AKHLAK TERHADAP ALLAH & RASULNYA

AKHLAK TERHADAP ALLAH SWT

Titik tolak akhlak terhadap Allah SWT adalah pengakuan kesadaran
bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-fifat terpuji, demikian
agung sifat agung itu, yang janganka manusia, malaikat pun tidak akan mampu
menjangkau hakikat-Nya. Mahasuci engkau wahai Allah kami tidak mampu
memuji-Mu, pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan kepada diri-Mu,
demikian ucapan para Malaikat.Itulah sebabnya mengapa Al-Qur‘an mengajarkan
manusia untuk memuji-Nya, Wa qul al-hamdulillah (Katakan ―al-hamdulillah‖).
Mahasuci Allah dan segala sifat yang mereka sifatkan kepada-Nya, kecuali (dari)
hamba-hamba allah yang terpilih dalam firman Allah SWT QS. ash-Shaffat :159-
160 ;Teramati bahwa semua makhluk hidup kecuali Nabi-Nabi tertentu selalu
menyertakan pujian mereka kepada Allah dangan mensucikan-Nya dari segala
kekurangan. Dan para malaikat mensucikan sambil memuji Tuahan mereka dalam
surat Asy-Syura : 5 ;Semua itu menunjukan bahwa makhluk tidak dapat mengeta
dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian Allh SWT. Itu
sebabnya mereka sebelum memuji-Nya bertasbih terlebih dahulu dalam arti
menyucikan-Nya. Jangan sampai pujian yang mreka ucapkan tidak sesuai dengan
kebesaran-Nya. Bertitik tolak dari uraian mengenai kesempurnaan Allah, tidak
heran kalau Al-Qur‘an memerintah manusia untuk berserah diri kepada-Nya,
karena segala yang bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.
Tidak sedikit ayat Al-Qur‘an yang memerintahkan manusia untuk menjadikan
Allah sebagai ―wakil‖. Misalnya firman-Nya dalam Al-muzzammil (73):9:
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka
jadikanlah Allah sebagai wakil (pelindung).Kata ―wakil‖ bisa diterjemahkan
sebagai ―pelindung‖. Kata tersebut pada hakikatnya terambil dari kata ―wakala-
yakin‖ yang berarti mewakilkan.Apabila seseorang mewakilkan kepada orang lain
(untuk susunan persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili
sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut, sehingga sang wakil
melaksanakan apa yang dikehendaki oleh orang yang menyerahkan perwakilan
kepadanya.
Menjadikan Allah sebagai wakil sesuai dengan makna yang disebutkan di atas
berarti menyerahkan segala persoalan kepada-Nya. Dialah yang berkehendak dan
bertindak sesuai dengan kehendak manusia yang menyerahkan perwakilan
kepada-Nya.
Makna seperti itu dapat menimbulkan kesalah pahaman jika tidak dijlaskan lebih
jauh. Pertama sekali harus diingat bahwa keyakinan tentang keesaan Allah antara
lain berarti bahwa perbuatanya esa, sehingga tidak dapat disamakan dengan
perbuatan manusia, walaupun penamaannya sama. Sebagai contoh, Allah Maha
Pengasih (Rahim) dan Maha Pemurah (Karim). Sifat ini dapat pula dinisbahkan
kepada manusia, karena mempersamakan hal akan berakibat gugurnya makna
keesaan.
Allah SWT.yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan ada yang Maha Kuasa,
Maha Mengetahui,Maha Bijaksana dan semua yang mengandung pujiaan.
Manusia sebaliknya, memiliki keterbatasan pada segala hal. Jika demikian
―perwakilan‖ pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil diharapkan dan dituntut untuk mementaruhkan kehendak yang
mewakilkan. Namun, karena dalam perwakilan manusia sering terjadi kedudukan
maupun pengetahuan orang yang mewakilkan lebih tinggi daripada sang
wakil,dapat saja orang yang mewakilkan tidak menyetujui atau membatalkan
tindakan sang wakil atau menarik kembali perwakilannya.Jika seseorang
menjadikan Allah sebagai wakil, hal serupa tidak akan terjadi, karena sejak
semula telah menyadari keterbatasan dirinya, dan menyadari pula
kemahamutlakan Allah SWT. Oleh karena itu, ia akan menerima dengan sepenuh
hati, baik mengetahui maupun tidak hikmahsuatu perbuatan Tuhan.
Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui (QS Al-Baqarah:216).
Dan tidak wajar bagi lelaki mukmin, tidak pula bagi wanita mukmin, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka (QS Al-Ahzab [33]:36).
Demikian salah satu perbedaan antara perwakilan manusia kepada Tuhan dengan
perwakilan manusia kepada selain-Nya.Perbedaan kedua adalah dalam
keterlibatan orang yang mewakilkan.Jika anda mewakilkan orang lain untuk
melaksanakan sesuatu. Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan hal
tertentu. Anda tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu telah dikerjakan oleh
sang wakil.
Perintah bertawakal kepada Allah -–atau perintah menjadikan-Nya sebagai
wakil— terulang dalam bentuk tung (tawakal) sebanyak sembilan kali, dan dalam
bentuk ja (tawakkalu) sebanyak dua kali. Semuanya didahului oleh perintah
melakukan sesuatu, lantas disusul dengan perintah bertawakal. Perhatikan
misalnya Al-Qur‘an surat Al-Anfal ayat 61:
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, condonglahkepadanya, dan
bertawakallah kepada Allah. Yang lebih jelas lagi adalah dalam Al-Qur‘an surat
Al-Maidah
Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota); apabila kamu
memasukinya,niscaya kamu akan menang, dan hanya kepada Allah hendaknya
kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman. Jika Anda telah
merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah, segala yang dilakukan-Nya adalah
baik serta terpuji, Anda harus percaya bahwa:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh aalah dari Allah,dan apa saja bencana yang
menimpamu, itu dan (kesalahan) dirimu sendiri (QS An-Nisa‘ [4]: 79).
Al-Qur‘an memberi contoh bagaimana seharusnya seorang muslim
mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya. Perhatian pengajaran
Allah dalam Al-Qur‘an surat Al-Fatihah
Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan orang yang
dimurkai, dan bukan (Jalan) mereka yang sesat (QS Al-Fatihah [1]:7)
Disini, petunjuk jalan menuju kebaikan dinyatakan bersumber dari Allah yang
memberi nikmat. Perhatikan redaksi ayat atas ―yang telah Engkau anugerahi
nikmat‖. Tetapi,ketetapan berbicara tentangf jalan orang-orang sesat dan yang
mendapat murka, tidak dinyatakan ―jalan orang-orang yang Engkau
murkai,‖tetapi‖yang dimurkai,‖ karena murka dan mengandung makna
negatif,sehingga tidak wajar disandar kepada Allah.Perhatikan juga ucapan Nabi
Ibrihim a.s.:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS Asy-Syu‘ara‘ 80)
Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan bahwa ia
berasal dari Tuhan, Tetapi, apabila aku saat kesembuhan yang merupakan sesuatu
yang terpuji, dinyatakan bahwa ―Dia (Allah) yang menyembuhkan‖.
Sekali lagi, bacalah firman Allah dalam surat Al-Kahfi yang mengisahkan
perjalanan Nabi Musa a.s. bersama seorang hamba pilihan Allah (Khidir a.s.).
Ketika sang hamba Allah itu membocorkan perahu, dia berulah ―Aku ingin
merusaknya‖ (ayat 79), ini disebabkan karena pembocoran perahu tampak sebagai
sesuatu yang buruk. Tetapi ketika ia membangun kembali tembok yang hampir
rubuh, kalimat yang digunakan adalah ―Maka Tuhanmu menghendaki‖ (ayat 80)
karena disana amat jelas sisi positif pembangunan itu. Ketika Khidir membunuh
seorang bocah dengan maksud agar Tuhan menggantikan dengan bocah yang
lebih baik, reaksi yang digunakannya adalah ―Maka kami berkehendak‖ (ayat 81)
Kehendaknya adalah pembunuhan, dan kehendak Tuhan adalah pergantian anak
dengan yang lebih baik.

Akhlak Terhadap Rasulullah SAW
Sebagaimana yang diriwayatkan mengenai perilaku Rasulullah saw, bahwa
baginda tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya,
melainkan dipukulnya karena fi-sabilillahi Ta‘ala. Baginda juga tidak pernah
menyimpan dendam karena sesuatu yang dilakukan atas dirinya sendiri,
melainkan melihat kehormatan Allah. Jika baginda memilih antara dua perkara,
tanpa ragu-ragu lagi baginda akan memilih yang paling ringan dan mudah antara
keduanya, kecuali jika pada perkara itu ada dosa, ataupun akan menyebabkan
terputusnya perhubungan silaturrahim, maka baginda akan menjadi oarang yang
paling jauh sekali daripadanya. Tiada pernah seseorang yang pernah datang
kepada Nabi saw, baik mereka merdeka atau hamba sahaya ataupun amah (hamba
sahaya perempuan) mengadukan keperluannya, melainkan baginda akan
memenuhi hajat masing-masing.
Anas r.a berkata : Demi zat yang mengutusnya dengan kebenaran. Ia (Nabi) tiada
pernah berkata padaku dalam perkara yang tiada diinginkannya, mengapa engkau
lakukan itu. Dan apabila istri-istri memarahiku atau sesuatu yang aku lakukan,
maka Ia berkata kepada mereka: Biarkanlah si Anas itu, dan jangan dimarahi,
sebenarnya tiap- tiap sesuatu itu berlaku menurut ketentuan dan kadar.
Termasuk akhlaknya yang mulia, Ia memulai memberi salam kepada siapa saja
yang ditemuinya. Jika ada orang yang mengasarinya karena sesuatu keperluan, Ia
menyabarkannya sehingga orang itu memalingkan muka daripada baginda. Bila
berjumpa dengan salah seorang sahabatnya, segera Ia akan mengulurkan tangan
untuk berjabat tangan. Baginda tidak pernah bangun atau duduk, melainkan
lidahnya senantiasa menyebut nama Allah SWT. Sering sekali bila sedang
sembahyang, lalu ada tamu yang datang karena sesuatu keperluan, maka segeralah
Ia meringkaskan sembayangnya untuk menyambut tamu tadi.
Bila baginda berada didalam suatu majlis antara para sahabatnya maka tidak
pernah dikhususkan satu tempat baginya, melainkan dimana saja sesuai dengan
baginda datang, disitulah dia akan duduk. Allah SWT berfirman;(QS. Ali-Imran :
159).
Baginda Rasulullah saw adalah seoarang yang amat jarang marahnya, tetapi jika
ia marah segera ingat dengan Allah SWT. Baginda adalah orang yang paling
banyak memberikan manfaat kepada seluruh manusia. Allah SWT berfirman
:(QS. Ali-Imran : 134).
Rasulullah saw adalah seorang yang amat lapang dada dan suka memaafkan orang
lain meskipun baginda mampu membalas dendam. Dalam peristiwa-peristiwa
yang lain, banyak sekali para sahabat meminta izin membunuh orang-orang yang
berbuat jahat kepada Rasulullah saw, Rasul tidak setuju dan melarangnya.
Rasulullah saw bersabda :
―Jangan sampai ada seorang dari kamu yang menyampaikan sesuatu berita tentang
seorang dari sahabatku, sesungguhnya aku ingin keluar kepadamu sedangkan aku
dalam keadaan berlapang dada‖
Rasulullah saw adalah seoarang yang berwatak lemah lembut pada segala hal,
lemah lembut lahir dan batin, mudah diketahui pada raut wajahnya ketika baginda
sedang marah ataupun tidak. Meskipun demikian baginda tetap tidak suka
menampakkan sikap kebenciannya kepada seseorang secara terusterang.
Rasulullah saw adalah seorang yang murah hati dan dermawan terhadap para
umatnya. Terutama sekali pada bulan ramadhan, kemurahan hatinya dan
kedermawaannya laksana angin yang menghembus, yakni tidak putus-putusnya
sehingga tidak ada sesuatupun yang akan tinggal lagi dalam tangannya yang
muliaitu.
Rasulullah saw adalah manusia yang termulia dan amat berani.Rasulullah saw
adalah seorang yang sederhana perawakannya, tubuhnya tidak terlalu tinggi dan
tidak terlalu rendah. warna kulitnya berseri-seri, tidak terlalumerah ataupun terlalu
putih. Rambutnya tidak terlalu lurus ataupun terlalu keriting, dan rambut itu
mengiringi sampai ketepi dua telinganya. Uban dikepala atau dijanggut tidak
sampai dua puluh helai. Dahinya luas, bulu keningnya tidak terlalu lebat tapi
panjang. Rasulullah saw adalah seoarang yang sangat sempurna.
Sering Rasulullah saw bersikap merendah diri memperkecilkan kedudukannya,
Rasulullah saw senantiasa memohon kepada Allah SWT agar memperhiaskan
dirinya dengan tata sopan yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Allah SWT
telah mengabulkan doanya, karena menepati janji-Nya dalam surat Al-Mu‘min :
60;

Lalu Allah SWT menurunkan keatas junjungan kita Nabi Muhammad saw Al-
Qur‘an dan mendidikanya sesuai dengan akhlak Al-Qur‘an, sehingga Rasul
meneriama pijian yang amat tinggi dengan dikatakan, bahwa budi pekerti baginda
itu Al-Qur‘an.
Sebenarnya Al-Qur‘an telah mendidik baginda supay bersifat pemaaf, dan suka
mengajak orang ke jalan kebaikan serta tiada merendahkan kata-kata yang bodoh,
seperti firman Allah SWT yang berbunyi:
―Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.‖(QS. Al-A‘raf : 199)
Al-qur‘an juga mendidik baginda supaya melaksanakan keadilan, melakukan
kebaikan terhadap orang banyak, ingat kepada kaum kerabat melarang melakukan
segala macam kemungkaran dan kekejian seperti firman Allah SWT :
―Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran.‖(QS. An-Nahl : 90).
Kemudian baginda pun menyatakan kepada sekalian makhluk hidup dibumi,
bahwasanya Allah amat mencintai akhlak dan budi pekerti yang mulia seraya
membenci akhlak dan kelakuan jahat. Allah Ta‘ala telah melengkapkan pribadi
Rasulullah s.a.w. dengan kelakkuan yang tinggi dan siasah yang sempurna,
padahal baginda itu seorang ummi, tidak pandai menulis atau membaca. Baginda
dibesarkan di negeri yang masih dibelenggu oleh kejahilan dan dikelilingi oleh
padang pasir, hidup dalam keadaan miskin dan sebagi penggembala
kambingseorang anak yatim tiadda berayah dan tiada beribu. Tetapi Allah Ta‘ala
telah mendidik baginda dengan sifat budi pekerti yang luhur dan perjalanan yang
terpuji. Moga-moga Allah mengkaruniakan petunjuk kepada kami untuk menurut
perintah Rasulullah s.a.w. dan mencontohi segala tauladan dalam perbuatan dan
perilakunya, Amin Ya Rabbal Alamin.

Daftar Pustaka
Hujjatul Islam Al Iman Al Ghazali, Kitab Adab Kenabian Dan Akhlak
MuhammadGendis belajar dan mempelajari
Pengertian akhlak
Pengertian Akhlak
Akhlak dari kata Al-Akhlak, jamak dari Al-khuluq yang artinya kebiasaan,
perangai, tabiat dan agama.
Menurut Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata kholqun (bentuk
lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan dengan seseorang yang
bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya adalah bagus dari bentuk
lahiriah dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut dapat kita pahami, bahwa
manusia terdiri dari dua susunan jasmaniyah dan batiniyah. Untuk jasmaniyah
manusia sering menggunakan istilah kholqun, sedangkan untuk rohaniyah
manusia menggunakan istilah khuluqun. Kedua komponen ini memilih gerakan
dan bentuk sendiri-sendiri, ada kalanya bentuk jelek (Qobi‘ah) dan adakalanya
bentuk baik (jamilah). Akhlak yang baik disebut adab. Kata adab juga digunakan
dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan santun dalam masyarakat guna memelihara
hubungan baik antar mereka.
Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku / perangai (Imal-Suluh) atau Tahzib al-
akhlak (Filsafat akhlak), atau Al-hikmat al-Amaliyyat, atau al-hikmat al-
khuluqiyyat. Yang dimaksudkan dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang
kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya. Dalam bahasa Indonesia akhlak
dapat diartikan dengan moral, etika, watak, budi pekertim, tingkah laku, perangai,
dan kesusilaan.
Ruang Lingkup Akhlak
a) Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya
seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan
insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang
utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu
manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia
mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
b) Akhlak Berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.
Kewjiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan
pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran
yang bijak, islam telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai
tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan
ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan
kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani
berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri,
kehormatan dan kemuliaan.
Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak
dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena
keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik,menyekolahkan engkau,
mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna
dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa
saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta
kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira
bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan
anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan
berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya
disetiap keperluan.
c) Akhlak Bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika
orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan
dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka
wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.
Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial
kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral
selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan
masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah
satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling
membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut
masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika
tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan
yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.
d) Akhlak Bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang
sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau
hidup bersama mereka dengan nasib dab penanggungan yang sama. Dan
ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul
tenggelam bersama mereka.
e) Akhlak Beragama
Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena
itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik
secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk
Tuhan.
Berangkat dari sistematika diatas dengan sedikit modifikasi penulis membagi
pembahasan ruang lingkup akhlak antar lain:
1. Akhlak terhadap Allah SWT
2. Akhlak terhadap Rasullah Swt
3. Akhlak Pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak bermasyarakat
6. Akhlak bernagara
Dalam konsep akhlak segala sesuatu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela,
semata-mata karena syara (Qu‘an dan Sunah) yang menilainya demikian. Namun
akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jikqa etika
dibatasi pada sopan santun antar sesame manusia, serta hanya berkaitan dengan
tingkah laku lahiriah.
Pembinaan Akhlak
Pembinaan adalah suatu usaha untuk membina. Membina adalah memelihara dan
mendidik, dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.
Anak didik adalah anak yang masih dalam proses perkembangan menuju kearah
kedewasaan. Hal ini berarti bahwa anak harus berkembang menjadi manusia yang
dapat hidup dan menyesuaikan dari dalam masyarakat, yang penuh dengan aturan-
aturan dan norma-norma kesusilaan. Oleh karena itu perlulah anak di didik,
dipimpin kearah yang dapat dan sanggup hidup menuruti aturan-aturan dan
norma-norma kesusilaan. Jadi maksud dari tujuan pendidikan akhlak atau
kesusilaan adalah memimpin anak setia serta mengerjakan segala sesuatu yang
baik dan meninggalkan yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal dan
setiap waktu.
Pada masa sekarang ini demoralisasi telah merajalela dalam kehidupan
masyarakat, maka dari itu diperlukan usaha-usaha pendidikan dalam
mengupayakan pembinaan akhlak terutama pada masa remaja, karena pada masa
pubertas dan usia baligh anak mengalami kekosongan jiwa yang merupakan gejala
kegoncangan pikiran, keragu-raguan, keyakinan agama, atau kehilangan agama.
Menurut Al-Gazaly adalah menunjukkan suatu hikmah bahwa anak puber tersebut
memerlukan bekal untuk mengisi kekosongan jiwanya melalui sublimasi dan
―way out‖ dari problema yang dihindarinya.
Metode Pendidikan Akhlak
Yang dimaksud dengan metode disini ialah semua cara yang digunakan dalam
upaya mendidik. Adapun metode Islam dalam upaya perbaikan terhadap akhlak
adalah mengacu pada dua hal pokok, yakni pengajaran dan pembiasaan. Yang
dimaksud dengan pengajaran adalah sebagai dimensi teoritis dalam upaya
perbaikan dan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiasaan untuk
dimensi praktis dalam upaya pembentukan (pembinaan) dan persiapan.
Ali Kholil Abu‘Ainin didalam kitabnya : Falsafahtul Tarbiyatul Islamiyahtu Al-
Qur‘anil karim‖ mengemukakan secara panjang lebar tentang metode pendidikan
Islam, yang diringkasnya menjadi 11 (sebelas) macam, yaitu :
1. Pengajaran tentang cara beramal dan pengalaman / ketrampilan.
Metode ini dapat dilakukan melalui ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan ijtihad.
2. Mempergunakan akal
3. Contoh yang baik dan jujur
4. Perintah kepada kebaikan, larangan perbuatan munkar saling berwasiat
kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.
5. Nasihat-nasihat
6. Kisah-kisah
7. Tamsil
8. Menggemarkan dan menakutkan atau dorongan dan ancaman.
9. Menanamkan atau menghilangkan kebiasaan.
10. Menyalurkan bakat.
11. Peristiwa-peristiwa yang berlalu.
Menurut al-nahlawi metode pendidikan yang diajurkan, antara lain :
1. Metode Hiwar Qur‘ani dan Nabawi
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih
mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang
dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam percakapan itu bahan pembicaraan
tidak dibatasi, dapat digunakan berbagai konsep sains, filsafat, seni, wahyu, dll.
Kadang-kadang pembicaraan sampai pada satu kesimpulan, kadang-kadang tidak
sampai pada kesimpulan, karena salah satu pihak tidak puas terhadap pendapat
pihak lain. Yang manapun ditemukan hasilnya dari segi pendidikan tidak jauh
berbeda, masing-masing mengambil pelajaran untuk menentukan sikap pada
dirinya.
Metode Hiwar pada saat ini masih efektif dipakai dalam belajar mengajar, yakni
sama dengan diskusi pada zaman sekarang ini, dan memang cukup efektif untuk
melatih anak didik lebih mandiri karena mereka dapat berdialog dari hasil bacaan
mereka sendiri pada tema yang telah di tentukan oleh gurunya.
2. Metode kisah Qur‘ani dan Nabawi
Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama Islam (sebagai suatu bidang
studi), kisah sebagai suatu metode pendidikan amatlah penting, untuk dapat
merenungkan kisahnya, yang menyentuh hati umat manusia. Kisah Qur‘ani adalah
untuk mendidik perasaan keimanan.
3. Metode amtsal (perumpamaan)
Metode ini banyak kita temui dalam Al-qur‘an, antara lain :
Dalam surah Al-Baqarah ayat 17. Perumpamaan orang-orang kafir itu adalah
seperti orang yang menyalakan api.
دًه ظ ٗ ف ىٓكش ذٔ ىْسُٕ ت ا ةْر ّ نٕح اي خأضا اًه ف اسا َذ ل ٕر س ا ٘ز نا مث ً ك ىٓه ث ي
ٌٔشصث ٚل
Dalam surah Al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan
orang kafir dengan sarang laba-laba, Perumpamaan orang-orang yang berlindung
kepada selain Allah atau seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal rumah
yang paling lemah adalah rumah laba-laba.
ٔد ٍي أزخ ذا ٍ ٚز نا ىٓه ث ي خٕٛ ث نا ٍْٔا ٌأ ار ٛ ت خزخ ذا خٕث ك ُ ً نا مث ً ك أٛ نٔا ا ٌ
ًٌٕه ع ٚ إ َا كٕ ن خٕث ك ُ ً نا دٛ ث ن
Kebaikan dari metode ini adalah :
a) Memudahkan siswa memahami konsep yang abstrak.
b) Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam
perumpamaan tersebut.
c) Merupakan pendidikan agar bila menggunakan perumpamaan haruslah logis
dan mudah dipahami.
d) Perumpamaan Qur‘ani dan Nabawi memberikan motivasi kepada
pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan.
4. Metode Teladan
Secara psikologis anak menang senang meniru, tidak saja yang baik, yang
jelekpun ditirunya. Dalam teori tabula rasa (John Lock dan Francis Bacon), bahwa
anak yang baru dilahirkan dapat di umpamakan sebagai kertas putih bersih yang
belum ditulisi, segala kecakapan dan pengetahuan manusia timbul dari
pengalaman yang masuk melalui alat indra.
5. Metode Pembiasaan
Inti dari pembiasaan adalah pengulangan, metode mendidik anak murid pada
masa kini. Yang menetapkan bahwa dengan cara mengulang –ngulangi
pengalaman dalam berbuat sesuatu dapat meninggalkan kesan-kesan yang baik
dalam jiwanya, dan dari aspek inilah anak akan mendapatkan kenikmatan pada
waktu mengulang-ngulangi pengalaman yang baik itu, berbeda dengan
pengalaman-pengalaman tanpa melalui praktik.
6. Metode Ibrah dan mau‘idah
Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari
sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang
menyebabkan hati mengakuinya. Adapun Mu‘idah ialah nasihat yang lembut yang
diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.
7. Metode Targib dan Tarhib
Targib ialah janji terhadap kesenangan, kenilematan akhirat yang disertai bujukan.
Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan.
Sedangkan menurut Prof. Dr.H.M Arifin Med, bahwa dalam Al-Qur‘an dan sunah
nabi dapat ditemukan metode-metode untuk pendidikan agama, antara lain :
a) Perintah / larangan
b) Cerita tentang orang-orang yang taat dan orang-orang yang berdosa (kotor)
serta akibat-akibat dari perbuatannya.
c) Peragaan, misalnya manusia disuruh melihat kejadian dalam alam ini, dengan
melihat gunung, laut, hujan, tumbuhan dan sebagainya.
d) Instruksional (bersifat pengajaran), misalnya menyebutkan sifat-sifat orang
yang beriman, begini dan begitu dan lain sebainya.
e) Acquisition (self : aducation), misalnya menyebutkan tingkah laku orang yang
munafik itu merugikan diri mereka sendiri, dengan maksud manusia jangan
menjadi munafik dan mau mendidik dirinya sendiri kearah iman yang
sesungguhnya.
f) Mutual Education (mengajar dalam kelompok), misalnya nabi mengajar sahabat
tentang cara-cara sembah yang dengan contoh perbuatan yang
mendemonstrasikannya.
g) Exposition (dengan menyajikan) yang didahului dengan motivasion
(menumbuhkan minat) yakni dengan memberikan muqodimah lebih dahulu,
kemudian baru menjelaskan pelajarannya.
h) Function (pelajaran dihidupkan dengan praktek) misalnya nabi mengajarkan
tentang hukum-hukum dan syarat-syarat haji, kemudian nabi bersama-sama untuk
mempraktekannya.
i) Explanation (memberi penjelasan tentang hal-hal yang kurang jelas) misalnya
nabi memberi penafsiran ayat-ayat Al-Qur‘an, seperti ayat-ayat yang
memerintahkan bersembahyang dan sebagainya.
Konsep pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan al-Gazaly tentang
pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode
pembentukan akhlak yang utama, terutama karena pembiasaan itu dapat
berpengaruh baik terhadap jiwa manusia, yang memberikan rasa nikmat jika
diamalkan sesuai dengan akhlak yang telah terbentuk dalam dirinya.
Begitu juga metode mendidik anak pada masa kini yang menetapkan bahwa
dengan cara mengulang-ulangi pengalaman dalam berbuat sesuatu dapat
meninggalkan kesan-kesan yang baik dalam jiwanya, dan dari aspek inilah anak
akan mendapatkan kenikmatan pada waktu mengulang-ulangi pengalaman yang
baik itu, berbeda dengan pengalaman yang diperoleh dengan tanpa melalui
praktek, maka kesan yang ditinggalkan adalah jelek.
Pandangan Al-Gazaly tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika
Serikat, John Dewey, yang mengatakan ―Pendidikan moral itu terbentuk dari
proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid
secara terus menerus‖.
Oleh karena itu pendidikan akhlak menurut John Dewey adalah pendidikan
dengan berbuat dan berkegiatan (learning by doing) yang terdiri dari pada tolong
menolong, berbuat kebajikan dan melayani orang lain, dapat dipercaya dengan
jujur. John Dewey berpendapat bahwa akhlak (moralitas) tidak dapat diajarkan
kepada anak dengan melalui cerita-cerita yang dikisahkannya, akan tetapi hanya
dapat diajarkan melalui praktek yang manusiawi saja. Sehingga kebajikan dan
moralitas dan pengertian yang terkandung didalam cerita-cerita tidak mungkin
dipindahkan (transformasikan) kedalam jiwa anak untuk menjadi akhlaknya, yang
kemudian berinteraksi dengan anak lain berdasarkan atas pemeliharaan
keutamaan-keutamaannya, akhlak (moralitas) hanya dapat diajarkan dengan cara
membiasakan dengan perbuatan praktis.
Tujuan Pembinaan Akhlak
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika diatasi
pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah
laku lahiriah.
Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terlebih dahulu
serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya
yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama)
mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak
bernyawa).
a) Akhlak Terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah atau pengukuran dan kesadaran bahwa tiada
Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian Agung sifat
terpuji itu, yang jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu
menjunjungkan hakikatnya.
b) Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur‘an berkaitan dengan perlakuan
terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk
larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau
mengambil harta hati dengan jalan menceritakan aib seseorang dibelakangnya,
tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan materi kepada
yang disakiti hatinya itu.
(362 :/2 ِشم ث نا ) ىٛ ه ح ُٙ غ أ ٖصاآع ث ر ٚ ح لذص ٍي شٛ خ جشف غئ فٔشعي لٕ ل
Artinya : ―Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah
yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima)‖.
(Q.S. Al-Baqarah/2 : 263).
Disisi lain Al-Qur‘an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan
secara wajar. Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia yang
sempurna, namun dinyatakan pula sebagai Rosul yang memperoleh penghormatan
melebihi manusia lain. Karena itu Al-Qur‘an berpesan kepada orang-orang
mukmin.
Hubungan akhlak dengan etika, moral, kesusilaan, dan kesopanan
a. Akhlak
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu
pendekatan linguistic (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan).
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim mashdar
(bentuk infinitive) dari kata al-akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai timbangan
(wazan) tsulasi majid af'ala, yuf'ilu if'alan yang berarti al-sajiyah (perangai), at-
thobi'ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-
maru'ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama).
Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagai mana tersebut diatas tampaknya
kurang pas, sebab isim masdar dari kata akhlaqa bukan akhlak, tetapi ikhlak.
Berkenaan dengan ini, maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara
linguistic, akhlak merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang
tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian
adanya.
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada
berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Ibn Miskawaih (w. 421 H/1030 M)
yang selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu
misalnya secara singkat mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam
dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) yang selanjutnya dikenal sebagai
hujjatul Islam (pembela Islam), karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari
berbagai paham yang dianggap menyesatkan, dengan agak lebih luas dari Ibn
Miskawaih, mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi, dan
darinya kita dapat melihat lima cirri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu;
pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa
seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiaannya. Kedua, perbuatan akhlak
adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini tidak
berarti bahwa saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam
keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Ketiga, bahwa perbuatan
akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya,
tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang
dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan.
Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan
sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. Kelima, sejalan
dengan cirri yang keempat perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah
perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena
ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.[3]
b. Etika
Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos
yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia,
etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral). Dari
pengertian kebahsaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya
menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan
yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut ahmad amin
mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan
yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan
jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Berikutnya, dalam encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral,
yaitu studi yang sitematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik,
buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya.
Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika
berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek
pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh
manusia. Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran
atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute
dan tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan,
kelebihan dan sebagainya. Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu
yang memebahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi,
ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya,
etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik,
buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih
berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh
manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-
ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan cirri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang
dilakukan manusia untuk dikatan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang
dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat
dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan
demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris yakni bersifat pada
pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah
aturan atau pola tingkah laku yang dihasulkan oleh akal manusia.
c. Moral
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak
dari kata mos yang berarti adapt kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa
Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan
dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan
yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah
yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan
nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita
dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu
sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan
posisinya apakah baik atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan.
Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan
manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio,
sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang
tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan demikian etika
lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-konsep, sedangkan
etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang
berkembang di masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur
tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di
masyarakat.
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit
perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa
asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut
dengan qalb, fu'ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama, perasaan
wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, kesadaran
moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang
secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan
dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap
waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang sejenis.
Ketiga, kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa
moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau
diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh
masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan
ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib,
rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah
daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri.
Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa
harus ada dorongan atau paksaan dari luar.
d. Karakteristik dalam ajaran Islam
Secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan
ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang
kata akhlak dalam hal menempati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,
disengaja, mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam.
Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat
universal. Namun dalam rangka menjabarkan akhlak islami yang universal ini
diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang
terkandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui adanya
nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai
bersifat local dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu.
Namun demikian, perlu dipertegas disini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak
dapat disamakan dengan etika atau moral, walaupun etika dan moral itu
diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak
Islami). Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun
antara sesame manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.
Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti
akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika atau moral.
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu
sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah
(agama/Islam) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah,
hingga kepada sesame makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan
benda-benda yang tak bernyawa).
http://sobatbaru.blogspot.com/2010/03/pengertian-akhlak.html
http://kuliahpai.blogspot.com/2009/02/akhlak-etika-moral.html
No related posts.
Tagged as: Akhlak, Akhlak Berkeluarga, Akhlak Bermasyarakat, Akhlak Bernegara, Akhlak
pribadi, Etika, Karakteristik dalam ajaran Islam, metode pendidikan, Moral Leave a
comment
2. Pengertian Akhlak menurut Istilah
Juni 24, 2010
Dilihat dari segi terminologi ― Akhlak ―

) terdapat beberapa pakar yang
berpendapat antara lain :
a. Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya‘qub Miskawaih :

Artinya : ― Akhlak ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong untuk melakukan
perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu ― [1].
b. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali :
ُ سُ ذ ْ صَت بَ ه
ْ
َُ ع
ً
ت َ خ
ِ
سا َ س
ِ
س
ْ
ف
ّ
ُنا ى
ِ
ف
ٍ
تَئْ يَ ه ْ ٍَ ع
ٌ
ةَ سبَب
ِ
ع ُ ق
ُ
ه
ُ
خ
ْ
نَا
ْ
ىُ هُ س
ِ
ب
ُ
لبَ ع
ْ
فَ
ْ
لا
ٍ
شْ ك
ِ
ف ى
َ
ن
ِ
ا
ٍ
ت َ جب َ ح
ِ
شْ ي
َ
غ ْ ٍ
ِ
ي
ٍ
شْ سُي
َ
و
ٍ
ت
َ
ن

ٍ
تّي
ِ
وُ س
َ
و
Artinya : ― Suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan
perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran
―[2].
c. Ibrahim Anis :

ٍ
تّي
ِ
وُ س
َ
و
ٍ
شْ ك
ِ
ف ى
َ
ن
ِ
ا
ٍ
ت َ جب َ ح ّ شَ ش
ْ
وَا
ٍ
شْ ي َ خ ْ ٍ
ِ
ي
ُ
لب
َ
ًْ عَلا بَ ه
ْ
َُ ع ُ سُ ذ ْ صَت
ُ
ت َ خ
ِ
سا َ س
ِ
س
ْ
ف
ّ
ُه
ِ
ن
ُ
لب َ ح
Artinya : ― Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam
perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan
―[3].
d. Ahmad Amin :
ُه
ّ
َ
َ
أ
ِ
ب َ ق
ُ
ه
ُ
خ
ْ
نا
ْ
ىُ هُ ضْ عَب َ فّ شَ ع
ِ
ق
ُ
ه
ُ
خ
ْ
نب
ِ
ب
ُ
ةب
ّ
ًَ س
ُ
ً
ْ
نا ىَي
ِ
ه بَ هُتَ دبَ ع
َ
ف
ً
أْ يَ ش ْ ثَ دبَت ْ ع
ِ
ا ا
َ
ر
ِ
ا َةَ دا َ س ِ ِ
ْ
لا ّ ٌ
َ
أ ى
ِ
ُْ عَي
ِ
ةَ دا َ س ِ ِ
ْ
لا
ُ
ةَ دبَ ع
Artinya : ― Sementara orang membuat definisi akhlaq, bahwa yang disebut akhlak
ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan
sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak ―[4].
e. Al-Qurthuby :

ِ
صَي ُه
ّ
َ َ ِ
ِ
ل ,بًق
ُ
ه
ُ
خ ى
ّ
ًَ سُي
ِ
ةَ دَ
ْ
لبَُ
ِ
ي ُهُ س
ْ
فََ ُ ٌبَ س
ْ
َ ِ ِ
ْ
لا
ِ
ه
ِ
ب
ُ
ز
ُ
خ
ْ
أَي
َ
ىُ هب
َ
ي
ِ
هْ ي
ِ
ف
ِ
تَق
ْ
ه
ِ
خ
ْ
نا َ ٍ
ِ
ي ُ شْ ي
Artinya : ― Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya
disebut akhlak, karena perbuatan termasuk bagian dari kejadiannya ―[5].
I. Muhammad bin I’laan Ash Shodieqy

ٍ
ت
َ
ن
ْ
ىُ هُ س
ِ
ب
ِ
ت
َ
هْ ي
ِ
ً َ ج
ْ
نا
ِ
لبَ ع
ْ
ف
ُ
لا
ِ
س
ْ
وُ ذُ ص ى
َ
ه َ ع بَ ه
ِ
ب ُ س
ِ
ذَت
ْ
قَي
ِ
س
ْ
ف
ّ
ُنب
ِ
ب
ٌ
تَ ك
َ
ه
َ
ي ُ ق
ْ
ه َ خ
ْ
نَا
Artinya : ― Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat
menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah ( tanpa dorongan dari
orang lain ) ―[6].
g. Muhammad Abdullah Dirros :
― Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan
kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak
yang benar ( dalam hal akhlak yang baik ) atau pihak yang jahat ( akhlak yang
jahat ) ― . Selanjutnya perbuatan-perbutan manusia yang dapat dianggap sebagai
manifestasi dari akhlaknya, apabila dipenuhi dengan dua syarat, yaitu :
Pertama, Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang
sama, sehingga menjadi kebiasaan.
Kedua, Perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi-emosi
jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang dating dari luar seperti
paksaan dari orang lain sehingga menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan
harapan-harapan yang indah-indah danlain sebagainya[7].
Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu pengetahuan
yang berdiri sendiri, yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup pokok bahasan,
tujuan, rujukan, aliran dan para tokoh yang mengembangkannya. Kesemua aspek
yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk suatu kesatuan yang
saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
Berkenaan dengan ilmu akhlak ini terdapat beberapa definisi oleh para ahli antara
lain sebagai berikut :
1 . Ibrahim Anis :
ُهُت
َ
ًْ ي
ِ
ق
ُ
وبَ ك ْ حَا
ُ
تَ ع
ْ
ىُ ض
ْ
ى
َ
ي
ُ
ى
ْ
ه
ِ
ع
ْ
نَا
ِ
حْ ب
ُ
ق
ْ
نا
َ
و
ِ
ٍَ سَ ح
ْ
نب
ِ
ب ُ فَ ص
ْ
ىُت ى
ِ
ت
ّ
نا
ُ
لب
َ
ًْ عَلا
ِ
ه
ِ
ب ُ ق
ّ
هَ عَتَت
Arinya : ― Ilmu yang obyek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang
berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat di sifatkan dengan baik dan
buruk ―[8].
2 . Abd. al-Hamid Yunus :

ْ
ىَت
ِ
تَي
ِ
فْ ي
ِ
فْ يَ ك
َ
و
ِ
م
ِ
ئا
َ
رّ ساب
ِ
ب
َ
و بَ ه
ِ
ب ً س
ْ
ف
ّ
ُنا ى
ّ
ه َ حَتَتت
ِ
ن بَ ه
ِ
ئبَُ
ِ
ت
ْ
ق
ِ
ا
ِ
تَي
ِ
فْ ي
ِ
فْ يَ ك
َ
و
ِ
م
ِ
ئب َ ض
َ
فنب
ِ
ب
ُ
ى
ْ
ه
ِ
ع
ْ
نَا ى
ّ
ه َ حَتَتت
ِ
ن بَ هْ ي
ِ
ق بَ ه
ْ
َُ ع
Artinya : ― Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga
jiwa terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga
jiwa kosong dari padnya ―[9].
3 . Rachmat Djatnika :
Ilmu akhlak mengandung hal-hal sebagai berikut :
1. Menjelaskan pengertian ― baik dan buruk ― .
2. Menerangkan apa yang harus dilakukan oleh seseorang atau sebagian manusia
terhadap sebagian yang lainnya.
3. Menjelaskan tujuan yang sepatutnya dicapai oleh manusia dengan perbuatan-
perbuatan manusia itu.
4. Menerangkan jalan yang harus dilalui untuk berbuat[10].
4 . Barmawie Umary :
Ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji
dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia, lahir dan batin[11].
Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tabiat,
sifat seseorang atau perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya
yang sudah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar sudah melekat
sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa
dipikirkan serta di angan-angan lagi. Maka dari itu gerakan refleks, denyut
jantung dan kedipan mata itu tidak dapat disebut sebagai akhlak, karena gerakan
tersebut tidak diperintah oleh unsur kejiwaan. Sebab akhlak merupakan ‖
kehendak ‖ dan ‖ kebiasaan ‖ manusia yang menimbulkan kekuatan-kekuatan
yang sangat besar untuk melakukan sesuatu. Kehendak merupakan keinginan
yang ada pada diri manusia setelah dibimbing, dan kebiasaan adalah perbuatan
yang diulang-ulang sehingga mudah untuk melakukannya. Oleh karena itu faktor
kehendak atau kemauan memegang peranan yang sangat penting sebab dengan
adanya kehendak tersebut telah menunjukkan adanya unsur ikhtiar dan kebebasan,
yang karenanya dapat disebut dengan ‖ akhlak ‖[12].
Maksud dengan sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah
dan spontan tanpa dipikirkan serta di angan-angan lagi, disini bukan berarti
bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja atau tidak di kehendaki.
Maka perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu benar-benar sudah merupakan ‖
azimah ‖ yakni kemauan yang kuat tentang sesuatu perbuatan, oleh karenanya
jelas bahwa perbuatan itu memang sengaja di kehendaki adanya. Hanya saja
keadaan yang demikian ini dikakukan secara kontinyu, sehingga sudah menjadi
adat / kebiasaan untuk melakukannya, karenanya timbullah perbuatan itu dengan
mudah tanpa difikirkan lagi, begitu juga karena bentuknya tidak kelihatan
sehingga dapat dikatakan bahwa ― Akhlak ― (

) adalah nafsiah ( bersifat
kejiwaan ) atau maknawiyah ( sesuatu yang abstrak ), sedangkan bentuknya yang
kelihatan dinamakan mu‘amalah ( tindakan ) atau suluk ( prilaku )
maka dari itu bentuknya akhlak adalah sumber dan prilaku tersebut.
Dengan demikian secara substansial bahwa perbuatan yang termasuk akhlak
mempunyai lima ciri antara lain :
1. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang,
sehingga telah menjadi kepribadian.
2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa
pemikiran.
3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang
yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan
sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara, seperti dalam film.
5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak ( khusus akhlak yang
baik ) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena
Allah Swt, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan
sesuatu pujian [13].


[1] . Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya‘qub Miskawaih ( 1934 ).
Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq, Mesir : al-Mathba‘ah al-
Misriyah, hal : 40
[2] . Abu Hamid Muhammad al-Ghozali ( t.t ). Ikhya’ Ulumuddin, III, Bairut :
Darul Fikr, hal : 56.
[3] . Ibrahim Anis ( 1972 ). al-Mu’jam al-Wasith, Mesir : Dar al-
Ma‘arif, hal : 202.
[4] . Ahmad Amin ( 1967 ). Kitab al-Akhlaq, Kairo : an-Nahdlah al-
Misriyah, hal : 50.
[5] . al-Qurtuby ( 1913 ). Tafsir al-Qurtuby, Juz VIII, Kairo : Daarus
Sya‘by, hal : 6706.
[6] . Muhammad bin Ilaan Ash-Shiddiqy ( 1971 ). Dalilul Faalikhin, Juz III,
Mesir : Mustofa al-Babil al-Halaby, hal : 76.
[7] . Humaidi Tatapangarsa ( 1979 ). Pengantar Kuliah Akhlak, Surabaya : Bina
Ilmu, hal : 10.
[8] . Ibrahim Anis ( 1972 ). Op.cit, hal : 202.
[9] . Abd. Hamid Yunus ( T.th ). Op. cit, hal : 436-437.
[10] . Rachmat Djatnika ( 1992 ). Sistem Ethika Islam ( Akhlak Mulia ), Jakarta :
Pustaka Panji Masyarakat, hal : 31.
[11] . Barmawie Umary ( 1991 ). Materia Akhlak, Solo : Romadhani, hal : 1.
[12] . M. Zein Yusuf ( 1993 ). Akhlak Tasawuf, Semarang : al-Husnah, hal : 7.
[13] . Abuddin Nata ( 2006 ). Akhlak Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada,
hal : 4-6.


Makna Akhlak
Sebelum terlalu panjang lebar membahas tentang pendidikan akhlak dan
tujuannya, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian pendidikan. Hal
ini dimaksudkan menjadi pijakan awal untuk pembahasan yang lebih lanjut.
Di tinjau dari segi bahasa (etimologi), pendidikan berasal dari kata "didik" yang
mendapat awalan pe dan mendapat akhiran an. Sehingga menjadi suku kata
"pendidikan" kata pendidikan adalah berarti "perbuatan (hal, cara dan sebagainya)
mendidik.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha
manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan
baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat dan
kebudayaan. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban
bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai
dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau
sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya.
Menurut Zuhairini, pendidikan adalah "suatu aktifitas untuk mengembangkan
seluruh aspek kehidupan manusia yang bertujuan seumur hidup". Pendapat ini
menjelaskan pendidikan itu bisa dimana dan kapan saja tanpa batas dan waktu,
terutama dalam kelurga dan sekolah sebagai wadah pendidikan yang utama.
Dari beberapa definisi tentang pendidikan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut: ―Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar yang
diberikan oleh pendidik/guru kepada anak didik yang mencakup norma-norma
yang sesuai dengan tingkatan perkembangannya dengan tujuan terbentuknya
kepribadian utama bagi anak didik dan pendidikan yang dilakukan tanpa batas
(seumur hidup)‖.
Setelah membahas pengertian pendidikan maka selanjutnya penulis akan
membahas masalah akhlak. Adapun pengertian akhlak dalam kamus bahasa Arab-
Indonesia dijelaskan bahwa kata itrareb gnay ( كه خ ) atak irad lasareb (( قلخ ا
perangai atau akhlak.
Kemudian juga dijelaskan dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak
(bahasa arab) adalah bentuk jamak dari kata khuluk. Khuluk di dalam kamus
Mahmud Yunus berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan akhak.
Di dalam da'iratul ma'arif dikatakan bahwa:
حٛ تد لا ٌاس َ لا خاف ص ْٗ كه خلا
Artinya : "Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik"
Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan devinisinya dengan berbeda-
beda tinjauan yang dikemukakannya; antara lain:
1. Al-Qurthuby
Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlaq,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya.
2. Muhammad bin ‗Ilan Ash Shadiqy
Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan
perbuatan baik, dengan cara yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain).
3. Ibnu Maskawaih
Akhlaq adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa
memikirkannya (lebih lama).
4. Abu Bakar L-Jazairy
Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang
menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang
disengaja.
5. Imam Al-Ghozali
Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat
melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan; tanpa melalui maksud
untuk memikirkan (lebih lama). Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu
tindakan terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlaq
yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan
akhlaq yang buruk.
Dari pegertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa
manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu
dapat berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk,
disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.
Jadi pada hakikatnya khuluk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang
telah meresap dalam jiwa dan telah menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah
beberapa macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan
tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan
terpuji menurut pandangan syari'at dan akal pikiran, maka ini dinamakan budi pekerti
yang mulia dan sebaliknya yang lahir dari kelakuan yang buruk, maka di sebutlah budi
pekerti yang tercela.
Kemudian menurut Ibnu Maskawaih yang dikutif oleh Abuddin Nata bahwa akhlak
menurut istilah: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan
perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan".

Kata ahklak atau khuluk, terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits. Seperti:
a. Dalam surat Al-Qolam ayat 4 yaitu:
ك ناو ىل ع ل قل خ مي ظع ( مل ق لا: ٤)
Artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"(Q.S Al-
Qalam: 4)
b. Dalam surat al-Imran ayat 159 yaitu:
امب ف ةمحر نم ا تن ل مه ل تن كو لو اظ ف ظي ل غ بل ق لا اوض ف نل نم ك لوح (ا ل نارمع:۱۵۹ )
Artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut kepada
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu." (Q,S Al-Imaran: 159)
c. Kemudian hadist Rasulullah SAW yaitu :
لم كا ني ن مؤم لا ا نام يا مهن س حا اق ل خ ( هاور ىذي مرت لا لا قو نس ح حي حص )
Artinya: "Yang paling sempurna iman orang mu'min itu yang paling sempurna (baik) budi
pekertinya"
d. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
م كري خ مك ن س احا قلخاا ( هاور ىراخب لا مل س مو )
Artinya: "Sebaik-baik kamu yaitu yang paling baik keadaan akhlaknya" (H.R. Bukhori
Muslim)

Dari ayat-ayat dan hadits di atas dapat dipahami bentuk perkataan akhlak, khuluk dan
khaliqun bisa diartikan dengan istilah budi pekerti atau perangai, tingkah laku, adab
kebiasaan, tabiat serta peradaban yang baik atau segala sesuatu yang sudah menjadi
tabiat. Sedangkan menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syibany, akhlak ialah salah
satu hasil dari iman dan ibadah, bahwa iman dan ibadah manusia tidak sempurna
kecuali kalau timbul dari akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik.
Menurut imam Al-Ghazali akhlak ialah "sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan
pikiran ( lebih dahulu)
Sedangkan menurut Akmal Hawi akhlak adalah suatu perangai atau tingkah laku
manusia dalam pergaulan sehari-hari. Perbuatan-perbuatan tersebut timbul dengan
mudah tanpa direncanakan terlebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaan.
Diterbitkan di: 15 Februari, 2010

Sumber: http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1973685-
makna-akhlak/#ixzz1w4VfVOD6

sMakna Akhlak
Sebelum terlalu panjang lebar membahas tentang pendidikan akhlak dan
tujuannya, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian pendidikan. Hal
ini dimaksudkan menjadi pijakan awal untuk pembahasan yang lebih lanjut.
Di tinjau dari segi bahasa (etimologi), pendidikan berasal dari kata "didik" yang
mendapat awalan pe dan mendapat akhiran an. Sehingga menjadi suku kata
"pendidikan" kata pendidikan adalah berarti "perbuatan (hal, cara dan sebagainya)
mendidik.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha
manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan
baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat dan
kebudayaan. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban
bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai
dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau
sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya.
Menurut Zuhairini, pendidikan adalah "suatu aktifitas untuk mengembangkan
seluruh aspek kehidupan manusia yang bertujuan seumur hidup". Pendapat ini
menjelaskan pendidikan itu bisa dimana dan kapan saja tanpa batas dan waktu,
terutama dalam kelurga dan sekolah sebagai wadah pendidikan yang utama.
Dari beberapa definisi tentang pendidikan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut: ―Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar yang
diberikan oleh pendidik/guru kepada anak didik yang mencakup norma-norma
yang sesuai dengan tingkatan perkembangannya dengan tujuan terbentuknya
kepribadian utama bagi anak didik dan pendidikan yang dilakukan tanpa batas
(seumur hidup)‖.
Setelah membahas pengertian pendidikan maka selanjutnya penulis akan
membahas masalah akhlak. Adapun pengertian akhlak dalam kamus bahasa Arab-
Indonesia dijelaskan bahwa kata itrareb gnay ( كه خ ) atak irad lasareb (( قلخ ا
perangai atau akhlak.
Kemudian juga dijelaskan dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak
(bahasa arab) adalah bentuk jamak dari kata khuluk. Khuluk di dalam kamus
Mahmud Yunus berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan akhak.
Di dalam da'iratul ma'arif dikatakan bahwa:
حٛ تد لا ٌاس َ لا خاف ص ْٗ كه خلا
Artinya : "Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik"
Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan devinisinya dengan berbeda-
beda tinjauan yang dikemukakannya; antara lain:
1. Al-Qurthuby
Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlaq,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya.
2. Muhammad bin ‗Ilan Ash Shadiqy
Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan
perbuatan baik, dengan cara yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain).
3. Ibnu Maskawaih
Akhlaq adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa
memikirkannya (lebih lama).
4. Abu Bakar L-Jazairy
Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang
menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang
disengaja.
5. Imam Al-Ghozali
Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat
melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan; tanpa melalui maksud
untuk memikirkan (lebih lama). Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu
tindakan terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlaq
yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan
akhlaq yang buruk.
Dari pegertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa
manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu
dapat berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk,
disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.
Jadi pada hakikatnya khuluk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang
telah meresap dalam jiwa dan telah menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah
beberapa macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan
tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan
terpuji menurut pandangan syari'at dan akal pikiran, maka ini dinamakan budi pekerti
yang mulia dan sebaliknya yang lahir dari kelakuan yang buruk, maka di sebutlah budi
pekerti yang tercela.
Kemudian menurut Ibnu Maskawaih yang dikutif oleh Abuddin Nata bahwa akhlak
menurut istilah: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan
perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan".

Kata ahklak atau khuluk, terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits. Seperti:
a. Dalam surat Al-Qolam ayat 4 yaitu:
ك ناو ىل ع ل قل خ مي ظع ( مل ق لا: ٤)
Artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"(Q.S Al-
Qalam: 4)
b. Dalam surat al-Imran ayat 159 yaitu:
امب ف ةمحر نم ا تن ل مه ل تن كو لو اظ ف ظي ل غ بل ق لا اوض ف نل نم ك لوح (ا ل نارمع:۱۵۹ )
Artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut kepada
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu." (Q,S Al-Imaran: 159)
c. Kemudian hadist Rasulullah SAW yaitu :
لم كا ني ن مؤم لا ا نام يا مهن س حا اق ل خ ( هاور ىذي مرت لا لا قو نس ح حي حص )
Artinya: "Yang paling sempurna iman orang mu'min itu yang paling sempurna (baik) budi
pekertinya"
d. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
م كري خ مك ن س احا ا قلخا ( هاور ىراخب لا مل س مو )
Artinya: "Sebaik-baik kamu yaitu yang paling baik keadaan akhlaknya" (H.R. Bukhori
Muslim)

Dari ayat-ayat dan hadits di atas dapat dipahami bentuk perkataan akhlak, khuluk dan
khaliqun bisa diartikan dengan istilah budi pekerti atau perangai, tingkah laku, adab
kebiasaan, tabiat serta peradaban yang baik atau segala sesuatu yang sudah menjadi
tabiat. Sedangkan menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syibany, akhlak ialah salah
satu hasil dari iman dan ibadah, bahwa iman dan ibadah manusia tidak sempurna
kecuali kalau timbul dari akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik.
Menurut imam Al-Ghazali akhlak ialah "sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan
pikiran ( lebih dahulu)
Sedangkan menurut Akmal Hawi akhlak adalah suatu perangai atau tingkah laku
manusia dalam pergaulan sehari-hari. Perbuatan-perbuatan tersebut timbul dengan
mudah tanpa direncanakan terlebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaan.


Pengertian akhlak dan tasawuf — Document
Transcript
 1. Pengertian Akhlak dan Tasawuf<br />Pengertian Akhlak:• Secara
bahasa akhlak berasal dari kata اخلق – كه خ ٚ– ,iagnarep aynitra ا للخا
kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan
kata khuluq. Dasarnya adalah:<br />1. QS. Al- Qalam: 4: ٔاٌن لعلٖ خلق
ysA .SQ .2ىٛ ظع-Syu‘ara: 137: اٌ ِرا الا خلق الألٌ٘3. Hadis :اٌوا بعزخ
unbI .1:halada kalhka ,halitsI turuneM •>/ rb< قل خلا وساك ي ىً ذل
Miskawaih: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk
melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran danpertimbangan.2.
Imam Ghazali: sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-
macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.<br />Ciri Perbuatan Akhlak:1. Tertanam kuat dalam jiwa
seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.2. Dilakukan dengan
mudah tanpa pemikiran.3. Timbul dari dalam diri orang yang
mengerjakannya tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.4. Dilakukan
dengan sungguh-sungguh.5. Dilakukan dengan ikhlas.<br />Ruang
lingkup Kajian Ilmu Akhlak:@ Perbuatan-perbuatan manusia menurut
ukuran baik dan buruk.@ Objeknya adalah norma atau penilaian terhadap
perbuatan tersebut.@ Perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun
kolektif.<br />Manfaat mempelajari Ilmu Akhlak:1. Menetapkan criteria
perbuatan yang baik dan buruk.2. Membersihkan diri dari perbuatan dosa
dan maksiat.3. Mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan
manusia.4. Memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam
mengetahui perbuatan yang baik atau buruk.>br /<Pengertian Tasawuf:•
Secara bahasa tasawuf berarti:- saf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani:
hikmah), suf (kain wol)- sikap mental yang selalu memelihara kesucian
diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan
bersikap bijaksana.>br /<• Menurut Istilah:1. Upaya mensucikan diri
dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan
perhatian hanya kepada Allah Swt.2. Kegiatan yang berkenaan dengan
pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.<br />Sumber
Ajaran Tasawuf:1. Unsur Islam:- Al-Qur‘an mengajarkan manusia untuk:
mencintai Tuhan (QS. Al-Maidah: 54), bertaubah dan mensucikan diri
(QS> At-Tahrim: 8), manusia selalu dalam pandangan Allah dimana saja
(QS. Al-Baqarah: 110), Tuhan memberi cahaya kepada HambaNya (QS.
An-Nur: 35), sabar dalam bertaqarrub kepada Allah (QS. Ali Imran: 3)-
Hadis Nabi seperti tentang rahasia penciptaan alam adalah agar manusia
mengenal penciptanya.- Praktek para sahabat seperti Abu Bakar Ash-
shiddiq, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Talib, Abu Zar
Al-Ghiffari, Hasan Basri, dll.2. Unsur Non Islam:a. Nasrani: Cara
kependetaan dalam hal latihan jiwa dan ibadah.b. Yunani: Unsur filsafat
tentang masalah ketuhanan.c. Hindu/Budha: mujahadah, perpindahan roh
dari satu badan ke badan yang lain.<br />Hubungan Akhlak dengan
Tasawuf:<br />Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam
pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesame manusia,
sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia
dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf,
sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.<br />Kuliah
Kedua<br />SEJARAH PERKEMBANGAN AKHLAK TASAWUF<br
/>Sejarah Perkembangan AkhlakDitelusuri dari aspek kebangsaan, dapat
dijelaskan sebagai berikut:A. Akhlak pada bangsa Yunani• Ditandai
dengan munculnya Sophisticians, yaitu orang-orang yang bijaksana.•
Dasar pemikirannya: rasionalistik, baik dan buruk didasarkan pada
pertimbangan akal pikiran. Argumentasinya didasarkan pada filsafat
tentang manusia (anthropocentris), terkait dengan kejiwaan manusia.
Akhlak adalah sesuatu yang fitri yang ada dalam diri manusia.•
Tokohnya:- Socrates (469-399 SM): membentuk pola hubungan antara
manusia dengan dasar ilmu pengetahuan.- Plato (427-347 SM):
mengemukakan teori contoh, yaitu apa yang terdapat pada lahiriyah
sebenarnya telah ada contoh sebelumnya yang ada dalam bayangan dari
yang tidak tampak (alam rohani atau alam ide). Teorinya ini terdapat
dalam bukunya: Republik.- Aristoteles (394-322 SM): mengemukakan
teori pertengahan; yang baik adalah yang berada di tengah-tengah. Tujuan
akhir manusia adalah kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan adalah
dengan menggunakan ilmu pengetahuan.<br />B. Akhlak pada Agama
Nasrani• Dasarnya adalah teocentris, Tuhan adalah sumber akhlak.• Tuhan
yang menentukan dan membentuk patokan akhlak.• Menekankan pada
aspek sufistik (dimensi batin).• Pendorong kebaikan adalah cinta dan iman
kepada Tuhan berdasarkan kitab Taurat.<br />C. Akhlak pada bangsa
Romawi• Dibangun berdasarkan perpaduan antara ajaran Yunani
(anthropocentris) dengan ajaran Nasrani (Teocentris).• Tokohnya: Abelard
(1079-1142 M) dari Perancis, dan Thomas Aquinas (1226-1274 M) dari
Italia.>br /<D. Akhlak pada Agama Islam• Titik pangkal pada wahyu
Tuhan dan akal manusia.• Al-Qur‘an memberi perhatian besar pada
pembinaan akhlak.• Nabi menjadi role model dalam pembinaan akhlak
dalam penyebaran Islam.Sejarah Perkembangan Tasawuf>br /<• Masa
Rasulullah belum ada istilah tasawuf.• Benih-benih tasawuf ditemukan
pada perilaku dan sifat Nabi, seperti ketika berkhalwat di gua hira.•
Kehidupan para sahabat juga mencerminkan kehidupan sebagai sufi
seperti sikap zuhud dan qana‘ah.• Masa Tabi‘in: ada istilah Nussak, yaitu
orang-orang yang menyediakan dirinya untuk beribadah kepada Allah.
Tokohnya Hasan Basri, yang benar-benar mempraktekkan tasawuf dengan
memunculkan konsep khauf dan raja‘.• Istilah tasawuf muncul pada abad
ke 2 H. Kata sufi pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang Zahid
dari Syria (w. 780 M). Dia mendirikan Takya, semacam padepokan sufi
yang pertama.• Tasawuf muncul sebagai respon terhadap praktek
kehidupan para raja yang penuh dengan kemewahan. Para sufi
memperbanyak zikir, zuhud, tadarus al-Qur‘an, salat sunnah dan
sebagainya. Tasawuf menjadi pengajian yang dipimpin oleh guru sufi.•
Abad ke 3 H: muncul tasawuf yang menonjolkan pemikiran eksklusif
(tasawuf falsafi) seperti Al-Hallaj dengan konsep hulul.• Abad ke 5 H:
muncul Al-Ghazali, yang mendasarkan tasawuf hanya pada al-Qur‘an dan
hadis dan bertujuan asketisme, hidup sederhana, pelurusan jiwa, dan
pembinaan moral.• Abd ke 6 H berkembang tarekat-tarekat untuk melatih
dan mendidik para murid seperti yang dilakukan oleh Sayid Ahmad Rifa‘I
(w. 570 H), dan Sayid Abdul Qadir Jaelani (w. 651 M).• Sejak abad ke 6 H
muncul perpaduan antara tasawuf akhlaki dengan falsafi dengan tokoh
seperti: Suhrawardi Al-Maqtul dan Ibn Arabi. <br />Kuliah Ketiga<br
/<ETIKA, MORAL, SUSILA, DAN AKHLAK>br /<Etika• Secara bahasa
etika berasal dari bahasa Yunani; ethos; yang berarti watak kesusilaan atau
adat. Etika dalam kamus diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-
asas akhlak.• Menurut istilah etika adalah ilmu yang menjelaskan baik dan
buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia (Ahmad
Amin).• Konsep etika bersifat humanistis dan anthropocentris, karena
didasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada perbuatan
manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan yang dihasilkan oleh akal
manusia.• Komponen yang terdapat dalam etika meliputi 4 hal:1. Objek,
yaitu perbuatan manusia.2. Sumber, berasal dari pikiran atau filsafat.3.
Fungsi, sebagai penilai perbuatan manusia.4. Sifat, berubah-ubah sesuai
dengan tuntutan zaman.>br /<Moral• Secara bahasa berasal dari kata
mores (latin) yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus moral diartikan
sebagai penentuan baik dan buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.•
Istilah: moral merupakan istilah untuk menentukan batas-batas dari sifat,
perangai, kehendak, pendapat, yang secara layak dapat dikatakan benar,
salah, baik, atau buruk.• Acuan moral adalah system nilai yang hidp dan
diberlakukan dalam masyarakat.• Persamaan antara moral dan etika
terletak pada objeknya yaitu: perbuatan manusia.• Perbedaan keduanya
terletak pada tolok ukur penilaian perbuatan. Etika menggunakan akal
sebagai tolok ukur, sedangkan moral menggunakan norma yang hidup
dalam masyarakat. >br /<Susila• Berasal dari bahasa Sanskerta, Su: artinya
baik, dan susila: artinya prinsip, dasar, atau aturan.• Susila atau kesusilaan
diartikan sebagai aturan hidup yang lebih baik, sopan, dan beradab.•
Kesusilaan merupakan upaya membimbing, memasyarakatkan hidup yang
sesuai dengan norma/nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.<br
/<PERSAMAAN ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK>br /<• Persamaan
ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau
nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk.•
Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal:1. Objek: yaitu
perbuatan manusia2. Ukuran: yaitu baik dan buruk3. Tujuan: membentuk
kepribadian manusia<br />PERBEDAAN1. Sumber atau acuan:- Etika
sumber acuannya adalah akal- Moral sumbernya norma atau adapt istiadat-
Akhlak bersumber dari wahyu2. Sifat Pemikiran:- Etika bersifat filososfis-
Moral bersifat empiris- Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan
akal3. Proses munculnya perbuatan:- Etika muncul ketika ad aide- Moral
muncul karena pertimbangan suasana- Akhlak muncul secara spontan atau
tanpa pertimbangan.<br />KONSEP BAIK DAN BURUK<br />Definisi
Baik dan Buruk• Pengertian baik atau khair adalah:1. sesuatu yang sudah
mencapau kesempurnaan,2. sesuatu yang memiliki nilai kebenaran/nilai
yang diharapkan,3. sesuatu yang berhubungan dengan luhur, bermartabat,
menyenangkan, dan disukai manusia.• Buruk atau syarr, memiliki
pengertian kebalikan dari baik.• Pengertian baik dan buruk di atas bersifat
subjektif, relative, tergantung individu yang menilainya.<br />Penentuan
Baik dan Buruk1. Berdasarkan adat istiadat masyarakat (aliran
sosialisme).2. Berdasarkan akal manusia (hedonisme)3. Berdasarkan
intuisi (humanisme)4. Berdasarkan kegunaan (utilitarianisme)5.
Berdasarkan agama (religiousisme)<br />Konsep Baik dalam ajaran
Islam1. Hasanah; sesuatu yang disukai atau dipandang baik (QS. 16: 125,
28: 84)2. Tayyibah; sesuatu yang memberikan kelezatan kepada panca
indera dan jiwa (QS. 2: 57).3. Khair; sesuatu yang baik menurut umat
manusia (QS. 2: 158).4. Mahmudah; sesuatu yang utama akibat
melaksanakan sesuatu yang disukai Allah (QS. 17: 79).5. Karimah;
perbuatan terpuji yang ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari (QS. 17:
23).6. Birr; upaya memperbanyak perbuatan baik (QS. 2: 177).<br
/>KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB<br />Makna Kebebasan:1.
Kemampuan untuk menentukan diri sendiri, tidak dibatasi oleh orang
lain.2. Kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai yang dimilikinya dan
tujuan yang diinginkannya.3. Kemampuan memilih kemungkinan-
kemungkinan yang tersedia baginya.4. tidak dipaksa/terikat untuk
membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya, berbuat dengan leluasa.<br
/>Kebebasan manusia: apakah manusia memiliki kebebasan atau tidak?1.
Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kemauannya
(Qadariyah/Mu‘tazilah).2. Kebebasan manusia dibatasi oleh Tuhan
(Jabariyah/Asy‘ariyah).>br /<Dasar Kebebasan: QS. 3: 164, 18: 29, 41: 40.
<br />Macam Kebebasan:1. Kebebasan jasmani (menggerakkan anggota
tubuh).2. Kebebasan ruhani (berkehendak)3. Kebebasan moral.<br
/<Tanggung Jawab• Kesediaan dasariah untuk melaksanaka apa yang
menjadi kewajiban.• Kewajiban untuk melaksanakan segala sesuatu yang
bertujuan untuk mempertahankan keadilan, keamanan, dan kemakmuran.•
Menerima pembebanan sebagai akibat perbuatan sendiri.<br />Eksistensi
Tanggung jawab• berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan dengan
kesadaran.• Tanggung jawab berhubungan dengan kebebasan berbuat ,
dimana kebebasan berbuat harus dapat dipertanggungjawabkan.•
Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab meliputi:1. kemampuan
untuk menentukan diri sendiri2. kemampuan untuk bertanggungjawab.3.
kedewasaan manusia<br />Kuliah Keempat<br />PEMBENTUKAN
AKHLAK<br />Pandangan tentang eksistensi akhlak- Terdapat dua aliran
tentang akhlak manusia, apakah akhlak itu dibentuk atau bawaan sejak
lahir.1. Akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir.
Jadi akhlak adalah pembawaan manusia, yaitu kecenderungan kepada
fitrah yang ada pada dirinya. Akhlak tumbuh dengan sendirinya tanpa
dibentuk atau diusahakan (gairu muktasabah).2. Akhlak adalah hasil
pendidikan, latihan atau pembinaan yang sungguh-sungguh. Akhlak
adalah hasil usaha (muktasabah). >br /<Metode Pembentukan Akhlak•
Dalam Islam pembentukan akhlak dilakukan secara integrated, melalui
rukun iman dan rukun Islam. Ibadah dalam Islam menjadi sarana
pembinaan akhlak.• Cara lain adalah melalui: pembiasaan, keteladanan,
dan instropeksi.<br />Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak1.
Aliran Nativisme: potensi batin dangat dominant dalam pembinaan akhlak.
Potensi tersebut adalah pembawaan yang berupa kecenderungan, bakat,
minat, akal, dan lain-ain.2. Aliran Empiris: lingkungan social, termasuk
pendidikan merupakan factor penting dalam pembinaan akhlak.3. Aliran
Konvergensi: pembinaan akhlak dipengaruhi oleh factor internal
(pembawaan) dan factor eksternal (lingkungan).4. Islam: sesuai dengan
aliran konvergensi (QS. An-Nahl: 78, dan hadis Nabi: kullu
mauludin…).>br /<Petunjuk Pembinaan Akhlak dalam Islam:1. Memilih
pasangan hidup yang beragama2. Banyak beribadah saat hamil3.
Mengazani saat kelahiran4. Memberi makanan yang halal dan bergizi5.
Mencukur rambut dan khitan sebagai tanda kesucian6. Aqiqah, isyarat
menerima kehadiran sang anak7. Memberi nama yang baik8. Mengajari
membaca Al-qur‘an9. Mengajari salat sejak umur tujuh tahun. >br
/>http://doelmith.wordpress.com/2009/03/01/mata-kuliah-akhlak-
tasauf/<br />