You are on page 1of 9

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat vital, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi, dan mencuci, air bersih juga digunakan sebagai sarana dalam dunia industri, pertanian, maupun perikanan. Namun tidak semua daerah memiliki sumber daya air yang baik. Daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di tengah lautan misalnya, yang dimana pada tempat-tempat tersebut sangat miskin air tawar yang kemudian digunakan untuk air minum dan pemenuh kebutuhan. Sedangkan di tempat lain yang dirasa sumber airnya melimpah justru air terbuang secara kurang efektif tiap harinya. Hal tersebut tentu akan menimbulkan masalah pada suatu hari apabila kita tidak bijaksana dalam menggunakannya. Terlebih saat musim kemarau, sebagian sumber dan mata air lebih banyak menguap airnya dan menimbulkan kekeringan pada daerah-daerah. Terutama daerah pesisir yang jauh dari sumber mata air, pasti akan sangat kebingungan apabila terjadi kekeringan dan kekurangan air. Tidak hanya itu, bumi sekerang telah mengalami global warming sehingga menyebabkan suhu di bumi meningkat dan terjadinya cuaca yang tidak menentu. Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut. Di Jakarta saja 5 hinga 8 milimeter tiap tahunnya. Ini serius untuk masa depan. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan 25 tahun ke depan lah, lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam.(Hutagalung,2007). Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa volume air laut akan meningkat dan volume air tawar kemungkinan akan berkurang. Di Indonesia sendiri, desalinasi air laut masih dalam tahap pengembangan. Walaupun banyak penelitian yang sudah dapat menghasilkan air tawar dari air laut maupun memanfaatkannya sebagai power supply atau pembangkit listrik seperti pada PT. YTL Jawa Power dan PT. PJB UP Gresik. Apabila hal ini dapat dikembangkan, maka tidak akan tidak mungkin bila hal ini dapat menanggulangi masalah krisis air bersih yang kian waktu kian marak di Indonesia, terlebih pada daerah pesisir dan yang berbatasan langsung dengan lautan.

1.2 Permasalahan 1. Bagaimana cara mengubah air laut menjadi air tawar untuk menanggulangi krisis air di Indonesia? 2. Apakah semua air laut bisa digunakan untuk proses desalinasi menjadi air tawar yang layak untuk kebutuhan sehari-hari?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan karya tulis ini antara lain : 1. Mengetahui besarnya pengaruh air dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. 2. Mengetahui bagaimana cara mengadakan air tawar dengan memanfaatkan air laut. 3. Memberikan sebuah gagasan untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan air bersih di Indonesia.

1.4 Batasan Masalah Dari sekian permasalahan yang ada, tidak mungkin dapat dibahas secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya, dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan. Oleh karena itu, penulis memberikan batasan bahwa tema karya tulis ilmiah yang saya angkat ini merupakan sebuah gagasan dan telaah dari beberapa sumber,bukanlah sebuah penelitian yang saya lakukan sendiri. Jadi saya hanya membahas masalah mengenai bagaimana penganggulangan krisis air bersih yang terjadi di Indonesia yang merupakan daerah kepulauan dengan adanya proses desalinasi.

BAB II TELAAH DAN PEMBAHASAN PUSTAKA

2.1. Air Tawar dan Air Laut Air merupakan komponen penting dalam kehidupan. Sehingga untuk menjamin kelangsungan hidup kita, sumber daya air yang baik merupakan hal mutlak yang kita perlukan. Air sendiri adalah sebuah zat yang ada di alam yang dalam kondisi normal di atas permukaan bumi ini berbentuk cair, akan membeku pada suhu di bawah nol derajat celcius dan mendidih pada suhu seratus derajat celcius. Ahli kimia mendefinisikannya terdiri dari dua unsur yaitu oksigen dengan dua lengan menggandeng hidrogen membentuk satu kesatuan disebut molekul (Pitoyo, 2005). Dalam tubuh sendiri, air merupakan komponen yang dapat menyalurkan media pembawa dengan cara melarutnya nutrisi-nutrisi yang bersama darah akan diedarkan ke seluruh organ tubuh yang membutuhkan. Tidak hanya itu, air juga dapat membersihkan tubuh maupun racun dengan jalan memperlancar ekskresi melalui urin serta air dapat menstabilkan suhu tubuh. Selain air tawar, bumi kita ini juga dilimpahi oleh air laut yang memiliki rasa asin. Hal tersebut dikarenakan banyaknya kandungan garam mineral atau Total Dissolvent Solid (TDS) yang tinggi dalam air laut, yakni dengan kadar salinitas sekitar 50ppt. Garam-garam mineral tersebut berasal dari aliran air sungai yang membawa banyak mineral dan berakhir di laut.

2.2. Desalinasi Air Laut Desalinasi atau desalinization adalah proses menghilangkan kadar garam berlebih dalam air untuk mendapatkan air yang dapat dikonsumsi sebagaimana air tawar. Seringkali proses ini juga menghasilkan garam dapur sebagai hasil sampingan. Dua metode yang paling banyak digunakan adalah Reverse Osmosis dan Multi Stage Flash. Proses desalinasi dengan cara distilasi adalah pemisahan air tawar dengan cara mengubah fase air, sedangkan pada proses dengan membran yakni pemisahan air tawar dari air laut dengan cara pemberian tekanan dan menggunakan membran Reverse Osmosis atau dengan cara elektrodialisa. Disamping alat desalinasi itu sendiri, alat yang

biasa digunakan adalah sistem intake air laut termasuk pompa intake, saringan kasar dan saringan halus, perpipaan air laut, perpipaan air hasil proses (air tawar) dan tangki penampungan, peralatan energi dan sistem distribusi, serta alat-alat pembantu lainnya. Pemilihan proses yang digunakan juga harus menyesuaikan dengan lokasi pengolahan, kualitas air laut, da lain sebagainya sesuai study kelayakan.

2.2.1. Proses Distilasi Pada proses ini, air laut dipanaskan untuk menguapkan air laut kemudian dikondensasikan untuk memperoleh air tawar dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses lain. Proses distalasi dibagi menjadi 3 proses utama, yaitu : multi stage flash distilation, multiple effect distilation, dan vapor compression distilation.

Gambar 1. Kurva tekanan uap air laut dengan konsentrasi garam 3,5% dan panas penguapan.

Pada proses distilasi, air laut digunakan sebagai bahan baku air tawar dan sebagai air pendingin dalam hal ini jumlah air laut yang diperlukan sebesar 8 sampai 10 kali dari air tawar yang dihasilkan. Masalah yang

biasanya timbul pada semua jenis sistem ini adalah kerak dan karat pada peralatan sehingga produksi air tawar akan berkurang karena harus diberhentikan untuk pembersihan.

2.2.2. Multi Stage Flash Distilation Proses desalinasi dengan metode ini, jika air laut yang telah dipanaskan dialirkan ke dalam vesel pada tekanan kecil, sebagian dari air laut yang dipanaskan akan mendidih dengan mengambil panas penguapan dari sisa air laut, sehingga mengakibatkan penurunan sisa air laut atau diebut flash evaporation. Air laut dialirkan dengan pompa ke dalam kondensor melalui tabung penukar panas dan hal ini menyebabkan pemanasan air laut oleh uap air dalam setiap flash chamber. Air lalu dipanaskan dalam pemanas garam dan kemudian dialirkan dalam flash chamber pertama. Setelah mengalami pemanasan mengalir menuju ke tahap bertemperatur rendah melalui bukaan kecil antara tiap tahap yang disebut brine orifice, sementara itu penguapan tiba-tiba terjadi pada setiap chamber, lalu air laut pekat keluar dengan pompa garam. Uap air yang muncul pada tiap tahap mengalir melalui pemisah kabut dan mengeluarkan panas laten ke tabung penukar panas dan kemudian berkondensasi yang disebut destilat atau produk.

Gambar 2. Proses multi stage flash distilation

2.2.3. Desalinasi dengan Proses Osmosis Balik Prinsip dasar metode ini adalah jika dua larutan dengan konsentrasi encer dan pekat dipisahkan oleh membran semi permeable, maka larutan yang encer akan terdifusi melalui membran semi permeable masuk dalam larutan yang pekat sampai terjadi kesetimbangan. Peristiwa ini disebut juga sebagai osmosis. Dengan proses ini, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air lautnya, karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi. Air laut dipompa ke bak untuk mengendapkan zat padat tersuspensi yang lalu dialirkan ke rapid sand filter dan ditampung dalam bak penampung. Dari bak penampung air dipompakan ke preassure filter sambil diberikan zat anti kerak dan pembunuh mikroorganisme. Setelah itu dialirkan ke saringan filter multi media agar partikel halus dan padatan yang masih ada dapat tersaring. Setelah dari filter media tersebut, air dihilangkan warnanya untuk menghilangkan warna dari senyawa yang dapat menyumbat membran. Lalu air yang keluar dari membran osmosis ada dua yakni air tawar dan air buangan garam yang telah dipekatkan. Selanjutnya air tawarnya dipompa ke tamngki penampung dan ditambahkan klorin dengan konsentrasi tertentu agar bebas dari mikroba, sedangkan air garamnya dibuang lagi ke laut.

2.3. Penggunaan dan Manfaat Hasil Desalinasi Pada saat ini, proses desalinasi difokuskan pada penyediaaan air bersih untuk digunakan di wilayah yang memiliki keterbatasan air. Dalam jumlah besar biasanya proses ini memerlukan peralatan yang sangat canggih sehingga sangat mahal dibandingkan dengan penggunaan air tawar dari sungai atau air tanah. Akan tetapi melihat potensi laut yang semakin meluas bukan tidak mungkin jika hal ini kelak akan diterapkan terutama pada negara kepulauan seperti Indonesia, bahkan di Jepang sekarang telah dikembangkan menjadi air minum kemasan. Proses desalinasi ini di Indonesia masih terbatas pada pemanfaatan untuk pemenuhan enrgi seperti pada pembangkit listrik di PT. YTL Jawa Power dan PT. PJB Gresik. Sedangkan International Desalination Assosiation (IDA) secara berkala

menerbitkan Worldwide Desalinating Plants Inventory Reports yang berisi daftar seluruh Instalasi desalinasi di dunia berdasarkan sumber-sumber dari pemasok alat untuk desalinasi. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa teknologi desalinasi yang saat ini banyak digunakan adalah dengan distilasi dan osmosis balik.

Tabel 1. Jenis proses dan kapasitas instalasi desalinasi air laut.

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

3.1. Kesimpulan Air merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan, pemenuhannya tentu sangat diharapkan terlebih di daerah kekeringan dan kekurangan air tawar. Dengan adanya sistem serta metode desalinasi yang menjanjikan untuk menghasilkan air tawar dari air laut adalah sebuah terobosan yang akan meningkatkan kualitas serta kuantitas air yang ada. Karena dengan metode tersebut kita juga dapat mengontrol air hasil desalinasi. Tidak hanya itu, hasil sampingan berupa garam juga dapat dimanfaatkan.

5.2. Rekomendasi Saya harap pemerintah segera mensosialisasikan dan memanfaatkan teknologi yang ada untuk memulai atau mengembangkan metode desalinasi ini. Karena beberapa pelajar, mahasiswa, maupun peneliti tentu sudah ada yang pernah berhasil dalam metode ini. Tidak hanya untuk sekedar penghasil energi, melainkan juga sebagai terobosan baru dalam pemenuhan kebutuhan air entah untuk keperluan domestik maupun industri. Di lain pihak dengan mengubah air laut menjadi air tawar ini, juga dapat menumbuhkan adanya lapangan kerja baru maupun peluang usaha baru. Melihat prospek ke depannya bahwa air tawar semakin berkurang sedang air laut semakin bertambah.

DAFTAR PUSTAKA

Said, Nusa Idaman. 1999. Pengolahan Payau Menjadi Air Minum dengan Tekonologi Reverse Osmosis. Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Said, Nusa Idaman. 1999. Kesehatan Masyarakat Teknologi Peningkatan Kualitas Air. Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi