You are on page 1of 3

SULITNYA MENGELOLA KEKAYAAN

NEGARA

Kalau kita diberi uang oleh orang tua atau mertua untuk membeli barang, tentu
akan ditanya untuk beli apa. Biasanya akan terjadi diskusi mengenai perlu
tidaknya barang tersebut dibeli. Nah, setelah setuju barang tersebut dibeli,
persoalan selanjutnya adalah berapa dan dimana akan dibeli. Demikian juga
setelah barang dibeli tentu akan dimintakan pertanggungjawabannya. Proses yang
sama juga dilakukan dalam pengadaan barang pemerintah. Bahkan lebih rumit dan
panjang birokrasinya. Setelah barang tersebut dibeli berarti pula akan menambah
jumlah kekayaan negara. Selanjutnya adalah mengelola barang tersebut sebagai
barang milik negara.
Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Lingkup pengelolaan barang
milik negara meliputi: perencanaan, pengadaan, penggunaan, pemanfaatn,
pemeliharaan (pengamanan), penilaian, penghapusan, pemindahtanganan,
penatausahaan, dan pengawasan.
Setiap tahap pengelolaan mempunyai aturan tersendiri yang harus dipatuhi.
Demikian juga akan banyak bersinggungan dengan aturan lain berkaitan dengan
pengelolaan barang milik negara. Sebagai contoh pada saat pengadaan barang
akan menggunakan aturan pengadaan barang/jasa pemerintah yaitu Keppres No.
80 tahun 2003. Kepemilikan barang ini juga akan berkaitan dengan legalitas yang
menunjukan bukti-bukti sah atas kepemilikan barang tersebut. Belum lagi untuk
mengetahui nilai kekayaan negara tentu diperlukan kompetensi akuntansi untuk
melakukan apraisal baik nilai buku ataupun nilai pasar sekarang.
Pengelolaan kekayaan negara merupakan pekerjaan besar. Melibatkan banyak
disiplin ilmu seperti ahli pengadaan barang/jasa (procurement analyst), hukum,
akuntasi, dan appraisal (penilai). Pantaslah kalau Direktorat Pengelolaan
Kekayaan Negara didukung oleh sumber daya manusia yang punya kompetensi
baik. Apalagi untuk mengelola kekayaan negara dalam bentuk penyertaan modal
negara (PMN) di beberapa BUMN atau bahkan di perusaan swasta.
Untuk mengetahui betapa panjang siklus pengelolaan kekayaan negara, berikut
adalah gambaranya. Pertama yang harus dilakukan oleh pengguna barang milik
negara adalah melakukan perencanaan kebutuhan disusun dalam Rencana Kerja
dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA KL) dengan memperhatikan
ketersediaan barang milik negara yang sudah ada. Perencanaan ini harus
berpedoman pada standardisasi barang dan standardisasi kebutuhan barang/sarana
prasarana perkantoran.
Sesuai dengan Keppres No. 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang/jasa
pemerintah, pengadaan barang berdasarkan prinsip-prinsip efisien, efektif,
terbuka, dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel. Disinilah
peran ahli pengadaan dibutuhkan sehingga tidak merugikan pemerintah sekaligus
mampu menumbuhkan dunia usaha. Saat ini pengadaan (procurment) belum
dianggap sebagai disiplin ilmu tersendiri, meskipun dinegara maju sudah menjadi
profesi tersendiri. Kedepan dengan semakin kompleks dan tuntutan untuk
membuka pasar lebih besar peran ahli pengadaan sangat dibutuhkan.
Setelah barang dibeli melalui pengadaan, langkah selanjutnya adalah penggunaan.
Sesuai dengan RPP pengelolaan barang milik negara, status penggunaan barang
milik negara ditetapkan oleh pengelola barang. Penetapan status ini dengan
memperhatikan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan dan
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Selain penggunaan ada lagi istilah pemanfaatan yaitu lebih kepada pemanfaatan
diluar tugas pokok dari penggguna barang. Pemanfaatan barang milik negara
selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan setelah pengguna barang
mendapatkan izin pemanfaatan dari pengelola barang. Bentuk-bentuk
pemanfaatan barang milik negara dapat berupa: sewa, kerja sama dengan pihak
lain, dan bangun guna serah (built, operate, and transfer/BOT). Menurut RPP
pengelolaan barang milik negara, boleh disewakan kepada pihak lain sepanjang
menguntungkan. Jangka waktu penyewaan paling lama lima tahun dan dapat
diperpanjang. Sedangkan hasil penyewaan merupakan penerimaan negara dan
seluruhnya harus disetorkan ke kas negara.
Sering diberitakan oleh media masa barang milik negara digugat oleh pihak
ketiga. Ketika maju ke pengadilan pemerintah kalah sehingga disita. Hal ini
terjadi karena kurangnya bukti-bukti kepemilikan berupa sertifikat. Untuk itu
dalam rancangan PP tentang pengelolaan barang milik negara diatur mengenai
pengamanan berupa administrasi, hukum, dan fisik. Langkah ini dimaksudkan
sebagai tindakan preventif agar barang milik negara tidak berpindah tangan ke
pihak lain yang tidak berhak.
Dalam rangka menyusun neraca pemerintah perlu diketahui berapa jumlah aset
negara sekaligus nilai dari aset tersebut. Untuk nilainya maka barang milik negara
secara periodik harus dilakukan penilaian baik oleh pengelola barang ataupun
melibatkan penilai independen. Sehingga dapat diketahui nilai barang milik
negara secara tepat. Untuk penilaian berupa tanah dan atau bangunan
menggunakan patokan nilai jual obyek pajak.
Setiap barang mempunyai umur pakai. Biasanya setelah melewati masa pakai
akan dilakukan penghapusan. Sebelum dilakukan penghapusan barang bergerak
ada beberapa pertimbangan atau alasan-alasan yaitu: pertimbangan teknis seperti
rusak, pertimbangan ekonomis seperti surplus, dan karena hilang/kekurangan
perbendaharaan/kerugian yang disebabkan kelalaian atau force majeure.
Sedangkan penghapusan barang tidak bergerak milik negara pertimbangannya
adalah: rusak berat, terkena planolgi kota, kebutuhan organisasi karena
perkembangan tugas, penyatuan lokasi.
Ada beberapa bentuk-bentuk penghapusan yaitu penghapusan secara periodik
karena penyusutan yang dilakukan sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.
Penghapusan barang untuk menghapuskan dari daftar inventaris yang akan
ditindak lanjuti dengan pemusnahan barang. Dan hal sama juga bisa
ditindaklanjuti dengan pemindahtanganan seperti penjualan, tukar menukar,
hibah, dan dijadikan penyertaan modal negara.
Untuk pemindahantanganan atas tanah/bangunan dilakukan atas persetujuan DPR,
kecuali tanah/bangunan yang terletak dilokasi yang tidak sesuai lagi dengan tata
ruang wilayah dan penataan kota. Tanah/bangunan diperuntukan bagi pegawai
negeri atau untuk kepentingan umum. Untuk bangunan yang akan
dibongkar/diganti dan anggaran untuk penggantiannya telah tersedia, sehingga
harus dihapuskan.
Untuk tertib administrasi, pengguna barang wajib melakukan pendaftaran dan
pencatatan/inventarisasi barang milik negara dalam daftar inventaris barang
menurut penggolongan barang dan kodefikasi barang yang ditentukan oleh
pengelola barang. Kegiatan ini disebut sebagai penatausahaan yaitu rangkaian
kegiatan yang meliputi pencatatan, pendaftaran, pembukuan, dan pelaporan
barang milik negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebagai langkah akhir
dari pengelolaan barang milik negara adalah berupa pengawasan/pengendalian.
Sehingga barang milik negara tetap aman dan dapat digunakan dan dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Semoga.
Asr. Imro