You are on page 1of 14

MAKALAH TERJEMAHAN

ANTIBIOTIK PADA BUDIDAYA IKAN SALMON Apakah Penggunaannya Membenarkan Resiko ?


Diterjemahkan Oleh : ROMI NOVRIADI BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM Diterjemahkan dari :

WHITE PAPER NO.2 ANTIBIOTICS IN SALMONID AQUACULTURE : Does Their Use Justify The Risks ?
I. Pendahuluan 1.1 Antibiotik Pada Budidaya Perikanan Antibiotik, baik alami maupun buatan, telah dengan sukses digunakan selama bebepa dekade didalam budidaya perikanan untuk mengendalikan penyakit bakterial. Ada sebuah kesepakatan umum, bagaimanapun, bahwa penggunaan antibiotik untuk tujuan ini sebaiknya dilakukan dalam konsentrasi terkecil hal ini dikarnakan antibiotik memiliki potensi untuk menyebabkan dampak yang serius. Bahaya yang ditimbulkan dengan pendekatan seperti ini adalah didalam meminimalisasi penggunaan antibiotik, pengobatan untuk mendeteksi infeksi sub-klinis dapat ditunda atau bahkan ditahan, sehingga mendorong terjangkitnya penyakit yang mungkin dapat dihindarkan. Mengingat dibawah penggunaan antibiotik pada budidaya perikanan dapat menimbulkan terjangkitnya penyakit, penggunaan yang lebih atau kesalahan dalam penggunaan dapat mengakibatkan dampak yang berbahaya bagi lingkungan. Tujuan dari makalah ini adalah untuk meringkas literature yang sudah ada tentang penggunaan antibiotik pada budidaya perikanan dengan sasaran untuk membantu para pengelola dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam menginformasikan kebijakan. Ruang lingkup spesifik yang ada pada tinjauan literature dan makalah ini adalah : Mekanisme yang terlibat terhadap perkembangan resistensi antibiotika. Resiko yang terjadi pada manusia dan kesehatan ikan sebagai akibat penggunaan antibiotika pada budidaya ikan. Dampak potensial terhadap lingkungan akibat penggunaan antibiotika pada budidaya ikan. Rekomendasi untuk meminimalisasi dampak bahaya terhadap penggunaan antibiotika pada budidaya perikanan.

MAKALAH TERJEMAHAN
1.2 Metoda Survey Makalah ini yang paling utama terkait dengan penggunaan antibiotika selama pemeliharaan ikan air tawar salmon dan steelhead di wilayah pasifik barat laut. Di wilayah ini, antibiotic yang disetujui penggunaannya saat ini adalah Oxytetracycline (OTC) dan Romet, bahan potensial obat sulfa (campuran belerang). Antibiotik lainnya, seperti Erythromycin dan florfenicol, juga digunakan dibawah izin dari dokter hewan. Untuk memperoleh sebuah pengetahuan yang lebih mendalam tentang konsekuensi penggunaan antibiotika pada budidaya di air tawar yang dingin, literature yang telah dipublikasikan dan berkaitan dengan penggunaan antibiotika pada budidaya air tawar dan budidaya air laut telah di tinjau. 2. Penggunaan Antibiotika Pada Budidaya Ikan 2.1 Mekanisme Pengembangan Resistensi Antibiotika. Kebanyakan antibiotika yang digunakan pada budidaya ikan salmon bersifat non-mutagen. Hal ini mungkin, kemudian, bahwa pengobatan dengan antibiotika menyediakan lingkungan dimana sel dari bakteri pathogen ikan sudah mendapatkan kesempatan untuk melakukan mutasi memberikan resistensi kepada satu atau lebih antibiotika, dapat melipatgandakan jumlah dimana mereka menjadi sel yang dominant dari keseluruhan populasi bakteri. Normalnya, sel yang seperti itu akan mengalami perpecahan menjadi bagian yang lebih kecil dari populasi sel. Bagaimanapun, Jika pengobatan antibiotika berlanjut hingga jangka yang cukup panjang atau frekuensi penggunaan yang terlalu sering, peluang untuk terciptanya resistensi terhadap antibiotika dapat terjadi. Hasil akhir menjadikan antibiotika resisten terhadap bakteri pathogen di ikan. Gen yang bertanggung jawab terhadap resistensi antibiotika dapat dipindahkan diantara bakteri itu sendiri dengan tiga cara : Memperoleh gen dari pengambilan DNA telanjang (Transformasi) Memperoleh gen melalui infeksi dengan DNA viral (Transduksi) Memperoleh gen melalui perkawinan sel ke sel (Konjugasi) Keseluruhan tiga proses tersebut dapat dilakukan untuk bakteri yang terdapat di tanah dan system perairan (Trevors, Barkay dan Bourquin 1987; Coughter dan Stewart 1989). 2.2 Resiko terhadap manusia dan kesehatan ikan akibat penggunaan antibiotika pada Budidaya ikan. 2.2.1Resiko produksi bakteri pathogen ikan yang resisten terhadap antibiotika Salah satu hal yang menjadi perhatian utama dari pengobatan ikan dengan antibiotika adalah kemungkinan untuk dihasilkannya bakteri pathogen ikan yang resisten terhadap antibiotika. Sebuah penelitian di Budidaya ikan Jepang dengan meyakinkan mendukung kesimpulan bahwa peningkatan

MAKALAH TERJEMAHAN
penggunaan antibiotika pada budidaya ikan bertanggung jawab terhadap peningkatan resistensi terhadap satu jenis atau campuran obat yang ditunjukkan oleh beberapa bakteri pathogen ikan, seperti Aeromonas salmonicida (Aoki et al. 1983; Aoki 1988). Hal yang sama juga dilaporkan terjadi di Negara lain untuk bakteri pathogen ikan lainnya akibat penggunaan antibiotik untuk pengendalian penyakit pada budidaya ikan salmon. Ketika resistensi terhadap antibiotika terjadi, keefektivan penggunaan antibiotika didalam pengobatan penyakit ikan menjadi berkurang. 2.2.2 Resiko memproduksi resistensi bakteri pathogen pada manusia terhadap antibiotika. Gen yang menyandikan resistensi terhadap obat mungkin terdapat didalam sel bakteri pathogen ikan atau sel dari jenis bakteri lainnya yang terdapat didalam ikan atau keberadaannya dilingkungan mereka. Gen ini dapat berakhir berdasarkan kepingan yang bergerak dari DNA, contohnya : Plasmids, dimana juga terdapat didalam sel yang sama.. Plasmid yang mengandung bakteri resisten dapat ditransfer ke bakteri lainnya, termasuk bakteri yang memiliki arti penting bagi kesehatan masyarakat. Bakteri penerima kemudian menjadi resisten terhadap antibiotika tertentu yang menyandikan untuk pengobatan bakteri dikarnakan pemindahan gen resisten. Gen resisten Plasmid-borne telah dipindahkan dengan cara konjugasi dari bakteri patogen ikan A.salmonicida ke Escherchia coli, sebuah bakteri yang berasal dari manusia, beberapa strain dari bakteri ini bersifat pathogen terhadap manusia (Aoki et al,1983 ; Kruse dan Sorum 1994; Adams et al, 1998). Gen resisten obat plasmid-borne juga telah ditransfer dari Bakteri pathogen ikan Vibrio anguillarum, ke bakteri penyebab penyakit chlorella pada manusia, Vibrio chlorella (Nakajima et al, 1983). Gen resistensi terhadap antibiotika plasmid-borne yang terdapat di sel dari beberapa kelompok bakteri yang diisolasi dari ikan air tawar juga membuktikan dapat ditransfer ke E.coli (Toranzo et al. 1984). 2.2.3 Resiko dan Arti penting dari menghasilkan lingkungan bakteri yang resisten terhadap antibiotika. Ikan terdiri atas banyak jenis bakteri didalam saluran pencernaan. Ketika ikan yang sakit diobati dengan antibiotika yang terkandung didalam pakan, sel non-patogen dari bakteri di saluran pencernaan dan sel dari bakteri di lingkungan dapat dating berdasarkan hubungan dengan antibiotika yang ada di tambak ikan dan limbah panti benih/Hatcherry. Jumlah sel yang mengandung gen yang menyandikan untuk resistensi dapat meningkat karena penambahan bakteri non-patogen dan lingkungan. Resikonya adalah bahwa banyak sel mungkin menyediakan diri sebagai sumber dari gen resisten yang dapat ditransfer ke bakteri pathogen ikan dan manusia dimana mereka dapat masuk karena adanya kontak.

MAKALAH TERJEMAHAN
Pengobatan pada ikan salmon dengan berbagai antibiotika (termasuk OTC) telah, faktanya, menunjukkan hasil yang signifikan terhadap peningkatan proporsi dari mikro-flora usus yang resisten terhadap antibiotika. (Austin dan Al-Zahrani 1988; Herwig, Gray dan Weston, 1997). Hal yang sama juga terjadi pada bakteri di lingkungan yang berhubungan dengan limbah yang mengandung antibiotika seperti OTC, di beberapa limbah pada beberapa tambak ikan salmon di Norwegia dan Irlandia, proporsi resisten terhadap OTC pada bakteri di lingkungan berada pada kisaran 16 sampai 26% (Nygaard et al, 1992; Kerry et al. 1994 dan 1996). Dan ini ada satu pengecualian, seluruh bakteri di lapisan bawah tambak yang mengandung limbah OTC telah dibuktikan resisten terhadap OTC (Samuelsen et al. 1992b). Sebagai perbandingan, pada wilayah yang tidak terkena dampak limbah tambak ikan salmon, jumlah bakteri yang resisten terhadap OTC sangat rendah, berada pada kisaran 1% hingga 5% (Torsvick, Sorheim, dan Goksoyr 1988; Nygaard et al.1992; Samuelsen, Torsick dan Ervik 1992; Kerry et al 1994 dan 1996). Di wilayah Puget sound, Washington, jumlah Mikro-flora menunjukkan resistensi terhadap OTC pada tambak ikan salmon yang diyakini kuat menggunakan antibiotic, termasuk OTC, berada pada kisaran 3% hingga 9%. Nilai perbandingan adalah 0,2% hingga 1,6% untuk sampel dari wilayah Puget sound dimana diasumsikan tidak terkena dampak oleh tambak salmon (Herwig, Gray dan Watson et al, 1997). Meskipun tidak seluruh bakteri pada tambak ikan salmon menunjukkan resistensi terhadap OTC yang mengandung gen resisten dapat ditransfer ke bakteri lainnya melalui plasmids (Kapetanaki et al, 1995; Kerry et al,1996). Mereka telah menunjukkan memiliki kemampuan untuk melakukan pemindahan bakteri resisten ke bakteri pada manusia, contoh E.coli (hasil dari R.A Sandaa dikutip oleh Husevag et al.1991). Hasil yang sama telah ditemukan untuk bakteri air tawar dimana saja yang diisolasi dari tambak ikan tuna, bakteri resisten terhadap antibiotika telah siap dipindahkan ke E.coli di laboratorium (Schmidt et al. 2001). 2.2.4 Resiko ekspose binatang bukan target yang mungkin dapat bertindak sebagai makanan untuk manusia ke antibiotika Antibiotika mungkin dapat berakhir pada hewan non-target yang terkait dengan lokasi budidaya perikanan. Laporan pada topik ini berhubungan dengan panti benih ikan salmon yang nampak menjadi tidak cukup; bagaimanapun, hal yang berlawanan adalah benar pada tambak ikan salmon. Ikan liar, siput dan moluska yang hidup di sekitar tambak ikan salmon telah menunjukkan dapat mengakumulasi tingkat konsentrasi dari antibiotika didalam jaringannya sebagai dampak dari konsumsi limbah pakan yang mengandung obat dan feces.

MAKALAH TERJEMAHAN
Samuelsen et al, (1992) beranggapan bahwa mungkin residu obat dari hewan bukan-target dapat ada sebagai jalan kecil dimana antibiotika juga dapat masuk kedalam populasi manusia. Dalam hubungan ini. Empat penelitian telah dilakukan berkenaan dengan OTC. 1. Pada penelitian pertama, tambak kapang biru ( Mytilus edulis) di Norwegia telah ditemukan mengandung 7,0 g OTC/gr jaringan yang diambil pada titik 80 meter dari tambak yang mengandung konsentrasi hanya sedikit (Moster 1986 seperti yang telah dilaporkan oleh Coyne, Hiney dan Smith 1997). 2. Pada penelitian kedua, Bjorklund, Bondestam, dan Bylund (1990) mendeteksi keberadaan OTC dengan konsentrasi 0,2 g/g hingga 1,3 g/g pada sampe kerang dari bleak ( Aburnus alburnus) di Norwegia. Sampel mereka diperoleh dari lokasi dekat dengan tambak salmon pada hari terakhir pengobatan menggunakan antibiotik. 3. Penelitian ketiga telah dilakukan di Puget sound, Washington. Sampel yang terdiri dari hewan bukan-target diambil dari lokasi disekitar dan dibawah tambak ikan salmon selama dan dalam masa waktu 12 hari pengobatan menggunakan OTC. Tidak lebih dari 0,1 g/g OTC yang terdapat didalam tiram (Crassostrea gigas) dan rajungan (Cancer magister), tetapi sekitar sebahagian dari sample rajungan red rock (Cancer productus) mengandung OTC pada kisaran 0,8 g/g hingga sedikitnya 3,8 g/g pada jaringan kerang (Capone et al.1996). 4. Pada penelitian yang keempat, sample kepah diambil pada jarak 20 meter dari tambak ikan salmon di Irlandia pada hari terakhir pengobatan menggunakan OTC. Namun tidak ada yang terdeteksi mengandung residu OTC. Tetapi sample yang diambil dibawah tambak mengandung 10,2 g/g pada jaringan lembut (Coyne, Hiney dan Smith 1997). Konsentrasi OTC pada jaringan kepah merosot dengan cepat berdasarkan pengobatan (Waktu paruh diperkirakan terjadi selama 2 hari). Penulis menyimpulkan bahwa residu yang terdapat pada kerang penyaring pakan sebagai dampak dari penggunaan pengobatan OTC dan tidak terdapat secara signifikan yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Penelitian juga telah dilakukan dengan antibiotic jenis lainnya dan hewan bukan-target. Samuelsen et al (1992) mengambil sampel ikan liar yang ada disekitar tambak ikan salmon di Norwegia yang menggunakan Oxolinic acid. Sampel diambil pada hari terakhir pengobatan. Kisaran konsentrasi oxolinic acid yang ditemukan pada sampel kerang membuktikan positif terkontaminasi obat dengan konsentrasi 4,38 g/g di tambak pertama dan 0,42 g/g ditambak yang lainnya. Konsentrasi tertinggi dari Oxolinic acid (12,51 g/g) justru terdapat di coalfish, Pollachius virens. Pada kerang didekat tambak ditemukan konsentrasi Oxolinic acid berada pada kisaran 0,65 g/g.

MAKALAH TERJEMAHAN
Pada penelitian yang sama di Norwegia, Ervik, Samuelsen, et al (1994) menguji sampel jaringan dari ikan liar yang hidup disekitar enam tambak ikan salmon yang diobati dengan Quinolone (oxolinic acid dan flumequine). Sampel diambil pada hari terakhir pengobatan atau satu hari setelah pengobatan. Kebanyakan seluruh sampel ikan pada masing-masing tambak positif mengandung residu antibiotik tersebut. Konsentrasi rata-rata pada jaringan otot berada pada kisaran 0,95 g/g hingga 4,89 g/g. Ervik, Thorsen et al (1994) melaporkan sebagai lanjutan dari penelitian pada dua alat yang mengurangi limbah pakan pada tambak ikan salmon. Mereka menemukan bahwa dengan menggunakan alat tersebut menghasilkan pengurangan dari residu obat pada sampel ikan liar di dekat tambak. Penulis merekomendasikan, bagaimanapun, bahwa, didalam penambahan untuk menggunakan alat tersebut, penangkapan ikan sebaiknya tidak dilakukan pada ikan disekitar tambak selama dan sesudah masa pengobatan. 2.3 Dampak Ekologi Penggunaan Antibiotika Pada Budidaya Perikanan.

Dampak jangka panjang pada lingkungan akibat penggunaan antibiotika pada budidaya perikanan masih belum mendapatkan kepastian. Pada beberapa kasus, penurunan jangka pendek dalam ukuran pada populasi bakteri di saluran pencernaan dari ikan selama pengobatan dengan Erytthromycin telah dicatat (Moffit dan Mobin, 2006). Hal yang sama juga telah ditemukan untuk populasi bakteri dalam saluran pembuangan panti benih selama pengobatan yang dilakukan secara terpisah dengan menggunakan OTC, oxolinic acid, dan sulfonamide (Austin 1985). Di kasus yang lain, penggunaan antibiotika tidak memiliki efek yang cukup besar pada ukuran dari populasi bakteri di air; jika ukuran dapat merubah yang terjadi, mereka dilindungi oleh variasi sementara pada kepadatan mikrobial (Samuelsen et al. 1992; Herwig, Gray dan weston 1997). Selama pengobatan yang dilakukan terpisah dengan tiga jenis antibiotik, meningkatkan proporsi dari jumlah populasi yang resisten pada saluran keluar panti benih terhadap masing-masing antibiotik; bagaimanapun, peningkatan ini akan segera berkurang setelah akhir dari perawatan (Austin 1985). Antibiotik secara umum sebaiknya bersifat mujarab, siap diserap dari saluran pencernaan, dan memiliki paruh hidup yang pendek pada saat mereka masuk ke lingkungan. OTC, satu dari antibiotik yang banyak digunakan pada tambak ikan dan panti benih, tidak dapat memenuhi kriteria tersebut diatas. OTC sukar diserap dari saluran pencernaan (Cravedi, Choubert dan delous 1987). Diperkirakan hanya 70% hingga 80% sisa yang keluar bersama feces (Samuelsen 1989), Juga, dimana OTC rupanya dapat mengalami degradasi di air laut (Samuelsen, 1989). Hal ini nampak, dibawah kondisi tertentu, menjadi hampir tidak dapat dimusnahkan pada sedimen tambak ikan salmon. Berdasarkan 13 pengobatan yang dilakukan dengan OTC, konsentrasi OTC di sedimen tambak berada pada kisaran 0,1 g/g hingga 11 g/g (Pada satu pengecualian kasus, kandungannya berada pada kisaran diatas 285 g/g) dan waktu paruh untuk persistensi diperkirakan berada pada 9 hingga 415 hari

MAKALAH TERJEMAHAN
(Smith dan Samuelsen, 1996). Perbandingan yang tinggi dari bakteri resisten terhadap OTC didalam sedimentasi dapat menjadi ancaman terhadap tambak ikan sejak mereka dapat menjadi sumber dari gen Resisten terhadap OTC untuk berbagai bakteri patogen ikan yang ada disekitar lokasi tambak. Apakah OTC dapat melakukan perubahan pada berbagai mikro-flora pada sedimentasi bertentangan dengan rata-rata dekomposisi bahan organik didalam sedimentasi dan dengan melakukan pengulangan sistem koloni dari dasar laut oleh organisme yang dipindahkan oleh deposisi sedimentasi kelihatannya belum pernah diteliti. Peluruhan OTC didalam sedimentasi air tawar kelihatannya belum pernah diteliti. Bagaimanapun persistensi dari sifat resisten terhadap OTC pada bakteri air tawar dimanapun, seperti motil Aeromonas spp (Aeromonads) dilaporkan oleh Schmidt et al. (2001), dapat dijelaskan jika antibiotik tersebut dapat stabil keberadaannya didalam sedimentasi air tawar. Schmidt et al. (2001) mempelajari resistensi antibiotik pada Aeromonads di Sungai Danish dimana terdapat panti benih ikan tuna yang telah lebih dulu menggunakan OTC tanpa pembatasan, tetapi dimana tidak diijinkan lebih lama untuk melakukan sebagaimana dampak dari penggunaan tanpa batas pada budidaya ikan di Sungai Danish. Sebagaimana yang telah diusulkan bahwa Aeromonads dapat dijadikan sebagai tandon dari pemindahan gen resistensi terhadap OTC. Pada penelitian lain di sungai yang sama, Schmidt et al. (2000) melakukan uji sensitivitas antibiotik terhadap sejumlah besar isolasi dari dua bakteri patogen ikan (Flavobacterium psychrophilum dan Yersinia ruckeri) dan dari motil Aeromonads. Pada uji dengan lima antibiotik, mereka menemukan bahwa ikan tambak pada sungai memiliki dampak yang paling besar terhadap Flavobacteria dan Aeromonads di sungai. Bakteri tersebut menunjukkan konsentrasi tinggi terhadap resistensi pada satu atau banyak jenis antibiotika. Sebagai tambahan, dalam membandingkan sampel Aeromonad pada saluran keluar dan masuk panti benih, ditemukan bahwa proporsi dari populasi yang menunjukkan resistensi terhadap antibiotik secara signifikan lebih tinggi pada sampel saluran keluar panti benih. Spangaard et al (1993), juga bekerja pada sistem air tawar di Denmark, melaporkan prevalensi terhadap resistensi antibiotik OTC dan Oxolinic acid di sungai yang tidak tercemar menjadi 6% dan 16%. Secara berurutan, sebagai perbandingan prevalensi dari bakteri yang resisten terhadap antibiotika tersebut yang diambil dari tiga titik panti benih adalah lebih tinggi (15% dan 27% secara berurutan). Hal ini tidak menjelaskan apakah resistensi yang ditemukan pada sungai tidak terpolusi dikarnakan oleh pada hakekatnya, ketidakmampuan pemindahan atau apakah mereka disebabkan oleh antibiotik spesifik, kemampuan gen yang mampu untuk melakukan proses pemindahan, mungkin, berasal dari perlakuan yang tidak dikenali sebelumnya oleh dua antibiotik tersebut. Dibanyak kejadian, untuk membandingkan jumlah total bakteri dan komposisi dari mikro-flora di sungai yang tidak terpolusi dengan penemuan yang

MAKALAH TERJEMAHAN
sejalan pada sampel dari tiga tambak ikan, penulis menyimpulkan bahwa tambak tersebut memiliki dampak yang tidak baikpada populasi bakteri. Perbedaan prevalensi dari bakteri resisten terhadap antibiotika pada sungai yang tidak berpolusi dan lingkungan tambak ikan diketahui tidak signifikan secara statistik. Garis besar dari penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi resisten terhadap antibiotika dapat diperkirakan terus terjadi selama antibiotik digunakan pada budidaya perikanan. Hal ini dapat diperhitungkan, namun , jika penggunaan antibiotika pada budidaya perikanan dihentikan atau jika frekuensi dari penggunaan antibiotika dikurangi, keuntungan dari terjadinya resistensi dapat dihilangkan. Dalam keadaan tersebut, jenis ikan liar, sel bakteri yang tidak mengalami resistensi dapat memperoleh kembali jumlah dominasi mereka pada populasi, kecuali jika, masukan yang berkelanjutan dari antibiotik ke sistem perairan dari sumber-sumber lain akan bertentangan dengan usaha perbaikan ini. Hasil dari dukungan pengobatan manusia menjadi gagasan didepan (Forfar et al. 1966) Satu perbaikan dari pengurangan penggunaan antibiotika pada budidaya perikanan adalah dengan melakukan vaksinasi untuk mengendalikan masalah penyakit kapan saja bila memungkinkan. Pada tambak ikan salmon di Norwegia, penggunaan antibiotika secara dramatis dikurangi. Hingga pada tahun 1992 dari konsentrasi tinggi penggunaan hampir 50,000 kg obat aktif pada tahun 1987 menjadi lebih rendah hingga diperkirakan menjadi 1000 kg (Markested dan Grave 1997). Pengurangan ini hampir secara keseluruhan disebabkan oleh implementasi penggunaan skala besar Vaksinasi dan terjadi meskipun faktanya produksi salmon pada tambak tersebut terus meningkat. Vaksinasi memainkan peranan yang sangat kecil dalam pengendalian penyakit pada budidaya ikan salmon air tawar dan panti benih ikan steelhead di wilayah pasifik barat laut disamping faktanya bahwa mengesampingkan fakta bahwa sedikitnya tiga dari jenis ikan yang dibudidayakan divaksinasi selama satu tahun atau sebelum mereka dilepas ke lautan. Permasalahannya adalah efektivitas vaksinasi melawan penyakit bakterial merupakan pusat kajian di wilayah Pasifik barat laut. Sebagai contoh penyakit bakterial pada ginjal dan penyakit bakterial cold-water tetap berkurang. Sementara usaha untuk mengembangkan vaksin anti BKD sampai saat ini menuju ketidakpuasan perlindungan terhadap ikan salmon pasifik. Namun usaha tersebut sebaiknya terus dilanjutkan. Sebagai tambahan, ramalan untuk efektivitas vaksin anti BCWD adalah sangat baik (Madetoja et al, 2006). Akhirnya, dukungan untuk pengembangan vaksinasi terhadap tiga bakteri tersebut sebaiknya terus didukung. Perbaikan selanjutnya dari pengurangan antibiotika pada budidaya perikanan adalah mengimplementasikan teknik pemeliharaan yang dapat mengurangi tingkat stress pada ikan yang dipelihara dan hal tersebut mengurangi kemungkinan pengobatan ikan yang terinfeksi dengan menggunakan antibiotika. Mengenai praktek yang terjadi belakangan, banyak panti benih ikan salmon di pasifik barat laut umumnya yang tidak menggunakan

MAKALAH TERJEMAHAN
telur dari Pusat perbenihan Chinook ditemukan telah terinfeksi oleh agen penyebab penyakit bacterial kidney disease (BKD), Renibacterium salmoninarum (Rs), karna agen tersebut dapat dipindahkan ke keturunan mereka melalui telur. Praktek ini secara luas telah mengurangi prevalensi masalah BKD di panti benih Chinook dan telah mengurangi frekuensi penggunaan antibiotika. 3. Kesimpulan

Alderman dan Hestings (1998) melakukan tinjauan terhadap literatur Penggunaan Antibiotika Pada Budidaya Perikanan dan mengarah kepada kesimpulan bahwa Meskipun ada bukti bahwa resistensi terhadap antibiotik dapat disebabkan oleh penggunaan antibiotik sebagai pengobatan pada budidaya perikanan, Resiko pemindahan sifat resistensi tersebut ke dalam tubuh manusia sebagai konsumen melalui berbagai kemungkinan jalan adalah sangat rendah. Hal ini, mereka mempertimbangkan, bahwa sebagian besar adalah benar untuk budidaya ikan air dingin. Sejak tinjauan Alderman dan Hastings dipublikasikan, belum ada informasi terbaru untuk menjamin keabsahan sebuah perubahan pada kesimpulan diatas. Kesimpulan Alderman dan Hastings didukung oleh temuan yang dilakukan Moffit dan Mobin (2006) pada mikro-flora di saluran air dari budidaya ikan salmon. Mereka menemukan bahwa tidak ada bukti pada ikan salmon yang mereka uji terhadap bakteri patogen pada manusia dan agen penyebab penyakit pada hewan dapat dipindahkan ke manusia. Sejak saluran mikro-flora dari ikan cenderung sebagai refleksi dari lingkungan dimana mereka hidup dan dari pakan yang mereka konsumsi. Budidaya ikan salmon di pasifik barat laut tidaklah mungkin untuk membawa berbagai bakteri patogen tersebut. Jadi, di wilayah pasifik barat laut, sebuah tambak tidak ragu-ragu untuk menggunakan antibiotika ketika sangat dibutuhkan untuk penggunaan antibiotika tersebut. Sebagai contoh, ada banyak keadaan dimana di wilayah pasifik barat laut dimana panti benih ikan salmon didorong untuk melakukan tindakan pada air sungai yang tidak mendapat perlakuan. Seperti halnya air yang sangat potensial menjadi sumber bakteri patogen pada ikan. Termasuk Rs, agen penyebab penyakit BKD. Seperti yang telah dijelaskan diatas. Tidak tersedianya vaksinasi untuk mengendalikan BKD pada ikan salmon di pasifik. Beberapa dari panti benih percaya pada spesies ikan air tawar yang tidak mendapat perlakuan, seperti mata air ikan Salmon dan Steelhead Chinook, yang membutuhkan pemeliharaan jangka panjang. Untuk kebanyakan periode pemeliharaan, suhu air di beberapa panti benih dibawah 10 0 celcius, jadi dapat mengkompromikan berbagai macam potensi resisten sel yang diobati pada ikan untuk melawan Rs (Hamel 2005). Penggunaan yang kemoterapi yang tepat akan sangat dibenarkan pada situasi apapun jika infeksi dengan Rs telah terdeteksi. Hal ini akan menjadi sesuatu yang keliru jika tidak mengobati ikan dengan cara yang tepat waktu sejak kegagalan penggunaan antibiotika yang akan menyebabkan resiko dari

MAKALAH TERJEMAHAN
kelulushidupan yang buruk dimana hal ini tidak dapat diterima khususnya untuk panti benih yang memiliki tujuan konservasi. Ikan juga sebaiknya diobati karena peningkatan resiko bahwa mereka akan berbagi ke ikan salmon yang lain yang ada di saluran air tersebut. Dalam hal ini, keuntungan dari pengobatan ikan yang terinfeksi sebaiknya memperhitungkan resiko yang ditimbulkan. 4. Rekomendasi

HSRG menyimpulkan bahwa antibiotika sepertinya akan selalu dibutuhkan didalam operasional fasilitas pemeliharaan ikan. Bagaimanapun, jumlah konsentrasi dari antibiotika harus digunakan dengan hati-hati untuk meminimalisasi resiko pada manusia dan lingkungan. Rekomendasi yang diberikan adalah sebagai berikut : 1. Didalam perancangan dan operasional fasilitas baru budidaya ikan air tawar atau ikan air laut. Sebaiknya berdasarkan pada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Ahne, Winton dan Kimura (1989) : Akankah fasilitas suplai air memiliki keterangan terhindar dari bakteri patogen? Akankah lingkungan budidaya sesuai dengan jenis ikan yang akan dipelihara? Akankah, ditemui jenis ikan yang dipelihara resisten terhadap bakteri patogen? Apakah vaksin tersedia untuk memerangi berbagai bakteri patogen yang ditemui? 2. Jumlah antibiotika yang digunakan dalam operasional fasilitas budidaya akan diminimalisir jika banyak atau semua pertanyaan diatas dapat dijawab dalam sebuah pernyataan. 3. Antibiotika sebaiknya jarang diberikan untuk mencegah pengkayaan jumlah bakteri resisten pada panti benih atau pada lingkungan tambak. 4. Infeksi bakterial pada populasi panti benih ikan sebaiknya dirawat tanpa penundaan ketika telah terdeteksi. Jika pengobatan melalui pakan yang telah diberi obat, rata-rata konsumsi pakan sebaiknya disesuaikan sehingga seluruh pakan yang telah diberi obat dapat dikonsumsi secara menyeluruh dan tidak ada (atau sangat sedikit) pakan yang tenggelam hingga dasar bak. Hal ini tidak hanya memaksimalkan efektivitas pengobatan, tetapi juga akan mengurangi masalah sejumlah besar limbah yang terakumulasi pada panti benih dan lingkungan tambak. Pada panti benih, pakan yang diberi obat yang tidak dikonsumsi dan bahan-bahan fecal sebaiknya dihilangkan dari saluran panti benih menggunakan penyaring, bak penampung, atau keduanya yang disesuaikan dengan antibiotika yang sedang digunakan (Smith et al. 1994). 5. Uji untuk mendeteksi keberadaan bakteri patogen pada populasi panti benih sebaiknya dilakukan secara konstan dan untuk memaksimalkan

MAKALAH TERJEMAHAN
kemungkinan dari deteksi infeksi, sampel yang akan diuji sebaiknya tidak diambil secara acak. Melainkan, sampel yang diambil untuk diuji sebaiknya diambil dari ikan yang baru mati atau mati dan ikan yang menunjukkan tanda-tanda abnormalitas termasuk luka, pigmen yang menghitam, kehilangan selera makan, dan sikap yang pasif. 6. Pengobatan pada ikan salmon dan steelhead yang dipelihara di panti benih pasifik barat laut diharapkan dipelihara secara alami di laut sehingga antibiotik di dalam jaringan mereka berada dalam konsentrasi rendah menjelang mereka dilepaskan sebagai ikan konsumsi. Dengan cara yang sama, pengobatan terhadap ikan salmon dan tuna pada tambak untuk konsumsi manusia harus diatur sehingga kandungan antibiotika pada jaringan (terutama daging) berada pada konsentrasi rendah pada saat mereka akan dipasarkan. Pengaturan waktu sangat penting jika bakteri pda saluran pencernaan dari hewan ketika mereka dilepaskan sebagai atau produksi ikan salmon dan tuna untuk konsumsi manusia sangat diharapkan bebas dari antibiotika. Oleh karena suhu dan jenis antibiotika yang digunakan adalah faktor utama yang mempengaruhi rata-rata waktu untuk penghilangan residu antibiotika pada jaringan ikan, faktor ini harus dimasukkan sebagai bahan pertimbangan dari perlakuan (Namdari, Abedini, dan Law 1996 ; Fairgrieve et al. 2005). 7. Panti benih tempat operasional pemeliharaan salmon dan ikan steelhead dan tambak swasta yang mengoperasikan budidaya perikanan betul-betul dihimbau untuk mendukung penelitian pengembangan vaksin. Ketika efektivitas vaksin melawan penyakit bakterial yang menjadi perhatian utama telah tersedia, penggunaan antibiotika pada berbagai fasilitas sebaiknya dikurangi secara signifikan. 5. Daftar Pustaka

Adams, C.A., B. Austin, P.G. Meaden, dan D. McIntosh. 1998. Molecular characterization of plasmid-mediated oxytetracycline resistance in Aeromonas salmonicida. Applied dan Environmental Microbiology 64: 4194-4201. Ahne, W., J.R. Winton, dan T. Kimura. 1989. Prevention of infectious diseases in aquaculture. Journal of Veterinary Medicine B: 36: 561-567. Aoki, T. 1988. Drug resistant plasmids from fish pathogens. Microbiological Sciences 5: 219-223. Aoki, T., N. Kitso, Y. Lemurs, dan T. Nomura. 1983. The susceptibility of Aeromonas salmonicida isolated in cultured dan wild salmonids to various chemotherapeutics. Bulletin of the Japanese Society of Scientific Fisheries 49: 17-22. Alderman, D.J. dan T.S. Hastings. 1998. Antibiotic use in aquaculture: development of antibiotic resistance potential for consumer health risks. International Journal of Food Science dan Technology 33: 139-155.

MAKALAH TERJEMAHAN
Austin, B. 1985. Antibiotic pollution from fish farms: effects on aquatic microflora. Microbiological Science 2: 113-117. Austin, B. dan A.M.J. Al-Zahrani. 1988. The effect of antimicobial compounds on the gastrointestinal microflora of rainbow trout, Salmo gairdneri. Journal of Fish Biology 32: 1-14. Bjorklund, H., J. Bondestam, dan G. Bylund. 1990. Residues of oxytetracycline in wild fish dan sediments from fish farms. Aquaculture 86: 359-367. Capone, D.G., D.P. Western, V. Miller, dan C. Shoemaker. 1996. Antibacterial residues in marine sediments dan invertebrates following chemotherapy in aquaculture. Aquaculture 145: 55-75. Coughter, J.P. dan G.J. Stewart. 1989. Genetic exchange in the environment. Antonie van Leeuwenhoeck 55: 15-22. Coyne, R., M. Hiney, dan P. Smith. 1997. Transient presence of oxytetracycline in blue mussels (Mytilus edulis) following its therapeutic use at a marine Atlantic salmon farm. Aquaculture 149: 175-181. Cravedi, J-P, G. Choubert, dan G. Delous. 1987. Digestibility of chloramphenicol, oxolinic acid dan oxytetracycline in rainbow trout dan influence of these antibiotics on lipid digestibility. Aquaculture 60: 133-141. Ervik, A., O.B. Samuelsen, J.E. Juell, dan H. Sveier. 1994. Reduced environmental impact of antibacterial agents applied in fish farms using the LiftUp feed collector or a hydroacoustic feed detector. Diseases of Aquatic Organisms 19: 101-104. Ervik, A. B. Thorsen, V. Eriksen, B.T. Lunestad, dan O.B. Samuelsen. 1994. Impact of administering antibacterial agents on wild fish dan blue mussels Mytilus edulis in the vicinity of fish farms. Diseases of Aquatic Organisms 18: 45-51. Fairgrieve, W.T., C.L. Masada, W.C. McAuley, M.E. Peterson, M.S. Meyers, dan M.S. Strom. 2005. Accumulation dan clearance of orally administered erythromycin dan its derivative, azithromycin, in juvenile fall Chinook salmon Oncorhynchus tshawytscha. Diseases of Aquatic Organisms 64: 99-106. Forfar, J.O., A.J. Keay, A.F. McCabe, J.C. Gould, dan A.D. Bain. 1966. Liberal use of antibiotics dan its effect on neonatal staphylococcal infection with particular reference to erythromycin. Lancet ii, 295: 295-300. Hamel, O.S. 2005. Immunosuppression in progeny of Chinook salmon infected with Renibacteriunm salmoninarum: re-analysis of a brood stock segregation experiment. Diseases of Aquatic Organisms 29: 29-41. Herwig, R.P., J.P. Gray, dan D.P. Weston. 1997. Antibacterial resistant bacteria in surficial sediments near salmon net-cage farms in Puget Sound, Washington. Aquaculture 149: 263-283. Husevag, B., B.T. Lunestad, P.J. Johannessen, O. Enger, dan O.B. Samuelsen. 1991. Simultaneous occurrence of Vibrio salmonicida dan antibiotic resistant bacteria in sediments at abdanoned aquaculture sites. Journal of Fish Diseases 14: 631-641. Kapetanaki, M., J. Kerry, M. Hiney, C. OBrien, R. Coyne, dan P. Smith. 1995. Emergence in oxytetracycline-free marine mesocosms, of microorganisms

