You are on page 1of 10

HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN STATUS GIZI TERHADAP KEJADIAN

KANKER OVARIUM DI RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH


Rhaisya Keumala Putri1, Hasanuddin2, Azmunir3.
1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala; 2) Staf Pengajar Kedokteran
Universitas Syiah Kuala/SMF Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh; 3) Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross
sectional. Besar sampel adalah 31 orang. Teknik sampling yang digunakan
Nonprobability Sampling dengan rancangan accidental sampling. Data diperoleh dengan
wawancara menggunakan kuisioner. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel
dan dianalisis menggunakan Uji Chi Square pada taraf signifikasi = 0,05. Dari hasil
penelitian yang telah dilaksanakan di ruang rawat kebidanan dan ruang rawat kemoterapi
RSUDZA Banda Aceh dari bulan Oktober sampai November 2014 diperoleh jumlah
penderita kanker ovarium adalah sebanyak 31 orang, dengan usia tertua 84 tahun dan
termuda 14 tahun. Dari tabel diketahui persentase usia penderita kanker ovarium
terbanyak di kategori usia 45 tahun sebanyak 17 orang dengan P-value 0,000 yang
bermakna terdapat hubungan antara usia dengan kanker ovarium. Kategori usia 45 tahun
lebih dominan menderita kanker ovarium stadium lanjut dan usia 45 tahun dominan
pada stadium awal. Persentase paritas terbanyak adalah kategori primipara, multipara dan
grandemultipara dibandingkan dengan nulipara yaitu sebanyak 20 orang dengan P-value
0,013 yang bermakna terdapat hubungan antara paritas dengan kanker ovarium. Penderita
dengan status paritas primi/multi/grandemultipara lebih dominan menderita kanker
ovarium stadium lanjut dibandingkan dengan penderita dengan status paritas nulipara.
Penderita dengan status gizi nonobesitas sebanyak 18 orang dan obesitas sebanyak 13
orang. Penderita dengan status gizi nonobesitas dan obesitas cenderung menderita kanker
ovarium stadium lanjut. Nilai p-value untuk status gizi adalah 0,452 yang bermakna tidak
terdapat hubungan antara status gizi dengan kanker ovarium.
Kata kunci: kanker ovarium, usia, paritas, status gizi

ABSTRACT
This research is observational analitical study with cross sectional approuch. The total of
the sample are 31 patients. The technique of sampling that be used was Nonprobability
Sampling with design is Accidental Sampling. Data was of obtained by interviewing with
kuesioner. Data obtained was presented on tabel and analyzed by using Chi Square Test
at the level of significant. Based on the result of the research that has been conducted at
obstetri and gynecology departmentb RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh started from
october to november 2014 obstained the total of Ovarian Cancer patients were 31
patients, with the oldest age is 84 years old and the youngest age is 14 years old. Base on
the table discovered that the age percentage of ovarian cancer patients was the most on
the age category of >45 years old were 17 patients with p value 0,000 that was meant
contained the relationship between the ages to the ovarian cancer. The age category of
<45 was more dominant suffered from ovarian cancer at advanced stage and the age of
45 years old was more dominant at the early stage. The most percentage of parity was
primi/multi/grandemultipara compared to nulipara were 20 patients with p value... which
was meant contained the relationship between parity with ovarian cancer. The patient
with primi/multi/grandemultipara parity status was dominant suffered from ovarian

cancer at advance stage compared to the patient at parity nulipara status. The patient
with nutrition nonobese status were 18 patient and the obese patient were 13 patients.
The patients with nutrition nonobese status and obese status tend to suffer from ovarian
cancer at advance stage. The score of p-value for nutrition status was 0,452 that meant
there was no relationship between nutrition status with the ovarian cancer.
Key words: ovarian cancer, parity, nutrition status
PENDAHULUAN

Kanker ovarium adalah kanker kandungan dengan penderita terbanyak


setelah kanker serviks dan penyebab kematian akibat kanker saluran genital yang
mengalahkan angka kematian akibat kanker serviks. Angka kejadian kanker
ovarium di dunia pada tahun 2008 adalah sebanyak 9,4% dan masih termasuk
masalah umum di dunia karena angka kematiannya yang tinggi (1).
Menurut Johari dan Siregar 2013, kasus baru kanker ovarium tercatat
sebanyak 224.747 kasus dan 140.163 kematian akibat kanker ovarium pada tahun
2008. Di Amerika Serikat terdapat 22.280 kasus baru kanker ovarium dan 15.500
kematian pada tahun 2012 (2).
Didalam jurnal Johari dan Siregar 2013, berdasarkan data dari The
International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2008 dalam
jurnal Johari dan Siregar, kasus kanker ovarium di Indonesia menduduki urutan
ke-5 dengan insidensi 6,2% dari 24 jenis kanker yang dilaporkan (2). Berdasarkan
Riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4% per mil, dan
untuk Provinsi Aceh sebanyak 1,4% (berdasarkan wawancara semua umur
menurut diagnosis dokter) (3). Insidensi rata-rata pada usia <50 tahun adalah 4,7
per 100.000 dan 29,6 per 100.000 pada usia 50-64 tahun (4). Data dari Instalasi
Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainal Abidin Banda Aceh, angka
kejadian kanker ovarium pada tahun 2013 sebanyak 115 orang dan yang tertinggi
pada usia 45-64 tahun sebanyak 71 orang (5).
Menurut FIGO (The International Federation og Gynecology and
Obstetrics) di dalam Widayati et al, angka kematian mencapai 11,1% untuk
stadium I, 25,1% untuk stadium II, 58,5% untuk stadium III, dan 82,1% untuk
stadium IV (6). Hingga kini, belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk
memeriksa adanya keganasan kanker ovarium. Deteksi yang dapat dilakukan
adalah dengan USG, tetapi cara itu sulit diterapkan secara massal karena biaya
yang cukup mahal; berbeda dengan kanker serviks yang bisa dideteksi dini
dengan Pap smear (7).
Kanker ovarium lebih dominan diderita oleh orang tua; wanita
postmenopause. Lebih dari 80% didiagnosis pada wanita berusia lebih dari 50
tahun. Ada peningkatan tajam pada insiden setelah menopause. Usia terbanyak
pada wanita 80-84 tahun (69 per 100.000) (8). Hal ini berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Colaborative Group on Epidemological Studies of
Ovarian Cancer menyebutkan bahwa usia saat didiagnosa kanker ovarium lebih
banyak pada usia kurang dari 60 tahun sebanyak 2925 dan usia lebih dari 60 tahun
sebanyak 1662 orang (9).
Penelitian epidemiologi yang dilakukan pada 25.157 wanita dengan kanker
ovarium dan 81.311 wanita bukan kanker ovarium dari 47 penelitian epidemiologi

yang telah diperiksa dan dianalisis ulang menyimpulkan bahwa semakin besar dan
semakin obes seorang wanita, semakin besar mereka beresiko terkena kanker
ovarium. Resiko ini terus meningkat pada pengguna terapi pergantian hormon
pascamenopause (10).
Pada penelitian Kurian et al dalam jurnal Histologic types of epithelial
ovarium cancer menyebutkan bahwa wanita yang pernah melahirkan atau yang
telah memiliki anak memiliki resiko yang lebih rendah daripada wanita yang
belum melahirkan. Ada beberapa respon hubungan antara peningkatan resiko dan
jumlah anak. Penelitian ini juga menyebutkan pengurangan resiko juga terjadi
pada kehamilan tidak lengkap (11).
Penelitian yang dilakukan oleh Johari dan Siregar di RSUP H. Adam Malik
Medan pada bulan Juni-Juli 2012 dengan keseluruhan penderita kanker ovarium
dalam penelitian ini adalah 337 orang, mengemukakan bahwa penderita kanker
ovarium paling banyak dijumpai pada kelompok usia antara 35-50 tahun sebanyak
142 (42,1%). Pada penelitian Johari dan Siregar ini juga dikemukakan paling
banyak terjadi pada wanita nulipara, 91 orang (27,0%). Hal ini bisa terjadi karena
proses ovulasi yang terjadi berulang-ulang pada wanita yang tidak hamil
menyebabkan iritasi pada ovarium. Dari segi Indeks Massa Tubuh (IMT), kanker
ovarium paling banyak pada wanita dengan IMT normal, sebanyak 80 orang (2).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mengetahui
seberapa jauh hubungan antara usia, paritas dan status gizi, terutama Indeks
Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian kanker ovarium.
METODOOGI PENELITIAN
Jenis dan rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analitik
observasional dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat
Kebidanan dan Ruang Rawat Kemoterapi RSUDZA Banda Aceh pada 1 Oktober sampai
30 November 2014.
Sampel dalam penelitian ini diambil dari sebagian populasi yang ditentukan

dengan cara Nonprobability Sampling dengan rancangan Accidental Sampling


yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi:
1. Pasien kanker ovarium yang bersedia menjadi responden
Kriteria eksklusi:
1. Pasien kanker ovarium dengan keadaan umum tidak stabil.

Besar sampel ditentukan berdasarkan rentang waktu selama tanggal 1


Oktober sampai 30 November tahun 2014.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuisioner
yang diberikan dalam bentuk wawancara. Kuisioner berisi tentang pertanyaan
yang berhubungan dengan usia, paritas, status gizi yang menjadi faktor resiko

terjadinya kanker ovarium. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah
data primer dan data sekunder. Data primer berupa pengisian kuisioner melalui
wawancara. Data sekunder didapatkan dari status pasien di Ruang Rawat
Kebidanan dan Ruang Rawat Kemoterapi RSUDZA Banda Aceh. Penelitian ini
menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk
mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Analisis bivariat
digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel. Analisis data yang
digunakan adalah Chi-Square. Kriteria hubungan ditetapkan berdasarkan p value
(Probabilitas) yang dihasilkan pada 0,05.
HASIL
Total responden pada penelitian ini sebanyak 31 pasien. Karakteristik
responden pada penelitian ini adalah usia, paritas, status gizi, pendidikan, riwayat
perkawinan, pekerjaan, penghasilan, usia saat melahirkan anak pertama, usia saat
menarche, penggunaan alat kontrasepsi dan riwayat keluarga. Hasil penelitian
terdapat pada tabel berikut ini.
Tabel 1 Karakteristik Responden
Variabel
Usia
30 tahun
31-45 tahun
46-60 tahun
>60 tahun
Paritas
Nulipara
Primipara
Multipara
Grandemultipara
Status Gizi
Kurang
Normal
Obesitas
Kanker Ovarium
Stadium Awal
Stadium Lanjut

Frekuensi

Persentase (%)

9
8
11
3

29,0
25,8
35,5
9,7

11
3
8
9

35,5
9,7
25,8
29,0

10
8
13

32,3
25,8
41,9

10
21

32,3
67,7

Tabel 2 Karakteristik Responden


Variabel

Frekuensi

Persentase
(%)

Usia
30 tahun
31-45 tahun
46-60 tahun

9
8
11

29,0
25,8
35,5

>60 tahun
Paritas
Nulipara
Primipara
Multipara
Grandemultipara
Status Gizi
Kurang
Normal
Obesitas
Kanker Ovarium
Stadium Awal
Stadium Lanjut

9,7

11
3
8
9

35,5
9,7
25,8
29,0

10
8
13

32,3
25,8
41,9

10
21

32,3
67,7

Tabel 3 Hubungan Usia dengan Kanker Ovarium

Usia
40
tahun
>40
tahun
Total

Stadium Awal
n
%
10
90,9%

Kanker Ovarium
Stadium Lanjut
n
%
1
9,1%

Total
N
11

%
100,0%

,0%

20

100,0%

20

100,0%

10

32,3%

21

67,7%

31

100,0%

P-value

,000%

Tabel 4 Hubungan Paritas dengan Kanker Ovarium


Kanker Ovarium
Stadium Awal
Stadium Lanjut

Total

Paritas
Nulipara
Primi/Multi/
Grandemultipara
Total

N
7
3

%
63,6
15,0

n
4
17

%
36,4
85,0

N
11
20

%
100,0
100,0

10

32,3

21

67,7

31

100,0

Pvalue

0,13

Tabel 5 Hubungan Status Gizi dengan Kanker Ovarium

Status
Gizi
Non
Obesitas
Obesitas
Total

Stadium Awal

Kanker Ovarium
Stadium Lanjut

Total

PValue

7
3
10

38,9
23,1
32,3

11
10
21

61,1
76,9
67,7

18
13
31

100,0
100,0
100,0

0,452

PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan kategori usia 46-60
tahun merupakan kategori usia terbanyak dengan persentase 35,5 %. Diikuti
dengan kategori usia 30 tahun sebanyak 9 orang (29,0%). Usia tertua adalah 84
tahun dan termuda adalah 14 tahun. Pasien dengan nuliparitas sebanyak 11 orang
(35,5%) merupakan status paritas terbanyak yang menderita kanker ovarium.
Status gizi kategori obesitas merupakan status gizi terbanyak sebesar 13 orang
(41,9%) dan hanya berbeda sedikit dengan status gizi kurang yaitu sebesar 10
orang (32,3%). Pendidikan SMA sebanyak 12 oang (38,7%) merupakan
pendidikan terakhir yang terbanyak yang di dapatkan pasien. Lebih dari setengah
total pasien merupakan pasien dengan riwayat perkawinan yang sudah kawin,
yaitu sebesar 26 orang (83,9%). Pasien yang tidak bekerja adalah sebanyak 19
orang (61,3%) dan wiraswasta sebanyak 10 orang (32,3%). Pasien yang tidak
bekerja sudah pasti tidak memiliki penghasilan sendiri yaitu sebanyak 18 orang
(58,1%). Hanya 6 orang (19,4%) pasien yang memiliki penghasilan di atas UMR.
Pasien dengan stadium lanjut lebih banyak yaitu sebesar 21 orang (67,7%). Usia
20-25 tahun saat melahirkan anak pertama adalah kategori usia terbanyak
sebanyak 25 orang (80,6%). Pasien kanker ovarium setengahnya tidak
menggunakan alat kontrasepsi yaitu 20 orang (64,5%). Hampir seluruh pasien
tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kanker ovarium (30 orang,
96,8%) dan hanya 1 pasien yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker
ovarium. Uji statistik dilakukan dengan menggabungkan kategori di setiap
variabel dikarenakan jika menguji dengan hasil ukur sebelumnya, proses uji
statistik tidak bisa dilakukan karena 3 dan 5 cell menghasilkan lebih dari 20%
sehingga harus memakai Fishers Exact Test sesuai syarat uji Chi-Square bahwa
jika lebih dari 20% harus memakai Fishers Exact Test. Tabulasi silang dilakukan
dengan membagi hasil ukur sebanyak 2 pada tiap variabel bebas.
Usia dibagi menjadi 40 tahun dan >40 tahun. Paritas dibagi menjadi
nulipara dan primipara/multi/grande. Status gizi menjadi non obesitas dan
obesitas. Hal ini dilakukan untuk dapat menguji statistik dengan uji Chi-Square.
Ini tidak disalahkan karena sesuai dengan syarat uji Chi-Square.
Hubungan Usia dengan Kanker Ovarium
Dari hasil penelitian, insiden kanker ovarium tertinggi terjadi pada usia 4660 tahun yaitu sebanyak 11 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Collaborative Group on Epidemological Studies of Ovarian
Cancer Tahun 2012 menyebutkan bahwa usia saat didiagnosa kanker ovarium
lebih banyak pada usia kurang dari 60 tahun sebanyak 2925 dan usia lebih dari 60
tahun sebanyak 1662 orang (9). Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Johari dan Siregar Tahun 2013 di RSUP H. Adam
Malik Medan yang menemukan bahwa penderita kanker ovarium paling banyak
dijumpai pada kelompok usia antara 35-50 tahun sebanyak 142 (42,1%) (2). Hasil
ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Statistical Information Team
pada tahun 2011 yang menemukan bahwa kanker ovarium lebih dominan diderita
oleh orang tua; wanita postmenopause. Lebih dari 80% didiagnosis pada wanita

berusia lebih dari 50 tahun. Ada peningkatan tajam pada insiden setelah
menopause. Usia terbanyak pada wanita 80-84 tahun (69 per 100.000) (8). Hal ini
terjadi karena peningkatan usia memberikan waktu masa untuk terjadinya
perubahan genetik pada sel epitel permukaan pada ovarium (2).
Usia yang lebih muda dikaitkan dengan usia menars yang merupakan faktor
risiko terjadinya kanker ovarium, hal ini dikaitkan dengan produksi hormone oleh
ovarium yaitu estrogen. Estrogen terdiri dari 3 jenis hormone yaitu estradiol,
estriol dan estrion. Estradiol dan estriol diduga bersifat karsinogenik, hal ini
berhubungan dengan lamanya paparan oleh hormon estrogen, namun teori lain
mengaitkan menars dengan kanker ovarium adalah teori gonadotropin, yang
menjelaskan bahwa hormon gonadotropin berperan dalam proses karsinogenesis
ovarium melalui perangsangan hormone FSH (follicle stimulating hormone) dan
LH (Luteinizing hormone) yang berlebihan pada jaringan ovarium. Hipotesis ini
konsisten dengan efek proteksi dari pil kontrasepsi dan observasi terhadap
kebanyakan kasus-kasus kanker ovarium tipe epithelial yang meningkat pada usia
postmenopause setelah lonjakan kadar hormon gonadotropin. Hormon
gonadotropin seperti FSH mengaktifkan jalur mitogenik dan merangsang
proliferasi sel epitel ovarium. Adanya hormon androgen dan estrogen yang
berlebihan dihubungkan dengan progresi dan kemungkinan perkembangan kanker
ovarium (12).
Hubungan Paritas dengan Kanker Ovarium
Penelitian ini mendapatkan sebanyak 35,5% dari pasien yang memiliki status
paritas nulipara. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
penelitian Kurian et al 2005 dalam jurnal Histologic types of epithelial ovarium
cancer yang menemukan bahwa wanita yang pernah melahirkan atau yang telah
memiliki anak memiliki resiko yang lebih rendah daripada wanita yang belum
melahirkan (11).
Hasil penelitian ini juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan
Montes A et al 2010 dalam jurnal Epidemiology and Etiology of Ovarian Cancer
pada tahun 2010 yang menyebutkan salah satu faktor resiko terjadinya kanker
ovarium adalah nuliparitas (13).
Saat paritas terjadi pelepasan sel ovum dari ovarium sehingga menyebabkan
produksi estrogen untuk poliferasi epitel ovarium. Tingginya paritas menjadi
faktor protektif terhadap kanker ovarium, sesuai dengan teori incessant ovulation
yang menyebutkan bahwa pada saat terjadinya ovulasi akan terjadi kerusakan
epitel ovarium. Untuk proses perbaikan ini membutuhkan waktu tertentu. Apabila
kerusakan epitel ini terjadi berkali-kali terutama jika sebelum penyembuhan
sempurna tercapai, atau dengan kata lain masa istirahat sel tidak adekuat, maka
proses perbaikan tersebut akan mengalami gangguan sehingga dapat terjadi
transformasi menjadi sel-sel neoplastik. Hal ini dapat menjelaskan bahwa wanita
yang memiliki paritas lebih dari dua kali akan menurunkan risiko terkena kanker
ovarium (4).

Hubungan Status Gizi dengan Kanker Ovarium


Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pasien dengan status gizi non obesitas
lebih banyak menderita kanker ovarium yaitu sebanyak 18 orang dan hanya
berbeda sedikit dengan pasien yang status gizi obesitas sebanyak 13 orang. Hal ini
menggambarkan tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan
kanker ovarium.
Hasil ini berbeda dengan penelitian epidemiologi yang dilakukan oleh
Franco 2012 pada 25.157 wanita dengan kanker ovarium dan 81.311 wanita
bukan kanker ovarium dari 47 penelitian epidemiologi yang telah diperiksa dan
dianalisis ulang menyimpulkan bahwa semakin besar dan semakin obes seorang
wanita, semakin besar mereka beresiko terkena kanker ovarium (10). Obesitas
meningkatkan estrogen dalam tubuh. Peningkatan kadar estrogen ini
mengakibatkan aktivasi jalur Phosphatidylinositol-3-kinase (PI3K), MitogenicActivated Protein Kinase (MAPK), dan transakripsi Faktor c-myc (Chien) dan
melalui reseptor estrogen jalur lain seperti Insulin-like growth factor-1 (IGF-1),
Transforming growth factor- (TGF-), dan Epidermal Growth Factor Receptor
(EGFR). Estrogen juga bekerja melalui jalur anti-apoptosis yaitu Bcl-2, yang
merupakan suatu protein anti-apoptosis dan meningkatkan kemampuan invasif sel
melalui protein fibulin-1, cathepsin D dan kalikreins. (choi) Reseptor estrogen
juga berperan penting pada proses poliferasi sel dimana Estrogen Reseptor- (ER) berperan dalam proses proliferasi ovarium, dan Estrogen Reseptor- (ER-)
berperan dalam proses modulasi dan differensiasi sel. Peningkatan estrogen
tersebut terjadi melalui suatu molekul Vascular Endothelial Growth Factor
(VEGF) yang selanjutnya dapat meningkatkan kemampuan adhesi sel dan
meningkatkan kemampuan sel dalam melakukan migrasi yang menyebabkan
proliferasi abnormal pada sel yang membelah sehingga sel dapat berubah menjadi
ganas (14).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Ruang Rawat Kebidan dan
Ruang Rawat Kemoterapi RSUDZA Banda Aceh diperoleh kesimpulan bahwa
terdapat hubungan antara usia dan paritas terhadap kanker ovarium dan tidak ada
hubungan yang bermakna antara status gizi terhadap kanker ovarium.
SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disampaikan saransaran sebagai berikut:
1. Perlu lebih disosialisasikan gejala awal dari kanker ovarium untuk
mengurangi jumlah penderita.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu penelitian yang
lebih lama dan jumlah sampel yang lebih banyak agar mendapatkan
representatif lebih baik.
3. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memakai kuisioner yang lebih
baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiana ING, Suhatno , Hoesin F, Budiono. Profil Ekspresi Caspase-3 pada Kanker
Ovarium Tipe Epitel. Indonesian Journal of Cancer. 2013 Juli-September; 7: 85-91.
2. Johari AB dan Siregar FG. Insidensi Kanker Ovarium berdasarkan Faktor Risiko di
RSUP Haji Adam malik Tahun 2008-2011. E - Jurnal FK USU. 2013; 1.
3. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan Penelitian dan Pengembangan. [Online].;
2013. Available from: depkes.go.id;: 85-87.
4. Ferraro S, Braga F, Lanzoni M, Boracchi P, Biganzoli EM, Panthegini M, et al.
Serum Human Epididymis Protein 4 vs Carbohydrate Antigen 125 for Ovarian
Cancer Diagnosis. Journal of Clinical Pathology. 2013; 4(66).
5. Instalasi Rekam Medis. Laporan Pasien Rawat Inap. Banda Aceh: RSUD dr. Zainal
Abidin; 2013;: 4-5.
6. Widayati P, Ariyanto A, Lestari W. Produksi Kit Immunoradiometricassay (IRMA)
CA-125 untuk Deteksi Dini Kanker Ovarium. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia.
2009;: 91-97.
7. Syarifudin dan Hamidah. Kebidanan Komunitas Jakarta: EGC; 2009;: 244.
8. Statistical Information Team. Cancer Research UK. ; 2011;: 1.
9. Collaborative Group on Epidemiological Studies of Ovarian Cancer. Ovarian cancer
and smoking: individual participant meta-analysis including 28114 women with
ovarian cancer from 51 epidemiological studies. Lancet Oncol. 2012; 13: 952.
10. Franco EL. Ovarian Cancer and Body Size: Individual Participant MEta-Analysis
Including 25.157 Women with Ovarian Cancer from 47 Epidemiological Studies.
PLos Medicine. 2012; 9(4): 7.
11. Kurian A, Balise RR , McGuire V, Whittemore A. Histologic types of epithelial
ovarium cancer: have they different risk factors? Gynecologic Oncology. 2005; 2:
20-30.
12. Choi JH, Wong AST, Huang HF, Leung PC. Gonadotropins and Ovarian Cancer.
Endocrine Reviews. 2007; 4(28): 440-461.
13. Montes A, Jesus G, Miguel N, Miguel A, Susana A, Jesus G, et al. Epidemiology and
Etiology of Ovarian Cancer. Ovarian Cancer - Basic Science Perspective. 2010;: 1-17.
14. Erin RK, Wong K. Steroids Hormones and Ovarian Cancer, Steroids-Clinical Aspect.
InTech. 2011; 1: 58-64.