quickly mounting political pressure is creating a situation that is
ticking away toward \u201dthe China syndrome\u201d. Therefore, the most disheartening is
with respect to regulation that, instead of upholding standards, in fact the
currently prepared government decree on teacher certification seems to
inadvertently provide for the plundering of teacher quality, making the
implementation of teacher certification, not unlike the tip of an iceberg,
precariously resting on a huge keg of challenges, and thus creating a situation

that was once dubbed as the \u201dCipularang syndrome\u201d .
1Naskah disajikan dalam Seminar Apa yang Salah dalam Pndidikan di I ndonesia, I katan
Sarjana Pendidikan I ndonesia di Jakarta, tanggal 17 \u2013 18 November 2006 di Jakarta.
1
Pendahuluan

Meskipun ada beberapa gelintir anak-anak bangsa ini yang berhasil merebut
medali emas dalam olimpiade untuk berbagai mata pelajaran, akan tetapi apabila
ditilik mayoritas yang terbesar, keadaannya masih memerlukan jauh lebih banyak
kerja keras yang tepat-arah apabila dibandingkan dengan apa yang teramati
selama beberapa dekade terakhir ini. Dalam pada itu, paparan singkat ini
memang tidak hendak berpanjang-panjang mengenai urusan yang telah menjadi
pengetahuan khalayak ini. Sebaliknya, paparan singkat ini hanya akan mencoba
mengangkat perkembangan berbagai rujukan yang nampaknya digunakan dalam
bukan hanya dalam penyelenggaaan, akan tetapi terlebih-lebih lagi juga dalam
menyikapi, penyelenggaraan pendidikan di tanah air, serta praktek yang
teramati, itupun hanya dicomoti saja secara tidak sistematis, karena tujuan
paparan ini hanyalah menyoroti beberapa sisi yang agaknya layak dianggap

sebagai semacam land marks dalam perjalanan pendidikan di tanah air, khususnya pendidikan dasar dan menengah, meskipun di mana relevan, perbincangan juga dikaitkan dengan pendidikan tinggi.

Untuk memperbincangkan rujukan dan dan praktek pendidikan di tanah air dari
dekade ke dekade itu, paparan dipilah dalam tiga rubrik yang berbeda namun
terkait yang, untuk mudahnya, dinamakan saja rubrik (a) tujuan pendidikan
nasional, (b) pemikiran tentang pendidikan, dan (c) pemikiran tentang
pembelajaran. Dan untuk masing-masing rubrik, dikemukakan rumusan
formalnya disertai ulasan baik berdasarkan pemahaman saya terhadap masing-
masing rubrik maupun hasil pengamatan saya terhadap praktek yang
terkembang, di sana-sini dengan meloncat ke dekade yang lebih kemudian atau
ke dekade yang lebih dahulu, sesuai dengan kebutuhan.

1.Tahun-tahun awal kemerdekaan
Berkaitan dengan pengamatan pada tahun-tahun awal kemerdekaan
yang sebahagian sangat besar saya alami sebagai siswa SR yang

kemudian berubah menjadi SD, tentu tidak banyak yang dapat
diutarakan, meskipun memang ada suatu pengamatan yang berkesan
sangat mendalam setelah saya mengemban tugas mengajar pada

program S-2 dan S-3 mulai lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu

berkenaan dengan ketrampilan berbahasa mahasiswa program pasca
sarjana itu, baik dari segi ketatabahasaan maupun memastikan ejaan,
yang sangat kentara dalam penulisan tesis dan disertasi. Kesan
mendalam tersebut terus sangat kuat terasa juga sampai dengan
ketika saya menuliskan pengamatan ini pada penghujung tahun 2006,
yaitu di jenjang S-3pun saya masih harus menggunakan banya waktu
membantu mahasiswa menertibkan kalimat serta mengatasi masalah
pembentukan kata seperti misalnya yang menyangkut pembedaan
ejaan antara \u201ddana melaluiv ou ch er itu diharapkan untuk digunakan
sesuai denganp er u n t u k an n y a\u201d dengan \u201ddana melaluiv ou ch er

2

tersebutd i p er u n t u k k an bagi peserta didik yang mengalami kendala ekonomik\u201d. Saya merasa bahwa urusan ejaan seperti ini telah tuntas saya kuasai di kelas I V SR, sehingga sangat mengherankan mengapa

mahasiswa jenjang S-3 masih mengalami kesulitan dalam urusan ini.
Sedangkan di bidang kependidikan, pengamatan sederhana baru saya
peroleh ketika saya memasuki Sekolah Guru B (SGB) pada tahun 1952
yang dipaparkan sebagai hasil pengamatan dalam dekade 1950-an.
Pemahaman saya terhadap pengalaman tersebut menjadi semakin
terelaborasi setelah saya melanjutkan kelajaran ke Sekolah Guru A
(SGA) pada tahun 1955, yang belakangan berubah bamanya menjadi
Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sebelum pada akhir tahun 1989 di-

phase-out karena persyaratan pendidikan pra-jabatan guru kelas SD
ditingkatkan menjadi program D-I I PGSD sehingga tanggung jawab

penyelenggaraannya beralih dari Ditjen Dikdasmen ke Ditjen Dikti.
Setamat dari SPG saya kemudian memasuki Jurusan I lmu Pendidikan
pada Fakultas Keguruan dan I lmu Pendidikan (FakKI P) di Malang, yang
bernaung di bawah Universitas Airlangga Surabaya. Berikut beberapa

butir yang relevan.
2.Tahun 1950-an
Dalam dekade 1950-an ini, rujukan pendidikan saya amati terutama dalam
posisi saya sebagai siswa dan kemudian mahasiswa yang kebetulan
mengikuti program pendidikan guru.
Selain Tujuan Pendidikan Nasional, pelajaran yang paling berkesan bagi
saya sebagai siswa SGB yang saya masuki menjelang akhir tahun 1952 dan
agaknya paling relevan dikemukakan dalam forum yang cendekia ini,
terutama berkaitan dengan teori pendidikan serta pembelajaran, yang lazim
disebut sebagai didaktik dan metodik, secara singkat dapat dupaparkan
sebagai berikut.
a.Tujuan Pendidikan Nasional
Ketika belajar sebagai siswa SGB dan kemudian sebagai siswa SGA,

kami memang sangat akrab dengan tujuan pendidikan nasional,
meskipun tidak mengetahui kedudukan formalnya. Barulah jauh
belakangan saya tahu bahwa pada tahun 1950 pemerintah RI yang
berkedudukan di Yogyakarta telah menetapkan\u201cDasar-dasar
Pendidikan dan Pengadjaran di Sekolah\u201d yang atas persetujuan KNI P
disahkan pada tanggal 2 April 1950 oleh pemerintah RI yang
berkedudukan di Yogyakarta itu. Dan setelah RI S bergabung kembali
dalam NKRI , UU tersebut diterima oleh DPR pada tanggal 27 Januari
1954 dan disahkan pemberlakuannya kembali oleh Pemerintah RI pada
tanggal 12 Maret 1954dserta diundangkan sebagai UU no. 12 Tahun
1954 pada tanggal 18 Maret 1954. Pasal 3 UU no. 12 Tahun 1954 itu
menyatakan bahwa \u201cTudjuan Pendidikan dan Pengadjaran ialah

3

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Septina Ningrum liked this
Dick Syamsurizal liked this
zulfadhli21 liked this
ghullam liked this
Wijih Yuliani liked this
Wijih Yuliani liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->