Ileus Obstruksi Parsial ec

Susp.Tumor Rekti

Preseptor: Dr. M.Iqbal Rivai,Sp.B-KBD
Oleh:
Flora Oktavia (0910312030)

Tinjauan Pustaka

• Definisi
• Ileus merupakan gangguan pasase usus
yang termasuk dalam kegawatdaruratan
abdomen.
• Ileus dibagi menjadi 2 yaitu ileus obstruktif
dan ileus paralitik.

• Ileus Obstruktif  gangguan pasase usus
yang disebabkan oleh sumbatan mekanik
(Thomson , 2005).
• Ileus paralitik  keadaan dimana usus
gagal/ tidak mampu melakukan kontraksi
peristaltik untuk menyalurkan isinya
(kegagalan neurogenik).

ETIOLOGI ileus obstruktif .

2005) Obturasi intraluminal Lesi Ekstrinsik Lesi Intrinsik Benda Asing Adhesi Kongenital Iatrogenik Benda Asing - atresia. 2005) (Thomson.Beberapa penyebab obstruksi mekanik dari intestinal (Whang et al. stenosis Tertelan Hernia - divertikulum meckel Batu empedu - Eksternal Cacing - Internal ntususepsi Massa anomali organ atau pembuluh - divertikulitis darah - drug induce - organomegali - infeksi - akumulasi cairan - coli ulcer - neoplasma - Pengaruh cairan Inflamasi Post operatif Neoplasma Barium - tumor jinak Feses - karsinoma Mekonium - karsinoid - limpoma - sarcoma   Volvulus Trauma - intramural - hematom ..

.

Pembedahan perut (laparatomy) 3. Serum elektrolit abnormalitas  Hipokalemia. Hipermagensemia 4.Etiologi Ileus Paralitik 1. Trauma abdomen 2. inflamasi atau iritasi a) Intrathorak  Lower lobus tulang rusuk patah  Infark miokard . Infeksi. Hipomagnesemia. Hiponatremia.

b. Rongga perut • • • • • • Radang usus buntu Divertikulitis Nefrolisiasis Kolesistitis Pankreatitis Perforasi ulkus duodenum . Intrapelvic (misalnya penyakit radang panggul ) c.

trombosis iskemia e. Iskemia usus Mesenterika emboli. Cedera tulang  Patah tulang rusuk  Vertebral Retak (misalnya kompresi lumbalis Retak ) f. Pengobatan  Narkotika  Fenotiazin  Diltiazem atau verapamil  Clozapine  Obat Anticholinergic .d.

Patofisiologi ileus obstruktif • • • • Stranggulasi Obstruksi gelung tertutup Obstruksi parsial intestinal Obstruksi colon .

.

Patofisiologi ileus paralitik • • • • Neurogenik Hormonal Inflamasi farmakologi .

Klasifikasi ileus obstruktif • Ileus obstruktif • Lokasi • Letak tinggi : duodenum-jejunum • Letak tengah : ileum terminal • Letak rendah : kolon. sigmoid rektum • Stadium • Parsial • Simple/komplit • Strangulasi • Ileus neurogenik • Adinamik : ileus paralitik • dinamik : ileus spasmik • Ileus vaskuler : intestinal iskemik .

Manifestasi Klinis ileus Obstruktif Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif • • • • Nyeri abdomen Muntah Distensi Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi) Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada : • Lokasi obstruksi • Lamanya obstruksi • Penyebabnya • Ada atau tidak iskemia usus .

Manifestasi Klinis ileus Paralitik • • • • • Perut kembung tidak disertai kolik abdomen Anorexia Mual Obstipasi Pada auskultasi suara usus (peristaltik) melemah atau suara usus menghilang .

Diagnosis Ileus Obstruktif • Anamnesis : sesuai dengan manifestasi klinis • Pemeriksaan fisik : • Inspeksi : Distensi Hernia ?? Darm countour (gambaran usus) ?? Darm steifung (pergerakan usus) ?? • Perkusi dan palpasi Tympani didaerah tidak tersumbat Redup pada daerah tersumbat Bisa didapatkan defance musculair .

elektrolit. BUN.• Auskultasi Bisa terdengar suara Metalic sound Borborigmy • Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan darah (DL. Kreatinin. amilase)  Pemeriksaan Radiologis  Foto abdomen 3 posisi  USG  Ct-Scan  MRI .

Diagnosis Ileus Paralitik • Anamnesa : sesuai dengan manifestasi klinis • Pemeriksaan fisik : • Inspeksi : Distensi Hernia ?? Massa abdomen?? • Perkusi dan palpasi Hipertimpani Bisa didapatkan defance musculair .

elektrolit.lateral AP)  USG  Ct-Scan  MRI . BUN. Kreatinin)  Pemeriksaan Radiologis  Foto abdomen 3 posisi (supine. ½ duduk.• Auskultasi Bising usus lemah atau tidak ada (silent abdomen) • Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan darah (DL.

2009) • Ileus paralitik • Appensicitis akut • Kolesistitis. koleliathiasis. dan kolik bilier • Konstipasi • Dysmenorhoe.Diagnosis Banding Diagnosis banding dari ileus obstruktif. yaitu (Nobie. endometriosis dan torsio ovarium • Gastroenteritis akut dan inflammatory bowel disease • Pancreatitis akut .

PENATALAKSANAAN ILEUS OBSTRUKTIF • Pemberian cairan isotonis  untuk dehidrasi • Pemasangan foley kateter (pasang DC)  monitor urin output • Antibiotik spektrum luas  profilaksis infeksi • Dekompresi  pemasangan NGT (Evers. 2004) .

invaginasi strangulata. misalnya pada Ca stadium lanjut. • Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus  carcinomacolon. dan sebagainya.• Operasi • Koreksi sederhana (simple correction).  • Tindakan operatif by-pass • Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi. .

• Penderita dipuasakan • Kontrol status airway. • Intravenousfluidsandelectrolyte • Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. breathing and circulation.ILEUS PARALITIK • Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif Konservatif • Penderita dirawat di rumah sakit. • Dekompresi dengan nasogastrictube. .

neostigmin • Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagoni Operatif • Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis.Farmakologis • Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob. . • Analgesik apabila nyeri. • Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus. • Prokinetik: Metaklopromide. cisapride • Parasimpatis stimulasi: bethanecol.

kolostomi. • o Pintas usus : ileostomi.• Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi. • o Reseksi usus dengan anastomosis • o Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi .

.

DEFINISI DAN ANATOMI Ca Rekti adalah kanker yang terjadi pada rektum. Rektum terletak di anterior sakrum and coccyx panjangnya kira kira 15 cm. Di setengah bagian bawah rektum keseluruhannya adalah ektraperitoneral.CA RECTI I. Rectosigmoid junction terletak pada bagian akhir mesocolon sigmoid. . Bagian sepertiga atasnya hampir seluruhnya dibungkus oleh peritoneum.

Anatomi .

• Usus besar mengekskresi zat sisa dalam bentuk feses. . • Feses masuk ke dalam rectum  terjadi peregangan rectum  gelombang peristaltik pada colon descendens dan colon sigmoid mendorong feses ke arah anus. sfingter ani internus dihambat dan sfingter ani internus melemas  defekasi. • Fungsi utama dari rectum dan canalis anal ialah untuk mengeluarkan massa feses (defekasi).Fisiologis • Usus besar atau colon mengabsorbsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa  mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat.

• Epidemiologi • Di USA → Ca kolorektal merupakan kanker gastrointestinal paling sering terjadi • Ca kolerektal → penyebab kematian nomor dua di negara berkembang • Usia → 90% >50 tahun • Laki-Laki : Perempuan → 8 : 7 .

Polip 2.ETIOLOGI 1. Diet 5. Usia . Idiopathic Inflammatory Bowel Disease • Ulseratif Kolitis • Penyakit Crohn’s 3. Gaya Hidup 6. Faktor Genetik • • • • Riwayat Keluarga Herediter Kanker Kolorektal FAP (Familial Adenomatous Polyposis) HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer) 4.

. mesenterium dan paraaorta 2. buli-buli. menjelaskan patofisiologi terjadinya karsinoma rektum sebagai berikut : Polip jinak pada kolon atau rektum | menjadi ganas | menyusup serta merusak jaringan normal kolon | meluas ke dalam struktur sekitarnya | bermetastatis dan dapat terlepas dari tumor primer Penyebaran ke bagian tubuh yang lain dengan cara : 1.PATOFISIOLOGI Brunner dan Suddart (2002).      Perkontinuitatum (menembus ke jaringan sekitar atau organ sekitarnya) misalnya : ureter. atau prostat dan dapat mengakibatkan peritonitis karsinomatosa.      Hematogen terutama ke hati 3.      Limfogen ke kelenjar parailiaka. vagina. uterus.

GEJALA KLINIS Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal antara lain ialah : • Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses. baik itu darah segar maupun yang berwarna hitam. rasa penuh pada perut atau nyeri • Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya • Mual dan muntah. • Diare. • Rasa letih dan lesu • Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri pada daerah gluteus. kembung. . konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat BAB • Feses yang lebih kecil dari biasanya • Keluhan tidak nyama pada perut seperti sering flatus.

diantaranya ialah : • Pemeriksaan darah lengkap. Diagnosis Ada beberapa tes pada daerah rektum dan kolon untuk mendeteksi kanker rektal. pemeriksaan CEA (Carcinoma Embrionik Antigen) dan Uji faecal occult blood test (FOBT) • Digital rectal examination (DRE) .DIAGNOSIS DAN STAGING 1.

Alat colonoscope dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid. polip atau sampel jaringan dapat diambil untuk biopsi.. Alat sigmoidoscope dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid. • Colonoscopy yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan sigmoid apakah terdapat polip kanker atau kelainan lainnya. yaitu Cairan yang mengandung barium dimasukkan melalui rektum kemudian dilakukan seri foto x-rays • Sigmoidoscopy. yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan sigmoid apakah terdapat polip kakner atau kelainan lainnya. polip atau sampel jaringan dapat diambil untuk biopsi. • Biopsi .• Dapat pula dengan Barium Enema.

Staging .2.

tidak ada penebalan pada dinding rectum T2 Penebalan dinding rectum >6 mm. Staging Tabel 1. T3b Penebalan dinding rectum dan invasi ke pelvic atau dinding abdominal T4 Metastasis jauh.2. biasanya ke liver atau adrenal . CT Staging System for Rectal Cancer* Stadium Deskripsi T1 Massa polypoid Intraluminal. tidak ada perluasan ke perirectal T3a Penebalan dinding rectum dan invasi ke otot dan organ yang berdekatan.

Tabel 2. pembesaran kelenjar mesenteric T4 C2 Penyebaran ke organ yang berdekatan Any T. M1 D Metastasis jauh . pembesaran kelenjar mesenteric T3 N1 M0 C2 T3. TNM/Modified Dukes Classification System* Modified Dukes TNM Stadium Deskripsi Stadium T1 N0 M0 A Tumor terbatas pada submucosa T2 N0 M0 B1 Tumor terbatas pada muscularis propria T3 N0 M0 B2 Penyebaran transmural T2 N1 M0 C1 T2.

Pembedahan .PENATALAKSANAAN 1.

tumor dapat dihilangkan tanpa tanpa melakukan pembedahan lewat abdomen. Jika tumor ditemukan dalam bentuk polip. • Reseksi: jika tumor lebih besar. • .• Tipe pembedahan yang dipakai antara lain : • Eksisi lokal : jika tumor ditemukan pada stadium paling dini. dilakukan reseksi rektum lalu dilakukan anastomosis. operasinya dinamakan polypectomy. Juga dilakukan pengambilan limfonodi disekitan rektum lalu diidentifikasi apakah limfonodi tersebut juga mengandung sel kanker.

2. Radiasi • Sebagai mana telah disebutkan. dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu. . • Peran lain radioterapi adalah sebagai sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat melaui pembedahan. radiasi dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan pembedahan. untuk banyak kasus stadium II dan III lanjut.

• Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi. • Pada penanganan metastasis jauh. Radioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang memiliki tumor lokal yang unresectable . misalnya pada otak. radiasi telah berguna mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut. radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan resiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian sebesar 29%.

Kemoterapi • Adjuvant chemotherapy. (menengani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan).3. . dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol (Stadium II lanjut dan Stadium III).

. levamisole. (5-FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. Agen lainnya. 5-FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Protopkol ini menurunkan angka kekambuhan kira – kira 15% dan menurunkan angka kematian kira – kira sebesar 10%. (meningkatkan sistem imun. dapat menjadi substitusi bagi leucovorin.• Terapi standarnya ialah dengan fluorouracil.

54% • Stadium III .7% .39% • Stadium IV .72% • Stadium II .PROGNOSIS Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut : • Stadium I .

lokasi. stadium tumor. biasanya pada 2 tahu pertama setelah operasi. .PROGNOSIS Lima puluh persen dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa kekambuhan lokal. Faktor – faktor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan ahli bedah. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi pada. dan kemapuan untuk memperoleh batas batas negatif tumor. jauh maupun keduanya. Penyakit kambuh pada 5-30% pasien.

LAPORAN KASUS .

Identitas pasien
• Nama
: Tn. MA
• Jenis kelamin
: Laki-laki
• Usia
: 70 th
• Tempat tinggal
: Sei.Sariak, Pariaman
• Pekerjaan
: Swasta
• Tanggal Masuk RS
: 23 Januari 2015

• Seorang pasien laki-laki, usia 70 tahun, datang ke poli
RSUP Dr. M. Djamil dengan
• ANAMNESIS
• Keluhan utama : Buang air besar sering sejak 3
bulan yang lalu
• Riwayat Penyakit Sekarang:
• Sering buang air besar sejak 3 bulan yang lalu dengan
frekuensi BAB 5-6 kali per hari,namun jumlah sedikitsedikit dengan bentuk tinja kuning kecoklatan seperti
kuah sate padang, terkadang juga disertai darah dan
lendir.

• Pasien merasa walaupun sudah BAB tetapi tetap
merasa banyak isi dalam perut yang sukar keluar
karena seperti ada yang menyumbat, sehingga
tidak puas setiap BAB dan perut terasa sakit.
• Perubahan pola BAB pada pasien diakui telah
terjadi sejak 3 bulan terakhir. Sebelumnya pasien
mengaku BAB hanya sekali sehari setiap harinya
dengan bentuk dan konsistensi biasa, namun
sejak 3 bulan terakhir pola BAB pasien berubah
menjadi 5-6 kali setiap harinya.
• Riwayat BAB berlendir dan berdarah ada sejak 3
bulan yang lalu.
• Nyeri saat BAB disangkal

sebanyak 1 kali. • Mual tidak ada • Demam tidak ada • Pasien mengeluh penurunan berat badan yang cukup drastis dalam setahun ini.• Perut Kembung tidak ada • Buang angin ada • Muntah ada beberapa jam sebelum masuk rumah sakit. sebanyak 3-4 sendok makan. • BAK dalam batas normal . isi muntah apa yang dimakan.

• Riwayat Penyakit Dahulu • Pada pasien sudah pernah dilakukan kolonoskopi sebelumnya • Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya • Riwayat Penyakit Keluarga • Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan seperti ini • Tidak ada anggota keluarga dengan penyakit keganasan • Riwayat kebiasaan Pasien jarang memakan sayur dan buah dan sangat sering makan makanan berlemak .

8 OC .Pemeriksaan Fisik Tanda vital: KU : Sakit sedang Kesadaran : CMC Nadi : 78x/menit TD : 110/70 mmHg Nafas : 20 x/menit Suhu : 36.

Irama teratur. fremitus kiri = kanan. teraba pada RIC V linea midclavicula sinsitra. wheezing (-/-) . sklera tidak ikterik • Thorak : • Jantung : Iktus kordis tidak tampak.Status Generalisata • Status Generalis • Kepala : Normocepal • Mata : Konjungtiva tidak anemis. sonor. nafas vasikuler. rhonki (-/-). bising (-) • Paru : Pergerakan dada simetris.

Hepar dan Lien tidak teraba • Ekstremitas : Akral hangat. nyeri lepas (-). muscle rigidity (-) • Perkusi : Timpani .• Abdomen : Supel. refilling kapiler < 2 detik • Status Lokalis • Regio Abdomen : • Inspeksi : Distensi (-). DS (-) • Auskultasi : Bising usus (+) • Palpasi : Nyeri tekan (+). DC (-).

nyeri. lendir (+). • Sarung tangan : feses (+). permukaan berbenjol-benjol. tanda – tanda radang (-).• Pemeriksaan Rectal Touche • Anus tenang. ampula lapang. massa (+) ukuran 3 cm dari ACL. sfingter ani menjepit. konsistensi padat. sirkuler. darah (-) .

Tumor Recti . susp.000 /mm3 • Hematokrit: 47%   • Diagnosis: Ileus obstruksi parsial ec.Pemeriksaan penunjang: Labor: • Hb: 11.300/mm3 • Trombosit: 376.3gr/dL • Leukosit: 12.

• Pemeriksaan Penunjang • CT .scan .

• Vesica Urinaria : dinding posterior tampak menebal. Tak tampak batu • Kesan : Massa pada rectosigmoid . tampak colostomi disisi kiri • Rectum : tampak massa isodens inhomogen dengan gambaran udara didalamnya. berbatas tak tegas dengan tepi ireguler.• • • • • • • Interpretasi Hepar : dalam batas normal Kandung empedu : dalam batas normal Pankreas : dalam batas normal Lien : dalam batas normal Kedua ginjal : dalam batas normal Tidak tampak pelebaran usus.

Tumor 3 cm dari anal verge sampai 10 cm.• Kolonoskopi • Hasil : Scope masuk 15 cm tidak bisa diteruskan karena lumen yang menyempit oleh masa tumor. Dilakukan biopsi • Kesimpulan : Tumor rektum 1/3 distal • Diagnosis • Tumor rektum 1/3 distal .

ileus obstruksi parsial ec susp.i. tumor recti • Hasil Pemeriksaan PA : belum keluar .• • • • • Rencana Tatalaksana : Kolostomi Pemeriksaan PA Ket: Pada tanggal 11/02/2015 : Telah dilakukan colostomy + biopsi dalam spinal anastesi a.

• • • • Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam Ad functionam : dubia ad bonam Ad sanactionam : dubia ad bonam .

Terima Kasih .

Related Interests