MAKALAH TERJEMAHAN
capable of colony formation on oxytetracycline-containing media. Aquaculture 134: 227-236. Kerry, J., R. Coyne, D. Gilroy, M. Hiney, dan P. Smith. 1996. Spatial distribution of oxytetracycline dan elevated frequencies of oxytetracycline resistance in sediments beneath a marine salmon farm following oxytetracycline therapy. Aquaculture 145: 31-39 Kerry, J., M. Hiney, R. Coyne, D. Cazabon, S. NicGabhainn, P.Smith. 1994. Frequency dan distribution of resistance to oxytetracycline in microorganisms isolated from marine fish farm sediments following therapeutic use of oxytetracycline. Aquaculture 123: 43-54. Kerry, J., M. Hiney, R. Coyne, S. NicGabhainn, D. Gilroy, D. Cazabon, dan P. Smith. 1995. Fish feed as a source of oxytetracycline-resistant bacteria in sediments under fish farms. Aquaculture 131: 101-113. Kruse, H. dan H. Sorum. 1994. Transfer of multiple drug resistance plasmids between bacteria of diverse origins in natural microenvironments. Applied dan Environmental Microbiology 60: 4015-4021. Madetoja, J., L-G Lonnstrom, C. Bjorkblom, G. Ulukoy, G. Bylund, C. Syvertsen, K. Gravningen, E-A Norderhus, dan T. Wiklund. 2006. Efficacy of injection vaccines against Flavobacterium psychrophilum in rainbow trout. Journal of Fish Diseases 29: 9-20. Markestad, A. dan K. Grave. 1997. Reduction of antibacterial drug use in Norwegian fish farming due to vaccination. Pages 365-369 in R. Gudding, A. Lillihaug, P. J. Midtlyng, dan F. Brown, editors. Fish Vaccinology. Developmental Biological Stdanards. Basel, Karger, Volume 90. Moffit, C.M. dan S.M.A. Mobin. 2006. Profile of microflora of the posterior intestine of Chinook salmon before, during, dan after administration of rations with dan without erythromycin. North American Journal of Aquaculture 68: 176-185. Nakajima, T., M. Suzuki, K. Harada, M. Inoue, dan S. Mitsuhashi. 1983. Transmission of R plasmids in Vibrio anguillarum to Vibrio cholera. Microbiology dan Immunology 27: 195-198. Namdari, S. Abedini, dan F.C.P. Law. 1996. Tissue distribution dan elimination of oxytetracycline in seawater Chinook dan coho salmon following medicated-feed treatment. Aquaculture 144: 27-38. Nygaard, K., B.T. Lunestad, H. Hektoen, J.A. Berg, dan V. Hormazabal. 1992. Resistance to oxytetracycline, oxolinic acid dan furazolidone in bacteria from marine sediments. Aquaculture 104: 31-36. Samuelsen, O. B. 1989. Degradation of oxytetracycline in seawater at two different temperatures dan light intensities, dan the persistence of oxytetracycline in the sediment from a fish farm. Aquaculture 83: 7-16. Samuelsen, O.B., B.T, Lunestad, B. Husevag, T. Holleldan, dan A. Ervik. 1992. Residues of oxolinic acid in wild fauna following medication in fish farms. Diseases of Aquatic Organisms 12: 111-119. Samuelsen, O.B., V. Torsvik, dan a. Ervik. 1992. Long-range changes in oxytetracycline concentration dan bacterial resistance towards

MAKALAH TERJEMAHAN
oxytetracycline in a fish farm sediment after medication. Science of the Total Environment 114: 25-36. Schmidt, A.S., M.S. Bruun, I. Dalsgaard, K. Pedersen, dan J.L. Larsen. 2000. Occurrence of antibacterial resistance in fish-pathogenic dan environmental bacteria associated with four Danish rainbow trout farms. Applied dan Environmental Microbiology 66: 4908-4915. Schmidt, A.S., M.S. Bruun, I. Dalsgaard, dan J.L. Larsen. 2001. Incidence, distribution, dan spread of tetracycline resistance determinants dan integron-associated antibiotic resistance genes among motile aeromonads from a fish farming environment. Applied dan Environmental Microbiology 67: 5675-5682. Smith, P., J. Donlon, R. Coyne, dan D. Cazabon. 1994. Fate of oxytetracycline in a freshwater fish farm: Influence of effluent treatment systems. Aquaculture 120: 319-325. Smith, P. dan O.B. Samuelsen. 1996. Estimates of the significance of outwashing of oxytetracycline from sediments under Atlantic salmon seacages. Aquaculture144: 17-26. Spangaard, B., F. Jorgensen, L. Gram, dan H.H. Huss.1993. Antibiotic resistance from three freshwater fish farms dan an unpolluted stream in Denmark. Aquaculture 115: 195-207. Toranzo, A. E., P. Combarro, L.M. Lemos, dan J.L. Barja. 1984. Plasmid coding for transferable drug resistance in bacteria isolated from cultured rainbow trout. Applied dan Environmental Microbiology 48: 872-877. Torsvik, V.L., R. Sorheim, dan J. Goksoyr. 1988. Antibiotic resistance of bacteria from fish farm sediments. International Council for the Exploration of the Sea, Mariculture Committee F: 10, 9 pp. Trevors, J.T., T. Barkay, dan W. Bourquin. 1987. Gene transfer among bacteria in soil dan aquatic environments: a review. Canadian Journal of Microbiology 33: 191-198.