You are on page 1of 24

BAB I PENDAHULUAN Secara tradisinya, apabila sebuah negara menghadapi pertikian negara itu akan mengumumkan perang.

Sebaliknya, pada hari ini, negara tersebut termasuklah negara – negara anggota ASEAN tidak memilih kekuatan senjata tetapi menggunakan bahasa sebagai satu mekanisme untuk menyelesaikan Dalam pertikaian ini diantaranya akan melalui perundingan tentang diplomatik. Makalah mengupas konsep

Penyelesaian Perselisihan Kasus Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mengenai kedaulatan ke atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan. Pada umumnya, penyelesaian sengketa dogolongkan dalam dua kategori, yaitu : 1. Cara – cara penyelesaian damai, yaitu apabila para pihak telah dapat menyepakati untuk menemukan suatu solusi yang bersahabat. Dalam metode, menurut sifatnya dibagi dua, yaitu secara politik dan secara huku. Penyelesaian damai yang bersifat politik meliputi perundingan (negotiation), jasa – jasa baik (good-offices), penyelidikan (inquiry), Penengahan (mediation) dan konsiliasi (concilition). Sedangkan penyelesaian damai yang bersifat hukum / prosedur hukum meliputi arbitrase (arbitration) dan penyelesaian hukum (judical senlement). 2. cara – cara penyelesaian secara paksa atau dengan kekerasan, yaitu apabila solusi yang dipakai atau dikenakan adalah melalui kekerasan. Penyelesaian melalu kekerasan meliputi perang dan tindakan bersenjata non perang, retorasi (retorsion), dikenakan tindakan – tindakan pembalasan (reprisals), blokade secara damai (pasific blockade) dan intervensi (interventation). Dalam hal ini akan dibahas mengenai penyelesaian hukum (judical settlement) yang berarti suatu penyelesaian dihasilkan melalui pengadilan yudisial Intrenasional yang dibentuk sebagaimana mestinya, dengan memberlakukan kaidah – kaidah huku. Dan merupakan salah satu organ

1

umum untuk penyelesaian yudisial yang ada pada saat ini tersedia dalam masyarakat internasional adalah International Court of Justice atau disebut Mahkamah internasional.

2

BAB II PENYELESAIAN PERSELISIHAN KASUS SIPADAN LIGITAN MELALUI MAHKAMAH INTERNASIONAL

2.1 SEJARAH BERDIRINYA MAHKAMAH INTERNASIONAL Pembentukan Pengadilan menggambarkan puncak perkembangan yang cukup lama dari metode atau cara – cara penyelesaian secara damai terhadap sengketa – sengketa Internasional, dimanaasal mulanya dapat dikatakan kembali ke masa yang lampau. Pasal 33 dari Piagam PBB dibahas mengenai cara – cara penyelesaian sengketa internasional secara damai dimana meliputi negotiation, enquiry, mediation,arbitrarion, judical settlement, dan resort to regional agencies or arraggement, serta dimasukan juga good-offices. Pada prosedur arbitrase (arbitration) dan penyelesaian hukum (judical settlement) mempunyai perbedaan yang terletak adalah prosedur untuk penyelesaian sengketa atas hak – hak hukum para pihak, atas dasar hukum yang berlaku (kecuali para pihak berpendapat lain) dan menghasilkan keputusan yang mengikat para pihak. Sejarah dari terbentuknya suatu Mahkamah Internasional dimulai dengan suatu pembentukan lembaga Arbitrase yang merupakan lembaga penyelesaian sengketa internasional secara damai. Arbitrase adalah : suatu institusi yang sudah cukup tua, tetapi sejarah arbitrase modern yang diakui adalah sejak Jay Treaty 1794 antara Amerika dan Inggris, yang mengatur pengajuan sengketa – sengketa kepada arbtrase juga sering dimasukan ke dalam tratat – traktat, khusunya konvensi ‘yang membuat hukum’ (law-making) dan mengutip penyataan hakim Manly O. Hudson, “arbtrase karenanya menjadi tangan utama legislasi Internasional “karena sengketa – sengketa mengenai penafsiran konvensi – konvensi atau penerapan ketentuan – ketentuan konvensi dapat diajukan kepadanya untuk memperoleh jalan pemecahan.

3

a. Permanent Court of Arbbitration. Suatu langkah maju bagi perkembangan arbitrase, yaitu konvensi The Haque 1899 dan 1907 mendirikan Permanent Court of Abitration yang dalam kenyataannya tidak permanen dan tidak berbentuk pengadilan. Dimana setiap negara peserta / anggota dapat mengangkat empat orang yang memenuhi syarat di bidang hukum Internasional dan semua orang yang ditunjuk tersebut merupakan sebuah panel para ahli hukum yang kompeten yang dari mereka itulah diangkat para arbitrator apabila di perlukan. Arbitrase pada hakikatnya adalah suatu prosedur konsensus. Negara – negara tidak dapat dipaksa untuk di bawa ke muka arbtrase kecuali jika mereka bersetuju untuk melakukan hal tersebut, baik secara umum dan sebelumnya maupun advoc berkenaan dengan suatu sengketa tertentu Proses arbtrase, di samping berkeinginan untuk adanya sebuah pengadilan yang permanen, tetap akan menjadi suatu proses yang bermanfaat guna mewujudkan kemajuan – kemajuan dan akan adanya suatu kategori sengketa dimana menyerahkan ke mahkamah internasional. Dengan demikian, pembentukan Permanent Court of Justice pada tahun 1920 tidak meyebabkan dihapusnya lembaga Permanent Court of Arbtration dan The General Act for the pasific settlement of Internasional Disputes 1928. b. Permanent Court of International Justice Dalam pasal 14 Convenant Liga Bangsa – Bangsa diberikan tugas kepada dewan liga untuk “ menyusun dan mengajukan rencana – rencana bagi pembentukan sebuah Mahkamah Internasional Permanen kepada anggota – anggota liga untuk disahkan…”. Dewan liga kemudian mengangkat sebuah komite penasihat yang terdiri dari ahli – ahli hukum dan di dalam komite itulah digunakan untuk memecakan persoalan penting mengenai pemilihan para hakim. Permanent Court of International Justice bukan merupakansuatu organ dari Liga Bangsa – Bangsa meskipun dalam beberapa tindakannya

4

berhubungan dengan liga. Dan perbedaan pokok antara Mahkamah dengan arbitrase merujuk kepada hal – hal berikut : 1. Mahkamah secara permanen merupakan sebuah pengadilan, yang diatur dengan statuta dan serangkaian ketentuan prosedurnya yang mengikat terhadap semua pihak yang berhubungan dengan mahkamah. 2. Mahkamah memiliki panitera (register) tetap, yang menjalankan semua fungsi yang diperlukan dalam menerima dokumen – dokumen untuk diarsip, dilakukan pencatatan dan pengesahan, pelayanan umum Mahkamah dan bertindak sebagai saluran komunikasi tetap dengan pemerintah dan badan – badan lain. 3. Proses peradilan dilakukan secara terbuka, sementara pemelaan – pembelaan dan catatan – catatan dengar pendapat serta keputusan – keputusannya dipublikasikan. 4. Pada prinsipnya Mahkamah dapat dimasuki oleh semua negara untuk proses penyelesaian yudisial segala kasus yang dapat diserahkan oleh negara – negara itu kepadanya dan semua masalah khususnya yang diatur dalam traktat dan konvensi yang berlaku. 5. Pasal 38 Statuta Mahkamah dalam perkara – perkara dan masalah – masalah yang diajukan kehadapannya, tanpa menyampingkan kewenangan mahkamah untuk memutuskan suatu perkara exaequo et bono yang berarti demi keadilan dan kebaikan, apabila para pihak setuju terhadap cara tersebut. 6. Keanggotaan Mahkamah adalah berupa wakil – wakil dari bagian terbesar masyarakat internasional mewakili sistem hukum utama : sejauh hal itu tidak bertentangan dengan pengadilan lain. 7. Yang terakhir, dimungkinkan bagi Mahkamah untuk mengembangkan suatu praktek yang konsisten dalam proses – proses peradilannya dan memelihara kesinambungan wawasan terhadap suatu hal yang tidak sesuai jika dilakukan pengadilan – pengadilan ad hoc.

5

Antara tahun 1922 dan 1940, Permanent Court of International Justice telah menyelesaikan 29 perkara di muka pengadilan (contentious case) dan 27 nasehat hukum (advisory opinions). Dalam waktu yang sama juga beberapa ratus perjanjian (treaty), konvensi (convention) dan mengumumkan pertimbangan yuridiksi di atasnya terhadap jenis – jenis sengketa tersebut. Pecah perang yang di mulai pada September 1939 memberikan sebuah konsekuensi yang tidak dapat diletakan bagi Permanent Court of Onternational Justice, dimana beberapa tahun sebelumnya telah mengalam pengurangan aktivitasnya. Pada tanggal 4 Desembe 1939, Permanent Court of International Justice tidak lagi menangani masalah – masalah peradilan dan tidak melakukan pemilihan hakim – hakimnya. Dan pada tahun 1940 mahkamah pindah dari kedudukannya di Denhaag ke Jenewa, hanya tinggal seorang hakim yang tersisa di Den Haag bersama dengan beberapa petugas panitera yang berkebangsaan Belanda. Walaupun dalam tekanan keadaan perang, suatu pemikiran harustetap diberikan untuk masa depan pengadilan sebagaimana pembentukan dari politik internasional yang baru. Pada tahun 1942, Amerika dan Inggris mempunyai rencana untuk mendirikan konsep badan Peradilan, yaitu : 1. 2. Harus merupakan organ yuridis utama dari organisasi internasional yang akan dibentuk. Membuat suatu peradilan baru dirasakan lebih konsisten karena Permanent Court of International Justice tidak sesuai dengan perkembangan dalam Liga Bangsa-Bangsa. 3. 4. Beberapa negara tidak terwakili dalam konferensi San Fransisco. Pertemuan terakhir pada bulan Oktober 1945, membahasa bagaimana untuk merubah kerangka dari Permanent Court of Onternational Justice kepada International Court of Justice akhirnya pada tanggal 31 Januari 1946, seluruh hakim dari Permanent Court of International Justice mengundurkan diri dari pada tanggal 5 Februari 1946, dilakukan pemilihan anggota

