1.4. RANGCANGAN DASAR STRUKTUR HIDRAULIS ( PLTM Sumani ) 1.

Perencanaan Hidraulis Bendung - Berdasarkan hasil survey lapangan dan peta topografi skala 1 : 1.000. Elevasi dasar sungai dihulu rencana lokasi bendung adalah kurang lebih + 100,00 ( asumsi ) meter. Kemudian untuk dasar tubuh bendung diambil kurang lebih + 100,00 meter. - Elevasi dasar sungai dihilir bendung berdasarkan peta situasi skala 1 : 1.000 adalah lebih kurang + 99,00 meter. - Tinggi pembendungan dan elevasi mercu bendung . Tinggi mercu bendung diambil 3 meter, sedangkan elevasi mercu bendung adalah kurang lebih 100,00 + 3,00 = 103,0 meter. - Lebar bendung direncanakan 26,5 meter. - Bendung direncanakan type broad crested Spillway. Rumus debit :

dimana :

Q = debit banjir 100 tahun ( m3 / det ) H = tinggi muka air diatas mercu pada saat banjir 100 tahun (m) L = lebar total mercu (m) n = jumlah pilar ( n = 1 )

Debit banjir 100 tahun untuk PLTM Sumani adalah 260 m3 / det. Jadi tinggi banjir rencana diatas mercu bendung : 260 = 1,7 H 3/2 ( 26,5 –– 0,1 H ) Dengan recama coba –– coba didapat : H1 = H1 = Ho = 3,25 m 260 = 4 H 3/2 ( 26,5 –– 0,1 H ) H = 3,25 m.

ho + h1 H1 –– h1

MAB

HI

hi

Gambar

HIDRAULIS BENDUNG

Debit yang melimpah diatas mercu pada saat banjir maksimum 100 tahun, akan mencapai maksimum pada saat :

(minimum losses ) untuk

:

H1 = 3,25 m. ho = h1 = . 3,25 = 1,083 m. . 3,25 = 2,167 m.

Kecepatan air melimpah diatas bendung adalah :

V = 4,61 m/det
Freeboard dinding tepi kiri dan kanan bendung diambil : 0,50 m Elevasi mercu bendung = 100,00 + 3,00 = + 103,00 m. Elevasi tembok samping minimum : Elevasi bendung + H1 + 0,50 m. = 103,00 + 3,25 + 0,50 = 106,75 m.

2.

PERENCANAAN INTAKE SALURAN Lebar intake diambil Tinggi bukaan diambil Elevasi M.A.N : 1,20 m = b : 1,70 m = h : 103,00 m.

h

b Gambar : Intake Saluran

Selisih muka air dihulu dan dihilir dapat dihitung dengan menggunakan Rumus pengaliran melalui ambang lebar sebagai berikut :

Q = debit rencana saluran = 1,2 x 3,25 = 3,9 m3/det. µ = koef. Kekerasan saluran diambil 0,78, menganggap tembok bersudut. b = lebar minimum pintu yang dibutuhkan = 1,20 m. h1 = tinggi m.a. diatas ambang intake setelah pintu : 1,70 m. z = selisih tinggi M.A.N dihulu dan dihilir. Tinggi ambang diambil = 1,30 m. Elevasi dasar intake = 100 + 1,30 m. = + 101,30 m.

Z = 0,19 m , Elevasi M.A.N disalurkan ( dibelakang pintu intake : 103,00 –– 0,19 = 102,81 m.

MAB +106,25 MAB +105,15

Y1=4,95 m

MAN +103,00

Y3=3,85 m MAN +102,81

W +101,30

Y2= 1,025 m

+100,00

Debit yang masuk ke intake pada saat banjir maksimum Tinggi muka air dihulu bendung : M.A.B = + 103,25 ; Y1 = 4,95 m. Dengan Q 100 = 260 m3/det. Penentun Q banjir yang masuk ke intake dengan dimensi lubang yag konstan, dapat dicari dengan berdasarkan ( Referensi ““ Open Channel Flow ““ Macmillan 1966 ).

Qi CD B W Y1

= debit banjir yang masuk ke intake = koefisien pengaliran ( Design of Small Dams, Fig. 309 ) = lebar bukaan intake ( m ) = 1,20 m. = tinggi bukaan intake ( m ) = 1,70 m. = tinggi air banjir dimuka pintu ( m ) = 103,25 –– 101,30 = 4,95 m.

Setiap pintu mempunyai koefisien kontraksi Cc atau koefisien pengaliran Cd yang tergantung pada bentuk dan kondisi aliran. Untuk pintu vertical dengan kondisi aliran bebas, koefisien kontraksi ditabelkan sebagai berikut ;

912 ) dari grafik didapat ) Y3 / W = 2.95 / 1. 11.70 = 2. Tinggi air banjir disalurkan awal setelah pintu intake sebesar Y3 dicari dari grafik terlampir. .25 Cd = 0.dimana : Dengan debit sebesar 260 m3/det.6032 . = 11.158 m3 / det.555 ) Y3 = 2.16 m3 / det Jadi debit yang masuk ke intake pada saat banjir 100 tahun adalah sebesar 11.7 = 1. ( Q 100 ) Cc = 0.70 = 3. Y1 / W = 4.6032 Tinggi air pada ambang intake dicari sebagai berikut : Y2 = Cc W = 0. 1. 1.025 m.16 m3 / det.25 .85 m.

1.A.Elevasi M.20 m. Kecepatan untuk penguras : Vc = 1.65 m. MAN +152. Pintu Pembilas a.15 + 0.50 . d 0.30 + 3. ( elevasi tembok samping ) 3.50 ( grafik terlampir ).15 m. 0.90 m/det.50 = + 105. .B saluran sebelum pelimpah : + 101. ( 0.50 . Dari peninjauan lapangan diameter maksimum = + 15 cm.5 dimana : Vc = kecepatan kritis yang diperlukan untuk pengurasan (m/det) c = koefisien yang tergantung dari bentuk sediment diambil c = 5. c .5 d = diameter terbesar sediment ( m ).70 m. PINTU PEMBILAS Lebar pintu pembilas diambil Tinggi lubang penguras Elevasi dasar pembilas : : : 1.15 m. Vc = 1.85 = + 105. Dengan Freeboard : + 105. Kecepatan Aliran untuk pengurasan.00 Gambar : 5. dalam hal ini 0. Kecepatan aliran melalui pintu penguras dibutuhkan untuk menghanyutkan sediment yang terbawa air sungai yang mengendap didepan pintu pengambilan dan pintu penguras. + 100.15 ) = 2.00 . 5.00 m.

2 . Hubungan Diameter Butir dengan Kecepatan Kritis Catatan : Vc C = kecepatan pengurasan.5. pasir dan kerikil berbentuk bulat dengan nilai rendah dan bentuk bersudut dengan nilai tinggi. pasir dan kerikil bercampur.3. = 4.20 x 2. . = 3.9 . = koefisien yang tergantung dari ukuran dan bentuk material Deposit.5 .49 = 3.00 m3/det HUBUNGAN ANTARA d dan Vc PADA PINTU PENGURAS Gambar : 6.5 .Debit minimum untuk penguras : q qm = debit minimum yang diperlukan untuk pengurasan persatuan lebar g = percepatan grafitasi Debit pengukuran = Qm = 1.

0 3.20 m.U. ) = 260 m3 / det. March. Penentuan dimensi pembuakaan saluran penguras.90 m / det. Nedeca . P. Tinggi banjir rencana dihilir bendung dihitung dengan rumus Manning. ( m3 / det. ) didapat dari Flow Duration Curve ).00 m. Debit minimum pengurasan : 3. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Q Q dimana : Q b t V = debit pengurasan yang diinginkan ( m3 / det. Kemiringan sungai rata. Q = V x A dimana : Q = debit banjir 100 th. Water Resources Development.00 m3 / det.92 2. N = koefisien kekasaran Manning = 0.86 0.015 Lebar sungai rata-rata = 25. Sumber : Standardizing Design and Specification on Irrigation Structures . = A . = lebar saluran penguras ( m ) = 1. 1985. t . V = B . = kecepatan pengurasan = 2. = tinggi bukaan ( m ).80 0.rata disebelah sungai bendung = 0.2 c.DHV. Dept. b.035 .8 3.D = diameter maksimum material deposit ( m ). Debit banjir rencana dihilir bendung . ) t (m) 0. v Q ( m3 / det.

. S = kemiringan sungai.95 m.00 + 1. I = kemiringan dasar sungai rata-rata = 0. 4.015 V = kecepatan aliran Elevasi dasar sungai disebelah hilir = + 99. Jadi elevasi muka air banjir dihilir bendung = +99. BACK WATER CURVE Gunanya adalah untuk mengetahui sampai dimana pengaruh kenaikan muka air setelah adanya pengempangan oleh bendung.00 A = ( b + h ) h = ( 25 + mh ) h O Q = A V Dengan cara coba-coba didapat tinggi banjir dihilir bendung setinggi 2.A = luas penampang aliran ( m2 ). H = tinggi akibat muka air di titik bendung akibat pengempangan. Untuk menghitung pengaruh pengempangan ini dipakai rumus : L = 2 h / s *) dimana : L = panjang pengaruh pengempangan kearah udik dihitung dari titik bendung . R = jari-jari hidraulis ( m ).95 = +100.25 m ( h = 1.95 m ).

a.25 m. & Tenaga Listrik Dtjen.Elevasi muka air sungai setelah adanya bendung adalah +106.a.015 5.25 S + 103. 7.25 .00 = 3. Sehingga dengan adanya bendung muka air sungai menjadi naik setinggi +106. Sedangkan elevasi mercu bendung sendiri +103. 2. A L = 433. Sebelum ada bendung + 106. Partikel yang dapat diendapkan = 0. Pengairan.33 B m. Derektorat Irigasi.00 h h S Gambar . hal. dengan pendekatan . medium head 30 –– 150 m.00 m. Back Water Curve *) Sumber : Sunarna. Perhitungan bendung tetap. ““ Hydro Power Development ““ Vol.103. PERENCANAAN DESAND ( KOLAM PENGENDAP PASIR ) Head = 90 m ( Sumber : Masyonyi. Dept. P. Bandung.25 m = H1 S = 0. Sesudah ada bendung m. 1972.3 mm.U. 29 h dihitung berdasarkan debit banjir rencana dengan periode 100 tahun ( 265 m3 / det ) h = 3.25 m.

00 m.24 .1 mm < d < 1 mm.3 mm. V Didalam air tenang L = 0.0176 m/det. Kecepatan maksimum = 0.065 0. Didalam air turbulensi W1 = pengurangan kecepatan didalam air turbulensi W2 = kecepatan pengendapan = W .3 0.9 m3 / d = bh .35 m/det. Kecepatan kritis untuk pengendapan ditentukan dengan rumus Camp : = 44 untuk partikel 0. d = 0.d : 0.5 0.04 .110 mm m/det. W = kecepatan pengendapan ( m/det ). W : dimana : d = diameter partikel yang akan diendapkan ( mm ).04 0.7 0. Q design = 3.0 0. . 50 = 12 m.W1 = 0.085 1. untuk kondisi medium head.0224 = 0.054 0.0.4 0. h = rata-rata kedalaman desand diambil 2.

2 . 113. 8.00 m.00 . Desand Entry Kecepatan disaluran : V1 Q b.24 .50 .65 m3 Kapasitas kolam = 2 .64 = 363. 113. 28.2. 8.25 1.27 ~ 28 m.h 3.L = 0.75 Gambar 8.82 +102.75 + 101. W = 95 % Untuk kolam pengendapan = 3. Di check dengan Velikanov : Dianggap 95 % dari partikel diendapkan Dari grafik dengan W = 95 % didapat = 1.00 +100.30 H = 2.65 m3 Diambil dimensi kolam pengendap = 2.794m/det .1.2 m. Desand entry MAN +102. 28 = 392 m3 > 363.50 .64 = 27.51 1.

