You are on page 1of 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Ketatnya persaingan bisnis dalam industri apapun menuntut sebuah perusahaan harus mempunyai perencanaan strategi yang matang untuk dapat memenangkan persaingan bisnis. Perencanaan strategi ini tentunya disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai oleh perusahaan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan perusahaan melalui strategi yang telah ditetapkan tentu tidak semudah yang dibayangkan. Krisis ekonomi yang melanda bangsa indonesia pada tahun 1997 menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan demikian halnya dengan industri perbankan, industri ini banyak mendapatkan masalah pada saat Indonesia mengalami krisis moneter baik masalah permodalan maupun masalah kredit macet. Kondisi ini membuat beberapa bank swasta nasional dilikuidasi oleh pemerintah sedangkan bank-bank yang selamat dari likuidasi ada yang memutuskan untuk melakukan merger agar dapat terjadi sinergi di antara bank-bank tersebut sehingga bisa tetap bertahan dalam industri perbankan nasional. Di segala aspek bisnis secara mikro, setelah tahun 1997-1998 dunia usaha mengalami gangguan dalam cash flow dan neraca modalnya, disaksikan oleh menurunnya realisasi penerimaan penjualan baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor. Kewajiban yang jatuh tempo dari perjanjian kredit yang dilakukan sebelum krisis menjadi membengkak, sebagian besar akibat merosotnya nilai Rupiah. Pada akhirnya para pimpinan puncak perusahaan (CEO) maupun para pemilik modal (stakeholders) menyerah dan tidak mampu untuk melunasi hutang jangka pendek mereka yang jatuh tempo. Kondisi tersebut juga dialami oleh Bank BCA. BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus,

kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998. Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000. Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan public. Penawaran Saham Perdana berlangsung di tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham ke dua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA. Dalam tahun 2002, IBRA melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh pada regulasi, pengelolaan risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagai bank transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial. Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan bisnis di era pasar bebas mendatang, pada saat ini banyak industri perbankan nasional yang telah melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Meskipun investasi di bidang teknologi informasi menghabiskan biaya yang cukup besar namun investasi dibidang ini tampaknya tidak lagi dianggap sebagai cost center bagi perusahaan hal ini dikarenakan investasi dalam bidang teknologi informasi ini menyebabkan transaksi perbankan mengalami peningkatan. Kondisi ini tentunya akan menambah pendapatan perusahaan yang pada akhirnya akan memperbesar profit perusahaan. 2

1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut. 1. Bagaimana implementasi manajemen perubahan pada Bank BCA? 2. Bagaimana implikasi manajemen perubahan yang diterapkan oleh Bank BCA terhadap keberlangsungan dan kemajuan perusahaannya? 1.3. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi manajemen perubahan pada Bank BCA? 2. Untuk mengetahui bagaimana implikasi manajemen perubahan yang diterapkan oleh PT. Semen Gresik terhadap keberlangsungan dan kemajuan perusahaannya? 1.4. Metode Penulisan Makalah ini ditulis dengan menggunakan studi literatur dengan mengambil bahan bacaan di buku dan situs internet. Bahan bacaan tersebut diolah menjadi suatu bentuk tulisan yang menganalisasis suatu kasus.

BAB II KERANGKA TEORI

2.1. Manajemen Perubahan Manajemen Perubahan dalam implementasinya memerlukan waktu dan tujuan yang terencana dan strategis sehingga mampu memberikan manfaat dengan adanya perubahan tersebut. Secara umum, perubahan dalam suatu organisasi sudah merupakan kewajiban tetapi perubahan yang dilakukan oleh tiap-tiap organisasi tidak akan sama dan disesuaikan dengan tujuan dari masing-masing organisasi tersebut. Dalam beberapa teori Manajemen Perubahan banyak dibahas mengenai tahapan maupun cara untuk mengimplementasikannya. Adapun salah satu yang membahas mengenai Manajemen Perubahan ini disebutkan dalam beberapa tahap proses yang diterangkan dan digagas oleh Kurt Lewin (1947). Terdapat 3 langkah utama dalam manajemen perubahan. Langkah-langkah tersebut adalah: 1. Unfreezing 2. Changing 3. Refreezing

2.1.1 Unfreezing Unfreezing apat diartikan mencairkan atau melunakan, dimana pada tahap ini, resistensi dalam perubahan dengan persetujuan dan mampu melewati atau menghindarkan dari ketakutan orang-orang akan perubahan sehingga mampu membuka diri atau menghilangkan ketakutan tersebut. Pemberian informasiinformasi baru diharapakan dapat mencairkan orang-orang yang masih berstatus quo dan akan membuat mereka memilih setuju atau tidaknya akan adanya perubahan yang diberlakukan. Mereka akanmelakukan menunjukkan tindakan yang mengidentifikasikan penilaian mereka. 2.1.2. Changing Changing dapat diartikan merubah, ada yang mengartikan juga dengan moving dimana pada tahapan ini dilakukan manajemen perubahan keseluruhan 4

dari organisasi yang dapat meliputi seperti sumber daya manusia, produk, pelayanan, teknologi informasi, administrasi maupun politik. Sehingga merubah atau menggeser dari situasi yang sudah ada, kesituasi yang sedang dikerjakan atau diterapkan kemudian dikembangkan lagi untuk situasi yang akan datang. 2.1.3. Refreezing Refreezing dapat diartikan merefresh atau memberlakukan perubahan baru tersebut, dimana dalam tahap yang terakhir ini dilakukan penerapan dari perubahan yang baru yang berakibat pada kegiatan rutin yang baru atau menimbulkan kegiatan yang stabil. Lewin megatakan perubahan baru ini jika tidak diimplementasikan akan tidak berumur panjang atau tidak digubris dan akhirnya tidak tercapai. Penerapan perubahan secara umum pada semua lini bisnis dari suatu organisai, dan secara khusus dibahas olehLewin adalah pada orang-orang atau karyawan suatu organisasi seperti melakukan perubahan penglolaan sumber daya manusia dapat dicontohkanseperti melakukan pelatihan, pendidikan terapan, dan reward fasilitas yanglebih baik. Teori Kurt Lewin mengikuti beberapa elemen dasar dari formula dasar strategi perubahan organisasi yang disebutkan sebagai berikut: 1. Mendefinisikan keinginan perubahan. 2. Mengembangkan visi. 3. Membangun konsensus. 4. Identifikasi barrier untuk implementasi. 5. Berjalan tetap pada pembicaraan. 6. Membuat strategi perubahan menyeluruh. 7. Implementasi dan evaluasi. Perubahan dapat terjadi melalui beberapa pengalaman, eksprimen, dan efek balik yang mana hal ini kan dijadikan rujukan/petunjuk dalam mengembangkan organisasi

BAB III GAMBARAN UMUM

Bank Central Asia (BCA) secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Tahun 1998 Bank Central Asia (BCA) di ambang kehancuran, menyusul kerusuhan massal 13-14 Mei 1998, bank yang ketika itu sudah menjadi bank swasta nasional terbesar, selama seminggu digedor (rush) para deposannya. Antrian panjang nasabah di setiap kantor cabang, cabang pembantu dan ATM BCA di banyak kota, waktu itu terlihat mengular hampir ke jalan-jalan raya. Asian Wall Street Journal menyebutkan dana yang ditarik para nasabah BCA itu mencapai belasan triliun, padahal dana likuid bank yang semula dimiliki keluarga Soeharto dan Liem Sioe Liong ini pada waktu itu hanya Rp 11 triliun. Penyebabnya dikabarkan adalah faktor politik yang terkait dengan nama pemilik bank ini. Apapun, pendeknya, ketika itu BCA benar-benar di ujung tanduk. Untuk menyelamatkannya, pemerintah terpaksa menyuntikkan dana

belasan triliun rupiah dan mengambil alih kepemilikannya. Kini, bank yang hampir collapse itu, telah kembali berjaya sebagai bank swasta nasional terbesar di Tanah Air. Begitu persoalan-persoalan berbau politis diatasi, berbondong-bondong bekas nasabah lamanya balik lagi, ditambah dengan nasabah-nasabah baru. Kejayaannya BCA kini bahkan terlihat lebih gemilang, karena berhasil mendominasi pasar consumer banking nasional. Tak banyak yang mengira, proses recovery-nya bisa sedemikian cepat, kecuali kalau kita memperhitungkan kelebihan bank ini dalam hal jaringan dan teknologi informasi (TI) yang sudah dibangun serius sejak awal 1990-an.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Investasi TI untuk Mengantisipasi Perubahan Bank Central Asia (BCA) telah menyadari bahwa pemanfaatan teknologi informasi pada industri perbankan dengan kantor cabang dan nasabah dalam jumlah yang cukup banyak menjadi suatu kebutuhan mutlak. BCA merupakan perbankan swasta nasional yang paling serius dibandingkan dengan bank-bank nasional lain dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Investasi di bidang teknologi informasi ini dimaksudkan agar terjadi keakurasian, kecepatan, mutu layanan, serta keamanan yang menjadi sisi paling penting yang harus secara cermat dikelola. BCA nampaknya sudah mulai menyadari bahwa teknologi akan dapat membantu mereka dalam memperbaiki proses bisnis yang ada dalam perusahaan sehingga investasi yang cukup besar di bidang teknologi informasi tidak akan menjadi suatu masalah bagi perusahaan karena mereka yakin bahwa penggunaan teknologi informasi yang tepat akan dapat meningkatkan profit perusahaan di masa mendatang. Untuk melakukan investasi awal di dibidang teknologi informasi, Bank Central Asia (BCA) harus mengeluarkan biaya investasi dalam jumlah yang cukup besar bahkan sampai jutaan dollar. Pada saat ini dimana sistem teknologi informasi telah bekerja sesuai prosedur, Bank Central Asia (BCA) setiap tahunnya harus mengeluarkan biaya sebesar US$ 40-50 juta dimana dana yang sangat besar tersebut digunakan untuk belanja TI (modem, computer, writer, PC, dsb) sebesar US$ 2025 juta, angka ini belum terhitung untuk belanja mesin ATM, biaya telekomunikasi, membayar hak pakai software dan maintenance fee yang tiap tahun menghabiskan US$ 15-20 juta (Sudarmadi/Abraham Susanto, Majalah Swasembada No 24 tahun 2004). Investasi BCA dalam bidang teknologi informasi sangat dipengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah dalam dollar, hal ini dikarenakan vendor dari sistem yang digunakan BCA merupakan vendor asing sehingga dalam penetapan pembayaran hak pakai atas software dan maintenance fee harus menggunakan kurs dollar sehingga apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah maka BCA harus 7

membayar biaya hak pakai atas software dan maintenance fee dalam jumlah yang relative lebih besar dibandingkan apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar relative stabil. Biaya yang dikeluarkan BCA untuk melakukan investasi di bidang teknologi informasi tidak hanya sampai di situ, tetapi BCA harus mempersiapkan para end user yang nantinya akan menggunakan sistem teknologi tersebut. Persiapan end user tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit hal ini dikarenakan perusahaan harus melakukan pelatihan yang konsisten yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Tidak hanya itu perusahaan juga harus mengeluarkan dana untuk menggaji karyawan dalam melakukan monitoring hasil dari pelatihan yang telah diberikan perusahaan terhadap para karyawannya. Keputusan perusahaan untuk melakukan investasi dibidang teknologi informasi tampaknya telah disadari oleh manajemen BCA untuk dapat bersaing dalam industri perbankan lainnya. Hal ini dikarenakan dalam persaingan yang sangat ketat ini perusahaan harus mempunyai competitive advantage yang dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan tersebut. Di samping itu jumlah kantor cabang dan nasabah yang terus mengalami peningkatan akan mempersulit BCA dalam melakukan kontrol terhadap kelangsungan bisnisnya apabila tidak menggunakan teknologi. Tak bisa dipungkiri, kekuatan jaringan dan TI bank inilah yang membantunya segera bangkit kembali menjadi bank nomor satu. Dengan hampir 800 cabang dan 2 ribu ATM di seluruh Indonesia, bank ini mampu melayani beragam kebutuhan 8 juta nasabahnya. Lewat mesin ATM-nya, para nasabahnya bisa menarik uang tunai, transfer antar rekening, membayar berbagai tagihan, mengisi ulang ponsel, dan berbagai keperluan lain. Kartu Paspor BCA juga memungkinkan orang membayar dengan pola debet dan mengambil uang tunai. Baru saja, BCA meluncurkan virtual ATM dengan menghadirkan layanan internet banking (KlikBCA), sehingga para nasabahnya bisa tetap bertransaksi dari pelosok dunia manapun. Hebatnya, berbagai layanan baru BCA tercipta dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh. Ini dimungkinkan, karena TI di BCA juga

dikembangkan untuk membantu para eksekutifnya mengambil keputusan tepat dan 8

cepat, antara lain dengan penerapan data warehousing dan executive information system (EIS). Implementasi TI di BCA, boleh dibilang memang fenomenal. TI bukan saja berhasil digunakan para stafnya untuk efisiensi biaya, tapi juga untuk menarik pelanggan baru, mengikat pelanggan lama, menjalin kerjasama bisnis, dan menyediakan berbagai layanan baru yang lebih unggul. BCA menerapkan TI bukan cuma untuk efisiensi, tapi sebagai business enabler. Tentu saja, meskipun diakui menonjol, BCA bukan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berhasil memanfaatkan TI untuk meraih keunggulan bisnis. Mungkin saja, ada beberapa bank lain di sini yang sudah sukses

mendayagunakan TI dengan tingkat dan jenis keberhasilan yang berbeda. Tanpa keberadaan mesin-mesin ATM yang sangat fungsional, BCA harus menyediakan jauh lebih banyak tenaga teller untuk melayani sekitar 8 juta pelanggannya. Maklum, teller hanya sanggup melayani hanya sekitar 100 transaksi (beragam transaksi), sedangkan satu mesin ATM bisa menangani 600 ribu transaksi/hari (kalau difungsikan tanpa jeda). Karena tenaga SDM-nya bisa ditekan, buntutnya BCA pun bisa menghemat ruang kantor dan kantor cabangnya. Artinya, ada penghematan biaya secara signifikan. Sementara peningkatan revenue bisa dilihat dari peningkatan jumlah nasabah dan jumlah fee based income yang bisa diraih akibat keberadaan mesin ATM. Sementara kalau dilihat dari sisi eksternal, dengan ATM dan fasilitas internet banking, nasabah tak perlu lagi antri di kounter BCA dan layanan bisa diterima 24 jam. Aksesibilitasnya pun cukup besar. Keuntungan lainnya, beberapa fasilitas transaksi bisa diperoleh tanpa perlu membayar, semisal pembayaran tagihan listrik dan air minum. Nilai tambah lainnya, misalnya kartu paspor BCA bisa digunakan di banyak konter penjualan. Langkah implementasi TI BCA boleh dibilang cukup cerdas. BCA bukanlah yang pertama memperkenalkan mesin ATM dan kartu debit, tapi bank inilah yang menuai sukses dari pemanfaatan fasilitas tersebut. Ketika beberapa bank lain sudah beranjak ke internet banking beberapa tahun lalu, BCA baru meluncurkan layanan internet banking-nya. Ada nilai plusnya, tampilan dan fiturnya mirip ATM BCA, 9

sehingga disebut virtual ATM. Bank Central Asia (BCA) telah sukses dalam implementasikan Enterprise Resource Planning ERP yang merupakan suatu sistem yang terintegrasi. Sebagai dampak dari kesuksesan implementasi ERP tersebut BCA telah mendapatkan banyak keuntungan yang dapat memberi nilai tambah bagi perusahaan. Sebagai indikasi dari banyaknya keuntungan yang didapat dari investasi di bidang teknologi informasi adalah semua transaksi yang dulu dilayani oleh teller sekarang bisa melalui fasilitas elektronik. Secara kuantitatif jumlah pelanggan produk berbasis teknologi informasi di BCA mengalami peningkatan hal ini dikarenakan pada saat ini perkembangan internet di masyarakat terus mengalami peningkatan sehingga fasilitas teknologi informasi yang disediakan BCA untuk para nasabahnya melalui pemberian layanan internet banking tampaknya membuat konsumen merasa nyaman dalam melakukan transaksi. Demikian halnya dengan produk mobile banking BCA, pelanggan dari produk ini terus mengalami peningkatan seiring perkembangan industri hand phone di Indonesia.

4.2. Upaya Melewati Rintangan dengan TI Harus disadari bahwa penetrasi pasar memerlukan upaya pemasaran yang lebih sulit dengan return of investment yang lebih lama. Contohnya, BCA memerlukan waktu bertahun- tahun untuk mencapai ROI setelah melakukan penetrasi pasar, dengan mengoptimalkan segala keunggulan dan memperbaharui teknologi yang ada. Dengan mengandalkan kekuatan infrastrukturnya -- delivery channel dan sistem back office berbasis TI -- BCA bisa dengan cepat dan sukses meluncurkan produk dan layanannya. Mulai dari layanan transaksi ATM, kartu debit, Internet banking KlikBCA dan mobile banking M-BCA. Dimulai sejak 1995, pembangunan infrastruktur TI BCA memakan investasi sekitar US$ 40 juta. Sekarang, setiap tahun BCA diperkirakan menganggarkan US$ 20 juta untuk investasi TI. BCA juga menjalankan strategi komunikasi yang lebih menonjolkan unique selling, bukan komunikasi konvensional. Lebih diintensifkan pada tema isi produk, feature-nya, dan cara memakainya. BCA sebagai late comer yang cerdik melakukan 10

penetrasi pada sistem online banking dan pemanfaatan ATM serta kartu debit. Di segmen itu, sebelumnya sudah ada pemain lain, seperti Citibank, Bank Bali, dan BII tetapi justru BCA yang memetik hasilnya.

4.3. Hasil dari Perubahan Pengimplementasian Enterprise Resource Planning (ERP) pada BCA menyebabkan kinerja perusahaan menjadi lebih meningkat. Hal ini dikarenakan penguunaan teknologi tersebut dapat menciptakan kecepatan dalam bekerja dan juga memberikan tingkat akurasian yang cukup tinggi hal ini tentu akan dapat meningkatkan peroduktivitas perusahaan karena dengan tingkat kecepatan bekerja yang tinggi perusahaan akan memperoleh output yang lebih banyak dalam hal ini perusahaan dengan sumber daya yang tetap akan dapat melayani nasabahnya dalam jumlah yang lebih besar bahkan dengan digunakannya teknologi ini perusahaan dapat mengurangi sumber dayanya tetapi output atau banyaknya nasabah yang dilayani mengalami peningkatan. Jika pada 1998 volume bisnis ATM BCA sebesar Rp 29,7 triliun, pada akhir 2002 sudah mencapai Rp 185 triliun. Kartu debit BCA yang pada Juli 1999 baru mencatat nilai transaksi Rp 1,19 triliun, pada akhir 2002 naik pada angka Rp 8,3 triliun. Lalu, KlikBCA yang pada Agustus 2000 baru meraih volume bisnis Rp 106 miliar, di akhir 2002 mencatat Rp 3,87 triliun. Sementara itu, M-BCA yang mencatat volume bisnis Rp 151 miliar per September 2001, pada akhir 2002 sudah mencapai angka Rp 2,13 triliun. Jika angka-angka yang diungkapkan GM BCA Stephen Liestyo ini benar, artinya pencapaian yang diraih BCA memang jauh memadai dibandingkan investasinya membangun TI. Belakangan, digandeng salah satu vendor software besar, kabarnya BCA malah makin maju lagi dengan berusaha mengimplementasi teknologi terbaru berbasis XML (eXtensible Markup Language), agar sistem-sistem aplikasinya bisa saling "berkomunikasi". Investasi di bidang teknologi informasi ini juga dapat meningkatkan produktivitas perusahan dimana pada tahun 1999 jumlah pegawai BCA sebanyak 23 ribu orang, sementara pada saat ini pegawai BCA hanya sebanyak 21 ribu orang padahal jumlah transaksi yang ada di BCA mengalami peningkatan sebesar tiga kali 11

lipat dari transaksi-transaksi sebelumnya dimana pada saat ini Bank Central Asia (BCA) melayani transksi sebanyak 3,5 juta transaksi per hari (Sudarmadi/Abraham Susanto, Majalah Swasembada No 24 tahun 2004). Selanjutnya, dengan adanya Enterprise Resource Planning (ERP) yang merupakan sistem yang terintegrasi yang memungkinkan semua data yang ada dalam setiap departemen dan kantor cabang perusahaan dapat terintegrasi, telah mempermudah perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan secara detail sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih lengkap. Informasi yang lengkap tersebut akan dapat membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan bisnisnya di masa yang akan datang yang pada akhirnya informasi tersebut juga akan membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan strateginya.

12

BAB V PENUTUP 4.1. Kesimpulan Investasi di bidang teknologi informasi sangat diperlukan secara mutlak bagi perusahaan atau industry manapun meskipun dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi ini perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup. Hal ini dikarenakan investasi tersebut telah banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerja perusahaan untuk jangka panjang dalam menghadapi persaingan global. Penerapan teknologi informasi yang tepat tentu akan memberi nilai tambah bagi perusahaan demikian halnya dengan Bank Central Asia (BCA). Penerapan sistem ERP telah berhasil mengintegrasikan semua kantor cabang dan semua departemen yang ada dalam perusahaan. Kondisi ini menyebabkan perusahaan akan dapat mengetahui secara akurat dan tepat mengenai proses yang sedang terjadi dalam perusahaan dan perlu waktu berapa lama lagi apabila proses tersebut belum selesai. Kondisi ini menjadikan proses yang ada dalam perusahaan menjadi lebih transparan sehingga perusahaan dapat memelihara tingkat kualitas pelayanan yang diberikan kepada para pelanggannya dengan jelas. Dengan pengintegrasian data menjadikan data-data dari kantor cabang dan departemen-departemen yang ada menjadi lebih transparan yang nantinya akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui kondisi internal perusahaan secara keseluruhan yang selanjutnya akan mempermudah perusahaan dalam melakukan pengendalian apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terlebih pada saat ini kondisi perekonomian Indonesia masih belum stabil. Di samping mempermudah perusahaan dalam melakukan pengendalian, investasi di bidang teknologi informasi ini juga dapat memberikan kemudahan kepada perusahaan dalam melakukan forecasting karena adanya data history dalam sistem tersebut dengan demikian perusahaan akan dapat mengetahui kecenderungan produk di pasaran nantinya sehingga mereka dapat menentukan perencanaan strategi terhadap target produk mereka di pasar. 13

Benefit-benefit yang didapatkan perusahaan dengan mengimplementasikan teknologi informasi pada umumnya merupakan benefit yang tidak dapat diukur dengan uang tetapi langsung dapat mendukung kinerja perusahaan. Oleh karena banyaknya benefit yang diperoleh perusahaan baik yang dapat diukur maupun yang tidak dapat diukur dengan uang yang secara langsung dapat mendukung kinerja perusahaan menjadikan BCA tidak menganggap investasi di bidang teknologi informasi ini sebagai cost center dalam perusahaan tetapi lebih menganggap investasi teknologi informasi tersebut sebagai strategic patner perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Implementasi di bidang teknologi informasi ini juga menjadikan proses yang ada dalam perusahaan menjadi lebih terkontrol. Kesuksesan Bank Central Asia (BCA) dalam melakukan investasi di bidang teknologi informasi dimana dapat terlihat dari nilai aset dan jumlah pelanggannya yang terus mengalami peningkatan. Kondisi ini menjadikan bank-bank nasional baik swasta maupun milik pemerintah yang tadinya ragu-ragu untuk melakukan investasi di bidang teknologi informasi menjadi tertarik untuk melakukan investasi padahal kesuksesan implementasi di bidang teknologi informasi dalam sistem yang sama di satu perusahaan belum tentu akan mendapatkan kesuksesan yang sama meskipun kedua perusahaan tersebut bergerak dalam industri yang sama.

14

Daftar Pustaka

Carnal, Colin A. 1999. Managing Change in Organizations Third Edition. Prentice Hall. Moore, William L. 1993. Product Planning Management. McGraw-Hill. Otto, Kevin N. 2001. Product Design. Prentice Hall. Ulrich, Karl T. 2000. Product Design and Development. McGraw-Hill. http://www.erpweaver.com/index.php?option=com_content&view=article&id=89: potret-kebingungan-investasi-ti-&catid=14:aplikasi-bisnis&Itemid=27 http://edwardsimatupang.blogspot.com/2008/01/investasi-informasi-teknologi-itpada.html

15