You are on page 1of 20

PLURALISME AGAMA DAN DIALOG: Perspektif dan relevansinya dalam membangun kehidupan bersesama secara damai dalam konteks

majemuk Indonesia.

Pengantar Pluralitas agama sekarang ini telah menjadi suatu keniscayaan dan mendesak agama-agama, termasuk kekristenan untuk menghadapi dan mengubah paradigma teologinya. Semua agama menurut Eka Darmaputera, tidak hanya didesak untuk memikirkan sikap praktis untuk bergaul dengan agama yang lain, tetapi juga didesak untuk memahami secara teologis apakah makna kehadiran agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang lain itu1. Mengembangkan teologi agama-agama bukan tanpa kesulitan dan resiko. Tantangan internalnya adalah teologi tradisional (Barat) yang berakar kuat dalam gereja serta resistensi fundamentalisme kristen. Secara eksternal, pluralisme agama dicurigai sebagai misi terselubung kekristenan untuk mempertobatkan yang lain dan sekaligus keengganan mengakui bahwa kebenaran agamanya relatif. Sikap penolakan terang-terangan terhadap pluralisme agama dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat fatwa hasil Munas VII tahun 2005, karena paham ini bertentangan dengan ajaran Islam2.

1

2

Eka Darmaputera, “Prediksi dan proyeksi isu-isu teologis pada dasawarsa sembilanpuluhan: Sebuah introduksi”, dalam Soetarman SP, dkk., Fundamentalisme, Agama-agama dan Teknologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 14-15. Kompas 28 Juli 2005.

2

Sekalipun muncul kecurigaan, perlawanan dan penolakan terhadap pentingnya pluralisme agama dan dialog bukan berarti sikap demikian disetujui dan menyurutkan tekad mengembangkan pluralisme agama dan dialog. Makalah ini berusaha mendeskripsikan dan menganalisis sejauh mana relasi kekristenan dengan agama-agama lain, khususnya agama Islam. Benarkah gereja telah dan masih bersikap superioritas terhadap agama-agama lain sampai sekarang atau memang dalam tubuh gereja sudah terjadi perubahan sikap mendasar? Bukan tidak mungkin jika ditelisik lebih jauh, dalam kekristenan sendiri tidak terdapat kesatuan dalam menyikapi pluralisme agama. Selanjutnya, bagaimana sebenarnya kekristenan mengatasi kebenaran mutlaknya saat berjumpa dengan agama-agama lain serta mencari titik temu sehingga kehadiran agama-agama bukan sebagai sumber masalah bangsa (problem maker), tetapi sebagai pemberi solusi atas masalah-masalah sosial yang muncul (problem solver)? Lebih jauh lagi, sejauh mana pluralisme agama memberi ruang pada partikularitas atau keunikan dari masing-masing agama dan tujuan-tujuan semacam apakah yang hendak dicapai dalam dialog. Akhirnya pada bagian refleksi, penulis mengutarakan pentingnya pluralisme agama dan dialog untuk dikembangkan guna menanggulangi masalah kemanusiaan kontemporer, menghadirkan kedamaian dan sekaligus dapat saling memperkaya kehidupan beriman dalam konteks majemuk Indonesia.

Knitter. hlm. Dr. Mentalitas perang salib.. hlm. Orang Kristen (Barat) menanggung beban khusus untuk membawa terang ke dalam dunia gelap3. Gereja menyikapi perubahan. hlm. Satu Bumi Banyak Agma: Dialog multi-agama dan tanggungjawab global. studi intensif dilakukan dan umat Islam dianggap ”penganut agama terbelakang” yang perlu diperadabkan5.3 Superioritas keagamaan Kekristenan dapat dikatakan berkembang di Eropa dengan bungkus kebudayaan Barat dan menganggap agama-agama bukan Kristen di Asia lebih rendah nilainya dibanding-kan agama Kristen. hlm. dan penaklukkan yang paling efektif adalah dengan mengkristenkan mereka6. Ketika jalan perang dinilai tidak memadai untuk memantapkan penjajahan. Paul F. 2004). Sitompul. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 4-5 Einar M. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Secara khusus. umat Islam dianggap ”orang sesat yang dihormati” kemudian menjadi ”orang sesat yang tidak disegani”. “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia”. Agama dan Dialog: Pencerahan. Sitompul. Ibid. 182. 4. Misionaris Kristen ibarat dokter yang mendatangi pasiennya yang sedang sakit (penganut agama-agama lain)4. Likumahuwa. 5 Jan S. Balitbang PGI. Olaf Herbert Schumann. . 1999). mengakibatkan umat Islam dipandang sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Dr. 2003). (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Olaf Herbert Schumann. 3 4 5 6 Einar M. sehingga tidak perlu dipertimbangkan. Pendamaian dan Masa depan. diterjemahan oleh Nico A. Aritonang. dalam Panitia Penerbitan Buku Kenangan Prof. Para misionaris telah didoktrin sedemikian rupa untuk memberangus kekafiran dalam agama-agama lain dan menyelamatkan jiwajiwa mereka bagi Kristus. Punjung tulis 60 tahun Prof.

Ibid. ekspresi kebencian dan kemarahan terhadap orang Kristen dilampiaskan antara lain dengan cara pembatasan siar agama. 194-197. sehingga mengo-barkan kebencian dan kemarahan orang Islam7.4 Penjajahan Belanda atas Indonesia telah memberi citra negatif bahwa kekristenan adalah kaki tangan penjajah. . Ketidakadilan dirasakan umat Islam ketika pemerintah Belanda dengan politik etisnya memberi subsidi kepada pihak zending/gereja dalam mengurusi program pendidikan.. Sejak masa kemerdekaan sampai sekarang. Gereja. Ibid. pengrusakan dan pembakaran gedung gereja8. Tuduhan seperti itu didasarkan kemajuan kuantitatif orang Kristen. Paradigma atau tipe sikap teologis dalam kekristenan terhadap isu kemajemukan 7 8 Jan S. termasuk dari kalangan Islam. 187.. Aritonang. kesehatan dan pertanian. Paradigma teologi Kristen terhadap agama-agama lain Isu sentral dalam hubungan antara kekristenan dan agama-agama lain adalah apakah umat dari agama lain itu akan diselamatkan sama seperti keselamatan yang diterima orang Kristen. dan secara kualitatif dengan meningkatnya kesejahteraan sosial-ekonomis orang Kristen dan tampilnya tokoh-tokoh Kristen dalam panggung politik. khususnya zending dan orang Kristen telah menikmati hak-hak istimewa yang tidak didapati sama sekali oleh orang Islam. hlm. Perspektif historis memperlihatkan semacam evolusi paradigma teologi Kristen menyikapi kehadiran agama-agama lain. hlm.

.” serta surat 1 Yohanes 5:12. ”Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia. Di satu sisi. Tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa. Dasar biblis utamanya10 adalah Yohanes 14:6. Kristus bersifat unik. barangsiapa tidak memiliki Anak. ”Barangsiapa memiliki Anak. ia memiliki hidup. agama-agama lain lain tak lepas dari keberdosaan manusia yang mendasar dan karena itu tidak memiliki kebenaran. (Jakarta: Gunung Mulia dan STT Jakarta. Paus Boniface VIII dengan tegas berkata: ”Kita dituntut oleh iman untuk meyakini dan mempertahankan bahwa ada satu Gereja yang kudus. di luarnya tidak ada 9 Joas Adiprasetya. 49. 10 Linwood Urban. Sejarah ringkas pemikiran Kristen. Paradigma Eksklusivisme Paradigma eksklusivisme berangkat dari dua ide pokok yang bertolak belakang. ”Akulah jalan.” Paradigma ini dapat dikenali dalam sikap Gereja Roma Katolik (GRK) praKonsili Vatikan II yang menempatkan gereja sebagai pusat keselamatan dengan istilah extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan).5 agama menurut Alan Race dapat dikategorikan sebagai (1) eksklusivisme. hanya Kristuslah yang menyediakan jejak paling absah menuju keselamatan.” dan Kisah Para Rasul 4:12. (Jakarta: Gunung Mulia. 2002) hlm. hlm. Mencari dasar bersama: Etik global dalam kajian post-modernisme dan pluralisme agama. 1. sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan. diterjemahkan oleh Liem Sien Kie. kita dengan tegas mempercayainya dan tanpa ragu mengakuinya. katolik dan apostolik. 478. 2003). (2) inklusivisme dan (3) pluralisme9 yang dapat dimengerti sebagai berikut ini. kalau tidak melalui Aku. ia tidak memiliki hidup. kebenaran dan hidup. Di lain pihak. normatif dan hakiki bagi keselamatan.

hlm.” Akibatnya.E.. 241.6 keselamatan atau pengampunan dosa. Sumartana. 2. Dialog Agama dalam pandangan Gereja Katolik. (Yogyakarta: Kanisius.th). Mulder.C. Barth dapat mengatakan hanya ada satu agama yang benar yaitu agama Kristen karena Allah menghendakiNya demikian. Dalam Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia di Nairobi tahun 1975. seorang peserta sidang dengan paradigma eksklusivisme berkomentar: ”Para pemimpin gereja sangat peduli dengan nasib orang-orang yang miskin dan menderita. hlm. Karl Barth dalam bukunya Church Dogmatics menegaskan bahwa agama adalah bentuk ketidakpercayaan (Religion as Unbelief) dan mustahil dapat mencari dan mengenal Allah. t. Dialog: Kritik dan Identitas Agama. . Dengan pendekatan teologis a priori. Jelas pandangan demikian mengambarkan kemustahilan berdialog dengan agama-agama lain. Paradigma ini dapat ditemui juga di kalangan Protestan. D. tetapi tidak memperhatikan nasib 2.X. dan karena itu mereka harus ditolong dengan cara memberitakan Injil kepada mereka12. dkk. 1995). Sebaliknya betapapun baik dan benarnya agama-agama lain tampaknya. Paradigma inklusivisme 11 12 F. “Perkembangan Dialog Antar Agama”.700 juta orang yang akan binasa (orang-orang non-Kristen)”. Mereka yakin bahwa semua orang non-Kristen akan binasa (masuk neraka). (Yogjakarta: Penerbit Dian/Interfidei. dalam Th. 23. GRK bersikap tertutup dan kurang memandang positif agama-agama lain11. Armada Riyanto. namun tetap saja mereka salah dan tak selamat karena terang Allah tidak mengenai mereka.

tetapi harus menganggap agama-agama lainnya sebagai ”sah” dan merupakan ”jalan keselamatan”16. Rahner berpendapat bahwa orang Kristen bukan hanya bisa. Yesus Kristus menjadi pemenuhan final bagi agama-agama lain. 4. Ibid. Agama dan Kekerasan. hlm. cet. Inklusifisme menolak segala bentuk konfrontasi antar agama lain dengan kekristenan. hlm. 2006).. berusaha secara kreatif agama-agama lain diintegrasikan ke dalam refleksi teologis kristiani. Keterbukaan baru terhadap agama-agama lain berhubungan erat dengan pengalaman GRK mengenai kekerasan massif dan keinginan untuk memperbarui diri sesuai perubahan zaman14. 2. diterjemahkan oleh Bambang Subandrijo. Paradigma ini dianut oleh GRK lewat Konsili Vatikan II yang meninggalkan cara berpikir eksklusivistis-eklesiologis menuju cara berpikir inklusivistisuniversalistis. Ibid. Lefebure. hlm.. Benar bahwa keselamatan ada dalam Yesus 13 14 15 16 Joas Adiprasetya.7 Paradigma inklusivisme melampaui eksklusivisme dengan mengatakan bahwa keselamatan Allah berlaku universal dan hadir dalam agama-agama lain dengan tetap mengakui finalitas Yesus Kristus. Penyataan Allah. Dalam hal ini perlu dicatat sumbangsih Karl Rahner sebagai insinyur atau arsitek utama sikap Kristen inklusivistis pasca Konsili Vatikan II15. Ibid. Knitter. Inklusivisme berusaha memadukan dua pengakuan teologis: bekerjanya anugerah Allah serta paham keselamatan agama-agama lain dan keunikan anugerah Allah dalam Yesus Kristus13. 64. Joas Adiprasetya. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 7 . Mengapa demikian? Karena Allah menawarkan anugerah Allah kepada semua orang di seluruh dunia. Paul F. Leo D. Malah sebaliknya.

”Kita tidak dapat sungguh17 Victor I. Rahner menyebutnya sebagai Kristus tak bernama. 1994). 123. tetapi mengupayakan titiktemu. Implikasinya bahwa tugas misioner gereja bukan mempertobatkan dan menjadikan mereka Kristen. Pemahaman ini memberi ruang amat luas bagi munculnya kehidupan antar-iman yang dialogis. Jadi dalam agama-agama lain. Para penganut agama lain tidak dicap sebagai kafir. maka keselamatan dalam Kristus pun ada di sana walaupun tidak memakai nama Kristus. melainkan sebagai saudara yang harus dikasihi. Perjumpaan agama-agama tidak lagi diwarnai konfrontasi frontal.8 Kristus. Dengan menyadari hal itu. maka mereka sudah menjadi orang Kristen dan pengikut Kristus dalam agama mereka sendiri tanpa harus menjadi orang Kristen dan menjadi anggota gereja. Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. namun gereja tidak boleh mengutuk agama lain sebagai palsu dan tidak mempunyai keselamatan. Tanja. Spiritualitas. Kristus yang menyelamatkan itu pun ada di sana tanpa bernama Kristus. namun karena anugerah yang universal itu. Nostra Aetate mencatat. Paradigma inklusivisme bersikap positif terhadap agama-agama lain karena agama-agama lain dipahami sebagai jalan keselamatan. Walaupun tidak sesempurna yang dimiliki gereja. melainkan berusaha menyadarkan orang-orang beragama lain tentang hadirnya Kristus yang menyelamatkan di tengah mereka. Gereja memiliki penghargaan besar terhadap agama-agama lain. hlm. . (Jakarta: BPK Gunung Mulia. (anonymous Christ) dan oleh sebab itu penganut agama-agama lain sebenarnya adalah juga orang-orang Kristen tanpa nama (anonymous Christians). Keselamatan pun ada di luar gereja17.

hlm hlm. justru hanya menciptakan jalan buntu bagi sebuah dialog yang bermakna. dialog antara gajah dan tikus18. 1995). karena tidak mampu memandang agama-agama lain sebagai yang unik dan setara dengan agama Kristen. Walaupun paradigma ini terbuka.. (Maryknoll. Paradigma Pluralisme Jika eksklusivisme dan inklusivisme tidak memadai bagi kekristenan dalam relasi dengan agama-agama lain. Paradigma pluralisme ini tidak satu sebab dikembangkan banyak orang seperti John Hick. Gordon D 18 Paul F. 142 . Paul F. 3. Paradigma ini merupakan kritik atas eklesiosentrisme dan kristosentrisme yang muncul dalam eksklusivisme dan inklusivisme.9 sungguh menyapa Allah. New York: Orbis Book. No Other Name?. Knitter. maka paradigma pluralisme menjadi pilihan terbaik. A Critical Survey of Christian Attitudes Towards the World Religions. Pluralisme menggunakan pendekatan teosentris yang menekankan pada kehendak universalitas Allah untuk menyelamatkan seluruh manusia.Konsep ini dinilai tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. jika kita menolak memperlakukan semua manusia dalam sebuah persaudaraan yang diciptakan sebagaimana ia ada dalam citra Allah”. Konsep ini terjebak pada imperialisme teologis yang tidak adil karena menekankan normativitas Kristus bagi agama-agama lain. namun konsep Kristen anonim dapat menjadi penghalang besar bagi munculnya sebuah dialog yang jujur dan seimbang. Knitter. Agama-agama lain masih tetap dipandang rendah sehingga dialog yang terjadi adalah meminjam istilah Knitter. Bapa dari semua.

