You are on page 1of 6

KARYA TULIS ILMIAH

INDONESIA MANDIRI
Pembuatan Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Solusi
dalam Mengurangi Ketergantungan Terhadap Bahan Bakar Fosil

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi

Oleh :
Nyayu Aisyah
0611 4041 1509

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
Tahun Ajaran 2013/2014

I.

Latar Belakang

Ketergantungan Indonesia akan energi fosil semakin meningkat dari tahun


ketahun. Hal ini dibuktikan pada tahun 2003, bangsa Indonesia mengimpor bahan
bakar minyak sebesar 247 juta barel. Hingga saat ini bangsa Indonesia pun masih
mengimpor bahan bakar minyak sebesar 487 ribu barel BBM per hari 1). Jika hal
ini terus menerus berlangsung maka tak heran jika nantinya bangsa kita akan
menjadi net importir minyak bumi. Padahal dulunya kita pernah tergabung dalam
anggota OPEC yang mana merupakan produsen minyak mentah, namun sekarang
keadaannya berbalik total. Bangsa ini tidak dapat lagi dikatakan mandiri dari segi
energi.
Sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Hutan, gunung, sawah dan
lautan adalah potensi yang dimiliki Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru
tanah air. Indonesia juga menyandang beberapa nama yang diakui oleh dunia
seperti jambrut khatulistiwa , negara agraris dan negara maritim. Namun
sayangnya tidak banyak hal yang dapat dilakukan Indonesia, mengingat sumber
daya manusia dan teknologi yang tidak memadai sehingga kita akan hanya terus
bergantung pada bahan bakar fosil yang mana selain harganya mahal juga dapat
mencemari lingkungan.
Untuk itu, baru-baru ini pemerintah mengupayakan pengembangan energi
alternatif untuk mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar minyak. Energi
alternatif tersebut salah satunya adalah energi biomassa. Sumber energi biomassa
yang tengah dikembangkan saat ini adalah kelapa sawit. Minyak dari kelapa sawit
atau CPO dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan biodiesel. Banyak
penelitian mengenai pembuatan biodiesel dari minyak kelapa sawit, akan tetapi
seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan minyak kelapa sawit tidaklah
efektif karena akan mengganggu stabilitas pangan yang ada di Indonesia. Untuk
itu minyak kelapa sawit lebih diarahkan untuk menjadi bahan pangan saja
daripada menjadi bahan baku biodiesel. Oleh karena itu limbah dari buangan
kelapa sawit atau yang dikenal sebagai tandan kosong kelapa sawit inilah yang
dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan bahan bakar terbarukan yaitu
bioetanol.

II.

Permasalahan

Krisis energi yang dihadapi Indonesia bahkan dunia saat ini telah menuntut
setiap negara untuk mengembangkan energi alternatif yang terdapat pada wilayah
masing-masing. Indonesia dengan banyak potensi sumber energi terbarukan
seperti biomassa sangatlah beruntung. Akan tetapi dengan sumber daya manusia
dan teknologi yang kurang memadai Indonesia justru menjadi lemah dari segi
energi. Untuk itu pada karya tulis ini akan dibahas mengenai potensi kelapa sawit
selain sebagai bahan baku pangan yaitu sebagai bahan baku pembuatan bioetanol
yang merupakan bahan bakar terbarukan dari tandan kosong kelapa sawit.
III.

Pembahasan

3.1 Potensi Kelapa Sawit


Saat ini Indonesia merupakan penghasil minyak sawit (CPO) nomor dua
terbesar di dunia setelah Malaysia. Persentase produksi Indonesia saat ini adalah
36% dari total produksi dunia, sementara Malaysia menguasai 47%. Meskipun
demikian, Indonesia memeiliki peluang pengembangan CPO lebih besar karena
ketersediaan lahan yang masih tinggi.
Tabel 1. Sebaran Produksi Minyak Sawit di Pulau Sumatera
Wilayah

Luas Area Kebun Sawit (Ha)

Produksi CPO (ton)

Aceh (NAD)

239.828

282.170

Sumatera Utara

769.452

2.494.770

Sumatera Barat

279.982

695.593

1.326.023

3.337.151

Jambi

320.892

674.019

Sumatera Selatan

436.662

1.022.899

Bangka Belitung

108.629

249.556

Bengkulu

80.040

149.550

Lampung

151.370

171.470

3.7.12.878

9.122.178

Riau

Total

Sehingga dengan produksi CPO yang besar, tentunya bangsa kita dapat
memenuhi kebutuhan pangan (minyak goreng) untuk seluruh wilayah Indonesia
akan tetapi faktanya masih saja bangsa kita mengimpor minyak goreng dari luar
negeri. Hal ini disebabkan karena kita tidak memiliki teknologi untuk mengolah
minyak sawit tersebut menjadi minyak goreng dengan kualitas yang bagus.
Semestinya bangsa Indonesia menciptakanmesin pengolah minyak goreng
tersebut. Agar kedepannya kita bisa benar-benar mandiri untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.
Disisi lain, tandan kosong kelapa sawit yang selama ini hanya menjadi limbah
saja dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol. Limbah padat dari pengolahan kelapa
sawit, sekitar 30-40 persennya berupa tandan kosong kelapa sawit.
3.2 Potensi Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Bioetanol
Dalam Perpres No. 5 tahun 2006, pemerintah Indonesia mendorong
konsumsi biofuel sebesar 5% dari konsumsi minyak Indonesia atau 1,33% dari
total energy mix tahun 2025 (Tatang et al, 2005). Sesuai dengan rencana ini,
dibutuhkan pengingkatan dalam produksi biofuel di Indonesia dari kondisi saat ini
yang masih mencapai 0,1% dari konsumsi energy mix Indonesia. Salah satu jenis
biofuel yang teah dikembangkan adalah bioetanol.
Bioetanol merupakan produk fermentasi yang dapat dibuat dari substrat
yang mengandung karbohidrat (gula, pati, atau selulosa). Satu ton tandan buah
kelapa sawit mengandung 230 250 kg tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Komponen utama tandan kosong kelapa sawit yaitu selulosa (45,95%), lignin
(16,46%) dan hemiselulosa (22,84%) (Sun dkk, 1999) yang tergabung menjadi
lignoselulosa. Selulosa yang dimiliki tandan kosong kelapa sawit inilah yang
menyebabkan TKKS bisa diolah menjadi bioetanol.

3.3 Pembuatan Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit


Bioetanol dapat dibuat dengan tiga cara yaitu Indirect Hydration, Direct
Hydration dan Fermentasi sebagaimana yang terlihat dari tabel dibawah ini.
Namun dari ketiga cara tersebut, yang paling baik untuk dikembangkan adalah
produksi bioetanol dengan cara fermentasi. Karena kondisi operasinya aman yaitu
pada suhu 32oC dan tekanan 1 atm. Proses pembuatan bioetanol dari limbah
tandan kosong kelapa sawit dengan proses fermentasi dilakukan melalui empat
tahap yaitu : Prehidrolisa, hidrolisa, fermentasi dan distilasi serta dehidrasi.
Dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Dari proses pembuatan bioetanol ini akan dihasilkan prosuk samping


berupa limbah cair (slurry) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Dan
juga berupa lignin yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat perekat. Serta
gas CO2 yang dapat digunakan dalam pembuatan dry ice.

IV.

Kesimpulan

Potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia sangat melimpah. Salah satu
potensi terbesar Indonesia yang dikenal dunia adalah kelapa sawit. Indonesia
merupakan produsen kelapa sawit kedua di dunia. Sehingga snagat disayangkan
apabila potensi ini tidak dimanfaatkan secara maksimal. Dengan maraknya isu
krisis energi maka kelapa sawit dapat menjadi salah satu solusi terbaik. Dengan
tetap menggunakan minyak kelapa sawit (CPO) sebagai bahan pangan, Indonesia
dapat membuat pabrik bioetanol dari limbah padat yang dihasilkan dari
pengolahan kelapa sawit yaitu, tandan kosong kelapa sawit menjadi produk bahan
bakar bioetanol melalui proses fermentasi, sehingga dapat mengurangi
ketergantungan akan bahan bakar fosil dan mendorong Indonesia menjadi negara
mandiri.