You are on page 1of 58

i

ASUHAN KEPERAWATAN DAN TUMBUH KEMBANG
ANAK (DDST) DENGAN KELAINAN KONGENITAL SISTEM
MUSKULOSKELETAL POLIDACTILI, SYNDACTILI DAN
CTEV (GENUVALGUM DAN GENUVARUS)








Disusun oleh :
Kelompok 3
Rafika Fransiska 131311123004
Rini Wahyuni Mohamad 131311123011
Yosina Martha I. T 131311123021
Achmad Luky Amanda 131311123035
Maria Nining Kehi 131311123060
Enggar Ratna Kusuma 131311123072
Happy Restu Widayati 131311123080
Rifantika Puspitasari 131311123068


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014


ii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan Muskuloskeletal dan Tumbuh Kembang Anak (DDST)
dengan Kelainan Kongenital Sistem Muskuloskeletal Polidactili, Syndactili, dan
CTEV (Genuvalgum dan Genuvarus)”, tepat pada waktunya. Makalah ini
merupakan tugas pembelajaran dari pendidikan mata kuliah Sistem
Muskuloskeletal.
Dalam penulisan makalah ini penulis telah mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak baik dalam hal materi maupun moril sehingga pada
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima
kasih kepada:
1. Bapak Deni Yasmara, M.Kep, .Sp.Kep.MB selaku PJMA Keperawatan
Muskuloskeletal,
2. Ibu Ilya Krisnana, S.Kep, Ns, M.Kep sebagai fasilitator dan pembimbing
3. Teman-teman angkatan B16 yang telah memberikan motivasi dalam
penyusunan asuhan keperawatan ini yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.
Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari sempurna,
karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini untuk menjadi lebih baik lagi.
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi kelompok kami dan
mahasiswa Fakultas Keperawatan Program Studi Pendidikan Ners Fakultas
Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.


Surabaya, September 2014


Penyusun


iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………… I
Daftar Isi ………………………………………………………………. II
Daftar Gambar……………………………………………………….... III
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………........ 2
1.3 Tujuan………………………………………………………......
2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Polidactili………………………………………………….. 3
2.1.1 Konsep Teori Polidactili……………………………….................. 3
2.1.1 Konsep Teori Poldactili…………………………………........ 3
2.1.1.1 Pengertian Polidactili………………………………............ 3
2.1.1.2 Etiologi……………………………………………….......... 4
2.1.1.3 Manifestasi Klinis……………………………………......... 6
2.1.1.4 WOC Polidactili……………………………………...…… 8
2.1.1.5 Klasifikasi……………………………………………......... 9
2.1.1.6 Diagnosis…………………………………………….....…. 10
2.1.1.7 Penatalaksanaan……………………………………............. 11
2.1.2 Konsep Asuhan Keperawatan Polidactili…………………............ 11
2.1.2.1 Pengkajian……………………………………..................... 11
2.1.2.2 Diagnosis Keperawatan……………………………............ 12
2.1.2.3 Intervensi……………………………………...................... 12
2.2 Konsep Syndaktili……………………………………..................... 15
2.2.1 Konsep Teori Sindaktili…………………………………….......... 15
2.2.1.1 Pengertian Sindaktili…………………………………..…... 15
2.2.1.2 Etiologi Sindaktili……………………………………......... 15
2.2.1.3 Patofisiologi Sindaktili………………………………...…... 16
2.2.1.4 WOC Sindaktili ……………………………………........... 18
2.2.1.5 Tipe Sindaktili…………………………………….............. 19

iv

2.2.1.6 Klasifikasi Sindaktili ……………………………………... 21
2.2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik Sindaktili………………………... 23
2.2.1.8 Komplikasi Sindaktili……………………………………... 24
2.2.1.9 Penatalaksanaan Sindaktili………………………………... 24
2.2.1.10 Prognosis Sindaktili…………………………………….... 25
2.2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Syndaktili……………………..…. 26
2.2.2.1 Pengkajian……………………………………..................... 26
2.2.2.2 Diagnosa Keperawatan……………………………….…… 26
2.2.2.3 Intervensi Keperawatan………………………………….... 27
2.3 Konsep CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) Genu Valgum
dan Genu Varus……………………………………...................... 29
2.3.1 Konsep Teori CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) Genu
Valgum dan Genu Varus…………………………………….......... 29
2.3.1.1 Definisi……………………………………......................... 29
2.3.1.2 Etiologi……………………………………......................... 29
2.3.1.3 Patofisiologi……………………………………................. 30
2.3.1.4 Manifestasi Klinis……………………………………........ 31
2.3.1.5 WOC……………………………………............................ 32
2.3.1.6 Pemeriksaan Diagnostik………………………………....... 33
2.3.1.7 Penatalaksanaan……………………………………........... 34
2.3.1.8 Kompilkasi……………………………………................... 36
2.1.3.9 Prognosis……………………………………...................... 36
2.3.2 Konsep Asuhan Keperawatan CTEV (Congenital Talipe
Equinovarus) Genu Valgum dan Genu Varus …………….......... 36
2.3.2.1 Pengkajian……………………………………............................ 36
2.3.2.2 Diagnosa Keperawatan……………………………………......... 39
2.3.2.3 Intervensi Keperawatan…………………………………..…...... 39
BAB 3 CONTOH KASUS
3.1 Pengkajian......................................................................................... 43
3.2 Diagnosa Keperawatan...................................................................... 46
3.3 Intervensi.................................................................................. 47
BAB 4 PENUTUP

v

4.1 Kesimpulan......................................................................................... 51
4.2 Saran................................................................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 53






























vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Polidactili……………………………………..................... 3
Gambar 2.2 Pewarisan Sifat Autosom Dominan………………............. 4
Gambar 2.3 Polidactili Postaxial………………………………....……. 9
Gambar 2.4 Tipe Polidactili Preaxial……………………………....…... 10
Gambar 2.5 Polidaktili Sentral…………………………………...…..... 10
Gambar 2.6 Hasil Rontgent Polidactili…………………………...…..... 11
Gambar 2.7 Sindaktili……………………………………...................... 16
Gambar 2.8 Sindaktili tipe I ……………………………………........... 20
Gambar 2.9 Sindaktili tipe II (synpolydactyly) …………………...…... 21
Gambar 2.10 Simpel Sindaktili …………………………………...….... 23
Gambar 2.11 Simpel Kompleks …………………………………..….... 23
Gambar 2.12 Apert syndrome…………………………………….......... 25
Gambar 2.13 Perencanaan insisi untuk memisahkan simplecomplete
sydactyly………………………………............... 26
Gambar 2.14 Bentuk kaki Bowleg dan Knock-Knee……………..…….. 30
Gambar 2.15 AP dengan berbaring……………………………….……. 34
Gambar 2.16 Gambar AP dengan berdiri…………………………..…... 34
Gambar 2.17 Pertumbuhan kaki normal ………………………..……... 35
Gambar 2.18 Hasil radiologi dari KAFO…………………………….... 36





1

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada anak balita terdapat beberapa kelainan kongenital antara lain
sindaktili, polidaktili dan CETV Genu Varum dan Genu Valgum. Sindaktili
merupakan defek pada diferensiasi. Insiden Sindaktili terjadi pada 1 : 2.000
sampai 1 : 3.000 kelahiran. Defek ini dua kali lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada perempuan dan 10 kali lebih sering terjad pada kulit putih daripada kulit
hitam. Peleburan terjadi terbatas pada jaringan lunak diantara dua jari yang
berdekatan (simpel atau kutaneus sindaktili) atau dapat menyertakan tulang,
jaringan lunak dan struktur neurouskular (komplek sindaktili). Tipe-tipe pada
sindaktili adalah diwariskan dengan pembawaan autosom dominan, dan kesamaan
dari tipe tersebut dikenali dari silsilah (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).
Polidaktili merupakan salah satu kelainan pertumbuhan pada jari sehingga
terdapat jumlah jari pada tangan atau kaki lebih dari lima. Bila jumlah jarinya
enam disebut seksdaktili, dan bila tujuh disebut heksadaktili. Polidaktili terjadi
pada 1 dari 1.000 kelahiran. Polidaktili merupakan kebalikan dari oligodaktili
(Muttaqin, 2008).
Genu Varum adalah kelainan ekstrimitas bawah berupa melengkungnya
tibia kearah lateral. Sedangkan Genu Valgum atau Knock-knee sama seperti Genu
Varum namun lengkungannya ke arah medial. Lengkungan Genu Varum secara
klinis terlihat ketika anak berdiri dengan posisi meleoli medial (tonjolan bundar
pada kedua sisi pergelangan kaki) berlawanan satu sama lain dan jarak di antara
lutut lebih besar kira-kira 5 cm. Sedangkan pada Genu Valgum lutut saling
mendekat satu sama lain tetapi kaki terpisah jauh. Hal ini ditentukan secara klinis
dengan menggunakan metode yang sama dengan Genu Varum tetapi dengan
mengukur jarak di antara maleolus, yang kurang dari 7,5 cm.
Pada anak dengan kelainan tulang kongenital sindaktili, polidaktili dan
CETV Genu Varum dan Genu Valgum memerlukan observasi dan perhatian
khusus untuk mendeteksi adanya kelainan pertumbuhan dan perkembangan.
Sehingga diperlukan peran perawat untuk memberikan asuhan keperawatan yang

2

sesuai dengan masalah keperawtan yang muncul pada anak dengan sindaktili,
polidaktili dan CETV Genu Varum dan Genu Valgum.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep teori Polidactili dan asuhan keperawatan
Polidactili?
2. Bagaimanakah konsep teori Syndaktili dan asuhan keperawatan
Syndactili?
3. Bagaimanakah konsep teori CTEV (Congenital Talipes Equinovarus)
Genu Valgum dan Genu Varus dan asuhan keperawatan CTEV
(Congenital Talipes Equinovarus) Genu Valgum dan Genu Varus?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami konsep teori Polidactili dan asuhan
keperawatan Polidactili.
2. Untuk mengetahui dan memahami konsep teori Syndaktili dan asuhan
keperawatan Syndactili.
3. Untuk mengetahui dan memahami konsep teori CTEV (Congenital Talipes
Equinovarus) Genu Valgum dan Genu Varus dan asuhan keperawatan
CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) Genu Valgum dan Genu Varus.



3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Polidactili
2.1.1 Konsep Teori Polidactili
2.1.1.1 Pengertian Polidactili
Polydactyl berasal dari bahasa yunani kuno (Polus) "banyak" dan
(daktulos) "jari", juga dikenal sebagai hyperdactyly, adalah anomali kongenital
fisik jari tangan atau kaki. Polidaktili adalah terjadinya duplikasi jari-jari tangan
dan kaki melebihi dari biasanya (Muttaqin, 2008).
Polidaktili adalah suatu kelainan yang diwariskan oleh gen autosomal
dominan P, yang dimaksud dengan sifat autosomal ialah sifat keturunan yang
ditentukan oleh gen pada autosom. Gen ini ada yang dominan dan ada pula yang
resesif. Oleh karena laki-laki dan perempuan mempunyai autosom yang sama,
maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal dapat dijumpai pada
laki-laki maupun perempuan. Sehingga orang bisa mempunyai tambahan jari pada
kedua tangan atau kakinya.
Jari-jari yang lebih dari 5 pada manusia adalah suatu ketidaknormalan, dan
polidaktili merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan duplikasi jari.
Pada polidaktili, biasanya terdapat 6 jari pada setiap jari tangan, terkadang bisa
lebih seperti 7 atau 8 jari.







Gambar 2.1 Polidactili


4









Gambar 2.2 Pewarisan Sifat Autosom Dominan
p ♀ pp x ♂ Pp
normal polidaktili
F1 Pp = polidaktili (50%)
pp = normal (50%)
Orang normal adalah homozigotik resesif pp. Pada individu heterozigotik
Pp derajat ekspresi gen dominan itu dapat berbeda-beda, sehingga lokasi
tambahan jari dapat bervariasi. Bila seorang laki-laki polidaktili heterozigotik
menikah dengan orang perempuan normal, maka dalam keturunan kemungkinan
timbulnya polidaktili ialah 50%.

2.1.1.2 Etiologi
Adapun etiologinya yaitu sebagai berikut :


a. Familial polydactyly
b. Trisomi 13
c. Trisomi 21
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya polidaktili
antara lain :
a. Kelainan Genetik dan Kromosom
Diturunkan secara genetik (autosomal dominan). Jika salah satu pasangan
suami istri memiliki polidaktili, kemungkinan 50% anaknya juga polidaktili.
Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan berpengaruh atas
polidaktili pada anaknya.
b. Faktor Teratogenik

5

Dalam istilah medis, teratogenik berarti terjadinya perkembangan tidak
normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio
sehingga pembentukan organ-organ berlangsung tidak sempurna (terjadi cacat
lahir). Di dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor 434.1 (2001), teratogenik
adalah sifat bahan kimia yang dapat menghasilkan kecacatan tubuh pada
kelahiran.
Teratogenik adalah perubahan formasi dari sel, jaringan, dan organ yang
dihasilkan dari perubahan fisiologi dan biokimia. Senyawa teratogen akan berefek
teratogenik pada suatu organisme, bila diberikan pada saat organogenesis. Apabila
teratogen diberikan setelah terbentuknya sel jaringan, sistem fisiologis dan sistem
biokimia, maka efek teratogenik tidak akan terjadi. Teratogenesis merupakan
pembentukan cacat bawaan. Malformasi (kelainan bentuk) janin disebut terata,
sedangkan zat kimia yang menimbulkan terata disebut zat teratogen atau
teratogenik.
Perubahan yang disebabkan teratogen meliputi perubahan dalam
pembentukan sel, jaringan dan organ sehingga menyebabkan perubahan fisiologis
dan biokimia yang terjadi pada fase organogenesis. Umumnya bahan teratogenik
dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan golongannya yakni bahan teratogenik fisik,
kimia dan biologis.
1) Faktor teratogenik fisik
Bahan tertogenik fisik adalah bahan yang bersifat teratogen dari unsur-
unsur fisik misalnya Radiasi nuklir, sinar gamma dan sinar X (sinar rontgen). Bila
ibu terkena radiasi nuklir (misal pada tragedi chernobil di Ukraina) atau terpajan
dengan agen fisik tersebut, maka janin akan lahir dengan berbagai kecacatan fisik.
Tidak ada tipe kecacatan fisik tertentu pada paparan ibu hamil dengan radiasi,
karena agen teratogenik ini sifatnya tidak spesifik karena mengganggu berbagai
macam organ. Dalam menghindari terpaan agen teratogen fisik, maka ibu
sebaiknya menghindari melakukan foto rontgen apabila ibu sedang hamil. Foto
rontgen yang terlalu sering dan berulang pada kehamilan kurang dari 12 minggu
dapat memberikan gangguan berupa kecacatan lahir pada janin.



6

2) Faktor teratogenik kimia
Bahan teratogenik kimia adalah bahan yang berupa senyawa senyawa
kimia yang bila masuk dalam tubuh ibu pada saat saat kritis pembentukan organ
tubuh janin dapat menyebabkan gangguan pada proses tersebut. Kebanyakan
bahan teratogenik adalah bahan kimia. Bahkan obat-obatan yang digunakan untuk
mengobati beberapa penyakit tertentu juga memiliki efek teratogenik.
Alkohol merupakan bahan kimia teratogenik yang umum terjadi terutama
di negara-negara yang konsumi alkohol tinggi. Konsumsi alkohol pada ibu hamil
selama kehamilannya terutama di trisemester pertama, dapat menimbulkan
kecacatan fisik pada anak dan terjadinya kelainan yang dikenal dengan fetal
alkoholic syndrome. Alkohol yang dikonsumsi ibu dapat turut masuk ke dalam
plasenta dan memperngaruhi janin sehingga pertumbuhan otak terganggu dan
terjadi penurunan kecerdasan/retardasi mental. Alkohol juga dapat menyebabkan
bayi mengalami berbagai kelainan bentuk muka, tubuh dan anggota gerak bayi
begitu dilahirkan. Obat-obatan untuk kemoterapi kanker umumnya juga bersifat
teratogenik. Beberapa polutan lingkungan seperti gas CO, senyawa karbon dan
berbagai senyawa polimer dalam lingkungan juga dapat menimbulkan efek
teratogenik.
3) Faktor teratogenik biologis
Agen teratogenik biologis adalah agen yang paling umum dikenal oleh ibu
hamil. Istilah TORCH atau toksoplasma, rubella, cytomegalo virus dan herpes
merupakan agen teratogenik biologis yang umum dihadapi oleh ibu hamil dalam
masyarakat. Infeksi TORCH dapat menimbulkan berbagai kecacatan lahir dan
bahkan abortus sampai kematian janin. Selain itu, beberapa infeksi virus dan
bakteri lain seperti penyakit sifilis/raja singa juga dapat memberikan efek
teratogenik.

2.1.1.3 Manifestasi Klinis
a. Jumlah jari lebih dari normal (lima) yang ditemukan sejak lahir.
b. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua jari tangan atau kaki.
c. Jari tambahan bisa melekat pada kulit ataupun saraf, bahkan dapat melekat
sampai ke tulang.

7

d. Jari tambahan bisa terdapat di jempol (paling sering) dan keempat jari
lainnya.
e. Dapat terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya, walaupun jarang.



8

2.1.1.4 WOC Polidactili


























Faktor Penyebab
Kelainan genetik
dari kromosom
Faktor teratogenik
Fisik
Kimia
Biologis
Bawaan dari
orang tua
Radiasi, sinar-X
Obat-obatan,
polutan, alkohol
Virus, rubella,
TORCH
Mutasi pd gen
Ggn.proses
pembentukan organ
Malformasi (kelainan bentuk)
Perubahan formasi sel, jaringan, organ
Terjadi duplikasi jaringan lunak
Kelainan kongenital
polidaktili
teratogenesis
Pre operasi Post operasi
Penambahan jari
ansietas
Luka operasi
Resiko tinggi
infeksi
Kerusakan
integritas
kulit
Kontak dgn bakteri nyeri
Kurang
pengetahuan
Ketidaktahuan
keluarga mengenai
penyakit
Ggn. Konsep
Diri (citra diri)
Menolak atas
kelainan diri

9

2.1.1.5 Klasifikasi
a. Polidaktili postaxial
Duplikasi pada jari kelingking. Pada tipe A, jari tambahan tumbuh penuh.
Pada tipe B, jari tambahan tumbuh tidak sempurna dan bercabang. Seeorang
dengan polidaktili tipe A dapat menghasilkan keturunan dengan polidaktili tipe A
atau B, sedangkan seseorang dengan polidaktili tipe B dapat menghasilkan
keturunan dengan hanya polidaktili tipe B.









Gambar 2.3 Polidactili Postaxial

b. Polidaktili preaxial : duplikasi pada ibu jari
Tahap penyatuan tulang, Wassel mengklasifikasikan polidaktili ibu jari
menjadi 7 tipe.
1) Tipe I, phalanx distal bercabang (sangat jarang , 2 %)
2) Tipe II, phalanx distal berduplikasi (15 %)
3) Tipe III, phalanx proksimal bercabang tetapi phalanx distal berduplikasi
(6 %)
4) Tipe IV sering terjadi (43 %), baik phalanx proksimal maupun phalanx
distal berduplikasi
5) Tipe V (10 %), metakarpal dari ibu jari bercabang, dan kedua phalanx
distal dan proksimal berduplikasi
6) Tipe VI (4 %) metakarpal ibu jari dan kedua phalanx distal dan
proksimal berduplikasi
7) Tipe VII (20 %) ibu jari hanya memiliki 3 ruas phalanx.

10











Gambar 2.4 Tipe Polidactili Preaxial

c. Polidaktili sentral : duplikasi dari jari telunjuk, jari tengah dan jari manis
dihubungkan pada polidaktili sentral atau axial.






Gambar 2.5 Polidaktili Sentral
2.1.1.6 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a. Anamnesis :
1) Apakah ada anggota keluarga yang dilahirkan dengan jari tambahan?
2) Apakah ada riwayat keluarga dengan kelainan yang berhubungan dengan
polidaktili?
3) Apakah ada gejala lain?
b. Pemeriksaan Fisik
Terlihat adanya jari tambahan (inspeksi).
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Analisa kromosom

11

2) Rontgen






Gambar 2.6 Hasil Rontgent Polidactili
2.1.1.7 Penatalaksanaan
a. Tindakan pembedahan
Tindakan pembedahan untuk mengangkat jari tambahan biasanya
dilakukan untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul akibat polidaktili.
Pengangkatan jari tambahan di jempol kaki merupakan prosedur tersering karena
implikasi kosmetik dan kenyamanan saat memakai sepatu. Bila jari berlebihan
hanya berupa gumpalan daging, biasanya tidak mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak, tapi mungkin anak menjadi malu atau minder. Tindakan
operasi biasanya dilakukan saat usia telah mencapai 1 tahun.
b. Pemeriksaan Rontgen
Diperlukan untuk menentukan apakah jari tambahan mengandung struktur
tulang, dan untuk menentukan perubahan yang dapat terjadi saat operasi.

2.1.2 Asuhan Keperawatan
2.1.2.1 Pengkajian
a. Anamnesis
Mengenai riwayat keluarga, apakah orangtua ada yang mengalami polidaktili.
b. Riwayat prenatal-postnatal
Apakah selama hamil ibu minum alkohol, terpapar sinar-X, terkena TORCH.
c. Riwayat kelahiran serta berat badan lahir.
d. Pemeriksaan fisik
Dilakukan keseluruh tubuh untuk menggali adanya kelainan atau anomali
lainnya dibagian tubuh lain. Pemeriksaan fisik dengan dilakukan secara
sistematik, dengan cara inspeksi yaitu terlihat adanya jari tambahan.

12

Berikut adalah pemeriksaan yang harus dilakukan :
1) Catat dan dokumentasikan nomor jari tangan yang mengalami gangguan,
keterlibatan jaringan yang mengalami penambahan, penyatuan, panjang setiap
jari, dan tampilan dari kuku.
2) Pengambilan foto pada tangan terutama pada saat pertama kali kunjungan
biasanya sangat membantu diagnosis.
3) Lakukan pergerakan pasif untuk memeriksa adanya penambahan tulang dengan
penambahan jaringan lunak.
4) Periksa dengan mempalpasi adanya polidaktili yang tersembunyi.
5) Tingkat anomali dari struktur tendon dan neurovaskular mencerminkan
kompleksitas dari polidaktili. Adanya kondisi polidaktili komplet atau
kompleks biasanya melibatkan bagian distal dari falang (jari ).
6) Selalu melakukan pemeriksaan radiografi untuk membantu identifikasi anomali
lainnya.
2.1.2.2 Diagnosis Keperawatan
a. Pre Operasi
1) Gangguan konsep diri berhubungan dengan anomali kongenital/
perubahan bentuk tubuh (kaki/tangan)
2) Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan
3) Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga
mengenai penyakit atau pengobatan.
b. Pasca Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan luka pascaoperasi
2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan
3) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan
2.1.2.3 Intervensi
a. Pre Operasi
1) Gangguan konsep diri berhubungan dengan anomali kongenital /
perubahan bentuk tubuh (kaki/tangan)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan klien dapat
menunjukkan harga diri16 dengan mengungkapkan penerimaan
diri secara verbal.

13

Intervensi :
a) Dorong klien mengekspresikan perasaan, khususnya mengenai
bagaimana individu merasakan, memikirkan atau memandang dirinya.
b) Dorong klien untuk bertanya mengenai masalah, penanganan,
perkembangan, prognosis kesehatan.
c) Beri informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang sudah
diberikan
d) Hindari kritik negative
e) Beri privasi dan keamanan lingkungan
f) Dorong interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa yang
mendukung
g) Perjelas adanya kesalahan konsep klien mengenai diri, perawatan atau
pemberi perawatan
2) Ansietas berhubungan dengan dengan rencana pembedahan
Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan
keperawatan
Intervensi :
a) Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
b) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan
ketakutannya
c) Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa
medis
d) Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
3) Kurang pengetahuan b/d ketidaktahuan keluarga mengenai penyakit atau
pengobatan.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pengetahuan
klien terhadap penyakit bertambah.
Intervensi :
a) Berikan informasi tentang proses penyakit.
b) Cek keakuratan umpan balik untuk memastikan bahwa pasien
memahami penanganan yang dianjurkan dan informasi yang relevan
lainnya

14

c) Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya
d) Tentukan motivasi pasien untuk mempelajari informasi khusus
b. Pasca Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan luka pasca operasi
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1X24 jam,
diharapkan nyeri klien berkurang bahkan hilang
Intervensi :
a) Kaji skala nyeri klien
b) Ajarkan strategi relaksasi distraksi untuk managemen nyeri
c) Tanyakan pada anak apa yang meredakan nyeri dan apa yang
membuatnya lebih buruk
d) Tingkatkan rasa aman dengan penjelasan dan kesempatan untuk
memilih
e) Jelaskan pada anak bahwa dia dapat dialihkan perhatiannya dari
prosedur jika hal itu yang diinginkan
f) kolaborasi terapi analgesik
2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1X24 jam,
diharapkan klien menunjukkan penyembuhan jaringan progresif.
Intervensi :
a) Pantau kulit dari adanya ruam dan lecet
b) Bersihkan kulit saat terkena kotoran
c) Minimalkan terpajannya kulit pada lembab
d) Jadwalkan mandi untuk pasien, gunakan pembersih yang ringan
e) Gunakan lapisan pelindung, seperti krim atau bantalan penyerap
kelembapan untuk menghilangkan kelebapan yang berlebihan, jika
memungkinkan
f) Ganti posisi dengan hati-hati untuk menghindari cedera pada kulit
yang rentan
g) Pantau status gizi dan asupan makanan


15

2.2 Konsep Syndaktili
2.2.1 Konsep Teori Sindaktili
2.2.1.1 Pengertian Sindaktili
Sindaktili merupakan defek pada diferensiasi (Scanderbeg & Dallapiccola
, 2005).
Sindaktili adalah kondisi terdapatnya tidak adanya atau pembentukkan
inkomplet jeda jarak diantara dua jari-jari (Brunner, et al, 2007).
Sindaktili merupakan kegagalan pemisahan antara jari-jari yang
berdekatan yang menghasikan adanya jaringan pada jari-jari (Hurley, 2011).





Gambar 2.7 Sindaktili

2.2.1.2 Etiologi Sindaktili
Kegagalan prosese resesi dari pembelahan jari-jari (webbing) pada pasien
sindaktili masih belum diketahui. Riwayat keluarga didapatkan 15%-40% kasus.
Pola pewarisan genetik ditemukan pada pasien sindaktili tanpa berhubungan
dengan kondisi lain. Sindaktili merupakan tipe autosom dominan dengan variable
pentrance (Herring, 2013). Sindaktili terjadi karena mutasi, predisposisi keluarga
yang mengindikasikan adanya pola autosom dominan. Sindaktili juga
berhubungan dengan sindrom spesifik seperti Apert syndrome (Kenner,
2013).Sindaktili erhubungan dengan sindrom craniofacial seperti Apert Sydrome
atau acrocephalosyndactyly. Poland syndrome dan constriction bund syndrome
(Parvizi, 2010).



16

2.2.1.3 Patofisiologi Sindaktili
Pada ibu hamil yang mengkonsumsi obat mempunyai resiko bayi
mengalami malformasi jari-jari. Terdapat dua kategori obat yang meningkatkan
risiko tersebut yaitu antikonvulsan dan antiasmatik (Kallen, 2014).
Sindaktili merupakan hasil kegagalan dari diferensiasi dan diklasifikasikan
oleh klasifikasi embriologi pada anomali kongenital yang diadopsi dari
International Federation for Societies for Surgery of the Hand (Hurley, 2011).
Secara embriologi jari-jari tumbuh dari kondensasi mesoderm dalam dasar
perkembangan upper limb. Selama kehamilan 5-6 minggu, terbentuk pembelahan
antar jari melalui proses apoptosis atau programed cell death, bermula pada ujung
jari dan diteruskan ke arah distal serta proksimal. Daerah ektodermal meregulasi
proses embriologi ini dalam kombinasi dengan faktor pertumbuhan, protein
morfogenetik tulang, perubahan faktor pertumbuhan, produksi gen. Terjadinya
kegagalan pada proses ini dapat terjadi sindaktili (Hurley, 2011).
Terdapat lima perbedaan fenotip pada sindaktili tangan, dengan
menyertakan kaki atau tidak. Pada semua tipe merupakan warisan ciri pembawaan
autosom dominan serta keseragaman dari tipe yang dikenali dalam silsilah. Tipe
genetik dari sindaktili akan berbeda dari sindaktili yang berhubungan dengan
congenital constricting bands, kondisi non-mendel. (Scanderbeg & Dallapiccola ,
2005).
Jenis kelamin yang biasanya terkena sindaktili adalah laki-laki daripada
perempuan serta kulit putih lebih rentan terkena daripada kulit hitam atau orang
Asia (Hurley, 2011).
Pada permasalahan keluarga tersebut, sindaktili berhubungan dengan
bermacam-macam anomali dan sindrom malformasi. Sindaktili biasanya terjadi
pada acrocephalo (poly) syndactyly syndrome yang berdengan kekhasan
abnormal pada craniofasial. Pada Apert Syndome (acrocephalosyndactyly tipe I),
multipel progresif syostose meliputi phalax distal (biasanya pada jari ke-3 dan 4)
dan akhir proksimal pada metakarpal (ke-4 dan ke-5) pada kedua tangan.
Perlekatan osseus pada jari ke-2 sampe ke-4, kuku tunggal terdapat pada masa
tulang yang menonjol. Perlekatan karpal progresif sympalangism dan khas dari
konfigurasi ibu jari tangan pendek dan meluas distal phalanx dengan deviasi

17

radial serta pendek, betuk delta proximal phalanx (Scanderbeg & Dallapiccola ,
2005).
Sindaktili kutaneus pada jari ke-2 hingga 5 dan jari-jari kaki biasanya
ditemukan. Manifestasi pada kaki meliputi perlekatan progresif tarsal , toe
syphalangism, da jari-jari kaki sangat pendek dengan deformitas varus
(Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).
Tipe acrocephalosyndactyly pada tangan dan tulang tengkorak terjadi
perubahan ringan. Pada Saethre-Chotzen syndrome (acrocephalosyndactyly tipe
III), sindaktili kutaneus parsial khasnya adalah pada jari tanga ke-2 dan 3 serta
pada jari kaki ke-3 dan 4 dengan ibu jari normal (Scanderbeg & Dallapiccola ,
2005).
Pada Pfeiffer syndrome (acrocephalosyndacytyly tipe V) autosom resesif,
dimana terdapat banyak macam dari ekspresi fenotip dengan perubahan dari
ringan hingga berat pada medekati yang dijumpai pada Apert syndrome
(Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).


18

2.2.1.4 WOC Sindaktili

Kegagalan proses
pembelahan jari
dan apoptosis
Riwayat
sindaktili pada
keluarga
Pewarisan
gen autosom
dominan
Sindrom
craniofacial
Konsumsi obat
antikonvulsan
dan antiasmatik
Mutasi gen
Kegagalan
perkembangan jari
Malformasi jari
Sindaktili
Ekspresi gen
autosom dominan
Fenotip pada sindaktili
Tipe sindaktili
Tipe I
- Lokus 2q34-q36
- Perlekatan komplit
atau parsial pada
jari ke-3 dan 4
- Perlekatan tulang
pada phalanx distal
- Pada kaki diantara
jari ke-2 dan 3
Tipe II
- Mutasi pada gen
HOXD13 lokus
2q31-q32
- Pada jari ke-3 dan
4 duplikasi pada
jari ke-3 dan 4
dalam selaput
diantara jari-jari
- Pada kaki jari ke-4
dan ke-5 duplikasi
ada kelima jari
kaki denngan
selaput dantara jari
kaki
Tipe III
- Komplit dan
sindaktili jaringan
lunak bilateral
diantara jari ke-4
dan ke-5
- Perlekatan ossues
tulang jari distal
- Jari-jari pendek,
dasar, atau tidak
ada pada jari ke-5
bagian tengah
Tipe IV
- Tangan seperti
mangkok
- Tidak ada
perlekatan tulang
- Pada kaki lebih
kompleks
Tipe V
- Jarang ditemukan
- Mempengaruhi
jari ke-3 dan 4
serta jari kaki ke-2
dan 3
Klasifikasi
1. Simpel sindaktili
Perlekatan pada jaringan lunak dan kulit
2. Sindaktili kompleks
Perlekatan melibatkan tulang, jar.lunak,
dan struktur neurovaskar
3. Sindaktili parsial
Melibatkan daerah proksimal pada jari
tangan
4. Sndaktili komplit
Memanjang keseluruh sampai ujung jari
5. Complicated Syndactyly
Tulang yang abnormal diantara jari-jari
6. Acrosyndactyly
Perlekatan hanya melibatkan bagian
distal pada jari tangan



Penatalakasanaan


Bedah


MK Pre-op:
1. Kecemasan orang tua
2. Kurang pengetahuan orang
tua tetang kondisi,
prognosis dan kebutuhan
pengobatan



Terdapat luka
pembedahan

Stimulus pengeluaran
neurotransmitter nyeri

Port de entree
bakteri
MK: Nyeri
akut



MK: Kerusakan
integritas kulit



MK: Risiko
infeksi



Non bedah



19

2.2.1.5 Tipe Sindaktili
a. Sindaktili Tipe I
Pada sindaktili tipe I terdapat perlekatan yang kuat komplit atau parsial
seperti pada perlekatan kutan diantara jari ke-3 dan ke-4, kadang terdapat pula
perlekatan tulang pada tulang jari (phalanx) distal. Pada kaki biasanya sindaktili
terjadi diantara jari kaki ke-2 da ke-3. Kejadian sindaktili tipe I terjadi tanpa
dihubungkan dengan adanya anomali limb, Poland compelx, atau amniotic bands
yang diperkirakan terjadi pada 3/10.000 bayi baru lahir. Sindaktili tipe I lokus
pada 2q34-q36 (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).












Gambar 2.8 Sindaktili tipe I pada bayi laki-laki. (a) komplit (tangan kiri) dan
parsial (tangan kanan) peyatuan diantara jari tangan ke-3 dan 4.
b. Sindaktili Tipe II
Pada sindaktili tipe II (synpolydactyly) biasanya sindaktili pada jari ke-3
dan ke-4 berhubungan dengan duplikasi pada jari 3 atau 4 dalam selaput diantara
jari-jari. Pada kaki selalu menunjukkan terjadi sindaktili pada jari kaki ke-4 dan 5
dengan duplikasi pada kelima jari kaki pada selaput diantara jari-jari kaki. Aplasia
atau hipoplasia pada tulang jari bagian tengah pada kaki dapat ditemukan. Fenotip
ini disebabkan oleh adanya mutasi di dalam gen HOXD13 dipetakan pada 2q31-
q32 (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).

20











Gambar 2.9 Sindaktili tipe II (synpolydactyly) (a) sindaktili distal pada jari ke-3
dan 4 degan duplikasi jari tangan ke-4. (b) (c) sindaktili jaringan
lunak diantara jari k-3 dan 4 dngan duplikasi pada jari ke4 yang
lekat. Jari tangan tambahan hanya sebagian terbentuk dan menyatu
dengan jari ke-4. (c) malformasi komplek yang terlihat, bercerangah
metakarpal ke-3 dengan duplikasi pada jari tangan ke-3, proksimal
dan distal sinostosis pada jari tambahan dengan ke-4. Kaki juga ikut
terpengaruh.
Keberagaman pada defek yang ditunjukkan secara klinis pada keluarga
yang sama dijumpai secara signifikan dengan individu yang menunjukkan ciri-ciri
tipe pada sinpolidaktili, yang lainnya menunjukkan kedua pre dan postaxial
polidaktili atau postaxial polidaktili tipe A dan masih termanifestasi berat fenotip
yang kosisten dengan homozigot. Manifestasi klinis pada fenotip homozigot
meliputi tangan yang sangat kecil dan kaki dengan jari-jari pendek. Sindaktili
jaringan lunak komplit meliputi semua empat limbs, polidaktili komplit, distorsi
pada tulang panjang di tangan dan kaki serta tulang carpotarsal (Scanderbeg &
Dallapiccola , 2005).
c. Sindaktili Tipe III
Pada sindaktili tipe III (ring and little finger syndactyly) biasanya komplit
dan sindaktili jaringan lunak bilateral diantara jari ke-4 dan ke-5. Kadang-kadang
perlekatan ossues pada tulang jari distal terjadi. Terjadinya ketidakadaan, pendek
atau dasar pada phalanx ke-5 bagian tengah merupakan bagian dari fenotip. Pada

21

kaki tidak termasuk dalam sindaktili tipe III dan adanya kejang paraplegia di
dalam keluarga yang sama lebih dari multipel generasi mengangkat kemungkinan
bahwa adanya dua gen yang berhubungan. Hubungan tersebut terbukti bahwa
isolasi sindaktili tipe III ditentukan oleh adanya mutasi gen di dalam 6q22-q24,
dimana pada gen tersebut untuk oculodentodigital syndrome. Ciri-ciri yang
diwariskan sama autosom dominan dengan transmisi laki-laki ke laki-laki
(Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).
d. Sindaktili Tipe IV
Pada sindaktili tipe IV tidak terdapat sindaktili kutaneus komplit pada
seluruh jari di kedua tangan yang dihubungkan dengan pre- atau postaxial
hexadactyly (jari-jari tambahan yang berkembang sepenuhnya dengan duplikasi
metakarpal komplit). Flexi pada jari-jari membuat tangan berbentuk mangkok.
Sindaktili tipe IV tidak terdapat perlekatan tulang. Sindaktili kutaneus parsial
pada jari kaki 2 dan 3 dapat terjadi. Sindaktili tipe IV dengan hexadactyly pada
kaki berbeda dan lebih kompleks pada malformasi lower limbs lainnya seperti
aplasia tibia (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).
e. Sindaktili Tipe V
Sindaktili tipe V jarang ditemukan, jarinagan lunak sindaktili terjadi
berhubungan dengan metakarpal dan metatarsal sinostosis. Sindaktili jaringan
lunak biasanya mempengaruhi jari-jari tangan ke-3 dan 4 serta jari-jari kaki ke-2
dan 3 tetapi tidak dapat lebih luas. Metakarpal dan metatarsal biasanya melibatkan
jari ke-4 dan 5 (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).

2.2.1.6 Klasifikasi Sindaktili
Sindaktili kongenital diklasifikasikan berdasarkan pada keterlibatan jari-
jari dan karakter dari jaringan yang bergabung (Hurley, 2011).
a. Simpel Sindaktili
Perlekatan terbatas pada jaringan lunak dan kulit diantara dua jari tangan
yang berdekatan (simple atau kutaneus sindaktili).


22








Gambar 2.10 Simpel Sindaktili pada anak 1 tahun (laki-laki). Jaringan lunak
menempel pada daerah distal akhir jari ke-4 dan ke-5.
b. Sindaktili Komplek
Sindaktili atau perlekatan yang melibatkan tulang, jaringan lunak, dan
struktur neurovaskuler (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005)








.
Gambar 2.11 Sindaktili kompleks dengan perlekatan diantara jari tangan ke-4 dan
5 meliputi jaringan lunak dan tulang keduanya. Sindaktili pada kasus
ini merupakan parsial karena hanya melibatkan bagian proksimal
pada jari tangan (proximal phalanges). Pada temuan selanjutnya
meliputi adanya defisiensi proksimal ke-4 metakarpal dan penyatuan
karpal antara lunate triquetrum.
c. Sindaktili Parsial
Sindaktili yang melibatkan daerah proksimal pada jari-jari tangan disebut
sindaktili parsial (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).



23

d. Sindaktili Komplit
Sindaktili yang memanjang kearah ujung dari seluruh panjang jari-jari
tangan disebut sindaktili komplit (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).
e. Complicated Syndactyly
Tulang yang abnormal diantara jari-jari (Hurley, 2011).
f. Acrosyndactyly
Acrosyndactyly adalah perlekatan yang hanya melibatkan bagian distal
pada jari-jari tangan (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005).

2.2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik Sindaktili
a. Radiologi
Plain radiograph pada jari atau tangan yang terdampak dapat diperoleh
secara akurat klasifikasi sindaktili dan untuk mengkaji adanya perlekatan tulang
atau penempatan aksesoris tulang (Hurley, 2011).
Proyeksi AP dan oblique (Scanderbeg & Dallapiccola , 2005):
1) Jaringan komplit atau parsial antara jari ke-3 dan 4 dengan atau tanpa
perlekatan tulang pada akhir distal, tipe I sindaktili.
2) Sindaktili pada jari tangan ke-3 dan 4 menyambung, sindaktili pada jari
kaki ke-4 dan 5 dengan duplikasi pada jari ke-5 dalam jaringannya,
aplasia/hipoplasia pada phalanx tengah jari kaki (sindaktili tipe II).
3) Sindaktili jaringan lunak bilateral pada jari tangan ke-4 dan dengan atau
tanpa perlekatan tulang pada akhir distal, hipoplasia pada phalanx tengah
ke-5 (sindaktili tipe III).
4) Sindaktili perlekatan jaringan lunak bilateral pada seluruh jari-jari tangan,
preaxial atau postaxial hexadactili (sindaktili tipe IV).
5) Perlekatan jaringan lunak pada jari-jari ke-3 dan 4 dan jari kaki ke-2 dan 3,
metakarpal dan metatarsal sinostosis (sindaktili tipe V).
6) Sindaktili kutaneus bilateral pada jari ke-2 sampai 5 pada tangan dan kaki
dengan perlekatan tulang pada tulang jari distal, sinostosis proksimal akhir
metacarpal atau metatarsal, perlekatan karpotarsal, ibu jari pendek dan
deformitas dan jari kaki besar (Apert syndrome).


24







Gambar 2.12 Apert syndrome
7) Sindaktili kutaneus pada jari tangan ke-2 dan 3 serta pada kaki jari ke-3
dan 4 (Saethre-Chotzen syndrome).

2.2.1.8 Komplikasi Sindaktili
Komplikasi dari pembedahan yang kurang baik adalah dilakukannya
pembedahan ulang pada anak-anak (Herring, 2013).

2.2.1.9 Penatalaksanaan Sindaktili
a. Penatalaksanaan Kolaboratif
Orang tua pasien dengan sindaktili diinstruksikan untuk melakukan
physical therapy yaitu masase pada kulit yang menyatu. Masase daerah yang
menyatu sebelum pembedahan tujuannya untuk meregangkan kulit sehingga dapat
diperbaiki lebih mudah (Kenner, 2013).
b. Penatalaksanaan Non-Bedah
Penatalaksanaan non-bedah dipertimbangkan untuk sindaktili ringan,
inkomplit yang sederhana. Pemilihan non-bedah juga dipilih pada kasus sidaktili
yang rumit (Compicated Syndactyly) yang biasanya disebut “superdigit” atau pada
kasus polisindaktili kompleks kaena kesulitan dalam mencapai perbaikan fungsi
yang optimal setla dilakukan pembedahan. Pada sindaktili simple complete tidak
dianjurkan penatalaksanaan non-bedah (Hurley, 2011).
c. Pembedahan
Pembedahan menakutkan karena risiko komplikasi paa kaki lebih banyak
daripada tangan. Postoperasi tidak menjamin jarak antara jari kering diantara jari-
jari, pada akhirnya dapat memicu potensi adesi pada luka dan pembentukan skar
yang dapat menyebabkan masalah fungsi (Brunner, et al, 2007).

25

Pertimbangan pembedahan yaitu (Hurley, 2011):
a. Jari-jari yang berbeda harus dilepas segera untuk mencegah deformitas dan
gangguan pertumbuhan pada jari-jari.
b. Penutup sekitar kulit digunakan untuk membentuk batas dan mencegah
kontraktur skar.
c. Pembungkus lateral zigzag digunakan untuk mencegah kontraktur skar
longitudinal.
d. Pembungkus untuk mempercepat penutupan kulit, mengurangi tekanan
disekitar pembungkus, dan memperindah estetik dari jari-jari yang
direkonstruksi.









Gambar 2.13 Perencanaan insisi untuk memisahkan simple complete sydactyly (A)
Dorsal (B) Volar. (C) Jari-jari dipisahkan. (D) komusira intedigital.
(E) Pemisahan sudah selesai.

2.2.1.10 Prognosis Sindaktili
Prognosis dari sindaktili adalah bagus dengan fungsi dan bentuk normal,
kecuali pada kasus sindaktili kompleks yang melibatkan tulang, pembuluh darah,
jaringan saraf. Pada kasus tersebut berhubungan dengan kehilangan fungsi setelah
operasi (Kenner, 2013).


26

2.2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sindaktili
2.2.2.1 Pengkajian
Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, umur, suku, agama,
pendidikan, alamat, pekerjaan, tanggal masuk tanggal pengkajian. Biasanya
banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Terdeteksi adanya
kelainan umumnya sejak baru lahir. Terdapat riwayat keluarga dengan sindaktili.
Inspeksi ditemukan adanya perlekatan kulit diantara sela-sela jari-jari
tangan/kaki atau keduanya. Pada sela jari ke-3 yang lebih banyak terjadi (50%),
jari ke-4 30%, jari kedua 15%, dan pertama 5%. Terdapat sindaktili dari sedang
hingga berat. Pada derajat yang berat melibatkan komplit kutaan dan perlekatan
tulang sepanjang 2 jari sampai kuku, hingga mempunyai satu kuku (hudgins,
Louanne, et al, 2014).

2.2.2.2 Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa Pre-Operasi
1. Kecemasan orang tua berhubungan dengan rencana tindakan pembedahan.
2. Kurang pengetahuan orang tua tetang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.
b. Diagnosa Post-Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi sekunder dari tindakan
pembedahan.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan struktur kulit
sekunder dari tindakan pembedahan.
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka insisi sekunder dari tindakan
pembedahan.


27

2.2.2.3 Intervensi Keperawatan
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa
Keperawatan
Tujuan dan kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
1 Kecemasan orang tua
berhubungan dengan
rencana tindakan
pembedahan.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam,
cemas berkurang degan kriteria
hasil:
- Orang tua klien mengatakan
sudah tidak cemas
- Tidak sering bertanya tentang
kondisi anaknya
- Mengatakan siap untuk
dilakukan pembedahan
1. Kaji kecemasan
2. Berikan informasi yang akurat dan
berikan penjelasan tindakan
3. Diskusikan penundaan pembedahan
dengan doter, anatesiologi, dan
keluarga
1. Kecemasan dapat
mengakibatkan reasi stress
2. Memberikan penjelasan tentang
prosedur dapat menambah
pengetahuan tentang tindakan
sehingga dapat mengurangi
kecemasan prosedur
3. Apabila rasa cemas berlebihan
2 Kurang pengetahuan
orang tua tetang
kondisi, prognosis dan
kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan
kurang informasi.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam
pengetahuan meningkat, dengan
kriteria hasil:
 Orang tua klien mengatakan
mengetahui tentang kondisi
anaknya
 - Orang tua klien mengatakan
mengetahui tentang penyakit
anaknya
1. Kaji pegetahuan orang tua pasien
tentang penykit dan kondisi anaknya
2. Berikan penjelasan tentang penyakit
anak
1. Untuk memberikan informasi
tentang penyakit anak
2. Meningkatkan pengetahuan
orangtua
3 Nyeri akut berhubungan
dengan luka insisi
sekunder dari tindakan
pembedahan.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam nyeri
akut dapat berkurang, dengan
kriteria hasil:
- Skala nyeri grimace anak
menunjukkan nyeri sedang
1. Kaji nyeri menggunakan skala nyeri
2. Berikan posisi yang nyaman
3. Kolaborasi dengan tim medis untuk
pemberian analgesik
1. Mengetahui tingkat nyeri
2. Posisi yang nyaman
mengurangi stimulus nyeri dari
luar
3. Untuk mendapatkan terapi dan
dosisi yang sesuai untuk anak-

28

sampai ringan
- Anak tidak menangis, gelisah,
dan rewel
- RR dalam rentang normal yaitu
28 kali/menit
- Nadi dalam rentang normal
yaitu 100x/ menit
anak
4 Kerusakan integritas
kulit berhubungan
dengan perubahan
struktur kulit sekunder
dari tindakan
pembedahan.
Setelah dilakukan perawatan
selama 3x24 jam, kerusakan
integritas kulit berkurang, dengan
kriteria hasil:
- Jahitan mulai menyatu
- Tidak terdapat pus
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
1. Kaji daerah sekitar luka apakah ada
pus atau jahitan basah
2. Periksa luka secara teratur dan catat
karakteristik integritas kulit
3. Rawat luka dan jahitan dengan
teknik aseptik
4. Perhatikan intake nutrisi klien
1. Deteksi dini terjadina gangguan
proses penyembuhan
2. Menilai perkembangan luka
3. Mencegah infeksi dan transmisi
bakteri pada jahitan dan luka
4. Kebutuhan protein sangat
penting untuk pertumbuhan
jaringan yang dapat
mempercepat proses
penyembuhan luka
5 Risiko tinggi infeksi
berhubungan dengan
luka insisi sekunder
dari tindakan
pembedahan.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam tidak
terjadi infeksi, dengan krteria hasil:
- Suhu ubuh normal yaitu 36
0
celcius
- Tidak terdapat tanda-tanda
infeksi pada luka (rubor, dolor,
kalor, tumor, fungsiolesa) dan
tidak terdapat pus
- Anak tidak rewel
1. Lakukan rawat luka sesuai
kebutuhan pasien dengan teknik
steril
2. Kaji kondisi luka setiap merawat
luka
3. Kolaborasi dalam pemberian
antibiotik
1. Pencegahan transmisi bakteri
yang dapat menyebabkan
infeksi pada luka dan jahitan
2. Mengidentifikasi adanya pus
dan tanda-tanda infeksi (rubor,
dolor, kalor, tumor,
fungsiolesa)
3. Pemberian antibiotik untuk
pencegahan transmisi mikroba
pada luka dan jahitan

29

2.3 Konsep CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) Genu Valgum dan Genu
Varus
2.3.1 Konsep Teori CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) Genu Valgum
dan Genu Varus
2.3.1.1 Definisi
Genu Varum (bowleg) merupakan melengkungnya tibia kearah lateral.
Kaki melengkung seperti busur unilateral atau asimetris yang terjadi setelah usia 2
sampai 3 tahun, terutama pada anak kulit hitam, dapat menunjukkan adanya
kondisi patologis yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Genu Valgum (Knock-knee), tampak berlawanan dengan Genu Varum.
Genu Valgum merupakan lutut saling mendekat satu sama lain tetapi kaki terpisah
jauh.. Knock-knee yang berlebihan, asimetris, disertai dengan pemendekan tinggi
tubuh, atau terjadi pada anak yang mendekati masa pubertas memerlukan evaluasi
lebih lanjut.









(a) (b)
Gambar 2.14 Bentuk kaki (a) Genu Varum; (b)Genu Valgum

2.3.1.2 Etiologi
Penyebab Genu Varum dan Genu Valgum antara lain :
a. Posisi tidur yang salah
Apabila berlangsung dalam waktu lama dapat mengakibatkan gangguan
rotasi dan bentuk tungkai.
b. Kebiasaan duduk yang salah

30

c. Pemakaian popok sekali pakai dalam waktu yang lama
Dapat membuat anak sulit untuk menemukan posisi kaki yang stabil.
d. Pemakaian babywalker
Anak belum kuat untuk menopang berat badannya memaksa salah satu kaki,
sehingga tungkai bawah dan pegelangan kaki yang terlatih maka
ketidakseimbangan kekuatan otot terjadi.
e. Kebiasaan menggendong yang salah
Terbentuknya Genu Valgum (kaki X) dan Genu Varum (kaki O)
disebabkan oleh :
a. Jenis Kelamin
Perempuan lebih sering mengalami Genu Valgum karena perempuan
mempunyai pelvis yang lebih luas daripada pria serta dan relatif paha pada wanita
lebih pendek daripada pria.
b. Obesitas
Pada anak yang obesitas cenderung memiliki bentuk Genu Varum karena
kaki menopang berat badan yang berlebih.

2.3.1.3 Patofisiologi
Pada saat anak mulai berjalan dan usia 1,5 – 2 tahun, sudut lutut biasanya
berbentuk O. Batasan 8 derajat dan dianggap normal dengan jarak ukuran 4 cm
dari kedua lututnya. Pada usia 3 – 4 tahun kaki balita cenderung berubah seperti
huruf X. Bentuk lututnya searah ke depan, juga tidak lebih dari 8 derajat dengan
jarak sekitar 4 cm antara kedua mata kaki. Tidak ada rotasi berlebihan dengan
derajat yang akan berkurang hingga mencapai usia 6 tahun.
Pada keadaan normal, physis dan epiphysis terlindungi dari tekanan
patologis dan mempertahankan pertumbuhan serta keseimbangan kaki sehingga
kaki dapat lurus. Kelainan bentuk kaki (X atau O) merupakan jenis gangguan
pertumbuhan tulang kaki akibat terjadinya pergeseran rotasi pada persendian
antara tulang paha dan tulang lutut. Hal ini, diakibatkan oleh kesalahan perlakuan
dalam menangani balita.
Gangguan pertumbuhan pada bentuk kaki seperti ini mengakibatkan sudut
yang terbentuk antara kedua tulang menjadi tidak normal. Ketika, berdiri, titik

31

beratnya tidak terletak di antara jari kaki pertama dan kedua seperti yang terjadi
pada kaki yang normal. Biasanya disebabkan oleh gangguan rotasi atau putaran
tulang yang salah, sehingga sumbu putaran bergeser dan tidak jatuh pada titik
sumbu yang semestinya. Hal ini jelas terlihat ketika anak sering jatuh ketika
belajar jalan, sehingga anak menjadi mudah lelah, dan cenderung membuat
aktivitasnya menjadi terbatas. Dan yang paling penting, akan sangat
mempengaruhi penampilan, dan berdampak pada rasa percaya diri anak .
Hal ini akan menghambat pertumbuhan physeal, tetapi juga dengan adanya
efek Hueter-Volkmann pada seluruh epiphysis yang dapat menghambat perluasan
(ekspansi) tulang. Menurut prinsip Hueter-Volkmann, pasokan tekanan yang terus
menerus (berdiri, berjalan) yang berlebihan pada epiphysis dapat menyebabkan
sulkus femur menjadi lebih pendek, dan adanya kecenderungan patella (lutut)
miring ke arah lateral sehingga menempel.

2.3.1.4 Manifestasi Klinis
Genu valgum atau Genu varum merupakan jenis gangguan pertumbuhan
tulang kaki yang sering dijumpai. Terjadi akibat adanya pergeseran rotasi pada
persendian antara tulang paha dan tulang lutut.
Pada saat anak berdiri titik berat tidak terletak di antara jari kaki pertama
dan kedua seperti yang terjadi pada kaki yang normal. Hal ini dikarenakan sudut
yang terbentuk antara dua kaki tidak normal. Anak sering jatuh ketika belajar
jalan sehingga anak menjadi mudah lelah, dan cenderung membuat aktivitasnya
menjadi terbatas.




32

2.3.1.5 WOC

y
Muscle imbalance
Genetik/Kongenital Posisi tidur yg
salah
Kebiasaan menggendong
salah
Saat berdiri, titik berat tidak terletak
di antara jari kaki pertama dan kedua
Abnormal bentuk kaki
Terjadi pergeseran rotasi persendian
antara tulang paha dan lutut
Genu varum/Genu valgum
Baby walker
Popok sekali pakai
Aktivitas terbatas
Mudah
lelah
Sering terjatuh
Anak belum kuat
menopang berat badan
Penampilan abnormal
MK : Resiko cedera
MK : Hambatan
Mobilitas Fisik
MK : pertumbuhan,
risiko tidak proporsional
Tekanan terus menerus
(berdiri/berjalan)
MK : Gangguan
citra tubuh
Sudut kedua tulang tidak normal
Tekanan berlebih
pada epifisis
Menghambat pertumbuhan
Tekanan ditempatkan
pada femur dan tibia

33

2.3.1.6 Pemeriksaan Diagnostik
a. Radiografi
AP dengan berbaring
1) Keparahan genu varum untuk usia anak
2) Torsi tibia internal yang berlebihan
3) Peningkatan genu varum
4) Tungkai yang asimetri atau tidak selaras
5) Dorongan ke arah lateral
6) Adanya nyeri
7) Pemeriksaan pinggul yang tidak normal







Gambar 2.15 AP dengan berbaring

Pemeriksaan AP dengan berdiri hasilnya:
1) Penampakan yang normal pada pertumbuhan plantar kaki
2) Medial bowing yang mempengaruhi tibia proksimal dan femur distal
3) Mengukur sudut Metaphyseal/Diaphyseal dari upper tibia.
4) Mengukur sudut pada pinggul-lutut-angkle.







Gambar 2.16 Gambar AP dengan berdiri

34


Gambar 2.17 Pertumbuhan kaki normal
b. Laboratorium
Pada anak yang mengalami deformitas diperlukan pemeriksaan sistem
metabolik, meliputi :
1) Kalsium, fosfat, alkaline fosfat, kreatinin, dan hematokrit.
2) PTH
3) 25 Hydroxy Vitamin D
4) I‐25 Dehydroxy Vit D

2.3.1.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan disesuaikan usia, keparahan deformitas, faktor
psikososial.
a. Penatalaksanaan Non Operatif
1) Edukasi
Untuk observasi, memantau waktu dan perkembangan untuk mengkoreksi
kaki anak.
2) Brace treatment
Brace dapat digunakan untuk semua klien dengan usia dibawah 2,5 tahun
dengan blount disease. Brace treatment dapat mengkoreksi deformitas varus
gangguan pertumbuhan pathologic proximal-medial tibial.
3) KAFO (Knee Ankle Foot Orthosis)
Pada anak sebelum usia 3 tahun digunakan knee-ankle-foot-orthosis (KAFO) selama
23 jam sehari. Tulang akan diluruskan dengan brace, orthotic diganti setiap dua
bulan atau lebih untuk memperbaiki posisi bowlegged.


35








Gambar 2.18 Hasil radiologi dari KAFO
b. Operatif
Indikasi mutlak untuk operasi adalah depresi tibialis dataran tinggi
(Langenskold tahap IV), dan kelemahan ligamen lutut. Apabila deformitas tidak
membaik dengan pengobatan orthotic dan penyakit berlanjut ke tahap berikutnya
maka koreksi bedah harus dilakukan. Operasi dianjurkan untuk cacat yang
semakin parah dan bisa melumpuhkan anak, atau jika anak tersebut memiliki
sudut metaphyseal-diaphyseal lebih besar dari 14°.. Osteotomi merupakan
tindakan operasi dimana tulang dipotong untuk memperpendek, memperpanjang,
atau mengubah keselarasannya. Saat osteotomi, sepotong tulang berbentuk baji
akan dihilangkan dari sisi medial femur (tulang paha). Kemudian potongan tulang
dimasukkan ke tibia kemudian dilakukan fiksasi. Apabila fiksasi digunakan di
dalam kaki disebut Osteotomi fiksasi internal. Osteotomi fiksasi eksternal
menggambarkan frame kawat khusus melingkar di bagian luar kaki dengan pin
untuk memegang perangkat di tempat.
Penatalaksanaan operatif lainnya meliputi realignment osteotomy, lateral
hemiepiphyseodesis, dan guided growth di sekitar lutut, distraksi fisis tibia
proksimal asimetris bertahap, reseksi physeal bar, dan elevasi tibial plateau.








36

2.3.1.8 Kompilkasi
Artitis, gangguan vaskular, fraktur patologis, dan infeksi luka.
2.1.3.9 Prognosis
Prognosis tergantung pada usia pasien, keparahan deformitas pada saat
intervensi. Setelah dilakukan osteotomi valgus pada anak dengan Blount disease
onset awal, hasil lebih baik jika koreksi dilakukan sebelum anak berusia 4 tahun.
Pada anak yang berusia lebih tua, deformitas varus tetap berkembang walaupun
dengan pembidaian.
Pada deformitas dengan stadium langenskiold <III saat dilakukan
pembedahan, memiliki hasil akhir yang lebih baik.

2.3.2 Konsep Asuhan Keperawatan CTEV (Congenital Talipes Equinovarus)
Genu Valgum dan Genu Varus
2.3.2.1 Pengkajian
 Biodata klien :
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan
alamat. bayi laki-laki dua kali lebih banyak menderita kaki bengkok
daripada perempuan.
Kelainan ini sering terjadi pada anak laki-laki. Survei membuktikan dari 4
orang kasus Club foot, maka hanya satu saja seorang perempuan. Itu
berarti perbandingan penderita perempuan dengan penderita laki-laki
adalah 1:3 dan 35% terjadi pada kembar monozigot dan hanya 3% pada
kembar dizigot.
 Keluhan Utama :
Keluhan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit karena adanya
keadaan yang abnormal pada kaki anak yaitu adanya berbagai kekakuan
kaki, atrofi betis kanan, hipoplasia tibia, fibula dan tulang-tulang kaki
ringan.
 Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian
seperti Klien tidak mengalami keluhan apa-apa selain adanya keadaan
yang abnormal pada kakinya.
 Riwayat penyakit keluarga
Dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat
diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang
terdapat dalam keluarga.


37

 Riwayat Antenatal, Natal Dan Postnatal
1. Antenatal
Kesehatan ibu selama hamil, penyakit yang pernah diderita serta upaya
yang dilakukan untuk mengatasi penyakitnya, berapa kali perawatan
antenatal , kemana serta kebiasaan minum jamua-jamuan dan obat
yang pernah diminum serat kebiasaan selama hamil.
2. Natal
Tanggal, jam, tempat pertolongan persalinan, siapa yang menolong,
cara persalinan (spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, section
secaria dan gamelli), presentasi kepala dan komplikasi atau kelainan
congenital. Keadaan saat lahir dan morbiditas pada hari pertama
setelah lahir, masa kehamilan (cukup, kurang, lebih ) bulan. Saat lahir
anak menangis spontan atau tidak.
3. Postnatal
Lama dirawat dirumah sakit, masalah-masalah yang berhubungan
dengan gagguan sistem, masalah nutrisi, perubahan berat badan, warna
kulit,pola eliminasi dan respon lainnya. Selama neonatal perlu dikaji
adanya ashyksia, trauma dan infeksi.
 Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan kiri atas, lingkar dada terakhir.
Tingkat perkembangan anak yang telah dicapai motorik kasar, halus, sosial,
dan bahasa. Selanjutnya dilakukan evaluasi ektremitas bawah pada anak.
Dinilai pola berdiri anak, apakah ada posisi abnormal dari kesegarisan
ekstremitas bawah anak, dinilai ada atau tidaknya keabnormalan cara jalan
anak. Jika didapatkan keabnormalan, kemudian anak diminta untuk berbaring
pada meja pemeriksaan untuk menilai apakah ada genu varum dan genu
valgus. Untuk penentuan kelainan pada anak dapat dilakukan dengan dua
cara, yang pertama adalah dengan mengukur sudut femoral-tibia, yaitu sudut
yang dibentuk antara paha dan kaki bagian bagian bawah; atau dapat dinilai
dengan menghitung jarak antar tulang, yaitu jarak interkondilar (pada genu
varum): jarak yang ada diantara kondilus medial femur dari kedua lutut atau
dengan mengukur jarak intermaleolar (pada genu valgum), yaitu jarak antara
malleolus medial pada pada pergelangan kaki. Pemeriksaan ini dilakukan,
karena harusnya pada saat anak berdiri dalam posisi kedua kaki saling
merapat, seharusnya baik lutut dan pergelangan kaki (kondilus dan maleolar)
akan saling bertemu (Swiontkowski & Stovitz, 2001). Pada anak usia 10
sampai dengan 16 tahun, jarak interkondilar normal kurang dari 4 cm pada
anak perempuan dan kurang dari 5 cm pada anak laki-laki, sedangkan untuk
jarak intermelleolus normal adalah kurang dari 8 cm untuk anak perempuan
dan kurang dari 4 cm untuk anak laki-laki (McRae, 2004).
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Sosial , perkawinan orang tua, kesejahteraan dan ketentraman, rumah tangga
yan harmonis dan pola suh, asah dan asih. Ekonomi dan adat istiaadat,
berpengaruh dalam pengelolaan lingkungan internal dan eksternal yang dapat
mempengaruhi perkembangan intelektual dan pengetahuan serta ketrampilan

38

anak. Disamping itu juga berhubungan dengan persediaan dan pengadaan
bahan pangan, sandang dan papan.
 Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi anak sangat penting, dengan kelengkapan imunisasi pada
anak mencegah terjadinya penyakit yang mungkin timbul. Meliputi imunisai
BCG, DPT, Polio, campak dan hepatitis.
 Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola nutrisi, Makanan pokok utama apakah ASI atau PASI. pada umur
anak tertentu. Jika diberikan PASI (ditanyakan jenis, takaran dan
frekuensi) pemberiaannya serta makanan tambahan yang diberikan.
Adakah makanan yan disukai, alergi atau masalah makanan yang
lainnya).
2. Pola eliminasi, sistem pencernaan dan perkemihan pada anak perlu dikaji
BAB atau BAK (Konsistensi, warna, frkuensi dan jumlah serta bau).
Bagaimana tingkat toileting trining sesuai dengan tingkat perkembangan
anak.
3. Pola aktivitas, kegiatan dan gerakan yang sudah dicapai anak pada usia
sekelompoknya mengalami kemunduran atau percepatan.
4. Pola istirahat, kebutha istirahat setiap hari, adakah gangguan tidur, hal-
hal yang mengganggu tidur dan yang mempercepat tidur.
5. Pola kebersihan diri, bagaiman perawatan pada diri anak apakah sudah
mandiri atau masih ketergantuangan sekunder pada orang lain atau orang
tua.
 Pemeriksaan Fisik
1. Pantau status kardiovaskuler
2. Pantau nadi perifer
3. Pucatkan kulit ekstremitas pada bagian distal untuk memastikan sirkulasi
yang adekuat pada ekstremitas tersebut
4. Perhatikan keketatan gips, gips harus memungkinkan insersi jari diantara
kulit ekstremitasdengan gips setelah gips kering
5. Kaji adanya peningkatan hal-hal berikut:
- Nyeri
- Bengkak
- Rasa dingin
- Sianosis atau pucat
6. Kaji sensasi jari kaki
- Minta anak untuk menggerakkan jari kaki
- Observasi adanya gerakan spontan pada anak yang tidak mampu
berespon terhadap perintah
- Laporkan dengan segera adanya tanda-tanda ancaman kerusakan
sirkulasi
- Intruksikan anak untuk melaporkan adanya rasa kebas atau kesemutan
7. Periksa suhu (gips plester)

39

- Reaksi kimia pada proses pengeringan gips, yang meningkatkan panas
- Evaporasi air, yang menyebabkan kehilangan panas
1. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau adanya nyeri tekan
2. Inspeksi bagian dalam gips untuk adanya benda-benda yang
terkadang dimasukkan oleh anak yang masih kecil
3. Observasi adanya tanda-tanda infeksi:
- Periksa adanya drainase
- Cium gips untuk adanya bau menyengat
- Periksa gips untuk adanya ”bercak panas” yang menunjukkan infeksi
dibawah gips
- Waspadai adanya peningkatan suhu, letargi dan ketidaknyamanan
8. Observasi kerusakan pernapasan (gips spika)
- Kaji ekspansi dada anak
- Observasi frekuensi pernafasan
- Observasi warna dan perilaku
9. Kaji adanya bukti-bukti perdarahan (reduksi bedah terbuka):
- Batasi area perdarahan
10. Kaji kebutuhan terhadap nyeri

2.3.2.2 Diagnosa Keperawatan
a. Resiko cidera berhubungan dengan sering terjatuh karena perubahan
mobilitas sekunder
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan aktivitas
c. Pertumbuhan, resiko tidak proporsional berhubungan dengan penyakit
(penekanan pada epifisis)
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan abnormal

2.3.2.3 Intervensi Keperawatan
1. Resiko cidera berhubungan dengan sering terjatuh karena perubahan
mobilitas sekunder.
Tujuan : Resiko terjadinya cidera dapat dikendalikan dan menurun
dalam waktu 2x24 jam
Kriteria hasil :
a. Keluarga pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan resiko cidera

40

b. Keluarga pasien dapat mengungkapkan keinginan untk melakukan
tindakan pengamanan terhadap cidera
c. Keluarga pasien dapar memilihkan kegiatan/permainan yang dapat
menghindarkan pasien dari resiko cidera.
Intervensi dan Rasional
No Intervensi Rasionalisasi
1 Berikan informasi pada keluarga
pasien tentang faktor-faktor yang
dapat meningkatkan resiko cidera
Pemberian informasi yang adekuat
dapat memberi pengetahuan pada
keluarga sehingga keluarga dapat
mengidentifikasi faktor-faktor yang
dapat meningkatkan resiko cidera
2 Diskusikan dengan orang tua
pasien mengenai perlunya
pemantauan konstan terhadap
kegiatan px
Pemantauan terhadap kegiatan pasien
dapat meminimalisir resiko cidera
3 Berikan informasi untuk
membantu orang tua dalam
memilih pengasuhan yang tepat
dengan tumbuh kembang tanpa
menyebabkan cidera
Cara pengasuhan yang tepat, yaitu
membebaskan anak berkreasi sesuai
dengan pola tumbuh kembang dengan
pengawasan orang tua akan membuat
anak merasa nyaman dan tidak stress
4 Identifikasi faktor lingkungan
yang dapat menyebabkan jatuh
(lantai licin, anak tangga, karpet,
dll.)
Selain faktor internal, faktor eksternal
lingkungan memungkinkan mencaji
pemacu terjadinya resiko cidera
5 Modifikasi faktor-faktor
lingkungan yang bisa
menyebabkan cidera dan
menggunakan alat bantu dalam
berjalan
Lingkungan yang aman dapat
meminimalisir cidera

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan aktivitas
Tujuan : Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan dan ketahanan
tungkai serta dapat melakukan aktivitas sesuai tahap
pertumbuhan dan perkembangan.
Kriteria Hasil :
a. Keluarga dapat mengidentifikasi aktivitas yang sebaiknya dilakukan
pasien
b. Pasien menunjukkan tingkat mobilisasi




41

Intervensi dan Rasional



3. Pertumbuhan, resiko tidak proporsional berhubungan dengan penyakit
(penekanan pada epifisis)
Tujuan : Pertumbuhan yang normal sesuai dengan konsep
pertumbuhan
Kriteria hasil :
a. Keluarga pasien mengetahui pertumbuhan yang proporsional untuk
pasien
b. Pasien dapat mencapai pertumbuhan yang diharapkan
Intervensi dan Rasionalisasi
No Intervensi Rasionalisasi
1 Kaji pengetahuan penerimaan
asuhan, sistem pendukung untuk
pertumbuhan, dll
Pengetahuan sangat berpengaruh
dengan intervensi selanjutnya yang
akan diambil
2 Ajarkan pada keluarga pasien
mengenai pola pertumbuhan,
kebutuhan nutrisi pertumbuhan
Pengetahuan tentang pola
pertumbuhan akan membuat keluarga
memahami kepatuhan pengobatan,
sedangkan nutrisi juga berpengaruh
dengan pertumbuhan
3 Kolaborasi:
Koordinasikan dengan tim
kesehatan untuk melakukan
tindakan medis (osteotomy)

Untuk menyelaraskan bentuk kaki.
No Intervensi Rasionalisasi
1 Diskusikan dengan keluarga
pasien mengenai aktivitas sesuai
pertumbuhan dan yang
mendukung peningkatan aktivitas
Keluarga dapat memahami aktivitas
yang sesuai
2 Ajarkan keluarga pasien untuk
melakukan latihan gerak aktif
pada bagian tubuh yang sehat
ROM membuat bagian tubuh yang
sehat agar tidak ikut sakit
3 Lakukan terapi aktivitas mobilitas
sendi
Penggunaan anggota tubuh pasif atau
aktif untuk mempertahankan dan
memperbaiki fleksibilitas sendi
4 Mobilisasi posisi secara berkala
sesuai indikasi yang dianjurkan
Memobilisasi bagian tubuh dapat
menberikan kenyamanan, menurunkan
resiko kerusakan kulit, mendukung
integritas kulit dan mempercepat
penyembuhan

42


4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan abnormal
Tujuan : Pasien dapat menerima penampilannya dan Gangguan
citra tubuh berkurang
Kriteria Hasil :
a. Pasien dapat mengidentifikasi keinginan secara verbal dan dapat
berinteraksi dengan teman sebaya
b. Pasien mengungkapkan dan mendemonstrasikan penerimaan
penampilan
c. Pasien mengalami perspektif yang positif terhadap penampilannya
Intervensi dan Rasionalisasi
No Intervensi Rasionalisasi
1 Diskusikan dengan orang tua
bagaimana citra diri berkembang
dan anjurkan untuk melakukan
interaksi yang adekuat dengan anak
Mendiskusikan tentang
perkembangan citra diri anak
dengan orang tua akan dapat
mengukur pengetahuan orang tua
terhadap konsep diri, sehingga
dapat menambah pengetahuan yang
kuran, sedangkan interaksi yang
adekuat dapat memberi
kenyamanan anak untuk
mengungkapkan citra diri
2 Anjurkan Orang tua/orang terdekat
untuk memberikan support system
terhadap perubahan fisik dan
emosional.

Orang tua/orang terdekat
mempunyai pengaruh lebih
dominan ntuk membantu pasien
menerima keaadaannya sekarang
ketika sudah di masyarakat.

3 Pertahankan lingkungan yang
kondusif untuk perubahan citra
tubuh
Lingkungan kondusif dapat
membuat pasien lebih mudah
mengungkapkan perasaannya dan
lebih mudah bersosialisasi
4 Bantu klien dalam mengembangkan
mekanisme koping untuk mengatasi
perubahan fisik
Meningkatkan rasa percaya diri
pasien sehingga tidak merasa
minder dengan perubahan fisiknya





43

BAB 3
CONTOH KASUS
KASUS SEMU
Ny. T (31 tahun) datang ke Rumah Sakit Pendidikan Universitas
Airlangga pada tanggal 2 April 2013 dengan anak H (8 tahun).An H mengalami
pembengkokan membentuk huruf O pada kakinya. Sebelumnya keadaan ini
dianggap wajar oleh keluarga An H, akan tetapi lama kelamaan An H merasakan
ada yang aneh pada kakinya karena tinggi badan An H tidak berkembang seperti
teman-temannya yang lain. Ketika berjalan, An H terlihat lebih lambat dan hati-
hati. Selain itu, An H sering merasa akan terjatuh saat berjalan. Menurut
keterangan sang ibu An. Y tidak pernah mengalami trauma sebelumnya.
Kemudian dokter mendiagnosis: Genuvarum.
3.1 Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Nama : An. H
Usia : 8 thn
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : -
Alamat : Surabaya
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke rumah sakit denga keluhan bentuk kaki yang
menyerupai huruf O, pertumbuhan yang tidak sesuai dengan teman-
temannya, dan jalan yang lebih berhati-hati atau melambat
c. Keluhan Utama
Klien menyatakan yang paling dirasakan saat ini adalah sering
terjatuh pada saat berjalan, serta gerakan berjalan yang melambat
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan bahwa sebelumnya klien tidak pernah dirawat
di rumah sakit sebelumnya dengan penyakit yang berbeda

44

e. Riwayat Penyakit Keluarga
Dari anggota klien tidak ada yang mengalami gangguan kesehatan
seperti yang dialami klien.
f. Persepsi keluarga terhadap kondisi anak.
Keluarga menerima kondisi anak sebagai cobaan dari Tuhan
g. Perubahan proses keluarga
Keluarga tidak begitu mengalami perubahan pada proses keluarga
karena ibu An H adalah ibu rumah tangga yang menunggu An H di
RS dan tidak mengganggu penghasilan keluarga
1. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan
a. BB : 2,8 kg
b. TB : 50 cm
c. LLA : 10 cm
Perkembangan
Tahap perkembangan Psikoseksual
Tahap perkembangan Psikoseksual An H adalah Fase Latensi, pada
fase ini semua aktifitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan, karena
perhatian anak lebih tertuju pada hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin-
tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya
anak-anak juga menerima informasi tentang seksualitas yang sering
menyesatkan. Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan
informasi yang salah dan menyesatkan itu. Pada fase ini dapat terjadi
gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki maupun wanita.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya
kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien
pada minat belajar dan pengembangan ketrampilan.Tahap
perkembangan psikososial
Tahap perkembanga Usia sekolah (Industry Vs Inferiority), pada
tahap ini, anak mulai mencoba untuk beraktualisai dengan teman-
temannya, dengan tujuan agar mereka mendapatkan pengakuan atas

45

kemampuannya. Bila menemui kegagalan dalam perkembangan ini,
manusia yang bersangkutan akan lebih menjadi bersifat inferior.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik pada klien dengan genuvarum, ditemukan hasil
sebagai berikut:
Tanda – tanda vital
TD : 90/60 mmhg
Nadi : 86x/menit (normal)
RR : 22x/menit (normal)
Suhu : 37 derajat celcius (normal)
1. B1 (Breath)
Tidak ditemukan masalah keperawatan
2. B2 (Blood)
Tidak ditemukan masalah keperawatan
3. B3 (Brain)
Tidak ditemukan masalah keperawatan
4. B4 (Bladder)
Tidak ditemukan masalah keperawatan
5. B5 (Bowel)
Tidak ditemukan masalah keperawatan
6. B6 ( Bone)
1. Kemampuan berjalan yang terlihat tidak seimbang (goyang-
goyang).
2. Klien terlihat tidak bebas ketika menggerakkan kakinya.
3. klien lebih sika menyendiri (menarik diri) dan sering melihat
kakinya dengan pandangan kosong.
Kekuatan otot :
5 5
4 4




46

3. Pemeriksaan Diagnostik
Pada genu varum dilakukan beberapa pemeriksaan antara lain :
1. Radiography : AP dengan berbaring
1) Keparahan genu varum untuk usia anak
2) Torsi tibia internal yang berlebihan
3) Peningkatan genu varum
4) Tungkai yang asimetri atau tidak selaras
5) Dorongan ke arah lateral
6) Adanya nyeri
7) Pemeriksaan pinggul yang tidak normal
2. Radiographic characteristics: AP dengan berdiri
a. Penampakan yang normal pad pertumbuhan plantar kaki
b. Medial bowing yang mempengaruhi tibia proksimal dan femur
distal
c. Mengukur sudut Metaphyseal/Diaphyseal dari upper tibia.
d. Mengukur sudut pada pinggul-lutut-angkle.
3. Laboratorium
Jika anak mengalami deformitas secara umum maka diperlukan
pemeriksaan untuk mengetahui adanya kelainan pada sistem
metabolik yang meliputi :
a. Kalsium, fosfat, alkaline fosfat, kreatinin, dan hematokrit.
b. PTH
c. 25 Hydroxy Vitamin D
d. I‐25 Dehydroxy Vit D
3.2 Diagnosa Keperawatan
a. Resiko cidera berhubungan dengan sering terjatuh karena perubahan
mobilitas sekunder
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan aktivitas
c. Pertumbuhan, resiko tidak proporsional berhubungan dengan penyakit
(penekanan pada epifisis)
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan abnormal


47

3.3 Intervensi Keperawatan
1. Resiko cidera berhubungan dengan sering terjatuh karena perubahan
mobilitas sekunder.
Tujuan : Resiko terjadinya cidera dapat dikendalikan dan menurun
dalam waktu 2x24 jam
Kriteria hasil :
a. Keluarga pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan resiko cidera
b. Keluarga pasien dapat mengungkapkan keinginan untk melakukan
tindakan pengamanan terhadap cidera
c. Keluarga pasien dapar memilihkan kegiatan/permainan yang dapat
menghindarkan pasien dari resiko cidera.

Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi Rasionalisasi
Berikan informasi pada keluarga
pasien tentang faktor-faktor yang
dapat meningkatkan resiko cidera
Pemberian informasi yang
adekuat dapat memberi
pengetahuan pada keluarga
sehingga keluarga dapat
mengidentifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan resiko
cidera
Diskusikan dengan orang tua
pasien mengenai perlunya
pemantauan konstan terhadap
kegiatan px
Pemantauan terhadap kegiatan
pasien dapat meminimalisir resiko
cidera
Berikan informasi untuk
membantu orang tua dalam
memilih pengasuhan yang tepat
dengan tumbuh kembang tanpa
menyebabkan cidera
Cara pengasuhan yang tepat, yaitu
membebaskan anak berkreasi
sesuai dengan pola tumbuh
kembang dengan pengawasan
orang tua akan membuat anak
merasa nyaman dan tidak stress

48

Identifikasi faktor lingkungan
yang dapat menyebabkan jatuh
(lantai licin, anak tangga, karpet,
dll.)
Selain faktor internal, faktor
eksternal lingkungan
memungkinkan mencaji pemacu
terjadinya resiko cidera
Modifikasi faktor-faktor
lingkungan yang bisa
menyebabkan cidera dan
menggunakan alat bantu dalam
berjalan
Lingkungan yang aman dapat
meminimalisir cidera

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan aktivitas
Tujuan : Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan dan ketahanan
tungkai serta dapat melakukan aktivitas sesuai tahap pertumbuhan dan
perkembangan.
Kriteria Hasil :
a. keluarga dapat mengidentifikasi aktivitas yang sebaiknya dilakukan
pasien
b. pasien menunjukkan tingkat mobilisasi
Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi Rasionalisasi
Diskusikan dengan keluarga
pasien mengenai aktivitas sesuai
pertumbuhan dan yang
mendukung peningkatan aktivitas
Keluarga dapat memahami
aktivitas yang sesuai
Ajarkan keluarga pasien untuk
melakukan latihan gerak aktif
pada bagian tubuh yang sehat
ROM membuat bagian tubuh yang
sehat agar tidak ikut sakit
Lakukan terapi aktivitas mobilitas
sendi
Penggunaan anggota tubuh pasif
atau aktif untuk mempertahankan
dan memperbaiki fleksibilitas sendi
Mobilisasi posisi secara berkala
sesuai indikasi yang dianjurkan
Memobilisasi bagian tubuh dapat
menberikan kenyamanan,

49

menurunkan resiko kerusakan
kulit, mendukung integritas kulit
dan mempercepat penyembuhan

3. Pertumbuhan, resiko tidak proporsional berhubungan dengan penyakit
(penekanan pada epifisis)
Tujuan : Pertumbuhan yang normal sesuai dengan konsep pertumbuhan
Kriteria hasil :
a. Keluarga pasien mengetahui pertumbuhan yang proporsional untuk
pasien
b. Pasien dapat mencapai pertumbuhan yang diharapkan
Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi Rasionalisasi
Kaji pengetahuan penerimaan
asuhan, sistem pendukung untuk
pertumbuhan, dll
Pengetahuan sangat berpengaruh
dengan intervensi selanjutnya
yang akan diambil
Ajarkan pada keluarga pasien
mengenai pola pertumbuhan,
kebutuhan nutrisi pertumbuhan
Pengetahuan tentang pola
pertumbuhan akan membuat
keluarga memahami kepatuhan
pengobatan, sedangkan nutrisi
juga berpengaruh dengan
pertumbuhan
Kolaborasi:
Koordinasikan dengan tim
kesehatan untuk melakukan
tindakan medis (osteotomy)

Untuk menyelaraskan bentuk
kaki.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampilan abnormal
Tujuan : Pasien dapat menerima penampilannya dan Gangguan
citra tubuh berkurang
Kriteria Hasil :

50

a. Pasien dapat mengidentifikasi keinginan secara verbal dan dapat
berinteraksi dengan teman sebaya
b. Pasien mengungkapkan dan mendemonstrasikan penerimaan
penampilan
c. Pasien mengalami perspektif yang positif terhadap penampilannya
Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi Rasionalisasi
Diskusikan dengan orang tua
bagaimana citra diri berkembang
dan anjurkan untuk melakukan
interaksi yang adekuat dengan
anak
Mendiskusikan tentang
perkembangan citra diri anak
dengan orang tua akan dapat
mengukur pengetahuan orang tua
terhadap konsep diri, sehingga
dapat menambah pengetahuan
yang kuran, sedangkan interaksi
yang adekuat dapat memberi
kenyamanan anak untuk
mengungkapkan citra diri
Anjurkan Orang tua/orang terdekat
untuk memberikan support system
terhadap perubahan fisik dan
emosional.

Orang tua/orang terdekat
mempunyai pengaruh lebih
dominan ntuk membantu pasien
menerima keaadaannya sekarang
ketika sudah di masyarakat.

Pertahankan lingkungan yang
kondusif untuk perubahan citra
tubuh
Lingkungan kondusif dapat
membuat pasien lebih mudah
mengungkapkan perasaannya dan
lebih mudah bersosialisasi
Bantu klien dalam
mengembangkan mekanisme
koping untuk mengatasi perubahan
fisik
Meningkatkan rasa percaya diri
pasien sehingga tidak merasa
minder dengan perubahan fisiknya


51

BAB 4
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Polidaktili adalah suatu kelainan yang diwariskan oleh gen autosomal
dominan P. Polidaktili disebabkan oleh kelainan genetik dan kromosom
sertafaktor teratogenik. Manifestasi linik polidaktili adalah jumlah jari lebih dari
normal pada salah satu atau kedua jari tangan atau kaki. Polidaktili terdapat 7 tipe.
Penatalaksanaan Polidaktili dengan tindakan pembedahan.
Sindaktili adalah kondisi terdapatnya tidak adanya atau pembentukkan
inkomplet jeda jarak diantara dua jari-jari. Sindaktili disebabkan oleh faktor
eturunan. Sindaktili terdapat 5 tipe dan diklasifikasikan menjadi simpel sindaktili,
sindaktili komplek, sindaktili parsial, sindaktili komplit, complicated syndactyly,
acrosyndactyly. Penatalaksanaan sindaktili dengan cara bedah dan non-bedah.
Genu Varum (bowleg) merupakan melengkungnya tibia kearah lateral.
Genu Valgum (Knock-knee), tampak berlawanan dengan Genu Varum. Penyebab
Genu Varum dan Genu Valgum adalah posisi tidur yang salah, kebiasaan duduk
yang salah, pemakaian popok sekali pakai dalam waktu yang lama, Kebiasaan
menggendong yang salah. Kemudian jenis kelamin dan obesitas turut menjadi
etiologi. Penatalaksanaan meliputi non-operatif (edukasi, Brace treatment,
KAFO) dan operatif.

3.2 Saran
Setelah mahasiswa mengikuti SGD serta membaca membaca makalah ini
diharapkan lebih memahami tentang konsep teori Polidaktili, Syndaktili, dan
CETV (Genu Valgum dan Genu Varum). Serta dapat mengaplikasikan asuhan
keperawatan pada anak dengan Polidaktili, Syndaktili, dan CETV (Genu Valgum
dan Genu Varum) secara komprehensif.


52

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman, dan Hal B. Jenson, editor. Nelson
Textbook of Pediatrics. Ed 16. Philadelphia: WB Saunders Company, 2000
Brunner, R., Freuler, Hasler & Jundt 2007, F. Hefti pediatric Orthopedics in
practice, Springer, Berlin.
Doyle, James R 2006, Orthopaedic surgery essentials : Hand & wrist, Lippincot
Williams & Wilkins, United States.
Herring, Jon Anthony 2013, Tachdjian’s pediatric orthopaedics 5th edition,
Elsevier, USA.
Hudgins, Louanne, et al 2014. Sign and symptoms of genetic condition,. Oxford,
USA.
Hurley, Robert A. 2011, Operative techniques in orthopaedic pediatric surgery,
Lippicot Williams, Philadelphia.
Kallen, Bengt 2014, Epidemiology of human congenital malformations, Springer,
New York.
Kenner, Carol & Judy Wright Lott 2013, Comprehensive neonatal nursing care
fifth edition, Springer, USA.
Morrissy, Raymond T. & Stuart L. Weinstein 2006, Pediatric orthopaedics sixth
edtion, Lippincot Williams & Wilkins, United States.
Parvizi, Javad 2010, High yield orthopaedics, Elsevier Saunders, USA.
Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan dengan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
Rudolph, Colin D., dan Abraham M. Rudolph 2003, editor. Rudolph Pediatrics.
21 ed. New York: McGraw-Hill.
Scanderbeg, A. Castriota & B. Dallapiccola 2005, Abnormal skeletal phenotypes:
from simple signs to complex diagnosis, Springer, Germany.
Staheli, Lynn. 2008. Fundamental of Pediatric Orthopedics. Philadelphia :
Lippicontt Williams & Wilkins.
Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : EGC
Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC