You are on page 1of 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

MENENTUKAN ED50 DIAZEPAM PADA TIKUS

Anggota :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Aditia Rizka Rahadi (201410330311087)


Aulia Devina (201410330311115)
Intan Permata B. (201410330311075)
Ronggo Santoso (201410330311108)
Zakiyatul Miskiyah (201410330311105)
Sri Setya Wahyu Ningrum (201410330311147)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
memberikan izin dan kekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan praktikum Farmakologi Dinamik tepat pada waktunya.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dosen pembimbing, dr. Fathiyah Safitri, M.Kes, yang telah memberikan


ilmu mengenai Fakmako Dinamik kepada penulis
2. Orang tua penulis yang selaku mendukung baik materiil maupun
immateriil
3. Rekan-rekan penulis yang selalu memberi semangat kepada penulis dalam
penyelesaian makalah ini.
4. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu per satu yang turut
membantu kelancaran dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan


kelemahannya, baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan laporan ini.

Akhirnya, penulis mengharapkan semoga laporan ini dapat memberikan


manfaat baik bagi penulis sendiri, pembaca, maupun untuk penelitian selanjutnya.

Malang, 19 Desember 2014

Daftar Pustaka
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
Daftar Pustaka ....................................................................................................... ii
BAB 1 ..................................................................................................................... 1
BAB 2 ..................................................................................................................... 4
BAB 3 ..................................................................................................................... 5
BAB 4 ................................................................................................................... 10
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 11

ii

BAB 1
1. Pendahuluan
Diazepam merupakan obat golongan Benzodizepine. Golongan obat ini
bekerja padasystem saraf pusat dengan efek utama : sedasi, hypnosis,
pengurangan

terhadap

rangsanganemosi/ansietas,

relaksasi

otot

dan

antikonvulasi. Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang


disertai nistagmus dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga
tidak menimbulkan potensiasi terhadap efek penghambat neuromuskuler
danefek analgesic obat narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan
sedasi basal padaanastesi regional, endoskopi dan prosedur dental, juga untuk
induksi anastesia terutama pada penyakit kardiovaskuler.Benzodiazepine
tidak mampu menghasilkan tingkat depresi saraf sekuat golongan barbiturate
atau anastesi umum. Peningkatan dosis benzodiazepine menyebabkan depresi
SSP yang meningkat dari sedasi ke hypnosis, dan dari hypnosis ke stupor.
Keadaan ini seringdinyatakan sebagai efek anastesia, tetapi obat golongan ini
tidak benar-benar memperlihatkanefek anastesi umum yang spesifik.
Namun pada dosis pre-anastetik, benzodiazepinemenimbulkan amnesia
anterograd terhadap kejadian yang berlangsung setelah pemberianobat. Profil
farmakologi benzodiazepine sangat berbeda pada spesies yang berbeda.
Padaspesies tertentu, hewAn coba dapat meningkatkan kewaspadaannya
sebelum timbul depresiSSP. Walaupun terlihat adanya efek analgetik
benzodiazepine pada hewan coba, padamanusia anya terjadi analgesi selintas
setelah pemberian diazepam. Belum pernah dilaporkanadanya efek analgetik
derivate benzodiazepine lain. Benzodiazepine tidak memperlihatkanefek
analgesia dan efek hiperalgesia.Salah satu obat golongan benzodiazepine
adalah diazepam (obat penenang),digunakan sebagai anksiolitik agen
antipanik,

sedative,

penatalaksanaan

relaxan

gejala-gejala

otot

rangka,
akibat

antikonvulsan,dan
penghentian

dalam

pemakaian

alcohol.Benzodiazepine yang digunakan sebagai anastetik ialah diazepam,


iorazepam, danmidazolam. Golongan obat ini bekerja pada system saraf pusat
dengan efek utama: sedasi,hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan

emosi/ansietas, relaksasi otot, dan antikonvulasi.Jadi dalam praktikum kali ini


ditentukan dosis berapa yang memberikan efek tidur pada 50%individu atau
separuh dari jumlah individu yang diamati memberi respon tidur. Dengan
menentukan ED 50 dari diazepam, maka kita dapat mengetahui dosis terapi
yang efektif daridiazepam untuk menimbulkan efek tidur. Bermanfaat juga
untuk pengobatan kecanduan,susah tidur, gangguan pernapasan, dan kejang
otot.
Diazepam juga digunakan untuk perawatan peradangan, gemetaran,
dan halusinasi sebagai hasil dari kerja alcohol. ED 50 ( Effective Dose 50 )
adalah dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50%individu. Pemberian
fenobarbital

dan

diazepam

secara

intraperitoneal

digunakan

untuk menentukan ED 50 yaitu dosis yang memberikan efek tidur pada 50%
individu atau separuhdari jumlah individu yang diamati memberi respon
tidur. Dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50% individu disebut dosis
terapi median atau dosis efektif median (ED50). Dosisltal median (TD50)
ialah dosis yang menimbulkan kematian pada 50% individu, sedangkanTD50
ialah dosis toksik 50%
Farmakodinamik
Pengikatan GABA (asam gama aminobutirat) ke reseptornya pada
membrane sel akanmembuka saluran klorida, meningkatkan efek konduksi
klorida. Aliran ion klorida yangmasuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah
menurunkan potensi postsinaptik dari ambangletup dan meniadakan
pembentukan kerja potensial. Benzodiazepine terikat pada sisi spesifik dan
berafinitas tinggi dari membran sel yang terpisah tetapi dekat reseptor GABA.
Reseptor benzodiazepine terdapat hany pada SSP dan lokasinya sejajar
dengan neuron GABA.Pengikatan benzodiazepine memacu afinitas resptor
GABA untuk neurotransmitter yang bersangkutan sehingga sluran klorida
yang berdekatan lebih sering terbuka. Keadaan tersebutakan memacu
hiperpolarisasi dan menghambat letupan neuron (catatan: benzodiazepine dan
GABA secara bersama-sama akan meningkatkan afinitas terhadap sisi
ikatannya tanpa perubahan jumlah total sisi tersebut).

Lama pemberian
Obat diazepam ini tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang
panjang, karenadapat berakibat buruk bagi tubuh penderita. Diazepam segera
didistribusi ke otak, tetapiefeknya baru tampak setelah beberapa menit. Obat
ini menyebabkan tidur dan penurunankesadaran disertai nistagmus dan bicara
lambat, tetapi tidak berefek analgesic, juga tidak menimbulkan potensiasi
terhadap efek penghambat neuromuscular dan efek analgesic obatnarkotik.
Diazepam digunakan untuk menimbulkan sedasi basal pada anastesia
regional,endoskopi, dan prosedur dental, juga untuk induksi anastesia
terutama pada penderita dengan penyakit kardiovaskuler. Dibandingkan
dengan ultra short acting barbiturate, efek anastesiadiazepam kurang
memuaskan karena mula kerjanya lambat dan masa pemulihannya
lama.Kadarnya segera turun karena adanya redistribusi, tetapi sedasi sering
muncul lagi setelah 6-8 jam akibat adanya penyerapan ulang diazepam yang
dibuang melalui empedu. Karena itudiazepam jangka lama tidak memerlukan
koreksi dosis

BAB 2
1. Tujuan Praktikum
1. Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian diazepam
secara intraperitoneal
2. Menentukan ED 50 ( dosis yang memberikan efek tidur ) Diazepam
2. Alat & Bahan
1. Kapas, Kain, Spuit, Kasa
2.Kandang, Tikus 3 ekor
3. Alkohol
4. Diazepam ( dosis 1mg/kgBB, 2.5mg/kgBB, 5mg/kgBB )
5. Klem
3. Prosedur Kerja
1. Bersihkan permukann abdomen tikus dengan kapas alcohol
2.Suntikan pada masing masing tikus : diazepam dengan dosis dosis
1mg/kgBB,2.5mg/kgBB, 5mg/kgBB secara intraperitoneal
3. Amati perubahan perilaku tikus dengan seksama

BAB 3
1. Pembahasan
Respon tidur
2. Dosis
1
2,5
5

+
+

+
+

+
+

+
+

100

%
indikasi
yang
berespon
14 %
43 %
100 %

y = 21.633x - 8.9592
R = 0.9982

90
80

Respon (%)

70
60
50
40
30
20
10
0
0

Dosis (mg)

Persamaan regresi :
y=21,633x-8,9592
R2= 0,9982

ED50 :
50=21,633x-8,9592
58,9592=21,633x
x=2,7 mg

Dari data kelas yang kami peroleh, dengan pemberian dosis 1mg/kgBB
;2,5mg/kgBB dan 5 mg/ kgBB, dari ketiga dosis tersebut dosis 1 mg/kgBB
tidak dapat menimbulkan efek tidur pada tikus,sedangkan pada dosis 2,5 mg
diperoleh 43%. Pada dosis 5mg/kgBB sudah memberikan efek keadaan

tidur,persen yang diperoleh 100%. Sedangkan ED50 didapat ketika dosisnya


mencapai 2,7mg
ED 50 (effective dose 50) adalah dosis yang menimbulkan efek terapi
kepada 50% individu, disebut dosis terapi median atau dosis efektif median.
Dilakukan pemberian Diazepam (jenis Benzodiazepin) secara intraperitoneal
untuk menentukan ED50 yang memberi efek tidur terhadap 50% dari individu
atau bisa dibilang setengah dari populasi yang diamati. Benzodiazepin
meningkatkan kerja GABA di SSP, Diazepam bekerja di semua sinaps GABA A
tapi kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagian dimediasi di medulla
spinalis. Karena itu diazepam dapat digunakan pada spasme otot yang asalnya dari
mana saja,termasuk trauma otot lokal. Tetapi, obat ini menyebabkan sedasi pada
dosis yang diperlukan untuk mengurangi tonus otot.
Dosis dimulai dengan 4mg/hari yang dapat ditingkatkan bertahap hingga
maksimum 60 mg/hari.Benzodiazepin lain yang sering dipakai sebagai pelemas
otot adalah Midazolan.Pada dosis biasa obat Benzodiazepin tidak menambah
depresi napas akibat opioid. Selain menyebabkan tidur,Benzodiazepin juga
menimbulkan amnesia retrograde dan dapat mengurangi rasa cemas. Umumnya
obat jenis Benzodiazepin diberikan per oral karena absorbsinya baik.Namun,
Diazepam tidak larut dalam air sehingga tidak diberikan secara IV karena dapat
menimbulkan iritasi vena. Tetapi dapat diberikan secara IM dalam pelarut
propen-glikol.
Dengan dosis induksi anastesia,kelompok obat ini menyebabkan
tidur,mengurangi cemas, dan menimbulkan amnesia anterograd, tetapi tidak
berefek analgesik. Penggunaan Benzodiazepin menyebabkan pemulihan lebih
lama, tetapi amnesia anterograd yang ditimbulkannya bermanfaat mengurang
kecemasan pasca bedah.
Diazepam dengan pemberian IV segera di distribusi ke otak, tetapi efeknya
baru tampak setelah beberapa menit, kadarnya segera menurun karena ada
redistribusi, tetapi sedasi sering muncul lagi setelah 6-8 jam akibat adanya
penyerapan ulang diazepam yang dibuang melalui empedu. Masa paruh Diazepam
memanjang seiring dengan meningkatnya usia , kira-kira 20 jam pada usia 20
tahun, dan kira-kira 90 jam pada usia 80 tahun. Klirens plasma hamper konstan
20-32 mL/menit, karena itu pemberian diazepam jangka lama tidak memerlukan
koreksi dosis.
Sistem kardiovaskular relatif stabil pada penggunaan Benzodiazepin
karena itu obat ini banyak dipakai untuk pasien gangguan jantung. Tetapi depresi
kardiovaskular dapat terjadi dalam kombinasi dengan opioid. Begitu juga dengan

pernapasan, dapat terjadi depresi bila digunakan bersama opioid sebagai medikasi
pra-anestetik.
Dosis Diazepam untuk induksi ialah 0,1-0,5 mg/kgBB. Pada orang sehat,
dosis Diazepam 0,2 mg/kgBB sebagai medikasi pranestetik yang diberikan
bersama narkotik analgesik sudah menyebabkan tidur. Pada pasien dengan resiko
tinggi (poor risk) hanya dibutuhkan 0,1-0,2 mg/kgBB. Untuk menimbulkan
sedasi, penambahan 2,5 mg Diazepam tiap 30 detik diberikan sampai pasien tidur
ringan atau terjadi nistagmus,ptosis, atau gangguan bicara. Umumnya dibutuhkan
5-30 mg untuk sedasi ini.
Pada

praktikum

ini

dilakukan

beberapa

test

untuk

mengetahui

efek

diazepam,diantaranya test postur tubuh, aktivitas motorik, ataksia, righting


refleks, tes kasa, analgesia, ptosis yang masing-masing perlakuan memiliki tujuan.
a. Test Postur Tubuh
Test postur tubuh ini bertujuan untuk melihat tingkat kesadaran dari
hewancoba (tikus). Pada tikus pertama dosis yang diberikan adalah
1mg/kg BB yangdimulai dari menit ke-5 sampai menit ke-60 tidak
menunjukkan reaksi mengantuk danlain sebagainya, dalam arti tikus
masih terjaga, sedangkan pada tikus kedua dosisyang diberikan adalah
2,5mg/kg BB yang dimulai dari menit ke-5 sampai menit ke60menunjukkan bahwa adanya perubahan dari terjaga hingga pada posisi
tidur dan padatikus ketiga dosisi yang diberikan yaitu sebanyak 5mg/kg
BB yang dimulai dari menitke-5 sampai menit ke-60 hanya menunjukkan
bahwa tikus dalam keadaan mengantuk,dan berada pada posisi tidur.
b. Test Aktivitas Motorik
Test aktivitas motorik ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan
hewancoba dalam merespon suatu rangsangan. Pada tikus pertama, dari
menit ke-5 sampaimenit ke-60 tidak menunjukkan adanya perubahan
motorik, itu artinya tikus ketikadipegang masih memperlihatkan gerak
spontan. Pada tikus kedua, tidak menunjukkan adanya perubahan
motorik, itu artinya tikus ketika dipegang masih memperlihatkangerak
spontan, sedangkan pada tikus ketiga, sama sekali tidak ada gerak
spontan saatdipegang dari menit pertama hingga menit ke-60.

