You are on page 1of 2

TUGAS CATATAN KULIAH PENGANTAR HUBUNGAN

INTERNASIONAL
TANGGAL 22 SEPTEMBER 2014 PERTEMUAN KE-3

Momentum Sejarah Penting dari Perjanjian Westphalia sampai dengan Perang Dunia II.
Momentum penting disetujuinya perjanjian damai Westphalia dengan sistem nation-state,
kedaulatan, dan pemisahan kekuasaan merupakan titik bersejarah, tidak hanya sebagai penuntasan
kekelaman masa konflik tiga puluh tahun, melainkan suatu babak baru dalam dinamika hubungan
internasional di berbagai aspek dan belahan dunia. Batas teritorial dan self-determination yang
diusung Westphalia menimbulkan penafsiran ganda oleh para aktor dengan munculnya fenomena
saling menguasai sebagai indikasi bergesernya nilai yang dirumuskan dalam kepentingan nasional.
Interaksi dan aliansi yang berkembang di Eropa pada abad ke-17 menimbulkan hegemoni sebagai
implikasi dari ketidakpuasan manusia sehingga menelurkan bibit kolonialisme yang meluas dari
waktu ke waktu. Maraknya kolonialisme ini semakin menyulut konflik, seperti terbunuhnya pangeran
Austria, Franz Ferdinand yang menjadi awal Perang Dunia pertama ditandai dengan pengiriman
ultimatum Austria ke Serbia pada tahun 1914.
Pertempuran tersebut mereda pada tahun 1918 dengan disetujuinya gencatan senjata dan
perumusan perjanjian Versailles pada tahun 1919 dimana salah satu isinya adalah membentuk Liga
Bangsa-Bangsa pada 28 Juni 1919 sebagai pengusung perdamaian oleh presiden Amerika Serikat
pada saat itu, Woodrow Wilson (Magliveras 1999, pp. 8-12). Wilson menganggap mewujudkan
perdamaian di dunia adalah dengan mewujudkan stabilitas dan perimbangan kekuasaan dimana setiap
negara harus patuh dan tunduk pada tata aturan dan menjalankan diplomasi secara damai (Knutsen,
1997). Sementara sekutu mendominasi kemenangan Perang tersebut, perjanjian Versailles membawa
dampak buruk bagi Jerman yang harus menanggung kerugian perang cukup besar, sehingga memicu
stagnasi militer dan ekonomi. Pada titik inilah nasionalisme mengalamai eksploitasi sehingga
membentuk paham komunis dan fasisme sebagai akibat dari keruntuhan struktur politik dan
pemerintahan formal akibat perang dunia (Rubinstein, 2004). Pasca perang dunia pertama, tercipta
stabilitas semu, yaitu masa kedamaian dan tidak lagi korban berjatuhan akibat perang yang
berlangsung selama dua puluh tahun. Asumsi lain berpendapat bahwa masa dua puluh tahun
merupakan masa persiapan invasi untuk perang selanjutnya, mengingat ketidakpuasan Jerman
terhadap hasil perjanjian Versailles dan menganggap Versailles merupakan usaha Amerika untuk
meruntuhkan Jerman. Fasisme Jerman diimplementasikan dalam gerakan NAZI oleh Adolf Hitler
sebagai bentuk penolakan, juga sebagai pemicu meletusnya perang dunia kedua. Perancis dan Britania
menyatakan perang terhadap Jerman sebagai respon invasi Jerman terhadap Polandia pada 1
September 1939. Sementara ranah Asia, pertempuran Jepang dengan Republik Rakyat Cina berkobar
setelah Jepang berusaha menduduki Asia Timur pada 1937 (Barrett & Shyu 2001, p. 6). Perang dunia
kedua ini memisah kekuasaan menjadi blok sekutu barat yaitu Perancis, Britania, Uni Soviet dan
Amerika Serikat, sementara blok poros timur, Italia, Jerman, dan Jepang.
Titik berakhirnya perang dunia kedua ditandai dengan penyerahan Jepang kepada Amerika
Serikat pada 14 Agustus 1945, dan menyisakan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara
superpower dengan kekuatan nasional dominan pasca 1945. Kemunculan dua kekuatan baru ini
menjadikan dunia berporos pusat bipolar, dan ketegangan diantara keduanya membawa dampak
krusial dalam segala aspek kerjasama dunia, seperti tercetusnya perang dingin. Konflik perang dingin
tidak dimanifestasikan secara langsung dengan pertempuran militer, melainkan konfrontasi dengan
tekanan diplomatis yang memicu konflik militer regional seperti perang Korea pada 1950-1953 dan
Perang Vietnam pada 1959-1975. Periode perang dingin diwarnai krisis nuklir Kuba, yaitu
terungkapnya keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan nuklir ke Teluk Babi, wilayah teritorial
Kuba, yang memicu respon tegas Uni Soviet sebagai poros komunis pada 22 Oktober 1962.
Ketegangan ini diakhiri dengan penarikan nuklir di Kuba oleh perdana menteri Uni Soviet, Nikita
Khruschev, asalkan Amerika Serikat berjanjian tidak akan mengintervensi Kuba (Scott, 2001).
Ketegangan melemah saat presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev mendoktrin reformasi liberalisasi
perestroika, yaitu rekonstruksi reorganisasi, dan glasnost atau asas keterbukaan pada tahun 1980-an
yang menjadi awal runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Keruntuhan Uni Soviet secara otomatis
merupakan keruntuhan komunis Eropa di Eropa Timur, dan muncullah kekuatan unipolar baru, yaitu
Amerika Serikat sebagai negara adidaya satu-satunya, juga sebagai pengendali kunci politik dunia.
Kemunculan Amerika menandai terbentuknya sistem internasional baru yang diadaptasi dari
perbandingan masa kelam perang terdahulu dengan munculnya kekuatan baru di masa sekarang (Cox,
2001).
Keruntuhan komunis di Eropa berdampak pada restrukturisasi ekonomi Eropa sebagai wujud
perjuangan menghadapi krisis (Crockatt, 2001). Sayangnya restrukturisasi tersebut menimbulkan
dampak katastrofe pemicu inflasi dan inkonsistensi level harga. Sementara kemajuan di Amerika
berkembang pesat dengan pemutakhiran structural power yang menjadi kebutuhan fundamental
sebagai "polisi" dan penengah dalam konflik internasional. Disisi lain, Republik Rakyat Cina (RRC)
dengan kombinasi paham kapitalis-komunis bangkit dan menjadi basis ekonomi Asia Pasifik pada
1990-an. Kemunculan RRC sebagai macan Asia, mengubah haluan kebijakan Amerika dan berfokus
pada kebijakan bisnis besar untuk mengungguli RRC (Cox, 2001).
Kemunculan kekuatan-kekuatan baru di belahan bumi utara kontras dengan semakin
maraknya kemiskian akibat keruntuhan komunis memicu kontradiksi dan kesenjangan memicu
munculnya model baru dalam hubungan internasional, yaitu terorisme. Salah satu peristiwa yang
mewarnai dinamika hubungan internasional adalah peristiwa serangan Al-Qaeda pimpinan Osama bin
Laden, terhadap Amerika, 11 September 2001. Serangan ini difokuskan pada dua kota pusat politik
dan perekonomian Amerika, yaitu New York City dengan pembajakan pesawat dan meruntuhkan
gedung World Trade Center serta Pentagon di Washington D.C. Peristiwa ini membuat Amerika
semakin berkonsentrasi pada stabilitas keamanan dengan melancarkan serangan balasan ke
Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003 sebagai respon perlawanan terhadap terorisme (Record,
2003). Perang balasan ini berimplikasi pada kondisi ekonomi Amerika setelah menggelontorkan
triliunan pendanaan perang sehingga dilanda krisis. Titik api politik luar negeri Amerika beralih
menjadi intensi untuk menguasai dunia, baik segi politik, militer, dan ekonomi dengan memanfaatkan
momentum 11 September, ditambah doktrin Presiden George W. Bush yang menghalalkan serangan
atau invasi terhadap lawan potensial Amerika sebelum serangan diluncurkan ke Amerika. Tindakan
preventif ini bergeser menjadi suatu paham penekanan dominasi Amerika ke dalam maupun luar
negeri dengan mengesampingkan isu terorisme yang seharusnya menjadi kajian utama (Record,
2003).
Penjabaran diatas dapat ditarik garis besar bahwa dinamika hubungan internasional tidak
terhenti walaupun tatanan negara moden telah terbentuk pasca Westphalia. Kebijakan politik negara
berimplikasi pada sistem internasional, baik interaksi yang berwujud peperangan, aliansi, maupun
kerjasama, merupakan fenomena yang mewarnai perkembangan hubungan internasional memasuki
abad ke-20. Fenomena tersebut bukan hanya menyangkut kajian politik, melainkan ekonomi, hak
asasi manusia (HAM), juga radikalisme, seperti terorisme. Fokus hubungan internasional mengalami
perubahan waktu ke waktu sejalan dengan kepentingan nasional yang berusaha diwujudkan
mengalami dinamika dan perubahan. Penulis berpandangan bahwa suatu kebijakan politik
internasional seharusnya diimbangi dengan konsistensi untuk menjalankan, bukan menujukkan
kelemahan legitimasi dengan merubah arah dan fokus tujuan kebijakan yang justru menciptakan
instabilitas
1
.