SINDROM TEROWONGAN KARPAL (CARPAL TUNNEL SYNDROME) ALDY S. RAMBE Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran USU/RSUP. H.

Adam Malik ABSTRAK Sindroma Terowongan Karpal adalah entrapment neuropathy yang paling sering terjadi. Sindroma ini terjadi akibat adanya tekanan terhadap nervus medianus pada saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan. Beberapa penyebabnya telah diketahui seperti trauma, infeksi, gangguan endokrin dan lain-lain, tetapi sebagian tetap tidak diketahui penyebabnya. Penggunaan tangan/pergelangan tangan yang berlebihan dan repetitif diduga berhubungan dengan terjadinya sindroma ini. Gejala awal umumnya berupa gangguan sensorik (nyeri, rasa tebal, parestesia dan tingling). Gejala motorik hanya dijumpai pada stadium lanjut. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis didukung pemeriksaan elektrodiagnostik, radiologis dan laboratoris. Penatalaksanaanya dibagi atas tindakan konservatif seperti istirahat, pemasangan bidai dan injeksi steroid serta tindakan operatif. Prognosa umumnya baik walaupun kekambuhan masih tetap mungkin terjadi. Kata kunci: terowongan karpal (carpal tunnel), entrapment neuropathy.

PENDAHULUAN Salah satu penyakit yang paling sering mengenai nervus medianus adalah neuropati tekanan/jebakan (entrapment neuropathy). Di pergelangan tangan nervus medianus berjalan melalui terowongan karpal (carpal tunnel) dan menginnervasi kulit telapak tangan dan punggung tangan di daerah ibujari, telunjuk,jari tengah dan setengah sisi radial jari manis. Pada saat berjalan melalui terowongan inilah nervus medianus paling sering mengalami tekanan yang menyebabkan terjadinya neuropati tekanan yang dikenal dengan istilah Sindroma Terowongan Karpal/STK (Carpal Tunnel Syndrome/CTS). STK adalah suatu neuropati yang sering ditemukan, biasanya unilateral padatahap awal dan dapat menjadi bilateral. Gejala yang ditimbulkan umumnya dimulai dengan gejala sensorik walaupun pada akhirnya dapat pula menimbulkan gejala motorik. Pada awalnya gejala yang sering dijumpai adalah rasa nyeri, tebal (numbness) dan rasa seperti aliran listrik (tingling) pada daerah yang diinnervasi oleh nervus medianus. Gejala ini dapat timbul kapan saja dan di mana saja, baik di rumah maupun di luar rumah. Seringkali gejala yang pertama timbul di malam hari yang menyebabkan penderita terbangun dari tidurya. Sebagian besar penderita biasanya baru mencari pengobatan setelah gejala yang timbul berlangsung selama beberapa minggu. Kadang-kadang pijatan atau menggoyang-goyangkan tangan dapat mengurangi gejalanya, tetapi hila diabaikan penyakit ini dapat berlangsung terus secara progresif dan semakin memburuk. Keadaan ini umumnya terjadi karena ketidaktahuan penderita akan penyakit yang dideritanya dan sering dikacaukan dengan penyakit lain seperti 'rematik'.

©2004 Digitized by USU digital library

1

45% wanita dan 8% pria yang mengalami gejala ini terbukti menderita STK setelah dikonfirmasi dengan pemeriksaan elektrodiagnostik 1°.5.Tulisan ini akan mencoba membahas STK meliputi etiologi.11.8. Di Mayo Clinic. patogenese. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Minnesota.Foix pada taboo 1913. Tulang-tulang karpalia membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal ligament dan palmar carpal ligament) yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang karpalia tersebut 3. sindroma ini juga disebut dengan nama acroparesthesia 1 .11-14.000 pasien wanita/tahun dan 68 per 100. Terowongan karpal terdapat di bagian sentral dari pergelangan tangan di mana tulang dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit yang dilalui oleh beberapa tendon dan nervus medianus.8. Setiap perubahan yang mempersempit terowongan ini akan menyebabkan tekanan pada struktur yang paling rentan di dalamnya yaitu nervus medianus 4.2. Sebagian besar penulis berpendapat bahwa faktor mekanik clan vaskular memegang peranan penting dalam terjadinya STK.12. Umumnya STK terjadi secara kronis di mana terjadi penebalan fleksor retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. gejala. tepatnya di bawah tleksor retinakulum (cit.8. DEFINISI Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan neuropati tekanan atau cerutan terhadap nervus medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. Mumenthaler 1984)1 . Di Maastricht. ditemukan rata-rata 99 kasus per 100. penatalaksanaan dan prognosanya. Biasanya lebih berat pada tangan yang dominan 1. Hipotesa ini menerangkan bagaimana keluhan nyeri dan sembab yang timbul terutama pada malam/pagi hari akan berkurang ©2004 Digitized by USU digital library 2 . Belanda. EPIDEMIOLOGI STK adalah entrapment neuropathy yang paling sering dijumpai 1. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. Prevalensi STK bervariasi.000 penduduk per tahun. Penyakit ini biasanya timbul pada usia pertengahan 1. Sedangkan Hudson dkk menemukan bahwa 62% entrapment neuropathy adalah STK 1. diagnosa.5-11.14. pada tahun 1976-1980 insidensnya 173 per 100.5.Samuel 1979. diagnosa banding. prevalensinya sedikit bertambah 2. Dengan segala keterbatasan diharapkan tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai STK. 16% wanita dan 8 % pria dilaporkan terbangun dari tidurnya akibat parestesi jari-jari. Umumnya pada keadaan awal bersifat unila~ral tetapi kemudian bisa juga bilateral. PATOGENESE Ada beberapa hipotesa mengenai patogenese dari STK. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan intrafsikuler. Wanita lebih banyak menderita penyakit ini daripada pria 1. epidemiologi.2. Pada beberapa keadaan tertentu. misalnya pada kehamilan. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Istilah STK diperkenalkan oleh Moersch pada tabun 1938 1.13. Nervus medianus mengalami tekanan pada saat berjalan melalui terowongan karpal di pergelangan tangan menuju ke tangan. Pada populasi Rochester. Dejong 1979. median thenar neuritis atau partial thenar atrophy 2 STK pertama kali dikenali sebagai suatu sindroma klinik oleh Sir James Paget pada kasus stadium lanjut fraktur radius bagian distal (1854) .Dulu.4.STK spontan pertama kali dilaporkan oleh Pierre Marie dan C.000 pasien pria/tahun.

diabetes mellitus. Degeneratif: osteoartritis. hipotiroidi. 3. infiltrasi metastase.2.3.8. pergelangan tangan dan tangan . Endokrin : akromegali.3 dan setengah sisi radial jari 4 walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari. terutama pada penderita lanjut usia 5. ETIOLOGI Terowongan karpal yang sempit selain dilalui oleh nervus medianus juga dilalui oleh beberapa tendon fleksor.12. Gejala awal biasanya berupa parestesia.10. Neoplasma: kista ganglion.13. Trauma langsung terhadap pergelangan tangan. kehamilan. Akibatnya terjadi kerusakan pada saraf tersebut 1.5. 4. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy. Trauma: dislokasi. Selanjutnya terjadi vasodilatasi yang menyebabkan edema sehingga sawar darah-saraf terganggu. mieloma. 8.Sprain pergelangan tangan. Pada STK akut biasanya terjadi penekanan yang melebihi tekanan perfusi kapiler sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi dan timbul iskemik saraf. GEJALA Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja . Rasa nyeri ini umumnya agak berkurang bila penderita memijat atau menggerak-gerakkan tangannya atau dengan meletakkan tangannya pada posisi yang lebih tinggi.8. fraktur atau hematom pada lengan bawah. 9. komplikasi dari terapi anti koagulan. Lama-kelamaan safar menjadi atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus medianus terganggu secara menyeluruh 1. 7. terapi estrogen atau androgen. 6. Pada kasus yang lain etiologinya adalah 12 : 1. skleroderma.Gangguan motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat 5. lupus eritematosus sistemik. Keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Beberapa penulis menghubungkan gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dengan bertambahnya resiko menderita gangguan pada pergelangan tangan termasuk STK 2. Keadaan iskemik ini diperberat lagi oleh peninggian tekanan intrafasikuler yang menyebabkan berlanjutnya gangguan aliran darah. sarkoidosis.12. Metabolik: amiloidosis. Tekanan langsung pada safar perifer dapat pula menimbulkan invaginasi Nodus Ranvier dan demielinisasi lokal sehingga konduksi saraf terganggu 1. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang-ulang. kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari 1. Iatrogenik : punksi arteri radialis. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf.14. gout. misalnya HMSN ( hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III. lipoma. polimialgia reumatika. Nyeri juga akan berkurang bila penderita lebih banyak mengistirahatkan tangannya. hematoma.4. Pada sebagian kasus etiologinya tidak diketahui. Setiap kondisi yang mengakibatkan semakin padatnya terowongan ini dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada nervus medianus sehingga timbullah STK 1. Infeksi: tenosinovitis. 2. tuberkulosis. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumatoid. 5. Gejala lainnya adalah nyeri di tangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam hari sehingga sering membangunkan penderita dari tidurnya.setelah tangan yang terlibat digerak-gerakkan atau diurut (mungkin akibat terjadinya perbaikan sementara pada aliran darah). Bila ©2004 Digitized by USU digital library 3 . pemasangan shunt vaskular untuk dialisis.

12. Pemeriksaan fisik Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan perhatian khusus pada fungsi. maka tes ini menyokong diagnosa STK.penyakit berlanjut. sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan. sering dinyatakan dengan keluhan adanya kesulitan yang dialami penderita sewaktu mencoba memutar tutup botol atau menggenggam 1. Thenar wasting. tes ini menyokong diagnosa. Kelemahan pada tangan juga dapat dijumpai. Tes ini mendukung diagnosa hila timbul parestesia atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus kalau dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi. c. Bila dalam 60 detik timbul gejala-gejala seperti STK. Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari.13 .5. e.8 : a. Pada tahap yang lebih lanjut penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang trampil misalnya saat menyulam atau memungut benda-benda kecil. Penderita diminta untuk melakukan abduksi maksimal palmar lalu ujung jari 1 dipertemukan dengan ujung jari lainnya. f. Menilai kekuatan dan ketrampilan serta kekuatan otot secara manual maupun dengan alat dinamometer. rasa nyeri dapat bertambah berat dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan dapat menetap. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosa STK.8. sensorik dan otonom tangan.12. Harus diingat bahwa tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud. Wrist extension test. g. Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau menggerak-gerakkan jari-jarinya. ©2004 Digitized by USU digital library 4 . d. Dilakukan pemasangan tomiquet dengan menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di atas tekanan sistolik. tangan dan pergelangan tangan terutama di pagi hari.4. Phalen's test.4. Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala seperti STK. Torniquet test. DIAGNOSA Diagnosa STK ditegakkan selain berdasarkan gejala-gejala di atas juga didukung oleh beberapa pemeriksaan yaitu : 1. Hipesetesia dapat dijumpai pada daerah yang impuls sensoriknya diinervasi oleh nervus medianus 8. Flick's sign. Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan adanya atrofi otot-otot thenar. Bila dalam 1 menit timbul gejala seperti STK. Ketrampilan/ketepatan dinilai dengan meminta penderita melakukan gerakan yang rumit seperti menulis atau menyulam. b. Kadang-kadang rasa nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher. motorik. Gejala ini akan berkurang setelah penderita mulai mempergunakan tangannya 1. Penderita melakukan ekstensi tangan secara maksimal. tes ini menyokong diagnosa. Di nilai juga kekuatan jepitan pada ujung jari-jari tersebut. Bila keluhan berkurang atau menghilang akan menyokong diagnosa STK. Tinel's sign. Pada penderita STK pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang diinnervasi oleh nervus melanus . sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan1. Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu menegakkan diagnosa STK adalah 1.

Pada yang lainnya KHS akan menurun dan masa laten distal (distal latency) memanjang. 3. polifasik. Gejalanya adalah rasa nyeri dan nyeri tekan pada pergelangan tangan di dekat ibu jari. j. Biasanya keluhannya berkurang hila leher diistirahatkan dan bertambah hila leher bergerak. Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. Foto palos leher berguna untuk menyingkirkan adanya penyakit lain pada vertebra. Luthy's sign (bottle's sign). Tenosinovitis dari tendon muskulus abduktor pollicis longus dan ekstensor pollicis brevis.5.13.12. 4. positif bila nyeri bertambah. Oistribusi gangguan sensorik sesuai dermatomnya. Bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat. Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik (two-point discrimination) pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus medianus. menunjukkan adanya gangguan pada konduksi safar di pergelangan tangan. kulit yang kering atau licin yang terbatas pada daerah innervasi nervus medianus. DIAGNOSA BANDING8 1.12. Pronator teres syndrome.5. 3. ©2004 Digitized by USU digital library 5 . Finkelstein's test : palpasi otot abduktor ibu jari pada saat abduksi pasif ibu jari.13. Kecepatan Hantar Saraf(KHS). Pemeriksaan sinar X terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat apakah ada penyebab lain seperti fraktur atau artritis. lnoracic outlet syndrome. 4. KHS bisa normal. Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik) 1. tes dinyatakan positif dan mendukung diagnosa. Dijumpai atrofi otot-otot tangan lainnya selain otototot thenar. Bila etiologi STK belum jelas. Bila ada akan mendukung diagnosa STK. Pada 15-25% kasus. Pemeriksaan fungsi otonom. EMG bisa normal pada 31 % kasus STK. k. i. CT scan dan MRI dilakukan pada kasus yang selektif terutama yang akan dioperasi. misalnya pada penderita usia muda tanpa adanya gerakan tangan yang repetitif.8. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot lumbrikal. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul gejala seperti STK. Pemeriksaan sensibilitas. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik.8. de Quervain's syndrome.8. gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar. tes ini menyokong diagnosa. USG. Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi. Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan menggunakan ibu jari. Diperhatikan apakah ada perbedaan keringat. biasanya akibat gerakan tangan yang repetitif. Pemeriksaan radiologis 1. a. tes dianggap positif dan menyokong diagnosa. 2. b. Pemeriksaan laboratorium 1. kadar hormon tiroid ataupun darah lengkap. KHS normal. Keluhannya lebih menonjol pada rasa nyeri di telapak tangan daripada STK karena cabang nervus medianus ke kulit telapak tangan tidak melalui terowongan karpal. dapat dilakukan beberapa pemeriksaan seperti kadar gula darah . Pressure test. Gangguan sensorik dijumpai pada sisi ulnaris dari tangan dan lengan bawah.h. 2. Cervical radiculopathy.15.

7. Tindakan operasi dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan. 2. Terapi langsung terhadap STK 1. 4. Istirahatkan pergelangan tangan. b. Tindakan operasi pacta STK disebut neurolisis nervus medianus pada pergelangan tangan.5. Pada STK bilateral biasanya operasi pertama dilakukan pada tangan yang paling nyeri walaupun dapat sekaligus dilakukan operasi bilateral. Deksametason 1-4 mg 1 atau hidrokortison 10-25 mg 8 atau metilprednisolon 20 mg 14 atau 40 mg 12 diinjeksikan ke dalam terowongan karpal dengan menggunakan jarum no. Oleh karena itu sebaiknya terapi STK dibagi atas 2 kelompok. 6. terapi juga harus diberikan terhadap keadaan atau penyakit lain yang mendasari terjadinya STK. Obat anti inflamasi non steroid.14. Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan.TERAPI Selain ditujukan langsung terhadap STK. Operasi hanya dilakukan pacta kasus yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi konservatif atau hila terjadi gangguan sensorik yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar 8.12. misalnya dengan pemberian diuretika. tetapi sekarang telah dikembangkan teknik operasi secara endoskopik. Biasanya tindakan operasi STK dilakukan secara terbuka dengan anestesi lokal.8. Bila belum berhasil. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan. Operasi endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara dini dengan jaringan parut yang minimal. Penulis lain 16 menyatakan bahwa tindakan operasi mutlak dilakukan hila terapi konservatif gagal atau bila ada atrofi otot-otot thenar. Bidai dapat dipasang terus-menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu. Kontrol cairan. Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian piridoksin tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila diberikan dalam dosis besar 1. lnjeksi steroid. tetapi karena terbatasnya lapangan operasi tindakan ini lebih sering menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera pada safar 8. yaitu : 1. 5. Beberapa penyebab STK seperti adanya massa atau anomali maupun tenosinovitis pacta terowongan karpal lebih baik dioperasi secara terbuka 14. ©2004 Digitized by USU digital library 6 .23 atau 25 pada lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah medial tendon musculus palmaris longus. sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah hilangnya sensibilitas yang persisten. Terapi konservatif. Vitamin B6 (piridoksin). Terapi operatif. Fisioterapi. 1. Beberapa penulis berpendapat bahwa salah satu penyebab STK adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka menganjurkan pemberian piridoksin 100-300 mg/hari selama 3 bulan 1. 3. suntikan dapat diulangi setelah 2 minggu atau lebih. a.

jangan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk.2. Di samping itu perlu pula diperhatikan beberapa penyakit yang sering mendasari terjadinya STK seperti 1: trauma akut maupun kronik pada pergelangan tangan dan daerah sekitarnya.8 : 1. PROGNOSA Pada kasus STK ringan.otot yang mengalami atrofi baru diperoleh kemudian. akromegali akibat tumor hipofise. Bila terjadi kekambuhan. Gunakanlah seluruh tangan dan jari-jari untuk menggenggam sebuah benda. penyakit kolagen vaskular. Latih otot-otot tangan dan lengan bawah dengan melakukan peregangan secara teratur. tenosinovitis. Terapi terhadap keadaan atau penyakit yang mendasari STK 1. Telah terjadi kerusakan total pada nervus medianus. Istirahatkan tangan secara periodik. Bila setelah dilakukan tindakan operasi.myxedema akibat hipotiroidi. artritis. Kurangi kecepatan dan kekuatan tangan agar pergelangan tangan memiliki waktu untuk beristirahat. penderita yang sering dihemodialisa. Komplikasi yang paling berat adalah reflek sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri hebat. Terjadi STK yang baru sebagai akibat komplikasi operasi seperti akibat edema. Keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya STK harus ditanggulangi. dengan terapi konservatif pacta umumnya prognosa baik 1. obesitas dan penyakit lain yang dapat menyebabkan retensi cairan atau menyebabkan bertambahnya isi terowongan karpal. ©2004 Digitized by USU digital library 7 . Biasanya perbaikan motorik dan otot. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya STK atau mencegah kekambuhannya antara lain 3: Usahakan agar pergelangan tangan selalu dalam posisi netral Perbaiki cara memegang atau menggenggam alat benda. Kesalahan menegakkan diagnosa. Batasi gerakan tangan yang repetitif. mungkin jebakan/tekanan terhadap nervus medianus terletak di tempat yang lebih proksimal. perlengketan. prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali. Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang persisten di daerah distribusi nervus medianus.tetapi resiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. tidak juga diperoleh perbaikan maka dipertimbangkan kembali kemungkinan berikut ini 1. lebih banyak mengenai wanita dan sering ditemukan pada usia pertengahan . Perbaikan yang paling cepat dirasakan adalah hilangnya rasa nyeri yang kemudian diikuti perbaikan sensorik. tetapi karena operasi hanya melakukan pada penderita yang sudah lama menderita STK penyembuhan post ratifnya bertahap. hiperalgesia. Sekalipun prognosa STK dengan terapi konservatif maupun operatif cukup baik . KESIMPULAN Sindroma Terowongan Karpal (STK) adalah neuropati jebakan yang sering ditemukan.Sebenarnya secara klinis sindroma ini sudah dikenali sejak abad ke 19. gagal ginjal. infeksi. 2. infeksi pergelangan tangan. disestesia dan ganggaun trofik 17. kehamilan atau penggunaan pil kontrasepsi. Keseluruhan proses perbaikan STK setelah operasi ada yang sampai memakan waktu 18 bulan 1. sebab bila tidak dapat menimbulkan kekambuhan STK kembali. 3. Pada keadaan di mana STK terjadi akibat gerakan tangan yang repetitif harus dilakukan penyesuaian ataupun pencegahan. Secara umum prognosa operasi juga baik. hematoma atau jaringan parut hipertrofik.17.

6th ed.A. Boston : Little. JB Lippincott.1997.Haerer.T. DeJong RN. Adams RD. Neurona. 1995. Gejala motorik hanya dijumpai pada penderita STK yang sudah berlangsung lama. Diagnosis dan Terapi Sindroma Terowongan Karpal (S. New York:McGrawHill .p. parestesia.414-419.1358-1359. Manual of Neurologic Therapeutics. Penatalaksanaan STK dikelompokkan atas 2 dengan sasaran yang berbeda. Handbook of Neurosurgery. Diseases of Nerve and Muscle.254-256. penyebabnya sangat bervariasi. ©2004 Digitized by USU digital library 8 .274-275. 1992. In : Marshall RS.nyeri. editors. Weimer LH.p. 5th ed. 1983. Davis Co. Carpal Tunnel Syndrome. The Resident's Neurology Book. Walshe III TM. 1994. Baltimore: Williams&Wilkins Co.Tetapi istilah STK baru digunakan pertama kali oleh Moersch pada tahun 1938. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System.K. KEPUSTAKAAN Moeliono F. Sindroma ini bisa unilateral maupun bilateral.p. Feldman E. Weinreb HJ. 2nd ed. Principles of Neurology. 1994: 1-7.) atau (Carpal Tunnel Syndrome/CTS). 5th ed. Sebagian kasus STK tidak diketahui penyebabnya sedangkan pada kasus yang diketahui. In: Samuels MA. Kebanyakan penulis berpendapat bahwa STK mempunyai hubungan yang erat dengan penggunaan tangan secara repetitif dan berlebihan. Terapi terhadap STK dikelompokkan lagi atas terapi konservatif dan terapi operatif ( operasi terbuka atau endoskopik). Krames Communication (booklet). Etiologi.p. demikian pula adanya atrofi otot-otot thenar. 557-559. on Call Neurology. Ropper AH. Penegakan diagnosa STK didasarkan atas gejala klinis dan pemeriksaan fisik yang meliputi berbagai macam tes. Philadelphia. San Bruno (CA) : Krames Comm . editor. Salter RB. 1993. 1997 . kemungkinan kambuh masih tetap ada. Brown and Co.173-174. rasa tebal dan tingling pada daerah yang diinnervasi nervusmus. Greenberg MS. Gejala-gejala ini umumnya bertambah berat pada malam hari dan berkurang bila pergelangan tangan digerak-gerakkan atau dipijat. laboratoris dan terutama pemeriksaan neurofisiologi dapat membantu usaha menegakkan diagnosa.p. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis. Victor M.p. Philadelphia: F. Philadelphia: WB Saunders Co. Gejala awal STK umumnya hanya berupa gangguan sensorik seperti rasa. 3rd ed.381-382. Mayer SA. 10 : 16-27. Nerve and Muscle Disease. Terapi yang langsung ditujukan terhadap STK harus selalu disertai terapi terhadap keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya STK. Sekalipun prognosanya baik. Wilterdink JL. Devinsky o. Lakeland (Florida) : Greenberg Graphics. 1997. The Neurologic Examination revised by AF.

p.p.370-371. 3rd ed. Lindsay KW. New York: McGraw-Hill .Neurology and Neurosurgery Illustrated. Carpal Tunnel Syndrome.Louis :Mosby .374-379. St.1997.435.1997.p. editor.p. Current Therapy in Neurologic Disease.Rosenbaum R. Bone I . In : Johnson RT. Griffin JW. 3rd ed. Philadelphia: JB Lippincott Co. Rosenbaum R. Basic Neurology. Philadelphia: WB Saunders Co.p. 1982. ©2004 Digitized by USU digital library 9 . 2000. Quick Reference to Clinical Neurology. In:Evans RW. 5th ed.403-405.599-601. Gilroy J. Neurology and Trauma. Occupational and Use Mononeuropathies. 1996. New York : Churchill Livingstone . editors. Gunderson CH.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful