You are on page 1of 97

BAB 20

TRAUMA ABDOMEN
Anggreiny Tumimomor (13014101135)
Ningsi Hadji Ali (13014101113)
Yuniaty Sitohang (070 111 103)
Ririn Hardiyanti (080111127)
Yudit Garedja (13014101173)

Sindrom Kompartemen abdominal
Sindrom kompartemen abdominal :
 Insufisiensi pernapasan
 Hemodinamik tidak stabil
 Gangguan fungsi ginjal
 Penurunan curah jantung
 Peningkatan tekanan intrakranial
 Distensi berlebihan dari dinding perut

Sindrom Kompartemen abdominal
Sebuah keadaan yang mengancam jiwa tetapi
berpotensi untuk diobati.

Sindrom Kompartemen abdominal Pengukuran tekanan intra-abdomen:  Masukan 1mL/Kg normal saline ke dalam kateter foley dan hubungkan ke transduser tekanan atau manometer melalui three way stopcock.  Simfisis Pubis sebagai acuan nol ( cmH2O atau mmHg)  TIA berada dalam kisaran 20-35 cm H2O atau 15-25 mmHg  indikasi dekompresi perut .

Sindrom Kompartemen abdominal Penemuan CT abdomen pada anak-anak:  Penyempitan vena cava inferior  Kompresi langsung ginjal kompresi atau pergeseran  Penebalan dinding usus dengan peninggian  Perubahan dari bentuk abdomen. .

Trauma Saluran Empedu Manajemen non operatif pada anak dengan trauma tumpul hepar mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi tetapi mempunyai kemungkinan untuk mengalami komplikasi kebocoran kantong empedu secara persisten sebesar 4%. .

Pemeriksaan Radiolonuclide ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreotography) Endoskopi dekompresi transampullan bilier .

kurang dari 10% pada trauma intraabdominal yang terjadii pada anak – anak yang mengalami trauma tumpul. trauma pada duodenum dan pankreas lebih jarang terjadi. Tingkat keparahan suatu trauma duodenum atau pankreas dihubungkan dengan keputusan untuk melakukan tindakan operasi atau tidak.Trauma Pada Duodenum Dan Pankreas Jumlah trauma pada hepar dan lien. .

di mana hanya 39 (145) yang mengalami ruptur total .2%). dkk melaporkan:  Dari 103. trauma tumpul pada duodenum terjadi sebanyak 206 (0.Duodenum Ballard.864 pasien yang terdaftar pada 28 pusat trauma.

. Penelitian ini menekankan pada kesulitan dalama menganalisis sejumlah trauma yang dikarenakan hanya sebagian kecil yang dilaporkan oleh pusat trauma ( dan ahli bedah). 92% dari jumlah tersebut dilaporkan mengalami nyeri abdomen atau mengalami pelunakan atau ganjalan pada pemeriksaan fisik.tetapi tidak dapat dijadikan sebagai rekomendasi definitif dikarenakan hanya sebagian kecil dari pasien dan rumah sakit yang dilaporkan. Pemeriksaan CT yang dilakukan pada 18 pasien. Sebagai tambahan. Mekanisme terjadinya trauma disebabkan oleh kecelakaan mobil sebesar 70% di mana melibatkan orang dewasa dan anak – anak. gambaran udara di rongga retroperitoneum atau di rongga ekstravasasi dilihat dengan menggunakan kontras sebesar 26% dari pemeriksaan scan. jumlah yang sama diinterpretasikan sebagai normal. para investigator juga meninjau cara – cara dalam melakukan operasi – dari penanganan tertutup pada duodenum sampai pada prosedur Whipple . Dari jumlah tersebut yang mengalami cedera kepala yang signifikan ( 26 dari 30). Tingkat kematian sebesar 13% dan bukan disebabkan oleh terlambatnya diagnosis atau terapi.

Tujuh belas pasien yang dikirim dari fasilitas lainnya . 5 dengan trauma lien.  13 anak mengalami perforasi duodenum (usia rata-rata 9 tahun)  14 anak mengalami hematoma duodenum (usia rata-rata 5 tahun)  Trauma – trauma yang berhubungan diamati pada 19 pasien ( 10 dengan trauma pankreas. 2 dengan fraktur pada tulang panjang.Kelompok dari Toronto melaporkan : 27 anak (usia rata-rata 7 tahun) yang mengalami trauma tumpul doudenum dan diberikan terapi diatas 10 tahun. dan 1 dengan ruptur gaster). 1 dengan perforasi jejunal. 1 dengan trauma pada sistem saraf pusat. 1 dengan kontusio ginjal. 4 dengan trauma hepar.

Rata – rata 4 jam untuk dipindahkan. Rata – rata waktu dari mulai terjadinya trauma sampai dilakukannya operasi pada pasien dengan perforasi adalah 6 jam .

Gejala akan hilang pada 13 dari 14 pasien rata – rata 16 hari setelah trauma. sumbatan atau obstruksi tanpa ektravasasi sebagai tanda diagnostik pada semua kasus pada beberapa penemuan pada 14 pasien yang ditangani tanpa operasi. . Anak – anak ini juga mengalami kontusio pankreas.CT scan ( atau studi tentang pemeriksaan sistem pencernaan bagian atas dengan kontras pada kasus yang samar) menunjukkan menyempitnya duodenum. lamanya dilakukan dekompresi nasogastrik adalah 12 hari (rata – rata). Pada anak – anak akan tampak sisa luka berupa jaringan parut kronik yang membutuhkan operasi duodenoplasty 49 hari setalah trauma. dan lama pemberian nutrisi secara parenteral adalah 18 hari (rata – rata).

Desai. terdapat 19 hematoma duodenum ( 15 didiagnosa dengan CT. dkk dari RS anak St. 4 dari 5 pasien menyetujui untuk dilakukan jahitan pada luka . dan 4 dengan studi tentang saluran pencernaan atas). Pada kasus dengan perforasi. 17 diantaranya yang di terapi tanpa tindakan operasi. 24 trauma duodenum yang disebabkan trauma tumpul abdomen. Louis.

. Pada semua kasus. khususnya pada pasien yang lebih muda Oleh karena itu trauma duodenum yang tersembunyi seharusnya menimbulkan kecurigaan jika riwayat atau mekanisme terjadinya trauma mengambarkan ketidaksesuaian dengan trauma yang sebenarnya. pasien yang mengalami perforasi duodenum dilakukan tindakan operasi dengan berbagai macam cara. tergantung pada keparahan cedera dan acuan dari ahli bedah. Kami merekomendasikan tindakan penutupan primer pada perforasi duodenum (bilamana memungkinkan). .Pengalaman dari kota Salt Lake dan Pittsburgh mengingatkan bahwa penyebab umum terjadinya trauma duodenum pada anak adalah karena kekerasan.

beberapa penutupan juga menempatkan suatu selang untuk pengaliran. . dan dilakukan jejunostomi (tabung 3). mengurangi waktu dalam mengosongkan saluran pencernaan. Tindakan untuk dilakukan operasi telah menurunkan tingkat insiden dari fistula duodenum. kombinasi yang efektif adalah teknik three – tube : duodenum ditutup ( penanganan primer. Pergantian dengan menggunakan bioprostetik pada daerah duodenum yang mengalami trauma dengan model porcine telah dilaporkan dan dapat menjadi tambahan dalam rencana operasi. Ketika duodenum diangkat ( dilakukan dengan menggunakan jahitan dengan benang yang dapat diserap untuk penutupan sementara dari pilorus). tambalan serosal atau anastomosis) dengan tabung drainase pada duodenum untuk dekompresi (tabung 1). dan mempersingkat rawat inap di rumah sakit. Pengangkatan pilorus dengan jahitan yang dapat diserap sampai habis pada gastrotomi dan penempatan tabung gaster ( tabung 2). melakukan penyembuhan secara sempurna sebelum dilakukan pembukaan spontan kembali pada saluran pilorus.Penutupan primer dapat dikobinasikan dengan drainase duodenum dan pengangkatan pilorus dengan melakukan gastrojejunostomi atau bilas lambung dengan jejunostomi. Ketika berhadapan dengan komplikasi dari trauma duodenum.

dengan angka kejadian berkisar dari 3% sampai 12% pada anak – anak dengan trauma tumpul abdomen.Pankreas Trauma pada pankreas lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan trauma pada duodenum. .

Di sini kami membandingkan catatan – catatan dan kutipan pengalaman dari penulis lainnya dalam mebuat rekomendasi terapi. . dua rumah sakit ( Toronto dan San Diego) melaporkan pengalaman mereka dengan metode yang berbeda dalam menangani trauma tumpul pankreas pada beberapa penelitian.Baru – baru ini.

Mereka juga mennyimpulkan bahwa penangana ERCP akut dengan pemasangan sten adalah aman dan efektif.Penulis menyimpulkan bahwa trauma pada bagian distal seharusnya ditangani dengan pankreatektomi distal. dan observasi pada pseudokista atau dengan kistogastrostomi. observasi pada trauma bagian proksimal. dan bahwa pemeriksaan dengan CT juga disarankan tetapi tidak selalu sebagai diagnosa untuk berbagai jenis dan lokasi dari trauma pankreas. .

dan 5 gangguan saluran utama). dan penggunaan somatostatin untuk menurunkan sekresi pankreas dan mendukung penyembuhan. Meskipun demikian. sebuah institusi besar dari jepang melaporkan terapi non operatif pada 19 dari 20 anak dengan berpusat pada trauma pankreas ( 9 kontusio.Laporan dari Dallas dan Seattle mendukung pankreaktomi distal secara dini untuk memisahkan bagian kiri dari tulang belakang untuk mengurangi lama rawat di rumah sakit. akibat dalam waktu lama pada perlengketan usus yang mengalami obstruksi dan disfungsi endokrin dan eksokrin tidak dapat diperkirakan. 6 laserasi. pemeriksaan ERCP secara dini untuk diagnosis dan terapi dengan pemasangan sten pada saluran. Sebagai catatan. . Hasil penelitian lainnya melaporkan keuntungan dari penggunaan resonansi magnetik pankreatografi sebagai alat diagnostik.

Semua (n = 18) dengan trauma grade 1 yang ditangani dengan terapi non operatif. Mereka menyimpulkan bahwa anak – anak yang menjalani operasi jarang mendapatkan pseudokista tetapi lama dalam perawatan dikarenakan komplikasi non pankreatik. Pengalaman rumah sakit dengan pembentukan pseudokista dan terapi secara kseluruhan merupakan cerminan dari penelitian di Toronto. . Sebuah laporan penelitian dari Denver baru – baru ini melaporkan pengalaman mereka dengan trauma pankreas pada anak selama lebih 11 tahun. pemulihan berlangsung sempurna tanpa dilakukan operasi.Pada semua kasus. Anak – anak dengan trauma grade II – IV menerima tindakan opersi sebanyak 14 kasus dan 11 kasus tanpa operasi.

. Dikarenakan suplai pendukung memaksakan data untuk masing – masing dari terapi.Beberapa fakta dan dokumen menunjukkan manfaat dan keamanan dari pengamatan yang sebenarnya pada semua trauma pankreas. algoritma mengambarkan rumah sakit swasta atau preferensi ahli bedah memungkinkan untuk menentukan rencana terapi yang akan dipilih. termasuk gangguan saluran. anjuran agresif lainnya adalah tindakan operasi dengan debridement dan reseksi.

pankreatektomi bagian distal dari lien dapat menyediakan perawatan definitif untuk trauma yang tersembunyi ini. Teknik laparaskopi dapat membatasi terjadi morbiditas perioperatif.Meskipun demikian. pilihan yang ada bebas dipilih dengan pemisahan sederhana dari pankreas pada atau ke bagian kiri tulang punggung. dengan mengurangi lama rawat inap di rumah sakit dan terjadinya morbiditas. .

termasuk mengikuti : Pemeriksaan CT terus menerus dengan kontras baik secara oral maupun intravena pada semua pasien yang dengan anamnesa. pemeriksaan fisik atau mekanisme trauma yang diagnosisnya mengarah ke trauma tumpul abdomen Mendokumentasi trauma dan pemeriksaan ERCP secara dini untuk menyediakan pemasangan sten pada saluran dalam kasus tertentu Terapi non operatif dengan pemberian nutrisi parenteral total Terapi yang diharapkan pada pseudokista Drainase perkutan pada pseudokista dengan gejala. atau yang bertambah besar . yang terinfeksi.Terapi konservatif sebisa mungkin.

. atau pada rektosigmoid. Dan Kolon  Beberapa mekanisme berbeda menyebabkan trauma mengenai organ – organ berongga ini. jejunum. luka bakar terjadi ketika kekuatan kompresi yang cepat mengisi dan memenuhi rongga. Dengan deselerasi. tanpa kompresi yang terjadi secara langsung.  Ketiga adalah trauma karena mencukur disebabkan aselerasi – deselerasi dari organ yang tertahan pada suatu bagian misalnya ligamen Treitz. Regio ileusaecal. terpisah baik secara parsial maupun komplet dapat terjadi pada perforasi atau obstruksi yang spontan atau tertunda  Kedua. diantaranya :  Pertama kerusakan yang terjadi mencakup perut. laserasi.Trauma Pada Perut. Usus Halus. ileum atau kolon transverse karena tekanan yang hebat melawan tulang punggung. trauma dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada titik fiksasi. Trauma yang disebabkan karena tekanan pada bahu atau sabuk pengaman dapat terjadi pada sistem pencernaan karena kebiasaan. Hematoma.

Tanpa memperhatikan mekanisme terjadinya trauma. sebuah perforasi viscus dapat menyebabkan kontaminasi yang cepat terhadap rongga abdomen. sebenarnya pada pasien yang sadar mempunyai beberapa gejala (nyeri) dan kelainan fisik ( lunak. banyak laporan yang telah mendokumentasi mengenai pemeriksaan fisik secara dini dan berurutan mempunyai tingkat diagnosa dengan spesifik yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan US atau CT pada trauma ini . Pada faktanya. keras). Pada penilaian dini pada trauma.

perkembangan kematian jaringan akan terjadi dengan adanya kebocoran yang dapat tertunda dari beberapa jam sampai beberapa hari. Meskipun demikian. maka perlu dilakukan pemeriksaan fisik secara berurutan. . hematoma atau adanya robekan pembuluh darah vena mesenterika terjadi. ketika terjadi laserasi sebagian. Jika terdapat kecurigaan yang tinggi akan adanya indikasi.Diagnosis yang cepat dari trauma ini memungkinkan ketika terdapat udara bebas dan adanya kontras dalam rongga perut pada waktu terjadinya trauma.

Komite trauma APSA telah membentuk sebuah multi institusi. melakukan penelitian retrospektif untuk menentukan apakah penundaan dalam penanganan perforasi usus menyebabkan kerugian? Data mereka pada 214 pasien menunjukkan bahwa penundaan operasi hingga 24 jam tidak mempunyai dampak signifikan pada prognosis setelah terjadinya trauma tumpul usus bahkan ketika ada kontaminasi sekunder pada perforasi. Lambung yang penuh biasanya mengalami ruptur pada sisi yang melengkung dalam pecahan atau dalam sususnan seperti bintang. Trauma pada lambung dan usus halus secara terang – terangan dapat sembuh sendiri. . Pengangkatan jaringan mati dengan penanganan secara langsung hampir selalu cukup.

Pada cedera kolon. .Trauma usus halus akan menyebabkan avulsi dengan segmen yang besar sehingga membahayakan perut. kolostomi dengan membuat sebuah fistula selaput membran atau dalam rangka melakukan prosedur Hartmann. dilakukan irigasi pada usus. Walapun demikian. kontaminasi yang tejadi secara meluas ( atau trauma lainnya membutuhkan penanganan yang luas). anastomosis usus. debridement atau reseksi dengan anastomosis biasanya cukup untuk dilakukukan. Jika trauma kolon tersembunyi terjadi maka perlu dilakukan penenganan segera. dan pemberian antibiotik yang aman dan efektif serta menghindari komplikasi yang disebabkan oleh stoma dan operasi kembali. terutama jika terdapat keterlambatan dalam diagnosis dan adanya kontaminasi kotoran secara signifikan.

dengan durasi pemberian tergantung pada tingkat kontaminasi dan keadaan klinis pasca operasi (misalnya jumlah sel darah putih normal. tidak adanya demam. kembali berfungsinya sistem traktus GI). Teknik laparaskopi dapat membatasi morbiditas perioperatif .Faktor penting pada penilaian awal trauma traktus GI intraperitoneum adalah melakukan resusitasi secara tepat. Melakukan perbaikan pada saluran traktus GI. sesuai dengan indikasi klinis yang ditunjukkan dan pemberian antibiotik spektrum luas. operasi segera dengan pengangkatan segera bagian yang terkontaminasi dan jaringan mati.

Tanda Sabuk Pengaman SABUK PENGAMAN MENGURANGI TRAUMA YANG SERIUS DAN KEMATIAN 50% Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda berupa memar pada bagian perut. adanya fraktur pada daerah lumbal. dan adanya perforasi pada jejunum dan ileum yang tersembunyi . Tiga hal yang menarik pada trauma yang perlu diperhatikan yaitu kontusio dinding abdomen atau herniasi.

Pencitraan Pada Trauma Gastrointestinal Pencitraan pada traktus GI telah berkembang sejak beberapa dekade lalu. dengan CT spiral atau pemeriksaan FAST yang dilakukan oleh ahli bedah di bagian gawat darurat secara langsung berimplikasi pada akurasi diagnostik dan pengambilan keputusan .

hanya 20 yang melakukan pemeriksaan CT scan. dengan spesifitas yang tinggi (95%) tetapi sensitivitas yang rendah (33%). Cairan bebas pada daerah intraabdominal secara signifikan tersembunyi pada cedera organ padat yang sering dianggap sebagai tanda dari trauma usus. pada evaluasi trauma usus.  FAST merupakan alat skreening yang berguna. semuanya dikarenakan permintaan dari ahli bedah . Pada 89 anak yang diteliti dengan FAST.

uretra.atau penetrasi. perineum. anus dan genitalia ekterna diawali oleh 2 mekanisme :  Jatuh Ditandai dengan oleh adanya memar. cedera seringkali melibatkangenitala eksterna. dan anus tetapi jarang mengenai rektum .Trauma Pada Perineum. laserasi. dan Genitalia Anak dengan trauma pada perineum. kontusio. tergantung objek yang dikenai dan ketinggian saat jatuh. Anus.

Oleh karena itu. trauma pada perineum genital. perineum. trauma rektum atau trauma vagina seharusnya selalu dipertimbangkan kekerasan anak sampai ditemukan bukti yang lain. ketika memeriksa seorang anak dengan trauma pada perineum. dan anus merupakan kejadian yang khas . Kekerasan seksual Cedera melibatkan raktum atau penetrasi vagina yang hebat. Sebaliknya.

Setelah menilai derajat luka. pemeriksaan enema dengan kontras) harus dilakukan sebelum rekonstruksi ulang. uretrogram. dan pada trauma yang lebih kompleks. dan uretrogram retrograde. sistogram. Memperbaiki kelembaban rektum. sigmoidskopi. Setelah pemuliahan. pengalihan pengeluaran urine dengan sistostomisuprapubik. irigasi rektum. konfirmasi radiologi kembali ( misalnya pielogram intravena.Diagnosis dari trauma yang luas pada perineum sering membutuhkan pemeriksaan dalam keadaan anestesi untuk menggunakan protoskopi. penempatan drain ketika dibutuhkan. . rencana operasi dilakukan demi menangani trauma uretra (langsung atau dengan sten). pengeluaran feses dengan menggunakan kolostomi.

Walaupun jarang. tidak salah untuk dilakukan manipulasi rektum yang dapat menyebabkan trauma berat sehingga membutuhkan tindakan operasi dan intervensi. pemasukan termometer rektal. umumnya.kamu baru – baru ini melakukan operasi pada seorang bayi usia 3 hari dengan perforasi rektosigmoid sampai penanganan dengan enema untuk mengobati osbtipasi yang dikarenakan kista fibrosis. . yang membutuhkan tindakan operasi. pada bayi baru lahir. laparatomi dan kolostomi diperlukan. Walaupun demikian. kematian pada anak dapat terjadi karena terkena tembakan. dilator Hegar atau tabung enema dapat menyebabkan cedera rektal secara signifikan pada neonati.Trauma kolorektal dan vagina pada penumpang kapal laut merupakan mekanisme penting lainnya yang seharusnya menimbulkan kecurigaan dan perhatian. Oleh karena itu.

Trauma pada diafragma jarang ditemukan. Pada kasus ini.Trauma Diafragma . Saat ini trauma penetrasi menyebabkan luka. terjadi ruptur pada otot diafragma.  Diafragma kanan maupun kiri mempunyai peluang yang sama terkena trauma . membuat akselerasi dari isi abdomen. trauma diafragma sering ditemukan pada tindakan eksplorasi trauma lainnya. bahkan pada pusat penanganan trauma yang lebih besar.  Trauma disebabkan oleh kekuatan kompresi yang besar pada rongga abdomen.

 Pembedahan segera pada anak dengan kumpulan terkait cedera

mencakup palpasi pada kedua diafragma sebagai pemeriksaan rutin
pada eksplorasi abdomen. Jahitan secara langsung biasanya mungkin
dilakukan setelah debridement pada setiap jaringan mati. Jahitan
yang baik dapat digunakan untuk menunjang perbaikan dan
mencegah robekan otot, membuat jahitan yang lebih aman.
 Jika jaringan diafragma yang hancur, maka dibuat tekanan yang
optimal dengan menggunakan otot interkostal atau tambalan palsu
yang dapat digunakan, mirip dengan penanganan pada hernia
diafragma kongenital pada neonati.
 Laporan mengenai laparoskopi atau torakoskopi untuk penanganan
cedera ini meliputi penundaan operasi pada pasien yang stabil tanpa
adanya trauma. Keterlambatan diagnosis pada bay yang mengalami
traumai telah dilaporkan, karena memiliki avulsi ginjal menuju dada
melalui diafragma yang ruptur. Karena kejadian trauma seperti ini
jarang terjadi, seseorang harus memiliki kecurigaan yang tinggi
ketika mekanisme cedera dan derajat cedera dan lokasi cedera lain
mendukung kemungkinan adanya trauma diafragma.

Kemajuan terbaru dalam penanganan trauma

dan tersedianya perawatan pada anak -anak
telah menghasilkan kemungkinan pulih lebih
tinggi pada trauma berat. Banyak perubahan
mengenai pemahaman kami tentang transfusi
dan koagulasi sejak edisi buku sebelumnya.
Sangat penting bagi ahli bedah anak untuk
membiasakan diri dengan cara pengobatan
yang lain untuk trauma abdomen yang
mengancam jiwa. Kontribusi penting lain
dibuat untuk mendiagnosis dan mengobati
anak-anak dengan trauma abdomen oleh ahli
radiologi dan endoskopi.

Diagnosis

cedera lien dibuat berdasarkan
temuan klinis,pemeriksaan laboratorium rutin,
foto polos, USG, CT scan, atau pencitraan
isotop.
Pengobatan standar hemodinamik pada anak
dengan cedera lien tanpa operasi berhasil
diterapkan pada luka tumpul hepar, ginjal,dan
pankreas.
Penanganan bedah normalnya berdasarkan
pada tingkat pengetahuan mengenai anatomi
dan respon fisiologi dari anak.

Analisis terbaru dari National Pediatric Trauma Registry ( NPTR ) dan Nasional Trauma Data Bank mengemukakan pada anak dengan trauma. dengan persentasi >25% membutuhkan tindakan operasi. .Fakta mengenai trauma menunjukkan bahwa 8 % sampai 12 % dari anak-anak menderita trauma tumpul abdomen dan lebih dari 90 % dapat bertahan hidup. 40 % dari trauma abdomen kecil kemungkinannya untuk menjadi fatal. Meskipun trauma abdomen 30 % lebih banyak daripada trauma toraks .

kemampuan untuk mendeteksi secara cepat dengan alat Focused Abdominal Sonography for Trauma ( FAST ) . . dan intervensi endoskopi. Resolusi dan kecepatan computed tomography ( CT ) . angiografi .Dalam membuat diagnosis dan pengobatan pada anak-anak dengan cedera abdomen dilakukan oleh ahli radiologi dan endoskopi. dan intervensi perkutan .

Foto polos dari tulang belakang. dada. pernafasan. . dan panggul dilakukan setelah survei awal dan evaluasi dari ABC (jalan nafas. dan sirkulasi).Modalitas Diagnostik Evaluasi awal pada anak dengan cedera akut mirip dengan pada orang dewasa. leher. Foto polos perut dilakukan sebagai tambahan untuk evaluasi akut pasien anak dengan trauma.

Computed Tomography (CT) CT merupakan pemeriksaan non invasif. menggunakan metode akurat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi trauma abdomen. CT sangat membantu dalam mendiagnosis cedera abdomen pada saat diintubasi. . anak-anak dengan multitrauma. dan hal ini mengurangi laparotomi eksplorasi.

Jika diindikasikan harus dilakukan pertama kali tanpa kontras. CT dengan kontras pada sistem pencernaan tidak membantu dalam mendiagnosis trauma GI dan penanganan trauma akut. Trauma penetrasi sering memerlukan intervensi operasi segera. untuk menghindari pendarahan otak yang tersembunyi. .

cairan intraperitoneum bebas. penebalan dinding usus. . peningkatan dinding usus . Beberapa penemuan tetapi tidak mendukung diagnosis perforasi usus seperti pneumoperitoneum. dan dilatasi bowel.Keterbatasan dari CT abdomen pada trauma adalah ketidakmampuan untuk mengidentifikasi ruptur usus. Perlu dicurigai adanya trauma usus pada anak dengan cairan intraperitoneum tetapi tidak ada cedera organ padat yang diidentifikasi pada CT.

Pemeriksaan kantong morrison. panggul bagian kiri . termasuk anatomi rongga lien. .Sonografi Untuk Trauma Pemeriksaan sonografi dilakukan untuk pemeriksaan awal pada trauma anak saat ini sedang dievaluasi untuk menentukan penggunaan secara optimal. kavum douglas . dan gambaran subxiphoid untuk memvisualisasikan perikardium merupakan pemeriksaan standar 4D dari FAST.

tergantung pada korelasi klinis. Penelitian kembali mungkin diperlukan . dengan spesifisitas yang tinggi ( 95 % ) tetapi sensitivitas yang rendah ( 33 % ) dalam mengidentifikasi trauma usus. FAST mungkin berguna dalam mengurangi jumlah pemeriksaan CT scan yang dilakukan untuk " kemungkinan cedera kecil”.anak.FAST dapat menjadi pemeriksaan skrining yang sangat membantu pada anak . dan temuan cairan bebas dengan sendirinya bukan merupakan sebuah indikasi untuk dilakukan intervensi bedah .

Pemeriksaan FAST pada pasien anak dengan trauma tumpul mengungkapkan sensitivitas sederhana untuk hemoperitoneum. nilai FAST negatif mungkin memiliki kemungkinan yang perlu dipertanyakan sebagai satu-satunya tes diagnostik untuk menyingkirkan adanya cedera intra .abdomen. . Seorang anak dengan hemodinamik stabil dengan nilai FAST positif harus menjalani CT.

DPL  Diagnostic peritoneal lavage ( DPL ) telah menjadi andalan untuk evaluasi trauma selama lebih dari 3 dekade.  Ketidakstabilan hemodinamik dan kebutuhan darah yang hilang merupakan penentu untuk dilakukan operasi pada pasien dengan cedera organ padat. temuan darah bebas di dalam perut oleh DPL telah membatasi keadaan klinis secara signifikan. .  90 % dari trauma organ padat tidak memerlukan intervensi bedah.

pankreas.Kecepatan dan ketepatan CT lebih lanjut menurunkan indikasi untuk dilakukan DPL dalam trauma pediatrik . . dan usus terus meningkat. Sensitivitas dan tingkat ketajaman pemeriksaan CT dalam mendiagnosis cedera organ padat pada trauma duodenum. Hal ini menyebabkan penurunan penggunaan DPL untuk evaluasi pasien dengan temuan klinis trauma usus dan bukan merupakan diagnosis definitif pada CT.

Dalam evaluasi ini. atau bukti lain pada saluran pencernaan yang mengalami perforasi merupakan tanda diagnostik. kehadiran empedu. Literatur terbaru menyarankan bahwa laparoskopi dapat mendiagnosa dan dalam beberapa kasus memungkinkan penanganan bedah definitif yang akhirnya membatasi kegunaan DPL. sisa makanan. .

penurunan tingkat laparotomi non teraupetik. dengan pengurangan biaya perawatan.Penggunaan laparoskopi pada orang dewasa menunjukkan peningkatan akurasi diagnostik. . dan penurunan yang signifikan dalam masa tinggal rumah sakit. penanganan definitif terkait cedera.

Rumah Sakit Anak Illinois.Tingkat kemudahan operasi secara langsung berkaitan dengan keterampilan dokter bedah dalam melakukan laparoskopi dengan teknik yang lebih baik dan keadaan stabilitas pasien. >2 trauma karena stang menyebabkan perforasi usus yang berhasil diobati dengan cara laparaskopi. .

Kontroversi mengenai kegunaan penilaian dengan CT dan penggunaan kontras sebagai penentu hasil pada trauma hepar dan lien.Trauma Organ Padat Lien dan hepar adalah organ yang pada umumnya mengalami trauma tumpul abdomen. Beberapa penelitian terbaru melaporkan 7 % sampai 12 % penggunaan kontras pada anak-anak dengan trauma tumpul lien. . Tingkat operasi pada kelompok dengan kontras mendekati atau melebihi 20 %. Penanganan non operatif pada anak – anak dengan trauma lien yang terisolasi dan trauma pada hepar secara keseluruhan berlangsung sukses dan sekarang merupakan standar penanganan.

namun. . Studi retrospektif pertama telah menemukan embolisasi angiografikaman dan efektif pada anak-anak. kriteria pemilihan tidak dijelaskan.Hasil CT mengkhawatirkan tetapi kebanyakan pasien masih bisa disembuhkan tanpa operasi. Peran dan dampak embolisasi karena angiografi pada orang dewasa masih diperdebatkan dan masih harus dikaji pada trauma lien pada anak.

Pedoman mengenai perawatan di unit perawatan intensif ( ICU ). . lama tinggal di rumah sakit.The American Pediatric Surgical Association ( APSA ) Komite Trauma menganalisis data dari institusi kontemporer pada 832 anak yang dirawat tanpa dilakukan operasi di 32 rumah sakit di Amerika Utara pada tahun 1995-1999. dan pembatasan aktivitas fisik pada anak dengan keadaan klinis yang stabil dengan trauma lien dan hepar ( nilai CT I sampai IV) didefinisikan berdasarkan analisis ini. penggunaan radiologi untuk tindak lanjut.

fraktur non comminuted atau cedera jaringan lunak. dimasukkan selama cedera terkait tidak mempengaruhi variabel dalam penelitian.Pedoman kemudian diterapkan secara prospektif pada 312 anak dengan trauma hepar atau lien yang dirawat tanpa operasi di 16 rumah sakit pada tahun 1998-2000. . seperti dislokasi. Pasien dengan luka ringan lainnya.

. dan tingkat cedera. organ yang mengalami cidera. Semua pasien diamati selama 4 bulan setelah cedera. Pemenuhan pedoman yang diusulkan berdasarkan analisis atas usia .Pasien dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan cedera yang ditetapkan oleh penilaian CT. Hal ini penting untuk menekankan bahwa panduan ini diusulkan berdasarkan asumsi stabilitas hemodinamik. Tingkat yang sangat rendah dari pemindahan dokumen operasi mengenai stabilitas pasien penelitian.

dan 78 % untuk pembatasan aktivitas .01 ). 87 % untuk radiologi tindak lanjut . Ada peningkatan yang signifikan sesuai dari tahun 1 ke tahun 2 untuk perawatan di ICU ( 77 %dibandingkan 88 % . P < 0.02 ) dan pembatasan kegiatan ( 73 % vs 87 % .Tingkat spesifisitas pemenuhan pedoman adalah 81 % untuk perawatan di ICU. . P <0. 82 % untuk masa tinggal di rumah sakit.

9 % ) yang diterima kembali. Radiologi tindak lanjut ( P < 0. . lama perawatan di rumah sakit ( P < 0. 312 pasien dikelola secara prospektif oleh pedoman yang telah diusulkan mengalami penurunan yang signifikan pada perawatan di ICU ( P < 0.04 ) dalam setiap klasifikasi dari trauma.0006 ).Penyimpangan dari pedoman itu merupakan pilihan dokter bedah pada 90% kasus dan 10% pada pasien yang terkait. dan interval pembatasan aktivitas fisik ( P < 0. Di bandingkan dengan 832 pasien yang dipelajari sebelumnya. 6 pasien ( 1. meskipun tidak ada operasi yang diperlukan.0001 ).0001 ).

Penurunan secara signifikam masa perawatan di ICU. radiologi lanjutan. peningkatan penggunaan sumber daya . . dan pembatasan kegiatan dicapai tanpa gejala sisa yang merugikan bila dibandingkan dengan data penelitian retrospektif. dan validasi keamanan pedoman.Penggunaan pedoman pengobatan tertentu berdasarkan tingkat keparahan cedera yang dihasilkan dalam manajemen pasien. masa tinggal di rumah sakit .

Studi retrospektif dan prospektif menunjukkan bahwa pedoman APSA untuk lamanya rawat inap di rumah sakit dapat dikurangi lebih jauh lagi. Rumah Sakit Anak Arkansas melaporkan bahwa protokol yang berdasarkan keadaan hemodinamik sementara ketika penilaian CT karena trauma" disorot " pada 101 pasien dengan trauma lien terisolasi atau kerusakan hepar.001) dari yang diperkirakan oleh pedoman APSA .9 hari . Protokol mereka menghasilkan penurunan yang signifikan dalam lama rawat inap ( 3.5 vs 1. P <0. .

seperti tekanan darah rendah. penurunan output urin. takikardia. .Keputusan melakukan operasi lien atau hepar yang terbaik berdasarkan bukti kehilangan darah secara terus menerus. Tingkat keberhasilan pengobatan non operatif terhadap trauma tumpul lien dan hepar sekarang melebihi 90 % di sebagian besar pusat trauma pediatri dan trauma pada orang dewasa dengan komitmen yang sama pada pasien pediatri. dan penurunan hematokrit tidak responsif terhadap pemberian kristaloid dan transfusi darah.

Sebuah studi pada lebih dari 100 pasien dari NPTR menunjukkan bahwa tindakan non operatif pada trauma lien atau hepar bahkan diindikasikan pada pasien dengan cedera kepala jika keadaan hemodinamika pasien stabil. . Intervensi operasi pada trauma tumpul lien atau hepar adalah serupa dengan dan tanpa terkait dengan cedera kepala tertutup.

Dengan menggunakan data – data dalam jumlah besar dan disesuaikan dengan resiko. . Beberapa penelitian baru-baru ini memberikan dasar untuk memperhatikan secara berkelanjutan mengenai perbedaan pengobatan pada anak-anak dengan trauma tumpul lien.Mooney dan Forbes meninjau fakta dari New England Pediatric Trauma pada tahun 1990-an dan diidentifikasi 2.500 anak-anak dengan cedera lien . studi ini menunjukkan bahwa perbedaan tersebut terjadi secara substansial dan berkelanjutan secara regional dan nasional. Dua pertiga yang diobati oleh dokter bedah trauma non pediatri. dan 2/3 lainnya dirawat di pusat pusat non trauma.

003 ) . dan mereka yang dirawat di rumah sakit umum dengan unit pediatri memiliki kesempatan lebih besar 2. menjalani splenektomi dibandingkan dirawat di sebuah rumah sakit anak yang berdiri bebas.Dalam review serupa dengan menggunakan Kids inpatient database ( KID ) pada tahun 2000.8 ( P < 0.6 ( P < 0. . Mooney dan Rothstein menemukan bahwa meskipun dilakukan penyesuaian untuk rumah sakit dan pasien – spesifik variabel. dimana anak-anak dirawat di rumah sakit umum dewasa memiliki kesempatan lebih besar 2.013 ).

94 ) bila dibandingkan dengan mereka dirawat di sebuah rumah sakit di perkotaan. yang berisi sampel pengeluaran dari 1. . APSA pada hasilnya membandingkan pengobatan cedera lien pediatri menggunakan data yang berbeda dari empat negara. Rasio risk-adjusted odds untuk laparotomi dari 2.64 ( 95 % CI .39-1.1 ( 95 % CI .300 rumah sakit di 28 negara (mewakili 20 % dari seluruh pengeluaran rumah sakit di AS). 1. Anak-anak dengan cedera lien dirawat dipuskesmas memiliki rasio odds untuk resiko dilakukan laparatomi sebesar 1. 143.1 ) ketika membandingkan perawatan di pusat-pusat non trauma dengan pusat yang mempunyai ahli trauma.NIS ).Todd dkk menganalisis Healthcare Cost and Utilization Projects National Inpatient Sample ( HCUP .

2.3-4.600 anak-anak dengan cedera lien dari data New England Pediatric Trauma dan menemukan bahwa pasien trauma yang sama yang dirawat oleh ahli bedah non pediatri memiliki rasio odds risiko disesuaikan dengan laparotomi dari 3.kawan mengulas lebih dari 2.4 ) bila dibandingkan dengan mereka yang dirawat oleh ahli bedah anak.1 ( 95 % CI . .Mooney dan kawan .

5 juta kelahiran). Davis dkk meninjau di 175 rumah sakit di Pennsylvania dan menemukan rasio odds risiko untuk laparotomi menjadi 6. 4.4) ketika dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit umum dan rumah sakit anak-anak pada pasien anak dengan Cedera lien.2-11. Rasio odds risiko disesuaikan dengan laparotomi sekitar 5.2 ( 95 % CI . yang didukung oleh Badan Penelitian Kesehatan dan kualitas.0 ( 95 % CI .6 ) ketika perawatan di pusat-pusat trauma dewasa dibandingkan pusat trauma anak.Bowman dkk menggunakan data dari Kids Inpatient database (KID 2000) dari Healthcare cost and Utilization Project. Data administrasi ini merupakan 80% sampel dari kelahiran baru dari 2784 rumah sakit pada 27 negara ( 2. .48. 2.

167 dewasa) tentang perlakuan mereka terhadap anak-anak dengan cedera organ padat ( SOI ).3 % vs 1. . P < 0.01 ) dan memiliki ambang perpindahan jauh lebih rendah. Untuk semua skenario klinis.Sims dkk meneliti 281 ahli bedah ( 114 anak. P < 0. P < 0. 14.05.9 cedera organ padat dengan pendarahan intrkranial.2 % .0001 ). Ahli bedah dewasa juga lebih mungkin untuk mempertimbangkan setiap kemungkinan kegagalan (13. P < 0. ahli bedah dewasa lebih mungkin untuk melakukan operasi atau melakukan prosedur radiologis daripada rekan-rekan mereka di pediatri risiko relatif [RR ] : 8.6 dengan cedera organ padat terisolasi .8 SOI dengan beberapa cedera organ padat. 17.001.

P < 0.001 ) dan orang-orang dengan cedera yang tersembunyi (9. Tingkat operasi di pusat trauma dan pusat non trauma melebihi keputusan yang telah ditentukan APSA untuk semua anak dengan cedera lien ( 3 % sampai 11 % ) dan mereka yang cedera lien tersembunyi ( 0 % hingga 3 % ).3 % vs 19.0001 ) bila dibandingkan dengan pusat non trauma.3 % .Pusat trauma memiliki tingkat kemungkinan operasi yang lebih rendah untuk pasien dengan cedera yang banyak ( 15. P < 0. .Stylianos dkk menemukan bahwa hampir dua pertiga dari anak-anak dengan cedera lien dirawat di institusi dengan keahlian trauma.2 % vs 18.5 % .

8. 95 % CI .04 . .52 ).74-15.01 dibandingkan dengan mereka yang menderita trauma lainnya . P < 0.001 ).Pasien pediatri yang menderita trauma pada pankreas lebihcenderung gagal dalam manajemen non operatif odds ratio [ OR ]7.09 . 3. 3. Pasien dengan CKB (GCS = 8 ) memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi untuk manajemen non operatif ( OR 5. 95 % CI . 28 ± 17 ) dibandingkan dengan mereka yang menjalani manajemen non operatif dengan sukses ( 14 ± 10 . Para pasien yang gagal mempunyai skor keparahan cedera yang lebih tinggi ( ISS .49 .

.Ringkasan Faktanya bahwa tingkat operasi saat ini 4 sampai 6 kali lebih rendah untuk anak-anak dengan cedera lien yang ditangani oleh ahli bedah anak di fasilitas anak daripada di lingkungan lainnya Fokus program pendidikan dan pedoman manajemen berdasarkan bukti pada pusat -pusat dengan tingkat splenektomi yang tinggi mungkin menjadi langkah berikutnya untuk meningkatkan tingkat penyimpanan.

Meskipun dampak kematian di rumah sakit mungkin tidak relevan akhir – akhir ini. imunologi. dan fisiologi antara pasien trauma pediatri dan dewasa dan tidak menggabungkan perbedaan-perbedaan ini dalam protokol pengobatan mereka. pasien tersebut mempunyai resiko yang tinggi yang meliputi sepsis pasca splenektomi dan komplikasi yang berhubungan dengan laparatomi. . dikarenakan jarang terjadi. seperti adanya perlengketan pada obstruksi usus dan hernia insisional. Ahli bedah trauma dewasa yang merawat anak-anak yang cedera harus mempertimbangkan perbedaan anatomi.

Hubungan Trauma Abdomen Morse dan Garcia melaporkan keberhasilan manajemen non opretaif pada 110 dari 120 anak (91%) dengan trauma tumpul lien. . hanya 96 (3.2%) yang memiliki hubungan dengan rongga viseral. Hanya 3 dari 120 pasien tersebut (2. Tidak ada morbiditas dari trauma yang tidak diketahui atau tertundanya operasi. dan masing– masing telah dilakukan celiotomi secara dini untuk sebuah indikasi tertentu. di antaranya 22 (18%) telah dikaitkan dengan trauma abdomen.5%) megalami trauma GI. tinjauan dari NPTR dari tahun 1988-1998 mengungkapkan 2. Demikian pula.977 pasien dengan trauma abdomen viseral.

Tingginya tingkat trauma abdomen yang diamati pada pasien yang mengalami trauma karena diserang dan pada mereka dengan beberapa cedera visceral atau trauma pankreas. Perbedaan mekanisme terjadinya trauma dapat menjelaskan kejadian yang jauh lebih rendah dari trauma abdomen pada anak-anak terkait dengan trauma lien. Tidak dibenarkan untuk melakukan eksplorasi celiotomi semata-mata untuk menghindari bertambah beratnya trauma terkait pada anak-anak. .

Shilyansky dkk melaporkan dua anak dengan perdarahan yang tertunda selama 10 hari setelah terjadi trauma tumpul pada hepar mengeluhkan kuadran kanan atas yang keras dan nyeri pada bahu kanan meskipun tanda-tanda vital normal dan hematokrit normal. .Komplikasi Dari Penanganan Non Operatif Dasar bagi keberhasilan manajemen non operatif. membenarkan berkurangnya kehilangan darah pada sebagian besar pasien. awalnya adalah penghentian pendarahan secara spontan. Penulis merekomendasikan untuk terus melakukan observasi di rumah sampai gejala hilang. Tingkat perpindahan pada anak-anak dengan trauma lien yang tersembunyi atau trauma hepar kurang dari 10%.

Setelah diidentifikasi.Pseudoaneurisma lien sering kali tidak menimbulkan gejala dan tampaknya telah menghilang setelah beberapa waktu. sebenarnya risiko lien pseudoaneurisma pecah juga belum jelas. karena pencitraan rutin sebagai tindak lanjut setelah penanganan non operatif sukses sebagian besar telah ditinggalkan. Pseudoaneurismalien pasca trauma tidak diketahui. .

Angiografi dengan teknik embolisasi telah berhasil dalam mengobati lesi tersebut. Aspirasi perkutan sederhana mengarah ke tingkat kekambuhan yang lebih tinggi. Eksisi laparoskopi dan marsupialization sangat efektif untuk penanganan. . Pseudokista lien dapat mencapai ukuran yang sangat besar. mengurangi tingkat kebutuhan untuk dilakukan operasi terbuka dan hilangnya parenkim lien. yang menyebabkan rasa sakit dan gangguan GI.

Sebaliknya laparatomi emergensi. . jika ada respon yang tepat dalam melakukan resusitasi. dan pembungkus berbentuk jalan. jahitan langsung. embolisasi atau keduanya diindikasikan pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil karena kehilangan cairan dan darah.Gejala Sisa Dari Kerusakan – Strategi Pengaturan Rata – rata kerusakan organ padat yang berat dapat diobati tanpa operasi. Kebanyakan dari trauma lien dan hepar yang membutuhkan tindakan operasi setuju untuk dilakukan metode hemostasis menggunakan kombinasi kompresi manual. penggunaan agen hemostasi topikal.

Anak-anak dapat mentolerir periode isolasi vaskular untuk 30 menit atau lebih. hepar dan vena perihepatik utama dapat diisolasi dan pendarahan dikontrol. memungkinkan perbaikan dengan jahitan secara langsung atau ligasi vena yang terluka. kateter balon endovaskular baru dapat berguna untuk oklusi pembuluh darah sementara untuk memungkinkan akses ke vena cava supra hepatik. . Dengan cara seperti ini. Meskipun rumit dan berbahaya teknik shunting atriocaval sebagian besar telah ditinggalkan. Bypass vena mungkin berguna tapi jarang terjadi untuk trauma. asalkan volume darah mereka diisi kembali.

koagulopati. dan asidosis.Morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan trauma hepar berat karena kehilangan darah masif dan penggantian sejumlah besar darah dingin. keadaan yang mengancam jiwa secara fisik dan konsekuensi metabolik tidak dapat dihindari. Meskipun tim bedah dapat mengimbangi kehilangan darah. Konsekuensi dari operasi yang lama dengan dengan pendarahan masif. pergantian darah termasuk hipotermia. dan banyak dari pasien yang sakit kritis yang masih bertahan hidup walaupun secara fisik keadaan fisik mereka telah lemah. .

Sebuah tinjauan dari multi institusi mengidentifikasi proses kehilangan darah sebagai penyebab kematian intraoperatif pada 82 % dari537 pasien di delapan pusat pendidikan trauma.18 . . Moulton dan kawan – kawan melaporkan tingkat kelangsungan hidup hanya 5 dari12 (42 % ) pada kasus operasi retrohepatik yang dilakukan berturut – turut atau kerusakan parenkim hepar yang berat pada anak . Rata – rata pH adalah 7.anak. dan suhu tubuh rata-rata adalah 32 0C sebelum terjadi kematian.

. dan asidosis terjadi. terutama ketika hipotermia. pengenceran. Koagulopati letal yang dikarenakan kombinasi kerusakan. koagulopati. hipotermia. dan sering kali dampak fisiologis dan metabolik menghalangi penyelesaian tindakan. dan asidosis dapat dengan cepat terjadi.Mempertahankan kestabilan fisiologis selama tindakan operasi dengan pendarahan berat merupakan tantangan berat bahkan untuk tim bedah yang paling berpengalaman. Triad ini menciptakan lingkaran setan di mana setiap gangguan memperburuk keadaan yang lain.

aktivasi platelet. dan penelitian eksperimental menunjukkan bahwa faktor rekombinan VII mempertahankan efektivitas suhu pada hipotermia.Penelitian eksperimental telah menetapkan perubahan dalam proses pro koagulan dan proses enzim antikoagulan. . Pemberian infus untuk mengaktifkan faktor VII pada anak-anak dengan perdarahan masif telah menjanjikan dalam beberapa laporan kasus. dan adhesi platelet dengan derajat yang bervariasi dari hipotermia.

angiografi dengan emboliasasi . dan rata-rata jumlah cairan infus yang diberikan di ruangan operasi sebanyak 15 L.Meningkatnya stabilitas pada keadaan fisiologi dam metabolik pada operasi perut darurat telah memastikan adanya perkembangan dalam hal performa. dan endoskopik empedu yang cepat. Asensio dkk melaporkan pada 103 pasien sebagian besar mengalamidengan trauma penetrasi derajat IV dan V yang ditangani antara tahun 1991 dan 1999. . penutupan sementara perut. Rata – rata kehilangan darah diperkirakan adalah 9. termasuk laparotomi yang singkat.4 L . balutan perihepatik. rencana perawatan multidisiplin.

40% pasien yang melewati penanganan pendarahan pada operasi awal telah melakukan angiografi embolisasi pasca operasi. pendekatan dengan multidisplin. . Trauma tersebut masih mematikan meskipun telah ditangani dengan baik.Trauma hepar yang tersembunyi terjadi pada 50 % pasien dengan operasi pertama. Angka kelangsungan hidup adalah 63 % pada pasien dengan luka derajat IV dan 24 % pada pasien dengan luka derajat V. diatur.

tindakan alternatif pada pasien yang keadaannya tidak stabil di mana terjadi kehilangan darah lebih lanjut menyebabkan keadaan pasien tidak dapat dipertahankan. Laparotomi dengan gangguan hemostasis.. .Fakta menunjukkan secara signifikan bahwa nekrosis hepar dan kebocoran empedu yang terjadi mencapai 30% sampai 40% pada pasien. sehingga perlu ditekankan kehati – hatian dalam memilih pasien. diperlukan resusitasi sebelum direncanakan operasi kembali.

Gabungan dari beberapa teknik untuk menghilangkan kerusakan memberikan waktu untuk mengoreksi hipotermi.Sebuah tinjauan pada 700 pasien dewasa yang dirawat dengan penutupan abdomen dari beberapa institusi menunjukkan hemostasis pada 80%. asidosis. kelangsungan hidup mencapai 32% sampai73 %. dan abses perut yang terjadi dari 10 % menjadi 40 %. . dan koagulopati tanpa menganggu mekanisme pernapasan. Penutupan dengan silastic dilakukan untuk mengakomodasi usus sampai kumpulan kerusakan bisa diangkat. Pasien dipulihkan secara sempurna.

dan bagian dalam pankreas pada 1 pasien. . dan penutupan kulit sementara atau bahan prostetik digunakan pada 10 pasien lainnya. Balutan untuk mengontrol perdarahan dilakukan pada 21 dari 22 pasien ( 95 % ).Satu tinjauan melaporkan bahwa 22 bayi dan anak-anak ( usia 6 hari sampai 20 tahun ) dengan perdarahan yang sulit ditangani dengan balutan pada abdomen. Penutupan fasia primer dilakukan pada 12 pasien ( 55 % ). retroperitoneum atau panggul pada 7 pasien. Tempat anatomi yang mengalami perdarahan adalah hepar atau vena hepatik pada 14 pasien. Pengangkatan balutan tersebut dimungkinkan dalam waktu 72 jam pada 18 pasien ( 82 % ).

salah satu kegagalan jantung karena anomali jantung kompleks. 6 dari 7 pasien dengan sepsis pada abdomen selamat. Dua kematian disebabkan kegagalan multiorgan.Tujuh pasien ( 32 % ) mengalami abses abdomen atau abses pelvis. dan semua berhasil disembuhkan setelah dilakukan laparotomi ( 6 pasien ) atau perkutan ( 1 pasien ). Secara keseluruhan. dan satunya dikarenakan pendarahan .18 pasien ( 82 % ) selamat.

Penutupan panggul sebelum peritoneum pada

pasien dengan hemodinamik tidak stabil
dengan fraktur panggul adalah penggunaan
teknik
unik
lain
dengan
melakukan
tamponade untuk menghentikan pendarahan
yang mengancam jiwa. Meskipun keberhasilan
balut tekan pada abdomen terus berlanjut,
tetapi tindakan ini mungkin berkontribusi
terhadap morbiditas secara signifikan, seperti
sepsis pada intraabdominal, kerusakan organ,
dan peningkatan tekanan intra - abdominal.

Penting

untuk menekankan bahwa keberhasilan
laparotomi singkat dan rencana operasi kembali
tergantung
pada
keputusan
awal
dalam
menggunakan strategi ini sebelum syok irreversibel
terjadi. Kapan digunakan sebagai pilihan terakhir
setelah upaya memperpanjang hemostasis telah
gagal, pembalutan pada abdomen juga telah gagal.
Kriteria fisiologis dan anatomi telah diidentifikasi
sebagai
indikasi
untuk
melakukan
tindakan
pembalutan pada abdomen. Sebagian besar fokus
ini merupakan parameter intraoperatif, termasuk
pH ( = 7,2) , suhu inti ( < 35 0C ), dan nilai-nilai
koagulasi ( waktu protrombin> 16 detik ), pada
pasien dengan perdarahan banyak membutuhkan
sejumlah besar darah untuk ditransfusi.

Manfaat yang jelas dari hemostasis disediakan

oleh
balutan
juga
menyeimbangkan
perlawanan terhadap efek dari potensi yang
dapat merusak dari peningkatan tekanan intraabdomen pada ventilasi, curah jantung
jantung, fungsi ginjal, sirkulasi mesenterika,
dan tekanan intrakranial. Penanganan tepat
waktu pada sindrom kompartemen abdominal
dapat menjadi titik kritis untuk tindakan
menyelamatkan pasien. Penutupan dinding
perut sementara pada waktu dilakukan
pembalutan yang dapat mencegah sindrom
kompartemen abdominal.

TERIMA KASIH .