You are on page 1of 37

BATTERY atau ACCU

Battery atau accu "katanya" (baca : dianggap) mempunyai kutub yang mana terdapat trilyunan
atom yang kelebihan elektron, kutub ini dinamakan kutub negatif sedang kutub lainnya terdapat
trilyunan atom yang justru mempunyai banyak lubang lubang (hole) ...(kekurangan elektron)
yang disebut kutub positip.
Kelak elektron elektron di kutub negatif akan "melompat lompat" dari satu atom logam ke atom
logam lainnya menuju kutub positip nya dan "mengisi" hole yang ada di kutub positip ……

*************************************************************************************
Membayangkan Arus Listrik mengalir
(lanjutan)
Jika sebuah battery di hubungkan dengan seutas kawat alumunium misalkan, maka pada saat itu
juga elektron elektron terluar dari atom atom paling ujung (positip) dari kawat akan melompat
mengisi lubang pada kutub positip battery, dan secara beruntun atom disebelahnya mengisi lagi
hole dari ujung kawat alumunium tersebut, secara beruntun melompat dan saling mengisi dari
sisi negatif ke sisi positip battery.
Demikian juga ujung kawat alumunium di sisi negatif yang meninggalkan lubang tadi akan di isi
oleh elektron elektron dari kutub negatif.
Sampai disini kelihatan arus elektron mengalir dari negatif ke positip, yang sesungguh nya itu
lah arus listrik.
Sesungguh nya arus listrik adalah arus elektron yang berpindah dari negatif ke positip tetapi coba
di "bayangkan" pergeseran "hole" di kawat justru dari positip ke negatif.
Sebelum "teori" elektron ini lahir, di dahului dengan praktek (praktek lebih dahulu dari teori)
dimana sudah ada anggapan terlebih dahulu bahwa arus listrik mengalir dari positip ke negatif.
Sehingga untuk "jalan tengah" di anggap saja bahwa arus listrik adalah arus atau arah hole yang
bergeser dari positip ke negatif.
Kita jangan terjebak atas debat yang berkepanjangan tentang konsep ini. Kita setujui saja bahwa
arus listrik adalah arus perpindahan lobang (hole) yang bergeser (berpindah dari positip ke
negatif)

*************************************************************************************
Jumlah Elektron yang Mengalir
Melanjutkan : pada bahasan yang lalu ada arus elektron yang mengalir,
Saya hanya menyebutkan / menggambarkan hanya "beberapa" elektron, sesungguh nya elektron
yang di pindahkan jumlah nya sangat sangat sangat banyak.
Kalau kita praktek sehari hari mengalirkan arus listrik 1 Ampere, maka ... sebenarnmya kita
sudah memindahkan elektron sebanyak 6,3 x 10 pangkat 18 buah elektron per detik dari negatif
ke positip. (hehehe... membayangkannya aja puyeng kita).
1 A setiap detik = memindahkan sebanyak = 6.300.000.000.000.000.000 buah elektron
nah jumlah 6,3 x 10 pangkat 18 ini kita sebut 1 Coulumb.

*************************************************************************************

SUMBER ARUS
Arus listrik di keluarkan oleh sumber arus. Salah satu jenis sumber arus adalah sebuah elemen
dalam bahasa sehari hari disebut battery, bisa juga berupa accu, adaptor, trafo (transformer),
bahkan mikrofon pun merupakan sumber arus (yang sangat kecil), termasuk antena pun
merupakan sumber arus yang sangat kecil (nanti akan kita bahas lebih dalam).
Elemen mempunyai 2 ujung (2 kutub) yaitu kutub positip dan negatif. Kita sepakati sebelum nya
bahwa arus listrik (arus lubang/hole) mengalir dari positip ke negatif.
Pada contoh sebelumnya kita menggambarkan arus listrik dengan menghubungkan sebuah
battery atau accu dengan seutas kawat, untuk menghentikan arus listrik atau meneruskan arus
listrik kita akan menggunakan sakelar (switch) yang akan memutus atau menyambungkan kawat
tersebut.
Pada contoh itu juga di gambarkan battery yang dihubungkan "hanya" dengan seutas kawat.
Dalam praktek hal ini TIDAK BOLEH di lakukan karena arus menjadi sangat besar dan bisa
merusakkan sumber arus, karena nya mesti ada yang menghambat. Komponen yang digunakan
untuk menghambat (boleh mengalir tapi besarnya bisa di kontrol) disebut dengan penghambat
arus listrik atau dalam bahasa inggeris disebut RESISTOR.
Menghubungkan sumber arus secara langsung tidak di bolehkan karena akan mengakibatkan
arus yang sangat besar peristiwa ini disebut dengan hubung singkat/short/konsleting listrik.
*************************************************************************************

SUMBER TEGANGAN
Pada bahasan lalu sudah di bahas bahwa supaya arus listrik bisa mengalir harus ada sumber arus,
sumber arus berasal dari sumber tegangan bisa berbentuk battery, dan lain lain.
Pada bahasan lalu juga sudah di ketahui bahwa pada kutub negatif banyak terdapat atom
bermuatan negatif dan pada kutub positip terdapat banyak atom yang kekurangan elektron,
artinya ada perbedaan muatan atau perbedaan potensial antara 2 kutub tersebut.
Dalam kenyataan kita tidak mungkin menghitung jumlah elektron yang ada pada masing masing
kutub battery tersebut, yang bisa kita ketahui adalah beda potensial antara kedua nya. Beda
potensial ini kita nyatakan dalam satuan Volt ... atau satuan yang lebih kecil atau satuan yang
lebih besar...
1.000 volt kita sebut 1 KV (1 kilo volt)
1.000.000 volt kita sebut 1 MV (1 mega volt)
1/1.000 volt kita sebut 1 mV (1 mili volt), mohon di biasakan menulis m kecil = mili, M besar =
mega/juta.
atau di elektronika ada tegangan yang sangat kecil sampai
1/1.000.000 volt atau disebut uV = mikro volt (mikro simbolnya u kecil).
Tegangan PLN kita adalah AC 220 Volt
Tegangan di motor / mobil kita umum nya DC 12 Volt
Apa itu AC apa itu DC kelak akan kita pelajari lebih lanjut.
Sumber tegangan / arus ini bisa kita dapat dari berbagai macam sumber yang sudah saya
sebutkan pada bahasan bahasan yang lalu ...

*************************************************************************************
GAMBAR ARUS MENGALIR
Ini gambaran arah arus mengalir, dimana arus elektron mengalir dari negatif ke positip,
sedangkan arus Hole (lubang) dari positip ke negatif. Nah arus hole inilah yang kelak kita sebut
arus listrik.
Besar nya (banyak nya arus mengalir) kita nyatakan dalam satuan Coulumb per detik atau di
singkat 1 Ampere.
dimana 1 Coulumb = 6,3 x 10 pangkat 18 buah elektron.
Gambar di kiri adalah gambaran arah arus dalam bentuk 2 dimensi yaitu gambar sebuah elemen
(battery dan seutas kawat), dalam "bahasa nya" orang elektronik di gambar dalam bentuk skema
elemen (battery) seperti gambar di sebelah kanan nya.
Gambar hanya untuk menerangkan arah arus elektron dan hole, jangan di coba karena akan
terjadi konslet.

[Tambahan]
Arus hole biasanya juga disebut arus konvensional. Tak jadi masalah, kita mau menggunakan ARUS
ELEKTRON atau ARUS KONVENSIONAL, karena secara matematis, perhitungan akan menghasilkan
jawaban yang sama apabila kita menggunakan kedua jenis arus diatas.
dikutip dari buku malvino, prinsip-prinsip elektronika

*************************************************************************************
sampe di sini, yg dpt tangkap :
Kutub negatif kelebihan elektron, maka bila dihubkan dgn kutub positif, elektron akan 'migrasi'
ke positif.
Nah karena 'rumah/hole/lubang' di ktb negatif ada yg kosong maka akan ditempati 'penduduk' dr
ktb positif.
begtu pak?
 nambahin juga td baru baca bukunya malvino, katanya proses itu dinamakan rekombinasi yah?
 boleh juga tuh perumpamaannya... syukur kalau bisa di tangkap ilmu nya, tapi kata kata yang
terakhir terbalik
 tapi sbtlnya tdk perlu sampai detail ke elektron recombination spt itu,, skip,, skip. Banyak detail2
ilmu yng kita tdk perlu pelajari lg, Justru kalau dipelajari bikin bingung dan gk maju2,, dan gk
ketangkap esensinya,, Cukup bila dipahami ada arus elektron dari negatip ke positip dan arus
proton dari positip ke negatif,, dah gk perlu detail lg, trs maju masuk bab selanjutnya
*************************************************************************************
GAMBAR YANG BAGUS
(dari Mas Syah Arul)
Gambar yang sangat inspiratif untuk menggambarkan hubungan antara Tegangan, Kuat Arus dan
Hambatan Listrik
Silahkan mengamati ....

hehehe... memang gambar itu nggak bisa menggantikan sepenuhnya terhadap apa yang terjadi, cuma
gambar itu saya artikan : si Volt memaksa arus untuk jalan ketika jalan nya sudah tersedia, sementara si
Resistor menghambat jalan itu, sehingga si Ampere tetap bisa lewat tetapi tidak selancar kalau langsung
... pada titik lubang yang kecil itu timbul panas karena gesekan badan di arus .... tapi nggak sepenuh nya
bisa menggantikan kondisi yang sesungguh nya di dalam rangkaian, hanya mirip ...

*************************************************************************************



HAMBATAN LISTRIK
Pada bahasan sebelumnya sudah di tegaskan bahwa menghubungkan langsung positip dan
negatip battery tidak boleh di lakukan, karena jumlah elektron yang mengalir menjadi sangat
besar dan selama mengalir antara elektron saling berbenturan dan menimbulkan panas yang
besar.
TETAPI
1) Jika jalan yang di lalui panjang (kawat nya panjang), maka kawat itu akan menjadi
perlawanan listrik, makin panjang kawat maka perlawanan terhadap arus listrik juga semakin
besar.
2) Atau kalau jalan nya arus di kawat juga di kecilkan (tebal kawat) nya di tipiskan juga akan
menghasilkan Hambatan bagi arus semakin besar (Hambatan listrik membesar).
Dengan demikian kita bisa menghambat arus listrik itu dengan membuat kawat yang panjang dan
mengatur tipis nya (luas penampang) kawat.
Ada faktor ke 3 yaitu jenis kawat.
Jenis kawat tertentu lebih mudah melewatkan arus, sementara kawat yang lain lebih sulit
melewatkan arus.
Dalam teori elektron dapat di jelas kan : kawat tertentu daya ikat terhadap elektron terluar ada
yang lemah ada yang lebih kuat.
Faktor ke 3 ini dinamakan DAYA HANTAR LISTRIK ... Daya hantar listrik disebut dengan
"rho" dan setiap logam tidak sama, nantis aya berikan tabel nya ... (maaf simbol rho saya nggak
bisa gambar di FB)
Jadi, besar hambatan sebuah kawat tergantung pada :
1. Jenis kawat (mempunyai nilai hambatan jenis / rho)
2. Panjang kawat, makin panjang hambatan nya makin besar (satuan meter)
3. Luas penampang (luas bukan diameter !!) satuannya mm persegi
Jika kita akan membuat penghambat arus listrik dari kawat kita bisa menggunakan rumus :
R = rho x panjang kawat / luas penampang
R = hambatan yang terjadi dari kawat
rho = daya hantar listrik
panjanjang kawat .... dalam satuan meter
luas penampang ... dalam satuan mm2 (saya tegaskan ini luas penampang bukan diameter atau
jari jari / jika penampang kawat berbentuk lingkaran)
Contoh :
1) Sebuah kawat tembaga diameter 0,1 mm, panjang 20 meter, berapa kah hambatan DC nya ??
rho nya tembaga (lunak) = 0,0167
Jawab :
dia = 0,1 mm maka jari jari nya= 0,05
maka luas penampang (rumus lingkaran)= phi x r kuadarat
luas penampang = 3,14 x (0,05 x 0,05) = 0,00785 mm persegi.
R = rho x panjang / luas
= 0,0167 x 20 / 0,00785
R = 42,55 ohm.
2) Jika ingin menghasilkan hambatan yang cukup besar gunakan kawat terbuat dari nikelin,
dimana rho nya = 0,42
Jika kawat di atas adalah kawat nikelin maka
R = rho x panjang / luas
= 0,42 x 20/ 0,00785
R = 1070 ohm = kira kira 1 K ohm
3) Jika ingin menghasilkan hambatan yang lebih besar lagi gunakan bahan karbon (tidak perlu
berbentuk kawat). dimana rho nya antara 100 - 1.000. Itulah makanya ada resistor terbuat dari
karbon.
Karena itu di pasaran terdapat resistor resistor yang sudah jadi dalam berbagai nilai dan watt nya
... tentang watt akan kita bahas lebih lanjut nanti setelah masuk pelajaran tentang daya listrik.
Di pasaran banyak terdapat resistor yang terbuat dari karbon dan dari bahan lainnya ... berikut
saya lampirkan tabel daya hantar listrik (rho) saya sedang mencari data tentang berapa daya
hantar (rho) : emas, perak dan platina...
Daya hantar listrik beberapa jenis logam :

*************************************************************************************

HUKUM OHM (2)
Setelah kita mengetahui bahwa sebuah SUMBER TEGANGAN mempunyai beda potensial yang
di nyatakan dalam VOLT, dan sudah mengetahui tentang perlawanan listrik yang alat nya di
namakan RESISTOR yang satuan nya OHM, bagaimana kalau Resistor tersebut kita hubungkan
dengan Sumber tegangan ?
Dalam praktek kawat yang pendek kita anggap hambatan nya NOL, dan di pasaran di jual
resistor resistor jadi yang nilai nya bermacam macam.
Kita misalkan sebuah accu motor dengan tegangan 12 Volt mempunyai kemampuan
mengeluarkan arus 7A.
Dihubungkan dengan resistor sebesar 10 Ohm, maka arus akan mengalir dari positip lewat kabel,
masuk ke salah satu kaki resistor kemudian keluar dari kaki yang lain ke kabel lain terus masuk
ke negatif accu.
Menurut George Simon Ohm, maka kuat arus yang mengalir berbanding lurus dengan tegangan
sumber nya tetapi berbanding terbalik dengan nilai Hambatan nya
Atau di nyatakan dengan Rumus :
I = V / R
Berbanding lurus artinya = jika tegangan di besarkan arus semakin besar
Berbanding terbalik artinya = jika Nilai Resistor di besarkan JUSTRU arus akan semakin kecil
(terbalik)
Kalau kita akan menghitung maka :
Satuan I adalah dalam Ampere
Satuan Tegangan dalam Volt
dan Satun Hambatan Listrik dalam satuan Ohm (untuk menghargai George Simon Ohm) .
Pada gambar di nyatakan sumber tegangan = 12 V
Resistor = 10 Ohm
Maka arus yang akan mengalir sebesar = I = 12 / 10 = 1,2 A
Pengertian resistor menghambat arus bukan berarti bahwa arus yang masuk ke resistor besar
kemudian keluarnya kecil, arus yang masuk ke resistor, di dalam resistor dan yang keluar resistor
sama besar. (pada gambar arus yang mengalir di tulis I)
Mungkin akan ada pertanyaan itu di badan accu di tulis tulisan 7 A apa itu ?? Ampere yang
tertulis pada accu adalah kemampuan accu mengeluarkan arus, artinya accu tidak dapat
mengeluarkan arus lebih dari 7 A.
Sedangkan arus yang MENGALIR tergantung pada nilai tegangan sumber nya, dan Nilai
Hambatan nya.
Gambar sebelah kiri adalah gambar 2 dimensi dalam praktek, tetapi dalam gambar orang teknik
elektronika lebih mudah menggambar secara skema yang di gambarkan seperti gambar di
sebelah kanannya.
Dimana battery / accu di gambar pada sisi positip lebih panjang dari sisi negatif nya (pada
gambar itu masih ditulis simbol plus dan minus) pada saat lain tidak akan di tulis lagi. Simbol
resistor di gambar seperti gambar kanan juga ...
(Catatan penting : tegangan selalu ada antara dua titik)


Lanjutan (setelah membaca yang atas) : pada gambar di bawah saya tulis titik A, B, C, D... Pada
elektronika karena kabel pendek di anggap hambatannya NOL maka titik A = B, titik C = D ... jadi titik B
dan titik C seyogyanya tidak perlu di tulis (kelak tidak akan di tulis)


sehingga di gambar cukup gi gambar sebagai berikut : Selanjut nya kalau kita menyebut tegangan mesti
antara 2 titik .... misalkan tegangan accu adalah tegangan antara titik A dan B, sedang kan jika kita
menyebut arus, maka arus hanya di SATU titik, pada gambar ini kita sebut arus yang mengalir pada titik
A dan arus yang mengalir pada titik B, tetapi untuk gambar ini kuat arus di titik A = kuat arus di titik B,
sebesar 1,2 A...

Ada mitos yang mengatakan "AWAS lampu motor jangan di pasang di mobil nanti lampunya putus,
karena Accu mobil lebih besar ampere nya !!" mitos ini harus di bantah dengan tegas, TIDAK PUTUS ...
karena tegangan pada accu motor dan mobil sama sama 12 V, sementara resistor nya (atau adakala nya
disebut R beban), nya sama ya lampu yang sama ... Yang membedakan accu motor dan accu mobil
adalah kemampuan masing masing mengeluarkan arus maksimal nya...

