You are on page 1of 23

MOUTH ULCERS

INTRODUCTION
Mouth Ulcers adalah menghilangnya atau
adanya erosi pada membran mukosa
rongga mulut yang terkadang dapat
dilapisi oleh suatu lapisan putih .
Mouth Ulcers disebut juga Recurrent
Aphthous Stomatitis .

Pasien dengan Mouth Ulcers akan mengeluh


kekambuhan dari satu atau lebih ulkus oral
yang menyakitkan pada interval mulai dari
hitungan hari ke bulan.
Mouth Ulcers biasanya dimulai di masa
kanak-kanak atau remaja dan dapat
berkurang baik frekuensi dan tingkat
keparahan dengan bertambahnya usia.

Ulkus yang disebabkan oleh Mouth Ulcers


terbatas pada mukosa lembut mulut, atau
mukosa nonkeratinized yang tidak
menempel pada tulang. Daerah ini
meliputi mukosa buccal dan labial, lateral
dan ventral lidah, dasar mulut, palatum
molle, dan mukosa orofaringeal.

Daerah yang tidak terpengaruh oleh Mouth


Ulcers adalah palatum durum dan gingiva
yang menempel pada tulang . Lesinya tidak
terbatas pada rongga mulut, lesi ini juga
mungkin ditemukan di tempat lain pada
saluran pencernaan. Lesi yang muncul di
luar rongga mulut sering dikaitkan dengan
gangguan sistemik

Mouth Ulcers dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan ukuran ulkus


dan tingkat keparahan penyakit :
Aphthae Minor : Diameternya kurang dari 10 mm , bisa satu atau
multiple . Jenis ini yang sering kita jumpai dan sembuh
sepenuhnya dalam 7 sampai 10 hari. Lesi ini dangkal dan
bentuknya bulat/oval dengan warna abu-abu atau kuning. Sangat
menyakitkan sekitar 4 hari, kemudian sembuh sepenuhnya tanpa
bekas luka setelah beberapa hari.

Aphthae Mayor :Jarang


terjadi, ulkus tidak teratur
dengan ukuran 1 sampai 3 cm.
Lesi ini bertepi tinggi dan
membutuhkan waktu 4 sampai
6 minggu untuk sembuh.
Aphthae Mayor dapat
meninggalkan jaringan parut
yang luas . Sifat yang tidak
teratur dan kronis dari lesi ini
sering memerlukan biopsi
untuk menyingkirkan
karsinoma sel skuamosa.

Aphthae Herpetiform : Juga jarang, dan terdiri dari satu


sampai dengan 150 lesi sangat kecil (1-3mm) . Lesi ini
biasanya terjadi pada infeksi Herpes Simplex virus .
Ulkus akan
sembuh
sepenuhnya
dalam waktu
7 sampai 10
hari.

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Etiologi dan patofisiologi Mouth Ulcers belum diketahui pasti. Kejadian
kasus ini bukan oleh karena satu faktor saja (multifaktorial)
Lesi ini terjadi dalam lingkungan yang memungkinkannya
berkembang menjadi ulcer. Faktor-faktor ini terdiri dari trauma, stres,
hormonal, genetik, kelainan haematologi , gangguan
gastrointestinal , alergi , infeksi mikroorganisme serta faktor
imunologi
(Scully et al ., 2003: Kilic, 2004, Cawson, 2008 ).
Umumnya ulcer terjadi karena tergigit saat bicara, kebiasaan buruk
(bruxism), atau tergigit saat mengunyah. Bisa juga terjadi akibat
perawatan gigi , pemasangan gigi tiruan yang tidak pas dan akibat
makanan dan minuman yang terlalu panas . Trauma bukan
merupakan faktor yang berhubungan dengan berkembangnya Mouth
Ulcers pada semua penderita , tetapi trauma dapat dipertimbangkan
sebagai faktor pendukung
(Houston, 2009).

Pada beberapa wanita mengalami rekurensi Mouth Ulcers


setiap bulan yang berhubungan dengan perubahan
hormon, selalu ditandai dengan peningkatan kadar
progesteron saat fase luteal siklus menstruasinya. Lesi
ulcer ini sering terlihat di masa pra menstrual bahkan
banyak mengalami berulang kali. Keadaan ini diduga
berhubungan dengan faktor hormonal antara lain hormon
estrogen dan progesteron (Lewis & Lamey , 1998,
Cawson 2008).
Beberapa mikroorganisme di dalam rongga mulut diduga
juga berperan penting dalam patogenesis Mouth Ulcers ,
terutama golongan Streptococcus. Berdasar penelitian
terdahulu, kecenderungan lebih besar untuk terjadi reaksi
hypersensitivitas tipe lambat terhadap Streptococcus
sanguis diantara pasien Mouth Ulcers

MANIFESTASI KLINIS
Mouth Ulcers mempunyai ukuran yang bervariasi 1-30 mmm,
tertutup selaput kuning keabu-abuan, berbatas tegas, dan dikelilingi
pinggiran yang erythematous dan dapat bertahan untuk beberapa
hari atau bulan. Karakteristik ulcer yang nyeri terutama terjadi pada
mukosa mulut yang tidak berkeratin yaitu mukosa bukal, labial,
lateral dan ventral lidah, dasar mulut, palatum lunak dan mukosa
orofaring (Banuarea, 2009).
Gambaran klinis Apthae Minor :
Sebagian besar pasien (80%) menderita bentuk minor , yang
ditandai oleh ulcer bulat atau oval, dangkal dengan diameter kurang
dari 10 mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang erythematous dan
dasarnya kekuningan . Ulserasi pada Apthae minor ini cenderung
mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial,
mukosa bukal, dan dasar mulut. Ulserasi biasanya tunggal atau
merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau lima dan akan
sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas (Lewis
& Lamey , 1998)

Gambaran klinis Apthae Mayor :


Lesi ini diderita oleh kira-kira 10% dari penderita Mouth
Ulcers .
Secara klasik , ulcer ini berdiameter kira-kira 1-3 cm,
berlangsung selama 4 minggu atau lebih dan dapat terjadi
pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk di
daerah daerah berkeratin .
Tanda pernah terjadinya Apthae Mayor adalah terlihatnya
jaringan parut yang terjadi karena keparahan dan
lamanya lesi .
(Lewis & Lamey , 1998 , Lynch et al.,1994 ) mengatakan
bahwa pasien dengan Apthae Mayor mengalami lesi
yang dalam dengan diameter 1-5 cm.

Menurut Langlai & Miller


(2000), ulcer seringkali
multiple, terjadi pada palatum
lunak, tonsil, mukosa bibir,
mukosa pipi, lidah dan meluas
ke gusi cekat. Biasany lesi
asimetri dan unilateral.

Gambaran ulcernya yaitu ukuran besar, bagian


tengah nekrotik dan cekung, tepinya merah
meradang

Apthae Herpetiform
Tipe Mouth Ulcers yang terakhir adalah Apthae
Herpetiform . Istilah herpetiform digunakan
karena bentuk klinisnya yang dapat terdiri dari
100 ulcer kecil-kecil pada satu waktu mirip
dengan gingivostomatitis herpetik primer. Tetapi
virus-virus herpes tidak mempunyai peran
etiologi pada lesi ini atau dalam setiap bentuk
ulserasi apthosa (Lewis & Lamey , 1998).

Gambaran mencolok
dari penyakit ini
adalah erosi-erosi
kelabu putih yang
jumlahnya banyak,
berukuran sekepala
jarum yang
membesar, bergabung
dan menjadi tidak
jelas batasnya .
Ukurannya berkisar 1-2 mm , namun dengan tidak
adanya vesikel dan gingivitis bersama sifat kambuhan
membedakannya dari herpes primer dan infeksi virus
lainnya (Langlais & Miller, 2000; Porter & Leao, 2005 )

Diagnosa
Diagnosa Mouth Ulcers berdasarkan
pada penampilan klinis ulcer serta riwayat
penyakitnya. Perhatian harus khusus
ditujukan pada umur terjadinya, lokasi,
lama (durasi), serta frekuensi ulcer. Setiap
hubungan dengan kelainan pencernaan,
haid, stress, serta makanan harus dicatat
(Lewis & Lamey , 1998)

PENATALAKSANAAN
Banyak obat-obatan, termasuk vitamin, obat kumur
antiseptik, steroid topikal dan imunomodulator sistemik
dianjurkan sebagai pengobatan untuk Mouth Ulcers .
Kombinasi vitamin B1 dan vitamin B6 diberikan selama 1
bulan dianjurkan sebagai penatalaksaan tahap awal.
Namun, beberapa pasien memberikan respon yang baik
terhadap obat kumur khlorhexidin serta kortikosteroid
topikal (hidrokortison hemisuksinat atau betametason
natrium fosfat). Penggunaan terapi hipnoterapi dapat
membantu penderita yang diperkirakan memiliki faktor
predisposisi berupa stress (Lewis & Lamey , 1998)

Obat-obat sitemik seperti levamisole, inhibitor


monoamine oksidase, thalidomide, atau
dapsone, digunakan untuk penderita yang
sering mengalami Mouth Ulcers yang serius ,
seperti pada kasus Apthae Mayor .Tetapi,
penggunaan obat-obat ini harus
dipertimbangkan secara hati-hati berdasarkan
pertimbangan efektivitas serta efek sampingnya
(Lewis & Lamey , 1998).

Mouth Ulcers karena trauma akan berkembang


jika terdapat rangsangan traumatik yang terus
menerus dalam waktu yang lama.
Menghilangkan rangsangan traumatik terkadang
cukup untuk mengawali proses penyembuhan,
tapi terapi spesifik tetap dibutuhkan . Terapi
yang menggunakan obat kumur Aloclair sangat
efektif untuk kasus Apthae Minor
(berdasarkan pengalaman klinis), terutama
untuk Mouth Ulcer yang diakibatkan trauma dari
gigi tiruan yang tidak pas .

TERIMA KASIH