c. Ataksia
Test ketiga ini bertujuan untuk melihat gerakan berjalan yang
inkoordinasi.Pada tikus pertama dan tikus kedua, tidak terlihat gerak
inkoordinasi tikus dari awal pemberian hingga menit ke-60, sedangkan
pada tikus ketiga, gerak inkoordinasi hanyaterlihat kadang-kadang dari
awal pemberian sedangakan pada menit ke 10 sudah ridak dapat berjalan
lurus.
d. Righting Refleks
Righting refleks ini bertujuan untuk melihat gerak refleks tubuh dari
tikusapabila dimiringkan baik secara telentang maupun miring. Pada
tikus pertama, tikuskedua, dari awal pemberian diazepam hingga menit
ke-60 masing-masing tikus tidak memperlihatkan refleks apapun, artinya
refleks dari tikus ini masih dalam keadaannormal. Sedangkan pada tikus
ke tiga memberikan efek diam pada satu posisi miring.
e. Test Kasa
Test ini bertujuan untuk melihat efek kantuk dari tikus akibat pemberian
obatyang menyebabkan tubuh tikus itu sendiri tidak seimbang bila kasa
dibalikkan. Padatikus pertama, dari awal pemberian obat hingga menit
ke-60 tikus tidak jatuh saat kasadibalik, artinya bahwa tikus pertama
masih dalam keadaan normal. Pada tikus kedua,tikus baru akan
memperlihatkan reaksi jatuh saat menit ke-60, sedangkan pada
tikusketiga, tikus sudah jatuh dari menit pertama hingga menit ke-60, hal
ini menunjukkan bahwa obat yang diberikan pada tikus sudah bereaksi.
f. Analgesia
Test ini bertujuan untuk melihat efek analgesik yang ditimbulkan
dari pemberian diazepam ini. Pada tikus pertama dan tikus kedua, masih
memperlihatkanrespon yang aktif dari menit kepertama hingga menit ke60, sedangkan pada tikusketiga, dari awal pemberian hingga menit ke-60
tikus sudah tidak memperlihatkanrespon nyeri pada kakinya saat dijepit.
Hal ini memnuktikan bahwa obat yangduiberikan pada tikus ketiga sudah
mulai bereaksi.
g. Ptosis

Test ini bertujuan untuk melihat palpebra tikus yang mulai bereaksi.
Padatikus pertama dan ke dua, palpebra masih dalam keadaan normal
dari awal pemberianhingga menit ke-60, sedangkan pada tikus ketiga,
palpebra mulai terlihat saat menitke-15 hinngga menit ke60.Perubahan perilaku pada hewan coba seperti diatas dapat terjai
karenadiazepam mengakibatkan inhibisi aktivitas sistem retikuler
mesensefalik. Sistem retikuler ini bertanggung jawab sebagai penggalak
kesadaran. Jika ada inhibisi padasistem ini, maka akan timbul efek
penurunan kesadaran yang dapat dilihat darikeadaan yang awalnya
compos mentis menjadi somnolen. Keadaan somnolenditunjukkan
dengan

ptosis,

menurunnya

aktivitas

motorik,

menurunnya

kewaspadaan, perubahan postur tubuh, dan berkurangnya respon saat


dirangsang nyeri.Dari ketiga hewan coba, yang memeprlihatkan efek
tidur hanya tikus ketiga,sedangkan pada tikus kdua yang menunjukkan
efek sedasi, dan pada tikus pertamahanya mengalami penurunan aktivitas
motor

karena

diazepam

dapat

menghambat perkembangan

dan

penyebaran aktifitas epileptic di dalam system saraf pusat. Selainitu juga


menunjukkan efek hipnosis yang ditandai dengan penurunan reflexreflexdan ptosis yaitu menutupnya palpebra. Efek utama dari golongan
benzodiazepineadalah

sedasi,

hypnosis,

pengurangan

terhadap

rangsangan emosi atau ansieta,relaksasi otot dan antikonvulsi.

BAB 4
KESIMPULAN
Diazepam yang digunakan pada praktikum ini pada dasarnya akan menyebabkan
efek sedasi pada subjek, namun untuk mendapatkan efek tersebut terlebih dahulu
harus disesuaikan dosisnya dengan subjek. Di dalam praktikum akhirnya didapat
dosis yang bisa mencapai efek terapi pada 50% populasi adalah pada saat dosis
2,7mg.

10

Daftar Pustaka
Tim Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta :
Badan Penerbit FKUI.
Katzung, Bertram G. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. 2010
Goodman, Gilman. Dasar Farmakologi Terapi. 2012

11