6

pertama dari International Court of Justice. Pengukuhan kedudukan International Court of Justice yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 1946, dan pada tanggal itu juga pedahulunya yaitu Permanent Court of International Justice, dububarkan oleh Majelis Liga Bangsa – Bangsa pada waktu sidang terakhirnya. c. International Court of Justice International Court of Justice berkedudukan di Peace Palace, The Hague (Netherlands) yang bertindak sebagai pengadilan dunia dimana memutus perkara – perkara dalam sengketa – sengketa hukum International dari suatu negara dan juga memberikan pendapat dalam bentuk nasehat hukum (Advisory Opinion). International Court Of Justice dibentuk berdasarkan pasal 92-96 Piagam Perserikatan Bangsa – Bangsa yang dirumuskan di San Fransisco pada tahun 1945, pasal 92 menyatakan bahwa Mahkamah adalah organ utama PBB. Karena itu, maka negara – negara anggota PBB otomatis terikat kepada Mahkamah (International Court of Justice) sebagaimana halnya kepada organ – organ PBB lainnya. Dalam bidang penyelesaian sengketa – sengketa secara damai, Mahkamah juga terikat pada tujuan dan perinsip PBB yang dinyatakan pada pasal 1 dan 2 Piagam PBB dan karena statuta Mahkamah dilampirkan pada Piagam PBB serta merupakan bagian itegral dari Piagam PBB, maka konteks Piagam PBB Tersebut merupakan suatu faktor pengendali dalam penafsiran ketentuan – ketentuan dari statua. Statua International Court of Justice memuat kaidah dasar mengenai konstitusi, yuridiksi dan prosedur Mahkamah serta ditambah dengan dua perangkat kaidah yang dikeluarkan oleh mahkamah sesuai dengan kewenangannya untuk perumusan peraturan yang dimilkinya menurut pasal 30 statua ICJ, yaitu : 1. Rules of Court yang disahkan pada tanggal 14 April 1978 yang merupakan suatu revisi atas peraturan sebelumnya yang disahkan pada tanggal 6 Mei 1946, yang didasarkan pada aturan yang sama

7

dengan aturan yang diberlakukan pada PCIJ dan telah diubah pada tahun 1972. ketentuan itu mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1978, dimana aturan – aturan revisi yang baru bukan saja memuat ketentuan – ketentuan acara, melainkan juga kaidah – kaidah yang mengatur struktur dan tugas Mahkamah serta tugas – tugas dari panitera. 2. Resolusi tanggal 12 April 1978, mengenai praktek yuridisial Intern Mahkamah, yang merupakan versi revisi dari resolusi yang dikeluarkan tanggal 5 Juni 1968, Resolusi ini menentapkan praktek yang harus diikuti oleh Mahkamah berkaitan dengan pertukaran pandangan antara para hakim dalam kaitannya dengan masalah – masalah khusus, setelah selesainya proses perkara tertulis dan sebelum diselenggarakan dengan pendapat lain, serta berkenaan dengan pertimbangan Mahkamah secara terpisah setelah penyimpulan dengan pendapat lain, tentang suatu pendapat untuk mencapai keputusan, pemungutan suara oleh para hakim, persiapan keputusan dan opini – opini terpisah serta opini – opini yang menyanggah. dalam peraturan dapat dijumpai dalam Statua dan dalam Rules of Court. Perbedaan hakiki antara kedua instrumen adalah statua terutama sangat penting bagi Mahkamah itu sendiri, sedangkan Rules of Court sangat penting bagi para pihak yang berpekara dihadapan Mahkamah. Lebih lanjut, Statua memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan Rules of Court. Karena merupakan suatu bagian integral dari Piagam PBB (charter), Statua tidak dapat diubah secara langsung oleh tidak bertentangan dengan ketentuan statua. 2.2 KEANGGOTAAN MAHKAMAH INTERNASIONAL Semua anggota PBB ipso facto yang berarti faktanya sendiri, adalah peserta statua, akan tetapi negara yang bukan anggota PBB dapat juga menjadi peserta, berdasarkan syarat – syarat yang ditetapka dalam setiap perkara oleh Majelis Umum PBB atas rekomendasi dari dewan Keamanan (pasal 93 Piagam PBB). Sayarat – syarat itu adalah penerimaan negara yang bukan anggota atas Statuta, penerimaan kewajiban – kewajiban

8

(pasal 94 Piagam PBB) dan melaksanakan suatu pemberian sumbangan anggaran Mahkamah seperti yang dimuat dalam resolusi Majelis Umum tanggal 11 Desember 1946. a. Pemilihan Hakim Mahkamah International Mengenai pemilihan haki, sebagaimana diatur dalam statua meliputi dua tahap, yaitu. 1. Pencalonan (nomination) 2. Pemilihan (election) Untuk pencalonan, penyelenggaraannya dipercayakan kepada kelompok – kelompok nasional dalam Permanent Court of Arbitratio dan bagi negara yang ingin menjadi anggota dalam satatua, tetapi tidak menjadi anggota Permanent Court of Arbitration, maka disyaratkan untuk membentuk suatu kelompok rasional dengan syarat – syarat yang sama seperti yang dinyatakan dalam pasal 44 konvensi 1907 atau pasal 4 dalam Statuta. Sebelum melakukan pencalonan atau pengajuan calon, menurut pasal 6 Statua, setiap kelompok nasional diminta untuk konsultasi dengan Mahkamah Agung Nasional, fakultas – fakultas hukum dan akademi – akademi nasional yang memusatkan studi pada hukum internasional. Kelompok nasional ini diizinkan mengajukan calon tidak lebih dari empat orang, yang mana tidak lebih dari dua orang yang berkembangsaan yang sama dengan kelompok nasional itu atau untuk pemilihan periodik tidak melebihi kelipatan jumlah lowongan yang ada (pasal 5 (2) statua). Dari daftar calon, Majelis Umum dan Dewan Keamanan secara independen melakukan pemungutan suara untuk memilih anggota – anggota mahkamah (pasal 8 statua), yang mana kemudian akan diambil 15 orang anggota dari calon yang diajukan. Setiap calon dipilih berdasarkan suara terbanyak mutlak dari kedua organ itu dan jika jabatan itu tetap kosong, maka sidang kedua atau ketiga dapat diselenggarakan dalam usaha untuk mendapatkan suara terbanyak mutlak ini dalam kedua

9

organ. Apabila jabatan belum juga terisi, maka pertemuan bersama kedua organ itu dengan mendelegasikan tiga anggotanya, akan berupaya akan mengajukan nama – nama itu kepada kesua organ. Apabila Konferensi atau pertemuan bersama itu tidak juga berhasil mencapai suara terbanyak dalam hal persetujuan seorang calon, selanjutnya anggota – anggota mahkamah yang terpilih dapat mulai mengisis lowongan – lowongan kandidat – kandidat yang memperoleh suara baik dalam Majlis Umum maupun Dewan Keamanan dan dalam hal ini terjadi kesamaan suara, maka hakim tertua memiliki hak suara memilih. Dalam Permanent Court of International Justice dan International Courtof Justice sistem pencalonan dan pemilihan hakimnya tetap sama, akan tetapi ada beberapa perubahan tertentu. Perubahan – perubahan ini antara lain adalah penyerahan kepada Assemblt dan League Council yang berubah menjadi General Assembly dan Security Council PBB, dan pemungutan suara pemilihan dalam Dewan Keamanan PBB yaitu tentang ketentuan khusus pasal 10 ayat 2 statua dengan maksud menghindari veto. Selanjutnya pasal 13 Statua yang baru memuat suatu pola untuk penggiliran (staggering) pemilihan – penilihan sehingga lima orang dipilih setipa anggota untuk masa jabatan selama tiga tahun dan seorang hakim dimungkinkan untuk dipilih kembali. Hal ini bertujuan untuk keseimbangan pengalaman pada Mahkamah. Namun, ada pengadilan dalam pemilihan berkala untuk mengisi lowongan yang disebabkan oleh meninggalnya atau permintaan berhenti dari seorang hakim. b. Hakim Ad Hoc Dalam pengadilan ad hoc d mana karakter “yang mewakili” para hakim sangat menonjol, PICJ dan ICJ mempunyai tujuan untuk menjamin adanya sebuah badan dengan hakim – hakim yang independen. Maka, pasal 2 Statua menyatakan pemilihan tanpa memandang kebangsaan mereka, namun dalam prakteknya, anggota tetap dewa Keamanan selalu menempatkan hakimnya dalam Mahkamah. Sejalan dengan penegasan untuk meyelsaikan perkara diman negara asal hakim tersebut menjadi

10

salah satu pihak. Akan tetapi, pasal 31 Statua memberi pihak lain yang tidak menempatkan hakim di dalam Mahkamah, dapat mengajukan calon hakim ad hoc. Sedangkan apabila dalam suatu perkara, masing – masing pihak tidak mempunyai hakim dalam Mahkamah yang berasal dari masing – masing negara, maka kedua pihak berhak mencalonkan hakim – hakin ad hoc. Pengajuan hakim – hakim ad hoc mempunyai kepentingan politis, yaitu sebagai alat pembujuk kepada negara – negara untuk menggunakan Mahkamah sebagai upaya penyelesaian dari suatu sengketa. Hal ini sejalan dengan gagasan Mahkamah sebagai lembaga independen dan secara dapat dikatakan bahwa tidak ada hakim ad hoc yang memberi suara yang bertentangan dengan negara asal hakim tersebut. Argumen ini nampaknya dimaksudkan untuk meniadakan adanya agen – agen penasehat – penasehatr negara tersebut. c. Idependensi Hakim Terdapat dua kriteria yang mengatur pemilihan hakim, yaitu : kriteria pertama, menurut pasal 2 Statua, berdasarkan sifat pribadi pada hakim – hakim harus orang - orang yang bermoral tinggi, yang memiliki kualifikasi di negara asal hakim tersebut, atau penasehat – penasehat hukum yang kompetensi diakui dibidang hukum internasional. Kriteria kedua, menurut pasal 9 Statuta, menyatakan bahwa lembaga atau badan para hakim itu secara keseluruhan harus mencerminkan bentuk – bentuk utama peradaban dan prinsip – prinsi sistem hukum internasional harus dilaksanakan. Di sini berkembang tendensi yang menuntut secara tegas adanya pembagian imbang berdasarkan geografis yang telah menjadi karakter dari komposisi sejumlah organ atau badan PBB berkomposisi terbatas, yang memungkinkan diabaikannya kriteria pertama, yaitu mengenai pribadi para hakim. Pasal 18 menyatakan bahwa tidak ada usia pensiun bagi hakim dan pemberhentian mereka hanya dapat dilakukan melalui keputusan suara bulat anggota – anggota Mahkamah lainnya. Lebih lanjut pasal 16 terlarang hakim – hakim melakukan suatu tugas

11

politis atau administrasi atau terikat pada pekerjaan hakim yang bersifat profesional dan pada pasal 17 melarang seorang hakim yang menangani perkara tertentu di mana ia bertindak sebagai agen, penasehat dan sebagainya dalam kasus tersebut. Upaya pembatasan ini dimaksudkan untuk menjamin kebebasan dalam ari bahwa dengan tidak adanya pekerjaan lain itu. Para hakim harus dibayar secara layak sebagai hakim. Akan tetapi dalam pernyataannya hakim – hakim dibayar dengan pembebasan dari pajak pendapatan serta ditambah jumlah tunjangan pensiun, demikian juga para hakim ad hoc dibayar oleh dana Mahkamah dan bukan oleh para pihak seperti dilakukan dalam pengadilan – pengadilan ad hoc. 1.3 TINJAUAN MENGENAI KLAIM YANG DILAKUKAN ANTAR

NEGARA DALAM SENGKETA PERBATASAN

Paa sub bab ini akan dibahas mengenai kalim yang dilakukan oleh para pihak, yaitu Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya perlu di ketahui pengertian atau definisi dari klaim itu sendiri. Klaim adalah suatu tuntutan atau suatu gugatan, dalam hal ini dilakukan oleh para pihak mengenai kedaulatan atas batas – batas wilayah negaranya. Sidang International Court and Justice (ICJ) pada tanggal 17 Desember 2002 telah memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan yang sejak tahun 1970-an menjadi sengketa antara Malaysia dan Indonesia, secara resmi menjadi milik Malaysia. Sehubungan dengan keputusan yang cukup mengejutkan Bangsa Indonesia tersebut, bersama ini kami menyampaikan masukan dan tanggapan sebagai berikut : 1. Pulau Sipadan memiliki luas 10,4 ha dan terletak 15 mil dari Sabah serta 40 mil dari daratan Pulau Sebatik, demikian juga dengan Pulau Ligitan hanya 7,9 ha dengan j arak 21 mil dari Sabah dan 57,6 mil dari Sebatik.Masalah Sipadan dan Ligitan muncul menjadi sengketa tentang kepemilikannya, apakah Indonesia atau Malaysia

12

bermula sejak tahun 1969, dimana sejak saat itu kedua negara menyepakati tidak akan melakukan kegiatan apapun pada kedua pulau tersebut sambil terus mengupayakan penyelesaiannya. 2. Dari sejarah “kepemilikan” Pulau Sipadan dan Ligitan ini dapat ditelusuri jauh kebelakang, berdasarkan argumen masing-masing negara, meliputi : a. Indonesia memiliki data-data sejarah yang mendukung klaim kepemilikan atas Pulau Sipadan dan Ligitan, yaitu :
o

Konvensi antara Belanda - Inggris pada tahun 1891 mengenai kesepakatan daerah di selatan garis paralel 4′ 10 menit Lintang Utara milik Belanda dimana Pulau Sipadan dan Ligitan berada di sebelah selatan garis itu. Kesepakatan tersebut dikukuhkan dalam peta yang dibuat Belanda dan diakui Inggris. Peta-peta yang dibuat Kartografi Stanford (Inggris) dan peta yang dibuat Badan Pemetaan Nasional Malaysia hingga 1970-an, tidak mencantumkan Sipadan - Ligitan sebagai milik Malaysia. Belanda telah melakukan kedaulatan dengan melakukan survei serta patroli dikedua pulau itu pada 1903 serta mendaratkan Kapal Lynx di Sipadan pada 1921. Izin penambangan minyak yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia dan Malaysia mengacu pada Konvensi 1891.

o

o

o

o

b. Demikian juga dengan Malaysia memiliki data-data sejarah, yaitu:
o

Kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan secara estafet dari Sultan Dent/Overback - Inggris - Malaysia serta Sultan Sulu -Spanyol - AS Inggris - Malaysia ( Chain of Title ). Doktrin penguasaan efektif secara berkesinambungan

o

(effective occupation) atas kedua pulau tersebut.

13

o

Malaysia lebih banyak memiliki bukti tindakan administratif di kedua pulau itu. Antara lain penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung oleh Inggris pada 1917, penarikan pajak bagi pengumpul telur penyu sejak tahun 1930 dan pengoperasian mercusuar sejak tahun 1960-an serta melaksanakan aktivitas kepariwisataan sejak 1980. Fakta bahwa, kapal perang AS pada 1903 mengunjungi Pulau Sipadan dan mengklaim menjadi miliknya. Tidak ada bukti tertulis bahwa kedua pulau itu pernah berada di bawah administrasi Belanda yang diperoleh dari Kesultanan Bulungan.

o

o

o

Garis batas 40 10 menit Lintang Utara bukanlah allocation line, karena Ingris tidak pemah mengindikasikan keinginannya untuk menentukan batas laut territorial di Bomeo Utara.

3. Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957 tentang Wawasan Nusantara yaitu mengenai status Indonesia sebagai negara kepulauan, dimana perairan territorial Indonesia sebelumnya hanya sejauh 3 mil dari tiap-tiap pulau di kepulauan Indonesia. Konvensi Hukum Laut I Jenewa 1958, Konvensi tentang Laut Teritorial memungkinkan suatu negara menarik garis pangkal dengan straight base line dan normal base line. Melalui Undang-Undang No. 4/Prp/1960 tentang Perairan Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan dilakukan penarikan garis pangkal untuk mengukur laut teritorial sejauh 12 mil dari titik terluar dari pulau-pulau terluar. Titik dasar yang didapat dari hasil perhitungan diatas peta (tanpa melalui survei lapangan) sebayak 200 titik dasar dengan metode point to point theory. Satu hal mendasar yang “terlupakan” dalam UU No. 4/Prpl1960 adalah Pulau Sipadan dan Ligitan tidak dimasukkan dalam wilayah negara kepulauan Indonesia.

14

4. Sesuai dengan berjalannya waktu, sengketa Sipadan-Ligitan mulai muncul pada tahun 1969 yaitu saat kedua negara mengadakan perundingan penetapan batas landas kontinen di perairan Selat Malaka dan Laut Sulawesi pada 22 September 1969 di Kuala Lumpur. Dalam pembahasan tentang batas landas kontinen di laut Sulawesi secara bersamaan baik delegasi Indonesia maupun Malaysia mengklaim pulau Sipadan dan Ligitan sebagai miliknya. Akhirnya dalam perundingan ini disepakati kedua pihak menahan diri dan tidak akan melakukan kegiatan apapun pada kedua pulau tersebut, sambil menunggu penyelesaian masalahnya. Kesepakatan kedua negara ini ditafsirkan oleh Indonesia sebagai penetapan “status quo” atas kedua pulau dimaksud Namun dilain pihak Malaysia sejak tahun 1980-an telah melakukan berbagai pembangunan infrastruktur pariwisata bahari di kedua pulau, Sipadan dan Ligitan meskipun masih dalam status sengketa. Indonesia beberapa kali mengajukan protes kepada Malaysia, namun pengembangan pariwisata di kedua pulau berjalan terus. 5. Konferensi PBB tentang hukum laut III kpada 30 April 1982 di New York telah berhasil menyusun United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS’ 82) yang kemudian ditandatangani 117 negara termasuk Indonesia pada tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaica. Melalui Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985 tanggal 31 Desember 1985, Indonesia meratifikasi UNCLOS’ 82 yang berarti bahwa seluruh perangkat hukum Indonesia yang sudah ada atau akan ada harus mengacu kepada konvensi tersebut. Dengan telah berlakunya UN,CLOS ‘82 secara resmi diseluruh dunia sejak 16 Nopember 1994, maka Indonesia secara yuridis formal telah diakui sebagai negara kepulauan, termasuk hak-hak dan kewajiban yang melekat pada wilayah negara kepulauan.

15

Salah

satu

kewajiban

Indonesia

adalah

penyesuaian

cara

penarikan garis pangkal sesuai dengan ketentuan dalam LJNCLOS ‘82, yang selanjutnya menjadi dasar untuk penetapan perbatasan wilayah laut, meliputi lebar Laut Teritorial 12 mil (pasal 3 LTNCLOS ‘82), Lajur Tambahan (Contigous Zone) 24 mil (pasal 33), Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) selebar 200 mil (pasal 48 dan 57) serta Landas Kontinen selebar 200 mil (pasal 76). Khusus untuk landas kontinen dimana konfigurasi dasar lautnya sedemikian rupa sehingga batas terluamya berada di continental margin yang terletak di luar 200 mil ditetapkan maksimum selebar 350 mil dari garis pangkal atau 100 mil dari kedalaman laut 2500 meter. Tahun 1989 - 1995 Dishidros TNI-AL telah melaksanakan survei lapangan guna penyesuaian titik dasar yang terdapat dalam Undang-Undang 4/Prp/1960 (200 titik), dimana telah didapatkan 232 titik dasar. Hasil penyesuaian penarikan garis pangkal berdasarkan UNCLOS ‘82, maka didapat 189 titik dasar. Hasil survei inilah (189 titik dasar) yang digunakan sebagai lampiran dari Undang-Undang Nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia berupa Peta Iktisar wilayah yuridiksi Negara Kepulauan Indonesia yang menggantikan Undang-Undang Nomor 4/Prpl1960, namun tanpa mencantumkan daftar koordinat titik-titik dasar. Penetapan UU (Undang-Undang) Nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia ini antara lain dimaksud untuk memasukkan (secara hukum) pulau Sipadan dan Ligitan yang tidak tercantum dalam UU No. 4/Prpl1960, namun masih sangat lemah karena batas wilayah negara Republik Indonesia hanya berupa Peta Iktisar, tanpa daftar koordinat titik-titik dasar. 6. Batas wilayah yang ditetapkan Inggris (British North Borneo Company) bersama Belanda di pulau Sebatik sepanjang garis

16

paralel 4 derajat, 10 menit LU, tidak tegas menunjukkan apakah garis batas paralel tersebut ditarik ke laut sampai jauh kearah Timur / pulau Sipadan dan Ligitan. Dengan kata lain apakah konvensi 1891 hanya mengatur batas di darat (P. Sebatik) atau termasuk juga batas dilaut (sampai arah Sipadan - Ligitan ). Hal ini dapat dilihat dalam pasal 4, Konvensi 1891 sebagai berikut : From 4 degree 10 minutes latitude in the east coast the boundary line shall be continued eastward along that parallel, across the island of Sebatik,- that portion of the island situated to the north of that parallel shall belong unreservedly to the British North Borneo Company, and the portion south of that parallel to the Netherlands. Indonesia mengartikan, garis batas 4 dera at 10 menit LU tersebut berlanjut terus ke laut. Karena itu, Indonesia berpendapat bahwa Konvensi 1891 tidak hanya mengatur batas darat Borneo, melainkan juga batas laut. Hal itu diperkuat dengan Mukadimah Konvensi 1891 yang menyebutkan, Konvensi dibuat untuk menetapkan batas antara wilayah milik Belanda di Pulau Borneo dan negaranegara di pulau tersebut yang berada dalam kekuasaan Inggris. Penafsiran itu pun sesuai dengan Konvensi Wina 1969 Pasal 31 tentang Perjanjian Intemasional yang mengatakan, interpretasi suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik, sesuai dengan makna kontekstual dan memperhatikan tujuan pembentukan. 7. Tujuh tahun kemudian, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 tahun 2002 tertanggal 28 Juni 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia, batas wilayah juridiksi negara Kepulauan Indonesia ditetapkan termasuk pulau Sipadan (Titik Dasar No. 03 6 A) dan pulau Ligitan (Titik Dasar No. 036 B dan 036 C). Namun penetapan PP Nomor 38

17

tahun 2002 ini sudah cukup terlambat untuk mendukung klaim Indonesia bahwa pulau Sipadan-Ligitan masuk wilayah Indonesia, dikaitkan dengan upaya penyelesaian sengketa pulau SipadanLigitan antara Indonesia dan Malaysia telah disepakati melalui “Special Agreement for the Submission to the International Court of Justice the Dispute between Indonesia and Malaysia Concerning the Souverenity over pulau Sipadan and Ligitan” tanggal 31 Mei 1997, dimana kedua pihak memutuskan mengajukan sengketa kedua pulau ke ICJ (Malikamah Intemasional) di Den Haag. Kesepakatan tersebut langsung ditindaklanjuti pada 19 Nopember 1997 dan disusul Ratifikasi oleh Indonesia dengan Keppres Nomor 47 tahun 1997 tertanggal 29 Desember 1997. Special Agreement ini disampaikan ke ICJ pada 2 Nopember 1998 melalui Notifikasi bersama kedua negara. Hasil sidang ICJ tersebut nantinya bersifat final dan mengikat (final and binding), selaras dengan Piagam PBB Pasal 94 ayat 1. 8. Perkembangan terakhir dari sengketa pulau Sipadan dan Ligitan yang ditangani oleh ICJ temyata tidak secara khusus menggunakan argumen historis kedua negara. Para hakim ICJ yang berjumlah 17 orang (termasuk 2 orang hakin7 masing-masing mewakili Indonesia dan Malaysia), justru menggunakan ordonansi pengeluaran izin untukperlindungan margasatwa / burung pada tahun 1917 dan penarikan pajak pemungut telur penyu tahun 1930 oleh pemerintah Inggris. Hal ini merupakan pertimbangqn effectivities, dimana penierintah Inggris yang menjajah Malaysia saat itu telah nielaksanakan tindakan administratif di kedua pulau tersebut. Dalam persidangan terakhir ICJ di Den Haag, Belanda pada tanggal 17 Desember 2002, telah menjatuhkan putusan akhir dimana dari 17 hakim, hanya I orang yang memenangkan Indonesia, lainnya 16 orang hakim memenangkan Malaysia. Keputusan final ICJ ini meneguhkan kedaulatan Malaysia atas pulau Sipadan dan Ligitan, dilain pihak Indonesia tidak dapat

18

berbuat apa-apa dan harus menerimanya karena keputusan ICJ bersifat final. 9. Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagis State) yang terbesar di dunua dengan 15.708 pulau dan panjang garis pantai 81.000 km, memiliki wilayah perbatasan maritime laut dengan 10 negara yaitu : India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Philipina, Republik Palau, Papua Nuigini, Timor Leste dan Australia. Dari semua wilayah perbatasan dengan negara tetangga, baru perbatasan maritime antara Indonesia dan Australia yang sudah tuntas di tanda tangani pada tanggal 14 Maret 1997 di Perth, Australia oleh Menteri Luar Negeri RI Ali A latas dan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer. Dalam perjanjian batas maritime kedua negara ini, yang cukup menonjol dan perlu disqsialisasikan untuk Pemda di wilayah perbatasan adalah pulau Christmas yang memiliki wilayah ZEE selebar 38,75 mil (12 mil wilayah kedaulatan dan 26,75 mil wilayah ZEE, kearah Utara) dan Pulau Ashmore (dulu bemama Ashmore Reef) dengan ZEE selebar 24 mil (12 mil wilayah kedaulatan dan 12 mil ZEE).

Adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batas – batas ini, sepertisemua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus memiliki yuridiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas – batas teoritisnya dan dalam semua perkara perdata dan pidana yang timbul di dalam batas – batas ini. Hal ini merupakan dasar dari Republik Indonesia dan Malaysia memperebutkan kedua pulau tersebut dan untuk itu diperlukan bukti – bukti yang kuat dalam mengajukan klaim mengenai kedaulatan atas pulau Sipadan dan Ligitan.

19

1.4 Penyelesaian Kasus Sipadan dan Ligitan PERSIDANGAN Mahkamah Internasional (International Court of Justice) di Den Haag untuk mendengarkan argumen masing-masing pihak, Malaysia dan Indonesia mengenai status kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan, sudah berakhir hari Rabu. Namun keputusan akhir mengenai sengketa tersebut baru akan dapat dilakukan akhir Desember 2002 atau awal Malaysia Kalimantan selama Timur ini Januari adalah sengketa 2003. yang Sabah, menyangkut Malaysia klaim Timur. Salah satu hal yang mengganjal kemesraan hubungan Indonesiateritorial/kedaulatan atas kedua pulau yang terletak di lepas pantai dekat perbatasan Walaupun Menlu Hassan Wirayuda mengemukakan rasa optimisnya bahwa Indonesia akan memenangkan perkara/sengketa itu, yang notabene kita harapkan juga demikian, namun keputusan Mahkamah yang terdiri atas 15 anggota, dan 5 orang hakim majelis yang memeriksa perkara tersebut bukanlah suatu hal yang mudah untuk diprediksi. Argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak untuk memenangkan perkara itu memang berbeda satu sama lain. Malaysia telah mengemukakan dalil-dalil efektivitas peranan ataupun kekuasaan negaranya atas kedua pulau itu selama puluhan tahun terakhir ini. Sedangkan Indonesia telah mengajukan dalil-dalil hukum berdasarkan konvensi/perjanjian antara Belanda dengan Inggris tahun 1891 yang menetapkan wilayah yang berada di utara garis lintang 4 derajat 10 menit dari Pulau Sebatik merupakan milik Inggris, sedangkan wilayah yang berada di selatan garis lintang tersebut milik Belanda. Argumentasi tersebut telah dilengkapi pula oleh sejumlah peta yang terdapat selama ini, yang notabene ada juga yang diakui oleh Malaysia kebenarannya. Masalahnya — dan ini merupakan suatu titik kelemahan argumentasi

20

Indonesia — adalah pihak Indonesia yang merasa menjadi pemilik kedua kepulauan tersebut selama ini belum/tidak pernah mengelola apalagi menguasai kedua pulau tersebut. Malahan sejak tahun 1978, Malaysia telah menggarap Pulau Sipadan sebagai tempat rekreasi/wisata dengan mengerahkan ratusan warga negaranya ke pulau tersebut. Dengan kata lain, pulau tersebut hingga saat ini telah digarap, dihuni, serta dikelola sepenuhnya oleh orang-orang dari Malaysia tanpa seorang pun dari Indonesia. Malahan, Menlu Hassan Wirajuda telah menganalogikan perkara atas kedua pulau tersebut bagaikan sengketa antara pemilik sertifikat (Indonesia) dengan penggarap (Malaysia). Permasalahannya tentu tidaklah sesederhana sebagaimana dianalogikan Menlu Wirajuda itu. Sengketa Sipadan dan Ligitan bukanlah suatu perkara perdata semata, tapi menyangkut klaim teritorial dan kedaulatan suatu negara terhadap suatu wilayah. Apabila konvensi/perjanjian antara Belanda dan Inggris tahun 1891 itu memang benar, maka perlu dipertanyakan kenapa keutuhan dan kedaulatan wilayah Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang merupakan wilayah peninggalan/warisan pemerintah Hindia Belanda tidak ditegakkan secara konsekuen oleh aparat keamanan kita selama ini? Apakah prinsip-prinsip hukum internasional atau pun Mahkamah Internasional tersebut akan tetap membenarkan hak si pemilik, yang selama puluhan tahun tidak pernah menginjak, mengelola, bahkan menguasai secara fisik wilayah yang menjadi miliknya itu? Sampai sejauh mana, unsur kadaluwarsa dipertimbangkan dalam tuntutan tersebut? Kita tentu tidak menginginkan terjadinya kembali konfrontasi antara kedua negara dalam penyelesaian sengketa atas kedua pulau tersebut. Akan tetapi internasionalisasi penyelesaian konflik tersebut melalui Mahkamah Internasional di Den kedua Haag negara sesungguhnya untuk telah menunjukkan sengketa. ketidakmampuan menyelesaikan

Bahkan hal itu juga memperlihatkan kegagalan regional organisasi ASEAN, — yang sudah menyediakan metode penyelesaian konflik di antara anggota dalam Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia

21

(Traktat Kesepakatan dan Kerja sama di Asia Tenggara) pada KTT I ASEAN di Bali tahun 1986, untuk menyelesaikan sengketa yang berada di wilayahnya. BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Sejarha terbentuknya suatu Mahkamah Internasional dimulai dengan suatu pembentukan Lembaga Arbtrase yang merupakan lembaga penyelesaian sengketa internasional secara damai. Arbtrase adalah suatu institusi yang sudah cukup tua, tetapi sejarah arbtrase modern yang diakui adalah sejak Jay Treaty 1794 antara Amerika dan inggris, yang mengatur pembentukan tiga ”joint mixed commissions” untuk menyelesaikan beberapa perselisihan tertntu yang tidak dapat diselesaikan selama perundingan trkatat tersebut. Suatu dorongan lainnya bagi arbtrase diberikan oleh Alabama Claims Award 1872 antara Amerika Serikat dan Inggris. Semua anggota PBB ipso facto yang berarti oleh faktanya sendiri, adalah peserta statuta, akan tetapi negara yang bukan anggota PBB dapat juga menjadi peserta, berdasarkan syarat – syarat yang ditetapkan dalam setiap perkara oleh Majelis umum PBB atas rekomendasi dari dewan keamanan (pasal 93 Piagam PBB). Syarat – syarat itu adalah penerimaan negara yang bukan anggota atas semua, penerimaan anggaran Mahkamah seperti yang dimuat dalam resolusi Mejalis Umum tanggak 11 Desember 1946. Pada umumnya, penyelesaian sengketa dogolongkan dalam dua kategori, yaitu : 1. Cara – vara penyelesaian damai, yaitu apabila para pihak telah dapat menyepakati untuk menemukan suatu solusi yang bersahabt. Dalam metode, menurut sifatnya dibagi dua, yaitu secara politik dan secara hukum. Penyelesaian damai yang bersifat politik meliputi perundingan

22

(ngotation), jasa – jasa baik (good-offices), penyelidikan (inquiry), penengahan (mediation) dan konsiliasi (conciliation). Sedangkan penyelesaian damai yang bersifat hukum / prosedur hukum meliputi arbtrase (arbutration) dan penyelesaian hukum (judical settlement). 2. Cara – cara penyelesaian secara paksa atau dengan kekerasan, yaitu apabila solusi yang dipakai atau dikenakan adalah melalui kekerasan. Penyelesaian melalui kekerasan meliputi perang dan tindakan bersenajata non perang, retorasi (retorsion), tindakan – tindakan pembalasan (reprisals), blokade secara damai (pasific blockade) dan intervensi (intervention). ,

23

DAFTAR PUSTAKA 1. Diktat Mata Kuliah Hukum Internasional Jurnal Hukum Internasional 2. D.W. Bowett Q.C.LL.D, Hukum Organisasi Internasional,

terjemaham Bambang Iriana Djajaatmadja, S.H. (Jakarta : Sinar Grafika, 1992), hal. 326. 3. J.G. Starke, Pengantar Hukum internasional, terjemaham Bambang Iriana Djajaatmadja, SH (Jakarta : Sinar Grafika, 1992), hal. 647 4. Kliping koran Pusat dokumentasi dan Perpustakaan Departemen Luar Negeri, Kompas tanggal 10 September 1994. 5. Posted on Wed 14 Feb 2007 (586 reads) 6. www.google.com 7. http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_internasional

24