You are on page 1of 22

Tugas Kelompok

DISUSUN OLEH : KELOMPOK III 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. INTAN PERMATA RIVAI IRMAWATI ISMA AYU LESTARI ITA ERNAMASARI LAILI FITRIANI LINDAH SURIANI MUSRIANA

AKADEMI KEBIDANAN BATARI TOJA WATAMPONE 2013

SEJARAH AGAMA SHINTO


A. Pengertian Shinto adalah kata majemuk daripada Shin dan To. Arti kata Shin adalah roh dan To adalah jalan. Jadi Shinto mempunyai arti lafdziah jalannya roh, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata To berdekatan dengan kata Tao dalam taoisme yang berarti jalannya Dewa atau jalannya bumi dan langit. Sedang kata Shin atau Shen identik dengan kata Yin dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata Yang. Dengan melihat hubungan nama Shinto ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini.

B. Sejarah Shintoisme (agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam. Shintoisme dipandang oleh bangsa Jepang sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang telah berabad-abad hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada mitosmitos yang berhubungan dengan terjadinya negara Jepang. Latar belakang historis timbulnya Shintoisme adalah sama-sama dengan latar

belakang historis tentang asal-usul timbulnya negara dan bangsa Jepang. Karena yang menyebabkan timbulnya faham ini adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan (mitologi) yang dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat digolongkan dalam klasifikasi agama alamiah. Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang. Selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa

disibukkan oleh usaha-usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhienya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok. Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara

Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi. Setelah menghidupkan abad ketujuh ajaran belas Shinto timbul murni lagi di gerakan bawah untuk pelopor

kembali

Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan Badsudo (jalannya Buddha) dengan Kami (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya. Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang

mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.

C. Ajaran Agama Shinto 1. Rumah Tangga Aliran Shinto yang diatur oleh Negara lebih berkembang dari bentuk dasarnya, sedangkan bentuk yang sederhana dan biasa dari Shinto yang ini biasanya terdapat di rumah-rumah orang Jepang. Dasar atau symbol Shinto di dalam rumah tangga ini adalah kamidana (rakdewa), yang banyak ditemukan di ruamah-rumah penduduk. Kamidana meskipun sederhana mengandung symbolsimbol yang angat penting bagi peribaatan keluarga yang biasanya terdapat nama-nama silsilah anggota keluarga. Karena pemujaan kepada leluhur merupakan bagian dari agama kami dan biasanya

juga berisi patung dewa-dewa warisan leluhur mereka ang tinggi nilainya. Kamidana tradisional mengandung obyek-obyek yang diambil dari kuil-kuil besar, salah satunya dari kuil Ise. Pweribadatan kamidana bagi orang Jepang sangat sederhana, pemberian bunga, lampu, kemenyan, makanan atau miniman bisa diletakkan di altar selama beberapa hari. kegiatan harian yang sederhana biasanya

dimulai dengan mencuci tangan sebagai symbol komunikasi dengan jiwa yang suci dan bahkan memberikan kertas doa bisa dilakukan di sana. Pada perayaan penting seperti hari raya, pernikahan, ulang tahun biasanya digelar upacara di kamidana. Meskipun demikian untuk upacara keagamaan di pemakaman misalnya keluarga Jepang tidak pergi ke dewa-dewa atau pendeta Shinto tetapi pada pendeta Budha. Yang istimewa dari agama sinkretis Jepang ini adalah bahwa Shinto untuk hidup, sedangkan Budha untuk kehidupan yang akan datang. Bagi bebrap orang Jepang, munculnya mitos dan ritual dalam agama mereka adalah murni dari bangsanya sendiri. Mereka selalu menghormati mitos-mitos dan ritual pada hari-hari besar Negara atau selama mengunjungi kuil Negara. Agama bagi mereka lebih dari sekedar kegiatan rutin tetapi juga sebuah perhatian besar bagi

kehidupan di masa mendatang sseperti halnya seorang Budha. 2. Kitab Suci Agama Shinto Kitab suci yang tertua di dalam agama Shinto itu adalah dua buah, tetapi disusun sepuluh abad sepeninggal Jimmu Tenno (660sM), kaisar yang pertama, dan dua buah lagi disusun pada masa yang lebih belakang. [4] Yaitu: a. Kojiki : Berisi cerita-cerita dan naluri kuno. Kitab ini di susun

pada tahun 712 M.

b. Nihongi : Berisi cerita-cerita jepang. Kitab ini di susun pada tahun 720 M. c. Yengisiki yang artinya berbagai lembaga pada masa Yengi.

Kitab ini di susun pada abad ke-10 M. kitab ini berisikan kisahkisah purbakala yang bersifat kultus dan doa-doa pujaan yang panjang pada berbagai upacara keagamaan. d. Manyoshiu yang artinya himpunan sepuluh ribu daun. Berisi

rantai, rampai. himpunan kisah-kisah legendaris beserta sajaksajak (4496 sajak) tentang asal-usul kedewaan, asal-usul kepulauan jepang dan kerajaan jepang. Kitab-kitab itulah yang dipakai pedoman oleh para penganut agama Shinto, tetapi kitab-kitab itu tidak dipandang sebagai kitab suci. [5] 3. Ritual Jepang Di Jepang, ritual shinto dalam rangka menghormati dewa matahari dikaitkan dengan Kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan bidang pertanian (Budaya Beras). Disini kan diberikan suatu lukisan mengenai ritual Perayaan Doa Panen (Toshigoi no Matsuri) Inilah ritual dimana doa atas panenan dan kesejahteraan ditujukan kepada dewi kehidupan dan pertumbuhan, leluhur dari keluarga penguasa. [6] Demikian pula, perayaan petik buah pertama (Nii-name) sebagai upacara syukur atas panenan hingga hari ini tetap dirayakan. Ritual Shinto yang sangat misterius ini ditujukan untuk memuja dewata tak dikenal, dan dilakukan dalam kegelapan, dengan kecualian sedikit obordi halaman. Dewi matahari dianggap

menjalankan tugas dari imam-imam dan kaisar menjalankan tugas imam kepala. Kaisar ini mungkin mempunyai hubungan langsung dengan dewata tak dikenal atau malah diidentikan begitu saja dengannya; dan apa yang ia lakukan merupakan misteri bagi semua

orang termasuk dirinya. Para peserta yang berada di luar kuil bagian dalam dianggap turut ambil bagaian dalam persekutuan misterius ini dalam kegelapan dan keselarasan dengan irama musik kuno. Didalam misteri ini, ritual keagamaan diintegrasikan ke dalam kehidupan politik dan ekonomi.[7] 4. Hari Besar Agama Shinto a. Hari raya. Hari raya tradisional Jepang merupakan gabungan dari perayaan sekuer, pertanian, Budha dan Shinto. Saat ini terdapat satu tradisi atau agama yang telah ditetapkan pada hari-hari tertentu dan yang bercampur menjadi satu, berbagai macam festifal tersebut digelar di kuil Shinto setiap tahunnya. b. Tahun Baru. Hari raya yang paling meriah dilaksanakan di Jepang adalah tahun baru. Dahulu, ketika penaggalan bulan masih digunakan tahun baru ini jatuh pada bulan februari. Tetapi saat ini tahun baru jatuh pada tanggal 1 sampai 6 januari. Selama periode ini, kantor-kantor tutup dan orang-orang berkumpul bersama keluarga, masing-masing keluarga membersihkan dan menyiapkan rumahnya untuk memperingati tahun baru.

Kemudian mereka menyantap hidangan yang istimewa dan mempersembahkan untuk leluhur. Candi-candi Budha dibersihkan ditengah malam, gong dipukul sebanyak 108 kali untuk 108 keinginan. Kenudian kelurga tersebut pergi ke tempat-tempat ibadah seperti, kecandi Budha dan ke kuil Shinto. Kemudian pada akhir bulan, semua hiasan tahun baru dibakar pada api unggun.

c. Festifal musim gugur. Gabungan antara perayaan pertanian dan Shinto adalah festifal musim gugur (Niiname-sai) yang diselenggarakan pada tanggal 23-24 Nofember. Pada saat itu kaisar

mempersembahkan buah-buahan pada panen pertama dimusim gugur kepada amaterasu dan kami yang lain diise. Meskipun ini dalam perayaan panen, berbagai macam acara syukuran digelar di Jepang selama Oktober-November. 5. Konsep Tuhan Menurut Shinto a. Kamisama Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu : " Semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atau kekuatan jadi wajib dihormati". Kekuatan supernatural ini disebut dengan istilah KAMI, kemudian ditambahkan kata akhiran SAMA, bentuk hormat untuk nama orang, atau dewa sehingga menjadi KAMISAMA. Sejak awal sebenarnya secara natural manusia sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat dan di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga

kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kamisama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara dan festival budaya. Jadi Kamisama penjelasan mudahnya adalah Tuhan bagi orang Jepang. Kamisama sebagai Tuhan, hidup di segala tempat dan memiliki nama sesuai dengan benda yang ditempatinya. Tuhan yang berdiam di gunung diberi nama Kami no Yama,

kemudian ada Kami no Kawa (Tuhan sungai), Kami no Hana (Tuhan bunga). Pada masa Restoresi Meiji (1868-1912), mulai berdiri banyak sekte baru dari Shinto seperti contohnya Tenrikyo dan Kenkokyo yang biasanya digolongkan sebagai agama baru atau Shinshky. Salah satu keunikan dari Shinto baru ini adalah menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut

monotheisme. Mereka juga memiliki pendiri yang diakui sebagai guru atau nabi dan juga mempunyai ajaran layaknya agama modern. Ajarannya umumnya sangat sederhana serta lebih banyak membahas tentang etika dan perbaikan prilaku bukan dogma atau doktrin, jadi sepertinya lebih dekat ke arah ajaran Buddha atau Confucianisme. b. Jadi Shinto adalah agama polytheisme atau monotheisme ? Bagian ini sepertinya cukup sulit untuk dijawab. Pada intinya agama Shinto percaya pada keberadaan Kamisama. Apakah Kamisama adalah Satu atau Banyak tidaklah terlalu penting bagi mereka. Bagi kebanyakan orang Jepang,

perdebatan antara monothisme dan polytheisme adalah sudah selesai dan hanya cocok digunakan pada masa lalu. Jaman sekarang mana ada orang percaya pada batu atau pohon besar sebagai Tuhan ? c. Bagaimana dengan Dewa Matahari atau Amaterasu Omikami? Ini mungkin adalah bagian yang paling menarik karena paling banyak disebut dalam pembahasan tentang agama Shinto namun nyaris tidak mudah "ditemukan" dalam situasi riil. Perwujudan dewa ini bisa ditemukan dalam sejumlah buku ataupun lukisan kuno namun tidak akan kita temukan di setiap kuil Shinto. Menariknya agama ini tidak mengenal tradisi

pemujaan patung, jadi altar utama kuil tidak akan ditemukan gambar ataupun arca apapun apalagi gambar dewa Matahari. Satu satunya kuil yang saya ketahui khusus dibangun untuk menghormati dewa ini hanyalah kuil Ise Jingu yang notabene merupakan kuil milik keluarga kerajaan. Jadi mungkin dari sinilah mulai muncul penjelasan bahwa Shinto adalah pemuja dewa matahari. d. Hubungan antara manusia dan Tuhan Hubungan antara Kami dengan manusia menurut konsep Shinto juga cukup unik. Tuhan hidup di laut, sungai, sawah dll atau dengan kata lain hidup tidak jauh dari kehidupan mereka sehari hari. Jadi Tuhan bagi mereka adalah bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan. Jadi konsep Tuhan di atas atau langit dan manusia di bumi sepertinya kurang populer untuk kepercayaan Shinto. Mikoshi atau Dashi misalnya sebagai perwujudan dari kereta bagi Kami, yang digotong beramai ramai selama festival di kuil mungkin adalah salah satu contoh menarik. Simbul Tuhan atau "Kereta Tuhan" ini tidaklah diarak dengan hormat dan khidmad namun diguncang guncangkan, dibenturkan,

dibenamkan ke laut serta dinaiki beramai ramai bahkan diduduki pada bagian atapnya oleh beberapa orang selama proses prosesi. Hal yang cukup aneh menurut saya. "Apakah Tuhannya orang Jepang tidak marah ?" Namun kalau kita mengetahui konsep Tuhan dalam agama Shinto maka sepertinya keanehan itu akan terjawab. Konsep kutukan, bencana dan kemarahan oleh Kami sepertinya kurang populer dalan mythiolgi Jepang. Jadi pada kasus bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, banjir atau gagal panen yang

umum terjadi cendrung tidak akan dikaitkan dengan kemarahan atau kutukan atau kemarahan dari Tuhan, era kiamat sudah dekat dll. Wajar saja karena mereka tidak mengenal konsep hari kiamat. 6. Konsep Sorga, Neraka Dan Alam Akhirat Konsep sorga dan neraka ataupun ajaran tentang kehidupan alam akhirat sepertinya adalah hal yang umum ditemukan pada ajaran agama ataupun kepercayaan primitif sekalipun. Shinto sepertinya memiliki tradisi yang sedikit menyimpang. Konsep tentang sorga dan neraka hampir tidak disentuh sama sekali dalam kepercayaan Shinto. Hal ini bisa dilihat dari hampir tidak

ditemukannya ada ritual upacara kematian pada tradisi Shinto. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, ritual dan tata cara pemakaman di Jepang sepenuhnya dilakukan dengan tata cara agama Buddha dan sisanya menggunakan ritual Kristen. Kuburan dan tempat makam juga umumnya berada di bawah organisai kedua agama tersebut. Sepertinya ritual Shinto lebih difokuskan pada kehidupan duniawi atau kehidupan sekarang terutama yang berhubungan dengan alam khususnya keselaran antara manusia dengan alam sekitarnya. 7. Konsep Doa dan Sembahyang a. Tidak mengenal konsep ibadah Shinto kurang begitu akrab dengan aktivitas ibadah dalam arti menyembah dengan tujuan memuji dan mengagungkan kebesaran Kamisama atau Tuhan. Mereka cendrung lebih dekat dengan konsep "doa" yaitu menyembah dengan tujuan "meminta sesuatu" kepada Tuhan seperti agar lulus ujian, diterima bekerja di perusahaan tertentu, dikaruniai kesehatan, umur panjang dan

berbagai permintaan yang bersifat duniawi. Dengan konsep ini tentu saja ibadah bukanlah sesuatu yang wajib dan menjadi keharusan. Kebanyakan tempat ibadah di negara ini, baik Jinja ataupun Tera (Buddha) adalah berfungsi juga sebagai tempat wisata. Jadi kebanyakan pengunjung menjadikannya saat berwisata sekaligus sebagai kesempatan untuk berdoa. Jadi orang yang datang ke kuil dengan niat dari awal untuk ibadah sepertinya sangat jarang ditemukan. Namun aktivitas keseharian yang sangat sibuk membuat aktivitas wisata semacam ini hampir tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam banyak kesempatan. b. Berdoa cukup setahun sekali Seperti yang saya telah tulis di atas, berdoa bukanlah sebuah keharusan sehingga kebanyakan orang sangat jarang berkunjung ke kuil kecuali saat ada perayaan kuil atau saat tahun baru. Jadi secara umum bisa dikatakan kebanyakan orang Jepang berdoa cukup hanya setahun sekali yaitu saat tahun baru. Sehingga bukanlah pemandangan aneh kalau perayaan tahun baru di negara ini cendrung sepi dari hinggar bingar pesta atau perayaan karena kebanyakan penduduk khususnya

golongan muda melewatkan pergantian tahun di kuil dengan berdoa. Keramaian ini bisanya akan berlanjut sampai beberapa hari setelah tahun baru. Pada saat itu kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan ribu orang yang datang memenuhi memadati areal kuil. (Baca : Keunikan perayaan tahun baru di Jepang ). 8. Kuil Shinto a. Terbuka untuk semua orang

Kuil Shinto menganut konsep kebebasan yaitu bebas dari simbul dan doktrin agama. Siapapun bisa bebas untuk

berkunjung tanpa ada kewajiban untuk harus berdoa. Hampir semua bagian dalam areal kuil bisa dimasuki ataupun difoto tanpa ada larangan ataupun pertanyaan apapun apalagi pertanyaan yang menjurus pada hal agama. Dari sebagian besar berbagai tempat ibadah yang pernah saya kunjungi sepertinya tidak ada yang lebih bebas dibandingkan dengan kuil Shinto. Diperkirakan saat ini ada sekitar 80 ribuan kuil yang ada di seluruh negeri dan semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines. b. Sederhana dan menyatu dengan alam Berbeda dengan kuil Buddha, atau Tera yang cendrung megah besar dengan ornament dan koleksi barang berharga dan barang seni melimpah, Kuil Shinto atau Jinja cendrung adalah kebalikannya. Bangunannya cendrung sangat sederhana dan menyatu dengan alam. Dalam altar utama hampir kosong melompong, tidak ada arca, patung atau benda tidak ada benda apapun yang harus disembah sebagai perwujudan Tuhan. Dalam literatur sering disebutkan bahwa di dalam altar terdapat tiga benda utama yaitu cermin, pedang dan permata sebagai simbul dari refleksi diri, kekuatan dan cahaya. Namun ketiga benda itu hampir tidak akan terlihat karena tidak dipajang dengan posisi biasa. Kebanyakan masyarakat umum sepertinya tidak pernah terlalu peduli dengan hal ini. Yang paling mudah terlihat hanyalah guntingan hiasan kertas putir dan sebuah kotak besar tempat menampung uang logam yang dilemparkan peziarah sebelum berdoa yang terletak tepat di depan altar utama.

Banguan kuil umumnya tidaklah besar atau bahkan bisa jadi sangat kecil tidak lebih dari satu meter namun arel kuil bisa jadi sebaliknya karena seluruh gunung ataupun hutan adalah termasuk areal kuil itu sendiri. Di beberapa kuil tertentu yang terletak di atas gunung, di tengah laut, danau ataupun tempat yang sulit di jangkau, biasanya akan dibuatkan banguan atau kuil lain di tempat yang mudah di jangkau. Jadi kuil ini berfungsi sebagai penghubung ke kuil utama jadi peziarah tidak perlu susah payah mendaki gunung atau men yang berjumlah sampai ribuan tangga, seperti Kuil Kotohiragu yang memiliki 1.368 tangga. Konsep sepertinya cukup unik dan sepertinya jarang ditemukan pada kepercayaan atau agama lain. c. Tata cara berdoa menurut Shinto Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangat sederhana yaitu melemparakan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khusus jadi bebas dilakukan kapan saja. Sedikit catatan, bisa saya sebutkan bahwa tata cara doa di kuil Shinto dengan kuil Buddha sangatlah mirip. Yang sedikit berbeda adalah di kuil Buddha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan). Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altara utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang,