.Settling Velocity W (cm/sec) Particle Size : (mm) After L. Sudry Gambar 9. SETTLING VELOCITY IN NON –– TURBULENT WATER FOR VARIOS DENSITIES OF SILTY WATER.

N ) Elevasi muka air di desand = +102. Kehilangan tinggi karena pelebaran tiba-tiba : ( M.00 = +100.W% Wp = percent settled for a given Particle size Gambar 10. .81 –– 0.75 ( M.75 –– 2.A.N ) Jadi elevasi awal pada dasar kolam = +102.24 m/det. VELIKANOV’’S RELATIONSHIP Wp = f ( ) FOR DESIGNING SETTLING BASINS Kecepatan di desand menurun hingga 0.06 = +102.75 m.A.

45 MAB +105.16 m3/det. 1971 : dimana .75 h2 Gambar 11.00 m +154. Webber.Perencanaan Pelimpah Samping : Pelimpah samping diperlukan didalam bangunan kolam pengendap pasir untuk melimpah kelebihan akibat banjir yang terjadi.15 h1 +102.57 MAN +102.85 m. +105. L = panjang pelimpah ( m ) V = kecepatan rata-rata disaluran ( m/det ) B = lebar saluran empat persegi panjang ( m ) h1 dan h2 = tinggi air dibagian ujung hulu dan hilir peloimpah ( m ) . Volume air yang akan dilimpahkan termasuk keadaan dimana terjadi penutupan pintu penstock pada saat banjir maksimum terjadi. berdasarkan N.75 + 0.B. Pelimpas Desand Panjang pelimpah samping ( L ) diperkirakan dari Coleman and Smith Formula. Fluid Mechanics for Civil Engineer.10 = + 102. yaitu kembali ke sungai Batang Toru. Debit yang masuk ke intake pada saat banjir maksimum adalah : 11. Ketinggian mercu pelimpah diambil 10 cm diatas M.75 +100.85 10 cm 2. Pembuangan kelebihan air ini melalui pelimpah direncanakan kesebelah kanan saluran.A.N yaitu : + 102.

75 = 4.a.b dengan mercu pelimpah = 105.40 x 5. Q banjir disaluran : 11.00 m.50 x 28. Dimensi desand 8.16 m3/det dasar saluran di desand : +102.50 = 37.40 m.40 m2 Jadi kecepatan aliran di desand pada saat banjir 100 tahun : Panjang pelimpah samping : = 5.15 –– 100. diambil 0. .b dengan mercu pelimpah setelah pelimpah.40 m. Sedangkan tinggi air pada saat banjir : +105. Luas penampang basah : F = 4.40 m +100.00 = + 100.75 –– 2.24 m diambil 10 m.15 4.50 m Gambar 12.75 m.00 x 2. h1 = perbedaan tinggi m. ( dihulu pelimpah ) H2 = perbedaan tinggi m.a.15 –– 102.20 m ( lihat pelimpah ) Dimensi desand : +105.75 = 2.75 8.50 m.Lebar saluran di desand telah dihitung sebesar 8.

16 m3/det ( debit air yang harus dibuang ).24 .A. H 1. Freeboard diambil sama dengan tembok samping dilokasi intake +105.24 .00 m. L . MAN +102. Tinggi banjir diatas mercu pelimpah : 11. 11. 1.20 = 103. Ambang Kontrol .85 + 0.00 m.N.5 dimana : Q = debit yang dapat dilimpahkan L = panjang pelimpah H = tinggi air diatas mercu pelimpah Q = 1.8 Gambar 13.55 +100. Jadi ketinggian air banjir setelah pelimpah adalah h2 ditambah mercu pelimpah : + 102.95 m. 65 m. 2.00 .5 = 18.00 m.5 H = 0.75 Z +152.24 . H1 = 0. Perencanaan ambang control Ambang control dibuat pada akhir desand dan dimaksudkan selain dapat menahan bed load yang lolos alur pengendapan juga mengontrol aliran air di desand. 10.30 1.38 > 11.00 .93 ~ 0.75 1.75 +99. H 1. +152.05 atau 50 cm diatas M.27 h1 2.16 = 1.Dikontrol dengan memakai rumus debit pelimpah : Q = 1.

00 –– 1.78 untuk tembok tepi bersudut.20 = 0. Kontrol lompatan hidraulis didalam desand Bilangan Fraude : dimana : V1 = kecepatan awal = 1. g = percepatan gravitasi ( m/det 2 ) Z = kehilangan tinggi ( m ) . Kontrol alur pengendapan . Jadi kehilangan tinggi ( energy ) pada ambang tetap = 0.021 m. Maka tinggi air diatas mercu ambang : H = 2.20 m. b = lebar ambang = h1 = tinggi muka air setelah ambang = H1 –– Z µ = koefisien pengaliran yang diambil 0. Untuk menghitung kehilangan energy diambang dipakai rumus : dimana : Q = debit design = 3. Y1 = kedalaman awal = 1.9 m3/det. Dengan coba-coba didapat harga z = 0.51 m.Tingi muka ambang : 1.35 m/det.021 m. maka menurut referensi USBR tidak terdapat lompatan hidraulis.80 m.

Dimensi lubang penguras Saluran penguras direncanakan dari pipa beton dengan dialirkan kembali ke sungai Parsariran.Persamaan Shields : d = 104 .025 m. Diambil beda tinggi 1. A .30 m = 30 cm. S d = diameter partikel terbesar yang akan dibuang ( mm ) R = jari-jari hidraulis rata-rata S = kemiringan dasar ( m/m ) Diambil sebesar bukaan saringan = 50 mm.60 % untuk jarak 50 m h = 0. Kemiringan dasar = 0.012 = 6. R . Penampang Desand Keliling basah = O = 2 + 2 .00 m Gambar 14.00 m sampai pintu pengurasan. 2.80 m B 2. Jari-jari hidraulis dari penampang rata-rata dihitung sebagai berikut : 1 2 2 1 H = 1. Diameter pipa penguras ditentukan sebagai berikut : Qp = V .

Potongan Memanjang Desand .00 m Gambar 15. Diambil diameter pipa 1.0 m/det.51 +100.dimana : Qp = debit pengurasan yang diambil 50 % Q saluran. Qp = 0.00 m +102.0 m.20 m Gambar 16.50 x 3.02 Ambang pengontrol 3m L = 28.9 = 1.00 Slope 0.95 m/det.00 m Ø 1. Sket Pandangan Atas Desand Pintu penguras 11. V A = kecepatan pengurasan yang diambil 2.75 1. = luas penampang basah pipa.73 0.75 1. 3 m L = 28.80 +102.

Bentuk Geometri Saluran PLTM Sumani direncanakan saluran berbentuk trapezium dengan lebar bagian bawah sama dengan tingginya. SALURAN PENGHANTAR Saluran penghantar sedapat mungkin dibuat saluran terbuka. dari pasangan batu kali dan diplester halus dengan adukan 1 pc : 4 pasir.5 1 H 5 5 1 0. 0.6. 1.52 0.25 m3/det. Penentuan Dimensi Saluran Debit yang direncanakan diambil sama dengan debit rat-rata Q mean = 3. geologi dan kemudahan pelaksanaan.4 B=H 3.4 H/5 B=H H/5 2. saluran penghantar PLTM Sumani terdiri dari : Saluran terbuka dengan panjang 990 m Perhitungan dimensi dari saluran penghantar tersebut seperti dibawah ini.4 0. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas. Minimum 2.00 Gambar 17.00 0. Bentuk Geometri Saluran penghantar dipilih berdasarkan atas pertimbangan kondisi topografi. Saluran terbuka a.5 0. . Penampang Saluran Penghantar b.

8 3. Kemiringan saluran penghantar dihitung sebagai berikut : Luas penampang basah A = 3.9 4. dari table dipilih dimensi saluran penghantar sebagai berikut : Tinggi muka air di saluran H = 1.48 m.332 4.587 2.1 1.162 1.5 2.760 Debit rencana untuk saluran sebesar Q = 3.840 4.888 4. Ukuran Saluran V / H (m/det) /A 0.121 3.825 2.3 2.028 1.200 1.352 1.728 1.822 1.700 2.352 2.110 3.8 = 5. R -4/3 = 12 .765 5.307 1.728 1.888 3.072 3. Jari-jari hidraulis k diambil 60 Jadi I = V 2 .117 2.815 4.200 0.466 3.622 1. Freeboard diambil 0.452 1.468 3.1 1.686 1.430 2.5 m.742 1.800 5.970 3. (60) -2 .382 1.84 + 1.9 m3/det.074 1. Jadi Q saluran = 1.901 2.2 x 3.198 2.468 2.765 3.0 4.25 = 3.882 2.899 4.80 m Lebar dasar saluran B = 1.8 0.960 1.700 2.2 1.080 1.379 3.434 1.2 1.458 2.452 1.320 1.162 1.440 1.3 m3/det. (615) -4/3 I = 0.280 5.160 2.320 4.888 m2 Keliling basah O = 2 x 1.240 1.028 2.231 2.80 m Kecepatan di saluran V = 1 m/det. k -2 .Debit saluran penghantar ditambah 20% dari debit yang direncanakan.774 3.666 1.600 1.0 1.555 1. Untuk penentuan ukuran saluran penghantar yang ekonomis dipilih dari tabel sebagai berikut : Tabel 1.500 3.6 3.072 2.4 2.0 1.800 3.277 4.9 1.332 3.00044 .7 3.

2 0.00 Gambar 17.00 0. Kontrol Freeboard Saluran Terbuka Freeboard saluran terbuka dihitung berdasarkan kondisi yang ekstrim yaitu kenaikan muka air pada saat banjir dan pintu pipa pesat tiba-tiba tertutup. H = 1.80 m Y2 = kedalaman air yang baru setelah surge y2 . Q min = 1.5 0.56 m3/det. Penampang Saluran Penghantar Dalam kondisi debit minimum Q min = ( 0. c.60 3.3 0.80 0. Kenaikan Muka Air Akibat ““Surge”” Y1 = kedalaman air pada saat banjir = 1.10 m.72 0.4 x 3.60 B = H = 1.5 0.4 2.2 1 H = 1.9 ) m3/det.10 m/det.5 4 0.80 5 5 1 0.2 0. Dari table didapat : V = 1.4 0.1 Minimum 2.4 0. h V2 y1 V1 Gambar 19.

.00044 ) 1/2 = 1. ( 0..80 1.7108 ) 2/3 .7 = 5.003 m/det. Penampang Saluran Terbuka A = 3. Surge dihitung berdasarkan 2 persamaan dasar ( Reff.836 + 1.888 m2 O = 2 . 1. I ½ V1 = 60 ...1 5 5 1 1. ( 2 ) V1 = 1..47 m..00044 Rumus Strikler : V1 = k . ( 0. I = 0.80 Gambar 20. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 + C ) Y2 ………………………………………………………………………… (1) …………………………. R 2/3 ..0003 V2 = 0 .....

44 m Jadi muka air normal sebelum masuk kolam / bak penenang : (102.00 m Sedangkan kedalaman bak penenang ditentukan serta disesuaikan dengan elevasi dari intake pipa pesat.25 m C = 0. Kehilangan Tinggi Air Kehilangan tinggi air di saluran terbuka sebelum masuk saluran tertutup. (m) (m) Dari perhitungan didapat lebar bagian atas saluran penghantar = 2.31 m Dengan dasar saluran : (101.75 m .44) m = 102.00044 Hf = 909 m x 0.45 m Jadi pengambilan freeboard didepan sebesar 0.446 m/det.80) m = 0. sebelum masuk ke Intake pipa pesat.66 m 7.50 m ~ 6.75 m L = 2 x 2.Dengan cara trial & error didapat : Y2 = 2. Ukuran Bak Penenang Ukuran bak penenang diambil pedoman sebagai berikut : B = lebar bagian atas saluran penghantar L = 2xB dimana : B = lebar bak penenang L = panjang bak penenang Jadi : B = 2. akibat gradient saluran : I = 0.75 m = 5.75 –– 0.10 –– 0. d. 1.5 m masih memenuhi. (kecepatan gelombang) Besar surge h = (2. BAK PENENANG Bak penenang dibuat pada ujung saluran penghantar.25 –– 1.00044 = 0.44) m = 100.

2. maka digunakan rumus : S = 0.44 m = +101.00044 Hf = 909 m x 0.5 Dimana : V = kecepatan aliran di dalam pipa pesat (m/det) D = diameter pipa pesat (m) b.54 x V x D0.75 –– 0. Intake Pipa Pesat Elevasi dari pipa pesat harus diletakkan cukup rendah untuk menghindari terjadinya rongga udara. Elevasi Muka Air Di Bak Penenang Kehilangan tinggi muka air di saluran penghantar (saluran terbuka) sesudah air keluar dari saluran tertutup sampai dengan bak penenang : Akibat gradient saluran I = 0.00044 = 0.5 S = 0.31 m .919 m 1. Garis dumbu pipa pesat membentuk sudut dengan sumbu saluran penghantar S = 0.54 x V x D 0.54 x 3. 3. Kedalaman air yang dibutuhkan di atas pipa pesat bagian atas. untuk menghindari masuknya rongga udara disebut submergence ( S ) dan dapat dihitung dari salah satu rumus sebagai berikut : a.72 x V x D0.5 S = 1.25 0.92 m.178 x 1.44 m Elevasi muka air maksimum di bak penenang/ Intake Pipa Pesat = +101. Garis sumbu pipa pesat sejajar terhadap sumbu saluran penghantar : S = 0.5 PLTM Sumani kedudukan garis sumbu pipa pesat sejajar terhadap sumbu saluran penghantar.

10 –– 0. Panjang pipa pesat diperkirakan kurang lebih 353 m Debit rencana diambil Q mean = 3. PIPA PESAT Untuk PLTM Sumani digunakan pipa pesat dari baja dengan segmen sepanjang 6 meter.66 m 8.92 –– 1.27 m = +96. 1.9 m3/det Tinggi terjun H = 29.8 m. Daland’’s Formula . Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.Elevasi muka air minimum di bak penenang/ Intake Pipa Pesat = +101. dengan masing-masing segmen dihitungkan dengan las setempat.44 m = +100.85 –– 1.66 m Elevasi dasar bak penenang/ Intake Pipa Pesat = +99.

Sakaria’’s Formula Gambar 24.c. DIAGRAM FOR SUBMERGENCE OF PENSTOCK INTAKE .

Jarak setiap saddle support adalah 6 meter c. tebal plat minimum 6 mm. Karena panjang penstock hanya 35 m. b. Perlengkapan Struktur Panjang keseluruhan pipa pesat PLTM Sumani adalah 35 m. maka tebal pipa pesat diambil 8 mm 3. maka ada 2 Angker blok. Perlengkapan struktur pipa pesat terdiri dari : a.25 m. factor korosi 2 mm. yaitu menyatu kolam penenang dan menyatu dengan gedung sentral. Saddle Support Saddle support adalah perletakan pipa pesat diantara anchor block. .Berdasarkan perhitungan dan ukuran plat baja dipasaran. Maka kecepatan aliran dalam pipa pesat : 2. Tebal Pipa Pesat Tebal pipa pesat dihitung dengan menggunakan rumus : D = diameter pipa pesat dalam satuan mm. Expansion Joint Pada pipa pesat dengan sambungan rigid joint. diperlukan pemasangan expansion joint yang berfungsi untuk memberikan pergeseran akibat perbedaan temperatur. maka diameter pipa pesat dipilih D = 1.

4. 9.40 m. Losses pada lengkungan pipa. diperkirakan +53.05 meter.00 m. generator dan perlengkapannya maka gedung sentral untuk PLTM Sipenggeng dibuat dengan ukuran 8.00 m. Elevasi muka air banjir disungai Batang Toru pada lokasi tersebut. Sub Struktuer Bangunan sub structure direncanakan mrempunyai konstruksi basement plat beton yang berfungsi sebagai pondasi bangunan dan juga sebagai kolam draft tube. Pada kedalaman = 1.60 kg/cm2. Kehilangan Tinggi Air di Pipa Pesat Kehilangan tinggi air pada pipa pesat terdiri dari : a. tersebut daya dukung tanah cukup besar yaitu 5. Untuk menghitung besarnya head losses pada pipa pesat diperkirakan sebesar 3 % dari head yang ada. GEDUNG SENTRAL Lokasi Gedung Sentral PLTN Sumani terletak ditepi sebelah kanan sungai Sumani. 1. Kehilangan tinggi air di saringan (screen losses) b. Kehilangan tinggi karena gesekan (friction losses) d. . Berdasarkan perkiraan dimensi turbin.00 x 12. Kedalaman Pondasi Kedalaman pondasi untuk struktur anchor block berdasarkan penyelidikan lapangan adalah pada kedalaman 0. Secara topografis gedung sentral diindentifikasikan diantara profil serta pada titik test pit dari peta Geologi Teknik yang dibuat. Kehilangan tinggi di inlet (entry losses) c.31 –– 72. Elevasi lantai gedung sentral direncanakan pada elevasi +72. sehingga elevasi lantai gedung sentral cukup aman terhadap muka banjir.60 m dari tanah asli.25 kg/cm2 –– 1. Sehingga untuk PLTM Sipenggeng besarnya net head adalah : 97 % ( 101. berdasarkan dari kenampakan dilapangan.4 ) meter + 1 meter = 29.

Sedangkan konstruksi atap dari konstruksi baja dengan penutup dari seng gelombang. Berdasarkan perkiraan dimensi mesin turbin. dengan dinding pengisi dari pasangan batu bata. generator dan perlengkapannya.50 m.00 m dan porlat memanjang berjarak 5.00 m. . Pondasi telapak diletakkan pada elevasi 57 m. Pagar dilengkapi dengan pintu double yang memisahkan lokasi serandang hubung dengan ruang kerja dan tempat parker. Super Strcture Struktur bangunan atas dibuat dari rangka beton bertulang. Lokasi Serandang Hubung ( Switchyard ) Lokasi serandang hubung direncanakan ditempatkan disamping kanan gedung sentral dengan ukuran 9. maka lantai mesin pembangkit adalah 59.00 m.00 x 2. tinggi bersih ruang mesin adalah 6.25 m. 2.Berdasarkan perhitungan mesin pembangkit. 3.00 x 10. elevasi muka air dikolam draft tube adalah 5. Pintu masuk direncanakan terdiri dari daun dan rangka konstruksi baja dengan lebar 2. maka pada tengah portal perlu dipasang baja I untuk perletakan monorail crane tersebut.00 m. Lokasi serandang hubung diberi pagar besi berupa anyaman kawat jajaraj genjang yang digalvanisir.00 m.9 m. Bentang portal melintang adalah 7. dan lantai pelat basement terletak pada elevasi 56. untuk penempatan monorail crane yang bergerak kearah memenjang gedung sentral.50 m dan jarak lantai ke as turbin adalah 1.

4. ditutup dengan batu kerikil diameter 2.5 cm. Ruang Kerja dan Parkir Untuk keperluan parkir dan perputaran kendaraan serta tempat kerja perlu disediakan lokasi yang berdekatan dengan pintu gedung sentral dan lokasi serandang hubung. Lay Out Gedung Sentral 300 B B 800 . setebal 10 cm. 1200 550 A 100 400 60 60 600 60 x 60 A 60 600 Gambar 25.Permukaan tanah di lokasi serandang hubung sesudah diratakan.

Potongan Gedung Sentral .Gambar 26.

83 m. Lokasi pembuangan akhir adalah pada sungai Batang Sumani.40 Gambar 27.H) 3.1H 3 2 0.25 h1 + 70.5 + 69.1. Perhitungan Saluran Pembuang Debit air yang disalurkan oleh saluran pembuang sama dengan debit di saluran penghantar. 2.9 5. Ambang Draft Tube Q 3.9m 3 /det Q 1. kemudian dialirkan kembali ke sungai melalui saluran pembuang yang dilengkapi suatu weir dengan maksud untuk menjaga agar supaya ujung draft tube tetap terendam air. Kondisi topografi pada rencana saluran pembuang umumnya merupakan lereng-lerng yang miring kearah sungai sedangkan kondisi geologinya dapat dilihat pada hasil penyelidikan geologi seperti terlampir.1. SALURAN PEMBUANG ( TAIL RACE ) Setelah air dipergunakan untuk memutar turbin.90 1. 1.7H 3 2 (L 3 0.7H 2 (3 0. maka air tersebut dibuang lewat draft tube.1nH) 3.17H 5 2 Coba –– coba = h1 = 0.9 1. .10. Perhitungan Weir Kolam Draft Tube Dari rancangan dasar ( besic design ) gedung sentral diketahui : + 71.

615 0.888 m2 5.47 m A/O = 0.00044 3.7108 Freeboard .50 m 3.64 = 0.Maka dimensi saluran penghubung (tail race) disamakan dengan dimensi saluran penghantar.468/5.9 m3/det B = = 1.80 m 1 m/det 0. Panjang saluran pembuang kurang lebih 38.00 m Q H V A O R I = = = = = = = 3.

Di daerah galian Gambar 29. Panjang jalan masuk kurang lebih 1. Typical jalan masuk . dibuat dengan criteria seperti tersebut dihalaman sebelumnya. Di daerah Timbunan b.165 m. JALAN MASUK Jalan masuk menuju gedung sentral dibuat mengikuti jalan setapak yang sudah ada sehingga biaya pembuatannya relative lebih murah.11. Gambar Penampang Tipikal adalah sebagai berikut : a.

maka disimpulkan sebagai berikut : PLTM Sumani direncanakan berinterkoneksi dengan pembangkit lain yang ada Debit rencana = 3. maka energi optimum/tahun diambil sebagai dasar untuk menetapkan besarnya debit rencana yaitu sebesar 3. Jumlah kapasitas terpasang dihitung dengan rumus : Kp = Q H = = Kapasitas terpasang ( kW ) Debit rencana ( 3.8 m ) g = efesiensi generator ( 0.92 = 700 kW Maka jumlah kapasitas terpasang PLTM Sipenggeng sebesar 2000 kW . DATA Berdasarkan studi kelistrikan. PENENTUAN JUMLAH UNIT PEMBANGKIT Berpedoman pada studi optimasi.25 m Panjang pipa pesat : 35 m Temperature air : 25 °C 2.80 ) Kp = 9. hidrologi dan scheme PLTM Sumani dilokasi terpilih.80 .ANALISA RANCANGAN DASAR MESIN PEMBANGKIT 1.25) (29.25 m3/det ) Tinggi terjun ( 29.92 ) t = efesiensi turbin ( 0.91 m Elevasi tinggi muka air normal di saluran pembuang : 70.8 . 0. 4. (3.8) .1 Elevasi tinggi muka air di bak penenang : 101. Karakteristik debit dilukiskan sesuai dengan gambar no. 0.25 m3/det Batas debit minimum adalah sebesar 40 % dari debit rencana.25 m3/det.

maka untuk PLTM Sumani dapat menggunakan jenis turbin Francis. pembangkit beroperasi dengan . TURBIN 1.4. dengan kapasitas yang menurun hingga mencapai 75 % dari kapasitas penuh. Efesiensi turbin francis cukup tinggi untuk berbagai kondisi beban Pemeliharaan turbin francis lebih mudah dan murah Konstruksi pekerjaan sipil untuk turbin francis lebih sederhana. Diusulkan PLTM Sumani menggunakan jenis turbin Francis poros datar dengan pertimbangan sebagai berikut : Pengalaman pabrik turbin di dalam negeri untuk memproduksi turbin jenis Francis. 2. 3. 5. gambar No. maka pengoperasian pembangkit dalam 1 (satu) tahun sebagai berikut : Dari bulan ke-1 sampai dengan ke-8.Dengan pertimbangan : Jumlah kapasitas terpasang PLTM Sumani akan terserap habis Biaya pembangunan dan pemeliharaan yang ekonomis Maka PLTM Sumani diusulkan menggunakan 1 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang 700 kW Berdasarkan data karakteristik debit (flow duration curve –– gambar no. Tinggi terjun rencana (Hd) = (Elevasi muka air di bak penenang) –– (Elevasi muka air di saluran pembuang) –– (kehilangan tinggi hidrolik). Berdasarkan nomograf pemilihan jenis turbin dari Beca-Worley International. Penentuan Jenis Turbin Penentuan jenis turbin ditentukan oleh tinggi terjun dan besar debit rencana. pembangkit beroperasi dengan pembangkit beroperasi. Rating Turbin 1.33. Dari bulan ke-10 sampai dengan ke-12.1). kapasitas`45 % dari kapasitas penuh. kapasitas penuh Dari bulan ke-8 sampai dengan ke-10.

80 = 717 kW 3. 3. 2. 0.4131 (m.8 .77 m 28. . Kecepatan putar rencana (N) Ns dihitung dengan menggunakan rumus : Dimana : Ns = N = Pt = Hd = Maka : Ns Specific Speet (m.kW) Nilai Ns untuk jenis turbin francis dibatasi tidak lebih dari 350 m.14 N x 0.31 m –– 72.252 = 0.kW) Kecepatan putar (Rpm) Out put turbin (717 kW) Tinggi terjun (28.25 Nx 717 28.14 m.0734 x Q2 0.Kehilangan tinggi hidrolik dapat dihitung dengan rumus : = = 0.14 .77 m Jadi Hd = = 101. 28.kW Direncanakan mesin pembangkit tidak menggunakan gearbox sehingga nilai N turbin = N generator.25 .80 Hd = Tinggi terjun rencana (92 m) Jadi Kp = 9.0734 x 3.14 m) 0.40 m –– 0. Out put turbin dihitung dengan rumus : Dimana: Pt = Out put turbin (kW) Q = Debit rencana ( 3 m3/det) = efesiensi turbin.5 1. diperkirakan 0.

280 –– 0. bila nilai kecepatan putar bertambah besar. Kavitasi .14 m) 10.14) 7. Runner Diameter runner dihitung dengan rumus : Tinggi terjun (28.239) Koef.3 6 1.280 m) Tekanan uap air (0.500 244.6 Umumnya.000 163. Dicoba dengan memilih Ns = 163.663 m Ha –– Hv –– Hd Tinggi isap Tekanan udara (10. Tinggi Isap (Hs) Rumus : Dimana : Hs = Hs = Ha = Hv = = = Hd = Maka Hs = = 4.1 m. maka didapat variasi nilai N dan Ns sebagai berikut : Jumlah Kutub Kecepatan Putar Specific Speet 8 750 122.1 4 1.0845 x 28.Kecepatan putar dihitung dengan rumus : Dimana : N f P = = = Kecepatan putar (Rpm) Frekuensi (50Hz) Jumlah kutub Dengan mencoba nilai P (jumlah kutub).239 –– (0. maka harga generator akan bertambah murah.kW 3.

25 m3/det 717 kW 163. kW 1.000 Rpm 0.1 m.65 m 7.40 m Sehingga turbin aman terhadap banjir 6.9 m Tinggi muka air banjir pada elevasi = 70. Mampu bekerja pada besaran debit yang bervariasi.14 m 3.25 1000 0. GOVERNOR Pengaturan kecepatan putar dan pembebanan turbin menggunakan governor jenis mechanical hydraulic dengan pertimbangan sebagai berikut : Mampu bekerja secara isolated maupun parallel dengan pembangkit lain. Mampu bekerja pada besaran beban yang bervariasi Nudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan : : : : : : : : Francis poros datar 28.663 m .Dimana : D = Diameter Runner (m) Q = Debit (3 m3/det) N = Kecepatan putar (1. Setting Turbin D 3 90x3. Spesifikasi Teknik Berdasarkan perhitungan di atas maka spesifikasi teknik turbin adalah sebagai berikut : Jenis turbin Tinggi terjun (Hd) Debit Out put Specific speet (Ns) Kecepatan putar (N) Diameter Runner (D) Tinggi Isap (Hs) 4.66 Tinggi as Runner terhadap tinggi muka air normal = Hs –– D/2 = 1.000 Rpm) Maka : 5.942 m Jadi turbin di set pada elevasi = 73.

5.50 % dan dapat diatur secara manual System pendingin udara dari putaran generator sendiri. dilengkapi AVR dengan variasi tegangan ± 2. GENERATOR 1. Rating Generator Rating out put generator dihitung dengan menggunakan rumus : : : : : 3 fasa 50 Hz 400 volt 0. Peralatan control dan pengamanan elektris yang berhubungan dengan governor menggunakan arus DC yang disuplai dari sumber DC. Jenis Generator Jenis generator yang dipilih adalah generator sinkron dengan ketentuan sebagai berikut : Jumlah fasa Frekuensi Tegangan Factor daya Poros datar System eksitansi tanpa sikat.Pompa hydraulic governor digerakan dengan menggunakan motor DC.8 Pg = Pt x ( g/pf) Dimana : pg = Pt = Out put generator (kVA) Out put turbin (kVA) g = Efesiensi generator (0.92) Pf = Faktor daya (0.8) . 2.

92 0.55kVA 1000kV A Rating putar generator = 1. hubungan YD dengan system pendingin ONAN.8 824. Kenaikan temperature pada belitan generator pada saat operasi. Pentanahan Netral Generator Titik netral generator ditanahkan melalui tahanan pentanahan dengan pertimbangan membatasi besar arus gangguan tanah sehingga : Mengurangi kerusakan pada peralatan listrik seperti Switch Yard. untuk : Minyak Belitan : tidak lebih dari 60 °C : tidak lebih dari 65 °C sesuai dengan . TRANSFORMATOR UTAMA Jenis transformator adalah transformator step up. 4. Mengurangi ukuran trafo arus. pasangan luar. Kelas Isolasi Belitan generator menggunakan material yang berisolasi kelas F. tidak melebihi batas ketentuan isolasi kelas B. 3 fasa. kabel dan generator Mengurangi tekanan mekanik pada rangkaian dan peralatannya. Mengurangi bahaya sentakan listrik pada manusia karena gangguan arus balik yang terpancar. Batas kenaikan temperature sesuai SPLN 8B-1978. Langkah ini diambil untuk menjamin umur isolasi. 6. Rating tegangan tanpa beban pada sisi primer 400 volt dan sisi sekunder 22-21-2019-18 kV.Maka : Pg = 717x 0. Rating out put dipilih sebesar 1000 kVA Titik netral 20 kV dari hubung Y diketanahkan melalui tahanan 40 SPLN 52-3 : 1983.000 Rpm 3.

2. Serandang hubung terdiri dari : 2 buah tiang yang membentuk huruf H. SISTEM SUPLAI DAYA PEMAKAIAN SENDIRI 1. Sumber daya DC Sumber daya DC dibagi menjadi 2 kelompok. 8. 1buah disconnecting switch 3 kutup. Switchgear 20 kV pasangan dalam beserta peralatan control dan pengamanannya berada di dalam lemari besi yang diletakan didalam gedung sentral. yaitu : Kelompok I untuk mensuplai kebutuhan sistem pembangkit (penguat medan magnet. relay-relay. Transformator utama. SERANDANG HUBUNG Lokasi serandang hubung 20 kV terletak di dekat gedung sentral dengan ukuran 10 m x 9 m. transformator pemakai sendiri terletak di lokasi serandang hubung.7. Suplai daya DC untuk masing-masing kelompok terdiri dari batteray charge dan disimpan pada batteray dengan tegangan 110 volt DC. Lemari besi terbuat dari plat besi dengan ketebalan 3 m. 3 fase 20 kV. 1 buah feeder keluar. bintangdiketanahkan. pengaman indicator) Kelompok II untuk mensuplai kebutuhan lampu penerangan darurat. suplai daya selain didapat dari jaringan tegangan menengah 20 kV disediakan pula disel generator set 25 kVA yang dihubungkan secara interlock di panel pembagi. 3 lightning arrester. Sisi primer hubungan delta Titik netral dari hubungan dihubungkan ke bus bar 20 kV dan sisi sekunder hubungan bintang 380 V dihubungkan ke panel pembagi di gedung sentral. Sumber daya AC Kebutuhan sumber daya AC di gedung sentral disuplai dari generator atau dari jaringan tegangan menengah 20 kV dengan menggunakan transformator distribusi 3 fasa. 20 kV/380 V hubungan DY. 25 kVA. 3 buah suspension isolator 20 kV. Dalam keadaan darurat. .

generator. Konduktor dipilih ukuran Ø 100 mm2 jenis AAAC.227 0. Peralatan control dan pengaman beserta peralatan bantuannyadiletakan pada panel. Untuk kemudahan pengawasan. Memberikan suara dan petunjuk gangguan jika pada saat operasi terjadi ketidak normalan.147 Reaktansi /km 0. Kerja unit pengamanan digolongkan dalam 2 grup.9. KONTROL DAN PENGAMANAN Setiap bagian unit pembangkit seperti turbin. jika pada saat pembangkit beroperasi terjadi gangguan listrik dan mekanik yang sifatnya tetap.320 0.196 0. yaitu : Memberhentikan pengoperasian pembangkit serta membunyikan suara peringatan (Alarm) dan tanda gangguan. JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20kV Rencana PLTM Sumani akan diinterkoneksikan ke jaringan wilayah Sumatera Barat.335 0.359 0. Dengan demikian seluruh produksi listrik PLTM Sumani sebesar 20 kV akan disalurkan ke sistem jaringan wilayah (Propinsi). 10.313 0.305 Kapasitas Arus (Ampere) 325 425 490 585 Tegangan jatuh dihitung dengan rumus : Tegangan jatuh = Dimana : U P L = = = tegangan nominal sistem Daya (MW) Panjang saluran (km) . Konstanta Saluran Hantaran Udara Penampang Ø (mm ) 100 150 200 240 2 Tahanan R /km t = 30 °C 0. maka panel dilengkapi indicator dan alarm. transformator. yang jaraknya 3 km dari lokasi power house. serandang hubung dilengkapi dengan control dan pengaman baik bersifat elektris maupun mekanis.

87 ° = 0.R x = = = = tahanan penghantar ( /km) reaktansi penghantar ( /km) sudut fasa (36. Sistem komunikasi direncanakan menggunakan radio SSB.75 Untuk hantaran dengan 100 mm2. . SISTEM KOMUNIKASI PLTM Sipenggeng direncanakan berinterkoneksi dengan pembangkit lain sehingga diperlukan sarana komunikasi antara pembangkit.87 °) tgn 36. maka tegangan jatuh : = 11.

Gambar.30 CONNECTION DIAGRAM OF MAIN CIRCUIT UNIT SELECTION .

31 Recommended total draft head –– reaction turbines .106 –– D .141 Gambar.

32 TYPICAL TURBINE LIMITS OF APLICATION .Gambar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful