BAB I

PENDAHULUAN Berbagai penyakit dapat menyerang susunan saraf pusat. Salah satunya adalah peradangan pada selaput otak, yang sering disebut sebagai meningitis. Meningitis merupakan penyakit susunan saraf pusat yang dapat menyerang semua orang. Bayi, anak-anak, dan dewasa muda merupakan golongan usia yang mempunyai resiko tinggi untuk terkena meningitis. Di Inggris, dilaporkan bahwa 3000 orang terkena meningitis setiap tahunnya, baik dewasa maupun anak-anak. Dilaporkan juga bahwa satu dari sepuluh orang yang menderita meningitis akan meninggal, dan sisanya akan sembuh dengan meninggalkan kecacatan.(3) Berbagai faktor dapat menyebabkan terjadinya meningitis, diantaranya infeksi virus, bakteri, dan jamur. Sebab lain adalah akibat trauma, kanker, dan obat-obatan tertentu. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai salah satu meningitis yang disebabkan oleh bakteri, yakni meningitis tuberkulosis. (3) Pengetahuan yang benar mengenai meningitis tuberkulosis dapat membantu untuk mengurangi angka kematian penderita akibat meningitis, mengingat bahwa insidensi kematian akibat meningitis masih cukup tinggi. (3)

1|Page

sendi. spesies (4. dkk. seperti perikardium. Selain Mycobacterium tuberkulosis. mempunyai sifat tahan asam. dapat hidup selama berminggu-minggu dalam keadaan kering. kulit. INSIDENSI Tuberkulosis yang menyerang SSP (Sistem Saraf Pusat) ditemukan dalam tiga bentuk. tulang. Rahajoe. serta lambat bermultiplikasi (setiap 15 sampai 20 jam). 2004). Ketiganya sering ditemukan di negara endemis TB. dengan kasus terbanyak berupa meningitis tuberkulosis. Angka kejadian tertinggi dijumpai pada anak umur 6 bulan sampai dengan 4 atau 6 tahun. meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan karena morbiditas tuberkulosis pada anak masih tinggi. tuberkuloma. yakni meningitis.3% 2|Page . Meningitis tuberkulosis menyerang 0. usus.. termasuk bayi dan anak kecil dengan kekebalan alamiah yang masih rendah. et al.Mycobacterium africanum. Bakteri ini merupakan lainnya yang juga salah satu jenis dapat menimbulkan bakteri yang tuberkulosis bersifat intracellular pathogen pada hewan dan manusia. bovis.BAB II MENINGITIS TUBERKULOSIS DEFINISI Meningitis tuberkulosis merupakan peradangan pada selaput otak (meningen) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Infeksi primer muncul di paru-paru dan dapat menyebar secara limfogen dan hematogen ke berbagai daerah tubuh di luar paru. (8) Mycobacterium tuberkulosis merupakan bakteri berbentuk batang pleomorfik gram positif. 2007) Di Indonesia. dan araknoiditis spinalis. hampir tidak pernah ditemukan pada umur dibawah 3 bulan.4 – 3 μ. Penyakit ini dapat saja menyerang semua usia. dan selaput otak (Kliegman. Di Amerika Serikat yang bukan merupakan negara endemis tuberkulosis. meningitis tuberkulosis meliputi 1% dari semua kasus tuberkulosis (Nastiti N.8) adalah Mycobacterium. dan Mycobacterium microti. jarang ditemukan pada umur dibawah 6 bulan. Penyakit ini merupakan salah satu bentuk komplikasi yang sering muncul pada penyakit tuberkulosis paru. berukuran 0.

Pada usia dewasa normal CSS diproduksi 500 cc dan diabsorpsi oleh villi 150 cc. ANATOMI MENINGEN Meningen adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang .11) • Durameter Lapisan paling luar.berupa serabut dan berwarna abu-abu. berupa dinding yang tipis. • Piameter Membran yang paling dalam. yaitu Piamater.memran yang bersifat tipis dan lembut ini menyerupai sarang laba-laba.anak yang menderita tuberkulosis yang tidak diobati (Kliegman. oleh lkarena itu disebut arakhnoid. 2005).tidak elastis. arakhnoid dan duramater. (10.transparan.Piameter berhubungan 3|Page . et al. Meningen terdiri dari 3 lapisan. Membran ini berwarna putih karena tidak dialiri darah. yang mengabsorpsi CSS.tebal. 2004). batang otak dan medula spinalis.melindungi struktur halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan serebro spinal). Pada dinding arachnoid terdapat flexus khoroid yang bertanggung jawab memproduksi cairan serebro spinal (CSS). Poesponegoro dkk. Bagian pemisah dura: falx serebri yang memisahkan kedua hemisfer di bagian longitudinal dan tentorium yang merupakan lipatan dari dura yang membentuk jaring-jaring membran yang kuat. hanya 18% pasien yang akan kembali normal secara neurologis dan intelektual (Hardiono D.menutup otak dan medula spinalis . memperkecil benturan atau getaran. Meningen terdiri dari jarningan ikat berupa membran yang menyelubungi seluruh permukaan otak. Sifat durameter liat.yang menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah otak. • Arachnoid Merupakan membran bagian tengah . Angka kematian pada meningitis tuberkulosis berkisar antara 10-20%. Sebagian besar memberikan gejala sisa. Membran ini mempunyai bentuk seperti jari tangan yang disebut arakhnoid villi. Jaring ini mndukung hemisfer dan memisahkan hemisfer dengan bagian bawah otak (fossa posterior).

(10) PATOFISIOLOGI Meningitis tuberkulosis pada umumnya muncul sebagai penyebaran tuberkulosis primer. terus ke kaudal sampai ke ujung medula spinalis setinggi korpus vertebra.dengan arakhnoid melalui struktur jaringan ikat yang disebut trabekel. Dengan adanya “kedua bantalan air” ini. Menghantarkan ke jaringan sistem persayarafan pusat. Cairan ini disalurkan oleh plexus khoroid ke dalam ventrikel-vntrikel yang ada dalam otak. juga melekat pada permukaan batang otak dan medula spinalis.. FISIOLOGI CAIRAN SEREBROSPINAL (CSF) Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid . kelenjar limfe leher (2. 4|Page . melindungi otak dan sumsum tulang belakang.8%). namun dapat juga ditemukan di abdomen (22. kuman masuk ke sirkulasi darah melalui duktus torasikus dan kelenjar limfe regional. Cairan ini bersifat alkali. Biasanya fokus infeksi primer ada di paru-paru. cairan itu masuk kedalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga ke dalam ruang subarakhnoid melalui celah-celah yang terdapat pada vntrikel ke empat. maka sistem persyarafan terlindung baik. Fungsi dari cairan ini bekerja sebagai buffer. Dari fokus primer. Setelah cairan ini dapat melintasi ruangan diseluruh permukaan sumsum tulang belakang hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi arakhnoid (granulatio arfachnoidalis) pada sinus sagitalis superior. Tekanannya 60-140 mm air. dan cairan sebelah luar yang berada dalam ruang subarakhnoid. Oleh karena itu susunan ini maka bagian saraf otak dan sumsum tulang belakang yang sangat halus.2%). Piameter merupakan selaput tipis yang melekat pada permukaan otak yang mengikuti setiap lekukan-lekukan pada sulkus-sulkus dan fisura-fisura.1%) dan tidak ditemukan adanya fokus primer (1. 1999). bening mirip plasma. dan dapat menimbulkan infeksi berat berupa tuberkulosis milier atau hanya menimbulkan beberapa fokus metastase yang biasanya tenang (Darto Saharso. terletak diantara dua lapisan cairan-lapisan cairan sebelah dalam yang merupakan isi dari ventrikel-ventrikel otak dan saluran sumsum tulang belakang.

Vaskulitis dengan trombosis dan infark pembuluh darah kortikomeningeal yang melintasi membran basalis atau berada di dalam parenkim otak. Araknoiditis proliferatif Proses ini terutama terjadi di basal otak. (5) Kuman kemudian langsung masuk ke ruang subarachnoid atau ventrikel. Meningitis tuberkulosis juga dapat merupakan reaktivasi dari fokus tuberkulosis (TB pasca primer). kemudian III dan IV. (5) 2. 1999). dkk.. berupa pembentukan massa fibrotik yang melibatkan saraf kranialis dan kemudian menembus pembuluh darah. Selanjutnya meningitis yang menyeluruh akan berkembang. berwarna kuning kehijauan di basis otak. Pada stadium lebih lanjut.. Bila mengenai saraf kranial II. 1999. maka akan langsung menyebabkan penyakit tuberkulosis primer seperti TB milier dan meningitis tuberkulosis. Terjadinya meningitis tuberkulosis diawali oleh pembentukan tuberkel di otak. Bila mengenai saraf kranial VIII akan menyebabkan gangguan pendengaran yang sifatnya permanen (Darto Saharso. sehingga akan timbul gejala diplopia dan strabismus. eksudat akan mengalami organisasi dan mungkin mengeras serta mengalami kalsifikasi. Salah satu pencetus proses reaktivasi tersebut adalah trauma kepala (Nastiti N. akibat penyebaran kuman secara hematogen selama masa inkubasi infeksi primer atau selama perjalanan tuberkulosis kronik walaupun jarang (Darto Saharso. Adapun saraf kranialis yang terkena akan mengalami paralisis. Reaksi radang akut di leptomening ini ditandai dengan adanya eksudat gelatin. Saraf yang paling sering terkena adalah saraf kranial VI. eksudat terdiri dari limfosit dan sel plasma dengan nekrosis perkijuan. 2007). Nastiti N. ada tiga keadaaan yang terjadi pada meningitis tuberkulosis: 1.. Rahajoe. maka kiasma optikum menjadi iskemik dan timbul gejala penglihatan kabur bahkan bisa buta bila terjadi atrofi papil saraf kranial II. Apabila infark 5|Page . Hal ini menyebabkan timbulnya radang obstruksi dan selanjutnya infark serebri. Secara mikroskopik. Rahajoe. 2007). Secara patologis. Tumpahan protein kuman tuberkulosis ke ruang subarakhnoid akan merangsang reaksi hipersensitivitas yang hebat dan selanjutnya akan menyebabkan reaksi radang yang paling banyak terjadi di basal otak. dkk. selaput otak atau medula spinalis. Bila penyebaran hematogen terjadi dalam jumlah besar. Kelainan inilah yang meninggalkan sekuele neurologis bila pasien selamat.Pendapat yang sekarang dapat diterima dikemukakan oleh Rich tahun 1951.

berat dan lamanya sakit. 2. Pada tunika media tidak tampak kelainan.terjadi di daerah sekitar arteri cerebri media atau arteri karotis interna. 2007). disertai perkijuan dari tuberkel. dan arteri karotis interna. Hidrosefalus komunikans akibat perluasan inflamasi ke sisterna basalis yang akan mengganggu sirkulasi dan resorpsi cairan serebrospinalis (Darto Saharso. Nastiti N. 1999. et al. dengan eksudat gelatinosa di ruang subarakhnoid 4. respon imun pasien. yaitu: 1.. 1999. Rahajoe.. Disseminated milliary tubercles. Focal caseous plaques. degenerasi. ditemukan adanya perdarahan. proliferasi. virulensi dan jumlah kuman juga merupakan faktor yang mempengaruhi. 3. lama dan respon pengobatan yang diberikan. maka akan timbul hemiparesis dan apabila infarknya bilateral akan terjadi quadriparesis. proliferasi tunika intima. 2007). seperti pada tuberkulosis milier. Meningitis proliferatif • Terlokalisasi. Gambaran patologi yang terjadi pada meningitis tuberkulosis ada 4 tipe. dan perkijuan. Mekanisme terjadinya flebitis tidak jelas. biasanya di korteks • Difus. Gambaran patologi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Vena selaput otak dapat mengalami flebitis dengan derajat yang bervariasi dan menyebabkan trombosis serta oklusi sebagian atau total. Kelainan pada tunika intima berupa infiltrasi subendotel. yaitu umur.. dkk. hanya infiltrasi sel yang ringan dan kadang perubahan fibrinoid.. (5) 3. dan degenerasi. diduga hipersensitivitas tipe lambat menyebabkan infiltrasi sel mononuklear dan perubahan fibrin (Darto Saharso. 2004). Pada tunika adventisia ditemukan adanya infiltrasi sel dengan atau tanpa pembentukan tuberkel dan nekrosis perkijuan. (5) Adapun perlengketan yang terjadi dalam kanalis sentralis medulla spinalis akan menyebabkan spinal block dan paraplegia (Kliegman. Nastiti N. Acute inflammatory caseous meningitis • Terlokalisasi. Yang sering terkena adalah arteri cerebri media dan anterior serta cabang-cabangnya. 6|Page . pada selaput otak • Difus dengan gambaran tidak jelas Gambaran patologi ini tidak terpisah-pisah dan mungkin terjadi bersamaan pada setiap pasien. dkk. Pada pemeriksaan histologis arteri yang terkena. Rahajoe. contohnya tuberkuloma yang sering menyebabkan meningitis yang difus.

apatis . letargi.nyeri perut . irritable dan ubun. muntah . • Ditandai oleh adanya kelainan neurologik.nafsu makan menurun (anorexia) . tanpa kelainan neurologis • Gejala: .mual. Stadium I (stadium inisial / stadium non spesifik / fase prodromal) • Prodromal. refleks Kernig dan Brudzinski (+) kecuali pada bayi.rasa lemah . • Jika sebuah tuberkel pecah ke dalam ruang sub arachnoid maka stadium I akan berlangsung singkat sehingga sering terabaikan dan akan langsung masuk ke stadium III.demam (tidak terlalu tinggi) . Kejang bersifat umum dan didapatkan sekitar 10-15%. • Pemeriksaan kaku kuduk (+). apatis. mungkin saja tanpa disertai demam dan timbul kejang intermiten. akibat eksudat yang terbentuk diatas lengkung serebri.MANIFESTASI KLINIS Menurut Lincoln.tidur terganggu . berlangsung 1 .sakit kepala . sedangkan pada anak yang lebih tua memperlihatkan perubahan suasana hati yang mendadak.konstipasi . prestasi sekolah menurun. 2.ubun menonjol merupakan manifestasi yang sering ditemukan. 7|Page . manifestasi klinis dari meningitis tuberculosa dikelompokkan dalam tiga stadium: 1. timbul perlahan.lahan.3 minggu • Biasanya gejalanya tidak khas. Stadium II (stadium transisional / fase meningitik) • Pada fase ini terjadi rangsangan pada selaput otak / meningen.irritable • Pada bayi.

• Dengan berjalannya waktu. iritabel dan muntah adalah gejala utamanya.Akibat rangsang meningen  sakit kepala berat dan muntah (keluhan utama) . Sedangkan pada anak yang lebih besar. berlangsung selama ± 2-3 minggu 8|Page . papiledema ringan serta adanya tuberkel di koroid. • Pada anak berusia di bawah 3 tahun. • Pada fase ini. Stadium III (koma / fase paralitik) • Terjadi percepatan penyakit. sedangkan sakit kepala jarang dikeluhkan. eksudat yang mengalami organisasi akan mengakibatkan kelumpuhan saraf kranial dan hidrosefalus. terbentuk infiltrat (massa jelly berwarna abu) di dasar otak  menyebabkan gangguan otak / batang otak.Akibat peradangan / penyempitan arteri di otak:        disorientasi bingung kejang tremor hemibalismus / hemikorea hemiparesis / quadriparesis penurunan kesadaran . quadriparesis dapat terjadi akibat infark bilateral atau edema otak yang berat. IV. dan kesadarannya makin menurun.Gangguan otak / batang otak / gangguan saraf kranial: Saraf kranial yang sering terkena adalah saraf otak III. • Gejala: . VI. Vaskulitis menyebabkan gangguan fokal. dan VII Tanda:  strabismus  diplopia  ptosis  reaksi pupil lambat  gangguan penglihatan kabur 3. sakit kepala adalah keluhan utamanya. gangguan kesadaran. saraf kranial dan kadang medulla spinalis. Hemiparesis yang timbul disebabkan karena infark/ iskemia.

mengantuk. adanya riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis (baik yang menunjukkan gejala. dkk. tetapi bila tidak diobati biasanya berlangsung 3 minggu sebelum pasien meninggal.nadi dan pernafasan menjadi tidak teratur . opistotonus. 1999. Hidrosefalus dapat terjadi pada kira-kira 2/3 pasien. hipotermia. 2007).hiperglikemia . 2004.. pasien dapat meninggal. stupor.akhirnya. .. gejalanya mungkin minimalis dan dapat menyerupai sepsis. adanya gambaran klinis yang ditemukan pada penderita (sesuai dengan stadium meningitis tuberkulosis). otot ekstensor menjadi kaku dan spasme.• • Gangguan fungsi otak semakin jelas. ikterus. • Gejala: . koma. et al. pupil melebar dan tidak bereaksi sama sekali.3% kasus) 9|Page ..pernapasan irregular .edema papil . Terjadi akibat infark batang otak akibat lesi pembuluh darah atau strangulasi oleh eksudat yang mengalami organisasi. diare.hiperpireksia .demam tinggi .kesadaran makin menurun. berupa bayi malas minum. Dikatakan akut bila 3 stadium tersebut berlangsung selama 1 minggu. Kliegman. letargi. dan ubun-ubun besar menonjol (pada 33. Rahajoe. Tiga stadium tersebut di atas biasanya tidak jelas batasnya antara satu dengan yang lain. irritable dan apatik. Hal ini terjadi apabila pengobatan terlambat atau tidak adekuat (Darto Saharso. muntah. distress pernafasan. Pada neonatus. (5) KRITERIA DIAGNOSIS • Dari anamnesis: adanya riwayat kejang atau penurunan kesadaran (tergantung stadium penyakit). terutama yang penyakitnya telah berlangsung lebih dari 3 minggu. Nastiti N. maupun yang asimptomatik). kejang (pada 40% kasus).

reaksi silang dengan Mycobacterium atypic atau setelah vaksinasi BCG.peningkatan laju endap darah pada 80% kasus (Darto Saharso. • Dari hasil pemeriksaan laboratorium o Darah: . 2005). 3.. disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). (2) Berikut ini adalah interpretasi hasil uji mantoux : 1. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah bagian depan.anemia ringan . Pada anak. Pada uji mantoux.. tetapi hingga saat ini cara mantoux lebih sering dilakukan. 10 | P a g e . : 3–9 mm → uji mantoux meragukan.or. Tanda rangsang meningen seperti kaku kuduk biasanya tidak ditemukan pada anak berusia kurang dari 2 tahun (Herry Garna dan Nataprawira.. dilakukan penyuntikan PPD (Purified Protein Derivative) dari kuman Mycobacterium tuberculosis. Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter daripembengkakan (indurasi) yang terjadi. uji tuberkulin merupakan pemeriksaan screening tuberkulosis yang paling bermanfaat. Arti klinis : tidak ada infeksiMycobacterium tuberculosa. uji tuberkulin dapat negatif. Pada 40% kasus.. Pembengkakan (Indurasi) 2. Hal ini bisa karena kesalahan teknik.id. 2005). Herry Garna dan Nataprawira. Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin. 2008).• Dari pemeriksaan fisik: tergantung stadium penyakit. Pembengkakan (Indurasi) : ≥ 10 mm → uji mantoux positif. maka anak dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (tbcindonesia. • Uji tuberkulin positif. 1999. Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas uji tuberkulin pada anak dapat mencapai 90%. Arti klinis :sedang atau pernah terinfeksi Mycobacteriumtuberculosa − Bila dalam penyuntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi ≥ 5 mm. Pembengkakan (Indurasi) : 0–4 mm → uji mantoux negatif.

2005. bila dibiarkan mengendap akan membentuk batang-batang.Kadar klorida normal pada stadium awal. . sel polimorfonuklear dan limfosit sama banyak jumlahnya. Kadangkadang. 2007). serta adanya dan luasnya hidrosefalus. Rahajoe. kemudian menurun . Mula-mula. Untuk mendapatkan hasil positif. 2002). 11 | P a g e .CT-scan kepala : dapat menentukan adanya dan luasnya kelainan di daerah basal.Jumlah sel: 100 – 500 sel / μl.Pada pewarnaan Gram dan kultur liquor cerebrospinalis dapat ditemukan kuman (Darto Suharso. dkk. Terapi dapat langsung diberikan tanpa menunggu hasil pemeriksaan pungsi lumbal kedua dan ketiga (Nastiti N.Warna: jernih (khas). .. . 1999). Adapun kadar glukosa normal pada liquor cerebrospinalis adalah ±60% dari kadar glukosa darah. Nastiti N. • Dari pemeriksaan radiologi: .. Dapat juga berwarna xanhtochrom bila penyakitnya telah berlangsung lama dan ada hambatan di medulla spinalis.Pemeriksaan EEG (electroencephalography) menunjukkan kelainan kira-kira pada 80% kasus berupa kelainan difus atau fokal (Darto Suharso. atau kadang-kadang sel polimorfonuklear lebih banyak (pleositosis mononuklear).Kadar glukosa: biasanya menurun (<>liquor cerebrospinalis dikenal sebagai hipoglikorazia.Foto toraks : dapat menunjukkan adanya gambaran tuberkulosis. Herry Garna dan Nataprawira. Rahajoe.o Cairan otak dan tulang belakang / liquor cerebrospinalis (dengan cara pungsi lumbal) : .Kadar protein: meningkat (dapat lebih dari 200 mg / mm3). . Hal ini menyebabkan liquor cerebrospinalis dapat berwarna xanthochrom dan pada permukaan dapat tampak sarang laba-laba ataupun bekuan yang menunjukkan tingginya kadar fibrinogen (Iskandar Japardi. . dianjurkan untuk melakukan pungsi lumbal selama 3 hari berturut-turut.. 2007). 1999. dkk... jumlah sel pada fase akut dapat mencapai 1000 / mm3. .

dkk. Terapi harus segera diberikan tanpa ditunda bila ada kecurigaan klinis ke arah meningitis tuberkulosis (Darto Suharso. jaringan kaseosa. pirazinamid. Isoniazid yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet 100 mg dan 300 mg. Seiring berkembangnya penyakit. termasuk liquor cerebrospinalis. yakni isoniazid dan rifampisin hingga 12 bulan. • Terapi dilanjutkan dengan 2 obat anti tuberkulosis. Isoniazid diberikan secara oral. yakni isoniazid. Rahajoe. 2007). dan penurunan tekanan intrakranial. cairan pleura. koreksi gangguan cairan dan elektrolit. Rahajoe. tampak hidrosefalus komunikans yang disertai dengan tanda-tanda edema otak atau iskemia fokal yang masih dini. dan etambutol. (1. dan liquor cerebrospinalis dapat dicapai dalam waktu 1-2 jam dan menetap paling sedikit selama 6-8 jam. Obat ini efektif pada kuman intrasel dan ekstrasel.. dapat berdifusi ke dalam seluruh jaringan dan cairan tubuh. Selain itu.Gambaran dari pemeriksaan CT-scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) kepala pada pasien meningitis tuberkulosis adalah normal pada awal penyakit. Nastiti N. Berikut ini adalah keterangan mengenai obat-obat anti tuberkulosis yang digunakan pada terapi meningitis tuberkulosis: • Isoniazid Bersifat bakterisid dan bakteriostatik.5) Terapi diberikan sesuai dengan konsep baku tuberkulosis yakni: • Fase intensif selama 2 bulan dengan 4 sampai 5 obat anti tuberkulosis. sputum. dkk. dan dalam bentuk sirup 100 mg / 5 ml. rifampisin. dan memilikiadverse reaction yang rendah. gambaran yang sering ditemukan adalah enhancement di daerah basal. Isoniazid terdapat dalam air susu ibu yang mendapat isoniazid dan dapat menembus sawar 12 | P a g e . 2007). 1999. PENGOBATAN Pengobatan meningitis tuberkulosis harus tepat dan adekuat. biasanya di daerah korteks serebri atau talamus (Nastiti N. Konsentrasi puncak di darah. dosis maksimal 300 mg / hari dan diberikan dalam satu kali pemberian... termasuk kemoterapi yang sesuai. cairan asites. Dosis harian yang biasa diberikan adalah 5-15 mg / kgBB / hari. streptomisin. dapat juga ditemukan tuberkuloma yang silent.

Untuk mencegah timbulnya neuritis perifer. dan trombositopenia. Rahajoe. dosis maksimalmya 600 mg per hari dengan dosis satu kali pemberian per hari. Rifampisin diabsorbsi dengan baik melalui sistem gastrointestinal pada saat perut kosong (1 jam sebelum makan) dan kadar serum puncak dicapai dalam 2 jam. iritasi saluran cerna. Efek samping pirazinamid adalah hepatotoksis. Keduanya jarang terjadi pada anak.. dengan dosis 10-20 mg / kgBB / hari. Pirazinamid diberikan pada fase intensif karena pirazinamid sangat baik diberikan pada saat suasana asam yang timbul akibat jumlah kuman yang masih sangat banyak. Rifampisin diberikan dalam bentuk oral. yakni hepatotoksik dan neuritis perifer. dkk. anoreksia.darah plasenta. hepatotoksik. dan 450 mg (Nastiti N. Obat ini bersifat bakterisid hanya pada intrasel dan suasana asam dan diresorbsi baik pada saluran cerna. Kadar serum puncak 45 μg / ml tercapai dalam waktu 2 jam. dapat diberikan piridoksin dengan dosis 25-50 mg satu kali sehari. Dosis pirazinamid 15-30 mg / kgBB / hari dengan dosis maksimal 2 gram / hari. 300 mg.. (1. berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh.5) • Pirazinamid Pirazinamid merupakan derivat dari nikotinamid. Efek samping rifampisin adalah perubahan warna urin. dan air mata menjadi warma oranye kemerahan. 2007). (1. Rifampisin umumya tersedia dalam bentuk kapsul 150 mg. sputum. dapat memasuki semua jaringan dan dapat membunuh kuman semidorman yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Isoniazid mempunyai dua efek toksik utama. Distribusi rifampisin ke dalam liquor cerebrospinalis lebih baik pada keadaan selaput otak yang sedang mengalami peradangan daripada keadaan normal. ludah. biasanya lebih banyak terjadi pada pasien dewasa dengan frekuensi yang meningkat dengan bertambahnya usia. dosis rifampisin tidak boleh melebihi 15 mg / kgBB / hari dan dosis isoniazid 10 mg/ kgBB / hari. Rahajoe. Jika diberikan bersamaan dengan isoniazid. 2007). keringat. atau 10 mg piridoksin setiap 100 mg isoniazid (Nastiti N.5) • Rifampisin Rifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan ekstrasel. Efek samping lainnya adalah mual dan muntah. termasuk liquor cerebrospinalis. termasuk liquor cerebrospinalis. dkk. Rifampisin didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh. dan 13 | P a g e .

Kemungkinan toksisitas utama etambutol adalah neuritis 14 | P a g e . Penggunaan utamanya saat ini adalah jika terdapat kecurigaan resistensi awal terhadap isoniazid atau jika anak menderita tuberkulosis berat. demikian juga pada keadaan meningitis. Etambutol tersedia dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada nervus kranial VIII yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran. Saat ini streptomisin jarang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis. Streptomisin dapat menembus plasenta. dkk.5) • Etambutol Etambutol memiliki aktivitas bakteriostatik. (1.hiperurisemia (jarang pada anak-anak). 2007).5) • Streptomisin Streptomisin bersifat bakterisid dan bakteriostatik terhadap kuman ekstraselular pada keadaan basal atau netral. dan kadar puncak 45-50 μg / ml dalam waktu 1-2 jam. sehingga perlu berhati-hati dalam menentukan dosis pada wanita hamil karena dapat merusak saraf pendengaran janin. Dosis etambutol adalah 15-20 mg / kgBB / hari. yaitu 30% bayi akan menderita tuli berat (Nastiti N. obat ini dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lain.. Streptomisin diberikan secara intramuskular dengan dosis 15-40 mg / kgBB / hari. (1. 2007). Kadar serum puncak 5 μg dalam waktu 24 jam. Streptomisin sangat baik melewati selaput otak yang meradang.. Etambutol ditoleransi dengan baik oleh dewasa dan anak-anak pada pemberian oral dengan dosis satu atau dua kali sehari. dkk. Pirazinamid tersedia dalam bentuk tablet 500 mg (Nastiti N. sehingga tidak efektif untuk membunuh kuman intraselular. tetapi dapat bersifat baktersid jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. tetapi penggunaannya penting pada pengobatan fase intensif meningitis tuberkulosis dan MDR-TB (multi drug resistent-tuberculosis). Rahajoe. Rahajoe. Streptomisin berdifusi dengan baik pada jaringan dan cairan pleura dan diekskresi melalui ginjal.25 gram / hari dengan dosis tunggal. tetapi tidak berpenetrasi baik pada SSP. tetapi tidak dapat melewati selaput otak yang tidak meradang. maksimal 1 gram / hari. maksimal 1. Selain itu. berdasarkan pengalaman. dengan gejala berupa telinga berdengung (tinismus) dan pusing.

Rekomendasi WHO yang terakhir mengenai pelaksanaan tuberkulosis pada anak.. Etambutol dapat diberikan pada anak dengan TB berat dan kecurigaan TB resisten-obat jika obat-obat lainnya tidak tersedia atau tidak dapat digunakan (Nastiti N. Gangguan intelektual terjadi pada kira-kira 2/3 pasien yang hidup. hormon pertumbuhan. paraplegia.5) Bukti klinis mendukung penggunaan steroid pada meningitis tuberkulosis sebagai terapi ajuvan. Pada pasien ini biasanya mempunyai kelainan EEG yang berhubungan dengan kelainan neurologis menetap seperti kejang dan mental subnormal. pasien harus tirah baring total (Nastiti N. sehingga seringkali penggunaannya dihindari pada anak yang belum dapat diperiksa tajam penglihatannya. dan akan terjadi prekoks seksual. (1. Seperlima pasien yang sembuh mempunyai kelainan kelenjar pituitari dan hipotalamus. 2007). Rahajoe. kejang. ataksia. PROGNOSIS 15 | P a g e . kortikotropin dan gonadotropin (Darto Suharso. Sekuele terbanyak adalah paresis spastik. dan spastisitas. Gangguan pendengaran dan keseimbangan disebabkan oleh obat streptomisin atau oleh penyakitnya sendiri. etambutol dianjurkan penggunaannya pada anak dengan dosis 15-25 mg / kgBB / hari.5) KOMPLIKASI Komplikasi yang paling menonjol dari meningitis tuberkulosis adalah gejala sisa neurologis (sekuele). 1999). dan defisiensi ADH. setelah itu dilakukan penurunan dosis secara bertahap (tappering off) selama 4-6 minggu sesuai dengan lamanya pemberian regimen. Penelitian di FKUI menunjukkan bahwa pemberian etambutol dengan dosis 15-25 mg / kgBB / hari tidak menimbulkan kejadian neuritis optika pada pasien yang dipantau hingga 10 tahun pasca pengobatan. Kalsifikasi intrakranial terjadi pada kira-kira 1/3 pasien yang sembuh. dan gangguan sensori ekstremitas..5) Pada bulan pertama pengobatan. hiperprolaktinemia. gangguan ringan pada koordinasi. Steroid yang dipakai adalah prednison dengan dosis 1-2 mg / kgBB / hari selama 4-6 minggu. dkk. Sekuele minor dapat berupa kelainan saraf otak. (1. nistagmus. juga dapat menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati edema otak.optik dan buta warna merah-hijau. Penggunaan steroid selain sebagai anti inflamasi. Rahajoe. dkk. (1. Komplikasi pada mata dapat berupa atrofi optik dan kebutaan. 2007).

Semakin lanjut tahapan klinisnya.Prognosis pasien berbanding lurus dengan tahapan klinis saat pasien didiagnosis dan diterapi. Apabila tidak diobati sama sekali. Pasien yang berumur kurang dari 3 tahun mempunyai prognosis yang lebih buruk daripada pasien yang lebih tua usianya (Darto Suharso. 1999). pasien meningitis tuberkulosis dapat meninggal dunia. 16 | P a g e . semakin buruk prognosisnya. Prognosis juga tergantung pada umur pasien.

4. Dalam : Garna. 2007. Unit Kerja Pulmonologi PP IDAI. 3. Access on Ogos 19 th.html.htm. Access on: Ogos 19 th. Access at : http://www. Meningitis Research Foundation. 5. Cairan serebrospinal. 2011. Heda Melinda. 2005. 11. Access at : http://en. 2008.medicastore. Access on Ogos 28th. Chaerulfatah.meningitis. 2011. 2011. halaman 363. Access at: http://id. Garna. Wikipedia. Kartasasmita CB. Herry. Alex. Access on Ogos 18 th.pdf. Nataprawira.wikipedia. Meningitis. 2011. 6. MS. Djatnika.microbiologybytes. Access at: http://en. Access on Ogos 19th. p. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. halaman 54-56. 221-229. Wikipedia. Azhali. Infeksi Penyakit Tropik. Basir D. Herry. 2011. Dr Iskandar Jupardi. 7.. 2011. 1999. Access at: http://repository. 2008. Buku Ajar Neurologi Anak. Access at : http://www..wikipedia. Makmuri. Access at : http://www.371. 2002. Mycobacterium Tuberculosis. Meningitis. 2008. 2011.com/tbc/uji_tbc. 2008. 8. Jakarta. 2008. Access at: http://en. Soetomenggolo T S. 2011. Tuberculous Meningitis. Bandung: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD. Wikipedia. 10.DAFTAR PUSTAKA 1. IDAI. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak.. Rahajoe N.usu. Ismael S. 2.com/video/Mtuberculosis. 9.org/. Access on Ogos 28th .org/wiki/Mycobacterium_tuberculosis.. Access on Ogos 18 th. Shvoong. Mediastore.ac.org/wiki/Meningitis.org/wiki/Tuberculous_meningitis. Uji Tuberkulin Dan Klasifikasi Tuberculosis . Jakarta. Mycobacterium tuberculosis. 17 | P a g e . Setiabudi.com/medicine-andhealth/pathology/2165061-meningitis/. Access on Ogos 19 th.shvoong. 2011. Microbiology Bytes.id/bitstream/123456789/1989/1/bedah-iskandar %20japardi5. Understand Meningits And Septicaemia .wikipedia.

18 | P a g e .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful