You are on page 1of 20

BAB I PENDAHULUAN

Jaringan lunak atau soft tissue merupakan jaringan ekstraskeletal non-epitel dan terpisah dengan sistem retikuloendotelial, glia, serta jaringan penyokong dari berbagai organ parenkim. Jaringan lunak terdiri dari otot, lemak dan jaringan ikat beserta pembuluh darah yang menyuplai jaringan ini. Berdasarkan perjanjian, jaringan lunak juga meliputi sistem saraf perifer, sebab tumor yang timbul dari saraf tampak sebagai tumor jaringan lunak dan memberikan gambaran yang serupa dalam diagnosis banding serta penanganannya. Secara embriologis, jaringan lunak berasal dari mesoderm dengan sebagian berasal dari neuroderm. 1,2,3,4 Tumor jaringan lunak merupakan kelompok tumor yang sangat heterogen dan diklasifikasikan berdasarkan gambaran histologisnya. Sebagai contoh, lipoma dan liposarkoma merupakan tumor dengan gambaran jaringan lemak, sementara hemangioma dan angiosarkoma mengandung sel yang menggambarkan sel endotel vaskular. Klasifikasi histologis yang bervariasi ini biasanya dibagi lagi dalam bentuk jinak atau ganas. 1 Tumor jinak, yang lebih mendekati gambaran jaringan normal, memiliki kemampuan bertumbuh yang terbatas. Tumor ini memperlihatkan sedikit kecenderungan untuk menginvasi secara lokal, serta angka rekurensinya rendah dengan terapi konservatif. 1 Tumor ganas atau sarkoma bersifat agresif dan memiliki kemampuan pertumbuhan yang invasif atau destruktif, rekurensi, serta metastasis jauh. Pembedahan radikal diperlukan untuk memastikan pengangkatan keseluruhan tumor ini. Walaupun begitu, istilah sarkoma tidak mengindikasikan kecenderungan atau kecepatan metastasis. Beberapa sarkoma seperti dermatofibrosarkoma protuberans jarang bermatastasis, sementara jenis sarkoma lain sebaliknya. Oleh sebab itu,

1

diagnosis sarkoma harus disertai dengan pernyataan derajat diferensiasi atau derajat histologisnya. Istilah “berdiferensiasi baik” atau “berdiferensiasi jelek” bersifat kualitatif serta subjektif. dan digunakan untuk menggambarkan kematangan sel tumor berdasarkan jaringan normalnya. 1 Berikut ini merupakan tabel mengenai klasifikasi tumor dan penyakit miriptumor pada jaringan lunak: 2 Tabel I-1. Tumor Jaringan Lunak Tumor Jaringan Lemak Lipoma Liposarkoma Tumor dan Lesi Mirip-Tumor pada Jaringan Fibrosa Fasukitis nodularis Fibromatosis Fibromatosis superfisialis Fibromatosis profunda Fibrosarkoma Tumor Fibriohistiositik Histiositoma fibrosa Dermatodibrosarkoma protuberans Histiositoma fibrosa maligna Tumor Otot Rangka Rabdomioma Rabdomiosarkoma Tumor Otot Polos Leiomioma Leiomiosarkoma

2

leiomiosarkoma (19%). tetapi lebih sering pada pasien yang lebih tua. 3 . dan daerah kepala/leher (9%). Rasio tumor jaringan lunak jinak dan tumor ganas lebih dari 100:1. tetapi insidensi pada umur dan jenis kelamin berbeda pada tiap tipe histologis. juga dikenal variasi lesi borderline. Kebanyakan lesi primer berasal dari ekstremitas (59%). Tipe histologis terbanyak pada dewasa (tidak termasuk sarkoma Kaposi) yaitu histiositoma (24%). Sarkoma dapat timbul pada setiap umur.Tumor otot polos dengan potensi keganasan tidak jelas Tumor Vaskular Hemangioma Limfangioma Hemangioendeotelioma Hemangioperisitoma Angiosarkoma Tumor Saraf Perifer Neurofibroma Schwannoma Tumor ganas selubung saraf perifer Tumor yang Histogenesisnya Tidak Jelas Tumor sel granular Sarkoma sinovium Sarkoma bagian lunak alveolus Sarkoma epiteloid Selain tumor jinak dan ganas. Sarkoma lebih sering ditemukan pada pria. retroperitoneum (13%). 5 Sarkoma jaringan lunak dapat timbul di mana saja pada bagian tubuh.15% pada pasien berumur kurang dari 15 tahun dan 40% pada pasien berusia 55 tahun atau lebih. batang tubuh (19%).

Belum terbukti adanya faktor ras.6. dan tumor ganas selubung saraf perifer (6%).7. 1.8 4 . Sarkoma terbanyak pada anak yaitu rabdomiosarkoma dengan jumlah sekitar 250 kasus per tahun.sarkoma sinovium (12%).

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Pendidikan terakhir Alamat Suku/Bangsa Tanggal MRS CM : Tn. Awalnya benjolan teraba lunak lalu mengeras. Benjolan awalnya sebesar uang logam lima ratus rupiah.00. Benjolan tidak nyeri. Benjolan baru pertama kali dialami pasien. Minahasa Selatan : Minahasa/Indonesia : 29 November 2012 : 15.61 II. WT : 65 th : Laki-laki : Kristen Protestan : Pensiunan guru : Tamat SLTA : Motoling. kemudian perlahan membesar menjadi sebesar telur ayam hingga saat ini. ANAMNESIS Keluhan utama Benjolan pada bahu kanan Riwayat Penyakit Sekarang Benjolan pada bahu kanan dialami sejak 6 tahun yang lalu.BAB II LAPORAN KASUS I. Riwayat Penyakit Dahulu 5 . Penurunan BB tidak ada. perubahan ini disadari pasien ± 7 bulan yang lalu. Pergerakan sendi di sekitar benjolan baik.

Riwayat Keadaan Sosial/Lingkungan Tidak ada riwayat paparan radiasi. III. Riwayat Pengobatan Pasien belum pernah mengobati keluhan ini. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa atau keluhan lainnya. Riwayat bengkak di ekstremitas tidak ada. sklera ikterik (-) pupil bulat.vesikuler. isokor. Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat apapun. retraksi (-) : stem fremitus kiri = kanan : sonor. Pasien merupakan perokok aktif sejak 40 tahun yang lalu hingga saat ini. Riwayat penyakit lain tidak ada.Pasien baru pertama kali mengalami keluhan ini. wheezing -/- 6 . rhonki -/-. pembesaran KGB (-) :I Pa Pe : pergerakan napas simetris. PEMERIKSAAN FISIK KU Kesadaran : baik : compos mentis GCS E4V5M6 Tekanan darah : 130/70 mmHg Nadi Repirasi Suhu Badan Kepala : 60 x/menit : 20 x/menit : 37. diameter 3 mm kiri = kanan Leher Thoraks : trakea letak tengah.2°C : conjungtiva anemis (-). kiri = kanan Aus : sp. Pasien tidak mengkonsumsi alkohol.

Refleks patologis -/- Rectum/Anal : Tidak ada kelainan CVA Suprapubik Genitalia : Nyeri ketok (-) : Nyeri tekan (-) : Laki-laki normal Status lokalis : Regio deltoid dekstra: I: massa berukuran 8x8 cm. konsistensi padat. sel darah merah Kesan : suatu anak sebar karsinoma yang jenisnya sukar ditentukan EKG (13 November 2012): Kesan: LAH. H/L ttb : timpani Tulang belakang: dalam batas normal Ekstremitas superior et inferior : tidak ada kelainan Neurologi : Refleks fisiologis +/+.Abdomen :I Aus Pa Pe : datar : bising usus (+) normal : lemas. PEMERIKSAAN PENUNJANG FNAB (12 Oktober 2012): Mikroskopik : hapusan tampak kelompok-kelompok sel epitel bulat. X-foto thoraks PA (14 November 2012): Kesan: Cor & pulmo: normal 7 . warna sama dengan kulit sekitar P: tepi ireguler. fixed. nyeri tekan (-) IV. Tidak ditemukan kontraindikasi untuk dilakukan operasi. soliter. oval lebih besar dari limfosit pleomorfik dengan kromatin kasar di antara sel-sel limfosit. permukan licin.

gangguan relaksasi TR mild Kontraktilitas RV cukup Hasil Lab Darah (27 November 2012): CT BT Leukosit Eritrosit Hb Ht : 2’ : 8’ : 6800 sel/mm3 : 4.9 mg/dL 8 . Echocardiography (27 November 2012): Fungsi sistolik LV global dan segmental normal.4% Trombosit : 188000 sel/mm3 GDS Ur Cr : 119 mg/dL : 21 mg/dL : 0. EF 57% Disfungsi sistolik.CT-scan thoraks (19 November 2012): Parenkim paru tampak normal Tidak tampak massa pada paru dan mediastinum Main bronchus kanan/kiri dan trakea kesan baik Atrium dan ventrikel kesan baik Tak tampak atelectasis Tak tampak efusi pleura Tak tampak pembesaran KGB paraaorta Tulang-tulang/soft tissue dinding thoraks kesan baik Kesan: CT-scan thoraks tampak normal.1 g/dL : 43. Tak jelas adanya massa pada paru/mediastinum.81 juta sel/mm3 : 15.

71 mmol/L : 99.SGOT SGPT : 20 U/L : 21 U/L Albumin : 4. PENATALAKSANAAN Eksisi tumor VII. LAPORAN OPERASI Diagnosis pra-operatif Diagnosis post-operatif : soft tissue tumor R.30 WITA : 4 jam : Penderita terlentang dengan GA Asepsis dan antisepsis lapangan operasi Insisi “Z plasty” pada regio deltoid anterior dekstra 9 .1 g/dL Na K Cl : 140 mmol/L : 3. deltoid anterior dekstra : soft tissue tumor R. DIAGNOSIS KERJA Soft tissue tumor regio deltoid anterior dekstra.4 mmol/L V. deltoid anterior dekstra suspek keganasan stadium IV (GxT2N1M0) Tindakan Tanggal operasi Jam operasi mulai Jam operasi selesai Lama operasi Laporan operasi : eksisi tumor + radical neck dissection : 6 Desember 2012 : 10. VI.30 WITA : 14.

minum sedikit-sedikit sampai instruksi selanjutnya 10 . tampak massa ukuran tidak beraturan dengan kelenjar yang membesar Dilakukan eksisi tumor.Diperdalam lagi lapis demi lapis. kelenjar diangkat  PA Diputuskan dilakukan RND. kontrol perdarahan Pasang drain Leher ditutup lapis demi lapis Operasi selesai Instruksi post-operasi: IVFD RL:NaCl = 1:1  20 gtt/m Ceftriaxone 2x1 gr IV Ranitidin 2x1 amp IV Ketorolac 3% 3x1 amp IV Asam traneksamat 3x1 amp IV Kontrol Hb post operasi Bila sadar betul.

dan pemeriksaan penunjang. dan zat kimia.7. awalnya sebesar uang logam 500 rupiah dan kemudian perlahan membesar hingga berukuran sebesar telur ayam. yaitu faktor genetik. seringkali diagnosis sarkoma terlambat. perubahan warna dan tekstur kulit jarang ditemukan sehingga mempersulit diagnosis awal.BAB III PEMBAHASAN Dalam laporan kasus laki-laki berumur 65 tahun dengan diagnosis soft tissue tumor regio colli anterior dekstra ini akan dibahas mengenai cara penegakan diagnosis dan penanganannya. 8 11 . onkogen ini memproduksi onkoprotein spesifik yang berperan dalam transduksi sinyal sel atau berfungsi sebagai growth factor atau reseptornya. pemeriksaan fisik. Benjolan berjumlah satu.7. 5.9 Kebanyakan sarkoma tidak memiliki penyebab yang jelas.9. trauma (masih diperdebatkan). Pada anamnesis didapatkan benjolan yang bersifat kronik dan pertumbuhannya lambat. Diagnosis Diagnosis pada pasien ini ditegakkan melalui anamnesis. Perubahan genetik lain yang dapat terjadi yaitu inaktivasi tumor suppressor genes melalui mekanisme herediter atau sporadik. limfedema. Pasien datang hanya dengan alasan kosmetik. 3. Tanda-tanda fisik seperti nyeri. I. Menurut kepustakaan. paparan radiasi.4 Perubahan genetik yang diwariskan dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk sarkoma jaringan lunak dan tulang. Beberapa onkogen yang terkait telah diketahui. namun beberapa faktor terkait atau faktor predisposisi telah diketahui.5.

Risiko sarkoma meningkat sesuai peningkatan dosis radiasi. arsenik. 7. 1. Sarkoma postiradiasi biasanya didiagnosis pada stadium akhir dan secara umum memiliki prognosis yang buruk. massa yang berukuran >5 cm atau dengan pertumbuhan atau perubahan tampilan yang cepat sebaiknya diperiksa dengan seksama. KGB aksila mungkin teraba (jarang) dan biasanya akibat metastasis. contoh terbaik dideskripsikan oleh Stewart dan Treves pada kasus limfedema postmastektomi postiradiasi. Limfangiosarkoma pada studi mereka bukan merupakan sarkoma terinduksi radiasi. Secara umum. Pada pemeriksaan fisik. sebab limfangiosarkoma terjadi pada daerah yang tidak terkena radiasi pada ekstremitas yang edema. dioksin juga dikaitkan dengan sarkoma jaringan lunak. mengingat penyebaran limfatik jarang terjadi. Tekstur massa penting untuk dinilai. 8 Paparan terhadap beberapa herbisida seperti asam fenoksiatetik dan pengawet kayu mengandung klorofenol dikaitkan dengan sarkoma jaringan lunak.8 Pasien dengan sarkoma sering dilaporkan dengan riwayat trauma. Sarkoma serupa juga ditemukan setelah infeksi filaria dan limfedema kronik. Limfedema merupakan faktor yang berperan dalam limfangiosarkoma. Beberapa karsinogen seperti torium oksida. Paparan terhadap zat-zat ini dapat terjadi pada pekerja tambang dan pekerja industri. vinil klorida. namun hubungan kausal belum dapat dipastikan.Radioterapi merupakan faktor risiko sarkoma jaringan lunak.9 Pada pasien ini tidak ditemukan faktor risiko untuk tumor jaringan lunak.8. meliputi berapa otot dan kompartemen. 12 . Lipoma biasanya lunak dan berbatas tegas. asbestos. serta adanya keterlibatan neurovaskular. perlu diperkirakan seberapa dalam penetrasi lesi.

11 CT scan berguna dalam mengetahui adanya dan jumlah metastase paru. tidak ada uji laboratorium spesifik untuk mendiagnosis soft tissue tumor. soliter. 10.11 Akurasi pemeriksaan FNAB hanya 60-80%. massa kartilago pada osteokondromatosis sinovial. reaksi periosteal atau remodelling tulang. USG. MRI. Pada palpasi didapatkan tepi ireguler. Pada inspeksi didapatkan massa berukuran 8x8 cm. Massa pada ekstremitas yang berukuran >5-7 cm dan terletak lebih dalam dari jaringan subkutan lebih mengarah pada keganasan. Foto Roentgen juga dapat menunjukkan reaksi tulang akibat invasi jaringan lunak seperti destruksi. kecuali pada liposarkoma. kalsifikasi perifer pada miositis osifikans. Pada sarkoma jaringan lunak akan didapatkan gambaran masa hipoekoik. 5.6. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yaitu pencitraan seperti foto polos. konsistensi padat. 9 Sebaiknya pemeriksaan soft tissue tumor dimulai dengan foto Roentgen. fixed. Selain pemeriksaan histologis dan sitogenetik.9 Pada pemeriksaan fisik pada pasien ini. nyeri tekan tidak ada. USG Doppler berwarna sangat berguna untuk melihat vaskularisasi massa jaringan lunak. dan warnanya sama dengan kulit sekitar. didapatkan benjolan pada regio deltoid dekstra. MRI sangat baik dalam mengetahui hubungan antara tumor serta 13 . Beberapa lesi menunjukkan gambaran yang spesifik seperti flebolit di dalam hemangioma. CT-scan. Perlu diingat bahwa pemeriksaan ini lebih kurang dapat dipercaya seiring dengan penurunan derajat diferensiasi tumor. permukan licin. 11 USG dapat membedakan tumor kistik atau padat serta mengukur besarnya tumor. PET. Biasanya tampak massa isodens berlatar belakang bayangan otot.sementara massa yang keras dengan tepi ireguler meningkatkan kecurigaan untuk sarkoma. skintigrafi tulang.

namun pada foto thoraks dan CT scan thoraks tidak didapatkan metastase paru. dan CT scan diperlukan pada tumor berukuran 5-10 cm dan rutin dilakukan pada tumor berukuran >10 cm. sagital dan oblik. paru merupakan lokasi metastase pertama pada 78% pasien dengan sarkoma jaringan lunak pada ekstremitas. dan CT-scan thoraks. FNAB. risiko metastasis paru rendah. 10. seperti batas-batas kompartemen. CT scan dapat menilai keterlibatan tulang serta batas otot normal dan lesi fibrosa dengan lebih baik dibanding MRI. Foto thoraks diperlukan untuk lesi berukuran sedang (5-10) cm. dan otot. MRI dapat memberikan pencitraan secara koronal. senhingga pemeriksaan paru yang lebih ekstensif diperlukan. namun lebih baik lagi apabila hasil MRI dan CT scan digabungkan. Menurut kepustakaan. Metastasis KGB 14 . ekokardiografi. vaskular. secara histologis tumor sulit dinilai. foto Roentgen thoraks. saraf. Berbeda dengan CT scan yang terbatas pada aksial. Pada pasien ini. Biasanya pemeriksaan MRI sendiri sudah cukup. dan CT scan untuk tumor low-grade besar (>10cm) untuk meyingkirkan kemungkinan metastasis paru. Pada FNAB diperoleh gambaran suatu anak sebar karsinoma yang jenisnya sukar ditentukan. 9 Pada pasien ini ditemukan ditemukan metastasis KGB. Foto thoraks diperlukan pada tumor high-grade berukuran <5 cm. metastasis KGB jarang ditemukan (5%). Pada pemeriksaan laboratorium darah tidak ditemukan kelainan.11 PET dapat digunakan untuk menilai aktivitas metabolik dan mungkin juga agresivitas biologis lesi.struktur anatomi sekitarnya. Pada tumor high-grade kemungkinan metastasis paru lebih tinggi. Menurut kepustakaan. EKG. sehingga foto thoraks hanya merupakan studi yang potensial untuk melengkapi pemeriksaan preoperatif. Pada tumor low-grade. 10 Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan laboratorium darah.

dihubungkan dengan prognosis buruk dan diklasifikasikan dalam stadium IV. clear cell sarcoma. ukuran tumor primer. serta ada tidaknya metastasis. Ukuran Tumor Primer Tx T0 T1 T1a T1b T2 T2a T2b Ukuran tumor primer tidak dapat dinilai Tidak terbukti adanya tumor primer <5 cm Tumor superfisial Tumor dalam ≥5 cm Tumor superfisial Tumor dalam 15 . rabdomiosarkoma. 6 Penggolongan stadium tumor didasarkan pada derajat histologis tumor. Derajat Histologis Gx G1 G2 G3 G4 Derajat tidak dapat dinilai Diferensiasi baik Diferensiasi sedang Diferensiasi jelek Tidak berdiferensiasi T. Berikut ini merupakan tabel penggolongan stadium sarkoma jaringan lunak: 7 Tabel III-1. angiosarkoma. Penggolongan Stadium Sarkoma Jaringan Lunak Menurut AJCC 2002 G. dan hisiositoma fibrosa maligna dihubungkan dengan insidensi metastasis KGB yang lebih tinggi. Beberapa subtipe histologis seperti sarkoma epiteloid.

Metastasis Jauh Mx M0 M1 Metastasis jauh tidak dapat dinilai Tidak ada metastasis jauh Metastasis jauh Pengelompokan Stadium Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV G1-2 G3-4 G3-4 Setiap G Setiap G T1a. KGB Regional Nx N0 N1 KGB regional tidak dapat dinilai Tidak ada metastasis KGB regional Metastasis KGB M. pemeriksaan fisik. II. dan diakhiri dengan rekonstruksi defek dan fungsi dengan graft. 1b. Namun 16 . atau transfer tendon. 2a T2b Setiap T Setiap T N0 N0 N0 N1 N0 M0 M0 M0 M0 M1 Berdasarkan anamnesis.N. dan pada kebanyakan kasus tidak diperlukan penanganan lebih lanjut. 2a. 1b. diagnosis pasien ini adalah soft tissue tumor regio deltoid anterior dekstra suspek keganasan stadium IV (GxT2N1M0). Diagnosis pasti belum ditentukan dan menunggu hasil pemeriksaan histopatologis jaringan. pemeriksaan penunjang serta penggolongan stadium menurut AJCC 2002. 9 Penanganan tumor jaringan lunak jinak berupa eksisi marginal luas dan bila perlu ditambah kemoterapi atau radioterapi. flap. 2b T1a. Penanganan Reseksi secara bedah merupakan pilihan utama penanganan tumor jaringan lunak.

Radical neck dissection. 12 17 . tumor dieksisi hingga 1-2 cm jaringan normal mengingat kemungkinan penyebaran lokal. namun saat operasi ditemukan pembesaran KGB sehingga diputuskan untuk dilakukan radical neck dissection. 7 Pada pasien ini dilakukan eksisi tumor. 11 Sarkoma jaringan lunak sering dikemoterapi dengan ifosfamide dan doxorubicin-based chemotherapy. Bagian yang direseksi meliputi saraf aksesoris spinal. namun hal ini masih kontroversial mengingat belum ada studi definitif yang membuktikan peranan kemoterapi pada peningkatan angka survival. Apabila memungkinkan. dari tepi inferior mandibular hingga klavikula dan dari sisi leteral otot penyokong hingga tepi anterior otot trapezius.salah satu efek yang tidak diinginkan dari radioterapi adalah timbulnya sarkoma terinduksi-radiasi. 9 Tujuan pembedahan yaitu pengangkatan seluruh tumor dan mempertahankan fungsi secara maksimal.merupakan pengangkatan enblok dari kelenjar limfe serta jaringan sekitarnya pada satu sisi leher. vena jugularis interna serta otot sternokleidomastoideus.

pemeriksaan penunjang adalah soft tissue tumor regio deltoid anterior dekstra suspek keganasan stadium IV (GxT2N1M0). 18 . Diagnosis pasti menunggu hasil pemeriksaan histopatologis. Sebagai penanganan dilakukan biopsi eksisi dan radical neck dissection. pemeriksaan fisik.BAB IV KESIMPULAN Diagnosa klinis pada kasus ini berdasarkan anamnesis.

Diunduh dari: http://emedicine.medscape. Millikan KW. Sarcomas of the soft tissue and bone. 8. Diunduh dari: http://emedicine. Ed 3. 2. Rosenberg S. Prasetyono TOH. editor. Rasjad C. Surgical Oncology: An Algorithmic Approach. Dalam: Brunicardi FC. Ed 7. Dalam: Enzinger and Weiss's Soft Tissue Tumors. Ed 8. h. Benign and malignant soft tissur tumors workup. Ed 7. 874-80. Karnadihardja W. 2003. 2012 [diakses 2012 Desember 7]. editor. Lawrence T. Hunter JG. Brennan MF. Delman KA. Fuhrman G. 2012 [diakses 2012 Desember 7]. [Online]. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Maki RG. Berger D. Dunn DL. ANdersen DK. MD Anderson Surgical Oncology Handbook [monograf dalam CD-ROM]. Pollock RE. Dalam: DeVita V. Dalam: Saclarides TJ. Dalam: Robbin's and Cotran's Pathologic Basis of Disease [monograf dalam CD-ROM]. 2006. Evers BM. Cormier JN. Rudiman R. Soft tissue sarcomas. Dalam: Feig B. Dalam: Sjamsuhidajat R. New York: McGraw-Hill. Cormier JN.com/article/1253816-workup#showall. Jakarta: EGC. Yurianto H. General considerations. Robbins SL. Kumar V. New York: Springer. Buku Ajar Patologi Robbins. Ed 18. Singer S. 5. editor. editor. Pollock RE. Roeshadi D. Shidham VB. Godella CV. Brennan MF. Philadelphia: Saunders. 4. Hadi SA. 2008. editor. 19 .medscape. 2004. 2008. 395-406. Devita. 2008. Abbas AK. Singer S. Schwartz's Principle of Surgery [monograf dalam CD-ROM]. editor. editor. 2007. New York: Lippincott Williams & Wilkins. Weiss SW. Billiar TR. Hellman & Rosenberg's Cancer: Principles & Practice of Oncology [monograf dalam CDROM]. Kumar VR. h. [Online]. 6. Soft tissue sarcomas. editor. Soft tissue tumors and tumor-like lesions. 2004. Goldblum JR. Ferdiansyah . h. Tumor jaringan lunak. Soft tissue and bone sarcoma. Sistem muskuloskeletal. O'Sullivan B. 3. Mattox KL.com/article/1253816-overview. 1-13.. Fausto N. 9. 10. 7. St. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery [monograf dalam CD-ROM]. Cotran RS. Ed 4. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-de Jong. 5th ed. Reksoprodjo S. Dalam: Kumar V. Labow DM. et al.DAFTAR PUSTAKA 1. Burns DK. Louis: Mosby. 11. Dalam: Beauchamp RD. New York: Saunders.. Benign and malignant soft tissue tumors. Extremity soft tissue sarcoma. Shidham VB.

2001.Jakarta: EGC. Ed 3. 1033-7. Tardy ME. 12. Medina JE.. et al. h. 20 . Calhoun KH. Dalam: Byron J. Neck dissection. Johnson JT. 2007. editor. Pillsbury HC. Head and Neck Surgery Otolaringology. Healy GB. New York: Lippincott Williams & Wilkins.