Jadi dapat di simpulkan arus yang mengalir tergantung Besar nya tegangan sumber dan hambatan itu
sendiri, sama hal nya jika kita punya Trafo 5A dengan Trafo 1A, maka arus yang mengalir tergantung
pada resistor beban nya ... bisa dihitung dengan rumus I = V/R

Nanti materi berikut nya belajar menggunakan AVO meter (Ampere, Volt dan Ohm meter, dilanjutkan
dengan saran praktek)

Dalam praktek hukum ohm ini penerapannya sangat sangat luas, resistor tidak harus berbentuk resistor,
bisa berupa lampu motor/mobil, motor DC, HP, Mainan anak anak, dll dll ...... pada sumber tegangan
PLN bisa berupa setrika listrik, kulkas, kipas angin, AC, TV , Amplifier, dll dll.

Pertanyaan:
1. berarti arus dan tegangannya otomatis berkurang jika dihambat resistor ya pak?
Jawab:
bukan mas sudi, tegangan sumber nya tetap arus nya yang berubah ...
2. mohon izin pak bertanya, apa yg terjadi jika tidak ada resistor, jika kita menginginkan arus yg
kecil apakah kita dpt memberikan tegangan yg kecil pula tanpa resistor?
Jawab:
Mas muhamad jika tidak ada resistor hanya tegangan sumber maka tidak akan ada arus
mengalir, hanya ada tegangan saja ... mas muhammad ... jika kita ingin arus yang mengalir kecil
dengan resistor tetap, tegangan sumber bisa di pilih yang kecil saja ...

3. maaf pak.. I=V/R. Misal V=12;R=10 >>I=1,2A. Dikatakan arus akan berkurang dan tegangan tetap
bila arus melewati resistor. misal aki dgn kapasitas 7A dan 12V. Bila di kasih resistor 10ohm
maka arus yg mengalir hanya 1,2A dan tegangan tetap 12V. Begitu pak? kemudian sya kasih
peralatan dgn spesifkasi/dpt bekerja pada tegangan 12 dgn amper 5 A, maka alat tsbt tdk dapat
bekerja. Kemudian sy kasih alat yg lain dgn spec 12V/1A, maka alat tsb dpt bekerja/berfungsi.
Benarkah pernyataan sy pak?
Jawab:
bukan begitu mas ignatius ... begini : tegangan tetap 12 Volt, dan Resistor 10 Ohm, maka arus
yang mengalir = 1,2 A ... Jika R nya di tukar 6 Ohm, maka arus nya jadi I = V / R = 12/6 = 2 A ...
Jika R di tukar 1 Ohm berapa arus nya ??? menjadi (dipaksa mengeluarkan arus) I = V/R = 12 / 1
= 12 Ampere, sementara kemampuan Accu "hanya bisa" kasih 7A, saat ini Accu akan RUSAK

4. setelah saya baca dari coment diatas , belum ad penjelasan lanjut tentang
( Pengertian resistor menghambat arus bukan berarti bahwa arus yang masuk ke resistor besar
kemudian keluarnya kecil, arus yang masuk ke resistor, di dalam resistor dan yang keluar resistor
sama besar. )
lalu resistor tsbt menghambat apa pak???
misi pak mau tanya lagi :
apa sepenuhnya fungsi resistor itu menghambat arus???
contohnya :
jika sebuan input 12.volt 7ampere
diberikan sebuah resistor , dengan nilai tertentu
maka output dari resistor tsbt 12 volt 6ampere
apakah benar seperti itu
* maaf pemula pak
mohon pencerahannya
jawab:
Baik begini maksud nya mas ridwan : contoh : tegangan 12 V, Resistor 10 ohm maka I = 1,2 A....
Jika Tegangan tetap 12 V, resistor di TUKAR dengan 100 Ohm, maka kuat arus turun menjadi I =
12/100 = 0,12 A.... artinya di menghambat arus di setiap titik pada jalur arus pada gambar di
atas. Jadi fungsi resistor menghambat arus adalah menghambat arus keseluruhan di jalur itu,
TIDAK seperti pintu tol ...kalau pintu tol menghambat mobil di pintu masuk, setelah pintu lancar
... tidak sama ...

5. sekarang telah mengerti pak makasih penjelasannya
tapi untuk watt dari resistor tsbt
apa nanti pengaruh juga ya
jawab:
 Baik saya coba umpamakan (kalau bisa) kita umpakan mobil berderet tanpa putus
(umpama elektron), jalan dari jakarta ke bogor .... hari ke satu di taburi kerikil kecil di
seluruh jalan dari jakarta ke bogor ... maka hambatan berlaku buat semua mobil
 Hari kedua di kasih kerikil yang lebih besar maka hambatan nya jadi makin besar, dan
akan melambatkan semua mobil, bisa nggak perumpaan itu ??
 tapi perumpamaan itu juga tidak tepat benar karena arus berputar dari positip ke
negatip ...
 tapi kalau sudah di mengerti nggak masalah ... untuk watt saya kan bahas pada saat
materi DAYA LISTRIK nanti di tanyakan lagi saat bahas itu
 owh iy pak , saya sudah bisa memahami makasih penjelasannya yang detail
saya lebih mantap ke perumpamaan yang TOL tadi pak
dan yang kedua lebih memantapkan lagi menambah ilmu baru tentang resistor maksih
pak
ditunggu tentang watt.nya pak

*************************************************************************************


TEORI ELEKTRON
Membahas tentang elektronika, mau tidak mau membahas apa itu arus listrik, membahas arus
listrik mau tidak mau membahas apa itu elektron.
Kalau sebuah benda apapun itu kita belah belah, sehingga menjadi sangat kecil, maka bagian
yang kecil itu kita sebut molekul .... molekul masih mempunyai sifat asli nya benda asal... tetapi
kalau di belah lagi akan menjadi atom atom ... kalau atom itu di "perbesar" lagi terdiri dari 2
bagian penting yaitu :
1. satu buah inti
2. satu atau lebih elektron
Elektron itulah nanti nya yang menjadi dasar mengalirnya arus listrik.
Inti bermuatan positip dan Elektron bermuatan Negatif. Atom yang paling sederhana adalah
adalah atom dari "benda" yang nama nya Hidrogen. yaitu terdiri atas 1 inti dan 1elektron saja.
Elektron berputar mengitari inti dan terikat kuat, tetapi ada saat nya bisa "lepas" .
Atom alumunium terdiri atas 13 elektron seperti pada gambar berikut ...

Pada atom alumunium terdiri atas 13 elektron yang terbagi atas 3 orbit, orbit pertama ada 2 elektron,
pada orbit ke dua ada 8 elektron, dan pada sisi terluar ada 3 elektron. Makin terluar elektron akan makin
mudah "terlepas" dari intinya ... elektron yang terlepas dari inti nya kita sebut elektron bebas...

Elektron kita anggap bermuatan negatif, sedang kan inti nya kita anggap bermuatan positip. Jika sebuah
atom terlepas 1 satu saja elektron nya kita sebut atom tersebut kekurangan elektron (walau 1 atom
hanya kehilangan 1 elektron), dan pada atom tersebut seolah olah ada lobang "hole" , karena tempat
elektron itu kehilangan elektron nya.
Jika sebuah atom entah bagaimana cara nya mendapat "tambahan" 1 saja elektron maka kita sebut
atom tersebut kelebihan elektron. Maka kita katakan bahwa atom tersebut bermuatan negative
Ada "keyakinan" atau kaidah bahwa muatan sejenis tolak menolak, muatan tidak sejenis tarik menarik ...
pemahaman ini juga kelak akan berguna jika kita ingin memahami kerja nya tabung vakum (dahulu
sebelum lahirnya transistor).

*************************************************************************************
Prinsip : mempelajari teori elektron pada pelajaran yang sangat dasar, sangat berguna untuk
memahami
1. "apa sih sih arus listrik itu ?" dan
2. "dari mana sih arus listrik itu datang nya" ?
3. "mengalirnya dari arah mana kemana ?"
Walau sebenar nya tidak bisa sepenuh nya fikiran kita memahami yang sesungguh nya terjadi di
dalam nya, karena "nggak kelihatan"
 Arus listrik itu bagaikan keran air yng di salurkan dan siap menampung..
Sedangkan listrik trbentuk dari muatan neoton magnetik yng mempunyai kutub.

Silakan koreksi kembali jika ada yng salah/kurang.. Ini jawaban saya mengaran tp di dasari
pengetahuan. Yang lain gimana??
*************************************************************************************
(3) MENGGUNAKAN AVO METER (Analog)
Dalam Teknik Listrik atau Elektronika, kita mengenal 3 besaran utama, yaitu Kuat Arus
(Ampere), Tegangan (satuan nya Volt), Hambatan (Ohm). Dalam praktek :
1. Alat untuk mengukur kuat arus di namakan Ampere Meter,
2. Alat untuk mengukur tegangan di namakan Volt Meter
3. Alat untuk mengukur hambatan di namakan Ohm Meter.
Di pasaran di jual alat untuk masing masing besaran listrik tersebut, tetapi di pasaran juga di jual
alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur ketiga besaran dengan menukar nukar /
memutar mutar sakelar putar pada posisi yang tepat.
Karena bisa untuk mengukur ketigas besaran itu maka nya di namakan AVO meter.
AVO meter ada yang "Analog" pakai jarum pada alat tunjuk nya, ada yang "Digital" di mana
besarannya di tunjukkan dengan angka angka ...
Untuk teknisi saya menyarankan pakai AVO meter analog (bukan digital) memang masing
masing ada kelebihan dan kekurangannya, tetapi untuk teknisi awal dan akan lebih "meresap"
pelajaran nya jika menggunakan AVO meter analog.
AVO meter analog di pasaran juga ada yang murah ada yang mahal, tergantung pada kualitas,
ketelitian dan fasilitas yang dimiliki masing masing.
Saya merekomendasikan yang "sedang" dengan kualitas, ketelitian dan fasilitas yang sedang juga
...
Beberapa merek yang cukup di kenal adalah
1. Kelas "mahal" antara lain : SANWA, HIOKI, FLUK, dll
2. Kelas "menengah" antara lain : Krisbow (yang sebenarnya bekerja sama dengan merek Fluk),
Heles Kualitas sedang.
3. Kelas "murah" antara lain : sunwa, heles kualitas rendah, dan berbagai merek ...
Di antara teknisi bisa berbeda pendapat atas pembagian "kelas" di atas, tetapi saya
merekomendasikan merek Krisbow type KW06-299... tetapi secara umum untuk tingkat
ketelitian sedang, cari yang ada tulisannya "20 K Ohm/Volt" ... apa artinya kata kata ini nanti
kita bahas saat membahas rangkaian resistor seri dan pembagian tegangan.
Bagian bagian AVO Meter :
1. Lubang Probe Plus (merah) dan Lubang probe minus (hitam).
2. Kabel ukur plus dan minus
3. Sakelar Rotary
4. Sekala Batas Ukur (Sekala ukur Ampere, Volt dan Ohm)
5. Tombol Pengatur Nol Ohm.
6. Jarum Tunjuk
7. Papan Ukur
8. Baut Zero Adjustment
9. Lubang untuk pengukuran "OUTPUT"
10. Di dalam AVO Meter : Battery AA (2 buah), Battery Kotak 9V, Sekering Cadangan,
Berbagai komponen lainnya.
Saya menyarankan bagi yang belum punya untuk dapat membeli AVO meter karena materi
materi pelajaran ini tidak akan berguna tanpa praktek.
Info saja : harga AVO meter kualitas sedang plus minus harga nya 160 rb.... (memang butuh
modal ...hehehe)
Nanti saya akan lengkapi gambar dan cara pemakaian ... silahkan bagi yang belum punya
menyiapkan AVO meter nya...
Nama lain AVO meter adalah Multimeter (banyak yang di ukur) atau Multitester (bisa untuk
mengetes komponen atau alat elektronik) ada yang menyebut dalam bahasa sehari hari "meteran"
, atau “tester”.

*************************************************************************************

(3a) KODE WARNA RESISTOR ke satu
Karena nanti akan praktek mengukur hambatan maka materi kode warna di majukan.
Sebagaimana sudah di bahas terdahulu bahwa resistor jadi di jual di pasaran dengan model yang
bermacam macam, yang terbanyak adalah seperti "tulang" (gambar). Karena bentuk nya "kecil",
pabrik menemui kesulitan menuliskan di badan resistor dalam bentuk angka, selain itu kalau di
tulis di satu sisi, karena bentuk nya "tulang/selongsong" maka akan tidak terlihat angka nya
kalau posisi pemasangan di rangkaian terbalik/berguling.
Untuk itulah pabrik resistor dari jaman dahulu sudah sepakat untuk menuliskannya dalam bentuk
"kode", kode ini berbentuk gelang gelang warna. Dipasaran ada :
1. 3 gelang warna (sudah tidak di produksi lagi)
2. 4 gelang warna (yang akan kita bahas saat ini)
3. 5 gelang warna
4. 6 gelang warna
Untuk ini teknisi tidak boleh buta warna, minimal harus bisa membedakan antara warna : hitam,
coklat, merah, oranye/jingga, kuning, hijau, biru, ungu, abu abu, putih, emas dan perak.
Kalau urutan itu di singkat dalam mantera "dukun elektronik" di singkat "hi co me or ku hi bi u
ab pu"
(baca malam jumat 100x sambil bakar kemenyan ...hehehe)
Pada gambar ada 4 gelang warna, setiap gelang mempunyai arti :
1. warna pertama menunjukkan angka pertama
2. warna kedua menunjukkan angka ke dua
3. warna ke tiga menunjukkan banyak nya nol atau faktor perkalian
4. warna ke empat menunjukkan toleransi
Uraian tersebut di gambarkan pada tabel berikut.
Contoh :
1. merah - ungu - orange - emas
2 7 000 5%
warna pertama menunjukkan angka pertama = merah = 2
warna kedua menunjukkan angka ke dua = ungu = 7
warna ketiga menunjukkan banyaknya nol = orange = nol nya ada 3 = 000
warna ke empat menunjukkan toleransi = emas = 5%
jadi nilai nya = 27000 ohm 5% = 27.000 ohm 5% = 27 K ohm toleransi 5%
2. biru - abu abu - coklat - emas
6 8 0 5%
maka R = 680 ohm, toleransi 5%
3. biru - abu abu - hitam - emas
6 8 kosong 5%
(warna hitam banyak nya nol kosong, artinya tidak ada tambahan nol)
maka R = 68 ohm toleransi 5%
4. coklat - hijau - emas - emas
1 5 x 0,1 5%
(warna ke tiga bukan lagi banyak nya nol, bukan juga toleransi, tetapi faktor kali, yaitu : x 0,1)
jadi R = 15 x 0,1 ohm toleransi 5% = 1,5 Ohm - toleransi 5%
contoh lain nanti kita bahas lebih dalam


3a) KODE WARNA RESISTOR ke dua
(Praktek)
Melanjutkan materi terdahulu, saya mengajak kawan kawan yang baru / pemula untuk membeli
resistor 1/2 Watt (apa itu 1/2 watt ? nanti kita bahas setelah masuk materi tentang DAYA
LISTRIK) sebanyak 14 buah, untuk Praktek Langsung membaca kode warna dengan warna
warna berikut atau nilai nilai berikut :
1. 0,2 Ohm
2. 8,2 Ohm
3. 47 Ohm
4. 100 Ohm
5. 120 ohm
6. 220 ohm
7. 1.500 ohm = 1,5 K = 1K5
8. 18K
9. 56K
10. 89 K
11. 330 K
12. 820K
13. 1,2 Mega Ohm = 1,2 M = 1M2
14. 4,7 Mega Ohm = 4,7 M = 4M7
sambil latihan baca warna ... silahkan ....
Latihan :
mari di tebak berapa nilai R berikut : (test pada diri sendiri kecepatan menebak nilai nya, siapkan
stopwatch ...hehehe)
1. hijau - biru - merah - emas
2. merah - merah - merah - emas
3. abu abu - merah - merah - emas
4. orange - orange - merah - emas
5. orange - orange - cokla- - emas
6. coklat - hitam - orange - emas
7. coklat - hijau - orange - emas
8. abu abu - merah - orange - emas
9. coklat - abu abu - merah - emas
10. orange - orange - emas - emas
silahkan

*************************************************************************************
3b. PEMBACAAN AVO METER bag. 1
(Ohm meter)
Sekarang saat nya mempelajari cara membaca alat ukur AVO meter.
Sebagai mana kita ketahui bahwa AVO meter dapat kita fungsikan sebagai Ampere meter, Volt
meter dan Ohm meter, pembahasan kali ini kita akan bahas AVO meter sebagai alat ukur
hambatan (Ohm meter).
Tetapi secara umum kita perlu mengetahui bagian bagian AVO meter, dan fungsi nya di lihat
dari luar :
1. Kabel Probe plus (merah) dan minus (hitam)
2. Lubang Probe plus dan minus
3. Sakelar Fungsi dan Batas Ukur
4. Batas Ukur
5. Tombol Pengatur Nol Ohm
6. Papan Pengukuran
7. Jarum Tunjuk
8. Baut Pengatur Nol
9. Kaca Lurus Pandang
10. Lubang Output
FUNGSI BAGIAN BAGIAN AVO METER :
1. Kabel probe plus dan minus berfungsi untuk sebagai penghubung antara titik ukur dan alat
ukur, biasakan plus adalah merah dan minus adalah hitam, kecuali untuk ohm meter.
2. Lubang kabel probe plus dan minus untuk menancapkan kabel probe.
3. Sakelar Fungsi dan Batas Ukur : berfungsi untuk mengubah fungsi AVO meter apakah sebagai
ampere meter, volt meter atau ohm meter, sekaligus batas ukur untuk masing maisng fungsi
tersebut.
4. Batas Ukur : Bagian ini untuk mengarahkan posisi sakelar fungsi sesuai fungsi dan batas ukur
yang sesuai
5. Tombol Pengatur nol ohm berfungsi untuk mengatur agar sebelum mengukur hambatan jarum
tunjuk di tepatkan pada posisi nol ohm (perlu di ketahui angka NOL OHM justru ada disebelah
kanan) ...nanti di bahas lebih lanjut.
6. Papan Pengukuran : untuk membaca berapa nilai besaran besaran yang di ukur sesuai dengan
penunjukkan jarum
7. Jarum tunjuk untuk mengetahui besarnya nilai suatu besaran sesuai dengan penunjukkan
jarum pada papan pengukuran.
8. Baut pengatur nol (volt), untuk volt dan ampere angka nol ada dis ebelah kiri papan
pengukuran, karena satu dan lain hal kadang tidak tepat pada angka nol penunjukkan jarum
tunjuknya, ini diset sedikit agar tepat pada angka nol (sebelah kiri papa pengukuran)
9. Kaca Lurus Pandang, kadang kadang kita mengadakan pengukuran ingin yang tepat
pengukuran nya, posisi yang tepat adalah pandangan mata kita tepat di atas papan pengukuran
dimana bayangan jarum harus berhimpit tepat dengan jarum nya , jika bayangan jarum tepat
berada di atas jarum maka pandangan mata kita sudah pas (bukan untuk melihat ganteng nya
wajah kita ....hehehe)
10. Lubang Output : untuk mengukur komponen tegangan AC yang bercampur DC (pada
pelajaran ke 13 akan di bahas lebih dalam)
silahkan di amati ...

*************************************************************************************
3b. MENGGUNAKAN OHM METER bagian 2
Setelah kita membeli resistor resistor yang di inginkan dan setelah belajar membaca kode warna
resistor 4 kode warna, maka kali ini kita akan belajar mengukur nilai nilai resistor tersebut.
Mestinya nilai R menurut kode warna dan nilai hasil pengukuran sama nilai nya, kalaupun
bergeser paling sekitar 5%.
Toleransi 5% pada resistor artinya : Pabrik menjamin bahwa nilai nya adalah sebesar nilai kode
warna nya, kalau pun menyimpang pabrik akan menjadi tidak akan lebih 5% nya atau kurang 5%
dari nilai menurut kode warna nya.
Tahapan melakukan pengukuran Ohm meter
1. Sebelum di gunakan, lihat jarum tunjuk, apakah sudah berada pada posisi 0 (volt) pada papan
pengukuran ? kalau belum putar baut pengatur nol agar tepat pada angka 0, kalau nggak bisa
juga diatur maka AVO sudah mulai rusak tetapi masih dapat digunakan (walau sudah tidak
presisilagi)
2. Tentukan nilai resistor menurut pembacaan kode warna misalkan R=4K7
3. Putar Sakelar Fungsi dan Batas Ukur pada posisi ohm meter : posisi ohm meter pada AVO
meter ini ada 5 posisi yaitu :
a. Rx1 untuk R yang nilai nya kira kira antara 0 s.d. 100 ohm
b. R x 10 untuk R yang nilai nya kira kira Puluhan s.d. Ratusan Ohm
c. R x 100 untuk R yang nilai nya kira kira Ribuan dan Puluhan ribu
d. R x 1K untuk R yang nilai nya kira kira Puluhan Ribu dan Ratusan ribu ohm
e. R x 10 K untuk R yang nilai nya kira kira Ratusan Ribu s.d. Mega Ohm
4. Karena nilai yang akan di ukur bernilai 4K7, maka akan kita gunakan batas ukur x100
5. Hubungkan kabel merah dan hitam pada AVO meter, maka jarum akan menuju 0 Ohm
(membaca papan pengukuran ohm adalah pada baris yang paling atas dari papan pengukuran,
dimana NOL ohm JUSTRU ada pada posisi KANAN).
6. Mestinya jarum menunjuk ke angka nol, jika tidak, Atur TOMBOL pengatur nol ohm agar
berada pada angka nol, jika tidak bisa hampir di pastikan battery di dalam AVO habis dan perlu
di ganti.
7. Setelah itu hubungkan kabel merah pada salah satu kaki resistor dan kabel hitam pada kaki
resistor yang lain (boleh ter bolak balik), upayakan tangan kita tidak memegang ke dua ujung
resistor karena hambatan tangan kita akan ikut mempengaruhi pengukuran, tetapi masih boleh
jika salah satu ujung kabel saja yang tersentuh tangan kita.
8. Maka jarum akan menunjuk pada suatu harga, misalkan menunjuk angka 47 (mendekati angka
50)
9. maka nilai resistor tersebut sesungguhnya (hasil pengukuran) = 47 x 100 = 4700 ohm = 4K7
(artinya sama dengan nilai kdoe warna nya berarti resistor kondisi BAIK).
Ada 3 macam kerusakan Resistor :
1. Resistor bocor (mestinya nilai tertentu) tetapi ketika di ukur NOL ohm.
2. Resistor putus (mestinya nilai tertentu) tetapi ketika di ukur nilai nya tak terhingga (sangat
sangat besar)
3. Resistor berubah harga (mestinya nilainya sama dengan nilai kode warnanya) tetapi ketika di
ukur nilai nya berubah jauh dari nilai kode warna nya (melebihi toleransi nya)
Silahkan praktekkan kemudian di coba juga dengan berbagai resistor yang di miliki.
*************************************************************************************
3.b. INFO TENTANG BATTERY DI DALAM AVO bagian 3
Battery di dalam AVO meter analog, biasanya ada 2 jenis
1. Battery AA 1,5V sebanyak 2 buah
2. Battery 9 V, battery kotak sebanyak 1 buah
Battery hanya di fungsikan pada saat AVO meter berada pada posisi Ohm meter, sedangkan pada
posisi Ampere meter dan Volt meter tidak di fungsikan (tidak diperlukan).
Battery AA di fungsikan untuk batas ukur x1, x10, x100, dan 1K
sedangkan battery kotak 9V hanya difungsikan pada ohm meter pada batas ukur x10K
jadi kalau jarum AVO meter posisi ohm meter sudah tidak mau "di nol kan"
pada batas ukur yang di maksud, boleh di curigai battery yang bersangkutan sudah mesti di ganti
...
selamat praktek.

*************************************************************************************
3.c. MENGUKUR TEGANGAN DC bagian 1
Mengukur tegangan DC tentu kita lakukan dengan Volt meter atau AVO meter pada fungsi volt
meter.
Dalam praktek tegangan terbagi atas ;
1. Tegangan DC (direct current)
2. Tegangan AC (Alternating Current)
apa itu DC dan apa itu AC nanti akan di bahas khusus, tetapi sementara kita akan mengukur
tegangan DC saja dahulu.
Tegangan DC ini bisa berasal dari Battery, Accu, Adaptor, dll. yang mana ada plus dan minus
nya...
Catatan :
1. Pada Avo meter sekala pada pengukuran tegangan DC dan AC berbeda (jangan keliru)
2. Jangan keliru batas ukur nya
3. Saat mengukur jangan terbalik kutub posistip dan negatif alat ukur
4. Saat mengukur biasakan agar tangan kita tidak menyentuh titik ukur, sebab kelak kita akan
mengukur tegangan tinggi yang akan membahayakan jika tersentuh
5. Saat akan mengukur kita harus "memperkirakan" dahulu tegangan yang akan di ukur, lalu kita
akan gunakan batas ukur di atas tegangan yang sudah diperkirakan tersebut.
Pada contoh avo meter ini batas ukur pengukuran tegangan DC ada beberapa batas ukur yaitu :
0,1 - 0,5 - 2,5 - 10 - 50 - 250 - dan 1.000 volt.
Praktek Mengukur Tegangan DC :
1. Siap kan battery ukuran AA 2 buah dan Battery AAA 2 buah (tidak harus beli, pinjam aja dulu
dari remote kontrol di rumah
2. Siapkan accu motor (copot dahulu dari motor, hati hati jangan terjadi konslet saat buka dan
pasang, dan jangan terbalik saat pasang kembali)
3. Siapkan AVO meter
4. Pada kita akan mengukur battery battery yang kita punya (bekas pakai)
5. Karena tegangan setiap battery adalah 1,5 volt, makakita dapat gunakan batas ukur 2,5 Volt...
6. Pindahkan sakelar fungsi dan batas ukur pada VDC 2,5 V
7. Letak kawat merah pada kutub positip dan kawat hitam pada kutub negatif
8. baca penunjukkan jarum ...
9. tentukan nilai tegangan battery tersebut ...dan catat ...
10. Membaca sekala harus teliti dalam membagi garis garis yang ada ...
berlanjut ....

 setelah mengukur tegangan setiap battery dan mencatat nya, ukur tegangan Accu sekitar 12
volt, karena itu gunakan batas ukur 50 Volt .... silahkan di upload berapa hasil pengukuran
tegangan masing maisng ..pak guru pengen tahu ...(hehehe)
 setelah itu di coba juga dengan gambar berikut (2 buah battery di seri), tegangan diperkirakan
menjadi 3 volt ... silahkan di ukur juga ..

 mungkin akan ada yg brtanya,. apa yg trjadi jk saat mengukur arus Dc kita salah dg skala
pngkuran Ac, atau sebaliknya,………………………… kalau pengalaman saya sih kalau pada skala yang
sama dan masih masuk range ukurnya mungkin g ada masalah tapi tapi pembacaannya pasti
keliru yang parah jika sudah terbalik dan yang di ukur kegedean yah terbakar deh testernya
*************************************************************************************
SOAL SOAL
Soal soal menyangkut sebagian pelajaran yang sudah di bahas, baik teori maupun praktek
silahkan "self test"
1. Sebuah accu mempunyai tegangan 12 V di berikan pada sebuah resistor sebesar 8 ohm, berapa
arus yang mengalir ?
2. Sebuah resistor 100 ohm, ingin di aliri arus sebesar 20 mA, berapa kah tegangan yang harus
diberikan ?
3. Sebuah adaptor mempunyai tegangan 6 volt DC di berikan ke sebuah resistor yang belum di
ketahui nilai nya, tetapi ketika di ukur arus nya sebesar 45 mA, berapakah resistor tersebut ?
4. Sebuah resistor mempunyai kode warna coklat - hijau - coklat - emas, tetapi ketika di ukur
dengan ohm meter R nya = 200 ohm, rusakkah resistor tersebut, jika rusak apakah jenis
kerusakannya?
5. Sebuah resistor berwarna gelas : merah - merah - emas - emas, tetapi ketika di ukur nilai nya
tak terhingga, apakah resistor tersebut rusak ? jika rusak pakah jenis kerusakannya ?
6. Sebuah resistor dengan warna : coklat - hitam - hitam - emas, ketika diukur nilai nya nol ohm,
rusakkah resistor itu, jika rusaka apakah jenis kerusakannya ?
7. Mengukur hambatan dengan ohm meter, apakah kedua tangan kita boleh memegang kedua
ujung kawat ukur (probe ukur) ?
8. Mengukur hambatan dengan ohm meter apakah boleh kabel merah dan hitam terbolak balik ?
9. Mengukur tegangan dengan volt meter, apakah kabel merah dan hitam boleh terbolak balik ?
10. mengukur kuat arus listrik DC dengan ampere meter, apakah kabel merah dan hitam probe
boleh terbolak balik ?
11. Apakah tombol pengatur nol ohm dipakai pada saat mengukur tegangan atau arus listrik ?
12. Bolehkah tegangan AC di ukur dengan volt meter DC ?
13. Sebutkan bagian bagian avo meter
14. Ada battery 1,5 V 2 buah di dalam avo meter untuk apakah battery itu ?
15. ada battery kotak 9V 1 buah di dalam avo meter untuk apakah battery itu ?
16. Makin panjang kawat apakah hambatan makin besar atau makin kecil ?
17. Manakah yang lebih mengalirkan arus tembaga atau alumunium ?
18. Berapa kah tegangan sebuah battery AA atau AAA dalam kondisi normal ?
19. Berapakah besarnya tegangan accu motor atau mobil pada umumnya ?
20. Resistor 100 ohm di berikan pada accu motor akan menghasilkan arus mengalir sebesar =
0,12 A, jika diberikan ke accu mobil dengan tegangan yang sama apakah arus nya berubah ?
*************************************************************************************
3.c. Mengukur Kuat Arus bagian 3
HATI HATI
Mengukur kuat arus adalah dengan memutus rangkaian dan memasangkan alat ukur pada titik
tersebut dengan kabel plus dan minus yang benar dengan melihat arah arus di rangkaian.
Jadi Ampere meter "seri" dengan R beban nya.
Hati hati menggunakan ampere meter karena batas ukur yang ada pada kebanyakan AVO meter,
nilai nya kebanyakan kecil kecil, pada avo meter saya batas ukur yang tersedia hanya :
0,25 A - 25 mA (mili ampere) - 2,5 mA - 50 uA (50 mikro ampere)
jika keliru mengukur arus sebesar 1 Ampere atau bahkan lebih dengan salah satu batas ukur di
atas, bisa merusak AVO meter, dalam beberapa kasus jarum menjadi bengkok, komponen di
dalam AVO terbakar, dll. pokok nya rusak.
Pada beberapa AVO meter (biasanya yang digital) sering di sediakan untuk mengukur ampere
DC dengan batas ukur yang besar, misalkan sampai 10 A, tetapi dengan lobang jack khusus,
kalau lupa memindahkan lobang nya, walau batas ukur sudah benar juga akan menyebabkan
kerusakan ....
hati hati selalu dalam menggunakan avo meter termasuk jangan terbalikkabel merah dan hitam
nya...
selamat praktek ...
 nah berarti harus kira2 donk om...seumpama kita mau ngukur tegangan ac kita kan gak tau brpa
besarny....atau diukur dengan nilai tertinggi pd AVOmtr...,maksudku dari nilai tertinggi sampai
terendah AVO
 betul sekali mas hanifan, kalau tegangan atau arus tidak dapat di perkirakan, gunakan dahulu
batas ukur tertinggi, jika menunjuk hanya sedikit, barulah batas ukur di turunkan...
 betul sekali mas hanifan, jika kita akan mengukur tegangan atau arus yang nilai nya tidak bisa di
perkirakan gunakan batas ukur tertinggi dahulu, jika jarum hanya menunjuk sedikit barulah
batas ukur kita turunkan step by step...
 Susah ya lo arus dc... lo ac tinggal pke tang amper
 jdi kalo mengukur amper trafo 10 amper lebih baik menggunakan amper meter ya pak?
 Trafo menghasilkan tegangan AC selain itu juga Ampere nya besar, AVO meter pada umumnya
tidak menyediakan AC ampere meter, jadi memang harus Ampere Meter AC yang khusus di buat
untuk tegangan AC berarus besar.
 Seperti clamp meter
 kalo pake tang amper pa bsa pak.?
 Tang ampere hanya di gunakan pada kabel yang teraliri listrik bolak balik... kalau DC nggak bisa...
 ada juga tang ampere dc khusus sy pakai d pabrik untuk ukur 4-20ma dc untuk arus pressure
transmitter krn kita g bisa cabut kalau ukur atau boiler kita trip jika salah2 cabut jd y pakai clam
ampere khusus mas
 tp mahal banget itu alat, bukan alat standar sih metodenya jugabsy masih g tau jg tp yg pasti
dari luar kayak clamp ampere hehehe cuma sampai itu sih infonya
*************************************************************************************
4. DAYA LISTRIK bagian 1
Setelah memahami 3 besaran utama dan hubungan ketiga nya melalui rumus hukum ohm, maka
selanjutnya memahami apa itu Daya Listrik.
Ketika arus listrik mengalir pada penghantar listrik atau hambatan, maka pada hambatan tersebut
timbul panas, makin besar tegangan yang terdapat pada resistor (atau R beban) makin besar
panas nya, makin besar arus yang mengalir juga akan besar panas nya.
Dalam teknik listrik, Daya Panas yang terjadi itu di nyatakan dalam Watt. Dalam praktek listrik
bisa di ubah menjadi
1. Panas seperti pada resistor, pada setrika listrik
2. Menjadi cahaya pada lampu,
3. Menggerakkan baling baling seperti pada kipas angin
4. Menggerakkan baling turbin seperti pada pompa air
5. Menggerakk kompressor sehingga menjadi dingin pada kulkas/AC
6. Menjadi pengolah sinyal gambar seperti TV
7. Menjadi penguat sinyal suara, seperti pada ampifier
8. dll dll.
Semua itu memerlukan tegangan dan arus,
Besar nya tegangan dan arus untuk keperluan keperluan di atas di nyatakan dengan rumus :
P = V x I
P =Daya Listrik (watt)
V = Tegangan (Volt)
I = Kuat Arus (Ampere)
Kalau rumus nya di bolak balik maka :
V = P/I atau I = P/ V
1. Misalkan sebuah setrika Listrik membutuhkan tegangan 220 V dan Arus sebesar 1,3 A, maka
pada setrika tersebut timbul daya listrik sebesar = 286 watt.
2. Sebuah solder mempunyai watt = 40 watt, tegangan nya 220 V, kalau solder tersebut di
colokkan ke listrik 220V, maka akan mengalir sebesar ... I = P/V = 40 /220 = 0,183 Ampere.
3. Sebuah AC membutuhkan tegangan 220 V dengan watt sebesar 750 watt, maka kuat arus yang
mengalir jika di hidupkan akan sebesar : I = P/V = 750 / 220 = 3,41 Ampere.
4. Sebuah Lampu motor mempunyai tegangan 12 V, sementara lampu depan nya mempunyai
Daya = 20 watt, Jika di hidupkan lampu tersebut akan membutuhkan/menarik arus sebesar = I =
P/V = 20 / 12 = 1,67 A
Karena Tegangan, Kuat Arus dan Hambatan mempunyai hubungan rumus hukum ohm, maka
rumus daya pun dapat di masukkan sebagai berikut :
P = V x I .... di mana V = I x R, maka :
= (I x R) x I
P = I kuadrat x R
atau bisa juga :
P = V x I ..... dimana I = V/R, maka :
= V x V / R
P = V kuarat / R
Saya akan bahas tentang watt pada resistor :
di atas sudah di tegaskan jika sebuah resistor di beri tegangan, maka mengalir arus, tegangan dan
arus pada resistor tersebut menimbulkan daya berupa panas.
Karena itu di pasaran di jual resistor - resistor dengan berbagai "Kemampuan di beri daya"
Di pasaran di jual dengan berbagai kemampuan di beri daya :
1. Ada yang 0.25 Watt (seperempat watt)
2. Ada yang 1/2 watt (yang paling banyak di pakai)
3. Ada yang 1 Watt
4. Ada yang 2 Watt
5. Ada yang 5 Watt
6. dll.
Apabila daya yang terjadi lebih besar dari kemampuan nya maka resistor tersebut bisa
rusak/terbakar.
Contoh :
1. Pada rangkaian kita memberikan sebuah resistor 100 ohm dengan kemampuan di beri daya
sebesar 1/2 watt, kita berikan tegangan sebesar 12 Volt, maka :
akan mengalir arus sebesar =>> I = V / R = 12 / 100 = 0,12 A
timbul daya berupa panas sebesar ==> P = V x I = 12 x 0,12 = 1,44 Watt
maka di pastikan resistor akan terbakar.
2. Pada rangkaian kita memberikan tegangan 12 V pada sebuah resistor 1K ohm dengan watt 1/4
watt, maka :
akan mengalir arus sebesar =>> I = V / R = 12 / 1.000 = 0,012 ampere
timbul daya berupa panas sebesar = => P = V x I = 12 x 0,012 = 0,144 watt
karena daya yang timbul 0,144 watt, sementara kemampuan di beri daya nya 1/4 watt = 0,25 watt
maka. resistor tersebut hangat hangat sedikit tetapi tidak terbakar ... (malah mungkin tidak terasa
panas nya)
 Koreksi dikit Pak

1. Misalkan sebuah setrika Listrik membutuhkan tegangan 220 V dan Arus sebesar 1,3 A, maka
pada setrika tersebut timbul daya listrik sebesar = 386 watt.

Mungkin Maksud Bapak 286 dan bukan 386 watt, Maaf Pak kalau salah
 betul mas muchtar, tanks
 Saya pernah menghitung kaitannya daya listrik dan watt listrik dngan perbayar listrik/bulan.. Itu
rumusnya gimana ya? Yang tahu silakan kasih contoh.
 untuk pemakaian di rumah, di hitung dengan waktu, setelah tahu daya nya .... misal : listrik di
pakai 100 watt ... dipakai selama 5 jam, maka yang terpakai = 100 W x 5 jam = 500 Watt Jam =
0,5 KW jam = 0,5 Kwh...


 Ijin tanya pak setiap sy memperbaiki kulkas pd cmpresor terukur 0,7A dg tang amphere
Jk mengacu pd rumus diatas maka daya yg dbuthkan adalah 154watt sdang name plate pd
kulkas hanya 90watt mhon pencerahan nya
 (1) Kuat arus terbesar pada kulkas memang di tarik oleh kompressor, (2) Metode pengukuran
arus dengan tang ampere adalah dengan mengukur induksi magnetik yang di timbulkan oleh
kabel yang di aliri arus listrik. Jadi bukan mengukur arus secara langsung. (3) beban listrik berupa
motor akan berubah "watt" nya saat mendapat mendapat beban putaran yang besar misal pada
pompa arus akan naik saat putaran berat..... Saya menduga ketidak tepatan pengukuran dengan
data pabrik : 1. motor sedang mendapat beban berat memutar komporessor 2. alat ukur tidak
terlalu tepat 3. kompressor mulai lemah, 4. bisa jadi pabrik hanya mencantumkan daya saat
ebban ringan (beban tarikan komperssor naik/turun) ... untuk pastinya coba ukur dengan
ampere meter biasa ...
**********************************************************************************
3.c. MENGUKUR KUAT ARUS bagian 2
Mengukur kuat arus agak lebih sulit ketimbang mengukur tegangan.
Pada bahasan lalu, saya menegaskan bahwa tegangan ada di 2 titik, sedangkan arus ada nya di 1
titik.
Pada gambar berikut kita akan mengukur besar nya kuat arus, dan sekaligus mempraktekkan
hukum Ohm ....
Untuk mengukur kuat arus pada satu titik, maka kita harus MEMUTUS titik tersebut dan
menggantikannya dengan ampere meter.
contoh nya adalah pada gambar berikut :
1. Pada gambar a, kita melihat sebuah battery 1,5 Volt, di hubungkan dengan sebuah R 82 ohm,
jika kita hitung maka mestinya arus yang mengalir = >> I = V/R = 1,5 / 82 = 0,0183 A = 18,3
mA (18 mili ampere).
2. Sesuai pelajaran lalu bahwa arus pada titik A dan titik B sama besar, tetapi saat ini kita akan
ukur di titik A saja dahulu.
3. Untuk itu titik A kita putus seperti gambar b, dan pasang AVO meter pada fungsi Ampere
meter atau (posisi mili ampere) dengan batas ukur di atas arus yang akan di ukur (paling dekat di
atas nya = 25 mA). seperti gambar c.
4. Karena arus mengalir dari kiri ke kanan pada gambar c, maka kabel merah ampere meter ada
pada sebelah kiri dan kabel hitam ada dis ebelah kanan.
5. Maka jarum akan menunjuk mendekati 20 mA, baca dengan teliti berapakah arus yang
sesungguh nya, sesuaikah dengan rumus hukum ohm ???
silahkan praktek, tetapi hanya dengan battery 1,5 volt dahulu, sebab kalau keliru bisa merusak
AVO meter yang harga nya cukup mahal.

 Dengan rangkaian seperti gambar c, gantilah dengan resistor 1K5 = 1500 ohm, sesuai dengan
rumus hukum ohm mestinya arus menjadi lebih kecil =>> I = V/R = 1,5 / 1500 ohm = 0,001 A = 1
mA .... silahkan di praktekkan ... (tentu batas ukur mA meter di turunkan menjadi batas ukur 2,5
mA agar mudah baca nya)

 untuk membuktikan bahwa arus pada titik A sama dengan arus di titik B, maka sekarang kita
akan mengukur besarnya arus di titik B, cara memutus jalurnya seperti pada gambar, tetapi
perhatikan peletakkan kabel merah dan hitam avo meter nya, karena pada titik B arus mengalir
dari kanan ke kiri (pada gambar c). Dengan tegangan yang sama dan harga resistor yang sama
mestinya kuat arus di titik A dan titik B mestinya sama ... silahkan di praktekkan ...

*************************************************************************************
5.a. Penerapan Rangkaian Seri dan Pembagi Tegangan (Voltage Divider)
Penerapan rangkaian seri sangat luas dalam elektronika, sebelum kita berikan contoh, beberapa
prinsip rangkaian seri adalah sebagai berikut :
1. Jika 2 buah R diseri maka hambatan nya semakin besar, terutama ditentukan oleh R yang
terbesar.
2. Kuat arus disetiap titik sama besar
3. Jika dihubungkan dengan tegangan maka akan terjadi pembagian tegangan (voltage divider)
4. Tegangan yang terjangkit (timbul) pada R1 = I x R1, dst. nya.
5. Jumlah tegangan total dari pembagian tegangan akan sama dengan tegangan sumber Vcc.
Salah satu penerapan rangkaian R seri adalah ketika kita akan menyalakan sebuah (lampu) LED
dengan tegangan yang lebih besar dari kebutuhan nya, karena itu tegangan kelebihannya harus di
"buang" di resistore sekaligus resistor sebagai penghambat arus.
SEDIKIT tentang LED :
1. LED adalah bahan semikonduktor yang di dalamnya terbuat dari bahan kimia padat, yang
dapat menghasilkan warna cahaya tertentu dengan bahan kimia tertentu. Kali ini saya akan
mengambil contoh LED warna merah. Karena mengeluarkan cahaya, orang menyebutnya juga
sebagai lampu LED.
2. LED singkatan dari Light Emittring Diode (Diode yang memancarkan cahaya).
3. LED mempunyai 2 kaki yaitu Anoda dan Chatode (katoda), yang dalam pemasangannya tidak
boleh terbalik, dimana yang benar adalah : Anoda mendapat kutub positip dan katoda mendapat
kutub negatif.
4. Untuk LED merah, untuk menyala normal membutuhkan tegangan 2 s.d. 2,25 V dengan arus
yang mengalir normal nya 20 mA = 0,02 A.
Selanjutnya :
Jika kita mempunyai tegangan sumber 12 V sementara dioda hanya butuh 2 Volt dan arus 20
mA, maka bisa di pastikan jika LED ini di hubungkan langsung ke tegangan 12 Volt, pasti akan
rusak seketika. Karena itu kita membutuhkan resistor yang di pasang seri, untuk ini kita
"mengerahkan" semua ilmu yang kita miliki dari pelajaran lalu yaitu ilmu tentang :
1. Hukum Ohm.
2. Prinsip rangkaian seri dan pembagi tegangan
3. Rumus Daya.
4. Ketentuan tentang kode warna resistor
(hitungan kita bahas di baris comment) .... lanjut kan ....

 lanjut : karena yang kita inginkan tegangan 2 volt ada di LED dan 10 volt dibuang ke resistor,
pada resistor timbul tegangan 10 Volt, dan arus sama besar di seluruh titik sebesar 20 mA, maka
kita bisa hitung besar nya R sebesar ==> R = V/I = 10/0,02 = 500 ohm karena tidak ada nilai 500
ohm, kita cari di pasaran yang mendekati nilai tersebut bisa 470 ohm, bisa 560 ohm.... jika kita
beri 470 ohm tentu arus akan lebih besar (sedikit) sedangkan kalau kita berikan 560 arus akan
jadi lebih kecil (sedikit) dari 20 mA. LED tetap menyala tetapi bisa lebih terang atau lebih redup.
Terang tetapi kurang awet, redup tetapi lebih awet, pilihan ada pada kita sendiri. Misalkan kita
ambil nilai 560 Ohm.

 Lanjut lagi : Karena kita memberi nilai 560 ohm, maka arus sesungguhnya yang mengalir sebesar
=> I = 10/560 = 0,018 A = 18 mA ... maka pada resistor akan timbul panas sebesar P = V x I = 10 x
0,018 = 0,18 Watt .... kita boleh pakai resistor dengan kemampuan watt sebesar 0,25 watt, atau
0,5 watt, atau 1 watt.... tentu yang 1 watt lebih awet resistor nya tetapi harga rupiah nya lebih
mahal ....

 Karena kita memilih nilai 560 ohm, maka kode warna resistor yang ada pada resistor adalah =
hijau - biru - coklat- emas ........Dari sini dapat kita lihat apa yang saya maksud selama ini bahwa
pelajaran elektronika dasar ini harus dipelajari secara URUT ... maka akan dapat di pahami
secara utuh ....

 dalam praktek nilai nilai di atas akan dapat bergeser (sedikit) karena tegangan sumber bisa saja
tidak tepat 12 Volt, LED bisa saja tidak tepat 2V, Resistor bisa saja "lari" nilai nya sedikit dari 560
ohm, atau bahkan alat ukur kita bisa saja tidak terlalu tepat, tetapi pemahaman dan hitungan
perlu dilakukan kalau kita ingin semua berjalan lancar, karena resiko rangkaian tidak bekerja
atau malah rusak akan lebih besar tanpa pengetahuan yang memadai.

 jadi tegangan sumber dikurangi tegangan yg dibutuhkan LED buat nentuin R nya pak?

 betul ... kasih nilai 100...

 mohon diomelin pak,hehe ... karena sebelumny sy td ngitungnya begini; > buat nyari R nya I=V/R
maka 0,02=12/R maka R=600 ohm. Dan P=VxI maka P=12x0,02 maka P=0,24 watt. >>sy
menganggap Led adalah R jadi I=V/R maka 0,02=2/R maka R=100 ohm. >> lalu hasil akhinya
I=Vcc/Rt maka arus yg mengalir tetap 0,02 A=14v/700ohm. maaf pak kalau itungan sy tdk jelas

 LED bukan resistor yang nilai nya tetap, dia merupakan bahan semi konduktor, karena nya tidak
dapat di anggap resistor, tetapi prinsip pembagi tegangan masih berlaku. melihat karakteristik
LED, maka LED adalah komponen yang membutuh kan tegangan tertentu dengan kuat arus
tertentu untuk dapat bekerja normal....

 mohon bimbingannya kang, misal kita punya vcc 32 vdc 10 A sedangkan kita membutuhkan 12
vdc berapakah nilai resistor yg sy gunakan?

 Den Ridwan mksud'a gimana?? Membutukan tegangan 12volt dc ta, 32 volt 10Amper. Itu travo
ta?

 maksudnya untuk menurunkan tegangan 32v ke 12 v resistor berapa ohm?

 Pake aja legulator TR 78012.. Tp kalau travo'a ada keluaran 12vdc. Pake aja keluaran 12vdc.

 bukan itu maksud saya , tapi gimana cara menurunkan tegangan dan arus dengan menggunakan
resistor!

 R=V/I
V=32volt
I=10Amper=0,0001mA.
R=32/0,0001=320. R=320ohm.


*************************************************************************************
5.a. RESISTOR SERI dan PEMBAGI TEGANGAN bagian 1
Resistor jika 1 buah langsung di hubungkan ke sumber tegangan maka cukup kita menghitung
dengan rumus hukum ohm.
Dalam rangkaian elektronika akan sering kita temukan resistor disusun atau di rangkai secara
seri baik 2 buah resistor atau lebih seperti pada gambar, atau di gambar secara skema seperti
gambar di sebelahnya.
Jika sebuah resistor di rangkaian seri dan di beri tegangan, maka beberapa prinsip rangkaian seri
sebagai berikut :
1. Nilai hambatan adalah penjumlahan dari semua nilai resistor yang ada.
2. Nilai total di tentukan "terutama" oleh hambatan terbesar.
3. Jika di beri tegangan maka arus di setiap titik sama besar, dengan kuat arus sebesar I = V /
RT...... (RT = R total)
4. Terjadi Pembagian Tegangan (Voltage Divider), yang total tegangannya sebesar tegangan
sumber.
5. Tegangan terbesar terdapat pada R yang terbesar.
6. Besar nya tegangan masing - masing sebesar kuat arus di kalikan nilai R yang bersangkutan.
Contoh :
1. Resistor sebanyak 2 buah di serikan, dengan nilai yang sama yaitu R1 = 1K ohm, R2 = 1 K
ohm, di beri tegangan sebesar 6 Volt, maka :
a. Nilai RT = R1 + R2 = 1K + 1K = 2 K ohm
b. Kuat Arus yang mengalir sama disetiap titik sebesar =>> I = V / RT =
= 6 / 2.000 = 0,003 A = 3 mA
c. Terjadi pembagian tegangan pada R1 dan R2 sebesar :
VR1 = I x R1 = 0,003 A x 1.000 ohm = 3 Volt
VR2 = I x R2 = 0,003 A x 1.000 ohm = 3 Volt
d. Kalau dijumlahkan tegangan di R1 + tegangan di R2 :
Vcc = VR1 + VR2 = 3 + 3 = 6 Volt
(selanjutnya kita biasakan menyebut tegangan sumber dengan Vcc).
2. Resistor sebanyak 2 buah di seri kan, dengan nilai R1 = 2K, dan R2 = 4K, dengan tegangan
sumber sebesar 6 Volt, maka :
a. Nilai hambatan total (RT) = R1 + R2 = 2K + 4K = 6 K ohm
b. Kuat Arus yang mengalir = I = V/ RT = 6 / 6 K = 0,001 A = 1 mA
(arus mengalir sama besar disetiap titik)
c. Terjadi pembagian sebesar :
VR1 = I x R1 = 0,001 x 2.000 = 2 Volt
VR2 = I x R2 = 0,001 x 4.000 = 4 Volt
(dibuktikan bahwa Vcc = VR1 + VR2 = 2 + 4 = 6 Volt )
d. Dibuktikan bahwa tegangan terbesar terdapat pada R yang terbesar (VR2 lebih besar dari
VR1).
3. Resistor sebanyak 2 buah di seri kan, dengan R1 = 500 Ohm, R2 = 10 ohm, di berikan
tegangan sumber 6 volt, maka :
a. Nilai hambatan total = RT = R1 + R2 = 500 + 10 = 510 ohm
b. Kuat arus yang mengalir di setiap titik di rangkaian = I = 6 / 510 =0,011764 A
c. terjadi pembagian tegangan =
VR1 = I x R1 = 0,011764 x 500 = 5,882 Volt
VR2 = I x R2 = 0,011764 x 10 = 1,1764 Volt
(kalau di total VR1 + VR2 = 5,88 + 0,11764 = 6 Volt)
pada contoh 3 dapat di tarik kesimpulan :
1. Nilai hambatan total di tentukan oleh R yang terbesar
2. Kuat arus sama disetiap titik
3. Terjadi pembagian tegangan
4. tegangan terbesar terdapat pada R yang terbesar




*************************************************************************************