FRAKTUR HUMERUS

DISUSUN OLEH: GERALD ABRAHAM HARIANJA TODUNG ANTONY WESLIAPRILIUS ERWIN SAHAT HAMONANGAN SIREGAR SHEBA JULIA TARIGAN 070100087 070100119 070100093 070100190

PEMBIMBING: DR. M. AGA SHAHRI P. KETAREN, SpOT

DEPARTEMEN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul “Fraktur Humerus” ini dapat diselesaikan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Senior Departemen Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai fraktur humerus. Pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. M. Aga Shahri P. Ketaren, Sp.OT selaku pembimbing penulisan makalah ini. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh residen di Departemen Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas segala bimbingan dan ilmu yang diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan makalah ini akibat keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan menjadi sumbangan yang sangat berarti guna menyempurnakan makalah ini. Akhirnya penulis mengharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Medan, Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................i DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1. LATAR BELAKANG ................................................................................... 1 1.2. TUJUAN ....................................................................................................... 1 1.3. MANFAAT ................................................................................................... 1 BAB 2 ISI ................................................................................................................ 2 2.1. ANATOMI HUMERUS................................................................................ 2 2.2. FRAKTUR HUMERUS ................................................................................ 9 2.2.1. DEFENISI .......................................................................................... 9 2.2.2. ETIOLOGI ......................................................................................... 9 2.2.3. EPIDEMIOLOGI ............................................................................... 9 2.2.4. KALSIFIKASI ................................................................................. 10 2.2.4.1. FRAKTUR PROKSIMAL HUMERUS ........................... 10 2.2.4.2. FRAKTUR SHAFT HUMERUS ...................................... 13 2.2.4.3. FRAKTUR DISTAL HUMERUS .................................... 13 2.2.5. DIAGNOSIS .................................................................................... 18 2.2.5.1. ANAMNESIS ................................................................... 18 2.2.5.2. PEMERIKSAAN FISIK ................................................... 19 2.2.5.3. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS ..................................... 23 2.2.5.4. PEMERIKSAAN LABORATORIUM ............................. 24 2.2.6. PENATALAKSANAAN ................................................................. 24 2.2.7. KOMPLIKASI ................................................................................. 26 BAB 3 KESIMPULAN ........................................................................................ 24 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Saraf dan Otot Yang Menggerakkan Humerus ...................................... 3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Fraktur humerus merupakan diskontinuitas jaringan tulang humerus. Fraktur tersebut umumnya disebabkan oleh trauma. Selain dapat menimbulkan patah tulang (fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak sekitar tulang humerus tersebut, misalnya vulnus (luka), perdarahan, memar (kontusio), regangan atau robek parsial (sprain), putus atau robek (avulsi atau ruptur), gangguan pembuluh darah, dan gangguan saraf (neuropraksia, aksonotmesis, neurolisis).1 Setiap fraktur dan kerusakan jaringan lunak sekitar tulang tersebut harus ditanggulangi sesuai dengan prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal. Prinsip tersebut meliputi rekognisi (mengenali), reduksi (mengembalikan), retaining (mempertahankan), dan rehabilitasi.1,2 Agar penanganannya baik, perlu diketahui kerusakan apa saja yang terjadi, baik pada tulang maupun jaringan lunaknya. Mekanisme trauma juga sangat penting untuk diketahui.1

1.2. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Senior Departemen Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai fraktur humerus.

1.3. Manfaat Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai fraktur humerus sehingga dapat diterapkan dalam menangani kasuskasus fraktur humerus di klinik sesuai kompetensi dokter umum.

BAB 2 ISI

2.1. Anatomi Humerus dan Jaringan Sekitarnya Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar dari ekstremitas superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal dengan skapula dan pada bagian distal bersendi pada siku lengan dengan dua tulang, ulna dan radius.3 Ujung proksimal humerus memiliki bentuk kepala bulat (caput humeri) yang bersendi dengan kavitas glenoidalis dari scapula untuk membentuk articulatio gleno-humeri. Pada bagian distal dari caput humeri terdapat collum anatomicum yang terlihat sebagai sebuah lekukan oblik. Tuberculum majus merupakan sebuah proyeksi lateral pada bagian distal dari collum anatomicum. Tuberculum majus merupakan penanda tulang bagian paling lateral yang teraba pada regio bahu. Antara tuberculum majus dan tuberculum minus terdapat sebuah lekukan yang disebut sebagai sulcus intertubercularis. Collum chirurgicum merupakan suatu penyempitan humerus pada bagian distal dari kedua tuberculum, dimana caput humeri perlahan berubah menjadi corpus humeri. Bagian tersebut dinamakan collum chirurgicum karena fraktur sering terjadi pada bagian ini.3 Corpus humeri merupakan bagian humerus yang berbentuk seperti silinder pada ujung proksimalnya, tetapi berubah secara perlahan menjadi berbentuk segitiga hingga akhirnya menipis dan melebar pada ujung distalnya. Pada bagian lateralnya, yakni di pertengahan corpus humeri, terdapat daerah berbentuk huruf V dan kasar yang disebut sebagai tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan sebagai titik perlekatan tendon musculus deltoideus.3 Beberapa bagian yang khas merupakan penanda yang terletak pada bagian distal dari humerus. Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti tombol bundar pada sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii. Fossa radialis merupakan suatu depresi anterior di atas capitulum humeri, yang bersendi dengan caput radii ketika lengan difleksikan. Trochlea humeri, yang berada pada sisi medial dari capitulum humeri, bersendi dengan ulna. Fossa coronoidea merupakan

suatu depresi anterior yang menerima processus coronoideus ulna ketika lengan difleksikan. Fossa olecrani merupakan suatu depresi posterior yang besar yang menerima olecranon ulna ketika lengan diekstensikan. Epicondylus medialis dan epicondylus lateralis merupakan suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan lateral dari ujung distal humerus, tempat kebanyakan tendon otot-otot lengan menempel. Nervus ulnaris, suatu saraf yang dapat membuat seseorang merasa sangat nyeri ketika siku lengannya terbentur, dapat dipalpasi menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas area posterior dari epicondylus medialis.3 Berikut ini merupakan tabel tentang saraf dan otot yang menggerakkan humerus. Tabel 2.1. Saraf dan Otot yang Menggerakkan Humerus4 Otot Origo Insertio Aksi Persarafan

Otot-Otot Aksial yang Menggerakkan Humerus M. pectoralis Clavicula, major sternum, cartilago costalis VI, terkadang cartilago costalis I-VII Tuberculum majus sisi II- sulcus intertubercul aris humerus Aduksi dan Nervus medial pectoralis dan

dan merotasi

lateral lengan pada sendi medialis bahu; clavicula kepala lateralis

dari memfleksikan lengan dan kepala sternocostal mengekstensikan lengan yang fleksi tadi ke arah truncus

M. latissimus Spina T7-L5, Sulcus dorsi vertebrae lumbales, intertubercul aris

Ekstensi, dan

aduksi, Nervus merotasi thoracodorsalis

dari medial lengan pada sendi bahu;

crista sacralis humerus dan iliaca, crista costa

menarik lengan ke arah inferior dan

IV

inferior

posterior

melalui fascia thoracolumb alis Otot-Otot Scapula yang Menggerakkan Humerus M. deltoideus Extremitas acromialis dari clavicula, acromion dari scapula (serat lateral), dan spina scapulae (serat posterior) Tuberositas Serat lateral Nervus axillaris

deltoidea dari mengabduksi humerus lengan pada sendi bahu; serat anterior memfleksikan dan merotasi medial

lengan pada sendi bahu, posterior mengekstensikan dan merotasi lateral lengan pada sendi bahu. serat

M. subscapularis

Fossa

Tuberculum

Merotasi

medial Nervus

subscapularis minus dari scapula humerus

dari lengan pada sendi subscapularis bahu Membantu M. Nervus subscapularis

M. supraspinatus

Fossa supraspinata dari scapula

Tuberculuum majus humerus

dari deltoideus mengabduksi pada sendi bahu

M. infraspinatus

Fossa infraspinata dari scapula

Tuberculum majus humerus Sisi

Merotasi

lateral Nervus

dari lengan pada sendi suprascapularis bahu Nervus

M.

teres Angulus

medial Mengekstensikan

major

inferior dari sulcus scapula intertubercul aris

lengan pada sendi subscapularis bahu membantu dan aduksi

dan rotasi medial lengan pada sendi bahu M. minor teres Margo lateralis Tuberculum majus Merotasi lateral dan Nervus axillaris lengan

dari ekstensi

inferior dari humerus scapula M. coracobrachi alis Processus coracoideus dari scapula Pertengahan sisi dari

pada sendi bahu

Memfleksikan dan Nervus

medial aduksi lengan pada musculocutaneus corpus sendi bahu

humeri

Anatomic neck

Gambar 2.1. Tampilan Anterior Humerus5

Anatomic neck

Gambar 2.2. Tampilan Posterior Humerus5

Gambar 2.3. Tampilan Anterior Saraf di Sekitar Humerus5

Gambar 2.4. Tampilan Lateral Saraf di Sekitar Humerus5

Gambar 2.5. Tampilan Aliran Darah di Sekitar Humerus5

Di bagian posterior tengah humerus, melintas nervus radialis yang melingkari periosteum diafisis humerus dari proksimal ke distal dan mudah mengalami cedera akibat patah tulang humerus bagian tengah. Secara klinis, pada cedera nervus radialis didapati ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien tidak mampu melakukan fleksi jari secara efektif dan tidak dapat menggenggam.1

Gambar 2.6. Nervus Radialis dan Otot-Otot yang Disarafinya6

2.2. Fraktur Humerus 2.2.1. Defenisi Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang , tulang rawan sendi, tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus.2

2.2.2. Etiologi Kebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.2 Trauma dapat bersifat2: 1. Langsung Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan. 2. Tidak langsung Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Tekanan pada tulang dapat berupa2: 1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral 2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal 3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi 4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah 5. Trauma oleh karena remuk 6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian tulang

2.2.3. Epidemiologi Di Amerika Serikat, fraktur diafisis humerus terjadi sebanyak 1,2% kasus dari seluruh kejadian fraktur, dan fraktur proksimal humerus terjadi sebanyak 5,7% kasus dari seluruh fraktur.7 Sedangkan kejadian fraktur distal humerus

terjadi sebanyak 0,0057% kasus dari seluruh fraktur.8 Walaupun berdasarkan data tersebut fraktur distal humerus merupakan yang paling jarang terjadi, tetapi telah terjadi peningkatan jumlah kasus, terutama pada wanitu tua dengan osteoporosis.8 Fraktur proksimal humerus sering terjadi pada usia dewasa tua dengan umur rata-rata 64,5 tahun. Sedangkan fraktur proksimal humerus merupakan fraktur ketiga yang paling sering terjadi setelah fraktur pelvis dan fraktur distal radius. Fraktur diafisis humerus lebih sering pada usia yang sedikit lebih muda yaitu pada usia rata-rata 54,8 tahun.7

2.2.4. Klasifikasi Fraktur humerus dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Fraktur Proximal Humerus 2. Fraktur Shaft Humerus 3. Fraktur Distal Humerus 2.2.4.1. Fraktur Proksimal Humerus(9,10) Pada fraktur jenis ini, insidensinya meningkat pada usia yg lebih tua yang terkait dengan osteoporosis. Perbandingan wanita dan pria adalah 2:1. Mekanisme trauma pada orang dewasa tua biasa dihubungkan dengan kerapuhan tulang (osteoporosis). Pada pasien dewasa muda, fraktur ini dapat terjadi karena high-energy trauma, contohnya kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Mekanisme yang jarang terjadi antara lain peningkatan abduksi bahu, trauma langsung, kejang, proses patologis: malignansi. Gejala klinis pada fraktur ini adalah nyeri, bengkak, nyeri tekan, nyeri pada saat digerakkan, dan dapat teraba krepitasi. Ekimosis dapat terlihat dinding dada dan pinggang setelah terjadi cedera. Hal ini harus dibedakan dengan cedera toraks.

Menurut Neer, proksimal humerus dibentuk oleh 4 segmen tulang:

1. Caput/kepala humerus 2. Tuberkulum mayor 3. Tuberkulum minor 4. Diafisis atau shaft Klasifikasi menurut Neer, antara lain: 1. One-part fracture : tidak ada pergeseran fragmen, namun terlihat garis fraktu 2. Two-part fracture :       anatomic neck surgical neck Tuberculum mayor Tuberculum minor

3. Three-part fracture : Surgical neck dengan tuberkulum mayor Surgical neck dengan tuberkulum minus

4. Four-part fracture 5. Fracture-dislocation 6. Articular surface fracture

I MINIMAL DISPLACEMENT 4-PART

2-PART

3-PART

II ANATOMICAL NECK

III SURGICALL NECK

IV GREATER TUBEROSITY

V LESSER TUBEROSITY ARTICULAR SURFACE VI FRACTURE DISLOCATION

A P

2.2.4.2. Fraktur Shaft Humerus(9) Fraktur ini adalah fraktur yang sering terjadi. 60% kasus adalah fraktur sepertiga tengah diafisis, 30% fraktur sepertiga proximal diafisis dan 10% sepertiga distal diafisis. Mekanisme terjadinya trauma dapat secara langsung maupun tidak langsung. Gejala klinis pada jenis fraktur ini adalah nyeri, bengkak, deformitas, dan dapat terjadi pemendekan tulang pada tangan yang fraktur. Pemeriksaan neurovaskuler adalah penting dengan memperhatikan fungsi nervus radialis. Pada kasus yang sangat bengkak, pemeriksaan neurovaskuler serial diindikasikan untuk mengenali tanda-tanda dari sindroma kompartemen. Pada pemeriksaan fisik terdapat krepitasi pada manipulasi lembut. Deskripsi klasifikasi fraktur shaft humerus : a. Fraktur terbuka atau tertutup b. Lokasi : sepertiga proksimal, sepertiga tengah, sepertiga distal c. Derajat : dengan pergeseran atau tanpa pergeseran d. Karakter : transversal, oblique, spiral, segmental, komunitif e. Kondisi intrinsik dari tulang f. Ekstensi artikular 2.2.4.3. Fraktur Distal Humerus9 Fraktur ini jarang terjadi pada dewasa. Kejadiannya hanya sekitar 2% untuk semua kejadian fraktur dan hanya sepertiga bagian dari seluruh kejadian fraktur humerus.(9) Mekanisme cedera untuk fraktur ini dapat terjadi karena trauma langsung atau trauma tidak langsung. Trauma langsung contohnya adalah apabila terjatuh atau terpeleset dengan posisi siku tangan menopang tubuh atau bisa juga karena siku tangan terbentur atau dipukul benda tumpul. Trauma tidak langsung apabila jatuh dalam posisi tangan menopang tubuh namun posisi siku dalam posisi tetap lurus. Hal ini biasa terjadi pada orang dewasa usia pertengahan atau wanita usia tua.(9,10)

Gejala klinis dari fraktur ini antara lain pada daerah siku dapat terlihat bengkak, kemerahan, nyeri, kaku sendi dan biasanya pasien akan mengeluhkan siku lengannya seperti akan lepas. Kemudian dari perabaan (palpasi) terdapat nyeri tekan, krepitasi, dan neurovaskuler dalam batas normal.(9,10) 1. Suprakondiler Fraktur Fraktur suprakondilus merupakan salah satu jenis fraktur yang mengenai daerah siku, dan sering ditemukan pada anak-anak. Fraktur suprakondilus adalah fraktur yang mengenai humerus bagian distal di atas kedua kondilus. Pada fraktur jenis ini dapat dibedakan menjadi fraktur supracondilus extension type (pergeseran posterior) dan flexion type (pergeseran anterior) berdasarkan pada bergesernya fragmen distal dari humerus. Jenis fleksi adalah jenis yang jarang terjadi. Jenis ekstensi terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah dalam posisi supinasi dan dengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan yang terfiksasi. Fragmen distal humerus akan terdislokasi ke arah posterior terhadap humerus.(11) Fraktur humerus suprakondiler jenis fleksi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi. Pada pemeriksaan klinis didapati siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah. Didapati tanda fraktur dan pada foto rontgen didapati fraktur humerus suprakondiler dengan fragmen distal yang terdislokasi ke posterior.(11) Gambaran klinis, setelah jatuh anak merasa nyeri dan siku mengalami pembengkakan, deformitas pada siku biasanya jelas serta kontur tulang abnormal. Nadi perlu diraba dan sirkulasi perlu diperiksa, serta tangan harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya bukti cedera saraf dan gangguan vaskularisasi, sehingga bila tidak diterapi secara cepat dapat terjadi: "acute volksman ischaemic" dengan tanda-tanda: pulseless; pale; pain; paresa; paralysis.(11) Pada lesi saraf radialis didapati ketidakmampuan untuk ekstensi ibu jari dan ekstensi jari lain pada sendi metacarpofalangeal. Juga didapati

gangguan sensorik pada bagian dorsal serta metacarpal I. Pada lesi saraf ulnaris didapati ketidakmampuan untuk melakukan gerakan abduksi dan adduksi jari. Gangguan sensorik didapati pada bagian volar jari V. Pada lesi saraf medianus didapati ketidakmampuan untuk gerakan oposisi ibu jari dengan jari lain. Sering didapati lesi pada sebagian saraf medianus, yaitu lesi pada cabangnya yang disebut saraf interoseus anterior. Di sini didapati ketidakmampuan jari I dan II untuk melakukan fleksi. a. Pada Dewasa  Fraktur suprakondilus extension type Menunjukkan cedera yang luas, dan biasanya akibat jatuh pada tangan yang terekstensi. Humerus patah tepat di atas condilus. Fragmen distal terdesak ke belakang lengan bawah (biasanya dalam posisi pronasi) terpuntir ke dalam. Ujung fragmen proksimal yang bergerigi mengenai jaringan lunak bagian anterior, kadang mengenai arteri brachialis atau n. medianus. Periosteum posterior utuh,sedangkan periosteum anterior ruptur; terjadi hematom fossa cubiti dalam jumlah yang signifikan.(11)  Fraktur suprakondilus flexion type Tipe fleksi terjadi bila penderita jatuh dan terjadi trauma langsung pada sendi siku pada distal humeri.(11) b. Pada Anak Angka kejadiannya pada anak sekitar 55% sampai 75% dari semua fraktur siku. Insidensi puncaknya adalah pada anak berusia 5-8 tahun. 98% dari fraktur suprakondiler pada anak adalah fraktur suprakondiler tipe ekstensi. Gejala klinisnya adalah bengkak, nyeri pada daerah siku pada saat digerakkan. Dapat ditemukan Pucker Sign, cekungan dari kulit pada bagian anterior akibat penetrasi dari fragmen proximal ke muskulus brakhialis. Pada anak, fraktur suprakondiler dapat diklasifikasikan menurut Gartland.(9)

Klasifikasi Gartland(9) Tipe I Tipe II : : tidak ada pergeseran ada pergeseran dengan korteks posterior intak, dapat disertai angulasi atau rotasi Tipe III : pergeseran komplit; posteromedial atau posterolateral 2. Transkondiler Fraktur(9) Biasanya terjadi pada pasien usia tua dengan tulang osteopenik. 3. Interkondiler Fraktur(9) Pada dewasa, jenis fraktur ini adalah tipe paling sering diantara tipe fraktur humerus distal yang lain. Klasifikasi menurut Riseborough and Radin: Tipe I : fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya ada berupa garis fraktur

Tipe II : terjadi sedikit pergeseran dengan tidak ada rotasi antara fragmen kondilus Tipe III : pergeseran dengan rotasi Tipe IV : fraktur komunitif berat dari permukaan artikular 4. Kondiler Fraktur(9) a. Pada Dewasa Dapat dibagi menjadi fraktur kondilus medial dan fraktur kondilus lateral. Klasifikasi menurut Milch : Tipe I : penonjolan lateral troklea utuh,tidak terjadi dislokasi radius dan ulna Tipe II : terjadi dislokasi radius ulna, kerusakan b. Pada Anak  Lateral Condyler Physeal Fractures(9) Pada anak, kejadian fraktur jenis ini adalah sebanyak 17% dari seluruh fraktur distal humerus. Usia puncaknya adalah pada saat anak berusia 6 tahun. kapsuloligamen

Klasifikasi Milch : Tipe I : garis fraktur membelah dari lateral ke troklea melalui celah kapitulotroklear. Hal ini timbul pada fraktur salter-

harris tipe IV. Siku stabil dikarenakan troklea intak. Tipe II : garis fraktur meluas sampai apeks dari troklea. Ini timbul pada fraktur salter-harris tipe II. Siku tidak stabil oleh karena ada kerusakan pada troklea. Klasifikasi Jacob: Stage I : fraktur tanpa pergeseran dengan permukaan artikuler Intak Stage II Stage III  : : fraktur dengan pergeseran sedang pergeseran dan dislokasi komplit dan instabilitas siku

Medial Condyler Physeal Fractures(9) Fraktur jenis ini biasanya terjadi pada umur 8 sampai 14 tahun. Klasifikasi Milch: Tipe I : garis fraktur melewati sepanjang apex dari troklea. Hal ini timbul pada fraktur salter-harris tipe II. Tipe II : garis fraktur melewati celah capitulotroklear. Ini timbul pada fraktur salter-harris tipe VI. Klasifikasi kilfoyle : Stage I Stage II Stage III : : : tidak ada pergeseran, permukaan artikular intak garis fraktur komplit dengan pergeseran yang minimal pergeseran komplit dengan rotasi fragmen dari

penarikan otot fleksor

2.2.5. Diagnosis 2.2.5.1. Anamnesis12 Anamnesis terdiri dari: 1. Auto anamnesis: Dicatat tanggal saat melakukan anamnesis dari dan oleh siapa. Ditanyakan persoalan: mengapa datang, untuk apa dan kapan dikeluhkan; penderita bercerita tentang keluhan sejak awal dan apa yang dirasakan sebagai ketidakberesan; bagian apa dari anggotanya/lokalisasi perlu dipertegas sebab ada pengertian yang berbeda misalnya “… sakit di tangan ….”, yang dimaksud tangan oleh orang awam adalah anggota gerak atas dan karenanya tanyakan bagian mana yang dimaksud, mungkin saja lengan bawahnya. Kemudian ditanyakan gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit atau beberapa penyakit yang serupa sebagai pembanding. Untuk dapat melakukan anamnesis demikian perlu pengetahuan tentang penyakit. Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk minta pertolongan: 1) Sakit/nyeri Sifat dari sakit/nyeri: Lokasi setempat/meluas/menjalar Ada trauma riwayat trauma tau tidak Sejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan Bagaimana sifatnya: pegal/seperti ditusuk-tusuk/rasa panas/ditariktarik, terus-menerus atau hanya waktu bergerak/istirahat dan seterusnya Apa yang memperberat/mengurangi nyeri Nyeri sepanjang waktu atau pada malam hari Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul

2) Kelainan bentuk/pembengkokan Angulasi/rotasi/discrepancy (pemendekan/selisih panjang) Benjolan atau karena ada pembengkakan

3) Kekakuan/kelemahan Kekakuan: Pada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya kaku, atau disertai nyeri, sehingga pergerakan terganggu? Kelemahan: Apakah yang dimaksud instability atau kekakuan otot

menurun/melemah/kelumpuhan Dari hasil anamnesis baik secara aktif oleh penderita maupun pasif (ditanya oleh pemeriksa; yang tentunya atas dasar pengetahuan mengenai gejala penyakit) dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien, sehingga apa yang didapat pada anamnesis dapat dicocokkan pada pemeriksaan fisik kemudian.

2. Allo anamnesis: Pada dasarnya sama dengan auto anamnesis, bedanya yang menceritakan adalah orang lain. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecil/bayi atau orang tua yang sudah mulai dementia atau penderita yang tidak sadar/sakit jiwa; oleh karena itu perlu dicatat siapa yang memberikan allo anamnesis, misalnya: allo anamnesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok daripada ayahnya atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orangtua, maka pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat memberikan keterangan yang lebih baik, terutama bila yang diantar tidak sadarkan diri. 2.2.5.2. Pemeriksaan Fisik2,12 Dibagi menjadi dua yaitu (1) pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan (2) pemeriksaan setempat (status lokalis).

1. Gambaran umum: Perlu menyebutkan: a. Keadaan Umum (K.U): baik/buruk, yang dicatat adalah tanda-tanda vital yaitu: Kesadaran penderita; apatis, sopor, koma, gelisah Kesakitan Tanda vital seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu

b. Kemudian secara sistematik diperiksa dari kepala, leher, dada (toraks), perut (abdomen: hepar, lien) kelenjar getah bening, serta kelamin c. Ekstremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang)

2. Pemeriksaan lokal: Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota terutama mengenai status neuro vaskuler. Pada pemeriksaan

orthopaedi/muskuloskeletal yang penting adalah: a. Look (inspeksi) Bandingkan dengan bagian yang sehat Perhatikan posisi anggota gerak Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam samapai beberapa hari Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan

b. Feel (palpasi) Pada waktu mau meraba, terlebih dulu posisi penderita diperbaiki agar dimulai dari posisi netral/posisi anatomi. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik si pemeriksa maupun si pasien, karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si pasien atau menanyakan perasaan si pasien.

Hal-hal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang Krepitasi Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit. Pengukuran tugkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai

c. Move (pergerakan terutama mengenai lingkup gerak) Setelah memeriksa feel pemeriksaan diteruskan dengan menggerakkan anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pada anak periksalah bagian yang tidak sakit dulu, selaiam untuk mendapatkan kooperasi anak pada waktu pemeriksaan, juga untuk mengetahui gerakan normal si penderita. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar kita dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan evaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Apabila terdapat fraktur tentunya akan terdapat gerakan abnormal di daerah fraktur (kecuali pada incomplete fracture). Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari setiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran metrik. Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada gangguan gerak. Kekakuan sendi disebut ankilosis dan hal ini dapat disebabkan oleh faktor intra artikuler atau ekstra artickuler. Intra artikuler: Kelainan/kerusakan dari tulang rawan yang

menyebabkan kerusakan tulang subkondral; juga didapat oleh karena kelainan ligament dan kapsul (simpai) sendi Ekstra artikuler: oleh karena otot atau kulit

Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (penderita sendiri disuruh menggerakkan) dan pasif (dilakukan oleh pemeriksa). Selain pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga penting untuk melihat kemajuan/kemunduran pengobatan.

Selain diperiksa pada posisi duduk dan berbaring juga perlu dilihat waktu berdiri dan jalan. Jalan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang disebabkan karena instability, nyeri, discrepancy, fixed deformity. Anggota gerak atas: Sendi bahu: merupakan sendi yang bergerak seperti bumi (global joint); ada beberapa sendi yang mempengaruhi gerak sendi bahu yaitu: gerak tulang belakang, gerak sendi sternoklavikula, gerak sendi akromioklavikula, gerak sendi gleno humeral, gerak sendi scapula torakal (floating joint). Karena gerakan tersebut sukar diisolasi satu persatu, maka sebaiknya gerakan diperiksa bersamaan kanan dan kiri; pemeriksa berdiri di belakang pasien, kecuali untuk eksorotasi atau bila penderita berbaring, maka pemeriksa ada di samping pasien. Sendi siku: Gerak fleksi ekstensi adalah gerakan ulna humeral (olecranon terhadap humerus). Gerak pronasi dan supinasi adalah gerakan dari antebrachii dan memiliki sumbu ulna; hal ini diperiksa pada posisi siku 90˚ untuk menghindari gerak rotasi dari sendi bahu. Sendi pergelangan tangan: Pada dasarnya merupakan gerak dari radio karpalia dan posisi netral adalah pada posisi pronasi, dimana jari tengah merupakan sumbu dari antebrachii. Diperiksa gerakan ekstensi-fleksi dan juga radial dan ulnar deviasi. Jari tangan: Ibu jari merupakan bagian yang penting karena mempunyai gerakan aposisi terhadap jari-jari lainnya selain abduksi dan adduksi, ekstensi, dan fleksi.

Jari-jari lainnya hamper sama, MCP (Meta Carpal Phalangeal Joint) merupakan sendi pelana dan deviasi radier atau ulnar dicatat tersendiri, sedangkan PIP (Proximal Inter Phalanx) dan DIP (Distal Inter Phalanx) hanya diukur fleksi dan ekstensi. 2.2.5.3. Pemeriksaan Radiologis12: Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua: 1. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada anteroposterior dan lateral 2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan distal sendi yang mengalami fraktur 3. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis 4. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang 5. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka/tertutup, tulang mana yang terkena dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri.

2.2.5.4. Pemeriksaan Laboratorium12 Pemeriksaan laboratorium meliputi: 1. Pemeriksaan akut/menahun 2. atas indikasi tertentu: diperlukan pemeriksaan kimia darah, reaksi imunologi, fungsi hati/ginjal 3. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan sensitivity test darah rutin untuk mengenai keadaan umum, infeksi

2.2.6. Penatalaksanaan Penatalaksanaan secara umum13: 1. Bila terjadi trauma, dilakukan primary survey terlebih dahulu. 2. Sebelum penderita diangkut, pasang bidai untuk mengurangi nyeri, mencegah (bertambahnya) kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya kedudukan fraktur. Bila tidak terdapat bahan untuk bidai, maka bila lesi di anggota gerak bagian atas untuk sementara anggota yang sakit dibebatkan ke badan penderita Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan harus mengingat tujuan pengobatan fraktur yaitu mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin.12 1. Fraktur proksimal humeri9,12 Pada fraktur impaksi tidak diperlukan tindakan reposisi. Lengan yang cedera diistirahatkan dengan memakai gendongan (sling) selama 6 minggu. Selama waktu itu penderita dilatih untuk menggerakkan sendi bahu berputar sambil membongkokkan badan meniru gerakan bandul (pendulum exercise). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kekakuan sendi. Pada penderita dewasa bila terjadi dislokasi abduksi dilakukan reposisi dan dimobilisasi dengan gips spica, posisi lengan dalam abduksi (shoulder spica). 2. Fraktur shaft humeri 9,12 Pada fraktur humerus dengan garis patah transversal, apabila terjadi dislokasi kedua fragmennya dapat dilakukan reposisi tertutup dalam narkose. Bila kedudukn sudah cukup baik, dilakukan imobilisasi dengan gips berupa U slab (sugar tong splint). Immobilisasi dipertahankan selama 6 minggu.

Teknik pemasangan gips yang lain yaitu dengan hanging cast. hanging cast terutama dipakai pada pnderita yang dapat berjalan dengan posisi fragmen distal dan proksimal terjadi contractionum (pemendekan). Apabila pada fraktur humerus ini disertai komplikasi cedera n.Radialis, harus dilakukan open reduksi dan internal fiksasi dengan plate-screw untuk humerus disertai eksplorasi n. Radialis. Bila ditemukan n. Radialis putus (neurotmesis) dilakukan penyambungan kembali dengan teknik bedah mikro. Kalau ditemukan hanya neuropraksia atau aksonotmesis cukup dengan konservatif akan baik kembali dalam waktu beberapa minggu hingga 3 bulan. 3. Fraktur suprakondiler humeri9,12 Kalau pembengkakan tak hebat dapat dilakukan reposisi dalam narkose umum. Setelah tereposisi, posisi siku dibuat fleksi diteruskan sampai a.Radialis mulai tak teraba. Kemudian diekstensi siku sedikit untuk memastikan a.Radialis teraba lagi. Dalam posisi fleksi maksimal ini dilakukan imobilisasi dengan gips spal. Posisi fleksi maksimal dipindahkan karena penting untuk menegangkan otot trisep yang berfungsi sebagai internal splint. Kalau dalam pengontrolan dengan radiologi hasilnya sangat baik gips dapat dipertahankan dalam waktu 3-6 minggu. Kalau dalam pengontrolan pasca reposisi ditemukan tanda Volkmann’s iskaemik secepatnya posisi siku diletakkan dalam ekstensi, untuk immobilisasinya diganti dengan skin traksi dengan sistem Dunlop. Pada penderita dewasa kebanyakan patah di daerah suprakondiler garis patahnya berbentuk T atau Y, yang membelah sendi untuk menanggulangi hal ini lebih baik dilakukan tindakan operasi dengan pemasangan internal fiksasi. 4. Fraktur transkondiler humeri9,12 Terapi konservatif diindikasikan pada fraktur dengan dislokasi minimal atau tanpa dislokasi. Tindakan yang paling baik dengan melakukan operasi reposisi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan plate-screw.

5. Fraktur interkondiler humeri9,12 Bila dilakukan tindakan konservatif berupa reposisi dengan immobilisasi dengan gips sirkuler akan timbul komplikasi berupa kekakuan sendi (ankilosis). Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan tindakan operasi reduksi dengan pemasangan internal fiksasi dengan plate-screw. 6. Fraktur kondilus lateral & medial humeri9,12 Kalau frakturnya tertutup dapat dicoba dulu dengan melakukan reposisi tertutup, kemudian dilakukan imbolisasi dengan gips sirkular. Bila hasilnya kurang baik, perlu dilakukan tindakan operasi reposisi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan plate-screw. Kalau lukanya terbuka dilakukan debridement dan dilakukan fiksasi luar. 2.2.7. Komplikasi12 Adapun komplikasi yang dapat terjadi: 1. Kekakuan sendi bahu (ankilosis). Lesi pada n.Sirkumfleksi aksilaris menyebabkan paralisis m.Deltoid. 2. Apabila pada fraktur medial humerus disertai komplikasi cdera n.Radialis, harus dilakukan operasi reduksi dan internal fiksasi dengan plate screw untuk humerus disertai eksplorasi n.Radialis. 3. Sindroma kompartemen yang biasa disebut dalam 5 P (Pain, Pallor, Pulselesness, Paraesthesia, Paralysis), terjepitnya a. Brakhialis yang akan menyebabkan nekrosis otot-otot dan saraf. 4. Mal union cubiti varus (carrying angle berubah) dimana siku berbentuk O, secara fungis baik, tapi kosmetik kurang baik. Perlu dilakukan koreksi dengan operasi meluruskan siku dengan teknik French osteotomy.

BAB 3 KESIMPULAN

Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang , tulang rawan sendi, tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus. Etiologi fraktur humerus umumnya merupakan akibat trauma. Selain dapat menimbulkan patah tulang (fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak sekitar tulang tersebut. Mekanisme trauma sangat penting dalam mengetahui luas dan tingkat kerusakan jaringan tulang serta jaringan lunak sekitarnya. Diagnosis fraktur humerus dapat dibuat berdasarkan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis. Penatalaksanaan penderita fraktur humerus harus dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi segera, dini, dan lambat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad, C., dkk. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC, 2010, Bab 42; Sistem Muskuloskeletal. 2. Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone, 2007, Bab. 14; Trauma. 3. Tortora G.J. & Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology 12th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, 2009, Chapter 8; The Skeletal System: The Appendicular Skeleton. 4. Tortora G.J. & Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology 12th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, 2009, Chapter 11; The Muscular System. 5. Standring, S. Gray’s Anatomy 39th Edition. USA: Elsevier, 2008, Chapter 48; General Organization and Surface Anatomy of The Upper Limb. 6. Wang, E.D. & Hurst, L.C. Netter’s Orthopaedics 1st Edition. Philadelphia: Elsevier, 2006, Chapter 15; Elbow and Forearm. 7. Emedicine. 2012. Humerus Fracture. Accessed: 2nd February 2012. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/825488-overview 8. Aaron N., Michael D.M., et.al., 2011. Distal Humeral Fractures in Adults. Accessed: 2nd February 2012. Available from:

http://www.jbjs.org/article.aspx?articleid=35415 9. Egol, K.A., Koval, K.J., Zuckerman, J. D. Handbook Of Fractures. Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins. 2010:p. 193-229;604-614 10. Thompson, J.C. Netter’s: Concise Otrhopaedic Anatomy 2nd ed. Philadelphia: Elsevier Inc. 2010:p. 109-116. 11. Noffsinger, M. A. Supracondylar Humerus Fractures. Available at www.emedicine.com. Accessed on 4thMarch 2012 12. Reksoprodjo, S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher, 2009, Bab 9; Orthopaedi. 13. Purwadianto A, Budi S. Kedaruratan Medik. Jakarta: Binarupa Aksara, 2000, Bab 7; Kedaruratan Sistim Muskuloskeletal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful