P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

|Views: 37|Likes:
Published by Kinanthi Putri M

More info:

Published by: Kinanthi Putri M on Aug 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA PENGUKURAN PANJANG

Guru Pembimbing : Rosmidawati S.Pd M.Pd Disusun oleh : Kinanthi Putri Maharani Kelas : X.IPA7 SMA NEGERI 3 PALEMBANG TAHUN AJARAN 2013/2014

I. II.

Mengukur Panjang Tujuan

Tujuan dari kegiatan mengukur panjang ini adalah agar kita bisa mengukur besaran panjang dengan berbagai alat ukur panjang.

III.

Alat dan bahan

Sebelum melakukan kegiatan mengukur panjang diperlukan alat dan bahan seperti berikut : 1. Mistar Centimeter

2. Mistar Milimeter

3. Jangka Sorong

4. Mikrometer Sekrup

5. Balok (batang) kayu atau papan

6. Kelereng / Manik – manik

7. Kertas / Buku

IV.

Teori Dasar

Amatilah tinggi badan temanmu. Apakah terlihat lebih tinggi atau lebih pendek daripada badanmu? Kamu dapat mengetahui jawabannya dengan membandingkan tinggi badan kamu dengan temanmu. Akan tetapi, kamu akan mengalami kesulitan dalam menentukan secara tepat seberapa besar perbedaan tinggi yang ada pada dirimu dan temanmu. Dalam menentukan besarnya perbedaan ini, tentunya membutuhkan alat bantu yang dapat memberikan solusi dengan tepat. Dalam kasus ini, secara tidak langsung kamu telah melakukan suatu proses pengukuran. Membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah ditetapkan sebagai standar pengukuran disebut mengukur. Alat bantu dalam proses pengukuran disebut alat ukur. Berikut ini akan dijelaskan proses pengukuran dengan menggunakan beberapa alat ukur, antara lain alat ukur panjang (mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup). Di dalam pelajaran fisika, kita sering menemukan angka seperti ini 3×102. Angka tersebut disebut notasi ilmiah. Apakah notasi ilmiah? Notasi ilmiah adalah cara penulisan nomor yang mengakomodasi nilai-nilai terlalu besar atau kecil untuk dengan mudah ditulis dalam notasi desimal standar. Notasi ilmiah memiliki sejumlah sifat yang berguna dan umumnya digunakan dalam kalkulator, dan oleh para ilmuwan, matematikawan, dokter, dan insinyur. Dalam notasi ilmiah, semua nomor ditulis seperti ini:

α × 10b
(“a dikali 10 pangkat b") dimana pangkat b adalah bilangan bulat, dan koefisien a adalah bilangan real, disebut significand atau mantissa (meskipun istilah "mantissa" dapat menyebabkan kebingungan karena juga dapat merujuk ke bagian pecahan dari logaritma). Jika nomor itu negatif maka, pangkatnya memakai tanda minus (seperti pada notasi desimal biasa). Contoh: Notasi Desimal Biasa 300 4,000 5,720,000,000 0.000 000 0061 Notasi Ilmiah (Normalisasi) 3  102 4  103 5.72  109 6.1  109

Pernahkah kamu membeli buah apel? Apabila ternyata pada 2 kilogram terdapat 12 buah apel. Nilai 2 kilogram diperoleh dari pengukuran sedangkan 12 buah diperoleh dari perhitungan. Angka hasil pengukuran disebut angka penting sedangkan angka hasil perhitungan disebut bilangan cacah. Angka penting adalah angka hasil pengukuran yang terdiri dari angka pasti (eksak) dan angka taksiran. Angka pasti diperoleh dari perhitungan skala alat ukur sedangkan angka taksiran diperoleh dari setengah skala terkecil. Berikut aturan-aturan dalam menulis angka penting : 1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.

2. Angka nol di belakang angka bukan nol adalah bukan angka penting, kecuali diberi tanda khusus misal garis bawah. 3. Angka nol yang terletak diantara dua angka bukan nol adalah angka penting. 4. Angka nol di depan angka bukan nol adalah bukan angka penting. 5. Angka nol dibelakang tanda desimal dan mengikuti angka bukan nol adalah angka penting. No. Angka Jumlah Angka Penting Menurut aturan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 2356 250 3000 303 0.020 2.00 4 2 4 3 2 3 1 2 2 3 4 5

Ketentuan – ketentuan pada operasi angka penting : 1. Hasil operasi penjumlahan dan pengurangan dengan angka angka penting hanya boleh terdapat satu Angka Taksiran saja. 2. Angka penting pada hasil perkalian dan pembagian, sama banyaknya dengan angka penting yang paling sedikit. 3. Untuk angka 5 atau lebih dibulatkan ke atas, sedangkan angka kurang dari 5 dihilangkan, Jika angkanya tepat sama dengan 5, dibulatkan ke atas jika angka sebelumnya ganjil dan dibulatkan ke bawah jika angka sebelumnya genap. Mikrometer sekrup punya ketelitian 10 kali lebih teliti dari jangka sorong. Kalau jangka sorong 0,1 mm, mikrometer sampai 0,01 mm. Mikrometer yang pertama diciptakan oleh William Gascoigne pada abad ke-17 sebagai alat pengukurann yang lebih presisi dibanding jangka sorong. Mikrometer sekrup adalah sebuah alat ukur besaran panjang yang cukup presisi. Mikrometer mempunyai tingkat ketelitian hingga 0,01 mm. Mikrometer berfungsi untuk mengukur panjang/ketebalan/diameter dari benda-benda yang cukup kecil seperti lempeng baja, aluminium, diameter kabel, kawat, lebar kertas, dan masih banyak lagi. Penggunaan mikrometer sekrup sangat luas, intinya adalah mengukur besaran panjang dengan lebih presisi. Berikut cara penggunaan mikrometer sekrup dan jangka sorong.

A. Mikrometer Sekrup

Gambar 1 mengukur panjang dengan Mikrometer Sekrup.

Mikrometer sekrup di tunjukkan pada gambar 1. Jika skala nonius di putar lengkap 1 kali maka rahang geser dan skala nonius maju mundur 0.5 mm karena skala nonius memiliki 50 skala, maka ketelitian mikrometer sekrup 0.5 mm / 50 = 0.01 mm. Dengan demikian ketidak pastiannya Δx. Δx = ½ × nilai satuan terkecil (nst) = ½ × 0.001 mm = 0.005 mm Maka cara menentukan nilai x (panjang benda) yaitu: 1. Perhatikan garis skala utama dengan skala nonius. Misal garis skala utama adalah 7 mm lebih. 2. Perhatikan garis mendatar pada skala nonius yang berhimpit dengan garis mendatar pada skala utama. Misal garis mendatar tersebut 24, maka nilai x = 7.0 + (24 × 0.01 mm) = 7.24 mm. Sehingga jika dituliskan, panjang = (7.240 + 0.005)mm.

B. Jangka Sorong

Gambar 2 mengukur panjang dengan Jangka Sorong. Skala nonius memiliki panjang 9 mm dan di bagi 10 skala sehingga selisihnya 0.1 mm atau 0.01 cm. Maka ketidak pastiannya adalah Δx = ½ × 0.1 mm = 0.05 mm = 0.005 cm. Cara menentukan nilai x (panjang benda) yaitu: 1. Perhatikan anfka pada skala utama yang berdekatan dengan angka 0 pada nonius. Misal angka tersebut 5 cm. 2. Perhatikan garis nonius yang berhimpit dengan skala utama. Misal angka tersebut adalah garis ke-4, ini berarti nilai x = 5 cm + (5 × 0.01 cm) = 5.05 cm. Sehingga jika dituliskan oanjang = (5.050 + 0.005)cm.

V. Langkah Kerja a. Mengukur panjang batang (papan) kayu a. Ukur panjang batang kayu dengan mistar ceentimeter. b. Lakukan pengukuran dengan posisi mata sebagai berikut, seperti terlihat pada
gambar berikut.

c. Ulangi dengan 5 kali pengukuran. d. Tuliskan data yang di dapat ke dalam tabel pengamatan. e. Gantilah mistar centimeter dengan mistar milimeter lalu ulangi langkah a
sampai d.

b. Mengukur diameter manik-manik
a. Ukurlah diameter manik-manik dengan mikrometer sekrup (cara penggunaan dapat dilihat pada teori dasar). b. Lakukan pengukuran oleh orang yang berbeda. c. Lakukan 5 kali pengukuran. d. Tuliskan data yang di dapat pada tabel data. e. Ulangi langkah a sampai d dengan menggunakan jangka sorong.

c. Mengukur tebal buku
a. Ukurlah tebal buku dengan mikrometer sekrup (cara penggunaan dapat di lihat pada teori dasar). b. Lakukan pengukuran oleh orang yang berbeda. c. Lakukan 5 kali pengukuran. d. Tuliskan data yang di dapat pada tabel data. e. Ulangi langkah a sampai d dengan menggunakan jangka sorong.

VI. Data Pengamatan 1. Hasil pengukuran panjang batang (papan) kayu (L)
Pengukuran ke 1 2 3 4 5 Rata-rata Ketidakpastian pengukuran Error Dengan mistar centimeter (L + ΔL)cm 59.6 ± 0.5 58.9 ± 0.5 59.7 ± 0.5 59.0 ± 0.5 59.5 ± 0.5 Dengan mistar milimeter (L + ΔL)mm 596 ± 0.05 589 ± 0.05 597 ± 0.05 590 ± 0.05 595 ± 0.05

2. Hasil pengukuran diameter manik-manik (D)
Pengukuran ke 1 2 3 4 5 Rata-rata Ketidakpastian pengukuran Error Dengan mikrometer sekrup (D + ΔD)cm 6.35 ± 0.005 5.40 ± 0.005 6.33 ± 0.005 5.84 ± 0.005 6.35 ± 0.005 Dengan jangka sorong (D + ΔD)mm 5.10 ± 0.05 6.40 ± 0.05 6.10 ± 0.05 5.70 ± 0.05 5.70 ± 0.05

3. Hasil pengukuran tebal buku (T)
Pengukuran ke 1 2 3 4 5 Rata-rata Ketidakpastian pengukuran Error Dengan mikrometer sekrup (T + ΔT)cm 6.10 ± 0.005 4.47 ± 0.005 3.45 ± 0.005 2.19 ± 0.005 3.45 ± 0.005 Dengan jangka sorong (T + ΔT)mm 0.59 ± 0.05 0.71 ± 0.05 0.43 ± 0.05 0.51 ± 0.05 0.71 ± 0.05

VII. Analisis data dan Perhitungan
1. Dari hasil pengukuran kayu, alat ukur manakah yang lebih teliti? Berikan alasannya. 2. Dari hasil pengukuran diameter manik-manik dan tebal kertas, alat ukur manakah yang lebih teliti? Berikan alasannya. 3. Posisi mata yang mana yang lebih teliti dalam melakukan pengukuran? Berikan alasannya. 4. Untuk menghitung diameter rambut, alat ukur manakah yang anda akan gunakan? Mengapa? 5. itungla nilai rata-rata asil pengukuran x, kesalahan pengukuran (Δx) dan persentase error perhitungan. Jawab : 1. Dari hasil pengukuran panjang kayu lebih teliti menggunakan mistar milimeter karena satuan milimeter mempunyai 10 kali ketelitian dibanding menggunakan mistar centimeter. 2. Dari hasil pengukuran diameter manik-manik dan tebal kertas, mikrometer sekrup lebih teliti untuk mengukurnya karena nilai mikrometer sekrup 10 kali lebih teliti daripada jangka sorong. 3. Posisi mata yang tegak lurus lebih teliti dalam melakukan pengukuran karena jika dilihat dari samping kanan akan bertambah 0.1 cm/0.01 mm dan sebaliknya jika dilihat dari samping kiri akan berkurang 0.1 cm/0.01 mm. Maka hasil yang tepat dilihat dari tegak lurus. 4. Untuk mengukur diameter rambut, saya menggunakan mikrometer sekrup. Sebab mikrometer sekrup mempunyai kemampuan yang lebih yaitu mengukur benda-benda yang cukup kecil termasuk diameter rambut. 5. 1. Pengukuran panjang batang (papan) kayu (L) Dengan mistar centimeter Dengan mistar milimeter Rata-rata 59.34 ± 0.5 593.4 ± 0.05 Ketidakpastian ½ × 0.1 = 0.5 ½ × 0.1 = 0.05 pengukuran Error 0.5 : 59.34 × 100% = 0.84% 0.05 : 593.4 × 100% = 0.0084% 2. Pengukuran manik-manik (D) Dengan mikrometer sekrup Dengan jangka sorong (mm) (cm) Rata-rata 6.054 ± 0.005 0.568 ± 0.05 Ketidakpastian ½ × 0.1 = 0.005 ½ × 0.1 = 0.05 pengukuran Error 0.005 : 6.054 × 100% = 0.05 : 5.80 × 100% = 0.88% 0.08%

3. Pengukuran tebal buku (T) Dengan mikrometer sekrup (cm) Rata-rata 3.932 ± 0.005 Ketidakpastian ½ × 0.001 = 0.005 pengukuran Error 0.005 : 3.932 × 100% = 0.12%

Dengan jangka sorong (mm) 0.59 ± 0.05 ½ × 0.01 = 0.05 0.05 : 0.59 × 100% = 8.4%

VIII. Kesimpulan
Kesimpulannya adalah mengukur menggunakan mikrometer sekrup lebih teliti dibanding dengan menggunakan mistar atau jangka sorong.

IX.
           

Referensi

id.wikipedia.org/wiki/Notasi_ilmiah www.elsmandagiri.com/fxbab1/1_angka_penting_html www.mediabali.net/fisika.hypermedia/angka_penting.html rumushitung.com/2013/02/02/mikrometer-sekrup-mikrometer-screw/ female.store.co.id/ELIPSS_Manik_Manik_Hijau_Tua_baju_butik_25716.html www.aneh-unik.com/2011/20/10-permainan-tradisional-anak-indonesia.html www.ahmadharis-haeruddin.com/tag/kayu/s imagination.my-blogspot.com/2012/03/alat-ukur-panjang.html azkiyamhie.blogspot.com/2012/03/parsel-fisika-buat-abspers.html nerbitkanbuku.com www.matematikamenyenangkan.com/penggaris-untuk-mengukur/ perpustakaancyber.blogspot.com/2013/01/pengukuran-alat-ukur-besaran-pokok-danturunan-konversi-satuan.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->