dilakukan

tidak

dengan

mencakupkan

tangan

namun

membungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali bukanlah masalah sama sekali. d. Pintu gerbang yang unik Salah satu ciri yang sangat khas dari Jinja adalah bangunan pintu gerbangnya yang terdiri dari dua tonggak kayu atau batu (sekarang kebanyakan berbahan beton bertulang) yang biasanya berwarna jingga. Bangunan ini yang disebut Torii ini bisa ditemukan hampir disetiap sudut dan pelosok Jepang bahkan di tempat terpencil, di puncak gunung ataupun di tengah hutan, di tengah goa atau bahkan di tengah atau dasar laut Klik berbagai photo. Pintu gerbang ini juga kadang di bangun tidak persis di depan kuil namun beberapa ratus meter dari kuil utama sebagai bertanda bahwa tidak jauh dari tempat itu berdiri sebuah kuil Shinto. Namun ada satu hal yang perlu dicatat disini adalah setiap Jinja pasti memiliki Torii namun tidak semua kuil yang berpintu gerbang Torii adalah kuil Shinto (Jinja). Hal ini disebabkan karena ternyata pintu gerbang model ini juga di adopsi oleh beberapa Tera atau kuil Buddha sehingga sama sekali sekali lagi tidak bisa disimpulkan bahwa bangunan berpintu gerbang Torii pasti berarti kuil Shinto. e. Kuil penjaga desa Biasanya di tengah pemukiman penduduk berdiri satu kuil yang berfungsi sebagai kuil penjaga daerah yang sebagai tempat ibadah umum oleh penduduk daerah tersebut. Anggapan sebagian orang asing yang mengatakan bahwa orang Jepang hanya akan berdoa di kuil penjaga yang ada di wilayah atau desanya sendiri dan tidak akan berdoa di kuil penjaga desa atau

tempat lain, sepertinya adalah anggapan yang kurang tepat. Kalau dikaitkan dengan perayaan upacara kuil (matsuri) hal itu mungkin saja benar karena umumnya hanya penduduk desa yang bersangkutan hanya akan ikut perayaan yang

diselenggarakan di desanya sendiri dan tidak akan ikut di perayaan kuil desa lain. Namun dalam hal berdoa setahu saya, sepertinya batasan seperti itu tidaklah ada. f. Tidak ada pembangunan tempat ibadah baru Satu hal lagi yang paling menarik dari Shinto adalah hampir tidak pernah adanya pendirian kuil baru di dalam negeri. Semua bangunan kuil ataupun Tera (untuk agama Buddha) yang ada sekarang ini adalah banguan lama atau kuil baru hasil renovasi dari kuil lama. Sehingga bukan pemandangan aneh kalau pemukiman kota baru hampir bersih dari banguan tempat ibadah Shinto maupun Buddha namun yang ada dan mudah ditemukan justru adalah bangunan gereja atau bahkan mungkin mesjid. D. Kelompok Shinto Secara umum Shinto bisa dikelompokkan menjadi 4 bagian atau kelompok yang masing masing mempunyai keunikannya tersendiri. (Sumber diambil dari Wikipedia). Catatan : pengelompokan ini bukanlah semacam sekte atau aliran namun hanya sekedar penjelasan textstual yang umum ditemukan dalam literatur ilmiah saja sedangkan dalam kondisi nyata masyarakat sehari hari istilah semacam ini sama sekali tidak digunakan. Jadi sub ini hanya sebagai penjelasan tambahan saja. Selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Imperial Shinto (Kych Shinto atau Koshitsu Shinto) Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil saja yang kalau tidak salah 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Umumnya kuil ini berfungsi sebagai tempat untuk menghormati leluhur khususnya keluarga kerajaan serta tempat untuk menghormati Dewa Matahari. Jadi sepertinya sebutan agama Shinto sebagai penyembah Matahari berakar dari kelompok. 2. Folk Shinto (Minzoku Shinto) Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah seperti mityologi tentang Kojiki, terbentuknya negara Jepang dll. Jadi kelompok Shinto ini sangat unik yang bisa dilihat pada kuil yang mereka buat. Jadi jangan kaget kalau Anda menemukan kuil yang penuh dengan ornament dan pernak pernik kucing atau binatang dan benda lainya karena sejarah pendiriannya yang memang berkaitan dengan binatang tersebut. Contoh lain adalah kuil Kibitsu Jinja yang terletak di daerah Okayama, Jepang tengah yang khusus dibangun untuk menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. 3. Sect Shinto (Kyoha atau Shuha Shinto) Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau Kenkokyo. 4. Ko Shinto Kelompok ini sangat tidak umum ditemukan jadi saya sangat kesulitan untuk menemukan contohnya sehingga penjelasannya saya salin secara mentah dari sumber aslinya yang mengatakan aktivitas

kelompok Shinto ini fokus utamanya adalah penyembuhan (healing) dan meditasi. 5. Shrine Shinto (Jinja Shinto) Hampir semua kuil (SHinto) yang ada saat ini hampir sebagian besar dimasukkan ke kelompok terakhir ini. Jadi dari 5 pengelompokan ini seperti sedkit menjadi jelas bahwa ajaran Shinto yang menjelaskan tentang Dewa Matahari hanya ada pada kelompok Imperial Shinto saja yang notabene adalah kuil milik kerajaan, demikian juga dengan berbagai kisah dan legenda seperti Kojiki hanya ada pada kelompok Folk Shinto saja. Jadi penjelasan yang mengatakan Shinto adalah menyembah Dewa Matahari jelas kurang tepat. E. Shinto Di Masa Sekarang Sangat menarik tentu saja karena di saat kebanyakan masyarakat modern dan "beradab" mulai meninggalkan kepercayaan kuno semacam Animisme (baca: Shinto), masyarakat Jepang justru tetap setia mempertahankan dan melestarikannya. Ditengah gencarnya serbuan agama baru yang salah satunya menawarkan monotheisme sebagai salah satu isu utamanya sepertinya kurang begitu menarik minat kebanyakan orang Jepang.. Mengapa Shinto masih tetap eksis di Jepang, beberapa alasan yang bisa saya kemukakan adalah sebagai berikut : 1. Menerima ajaran baru tanpa harus membuang kepercayaan lama Konsep monotheisma salah satu contohnya sepertinya

dewasa ini sudah diterima secara luas oleh kebanyakan orang Jepang. Namun cara pererimaan konsep baru ini tergolong unik, yaitu bukan dengan cara membuang kepercayaan lama namun cukup hanya "memperbaiki dan merevisi" konsep polyteisme saja. Mereka sudah mengenal konsep Kami yang artinya Tuhan.

Karena ajaran Shinto yang tidak "mengenal ajaran", buku kitab suci dan juga nabi atau pemimpin agama, membuat mereka mudah beradaptasi mengikuti perkembangan terbaru, termasuk dengan "seenaknya" mengganti polyteisme menjadi konsep monotheisme. Sebutan Tuhan Pohon, Tuhan Bunga ataupun Tuhan Batu sekarang ini hanya tinggal sejarah saja yang sudah lama ditinggalkan. Jadi pada masa sekarang ini beberapa misi penyebaran agama baru yang masih mengandalkan monotheisme sebaga isu utama sepertinya hampir tidak berguna sama sekali dan menurut saya metode ini hanya cocok di diterapkan pada masa lalu. Dalam masyarakat modern sepertinya Jepang, sepertinya tidak ada orang yang masih menganggap matahari sebagai Tuhan. Mirip dengan transkrip Hindu kuno yang menyebutkan "Hanya ada satu Tuhan tapi orang bijaksana menyebutkannya dengan banyak nama". Sepertinya konsep ini dimiliki juga oleh Shinto. Dewasa ini Kata "Kamisama" seakan sudah menjadi sebutan baku untuk kata Tuhan dan sepertinya untuk agama baru semacam agama Kristenpun harus "mengalah" dengan memakai terjemahan yang sama untuk menunjuk kata Tuhan. Shinto saat ini kebanyakan disebut sebagai No Religion, yaitu suatu konsep baru yaitu "bermoral dan beretika tanpa harus beragama atau Percaya pada Tuhan tanpa harus beragama" 2. Shinto dianggap menjunjung tinggi kebebasan Kebebasan yang dimaksud disini adalah dalam arti luas khususnya dalam hal agama dan kepercayaan. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya bahwa tidak ada keharusan bagi seorang pemeluk Shinto untuk mendatangi kuil dan juga tidak ada keharusan untuk berdoa atau sembahyang di dalamnya dan dilain pihak mereka juga bisa bebas memasuki atau bahkan berdoa di tempat agama lain

tanpa hambatan karena Shinto sendiri tidak memiliki ajaran untuk mengharuskan ataupun melarang hal itu. Hal ini sering dianggap sebagai salah satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh ajaran agama baru. Orang Jepang sama sekali tidak membutuhkan agama dan sepertinya Shinto sangat sesuai dengan keinginan mereka karena dari awal Shinto itu sendiri bukanlah agama dan kuil itu sendiri sering dianggap sebagai simbul kebebasan yaitu bebas dari simbul, doktrin dan dogma agama. 3. Menjunjung tinggi toleransi Ketaatan yang tinggi terhadap suatu agama atau kepercayaan bisa melahirkan kefanatikan. Kefanatikan dalam satu sisi bisa bermakna positif namun bisa juga sebaliknya. Karena agama di Jepang dianggap tidak lebih dari kebiasan, tradisi atau budaya semata maka sifat fanatik yang berlebihan terhadap agama tertentu khususnya Shinto nyaris tidak ada. Agama apapun bisa berkembang dengan bebas dan damai di negara tersebut tidak terkecuali. Pluralisme agama sepertinya nyaris diterima tanpa ada hambatan berarti. Banguan kuil Buddha dan Shinto yang berdekatan lokasi satu sama lain mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu contoh kecil. Contoh mudah adalah komplek kuil Nikko di Jepang utara serta Kuil Kiyumizu dera di Kyoto, Jepang bagian tengah. Di tempat ini kita bisa menemukan kedua kuil ini berdiri dalam areal yang sama. Kompek kuil tersebut sangat terkenal karena termasuk warisan dunia (World Heritage Site). Namun tentu saja bukan karena faktor toleransi agama, tempat ini dijadiakan warisan dunia namun karena keindahannya. Keindahan ditambah toleransi, sepertinya merupakan paduan yang lengkap. Contoh lain sepertinya terlalu panjang untuk disebutkan disini.

4. Kepercayaan lama dirasa lebih memahami permasalahan mereka sehari hari Selain "kebebasannya", agama ini juga diterima secara luas karena dirasa lebih dekat atau lebih "memahami" permasalahan mereka sehari hari. Misalnya berbagai festival atau upacara budaya yang ada seperti festival tanam padi, pergantian musim, meresmikan rumah baru atau bahkan ritual peluncuran produk baru untuk kasus yang lebih modern. Bahkan saat pertandingan piala dunia, sejumlah anak datang ke kuil dan meminta pendeta untuk mendoakan atau memberkati tim nasional mereka. Hal ini umum terjadi dalam tradisi Shinto. Kemudian konsep "Omamori" atau jimat keberuntungan, jimat lulus ujian, mendapat pekerjaan, usaha lancar dll dirasa lebih dekat dengan kehidupan riil yang tentu saja dilarang dan diharmkan oleh agama baru. Kehiduapan mereka sehari hari tampaknya sudah sangat ketat dengan batasan norma dan aturan sehingga sulit rasanya kalau harus ditambah dengan aturan baru dalam hal kepercayaan dan agama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rifai Muhammad. Perbandingan Agama. PT Wicaksana, Semarang, 1980. 2. Religions Originating in China and Jepang. 3. Joesef Souyb. Agama-Agama Besar di Dunia. Pustaka Alhusna.

Jakarta. 1983 4. Mariasusai Dhavamony, Fenomologi Agama, Kanisius: Yogyakarta, 1995, Hlm. 170-171 5. Masaharu Anesaki, Histori of Japanese Religion, Tokyo, 1963, hlm. 33. 6. Arifin, Muhammad, H, Prof, M.Ed, Mengguak Misteri Ajaran AgamaAgama Besar, GT. Press, Jakarta. 7. Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama, 8. Djamannuri, Agama Jepang, PT. Bagus Arafah, Yogyakarta, 1981 9. Huston Smith, Agama-agama manusia, Yayasan Obor Indonesia; Jakarta, cet ke-6, 2001.