Uji monosakarida Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan

menggunakan prosedur Lae-Eynon. Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda. Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut : R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O 2 Cu2+ + 4 I2 S2O32- + I2 Cu2I2 + I2 S4O62- + 2 I-

Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl

Oleh karena itu. yaitu monosakarida. Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi antara monosakarida dengan larutan cupper. Penggunaan larutan Fehling merupakan metode pertama dalam penentuan gula secara kuantitatif. ubi. dan polisakarida. Titrasi itu dihentikan bila telah terjadi perubahan warna dari biru tua menjadi putih. Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). jagung. 2002). pada golongan buah dan beberapa jenis sayur dan kacang. Manusia memenuhi kebutuhan karbohidrat setiap harinya dari makanan pokok yang dikonsumsi. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Secara umum. (Ratih. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih. disakarida. sehingga dilepaskan I2. Akan tetapi bukan berarti karbohidrat hanya terdapat pada golongan bahan makanan yang telah disebutkan di atas. reaksi tersebut digunakan dalam penentuan gula secara kuantitatif.merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. 2009) Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh manusia. seperti dari beras. Larutan fehling merupakan larutan alkalin yang mengandung . Aldosa mudah teroksidasi menjadi asam aldonat. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. 1996). Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan oligosakarida.kacangan juga terdapat kandungan karbohidrat meskipun kandungannya tidak sebanyak golongan serealia dan umbi. Untuk dapat mengetahui kandungan karbohidrat dalam suatu bahan makanan dapat dilakukan berbagai macam uji kuantitatif. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. polimer. Pada praktikum kali ini metode analisa kuantitatif karbohidrat yang dilakukan adalah metode Luff Schoorl. Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua macam yaitu karbohidrat sederhana dengan karbohidrat kompleks atau dapat pula menjadi tiga macam. sagu. dan lain sebagainya. jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum. Gula reduksi adalah gula yang memiliki gugus aldehid (aldosa) atau keton (ketosa) bebas (Makfoeld dkk. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. sedangkan ketosa hanya dapat bereaksi dalam suasana basa (Fennema.

tembaga (II) yang mengoksidasi aldosa menjadi aldonat dan dalam prosesnya akan tereduksi menjadi tembaga (I). Maltosa dan laktosa adalah contoh gula reduksi.  Struktur Glukosa  Struktur Fruktosa  Reduktor dan Oksidator Beberapa hal yang penting diperhatikan : 1. serta pencoklatan pencoklatan yang indah dari berbagai roti adalah warna yang dikehendaki (Winarno. Jika dalam suatu reaksi tidak terdapat perubahan bilangan oksidasi (semua atom memiliki bilangan oksidasi tetap) maka reaksi itu bukan reaksi redoks perhatikan reaksi. O tetap-2 dan Na tetap +1 Contoh lain reaksi yang bukan reaksi redoks SO2 + NaOH ---->NaHSO3 2Ag+ + CrO42. Reaksi antara gugus karbonil gula pereduksi dengan gugus amino protein disebut reaksi maillard yang menghasilkan warna coklat pada bahan. Warna coklat pada penggorengan ubi jalar dan singkong. H2SO4 + 2NaOH ---->Na2SO4 + 2H2O Reaksi ini bukan redoks sebab bilangan oksidasi atom-atomnya tidak ada yang berubah : yaitu H tetap +1. Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi 2. S tetap +6. Dengan kata lain. dalam kimia pangan gula reduksi berkontribusi membentuk warna coklat apabila berikatan dengan asam amino.--->Ag2CrO4 . yaitu Cu2O yang berwarna merah bata dan mengendap. Jika dalam suatu reaksi terlibat suatu unsur (bilangan oksidasi nol) baik sebagai pereaksi maupun hasil reaksi maka boleh dipastikan reaksi itu adalah reaksi redoks 3. 2002). yang dikehendaki atau malah menjadi pertanda penurunan mutu.

.Tulis bilangan oksidasi yang diketahui dahulu....................... +2 +1. +4 -4=0 .....+1-2 ..oksidasi Reduktor : HCl . 2.+2 -2=0 MnO2 + 4HCl → MnCl2 + H20 +.... Menentukan unsur-unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi.. reduksi.1: Tentukan reduktor dan oksidator pada reaksi berikut! MnO2 + 4HCl → MnCl2 + H20 + Cl2 Jawab... sehingga HCl merupakan reduktor... Dari soal diatas Mn mengalami perubahan biloks dari +4 menjadi +2 (penurunan biloks) .. Cl mengalami perubahan biloks juga dari -1 menjadi o (kenaikan biloks)....... Cl pada HCl mengalami oksidasi......+4-2 l_________________l reduksi.......Hasil oksidasi : Cl2 Oksidator: MnO2 ........3CO2 +3 -2 ...+2-2...... +1 -1...0 l____________l..... Dibawah unsur ditulis bilangan oksidasinya..............Hasil reduksi : Fe .............l___________l ......oksidasi Reduktor : CO ....+4-4=0 Fe2O3 . .....+ ....Hasil reduksi : MnCl2 Untuk menentukan reduktor dan oksidator dalam suatu reaksi ... Jika belum diketahui dibantu dengan perhitungan di atasnya... sehingga MnO2 merupakan oksidator.....Contoh soal ..l_______________l .Hasil oksidasi : CO2 Oksidator : Fe2O3 .........tahaptahapnya adalah: 1....... Mn pada MnO2 mengalami reduksi ..Cl2 +4 -2............................0.................. Contoh soal 2: +6 -6=0 ......3CO → 2Fe + .+2-2=0 ......

Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Hal ini diketahui dari penelitian A. Luff Schoorl Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu : 1. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. International .Cu2I2 + I2 2 S2O32. jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum.+ I2 S4O62.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda. maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. 2012 by sesiliagustina Metode Luff Schoorl Uji karbohidrat yang resmi ditetapkan oleh BSN dalam SNI 01-2891-1992 yaitu analisis total karbohidrat dengan menggunakan metode Luff Schoorl. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. sehingga dilepaskan I2. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu. 2. Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut : R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O 2 Cu2+ + 4 I.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Analisis Total Karbohidrat dengan Metode Luff-Schoorl Posted on November 30. Pada tahun 1936.Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih.+ 2 IMonosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Dalam penelitian M. Penentuan Cu tereduksi dengan I2 Menggunakan prosedur Lae-Eynon Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan.

maka akan ditambahkan NaOH. Asam asetat digunakan setelah proses penetralan dengan NaOH dengan maksud untuk menciptakan suasana yang sedikit asam. Monosakarida yang terbentuk kemudian dianalisis dengan metode Luff-Schoorl. Monosakarida bebas akan mereduksi larutan basa dari garam logam menjadi bentuk oksida atau bentuk bebasnya. dan panas. Faktor utama yang mempengaruhi reaksi adalah waktu pemanasan dan kekuatan reagen. Reaksi yang terjadi : Karbohidrat kompleks Gula pereduksi + 2 Cu2+ 2 Cu2+ (kelebihan) + 4 II2 + 2S2O32→ gula sederhana (gula pereduksi) → Cu2O(s) → 2 CuI2 → 2 CuI. NaOH 30%.+ 4H+ → 2I2 + 2H2O Apabila pH terlalu tinggi (terlalu basa). yang akan bereaksi dengan larutan uji Luff Schoorl dengan mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+. Tetapi reaksi reduksi antara gula dan tembaga sulfat sepertinya tidak stoikiometris dan sangat tergantung pada kondisi reaksi. Na2S2O3 0. Kemampuan mereduksi dari gugus aldehid dan keton digunakan sebagai landasan dalam mengkuantitasi gula sederhana yang terbentuk. HCl digunakan untuk menghidrolisis pati menjadi monosakarida. pH harus diperhatikan dengan cermat. H2SO4 ditambahkan untuk mengikat ion tembaga yang terbentuk dari hasil reduksi monosakarida dengan pereaksi Luff-Schoorl. Prinsip analisis dengan Metode Luff-Schoorl yaitu reduksi Cu2+ menjadi Cu1+ oleh monosakarida. yaitu terjadinya reaksi I2 yang terbentuk dengan air (hidrolisis). Seluruh senyawa karbohidrat yang ada dipecah menjadi gula-gula sederhana (monosakarida) dengan bantuan asam. Penggunaan luas dari metode ini dalam analisis gula adalah berkat kesabaran para ahli kimia yang memeriksa sifat empiris dari reaksi dan oleh karena itu dapat menghasilkan reaksi yang reprodusibel dan akurat (Southgate 1976). Setelah proses hidrolisis selesai dilakukan. Luff Schrool.+ S4O62- Osborne dan Voogt (1978) mengatakan bahwa Metode Luff-Schoorl dapat diaplikasikan untuk produk pangan yang mengandung gula dengan bobot molekuler yang rendah dan pati alami atau modifikasi. H2SO4 25%. karena pada pH tinggi akan terjadi resiko kesalahan. Dalam metode Luff-Schoorl. maka hasil titrasi akan menjadi lebih rendah daripada sebenarnya. Fungsi Pereaksi dalam Metode Luff-Schoorl Pereaksi yang digunakan dalam metode Luff-Schoorl adalah CH3COOH 3%. O2 + 4I.Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis mempertimbangkan metode LuffSchoorl sebagai salah satu metode yang digunakan untuk menstandarkan analisis gula pereduksi karena metode Luff Schoorl saat itu menjadi metode yang resmi dipakai di pulau Jawa.+ I2 → 2 I. Suasana yang terlalu asam akan menimbulkan overestimated pada tahap titrasi sebab akan terjadi reaksi oksidasi ion iodide menjadi I2 (Harjadi 1994). Kelebihan Cu2+ yang tidak tereduksi kemudian dikuantifikasi dengan titrasi iodometri (SNI 01-2891-1992). yaitu HCl.1 N. KI 20%. kemudian . dan HCl 3%. yang berfungsi untuk menetralkan larutan sampel ditambahkan HCl.

dan titrasi dengan natrium tiosulfat : R – COH + CuO H2SO4 + CuO CuSO4 + 2KI 2CuI2 I2 + Na2S2O3 → → → → → CuO2 + R – COOH CuSO4 + H2O CuI2 + K2SO4 Cu2I2 + I2 Na2S4O6 + NaI .membentuk CuSO4. Langkah terakhir yang dilakukan dalam metode Luff Schoorl adalah titrasi dengan natrium tiosulfat (Harjadi 1994). KI. KI akan bereaksi dengan tembaga sulfat membentuk buih coklat kehitaman. Tahapan reaksi setelah penambahan asam sulfat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful