You are on page 1of 15

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmatNya lah
kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Penelitian Geografi Lingkungan
berjudul Penelitian lingkungan biotik, abiotik, dan sosial daerah pantai Watuprapat,
Nguling.
Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan penelitian pelajaran geografi
lingkungan. Laporan ini berisi hasil pengamatan kondisi fisik lingkungan biotik, abiotik
dan sosial yang terdapat di daerah watuprapat, Nguling, serta karakteristik khusus
yang dimiliki leh pantai watuprapat.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada guru pembimbing dan pihak pihak
lain yang membantu dan mendukung dalam kegiatan penelitian .
Kami menyadari bahwa makalah ini memang jauh dari kata sempurna untuk
memberikan sebuah khazanah baru dalam pengetahuan kita. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis mempersilahkan kepada pembaca untuk bersama-sama
mengkoreksi makalah ini agar tercipta laporan yang baik dan sesuai dengan kaidah.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih.

Wasalamualaikum Wr. Wb.

Grati, 15 januari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................1
DAFTAR ISI.............................................................................................................2
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................4
A. Latar Belakang..............................................................................................4
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................5
D. Manfaat Penulisan........................................................................................5
BAB II......................................................................................................................6
METODOLOGI PENELITIAN.................................................................................6
A. Setting Penelitian........................................................................................6
B. Subjek Penelitian........................................................................................6
C. Metode Pengumpulan Data........................................................................6
BAB III.....................................................................................................................7
PEMBAHASAN.......................................................................................................7
A.
B.
C.
D.

Lingkungan Biotik........................................................................................7
Lingkungan Abiotik....................................................................................10
Fenomena Alam........................................................................................12
Kondisi Lingkungan Sosial........................................................................13

BAB IV...................................................................................................................15
A. KESIMPULAN..................................................................................................15
B. SARAN............................................................................................................15

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Bivalvia Edible
Gambar 2 Cerithideacingulata (Potamididae)
Gambar 3 Jejak Burung Camar
Gambar 4 Belangkas
Gambar 5 Herbivora
Gambar 6 Mangrove
Gambar 7 Kaktus
Gambar 8 Rerumputan
Gambar 9 Singkong
Gambar 10 Air Laut
Gambar 11 Tanah
Gambar 12 Zota Lithoral
Gambar 13 Pantai saat surut
Gambar 14 Ocean Ride

BAB I
3

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, dengan
jumlah pulau mencapai kurang lebih 17.500 buah dan dikenal sebagai salah satu
negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar. Sebagai negara kepulauan,
tidaklah mengherankan jika lebih kurang dua pertiga dari teritorial negara kesatuan
yang berbentuk republik ini merupakan perairan, dengan luas lebih kurang 5,8 juta
km2. Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki garis
pantai terpanjang di dunia setelah Kanada yang mencapai lebih kurang 81.000 km.
Penduduk Indonesia memiliki jumlah penduduk yang terbesar kelima di dunia,
yaitu lebih kurang 220 juta jiwa. Dan, lebih kurang 60 persen diantaranya hidup dan
bermukim di sekitar wilayah pesisir. Sebagian besar diantaranya menggantungkan
hidup kepada keberadaan sumberdaya alam pesisir dan lautan. Sehingga tidaklah
mengherankan jika sebagian besar kegiatan dan aktivitas sehari-harinya selalu
berkaitan dengan keberadaan sumberdaya di sekitarnya.
Secara geografis, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar
wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut, selat dan teluk; sedangkan 38 % lainnya
adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk
sungai, danau, rawa, dan waduk.
Demikian luasnya wiliyah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat
yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan
hidupnya. Terutama di wilayah Pasuruan, dimana salah satu komoditas atau sumber
daya alam yang dihasilkan sebagian besar berasal dari laut . Letak geografis daerah
pasuruan khususnya sepanjang wilayah timur seperti lekok (wates), nguling
(watuprapat) yang dekat dengan lautan menjadikan penelitian mengenai kondisi
lingkungan biotik dn abiotik serta sosial sangat penting untuk diteliti dan diamati lebih
lanjut.
Ketergantungan masyarakat watuprapat terhadap sektor kelautan ini
memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup dan
karakteristik tersendir. Pantai watuprapat yang termasuk dalam kecamatan Nguling
memiliki lokasi yang seharusnya tepat untuk dijadikan objek wisata. Arus gelombang
yang tenang , dan wilayahnya yang cukup luas sangat mendukung. Namun ada
beberapa faktor tentu yang menjadi kendala untuk terealisasinya hal tersebut
sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap Pantai Watuprapat,Nguling.
B. RUMUSAN MASALAH
Berikut ini beberapa rumusan masalah dalam mengkaji laporan ini :
1. Bagaimana kondisi fisik lingkungan biotik dan abioti lingkungan pantai watuprapat ?
2. Bagaimana lingkungan sosial masyarakat di daerah pantai watuprapat ?
3. Apa yang menjadi karakteristik khusus (ciri khas) dari pantai watuprapat?
C. TUJUAN
Tujuan yang kami ingin capai dalam penyusunan laporan ini adalah :
1. Agar dapat mengetahui komponen biotik yang ada di pantai watuprapat
2. Agar dapat mengetahui komponen abiotik yang ada di pantai watuprapat

3. Agar dapat mengetahui kondisi kehidupan sosial atau lingkungan sosial di daerah
pantai watuprapat
4. Agar dapat mengetahui fenomena alam yang pernah terjadi di pantai Watuprapat
5. Untuk memenuhi tugas geografi lingkungan
D. MANFAAT
Dengan penyusunan Laporan Penelitian ini kita dapat memperoleh khazanah
baru mengenai geografi lingkungan secara teknis. Kita kemudian nanti dapat
mengetahui lingkungan biotik, abiotik, dan sosial yang terdapat di daerah pantai
watuprapat, Nguling.
Selain itu, laporan ini berguna bagi masyarakat sekitar untuk memberikan
pengetahuan akan kondisi di daerahnya sendiri.

BAB II
METODE PENELITIAN

B. SETTING PENELITIAN
1. Waktu penelitian
Penelitian ini diawali dengan observasi sekaligus pengambilan data selama satu hari
yaitu pada hari Minggu, 12 januari 2014. Pada saat itu air laut dalam keadaan surut.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di pantai Watuprapat, Nguling, serta dirumah salah
seorang warga di Watuprapat.

C. SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang dijadikan subjek penelitian adalah kondisi fisik lingkungan
biotik, abiotik, serta lingkungan sosial di daerah sekitar pantai Watuprapat, Nguling.

C.

METODE PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan dengan:


1. Wawancara
Metode wawancara digunakan untuk memperoleh informasi tentang lingkungan
sosial atau kondisi masyarakt pesisir pantai Watuprapat .
2.

Observasi

Teknik observasi digunakan untuk memperoleh fakta fakta yang ada yang
mendukung penelitian.
3.

Dokumentasi

Teknik ini dilakukan untuk memperoleh dokumen dokumen tertulis, foto atau
benda benda lainnya yang berkaitan dengan aspek yang diteliti.

BAB III
HASIL PENELITIAN

A. Lingkungan Biotik
1. Fauna
Ekosistem pantai watuprapat sangat dipengaruhi oleh siklus harian arus yang
pasang dan surut. Sehingga, fauna yang bisa bertahan di pantai adalah mereka yang
bisa beradaptasi dengan cara melekat ke substrat keras agar tidak terhempas
gelombang. Wilayah paling atas dari ekosistem pantai watuprapat adalah titik yang
hanya terkena air pada saat pasang naik tinggi. Area ini didiami beberapa jenis
kerang. Jenis kerang yang banyak kami temui di area yang terkena air pada saat
pasang naik tinggi adalah kerang jenis bivalvia edible. Kerang tersebut tidak banyak
dalam keadaan hidup.

Gb. 1 bivalvia edible

Selain itu, di daerah pantai watuprapat juga ditemukan banyak kerang


kerangan jenis Cerithidea cingulata (Potamididae). Tinggi cangkang kerang terebut
maksimum 4.5 cm, biasanya hanya sekitar 3.5 cm. Seringkali kerang jenis ini kami
temukan di daerah lumpur di area dekat mangrove, dalam 1 meter persegi
kelimpahannya bahkan bisa mencapai 500 individu. Jenis ini edible.

di area daerah terjauh dari air surut kami sempat menemukan jejak burung , yang
Gb. 2 jejak burung camar.
kemungkinan besar merupakan
Cerithideacingulata (Potamidid
ae)

Gb.3 jejak burung


camar

Sekitar 5 meter dari bibir pantai watuprapat, kami menemukan hewan yang
tergolong hewan purba. Hewan tersebut bisa juga dikatakan sebagai fosil hidup yang
merupakan sebutan bagi hewan atau tumbuhan yang dianggap sudah punah dan
menjadi fosil, tetapi pada kenyataannya masih hidup. Hewan iini disebut dengan
belangkas atau mimi . Jika dilihat dari fisiknya, akan terlihat seperti kepiting ,.
Berdasarkan wawancara warga, hewan belangkas ini sering muncul saat gelombang
besar. Hewan ini merupakan salah satu hewan purba yang tidak mengalami
perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu)
dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama.
Bentuk hewan ini berbentuk seperti ladam kuda berekor. Meski bentuknya
menyeramkan, daging dan telur belangkas bisa dijadikan makanan oleh penduduk
sekitar pantai watuprapat. Berdasarkan sumber data, Kegunaan dari hewan unik
yang satu ini yaitu Esktrak plasma darahnya (haemocyte lysate) banyak digunakan
dalam kajian biomedis dan lingkungan. Di Amerika Serikat, Cina, dan Jepang ekstrak
darah ini digunakan sebagai bahan pengujian endotoksin serta untuk mendiagnosis
penyakit meningitis dan gonorhoe. Serum anti-toksin menggunakan belangkas telah
berkembang di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Barat. Warna darah biru
pada belangkas dari tembaga dalam protein, pembawa oksigen, hemosianin- mirip
hemoglobin berbasis besi pada manusia.

Gb.4 belangkas

Sekitar 50 meter dari pantai, tepatnya disekitar rumah warga, kami melihat
terdapat beberapa hewan herbifora seperti sapi, kambing, dan sebagainya.
8

Gb.5 herbivora

2. Flora
Di pinggiran pantai watuprapat, telah ditanami beberapa tumbuhan mangrove .
Tinggi mangrove kira kira mencapai 1.5 meter, dan ada pula yang masih berukuran
meter. Kurang lebih terdapat ratusan mangrove yang berukuran kecil dan puluhan
mangrove yang berukuran 1,5 meter.Berdasarkan wawancara warga, mangrove
tersebut ditanami oleh suatu lembaga yang mengadakan bakti sosial di wilayah
pantai .

Gb.6 Mangrove

Keberadaaan mangrove menjadikan daerah watuprapat aman dari terjadinya


gelombang. Meskipun beberapa tahun yang lalu gelombang besar telah menjadi
fenomena yang mengejutkan di wilayah Watuprapat . Setidaknya gelombang
tersebut dapat diminimalisir dengan adanya tumbuhan mangrove. Selain mangrove
sekitar 5 meter dari jarak pasang surut air atau zona litoral terdapat banyak
tumbuhan xerofit yaitu kaktus .

Gb.7 Kaktus

Selain kaktus terdapat semak semak, dan rerumputan .

Gb.8 Rumput di pinggir


pantai

Di sekitar pantai Watuprapat terdapat tumbuhan Singkong .

Gb.9 Singkong

B. Lingkungan Abiotik
1. Air Laut
Air laut di pantai watuprapat sangat keruh, kondisi seperti ini menyebabkan radiasi
sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuhan laut akan
kurang dibandingkan dengan air laut yang jernih. Sehingga kemungkinan fotosintesis
tumbuhan hanya mencapai 15 40 meter. Laut yang jernih merupakan lingkungan
yang baik untuk tumbuhnya terumbu karang dari cangkang binatang koral.
Air laut juga menampakan warna yang berbeda-beda tergantung pada zatzat
organik maupun anorganik yang ada.

10

Gb.10 Air Laut

2. Tanah
Di sekitar pantai Watuprapat, tanah telah banyak tercampur dengan limbah rumah
tangga, limbah rumah tangga ini dibawa oleh sungai yang bermuara di Laut. Sekitar
5 meter dari air laut ketika pasang tanah berupa sejenis tanah regosol . Jenis tanah
ini masih muda, belum mengalami diferensiasi horizon, tekstur pasir, struktur berbukit
tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan sedang, berasal
dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di
daerah lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan gumuk-gumuk pasir
pantai.

3. Zona Lithoral

Gb.11 Tanah

Pada saat air surut dataran di zona lithoral terlihat sangat kumuh dan dipenuhi oleh
sampah. Zona Lithoral pantai watuprapat diperkirakan sepanjang 100 meter sampai
batas laut dangkal

Gb.12 Zona litoral

4. Suhu udara
Suhu udara di daerah pantai watuprapat terasa sangat panas. Suhu rata-rata di
daerah pantai pada siang hari bisa lebih dari 29C.
C. FENOMENA ALAM
1. Gelombang
Gelombang merupakan salah satu sumber energi penting dan pembentukan
pantai, transportasi sedimen dari dan menuju pantai. Gelombang angin pada
umumnya memperoleh energinya dari angin yang berhembus di atas permukaan
laut. Peranan gelombang menjadi sangat nyata jika berada di dekat pantai, karena
sebagian energi gelombang ini dihempaskan di daerah pantai yang menyebabkan
pemindahan sedimen dasar dan menghasilkan penggerusan/abrasi pantai dan
11

sedimentasi di daerah lain. Energi gelombang ini juga dapat merusak bangunan
pantai apabila bangunan tersebut tidak direncanakan dengan baik. Gelombang
besar dan angin kencang pernah mengancam kawasan pesisir Kecamatan Nguling,
Kabupaten Pasuruan. Beberapa rumah di Desa Watuprapat sempat rusak akibat
hantaman gelombang air laut tersebut. Pantauan di lapangan, gelombang besar
dan angin kencang yang melanda kawasan pesisir Nguling ini terjadi hampir setiap
tahun.Untuk mengantisipasinya, warga pun berupaya memperkuat tanggul dengan
memasang karung berisi pasir di tepian pantai.

Gb.13 Pantai saat surut

5. Pasang Surut Air Laut (ocean ride)


Pasang naik dan pasang surut merupakan bentuk gerakan air laut yang terjadi
karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Pasang surut ialah
proses naik turunnya muka air laut yang teratur, disebabkan terutama oleh gaya tarik
bulan dan matahari. Karena posisi bulan dan matahari terhadap bumi selalu berubah
secara hampir teratur, maka besarnya kisaran pasang surut juga berubah mengikuti
perubahan posisi-posisi tersebut.
Tipe pasang surut pantai watuprapat adalah bertipe pasang surut harian karena
pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut perhari. Jika perairan
tersebut mengalami satu kali pasang dan surut perhari, maka kawasan tersebut
dikatakan bertipe pasang surut harian atau tunggal. Jika terjadi dua kali pasang dan
dua kali surut dalam satu hari, maka pasangnya dikatakan bertipe pasang surut
ganda. Diperkirakan Jarak laut pasang hingga pemukiman warga adalah 60 meter .

Gb.14 Pantai saat surut

D. Kondisi Lingkungan Sosial


12

Pantai adalah bagian daratan yang berbatasan dengan laut. Penduduk daerah
pantai mempunyai karakteristik yang disesuaikan dengan keadaan daerahnya.
Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau
suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan
perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut
dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan
dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan
a. Mata pencaharian
Penduduk watuprapat memilih mata pencaharian mereka sesuai dengan
ketersediaan yang terkandung di alam. Sebagian besar penduduk daerah pantai
lebih memilih bekerja sebagai nelayan dibandingkan bercocok tanam. Hal ini
disebabkan kondisi wilayahnya yang lebih dekat ke laut. pendapatan sangat
tergantung oleh musim maupun status nelayan itu sendiri . Hasil nelayan yang
diperoleh biasanya langsung dijual ke pasar Nguling . Pendapatan minimal saat
nelayan adalah Rp.50.000 ,- . Bagi sebagian warga yang merasa kurang puas
dengan pendapatan hasil dari nelayan lebih memilih bekerja untuk menjadi TKI.
Berdasarkan wawancara, hal tersebut terjadi karena tidak menentunya pendapatan
yang diperoleh ketika menjadi nelayan . Jika dapat di prersentasikan masyarakat
watuprapat 75% nelayan , 20% TKI , 5% kuli bangunan, bertani, dan sebagainya.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk wilayah pesisir juga tergolong rendah.
c. Pola pemukiman
Sebagian besar penduduk di daerah pantai watuprapat mata pencahariannya adalah
nelayan. Sehingga pemukiman mereka membentuk pola memanjang (linear)
mengikuti garis pantai. Pola pemukiman demikian memudahkan para nelayan untuk
pergi melaut.
d. Kondisi fisik penduduk
Suhu udara di daerah pantai watuprapat terasa sangat panas. Suhu rata-rata di
daerah pantai pada siang hari bisa lebih dari 29C. Kondisi suhu yang panas ini
mengakibatkan penduduk daerah pantai berwarna kulit agak gelap.
Mereka sering tersengat sinar matahari. Merekapun biasanya menggunakan pakaian
yang tipis karena suhu yang panas ini.
e. Bentuk rumah
Rumah-rumah di daerah pantai Watuprapat kebanyakan memiliki ventilasi
yang banyak dan atap terbuat dari genteng tanah. Ventilasi yang banyak
dimaksudkan agar banyak udara dingin yang masuk ke rumah. Rumah nelayan
secara visual tampak tidak terawat dan jauh dari kata rumah layak huni
f. Aktivitas Kaum Perempuan dan Anak-Anak
Ciri khas lain dari suatu masyarakat pesisir adalah aktivitas kaum perempuan
dan anak-anak. Pada masyarakat ini, umumnya perempuan dan anak-anak ikut
bekerja mencari nafkah. Kaum perempuan (orang tua maupun anak-anak) seringkali
13

bekerja sebagai pedagang ikan (pengecer), baik pengecer ikan segar maupun ikan
olahan. Mereka juga melakukan pengolahan hasil tangkapan, baik pengolahan kecilkecilan di rumah untuk dijual sendiri maupun sebagai buruh pada pengusaha
pengolahan ikan atau hasil tangkap lainnya. Sementara itu anak laki-laki seringkali
telah dilibatkan dalam kegiatan melaut. Ini antara lain yang menyebabkan anak-anak
nelayan banyak yang tidak sekolah.
g. Komunikasi
Bahasa komunikasi yang digunakan didominasi oleh bahasa madura. Di daerah
pesisir masyarakat kebanyakan bersuara keras karena beriringan dengan suara
ombak.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pantai Watuprapat merupakan pantai yang terletak di kecamatan Nguling. Pantai
tersebut menyimpan banyak keanekaragaman hayati yang terdapat di lingkungan
biotik dan abiotik. Komponen biotik yang terdapat di pantai Watuprapat terdiri dari
fauna dan flora. Fauna yang mencolok adalah Belangkas atau mimi yang merupakan
hewan purba. Serta Flora yang tersebar berupa mangrove , serta di pesisir pantai
juga terdapat tumbuhan singkong.
Masyarakat pesisir Watuprapat dapat
didefinisikan sebagai masyarakat yang tinggal dan melakukan aktifitas sosial
ekonomi yang terkait dengan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan. Dengan
demikian, secara sempit masyarakat pesisir memiliki ketergantungan yang cukup
tinggi dengan potensi dan kondisi sumberdaya pesisir dan lautan. Namun demikian,
secara luas masyarakat pesisir dapat pula didefinisikan sebagai masyarakat yang
tinggal secara spasial di wilayah pesisir tanpa mempertimbangkan apakah mereka
memiliki aktifitas sosial ekonomi yang terkait dengan potensi dan kondisi
sumberdaya pesisir dan lautan.
14

B. SARAN
Kami mengharapkan agar dalam pemberian tugas penelitian dilakukan dalam
jangka waktu minimal dua minggu.

15