agama-agama lain mungkin juga sama efektif dan berhasilnya dalam membawa para penganutnya kepada kebenaran. perdamaian dan kesejahteraan bersama Allah. . absolut. dsbnya19. Wilffred Cantwel Smith. final. umat Kristen dengan mentalitas korelasional berpendapat bahwa sejak permulaan semua pihak harus saling mengakui persamaan hak di dalam dialog antar-agama sehingga setiap penganut agama berhak berbicara. Rosemary Ruether. definitif. tak terlampaui dan total untuk menjelaskan kebenaran yang ditemukan dalam Injil Yesus Kristus. 2001). tetapi bahwa karena perbedaan mereka dari agama Kristen. ( Jakarta: BPK Gunung Mulia. bukan berarti semua agama pada dasarnya memberitakan hal yang sama. Tidak pada tempatnya dalam relasi dengan agama-agama lain mengutarakan bahasa absolutis seperti: hanya satusatunya. Tanpa mengklaim bahwa semua agama itu setara (equal). Maksudnya. superior. atau membuat klaim. Dengan kata lain. .. Pendekatan pluralisme menurut Knitter berangkat dari keprihatinan utama bagaimana kepelbagaian agama dapat berdialog secara jujur dan terbuka sehingga dapat memberikan sumbangsih penting dalam menanggulangi penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan yang akut. Di dalam semua agama bagi Knitter terdapat suatu ”kesamaan yang kasar” (rough parity). dengan teologi korelasional umat kristen berpegang pada 19 Lihat uraian lengkapnya dalam Jhon Hick dan Paul F Knitter. Di sini penulis mengangkat pluralisme yang digagas oleh Paul F. Mitos Keunikan Agama Kristen. Knitter.10 Kaufmann. dan peserta lain membuka hati dan pikiran terhadap kebenaran baru dari partner dialognya.

Agama-agama harus berdialog. Allah ”kasih yang murni tanpa terikat”.11 kemungkinan dan mendorong kemungkinan bahwa Sumber kebenaran dan transformasi yang mereka sebut Allah dalam Yesus Kristus memiliki lebih banyak kebenaran dan bentuk-bentuk transformasi lainnya yang mampu dinyatakan daripada yang telah dinyatakan dalam Yesus. hlm 42-45. Agama-agama lain bukan hanya sangat berbeda. Kebenaran setiap agama bukan untuk dirinya sendiri dan mengabaikan 20 Jhon Hick dan Paul F Knitter. tetapi juga mengakui nilai dan keabsahan dari dunia yang serba berbeda ini. tetapi juga dalam persekutuan dari penganut agama-agama lain. Dengan demikian teologi pluralistik mendorong agar umat beragama untuk mengkomunikasikan dan membagikan kandungan yang bernilai dari agama mereka. Ibid. Allah merangkul semua manusia yang dikasihiNya di dalam dan melalui tidak hanya persekutuan gerejawi. Teologi pluralis atau korelasional tidak hanya mengakui adanya berbagai perbedaan antar-agama yang mencolok bahkan tak terbandingkan. yang merangkul semua dan menghendaki kehidupan dan keselamatan. . namun bisa juga sangat bernilai20.. Secara teologis. Umat Kristen bisa dan harus mendekati agama-agama lain bukan hanya dengan harapan bahwa mereka mungkin (possibly) akan menemukan kebenaran dan kebaikan tetapi bahwa mereka lebih mungkin (probably) menemukannya. umat Kristen mengatakan bahwa mereka percaya kepada suatu Allah yang benar-benar mau menyelamatkan semua orang yaitu Allah dari Yesus Kristus.

Jadi semua agama perlu berbicara dan bertindak bersama. namun bukan satu-satunya”. gereja dapat saling memberi dan menerima dalam interaksinya dengan agama-agama lain dengan pesan relevan dan penting22. hlm. Ibid. .. Secara teologis berarti di satu pihak kita memberitakan Yesus sebagai Juruselamat. dan di pihak lain bisa terbuka terhadap kemungkinan bahwa ada pribadi lain yang bisa diakui umat Kristen sebagai anak Allah. Perbedaan dalam masing-masing agama tidak menghalangi hubungan antar sesama di antara mereka21. namun sekaligus bisa terbuka terhadap umat lainnya yang mungkin memiliki berbagai peran yang sama pentingnya. 49. 50-51. Masalah keunikan Yesus tetap terbuka terhadap berbagai pemahaman baru. Kristologi pluralistik semacam ini mengizinkan dan mensyaratkan umat Kristen untuk sepenuhnya percaya kepada Kristus. ”Benar-benar. Secara gerejawi. hlm. merupakan upaya baru untuk menegaskan pentingnya Yesus dalam dunia kepelbagaian agama. namun mereka tidak perlu bersikeras bahwa Dia satu-satunya (solely) ilahi dan juruselamat. Hakikat agama jelasnya relasional dan dialogis. Keunikan Yesus (Kis 4:12) seharusnya tidak ditafsirkan secara statis.12 yang lain. tetapi untuk dipertemukan sehingga terjadi proses belajar yang memperdalam kebenaran masing-masing. Di sini umat Kristen bisa terus menegaskan dan memberikan kepada dunia tentang Yesus sebagai benar-benar (truly) ilahi dan juruselamat.. 21 22 Ibid.

. maka semua umat beragama bisa lebih saling menghidupkan dan memperbarui25.23 Dasar bersama dialog ini penting ditetapkan agar tidak terjadi kelesuan atau kesepian moral sehingga dapat mengambil keputusan etis bersama demi kesejahteraan manusia dan Bumi24. Di sini menjadi religius berarti menjalani kehidupan yang bertanggung jawab secara global. Dasar bersama bagi dialog antar-agama adalah soal penderitaan manusia dan kerusakan ekologi atau dengan kata lain kesejahteraan manusia dan lingkungan. hlm. 83. . Dengan tanggung jawab global yang menjadi tugas etis bersama. kristosentris atau teosentris.13 Teologi pluralistik mensyaratkan dialog sebagai elemen penting dalam berhadapan dengan agama-agama lain. Ibid.. Ibid. melainkan soteriosentris. Dialog korelasional ini harus disertai dengan tanggungjawab global dan karena itu pendekatannya bukanlah eklesiosen-tris. Terobosan kongkret yang dapat dibuat adalah merumuskan suatu etika global bagi tindakan bersama. Dialog antar-agama bukan bertujuan menciptakan satu agama tunggal dan final. 81. hlm. Dialog dan tujuannya 23 24 25 Ibid. melainkan kepelbagaian yang semakin berkembang dan berarti dalam agama-agama. hlm 102-152. Etika global ini dapat menjadi kenyataan jika dilakukan dialog global terlebih dahulu sehingga akhirnya tanggung jawab global dapat dilakukan bersama..

E. Olaf H. Armada Riyanto. Dialog sejatinya dilakukan dalam kesetaraan. dan saat yang sama menyingkirkan prasangka. melainkan ia harus dinamis sesuai situasi yang berubah28. sikap intoleran dan kesalahpahaman. Menghadapi Tantangan Memperjuangkan Kerukunan. terbuka. 113-115. Schumann. 122.. Ibid. Dialog meminta keseimbangan sikap. Ibid. kemantapan dan menolak indeferentisme (paham yang menyamakan semua agama sama) dan tidak menghendaki teologi universal27. (2) dialog melalui 26 27 28 Olaf H. Kalaupun seseorang mengalami pertobatan lewat dialog. Oleh sebab itu. par cum pari (setara dengan setara). Dialog mensyaratkan sikap konsisten. F. . Dialog bukanlah suatu kegemaran intelektual melainkan suatu keharusan26. masing-masing hanya dapat berbicara untuk dirinya sendiri berdasarkan posisinya sediri.14 Pluralisme agama memberi peranan penting bagi terselenggaranya dialog agar tercapai saling pengertian yang mendalam. sebaliknya harus ada kesaksian yang diberi dan diterima guna saling memajukan satu sama lain di dalam perjalanan pencarian dan pengalaman keagamaan. Beragam bentuk dialog dapat dipraktekkan seperti (1) dialog kehidupan di mana masing-masing memelihara solidaritas dan kebersamaan. kata pengantar oleh Komarudin Hidayat. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004).X. Tentu posisi ini tidak boleh menjadi dogma kaku. kenyataan itu harus dapat diterima semua pihak secara positif dan wajar. Schumann. kerendahan hati dan keterus-terangan sehingga dialog dapat memperkaya dan memperbarui masing-masing pihak. hlm 122-123.. Dalam dialog tidak boleh prinsip diabaikan dan tidak boleh sekedar mencari kedamaian palsu (irenicisme). hlm. Dalam dialog setiap orang harus diterima sebagaimana ia memahami dirinya sendiri.

(3) menghindari sikap intoleran dan mencegah konflik komunal. Jelas bahwa Islam pun terbuka terhadap pluralisme agama dan dialog dan ini dapat menjadi pintu masuk bagi kekristenan berdialog dengan umat Islam. 245. hlm. Tanja. Paul F. Suleeman. Knitter. dan (4) dialog dalam tindakan lewat kerjasama mengusahakan kedamaian dan keadilan29.S.15 percakapan di mana para ahli mempercakapkan ajaran agama mereka masingmasing.. 1999). Eka Darmaputera. 490. Ibid. hlm. dalam F. Buku Penghargaan untuk Pdt. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Ibid. “Islam dan Substansiasi Paham Kebangsaan di Indonesia”. dkk.) Bergumul dalam pengharapan. hlm. maka jelas sikap eksklusivisme dan inklusivisme sudah tidak tepat dipertahankan dalam konteks 29 30 31 Victor I.. Titik temu antara agama-agama adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila31. 4-6. Nurcholish Madjid.. Dr. Tujuan dalam dialog dapat ditetapkan misalnya (1) memupuk persaudaraan lintas agama. Ali ’Imran/3:64) dan jika titik temu gagal atau ditolak. (peny. dan (4) mengupayakan keadilan sosial dengan merancang berbagai pendekatan konstruktif terhadap masalah-masalah sosial30. Refleksi teologis Nurcholish Madjid benar dengan perkataannya bahwa Islam memberikan landasan teologis yang memadai untuk mencari titik temu antara penganut berbagai agama berkitab suci (Q. Dengan belajar dan mengerti pemahaman agama lain dari sumbernya langsung. (2) merayakan bersama hari raya agama dan nasional. . (3) dialog spiritualitas lewat ibadah dan doa bersama dari beragam agama. maka masing-masing harus diberi hak untuk secara bebas mempertahankan sistem keimanan yang dianutnya.

“Kebebasan Beragama atau Dialog Antar-agama”. Kekristenan harus keluar dari ketertutupannya dan memperbaharui paradigma teologinya secara menyeluruh. Keadilan bagi yang lemah.B. itu dapat menyakitkan hati. apalagi membunuh34. Model pluralisme Knitter dengan dialog pluralistik yang bertanggungjawab global menurut saya dapat dipertimbangkan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kerusakan ekologi dalam konteks kita.. melainkan satu dari antara bebarapa jalan lainnya dan begitu sebaliknya. Ihromi. hlm. 55. dalam J.. dalam. dkk. Agama-agama harus memberikan 32 33 34 Eka Darmaputera. hlm . sebab keunikan masing-masing agama tetap dapat dipertahankan dan dapat dikomunikasikan.16 kemajemukan Indonesia. Dr. (Jogyakarta: Kanisuis. M. “Ketidakmutlakkan Agama Kristen“. Pluralisme agama bukan berarti percampuran atau sinkretisme. Banawiratma. “Teologi Persahabatan antar umat Beragama”. dan bukan untuk dipertandingkan. . menyalahkan. 1995). Jhon Hick dan Paul F Knitter. 33 Keterbukaan semacam ini menumbuhkan perdamaian dan toleransi dan bukan pada tempatnya lagi saling menghujat. Pluralisme agama menolong kita untuk rendah hati menyadari bahwa sikap superioritas tidak bermanfaat untuk mengerti orang lain lebih baik sebab Allah mengasihi semua manusia tanpa terkecuali. Hak Asasi Manusia Tantangan bagi Agama. (Jakarta. et. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa agama Kristen bukan jalan keselamatan satu-satunya. melukai perasaan dan menyuburkan sikap antipati umat beragama lain terhadap umat Kristen. hlm 58-59.. Buku Peringatan Hari Jadi ke-67 Prof. Jika masih dan tetap dipertahankan. Amin Abdullah.al. dan karenanya kita harus menjadi sesama (Lukas 10:36) atau menjadi sahabat bagi saudara-saudara kita yang berkepercayaan lain32. John Hick. dalam Karel Erari. 1999). MA. 194. tanpa penerbit. Ibid.

Menumbuhkan kepekan dan solidaritas terhadap sesama merupakan tugas agama yang hakiki. Dalam era globalisasi. maka kekerasan atas nama agama dapat mencederai kesatuan bangsa dan menciptakan ketakutan dalam masyarakat. Jika agama-agama tidak dapat berdialog. Tentunya sebelum melangkah lebih lanjut perlu Gereja mempersiapkan dirinya lebih baik dan hati-hati sehingga tidak ada motif terselubung yang tidak etis misalnya mencari petobat baru atau kegamangan dalam implementasinya. Masyarakat harus dilatih kepekaan dan solidaritas terhadap sesama yang menderita apapun agama dan kepercayaannya. DAFTAR PUSTAKA Buku . Model ini mendorong warga masyarakat untuk berdialog sebab dialog agama bukanlah monopoli kaum elit agama. agama-agama tetap memainkan peranan penting agar masyarakat tidak hanyut dalam arus fundamentalisme dan liberalisme. karena keduanya tidak peduli dengan eksistensi orang lain.17 kontribusi yang berarti mengatasi kedua masalah besar itu. Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dilakukan pemerintah tidak efektif dan hanya merugikan keuangan negara. Musibah bencana alam dan kelaparan yang diderita sebagian rakyat Indonesia tidak bisa ditangani secara darurat dan sambil lalu saja. Pluralisme agama menjadikan dikotomi mayoritas-minoritas tidak relevan lagi sebab semua umat beragama berpotensi sama baiknya membangun kehidupan bersesama secara damai dalam bingkai kepelbagaian dalam kesatuan (bhineka tunggal ika).

MA. Dr. D. Jakarta: Gunung Mulia dan STT Jakarta. Paul F. Ihromi.. New York: Orbis Book. Buku Peringatan Hari Jadi ke-67 Prof. 1999. 2003. Mitos Keunikan Agama Kristen. Amin. dalam Soetarman SP. 1995. Mulder. et. Agama dan Kekerasan. Knitter. “Kebebasan Beragama atau Dialog Antar-agama”. A Critical Survey of Christian Attitudes Towards theWorld Religions. Keadilan bagi yang lemah. Olaf Herbert Schumann. Pendamaian dan Masa depan. Lefebure. dalam Panitia Penerbitan Buku Kenangan Prof. 2006. dkk. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2. Paul F. “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia”. . Dr. dkk. Mencari dasar bersama: Etik global dalam kajian post-modernisme dan pluralisme agama. dalam J. Jhon dan Knitter. Jogyakarta: Kanisuis. Hick. Banawiratma. Fundamentalisme. Punjung tulis 60 tahun Prof. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog multi-agama dan tanggungjawab global. Jakarta. “Teologi Persahabatan antar umat Beragama”. 1999. cet. Likumahuwa. Paul F.B. Agama-agama dan Teknologi. M. diterjemahkan oleh Bambang Subandrijo.al. Adiprasetya. Jakarta: BPK Gunung Mulia.C. “Prediksi dan proyeksi isu-isu teologis pada dasawarsa sembilanpuluhan: Sebuah introduksi”. Maryknoll. Darmaputera. Olaf Herbert Schumann. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1995. 2002. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Eka. Darmaputera.. Penyataan Allah.. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Sumartana. dalam Karel Erari. Hak Asasi Manusia Tantangan bagi Agama. dkk.. dalam Th. tanpa penerbit. Agama dan Dialog: Pencerahan. No Other Name?. Dr. Leo D.18 Abdullah. Eka. Joas. Balitbang PGI. “Perkembangan Dialog Antar Agama”. Jan S. diterjemahan oleh Nico A. Knitter. 1993. Aritonang. 2001.

(peny.19 Dialog: Kritik dan Identitas Agama.E. t. Spiritualitas. dkk. Yogjakarta: Penerbit Dian/Interfidei. Tanja. 1999. kata pengantar oleh Komarudin Hidayat. F. Jakarta: BPK Gunung Mulia. F. Jakarta: Gunung Mulia. 2003. Victor I. Dr. Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. Urban.th. Yogyakarta: Kanisius. Suleeman. 1995. Menghadapi Tantangan Memperjuangkan Kerukunan. Linwood. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Olaf H. . Sejarah ringkas pemikiran Kristen. Dialog Agama dalam pandangan Gereja Katolik. Gereja menyikapi perubahan. 2004. Buku Penghargaan Untuk Pdt.X. Surat kabar Kompas 28 Juli 2005.) Bergumul dalam pengharapan. Riyanto.. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994. Eka Darmaputera. Armada. Einar M. diterjemahkan oleh Liem Sien Kie. Sitompul.. 2004. Schumann. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

20 .