You are on page 1of 40

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Tumor tulang atau neoplasma tulang adalah neoplasma yang agak jarang
diketemukan. Insidens tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh
tumor ganas yang ada dan hanya 1,5% dari seluruh tumor ganas organ. Insidens dari
beberapa neoplasma tulang berkaitan dengan usia, misalnya Osteosarkoma yang
terjadi kebanyakan pada anak dan dewasa. Namun penanganan penyakit ini belum
maksimal karena penyebabnya belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Yang
biasa dilakukan sekarang ini adalah mengobati, mengganti, dan mengamputasi bagian
yang terkena tumor. Sejak tahun 1996 sampai 2005 tercatat 120 pasien yanag
menderita tumor tulang jenis ini. Pada tahun 2006 terdapat 44 kasus osteosarcoma,
atau sekitar 3-4 kasus perbulannya. Meski terlihat tidak terlalu menonjol, semenjak
ada penanganan yang lebih intensif untuk mendiagnosis tumor tulang dalam bentuk
clinic pathology conference (CPC), kasus osteosarcoma terus bertambah. Akan tetapi
keberadaan tim CPC masih terbatas, selain itu keterlambatan penanganan, biaya
pemeriksaan dan pengobatan yang masih sangat tinggi menjadi kendala penanganan
osteosarcoma. Selain itu tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih
minim terhadap penyakit tersebut menyebabkan penderita sering mencari pengobatan
alternative. Hal itu sering malah memperparah dan memperluas tumor tulang yang
diderita.1
Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa pemicu terbesar terjadinya tumor tulang
adalah factor genetika. Gejala awal yang umum berupa nyeri berkepanjangan pada
tulang. Nyeri ini bias jadi muncul sebagai akibat trauma benturan, tetapi bias juga
tidak. Tidak jarang ditemukan penderita pada awalnya justru tidak merasa nyeri,
namun terjadi pembengkakan pada tulang. Uniknya, tumor ini potensial menyerang
penderita berusia di bawah 20 tahun.1
Neoplasma benigna tulang ditangani dengan cara eksisi atau kuretase. Defek
tulang ditutup dengan tandur tulang. Neoplasma musculoskeletal primer yang ganas
secara umum ditangani dengan cara pembedahan yang biasanya disertai radioterapi
dan kemoterapi.2
Sel-sel tumor menghasilkan faktor faktor yang dapat merangsang fungsi
osteoklas, sehingga menimbulkan resobsi tulang yang dapat terlihat pada radiogram.
Juga ada beberapa tumor yang menyebabkan peningkatan aktivitas oesteoblas dengan
peningkatan densitas tulang yang juga dapat terlihat pada radiogram. Pada umumnya
tumor tumor tulang mudah dikenali dari adanya massa pada jaringan lunak disekitar
tulang, deformitas tulang, nyeri dan nyeri tekan, atau fraktur patologis. Tumor- tumor
tulang primer dapat jinak atau ganas, tumor yang jinak lebih sering terjadi, tetapi
tumor – tumor yang ganas seringkali berakibat fatal. Tumor tumor ganas cenderung

2

tumbuh cepat, menyebar dan menginvasi secara tidak beraturan. Tumor tumor
semacam ini paling sering terlihat pada anak anak remaja dan dewasa muda.
Sejumlah neoplasma dari jaringan jaringan lain dapat menyebar ke tulang melalui
aliran paru, tiroid, ginjal dan vesika urinaria. Tulang yang paling sering terkena
adalah os vertebra, pelvis, costa, sternum dan humerus proksimal.2


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini
adalah pemeriksaan dan radio diagnostic tumor tulang.


1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan umum pada tulisan ini adalah mengetahui pemeriksaan dan hasil radiologi
dari tumor tulang.

1.3.2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusu dari tulisan ini adalah untuk mengetahui gambaran gambaran dari
setiap pemeriksaan radiologi tumor tulang.

1.4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari tulisan ini adalah :
1. Bagi mahasiswa, tulisan ini dapat digunakan sebagai saran untuk meningkatkan
wawasan dan pengetahuan tentang gambaran radiologi tumor tulang.
2. Bagi tenaga kesehatan, tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan
masukan untuk mengenal pemeriksaan radiologi dan hasil gambaran radiologi
tumor tulang.
3. Bagi masyarakat, untuk meningkatkan pengetahuan tentang gejala tumor tulang
dan pemeriksaan yang diperlukan dalam mendeteksi tumor tulang.







3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang yang tidak
normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang utama, seperti osteosarkoma,
chondrosarkoma, sarkoma Ewing dan sarkoma lainnya.3
2.2. Insidens
Insiden terjadinya dari seluruh tumor tulang primer : 65,8% bersifat jinak dan 34,2%
bersifat ganas, ini berarti dari setiap tiga tumor tulang terdapat satu yang bersifat ganas. Tumor
ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh tumor ganas yang ada dan hanya 1,5%
dari seluruh tumor ganas organ. Perbandingan insiden tumor tulang pada pria dan wanita adalah
sama. Tumor jinak tulang primer yang paling sering ditemukan adalah osteoma (39,3%),
osteokondromo (32,5%), kondroma (9,8%) dan sisanya adalah tumor tulang jinak yang lain.
Osteogenik sarkom (48,8%) merupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering
ditermukan, diikuti giant cell tumor (17,5%), kondrosarkomo (10%) dan sisanya adalah tumor
tulang ganas yang lain.3,4,5
Tabel Insidens tumor Jinak dan tumor Ganas primer pada tulang




2.3. Etiologi
Penyebab pasti dari tumor tulang pada anak belum diketahui secara pasti. Tetapi ada
beberapa faktor pencetus yang bisa menyebabkan terjadinya tumor tulang, diantaranya :-1
 biasanya berhubungan dengan penyakit paget
 adanya terapi radiasi pada penyakit lain
 Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
 Keturunan, Contoh faktor genetika yang dapat meningkatkan resiko kanker tulang
adalah:
1. Multiple exostoses
2. Rothmund-Thomson sindrom
3. Retinoblastoma genetik
4. Li-Fraumeni sindrom
Tumor Jinak Tumor Ganas
Jenis Insidens Jenis Insidens
Osteoma 39,3% Osteogenik Sarcoma 48,8%
Osteokondroma 32,5% Giant cell Tumor 17,5%
Kondroma 9,8% Kondrosarkoma 10%
DLL 18,4% DLL 23,7%

4

 Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya, seperti : penyakit paget (akibat pajanan
radiasi ).
2.4. Klasifikasi
Klasifikasi menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas kriteria histologis, jenis
diferensiasi sel sel tumor yang diperlihatkan dan jenis intraseluler matriks yang diproduksi.
Dalam hal ini dipertimbangkan sifat sifat tumor asal usul sel serta pemeriksaan histologis
menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas. Sel sel dari muskuloskeletal berasal dari
mesoderm tapi kemudian berdeferensiasi memjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas,
fibroblas dan mieloblas. Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan atas
sel, yaitu bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogenik, meskipun demikian terdapat
kelompok yang tidak termasuk dalam kelompk tumor yaitu kelainan reaktif (reaktif bone)
atau harmatoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas. 4

Klasifikasi Tumor Tulang Menurut WHO
Asal Sel Jinak Ganas
Osteogenik


Osteoblatoma
Osteoma
Osteoid Osteoma

Osteoblatoma
Osteosarkoma
Parosteal osteosarkoma
Koundrogenik Kondroma
Osteokondroma
Kondrosarkoma
Kondrosarkoma jucsta
kortikal
Giant cell tumor Osteoklastoma
Mielogenik

Sarkoma Erwing
Sarkoma reticulum
Limfosarkoma Mieloma
Vaskuler


Intermediate:
Hemangioma – endotelioma
Hemangioma perisitoma
Hemangioma
Limfangioma
Tumor glamous
Angiosarkoma
Jaringan lunak Fibroma desmoplastik Fibrosarkoma
Liposarkoma
Mesenkimoma ganas
Sarkoma tak berdeferensiasi
Tumor lain Neurinoma Neurofibroma Kardoma
Adamantinoma
Tumor tanpa klasifikasi Kista soliter
Kista aneurisma
Kista jucsta artikuler


5

Defek metafisis
Granuloma eosinofil
Displasia Fibrosa
Miositis eosifikasi

Beberapa hal yang penting sehubungan dengan penetapan klasifikasi yaitu :-
1. jaringan yang mudah menyebar tidak selalu harus merupakan jaringan asal.
2. tidak ada hubungan patologis atau klinis dalam kategori khusus
3. sering tidak ada hubungan antara kelainan jinak ganas dengan unsur unsur jaringannya,
misalnya ostema dan osteosarkoma.
Beberapa tumor hanya disebut dalam suatu kelompok yang sederhana misalnya
Osteosarkoma.
2.5. Patofisiologi
Gambaran patologik yang penting untuk meramalkan perjalanan klinis dan menentukan
cara penanggulangannya ialah banyaknya mitosis dan banyaknya nekrosis. Tumor ganas ini
dibagi dalam tiga derajat maliknitas. Bila klien mendapat terapi optimal, prognosis pertahanan
hidup setiap lima tahunnya, berdasarkan derajat keganasan tumor dari derajat I – III adalah 90%,
70%, dan 45%. Banyaknya mitosis dari derajat I – III berturut-turut adalah < 4/2 mml2, 4-25/2
mm2 (2mm2 artinya banyaknya mitosis pada lapangan mikroskopik 2mm2).5
Tumor tulang ganas di golongkan berdasarkan TMM (Tumor, Nodus, Metastasis), yaitu
penyebaran setempat dan metastatis. Klasifikasi tumor tulang menurut Sjamsuhidajat R (1997)
sebagai berikut :-
a. T = Tumor Induk
b. TX = Tumor tidak dapat dicapai
c. T0 = Tidak ditemukan tumor primer
d. T1 = Tumor terbatas didalam periosteum
e. T2 = Tumor menembus periosteum
f. T3 = Tumor masuk organ atau struktur seputar tulang
g. N = Kelenjar limfe regional
h. N0 = Tidak ditemukan tumor di kelejar limfe
i. N1 = Tumor di kelenjar limfe regional
j. M = Metastatis jauh

6

k. M0 = Tidak di temukan metastasis jauh
l. M1 = Metastasis jauh
2.6. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala (symptom) untuk kasus tumor tulang ini beragam, tergantung lokasi terjadi
dan ukuran dari tumor. Gejala biasanya muncul secara bertahap. Adapun gejala-gejala umum
yang kerap ditemui antara lain :-6
 Nyeri yang intermitten pada lokasi tumor, kemudian berkembang menjadi nyeri yang
amat hebat
 Teraba massa
 Daerah yang terkena terasa berat
 Keterbatasan pergerakan
 Fraktur patologi
 Meningkatnya LDH (Lactic, dehidrogenase)
 Pembengkakan pada area tumor
 Kehilangan berat badan (dengan kasus yang tidak dapat dijelaskan);
 Rasa lelah tanpa sebab;
 Kesulitan bernafas;
 Area yang terkena biasanya hangat karena vaskularisasi pada area tersebut meningkat.
2.7. Diagnosis
Untuk menetapkan diagnosis Tumor Tulang, dibutuhkan beberapa hal yaitu :-7
2.7.1. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mengetahui riwayat penderita, apakah sebelumnya sudah ada
riwayat kelainan (bawaan) atau trauma. Faktor yang dipertimbangkan untuk anamnesis
ini antara lain: umur, lama dan perkembangan tumor, nyeri, serta pembengkakan. Nyeri
menjadi keluhan utama bagi penderita tumor ganas, karena menjadi indikator adanya
ekspansi tumor yang cepat dan terjadi penekanan pada jaringan disekitarnya, perdarahan
atau degenerasi.
2.7.2. Pemeriksaan klinik
1. Lokasi
Beberapa jenis tumor mempunyai lokasi yang klasik dan tempat tempat predileksi
tertentu seperti didaerah epifisis, metafisis tulang atau menyerang tulang tulang tertentu
misalnya osteoma pada daerah tengkorak, osteogenik sarkoma pada daerah metafisis,
osteoblatoma pada daerah vertebra.
2. Besar, bentuk, batas dan sifat tumor.
Tumor yang kecil kemudian suatu tumor jinak, sedangkan tumor yang besar
kemungkinan adalah tumor ganas, penting pula diperhatikan bentuk tumor apakah

7

disertai pelebaran pembuluh darah atau ulkus yang merupakan karateristik suatu tumor
ganas, tanda tanda efusi sendi mungkin dapat ditemukan pada tumor yang berdekatan
dengan sendi.
3. Gangguan pergerakan sendi
Pada tumor yang besar disekitar sendi akan memberikan gangguan pada pergerakan
sendi.
4. Spasme otot dan kekakuan tulang belakang.
Apabila tumor terdapat pada tulang belakang, baik jinak atau ganas, dapat memberikan
spasme atau kekakuan otot tulang belakang.
5. Fraktur patologis
Beberapa tumor ganas dapat memberikan komplikasi fraktur oleh karena terjadi
kerapuhan pada tulang sehingga penderita akan datang dengan gejala fraktur.
2.7.3. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan ini dilakukan secara cermat bila ada keluhan dari penderita untuk
menentukan apakah gangguan diakibatkan penekanan tumor pada saraf tertentu.
2.7.4. Pemeriksaan Biopsi
Tujuan untuk memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan histologis, untuk
membantu menentapkan diagnosisi serta staging tumor. Waktu pelaksanaan biopsi sangat
penting sebab dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologis yang dipergunakan pada
staging. Dikenal dua metode pemeriksaan biopsi yaitu secara tertutup dan secara terbuka.
Biopsi tertutup dilakukan dengan menggunakan jarum halus (fine nidle aspiration biopsi)
untuk melakukan stadiodiagnosis, merupakan salah satu cara biopsi untuk melakukan
diagnosa pada tumor. Metode biopsi melalui tindakan operatif. Biopsi dapat dilakukan
dengan cara yaitu biopsy insisional yang dilakukan melalui pengambilan sebagian
jaringan tumor dan biopsi eksisional yang dilakukan dengan mengeluarkan seluruh tumor
baik dengan hanya seluruh jaringan atau dikeluarkan bersama sama dengan amputasi.
2.7.5. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis (foto polos, scanning radionuklida, CT-Scan, MRI-scan, PET-
scan) penting untuk menegaskan diagnosis.
 Rontgen (x-ray) tulang yang terkena,
 CT-scan tulang yang terkena,
 MRI-scan untuk mengetahui struktur dalam tulang yang terkena,
 PET-scan bagian tulang yang terkena,
 CT-scan dada untuk melihat apakah ada indikasi penyebaran ke paru-paru,
 Scanning tulang untuk melihat penyebaran tumor.

8

 Skrening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
2.7.4.1. Pemeriksaan Radiodiagnostik Berdasarkan Tumor
1. Osteoid Osteoma8
OSTEOID OSTEOMA:
Definisi:
Merupakan tumor osteoblastik jinak terdiri dari inti osteoid dengan vaskularisasi
tinggi dan merupakan tumor jinak tulang dengan potensi pertumbuhan yang
terbatas.
Insidens:
Pria : Wanita = 2:1 10-25 tahun
Patologi:
Didapat sebagai jaringan yang seluler, banyak vaskularisasinya. Jika nidus
diangkat,terlihat gambaran lingkaran merah tulang trabekular biasanya kurang
dari 1 cm. Kelainan terdiriatas jaringan seluler dengan tingkat vaskularisasi yang
tinggi dari jaringan tulang yang belummatang serta jaringan osteoid
Lokasi:
Dapat mengenai semua tulang, tetapi biasanya pada tulang panjang seperti
Femur danTibia. Caput femur merupakan salah satu tempat yang paling sering
didapat.
Gejala klinis:
i)Nyeri bersifat menetap/putus-putus yang tidak hilang oleh istirahat
ii)Nyeri biasanya di malam hari
iii)Nyeri dapat bersifat ringan sampai hebat
iv)Nyeri dapat berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah







9

Gambaran X-Ray polos

Nidus radiolusen dikelilingi skelerosis , periosteal jinak menyebabkan
Penebalan korteks


Osteoid osteoma pada tulang femur

Intramedullary osteoid osteoma pada proximal tulang femur /nidus radiolusen, sklerosis ringan mengelilingi lesi .

10


Osteoid osteoma pada distal humerus fosa olekranon

Osteoid osteoma pada tulang tibia

Tidak tampak osteoid osteoma pada acetabulum kiri pada gambaran x ray
Plain X-Ray:
 Nidus lusen yand dikelilingi oleh zona yang ditandai dengan sklerosis
 Nidus yang akan demonstrasikan mineralisasi atau ossifikasi tulang dari senter ke luar
yang akan memberi gambaran zona berdensitas dalam nidus
 Nidus yang mengalami ossifikasi maksimal mungkin akan diselebungi sklerosis dan
sukar dilihat dari foto x-ray
 Tulang periosteal pada umumnya solid dan jarang berlammela
 Kortikal dan subperiosteal osteoid osteoma pada umumnya lebih berasosiasi dengan
sklerosis yang reaktif berbanding dengan tumor medulla
 Reaksi periosteal yang bersinambungan akan diperlihatkan sebagai penebalan korteks

11

 Intrakapsular osteoid osteoma sukar untuk diidentifikasi karena tidak ada periosteum di
region intrakapsular maka reaksi periosteal tidak berlaku
CT SCAN

Gambaran osteoid osteoma pada ct-scan

Osteoid osteoma pada distal humerus, gambaran nidus dikelilingi mineralisasi extensive

Osteoid osteoma tulang tibia

12


Osteoid osteoma pada tibia dan sklerosis yang ekstensif yang merusak kanan kanal tibia

Osteoid osteoma kelihatan pada acetabulum kiri pada gambaran ct -scan
CT Scan:
 Nidus kelihatan dengan lebih jelas dengan margin perifer yang regular . gambaran pada ct-
scan menunjukkan nidus kelihatan dengan jelas walaupun diselebungi zona sklerosis
MRI


MRI
 MRI sepatutnya dikerjain dengan gadolinium karena nidus akan kelihatan dengan lebih
jelas dengan godalinium
 Osteod osteoma pada MRI mungkin dapat mimik penemuan tumor maligna seperti
Ewing Sarcoma / osteomyelitis disebabkan karena adanya sum-sum tulang dan soft tissue
edema yang ekstensif

13

 CT-scan lebih berguna untuk mengidentifikasikan nidus apabila terdapat edema yang
ektensif
 Osteod osteoma merupakan intensitas mediator pada T1
 Intensitas tinggi pada area T2 nidus dan edema yang mengelilingnya
 Reactive marrow edema may obscure the lesion on T2
 MRI bagus untuk mendeteksi synovitis dan effusi pada sendi dan intraartikular osteoid
osteoma
Bone scan



Osteoid osteoma
kelihatan pada acetabulum kiri pada gambaran bone scan

14

2. Osteokondroma
Osteokondroma adalah tumor jinak tulang dengan penampakan adanya
penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis,
penonjolan tulang ini ditutupi(diliputi) oleh cartilago hialin. Tumor ini berasal dari
komponen tulang (osteosit) dan komponen tulang rawan (chondrosit). Osteokhondroma
merupakan tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang dan
terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda.9
Patofisiologi
Tumor terjadi karena pertumbuhan abnormal dari sel-sel tulang (osteosit) dan sel-
sel tulang rawan (kondrosit) di metafisis. Pertumbuhan abnormal ini awalnya hanya akan
menimbulkan gambaran pembesaran tulang dengan korteks dan spongiosa yang masih
utuh. Jika tumor semakin membesar maka akan tampak sebagai benjolan menyerupai
bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit sebagai batangnya dan komponen
kondrosit sebagai bunganya. Tumor akan tumbuh dari metafisis, tetapi adanya
pertumbuhan tulang yang semakin memanjang maka makin lama tumor akan mengarah
ke diafisis tulang. Lokasi osteokondroma biasanya pada metafisis tulang panjang
khususnya femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal, dapat juga ditemukan
pada tulang scapula dan illium.
Gambaran Radiologis
Ada 2 tipe osteokondroma yaitu bertangkai (pedunculated) / narrow base dan
tidak bertangkai (sesile) / broad base. Pada tipe pedunculated, pada foto polos tampak
penonjolan tulang yang menjauhi sendi dengan korteks dan spongiosa masih normal.
Penonjolan ini berbentuk seperti bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit
sebagai tangkai dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Densitas penonjolan tulang
inhomogen (opaq pada tangkai dan lusen pada bunga). Terkadang tampak adanya
kalsifikasi berupa bercak opaq akibat komponen kondral yang mengalami kalsifikasi.
Lihat gambar dibawah ini :
a. Solitary benign pedunculated osteochondroma of the femur in a 22-year-old man




15

b. Benign solitary sessile osteochondroma of the fibula in a 19-year-old man



Osteokondroma proximal tibial


Proximal fibula osteochondroma

16


Proximal fibula osteochondroma cortical-medullary continuity , ring and arc calcification<br ,calcification in cap>br


MRI demonstrates stalks and continuity with underlying fibula, thin cartilaginous cap


Xray-distal femur sessile osteochondroma

17


MRI distal femur sessile osteochondroma Plain x ray Distal femur osteochondroma

Osteochondroma proximal femur Xray-left proximal femur osteochondroma

MRI Left proximal femur osteochondroma cortical medullary continuity and thin cartilage cap

18


MRI Cartilage cap CT scan left proximal femur osteochondroma


X-Ray
 Lesi geografik litik IA/IB margin sklerosis
 Pada umumnya eksentrik daripada gambaran sentral dalam tulang
 Jarang menembusi korteks
 Kalsifikasi matriks kondroid dalam (30-50)%
 Periosteal reaction dalam (30-50)% kasus
 Selalunya berlaku pada tulang diaphysis/metaphysicMRI
 Lesi geografik lesi berbatas tegas di daerah epifisis
 Sinyal intermediate pada T1
 Sinyal tinggi pada T2 bercampur dengan sinyal rendah
 Volume cairan tampak dalam tumor yang mengalami aneurismal bone change
 Edema yang ektensif yang mengelilingi tumor
 Efusi sendi dalam(30-50)% kasus
CT-Scan
 Amat berguna dalam mendeteksi mineralisasi yang minimum
 Untuk mengidentifikasi periosteum yang mengelilingi komponen expansile soft tissue
 Egg shell rim of calcification

19

 Bantu untuk mengidentifikasi tumor dalam kategori jinak
 Untuk mengevaluasi kualitas tulang
 Menilai tahap destruksi tulang dan korteks
 Untuk menilai apakah subkondral plate pada tulang masih utuh pada kartilago
articular
3. Kondroma10
Disebut juga enkondroma, merupakan tumor jinak tulang dengan frekuensi 9,8%
dari seluruh tumor jinak tulang, biasanya ditemukan pada usia dewasa muda tetapi dapat
pula pada setiap umur. Gejalanya biasanya berupa benjolan yang tidak nyeri.
Lokasi
Terutama pada os phalanxs, os tarsal, costa dan tulang tulang panjang yang
bersifat soliter tapi dapat juga multiple sebagai enkondromatosis yang bersifat kongenital
(penyakit Ollier).
Patologi
Terdapat pembentukan tulang rawan yang matur tanpa tanda tanda pleimof,
mitosis, atau gejala gejala keganasan lainnya. Sering ditemukan adanya perubahan
miksoid pada jaringan lunak, maka kelainan ini disebut sindroma Maffuci. Perubahan
kearah keganasan pada enkondromatosis (enkondroma multiple) lebih sering dari pada
enkondroma soliter. Tanda tanda keganasan biasanya terjadi setelah umur 30 tahun
dengan gejala gejala berupa nyeri, pembesaran tumor yang tiba tiba dan erosi korteks
tulang.

Kondroma pada pembesaran 40x



20

Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologis memperlihatkan adanya daerah radiolusen yang bersifat
sentral (enkondroma) antara metafisis dan diafisis. Mungkin dapat ditemukan sedikit
ekspansi dari tulang. Pada tulang yang matur dapat ditemukan adanya bintik bintik
kalsifikasi pada daerah lusen. Kondroma memproduksi satu defek radiolusen yang
terlokalisasi dengan kalsifikasi. Jumlah lusen atau opak tergantung pada tahap kalsifikasi.
Jaid, sesetangah lesi tidak mungkin ada kalsifikasi yang dapat dilihat pada X-ray.
Pada tulang panjang, kondroma umumnya tidak mununjukkan kelainan. Ini
adalah bertentangan dengan tulang tubular pendek. Pada gambaran radiologi, dapat
dilihat contour tulang tubular pendek berkembang dengan penipisan kortices. Sekiranya
terdapat “cortical breach”, sesuatu malignancy harus disuspek.

Enchondroma of proximal femur Plain radiograph reveals chondroma in left proximal femur (A) and low-
grade chondrosarcoma in right superior pubic ramus and symphysis (B).
Kondroma adalah sesuatu tumor benign, jadi pada gambaran radiologic,
umumnya tidak kelihatan pertumbuhan atau kelainan pada orang dewasa. Sekiranya
sebarang perubahan ditemui, khususnya kalsifikasi yang ebrkurang, kondrosarcoma/
transformasi malignant harus disuspek.
CT Scan dan MRI
Ct Scan sangat berguna karena ia dapat mengenalpasti kelainan radiographic pada
kalsifikasi dengan lebih terperinci dan jugas transformasi malignancy dapat dilihat
dengan jelas.
MRI digunakan untuk mengakses lesi kondriod noncalcified intramedullary.
Tumor ini mempunyai sinyal intensitas rendah pada T-1 weighted image dan sinyal
intensitas tinggi pada T-2 weighted images. Dengan kondroma periosteal, MRI dapat
menunjukkan “overlying fibrous periosteum. Sinyal intensitas rendah diharapkan dapat
dijumpai pada gambaran pulsed-sequence MRI di area dimana kalsifikasi matriks
kondriod didemonstrasi pada gambaran radiographic polos.

21


MRI showing chondroma (A) and low-grade chondrosarcoma (B).
4. Kondroblastoma 11,12
Kondroblastoma merupakan sejenis neoplasma kartilago jinak yang ditandai
peninggian pada epiphysis / apophysis pada tulang panjang dalam kalangan pasien pada
usia muda. Ia juga merupakan salah satu neoplasma epiphyseal jinak yang sering terjadi
pada pasien di usia muda.
Epidemiologi
Kasus kondroblastoma mewakili kurang daripada 1% dari tumor tulang. Sering
terjadi di kalangan warga muda (<20 tahun) dan kondroblastoma sering terjadi pada pria
berbanding wanita.

Gejala Klinis
- Nyeri sendi
- Muscle wasting
- Tenderness
- Pembengkakan
- Massa local
Patologi
Secara mikroskopik, kondroblastoma terdiri daripada kondroblast, kondroid
matrix dan cartilage yang sering terkait rapat dengan „giant multinucleated cells‟. Padas
el polyhedral mengelilingi kondroblastoma dan ini adan memberi gambaran “chicken
wire”. Neoplasma jinak ini sering juga bertransformasi menjadi maligna. Penyakit
sekunder untuk kondroblastoma ini adalah aneurysmal bone cyst.
Distribusi
Sering dijumpai pada epifisis pada tulang panjang, dimana 70% pada tulang
humerus diikuti dengan tulang femur & tibia, manakala 9 -10% pada extremitas.

22

Gambaran Radiografik
Berbentuk huruf „C‟ dalam fegnomastic mnemonic untuk lesi kista jinak.

Plain Film
Lytic lesions berbatas tegas / bermargin yang berlobul dengan rim sclerosis yang tipis
meninggi pada tulang tubular panjang di daerah epifisis/apophysis di tulang femur,
humerus dan tibia. Kalsifikasi internal dapat dilihat pada 40% - 60% kasus. Efusi sendi
dapat dilihat pada 1/3 pasien.
Ukuran kista kondroblastoma bervariasi dalam 1-10 cm dan paling banyak adalah 3-4cm
ketika diagnosis.

Kondroblastoma pada kaki, knee joint dan scapula
CT Scan
CT scan mendemonstrasi delineasi hubungan antara growth plate dan articula surface
dengan lebih baik. Reaksi periosteal dapat dilihat dalam kira-kira 50% kasus dan
kalsifikasi interna dalam ½ dari seluruh kasus, “cortical breach” dan “endosteal
scalloping” dapat dilihat.

23


MRI
MRI ideal untuk evaluasi terhadap transphyseal/ ekstensi transkortikal dan untuk
mendemonstrasi area yang berasosiasi pada edema sum sum tulang yang berlaku dalam
proporsi kasus yang banyak.
Lesi kistik pada kondroblastoma mempunyai sinyal tipikal seperti di bawah :-
T1 : lesion itself is of low to intermediate signal
T2 / STIR : lesion is of intermediate to high signal
Volume cairan dapat dilihat, ini mungkin karena aneurysmal bone cyst.

5. Kondromiksoid Fibroma 11,12
Definisi
Fibroma kondromiksoid adalah tumor jinak yang ditandai dengan sel-sel
berbentuk spindle atau stellate berlobulasi dengan material intaseluler miksoid atau
kondroid yang sangat banyak. Kelainan ini ditemukan terutama ditemukan pada anak-
anak dan dewasa muda usia kurang dari 40 tahun. Tidak terdapat gejala-gejala yang khas
pada tumor dan biasanya ditemukan secara kebetulan saja. Pertumbuhan tumor ini sangat
lambat tetapi mempunyai potensi untuk menjadi ganas.
Etiologi
Etiologi fibroma kondromiksoid masih belum diketahui, namun pada berbagai
literatur, anomali kromosom dan faktor imunologi dikemukakan sebagai faktor etiologi.
Analisis sitogenetik terdahulu telah mengidentifikasi abnormalitas kompleks yang
melibatkan kromosom 6 pada sebagian besar kasus. Tumor ini dianggap berasal dari
kartilago di daerah physis tulang.
Lokasi
Lokasi tumor terutama pada daerah metafsis tulang panjang atau tulang-tulang
kecil pada tarsal dan metatarsal. Juga terdapat pada daerah lutut dan pelvis.

24

Gejala Klinis
Gejala klinis pasien fibroma kondromiksoid tidak spesifik, biasanya terdapat nyeri
kronik lokal (85%) dan pembengkakan lokal (65%) yang tumbuh lambat, nyeri dirasakan
rata-rata 22 bulan sebelum diagnosis. Kadang disertai terabanya massa tumor terutama
pada tumor superfisial yang terdapat pada tulang tangan dan kaki, dan sebagian besar
fibroma kondromiksoid terukur lebih dari 3 cm pada saat timbulnya gejala klinis. Sering
kali pasien bisa pincang dan merasa sedikit adanya keterbatasan gerakan, tapi tidak ada
keterlibatan utama dari sendi. Fraktur patologis ditemukan hanya pada sekitar 5% kasus.
Durasi gejala klinis berkisar dari beberapa minggu (sering pada pasien yang lebih muda)
sampai beberapa tahun (pada dewasa). Lesi pada kosta maupun ilium bisa diketahui
sebagai temuan kebetulan pada pemeriksaan radiologis.
Radiologis
Gambaran radiologik sangat khas berupa daerah radiolusen yang bulat atau oval
terletak eksentris pada metafisis dan dapat meluas sampai ke diafisis tulang
panjang, berbatas tegas dan kadang-kadang dengan pinggiran sklerotik. Korteks sering
menipisakibat ekspansi dari tumor.
CT memungkinkan untuk identifikasi asal tumor, dan juga dapat memperlihatkan
integritas korteks yang membatasi lesi, tepi yang sklerotik serta memungkinkan
visualisasi kalsifikasi matriks. Pada fibroma kondromiksoid, deteksi radiologis terhadap
kalsifikasi matriks sangat jarang, meskipun demikian kalsifikasi matriks lebih lazim pada
lesi pada tulang kepala dibandingkan pada tulang panjang. Pasca pemberian kontras,
penyangatan bervariasi tergantung komponen fibroid dan vaskularisasi tumor.
Gambaran magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan superioritas pada
detail jaringan lunak, sehingga telah dimungkinkan mengetahui karakteri yang lebih
detail dari tumor. Pasca pemberian kontras gadolinium intravena terdapat penyangatan
heterogen. Keuntungan MRI adalah kemampuan penggambaran multiplanar dari
perluasan lesi yang sesungguhnya sebelum intervensi pembedahan. Skintigrafi tulang
tipikal memperlihatkan peningkatan uptake radionuklida yang jelas. Tujuan skintigrafi
tulang adalah untuk menyingkirkan lesi multipel sehingga dapat dipertimbangkan
diagnosis alternatif.


25


GAMBAR 1. Fibroma kondromiksoid, tampilan sagital memperlihatkan lesi litik sedikit lobulasi dengan tepi sklerotik tipis pada
metafisis tibia.

GAMBAR 2. Radiografi anteroposterior memperlihatkan lesi lusen berlobulasi pada metadiafisis tibia, memperlihatkan destruksi
tulang tipe geografik, tepi scalloping sklerotik, dan septasi interna.


GAMBAR 3. Fibroma kondromiksoid, lusensi metafisis ovoid eksentris dengan penipisan korteks dan batas dalam yang sklerotik.


26


GAMBAR 4. Fibroma kondromiksoid pada metatarsal 3, tumor litik dan fusiform telah sangat mengekspansi tulang, tipikal untuk lokasi tulang
tubuler kecil pada kaki.

Patologi
Gambaran patologis sangat khas berupa daerah lobulasi yang berbentuk spindle atau sel-
sel stella dengan jaringan miksoid dan kondroid interseluler yangdipisahkan dari jaringan
yang mengandung lebih banyak sel dengan bentuk spindle dengan beberapa sel raksasa
multinuklear dengan bentuk yang berbeda. Mungkin dapat ditemukan sel-sel pleomorf.

6. Aneurysmal Bone Cyst 13
Lesi tulang, bukan neoplasma. Etiologinya tidak diketahui, diduga kelainan vaskuler
karena gangguan sirkulasi. 80 % penderita adalah anak berusia kurang 20 tahun.
Lokasi
Metafisis tulang panjang, berdekatan unfused growth plate. Umumnya adalah seperti
berikut:
 long bones : 50 - 60% : typically of the metaphysis
o lower limb : 40%
 tibia and fibula : 24%, especially proximal tibia
 femur : 13%, especially proximally
o upper limb : 20%
 spine : 20 - 30%
o terutama element posterior dengan ekstensi ke veterbal body di 40% kasus.

27

 sacrum












Radiologi
Tampak daerah radiolusen pada tulang yang memberi kesan adanya destruksi tulang. Lesi
bersifat ekspansif, korteks menjadi sangat tipis dan mengembang keluar. Gambaran
sangat mirip dengan giant cell tumor. Batas lesi tegas dan seringkali disertai tepi
sklerotik; sifat ini yang mebedakan dari giant cell tumor yang berbatas tidak tegas.


28






Pemeriksaan MRI dilakukan untuk menilai fluid- fluid levels kista dan ada atau tidak
massa untuk mendukung aneurysmal bone cyst adalah suatu lesi sekunder.
7. Sarkoma Ewing 14
Disebut juga “Small Round Blue Cell”. Menyerang golongan usia muda,
kebanyakan dibawah usia 20 tahun dengan prevalensi kurang lebih 80%. Lebih banyak
didapat pada kaum pria.
Klinis
Penderita mengeluh sakit dengan diseretai adanya benjolan. Kemungkinan adasuhu badan
yang meninggi, berkeringat berlebih, lekositosis dan laju endap darah meningkat.
Lokasi
Pada diafsisis tulang-tulang panjang, paling sering pada femur, humerus, tibia,ulna dan
fibula, dapat juga mengenai tulang-tulang tipis.
 mid-diaphysis : 33%
 metadiaphysis : 44%
 metaphysis : 15%
 epiphysis : 1 - 2%
 Ekstremitas bawah : 45%
o Sering femur
 pelvis : 20%

29

 Ekstremitas atas : 13%
 spine and ribs : 13%
o sacrococcygeal region
 skull / face : 2%
Bentuk tulang:
 Tulang panjang: 50 - 60%
o femur : 25%
o tibia : 11%
o humerus : 10%
 Tulang pipih : 40%
o pelvis : 14%
o scapula

Radiologi
Tampak proses destruksi tulang dengan batas yang tidak jelas. Pembentukantulang reaktif
baru oleh periosteum bisa berlapis-lapis yang memberikan gambaran Onion Skin atau
tegak lurus yang nampak sebagai Sunbrust.












30









Gambar :. gambaran radiologis tampak destruksi tulang dengan batas tidak jelas, gambaran MRI terdapat kerusakan korteks.
Pada MRI menunjukkan kerusakan kortek dan gangguan pada jaringan lunak sekitarnya.

Patologi
Terdapat gambaran highly cellular, neoplasma infiltrat dengan bagian yang padat, round
cell dengan sitoplasma yang jernih “ round blue cell tumor”, dan adanyaekstensif
nekrosis yang ditunjukkan dengan gambaran occasional Homer-Wrightrossetes.

Gambar :. gambaran patologis dengan noeplasma infiltrate, round blue cell tumor dan Hommer-Wright rossetess.

8. Sarkoma Osteogenik (Osteosarkoma) 11,12
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang
berasal dari sel primitif (poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang
pada anak-anak. Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri
osteoblastik sel mesensim primitif. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari
tulang yang paling sering terjadi.


31

Epidemiologi
Jenis kanker tulang yang paling umum pada anak-anak, remaja dan dewasa
muda.Biasanya terjadi pada tulang panjang seperti humerus(tangan),femur/tibia(kaki) dan
panggul;paling sering sekitar lutut. Sekitar 75% pasien adalah berumur antara 15-25
tahun. Pria lebih sering terkena berbanding dengan wanita( rasio 1.5 : 1). Osteosarcoma
jarang terjadi pada pasien yang lebih muda dari 6 tahun atau lebih tua dari 60 tahun.
Tumor pada usia yang lebih tua biasanya terjadi akibat dari radiasi penyakit Paget atau
chondrosarcomas yang terdiferensiasi.
Etiologi
Penyebab osteosarkoma masih belum jelas diketahui. Adanya hubungan kekeluargaan
menjadi suatu predisposisi, begitu pula adanya hereditary retinoblastoma dan sindrom Li-
Fraumeni. Dikatakan beberapa virus dapa tmenimbulkan osteosarkoma pada hewan
percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung osteosarkoma, begitu
pula alkyleting agent yang digunakan pada kemoterapi.

Gejala Klinis
 Rasa sakit (nyeri)
 Pembengkakan
 Keterbatasan gerak
 Menurunnya berat badan
 Teraba massa; lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas massa serta distensi
pembuluh darah.
Gambaran Radiologi
X RAY
Penampilan khas dari osteosarcoma konvensional tinggi termasuk:
 Kerusakan medullar dan kortikal tulang

 Transisi zona yang lebar, permeative or moth-eaten appearance

 Reaksi periosteal yang agresif seperti sunburst type dan Codman triangle


32


femur in a patient with osteosarcoma shows a typical Codman triangle (arrow) and more diffuse, mineralized osteoid within the soft
tissues adjacent to the bone.

Anteroposterior (AP) radiograph in a patient with osteosarcoma of the proximal humerus. Note the extensive soft tissue mass
containing a considerable amount of mineralized osteoid


Sunburst appearance Moth eaten appearance



33

MRI
 Memberi gambaran terperinci jaringan lunak di tubuh.
 Penting untuk penentuan tahap tumor dan penanganan surgical.


MRI, coronal view; osteosarcoma of distal femur showing low-intensity signal

Sagittal T1-weighted MRI. The signal intensity of the bone marrow within the distal femoral epiphysis is normal, but abnormal signal
intensity is present throughout the visible shaft. The growth plate has limited extension of the tumor. Cortical destruction (arrow) and
the soft tissue mass may be readily appreciated. Note that the fat deep to the quadriceps tendon has rather heterogeneous signal
intensity.


34

Coronal T1-weighted MRI. Note the abnormal signal intensity in the metaphyseal marrow and the soft tissue mass (black arrow).
Early tumor extension is shown beyond the growth plate into the epiphysis (white arrows).

CT SCAN
 Membantu dengan penampilan radiografi yang membingungkan, terutama di
daerah anatomi yang kompleks.
 Memberikan indikasi yang lebih jelas tentang kerusakan tulang, serta luasnya
setiap massa jaringan lunak


Left ventricular osteosacroma of a 69 old male


This is a CT scan of a patient diagnosed with osteosarcoma in the front leg






35

9. Kondrosarkoma 11,12
Kondrosarkoma ialah tumor ganas dengan ciri khas pembentukan jaringan tulang
rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas tulang primer terbanyak kedua
setelah osteosarkoma. Kondrosarkoma merupakan tumor tulang yang terdiri dari sel-sel
kartilago (tulang rawan) anaplastik yang berkembang menjadi ganas. Kondrosarkoma
biasanya ditemukan pada daerah tulang femur, humerus, kosta dan bagian permukaan
pelvis.
Epidemiologi
Kondrosarkoma dapat dibagi menjadi kondrosarkoma primer dan sekunder.
Untuk keganasan yang berasal dari kartilago itu sendiri disebut kondrosarkoma primer.
Sedangkan apabila merupakan bentuk degenerasi keganasan dari penyakit lain seperti
enkondroma, osteokondroma dan kondroblastoma disebut kondrosarkoma sekunder.
Kondrosarkoma sekunder kurang ganas dibandingkan kondrosarkoma primer. Menurut
Spjut dkk. serta Lichtenstein, kondrosarkoma lebih sering ditemukan pada pria daripada
wanita. Terbanyak pada orang dewasa (20-40 tahun). Tujuh puluh enam persen,
kondrosarkoma primer berasal dari dalam tulang (sentral) sedangkan kondrosarkoma
sekunder banyak ditemukan berasal dari tumor jinak seperti osteokondroma atau
enkondroma yang mengalami transformasi.
Etiologi
Etiologi kondrosarkoma masih belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan
penelitian yang terus berkembang didapatkan bahwa kondrosarkoma berhubungan
dengan tumor-tumor tulang jinak seperti enkondroma atau osteokondroma sangat besar
kemungkinannya untuk berkembang menjadi kondrosarkoma. Tumor ini dapat juga
terjadi akibat efek samping dari terapi radiasi untuk terapi kanker selain bentuk kanker
primer. Selain itu, pasien dengan sindrom enkondromatosis seperti Ollier disease dan
Maffucci syndrome, beresiko tinggi untuk terkena kondrosarkoma.
Gejala Klinis
 Nyeri
 Pembengkakan
 Massa yang teraba
 Frekuensi miksi meningkat





36

Gambaran Radiologi
X RAY
 Dilakukan untuk diagnosis awal kondrosarkoma.
 Gambaran radiolusen pada area dekstruksi korteks. Bentuk destruksi biasanya berupa
pengikisan dan reaksi eksternal periosteal pada formasi tulang baru.
 Karena ekspansi tumor, terjadi penipisan korteks di sekitar tumor yang dapat
mengakibatkan fraktur patologis. Scallop erosion pada endosteal cortex terjadi akibat
pertumbuhan tumor yang lambat dan permukaan tumor yang licin.







Frontal radiograph of the left fibula head demonstrates a lucent lesion that contains the typical chondroid matrix calcification

Frontal radiograph of the left acetabulum demonstrates an expansile lucent lesion with no internal matrix calcification.
CT SCAN
 Didapatkan hasil lebih sensitif untuk penilaian distribusi kalsifikasi matriks dan integritas
korteks.
 Endosteal cortical scalloping pada tumor intramedullar juga terlihat lebih jelas pada CT
scan dibandingkan dengan foto konvensional.
 CT scan ini juga dapat digunakan untuk memandu biopsi perkutan dan menyelidiki
adanya proses metastase di paru-paru.

37


CT scan of the pelvis demonstrates a large soft-tissue mass that contains calcification arising from a broad-based sessile osteochondroma on the
posterior aspect of the ilium.

CT scan of the distal femur demonstrates a broad-based osteochondroma with a thick overlying soft-tissue cap that contains focal calcification

MRI
 MRI adalah metode pilihan untuk mengklarifikasi perpanjangan intramedulla dan
extraosseous dari sebuah chondrosarcoma.

T2-weighted axial MRI of the pelvis demonstrates a lobulated high-signal-intensity soft tissue with local-signal-intensity septa arising from the
osteochondroma on the posterior aspect of the ilium.





38

2.8. Tatalaksana
Penatalaksanaan tumor tumor jinak biasanya tidak terlalu sulit dibandingkan
tumor tumor ganas. Pada tumor tumor ganas diperlukaa kerjasama dan konsultasi antara
ahli bedah onkologi, ahli bedah ortopedi, ahli radiologi, ahli patologi serta ahli prostetik
dan rehabilitasi. 16
1) Tumor jinak yang jelas, misalnya osteokondroma yang kecil tidak diperlukan tindakan
khusus. Apabila jenis tumor diragukan maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi.
2) Curiga akan tumor ganas apabila suatu lesi pada tumor primer dicurigai sebagai suatu
keganasan dmaka penderita sebaiknya dirawat untuk pemeriksaan lengkap, pemeriksaan
darah, foto paru paru, pencitraan baik dengan foto polos maupun CT scan dan biopsi
tumor.
A. Operasi
Eksisi tumor dengan cara operasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik :-
1) Intralesional atau intrakapsuler. Tehnik ini dilakukan dengan eksisi/kuretase
tumor, tidak dianjurkan pada tumor ganas dan biasanya dilakukan pada kelompok
low grade tumour, misalnya giant cell tumor.
2) Eksisi marginal, adalah pengeluaran tumor diluar dari kapsulnya. Teknik ini
terutama dilakukan pada tumor jinak atau tumor ganas jenis low garade
malignancy.
3) Eksisi luas (eksisi en – bloc). Pada eksisi luar, tumor dikeluarkan secara utuh
disertai jaringan di sekitar tumor yang berupa pseudokapsul atau jaringan yang
bereaksi diluar. Tindakan eksisi luas dilakukan pada tumor ganas dan biasanya
dikombinsi dengan pemberian kemoterapi atau radioterapi pada pre/pascaopeasi.
4) Operasi radikal. Operasi radikal dilakukan seperti pada eksisi luas dan
ditambah dengan pengeluarn seluruh tulang serta sendi dan jaringan sebagai suatu
bagian yang utuh. Cara ini biasanya berupa amputasi anggota gerak di atasnya
dan disertai pengeluaran sendi atasnya. Dengan staging yang tepat serta
pemberian kemoterapi untuk mengontrol penyebaran tumor, tindakan amputasi
dapat dihindarkan dengan suatu teknik yang disebut imb-sparin surgery (limb
saving procedure) yaitu berupa eksisi yang luas disertai dengan penggantian
anggota gerak dengan mempergunakan bone graft atau protesis yang disesuaikan
dengan anggota gerak tersebut yang dibuat khusus secara individu.
B. Radioterapi
Radiasi dengan energi tinggi merupakan suatu cara eradikasi tumor tumor ganas
radiosensitif dan dapat juga sebagai tindakan awal sebelum tindakan operasi
dilakukan. Kombinasi radioterapi dapat pula diberikan bersama sama dengan
kemoterapi. Radioterapi dilakukan pada keadaan keadaan yang inoperable

39

misalnya adanya metastasis atau keadaan lokal yang tidak memungkinkan untuk
tindakan operasi.
C. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan suatu pengobatan tambahan pada tumor ganas tulang dan
jaringan lunak. Obat obatan yang dipergunakan adalah metotreksat, adriamisin,
siklofosfamid, vinkristin, sisplatinum, pemberian kemoterapi biasanya dilakukan
pada pre/pasca operasi.
2.9. Komplikasi 1
 Gangguan produksi antibodi
 Infeksi akibat kerusakan sumsum tulang
 Fraktur patologik
 Gangguan Hematologik



















40

BAB 3
KESIMPULAN
Klasifikasi tumor tumor tulang menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas
kriteria histologis, jenis diferensiasi sel sel tumor yang diperlihatkan dan jenis intraseluler
matriks yang diproduksinya yang bersifat osteogenik, kondrogenik, atau mielogenik
meskipun demikian terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok tulang yaitu
kelainan reaktif atau hamartoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas. Jadi yang
paling penting untuk mengetahui seserorang menderita penyakit tumor tulang adalah
dengan anamnesis. Dimana dalamananmesis ini perlu diperhatikan : -
1. umur penderita terkena tumor.
2. lama dan perkembangan tumor
3. nyeri yang merupakan keluhan utama tumor.
4. pembengkakan yang timbul secara pelahan lahan dan jangka waktu yang lama.
Kemudian perlu dilakukan pemeriksaan pemeriksaan untuk mendiagnosa adanya tumor
tulang seperti :-
1. Pemeriksaan klinik meliputi: lokasi; besar, bentuk, batas dan sifat tumor;
adanya gangguan pengerakan sendi; spasme otot dan kekakuan tulang belakang;
faktur patologis.
2. Pemeriksaan raadiologis: dilakukan foto polos pada lokasi lesi.
3. Pemeriksaan laboratorium: serum alkali fosfatase memberikan nilai diagnostik
pada tumor ganas tulang.
4. Pemeriksaan biopsy
Penatalaksanaan dilakukan dengan cara operasi, radioterapi dan kemoterapi berdasarkan
jenis tumor muskulosketetal tersebut.