You are on page 1of 115

1

KEUANGAN INTERNASIONAL
PENDAHULUAN

Perdagangan internasional dipermudah oleh pasar keuangan internasional yang
menyebabkan perdagangn valas dan aliran modal berjalan lancar antarnagara. Pada era
globalisasi seperti sekarang ini akses masuk ke pasar keuangan dalam konteks perdagangan
intenasional menjadi teramat sangat mudah dengan berkembangnya teknologi informasi
modern.
Di makalah ini kami akan mencoba menguraikan segala sesuatu mengenai pasar keuangan
internasional yang telah berhasil kami dapatkan dari beberapa sumber. Dari mulai definisi
tentang pasar keuangan secara umum hingga definisinya secara internasional.
Dalam makalah ini kami juga akan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan pasar
keuangan internasional seperti pengelompokan pasar modal dunia serta pengelompokan
jenis-jenis pasar keuangan internasional dan lain sebagainya.
Makalah ini masih sangat jauh dari sempurna kerena keterbatasan referensi serta sumber
yang kami dapatkan sehingga kami harap maklum akan hal tersebut. Tetapi kami berusaha
untuk menyajikan hasil kerja terbaik kami yang tertuang dalam makalah ini.

PEMBAHASAN

A. PASAR KEUANGAN SECARA UMUM
1. Pengertian pasar keuangan
Pasar keuangan adalah merupakan mekanisme pasar yang memungkinkan bagi seorang
atau koporasi untuk dengan mudah dapat melakukan transaksi penjualan dan pembelian
dalam bentuk sekuritas keuangan (seperti saham dan obligasi), Dalam sekuritas komoditas
dimungkinkan dapat melakukan pembelian dan penjualan awal atas produk-produk sumber
alam seperti produk pertanian dan Pertambangan dan lain sebagainya.
2. Manfaat pasar keuangan
Tanpa adanya pasar keuangan ini maka peminjam uang (kreditur) akan mengalami
kesulitan dalam menemukan debitur yang bersedia untuk memberikan pinjaman
kepadanya. Pengantara seperti bank membantu dalam melakukan proses ini, dimana bank
menerima deposito dari nasabahnya yang memiliki uang untuk ditabung dan kemudian
bank dapat meminjamkan uang ini kepada orang yang berniat untuk meminjam uang. Bank
biasanya memberikan pinjaman uang dalam bentuk kredit dan kredit pemilikan rumah.
3. Penggolongan Pasar Keuangan
Terdapat berbagai cara untuk mengelompokkan pasar keuangan;
Cara Pertama untuk mengelompokkan pasar keuangan adalah melalui jenis klaim
keuangan. Klaim yang diperdagangkan pada pasar keuangan dapat berjumlah tetap maupun
bervariasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, aktiva keuangan disebut juga
instrumen hutang, sedangkan pasar keuangan dimana instrumen tersebut diperdagangkan
disebut pasar hutang. Aktiva keuangan lainnya disebut instrument pasar ekuitas atau bursa
2
saham. Saham preferen merupakan klaim ekuitas yang memberikan hak kepada investor
untuk menerima pembayaran dalam jumlah tetap. Umumnya, instrument hutang dan saham
preferen dikelompokkan sebagai bagian dari pasar penghasilantetap. Sektor bursa saham di
luar saham preferen disebut pasar saham biasa.
Cara Kedua untuk mengelompokkan pasar keuangan adalah berdasarkan jatuh temponya.
Sebagai contoh, terdapat pasar keuangan untuk instrument hutang jangka pendek disebut
pasar uang (money market) dan untuk instrumen aktiva keuangan dengan jatuh tempo yang
lebih panjang disebut pasar modal (capital market). Aktiva keuangan jangka pendek adalah
instrument yang jatuh temponya kurang dari atau sama dengan satu tahun, sedangkan
aaktiva keuangan jangka panjang memiliki masa jatuh tempo lebih dari satu tahun. Oleh
karena itu, pasar hutang dapat digolongkan sebagai pasar uang ataupun pasar modal
berdasarkan jangka waktu jatuh temponya. Instrumen ekuitas dikarenakan sifatnya yang
umumnya perpetual/tidak memiliki tanggal maturitas, dikelompokkan sebagai bagian dari
pasar modal.
Cara Ketiga untuk mengelompokkan pasar keuangan adalah berdasarkan penerbitannya,
yaitu apakah instrumen tersebut baru diterbitkan untuk pertama kalinya atau telah
diterbitkan sebelumnya. Pada saat penerbit (issuer) menjual aktiva keuangan baru kepada
masyarakat umum, maka issuer dianggap menerbitkan aktiva keuangan. Pasar bagi aktiva
keuangan yang diterbitkan pertama kali disebut pasar primer. Setelah kurun waktu tertentu,
aktiva keuangan dibeli dan dijual oleh sesama investor. Pasar dimana kegiatan
perdagangan tersebut dilakukan disebut pasar sekunder.
4. Fungsi Pasar Keuangan
Pasar keuangan memiliki tiga fungsi ekonomi utama. Pertama, pasar menentukan harga
aktiva yang diperdagangkan melalui interaksi antara penjual dan pembeli. Hal ini disebut
proses penemuan harga (price discovery process). Kadua, pasar keuangan menyediakan
suatu mekanisme bagi investor untuk menjual aktiva kewajibannya. Karenakegunaan
tersebut, pasar keuangan dapat menawarkan suatu likuiditas, yaitu kemampuan untuk
mengubah aktiva menjadi kas. Ini merupakan hal yang menarik jika situasi yang ada dapat
mendorong atau meotivasi investor untuk menjual. Tanpa adanya pasar sekunder, pemilik
hutang akan dipaksa untuk menyimpan instrumen hutangnya hingga tanggal jatuh
temponya. Pemilik ekuitas harus menunggu hingga perusahaan, baik sukarela maupun
terpaksa, dijual (dilikuidasi).
Fungsi ekonomi pasar keuangan yang ketiga adalah kemampuannya untuk menurunkan
biaya transaksi. Dua biaya dihubungkan dengan usaha transksi: biaya pencarian dan biaya
informasi.Biaya pencarian mengacu kepada biaya eksplisit, seperti biaya iklan dan biaya
implicit seperti waktu yang dihabiskan untuk menemukan penjual/pembeli. Keberadaan
pasar keuangan terorganisir menurunkan biaya pencarian.
Biaya informasi merupakan biaya yang dikeluarkan dalam menilai hasil investasi aktiva
keuangan.

B. PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL
1. Pengertian pasar keuangan internasional
3
Pasar keuangan internasional merupakan Pertemuan antara pembeli dan penjual yang
subjeknya adalah antarnegara yang bersangkutan, untuk memperdagangkan produk
keuangan dalam berbagai cara termasuk penggunaan bursa efek, secara langsung antara
penjual dan pembeli (over-the-counter).

2. Globalisasi Pasar Keuangan
Globalisasi berarti perpaduan (integrasi) dari pasar keuangan di seluruh dunia ke dalam
suatu pasar keuangan internasional. Karena globalisasi pasar keuangan, calon investor dan
penerbit (issuer) tidak hanya melakukan transaksi dalam ruang lingkup domestic yang
terbatas. Faktor-faktor yang mendorong terciptanya integrasi pasar keuangan adalah;
a) Deregulasi atau liberalisasi pasar dan aktivitas peserta pasar pada pusat keuangan utama,
b) Kemajuan teknologi yang meungkinkan pengawasan pasar dunia, pelaksanaan pesanan
dan analisis peluang keuangan,
c) Peningkatan instutisionalisasi pasar keuangan.

3. Pengelompokkan Pasar Modal Dunia
Dari sudut pandang suatu negara, pasar keuangan dapat dikelompokkan sebagai:
a) Pasar internal
Pasar internal disebut juga pasar nasional. Pasar ini dibedakan menjadi:
pasar domestik dan pasar asing. Pasar domestic merupakan pasar dimana perusahaan
perusahaan penerbit sekuritas berdomisili di negara tersebut.
Pasar asing adalah pasar dimana dilakukan jual beli sekuritas dari perusahaan yang tidak
berdomisili di negara tersebut. Sekuritas asing diatur oleh pihak berwenang di Negara
dimana sekuritas tersebut beredar. Misalnya, sekuritas yang diterbitkan di AS oleh
perusahaan non AS harus mengikuti hukum sekuritas AS. Perusahaan non-Jepang yang
ingin menerbitkan saham di Jepang harus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan oleh
departemen keuangan Jepang. Nama-nama panggilan telah diberikan terhadap berbagai
pasar asing. Antara lain, pasar asing di AS disebut Yankee market, di Jepang disebut
Samurai Market, di Inggris disebut Bulldog Market, di Belanda disebut Rembrandt Market
dan di Spanyol dikenal dengan sebutan Matador Market.


b) Pasar eksternal
disebut juga pasar internasional, meliputi sekuritas dengan karakteristik sebagai beriut:
(1) Pada saat ini diterbitkan, sekuritas ini ditawarkan secara terus-menerus kepada investor
di berbagai Negara, dan
(2) Sekuritas tersebut dikeluarkan di luar yuridikasi satu negara. Pasar eksternal umumnya
disebut offshore market, atau lebih popular dengan sebutan Euromarket (walaupun pasar
ini tidak terbatas hanya di Eropa, hanya dimulai di Eropa).

4. Jenis-jenis pasar keuangan internasional
a) Pasar Eurocurency
4
Pasar Eurocurency memudahkan transfer dana internasional khususnya yang berjangka
waktu pendek. Dalam pasar ini bank-bank komersial memakai perantara: menerima
deposito berjangka pendek dalam berbagai mata uang kemudian memanfaatkan dana ini
untuk disalurkan dalam kredit yang berjangka pendek juga. Biasanya transaksi dilakukan
dalam kategori “perdagangan besar”, dengan nilai transaksi yang besar. Deposan dan
peminjam utama dalam pasar ini adalah perusahaan besar dan lembaga pemerintah.
Volume transaksi Eurocurency dalam suatu area tertentu biasanya tergantung pada besar
kecilnya tingkat bisnis internasional dalam area tersebut.
Sejarah perkembangan pasar Eurocurency tidak dapat dilepaskan dengan munculnya pasar
Eurodollar. Pasar Eurodollar diciptakan karena banyak perusahaan AS mendepositokan
dollar AS di bank-bank Eropa. Bank yang berada di dataran Eropa tentu saja mau
menerima deposito dalam dollar karena mereka kemudian dapat meminjamkan dollar
tersebut kepada para nasabahnya di eropa karena dollar AS secara luas digunakan sebagai
alat tukar dalam perdagangan internasional, berarti selalu ada kebutuhan akan dollar di
Eropa. Deposito dalam dolar AS yang disimpan di bank-bank di Eropa tersebut terkenal
dengan sebutan Eurodollars.
Pasar Eurocurrency secara luas termasuk bank-bank di Asia yang menerima deposito dan
menyalurkan pinjaman dalam mata uang asing (terutama dollar). Pasar Eurocurrency di
Asia (sering disebut Asian market) terkonsentrasi khususnya di Hongkong dan Singapura.
Perbedaan antara Pasar Eurocurrency di asia dan Eropa hanya masalah lokasi. Pasar dolar
Asia tumbuh untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang menggunakan dolar AS (dan mata
uang “kertas” lainnya) sebagai alat tukar dalam perdagangan internasional. Para pengusaha
yang melakukan bisnis di Asia tidak dapat hanya mengandalkan bank-bank di Eropa
karena jarak dan perbedaan zona waktu. Apalagi pemerintah Singapura memberikan
kemudahan- kemudahan pajak dalam wujud penghapusan 40% withholding tax atas bunga
yang dibayar kepada orang asing pada tahun 1968 dan mengurangi pajak atas laba mereka
khususnya Asian dollar offshore loan dari 40% menjadi 10% pada tahun 1973. keringanan
dan penghapusan pajak seperti ini jelas amat berpengaruh terhadap pertumbuhan pasar
dollar Asia.
b) Pasar Eurocredit
Pasar Eurocredit melayani unit ekonomi yang kekurangan dana, terutana dalam kredit
jangka menengah. Syarat pinjaman jangka menengah biasanya lebih dari satu tahun dan
masa jatuh tempo umumnya lima tahun. Perbedaan utama antara kredit di pasar Eurocredit
dan Eurocurrency adalah pada jangka waktu kreditnya. Bank-bank komersial yang
berperan aktif dalam pasar Eurocurrency sebagai lembaga perantara juga dapat bermain di
pasar Eurocredit. Perusahaan dan pemerintah pada umumnya meraup dana sebanyak-
banyaknya dari pasar ini.
Eurobank menerima deposito jangka pendek dan terkadang memberikan pinjaman dalam
jangka waktu yang lebih panjang, akibatnya sering sering terjadi mismatch antara kekayaan
dan kewajibannya. Ini dapat memperburuk kinerja bank tersebut dalam periode suku bunga
yang meningkat karena mereka mungkin telah meminjam Eurocredit paadahal suku bunga
deposito yang harus dibayar cenderung meningkat. Untuk menghindari hal ini banyak
5
Eurobank sekarang menggunakan suku bunga mengambang bila meminjam Eurocredit
(floating-rate Eurocredit loan). Suku bunga mengambang ini sejalan dengan pergerakan
suku bunga di beberapa pasar uang, seperti LIBOR (London inter bank offer rate), yaitu
suku bunga yang umumnya dikenakan bagi keamanan antar bank di Eropa. Sebagai contoh,
suatu pinjaman Eurocredit bias saja memiliki suku bunga yang disesuaikan setiap enam
bulan sekali adan dipatok pada harga “LIBOR ditambah 1%”. Satu persen dalam contoh ini
merupakan premi yang harus dibayar diatas LIBOR dan besar kecilnya tergantung dari
resiko kredit si peminjam.
c) Pasar Eurobond
Pasar Eurobond memudahkan transfer dana jangka panjang dari pihak yang kelebihan dana
kepada yang kekurangan dana. Dengan kata lain, Pasar Eurobondmengisi kekosongan
penyediaan dana jangka panjang yang tidak dapat diberikan oleh pasar Eurocurrency dan
Eueocredit. Beberapa bank komersial berpartisipasi dalam pasar ini dengan membeli
Eurobond (obligasi) sebagai investasi. Tugas utama bank ini adalah melayani perusahaan
besar dan pemerintah dalam memasarkan obligasi. Biasanya bank-bank ini menempatkan
Eurobond bersama lembaga investor seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bond
mutual funds.
Munculnya pasar Eurobond salah satunya diakibatkan oleh pajak persamaan bunga
(interest Equalizer tax) yang ditetapkan oleh pemerintah AS pada tahun 1963 untuk
mencegah investor AS membeli surat berharga luar negeri. Akibatnya peminjam-peminjam
dari luar AS yang tadinya menjual surat berharga kepada investor AS mulai menoleh ke
pasar selain AS. Inilah awal menjamurnya pasar Eurobond.
d) Pasar modal internasional
Pasar modal internasional melayani transfer dana jangka panjang dalam wujud investasi
ekuiti (equity investement). Pertumbuhan yang mengesankan dalam transaksi saham
internasional sebagian besar diakibatkan oleh adanya international mutual funds. Yang
terakhir ini, selain memiliki lebih banyak informasi mengenai perusahaan-perusahaan
asing, juga mempunyai akses yang lebih mudah ke pasar internasional dibandingkan
investor individu. Dengan demikian, mereka dapat mengumpulkan dana dari investor
individu untuk menciptakan suatu portofolio saham internasional.
e) Pasar currency swap, futures, options, dan forward
Transfer dana internasional dalam pasar keuangan internasional seringkali menempatkan
para pelaku ekonomi dalam kondisi mudah menderita risiko valas, risiko suku bunga,
ataupun risiko suku bunga. Risiko ini, dalam praktik, dapat diminalisasi melalui pasar
currency swap, futures, options, dan forward. Para pelaku ekonomi menggunakan pasar-
pasar ini untuk melakukan spekulasi dan berjaga-jaga (hedge). Bank-bank komersial dan
perusahaan sekuritas merupakan perantara utama dalam pasar swap. Perusahaan sekuritas
menangani transaksi future dan option.

5. Motif melakukan investasi internasional
Beberapa motif umum bagi investor dan kreditor untuk memasuki pasar keuangan
internasional. Motif ini terbukti telah mendorong internasionalisasi pasar keuangan.
6
a) Motif investor melakukan investasi di pasar internasional:
• Kondisi perekonomian: perusahaan-perusahaan di Negara tertentu biasanya
mengharapkan kinerja lebih menguntungkan dengan beroprasi di negara lain.
• Harapan terhadap kurs valas: kebanyakan investor membeli surat-surat berharga dalam
mata uang yang nilainya diharapkan mengalami apresiasi terhadap mata uang Negara si
investor. Dari perspektif investor asing, kinerja investasi semacam ini amat tergantung dari
pergerakan nilai mata uang.
• Diversifikasi internasional: investor besar kemungkinan memperoleh manfaat dari
diversifikasi kekayaan portofolionya secara internasional. Bukti empiris menunjukkan
bahwa pengurangan risiko dalam jumlah yang substansial dapat terjadi akibat diversivikasi
internasional. Manfaat berupa pengurangan risiko dapat dijelaskan dengan perbedaan
kondisi ekonomi antar Negara, sehingga seluruh portofolio seoran investor tidak hanya
semata-mata tergantung pada kondisi perekonomian suatu Negara. Selain itu akses
terhadap pasar luar negeri juga memungkinkan investor untuk menanam modal pada lebih
banyak kelompok industri yang mungkin tidak tersedia banyak di dalam negeri.
b) Motif kreditor menyediakan kredit di pasar internasional
• Tingginya tingkat suku bunga internasional: banyak Negara mengalani kekurangan dana
yang dapat dipinjamkan, yang pada gilirannya menyebabkan suku bunga domestic relative
tinggi. Kondisi semacam ini akan mendorong kreditor asing untuk berupaya
memanfaatkannya dengan menawarkan modal ke pasar Negara tersebut. Suku bunga
domestic yang tinggi mencerminkan tingginya harapan inflasi dinegara tersebut. Karena
inflasi dapat menyebabkan depresiasi mata uang local terhadap mata uang asing. Tingginya
suku bunga di Negara tersebut mungkin saja ditutup dengan melemahnya mata uang local
selama periode tertentu.
• Harapan terhadap kurs valas: kreditor biasanya mempertimbangkan untuk mensuplai
modal kepada Negara-negara yang mata uangnya diharapkan mengalami appresiasi
terhadap mata uang Negara si kreditor. Apapun bentuk transaksi yang dilakukan berupa
obligasi atau pinjaman internasional, kreditorakan untung bila nilai mata uang yang
mendominasi transaksinya menguat disbanding mata uang Negara si kreditor.
• Diversifikasi internasional: para kreditor dapat memperoleh keuntungan dari diversifikasi
internasional, yang mengurangi kemungkinan bangkrutnya peminjam pada saat yang
bersamaan. Efektifitas dari strategi semacam ini tergantung dari korelasi kegiatan ekonomi
antar Negara. Diversifikasi antar Negara akan kurang efektif bila Negara yang
bersangkutan cenderung mengalami siklus bisnis yang kurang lebih sama.

6. Motif berburu dana di pasar di pasar internasional
• Suku bunga rendah: rendahnya suku bunga di pasar internasional akan menarik para
peminjam untuk berupaya meminjam dana dari para kreditor di Negara tersebut, namun
suatu Negara dengan suku bunga relative rendah sering mengalami laju inflasi yang rendah
pula. Karena perbedaan inflasi semacam ini dapat menimbulkan dorongan keatas terhadap
nilai uang asing, setiap manfaat bagi peminjam dalam bentuk suku bunga yang rendah
dapat dihilangkan dengan menguatnya suatu mata uang.
7
• Harapan kurs valas : peminjam yang mengharapkan suatu kurs mata uang asing akan
mengalami depresiasi, kebanyakan mempertimbangkan untuk meminjam valas tersebut
dan menkonversinya ke dalam mata uang local. Tentunya para peminjam itu juga
mengharapkan kurs valas ketika dikonversi ke dalam mata uang local melebihi kurs ketika
membeli kembali valas tersebut untuk membayar pinjaman.
Manajemen Keuangan Mulfinasional

Tujuan utama dari manajemen keuangan multinasional adalah memaksimalkan
kemakmuran pemegang saham, sebagaimana dapat diukur dari harga saham. Hal ini berarti
membuat keputusan keuangan dan investasi, yang dapat menambah nilai sebanyak
mungkin pada perusahaan. Perusahaan juga harus mengelola aset secara efektif di bawah
kendali mereka.

Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang resmi dan manajemen memiliki
kewajiban untuk ber- tindak demi kepentingan yang terbaik. Walaupun pemegang peran
yang lain dalam perusahaan juga memiliki hak, namun tidak sama dengan hak pemegang
saham. Pemegang saham menyediakan modal berisiko yang menopang klaim-klaim dari
pemegang peran yang lain.

Tujuan lain dari sistem keuangan multinasional men- cerminkan kemampuan untuk
menghubungkan melalui
mekanisme transfer ke organisasi yang lebih besar. Je- nis transfer ini mencerminkan
kebebasan untuk memilih beragam channel keuangan. Beberapa perusahaan
mul¬tinasional memiliki fleksibilitas waktu dalam aliran dana.

Pada manajemen keuangan multinasional ini, ke- mampuan untuk menghindari pajak
nasional menjadi- kan suatu kontroversi.

• Fungsi Manajemen Keuangan
Secara tradisional, manajemen keuangan dibagi menjadi dua fungsi dasar, yaitu pencarian
dana dan investasi dari dana tersebut. Fungsi pertama dikenal sebagai keputusan
pembiayaan, melibatkan kegiatan mengumpulkan dana dari sumber-sumber internal
maupun sumber-sumber eksternal un¬tuk perusahaan dengan biaya jangka panjang yang
serendah mungkin. Sedangkan keputusan investasi berkaitan dengan alokasi dana demi
memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham.
Aliran dana perusahaan internal seperti pembayaran ulang pinjaman sering ditangani untuk
mengakses dana yang telah dimiliki, atau secara teori oleh perusahaan multinasional itu
sendiri. Aliran yang lain, seperti pembayaran dividen dilakukan untuk me- ngurangi pajak
atau risiko mata uang. Struktur modal dan keputusan pembiayaan yang lain sering di-
motivasi keinginan untuk mengurangi risiko investasi dan biaya pembiayaan. Pengelolaan
risiko nilai tukar melibatkan keputusan pembiayaan dan keputusan investasi.
Faktor-faktor tambahan lain yang dihadapi oleh para eksekutif dari perusahaan
multinasional adalah risiko politik dan risiko ekonomi. Misalnya kondisi politik di timur
tengah belakangan ini yang tengah hangat. Ber- bagai pemberontakan oleh rakyat untuk
menggulingkan penguasa atau pemerintahannya ini akan berdampak pada perusahaan-
8
perusahaan multinasional di negara tersebut.
Ketika perusahaan mempertimbangkan karakter- istik unik dari manajemen keuangan
multinasional. Maka mereka akan menekankan pada risiko politik dan ekonomi tambahan
yang harus dihadapi pada negara tersebut. Perspektif yang lebih luas dibutuhkan pada
perusahaan unuk mengubah suatu perusahaan menjadi multinasional.

Kemampuan untuk menggerakkan manusia, uang dan material secara global, akan
membuat suatu perusahaan multinasional lebih dari skedar gabungan dari bagian-
bagiannya. Dengan memiliki operasinya di negara-negara yang berbeda, maka suatu
perusahaan multinasional dapat mengakses pasar modal yang ter segmentasi demi
menurunkan modal pembiayaannya secara keseluruhan. Hal itu dapat menggeser laba
untuk menurunkan pajak dan mendapat keuntungan dari diversifikasi internasional dari
pasar dan produksi, sehingga berguna untuk mengurangi risiko dari pendapatannya.


• Hubungan dengan Manajemen Keuangan Domesfik Pada beberapa tahun terakhir, begitu
banyak pene- litian telah dilakukan dalam sektor keuangan perusahaan internasional.
Pokok pikiran utama dari pe- kerjaan ini telah menerapkan metodologi dan logika ekonomi
keuangan dalam pembelajaran kunci dari keputusan keuangan internasional. Beberapa per-
masalahan yang kritis adalah pengelolaan risiko per- tukaran mata uang asing dan analisis
investasi asing, hal tersebut dapat diatasi dengan melihat ekonomi keuangan, yang
menekankan penggunaan analisis ekonomi untuk memahami kerja dasar dari pasar
keuangan.
Dengan fokus pada sifat-sifat pasar keuangan dan partisipannya dibandingkan bagaimana
memecah- kan problem-problem tertentu. kita dapat memperoleh prinsip-prinsip valuasi
fundamental dan mengembangkan pendekatan superior dari pengelolaan keuangan. Sama
halnya dengan pemahaman yang lebih baik dari hukum-hukum dasar fisika yang dapat
membuat rancangan yang lebih baik dan produk yang dapat berfungsi lebih baik. Kita
dapat juga memperhitungkan dengan lebih baik validitas dari pendekatan-pendekatan
keputusan keuangan yang ada dengan melihat asumsi-asumsi yang men- dasari konsisten,
dengan pengetahuan pasar keuangan dan prinsip-prinsip valuasi.

Tiga konsep yang bangkit dari ekonomi keuangan telah terbukti menjadi hal yang penting
dalam
mengembangkan dasar-dasar teori untuk keuangan perusahaan internasional, yaitu
arbitrase, efisiensi pasar, dan menilai aset modal.

Arbitrase
Definisi arbitrase secara tradisional adalah pembeli- an suatu aset atau komoditi pada suatu
pasar, untuk penjualan kembali secara cepat pada pasar yang lain demi memperoleh laba
dari selisih harga. Arbitrase ini telah digunakan untuk menjelaskan beberapa ke- giatan lain
yang lebih luas. Misalnya Arbitrase pajak yang melibatkan pergeseran dari keuntungan
atau kerugian yuridiksi pajak terhadap yang lain, demi memperoleh laba dari selisih pajak.
Dalam konteks yang lebih luas, arbitrase risiko spekulasi menjelas¬kan proses suatu
persamaan imbal hasil dari penyesuaian risiko pada instrument sekuritas yang berbe- da,
kecuali jika terjadi pasar tak sempurna.
Konsep arbitrase adalah dari kepentingan khu- sus dalam keuangan internasional karena
berbagai hubungan antara pasar keuangan domestik dan in¬ternasional. Nilai tukar mata
9
uang, tingkat suku bunga, dan inflasi bergantung pada arbitrase untuk keberadaannya.
Bahkan hal tersebut merupakan proses arbitrase yang menjamin efisiensi pasar.


Efisiensi Pasar
Suatu pasar yang efisien adalah keadaan dimana harga dari sekuritas yang diperdagangkan
telah mencakup informasi baru. Sekuritas yang diperdagangkan dihargai secara benar
dalam suatu aturan
perdagangan pada harga terdahulu atau informasi yang tersedia secara publik, namun tidak
secara konsisten mengarah ke laba (setelah menyesuaikan biaya transaksi) dalam
kelebihannya demi semata-mata pengam- bilan risiko.
Daya dari pasar yang dapat diperkirakan, bertumpu pada kemampuannya mengumpulkan
suatu kumpulan penilaian secara individual dari seluruh dunia pada satu tempat. Penilaian
ini berdasarkan informasi seka- rang. Jika tren kebijakan masa depan berubah, maka
masyarakat akan merevisi harapannya, sehingga harga akan berubah mengikuti informasi
baru.
Dengan mengatakan bahwa pasar efisien, bukan berarti pasar tak pernah blunder. Pada
tahun 2008 contohnya, terjadi krisis ekonomi disebabkan oleh "Subprime Mortage",
dimana pinjaman diberikan dengan jaminan berupa pinjaman juga. Antara krisis dan
resolusi selalu ada daerah yang tak dapat dipetakan. Kepanikan mengumpani dirinya
sendiri, kemudian menyebar dari satu negara ke negara lain, sehingga menyebabkan
ketidakstabilan global dan resesi. Kondisi tersebut kemudian berangsur-angsur pulih pada
tahun 2010. Dapat dikatakan bahwa pasar itu dapat mengkoreksi dirinya sendiri. Tidak
seperti pemerintah, ketika investor me- nyadari ada masalah, mereka cenderung menarik
dana, tidak menambahnya lagi. Pada saat yang sama, ketika fundamental dasar dari suatu
negara terdengar, investor akan mengenalinya dan modal mereka pun akan kembali.
Penghitungan Harga Aset Modal Perhitungan harga aset model mengacu pada cara menilai
suatu sekuritas berkenaan dengan risiko dan imbal hasil yang dapat diantisipasi. Sebab
risiko merupakan bagian terpadu dari keputusan keua¬ngan internasional. Terdapat
hubungan antara risiko (diukur oleh keragaman imbal hasil) dan imbal hasil dari aset yang
dibutuhkan. Hal tersebut dapat diru- muskan dalam model penghitungan aset modal atau
CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan teori harga arbitrase atau APT (Arbitrage Price
Theory) yang paling umum.

Baik CAPM maupun APT mengasumsikan bahwa jum- lah keragaman dari suatu imbal
hasil aset dapat di- peroleh dari dua sumber, yaitu: pengaruh pasar luas yang berdampak
pada keseluruhan aset hingga pada batas tertentu, seperti keadaan perekonomian; dan risiko
lain yang khusus pada suatu perusahaan ter¬tentu, misalnya mogok kerja.



2. Membuat Perencanaan Keuangan
Memiliki keuangan yang stabil dan mumpuni adalah dambaan setiap orang. Sayangnya,
tidak semua orang bisa mewujudkan keinginan ini. Memiliki kondisi keuangan yang baik
sebenarnya mudah saja. Rahasianya terletak pada kemauan dan disiplin.
10
Pada dasarnya, merencanakan keuangan itu tergantung pada kebijakan kita dalam
mengalokasikan anggaran yang ada. Membuat rincian keuangan dan taat pada “aturan
main” yang telah kita tetapkan.
Perencanaan keuangan yang baik memiliki beragam manfaat menarik, diantaranya:
1. Semua tagihan wajib seperti cicilan rumah, tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, dll
dapat dibayarkan dengan lancar dan tepat waktu.
2. Memungkinkan kita menabung dan mempersiapkan dana darurat dengan baik. Tabungan
yang direncanakan dengan baik akan memungkinkan kita mencapai apa yang diinginkan
dengan tepat waktu, contoh: liburan setiap tahun. Dana darurat yang dipersiapkan dengan
baik bermanfaat untuk menopang keuangan pada kondisi yang tidak diinginkan, misalnya
disaat sakit.
3. Mempersiapkan hari tua dengan lebih baik. Dengan merencanakan keuangan dan
disiplin dalam menjalankannya, jumlah tabungan yang terkumpul untuk hari tua pun akan
lebih banyak dan kita akan lebih siap dalam menjalaninya. Tentunya semua orang
mendambakan untuk menjalani hari tua yang nyaman dan bebas dari kekhawatiran
finansial.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya membuat anggaran keuangan yang
baik? MYWealth akan memandu Anda melalui tips-tips sederhana berikut ini:
1. Sejak pertama kali menerima gaji, jangan tunda-tunda untuk membayarkan semua
kewajiban, seperti cicilan rumah dan kendaraan pribadi.
2. Buatlah sebuah akun bank khusus untuk tabungan. Menabung sedikit lebih baik daripada
tidak sama sekali, bahkan tabungan sedikit akan membuat sebuah perubahan besar dalam
hidup. Tentukan jumlah tabungan, idealnya sejumlah 5-10% dari gaji bersih. Semakin
besar kemampuan untuk menabung tentunya akan semakin baik.
3. Pada saat akan pergi berbelanja keperluan bulanan, catat apa saja yang hendak dibeli.
Bedakanlah kebutuhan dan keinginan.
4. Hindari transfer uang ke akun bank berbeda untuk menghindari biaya transfer.
5. Siasati hobi dengan sebuah trik yang dapat menghemat uang. Sebagai contoh, bila kita
memiliki hobi membaca buku dan menonton film, kita dapat meminjam buku dari
perpustakaan dan meminjam film dari DVD rental.
6. Menyiapkan bekal makan dari rumah adalah ide yang bagus. Selain sehat dan terjamin
kebersihannya, kita akan menghemat banyak uang bila dibandingkan dengan makan di
rumah makan.
7. Usahakan untuk mengeluarkan uang lebih sedikit daripada apa yang direncanakan.
Sebagai contoh, bila ingin membeli pakaian model terbaru, meski telah mengalokasikan
11
uang sebesar Rp 1.00.000,00, kita dapat menyiasati dengan membeli baju tersebut dengan
merk lain dan dengan harga yang lebih murah.
3 BEHAVIOUR FINANCE (PERILAKU HARGA)
Pada awalnya, investor dalam melakukan investasi tidak saja hanya menggunakan estimasi
atas prospek instrumen investasi, tetapi faktor psikologi sudah ikut menentukan investasi
tersebut. Bahkan, berbagai pihak menyatakan bahwa faktor psikologi investor ini
mempunyai peran yang paling besar dalam berinvestasi. Adanya faktor psikologi tersebut
mempengaruhi berinvestasi dan hasil yang akan dicapai.
Oleh karenanya, analisis berinvestasi yang menggunakan ilmu psikologi dan ilmu
keuangan dikenal dengan tingkah laku atau perilaku keuangan (Behaviour Finance).
Shefrin (2000) mendefinisikan behaviour finance adalah studi yang mempelajari
bagaimana fenomena psikologi mempengaruhi tingkah laku keuangannya. Tingkah laku
dari para para pemain saham tersebut dimana Shefrin (2000) menyatakan tingkat laku para
praktisi. Nofsinger (2001) mendefinisikan perilaku keuangan yaitu mempelajari bagaimana
manusia secara aktual berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan (a financial setting).
Khususnya, mempelajari bagaimana psikologi mempengaruhi keputusan keuangan,
perusahaan dan pasar keuangan. Kedua konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan
bahwa perilaku keuangan merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan bagaimana
manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan dipengaruhi oleh faktor
psikologi.
Sewell (2008) mendefinisikan BF adalah "study of the influence of psichology on the
bahaviour of financial practitioners and the subsequent effect on market". Dari definisi BF
yang diberikan oleh Sewell ini, terdapat 2 hal yang menarik disikapi. Pertama, perilaku
investor merupakan objek amatan. Secara individual, aspek psikologis investor dalam
memandang risiko dan imbal hasil (return) tentulah beragam. Toleransi investor terhadap
risiko (risk appetite) selalu berbeda. Amatan terhadap aspek psikologis ini secara
individual diperlukan untuk menentukan sekuritas yang sesuai dengan keadaan psikologis
investor yang dimiliki saat itu. Dan dalam pespektif lain, hasil amatan itu dapat digunakan
sebagai bahan prediksi atas kemungkinan transaksi yang mesti dilakukannya. Kedua,
perilaku investor itu menentukan pasar. Secara komunal dan bersama-sama, perilaku
investor ini akan menentukan harga dan kapitalisasi saham. Sehingga trend pergerakan
IHSG dapat diprediksi dengan analisa BF ini. Hal ini akan meminimalisasi potensi loss
atau risiko yang ditanggung oleh investor.
Shefrin (2000) menyatakan ada tiga tema yang dibahas dalam Perilaku Keuangan, dimana
tema tersebut dibuat dalam bentuk pertanyaan yaitu:
1.Apakah Praktisi keuangan mengakui adanya kesalahan karena selalu berpatokan kepada
aturan yang telah ditentukan (rules of thumb). Bagi penganut Perilaku Keuangan
mengakuinya sementara keuangan tradisional tidak mengakuinya. Penggunaan rules of
thumb ini disebut dengan Heuristics to Process data. Penganut keuangan tradisional selalu
menggunakan alat statistik secara tepat dan benar untuk mengolah data. Sementara
penganut Perilaku Keuangan melaksanakan rules of thumb seperti “back-of-the-envelope
12
calculations” dimana ini secara umum tidak sempurna. Akibatnya, praktisi memegang
“biased beliefs”
yang mempengaruhi memenuhi janji terhadap kesalahan tersebut. Tema ini dikenal dengan
Heuristic-driven bias.
2.Apakah bentuk termasuk inti persoalan (substance) mempengaruhi praktisi ? Penganut
Perilaku Keuangan menyatakan bahwa persepsi praktisi terhadap risiko dan tingkat
pengembalian sangat dipengaruhi oleh bagaimana “decision problem” dikerangkannya
(framed). Sementara penganut Keuangan Tradisional memandang semua keputusan
berdasarkan transparan dan objektif. Tema ini dikenal dengan frame dependence.
3.Apakah kesalahan dan kerangka mengambil keputusan mempengaruhi harga yang
dibangun pada pasar ? Penganut Perilaku Keuangan menyatakan “heuristic-driven bias”
dan pengaruh framing menyebabkan harga jauh dari nilai fundamentalnya sehingga pasar
tidak efisien. Sementara penganut Keuangan Tradisional mengasumsikan pasar efisien
seperti yang
diuraikan Fama (1970). Tema ini dikenal dengan pasar tidak efisien (inefficient market).
Berbeda dengan teori keuangan modern yang mengatakan manusia itu adalah risk averse,
behavioral finance menyatakan kalau manusia itu sebenarnya loss averse, dan bukan risk
averse. Buktinya, saat harga sahamnya turun di bawah harga belinya, investor individual
cenderung untuk menahannya dengan harapan harga sahamnya kembali naik dan kerugian
berubah menjadi keuntungan. Berbagai studi yang telah dilakukan menunjukkan kalau
manusia merasakan kerugian jauh lebih dalam dan lebih lama daripada efek keuntungan
dengan jumlah uang yang sama (Kahneman dan Tversky, 1979). Siapa pun sepakat kalau
kerugian selalu membawa kesedihan dan kekecewaan sementara keuntungan
mendatangkan kepuasan dan kesenangan. Namun, derajat kesedihan dan kesenangan yang
ditimbulkan untuk nilai uang yang sama adalah berbeda. Dari sisi behavioral finance,
fenomena di atas menunjukkan dua poin penting. Pertama, banyak investor di BEI percaya
pada analisa teknikal dan momentum pasar. Bahwa saham yang harganya naik (turun) akan
terus naik (turun). Ini sesuai dengan proposisi Bernard & Thomas (1989) dan Jegadeesh &
Titman (1993) bahwa harga saham cenderung meneruskan kenaikan dan penurunannya
dalam 6-12 bulan. Kedua, investor di BEI umumnya tidak
berani menyimpang dari pola umum. Jika suatu saham, atau pasar saham secara
keseluruhan, diburu (dihindari) investor besar, mereka akan turut mengejar (melepas)
saham. Melawan sentimen pasar global dan aksi investor asing dinilai berisiko dan dapat
menimbulkan penyesalan besar (future regret) di kemudian hari. Untuk meminimalkan
regret ini, mereka menerapkan strategi follow the smart money yaitu mengekor bursa dunia
dan aksi investor asing. Strategi investasi seperti ini membawa efek destabilisasi di pasar
dan dapat menyebabkan harga saham semakin menjauhi nilai fundamentalnya. Kini Anda
paham kalau IHSG itu dipengaruhi banyak faktor yaitu laporan keuangan emiten, inflasi,
aksi korporasi, aliran dana asing, kurs, dan indeks regional.
13
Shefrin (2007) membagi bias-bias yang dialami investor menjadi sepuluh, sedangkan
Baker dan Nofsinger (2002) mengkategori bias menjadi dua bagian utama yaitu bagaimana
investor berpikir dan bagaimana investor merasa. Behavioral finance micro yang menguji
perilaku-perilaku atau bias-bias dari individual investor yang membedakannya dari
perilaku rasional yang dikemukakan oleh teori ekonomi klasik. Sedangkan behavioral
finance macro mendeteksi dan mendeskripsikan anomali-anomali dalam hipotesis pasar
efisien yang mungkin dapat dijelaskan dengan model behavioral finance. Oleh karena itu
dalam paper ini akan mencoba membahas bias-bias seperti excessive optimism,
overconfidence, representativeness bias, availability bias, cognitive dissonance, mental
accounting dan regreat aversion.
Teori Struktur Mikro Pasar
1

4.
Oleh: Prof. Dr. Adler Haymans Manurung
2




Pada uraian sebelumnya telah dibahas mengenai efisiensi pasar, pengelolaan aset
investasi investor dan tindakan investor berinvestasi menggunakan ilmu psikologi. Tetapi,
pembentukan harga di pasar menjadi perhatian para akademisi, peneliti dan praktisi. Teori
Struktur Mikro Pasar merupakan sebuah teori baru berkembang yang membahas
pembentukan harga saham di pasar. Teori ini terus berkembang dan salah satu hadiah nobel
diperoleh akademisi yang mengembangkan teori ini.
O‟Hara (1995) menyatakan Struktur Mikro Pasar yaitu “The study of the process and
outcomes of exchanging assets under explicit trading rules.” Konsep O‟Hara ini secara jelas
menyatakan bahwa studi ini membahas bagaimana harga aset terbentuk di pasar dengan
aturan perdagangan yang ada. Harris (2004) menyatakan “Market Mikrostructure is the
branch of financial economics that investigates trading and the organization of markets”.
Pernyataan ini menjelaskan bahwa struktu mikro pasar merupakan sebuah cabang ilmu
ekonomi finansial yang melakukan penyelidikan perdagangan saham dan organisasi pasar.
Hasbrouck (2007) menyatakkan studi Struktur Mikro Pasar yaitu “The study of the trading
mechanisms used for financial securities.” Pernyataan Hasbrouck lebih jelas dan terfokus
dari O‟hara dimana secara jelas disebutkan mempelahari mekanisme transaksi yang
digunakan pada sekuritas keuangan. Fokus pembahasan dari studi ini memberikan uraian
bagaimana sekuritas tersebut diperdagangkan oleh berbagai pihak.
Pembahasan yang paling banyak dilakukan mengenai likuiditas saham di Bursa
dikarenakan data yang tersedia. Banyak pendekatan yang digunakan untuk menyatakan
likuiditas, misalnya, volume transaksi saham, frekuensi transaksi saham dan sebagainya.
Tetapi, Bid-Ask Spread yang banyak berkembang untuk menyatakan likuiditas saham dan
penelitian ini banyak dilakukan oleh akademisi dan peneliti. Pada sisi lain, pembentukan
harga juga bisa dilakukan oleh para dealer yang setiap hari menyampaikan order atas
transaksi yang ingin dilakukan. Para dealer ini bisa juga menjadi monopoli dalam melakukan
transaksi sehingga harga saham banyak ditentukannya.
Teori Struktur Mikro Pasar ini dimulai oleh Demsetz (1968) yang membahas tentang
biaya transaksi, tetapi tidak menyatakan pembentukan harga. Tinic dan West (1972)
membahas kompetisi dan harga dari jasa Dealer pada pasar OTC. Pembahasan Bid-Ask
spread yang dimulai oleh Benston dan Hagerman (1974) pada pasar OTC. Kemudian
Garman (1976) secara jelas menguraikan Struktur Mikro Pasar yang dipublikasikan pada
Journal of Financial Economics. Selanjutnya, Stoll (1978) membahas peranan pelayanan
dealer pada pasar saham. Selanjutnya, pemikiran tentang struktur mikro pasar ini Hilmer dan
14
Yu (1979); Amihud dan Mendelson (1980); Roll (1984); Cohen dkk (1986); Admati dan
Pfeiderer (1988); Glosten dan Harris (1988); Woodruff dan Senchack (1988); Stoll (1989);
Hasbrouck (1991); Abhyankar dkk (1997); Huang dan Stoll (1997); Calamia (1999); Chung
dkk (1999) Anderson dkk (2000); Purwanto (2001) Saragih (2002); Naes dkk (2006);
Hasbrouck (2007); Darminto (2010) Easley dan O‟Hara (2010); dan Tissaoui (2012).

Teori


1
Tulisan ini sedang dikembangkan menjadi sebuah buku tersendiri (forthcoming).
2
Penulis adalah Guru Besar Pasar Modal dan Perbankan, FE – Universitas Tarumanagara dan Presiden Direktur
PT Valuasi Investindo.
15
Seperti diuraikan sebelumnya bahwa Teori Struktur Mikro Pasar (Market
Microstructure Theory) membahas bagaimana terbentuknya harga saham di Indonesia.
Uraian akademisi dan penelitian yang dilakukan tentang pembentukan harga saham di Bursa
dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Adapun ketiga kelompok tersebut yaitu
pendekatan model persediaan (Inventory Model Approach); pendekatan model berdasarkan
informasi (Informasi Based Model Approach) dan Model Strategi pedagang (Strategic Trader
Model Approach).
Demsetz (1968) menyatakan bahwa biaya transaksi atas saham akan berkurang
dengan adanya kenaikan aktifitas transaksi. Argumentasi ini masih awal adanya volume
transaksi dimana pembentukan harga dikarenakan volume transaksi yang juga dapat
dikatakan pada model persediaan. Selanjutnya, pembahasan berlanjut pada volume
perdagangan dan biaya transaksi di pasar. Kemudian, volume transaksi dikaitkan dengan
tingkat pengembalian saham yang merupakan variabel penelitian untuk harga saham.
Karpoff (1986) mengembangkan sebuah teori volume perdagangan dengan asumsi bahwa
agen pasar seringkali merevisi harga permintaannya dan secara acak menghadapi lawan
transaksinya. Model yang dikembangkan dengan dua kejadian informasi yang
mempengaruhi volume perdagangan. Salah satunya konsisten dengan konjejtur yang dibuat
oleh peneliti empiris bahwa investor tidak setuju terhadap penambahan perdagangan. Tetapi,
observasi terhadap abnormal volume perdagangan tidak secara penting memenuhi
ketidaksetujuan investor dan volume dapat meningkat jika investor mengeinterpretasikan
informasi secara identik, jika mereka juga memiliki divergen ekspektasi. Pengujian dengan
simulasi mendukung model dan digunakan untuk membedakan lingkungan yang berpasangan
secara acak dengan penyelesaian pasar biaya murah. Volume transaksi kecil pada pasar yang
mempunyai biaya tinggi dan volume meningkat disebabkan oleh sebuah kejadian informasi
setelah periode kejadian. James dan Edmister (1983) menyatakan bahwa size perusahaan dan
aktifitas perdagangan sangat berhubungan. Perbedaan dalam aktifitas perdagangan tidaklah
sebagai alasan untuk adanya anomali size perusahaan, tetapi hasil yang ditemukan perbedaan
secara sistematis di dalam tingkat pengembalian yang telah disesuaikan dengan risiko pada
size perusahaan yang berbeda. Smirlock dan Starks (1988) menemukan adanya hubungan
sebab akibat antara tingkat pengembalian saham dengan volume transaksi dengan
menggunakan Granger Causality pada level perusahaan terutama saat pengumuman
pendapatan perusahaan. Sebenarnya, penggunaan volume perdagangan sebagai variabel
penelitian untuk harga saham sangat lemah (Merton, 1973 dan Lucas, 1978).
Garman (1976) menguraikan dua jenis pasar stokastik yaitu Dealership dan lelang
(auction). Pasar Dealership merupakan pihak yang melakukan market maker baik di pasar
reguler dan OTC. Garman juga menyebutkan bahwa permintaan dan penawaran agregat
sebagai variabel eksogen terhadap market maker yang bisa membuat reaksi terhadap order
yang datang. Model Garman ini mempergunakan Ekuilibrium Walrasian, dimana harga
terendah mendorong permintaan dan menekan permintaan ketika harga tinggi yang
mengurangi permintaan dan meningkatkan penawaran. Adapun persediaan (tunai, c, dan
saham, s,) diatur oleh persamaan berikut:



dan
I
c
(t ) = I
c
(0) + p
B
N
B
(t ) ÷ p
S
N
S
(t )

I
S
(t ) = I
s
(0) + N
S
(t ) ÷ N
B
(t )
(1)


(2)

dimana I
c
(t) dan I
s
(t) merupakan persedian untuk masing-masing tunai dan saham dan N
S
(t)
dan N
B
(t) merupakan kumulatif jumlah pembelian dan penjualan yang dieksekusi pada
periode t. Pada model Garman ini, dealer tidak bisa meminjam tunai atau saham.
16


Adapun grafik yang dikemukakan Garman dalam modelnya seperti diperlihatkan pada Grafik
berikut ini.

Harga

λB(p)

λJ(p)


Jual




Beli






λopt
Arrival Rate

Model Garman menyatakan bahwa terjadi dealer monopolistik dengan harga jual (p
j
) dan
harga beli (p
b
). Sampainya order beli dan jual mengikuti distribusi Poisson dengan tingkat
ketergantungan harga λ
j
(p
j
) dan λ
b
(p
b
). Selanjutnya, Amihud dan Mendelson (1980)
menyampaikan sebuah model yang merupakan simplikasi dari Garman Model dimana dealer
membangun harga dari awal perdagangan dan tidak melakukan penyesuaian walaupun terjadi
perubahan kondisi pasar. Sehingga, model harga beli dan jual dari AM tergantung pada
persediaan saham dari dealer dimana dealer memiliki sebuah range penerimaan dan yang
disukai atas size dari persediaan.. Dealer memaksimumkan profit perdagangann ya melalui
memanipulasi harga beli dan jual ketika persedian jauh dari yang disukai. Modelnya
berbentuk linier untuk permintaan dan penawaran. Pada Model AM ini, harga optimal beli
dan jual menurun atau meningkat secara monoton ketikan persediaan bertumbuh atau jatuh
sesuai size yang diinginkan. Hasilnya bahwa dealer harus memanipulasi spread bid/ask dan
harga tengah untuk mengelola persediaan yang diinginkan.
Roll (1984) menyatakan bahwa biaya transaksi saham mempunyai hubungan negatif
dengan harganya. Adapun efektif BAS dapat diukur dengan rumusan sebagai berikut:



dimana
Spread = 2 ÷ cov(AP
t
, AP
t ÷1)
(3)
cov merupakan turunan pertama kovarian series perubahan harga. BAS dapat
diturunkan secara formal dan secara empiris merupakan hubungannya dengan size yang
memiliki hubungan negatif. Roll model mempunyai asumsi sebagai berikut:
a. Information in homogeneous
b. Orders are executed either at the best or at the best bid price;
c. There is no rounding of transaction prices; this assumes that prices c an be quoted on
an infinitelu fine grid and there is no rounding to the nearest „tick‟;
d. The trading process has no impact on the equilibrium price M;
e. The probabilities of buying and selling are equal, specifically:


Pr(Q
t


= 1u

t ÷1

) = Pr(Q
t


= ÷1u

t ÷1
) =
1
¬t

2
17
f. The probability of continuation is equal to that of reversal


Pr(Q
t


= Q
t ÷1

u
t ÷1
) =
1
¬t

2


Glosten dan Harris (1988) melakukan estimasi sebuah model informasi asimetris
untuk Bid-Ask Spread dimana modelnya dapat dipisahkan menjadi komponen transtory dan
komponen Adverse Selection. Adapun model yang dikemukan sebagai berikut:

m
t
= m
t ÷1
+ e
t
+ Q
t
Z
t

P
t
= m
t
+ Q
t
C
t

P
0
= Round ( P ,
1
)

Proses harga sebenarnya (4)
Proses harga unrounded (5)

Proses Observasi Harga (6)

t t
8
Z
t
= z
0
+ z
1
V
t

C
t
= c
0
+ c
1
V
t


Komponen Spread Seleksi Adverse (7)
Komponen Spread Transitory (8)
Et ~ iid Normal
(f
1
(T
1
), f
2
(T
t
)/T
t
) Inovasi Informasi Publik

dimana
P
t
0
= harga diobservasi dari transaksi t
V
t
= jumlah saham diobservasi yang diperdagangkan pada transaksikan t
T
t
= waktu observasi antara transaksi t-1 dan t
P
t
= harga diobservasi yang telah diobservasi jika tidak ada pembulatan sampai diskrit nilai
1/8.
Q
t
= indikator yang diobsevasi untuk klasifikasi Bid-ask dari P
t
0
= + 1 jika transaksi t
diinisasikan oleh pembeli (ask) dan bernilai -1 jika oleh penjual (bid)
M
t
= harga sebenarnya diobservasi yang merefleksikan seluruh informasi publik yang
tersedia secepatnya pada transaksi t
e
t
= inovasi diobservasi pada harga sebenarnya antara transaksi t-1 dan t tergantung kepada
sampainya informasi publik
Z
t
= komponen spread seleksi adverse diobservasi pada transaksi t
C
t
= komponen spread transitory observasi pada transksi t.

Salah satu pembahasan dalam teori struktur mikor pasar yaitu mengenai likuiditas saham.
Adapun pendekatan yang selalu dipergunakan dalam membahas likuiditas saham ini yaitu
bid-ask spread. Benston dan Hagerman (1974) yang pertama kali membahas Bid-Ask spread
terutama untuk pasar Over-the-Counter (OTC). Penelitian Benston dan Hagerman ini
merupakan kelanjutan dari penelitian Demsetz. Penelitian ini memberikan hasil bahwa
spread per saham mempunyai hubungan dengan harga per saham, jumlah pemegang saham
(sebagai proxy untuk skala transaksi); jumlah dealer; risiko tidak sistematik. Hubungan
tersebut bukanlah hubungan yang linier, dimana awalnya digunakan hubungan linier tetapi
tidak tepat.
Dealer sebagai salah satu yang bisa membentuk Spread Bid-Ask, maka Tinic dan
West (1972) menyatakan BAS tersebut ditentukan oleh volume transaksi saham tersebut;
level harganya, dan ukuran volatilitas harga serta besarnya kompetisi diantara dealer.
Selanjutnya, Glosten dan Milgrom (1985, selanjutnya disingkat GM) mengemukakan sebuah
model dimana dealer diasumsikan risk neutral dan trader yang melakukan perdagangan pada
18
R
waktu tertentu dipilih secara acak serta hanya bisa melakukan perdagangan satu unit
sekuritas. Risk Neutral Trader menentukan harga beli dan jual untuk memperdagangkan satu
unit sekuritas dengan trader yang memiliki informasi (insider) dan trader yang tidak memiliki
informasi (liquidity) dan satu transaksi pada satu waktu tertentu. Glosten-Milgrom membuat
sebuah kasus sederhana dengan nilai perusahaan V dan untuk perusahaan yang berni lai tinggi
V = V
T
dengan probabilitas(1-α) yang merefleksikan berita bagus atau perusahaan yang
berkualitas rendah V = V
R
( merefleksikan berita buruk) dengan probabilitas α. Trader yang
memiliki informasi dan tidak memiliki informasi melakukan perdaganga n dengan masing-
masing probabilitas δ dan 1-δ. Trader yang memiliki informasi membeli saham dengan berita
bagus dan menjualnya pada berita jelek, sementara trader yang tidak memiliki informasi
melakukan transaksi dengan probabilitas sama (0,5) dimana proses perdagangannya
ditunjukkan oleh Grafik berikut dibawah ini.

Good News
V = VT



1-α
α

Bad News
V = VR

Informed Uninformed
Informed
Uninformed
δ


1-δ

δ
1-δ


1 0 0,5

0,5
0
1

0,5

0,5


Buy
Sell
Buy


Sell
Buy

Sell Buy
Sell

Model GM ini juga mengasumsikan bahwa trader diharapkan tidak membuat keuntungan dan
terjadi zero sum game dimana keuntungan trader yang memiliki informasi sama dengan
kerugian trader yang tidak memiliki informasi. Dealer menentukan harga dalam posisi
regret-free dimana harga tersebut merupakan harga ekspektasi delarer didasarkan signal
perdagangan yang diterima. Bila kejadian jual (J) dan beli (B) dan dealer menentukan harga
beli (bid, b) dan jual (asked, a) sebagai berikut:

a = E|V B| = V

Pr(V = V
R


B) + V
T


Pr(V = V
T
B)

(9)

b = E|VJ | = V
R
Pr(V = V
R
J ) + V
T
Pr(V = V
T
J )

(10)

Probabilitas bersyarat pada persamaan (9) dan (10) dapat dihitung dengan menggunakan Rule
Bayes sebagai berikut:

Pr( B A) Pr( A)

Pr( A B) = (11)
Pr( B)



Pr( B V = V )

Sebagai contoh: Pr(V = V
R

B) = Pr(V = V
L
)
R

Pr( B)

Oleh karenanya:
19
Pr( B) = Pr(V = V
R
) Pr( B V = V
R
) + Pr(V = V
T
) Pr( B V = V
T
)
= 0.5(1+δ(1-2α))

Sehingga:


Pr(V = V
L



B) =
(1 ÷ o )(1 ÷ o )

1 ÷ o (1 ÷ 2o )


(12)

dan hasilnya sebagai berikut:

a =
o (1 ÷ o )V
R
+ (1 ÷ o )(1 + o )V
T
1 + o (1 ÷ 2o )

a =
o (1 + o )V
R
+ (1 ÷ o )(1 ÷ o )V
T
1 ÷ o (1 ÷ 2o )
(13)
(14)

Nilai Bid/Ask Spread sebagai berikut:

s = a ÷ b =
4o (1 ÷ o )o (V
T
÷ V
R
)

1 ÷ (1 ÷ 2o )
2
o
2





(15)

Berdasarkan persamaan (15) maka spread meningkat dengan pertumbuhan trader yang
memiliki informasi yang diilustrasikan oleh pengaruh efek seleksi adverse. Nilai spread
memiliki nilai yang sederhana ketika berita bagus dan jelek sampai dengan probabilitas
(α=0.5) yaitu

s = δ*(V
T
– V
R
) (16)

Akhirnya disimpulkan bahwa spread bertumbuh secara linier dengan jumlah trader yang
memiliki informasi.

GM model ini menawarkan deskripsi biaya seleksi adverse yang relatif sederhana dimana
dealer harus berhubungan ke spread dalam rangka menghindari kerugian. Model ini juga
mempunyai implikasi khususnya harga dinamis mengikuti sebuah martigale dimana harga
p
t+1
pada waktu t+1 didasarkan seluruh informasi yang tersedia I
t
pada waktu t adalah pt
sebagai berikut:

E ( p
t +1
I
t
) = p
t

(17)
Persamaan (17) menyatakan bahwa harga merupakan efisiensi semi-strong sesuai dengan
informasi yang tersedia kepada dealer. Hasilnya bahwa tingkat pengembalian pada GM
tidak berkorelasi, tetapi hasil yang terjadi sangat kontradiktif.

Empiris

Teori Struktur Mikro Pasar telah berkembang pesat dan empirisnya juga telah berkembang
pesat dan uraian berikut memberikan gambaran bagaimana empiris yang telah
dipublikasikan.
20
Seperti diuraikan sebelumnya, volume transaksi dan harga saham merupakan awal penelitian
struktur mikro pasar, maka Gallant, Rossi dan Tauchen (1992) melakukan penelitian dengan
menggunakan data harian pada tahun 1928 sampai dengan tahun 1987 untuk pasar saham
New York. Penelitian ini menemukan empat kejadian sebagai berikut: (a) positive
correlation between conditional volatility and volume, (b) large price movements are
followed by high volume; (c) conditioning on lagged volume substantially attenuates the
“leverage” effect; dan (d) ater conditioning on lagged volume, there is a positive risk -return
relation.

Wang (1994) melakukan penelitian dalam rangka membuat model volume perdagangan
saham yang cukup bersaing. Model yang dikembangkan menyatakan bahwa investor
mempunyai heterogen dalam informasi dan kesempatan investasi secara privat serta
melakukan perdagangan secara rasional baik memiliki motif informasi dan non-informasi.
Hasilnya bahwa volume berkorelasi positif dengan nilai absolut perubahan harga dan dividen.
Model juga menunjukkan bahwa perdagangan secara informasi dan non-informsi mempunyai
hubungan dinamis antara volume perdagangan dan tingkat pengembalian saham.

Ahn dkk (1996) melakukan penelitian mengenai Tick Size, spread dan volume transaksi di
American Stock Exchange, terutama adanya pengurangan tick size dari $1/8 menjadi $1/16
untuk harga saham antara $1 sampai dengan $5, terjadi pada September 3, 1992. Penelitian
ini menemukan pengaruhnya pada pengurangan variasi harga minimum uutnuk biaya
transaksi dan aktifitas perdagangan. Tetapi, peraturan tersebut mempengaruhi volume
transaksi atau besarnya pasar (depth market). Disamping itu, ditemukan juga pengurangan
yang subtansial pada kuotasi harga dan spread yang effektif.

Abhynkar dkk (1997) melakukan penelitian tentang Bid-Ask Spread, volume perdagangan
dan volatilitas dalam rangka menguji intraday di LSE. Data yang dipergunakan untuk
periode Januari 1991 sampai dengan Maret 1991 dengan jumlah saham sebanyak 8,235
saham. Hasil yang diperoleh bahwa yaitu intraday spread paling tinggi ketika pasar buka dan
kosntan sepanjang hari dan makin besar pada waktu dekat penutupan pasar. Volatilitas tidak
mengikuti pola intraday dan spread memiliki kurva U didukung penelitian ini.

Anderson dkk (2000) melakukan penelitian tentang intraday dan volatilitas di Pasar Jepang.
Data yang dipergunakan untuk periode 1994 sampai dengan 1997. Hasil yang diperoleh
bahwa volatilitas intradaily mengikuti kurva U untuk perdagangan pada sesi pembukuaan dan
juga mendekati penutupan pasar. Penelitian ini jugamendukung hasil yang diperoleh
mengenai data intraday yang frekuensi tinggi terutama untuk karakteristik volatilitas jangka
panjang dari tingkat pengembalian aset.
Naik dan Yadav (2003) melakukan penelitian mengenai “apakah perusahaan dealer
melakukan perdagangan saham dan keputusan harga dikelola berdasarkan persediaan
sahamnya atau berdasarkan portofolio. Dalam melakukan penelitian ini dipergunakan 65 hari
perdagangan dari 1 Agustus 1994 sampai dengan 31 Oktober 1994 di Pasar UK dan Irlandia.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa “ordinary inventories best explain dealer firms‟ quote
placement strategy. Temuan ini konsisten dengan adanya sifat desentralisasi dari market-
making dimana dealer individual memfokuskan pada posisi risiko saham yang dikelolanya
dan bukan pada posisi risiko saham yang dikelola oleh pihak dealer lain pada perusahaan
yang sama.

Tissaoui (2012) melakukan penelitian untuk menyelidiki pola intraday aktifitas perdagangan,
likuiditas dan volatilitas di bursa Tunisia. Penelitian ini menggunakan data periode Oktober
21
2008 sampai Juni 2009. Metode yang dipergunakan dalam menganalisis tujuan yaitu
temporal analysis dengan pendekatan Vo (2007) dan metode analisis spektrum yang
digunakan oleh Fourier Transform Fast (FT). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini
memberikan kesimpulan bahwa volume perdagangan, volatilitas tingkat pengembalian dan
likuiditas mengikuti huruf U. Semua variabel yang diidentifikasi menolak hipotesis
penelitian.

Penelitian teori struktur mikro pasar sudah dimulai di pasar yang sedang berkembang
termasuk di Indonesia terutama pada disertasi yang dilakukan oleh mahasiswa Doktoral
untuk bidang keuangan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penelitian teori struktur
mikro pasar ini dimulai Purwanto (2001) dilanjutkan Saragih (2002) dan Yohanes (2009)
serta darminto (2010) serta seterusnya.

Purwanto (2001) melakukan penelitian pada konteks struktur mikro pasar yang menekankan
pengembangan model dan analisis proses trading dengan data frekuensi tinggi dan juga
pengembangan teori Markov‟s absorbing barrier untuk memberikan alternatif penjelasan
teoritis. Penelitian ini menggunakan data1 Desember 2000 sampai dengan 31 Januari 2001
dengan sampel data 4 saham yaitu GGRM. TLM, ISAT dan SMCB. Hasil yang diperoleh
dari penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa Markov‟s Absorbing Barrier digunakan
untuk menjelaskan keputusan investor (traders) dimana faktornya reservation value,
instanteneous drift rate dan volatilitas. Model Odered Logit sebagai model yang lebih baik
dari model yang selama ini digunakan Model Ordered Probit.

Saragih (2002) melakukan penelitian di Bursa Efek Indonesia (pada saat penelitian masih
Bursa Efek Jakarta) tentang pergerakan otokorelasi imbal hasil observasi saham-saham
individu sebagai fungsi dari probablitias nontrading. Adapun data yang dipergunakan dalam
penelitian ini periode Januari 1993 sampai dengan Desember 1996. Kesimpulan yang
diberikan penelitian tersebut yaitu otokorelasi serial negatif imbal hasil saham -saham
individu (baik AR(1) maupun AR(2) cenderung eksis pada interval probabilitas nontrading
harian. Pada penelitian ini disebutkan juga bahwa terdapat pola hubungan yang sistematis
antara imbal hasil rata-rata, varians dengan otokorelasi resial negatif dan probabilitas
nontrading di hampir semua sampel yang diteliti.

Ekaputra (2003) melakukan penelitian dinamikan intrahari saham di Bursa Efek Indonesia
(sebelumnya Bursa Efek Jakarta). Data yang dipergunakan mulai Mei 2001 sampai dengan
Oktober 2001, dimana tidak disebutkan mengapa menggunakan data tersebut. Penelitian ini
masih bersifat mendokumentasikan dan mempelajari rata-rata tingkat pengembalian,
volatilitas dan spread yang belum pernah dilakukan di Indonesia dan di pasar lain sudah
banyak didokumentasikan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa pada akhir hari
return saham cenderung meningkat dan mencapai nilai tertinggi; return nega tif ditemukan
pada transaksi awal hari Senin. Penelitian ini menggunakan model Hermanto(2002) di pasar
uang yang sangat berbeda karakteristiknya pada pasar saham dengan hasil bahwa tingkat
pengembalian intrahari dipengaruhi return interval sebelumnya, tingkat pengembalian pasar
dan interaksi antara tingkat pengembalian pasar dan volume transaksi.

Interaksi antar agen juga menjadi topik dalam mikro struktur pasar dan untuk Indonesia
diteliti oleh Yohanes (2009). Penelitian ini mencoba melakukan pengukuruan interaksi agen
dan efeknya terhadap volalitilitas. Adapun penelitian ini menggunakan data periode tahun
2003 sampai dengan 2006 dimana data yang dipergunakan data transaksi saham, waktu
transaksi, harga transaksi dan volume transaksi serta frekuensi transaksi. Adapun hasil
22

penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa masing-masing agen mempunyai strategi
dalam melakukan transaksi dimana fundamental menggunakan pendekatan opportunity cost
kepemilikan saham dan analisa teknis menggunakan pendekatan analisa teknikal. Pola
interaksi agen dengan herding behaviour terjadi kategorisasi agen dimana prosesnya terjadi
secara asimetrik yang menyatakan bahwa perubahan populasi fundamentalis dan
chasrtist tidak sama besar dalam satu periode transaksi perdagangan. Penelitian ini juga
menyatakan bahwa terbentukan pengelompokkan volatilitas pada suatu perdagangan
disebabkan adanya probabilitas transisi yang tinggi menyatakan besarnya peluang migrasi
antara fundamentalis ke chartist atau sebaliknya.

Darminto (2010) melakukan penelitian struktur mikro pasar mengenai pengukuran
tingkat intesitas kejadian tertentu pada data order dan transaksi persdagangan saham secara
real time. Data transaksi saham BEI yang dipergunakan pada periode Bulan Januari
2008 dengan sampel 5 perusahaan. Hasil penelitian tersebut memberikan kesimpulan
bahwa model multivariate point process cocok dipakai untuk memodelkan data transaksi
keuangan secara real time terutama memodelkan events yang terjadi sepanjang waktu
perdagangan saham. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa liquidity shock
adalah sebagai kondisi perdagangan suatu saham dimana posisi order book saham tersebut
menunjukkan terjadinya market spread yang besarnya lebih dari 1 (satu) tick.







5,. Perbankan Sebagai Lembaga Intermediasi Keuangan

Lembaga keuangan merupakan bagian dari sistem keuangan yang
memiliki peran langsung dalam aktivitas perekonomian. Lembaga keuangan
adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan
dibandingkan aset nonfinansial atau aset riil.
11
Lembaga keuangan berfungsi
menghimpun dana dari masyarakat lalu kemudian menyalurkannya dalam bentuk
kredit kepada nasabah dan menanamkan dananya dalam surat-surat berharga.
Lembaga keuangan berdasarkan kemampuannya menghimpun dana dari
masyarakat secara langsung dapat dikelompokkan lembaga keuangan depositori
(depository financial institution) dan lembaga keuangan non depositori (non
depository financial institution).
12
Perbankan dalam hal ini termasuk kedalam
kelompok lembaga keuangan depositori (depository financial institution) karena
menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan
(deposit) seperti giro, tabungan dan deposito berjangka yang diterima dari
penabung atau unit surplus.
13
Di sisi lain, Levine mengelompokkan fungsi utama
dari lembaga keuangan dimana perbankan termasuk di dalamnya, ke dalam 5
fungsi dasar, yaitu:
14

23



11
Dahlan Siamat. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan. Edisi ketiga. Lembaga Penerbit FE-UI,
Jakarta. Hal. 5.

12
Ibid. Hal. 6.

13
Ibid

14
Ross Levine. 1996. Financial Development and Economic Growth : Views and Agenda. Policy
Research Working Paper. World Bank. Hal. 6.
24







1. memobilisasi tabungan;

2. mengalokasikan pendanaan ke tempat yang produktif;

3. memfasilitasi perdagangan barang dan jasa;

4. memfasilitasi perdagangan (trading), perlindungan terhadap nilai mata
uang (hedging), diversifikasi dan mengumpulkan resiko, dan
5. mengawasi penggunaan dana yang disalurkan.

Dalam aktivitas ekonomi sehari-hari , metode transfer dana tidak semua
dana dari unit surplus (fund provider) dapat langsung disalurkan kepada unit
defisit (deposit taker) akibat adanya berbagai perbedaan kepentingan.
15
Maka
perbedaan kepentingan kedua belah pihak tersebut dijembatani oleh perbankan,
sehingga perbankan disebut sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial
intermediaries institution). Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Indirect Finance


Lembaga Intermediasi
(Perbankan)




Unit Deposit
(deposit taker)
Perusahaan
Pemerintah
Rumah tangga



Pasar
Uang
Unit Surplus
(fund provider)
Perusahaan
Pemerintah
Rumah tangga








Sumber : Siamat Dahlan, 2001
Direct finance
Gambar 2.1. Proses Intermediasi Perbankan



15
Dahlan Siamat. Op. Cit. Hal. 15.
25









Perbankan menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dalam
bentuk simpanan (deposit). Dana yang terakumulasi tersebut disalurkan
perbankan kepada sektor riil dan masyarakat dalam bentuk investasi, modal kerja
dan pembiayaan lainnya. Maka fungsi intermediasi perbankan memiliki efek
strategis bagi perekonomian yaitu berperan sebagai lembaga intermediasi
keuangan yang mengalokasikan dana secara efektif dan efisien ke sumber-sumber
yang produktif. Sehingga hal tersebut dapat memacu pertumbuhan ekonomi suatu
negara.
Selain itu, Frederick S. Miskhin menyebutkan betapa pentingnya
perbankan , “ Banks are what make financial markets work. Without them,
financial markets would not be able to move funds from people who save to
people who have productive investment opportunities. They thus also have
important effect on the performance of the economy as a whole”.
16




2.2. Definisi dan Konsep Perbankan

Adanya perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan dapat
membantu masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Adapun definisi bank menurut
Dendawijaya, yaitu:
Bank adalah suatu badan usaha yang tugas utamanya sebagai lembaga
perantara keuangan (financial iintermediaries), yang menyalurkan dana
dari pihak yang berkelebihan dana (idle fund/surplus unit) kepada pihak






16
Frederick S. Miskhin. 1997. The Economics of Money, banking and Financial Markets. Fifth
edition. Addison Wesley Longman Inc, New York. Hal. 7.
26







yang membutuhkan dana (deficit unit) dalam bentuk kredit dan bentuk-
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
17

Berdasarkan pasal 5 Undang-undang No.10 Tahun 1998, bank di

Indonesia menurut jenisnya dikelompokan menjadi Bank Umum dan Bank
Perkreditan rakyat.
18
Namun dalam penelitian ini, lebih difokuskan pada Bank
Umum, bukan Bank Perkreditan Rakyat. Adapun definisi dari Bank Umum adalah
bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan
prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
19
Kelompok Bank yang termasuk Bank Umum di indonesia adalah
Bank BUMN, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), Bank Pembangunan
Daerah (BPD), Bank asing dan Bank Campuran.
20

Sedangkan kegiatan usaha Bank Umum menurut pasal 6 Undang-undang

No. 10 Tahun 1998 diantaranya adalah :
21


a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,
deposito berjangka, sertifikat deposito, dan bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu;
b. memberikan kredit;

c. menerbitkan surat pengakuan utang;

d. membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk
kepentingan dan atas perintah nasabahnya: surat-surat wesel, surat
17
Lukman Dendawijaya. 2001. Manajemen perbankan. Cetakan ke-1. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Hal. 25.

18
Ibid. Hal. 18.

19
Ibid. Hal. 17.

20
Dahlan Siamat. Op. Cit. H. 22.

21
Lukman Dendawijaya. Op.Cit. Hal. 18.
27







pengakuan utang, kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan
pemerintah, sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi, surat dagang
berjangka waktu sampai dengan satu tahun, surat berharga lain berjangka
waktu sampai satu tahun;
e. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah;
f. menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana
kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi
maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya;
g. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan
perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;
h. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;

i. melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan
suatu kontrak;
j. melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam
bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek;
k. (dihapus)

l. melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kredit dan kegiatan wali amanat;

m. menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan
prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia;
28







n. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak
bertentangan dengan undang-undang ini dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Dengan melihat berbagai kegiatan usaha bank tersebut, maka bagi sebuah
bank, dana merupakan darah dalam tubuh badan usaha dan persoalan paling
utama. Tanpa dana, bank tidak dapat berfungsi sama sekali. Menurut Sinungan
(1992), dana-dana bank yang digunakan sebagai alat bagi operasional suatu bank
bersumber dari dana-dana sebagai berikut :
22

1. Dana pihak kesatu

Merupakan dana dari modal sendiri yang berasal dari para pemegang
saham. Adapun dana modal sendiri ini terdiri dari modal disetor, agio
saham, cadangan-cadangan dan laba ditahan.
2. Dana pihak kedua

Merupakan dana pinjaman yang berasal dari pihak luar, yang terdiri atas
dana-dana : call money, pinjaman biasa antarbank, pinjaman dari Lembaga
Keuangan Bukan Bank (LKBB) dan pinjaman dari bank sentral (BI).
3. Dana pihak ketiga

Merupakan dana yang berupa simpanan dari masyarakat, terdiri dari
beberapa jenis yaitu giro (Demand deposit), deposito (Time deposit), dan
tabungan (Saving).



2.3. Definisi dan konsep Kredit Perbankan




22
Muchdarsyah Sinungan. 1992. Manajemen Dana Bank. Rineka cipta, Jakarta. Hal. 84.
29







Kata kredit berasal dari bahasa Latin credere yang berarti kepercayaan.
Kepercayaan yang dimaksud adalah antara si pemberi dan si penerima kredit.
23

Kredit juga dapat didefinisikan sebagai pemberian prestasi (misalnya uang dan
barang) dengan balas prestasi (kontraprestasi) yang akan terjadi pada waktu
mendatang.
24

Sedangkan menurut UU No. 7 Tahun 1992 tentang Pokok-pokok

Perbankan, definisi kredit yaitu:
25


Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman-pinjaman
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk
melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan, atau pembagian hasil keuntungan.

Namun dalam arti luas, kredit didasarkan atas komponen-komponen
kepercayaan, risiko dan pertukaran ekonomi di masa mendatang. Menurut
Simomangkir, kredit perbankan mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan
perekonomian dan perdagangan diantaranya adalah :
26

1. Kredit pada hakikatnya dapat meningkatkan daya guna uang.

2. Kredit dapat meningkatkan peredaran lalu lintas uang.

3. Kredit dapat meningkatkan daya guna dan peredaran barang.

4. Kredit merupakan salah satu alat stabilisasi ekonomi.

5. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha.



23
O.P Simomangkir. 2004. Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Nonbank. Cetakan ke-2.
Ghalia Indonesia, Bogor. Hal. 100.

24
Ibid.

25
Ibid

26
Ibid. Hal. 103.
30







6. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan.

7. Kredit merupakan alat untuk meningkatkan hubungan internasional.

Mengingat banyaknya fungsi kredit dalam kehidupan perekonomian dan
perdagangan, maka kredit pun dikelompokkan berdasarkan maksud dan
tujuannya. Secara garis besar, kredit dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu :
27

1. Kredit modal kerja

Kredit yang diberikan kepada nasabah kredit (debitor) untuk membiayai
kebutuhan modal kerja perusahaan debitor.
2. Kredit investasi

Kredit yang diberikan kepada nasabah kredit (debitor) untuk membiayai
pembelian barang modal (investasi).
3. Kredit konsumsi

Kredit yang diberikan kepada nasabah kredit (debitor) untuk keperluan
pembelian barang-barang konsumsi yang diperlukan debitor.



2.4. Mekanisme Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter sebagai salah satu kebijakan ekonomi mempunyai
peran penting dalam perekonomian suatu negara. Peran tersebut dapat dilihat dari
kemampuannya dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga dan
perluasan kesempatan kerja. Hal-hal tersebut sering dijadikan sasaran akhir dari
suatu kebijakan moneter. Untuk mencapai sasaran akhir tersebut, harus terdapat
suatu jalur yang dilalui yaitu mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme


27
Lukman Dendawijaya. Op.Cit. Hal. 27
31







transmisi kebijakan moneter merupakan penggunaan instrumen moneter yang
dimiliki Bank Sentral yang akan mempengaruhi sasaran antara untuk mencapai
sasaran akhir berupa stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan perluasan
kesempatan kerja.
Suatu kebijakan moneter bisa memiliki sasaran akhir tunggal ataupun
sasaran akhir ragam. Pada umumnya, kebijakan moneter dengan sasaran akhir
tunggal menggunakan pendekatan harga (price-based structure), sementara
kebijakan moneter dengan sasaran akhir ragam pada umumnya menggunakan
pendekatan kuantitas (quantity-based structure).
28
Pada Gambar 2.2 dan 2.3
disajikan kerangka secara umum dari kedua pendekatan tersebut.



Instrumen Sasaran
Operasional
Sasaran
Antara
Sasaran
Akhir

- Langsung - Uang Primer (M0) - M1, M2 - Stabilitas Harga
- Tidak Langsung - Reserve Bank - Kredit - Pertumbuhan Ek
-Suku Bunga - Kesempatan kerja

Sumber : Ascarya, 2002
Gambar 2.2. Transmisi Kebijakan Moneter dengan Pendekatan Kuantitas



Instrumen Sasaran
Operasional


Variabel- variabel
informasi
Sasaran
Akhir
- Langsung Suku Bunga Stabilitas Harga
- Tidak langsung

Sumber : Ascarya, 2002
Gambar 2.3. Transmisi Kebijakan Moneter dengan Pendekatan Harga




28
Ascarya. 2002. Instrumen-Instrumen Pengendalian Moneter. Seri Kebanksentralan No. 3. Pusat
Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia, Jakarta. Hal. 2.
32







Pendekatan kuantitas menyatakan bahwa pengendalian besaran-besaran
moneter dapat secara efektif mengendalikan stabilitas perekonomian.
29
Sedangkan
pendekatan harga menyatakan bahwa pengendalian tingkat hargalah yang secara
efektif dapat mengendalikan stabilitas perekonomian.
30
Dari Gambar 2.2 dan 2.3
dapat dilihat bahwa untuk mencapai sasaran akhir yang diinginkan, baik ragam
maupun tunggal, kerangka kebijakan moneter pada umumnya terdiri dari beberapa
bagian. Bagian tersebut yaitu instrumen dan sasaran operasional untuk pendekatan
harga, sedangkan untuk pendekatan kuantitas yaitu instrumen, sasaran operasional
dan sasaran antara.
Dalam pendekatan kuantitas, untuk mencapai sasaran akhir yang
diinginkan terdapat lag antara pelaksanaan kebijakan dengan tercapai atau
tidaknya sasaran akhir itu.
31
Sehingga diperlukan sasaran antara untuk mengetahui
dengan segera indikasi kebijakan yang dilakukan. Sasaran antara dipilih yang
memiliki keterkaitan stabil dengan sasaran akhir, cakupannya luas, dapat
dikendalikan otoritas moneter, tersedia relatif cepat, akurat dan tidak sering
direvisi.
32
Sasaran antara yang dapat digunakan yaitu M1, M2, kredit perbankan
dan suku bunga. Sementara itu, untuk mencapai sasaran antara, diperlukan sasaran
yang bersifat operasional agar proses transmisi dapat berjalan sesuai dengan





29
Ibid.

30
Ibid.

31
Ibid.

32
Ibid. Hal. 3
33







rencana.
33
Beberapa pilihan sasaran opersional diantaranya uang primer (M0),
reserve bank dan suku bunga (jangka pendek). Selanjutnya untuk mencapai
sasaran operasional bank sentral memerlukan alat-alat yang dapat secara langsung
atau tidak langsung mempengaruhi sasaran operasional.
34
Alat-alat tersebut biasa
disebut sebagai instrumen.
Bentuk instrumen langsung yang banyak digunakan adalah pengendalian
suku bunga (interest rate ceilings), pagu kredit dan kredit program bank sentral.
Sementara itu, secara umum bentuk instrumen tidak langsung yang banyak
digunakan yaitu Operasi Pasar Terbuka (OPT), Giro Wajib Minimum (GWM),
dan fasilitas diskonto.
35




2.5. Jalur Kredit (Credit Channel) sebagai Salah Satu Mekanisme

Transmisi Kebijakan Moneter


Mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia terdiri dari lima jalur
yaitu jalur nilai tukar, jalur kredit, jalur suku bunga, jalur ekspektasi dan jalur
harga aset.
36
Salah satu jalur yang melihat pengaruh kebijakan moneter terhadap
kredit yaitu jalur kredit (Credit Channel).








33
Ibid.

34
Ibid

35
Ibid. Hal. 6.
36
Perry W. dan Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Seri Kebanksentralan No. 6. Pusat
Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia, Jakarta. Hal. 19.
34








Kebijakan Moneter Liabilitas
Bank
Ketersediaan
Kredit Bank

Jumlah Uang Beredar


Investasi


Suku Bunga /
Harga Saham
Nilai Bersih
Perusahaan
Pemberian
Kredit


Sumber : Perry Warjiyo dan Solikin, 2003
Gambar 2.4 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter melalui Jalur kredit


Berdasarkan Gambar 2.4 dapat dillihat bahwa jalur kredit dapat dibedakan
menjadi dua jalur yaitu jalur pinjaman bank (bank lending channel) dan jalur
neraca perusahaan(balance sheet channel).
1. Jalur Pinjaman Bank (bank lending channel)

Jalur pinjaman bank menekankan pengaruh kebijakan moneter pada
kondisi keuangan bank. Pada jalur ini, selain sisi aset, sisi liabilitas bank juga
merupakan komponen penting dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter .
37

Apabila bank sentral melaksanakan kebijakan ekspansif, misalnya melalui

penurunan GWM di bank sentral, maka cadangan dana yang ada di bank akan
mengalami peningkatan sehingga dana yang dapat dipinjamkan oleh bank
(loanable fund) akan mengalami peningkatan. Sehingga kemampuan bank untuk
memberikan kredit akan meningkat. Kondisi ini akan mendorong peningkatan
investasi yang berdampak pada peningkatan output.
GWM + H Loanable Fund bank | H Pemberian Kredit| H Investasi | H

Output |



37
Ibid. Hal. 22.
35







2. Jalur Neraca Perusahaan (balance sheet channel)

Jalur neraca perusahaan menekankan pengaruh kebijakan moneter pada
kondisi keuangan perusahaan dan selanjutnya mempengaruhi akses perusahaan
untuk mendapatkan kredit.
38
Apabila bank sentral melakukan kebijakan moneter
ekspansif, maka suku bunga di pasar uang akan turun, yang mendorong harga
saham mengalami peningkatan. Sejalan dengan peningkatan tersebut, nilai bersih
perusahaan (networth) akan meningkat, yang selanjutnya mengurangi tindakan
adverse selection dan moral hazard oleh perusahaan. Kondisi ini mendorong
pemberian kredit oleh bank, selanjutnya meningkatkan investasi dan pada
akhirnya meningkatkan output.
M |H r + H P saham |H networth |H adverse selection dan moral hazard+H

Pemberian Kredit | H Investasi |H Output |




2.6. Penurunan Penyaluran Kredit

Penurunan penyaluran kredit dapat terjadi karena adanya penurunan dari
sisi penawaran atau permintaan terhadap kredit perbankan. Dengan terjadinya
penurunan penyaluran kredit, maka fungsi intermediasi perbankan akan
terganggu. Perbankan yang seharusnya menjadi perantara antara sektor moneter
dan sektor riil menjadi tidak mampu lagi menggerakkan perkembangan dunia
usaha melalui kredit yang disalurkan perbankan. Hal ini tentu saja akan
mengurangi efektivitas dari kebijakan moneter itu sendiri, terutama melalui jalur
kredit (credit channel). Berbagai penelitian telah menemukan fenomena


38
Ibid.
36







penurunan penyaluran kredit perbankan baik akibat penurunan permintaaan
ataupun penawaran kredit. Untuk membedakan fenomena penurunan kredit
perbankan (disintermediasi), maka dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhinya yaitu dari sisi permintaan dan penawaran kredit dalam
pasar kredit.
2.6.1. Penurunan Kredit yang Terjadi Karena Penurunan Permintaan

Penurunan kredit akibat faktor-faktor permintaan merupakan hal yang
sering terjadi ketika perekonomian suatu negara mengalami kelesuan (resesi),
terutama karena masih lemahnya aktivitas investasi. Dari sisi mikro, pada
perusahaan, masalah struktural seperti penyesuaian untuk mengurangi rasio utang
terhadap modal (debt equity ratio) yang meningkat akibat krisis juga menjadi
penyebab turunnya permintaan kredit.
39
Selain itu, faktor melemahnya investasi
pada saat resesi ditambah dengan faktor ketidakpastian (uncertainty) dan iklim
usaha (business confidence) yang kurang baik, juga merupakan penyebab
turunnya permintaan kredit.
Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.5, melemahnya aktivitas
perekonomian menyebabkan penurunan permintaan (demand) kredit. Sehingga
kurva permintaan kredit bergeser ke bawah, dari D
0
ke D
1
. Jika tidak terjadi
perubahan dari sisi penawaran (supply), maka pergeseran demand tersebut akan
mendorong suku bunga turun dan kuantitas kredit lebih rendah dari semula (r
1
,L
1
).





39
Agung, et al. 2001. Credit Crunch di Indonesia Setelah Krisis:Fakta, Penyebab dan Implikasi
Kebijakan. Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Bank Indonesia. Hal. 5
37










Suku Bunga Kredit

S

r
0

r
1



D
1
D
0

D
2
L
1
L
0
Kuantitas Kredit



Sumber : Agung et al. 2001
Gambar 2.5 Penurunan Kredit Akibat Menurunnya Permintaan


Namun jika penurunan kredit akibat fakor struktural mikroekonomi, maka
pergeseran permintaan juga diikuti oleh curamnya kurva permintaan (D
2
).
Sehingga permintaan kredit menjadi kurang sensitif terhadap perubahan harga
kredit.
40

2.6.2. Penurunan Kredit yang Terjadi Karena Penurunan Penawaran
Penurunan kredit dari sisi penawaran disebabkan oleh turunnya kemauan
bank untuk memberikan kredit. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan
menurunnya keinginan perbankan untuk memberikan kredit dapat bersumber dari
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal berupa rendahnya kualitas
aset perbankan, tingginya NPL dan anjloknya modal perbankan akibat depresiasi
serta negative interest margin yang akan menurunkan kemampuan bank untuk
menyalurkan kredit.
41
Sedangkan faktor eksternal berupa menurunnya tingkat



40
Ibid. Hal. 6

41
Ibid.
38


S
2









kelayakan kredit (creditworthness) dari debitur akibat melemahnya kondisi
keuangan perusahaan.
42
Sehingga bank akan mengalami kesulitan untuk
membedakan tingkat kelayakan kredit dari debitur. Dengan demikian akan terjadi
asymetric information dan pada gilirannya akan mengurangi volume kredit
perbankan.
Berdasarkan Gambar 2.6, diilustrasikan bahwa penurunan penawaran
kredit baik karena faktor internal maupun eksternal menyebabkan pergeseran
kurva supply ke atas (S
0
ke S
1
). Hal ini akan mendorong suku bunga meningkat
dan menurunnya kuantitas kredit (r
1
,L
1
). Namun demikian, keengganan bank
untuk menyalurkan kredit seringkali tidak diikuti oleh kenaikan suku bunga, tapi
diikuti oleh pengurangan kredit secara kuantitas (non-price credit rationing). Non-
price credit rationing ini akan menggeser kurva supply ke kiri atas dan kurva
menjadi vertikal (S
2
). Hal ini mencerminkan bahwa kurva penawaran kredit
menjadi tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Suku Bunga Kredit
S
1
S
0

r
1

r
0



D


Sumber : Agung et al.2001
L
1
L
0
Kuantitas Kredit
Gambar 2.6 Penurunan Kredit Akibat Menurunnya Penawaran







42
Ibid. Hal. 7
39







Penurunan penyaluran kredit akibat penurunan penawaran kredit dapat
menyebabkan terjadinya credit crunch. Credit crunch merupakan suatu situasi
dimana terjadi penurunan supply kredit perbankan secara tajam akibat dari
menurunnya kemauan bank dalam menyalurkan kredit pada dunia usaha. Hal ini
dapat tercermin dari meningkatnya spread yaitu selisih antara suku bunga kredit
dan suku bunga deposito serta semakin ketatnya kriteria untuk memperoleh kredit.
Dalam kondisi ekstrim, credit crunch terjadi dalam bentuk credit rationing, yaitu
bank menolak memberikan kredit terhadap nasabah tertentu pada tingkat suku
bunga berapapun .
43





2.7. Sektor Riil

Dalam konteks fundamental makroekonomi, determinan utama bagi
kinerja ekonomi nasional terdiri dari dua bagian yaitu sektor riil (real sector) dan
sektor non riil (non real sector) atau sering disebut sektor moneter. Sektor riil
merupakan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan barang/jasa. Secara spesifik,
aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan output nasional, dimana indikatornya
adalah GDP (Gross Domestic Product) dan GNP (Gross National Product).
Sedangkan sektor non riil (non real sector) / sektor moneter merupakan aktivitas
yang menyangkut keuangan/perbankan serta menggambarkan tentang penawaran
dan permintaan uang (money supply and demand).
Menurut Bank Indonesia, sektor riil terdiri dari 7 sektor yaitu sektor
pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; sektor pertambangan dan

43
Agung. Et al. Op. Cit. Hal. 5
40







penggalian; sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air minum; sektor
bangunan; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor transportasi dan
komunikasi.
44
Selama ini sektor riil memiliki sumbangan yang besar terhadap
output nasional. Sehingga sektor riil memiliki peranan yang penting dalam
perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh mengabaikan
perkembangan sektor riil.



2.8. Pertumbuhan Ekonomi

Selama ini banyak persepsi yang menyamakan arti dari istilah
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Sebenarnya kedua istilah
tersebut memiliki maksud yang sama tapi memiliki arti yang berbeda. Istilah
pertumbuhan ekonomi digunakan jika terdapat lebih banyak output. Sedangkan
pembangunan ekonomi digunakan jika terdapat lebih banyak output yang disertai
dengan perubahan-perubahan struktur ekonomi dan teknik pengetahuan dalam
menghasilkan output yang lebih banyak. Pada umumnya pembangunan ekonomi
selalu disertai dengan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan ekonomi belum
tentu disertai dengan pembangunan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi merupakan mesin paling tangguh untuk
menghasilkan peningkatan standar hidup dalam jangka panjang. Pertumbuhan
ekonomi didefinisikan sebagai kenaikan kapasitas produksi dari suatu negara
dalam jangka panjang untuk menyediakan berbagai macam barang ekonomi



44
Tim Statistik Sektor Riil. 2007 Angka-angka Sektor Riil. Direktorat Statistik Ekonomi dan
Moneter, Bank Indonesia. Hal.1
41







kepada penduduknya.
45
Kenaikan kapasitas tersebut ditentukan oleh adanya
kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan),
dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.meningkat sepanjang
waktu untuk menghasilkan tingkat pendapatan yang semakin besar.
46
Adapun
definisi lain dari pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan faktor-faktor
produksi dan kemajuan teknologi dari waktu ke waktu sehingga dapat
meningkatkan kemampuan suatu negara secara keseluruhan dalam menghasilkan
output.
47
Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara biasanya
digunakan variabel gross domestic product (GDP), yang mengukur output total
dari suatu perekonomian.
48




2.9. Sertifikat Bank Indonesia

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan surat berharga dalam mata
uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang
jangka pendek dengan menggunakan sistem diskonto.
49
SBI ini merupakan salah
satu instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang dilaksanakan oleh Bank
Indonesia dalam rangka mengendalikan jumlah uang yang beredar ataupun suku
45
Michael P. Todaro. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia ketiga, dalam Haris Munandar
(penerjemah). Erlangga, Jakarta. Hal. 99

46
Ibid

47
Dominick Salvatore. 1997. Ekonomi Internasional, dalam Haris Munandar (penerjemah).
Penerbit Erlangga, Jakarta. Hal. 232-236

48
N. Gregory Mankiw. 2000. Teori Makroekonomi, dalam Imam Nurmawan (penerjemah).
Penerbit Erlangga, Jakarta. Hal. 72

49
F.X Sugiyono. 2003. Instrumen Pengendalian Moneter: Opersi Pasar Terbuka.. Seri
Kebanksentralan No. 10. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia,
Jakarta. Hal. 30
42







bunga. Surat berharga yang dijadikan instrumen OPT di Indonesia hanya SBI. Hal
ini dikarenakan SBI memenuhi persyaratan sebagai surat berharga yang dapat
dipergunakan sebagai instrumen OPT antara lain ialah berkualitas tinggi, mudah
atau sewaktu-waktu dapat dicairkan dan jumlahnya mencukupi untuk keperluan
OPT.
50

Sebagai instrumen OPT, penerbitan SBI oleh Bank Indonesia dapat

dilakukan baik melalui lelang maupun non lelang. SBI dapat dimiliki oleh bank
ataupun pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia melalui pembelian SBI di
pasar perdana. Jangka waktu penerbitan SBI untuk lelang mingguan secara
reguler adalah 30 dan 90 hari.
51
Selain itu terdapat dua macam lelang, yaitu lelang
mingguan secara reguler dan lelang harian. Lelang mingguan secara reguler
dimaksudkan untuk menjaga tetap tersedianya SBI di pasar, sementara lelang
harian dimaksudkan untuk pengendalian moneter.
52
Tingkat suku bunga SBI
ditentukan oleh Bank Indonesia sesuai dengan sasaran moneter yang ingin
dicapai. Peningkatan suku bunga SBI dimaksudkan agar banyak yang menyimpan
dananya di SBI sehingga kelebihan likuiditas dapat diserap. Dengan demikian
dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan dapat mengendalikan inflasi.











50
Ibid

51
Ibid. Hal. 31

52
Ibid. Hal. 32
43







2.10. Penelitian Terdahulu

1. Pasarbasioglu (1997) penelitiannya menyatakan bahwa penurunan kredit
terjadi akibat penurunan penawaran kredit. Penurunan penawaran kredit
disebabkan oleh menurunnya kemauan bank-bank untuk memberikan
pinjaman tanpa diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit.
53

2. Gosh and Gosh (1998) menggunakan Switching Regression untuk
mendeteksi penurunan penyaluran kredit. Dua persamaan regresi yang
menghubungkan permintaan dan penawaran kredit dengan variabel
bebasnya, dipresentasikan dalam satu grafis sehingga akan terlihat kredit
aktual. Hasilnya menyatakan bahwa penurunan penyaluran kredit adalah
quantity rationing, bahwa dalam keadaan resesi terdapat kegagalan suku
bunga untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran kredit.
54


3. Agung et al (2001) penelitiannya mengkaji apakah penurunan kredit yang
tajam dari sektor perbankan di Indonesia adalah akibat credit crunch atau
disebabkan oleh lemahnya permintaan kredit karena adanya resesi.
Penelitian ini menggunakan analisis empiris secara makro dengan
menggunakan data aggregat dan secara mikro menggunakan data
individual perbankan (panel data) serta survey yang dilakukan kepada
bank dan perusahaan. Hasil penelitian ini menyimpulkan terjadinya credit




53
Ceyla Pazarbasiouglo. 1997. A Credit Crunch?Finland in The Aftermath of The Banking Crisis.
Staff Papers International Monetary Fund, Vol 44, No.3 (Sep, 1997). Hal. 315-327

54
A.Ghosh and Swati G. 1999. East Asia in The Aftermath:Was there a crunch?. IMF Working
Paper Series. Hal. 12-19
44







crunch di Indonesia serta didapatkan hasil bahwa suku bunga kredit tidak
berpengaruh terhadap permintaan kredit pada saat krisis.
55

4. Harmanta dan Mahyus Ekananda (2005), penelitiannya menganalisis
determinan dari penurunan kredit perbankan yang didominasi oleh
penawaran atau permintaan kredit. Penelitiannya menggunakan maximum
likelihood dan hasilnya menyatakan bahwa pada periode sebelum krisis,
penurunan penyaluran kredit disebabkan oleh penawaran kredit. Lalu pada
sepanjang krisis, penurunan penyaluran kredit disebabkan juga oleh
rendahnya penawaran kredit akibat menurunnya kemampuan bank dalam
menyalurkan kredit. Sedangkan setelah krisis, penurunan kredit
disebabkan oleh lemahnya permintaan kredit. Penelitian ini juga
menunjukkan inflexibility dari suku bunga dalam menyeimbangkan pasar
kredit.
56

5. Yan Yan Peliyana (2005), penelitiannya menunjukkan bahwa kredit yang
disalurkan perbankan dipengaruhi oleh kondisi moneter dan permintaan
agregat. Kondisi moneter yaitu, inflasi dan nilai tukar. Permintaan agregat
meliputi investasi yang disetujui, dan pembentukan kapital tetap. Lalu
kredit dan kapitalisasi pasar modal memiliki korelasi positif terhadap
pertumbuhan ekonomi.
57




55
Agung. et al. Op. Cit. Hal. 31-35.

56
Harmanta dan Mahyus Ekananda, 2005. Disintermediasi Fungsi Perbankan di Indonesia Pasca
Krisis 1997 : Faktor Permintaan atau Penawaran Kredit, Sebuah Pendekatan dengan Model
Disekuilibrium. Buletin Ekonomi dan Perbankan, Juni 2005.

57
Yan Yan Peliyana. 2005. Pengaruh Intermediasi Perbankan dan Pasar Modal Terhadap
Pertumbuhan ekonomi Indonesia [Skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi, FEM-IPB.
45







6.

Merry Rachmawati (2005), penelitiannya menganalisis secara empirik


hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara kapasitas kredit, suku


bunga kredit, rasio modal terhadap aset, kredit bermasalah terhadap


penawaran kredit. Metode yang digunakan yaitu Error Correction Model


(ECM). Hasilnya menunjukkan bahwa dalam jangka pendek variabel yang


digunakan yaitu suku bunga kredit dan rasio modal terhadap aset


mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap penawaran


kredit. Sedangkan pada kapasitas kredit dan kredit bermasalah memiliki


hubungan negatif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Dalam


jangka panjang kapasitas kredit dan suku bunga kredit mempunyai


hubungan positif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Sedangkan


rasio modal terhadap aset dan kredit bermasalah mempunyai hubungan

yang negatif dan signifikan terhadap penawaran kredit.
58



Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya:


1.

Penelitian ini tidak hanya menganalisis terjadinya disintermediasi

perbankan di Indonesia, tapi juga menganalisis pengaruh dari
disintermediasi tersebut terhadap perkembangan sektor riil dan
pertumbuhan ekonomi.









58
Merry Rachmawati. 2005. Analisis Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang Penawaran
Kredit Perbankan Pasca Krisis Moneter di Indonesia[Skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi,
FEM-IPB. Hal. 48-55.
1






2. Metodologi penelitian pada penelitian ini menggunakan 2 metode yaitu metode
estimasi MaximumLikelihood (ML) serta regresi berganda yaitu Ordinary Least
Square (OLS).
3. Pada penelitian ini hanya menganalisis disintermediasi pasca krisis ekonomi,
tidak menganalisis sebelum krisis ekonomi.
4. Periode pengamatan pada penelitian ini dari tahun 1999 – 2007. pada
penelitian terdahulu hanya sampai tahun 2003.
5. Penelitian ini menggunakan 5 variabel dalam fungsi permintaan kredit yaitu GDP riil, suku
bunga kredit, IHSG, inflasi dan nilai tukar. Lalu 5 variabel dalam fungsi penawaran kredit yaitu
kapasitas kredit, suku bunga kredit, suku bunga SBI, CA dan NPL

6 Memilih Reksa Dana Berdasarkan Strategi Investasi
June 1st, 2012 Rudiyanto Leave a comment Go to comments
Selama ini, salah satu metode pemilihan reksa dana adalah mencocokkan karakteristik reksa dana
dengan profil risiko dan karakteristik risk and return dari suatu reksa dana. Namun seiring dengan
perkembangan, investor juga menjadi semakin pintar dan lebih memahami tentang investasi.
Sebagian investor mulai menggunakan strategi investasi sebagai salah satu panduan dalam memilih
reksa dana. Sebab bagi mereka, return tinggi bukan pertimbangan utama, namun bagaimana
mencapai tingkat return tersebut dan apakah cara tersebut nyaman di mata investor. Seperti apa
strategi investasi reksa dana yang tersedia saat ini?
Strategi investasi reksa dana adalah strategi yang digunakan oleh para Manajer Investasi dalam
menjalankan portofolio investasi reksa dananya. Karena basis portofolio reksa dana bermacam-
macam yang terdiri dari saham, obligasi dan pasar uang, maka saya mengkategorikan strategi reksa
dana berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut:
2
Strategi
Investasi Pasif dan Strategi Investasi Aktif
Reksa Dana Strategi Investasi Pasif adalah reksa dana yang sangat pasif dalam menjalankan
pengelolaan portofolio investasinya. Umumnya reksa dana yang masuk kategori ini memungut
biaya pengelolaan (management fee) yang rendah dan hanya memberikan tingkat pengembalian
yang setara dengan pasar / indeks atau memberikan bunga dan kupon obligasi kepada investor
secara periodik. Jenis reksa dana yang masuk kategori ini antara lain ETF (Exchange Traded Fund)
baik saham ataupun obligasi, Reksa Dana Terproteksi dan Reksa Dana Pasar Uang. Bagi investor
yang percaya bahwa dalam jangka panjang reksa dana akan susah mengalahkan return pasar (baik
saham ataupun obligasi), ataupun investor konservatif yang ingin reksa dana dengan tingkat return
yang lebih pasti, maka reksa dana kategori ini bisa menjadi salah satu pertimbangan.
Reksa Dana Strategi Investasi Aktif adalah reksa dana yang aktif dalam menjalankan
pengelolaan portofolio investasi dan berusaha memberikan tingkat return di atas tingkat pasar. Bisa
dibilang hampir sebagian besar dari reksa dana yang ada saat ini bisa dikategorikan sebagai reksa
dana dengan strategi investasi aktif. Hanya saja, strategi yang digunakan untuk memberikan imbal
hasil yang mengalahkan tingkat return pasar berbeda-beda. Berdasarkan portofolio investasi yaitu
saham dan obligasi, strategi aktif yang digunakan dapat dibagi menjadi sebagai berikut.
Strategi Investasi Growth Investing dan Value Investing Untuk portofolio berbasis saham.
3
Growth Investing dan Value Investing adalah strategi investasi yang sangat dikenal dalam teori
investasi dan juga dipraktekkan oleh investor-investor legendaris seperti Warren Buffet dan
Benjamin Graham. Growth Investing adalah strategi investasi dimana dalam pemilihan saham
didasarkan pada perusahaan yang tingkat pertumbuhannya di atas rata-rata meski secara valuasi,
bisa saja harga saham tersebut sudah dikategorikan relatif mahal. Saham yang masuk dalam
kategori ini disebut growth stock.
Berlawanan dengan Growth Investing, Value Investing adalah strategi investasi dimana
pemilihan saham didasarkan pada perusahaan yang fundamentalnya baik, memiliki prospek dan
model bisnis yang jelas serta secara valuasi relatif lebih murah dibandingkan saham secara umum.
Saham yang masuk dalam kategori ini disebut value stock.
Secara praktek, amat sulit untuk mencari reksa dana yang dikategorikan sebagai value investing
atau growth investing karena belum ada garis pemisah yang benar-benar jelas antara saham mana
yang masuk kategori value stock dan growth stock. Selain itu, saham yang masuk kategori growth
stock, seiring dengan waktu bisa berubah menjadi value stock dan sebaliknya sesuai dengan
perubahan situasi dan kondisi. Definisi antara value stock dan growth stock antar manajer investasi
juga bisa berbeda-beda.
Salah satu cara untuk mengenali strategi investasi ini adalah dengan melihat portofolio
investasinya. Apabila portofolio investasi reksa dana, secara konsisten mayoritas berisi saham yang
sedang tren saat ini, bisa dikategorikan sebagai reksa dana dengan strategi growth investing.
Sementara, apabila secara konsisten mayoritas isi portofolio terdiri dari saham yang sedang tidak
tren di pasaran dan memiliki valuasi yang relatif rendah, maka kemungkinan suatu reksa dana bisa
dikategorikan dalam value investing. Bagi investor yang ingin memilih reksa dana saham
berdasarkan strategi ini tentunya harus memiliki pengetahuan tentang saham yang cukup mendalam
pula.
Keunggulan Growth Investing adalah karena portofolio yang lebih sesuai dengan kondisi pasar,
terkadang dalam jangka pendek tingkat kenaikannya sama atau bahkan lebih tinggi dari pasar.
Namun karena berisi saham dengan valuasi yang tinggi, maka potensi risikonya juga lebih besar.
Sementara reksa dana saham dengan Value Investing memiliki keunggulan terdiri dari saham
dengan prospek fundamental yang bagus dan valuasi yang murah. Meski demikian, dalam jangka
pendek terkadang kinerja reksa dana mungkin akan kalah dibandingkan kondisi pasar secara umum
karena fundamental yang bagus dan valuasi yang murah tidak menjamin harganya akan naik karena
tidak menjadi tren pasar. Kenaikan harganya baru akan terlihat dalam jangka panjang dan jika
pemilihan sahamnya tepat, tingkat return yang dapat dihasilkan berpotensi mengalahkan tingkat
return pasar.
Hingga saat ini memang belum ada studi empiris yang menunjukkan strategi mana yang lebih baik
antara value investing dan growth investing untuk kategori reksa dana di Indonesia. Terkadang
Manajer Investasi juga menerapkan kedua prinsip tersebut dalam portofolio investasinya. Perlu
diingat pula bahwa Value Stock belum tentu adalah saham blue chip dan Growth Stock belum tentu
adalah saham second atau third liner.
Strategi Durasi Untuk Reksa Dana Berbasis Obligasi
4
Durasi adalah satuan risiko dalam obligasi seperti halnya beta dalam saham. Durasi obligasi
menyatakan tingkat sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan tingkat suku bunga. Hubungan
antara Durasi dan perubahan suku bunga bersifat negatif. Sebagai contoh sebuah obligasi dengan
durasi 5, mengindikasikan jika suku bunga naik 1% maka harga obligasi diperkirakan akan turun
5% dan sebaliknya jika suku bunga turun 1% maka harga obligasi diperkirakan akan naik 5%.
Berdasarkan kondisi makro ekonomi dan ekspektasi perubahan inflasi dan suku bunga, Manajer
Investasi akan mengatur portofolio reksa dana pendapatan tetap sedemikian rupa sehingga dapat
meminimalkan risiko obligasi sekaligus memaksimalkan potensi return (koreksi). Namun, ada pula
reksa dana pendapatan tetap yang fokus pada tingkat durasi tertentu karena dianggap sudah paling
optimal. Berdasarkan durasi portofolio pada reksa dana pendapatan tetap, saya mengkategorikan
strategi durasi pada reksa dana berbasis obligasi menjadi:
- Panjang dengan durasi > 5
- Menengah dengan durasi 3-5
- Pendek dengan durasi <3
Perlu diingat bahwa durasi tidak sama dengan jatuh tempo. Salah satu cara untuk mengetahui
tingkat durasi adalah dengan membaca informasi tersebut pada Fund Fact Sheet reksa dana.
Sebagian Manajer Investasi yang transparan terhadap nasabah akan memasukkan informasi
tersebut ke dalam laporan fund fact sheetnya.
Panjang, menengah dan pendek dapat diartikan sebagai risiko tinggi, moderat dan rendah pada
reksa dana pendapatan tetap. Jadi meskipun dibandingkan reksa dana saham, reksa dana
pendapatan tetap sudah dikategorikan berisiko rendah, namun antara sesama reksa dana pendapatan
tetap juga bisa dibagi lagi menjadi tinggi, moderat dan rendah. Hal ini bisa menjadi salah satu
pertimbangan investor dalam memilih reksa dana pendapatan tetap.
Reksa Dana dengan Strategi CPPI
Reksa Dana Campuran yang portofolionya terdiri dari saham dan obligasi dengan strategi investasi
aktif umumnya menggunakan kombinasi antara value dan growth investing untuk saham dan
strategi durasi untuk portofolio obligasinya. Di luar strategi tersebut, meski sedikit ada juga
Manajer Investasi yang mengembangkan strategi investasi baru yaitu strategi CPPI (Constant
Proportion Portfolio Insurance). Reksa Dana Campuran dengan strategi CPPI ini umumnya
adalah strategi yang menjalankan fungsi rebalancing secara otomatis (auto rebalancing) sesuai
dengan kondisi pasar sehingga mampu meminimalkan risiko dan memaksimalkan tingkat return.
Di Indonesia, produk reksa dana dengan strategi CPPI pertama kali dikembangkan oleh PT. BNP
Paribas Investment Partners. Salah satu fitur dari produk ini adalah berusaha memberikan
perlindungan kepada investor dengan membatasi maksimum kerugian yang mungkin terjadi pada
reksa dana tersebut melalui skema auto rebalancing. Umumnya reksa dana dengan strategi ini lebih
berorientasi pada membatasi tingkat risiko. Bagi investor yang mencari reksa dana yang bisa
dengan risiko terbatas, reksa dana dengan strategi ini bisa menjadi salah satu pertimbangan. Hanya
saja perlu diingat bahwa reksa dana tidak memberikan jaminan, namun berusaha menjaga potensi
risiko melalui skema pengelolaan sama halnya seperti reksa dana terproteksi yang tidak
memberikan garansi akan pokok investasi. Jadi tetap ada kemungkinan investor mengalami
kerugian lebih besar dari skema yang diberikan.
5
7 MANAJEMEN RESIKO BELUM KETEMU/ DAPAT
Teori Valuasi

Oleh: Prof. Dr. Adler Haymans Manurung
2




Pendahuluan

Salah satu teori yang paling diperkukan ketika investor melakukan investasi yaitu teori
valuasi. Teori ini membahas mengenai valuasi atas aset yang diinvestasikan dimana aset yang
diinvestasikan bisa berupa aset riil dan aset finansial. Penilaian kedua aset tersebut sangat
berbeda dikarenakan karakteristik yang berbeda. Aset finansial merupakan aset yang
menyatakan bahwa aset memiliki aset riil atau hak yang lain. Buku ini hanya membahas valuasi
untuk investasi aset financial terutam untuk valuasi aset saham.
Investor atau juga analis yang melakukan valuasi harus lebih dulu mengumpulkan semua
informasi yang diperlukan. Informasi yang diperlukan merupakan informasi yang tertulis dan
umumnya mengenai masa lalu. Informasi ini bisa didapatkan dari perusahaan yaitu laporan
keuangan yang telah diaudit kantor akuntan publik. Laporan akuntan yang dituangkan dalam
Laporan Tahunan merupakan kewajiban perusahaan yang terdaftar di bursa untuk
mempublikasikannya. Ada juga informasi yang tidak tertulis yaitu melalui hasil interview
kepada direksi atau pejabat perusahaan yang ditunjuk untuk aktifitas tersebut yaitu corporate
secretary. Informasi ini sangat penting karena merupakan pandangan dan proyeksi perusahaan
tentang perusahaan di masa mendatang. Bila tindakan ini tidak dilakukan maka valuasi dengan
pendekatan pertama yang diuraikan selanjutnya tidak akan mempunyai arti.
Sebelum mendapatkan informasi yang diuraikan sebelumnya, analis atau yang ingin
melakukan valuasi harus memiliki atau mempunyai wawasan tentang ekonomi Negara serta
sektor industri yang dianalisis. Kedua informasi tersebut sangat membantu ketika
mengumpulkan data yang diuraikan sebelumnya. Akibatnya, valuasi yang dilakukan mempunyai
alasan kuat serta besaran yang dipergunakan juga cukup valid.
Valuasi yang dilakukan selalu menggunakan data kuantitatif dan bila data kualitatif yang
tersedia maka data tersebut harus dikuantitatif sehingga memberikan arti yang lebih jelas. Hasil
akhir dari valuasi merupakan sebuah nilai yang selalu diperbandingkan dengan harga yang
terjadi di pasar. Bila harga yang dihitung menggunakan berbagai model mendekati harga pasar
maka analis yang menghitung sangat bagus. Investor tidak pernah memperhatikan atau
menanyakan proses perhitungan sehingga terjadi harga estimasi mendekati harga pasar. Pada
sisi lain, Fama (1970) menyatakan bahwa semua informasi terrefleksi pada harga saham
perusahaan. Informasi terus mengalir maka analis terus melakukan perubahan terhadap
valuasinya, sehingga valuasi yang dilakukan sangat cepat basi. Akibatnya, hubungan baik bagi
mereka yang melakukan valuasi sangat diperlukan agar bisa mendapatkan nilai harga yang sesuai
dengan pasar.
Metode Valuasi yang diuraikan belum semua didapatkan penggagas model tersebut.
Graham dan Dodd (1934) menerbitkan buku security Analysis dan terus diperbaharui. Gordon

1
Salah satu chapter dari buku “Teori Investasi: KOnsep dan Empiris” akan terbit tahun 2012 ini.
6
2
Penulis adalah Guru Besar Pasar Modal dan Perbankan; dan President Direktur PT Valuasi Investindo dan PT
Financial Bisnis Informasi dan PT Adler Manurung Press.
7
(1962) menggagas model diskonto dividen. Selanjutnya, perkembangannya cukup bagus dan
diapplikasikan ke harga saham di Bursa.



Teori
Ada tiga pendekatan yang dipergunakan untuk menilai sebuah aset yaitu, pertama, nilai
likudisasi aset, nilai pasar aset dan nilai atas biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset.
Ketiga pendekatan yang diuraikan harus dipilih salah satunya. Baurens (2010) menyatakan
bahwa tidak bisa mengatakan bahwa salah satu metoda yang paling benar dan juga tidak bisa
salah satu yang paling jelek (salah). Oleh karenanya, analis yang melakukan perhitungan atas
harga aset harus mencoba melakukan beberapa perhitungan agar bisa mendapatkan yang wajar,
dimana Sehgal dan Pandey (2010) melakukan untuk penelitian di Bursa India.

Dalam menilai aset saham maka yang diestimasikan merupakan nilai asset tersebut di masa
mendatang. Nilai asset dimasa mendatang dapat ditentukan dengan dua pendekatan yaitu
pendekatan fundamental dan pendekatan stokastik. Pendekatan fundamental merupakan
pendekatan yang menilai atas fundmental perusahaan dan juga fundamental yang ekonomi yang
mempengaruhi fundamental tersebut. Pendekatan fundamental ini dapat dinyatakan dengan
pendekatan nilai relative; pendekatan model diskonto dan pendekatan tuntutan atas
kontingensinya (contingent claim). Pendekatan nilai relatif menyatakan bahwa harga saham
dibandingkan secara relatif terhadap variable lain. Pemilihan relatif terhadap variabel lain
merupakan tindakan pemilihan yang dianggap sesuai dan wajar dengan harga saham tersebut.
Bila diperhatikan dengan nilai wajar perusahaan maka nilai wajar tersebut dipengaruhi oleh
variable yang betul-betul mempengaruhi harga saham tersebut. Laba bersih perusahaan
mempunyai hubungan erat dengan nilai perusahaan atau harga perusahaan. Bila laba bersih
perusahaan meningkat maka harga wajar perusahaan mengalami peningkatan. Adapun harga
wajar perusahaan dapat dilihat dari harga saham perusahaan. Tetapi, ada juga bisnis perusahaan
yang tidak memerlukan perhatian pada laba bersih perusahaan tetapi cukup hanya dengan
penjualan perusahaan. Tindakan penilaian relatif terhadap nilai penjualan perusahaan
dikarenakan perusahaan dalam menjalankan bisnis tersebut tidak membutuhkan proses produksi
melainkan menyediakan tempat. Akibatnya, penjualan sebanyak-banyaknya menjadi ukuran
perusahaan. Salah satu jenis bisnis yang dapat dipergunakan yaitu bisnis ritel.

Adapun model penilaian harga saham dengan pendekatan nilai relatif ini sebagai berikut:
P
0
= α*E(eps) (1)
P
0
= β*E(Sales) (2)

P
0
= π*E(EBITDA) (3)
P
0
= δ*E(NTA) (4)
Pada persamaan (1), (2), (3) dan (4) merupakan konstanta yang dapat ditentukan dengan sebuah
nilai arbritrary atau juga merupakan nilai masa lalu bila diasumsikan nilai tersebut tidak
8
mengalami perubahan. Tetapi, persamaan (3) harga yang dimaksud merupakan harga
perusahaan secara keseluruhan yang lebih dikenal dengan Enterprise Value.

Pendekatan diskonto menyatakan bahwa harga saham sekarang ini merupakan hasil yang
diperoleh oleh investor dari perusahaan pada masa mendatang didiskontokan terhadap biaya
modal perusahaan. Biaya modal ini lebih dikenal dengan weighted Average cost of capital
(WACC). Adapun persamaan yang menyatakan tersebut yaitu:

P
0
= o * E (earnings)
(5)

dimana

δ = 1 / (1 + wacc)

Pada persamaan (5) diasumsikan semua pendapatan (laba bersih) tidak diberikan kepada investor
sehingga nilai perusahaan merupakan apa yang dihasilkan perusahaan yaitu pendapatan
perusahaan. Tetapi, ada juga perusahaan yang tidak membagikan seluruh laba bersih kepada
investor melainkan menjadi pegangan perusahaan dalam rangka investasi. Adapun dana yang
dibagikan kepada investor dikenal sebagai dividen, sehingga harga saham perusahaan dihitung
sebagai berikut:

P
0
= o * E( Dividend )
(6)

Biasanya perusahaan telah membuat kebijakan dividen dan diinformasikan perusahaan pada saat
penawaran saham ke publik. Dividen tersebut diberikan secara pertumbuhan, g, setiap tahunnya
(Gordon, 1962). Oleh karenanya, adapun persamaan harga
3
sahamnya menjadi sebagai berikut:





dimana
P
0
= o * E (D
1
) (7)

δ = 1 / (wacc – g)

Selanjutnya, hasil yang diperoleh dimasa mendatang merupakan arus kas. Adapun arus kas
bebas (Free Cash-Flow, FCF) yang bisa dipergunakan menjadi dua yaitu arus kas bebas kepada
ekuitas (Free Cash-Flow to Equity) dan arus kas bebas ke perusahaan (free cash-flow to the
firm). Harga saham yang menggunakan arus kas sebagai berikut:

P
0
= o * E (FCF )
(8)



3
P =
D
1
+
D
2
+ ...


, Pertumbuhan dividend konstan g maka persamaan harga

0
(1 + wacc ) (1 + wacc )
2

P =
D
1
+
D
1
* (1 + g )
+ ...


dengan penyederhanaan maka hasilnya persamaan (7).

0
(1 + wacc ) (1 + wacc )
2

9

dimana


δ = 1 / (1 + wacc)

Free Cash Flow to Equity maksudnya semua arus kas yang siap untuk diberikan dan dimiliki
oleh ekuitas. Rumusan arus kas ke ekuitas sebagai berikut:

+ Net Income
- Investasi Modal
+ Penyusutan
- Perubahan pada modal kerja non-tunai
+ (Hutang baru – pembayaran hutang)



Free Cash Flow to the Firm memberikan arti semua arus kas yang siap diberikan kepada kepada
semua penuntut klaim perusahaan yaitu ekuitas dan hutang. Adapun perhitungan Free Cash
Flow to the Firm sebagai berikut:

FCFF = FCFE + Biaya Bunga ( 1 – Rasio Pajak)
+ pembayaran hutang – Hutang baru
+ dividen preferen

Pendekatan kedua untuk menghitung Free Cash Flow to the Firm sebagai berikut:

FCF = EBIT * (1 - tax rate) - (Capital Expenditure – Depreciation)

- Changes in Noncash Working Capital.

Pendekatan yang terakhir ini paling banyak dipergunakan para praktisi dalam rangka membeli
sebuah perusahaan.

Sementara pendekatan stokastik sering dikenal pendekatan peramalan harga saham dengan harga
saham itu sendiri. Salah satu pendekatan ini yang paling sederhana dapat dilakukan dengan
membuat gambar dari harga saham perusahaan dan juga volume transaksi perusahaan.
Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan Chart atau analisis teknis (Technical Analysis) dan
kelompok yang mendukung metode ini dikenal dengan Chartist. Bahkan dipahami banyak pihak
yang menggunakan pendekatan ini dalam membeli dan menjual saham di Bursa. Surplusya dan
Wardhani (2012) menemukan bahwa investor Indonesia lebih menggunakan analisa teknis dalam
mengambil keputusan membeli dan menjual saham di Bursa. Pendekatan berikut merupakan
pendekatan dengan menggunakan metoda statistik atau pendekatan stokastik . Pendekatan ini
salah satunya dengan cara melakukan perhitungan rata-rata bergerak. Pendekatan ini
merekomendasikan membeli atau menjual saham dengan melihat grafik harga dan grafik rata-
rata bergerak. Metode yang lebih lanjut dikenal dengan penggunaan ekonometrika dalam
melakukan peramalan harga saham tersebut. Pada pendekatan ini, harga saham saat ini
merupakan ekspektasi dari harga saham di masa mendatang. Salah satu uraiannya diperlihatkan
pada saat melakukan estimasi harga buble yang diuraikan pada bab berikut.
10


Empiris

Ulasan empiris yang dilakukan pada pembahasan teori valuasi ini kebanyak dilakukan
dari tesis master dalam rangka mendapatkan gelar magister manajemen. Tindakan ini
dikarenakan sedikitnya publikasi yang membahas penilaian perusahaan, disebabkan tidak banyak
pihak yang ingin diketahui penilaian tersebut. Salah satu website yang saat ini mempublikasikan
penilaian dengan diunduh secara gratis yaiti www.valuasi-investindo.com.

Simorangkir dan Simorangkir (2012) melakukan estimasi harga saham Bank BNI untuk lima
tahun kedepan. Data dipergunakan data tahunan dan diproyeksikan lima tahun ke depan untuk
periode 2012 - 2016. Metode estimasi harga yang dipergunakan dalam proyek ini yaitu metode
earnings diskonto dan price to Book Value. Hasil yang diperoleh yaitu nilai harga saham
berdasarkan earning discounted senilai Rp. 4.589 dan metode price to book value senilai Rp.
4.504 per saham untuk tahun 2011 dan nilai saham tersebut dianggap sangat murah
(undervalued) bila dibandingkan dengan harga saham di pasar saat ini.

Hamonangan dan Sulistyawati (2012) melakukan estimasi harga saham BCA dengan metode
yang sama dilakukan oleh Simorangkir dan Simorangkir (2012). Penelitian ini menggunakan
data tahunan untuk estimasi sampai tahun 2014. Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa
harga saham BCA senilai Rp. 9.572 dengan metode pendapatan diskonto dan harga saham ini
sangat mahal dibandingkan dengan perusahaan sejenis bila menggunakan price to book value.

Perusahaan penerbangan milik Pemerintah Indonesia melakukan penawaran saham ke publik
dengan mendapatkan dana untuk pengembangan usaha perusahaan. Kasim (2011) melakukan
estimasi atas harga saham tersebut. Proyek estimasi ini menggunakan EBITDAR dan Hidden
Value. Proyeksi yang dilakukan sampai tahun 2014 dan perusahaan melakukan penawaran
umum pada tahun 2011 dan pada saat penawaran belum diterbitkan laporan keuangan 2010.
Hasil estimasi harga saham ini sebesar Rp. 931 per saham dan adanya hidden value sebesar Rp.
70 sehingga harga saham sebesar Rp. 1.001 per saham. Perusahaan sekuritas dan Pemerintah
(Menteri BUMN) menentukan harga Garuda senilai Rp. 750 per saham pada pasar perdana.
Ketika saham diperdagangkan di hari pertama dan merosot tajam ke level Rp. 495. Penelitian ini
menyatakan penurunan harga dikarenakan market timing yang tidak tepat.

Suryapratama (2010) melakukan perhitungan terhadap saham PT ADARO ENERGY, Tbk.
Estimasi atas laporan keuangan dilakukan selama 3 tahun (Tahun 2010, 2011 dan 2012) dan
dicoba menghitung harga saham perusahaan dengan menggunakan metode diskonto arus
terutama arus kas bebas ke Perusahaan (free cash-flow to the firm). Adapun estimasi atas nilai
wajar perusahaan sebesar Rp. 2.393 dimana rentang harga estimasi senilai Rp. 2.815 sampai
dengan Rp. 2.597 dan harga penutupan pada akhir Desember 2010 senilai Rp. 2.375. Peneliti
menyatakan bahwa harga yang terjadi termasuk fairly valued.

Novianti (2006) melakukan estimasi atas harga saham Bank Niaga dan Bank Lippo dimana bank
ini akan dimerger dikarenakan adanya benturan kepemilikan yang dikenal dengan Single Present
Policy. Selain itu, penelitian tersebut juga menghitung nilai sinergi dari kedua perusahaan bila
11

melakukan merger. Penelitian ini menemukan bahwa harga saham masing-masing bank
sebelum dimerger masih cukup wajar. Tetapi, penggabungan kedua bank memberikan
sinergi dimana nilai perusahaan setelah penggabungan lebih besar dari nilai perusahaan
bila dijalankan secara sendiri-diri. Penelitian ini merekomendasikan agar kedua bank
merger dan Bank Lippo yang diharapkan bubar dikarenakan nilai strategis yang dimiliki
Bank Niaga.

Baurens (2010) menjelaskan penilaian perusahaan dalam bidang pertambangan. Pada
bidang ini peneliti memperkenalkan pendekatan Real Option walaupun juga
menguraikan pendekatan relative perkalian dan metode diskonto. Kesimpulan yang
diberikan dalam penelitian ini bahwa tidak bisa menyatakan bahwa salah satu yang
paling benar dan tidak bisa juga menyatakan salah satu yang salah melakukan penilaian.
Tetapi, metode tersebut saling komplemen satu dengan yang lain. Tetapi, penilaian
dalam pertambangan membutuhkan peramalan harga barang pertambangan tersebut
walaupun sangat susah dilakukan untuk membantu penilaian usaha pertambangan
tersebut.

Sehgal dan Pandey (2010) melakukan penelitian untuk mengestimasi harga saham di
Bursa India dengan menggunakan Price Multiples. Penelitian ini menggunakan data
tahun 1990 – 2007 dengan jumlah sampel 145 perusahaan yang terdiri dari 13
subssektor industry. Penelitian ini menemukan bahwa PER merupakan metoda yang
terbaik dibandingkan dengan PBV, P/S dan P/CF. Bila digunakan kombinasi metoda
tersebut maka yang sangat signifikan merupakan kombinasi dengan P/S. Tetapi,
penggunaan PER secara sendiri sangat lebih bila perbandingannya dengan
menggabungkan metode tersebut.

Supattarakul dan Khanthavit (2011) melakukan penelitian untuk perusahaan di
Thailand. Penelitian ini mempunyai periode penelitian pada tahun 1995 – 2004 untuk
mengestimasi nilai saham dengan metode diskonto dividend (DDM) an model residu
pendapatan (RIM). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa nilai buku ekuitas
memberikan penjelas yang lebih kuat dibandingkan variabel lain pada DDM dan RIM.

Surplusya dan Wardhani (2012) melakukan penelitian mengenai preferensi investor
Indonesia dalam rangka melakukan investasi di Bursa. Adapun preferensi yang
dimaksud yaitu analisis fundamental atau analisis teknis. Penelitian melakukan survey
dengan mendapatkan 92 investor. Ada enam variabel yang ditanyakan kepada investor
dalam rangka preferensi tersebut yaitu pendidikan, pengalaman, akses terhadap
informasi, periode investasi, frekeunsi transaksi dan persepsi terhadap keterbukaan
perusahaan. Penelitian ini menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5 persen
disimpulkan bahwa pengalaman investor; periode investasi dan frekuesi aktif transaksi
merupakan variabel yang signifikan mempengaruhi metode seleksi analisa
investasinya. Penelitian ini juga menemukan bahwa investor Indonesia lebih
menggunakan analisa teknis dalam mengambil keputusan membeli dan menjual saham di
Bursa.


9. MATEMATIKA KEUANGAN




12

1. Kegiatan Belajar 1


a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran


Setelah mempelajari kegiatan belajar ini, diharapkan anda dapat:

? Memahami konsep bunga
? Memahami pengertian bunga tunggal
? Membedakan bunga tunggal dan diskonto
? Membedakan bunga tunggal dan bunga majemuk
? Menentukan nilai akhir modal
? Menentukan nilai tunai modal


b. Uraian Materi


Bunga Tunggal

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin Anda sering mendengar
kalimat: “Pak Mamat membeli mobil secara angsuran dengan bunga 10 % per
tahun”, “Bu Ani meminjam uang di BNI dengan bunga 2 % per bulan” dan
sebagainya. Jadi kita tidak asing lagi dengan apa kata “bunga”. Secara umum
“bunga” dapat diartikan sebagai berikut.


Definisi 1.1

Bunga adalah suatu jasa yang berbentuk uang yang diberikan oleh
seorang peminjam atau pembeli terhadap orang yang meminjamkan modal
atau penjual atas persetujuan bersama.
Jika seseorang meminjam uang ke Bank sebesar M rupiah dengan
perjanjian bahwa pada satu bulan setelah waktu peminjaman, ia harus
mengembalikan pinjamannya dengan besar pengembaliannya adalah M + B
13

rupiah, maka orang tersebut telah memberikan jasa terhadap Bank sebesar B
rupiah. Jasa tersebut disebut dengan bunga dan M rupiah, yaitu besarnya
pinjaman disebut dengan modal.
Selanjutnya dam pinjaman tersebut, jika dihitung prosentase bunga

terhadap besarnya modal, akan diperoleh

B
100%

M

yang disebut dengan suku bunga. Besar suku bunga tersebut berlaku pada
lama waktu perjanjian antara peminjam dengan yang diberi pinjaman. Secara
umum, pengertian suku bunga dapat dituliskan sebagai berikut.


Definisi 1.2
Diketahui bahwa besar modal pinjaman adalah M
0
dan besar bunga
adalah B. Besar suku bunga persatuan waktu sering dituliskan dengan b, yang
didefinisikan sebagai

b =
B
M

100%.

Jika pembayaran dilakukan sesuai dengan waktu perjanjian, maka buka yang
berkaitan disebut bunga tunggal.

Hubungan antara besar modal, besar suku bunga, dan besar
pengembalian dapat dinyatakan sebagai

M = M
0
+

p
M

100
0


Atau

M = M
0
[1 +


p
]

100

dengan: M menyatakan besarnya pengembalian
M
0
menyatakan besar pinjaman (modal)
p% menyatakan besar suku bunga
14

Contoh 1.1

Diketahui bahwa besar modal adalah Rp 500.000,-, besar suku bunga 20%

pertahun. Tentukan besarnya bunga tunggal
a. untuk 8 bulan
b. untuk 15 bulan

Penyelesaian:
Karena besarnya suku bunga pertahun adalah 20%, maka dengan
menggunakan Definisi 1.2, diperoleh bahwa besarnya bunga tunggal pertahun
adalah

B =
20
100

Rp 500.000,- = Rp 100.000,-

Akibatnya diperoleh:

a. Besarnya bunga tunggal untuk 8 bulan adalah

8
12

Rp 100.000,- = Rp 66.666,67.

b. Besarnya bunga tunggal untuk 15 bulan adalah

15
Rp 100.000,- = Rp 125.000,-

12



Contoh 1.2

Pak Untung meminjam modal di Bank sebesar Rp 1.000.000,- yang harus

dilunasi dalam jangka waktu satu tahun dengan besar pengembalian
5

4


dari

besarnya pinjaman. Tentukan besarnya bunga perbulan.

Penyelesaian:

M
0
= besar pinjaman = Rp 1.000.000,-

M = besarnya pengembalian =
5

4

Besarnya bunga dalam satu tahun adalah


Rp 1.000.000,- = Rp 1.250.000,-
B = M - M
0
= Rp 1.250.000,- - Rp 1.000.000,- = Rp 250.000,-
Besarnya suku bunga pertahun adalah

250.000
1.000.000


100% = 25%.
15

Jadi besarnya suku bunga perbulan adalah

1
12

25% = 2,0833%.



Contoh 1.3

Modal sebesar Rp 5.000.000,- dibungakan dengan bunga tunggal. Besar suku
bunga adalah 1,5% perbulan. Dalam waktu berapa bulankah agar modal
tersebut menjadi dua kali modal semula?
Penyelesaian:

Besar bunga untuk satu bulan adalah

1,5

B
1
=

100
Rp 5.000.000,- = Rp 75.000,-

Besar bunga selama n bulan adalah

B
n
= n Rp 75.000,-

Besar modal setelah n bulan adalah

M
n
= Rp 5.000.000, + B
n
= Rp 5.000.000, + [n Rp 75.000,].
Setelah n bulan, modal menjadi dua kali modal semula. Jadi
M
n
= 2 Rp 5.000.000,- = Rp 10.000.000,-
Akibatnya
Rp 10.000.000, = Rp 5.000.000, + [n Rp 75.000,]
Atau
Rp 5.000.000, = n Rp 75.000,-
Sehingga
n =
Rp 5.000.000
= 66,33

Rp75.000

Jadi waktu yang diperlukan agar modal menjadi dua kali modal semula adalah

66,33 bulan.

Sampai pembahasan ini, kita masih membicarakan suku bunga tunggal
untuk waktu n bulan. Selanjutnya akan dibahas suku bunga tunggal untuk
waktu n hari. Untuk kasus ini, ada dua jenis bunga tunggal, yaitu bunga
tunggal eksak dan bunga tunggal biasa . Adapun pengertian dari masing-
masing jenis bunga tunggal itu adalah sebagai berikut.
16

Definisi 1.3

Bunga tunggal eksak adalah bunga tunggal yang dihitung
berdasarkan perhitungan bahwa satu tahun ada 365 hari.(Untuk tahun
kabisat, yaitu tahun yang habis dibagi empat, satu tahun ada 366 hari).


Definisi 1.4

Bunga tunggal biasa adalah adalah bunga tunggal yang dihitung
berdasarkan perhitungan bahwa satu tahun ada 360 hari.


Contoh 1.4

Modal sebesar Rp 1.000.000,-dipinjamkan selama 45 hari dengan suku bunga

10% pertahun. Tentukan besarnya bunga tunggal eksak dan bunga tunggal
biasa apabila peminjaman dilakukan:
a. Pada tahun 2004
b. Pada tahun 2005.
Penyelesaian:
a. Peminjaman dilakukan pada tahun 2004

Besarnya bunga tunggal biasa adalah:

45
360
12
100

Rp 1.000.000,- = Rp 15.000,-

Besarnya bunga tunggal eksak adalah;

45
366
12
100

Rp 1.000.000,- = Rp 13.636,36.

(Karena 2004 habis dibagi empat, maka banyaknya hari dalam tahun

2004 adalah 366)



b. Peminjaman dilakukan pada tahun 2005

Besarnya bunga tunggal biasa adalah:

45
360
12
100

Rp 1.000.000,- = Rp 15.000,-

Besarnya bunga tunggal eksak adalah:
17

45
365
12
100

Rp 1.000.000,- = Rp 14.794,52.



Perhatikan bahwa dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa besar bunga
tunggal biasa tidak tergantung pada tahun waktu peminjaman dilakukan.
Sedang besar bunga tunggal tergantung pada tahun waktu peminjaman
dilakukan (tahun kabisat atau bukan kabisat).
Untuk menentukan banyaknya hari peminjaman, dikenal dua metode
perhitungan, yaitu waktu rata-rata dan waktu eksak yang didefinisikan
sebagai berikut.


Definisi 1.5

Waktu rata-rata adalah waktu yang dihitung berdasarkan
banyaknya hari dalam satu bulan adalah 30.
Definisi 1.6

Waktu eksak adalah waktu yang dihitung berdasarkan banyaknya
hari dalam satu bulan yang dijalani.


Menentukan waktu rata-rata
Cara menentukan waktu rata-rata adalah:

Hitung banyaknya hari pada saat bulan peminjaman, yaitu 30 dikurangi
tanggal peminjaman
Hitung banyaknya hari pada bulan-bulan berikutnya dengan menggunakan
ketentuan bahwa satu bulan ada 30 hari.
Tentukan banyaknya hari pada bulan terakhir batas peminjaman.
Banyaknya hari peminjaman adalah jumlahan dari ketiga langkah di atas.
Contoh 1.5

Tentukan waktu rata-rata dari tanggal 26 Maret 2004 sampai 18 Januari 2005.

Penyelesaian:
Waktu rata-rata = (30 - 26) + 9(30) + 18

= 4 + 270 + 18

= 292
18

Jadi waktu rata-rata dari tanggal 26 Maret 2004 sampai tanggal 18 Januari

2005 adalah 292 hari.



Contoh 1.6

Tentukan waktu rata-rata dari tanggal 4 Januari 2005 sampai 12 April 2005.

Penyelesaian:

Waktu rata-rata = (30 - 4) + 2(30) + 12

= 26 + 60 + 12

= 98

Jadi waktu rata-rata dari tanggal 4 Januari 2005 sampai tanggal 12 April 2005
adalah 98 hari.


Menentukan waktu eksak

Ada dua cara menentukan waktu eksak, yaitu:

1. Dengan menggunakan table.

2. Dengan menghitung banyaknya hari yang dijalani.

Dalam modul ini hanya dibahas cara kedua, yaitu menghitung hari pada bulan
yang dijalani.
Contoh 1.7

Tentukan waktu eksak dari tanggal 4 Januari 2005 sampai 12 April 2005.

Penyelesaian:

Waktu eksak = (31 - 4) + (28 + 31) + 12

= 26 + 59 +12

= 97

Jadi waktu eksak dari tanggal 4 Januari 2005 sampai tanggal 12 April 2005
adalah 97 hari.


Diskonto

Selain bunga tunggal yang telah dibahas, ada kalanya besar bunga
tunggal dibayarkan pada awal peminjaman uang. Masalah seperti ini disebut
dengan diskonto. Besar suku bunganya disebut dengan besar diskonto.
19

Contoh 1.8

Ibu Ani meminjam uang di bank sebesar Rp 5.000.000,- dengan diskonto

12% dalam janggka satu tahun. Tentukan besar uang yang diterima Ibu Ani.

Penyelesaian:

Besar diskonto 12% pertahun. Jadi besar bunga dalam satu tahun adalah

12
100

Rp 5.000.000,- = Rp 600.000,-

Besar uang yang diterima Ibu Ani adalah

Rp 5.000.000,- - Rp 600.000,- = Rp 4.400.000,-.



Contoh 1.9

Pak Amir menerima pinjaman dari Bank dengan diskonto 20% pertahun. Uang
yang diterima Pak Amir sebesar Rp 5.000.000,-. Tentukan besar pinjaman Pak
Amir.


Penyelesaian:

Misal M = besarnya pinjaman Pak Amir

B = besarnya bunga diskonto selama satu tahun

Maka



B =
20
100




M = 0,2 M.

Besar pinjaman Pak Amir = besar uang yang diterima + besarnya bunga

M = Rp 5.000.000, + 0,2 M

Akibatnya



M - 0,2 M = Rp 5.000.000,-
0,8M = Rp 5.000.000,-

Jadi besar pinjaman Pak Amir adalah

Rp 5.000.000,

M =

0,8
= Rp 6.250.000,-
20

BUNGA MAJEMUK

Perhatikan bahwa dalam masalah pinjam-meminjam uang yang telah
dibahas, kita kenal bunga tunggal, yaitu bunga yang dibayarkan pada akhir
periode peminjaman, dan diskonto, yaitu pembayaran bunga dilakukan pada
awal periode peminjaman.
Selanjutnya dibahas cara pembayaran bunga yang dilakukan pada
setiap akhir periode tertentu, tetapi besar bunga ditambahkan (digabung)
pada modal awal, bunga pada periode berikutnya dihitung dari besar modal
yang sudah digabung dengan bunga. Pada periode-periode berikutnya bunga
dihitung analog. Bunga semacam ini dinamakan bunga majemuk.
Cara penggabungan bunga dapat dilakukan secara bulanan,
semesteran, atau tahunan. Beberapa istilah yang terkait dengan masalah
bunga majemuk antara lain adalah frekuensi penggabungan, periode bunga,
dan banyaknya periode bunga. Pengertian dari masing-masing istilah tersebut
adalah sebagai berikut.


Definisi 1.6

a. Frekuensi penggabungan adalah seringnya bunga digabungkan dengan
modal dalam waktu satu tahun.
b. Periode bunga adalah lamanya waktu antara dua penggabungan bunga
terhadap modal yang berurutan.


Hubungan modal awal dengan modal setelah n periode yang
dibungakan secara majemuk tertuang ke dalam rumus berikut.


Rumus 1.1

Jika modal sebesar M dibungakan dengan bunga majemuk dengan suku
bunga b = p% untuk setiap periode bunga, maka besar modal setelah n
periode adalah M
n
dengan
M
n
= M(1+b)
n
.
21

Contoh 1.10

Modal sebesar M dipinjamkan dengan bunga majemuk selama 3 tahun
dengan suku bunga 15% pertahun, dan penggabungan bunganya dilakukan
persemester. Tentukan:
a. Periode bunga

b. Prekuensi penggabungan

c. Besar suku bunga untuk setiap periode
d. Banyaknya periode bunga
Penyelesaian
a. Karena 1 semester = 6 bulan, maka periode bunga adalah 6 bulan.

b. Frekuensi penggabunga =
12
= 2.

6
c. Besar suku bunga untuk setiap periode adalah

b =
15%

2

= 7,5%.

d. Banyaknya periode bunga = 3 2 = 6.



Contoh 1.11

Modal sebesar M dibungakan selama 4 tahun dengan bunga majemuk 12%

pertahun, dan penggabungan bunga dilakukan pekuartal. Tentukan:

a. Periode bunga

b. Prekuensi penggabungan

c. Besar suku bunga untuk setiap periode
d. Banyaknya periode bunga
Penyelesaian
a. Karena 1 kuartal = 4 bulan, maka periode bunga adalah 4 bulan.

b. Frekuensi penggabungan =
12
= 3.

4

c. Besar suku bunga untuk setiap periode adalah

b =
12%

3

= 4%.

d. Banyaknya periode bunga = 4 3 = 12.
22



Nilai Tunai, Nilai Akhir, dan Hari Valuta

Pada kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata deposito, yaitu
cara penyimpanan uang di Bang dengan ketentuan bahwa penyimpan uang
hanya dapat mengambil simpanannya pada waktu yang telah ditentukan.
Beberapa istilah yang terkait dengan deposito, antara lain adalah: nilai akhir,
nilai tunai, dan hari valuta. Istilah-istilah didefinisikan sebagai berikut.


Definisi 1.7

Pada masalah deposito, besarnya uang yang disimpan pertama kali
disebut nilai tunai, sedang besarnya uang pada saat pengembalian disebut
nilai akhir, dan saat pengambilan disebut valuta.


Contoh 1.12

Sejumlah uang didepositokan selama 4 tahun dengan suku bunga majemuk

7% pertahun. Pada hari valuta, uang tersebut menjadi Rp 3.000.000.
Tentukan besar uang yang didepositokan.
Penyelesaian:

Dalam masalah ini, kita akan mencari nilai tunai.
Berdasarkan rumus 1.1,
M
n
= M(1+b)
n
Atau

M =
M
n


dengan:

n = 4
(1 b)
n

M
4
= Rp 3.000.000,-
b = 7% = 0,07

M =
M
4
=


Rp 3.000.000,
(1 0,07)
4
(1,07)
4

23

Dengan menggunakan Tabel 1, atau dengan menggunakan kalkulator,
diperoleh
(1,07)
4
= 1,31079601

Jadi besar uang yang didepositokan adalah

M =
Rp 3.000.000,

1,31079601

= Rp 2.288.685,63.



Contoh 1.13

Modal sebesar Rp 2.000.000,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk
dengan bunga 5% pertahun. Tentukan besar modal setelah dibungakan
selama 6 tahun.
Penyelesaian:

Berdasarkan rumus 1.1,
M
n
= M(1+b)
n


dengan:

M = Rp 2.000.000,-
b = 5% = 0,05
n = 6
diperoleh
M
6
= Rp 2.000.000,-(1 + 0,05)
6


= Rp 2.000.000,- (1,05)
6


Dengan menggunakan Tabel 1 (yang terdapat pada akhir modul ini), atau
dengan menggunakan kalkulator, diperoleh:
(1,05)
6
= 1,34009564

Jadi besar modal setelah 6 tahun adalah
M
6
= Rp 2.000.000,-(1,34009564)

= Rp 1.340.059,64.


Contoh 1.14

Modal sebesar Rp 8.000.000,- dipinjamkan dengan bungan majemuk.
Penggabungan bunga dilakukan perkuartal dan besar bunga adalah 15%
24

pertahun. Tentukan lama modal tersebut dipinjamkan setelah modal menjadi

Rp 14.366.850,64.

Penyelesaian:

Karena 1 kuartal = 4 bulan, maka periode bunga adalah 4 bulan. Jadi

frekuensi penggabungan =

12
= 3.

4

Suku bunga setiap periode adalah 15% : 3 = 5%.

Berdasarkan rumus 1.1, diperoleh:

(1 + 0,05)
n
=


=

M
n
M

Rp 14.366.850,64
Rp 8.000.000,

= Rp 1,79585633

Dengan menggunakan Tabel 1, diperoleh n = 12.

Jadi lama modal tersebut dipinjamkan adalah 12 kuartal atau 4 tahun.



Pada pembahasan di atas, periode bunga adalah bulat. Selanjutnya jika
periode bunga berupa pecahan, maka untuk cara mencari nilai akhir adalah
sebagai berikut:
1. Tentukan nilai akhir dengan bunga majemuk untuk periode bunga bulat.

2. Tambahkan nilai akhir bunga tunggal untuk periode bunga pecahan.



Contoh 1.15

Modal sebesar Rp 2.000.000,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk
dengan bunga 5% pertahun. Tentukan besar modal setelah dibungakan
selama 6 tahun 2 bulan.
Penyelesaian:

Di sini
M = Rp 2.000.000,-
b = 5% = 0,05

n = 6
1
, karena 2 bulan sama dengan

6

1
tahun.

6
25

6
diperoleh

6
1
6

M
1
= Rp 2.000.000,-(1,05) + [
6
6
0,05 Rp 2.000.000,- ,-(1,05) ]

= Rp 2.000.000,- (1,05)
6
[1 + (
1
)(0,05)]

6

= Rp 2.000.000,- (1,34009564)(0,05833333)

= Rp156344,49.

Jadi besar modal setelah 6 tahun 2 bulan adalah adalah

M
1
= Rp Rp156344,49.
6
6



d. Rangkuman 1


1. Bunga adalah suatu jasa yang berbentuk uang yang diberikan oleh
seorang peminjam atau pembeli terhadap orang yang meminjamkan
modal atau penjual atas persetujuan bersama.
2. Jika seseorang meminjam uang ke Bank sebesar M rupiah dengan
perjanjian bahwa pada satu bulan setelah waktu peminjaman, ia harus
mengembalikan pinjamannya dengan besar pengembaliannya adalah M +
B rupiah, maka orang tersebut telah memberikan jasa terhadap Bank
sebesar B rupiah. Jasa tersebut disebut dengan bunga dan M rupiah,
yaitu besarnya pinjaman disebut dengan modal.

B
100%

M

yang disebut dengan suku bunga.
3. Jika besar modal pinjaman adalah M
0
dan besar bunga adalah B. Besar
suku bunga persatuan waktu dituliskan dengan b, yang didefinisikan
sebagai

b =
B
M

100%.

Jika pembayaran dilakukan sesuai dengan waktu perjanjian, maka
bunga yang berkaitan disebut bunga tunggal.
26

4. Hubungan antara besar modal, besar suku bunga, dan besar
pengembalian dapat dinyatakan sebagai
p

M = M
0
+

atau
M
0

100



p

M = M
0
[1 + ]

100

dengan: M menyatakan besarnya pengembalian
M
0
menyatakan besar pinjaman (modal)
p% menyatakan besar suku bunga
5. Bunga tunggal eksak adalah bunga tunggal yang dihitung berdasarkan
perhitungan bahwa satu tahun ada 365 hari.(Untuk tahun kabisat, yaitu
tahun yang habis dibagi empat, satu tahun ada 366 hari).
6. Bunga tunggal biasa adalah adalah bunga tunggal yang dihitung
berdasarkan perhitungan bahwa satu tahun ada 360 hari.
7. Jika besar bunga tunggal dibayarkan pada awal peminjaman uang, maka
masalah seperti ini disebut dengan diskonto. Besar suku bunganya
disebut dengan besar diskonto.
8. Cara pembayaran bunga yang dilakukan pada setiap akhir periode
tertentu dengan besar bunga ditambahkan (digabung) pada modal awal,
bunga pada periode berikutnya dihitung dari besar modal yang sudah
digabung dengan bunga. Pada periode-periode berikutnya bunga dihitung
analog. Bunga semacam ini dinamakan bunga majemuk.
9. Beberapa istilah yang terkait dengan masalah bunga majemuk antara lain
adalah frekuensi penggabungan, periode bunga, dan banyaknya periode
bunga. Frekuensi penggabungan adalah seringnya bunga
digabungkan dengan modal dalam waktu satu tahun. Periode bunga
adalah lamanya waktu antara dua penggabungan bunga terhadap modal
yang berurutan.
10. Jika modal sebesar M dibungakan dengan bunga majemuk dengan suku
bunga b = p% untuk setiap periode bunga, maka besar modal setelah n
periode adalah M
n
dengan
27

M
n
= M(1+b)
n
.

11. Pada masalah deposito, besarnya uang yang disimpan pertama kali
disebut nilai tunai, sedang besarnya uang pada saat pengembalian
disebut nilai akhir, dan saat pengambilan disebut valuta.


d. Tugas 1


1. Tentukan besar bunga tunggal untuk 3 bulan dari modal sebesar Rp
2.000.000,- jika suku bunga adalah 15% pertahun.

2. Uang sebesar Rp 300.000,- dibungakan dengan bunga tunggal. Setelah 3
tahun besar uang menjadi Rp 450.000,-. Tentukan suku bunga tunggalnya
pertahun.
3. Modal sebesar Rp 1.000.000,- dipinjamkan dengan bunga tunggal 2% per
bulan. Berapa bulankah modal tersebut harus dipinjamkan agar besar
modal menjadi Rp 1.750.000,?
4. Anto mengembalikan pinjaman di Bank sebesar Rp 3.000.000,-. Suku
bunga tunggal yang berlaku di Bank saat itu adalah 3% perbulan. Lama
Anto meminjam uang adalah 8 bulan. Tentukan besar pinjaman Anto di
Bank.
5. Pada tahun 2003, Irma meminjam uang sebesar Rp 2.000.000,-.Setelah 25
hari Irma harus mengembalikan pinjamannya sebesar Rp 2.125. 000,-.
Tetukan besar suku bunga eksak pertahunnya.
6. Tentukan waktu eksak dan waktu rata-rata dari tanggal:

a. 23 Maret sampai 30 April 2001.

b. 21 Pebruari sampai 27 Mei 2002.

7. Tentukan besar bunga tunggal biasa dan bunga tunggal eksak, jika modal
sebesar Rp 4.000.000,- dibungakan dengan suku bunga tunggal 12%
pertahun mulai 15 Agustus 2001 sampai dengan 21 Mei 2002 dengan:
a. Menggunakan waktu rata-rata.
b. Menggunakan waktu eksak.
8. Dono meminjam uang sebesar Rp 1.000.000,- dengan diskonto 13%

pertahun. Tentukan besar uang yang diterima Dono saat itu.
28

9. Suatu modal dipinjamkan selama 2 tahun dengan bunga majemuk 3%
pekuartal. Pada hari Valuta, modal tersebut menjadi Rp 7.500.000,-.
Tentukan besar modal yang dipinjamkan.


10. Modal sebesar Rp 3.000.000,- dipinjamkan dengan bunga majemuk 12%
pertahun. Tentukan besar modal setelah dipinjamkan selama 4 tahun 2
bulan.


e. Tes Formatif 1


1. Arman meminjam modal di Bank sebesar Rp 15.000.000,- yang harus

dilunasi dalam jangka waktu satu tahun dengan besar pengembalian
5

3

dari besarnya pinjaman. Tentukan besarnya bunga perbulan.

2. Modal sebesar Rp 3.000.000,-dipinjamkan selama 40 hari dengan suku
bunga 10% pertahun. Tentukan besarnya bunga tunggal eksak dan bunga
tunggal biasa apabila peminjaman dilakukan:
a. Pada tahun 2000
b. Pada tahun 2005.
3. Modal sebesar Rp 10.000.000,- dibungakan dengan bunga tunggal. Besar
suku bunga adalah 2% perbulan. Dalam waktu berapa btahunkah agar
modal tersebut menjadi 3 kali modal semula?
4. Rina meminjam uang di bank sebesar Rp 15.000.000,- dengan diskonto

13% dalam janggka satu tahun. Tentukan besar uang yang diterima oleh

Rina.

5. Sejumlah uang didepositokan selama 2 tahun dengan suku bunga
majemuk 10% pertahun. Penggabungan bunga dilakukan persemester.
Pada hari valuta, uang tersebut menjadi Rp 4.000.000. Tentukan besar
uang yang didepositokan.
6. Modal sebesar Rp 5.000.000,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk
dengan bunga 10% pertahun. Penggabungan bunga dilakukan perkuartal.
Tentukan besar modal setelah dibungakan selama 6 tahun.
29

7. Modal sebesar Rp 1.000.000,- dipinjamkan dengan bunga majemuk.

Penggabungan bunga dilakukan perkuartal dan besar bunga adalah 15%
pertahun. Tentukan lama modal tersebut dipinjamkan setelah modal
menjadi Rp Rp 1.628.894,63
8. Modal sebesar Rp 5.000.000,- dibungakan berdasarkan bunga majemuk
dengan bunga 5% pertahun. Tentukan besar modal setelah dibungakan
selama 3 tahun 3 bulan.


g. Kunci Tes Formatif 1


1. M
0
= besar pinjaman = Rp 15.000.000,-

M = besarnya pengembalian =

5
Rp 15.000.000,-

3

= Rp 25.000.000,-
Besarnya bunga dalam satu tahun adalah
B = M - M
0
= Rp 25.000.000,- - Rp 15.000.000,- = Rp 10.000.000,-

Besarnya suku bunga pertahun adalah

10.000..000
15.000.000

100% = 66,67%.

Jadi besarnya suku bunga perbulan adalah

1
12


66,67% = 5,56%.



2. a. Peminjaman dilakukan pada tahun 2004

Besarnya bunga tunggal biasa adalah:

40
360
10
Rp 3.000.000,- = Rp 33.333,33

100

Besarnya bunga tunggal eksak adalah;

40
366
10
Rp 3.000.000,- = Rp 3.2786,89.

100

(Karena 2004 habis dibagi empat, maka banyaknya hari dalam tahun

2004 adalah 366)
30

b. Peminjaman dilakukan pada tahun 2005

Besarnya bunga tunggal biasa adalah:

40
360
10
Rp 3.000.000,- = Rp 33.333,33

100

Besarnya bunga tunggal eksak adalah;

40
365
10
Rp 3.000.000,- = Rp 32.876,71.

100

3. Besar bunga untuk satu bulan adalah


B
1
=
2
Rp 10.000.000,- = Rp 200.000,-.

100

Besar bunga selama n bulan adalah

B
n
= n Rp 200.000,- .

Besar modal setelah n bulan adalah
M
n
= Rp 10.000.000, + B
n
= Rp 10.000.000, + [n Rp 200.000,].
Setelah n bulan, modal menjadi 3 kali modal semula. Jadi
M
n
= 3 Rp 10.000.000,- = Rp 30.000.000,-
Akibatnya
Rp 30.000.000, = Rp 10.000.000, + [n Rp 200.000,]
Atau
Rp 20.000.000, = n Rp 200.000,-

Sehingga

n =
Rp 20.000.000
= 100

Rp 200.000

Jadi waktu yang diperlukan agar modal menjadi 3 kali modal semula

adalah 100 bulan atau 8
1

4

tahun.

4. Besar diskonto 13% pertahun. Jadi besar bunga dalam satu tahun adalah

13
Rp 15.000.000,- = Rp 1.950.000,-

100

Besar uang yang diterima Rina adalah

Rp 15.000.000,- - Rp 1.950.000,- = Rp 13.050.000,-

5. Dalam masalah ini, kita akan mencari nilai tunai.
31

Berdasarkan rumus 1.1,
M
n
= M(1+b)
n

Atau

M =
M
n
(1

dengan:
b)
n


n = 4 (karena 2 tahun = 4 semester)
M
4
= Rp 4.000.000,-
b = (
1
) 10% = 0,05%

2

M =
M
4
=


Rp 4.000.000,
(1 0,05)
4
(1,05)
4


Dengan menggunakan Tabel 1, atau dengan menggunakan kalkulator,
diperoleh
(1,05)
4
= 1,2550625

Jadi besar uang yang didepositokan adalah

M =
Rp 4.000.000,

1,2550625

= Rp 3.187.092,28.

6. Berdasarkan rumus 1.1,
M
n
= M(1+b)
n

dengan:

M = Rp 5.000.000,-

b = (
1
)(15%) = 0,05

3

n = (3)(6) = 18 (Karena 1 tahun = 3 kuartal. Jadi 6 tahun = 3. 6=16
kuartal).
Jadi diperoleh
M
18
= Rp 5.000.000,-(1 + 0,05)
18


= Rp 5.000.000,- (1,05)
18


Dengan menggunakan Tabel 1 (yang terdapat pada akhir modul ini),
diperoleh:
(1,05)
18
= 2,40661923
32

Jadi besar modal setelah 6 tahun adalah

M
18
= Rp 5.000.000,-(2,40661923)

= Rp 12.033.096,15.

Modal sebesar Rp 1.000.000,- dipinjamkan dengan bunga majemuk.
Penggabungan bunga dilakukan perkuartal dan besar bunga adalah 15%
pertahun. Tentukan lama modal tersebut dipinjamkan setelah modal
menjadi Rp 1.628.894,63.
7. Karena 1 kuartal = 4 bulan, maka periode bunga adalah 4 bulan. Jadi

frekuensi penggabungan =

12
= 3.

4
Suku bunga setiap periode adalah 15% : 3 = 5%.
Berdasarkan rumus 1.1, diperoleh:

(1 + 0,05)
n
=


=

M
n
M

Rp 1.628.894,63
Rp 1.000.000,

= Rp 1,62889463

Dengan menggunakan Tabel 1, diperoleh n = 10.

Jadi lama modal tersebut dipinjamkan adalah 10 kuartal atau 3,1 tahun.

8. Di sini
M = Rp 5.000.000,-
b = 5% = 0,05

n = 3
1
, karena 3 bulan sama dengan

4

1
tahun.

4

diperoleh

M
1

3
4




= Rp 5.000.000,-(1,05)
3




+ [
1

4




0,05 Rp 2.000.000,- ,-

(1,05)
3
]

= Rp 5.000.000,- (1,05)
3
[1 + (
1
)(0,05)]

4

= Rp 5.000.000,- (1,157625500)(1,0125)

= Rp 586.047,91.
33

Jadi besar modal setelah 3 tahun 3 bulan adalah adalah

M
1
= Rp 586.047,91.
3
4
34

2. Kegiatan Belajar 2 : Rente


a. Tujuan Kegiatan Belajar 2


Setelah mempelajari kegiatan belajar 2 ini, diharapkan Anda dapat:

? Menyebutkan pengertian rente terbatas.
? Menyebutkan pengertian rente kekal.
? Menyebutkan pengertian rente pranumerando.
? Menyebutkan pengertian rente postnumerando.
? Menentukan Nilai Akhir Rente.
? Menentukan Nilai Tunai Rente.
? Menentukan Nilai Tunai Rente Kekal.


b. Uraian Materi Kegiatan Belajar 2


Apabila kita menabungkan sejumlah uang di bank, maka secara
otomatis uang kita akan bertambah dalam jangka waktu tertentu.
Penambahan uang oleh pihak bank menggunkan sistem bunga majemuk yaitu
setiap akhir periode bunganya langsung menjadi modal yang dibungakan lagi
atau dikenal dengan bunga berbunga.
Didalam sistem bunga majemuk kita mengenal istilah rente yaitu
rentetan modal yang dibayarkan setiap periode yang tetap. Pembayaaran
yang menggunakan rente antara lain:
1. Pembayaran barang secara kredit

2. Pembayaran asuransi

3. Tabungan berjangka atau deposito









Berdasarkan banyaknya angsuran rente dibedakan menjadi 2, yaitu :
35

1. Rente Terbatas adalah rente dengan banyaknya angsuran atau periode
terbatas, misal 12 kali angsuran, 24 kali angsuran, aatau dengan k kali
angsuran dengan k Bil Asli dan k berhingga.
2. Rente Kekal (abadi) adalah rente dengan banyaknya angsuran yang tidak
terbatas, misal k kali angsuran dengan k tak hingga.


Berdasarkan waktu pembayarannya rente dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Rente Pranumerando adalah suatu rente dengan wktu pembayarannya
dilakukan setiap awal periode, misal tanggal 1 setiap bulan, tanggal 1
Januari setiap tahun.

2. Rente Postnumerando adalah suatu rente dengan waktu pembayarannya
dilakukan setiap akhir periode, misal tanggal 30 setiap bulan, tanggal 30
Desember setiap tahun.



RENTE PRANUMERANDO

1. Penghitungan Nilai Akhir

Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun,
dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai akhir dari angsuran
itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut.
Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal 1 Januari dan
nilai akhir dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 31 Desember
tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut.

Tahun Pertama 1 Januari
Tahun Kedua 1 Januari
Tahun Ketiga 1 Januari
:

Tahun ke (n-1) 1 Januari

Tahun ke n 1 Januari



31 Desember
M(1 + i)
1


M(1 + i)
2


M(1 + i)
3




M(1 + i)
n-1


M(1 + i)
n


k = n +

M (1+1)
k

k = 1
36

Jadi Nilai Akhir dari Rente Pranumerando adalah

k n
N
a
M(1
k 1

i)
k


k n
Na M(1
k 1

i)
k

k n
M x (1
k 1

i)
k


Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat
N
a
= M
a
(1 + I) + M (1 + i) +…+ M (1 + i)
n
merupakan deret Geometri
dengan
a = M (1 + i) dan r= (1 + i)


N
a
M (1

i)
(1

1
i)
n
1
i - 1




N
a



Contoh 2.1

M (1

i)
(1 i)
n
1
i

Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp.

10.000.000,00. Jika besar bunga 3 % pertahun, maka tentukan nilai akhir
rente pada tahun ke 3.
Penyelesaian :
M = 10000000
n = 3
i = 3 %



k n
N
a
M(1
k 1

i)
k


3
= 10000000 ( 1
1

0,03 )
n


= 10000000 (1,03) (1,0609) (1,092727)

= 10000000 x 3,183627

= 31836270
37

2. Penghitungan Nilai Tunai

Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun,
dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai tunai dari angsuran
itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut.
Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal 1 Januari dan
nilai tunai dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 1 Januari
tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut.
Tahun Pertama 1 Januari M

Tahun Kedua 1 Januari


M
(1 i)

Tahun Ketiga 1 Januari
M

2

(1 i)

:

Tahun ke (n-1) 1 Januari


M
(1 i)
n 2



Tahun ke n 1 Januari
M
(1 i)
n 1


+

k n 1
M
M
k 1
(1


Jadi Nilai T unai dari Rente Pranumerando adalah
i)
k



N
t
M
k n 1

k 1
(1
M
i)
k



N
t
M
k n 1
M
k 1
(1


1
i)
k




Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat :

N S M


M

M


...


M

deret geometri dengan a = M,

t n
(1 i) (1 i)
2
(1 i)
n 1



dan r =

1

, maka

(1 i)
38



N
t
M (1

1 (1 i)
n
i)
i

Contoh 2.2

Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp.

10.000.000,00. Jika besar bunga 3 % pertahun, maka tentukan nilai tunai
rente pada tahun ke 3.
Penyelesaian :

M = 10000000
n = 3
i = 3 %


N
t
M (1

1 (1 i)
n
i)
i


= 10000000 ( 1


0,03 )

1- ( 1 0,03 )
-3

0,03


= 10000000 ( 1,03 )
1- ( 1,03 )
-3

0,03


= 10300000
1 - 0,91514
0,03

= 10300000 x 2,82866

= 29135266,67



RENTE POSTNUMERANDO

1. Penghitungan Nilai Akhir

Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun,
dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai akhir dari angsuran
itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut.
Angsuran dibayar pada akhir periode yaitu tanggal 31 Desember
dan nilai akhir dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 31
Desember tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut.
39

Tahun Pertama 31 Desember
Tahun Kedua 31 Desember
Tahun Ketiga 31 Desember
:

Tahun ke (n-1) 31 Desember

Tahun ke n 31 Desember
M(1 + i)
n-1


M(1 + i)
n-2


M(1 + i)
n-3



M(1 + i)
M
+

n 1
k

M M(1 i)
k 1

Jadi Nilai Akhir dari Rente Pranumerando adalah


N
a
M 1
n 1

(1 i)
k

k 1

Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat

N
M
(1

a
i

i)
n
1



Contoh 2.3

Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp. 2.500.000,00 ke bank.
Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke 4, tentukan nilai akhir rente.
Penyelesa ian :
M = 2.500.000

n = 4

i = 5%

N
M
(1

a
i

i)
n
1

=
2500000
1

0,05

0,05
4
1

=
2500000

0,05

1,2551 1

= 2500000 x 4,310125

= 10775312,5
40

2. Penghitungan Nilai Tunai

Misalkan dengan modal (M) setiap tahun dalam periode (n) tahun,
dengan suku bunga majemuk (i) per tahun. Maka nilai tunai dari angsuran
itu dapat dicari dengan cara sebagai berikut.
Angsuran dibayar pada awal periode yaitu tanggal 1 Januari dan
nilai tunai dihitung pada akhir tahun ke-n yaitu pada tanggal 1 Januari
tahun ke-n seperti pada penjelasan berikut.

Tahun Pertama 1 Januari


M
(1 i)

Tahun Kedua 1 Januari
M

2

(1 i)

Tahun Ketiga 1 Januari
M

3

(1 i)

:

:

Tahun ke (n-1) 1 Januari




M
(1 i)
n 1


Tahun ke n 1 Januari
M

n

(1 i)



k n

k 1
(1

+

M
i)
k


Jadi Nilai Tunai dari Rente Postnumerando adalah

k
N
t
M x

k
n

1
(1

1
i)
k




Atau jika dihitung menggunakan deret, didapat :

N
t
M
1 (1

i
i)
n

41

Contoh 2.4

Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp. 2.500.000,00 ke bank.
Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke 4, tentukan harga tunai rente ?
Penyelesaian:
M = 2.500.000
n = 4
i = 5%

N
t
M
1 (1

i
i)
n


=
2500000
1

0,05

1 0,05
4


=
2500000

0,05

1 0,82272

= 2500000 x 3,54596

= 8864900



RENTE KEKAL

Rente kekal atau rente abadi adalah rente dengan banyaknya angsuran
tidak terbatas (n = ~). Maka dari hanya nilai tunainya saja yang dapat
dihitung, sedangkan nilai akhirnya tidak dapat dihitung jumlahnya.
1. Rente Kekal Pranumerando
Rente kekal pranumerando jika dijabarkan nilai tunai untuk tiap
priode adalah sebagai berikut:

N S M


M

M

M

...


yang merupakan deret geometri

t n
(1 i) (1 i)
2
(1 i)
3



tak hingga dengan a = M, dan r =

1
, maka nilai tunai rente



pranumerando kekal adalah :
(1 i)

N
M
(1 i)
M
M

t
i i
42

Contoh 2.5

Setiap awal tahun disetorkan sejumlah uang ke bank sebanyak Rp.

10.000.000,00. Jika besar bunga 3 % pertahun, maka tentukan harga
tunai rente kekal pada tahun ke 3.
Penyelesaian:

M = 10000000
n = 3
i = 3 %

N
M
(1 i)
M
M

t
i i

=
10000000 ( 1 0,03 )

0,03

= 343333333,33





2. Rente Kekal Postnumerando
Sama dengan rente kekal pranumerando, rente kekal
postnumerando nilai tunainya jika kita jabarkan akan berbentuk :

N S
M


M

.
M


...


yang merupakan deret geometri tak

t n
(1 i) (1 i)
2
(1 i)
3



hingga dengan a =

M
dan r =

1
M

, sehingga
N
t

(1 i) (1 i)
i



Contoh 2.6

Pada tiap akhir tahun dimasukkan uang sebesar Rp. 2.500.000,00 ke bank.
Bunga bank 5% pertahun. Pada tahun ke 4, tentukan harga tunai rente
kekal.
Penyelesaian:

M = 2.500.000
n = 4
i = 5%
43

N
M

t
i

=
2500000

0,05

= 50000000



c. Rangkuman 2


RENTE PRANUMERANDO

1. Penghitungan Nilai Akhir

k n
Na M(1
k 1

i)
k

k n
M x (1
k 1

i)
k





N
a
M (1

i)
(1 i)
n
1
i

2. Penghitungan Nilai Tunai


N
t
M
k n 1
M
k 1
(1


1
i)
k



N
t
M (1

1 (1 i)
n
i)
i



RENTE POSTNUMERANDO

1. Penghitungan Nilai Akhir


N
a
M 1
n 1

(1 i)
k

k 1

N
M
(1

a
i

i)
n
1
44

2. Penghitungan Nilai Tunai

k
N
t
M x

k
n

1
(1

1
i)
k


N
t
M
1 (1

i
i)
n




RENTE KEKAL

1. Rente Kekal Pranumerando

N
M
(1 i)
M
M

t
i i





2. Rente Kekal Postnumerando

N
M

t
i



d. Tugas 2


1. Suatu Yayasan mempunyai kewajiban abadi untuk membayar kepada
suatu badan usaha sebesar Rp 50.000,00 setiap tanggal 1 Januari.
Pembayaran dimulai tanggal 1 Januari 1998 dan seterusnya. Yayasan itu
ingin menyelesaikan kewajiban tersebut dengan membayar sekaligus pada
tanggal 1 januari 1998. Berapakah besar uang yang harus dibayar oleh
yayasan itu, jika dihitung dengan bunga majemuk 6% setahun?
2. Pada awal tahun 1980 Amin memperoleh pinjaman dari sebuah bank.
Pinjaman itu akan dilunasi dengan cara angsuran yang sama besar yang
dibayarkan setiap akhir tahun selam 15 tahun. Angsuran pertama dibayar
pada akhir tahun 1980 dan seterusnya. Bank itu menetapkan suku bunga
pinjaman 15% pertahun. Pada waktu menerima uang pinjaman itu Amin
dikenakan biaya administrasi sebesar 1½% yaitu Rp 30.000,00.
45

a) Berapakah besar uang yang dipinjam Amin tersebut?

b) Berapakah besar angsuran yang dibayarkan pada akhir tahun?

3. Setiap awal bulan Yusuf menyimpan uangnya dibank dengan jumlah yang
sama besar yaitu Rp 20.000,00. Kegiatan itu berlangsung selama 2 tahun
lebih 4 bulan. Hitunglah jumlah simpan Yusuf pada akhir jangka waktu
tersebut jika ditetapkan suku bunga majemuk 1,5% tiap bulan.
Hitunglah nilai tunai dari rente pranumerando dengan angsuran sebesar
Rp 40.000,00 tiap kuartal selam 5 tahun dengan suku bunga majemuk 5%
perkuartal.




e.Tes Formatif 2


1. Tuan Hadi awal tahun menyimpan uangnya di bank sebesar Rp.

20.000,00. Simpan pertama dilakukan pada tanggal 1 Januari 1991 dan
seterusnya setiap tanggal 1 Januari menyimpan uang yang sama
besarnya. Simpanan itu diperhitungkan dengan suku bunga majemuk 5%
per tahun.
Hitunglah jumlah simpanan Tuan Hadi sampai dengan 31 Desember 1996.

2. Hitunglah nilai akhir dari rente pranumerando dengan angsuran Rp.

10.000,00 tiap kuartal dengan suku bunga majemuk 3,6% tiap kuartal
selama 5 tahun.
3. Hitunglah nilai tunai dari rente pranomerando dengan angsuran
Rp.500.000,00 tiap tahun dengan suku bunga 6% per tahun selama 20
tahun.
4. Tuan Hasbi meminjam uang di sebuah bank dengan suku bunga majemuk

4,2% per kuartal. Pinjaman itu akan dilunasi dengan angsuran yang sama
besar yaitu Rp. 100.000,00 setiap kuartal selama 5 tahun. Pembayaran
angsuran dilakukan pada setiap awal kuartal. Berapakah besar uang yang
dipinjam Tuan Hasbi tersebut di bank?
46

5. Sebuah rente postnumerando dengan angsuran Rp 100.000 tiap tahun
dengan suku bunga majemuk 4% pertahun dalam jangka waktu 6 tahun.
Hitunglah nilai akhir dari rente itu!
6. Tuan Hadi meminjam uang kepada Hamid dengan perjjanjian akan
dikembalikan dengan angsuran setiap akhir semester. Besarnya angsuran
masing-masing adalah Rp 518.000,00 sebanyak 10 kali angsuran. Jika
pinjaman iitu diperhitungkan dengan suku bunga majemuk 5% per
semester maka berapakah besar uang yang dipinjamkan tersebut?
7. Hitunglah nilai tunai dari rente pranumerando kekal dengan angsuran
sebesar Rp 10.000,00 setiap bulan dengan suku bunga majemuk 2% per
bulan!
8. Sebuah perusahaan mempunyai kewajiban membayar kepada pemerintah
setiap akhir tahun sebesar Rp 50.000,00 untuk selama-lamanya. Apabila
perusahaan itu ingin menyelesaikan kewajiban itu sekaligus, berapakah
perusahaan itu harus membayar kepada pemerintah jika diperhitungkan
dengan suku bunga majemuk 8% per tahun


f. Kunci Tes Formatif 2



1. N
a

M

(1 i){(1
i
i)
n
1}

20.000
N
a
(1

0,05

0,05) {(1 0,05)
6


1} 420.000 (1,3400956 4 - 1)

142.840,17
Jadi jumlah simpanan Tuan Hadi pada tanggal 31 Desember 1996 adalah

Rp. 142.840,17
2. M = Rp. 10.000,00
i = 3,8% = 0,038
n = 20 kuartal

M
N
a
(1
i

i){(1

i)
n
1}

20.000

N
a
(1
0,038

0,038) {(1 0,038)
20
1}

273.157,89 5 (2,1083711 8 - 1)

302.760,34
47



Jadi, nilai akhir rente itu adalah Rp. 302.760,34

3. M = Rp. 500.000,00

i = 6% = 0,06 per tahun
n = 30 tahun
Perhitungan nilai dengan rumus sigma atau tabel bunga.

N
1
= M (1 =a
n
-
1 I
)

N
1
= 500.000,00 (1 + a
19 6%
); dari daftar bunga a
19 6%
=

11,15811649.

N
1
= 500.000,00 (1 + 11,15811649)
N
1
= 500.000 x 12.15811649
N
1
= 6.079,058,25.

Perhitungan nilai tunai dengan rumus deret

M

N (1 t
i


i) 1 (1 i)
n

500.000

(1
0,06

0,06) 1 (1 06)
20


N
t
= 883333,33 (1-0,31180473)
N
t
= 883333,33 x 0,68819527
N
t
= 6079.058,22

Jadi, dari 2 cara perhitungan tersebut terdapat perbedaan 0,03 karena
adanya pembulatan-pembulatan.
4. Soal tersebut dapat digolongkan sebagai rente pranumerando dengan :
M = Rp. 100.000,00
i = 4,2% = 0,042 per kuartal
n = 20 kuartal
besar pokok pinjaman sama dengan nilai tunai dari semua angsuran (N
1
).

M

N (1 t
i



i) 1 (1

i)
n


1.000.000

(1
0,042


0,042) 1 (1

0,042)
20


N
t
= 12.404.761,905 (1-0,45762879)

N
t
= 12.404.761,905 x 0,45237121 = 6.729.985,71

Jadi, besar pinjaman Tuan Hasbi di bank adalah Rp. 6.729.985,71 atau jika
dibulatkan menjadi Rp. 6.730.000,00.
48


5. M = Rp 100.000

i = 4% = 0,04 pertahun

n = 6 tahun
N
a
= M(1+
n- i)


N
a
= 100.000 (1 +
6 - 1 4 %
) = 100.000 (1 +
5 4 %
)
N
a
= 100.000 (1 + 5,63297546)
N
a
= 100.000 x 6,63297546) = 663.297,55

Jika diselesaikan dengan rumus deret, maka

M

N
a
{(1
i

i)
n
1}

100.000

N
a

0,04

{(1 0,04)
6
1}
250.000 x 0,26531902 663.297,55

Jadi, nilai akhir dari kedua cara perhitungan itu mempunyai hasil yang
sama, yaitu Rp 663.297,55.
6. Pembayaran angsuran pinjaman itu sesuai dengan rente postnumerando

M = Rp 518.000,00
i = 5% = 0,05
n = 10
Besarnya pinjaman Tuan Hadi dengan jumlah semua nilai tunai angsuran
itu, maka

M

N
t
i
1 (1

i)
n

518.000

(1
0,05
(1 0,05)
10


10.360.000 x0,3860867 5

3.999.858, 69
7. M = Rp 10.000

i = 2% = 0,02

M

N
t
i
M

10.000
0,02

10.000

510.000


8. N
t

M 50.000
i 0,08

625.000
49

3. Kegiatan Belajar 3 : Anuitas
a. Tujuan Kegiatan Belajar 3
Setelah mempelajari kegiatan belajar 3 ini, diharapkan Anda dapat:

? Memahami pengertian anuitas.
? Melakukan perhitungan anuitas yang dibulatkan.
? Melakukan perhitungan rencana angsuran dengan sistem pembulatan.


b. Uraian Materi Kegiatan Belajar 3


Anuitas dapat diartikan sebagai berikut.

Definisi 3.1

Anuitas adalah suatu pembayaran atau penerimaan uang secara
periodik dalam jumlah tetap dan dalam jangka waktu yang tetap pula.


Jumlah pembayaran anuitas terdiri dari dua bagian, yaitu:

- Angsuran pelunasan pinjaman
- Pembayaran bunga.



Menentukan Besarnya Anuitas

Untuk menentukan besarnya anuitas dapat digunakan rumus berikut:



Rumus 3.1

1

A = M
n

(1
k 1

i)
k


dengan
A = besarnya anuitas
M
i
n
=

=

=
besarnya pinjaman
suku bunga
banyaknya anuitas
50

n
(1 i)
k 1

k
dapat dilihat dalam Tabel 1 kolom a
n
i yang ada pada bagian


akhir modul ini.



Rumus 3.2

(1



i)
n

A = iM
(1

i)
n
1



Contoh 3.1

Suatu pinjaman sebesar Rp 40.000.000,- akan dilunasi dengan 10 angsuran
dengan suku bunga 8% pertahun. Tentukan besar anuitasnya.
Penyelesaian:

M = Rp 40.000.000,-
i = 8% = 0,08
n = 10.



a. Diselesaikan dengan Rumus 3.1



Dengan Tabel 1, diperoleh

n
(1 i)
k
=
8
(1 0,08)
k


= 5,74663894
k 1 k 1

Besarnya anuitas adalah
1

A = M
n

(1
k 1

i)
k



1

= Rp 40.000.000,
5,74663894

= Rp 6.960.590,43.



b. Diselesaikan dengan Rumus 3.1

Besarnya anuitas adalah
51



A = iM
(1 i)
n

(1 i)
n
1





(1,08)
8

= (0,08)(Rp 40.000.000)

(1,08)
8
1


= (Rp 3.200.000,)
1,85093021
0,85093021

= (Rp 3.200.000)(2,175184508)

= Rp 6.960.590,43



MEMBUAT RENCANA ANGSURAN

Untuk mengetahui bahwa perhitungan anuitas sudah benar, sebaiknya
disusun rencana angsuran. Pada anuitas terakhir, besar angsuran utang harus
nol.


Contoh 3.2

Ibu Erni meminjam uang di Bank sebesar Rp 1.000.000,-. Pinjaman harus
dilunasi dengan anuitas selama setahun dengan pembayaran tiap tiga bulan.
Suku bunga 3% per tiga bulan. Buatlah rencana angsurannya, dan buatkan
tabel rencana angsuran itu.
Penyelesaian:

M = Rp 1.000.000,-
i = 3%
n = 4 (sebab angsuran dilakukan setiap 3 bulan. Jadi n = 12 : 3 = 4)
Besar anuitas tiap 3 bulan adalah
1

A = M
n

(1
k 1

i)
k



1

= (Rp 1.000.000,-)


= Rp 269.027,05.

3,71709840
52

Membuat rencana angsuran:

Karena anuitas terdiri dari besar angsuran dan bunga, maka angsuran ke n,
yaitu A
n
, adalah
A
n
= A - B
n

dengan B
n
adalah bunga pada angsuran ke n.
Oleh karena itu diperoleh:
- Bunga pada akhir tiga bulan pertama

3

B
1
= 3% Rp 1.000.000,- =

Angsuran pertama adalah

100
Rp 1.000.000,- = Rp 30.000,-

A
1
= A - B
1
= Rp 269.027,05 - Rp 30.000,- = Rp 239.027,05

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kedua adalah

M
1
= Rp 1.000.000,- - Rp 239.027,05 = Rp 760.972,95.

- Bunga pada akhir tiga bulan kedua


B
2
= 3% Rp760.972,95. =

Angsuran kedua adalah
3
100

Rp 760.972,95. = Rp 22.829,29

A
2
= A - B
2
= Rp 269.027,05 - Rp 22.829,29 = Rp 246.197,09

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan ketiga adalah

M
2
= Rp 760.972,95 - Rp 246.197,09= Rp 514.775,09.

- Bunga pada akhir tiga bulan ketiga adalah

3

B
3
= 3% Rp 514.775,09. =

Angsuran ketiga adalah

100
Rp 514.775,09.- = Rp 15.443,25

A
3
= A - B
3
= Rp 269.027,05 - Rp 15.443,25 = Rp 253.583,80

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan keempat adalah

M
3
= Rp 514.775,09. - Rp 253.583,80 = Rp 261.191,29

- Bunga pada akhir tiga bulan keempat adalah

3

B
4
= 3% Rp 261.191,29. =

Angsuran keempat adalah

100
Rp 261.191,29 = Rp 7.835,47

A
4
= A - B
4
= Rp 269.027,05 - Rp 7.835,47 = Rp 261.191,31
53

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kelima adalah

M
3
= Rp 261.191,29- Rp 261.191,31= Rp -0,02 Rp 0,-



Tabel rencana angsurannya adalah sebagai berikut:

Tabel Rencana Angsuran

Angsuran ke

n
Utang

(Rp)
Anuitas
Suku bunga

(3%)
Angsuran

Utang
Sisa Utang
1 1.000.000,- Rp 30.000,00 Rp 239.027,05 Rp 760.972,95
2 760.972,95 Rp 22.829,29 Rp 246.197,86 Rp 514.775,09
3 514.775,09 Rp 15.443,25 Rp 253.583,80 Rp 261.191,29
4 261.191,29 Rp 7.835,47 Rp 261.191,31 Rp 0,-




ANUITAS DENGAN PEMBULATAN

Biasanya besar anuitas yang dibayarkan (diterima) berupa pecahan.
Untuk mempermudahkan atau menyederhanakan pembayaran, biasanya
besar anuitas dibulatkan ke atas atau ke bawah.
Jika besar anuitas dibulatkan ke bawah, maka besarnya pembayaran
terakhir adalah besarnya anuitas ditambah kekurangannya, dan jika besar
anuitas dibulatkan ke atas, maka besarnya pembayaran terakhir adalah
besarnya anuitas dikurangi kelebihan pembayaran.


Contoh 3.3

Ibu Erni meminjam uang di Bank sebesar Rp 1.000.000,-. Pinjaman harus
dilunasi dengan anuitas selama setahun dengan pembayaran tiap tiga bulan.
Suku bunga 3% per tiga bulan.
Tentukan:
a. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke atas

b. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas
54

c. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas
d. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas
e. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke atas
f. Besar anuitas dengan pembulatan ribuan ke bawah
g. Besarnya pembulatan jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah

h. Tabel rencana angsuran jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah
i. Angsuran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah
j. Pembayaran terakhir jika anuitas dibulatkan ke ribuan ke bawah



Penyelesaian:

M = Rp 1.000.000,-
i = 3%
n = 4 (sebab angsuran dilakukan setiap 3 bulan. Jadi n = 12 : 3 = 4)

Besar anuitas tiap 3 bulan adalah

1

A = M
n

(1
k 1

i)
k



1

= (Rp 1.000.000,-)


= Rp 269.027,05.

3,71709840

Dengan pembulatan ribuan ke atas
a. Besar anuitas adalah Rp 270.000,00
b. Besar pembulatan adalah
Rp 270. 000,00 - Rp 269.027,05 = Rp 972,95

c. Untuk membuat tabel rencana angsuran, terlebih dahulu dihitung rencana
angsurannya sebagai berikut.
Dengan mengingat
A
n
= A - B
n


dengan B
n
adalah bunga pada angsuran ke n, diperoleh:

- Bunga pada akhir tiga bulan pertama

3

B
1
= 3% Rp 1.000.000,- =

100
Rp 1.000.000,- = Rp 30.000,-
55

Angsuran pertama adalah

A
1
= A - B
1
= Rp 270.000,00 - Rp 30.000,- = Rp 240.000,00

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kedua adalah

M
1
= Rp 1.000.000,00 - Rp 240.000,00 = Rp 760.000,00

- Bunga pada akhir tiga bulan kedua

3

B
2
= 3% Rp760.000,00 =

Angsuran kedua adalah

100
Rp 760.000,00. = Rp 22.800,00

A
2
= A - B
2
= Rp 270.000,00 - Rp 22.800, = Rp 247.200,00

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan ketiga adalah

M
2
= Rp 760.000,00 - Rp 247.200,00= Rp 512.800,00.

- Bunga pada akhir tiga bulan ketiga adalah

3

B
3
= 3% Rp 512.800,00. =

Angsuran ketiga adalah

100
Rp 512.800,00 = Rp 15.384,00

A
3
= A - B
3
= Rp 270.000,00 - Rp 15.384,00 = Rp 254.616,00

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan keempat adalah

M
3
= Rp 512.800,00. - Rp 254.616,00 = Rp 258.184,00

- Bunga pada akhir tiga bulan keempat adalah

3

B
4
= 3% Rp 258.184,00. =

Angsuran keempat adalah

100
Rp 261.191,29 = Rp 7.745,52

A
4
= A - B
4
= Rp 270.000,00 - Rp 7.745,52 = Rp 262.254,48

Pinjaman (sisa utang) pada akhir tiga bulan keempat adalah

M
3
= Rp 258.184,00 - Rp 262.254,48 = Rp -4.070,48

Dengan adanya pembulatan ribuan ke atas, ada kelebihan angsuran
sebesar Rp4.070,48.
Jadi tabel rencana angsurannya adalah sebagai berikut:
56

Tabel Rencana Angsuran

Angsuran
ke- n
Utang
(Rp)
Anuitas Sisa Utang

Suku bunga
(3%)
Angsuran
Utang

1 1.000.000 Rp 30.000,00 Rp 240.000,00 Rp 760.000,00
2 760.000,00 Rp 22.800,00 Rp 247.200,00 Rp 512.800,00
3 512.800,00 Rp 15.384,00 Rp 254.616,00 Rp 258.184,00
4 258.184,00 Rp 7.745,52 Rp 262.254,48 Rp -4.070,48


d. Angsuran terakhir adalah

A
4
- Rp 4.070,48 = Rp 262.254,48 - Rp 4.070,48 = Rp 25.818,52
e. Pembayaran terakhir adalah
Angsuran terakhir + Bunga terakhir = Rp 25.818,52 + Rp 7.745,52

= Rp 265.929,04



Dengan pembulatan ribuan ke bawah

f. Besar anuitas adalah Rp 269.000,00
g. Besar pembulatan adalah
Rp 269.027,05 - Rp 269.000,00 = Rp 27,05

h. Untuk membuat tabel rencana angsuran, terlebih dahulu dihitung rencana
angsurannya sebagai berikut.
Dengan mengingat

A
n
= A - B
n


dengan B
n
adalah bunga pada angsuran ke n, diperoleh:

- Bunga pada akhir tiga bulan pertama

3

B
1
= 3% Rp 1.000.000,- =

Angsuran pertama adalah

100
Rp 1.000.000,- = Rp 30.000,-

A
1
= A - B
1
= Rp 269.000,00 - Rp 30.000,- = Rp 239.000,00

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan kedua adalah

M
1
= Rp 1.000.000,00 - Rp 239.000,00 = Rp 761.000,00

- Bunga pada akhir tiga bulan kedua
57


B
2
= 3% Rp761.000,00 =

Angsuran kedua adalah
3
100

Rp 761.000,00. = Rp 22.830,00

A
2
= A - B
2
= Rp 269.000,00 - Rp 22.830,00= Rp 246.170,00

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan ketiga adalah

M
2
= Rp 761.000,00 - Rp 246.170,00 = Rp 514.830,00.

- Bunga pada akhir tiga bulan ketiga adalah

3

B
3
= 3% Rp 514.830,00 =

Angsuran ketiga adalah

100
Rp 514.830,00= Rp 15.444,90

A
3
= A - B
3
= Rp 269.000,00 - Rp 15.444,90 = Rp 253.555.10

Pinjaman (sisa utang) pada awal tiga bulan keempat adalah

M
3
= Rp 514.830,00 - Rp 253.555.10 = Rp 261.274,90

- Bunga pada akhir tiga bulan keempat adalah

3

B
4
= 3% Rp 261.274,90 =

Angsuran keempat adalah

100
Rp 261.274,90 = Rp 7.838,25

A
4
= A - B
4
= Rp 269.000,00 - Rp 7.838,25 = Rp 261.161,75

Pinjaman (sisa utang) pada akhir tiga bulan keempat adalah

M
4
= Rp 261.274,90- Rp 261.161,75 = Rp 113,15



Tabel Rencana Angsuran

Angsuran
ke- n
Utang
(Rp)
Anuitas Sisa Utang

Suku bunga
(3%)
Angsuran
Utang

1 1.000.000,- Rp 30.000,00 Rp 239.000,00 Rp 761.000,00
2 761.000,00 Rp 22.830,00 Rp 246.170,00 Rp 514.830,00
3 514.830,00 Rp 15.444,90 Rp 253.555,10 Rp 261.274,00
4 261.161,75 Rp 7.838,25 Rp 261.161,75 Rp 113,15


i. Dengan adanya pembulatan ribuan ke bawah, ada kekurangan angsuran
sebesar Rp113,15. Jadi angsuran terakhir adalah
A
4
+ Rp 113.15 = Rp 261.161,75 + Rp 113,15 = Rp 261.274,90
58

j. Pembayaran terakhir adalah

angsuran terakhir + bunga terakhir = Rp 261.274,90 + Rp 7.838,25

= Rp 269.113,15



c. Rangkuman 3


Anuitas adalah suatu pembayaran atau penerimaan uang secara periodik
dalam jumlah tetap dan dalam jangka waktu yang tetap pula.
Jumlah pembayaran anuitas terdiri dari dua bagian, yaitu:

- Angsuran pelunasan pinjaman
- Pembayaran bunga

Untuk menentukan besarnya anuitas dapat digunakan rumus berikut


A = M


1 (1

n
atau A = iM

i)
n
n
(1 i)
k

k 1
(1 i) 1


dengan

A = besarnya anuitas

M = besarnya pinjaman
i = suku bunga
n = banyaknya anuitas

n
(1 i)
k 1

k
dapat dilihat dalam Tabel 1 kolom a
n
i yang ada pada


bagian akhir modul ini.

Untuk mengetahui bahwa perhitungan anuitas sudah benar, sebaiknya
disusun rencana angsuran. Pada anuitas terakhir, besar angsuran utang
harus nol.
Untuk mempermudahkan atau menyederhanakan pembayaran, biasanya
besar anuitas dibulatkan ke atas atau ke bawah. Jika besar anuitas
dibulatkan ke bawah, maka besarnya pembayaran terakhir adalah
besarnya anuitas ditambah kekurangannya, dan jika besar anuitas
dibulatkan ke atas, maka besarnya pembayaran terakhir adalah besarnya
anuitas dikurangi kelebihan pembayaran.
59

d. Tugas 3


1. Pinjaman sebesar Rp 6.000.000,00 akan dilunasi dengan 10 anuitas
bulanan dengan suku bunga 3% perbulan. Tentukan besarnya anuitas.
2. Lengkapilah tabel berikut:

Tabel Rencana Angsuran

Angsuran ke
n
Utang
Rp
Anuitas
Rp 5.615.677,75
Bunga (Rp)

(suku bunga

4%)
Angsuran

Utang

(Rp)
Sisa Utang

(Rp)
1 25.000.000,00 1.000.000,00 ... 20.384.322,25
2 Rp 761.000,00 ... ... ...


3. Suatu pinjaman sebesar Rp 100.000.000,00 akan dilunasi dengan 5
anuitas tahunan dengan suku bunga 8% pertahun. Tentukan besar
angsuran jika anuitas dibulatkan:
(a) ke ribuan atas
(b) ke ribuan bawah



e. Tes Formatif 3


1. Suatu pinjaman sebesar Rp 500.000,00 harus dilunasi dengan 4 anuitas
tahunan dengan suku bunga 6% pertahun. Tentukan besar anuitasnya.
2. Pinjaman sebesar Rp 100.000,00 akan dilunasi dengan dengan cara
anuitas Rp 21.631,54 pertahun dengan suku bunga 8% pertahun. Buatkan
tabel angsurannya.
60

f. Kunci Tes Formatif 3


1. M = Rp 500.000,00
i = 6%
n = 4

Besar anuitas adalah

1

A = M
n

(1
k 1

i)
k



1

= (Rp 500.000,00)



Rp 500.000,00


4

(1.06)
k

k 1
=

3,46510561

= Rp 144295,75



2. Dengan mencari besar pinjaman dan besar bunga setiap akhir tahun
diperoleh
tabel berikut:

Tabel Rencana Angsuran

Angsuran ke
n
Utang Anuitas

Suku bunga
(8%)
Angsuran
Utang
Sisa Utang
1 Rp 1.00.000,- Rp 8.000,00 Rp 13.631,54 Rp 86.368,46
2 Rp 86.368,00 Rp 6.909,48 Rp 14.722,06 Rp 71.646,30
3 Rp 71.646,40 Rp 5.731,71 Rp 15.899,83 Rp 55.746,57
4 Rp 55.746,57 Rp 4.459,73 Rp 17.171,81 Rp 38.574,76
5 Rp 36.574,76 Rp 3.085,98 Rp 18.545,46 Rp 20.029,20
6. Rp 20.029,20 Rp 1.602,34 Rp 20.029,20 0
61

4. Kegiatan Belajar 4 : Penyusutan
a. Tujuan Kegiatan Belajar 4
Setelah mempelajari kegiatan belajar 4 ini, diharapkan Anda dapat:

? Memahami pengertian penyusutan
? Memahami pengertian aktiva
? Memahami pengertian nilai sisa
? Memahami pengertian umur manfaat
? Menentukan besar penyusutan dengan.


b. Uraian Materi Kegiatan Belajar 4


Sebelum membahas perhitungan penyusutan, terlebih dahulu
diperkenalkan dengan beberapa istilah yang akan digunakan dalam
perhitungan penyusutan sebagai berikut.


Definisi 4.1

Penyusutan adalah proses pengalokasian secara berkala dari
sebagian biaya perolehan suatu aktiva terhadap biaya perusahaan.


Definisi 4.2

Aktiva adalah segala sumber daya ekonomi suatu perusahaan yang
berupa harta benda dan hak-hak hukum yang dimilikinya.


Definisi 4.3

Aktiva (harta) lancar adalah aktiva yang tunai dan aktiva lain yang
secara layak dapat diharapkan untuk dapat dicairkan menjadi uang tunai,
dijual atau dipakai sehingga habis selama siklus operasi yang normal dari
perusahaan itu.
Contoh 4.1

Alat tulis kantor: kertas, polpen, dsb.
62

Definisi 4.4

Aktiva (harta) tetap adalah aktiva yang digunakan dalam
menyelenggarakan operasi perusahaan, bukan harta yang akan dijual,
biasanya jangka pemakaiannya lebih dari satu tahun, dan nilainya cukup
material.


Contoh 4.2

Gedung perusahaan, kendaraan untuk operasional perusahaan, mesin-mesin,
dsb.


Definisi 4.5

Harga perolehan adalah harga pembelian sebuah aktiva tetap
ditambah biaya-biaya lainnya sehingga harta tetap tersebut siap dimiliki dan
dipakai.


Contoh 4.3

Untuk pembelian harga sebuah mobil, maka harga perolehannya meliputi
harga pembelian mobil, biaya pengurusan surat, asuransi kebakaran, dsb.


Definisi 4.6

Umur ekonomi (umur manfaat) adalah masa pemakaian aktiva

(harta) tetap yang masih mendatangkan manfaat ekonomi.



Definisi 4.7

Nilai residu (nilai sisa) adalah nilai aktiva (harta) tetap setelah masa
taksiran umur ekonomi selesai.
Beberapa metode penyusutan yang dibahas pada modul ini antara lain
adalah: metode garis lurus, metode saldo menurun, metode unit produksi.
Metode Garis Lurus

Untuk menentukan penyusutan, dengan metode garis lurus digunakan
rumus berikut.
63

Rumus 4.1

Penyusutan =




h arga perolehan nilai residu
taksiran umur



Contoh 4.3

Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp 1.000.000,00.
Taksiran nilai sisa adalah Rp 300.000,00 dengan umur manfaat 5 tahun.
Dengan metode garis lurus,
a. Tentukan besar penyusutan setiap periode
b. Persentase penyusutan
c. Tabel penyusutan



Penyele saian:

a. Besar penyusutan setiap periode =



h arga perolehan nilai residu
taksiran umur

=
Rp1000.000,00 Rp 300.000,00

5

=
Rp 700.000,00

5



b. Presentase penyusutan adalah

= Rp 140.000,00
Rp140.000,00
Rp1.000.000,00

100% = 14%

c. Tabel Penyusutan selama 5 tahun adalah sebagai berikut

Tahun Harga
Perolehan
Penyusutan Akumulasi
Penyusutan
Nilai Buku
Akhir Tahun
0 - - - Rp1.000.000,-
1 Rp 1.000.000,- Rp 140.000,- Rp 140.000,- Rp 860.000,-
2 Rp 1.000.000,- Rp 140.000,- Rp 280.000,- Rp 720.000,-
3 Rp 1.000.000,- Rp 140.000,- Rp 320.000,- Rp 580.000,-
4 Rp 1.000.000,- Rp 140.000,- Rp 460.000,- Rp 440.000,-
5 Rp 1.000.000,- Rp 140.000,- Rp 600.000,- Rp 300.000,-
64

METODE SALDO MENURUN

Pada metode garis lurus, besarnya penyusutan setiap tahun dianggap
sama, tetapi dalam metode saldo menurun, besar penyusutan mula-mula
besar dan semakin lama besar penyusutan penurun sebanding lurus dengan
menurunnya nilai buku ativa (harta) tetap.
Perhitungan penyusutan dengan metode saldo turun ada dua cara,
yaitu: metode angka persen tetap atau metode tarif tetap atas nilai buku, dan
metode menurun berganda.


Perhitungan dengan metode angka persen tetap mempunyai rumus


T = 1 -
n
S
A

Dengan:

T = persen penyusutan dari nilai buku

S = nilai residu (sisa) aktiva tetap

A = nilai perolehan aktiva tetap

n = perkiraan umur ekonomi aktiva tetap





Contoh 4.4

Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp 10.000.000,00.
Taksiran nilai sisa adalah Rp 1.000.000,00 dengan umur manfaat 3 tahun.
Dengan metode saldo menurun angka persen tetap,
a. Persentase penyusutan setiap periode

b. Buatkan tabel yang berisikan harga perolehan, penyusutan, akumulasi
penyusutan, dan harga buku.


Penyelesaian:

S = Rp 1.000.000,00

A = Rp 10.000.000,00
n = 3
65

a. Persentase penyusutan setiap periode adalah

T = 1 -
n
S
A

= 1 - 3
Rp1.000.000,00
Rp10.000.000,00

= 1 – 0,4641592396

= 0,53584076

= 53,6%

b. Penyusutan periode 1 = 53,6% Rp 10.000.000,00

= Rp 5.360.000,00

Penyusutan periode 2 = 53,6% Rp 4.460.000,00

= Rp2.487.040,00

Penyusutan periode 3 = 53,6% Rp 2.152.960,00

= Rp 1.153.986,56



Tabelnya adalah sebagai berikut

Periode/
tahun
Harga
Perolehan
(Rp)
Penyusutan
(Rp)
Akumulasi
Penyusutan
(Rp)
Nilai Buku
(Rp)
1 10.000.000,00 5.360.000,00 5.360.000,00 4.640.000,00
2 10.000.000,00 2.487.040,00 7.847.040,00 2.152.960,00
3 10.000.000,00 1.153.986,56 9.001.026,00 998.974,00


Pada penyusutan metode saldo menurun berganda, besar persentase
penyusutan pertahun ditetapkan sebesar dua kali dari penyusutan garis lurus.


Contoh 4.5

Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp 10.000.000,00.
Taksiran nilai sisa adalah Rp 1.000.000,00 dengan umur manfaat 4 tahun.
Dengan metode saldo menurun berganda,
a. Persentase penyusutan setiap periode
b. Hitunglah penyusutan selama 4 tahun
66



Penyelesaian:

a. Persentase penyusutan setiap periode (setiap tahun) adalah

100%
4

2 = 50%.

b. Besar penyusutan tahu ke 1 = 50% Rp 10.000.000,00 = Rp

5.000.000,00

Nilai Buku awal tahun ke 2 = Rp10.000.000,00 - Rp 5.000.000,00

= Rp 5.000.000,00

Besar penyusutan tahu ke 2 = 50% Rp 5.000.000,00 = Rp

2.500.000,00

Nilai Buku awal tahun ke 3 = Rp 5.000.000,00 - Rp 2.500.000,00

= Rp 2.500.000,00

Besar penyusutan tahu ke 3 = 50% Rp 2.500.000,00 = Rp

1.250.000,00



c. Rangkuman 4


1. Penyusutan adalah proses pengalokasian secara berkala dari sebagian
biaya perolehan suatu aktiva terhadap biaya perusahaan.
2. Aktiva adalah segala sumber daya ekonomi suatu perusahaan yang
berupa harta benda dan hak-hak hukum yang dimilikinya.
3. Aktiva (harta) lancar adalah aktiva yang tunai dan aktiva lain yang
secara layak dapat diharapkan untuk dapat dicairkan menjadi uang tunai,
dijual atau dipakai sehingga habis selama siklus operasi yang normal dari
perusahaan itu.
4. Aktiva (harta) tetap adalah aktiva yang digunakan dalam
menyelenggarakan operasi perusahaan, bukan harta yang akan dijual,
biasanya jangka pemakaiannya lebih dari satu tahun, dan nilainya cukup
material.
5. Harga perolehan adalah harga pembelian sebuah aktiva tetap ditambah
biaya-biaya lainnya sehingga harta tetap tersebut siap dimiliki dan dipakai.
67

6. Umur ekonomi (umur manfaat) adalah masa pemakaian aktiva (harta)

tetap yang masih mendatangkan manfaat ekonomi.

7. Nilai residu (nilai sisa) adalah nilai aktiva (harta) tetap setelah masa
taksiran umur ekonomi selesai.
8. Beberapa metode penyusutan yang dibahas pada modul ini antara lain
adalah: metode garis lurus, metode saldo menurun.
9. Rumus penyusutan dengan metode garis lurus

Penyusutan =


h arga perolehan nilai residu
taksiran umur

10. Perhitungan penyusutan dengan metode saldo turun ada dua cara, yaitu:
metode angka persen tetap atau metode tarif tetap atas nilai buku, dan
metode menurun berganda.
11. Perhitunga dengan metode angka persen tetap mempunyai rumus

T = 1 -
n
S
A

Dengan:

T = persen penyusutan dari nilai buku

S = nilai residu (sisa) aktiva tetap

A = nilai perolehan aktiva tetap

n = perkiraan umur ekonomi aktiva tetap

12. penyusutan metode saldo menurun berganda, besar persentase
penyusutan pertahun ditetapkan sebesar dua kali dari penyusutan garis
lurus.


d. Tugas 4


1. Sebuah mesin cuci dibeli dengan harga Rp 2.500.000,00. Penusutan setiap
tahun 10% dari harga beli. Jika penyusutan dihitung dengan metode garis
lurus, tentukan lamanya mesin cuci tersebut dapat dipakai.
2. Sebuah mesin dibeli dengan harga Rp 10.000.000,00 dengan penyusutan

10% pertahun terhadap nilai buku. Tentukan nilai mesin itu setelah
pemakaian 3 tahun
68

3. Diketahui bahwa biaya perolehan suatu aktiva adalah Rp 15.000.000,00.

Taksiran nilai sisa adalah Rp 1.000.000,00 dengan umur manfaat 5 tahun.
Dengan metode garis lurus, tentukan:
a. Persentase penyusutan setiap periode

b. Buatkan tabel yang berisikan harga perolehan, penyusutan,kumulasi
penyusutan, dan harga buku.
4. Pada soal nomor 3, dengan metode saldo menurun, tentukan:

a. Persentase penyusutan setiap periode

b. Buatkan tabel yang berisikan harga perolehan,
penyusutan,kumulasi penyusutan, dan harga buku.




e. Tes Formatif 4


1. Harga perolehan suatu aktiva adalah Rp 2.000.000,00. Nilai sisa setelah 5
tahun diperkirakan Rp 250.000,00. Tentukan nilai aktiva pada akhir tahun
ke 3 pemakaian jika penyusutan tersebut dihitung dengan menggunakan
metode garis lurus.
2. Pada tanggal 2 Januari 2005, suatu kantor membeli komputer seharga

Rp 15.000.000,00. Setelah tiga tahun, diperkirakan nilai bukunya Rp

10.000.000,00. Dengan metode saldo menurun angka persen tetap,
tentukan penyusutan pada akhir tahun 2005, 2006, dan 2007.


f. Kunci Tes Formatif 4


1. Dengan metode garis lurus, besar penyusutan setiap tahunnya adalah

h arg a perolehan nilai sisa
umur manfaat

=
Rp 2.000.000 ,000 Rp250.000 ,000

5

=
Rp 1..750.000 ,00

5

= Rp 350.000,000

Karena besar penyusutan dihitung dengan metode garis lurus, maka besar
69

penyusutan setiap tahun adalah sama. Jadi selama 3 tahun, besar
penyusutan adalah
3 Rp 350. 000,00 = Rp 1.050.000,000

Akibatnya nilai pada akhir tahu ke 3 adalah

Rp 2.000.000,00 - Rp 1.050.000,00 = Rp950.000,00.



2. n = 3

S = Rp 10.000.000,00

A = Rp 15.000.000,00

Persentase penyusutan adalah

T = 1 -
n
S
A

= 1 - 3
Rp10.000.000,00

Rp15.000.000,00

= 1 - 0,873580464

= 0,126419535

= 12, 64%.

Penyusutan pada akhir tahun 2005 = 12, 64% Rp

15.000.000,00



Nilai buku awal tahun 2006 adalah

= Rp 1.896.000,00

Rp 15.000.000,00 – Rp Rp 1.896.000,00 = Rp 13.104.000,00
Penyusutan pada akhir tahun 2006 = 12, 64%
Rp13.104.000,00



Nilai buku awal tahun 2007 adalah

= Rp 1.656.345,60
70


Rp 13.104.00,00 – Rp 1.656.345,60 = Rp11.447.654,40
Penyusutan pada akhir tahun 2007 = 12, 64%
Rp11.447.654,40

= Rp 1.446.983,52