EVALUASI DAN PENGEMBANGAN DISAIN KAPAL POLE AND LINE DI PELABUHAN DUFA-DUFA PROVINSI MALUKU UTARA

Umar Tangke UMMU-Ternate, Email: khakafart@yahoo.com ABSTRAK

Pembuatan kapal secara tradisional umumnya tidak didasari pada perencanaan dan perhitugan hidrostatis sehingga dalam pembuatannya selalu ada perubahan karakteristik pada bentuk kapal. Sama halnya dengan pembuatan kapal, penentuan besarnya pompa mengail juga tanpa melalui perhitungan mengenai daya yang akibatnya sistim penyemprot tidak bekeja dengan baik, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi bentuk disain, serta menghitung besarnya daya yang dibutuhkan untuk pompa mengail pada kapal tipe pole and line di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara. Hasil Penelitian menunjukan kapal sampel pole and line yang berada di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara mempunyai nilai rasio perbandingan L/D dan L/B dan nilai koefisien bentuk kapal sudah sesuai dengan standar nilai yang ideal, tetapi nilai rasio perbandingan B/D pada kapal sampel tidak sesuai dengan standar nilai yang ideal untuk kapal ikan jenis pole and line, dan dilihat bahwa penentuan pompa mengail pada kapal sampel biasanya tidak sesuai karena daya yang dibutuhkan sesuai dengan perhitungan adalah 1,61 KW tetapi daya pompa yang digunakan melebihi yaitu dengan kisaran 1,7 - 3,7. Hal ini berpengaruh terhadap penyemprotan air pada saat operasi penangkapan atau penyemprotan untuk pengelabuan tidak sempurna.
Kata Kunci : Pole and line, Hidrostatis. I. PENDAHUUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan, yang memiliki ± 17.508 pulau dengan luas laut teritorial 0.366 juta km2. perairan Nusantara 2.8 juta km2 dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2.7 juta km2 sehingga total luas keseluruhan perairan 5.8 juta km2. Perairan laut yang luas ini mengandung berbagai jenis ikan yang merupakan sumber pangan dan komoditi perdagangan. Jenis ikan pelagis merupakan janis ikan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Khusus untuk ikan pelagis besar lebih didominasi oleh tuna (Thunnus spp) dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Potensi tuna dan cakalang diperairan Indonesia adalah ± 780.040 ton. Ikan jenis ini banyak ditangkap dilaut-laut dalam antara lain : di perairan sebelah selatan Jawa, sebelah baratdaya Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Laut Banda, Laut Maluku dan Laut Halmahera (Dahuri, 2001). Propinsi Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 395 buah pulau besar dan kecil, sebanyak 64 pulau yang dihuni dan 331 pulau yang tidak dihuni, dengan luas daratan 31.814,36 Km2 (22%) yang tersebar di atas perairan seluas 108.441 Km2 (78%), sehingga luas wilayah seluruhnya 140.256,36 Km2. Berdasarkan hasil penelitian Badan Riset Dep. Kelautan dan Perikanan, dan Komisi Nasional Stock Assessment, wilayah perairan Maluku Utara berada dalam wilayah pengelolaan Laut Seram dan Laut Maluku dengan jumlah potensi sumberdaya ikan (standing stock) yang diperkirakan mencapai 1.035.230,00 ton dengan jumlah potensi lestari (Maximum Sustainable Yield, MSY) yang dapat

dimanfaatkan sebesar 828.180,00 ton/tahun terdiri dari, ikan pelagis 621.135,00 ton/tahun yang terdiri dari Tuna, cakalang, tongkol, cucut, tenggiri dan jenis ikan pelagis kecil. Jumlah yang dieksplorasi tersebut diatas menunjukan bahwa perlu adanya upaya untuk peningkatan penangkapan untuk pemanfaatan MSY yang ada. Eksploitasi potensi perikanan sangat tergantung pada tiga hal yaitu ; (1) penentuan daerah penangkapan ikan yang tepat, (2) penggunaan unit, alat dan metode penangkapannya, (3) Pemakai tenaga kerja yang terampil, (Ayodhyoa, 1972). Usaha penangkapan ikan merupakan usaha yang beresiko tinggi sebab kegiatannya dilakukan dilaut, sehingga untuk mengurangi resiko kerja dilaut agar manusia nyaman bekerja dilaut maka perlu adanya pengetahuan tentang teknologi perkapalan yang baik, karena kapal merupakan sarana dan tempat berlindung bagi manusia di laut. Pencapaian optimalisasi usaha penangkapan ikan, khususnya cakalang (Katsuwonus pelamis), sangat bergantung pada armada penangkapan dengan disain kapal serta alat bantu penangkapan yang memadai. Seperti diketahui bahwa hampir 85 % kapal penangkap yang beroperasi diperairan Indonesia adalah milik rakyat serta pada umumnya kapal-kapal tersebut dibuat dengan mengandalkan keahlian secara turuntemurun, artinya kapal-kapal tersebut dibangun berdasarkan pengalaman tanpa perhitungan-perhitungan yang pasti sebagaimana layaknya pembuatan kapal secara modern. Pembuatan kapal secara tradisional biasanya tidak didasari pada perencanaan dan perhitugan yang jelas sehingga dalam pembuatannya selalu ada perubahan karakteristik pada bentuk kapal. Sama halnya dengan pembuatan kapal, penentuan besarnya pompa mengail juga biasanya tampa perhitungan mengenai daya sehingga seringkali sistim penyemprot tidak bekeja dengan baik, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi bentuk disain, serta menghitung besarnya daya yang dibutuhkan untuk pompa mengail pada kapal tipe pole and line di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara.

1.2. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengembangkan kapal perikanan tipe pole and line dari segi disain kapal, serta menghitung besarnya daya pompa mengail yang sesuai untuk pompa tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu masukan bagi pengusaha khususnya yang bergerak dalam bidang penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) serta kepada PEMDA setempat dalam membuat suatu disain kapal penangkapan ikan khususnya pole and line dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan didaerah tersebut pada masa yang akan datang. II. METODE PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian telah dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2008, bertempat di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara. 2.2. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan pada penelitian ini adalah dua unit kapal tangkap tipe Pole and Line, tabel offset, meteran rol, penggaris, water pas, tali kasur, dua buah tongkat kayu/bambu, pendulum, kertas untuk menggambar, alat tulis menulis, meja gambar serta satu unit komputer untuk pengolahan data dan perhitungan hidrostatik kapal. 2.3. Metode Penilitian Metode pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan pengukuran langsung terhadap seluruh ukuran-ukuran utama kapal Pole and Line, wawancara dengan nakhoda dan ABK kapal untuk pengambilan data motor penggerak dan pompa mengail serta hal-hal yang berhubungan dengan penelitian. Selanjutnya untuk pelaksanaan metode pengambilan data untuk mendapatkan aspek teknik kapal, maka dilakukan pengukuran seluruh besaran utama kapal yakni : a. Pengukuran posisi badan kapal tegak dan horizontal menggunakan water pass yakni luas kapal ditempatkan pada posisi horzontal dan

garis lunas sebagai base line. b. Pengukuran untuk mendapatkan data ukuran utama kapal dilakukan pengukuran terhadap ukuran utama kapal yang terdiri dari: − Panjang keseluruhan (LOA) adalah panjang badan kapal maksimum yang diukur dari ujung buritan sampai ujung haluan. − Panjang pada garis air (LWL) adalah jarak antara titik potong garis air bagian depan kapal dengan bagian belakang kapal. − Panjang garis tegak lurus (LPP atau LBP) adalah jarak antara AP dan FP. − Lebar maksimum (B) adalah lebar maksimum pada tengah kapal yang diukur dari kulit lambung kapal dari samping kiri lambung kapal ke samping kanan. − Tinggi kapal (D) adalah tinggi yang diukur dari bagian bawah pelat deck pada sisi tengah kapal hingga garis geladak diukur ditengah-tengah panjang kapal. − Sarat (d) adalah jarak dari dasar kapal hingga garis air yang diukur pada tengah kapal. 2.4. Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : A. Menghitung nilai ratio ukuran utama kapal dengan formulasi

Sjahrun (1988) yaitu : − Panjang dengan lebar = L/B − Panjang dengan dalam = L/D − Lebar dengan dalam = B/D B. Menghitung Gross Tonage kapal dengan formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu :

GT

= L. B. D. Cb . 0,353
= = = = = = Gross tonage (Ton) Panjang kapal (m) Lebar kapal (m) Tinggi kapal (m) Koefisien block Volume muatan (metrik = 1 m3 (ton))

Keterangan :
GT L B D Cb 0,353

C. Menghitung kecepatan kapal maksimum dengan formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu :

Keterangan :
c Admiralty coefficient (60 – 100) ; 80. ∆ = Displacement tonage (ton) IHP = Indicate horse power IHP = BHP / 0,80 BHP = Brake horse power =

D. Menghitung Volume displacement tonnage kapal dengan formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu :

∆ = L. B. d
∆ L B d Cb γ = = = = = =

Cb γ

Keterangan :
Displ. tonnage (ton) Panjang kapal (m) Lebar kapal (m) Draft kapal (m) Koefisien block BJair laut = 1,025

E. Menghitung Koefisian block kapal dengan formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) sebagai berikut :

Cb
Cb

=

∇ L. B. d

Keterangan :
= L Koefisien block = Panjang kapal (m)

F. Menghitung koefisien penampang tengah (Cm) kapal dengan formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu :

B d ∇

= Lebar kapal (m) = Draft kapal (m) = Displ. volume

Tamaela (1991) :

Keterangan :
ηp
γ Q = Efisiensi pompa mengail berkisar antara 0,50 – 0,90 diambil 0,50 massa jenis air laut = 1,025 Kapasitas aliran

Cm

=

AΦ B. d

= =

atau dapat dihitung dengan menggunakan rumus pendekatan untuk koefisien penampang tengah (Cm) kapal formulasi Phoels (1973) yaitu :

Dihitung dengan formulasi Tahara dan Sularso (1986) yaitu : Q = A . V
A = Luas penampang pipa berbentuk cincin (m2) A = π/4 . D2 (m2) V = kecepatan aliran dalam pipa Berkisar antara 2 – 2,5 m/det diambil 2,5 m/det. H = Kerugian total pada pompa

Cb

= 0,08. Cb
Cm B d AΦ Cb = = = =

+ 0,93

Keterangan :
Koefisien midship Lebar kapal (m) Draft kapal (m) Daerah pada bagian tengah kapal dibawah garis air = Koefisien block

G. Menghitung koefisien prisma (Cp) menurut formulasi Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu :

Kerugian total pada pompa dihitung dengan formulasi Ibid dalam Sularso dan Tahara (1983) yaitu : H = ha + hp + h1 + (V2 / 2.g) Keterangan :
ha = head statis total pompa = 4,50 hp = perbedaan head tekanan yang bekerja pada kedua Permukaan zat cair = 0 V = Kecepatan aliran air dalam pipa = 2,5 m/det g = Percepatan gravitasi = 9,81 m/det2 h1 = Berbagai kerugian pada pipa yang

Cp =

∇ C . L. B. d C = b = b AΦ. L Cm . B d L Cm

H. Menghitung koefisien penampang garis air (Cw) dengan formulasi Nomura dan Yamzaki (1975) yaitu :

Cw
Aw L B

=

Aw L. B

terdiri dari : 1. hf1 = Tahanan gesek disepanjang pipa

Keterangan :
= Daerah horizontal pada kapal yang berada dibawah garis air. = Panjang kapal (m) = Lebar kapal (m)

hf1

10,666. Q1,85 = L C1,85 D 4,85

2. hf2 = Tahanan pada ujung masuk pipa

I.

Menghitung luas bidang-bidang kapal dengan metode Shimpson dalam Nomura dan Yamazaki (1975) yaitu : A = h/3 (1/2 yo + 2 y1/2 + 3/2 y1 + 4 y2 + 2y3 .... + 2yn-3 + 4yn-2 + 3/2yn-1 + 2yn-1/2 + 1/2 yn) Keterangan :
A = Nilai integral dari hasil integral y dari xo - xn h = L/n Fn = 1/2, 2, 3/2, 4, 2,... 2, 4, 3/2, 2, 1/2

hf 2

=

f2

V2 2g V2 2g V2 2g

( m)

3. hf3 = Tahanan pada belokan pipa

hf 3

=

f3

( m)

4. hf4 = Tahanan pada katup

hf 4

=

f4

( m)

5. hf5 = Tahanan pada titik percabangan

J.

Menghitung daya pompa mengail dengan formulasi Ibid dalam

hf 5

=

V2 f5 2g

( m)

Keterangan :
L = Panjang pipa (m) C = Koefisien kerugian pipa = 125 D = Diameter dalam pipa (m) f2 = Koefisien tahanan masuk ujung pipa berbentuk lorong besarnya = 0,45 f3 = Koefisien tahanan pada belokan pipa = 0,149 f4 = Koefisien tahanan pada katup putar berkisar antara 0,09 – 0,26, diambil 0,09 f5 = Koefisien tahanan percabangan

besarnya adalah 0,35 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Gambaran Umum Kapal Pole and Line Kapal pole and line adalah kapal ikan yang digunakan khusus untuk menangkap ikan cakalang (katsuwonus pelamis), kapal jenis ini umumnya dijumpai pada perairan wilayah timur Indonesia (Sulawesi, Maluku dan Irian). Di Maluku, kapal ini dibuat secara tradisional yang pada awal pembuatannya tidak menggunakan gambar-gambar disain seperti rencana garis, pembagian tata ruang dalam kapal, konstruksi kapal, perhitungan secara ilmiah, tetapi dibuat berdasarkan pengalaman dari para pengrajin yang membuat kapal selama bertahun-tahun (Suruali, 1977). Sebagai kapal penangkap dengan tipe alat tangkap pole and line, maka kapal ini dillengkapi dengan konstruksi khsusus yaitu ; flying deck, platform, bak penampung umpan, pipa penyemprot air Tuny (1987 dalam Suruali 1997). 3.1.1. Flying deck Flying deck adalah deck yang dibuat agak menonjol dibagian haluan kapal dan merupakan tempat duduk bagi para pemancing. 3.1.2. Platform Platform adalah merupakan sayap atau bagian yang menonjol dari deck kesisi samping kapal, yang fungsinya hampir sama dengan flying deck. 3.1.3. Bak penampung umpan hidup Kapal pole and line (huhate) dilengkapi dengan bak khusus untuk menaruh umpan hidup selama operasi penangkapan. Bak umpan hidup ini diisi

dengan air laut sebagai media untuk kelangsungan hidup umpan yang akan digunakan dalam operasi penangkapan, bak ini juga merupakan bagian yang sangat penting oleh sebab itu perlu mendapat perhatian, yang mana kelangsungan hidup dari umpan harus dipertahankan, sehingga sirkulasi air didalam bak penampung umpan hidup tersebut perlu dijaga. Untuk sirkulasi air kedalam bak dibuat lubang pada dinding kiri kanan bak mengarah kearah belakang untuk memperkecil arus air bila kapal sedang berjalan, sedangkan untuk air keluar dibuat lubang pada bagian bawah bak yang mengarah kebelakang pula. 3.1.4. Instalasi pipa penyemprot air Pipa penyemprot air adalah susunan pipa-pipa air yang berfungsi untuk menyemprotkan air dengan bantuan pompa. Pipa-pipa ini dipasang pada sisi kapal (platform) dan terus tersambung pada flying deck. Penyemprotan air dilakukan apabila kapal telah mendekati gerombolan ikan, pada saat disemprotkan maka terjadilah percikanpercikan air dipermukaan laut. Percikanpercikan ini berguna untuk menarik perhatian ikan serta sekaligus melindungi para pemancing dan kapal dari penglihatan ikan, selain itu manfaat dari percikan air ini dapat menghemat penggunaan umpan hidup. 3.1.5. Alat tangkap dan alat bantu penangkapan Alat tangkap yang digunakanpada adalah pole and line atau biasa dikenal dengan nama huhate. Alat ini digunakan secara perorangan sehingga salah satu faktor yang mempengaruhi suksesnya penangkapan adalah ketrampinlan individu dari para pemancing, selain masalah-masalah lain seperti tersedianya umpan yang cukup, banyak tidaknya gerombolan ikan didaerah penangkapan (Subani, 1982). Kemudian lebih lanjut dikatakan bahwa, beberapa keunikan dari alat tangkap huhate yaitu bentuk mata pancing tidak berkait dibandingkan mata pancing lainnya. Mata pancing huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan tali rafia yang halus agar tidak tampak oleh ikan. Menurut Subani (1982), alat bantu

penangkapan yang umum dipakai dalam operasi penangkapan dengan pole and line adalah yang berfungsi untuk memikat dan mengelabui ikan, yaitu : a. Umpan hidup Fungsi dari umpan hidup adalah sebagai penrik perhatian agar gerombolan ikan cakalang tetap berkumpul dan berenang disekitar kapal dengan demikian akan mempermudah dalam pemancingan. b. Spayer Spayer adalah alat penyemprot air dengan bantuan pompa, fungsi alat ini adalah untuk mengelabui ikan agar pemancingan dapat berjalan dengan sukses. 3.1.6. Operasi penangkapan Penangkapan dengan huhate (pole and line) biasanya ditujukan untuk menangkap cakalang (Katsuwonus pelamis), metode yang digunakan dalam menangkap cakalang yaitu melihat lansung atau mencari gerombolan ikan dengan teropong, dengan memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut : 1. Adanya kelompok-kelompok burung laut (camar) yang sedang menyambar-nyambar permukaan air laut. 2. Adanya buih-buih yang muncul secara tiba-tiba akibat adanya gerombolan ikan yang sedang bermain pada permukaan laut. 3. Benda besar (batang kayu) yang hanyut, hal ini sangat memungkinkan adanya gerombolan ikan yang turut berlindung dibawahnya. 4. Adanya ikan-ikan kecil yang berlompat-lompat dipermukaan air laut. 5. Adanya ikan paus, lumba-lumba, dimana ikan cakalang berenang bersama-sama ikan tersebut, Pengintaian ini dilakukan oleh nakhoda melalui tiang agung dan dibantu oleh awak kapal yang mengintai dari atas deck kapal, dengan berpatokan pada tanda-tanda diatas. Apabila tanda-tanda tersebut diatas telah kelihatan maka kapal pole and line bergerak menuju tanda-tanda diatas dengan kecepatan
Tabel 1.

penuh. Setelah diperkirakan bahwa jarak antara kapal dengan gerombolan ikan cukup dekat ± 20 m, maka posisi kapal terhadap gerombolan ikan, diatur sebagai berikut : a. Kapal harus memotong arah renang ikan pada lambung kiri kapal. b. Arah angin dari bagian buritan kapal sehingga memudahkan pelemparan umpan, penyemprotan air dapat berfungsi penuh serta memudahkan proses pemancingan. c. Sebaiknya posisi kapal membelakangi matahari. Setelah jarak dan posisi kapal dengan gerombolan ikan sudah tepat, maka mulailah umpan dilemparkan kearah gerombolan ikan, pada saat itu kapal mulai bergerak dengan kecepatan 1 − 2 knot dan para pemancing mulailah menurunkan alat pancingnya. 3.2. Evaluasi Teknis Kapal Sampel dan Kapal Rancangan 3.2.1. Ratio perbandingan ukuran utama kapal. Nilai dari perbandingan L/B, L/D, B/D, sangat penting dalam membuat atau mendisain kapal karena nilai-nilai sangat berpengaruh misalnya : - L/B mengecil maka kecepatan akan kecil. - L/D membesar akan ber pengaruh terhadap kekuatan memanjang yakni kekuatan memanjang kapal akan mengecil. - B/D nilai ini akan berpengaruh terhadap Stabilitas dan gaya pendorong bila nilai ini besar maka stabilitas kapal akan membaik namun gaya dorong dorong akan memburuk.

Nilai Perbandingan Rasio Ukuran Utama (L/B, L/D, B/D) Kapal Pole and Line Sampel dan Kapal Rancangan di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara

Ratio Ukuran Utama Kapal

Kapal Sampel
A LOA = 18 m B = 3.6 m D = 2.05m B LOA = 22.5 m B = 4.5 m D = 2.56 m

Kapal Rancangan
LOA = 21,6 m B = 4.0 m D = 2.17 m

Pembanding Ayodhyoa (1972)

L > 20

20 <L< 25

25 <L< 30

30 < L

L / D 7.23 L / B 4.11 B/ D 1.76 Sumber : Diolah dari data primer.

7.25 4.14 1.78

7.9 4.34 2.06

< 9.50 < 4.60 > 2.05

< 10.00 < 4.80 > 1.95

< 10.50 < 5.00 > 11.00

< 11.0 < 5.50 > 1.85

Keterangan : Kapal sampel A (KM. Sibela Star), Kapal Sampel B (KM. Cakalang 1), Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

Tabel diatas menunjukan

bahwa kapal sampel pole and line yang berada di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Maluku Utara mempunyai nilai rasio perbandingan L/D dan L/B sesuai dengan standar nilai yang ideal, tetapi nilai rasio perbandingan B/D pada kapal sampel tidak sesuai dengan standar nilai yang ideal untuk kapal ikan jenis pole and line. Hal ini akan menimbukan pengaruh yang buruk terhadap stabilitas kapal dimana stabilitas kapal akan kecil. Kecilnya nilai stabilitas akibat perbedaan dari B/D pada kapal tersebut, maka akan mengakibatkan sangat beresikonya kegiatan penangkapan, apalagi pada saat cuaca kurang menguntungkan. Sedangkan kapal rancangan memiliki nilai perbandingan B/D sudah sesuai dengan standar yang ideal.

3.2.2.

Koefisien Bentuk Kapal. Pembahasan tentang kapal tidak terlepas dengan keadaan bentuk kapal itu sendiri, dimana untuk pelaksanaan perencanaan suatu kapal harus diarahkan kepada bentuk lambung kapal yang diinginkan, apakah lambung kapal bentuknya kurus (fine tipe), sedang (good tipe) atau gemuk. Bentuk-bentuk tersebut sangat berhubungan erat dengan koefisien-koefisien bentuk utama kapal dan berguna untuk membandingkan karakteristik-karakteristik tertentu dari penampilan kapal tersebut yang juga sangat terkait dengan perubahanperubahan hydrodinamc yang terjadi pada kapal tersebut (Gillmer and Johnson, 1982). Tabel berikut ini menunjukan besarnya

nilai koefisien-koefisien bentuk dari kapal sampel yang diukur serta nilai koefisien bentuk kapal rancangan.

Tabel 2.

Nilai Koefisien Bentuk Kapal Pole And Line Sampel Yang Diukur dan Kapal Rancangan. Kapal Rancangan Pembanding Form Coefficient Kapal Sampel (KM. Tohafart) Traung (1978) A B Koefisien Blok (Cb) 0,564 0,568 0,481 0,2 - 0,84 Koefisien Midship (Cm) 0,900 0,720 0,690 0,44 - 0,90 0,790 0,805 0,697 0,749 0,55 - 0,75 0,72 - 0,80

Koefisien Prismatic (Cp) 0,627 Koefisien Waterplane (Cw) 0,804 Sumber : Diolah dari data primer.

Keterangan : Kapal sampel A (KM. Sibela Star), Kapal Sampel B (KM. Cakalang 1), Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa semua nilai kofisien-koefisien bentuk dari kapal sampel dan kapal rancangan sudah sesuai dengan standar nilai yang ideal dan digolongkan dalam kapal dengan bentuk lambung yang kurus (fine tipe karena Cb kurang dari 0,5750). Nilai Cb merupakan koefisien bentuk lambung kapal yang

artinya bila nilai Cb mengecil maka kapal tersebut akan bergerak cepat sedangkan kapal dengan nilai Cb yang besar atau mendekati 1,0 merupakan kapal yang bergerak dengan kecepatan yang lambat. 3.2.3. Volume Cerena (∇), Displacement (∆), Dan GT Kapal Sampel dan Rancangan.

Faktor lain yang mempengaruhi pembuatan kapal adalah kapasitas muat dari kapal tersebut. Khusus untuk kapal ikan kapsitas muat juga harus bergantung pada jumlah rata-rata hasil tangkapan tiap trip karena bila daya muat besar tetapi rata-rata hasil tangkapan lebih kecil dari daya muat maka akan terdapat ruang kosong yang juga bisa berpengaruh terhadap komponen lain dari kapal itu sendiri misalnya bila daya muat membesar berarti Cb kapal akan besar pula ini sangat berpengaruh terhadap kecepatan kapal. Volume carena (∇), displacement

volume (∆), dan GT dari kapal sangat berkaitan erat dengan dimensi utama kapal, karena ketiga aspek diatas merupakan hasil perkalian dari dimensi utama kapal dengan koefisien berat jenis air laut yang merupakan wadah tempat kapal tersebut berlayar. Dimana hasil berat jenis benda yang terapung diatas air juga harus sebanding dengan massa air yang dipindahkan oleh benda tersebut. Berikut adalah tabel yang menunjukan besarnya nilai volume carena (∇), displacement volume (∆), dan GT dari kapal sampel dan kapal rancangan.

Tabel 3. Nilai Volume Carena (∇), Displacement Volume (∆) dan GT Dari Kapal Sampel Dan Kapal Rancangan. Kapal Rancangan Parameter Kapal Sampel (KM. Tohafart) A B 41,15 80,73 54,66 Volume Carena (∇) (m3) 42,18 82,38 56,03 Displacement Volume (∆) (Ton) GT (Ton) Sumber : Diolah dari data primer. 26,45 51,971 36,75

Keterangan : Kapal sampel A (KM. Sibela Star), Kapal Sampel B (KM. Cakalang 1), Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

3.2.4.

Kecepatan Kapal.

Kecepatan maksimal kapal Pole and Line sangat berkaitan erat dengan kemampuan kapal tersebut untuk berangkat ke fishing ground (FG), mengejar gerembolan ikan dan kecepatan maksimal juga di butuhkan untuk mengangkut hasil tangkapan dari fishing ground ke fishing base karena pada umumnya ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan yang daya tahannya sangat kecil serta kapal tidak dilengkapi dengan frezer untuk membekukan

ikan tetapi kapal pole and line umumnya di lengkapi dengan bak pendingin yang menggunakan es sebagai bahan pengawet. Pemelihan mesin induk/utama dengan menggunakan biasanya menggunakan insting atau perkiraan dan tanpa berdasarkan perhitungan hydrostatis. Ini berakibat pada kecepatan kapal yang biasanya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tabel berikut merupakan hasil analisis data dari kecepatan kapal sampel dilokasi penelitian dan kapal sampel yang dirancang.

Tabel 5. Nilai IHP dan Kecepatan Kapal Sampel dan Kapal Rancangan. Kapal Rancangan Nilai Kapal Sampel (KM. Tohafart) A B IHP (Hp) 106,25 237,5 237,5 V (Knot) 8,9 10 11 Sumber : Diolah dari data primer.
Keterangan : Kapal sampel A (KM. Sibela Star), Kapal Sampel B (KM. Cakalang 1), Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

Tabel diatas dapat dilihat bahwa kapal rancangan mempunyai kecepatan lebih besar dari kapal sampel, ini dikarenakan nilai Cb pada kapal rancangan yang lebih kecil dari kapal sampel sehingga bentuk dari kapal rancangan lebih langsing dari kapal sampel yang ada pada daerah tersebut.

3.3. Motor Bantu Motor bantu yang dibutuhkan oleh kapal pole line adalah Generator dan pompa. Generator dibutuhkan untuk memberikan daya listrik untuk instalasi penerangan lampu

navigasi dan sebagai penyedian daya untuk instalasi ketenagaan yaitu pompa mengail dan pompa sirkulasi untuk bak umpan. Pada pembahasan mengenai motor bantu hanya dibatasi pada perhitungan besarnya daya listrik yang disediakan oleh generator yang disesuaikan dengan besarnya daya pompa mengail melalui perhitungan komponen pada instalasi pompa mengail diantaranya instalasi
Tabel 6.

pipa, katup/kran, serta ujung masuk pipa berbentuk corong. Tabel berikut adalah besarnya daya yang di butuhkan oleh pompa mengail dan jenis dan jenis pompa yang dipakai dan yang sesuai pada kapal sampel serta jenis pompa yang di rencanakan untuk di pakai pada kapal rancangan.

Data Daya Pompa Yang Dipakai Oleh Kapal Sampel Serta Penetuan Daya Pompa Yang Sesuai Dengan Perhitungan Komponen Intalasi Pipa Semprot. Kapal Sampel A B 1,387 HEISHIN PK – 15D (1,7 - 3,7) HEISHIN PK – 15D (1,7 - 3,7) 1,817 HEISHIN PK - 15D (1,7 - 3,7) HEISHIN PK – 15D (1,7 - 3,7) 1,61 HEISHIN PK – 15D (1,7 - 3,7) HEISHIN PSY – 6G (0,5 - 1,6) Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

Data Pompa Daya Pompa yang dihitung (KW) Merk daya pompa yang dipakai (KW) Merk dan daya pompa yang sesuai (KW) Sumber : Diolah dari data primer.

Keterangan : Kapal sampel A (KM. Sibela Star), Kapal Sampel B (KM. Cakalang 1), Kapal Rancangan (KM. Tohafart)

Tabel 6 dilihat bahwa penentuan pompa mengail pada kapal sampel B sudah sesuai tetapi pada kapal sampel A pemelihan pompa tidak sesuai karena daya yang dibutuhkan sesuai dengan perhitungan adalah 1,61 KW tetapi daya pompa yang digunakan melebihi yaitu dengan kisaran 1,7 - 3,7. Hal ini berpengaruh terhadap penyemprotan air pada saat operasi penangkapan atau penyemprotan untuk pengelabuan tidak sempurna (Tamaela, 1991).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan 1. Kapal ikan tipe pole and line yang terdapat di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Mauku Utara memiliki standar nilai L/B dan L/D, pada umumnya sudah sesuai dengan standar nilai yang ideal. Tetapi nilai perbandingan antara B/D (lebar dengan tinggi) masih sangat kecil atau tidak sesuai dengan standar ideal. Yang pengaruhnya sangat besar terhadap stabilitas. 2. Nilai koefisien bentuk kapal dari

kapal pole and line di Pelabuhan Dufa-dufa Provinsi Mauku Utara sudah sesuai dengan standar nilai ideal dan tergolong dalam kapal ikan dengan bentuk lambung kurus (fine tipe), karena Cb kurang dari 0,575. 3. Disain kapal rancangan yang tetap mengacu pada standar nilai perbandingan dimensi utama dan koefisien block yang sesuai dapat dijadikan sebagai patokan awal untuk perencanaan lanjutan bagi kapal-kapal pole and line yang akan dibuat selanjutnya. 4.2. Saran Disarankan agar dalam pembuatan suatu kapal, terutama untuk jenis kapal ikan tipe pole and line hendaknya disertai dengan perencanaan yang matang, dimana yang harus diperhatikan adalah aspek utama teknis dan aspek-aspek peubah teknis lainnya yang bekerja pada kapal tersebut, sehingga dalam perencanaan dan pembuatannya akan menghasilkan suatu bentuk kapal yang ideal untuk kegiatan penangkapan ikan, serta sesuai dengan standar nilai yang ideal yang telah ditetapkan oleh BKI (Biro Klasifikasi Indonesia).

DAFTAR PUSTAKA Ayodhya, M.Sc, 1972. Kapal-Kapal Prikanan. Institut Pertanian Bogor. Dahuri, R, 2001. Menggali Potensi Kelautan dan Perikanan Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Menuju Bangsa Yang Maju, Makmur dan berkeadilan. Pidato dalam Rangka Temu Akrab CIVA-FPIK-IPB. Tanggal 25 Agustus 2001. Bogor. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 1982. Teori Bangunan Kapal I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Fyson, J., 1958. Design of Small Fishing Vessels. Fishing News Books Ltd. Farham. Surey. England. Iskandar, B. H dan Y. Novita, 1997. Penentun Praktikum Kapal Perikanan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Mulyanto, 1988. Defenisi dan Klasifikasi Bentuk Kapal Niaga. Akademi Ilmu Pelayaran Republik Indonesia. Jakarta. Nomura, M and T. Yamazaki, 1975. Fishing Techniques I. Japan International Coorperation Agency. Tokyo Jepang. Pasaribu, B. P dan M. Imron, 1990. Disain dan Konstruksi Kapal Penangkap Ikan Untuk Perairan Laut Dalam di Perairan Timur Indonesia. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. Rumagia, F., 2001. Evaluasi dan Pengembangan Kapal Purse Seine yang di Gunakan di Perairan Namlea Kabupaten Buru Propinsi Maluku.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Sjahrun, T., 1987. Membangun Kapal Penunjang Secara Praktis. Penerbit Ikhwan. Jakarta. Subani, W., 1982. Penangkapan Cakalang dengan Pole and Line. LPPL. No. 24. Jakarta. Sularso, Ir dan Haruo Tahara, 1983. Pompa dan Kompresor. PT. Paradaya. Jakarta. Suruali. N., 1997. Penentuan Daya Motor Induk dan Kapasitas Motor Bantu KM. Zamirun. Fakultas Teknik Universitas Pattimura Ambon. Ambon. Tamaela, M.J., Ir.1991. Sistim Dalam Kapal. Fakultas Teknik Universitas Pattimura Ambon. Ambon. Tangke, M., 2001. Tinjauan Kecepatan Operasional dari Kapal-kapal Kayu yang Beroperasi di Perairan Maluku. Fakultas Teknik Universitas Hasanudin. Makassar. Tuny, J. Ir., 1987. Pengantar Teori Kapal Bagian I, Buoyancy. Fakultas Teknik Universitas Pattimura. Ambon. Tuny, J. Ir, 1992. Bouyancy. Pengantar Teori Kapal. Fakultas Teknik Universitas Pattimura Ambon.

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

ANALISIS USAHATANI PADA SISTEM PERTANIAN ALAMI PADI LADANG DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA
Ranita Rope Staf Pengajar Fakultas Pertanian UMMU-Ternate

ABSTRAK
Konsep pertanian alami yang dilahirkan oleh Fukuoka seorang professor mikrobiologi yang berasal dari Jepang pada tahun 1978 dalam bukunya “The One Straw Revolution, An Introduction to Natural Farming”, sebenarnya adalah sistem pertanian yang merupakan tradisi pertanian petani dahulu (primitif). Disadari memang total produksi yang dicapai sangat rendah, tetapi apakah sudah sesuai dengan data di lapangan dan seperti apa krakteristik sesungguhnya tentang sistem pertanian alami yang masih dilestarikan tersebut belum pernah diteliti oleh pihak manapun, bahkan pemerintah daerah juga tidak memberikan perhatian dalam pengembangannya, karena sering dikecam sebagai sistem pertanian yang primitif, sia-sia, dan dan tidak sesuai dengan perkembangan teknologi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan efisiensi teknik dalam penggunaan input terhadap produksi sistem pertanian alami padi ladang dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah, biaya dan pendapatannya, serta efisien alokatif pertanian alami padi ladang di kabupaten Halmahera Utara, propinsi Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis melalui wawancara pada petani sampel padi ladang berjumlah 48 orang, dan petani padi sawah berjumlah 17 orang. Fungsi Produksi diestimasi menggunakan fungsi produksi tipe Cobb-Douglas dengan alat analisis eviews 4.0, biaya dan pendapatan dengan uji T.Tess Mean Sampel Independen dengan alat SPSS 12, dan efisiensi alokatif dengan uji t ki dengan fasilitas exel. Analisis data diperoleh ; 1)Penggunaan jumlah dan jenis input yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat produksi perusahatani; 2)Penggunaan jumlah dan jenis biaya input minimal, menjadikan pendapatan perhektar pada sistem pertanian alami padi ladang tidak berbeda dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah.; 3)Penggunaan benih pada sistem pertanian alami padi ladang perhektar menunjukkan sudah efisien alokatif sedangkan penggunaan tenaga kerja tidak efisien. Kata kunci: Efisiensi, Pertanian alami, Produksi. I. PENDAHULUAN Konsep pertanian alami yang dilahirkan oleh Fukuoka seorang professor mikrobiologi yang berasal dari Jepang pada tahun 1978 dalam bukunya “The One Straw Revolution, An Introduction to Natural Farming”, sebenarnya adalah sistem pertanian yang merupakan tradisi pertanian petani dahulu (primitif), sangat ekonomis karena meminimalkan penggunaan input. Berusahatani alami seperti ini juga dikenal di India dengan istilah Rishi kheti. Di beberapa Negara lainnya, pertanian alami juga merupakan tradisi sistem pertanian yang tetap dikembangkan, misalnya di Hanunoo Philipina (Visser, 1984), Tanzania, Rwanda, dan Kenya (Bergeret, 1977). Kesadaran pentingnya mengelola sistem pertanian yang berdasarkan kebiasaan setempat, bukan saja disadari dan diselidiki oleh para pakar geografi dan antropologi, melainkan para pakar ekonomi dan pembuat kebijakan mulai menyadari bahwa sistem pertanian tersebut perlu mendapat perhatian penuh (Clarke, 1978). Kabupaten Halmahera Utara, adalah salah satu wilayah yang masih melestarikan sistem pertanian alami hingga saat ini. Total produksi yang dicapai tahun 2006 tanaman padi ladang mencapai luas panen 1.041 ha dengan produksi sebesar 1.456 ton. Padi sawah tahun 2006 mencapai luas panen 2.492 ha dengan produksi sebesar
11

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

10.424 ton (BPS, 1997). Disadari memang total produksi yang dicapai sangat rendah, tetapi apakah sudah sesuai dengan data di lapangan dan seperti apa krakteristik sesungguhnya tentang sistem pertanian alami yang masih dilestarikan tersebut belum pernah diteliti oleh pihak manapun, bahkan pemerintah daerah juga tidak memberikan perhatian dalam pengembangannya, karena sering dikecam sebagai sistem pertanian yang primitif, sia-sia, dan dan tidak sesuai dengan perkembangan teknologi, sehingga untuk mengetahui apakah sistem pertanian alami yang dilestraikan tersebut efisien atau tidak, layak dikembangkan atau tidak, perlu ada penelitian tentang masalah pertanian alami tersebut. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis usahatani sistem pertanian alami padi ladang yang dilestarikan di Kabupaten Halmahera Utara. Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut. 1) Mengetahui pengaruh dan perbedaan efisiensi teknik pada penggunaan jumlah input terhadap produksi pertanian alami padi ladang dan yang tidak alami pada padi sawah. 2) Mengetahui perbedaan pendapatan usahatani antara pertanian alami padi ladang dan pertanian tidak alami padi sawah. 3) Mengetahui efisiensi alokatif pada pertanian alami padi ladang II. METODE PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku utara, di Desa Wewemo, dan Mira kecamatan Morotai Timur. Pemilihan daerah kecamatan Morotai Timur sebagai daerah penelitian dilakukan secara purposive sampling, karena didaerah tersebut merupakan persentase terbanyak untuk petani yang melestarikan sistem pertanian padi ladang secara alami, sedangkan pemilihan petani sebagai sampel diawali dengan cara sensus (complete enumeration). Diperoleh data jumlah petani padi ladang berjumlah 48 responden, maka semuanya dijadikan sampel. Sampel petani padi sawah diambil secara random sebagai pembanding berjumlah 17 0rang. 2.2. Analisis Data

2.2.1. Fungsi Produksi Dugaan penggunaan jumlah dan jenis input yang berbeda berpengaruh dan terdapat perbedaan efisien teknik pada produksi pertanian alami padi ladang dan pertanian tidak alami padi sawah dianalisis dengan menggunakan fungsi produksi tipe CobbDouglas yang ditransformasikan dahulu ke dalam bentuk logaritma natural (ln) yang selanjutnya diestimasi dengan OLS, sehingga model persamaannya.

Keterangan : ln Q = produksi padi (Gabah kering panen=kg) A = intersep X1 = jumlah benih (kg) X2 = jumlah pupuk urea,KCL,TSP (kg) X3 = jumlah pestisida (lt ) X4 = jumlah tenaga kerja (HOK) X5 = luas lahan (Ha) X6 = pengalaman responden dalam berusahatani (Tahun) Bi = koefisien regresi variabel ( i = 1...6) d = koefisien dummy D = Sistem pertanian D = 1, artinya pertanian alami (padi ladang) D = 0, artinya tidak alami (padi sawah)

2.2.2. Pendapatan Dugaan terdapat perbedaan pendapatan antara pertanian alami padi ladang dan pertanian tidak alami padi sawah, maka digunakan analisis perhitungan pendapatan terlebih dahulu terhadap masingmasing sistem pertanian tersebut, dengan menggunakan formula sebagai berikut NR = TR – TC TR = Py . Y
Keterangan TC = Total Cost (total biaya ekplisit) TR = Total Revenue (penerimaan total) NR = Net Return (pendapatan bersih) Py = Harga Produksi Y = Jumlah produksi

Setelah dilakukan perhitungan pendapatan pada masing-masing sistem pertanian baik sistem pertanian alami padi ladang dan sistem pertanian tidak alami padi sawah, maka dilakukan analisis lanjutan untuk

12

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

mengetahui nilai rata-rata perbedaan pendapatan antara sistem pertanian tersebut. Analisis yang digunakan adalah analisis uji t
t= X1 − X 2 (n1−1)S1 +(n2−1)S2
12 2 2 −−

dengan formula sebagai berikut (Kountur dan Usman, 2005).

+nn −2

X1

Keterangan:
X2

= sawah S1 = S2 =

= nelai rata-rata pendapatan petani pertanian alami padi ladang nilai rata-rata pendapatan petani pada pertanian tidak alami padi

standar deviasi pendapatan petani pada pertanian alami padi ladang standar deviasi pendapatan petani pada pertanian tidak alami padi sawah

2.2.3. Efisiensi Alokatif Efisiensi alokatif merupakan perbandingan nilai produksi marjinal (NPM) dengan biaya input marjinal (MIC) atau harga input (Px). Sehingga alokasi penggunaan input dikatakan efisien apabila nilai produksi marginal (NPMxi) sama dengan harga inputnya (Pxi). Lebih lanjut dijelaskan oleh Bishop dan Tousaint (1979) bahwa jika seorang produsen (petani) mengetahui harga input dan daftar nilai produksi marginal, ia dapat menentukan tingkat input yang paling menguntungkan. Sebaliknya jika harga input NPMxi = Pxi apabila : 1). 2). 3). atau

lebih besar dari nilai hasil produksi marginal, tidak akan menguntungkan untuk menggunakan input berapapun juga. Lebih lanjut ditegaskan bahwa ada tiga faktor yang menjadi syarat yang mempengaruhi tingkat input yang paling menguntungkan diantaranya 1). Harga hasil (PY1), harga input (PX1) dan hubungan produksi fisik yang mempengaruhi hasil produksi marginal (ΔY1/ΔX1). Dapat dirumuskan model matematika sebagai berikut (Soekartawi,1994).

NPMxi Pxi

=

= ki = 1

NPMxi Pxi NPMxi Pxi NPMxi Pxi

> 1 artinya penggunaan input X belum efisien = 1 artinya penggunaan input X efisien < 1 artinya penggunaan input X tidak efisien. varietas lokal dan tenaga kerja. Apakah jumlah dan jenis input minimal merupakan input optimal dalam memberikan pengaruh terhadap produksi maksimal? perlu dilakukan pembuktian terhadap penggunaan input tersebut. Nilai pembanding yang mestinya adalah padi ladang yang menggunakan teknologi modern, karena petani di daerah Morotai tidak ada yang melakukannya, maka dibandingkan dengan padi sawah yang menggunakan input yang
13

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Fungsi Produksi Pemahaman bahwa kegiatan usahatani adalah suatu kegiatan yang tergantung pada penggunaan input. Untuk dapat menghasilkan output maksimal maka harus diikuti dengan penggunaan input optimal. Sistem pertanian alami padi ladang yang dilestarikan di Morotai Timur adalah sistem pertanian yang mengandalkan input minimal. Input yang digunakan terdiri dari benih

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

berbeda dan sangat tergantung pada teknologi modern. Hasil penelitian telah diuji dengan menggunakan alat analisis eviews 4.0, dan hasil analisis menunjukkan bahwa model yang digunakan mengandung

multikolinearitas, tetapi bebas heteroskedastisitas dan autokorelasi (lihat lampiran1.1, 1.2 dan 1.3). Keterbatasan data sehingga analisis dibiarkan mengandung multikolinearitas.
Prob. 0.1350 0.0000 0.2077 0.3647 0.0900 0.0053 0.2997 0.1111 8.4462 0.3972 -0.5405 -0.2729 39.3092 0.0000

Tabel 5. 1. Analisis Regresi Fungsi Produksi Variable Coefficient Std. Error t-Statistic C 1.9172 1.2644 1.5163 Benih(x1) 1.4536*** 0.2580 5.6330 Pupuk(x2) 0.0620ns 0.0487 1.2742 Pestisida(x3) 0.3608ns 0.3949 0.9137 Tenaga Kerja(x4) 0.2508* 0.1454 1.7249 Luas Lahan(x5) -0.7848*** 0.2709 -2.8963 Pengalaman(x6) 0.0314ns 0.0299 1.0465 DUMMY 0.7997ns 0.4942 1.6182 R-squared 0.8284 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.8073 S.D. dependent var S.E. of regression 0.1744 Akaike info criterion Sum squared resid 1.7330 Schwarz criterion Log likelihood 25.5656 F-statistic Durbin-Watson stat 1.5979 Prob(F-statistic)
Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1%; *)signifikan α 10 %; ns) tidak signifikan

Hasil analisis regresi fungsi produksi tabel 5.1. menunjukkan nilai koefisien korelasi atau R2 adalah 0,8284, artinya penggunaan jumlah dan jenis input yang berbeda mampu menjelaskan jumlah produksi yang dihasilkan pada sistem pertanian alami padi ladang dan sistem pertaian tidak alami padi sawah sebesar 82,84 %, dan 17,16 % dijelaskan oleh faktor lain diluar model. Uji F menunjukkan bahwa secara keseluruhan penggunaan input baik jumlah benih, jumlah pupuk, jumlah pestisida, jumlah tenaga kerja, luas lahan dan pengalaman berusahatani serta sistem pertanian yang digunakan berpengaruh nyata dan terdapat perbedaan efisiensi teknik terhadap output karena F hitung (39.31) lebih besar dari F tabel pada taraf kesalahan 1 %. Uji t menunjukkan bahwa hanya jumlah benih, jumlah tenaga kerja dan luas lahan yang berpengaruh nyata dan terdapat perbedaan efisiensi teknik terhadap output dan pada taraf kesalahan yang berbeda. Jumlah benih berpengaruh nyata pada taraf kesalahan 1 %, Tenaga kerja berpengaruh pada taraf kesalahan 10 %, dan luas lahan pada taraf kesalahan 5 %. Analisis regresi dengan uji t tersebut

menjelaskan penggunaan benih dan tenaga kerja berpengaruh positif terhadap output artinya apabila jumlah penggunaan benih ditambah maka total produksi akan bertambah, dan apabila penambahan jumlah tenaga kerja maka akan diikuti dengan peningkatan produksi. Tetapi koefisien variabel luas lahan bernilai negatif, artinya jika lahan diperluas maka total produksi akan menurun. Hal ini disebabkan karena adanya multikolinearitas, yang menunjukkan korelasi yang sangat tinggi antara variabel independen jumlah benih, jumlah tenaga kerja dan luas lahan. Keterbatasan dalam menyelesaikan permasalahan multikolinearitas dalam analisis tersebut sehingga model tetap dibiarkan mengandung multikolinearitas. Widarjono (2005) menjelaskan bahwa adanya multikolinearitas menyebabkan adanya varian yang besar, tetapi masih menghasilkan estimator yang baik (Best Linier Un Bias). Alasan lainnya adalah belum tercukupinya tenaga kerja untuk mengelolah lahan sehingga bila lahan diperluas akan menyebabkan tanaman kurang terpelihara sehingga produksi menurun. Penggunaan pupuk, pestisida, pengalaman berusahatani dan sistem pertanian yang

14

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

digunakan tidak berpengaruh terhadap produksi karena nilai probability tingkat kesalahan lebih dari 10 %. Dengan demikian sistem pertanian yang berbeda tidak berpengaruh pada tingkat produksi yang
Tabel 5.2.

dihasilkan, sehingga dapat diartikan bahwa baik sistem pertanian alami padi ladang maupun pertanian tidak alami padi sawah tidak terdapat perbedaan efisiensi teknik.

Penggunaan jumlah dan jenis input per hektar pada produksi pertanian alami padi ladang dan padi sawah yang tidak alami Uraian t hitung Mean Standar Deviasi Padi Padi Padi Padi Ladang Sawah Ladang Sawah total produksi (ha) 3.629,65 6.354,44 674,99 2.110,02 -7,96*** jumlah benih (kg) 29,19 35,33 1,76 5,28 -7,09*** jumlah pupuk(kg) 0 127,81 0 258,37 -3,48*** jumlah pestisida(lt) 0 0,68 0 0,27 -15,32*** jumlah tenaga kerja(HOK) 361,18 534,61 51,22 165,35 -6,51*** pengalaman berusahatani(tahun) 16,54 16 11,41 0 0,19ns

Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1% dan *)signifikan α 10 % , dan ns) tidak signifikan

Perbedaan penggunaan input pada masing-masing sistem pertanian per hektar telah menunjukkan bahwa keduanya memiliki jumlah rata-rata penggunaan input berbeda dan terlihat pada tabel 5.2 bahwa sistem pertanian alami padi ladang sangat minimal dalam menggunakan input dibandingkan dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah. Sistem pertanian alami yang mengandalkan benih varietas lokal, jumlah tenaga kerja yang rendah, dan tidak menggunakan bahan kimia menunjukkan jumlah produksi yang lebih rendah dibanding dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah yang tergantung pada benih varietas unggul, jumlah tenaga kerja yang banyak, dan penggunaan jenis bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida. Sistem pertanian tidak alami memberikan produksi yang lebih tinggi. Manfaat lingkungan sekalipun tidak diteliti secara spesifik tetapi dari hasil wawancara dengan petani tentang karakteristik sistem pertanian alami padi ladang dijelaskan bahwa petani tidak menggunakan input luar yang mengandung bahan kimia sejak dulu (nenek moyang) hingga saat ini. Terlihat dalam table 5.2 bahwa sistem pertanian alami padi ladang tidak menggunakan pupuk dan pestisida. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pertanian

alami padi ladang merupakan sistem pertanian yang ramah terhadap lingkungan. 3.2. Biaya dan Pendapatan Usahatani Hasil analisis uji beda biaya dan pendapatan perusahatani menunjukkan penerimaan kotor (TR) tidak berbeda secara statistik antara sistem pertanian alami padi ladang dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah, namun pendapatan bersih(NR) perusahatani berbeda dengan signifikan pada taraf 5%. Pendapatan sistem pertanian alami padi ladang lebih tinggi daripada pendapatan sistem pertanian tidak alami padi sawah. Lebih tingginya pendapatan sistem pertanian alami padi ladang karena total produksi perusahatani tidak berbeda nyata antara keduanya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.3. Luas lahan yang digunakan perusahatani pada sistem pertanian alami padi ladang lebih luas dibanding dengan luas lahan yang digunakan pada sistem pertanian tidak alami padi sawah. Luas lahan sistem pertanian alami padi ladang rata-rata 1,34 hektar perusahatani, sedangkan luas lahan sistem pertanian tidak alami padi sawah hanya 0,94 hektar perusahatani. Nilai jual gabah kering panen(GKP) kedua sistem pertanian berbeda, dan harga jual gabah kering panen ditingkat petani lebih tinggi pada produk padi ladang.

15

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

21 Tabel 5.3. Biaya dan pendapatan perusahatani Uraian Mean Standar Deviasi Padi Ladang Padi Sawah Padi Ladang Padi Sawah luas lahan 1,34 0,94 0,52 0,47 produksi 4.839 5.729 1.895 3.450 penerimaan kotor 15.600.313 12.705.882 6.258.945 9.468.152 biaya tenaga kerja 1.656.042 1.442.941 845.006 1.213.053 biaya saprodi 551.552 1.119.059 222.002 1.899.456 penyusutan peralatan 24.033 56.812 14.130 17.623 biaya total 2.231.627 2.618.812 1.036.269 2.983.142 pendapatan bersih 13.368.685 10.087.070 5.395.380 6.630.147
Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1%; *) signifikan α 10 %; ns) tidak signifikan

t hitung 2,833*** -1,322 ns 1,422 ns 0,793 ns -2,06** -7,695*** -0,784 ns 2,028**

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dari tabel 5.3 terlihat biaya tenaga kerja tidak signifikan, artinya tidak terdapat perbedaan secara statistik pada biaya tenaga kerja yang dikeluarkan petani antara kedua sistem usahatani tersebut. Hal ini disebabkan oleh bentuk pemberian upah yang berbeda antara kedua sistem pertanian, pada sistem pertanian alami pada ladang tidak diberlakukan upah tunai, tetapi upah dalam bentuk memberi makan pada tenaga kerja yang ikut membantu dalam proses penanaman dan upah bagi hasil panen pada tahapan panen. Upah bagi hasil panen pada tahapan panen dan jumlah pembagian tersebut apabila dinilai dalam harga jual gabah kering panen (GKP=Rp/kg) maka
Tabel 5.4. Biaya dan pendapatan perhektar Uraian Mean Padi Ladang Padi Sawah Luas Lahan 1 1 produksi 3.630 6.354 penerimaan kotor 11.714.618 13.592.699 biaya tenaga kerja 1.201.927 1.428.406 biaya saprodi 409.758 983.271 nilai penyusutan peralatan 20.782 72.972 biaya total 1.632.467 2.484.649 pendapatan bersih 10.082.151 11.108.049

nilainya sangat tinggi atau sangat mahal upah tenaga kerja pada saat panen yang dikeluarkan petani padi ladang dalam biaya tenaga kerja. Apabila ada pemberlakuan upah tunai pada upah tenaga kerja pada sistem pertaniana alami padi ladang, maka ada kemungkinan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan jauh lebih rendah. karena ada kaitannya dengan jumlah tenaga kerja luar yang digunakan perusahatani pada sistem pertanian alami lebih sedikit dibanding dengan jumlah tenaga kerja luar yang digunakan pada sistem pertanian tidak alami padi sawah. Pada padi sawah suda diberlakukan upah tunai yang berlaku sejak awal adanya sistem pertanian tidak alami padi sawah.
Standar Deviasi Padi Ladang Padi Sawah .00000(a) .00000(a) 674,98 2.109,98 2.772.407,47 4.769.032,91 356.884,79 413.787,62 50.147,69 1.170.926,69 15.371,52 359.811,21 2.697.127,74 36.444,64 1.351.857,35 3969477,86 t hitung

-7,96*** -1,96* -2,16** -3,43*** -8,16*** -4,03*** -1,18 ns

Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1%; **) signifikan α 5 %; **) signifikan α 5 %; ns) tidak signifikan

Terlihat pada tabel 5.4 total produksi perhektar pada sistem pertanian alami padi ladang dan sistem pertanian tidak alami padi sawah terdapat perbedaan dan signifikan pada taraf kesalahan 1 % dan total produksi perhektar lebih tinggi pada padi sawah

sehingga penerimaan kotor (TR) perhektar juga berbeda yakni padi sawah lebih tinggi dibanding padi ladang. Namun pendapatan bersih (NR) pada sistem pertanian perhektar tidak berbeda antara kedua sistem pertanian tersebut. Hal ini disebabkan karena biaya

16

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

total kedua sistem pertanian baik pertanian alami padi ladang dengan pertanian tidak alami padi sawah terdapat perbedaan dan secara statistik berbeda pada taraf kesalahan 1 %. Biaya total pada pertanian tidak alami padi sawah lebih tinggi dibandingkan dengan pertania alami padi ladang. Hal ini juga terkait dengan jumlah dan jenis biaya input yang digunakan antara kedua sistem pertanian berbeda. Jumlah biaya saprodi dan nilai penyusutan alat yang lebih tinggi pada pertanian tidak alami padi sawah dibanding dengan pertanian alami padi ladang, misalnya benih unggul lebih mahal daripada benih lokal karena benih unggul didatangkan dari luar daerah. Pada pertanian alami padi ladang tidak menggunakan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida sehingga jumlah biaya tersebut tidak dikeluarkan oleh petani padi ladang. Secara otomatis beban biaya saprodi yang ditanggung juga tinggi oleh petani padi sawah. Sekalipun jumlah produksi usahatani

padi ladang rata-rata perhektar lebih rendah tetapi total biaya yang dikeluarkan sangat rendah sehingga pendapatan bersih menjadi tidak berbeda antara kedua sistem pertanian tersebut, dan pendapatan perusahatani lebih tinggi pada sistem pertanian alami padi ladang 3.3. Efisiensi Alokatif Analisis jumlah penggunaan input antara kedua sistem pertanian menunjukkan tidak terdapat perbedaan efisiensi teknik. Lebih lanjut dianalisis penggunaan nilai input usahatani padi ladang, apakah tidak terdapat perbedaan efisiensi teknik dan penggunaan input minimal serta biaya rendah juga menunjukkan sistem pertanian alami padi ladang efisien secara alokatif? Hasil analisis yang terlihat pada tabel 5.5 tentang efisiensi alokatif padi ladang perusahatani menunjukkan bahwa penggunaan nilai input berupa jumlah benih belum efisien secara alokatif. Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung lebih besar dari t tabel.

Tabel 5.5. Analisis efisiensi alokatif usahatani padi ladang perusahatani Usahatani Padi Ladang Variabel rata-rata harga input Benih(X1) 8.000 output 3.219 0,40 0,34 79,39 0,47 78,39 -0,53 18,66 1,88 4,20ns -0,28*** py/pxi ki ki-1 se ki t hitung

Tenaga Kerja(X4) 9.363 3.219 Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1%; ns) tidak signifikan

Agar penggunaan benih efisien alokatif perlu penambahan jumlah yang sesuai dengan anjuran pemerintah. Penggunaan tenaga kerja pada usahatani padi ladang signifikan pada taraf kesalahan 1%, artinya penggunaan tenaga kerja efisien alokatif secara statistik.

Analisis efisiensi alokatif pada penggunaan input perhektar ternyata menunjukkan bahwa penggunaan benih sudah efisien karena nilai t hitung kurang dari t tabel dan signifikan pada taraf kesalahan 1% sebaliknya penggunaan tenaga kerja tidak efisien. Hal ini terlihat dalam table 5.6.

Tabel 5.6. Analisis efisiensi alokatif usahatani padi ladang perhektar Usahatani Padi Ladang Variabel rata-rata harga input Benih (X1) Tenaga Kerja (X4) 8.000 9.363 output 3.219 3.219 0,40 0,34 1,55 0,06 0,55 -0,94 0,37 0,08 1,49*** -11.97ns py/pxi ki ki-1 se ki t hitung

Sumber: Analisis data primer(2008) Ket: ***) signifikan α 1%; ns) tidak signifikan

Penggunaan tenaga kerja pada

sistem pertanian alami padi ladang perhektar

17

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

tidak efisien alokatif dan nilai ki kurang dari satu menunjukkan berapapun jumlah tenaga kerja yang ditambah atau dikurangi tidak akan mempengaruhi penggunaan tenaga kerja untuk efisien alokatif (Bishop dan Tousaint,1979). Penggunaan tenaga kerja tidak efisien alokatif karena kemungkinan tradisi pemberlakuan upah dengan sistem memberi makan pada saat penanaman dan bagi hasil panen saat kegiatan panen maka perlu ada penelitian yang spesifik pada penerapan upah tunai sistem pertanian alami padi ladang. Secara umum dapat disimpulkan bahwa analisis usahatani pada sistem pertanian alami padi ladang menunjukkan bahwa sistem yang telah diusahakan petani di daerah Morotai Timur Kabupaten Halmahera Utara merupakan sistem yang perlu dijaga kelestariannya, dan perlu dipertahankan keasliannya, serta dapat dikembangkan karena dari aspek ekonomi pertanian dengan melihat fungsi produksi yang tidak berbeda efisiensi teknik dengan sistem pertanian lain (padi sawah), penggunaan biaya minimal dan pendapatan yang menguntungkan serta efisien alokatif pada penggunaan benih perhektar dan penggunaan tenaga kerja perusahatani

merupakan sistem pertanian yang fisibel secara ekonomi. IV. KESIMPULAN Hasil analisis penelitian yang dilakukan terhadap analisis usahatani pada sistem pertanian alami padi ladang memberikan beberapa kesimpulan. 1). Penggunaan jumlah dan jenis input yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat produksi perusahatani dan tidak terdapat perbedaan efisiensi teknik antara sistem pertanian alami padi ladang dan sistem pertanian tidak alami padi sawah. 2). Penggunaan jumlah dan jenis biaya input minimal, menjadikan pendapatan perhektar pada sistem pertanian alami padi ladang tidak berbeda dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah. Pendapatan perusahatani pertanian alami padi ladang lebih tinggi dibanding dengan sistem pertanian tidak alami padi sawah. 3). Penggunaan benih pada sistem pertanian alami padi ladang perhektar menunjukkan sudah efisien alokatif sedangkan penggunaan tenaga kerja tidak efisien.

DAFTAR PUSTAKA Bareta,J.M. 1917. Halmahera En Morotai, Bewerk near memorie van den Kapitein van den Generalen Staf, Laporan Encylopedisc Bureau,Nederland. Bergeret, A. 1977. Sistem Produksi Menurut Pendekatan Ekologis, dalam Metzner, J., dan Daldjoeni, N.,(eds), Ekofarming, Bertani selaras alam, Yayasan Obor Indonesia Jakarta., hal: 55. Bishop, C. E., dan Toussaint, W.D.,1979. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian, Diterjemahkan Oleh Tim Fakultas Ekonomi UGM (Wisnuaji, Harsono, dan suparmoko). Penerbit :Mutiara, Jakarta Fukuoka, M. 1978. Revolusi Sebatang Jerami; sebuah pengantar menuju pertanian alami,.Judul asli The One-straw revolution :an introduction to natural farming, alih bahasa, Yayasan obor Indonesia , Cet.I; Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Soekartawi. 1994. Teori Ekonomi Produksi Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi CobbDouglas,Edisi 1, Cet 2,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Visser,L.E. 1984., Mijn Tuin Is Mijn Kind., Een antropologische studie van de droge rijstteelt in Sahu (Indonesia-Halut)., diterjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul My Rice Field Is My Child, Social And Territorial Aspect of Swidden Cultivation in sahu, eastern Indonesia., oleh De Coursey, R., Foris publications Dorrecht-Holland/ Providenc U.S.A.

18

PENGELOLAAN ASPEK LINGKUNGAN SUMBERDAYA PESISIR BERBASIS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
Arman Drakel Staf Pengajar Fakultas Pertanian UMMU-Ternate ABSTRAK Pengelolaan lingkungan Sumberdaya pesisir yang berhubungan langsung dengan manusia atau mahluk hidup lain yang ada diwilayah pesisir. Sebab interaksi manusia atau mahluk hidup lain ditinjau dari aspek daya guna lingkungan sumberdaya pesisir dari berbagai aspek manfaatnnya diperuntukan untuk kelangsungan hidup baik aspek ekologis, ekonomi dan sosial masyarakat yang mendiami wilayah pesisir. Karena pengelolaan sumberdaya pesisir dengan karasteristik ekologi yang memiliki keanekaragaman jenis dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan sumberdaya yang ada dan dilakukan secara terpadu dan berkesenambungan, akan mengurangi resiko ekologi antar kepentingan sosial ekonomi manusia maupun mahluk hidup lainnya. Sebab aspek kepentingan manusia pemanfaatan sumberdaya pesisir dengan karasteristik wilayah yang ada tetap berlangsung, akan menguras keanekaragaman sumberdaya yang ada, baik aspek ekologi, ekosistem, dan social budaya dan ekonomi masyarakat.

Kata Kunci : Lingkungan, Sumberdaya, Pesisir.
I. PENDAHULUAN Perencanaan pengelolaan wilayah pesisir merupakan suatu proses atau upaya mengendalikan kegiatan manusia yang secara tidak langsung dapat menjamin keuntungan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat baik sekarang maupun di masa mendatang. Karena fungsi perencanaan pengelolaan ini harus didasarkan pada hasil evaluasi aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya yang ada di wilayah pesisir. Disamping itu kaitan dengan perspektif kepentingan kawasan pesisir sebagai sumber konflik dan arah datangnya ancaman (Siregar, 1996). Peningkatan sumberdaya alam sebagai produktifitas biologik, kawasan pesisir merupakan filter sebagai “Parabolic domain” Karena mengandung produktifitas yang paling tinggi namun rentan terhadap tekanan dari darat maupun laut (Guekorget and Perhuisot, 1992). Wilayah pesisir dalam pemanfaatan harus dilandasi dengan kebutuhan dan dilihat dari kearifan budaya masyarakat setempat. Jika didalam perencanaan pengelolaan kawasan pesisir tidak melihat aspek ini, akan menjadi tantangan bagi para perencana dan pengambil keputusan dalam menyusun perencanaan pengelolaan wilayah pesisir, sebab pada umumnya dinamika masyarakat pesisir yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam sudah banyak ditemukan antara satu wilayah dengan wilayah di Indonesia. Antara lain pemanfaatan sumberdaya hutan bakau dikawasan pesisir untuk pertambakan udang di Pantai Utara Kota Indramayu dan Kota Cirebon. Batasan wilayah pesisir dengan berbagai sumberdaya dan tingkat pemanfaatannya berhubungan dengan tipologi masyarakat di wilayah pesisir, permasalahan sosial budaya dan ekonomi akibat pengembangan wilayah pesisir. II. Pengelolaan Lingkungan Sumberdaya Pesisir Tantangan dalam pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah belum mendapatkan kesepakatan tentang batasan wilayah pengelolaan berdasarkan sumberdaya alam. Untuk memperoleh batasan yang tepat dan dapat diterima berbagai pihak yang terkait membutuhkan suatu perencanaan dengan kekuatan hukum yang mengatur batas wilayah pesisir dengan berbagai aspek peruntukan dan pelestariannya. Dalam kaitan ini

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

pengelolaan sumberdaya sesuai dengan daya dukung lingkungan ekologi wilayah pesisir diperkirakan akan menghadapi berbagai masalah yaitu (1) karasteristik wilayah dengan fungsi ekologisnya bersifat dinamis, dan (2) ekologi pada umumnya tidak berimpit dengan batas-batas wilayah peruntukan (Indrawan, 2000). Karasteristik ekosistem pesisir dapat bersifat alami atau buatan (man made) (Dahuri et al, 2001). Dalam hubungan ini wilayah pesisir yang selamanya berada dibawah permukaan air, mencakup ekosistem litoral (seperti pantai berpasir, berlumpur atau berbatu, dan terumbu karang), hutan mangrove, rawa asin, payau atau tawar, dan rawa bertanah gambut. Kondisi wilayah pesisir pada umumnya merupakan ekosistem yang mengemban berbagai fungsi ekologik dengan sifat keragaman yang ada. Ekosistem ini terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan, menjadikannya suatu sistem yang majemuk (kompleks) dan rentan terhadap perubahan. Untuk diperlukan analisa dan evaluasi ketegangan (stress) atau gangguan terhadap wilayah pesisir perlu dilakukan untuk menjamin terlaksananya proses-proses ekologis dan eksistensi ekosistem wilayah pesisir. III. Sumberdaya Alam dan Pemanfaatanya Sumberdaya pesisir dengan keragaman jenis, baik flora maupun fauna, menjadikan wilayah pesisir sebagai wilayah terkaya dengan sumberdaya alam yang pulih. Kaitan dengan sumberdaya alam tersebut akan dibahas tentang sumberdaya perikanan, pertanian, hutan pesisir, tipologi masyarakat pesisir, antara lain sebagai berikut: 3.1. Sumberdaya Perikanan Kondisi sumberdaya perairan di wilayah pesisir merupakan potensi yang sebagian besar dalam pengelolaannya untuk kebutuhan manusia, sebab ketergantungan manusia yang mendiami kawasan pesisir tidak terlepas dari pemanfaatan sumberdaya perikanan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, bahkan kehidupan masyarakat dalam mengelola potensi perikanan dalam dasawarsa terakhir mulai berkembang dengan kegiatan budidaya

bahari (marineculture), seperti budidaya rumput laut, teripang, ikan kerapu. Kegiatan perikanan rakyat itu tidak saja dilakukan di perairan bahari, tetapi juga di perairan estuaria, rawa asin, payau atau tawar yang ditemukan di wilayah pesisir seperti yang dilakukan oleh petani ikan tambak di kawasan pesisir Kabupaten Subang. Sumberdaya pesisir dengan kondisi hutan mangrove yang tumbuh dengan berbagai species. Selain sebagai hutan pesisir, hutan mangrove juga sebagai estetika lingkungan pesisir, penahan ombak dan angin terdapat berbagai satwa liar dan peruntukan fungsi lain sebagai bahan bangunan, bahan bakar. sedangkan perairan yang berada di dalam kawasan hutan itu mendukung potensi perikanan dengan berbagai fungsi ekologik yang penting untuk daur kehidupan. Perairan pesisir rnerupakan daerah penangkapan (fishing ground) bagi perikanan rakyat (artisanal fisheries) produksi perikanan laut mencapai 90 % (Soegiarto 1996). Dalam kurun waktu tersebut, hasil perikanan laut meningkat dan sekitar 970 ribu ton menjadi sekitar 2.400 ribu ton (Dirjen Perikanan 1999). Kenaikan produksi itu di satu sisi disebabkan karena “modernisasi” armada perikanan, di sisi lain akibat penemuan dan pemanfaatan potensi sumberdaya “baru”. Pengembangan daerah penangkapan perikanan rakyat merupakan ciri sebagian besar armada perikanan yang berada di wilayah pesisir. Daerah penangkapan armada itu, pada umumnya adala perairan estuaria, perairan pasang surut (tidal swamps), dan daerah literal yang berada di wilayah pesisir di bagian “dalam” Kepulauan Indonesia. Terumbu karang (coral reefs) pada umumnya merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang penting, tidak saja sebagai habitat berbagai jenis ikan komoditi ekspor, baik ikan konsumsi maupun ikan hias, tetapi juga sebagai obyek pariwisata (wisata bahari). Selain terumbu karang, di wilayah pesisir ditemukan berbagai obyek wisata lainnya, yang memiliki nilai sejarah, budaya, agama, dan estetika. Potensi-potensi ini, apabila dikonservasi merupakau aset yang tidak ternilai, dan pada saatnya potensi tersebut akan merupakan salah satu tumpuan penghasilan masyarakat pesisir. Selain itu beberapa daerah pesisir di pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat,
20

dilakukan kegiatan budidaya air payau. Usaha itu menarik perhatian pihak swasta, karena hasil usaha budidaya air payau sangat menguntungkan dan udang merupakan salah satu komoditi ekspor non migas (Dirjen Perikanan 1999). Keberhasilan pengembangan budidaya air payau dapat dilihat dan peningkatan peran produksi udang dari tambak terhadap produksi udang. Pada tahun 1997, produksi udang dari tambak hanya mencakup sekitar 31%. Keadaan sebaliknya terlihat pada tahun 1998, dimana produksi udang tambak mencakup 60% dari produksi udang penaeid nasional (Bailey 1998; Muluk 1999). Perkembangan peran produksi tambak tidak saja disebabkan pelarangan operasi pukat harimau, tetapi juga karena penguasaan teknologi produksi masal benih udang (benur) dan pakan, serta konversi hutan bakau menjadi tambak. Selanjutnya, kecenderungan memperluas areal tambak didorong oleh keinginan politik pemerintah untuk mengupayakan diversifikasi komoditi ekspor (Muluk 1994). 3.2. Sumberdaya Pertanian Kegiatan pengembangan sumberdaya lahan diwilayah pesisir ditemukan berbagai sistem buatan, antara lain sistem tambak yang berada lebih ke arah laut uutuk menunjang kehidupan masyarakat pesisir. Pengembangan sistem buatan itu terdiri dari sistem produksi tanaman pangan dan sistem produksi perkebunan. Di daerah yang masih dipengaruhi air tawar, walaupun hanya dalam musim hujan, dapat dikembangkan persawahan pasang surut yang memanfaatkan energi arus pasang untuk pengairan. Karenanya, sistem ini ditemukan di sepanjang sungai sejauh mana pengaruh pasang masih berpengaruh. Saluran drainasi sederhana yang pada umumnya kecil, digunakan untuk mengairi lahan persawahan tersebut. Peluang musim tanam per tahun dipengaruhi oleh letak sawah terhadap sungai dan besarnya debit air tawar sungai itu. Diperkirakan hanya 25% dari areal sawah pasang surut dapat di tanaman dua kali dalam satu tahun (Knox dan Miyabara 1996). Derngan cara bercocok tanam yang diterapkan di wilayah pesisir merupakan adaptasi terhadap keadaan setempat. Faktorfaktor lingkungan yang mempengaruhi cara bercocok tanam itu adalah besarnya fluktuasi

pasang surut, besarnya debit air sungai dan intrusi air laut. Selanjutnya, pembenihan dilakukan di tanggul sungai agar terjamin pasokan air tawar, dan juga untuk mencegah gangguan dari tikus atau hama lainnya. Selain sistem persawahan pasang surut, juga ditemukan kebun kelapa dan berbagai jenis tanaman buah-buahan antara lain pisang, dan jambu, dan secara sporadis juga sayur-sayuran. Sistem pertanian di wilayah pesisir umumnya bersifat subsistem. 3.3. Sumberdaya Hutan Pesisir Potensi sumberdaya hutan yang ditemukan di wilayah pesisir terdiri dari vegetasi mangrove yang pada tahun 1996 diperkirakan mencakup areal sekitar 4 juta hektar, dan sekitar 60% potensi itu merupakan hutan mangrove (Naamin dm Hardjamulia 1995). Usaha perlindungan potensi hutan bakau untuk mempertahankan fungsi ekologik yang majemuk telah banyak diupayakan (Koesoebiono, Collier, dan Burbridge 1994). Dengan demikian konversi hutan mangrove menjadi pertambakan udang terjadi secara pesat (seperti yang terjadi di Lampung, Sumatera Selatan, Samatera Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Selatan dan Timur, dan Sulawesi Tengah, Tenggara dan Selatan) (Muluk 1994). Bahkan areal tambak yang ditemukan di beberapa propinsi telah melampaui potensi areal mangrove yang diperkirakan oleh Naamin dan Hardjamulia (1995), 3.4. Tipologi Masyarakat Pesisir Dalam kenyataannya faktor pembedaan kebutuhan masyarakat atau pemukiman sukar dilaksanakan, karena sifat masyarakat pesisir yang memiliki mata pencaharian yang saling tumpang tindih. Klasifikasi masyarakat dapat dilakukan berdasarkan mata pencarian utamanya atau berdasarkan sifat masyarakat yang bermukim dikawasan pesisir. Dengan kombinasi kriteria itu, masyarakat wilayah pesisir dapat dibagi ke dalam (a) masyarakat nelayan, (b) masyarakat petani dan nelayan, (c) masyarakat petani, (d) masyarakat pengumpul atau penjarah (collector, forager), (e) masyarakat perkotaan dan perindustrian, dan (f) masyarakat tidak menetap/sementara atau pengembara (migratory). Berikut ini dikemukakan kombinasi kriteria sebagai berikut :

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

a. Masyarakat Nelayan Pemukiman dan masyarakat nelayan/perikanan merupakan pemukiman dan masyarakat yang dominan di wilayah pesisir. Mata pencaharian ini umumnya bersifat musiman, sekalipun merupakan mata pencaharian utama. Pada musim baratan misalnya, nelayan sepanjang pantai utara Jawa terhambat melaut. Tidak saja akibat cuaca yang buruk dan gelombaug yaug relatif lebih besar, akan tetapi juga karena hasil tangkapan yang tidak memadai. Pada umumnya, masyarakat nelayan ini bersifat tradisional yang mengoperasikan alat tangkap yang sederhana, tanpa atau dengau motor. Karenanya, wilayah operasi mereka terbatas di sekitar perairan pesisir. Kampung nelayan bervariasi ukurannya. Nelayan tradisional umumnya menempati pemukiman yang relatif kecil, terpencar-pencar, dan sulit dijangkau melalui jalan darat. Tidak jarang perkampungan nelayan ini terletak di pulau-pulau atau daerah estuaria yang hanya dapat dicapai dengan menggunakan perahu. b. Masyarakat Petani dan Nelayan Masyarakat nelayan dengan mata pencaharian kedua bertani merupakan hal yang umum. Kegiatan pertanian biasanya dilakukan pada saat tidak melaut (pada musim paceklik), dan bahkan ada yang menjadi buruh petik di perkebunan kopi (di daerah pegunungan), atau karena “kewajiban” sosial masyarakat itu. Pada musim panen padi misalnya, tidak jaraug masyarakat petani sawah mendapat bantuan dari masyarakat nelayan dengan imbalan sebagian dari hasil panen. Selain itu, tidak jarang sebagian dari masyarakat nelayan terlibat dalam kegiatan pertanian lainnya seperti di kebun kelapa, bertani sayuran, atau menjadi buruh kasar di kota/industri. c. Masyarakat Petani Perkampungan masyarakat pertanian wilayah pesisir terletak lebih jauh ke arah darat bila dibandingkan dengan perkampungan nelayan. Tergolong ke dalam kategori ini adalah masyarakat wilayah pesisir yang terlibat dalam kegiatan budidaya kelapa, padi, ikan dan/atau udang. Selain itu, ke dalam kelompok ini juga termasuk masyarakat yang menghasilkan garam (rakyat) pada musim kemarau, dan selama musim hujan tambak garam itu digunakan untuk memelihara ikan/udang. Mata

pencaharian tambahan dari masyarakat petani di wilayah pesisir ini umumnya dari eksploitasi sumberdaya alam lainnya, seperti menangkap ikan di sungai dan/atau rawa, serta mengumpul bahan makanan atau hangunan dari hutan mangrove. Pemukiman masyarakat ini biasanya berkelompok, dan letaknya yang terpisah dari pusat kegiatan bertani (ladang, sawah, tambak atau kebun kelapa), dan ummnya memiliki kebun pekarangan. d. Masyarakat Pengumpul atau Penjarah Pada dasarnya, masyarakat yang bermata pencaharian utama sebagai pengumpul tidak ditemukan di wilayah pesisir. Pekerjaan ini umumnya merupakan mata pencaharian tidak tetap atau pelengkap masyarakat nelayan dan petani. Pada musim paceklik, baik bagi nelayan maupun petani, umumnya mereka mengembara di hutan bakau dan rawa, mengumpulkan bahan pangan atau bangunan. Diantara masyarakat pesisir ini, tidak jarang ditemukan pedagang hasil hutan, benih ikan atau udang bahan bakar (kayu atau arang), dan bahan bangunan. Namun, mata pencaharian itu sangat dipengaruhi musim. e. Masyarakat Perkotaan/Perindustrian Perkembangan masyarakat kota, biasanya terkait dengan pengembangan wilayah pesisir, seperti pembangunan kawasan pelabuhan, industri, pariwisata dan fasilitas peuunjang lainnya, seperti pemukiman jalan raya, air minum, listrik dan lain sebagainya. Selain kota-kota pelabuhan, di wilayah pesisir ini juga berkembangan kota-kota industri dan dapat disertai oleh perkembangan pusat-pusat administrasi dan ekonomi lainnya, serta pusat-pusat pemukiman. Perkembangan wilayah perkotaan dan industri di wilayah pesisir terjadi sangat pesat. f. Masyarakat Pengembara Masyarakat pengembara tidak memiliki pemukiman yang tetap. Mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menangkap ikan. Bila hasil penangkapan di satu daerah menurun, mereka pindah ke daerah lainnya. Tidak jarang mereka menebas hutan untuk bertani, akan tetapi tidak pernah menetap di satu daerah untuk waktu yang lama.

22

IV. Pengembangan Wilayah Pesisir dan Dampaknya Konsepsi dalam pengembangan lingkungan hidup, terutama diwilayah pesisir dilakukan secara terpadu. Strategi pengelolaan lingkungan pesisir merupakan usaha untuk mempertahankan dan menciptakan lingkungan yang berkualitas dengan cara meningkatkan daya dukung wilayahh pesisir melalui kebijakan yang didasari oleh kondisi masing-masing kawasan dengan pengembangan yang dilakukan secara terpadu dan sektoral, (Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2001). Adanya sumberdaya kawasan pesisir terutama perkembangan penduduk, pengembangan wilayah di bagian hilir/darat dan juga pengembangan di wilayah pesisir sendiri akan berdampak kepada wilayah seluruh ekosistem pesisir. Dampak perkembangan dan berbagai kegiatan itu dapat berdampak langsung atau tidak langsung terhadap masyarakat pesisir. Penilaian dampak ini dapat dimulai dari penilaian kemungkinan pemanfaatan wilayah pesisir. Pada umumnya, sumberdaya alam wilayah pesisir kurang termanfaatkan (under-utilized). Hal itu disebabkan karena hambatan kondisi alam wilayah itu, seperti jalan dan sarana transportasi (aksesibilitas), ketersediaan tenaga kerja, dan sebagainya. Kondisi ini belum termasuk pengembangan tambak berpola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) di Propinsi Lampung (Kepala Dinas Perikanan Propinsi Lampung, kompri. 2001), Sumatera Utara dan Kalimantan Barat (Direktur Bina Program, Direktorat Jenderal Perikanan, kompri. 2002). “Peledakan” luas tambak udang dalam dua dasawarsa terakhir ini sebagai akibat keinginan politik pemerintah dalam diversivikasi komoditi ekspor, sebagian merupakan konversi hutan mangrove, dan sebagian lagi merupakan transformasi tambak ikau atau garam, dan lahan marjinal lainnya, sepeni lahan berpasir, lahan pasang surut (tidal mudflats). V. Pengalihan Hak Usaha dan Aksessibilitas Sumberdaya Keberadaan lahan pesisir merupakan tanah negara dan penggunaan oleh

masyarakat pesisir diatur oleh adat/tradisi yang berlaku. Luas lahan garapan setiap keluarga biasanya sangat sempit. Bagi masyarakat nelayan sumberdaya lahan dan perairan dipandang sebagai “milik bersama” (communal atau common property), dan seperti halnya dengan lahan pertanian, pemanfataannya diatur oleh adat. Dalam hal ini, seseorang dapat menempati, menguasai, atau menggarap sebidang lahan yang tidak ditempati, dikuasai atau digarap orang lain dengan seisin kepala adat setempat. Perbedaan persepsi antara masyarakat pesisir yang secara turun-temurun aktif memanfaatkan sumberdaya wilayah pesisir, dan pemerintah yang menguasai lahan itu sering terjadi. Pada umumnya, perbedaan persepsi ini merupakan pangkal pertikaian kepentingan antara masyarakat di satu pihak, dan di pihak lain, pemerintah atau swasta (investor) yang secara hukurn mendapat izin untuk memanfaatkannya. Masyarakat pesisir, menganggap dirirya sebagai “pemilik” yang sah atas lahan dan perairan yang telah ditempati dan diusahakan mereka secara turun-temurun. Akan tetapi, pemerintah di pihak lain, tidak mengakui hak itu, dan akibatnya pemerintah dapat memberikan hak usaha atas lahan/perairan kepada swasta (investor). Pengalihan hak usaha kepada masyarakat luar merupakan salah satu ketegangan (stress) dan merupakan dampak negatif pembangunan yang dapat dialami masyarakat pesisir. Secara sederhana, mekanisme timbulnya kctegangan adalah akibat peningkatan jumlah penduduk yang selanjutnya mengakibatkan meningkatnya permintaan bnahan pangan, dan pada gilirannya menuntut perluasan areal produksi bahan pangan atau penerapan teknologi budidaya/bercocok tanam yang hemat lahan. Fenomena itu jelas terliliat pada dua produk pertanian, yaitu padi dan udang. Dalam upaya berswasembada bahan pangan, pada tahun 70-an terjadi desakan untuk meningkatkan produksi padi, melalui pemanfaatan daerah pasang surut di wilayah pesisir. Walaupun pada saat itu masih terdapat pihak yang kurang menyetujui kajian ini tapi secara kenyataan ribuan hektar lahan pesisir berhutan mangrove di Sumatera dan Kalimantan telah dikonversi menjadi daerah pemukiman transmigran dan pesawahan pasang surut (Koesoebiono,

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

Collier dan Burbridge 1995; Hanson dan Koesoebiono 1996). Dalam jangka pendek, upaya itu tidak sia-sia, akan tetapi keberlanjutan usaha itu sangat diragukan dan perlu ditinjau kembali (Knox dan Miyabara 1994), baik dari aspek teknis, ekonomi, maupuu sosial. Hal yang serupa terulang kemhali pada tahun 90-an, dimana permintaan pasar internasional akan udang makin meningkat. Bahkan komoditi udang “dinobatkan” sebagai komoditi primadona abad ini, dan tercatat sebagai salah satu komoditi ekspor Indonesia peringkat atas (Direktorat Jenderal Perikanan 1997, dan 2000), dan juga telah mengangkat Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor udang terbesar di dunia (Rosenberry 1991). Ketegangan yang dialami masyarakat pesisir bukan saja akibat “hilangnya” penguasaan lahan yang “diperolehnya” secara turuntemurun, tetapi juga kehilangan akses terhadap lahan-lahan yang biasanya dijarahi untuk mendapat bahan pangan, hewan buruan atau bahan bangunan. Kegiatan perikanan rakyat yang masih dilakukan dengan cara-cara tradisional menggunakan peralatan dan kadangkala dengan perahu yang sederhana, hanya mampu beroperasi di sepanjang pesisir. Usaha perikanan rakyai ini, yang merupakan ciri sebagian besar dari usaha perikanan di Indonesia, bersifat subsisten yang hasil tangkapannya hanya sebatas mencukupi keperluan sehari-hari. Ketegangan yang dialami masyarakat nelayan adalah akibat tangkap lebih (over-fishing) yang timbul akibat penambahan atau modernisasi kapal/perahu dan alat tangkap. Sebagai contoh adalah introduksi pukat harimau (trawl) dan motonsasi dalam rangka modernisasi armada perikanan rakyat. Upaya ini memang telah mengarahkan dan meningkatkan peranan perikanan Indonesia di pasar internasional (hasil tangkapan utamanya adalah udang). Akan tetapi, karena jalur operasi kapal trawl ini bertumpang tindih dengan yang digunakan nelayan tradisional, kegiatan kapal trawl tersebut ditentang oleh para nelayan tradisional. VI. Kesenjangan Antar Kelompok Masyarakat Perbedaan adat-istiadat dan strata sosial masyarakat penghuni wilayah pesisir sangat beragam, dan merupakan salah satu

sumber pertikaian/ketegangan (stress). Kesenjangan ekonomi dan sosial yang dengan mudah terlihat dari perbedaan kesempatan bersekolah, berusaha, atau dari status sosial anggota masyarakat merupakan sumber ketegangan yang melekat (inherent) pada masyarakat pesisir. Sebagai contoh, anggota masyarakat dengan kedudukan sosial yang “lebih tinggi” memiliki aksesibilitas yang lebih besar terhadap pendidikan (ilmu dan pengetahuan), modal (kredibilitas tinggi), teknologi (bermodal untuk menerapkan teknologi yang mutakhir), dan juga politik (umumnya menjadi pemuka masyarakat). Kelompok masyarakat ini juga merupakan kelompok dengan mobilitas tinggi, dan tidak jarang mereka membawa dan menerapkan temuan baru yang dipeolehnya dari kunjungannya ke lain daerah. Karenanya, mereka juga sering dikenal sebagai “inovator” untuk daerahnya. Selanjutnya, selain keberuntungan ini mereka dapat pula menikmati berbagai kegiatan (proyek) pemerintah. Kesempatan yang diperoleh kelompok “tingkat atas” mempertebal keirian sosial dari masyarakat yang tidak memiliki peluang ini. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk memperkecil kesenjangan sosial dan mengikis keirian sosial tersebut, misalnya melalui program pengentasan kemiskinan, Inpres Desa Tertinggal, tetapi perbedaan persepsi diantara para pelaksana kegiatan ini dan lemahnya koordinasi di lapangan, hasil kegiatan ini belum memadai. Kondisi sosial masyarakat yang saling berinteraksi kepentingan maupun kebutuhan pada strata sosial ekonomi tidak dapat dihindari antara hubungan masyarakat kota dan pedesaan maupun bencana alam dan dampak kegiatan masyarakat sebagai berikut : 6.1. Hubungan Masyarakat Kota dan Pedesaan Masyarakat pedesaan pada umumnya dikendalikan masyarakat kota. Pasar dan harga produk yang dihasilkan masyarakat pedesaan, umumnya ditentukan oleh permintaan masyarakat kota. Keadaan semacam ini dapat dan telah berubah dengan menciptakan lapangan kerja dan usaha baru di daerah pedesaan. Kesempatan kerja yang tercipta dengan introduksi industri rumah tangga dan pembentukan kelompok usaha misalnya, dapat menyebabkan diversifikasi
24

dalam struktur tenaga kerja dan ekonomi pedesaan. Selanjutnya, peningkatan kesempatan kerja dan usaha di daerah pedesaan, akan meningkatkan interaksi antar masyarakat kota dan pedesaan. Namun interaksi ini juga menimbulkan tekanan ekonomi dan sosial baru, antara lain disebabkan karena perbedaan pendapatan, kesejahteraan, serta perbedaan persepsi tentang teknologi tepat guna, modernisasi, dan pembangunan. Akibat lain yang mungkin timbul, adalah peningkatan interaksi antara masyarakat kota, bahkan mancanegara, dan pedesaan misalnya melalui kegiatan pariwisata di wilayah pesisir. Adopsi tata cara hidup, kegiatan ekonomi, dan nilai dan norma sosial baru dapat menimbulkan ketegangan sosial. Cagar budaya (cultural shock) semacam ini dapat dipandang sebagai salah satu sisi negatif dari pembangunan wilayah pesisir melalui kegiatan itu. Keadaan semacam ini dapat dikurangi akibatnya apabila dalam tahap perencana telah difikirkan kemungkinan timbulnya kejadian tersebut. Aspek-aspek sosial. ironisnya, baru dipertimbangkan setelah dampak negatif itu terjadi. 6.2. Bencana Alam dan Dampak Kegiatan Manusia Salah satu kerusakan yang terjadi dan tidak bisa dihindari adalah factor bencana alam di wilayah pesisir antara lain banjir sebagai fenomena dan sering mengikuti pola tertentu. Karena sifatnya yang terpola, masyarakat pesisir mengadopsi pola ini dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan ini menentukan pola kegiatan usaha tani dan perikanan mereka. Selain banjir, yang bersifat musiman, terjadi pula keteganganketegangan lain yang timbul akibat kegiatan manusia, seperti perusakan habitat dan pencemaran. Ketegangan ini makin meningkat intensitasnya dengan meningkatnya kegiatan di bagian hulu dan juga di wilayah pesisir itu sendiri. Konservasi sumberdaya alam, penerapan cara bercocok tanam, dan eksploitasi sumberdaya perikanan yang benar perlu dipertimbangkan dalam tahap perencanaan demi keberlanjutan usaha di wilayah pesisir.

Selain pengaruh hulu ke hilir, seperti pencemaran misalnya, dapat pula terjadi pengaruh yang sebaliknya, seperti intrusi air laut atau garam (salt intrusion), dan abrasi pantai. Perusakan terumbu karang, penggalian/penambangan bijih besi atau timah, di satu sisi menunjang pembangunan ekonomi, tetapi di sisi lain merusak habitat wilayah pesisir yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat pesisir. VII. Penutup Pengelolaan lingkungan sumberdaya pesisir sebagai bagian integral aspek ekonomi dan sosial masyarakat yang berhubungan dengan aspek ekologi wilayah. Kondisi dari keragaman fisik wilayah ini terjadi akibat dari interaksi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup terhadap sumberdaya wilayah pesisir. Dengan latar belakang budaya dan sosial yang berbeda, telah memaafaatkan atau menikmati kekayaan sumberdaya alam wilayah pesisir. Aspek pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir merupakan salah satu keuntungan sesuai dengan kebutuhan hidup bagi masyarakat. Untuk itu, diperlukan kajian aspek-aspek sosial dan budaya agar memperoleh perhatian yang sama yang berhubungan dengan aspek-aspek teknis dan ekonomis. Sementara dalam kebijakan perancangan pengelolaan lingkungan wilayah pesisir merupakan salah satu aspek penting yang berhubungan langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sesuai dengan potensi dan sumberdaya alam yang ada. Sumberdaya lingkungan pesisir merupakan suatu wilayah yang memiliki potensi sumberdaya dan keanekaragaman jenis yang cukup banyak. Dibandingkan dengan kawasan lainnya, wilayah pesisir dengan berbagai ekosistem yang saling berkaitan dan terjalin dalam satu sistem ekologis yang majemuk (kompleks). Di sisi lain diperlukan berbagai upaya untuk menjamin keberlangsungan peran ekologik yang diemban wilayah pesisir, sehingga pemanfaatan sumberdaya alam perlu memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA Bailey, C. 1986. Government Protection of Traditional Resource Use Rights: The Case of Indonesian Fisheries. Hal. 292-308 dalam D.C. Korten ed. Community Management: Asian Experience and Perspectives. Kumarian Press, West Hartford, CN, USA. Csavas, I. 1992. Impact of Aquaculturc on the Shrimp Industry. Makalah disajikan dalam Shrimp ‘92 Global Conference, Hong Kong. FAO Regional Office for Asia and Pacific, Bangkok, Thailand. Direktorat Jenderal Perikanan. 1987. Shrimp Culture in Indonesia: Its. Prospect. Directorate General of Fisheries, Jakarta, Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan. 1990. Statitistik Perikanan Indonesia, 1988. Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian, Jakarta, Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan. 1992. Statitistik Perikanan Indonesia, 1990. Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian, Jakarta, Indonesia. Direktorat Direktorat

Driessen, P.M. dan Soepraptohardjo. 1974. Soils for Agricultural Expansion in Indonesia. Soil Research Institute, Bogor, Indonesia. Hanson A.J. dan Koesoebiono. 1977. Settling Coastal Swamplands in Sumatra: A Case Study for Integrated Resource Management. PSPSL/Research Report/004, Bogor Agricultural University. Bogor, Indonesia. Kartawinata, K. dan S. Soemodihardjo. 1976. Klasifkasi Daerah Pesisir Berdasarkan Komunitas Hayati. LIPI. Jakarta, Indonesia. Koesoebiono, W.L. Collier dan P.R. Burbridge. 1982. Indonesia: Resources’ Use and Management in the Coastal Zone. Hal. 115-133 dalam C. Soysa, L.S. Chia, dan W.L. Collier eds. Man, Land and Sea: Coastal Resource Use and Management in Asia and the Pacific. The Agricultural Development Council. Bangkok. Thailand. Muluk, C. 1994. Social and Environmental Impacts of Shrimp Culture in West Java. PhD’s Dissertation. Auburn University, Auburn, AL, USA. Namin, N. daa A. Hardjamulia. 1990. Potensi, Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Indonesia. Hal. 89-127 dalam F. Cholik et al. (eds.) Prosiding Forum I Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta, Indonesia. Petersen, S. dan LJ. Smith. 1982. Social and Economic Impediment to Artisanal Fisheries. Hal. 299-307 dalam C. Soysa, L.S. Chia, dan W.L. Collier eds. Man, Land and Sea: Coastal Resource Use and Management in Asia and the Pacific. The Agricultural Development Council, Bangkok, Thailand. Rosenberry, R. 1991. Eastern Hemisphere. Hal. 10-19. dalam World Shrimp Farming 1991. San Diego, CA, USA. Ruddle, K. 1982. Environmental Pollution and Fishery Resources in Southeast Asia Coastal Waters. Hal. 15-35 dalam C. Soysa, L.S. Chia, dan W.L. Collier eds. Man, Land and Sea: Coastal Resource Use and Management in Asia and the Pacific. The Agricultural Development Council, Bangkok, Thailand. Soegiarto, A. 1976. Indonesia. Makalah disajikan dalam International Seminar on Development and Management or resources in Coastal Areas, West Berlin, Hamburg and Coxhaven.

AGRIBISNIS AREN : PRODUK USAHA YANG MENJANJIKAN DI MALUKU UTARA
Sandra L. Hiariey
Staf Pengajar Fakultas Pertanian UMMU - Ternate ABSTRAK Hampir di seluruh wilayah Nusantara ini terdapat tanaman aren (Arenga pinnata). Semua bagian atau produk tanaman ini dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Tanaman aren ini memiliki banyak manfaat, termasuk didalamnya sebagai penghasil gula dan bioethanol. Tanaman aren selain bisa diproses menjadi subtitusi bensin juga baik dalam hal menyimpan air tanah serta mencegah bencana banjir dan longsor. Akan tetapi, tanaman ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan atau dibudidayakan secara sungguhsungguh oleh berbagai pihak. Berdasarkan survei lapangan bahwa terdapat banyak industri rumah tangga yang memanfaatkan nira dari aren untuk produksi gula merah di Maluku Utara. Industri skala kecil ini paling banyak terdapat di Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya Bacan dan Kabupaten Halmahera Utara yaitu Galela. Hal mana menjadi bukti bahwa Maluku Utara memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan pertanian aren serta agroindustri aren selain sebagai gula merah, untuk peningkatan pendapatan daerah serta pendapatan petani dan dapat mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.

Kata Kunci : Agribisnis, Aren.
I. PENDAHULUAN Memasuki abad 21 negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia mengalami krisis moneter yang berkepanjangan. Krisis ini memberi dampak yang sangat signifikan terhadap dunia industrialisasi yaitu banyaknya industriindustri yang pailit akibat krisis ekonomi serta naiknya biaya-biaya prpduksi. Namun pada sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan, mulai dari hasil-hasil pertanian menjadi lebih berpeluang baik di pasaran dalam maupun luar negeri. Meskipun sektor pertanian telah terbukti menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat yang sedang mengalami krisis ekonomi, tetapi untuk menjadikan sektor pertanian sebagai leading sector dalam proses pembangunan bukanlah hal yang mudah. Untuk membentuk suatu agroindustri yang mampu menjadi mesin pendorong dalam sektor ekonomi dibutuhkan investasi yang mahal atau memerlukan modal yang sangat besar (Soetrisno,1999). Dinamika pembangunan telah menyebar sampai ke pelosok desa di seluruh Indonesia. Pembangunan pertanian tetap menjadi tumpuan harapan bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang berada di pedesaan. Sejak Pelita VI pembangunan sektor pertanian bukanlah semata-mata meningkatkan produksi hasil-hasil pertanian, tetapi juga diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan petani beserta keluarganya dengan landasan konsep agribisnis. Seirama dengan pengembangan agribisnis tersebut selayaknya perlu diperhatikan kegiatan pasca panen dan pengolahan hasil-hasil pertanian (Sutanto, 1996). Industrialisasi pedesaan merupakan suatu proses yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat mekanis dalam sektor pertanian dan semakin berkembangnya industri pengolahan hasil-hasil pertanian. Dampak dari industrialisasi tersebut dapat diwujudkan melalui keterkaitan yang saling menguntungkan antara petani produsen dengan industri pengolahan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi pedesaan. Sejalan dengan hal tersebut salah satu sasaran pembangunan pertanian Provinsi Maluku Utara adalah meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian yang meliputi meningkatnya mutu produk

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

primer pertanian, meningkatnya keragaman pengolahan produk pertanian, meningkatnya ekspor (Dinas Pertanian PDP. Maluku Utara, 2006). Propinsi Maluku Utara sebagai salah satu daerah dengan potensi sumberdaya alam yang sangat besar, khsususnya sektor perkebunan. Sesuai kebijakan pengembangan pertanian di propinsi ini bahwa kota Ternate akan dijadikan sebagai kota agribsnis, maka komoditi agribisnis tanaman aren akan membuka peluang bisnis serta keuntungan yang besar untuk daerah ini. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya produksi agroindustri tanaman aren yang sudah terkenal di daerah ini yaitu gula merah. Dimana produksi gula aren masih banyak dilakukan dalam skala industri kecil atau home industry yang perlu perhatian khusus dan pendampingan dari pemerintah, dan juga dilihat dari manfaat seluruh bagian tanaman aren yang dapat dijadikan produk yang bernilai jual yang tinggi, seperti etanol. II. TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memperkenalkan aren sebagai komoditi agribisnis yang dapat memberi peluang usaha yang menjanjikan di Maluku Utara. Semoga penulisan ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah khususnya yang terkait dengan pengembangan agroindustri aren di Maluku Utara. III. BOTANI TANAMAN AREN Aren termasuk suku Aracaceae (pinang-pinangan). Batangnya tidak berduri, tidak bercabang, tinggi dapat mencapai 25 meter dan diameter pohon dapat mencapai 65 cm. Aren merupakan tumbuhan berbiji tertutup dimana biji buahnya terbungkus daging buah. Tanaman ini hampir mirip dengan pohon kelapa. Perbedaannya,, jika pohon kelapa batang pohonnya bersih (pelepah daun yang tua mudah lepas), maka batang pohon aren ini sangat kotor karena batangnya terbalut oleh ijuk sehingga pelepah daun yang sudah tua sulit diambil atau lepas dari batangnya. Oleh karena itulah, batang pohon aren sering ditumbuhi oleh banyak tanaman jenis paku-pakuan. Tangkai daun aren panjangnya dapat mencapai 1,5 meter, helaian daun panjangnya dapat mencapai 1.45 meter, lebar 7 cm dan bagian bawah daun ada lapisan

lilin. Aren (Arenga pinnata) mempunyai banyak nama daerah seperti : bakjuk/bakjok (Aceh), pola/paula (Karo), bagot (Toba), agaton/bargat (Mandailing), anau/neluluk/nanggong (Jawa), aren/kawung (Sunda), hanau (dayak,Kalimantan), Onau (Toraja, Sulawesi), mana/nawa-nawa (Ambon, Maluku) IV. TANAMAN AREN di INDONESIA Tanaman aren (Arenga pinnata Merr) merupakan tanaman dari suku Palmae yang tersebar pada hampir seluruh wilayah di Indonesia, terutama terdapat di 14 provinsi, seperti: Papua, Maluku, Maluku Utara, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Kalimantan Selatan dan Nangroe Aceh Darussalam. Total luas di 14 provinsi sekitar 70.000 Ha (Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain, Manado). Pemanfaatan tanaman aren di Indonesia sudah berlangsung lama. Namun agak lambat perkembangannya menjadi komoditi agribisnis karena sebagian tanaman aren yang diusahakan adalah tumbuh secara alamiah atau belum dibudidayakan (Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain, Manado). Tanaman enau yang tumbuh ataupun yang dibudidayakan, tidak pernah diperhatikan secara khusus oleh petani enau. Terutama untuk pemupukkan, biasanya petani tidak pernah memupuknya dan juga tidak pernah diperhatikan gulma yang tumbuh disekitar enau karena dianggap tidak akan mengganggu tanaman enau tersebut.. Budidaya tanaman aren baru mendapat perhatian mulai tahun 2002, yaitu bantuan pemerintah untuk mendapat teknologi tentang aren. Teknogi tanaman aren yang sudah diteliti antara lain teknik pembibitan, teknik penyadapan dan pengawetan nira, teknik pengolahan gula cetak, gula semut dan teknik pengolahan "palm wine". Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren mempunyai kegunaan bagi kehidupan manusia, juga merupakan tanaman yang dapat berperan dalam mencegah erosi tanah terutama daerah-daerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih 6 meter pada kedalam tanah. Tanaman Aren atau enau (Arenga
28

pinnata Merr.) merupakan salah satu jenis tanaman palmae yang syarat tumbuhnya memerlukan udara tropis seperti Indonesia. Sama halnya dengan kelapa, hampir seluruh bagian tanaman aren bernilai ekonomis. Akar, batang, daun, buah, ijuk dan tandan bunga jika dimanfaatkan secara optimal akan mampu mengangkat taraf ekonomi para petani dan pedagangnyanya. Salah satu hasil produksi aren yang terkenal adalah gulanya. Disadap dari tandan bunga jantan untuk diambil niranya, dikentalkan melalui proses pemanasan kemudian dicetak. Hampir semua bagian atau produk tanaman ini dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi. Namun tanaman ini kurang mendapatkan perhatian untuk dikembangkan atau dibudidayakan secara sungguh-sungguh oleh berbagi pihak. Padahal permintaan produkproduk yang dihasilkan tanaman ini, baik untuk kebutuhan ekspor maupun kebutuhan dalam negri terus meningkat. Kelapa ( Cocos nucifera ), pinang ( Areca catchecu ), dan aren ( Arenga pinnata ) adalah tanaman yang termasuk dalam famili palmae telah digunakan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun. V. KANDUNGAN GIZI DAN MANFAAT AREN Kandungan gizi tanaman aren khususnya gula aren (Palm Sugar) sangat tinggi yaitu mengandung Potassium, Magnesium, Seng dan Besi alami serta merupakan sumber vitamin B1, B2, B3, B6 dan C. Menurut riset yang dilakukan oleh Food and Nutrition Research Institute (FNRI), gula aren (Palm Sugar) memiliki tingkat glycemic (GI) indeks yang sangat rendah. Dengan perbandingan, jika GI Madu adalah 55 dan GI gula tebu adalah 68, angka 35 untuk palm sugar memang menjadi GI indeks yang terendah sebagai unprocessed sweeteners yang tersedia saat ini. Pohon aren banyak manfaatnya, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi. a. Fungsi Konservasi Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk,

akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah. Disamping itu pohon aren yang dapat tumbuh baik pada tebing-tebing, akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor. b. Fungsi Produksi Fungsi produksi dari pohon aren dapat diperoleh miulai dari akar, batang, daun, bunga dan buah. Di Jawa akar aren digunakan untuk berbagai obat tradisional. Akar segar dapat menghasilkan arak yang dapat digunakan sebagai obat sembelit, obat disentri dan obat penyakit paru-paru. Batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan. Batang bagian dalam dapat menghasilkan sagu sebagai sumber karbohidrat yang dipakai sebagai bahan baku dalam pembuatan roti, soun, mie dan campuran pembuatan lem. Sedangkan ujung batang yang masih muda (umbut) yang rasanya manis dapat digunakan sebagai sayur mayur. Daun muda, tulang daun dan pelapah daunnya, juga dapat dimanfaatkan untuk pembungkus rokok, sapu lidi dan tutup botol sebagai pengganti gabus. Tangkai bunga bila dipotong akan menghasilkan cairan berupa nira yang mengandung zat gula dan dapat diolah menjadi gula aren atau tuak dan etanol. Buahnya dapat diolah menjadi bahan makanan seperti kolang-kaling yang banyak digunakan untuk campuran es, kolak atau dapat juga dibuat manisan kolang-kaling. VI. POTENSI AGRIBISNIS AREN di MALUKU UTARA Salah satu pembangunan sistem agribsinis adalah pembangunan sub sistem pengolahan (down-stream agribusiness) yakni industri yang mengolah komoditas pertanian primer (agroindustri) menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product). Termasuk di dalamnya industri makanan, industri minuman, industri barang-barang serat alam (barang-barang karet, karet, plywood, pulp, kertas, bahanbahan bangunan terbuat dari kayu, rayon, benang dari kapas/sutera, barang-barang kulit, tali dan karung goni), industri biofarmaka, industri agrowisata dan estetika. Gula aren atau gula merah sudah tidak

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

asing lagi di Maluku Utara. Hampir di seluruh wilayah Propinsi ini terdapat industri rumah tangga yang mengolah nira pohon aren sebagai agroindustri gula aren. Hal ini sesuai dengan data hasil survei di lapangan bahwa gula aren yang banyak terdapat di pasaran adalah berasal dari Kabupaten Halmahera Selatan khususnya Kecamatan Bacan dan Kabupaten Halmahera Utara khususnya Kecamatan Galela, yang merupakan daerah-daerah sentra produksi gula aren Maluku Utara. Menurut data BPS, 2003 diketahui bahwa untuk wilayah Kecamatan Bacan Tengah luas lahan perkebunan aren adalah 41,5 ha dengan produksi sebesar 29,2 ton. Dengan potensi alam yang sangat besar ini maka sudah sepatutnya pemerintah melirik usaha tani aren sebagai satu komoditi unggulan di propinsi ini. Pengembangan produk gula aren ini sangat besar disebabkan permintaan yang bertambah, bukan hanya untuk pasaran lokal Maluku Utara saja tetapi juga bahkan pasaran di luar daerah seperti Kendari dan Ambon. Potensi permintaan gula aren makin tinggi, mengingat industri makanan dan minuman terus bertumbuh. Gula aren bisa menjadi substitusi gula rafinasi bahan baku yang selama ini masih diiimpor. Masalahnya, memang ada pada harga yang belum komptetitif. Disisi lain terdapat hambatan dalam memproduksi gula aren ini yaitu lahan perkebunan yang alami sehingga menyebabkan petani produsen hanya mengusahakan gula aren sebagai produk sampingan dan bukan produk utama, masih terbatasnya teknologi pengolahan gula aren yang masih menggunakan cara-cara tradisonal, faktor modal dan bahan baku yang terbatas. Agribisnis berbasis aren menghasilkan produk utama gula merah atau gula kristal yang bisa menjadi sumber gula alternatif. Sedangkan nira aren dapat diolah menjadi etanol, sumber energi yang bisa diperbarui. Gula aren berbeda dengan gula biasa. Dibandingkan dengan gula pasir, gula dari pohon enau ini dapat digunakan untuk semua keperluan, mulai dari pemanis minuman dan bumbu masakan. Aren jauh lebih produktif dari tanaman tebu dalam menghasilkan kristal gula dan biofuel per satuan luas. Produktivitasnya bisa 4 - 8 kali dibandingkan tebu. Dan rendemen

gulanya 12 %, sedangkan tebu rata-rata hanya 7 %. Gula aren dinilai baik dan dapat dijadikan gula kristal yang dapat diekspor. Harga ekspornya dapat mencapai Rp.50.000/kg dan pada tingkat konsumen di Belanda mencapai harga Rp.90.000/kg, bandingkan dengan harga gula pasir sekitar Rp.7.000/kg. Dari gula aren itu juga bisa didapatkan 30 % berupa molase untuk membuat etanol bahan biofuel. Pemerintah Inodonesia juga sudah melihat perkembangan komoditi aren ini, sehingga untuk membantu perdagangan komoditi ini dengan negara luar, pemerintah telah menjalin kerja sama antara Indonesia dengan Jepang dan Negara Uni Eropa dalam ekspor produk agroindustri aren. Untuk mengembangkan ekspor gula aren ke Jepang perlu mencari mitra di Jepang, seperti produsen makanan khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi. Harga jenis gula aren di Jepang sebulan terakhir, seperti dikutip www.divafood.indonetwork.co.id, palm sugar Y735 per 200 gram, apple sugar Y1000-2000 per kg, brown sugar Y240 per 0,5 kg, crystal sugar JPY160 per 0,5 kg, gula pasta Y500 per 0,5 kg. Pemasok gula aren di Jepang saat ini didominasi Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, dan Afrika Selatan 12%. Bila saja, potensi gula aren ini dikembangkan, maka Maluku Utara khususnya dan Indonesia umumnya tentu bakal meraup devisa lebih besar lagi. Daerah pengolahan aren dalam skala besar di Indonesia adalah Tomohon, Sulawesi Utara. Pabrik modern yang diusahakan Yayasan Masarang itu sekarang sudah mengolah nira menjadi gula semut berkualitas tinggi untuk ekspor. Pabrik Gula Aren Masarang ini mulai berproduksi sejak 2006. Saat ini produksi rata-rata 3,5 ton gula kristal atau gula semut per hari. Mereka berhubungan dengan petani pemasok nira sebanyak 3.500 orang yang tersebar di 35 desa di Kota Tomohon. Petani menerima harga jual nira Rp2.000/liter. Dan ketika nira telah diolah menjadi gula semut, petani juga memperoleh bagian keuntungan sehingga pabrik dan petani sama-sama beroleh keuntungan. Pabrik gula aren modern pertama di Indonesia bahkan di dunia ini pada tanggal 15 Januari 2007, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden juga sekaligus melepas ekspor
30

perdana gula aren sebanyak 12,5 ton ke Belanda. Potensi aren di Indonesia, khususnya Maluku Utara luar biasa besar yang tersebar mulai dari daerah pantai sampai ke pegunungan. Potensi yang luar biasa besarnya ini dapat di ukur dari berbagai segi, yaitu ekonomi, pemerataan pendapatan, dan penanggulangan kemiskinan, serta pelestarian lingkungan. Dari segi ekonomi, aren melalui suatu proses sangat sederhana menghasilkan nira sebagai produk utama yang bisa diproses jadi gula merah sebagai pengganti gula putih dan etanol yang sangat penting untuk energi. Dari segi pemerataan pendapatan, aren diusahakan petani-petani kecil dan kebanyakan masih belum dibudidayakan dan tumbuh liar di hutan-hutan sekitar pemukiman. Karena itu produk-produk ekonomis tadi dimanfaatkan rakyat yang berpenghasilan rendah. Jadi aren ini dapat dijadikan program penanggulangan pengangguran dan kemiskinan di pedesaan. Dari segi kelestarian lingkungan, aren tumbuh subur bersama-sama pohon lain. Oleh karena itu, aren mampu menciptakan ekologi yang baik sehingga tercipta keseimbangan biologi. Di samping itu, karena tumbuh bersama-sama pohon lain, tanaman aren dapat menjadi penahan air yang baik dan aren relatif sulit untuk terbakar. Berbeda dengan kelapa sawit dan kelapa yang membutuhkan kondisi monokultur. Tanaman aren tidak membutuhkan pemupukan untuk tumbuh, tidak terserang hama dan penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan. Bahkan boleh dikatakan produknya organik. Aren dapat tumbuh pada lahan marginal di lereng gunung atau berbukit-bukit bersama tanaman lain. Sedangkan tebu harus ditanam di lahan subur yang datar sehingga dalam penggunaan lahan bersaing dengan tanaman lain seperti padi dan jagung. Masalah dalam pengembangan tanaman aren disini adalah pengetahuan kita mengenai aren yang sangat minim dibandingkan kelapa sawit, kelapa, dan tebu. Kalau kita mau mengembangkan dalam skala regional dan nasional, pengetahuan tentang aren harus ditambah. Pengetahuan yang mendesak adalah mengenai seleksi tanaman yang mempunyai produktivitas tinggi dan

cara perbanyakannya. Kedua, pengetahuan mengenai proses panen yang efisien dan efektif. Ketiga, transportasi nira dari pohon ke pabrik agar tidak rusak. Dan keempat, sistem pengolahan hasil yang modern. Serta tak kalah pentingnya masalah organisasi dan manajemen. Mulai dari organisasi petani, organisasi pabrik, dan organisasi distribusi dari petani ke pabrik, serta manajemen yang mengelola sistem agribisnis berbasis aren tersebut. Tetapi kini Puslit Biologi LIPI telah mampu membudidayakannya dan menyediakan bibitnya. Dari mulai bibit hingga menjadi tanaman aren yang menghasilkan memerlukan 6-8 tahun, namun demikian angka itu tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan tanaman lain seperti kelapa sawit yang memerlukan waktu 5-6 tahun untuk menghasilkan minyak sawit. Selain penghasil gula merah tanaman aren sangat potensial menghasilkan biofuel, sehingga perlu dikembangkan sebagai perkebunan besar seperti halnya kelapa sawit atau jarak pagar. Kelebihan tanaman aren ini bisa dipanen setiap hari sepanjang tahun, menghasilkan lebih banyak dan cepat bahan bakar terbarukan dibanding tanaman lain. Pohon aren tidak seperti tanaman lain penghasil bioethanol (bahan bakar pengganti bensin) yaitu singkong yang memiliki masa panen enam bulan atau tebu tiga bulan untuk sekali panen saja serta keterbatasan lainnya. Getah nira yang menetes dari bunganya, lebih mudah dijadikan bioethanol dibanding dijadikan gula aren. Getahnya cukup difermentasi (diberi ragi/mikroba) lalu setelah menjadi alkohol dipisahkan dari airnya. Aren bisa dipanen terus-menerus di mana setiap satu pohon aren bisa menghasilkan nira 1-20 liter per hari yang 10% bisa diproses menjadi ethanol. Setiap hektar bisa ditanami 75-100 pohon sehingga setiap hektar bisa menghasilkan 1.000 liter nira per hari atau sekitar 100 liter ethanol per hari. Bandingkan dengan sawit yang satu hektarnya hanya menghasilkan maksimal enam ton biodiesel per tahun. Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren memiliki keunggulan dalam mencegah erosi tanah terutama pada daerahdaerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih enam meter pada kedalam tanah. Nira aren juga

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

berpeluang untuk diolah menjadi salah satu alternatif biofuel, yaitu menjadi etanol. Aren juga memiliki nilai ekonomis jika diusahakan secara serius, karena seluruh bagian dari tanaman ini baik batang, daun, buah, mayang, ijuk yang dihasilkan dapat digunakan untuk keperluan kehidupan manusia. Aren ternyata dapat menghasilkan 60 jenis produk bernilai ekonomi dan beberapa produk berpotensi untuk diekspor, bahkan aren berperan sebagai penyuplai energi dan untuk pelestarian lingkungan hidup. Kiranya Pemerintah Propinsi Maluku Utara dapat mengikuti jejak Propinsi Sulawesi Utara dalam menggalakan usaha budidaya aren, dikarenakan masih luasnya lahan-lahan pertanian yang belum diolah di bumi Moloko Kie Raha ini. Pengembangan budidaya aren perlu menjadi perhatian utama, sehingga selain sebagai daerah yang sudah terkenal dengan gula merahnya khususnya dari aren, budidaya ini juga dapat menghasilkan energi biofuel. Pemerintah juga perlu menjalin kerjasama dengan para investor untuk mau menanamkan modal

dalam agroindustri aren ini. Dengan demikian maka dari tanaman aren diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan peningkatan ekonomi petani, mengentaskan kemiskinan, dan membuka lahan kerja baru sehingga dapat mengurangi penggangguran di daerah ini. VII. PENUTUP Prospek agribisnis aren ini sangat menjanjikan disamping nilai nutrisinya yang tinggi serta manfaatnya yang banyak, baik untuk industri makanan, minuman, perumahan maupun industri biofuel. Sangat diharapkan upaya pemerintah daerah untuk melihat dan mengusahakan budidaya aren, sehingga aren dapat menjadi komoditi unggulan Maluku Utara untuk kesejahteraan masyarakat, dengan meningkatkan pendapatan petani, mengurangi angka kemiskinan serta membuka lahan kerja baru. Dan diharapkan juga agar pihak perbankan dapat juga melirik usaha ini dalam memberikan bantuan berupa kredit usaha kepada para petani aren.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2007. Komentar “Potensi Besar Agribisnis Aren”. Center for Entrepreneurship Development and Studies. http://ceds.files.wordpress.com. , 2008. Aren Sangat Potensial Hasilkan Biofuel. http://www.inilah.com , 2008. Gula Aren Laris Manis. http://web.bisnis.com , 2008. Nama-nama Aren di berbagai Daerah, Penyebaran dan Aneka Kegunaan. Kebun Aren. http://kebunaren.blogspot.com. , 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Morfologi_Tanaman_Aren. Kadis Pertanian KPD Provinsi Maluku Utara, 2007. Kuliah Perdana Faperta UMMU “Peran Agribisnis Dalam Pembangunan Daerah” Soetrisno L, 1999. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian, Sebuah Tinjauan Sosiologis, Kanisius (Anggota IKAPI), Yogyakarta. Suhdan Kasuba, 2008. Analisis Marjin dan Saluran Pemasaran Gula Aren di Desa Kampung Makian, Kecamatan Bacan Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan. Skripsi UMMUTernate (tidak dipublikasikan). Sutanto Edy N, BE, 1996. Manisan Buah-buahan 2, Kanisius (Anggota IKAPI), Yogyakarta.

32

DINAMIKA JUMLAH BAKTERI SELAMA MASA PENYIMPANAN PETIS IKAN LAYANG
Vanessa N. J. Lekahena

Staf Pengajar UMMU-Teranate, Email : enchalekahena@yahoo.com
ABSTRAK

Petis ikan adalah olahan ikan berbentuk pasta, berbahan dasar ekstrak ikan hasil pengolahan pindang atau rebusan daging ikan bercampur garam yang diberi tambahan bumbu dan gula merah, direbus hingga mengental dan diberi pengemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika jumlah bakteri selama masa penyimpanan petis ikan layang (Decapterus sp). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian UMMUTernate pada bulan November 2008 sampai Desember 2008. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan deskriptif dengan cara isolasi. Perhitungan jumlah bakteri dilakukan dengan metode TPC (Total Plate Count) atau ALT (Angka Lempeng Total). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah bakteri selama masa penyimpanan mengalami peningkatan dari 1.13 x 104 pada penyimpanan hari 3 menjadi 2.83 x 104 pada penyimpaan hari 6 untuk petis ikan dengan konsentrasi garam 20%, sementara petis ikan dengan garam 40% jumlah bakteri meningkat dari 1.67 x 104 pada penyimpanan hari ke 3 menjadi 2.2 x 104 pada penyimpanan hari ke-6, sedangkan untuk petis ikan dengan konsentrasi garam 40% jumlah bakteri pada hari ke-3 adalah 1.73 x 104 dan menjadi 4.43 x 104. Secara umum jumlah bakteri mengalami peningkatan akan tetapi peningkatan jumlah pertumbuhan bakteri lebih besar peningkatannya pada petis ikan dengan konsentrasi garam 60%.
Kata kunci : ALT, Bakteri, Petis Ikan. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengolahan ikan secara pemindangan adalah salah satu alternatif pengolahan dan pengawetan ikan dengan cara yang sederhana, sehingga mampu untuk memperpanjang daya awet ikan dan mempertahankan mutu ikan. Pemindangan ikan adalah pengolahan dengan suhu tinggi melalui proses perebusan yang bertujuan untuk membunuh dan memusnahkan mikroba yang dapat mempengaruhi mutu dan daya simpan produk olahan pindang yang dihasilkan. Dalam pengolahan pindang ikan, biasanya dihasilkan sisa hasil rebusan (residu) yang bergaram yang biasanya menjadi limbah olahan proses pemindangan dan jarang dimanfaatkan. Secara umum ada tiga alternatif yang dapat digunakan selama proses penanganan limbah, yaitu mengadakan perlakuan yang tepat terhadap limbah tersebut dengan biaya serendah mungkin; memberikan perlakuan terhadap limbah sehingga produknya dapat dimanfaatkan kembali, dan mengusahakan cara kombinasi dari cara pengolahan yang ada. Untuk meminimalkan limbah hasil pemindangaan, maka perlu adanya bentuk upaya diversifikasi olahan. Petis dan kecap ikan adalah bentuk olahan ikan yang diolah dengan memanfaatkan limbah ekstrak ikan hasil pengolahan pindang, dimana proses pengolahannya diberi tambahan bumbubumbu dan gula merah, yang direbus hingga mengental dan diberi tambahan air tajin sebagai pengemulsi untuk membentuk pasta ikan. Petis Ikan merupakan komoditi hasil

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

pengolahan ikan yang cukup dikenal, terutama di dalam masyarakat di Pulau Jawa, dan biasanya digunakan sebagai lauk atau campuran makanan rakyat yang khas. Petis berasal dari cairan tubuh ikan yang telah terbentuk selama proses penggaraman kemudian diuapkan melalui proses perebusan lebih lanjut sehingga menjadi larutan yang lebih padat seperti pasta (Afrianto dan Liviawaty, 1989). Sedangkan menurut Rahayu et al. (1992) petis ikan atau pasta ikan adalah salah satu produk olahan dengan bahan baku ikan. Produk ini berupa padatan berwarna coklat, abu-abu atau merah karena adanya tambahan bahan pewarna. Petis ikan layang dibuat dengan menggunakan sisa perebusan pindang ikan layang yang direbus menggunakan garam sehingga menghasilkan residu hasil rebusan memiliki aroma ikan dan karakteristik yang khas. Ciri khas petis ikan antara lain aroma harum yang disebabkan adanya degradasi protein dan lemak yang menghasilkan senyawa metil keton, butilaldehid, amonia, asam amino, dan senyawa anonim lainnya. Selain itu kandungan asam amino nitrogen yang tinggi mempengaruhi cita rasa petis. Kekhasan lainnya adalah tekstur empuk dan kompak sebagai hasil kerja enzim proteolitik yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Rahayu et al., 1992). Kualitas aroma dan tekstur petis ikan dipengaruhi oleh proses pengolahan yang terdiri dari tahap penggaraman, perebusan, pengentalan, dan penyimpanan. Proses perebusan dan penggaraman merupakan faktor paling menentukan karena pada tahap ini terjadi prekursor cita rasa dan aroma khas petis ikan tersebut yang ditimbulkan oleh pertumbuhan mikroorganisme. 1.2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika jumlah bakteri selama masa penyimpanan petis ikan layang dengan konsentrasi garam yang berbeda. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November – Desember 2008 di Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di Kelurahan Sasa – Kota Ternate Selatan, Ternate dan pengujian mikrobiologi dilakukan di

Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (PPN Bastiong) Ternate. Metode penelitian yang digunakan merupakan percobaan deskriptif dengan cara isolasi. 2.1. Prosedur Penelitian 1. Air sisa hasil rebusan ikan pindang layang yang diberi kosentrasi garam yang berbeda (20% ; 40%; 60%). Kemudian ekstrak ikan disaring untuk memisahkan kotoran-kotoran yang tersisa. Lakukan perebusan awal, sebelumnya ditambahkan 1000 ml air selama 30 menit dan dibiarkan dingin. 2. Buatlah bubur encer untuk diambil air tajinnya. Saring air rebusan (ekstrak daging) ditambahkan air tajin dengan perbandingan 1:1 (ekstrak : air tajin). 3. Buatlah larutan gula merah dengan perbandingan 500 gr gula dilarutkan dengan 500 ml air, tambahkan larutan gula ke dalam ekstrak yang sudah dicampurkan dengan air tajin (lakukan penyaringan larutan gula sebelum dicampurkan) dan kemudian panaskan kembali hingga mengental dan berbentuk pasta. Petis yang telah jadi didinginkan dan disimpan didalam botol kaca. 4. Pada hari ke-3 ambillah masingmasing sampel petis ikan dengan konsentrasi garam yang berbeda (20%, 40% dan 60%), sebanyak 10 ml cairan petis tersebut diambil pada untuk pengamatan jumlah bakteri total. 5. Lakukan hal yang sama pada hari ke6 untuk pengamatan jumlah bakteri total. 6. Pengamatan jumlah bakteri total dilakukan untuk mengetahui jumlah bakteri yang berperan selama masa penyimpanan petis ikan. Bakteri diisolasi menggunakan media spesifik untuk bakteri halofilik yaitu media Synthetic Sea Water (SSW) dengan komposisi antara lain: 5 g MgSO4.7H2O; 30 g NaCl; 1.4 g MgCl2.H2O; 0.7 g CaCl2.2H2O; 0.5 g ekstrak khamir; 0.5 g pepton; 3 ml gliserol; 1 L akuades, dan 10 g bacto. Selanjutnya diambil 1 ml lalu
34

ditambahkan NaCl fisiologis 10 ml, kemudian dihomogenisasi dan disterilisasi. Tahap berikutnya dilakukan pengenceran sampai pengenceran dengan 10-4. Sebanyak 1 ml dari masing-masing pengenceran dituang ke dalam cawan petri steril, kemudian ditambahkan media SSW sebanyak 20 ml dan diikubasi pada 37 °C selama 24 jam, dan dihitung jumlah total bakterinya. (Hadioetomo RS, 1993). 7. Metode perhitungan Jumlah Bakteri Total berdasarkan Fardiaz (1993) dengan menggunakan cawan pembiakan (plate count), caranya semua koloni yang tumbuh di dalam cawan media SSW dihitung. Misalnya, pada pengenceran 10-3 terdapat 280 koloni, kemudian pada pengenceran 10-4 terdapat 96 koloni, dan pada pengenceran 10-5 terdapat 32 koloni, maka perhitungannya adalah sebagai berikut: Jumlah bakteri/ml bahan yang diperiksa = (280 x 10-3 ) + (96 x 10-4) + (32 x 105 ). Hasil hitungan koloni bakteri yang dapat diandalkan adalah antara
Tabel 1.

30-300 koloni pada setiap cawan biakan III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada hari ke-0, daging dan cairan tubuh ikan layang segar pada umumnya steril secara alamiah, namun pada kulit, lendir, insang, dan saluran pencernaan biasanya mengandung mikroorganisme terutama bakteri. Kebanyakan bakteri ini berperan dalam pembusukan ikan. Jumlah bakteri pada ikan berkisar antara 102 -106 percm2 pada kulit; 103-105 pada insang; dan beberapa sampai 107 atau lebih pada usus (Rahayu et al. 1992). Petis ikan hasil olahan pada hari ke-0, dikarenakan kondisi ikan masih segar, maka diduga petis ikan yang dihasilkan tidak mengandung jumlah bakteri, walaupun demikian akan tetapi proses penanganan dan pengolahan dengan menggunakan peralatan yang menggunakan seperti pisau pada proses penyiangan, periuk tanah yang digunakan untuk perebusan, wadah penampungan dan waktu penanganan dapat berpotensi mengkontaminasi produk yang dihasilkan. Hal ini dapat terlihat pada hasil perhitungan jumlah total bakteri dapat pada hari ke-3 dan hari ke-6, yang disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut:

Hasil Perhitungan Jumlah Bakteri Jumlah Bakteri Pada Petis Ikan Layang Pada Hari ke-3 Perlakuan Ulangan No. Pengenceran ALT/Gram -2 -3 -4 Konsentrasi 1 190 85 25 1.4 x 104 Garam 20% 2 155 45 21 9 x 103 3 163 50 27 1.1 x 104 Konsentrasi 1 190 173 35 1.8 x 104 Garam 40% 2 199 143 40 1.7 x 104 3 161 137 27 1.5 x 104 Konsentrasi 1 135 67 34 1.1 x 104 Garam 60% 2 197 164 40 1.8 x 104 3 229 189 80 2.3 x 104 Hasil Perhitungan Jumlah Bakteri Jumlah Bakteri Pada Petis Ikan Layang Pada Hari ke-6 Perlakuan Ulangan No. Pengenceran ALT/Gram -2 -3 -4 Konsentrasi 1 280 212 35 2.4 x 104 Garam 20% 2 340 230 29 2.7 x 104 3 392 325 28 3.4 x 104 Konsentrasi 1 345 213 45 2.7 x 104 Garam 40%

Tabel 2.

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

2 3 Konsentrasi Garam 60% 1 2 3

241 190 520 385 457

184 181 399 295 413

37 34 178 90 182

2.1 x 104 1.8 x 104 5.0 x 104 3.5 x 104 4.8 x 104

Pada hari ke-3, terlihat bahwa petis ikan yang dihasilkan dengan konsentrasi garam 20% mempunyai jumlah bakteri yang berkisar antara 9 x 103 sampai dengan 1.4 x 104 atau rata-ratanya adalah 1.13 x 104. Sedangkan jumlah bakteri meningkat pada hari ke-6 hal ini terlihat pada jumlah bakteri antara 2.4 x 104 sampai dengan 3.4 x 104 atau dengan rata-ratanya adalah 2.83 x 104. Pada petis ikan dengan konsetrasi garam 40% terlihat jumlah bakteri pada hari ke-3 berada pada kisaran 1.5 x 104 sampai dengan 1.8 x 104 atau dengan rata-rata jumlah bakteri adalah 1.67 x 104, sementara pada hari ke-6 kisaran jumlah bakteri adalah 1.8 x 104 sampai dengan 2.7 x 104 dengan rata-rata jumlah pertumbuhan bakteri adalah 2.2 x 104. Untuk petis yang dihasilkan dengan konsentrasi garam 60% jumlah bakteri pada hari ke-3 pada kisaran 1.1 x 104 sampai dengan 2.3 x 104, dengan rata-rata pertumbuhan bakteri 1.73 x 104 dan pada hari ke-6 kisaran pertumbuhan bakterinya adalah 3.5 x 104 sampai dengan 5.0 x 104 dengan rata-rata jumlah pertumbuhan bakteri 4.43 x 104. Dari hasil perhitungan jumlah bakteri pada petis ikan dengan konsentrasi garam yang berbeda terlihat petis ikan pada konsentrasi garam 20% pada masa penyimpanan hari ke-6 jumlah bakteri meningkat menjadi 2 kali lipat dari jumlah bakteri pada masa penyimpanan hari ke-3 atau mengalami peningkatan 100% dari jumlah bakteri sebelumnya, sementara petis konsentrasi garam 40% peningkatan jumlah bakteri pada hari ke-6 yaitu mengalami peningkatan ¼ kali dari jumlah bakteri pada hari ke-6 atau hanya mengalami peningkatan 25% dari jumlah bakteri sebelumnya. Hal yang berbeda ditunjukkan pada jumlah bakteri pada petis ikan dengan konsentrasi garam 60% dimana dimana jumlah bakteri pada hari ke-6 mengalami peningkatan 2.5 kali dari jumlah bakteri pada hari ke-3 atau 150% dari jumlah bakteri sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya peranan garam untuk menekan jumlah mikroba, makin besar

jumlah garam yang ditambahkan akan menekan jumlah pertumbuhan bakteri akan tetapi jika konsentrasi garam yang berlebihan mengakibatkan jumlah bakteri yang bersifat haloteran dapat tumbuh dan meningkat hal ini terlihat pada petis ikan yang dihasilkan dengan menggunakan konsentrasi garam 60%. Fungsi garam selain untuk meningkatkan cita rasa ikan, membentuk tekstur yang diinginkan, juga dapat mengontrol pertumbuhan bakteri dengan cara merangsang pertumbuhan bakteri yang diinginkan dalam fermentasi dan menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk. Dengan kadar garam yang cukup tinggi akan mampu menghambat bakteri pembusuk dan hanya mikroba halofilik yang tumbuh. Bakteri halofilik tersebut diharapkan dapat menghasilkan enzim proteolitik. Dengan dihasilkannya enzim proteolitik maka senyawa-senyawa utama pada ikan dapat diubah menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Peranan garam untuk mengontrol proses pertumbuhan bakteri juga dinyatakan oleh Moeljanto (1982) yaitu bahwa ikan merupakan bahan pangan yang banyak mengandung air (sekitar 80%) sehingga pertumbuhan mikroba yang berperan dalam proses fermentasi (seperti jamur) terhambat oleh bakteri pembusuk. Garam pun akan meningkatkan tekanan osmotik substrat, sehingga terjadi penarikan air dari dalam bahan pangan keluar. Akibatnya, kadar air daging ikan menurun karena sel akan kehilangan air dan mengalami pengerutan sehingga mikroba yang tidak tahan garam tidak dapat tumbuh. Garam dapat mengganggu kerja enzim proteolitik karena dapat mengakibatkan denaturasi protein. Pada proses penyimpanan hari ke-6, terjadi peningkatan asam-asam amino yang mencerminkan adanya pemecahan protein selama fermentasi telah berjalan optimal. Hal ini ditandai dengan jumlah bakteri total yang meningkat. Pemecahan protein ini lebih disebabkan oleh enzim-enzim protease

36

yang dihasilkan oleh bakteri halofilik daripada oleh enzim-enzim protease yang dihasilkan oleh cairan ekstrak daging ikan itu sendiri. Hal ini disebabkan pada saat perebusan enzim-enzim dari ikan telah larut dalam ekstrak cairan yang dihasilkan sehingga enzim-enzim tersebut dapat meningkatkan jumlah bakteri jika hasil olahan tersebut disimpan pada suhu ruang. Menurut Rahayu et al, (1992) enzim proteolitik dari bakteri terutama dihasilkan oleh bakteri yang bersifat halofilik antara lain enzim n-asetilmuramidase yang dapat mendegradasi protein pembentuk dinding sel bakteri. IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jumlah bakteri selama proses penyimpanan dari hari ke-0 sampai dengan hari ke-6, dengan jumlah peningkatan yang berbeda pada setiap petis ikan yang dihasilkan. Jumlah pertumbuhan bakteri yang mengalami peningkatan tertnggi yaitu pada petis ikan dengan konsentrasi garam 60% pada hari ke-6 hal ini disebabkan oleh aktivitas bakteri halofilik yang optimal dalam memproduksi enzim proteolik. Untuk mengetahui jenis mikroba yang berperan dalam proses penyimpanan petis ikan maka disarankan untuk penelitian isolasi dan identifikasi lebih lanjut mencakup sifat fisik dan biokimiawinya.

DAFTAR PUSTAKA Afrianto, Eddy dan Evi Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Penerbit Kanisius, Cetakan ke-14, Yogyakarta. Burgess, G.H.O., C.L. Cutting, J.A. Lovern dan J.J. Waterman. 1965. Fish Handling and Processing. Her majesty’s Stationary Office. Edinburg. Fardiaz S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Penerbit Raja Grafindo Persada. Jakarta. 200 hal. Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta. Moeljanto, R. 1982. Penggaraman dan Pengeringan Ikan. PT Penebar Swadaya. Jakarta. 31 hal. Rahayu WP., Ma’oen S, Suliantari, Fardiaz S. 1992. Teknologi Fermentasi Produk Perikanan. Depdibud. Dirjen Dikti. PAU Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.140 hal.

ANALISIS USAHA TERNAK AYAM BROILER STUDI KASUS UD. HARAPAN TERNAK DI DESA GAMBESI TERNATE SELATAN
Fatmawati Kaddas Staf Pengajar Agribisnis, FAPERTA UMMU-Ternate ABSTRAK Perkembangan pengetahuan teknis dan teknologi, diikuti dengan berkembangnya budi daya ayam yang cukup pesat. Semula hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri kini berkembang dengan kegiatan usaha yang beriorentasi pasar dan memberikan hasil yang menguntungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2008 pada UD Harapan Ternak di Desa Gambesi Ternate Selatan, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pendapatan dan kelayakan usaha yang diperoleh para peternak ayam broiler. Metode Penelitian ini menggunakan metode stratified purposive random sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha pemeliharaan ayam broiler sangat menguntungkan dengan besar pendapatan diperoleh Rp. 7.806.000,- dalam satu siklus produksi. Angka 1,4 pada analisis R/C Ratio menunjukkan tingkat kelayakan usaha pemeliharaan ayam broiler. Berarti tiap penambahan biaya sebesar Rp. 1,00 berarti akan memperoleh penerimaan sebesar Rp.1,4. Kata Kunci : Analisis Usaha, Ayam Broiler. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daging ayam merupakan pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga. Daging ayam banyak dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan jenis daging lainnya dan sesuai dengan selera masyarakat. Salah satu jenis ayam yang permintaan dagingnya cukup banyak adalah ayam broiler. Ayam potong/broiler merupakan ayam ras yang memiliki karakteristik ekonomi sabagai penghasil daging dengan ciri khas pertumbuhan yang cepat, konversi makanan irit, dan siap dipotong pada relatif muda. Pada umumnya ayam ini dipelihara sampai berusia 5 – 7 minggu dan berat tubuh sekitar 1,3 Kg - 1,8 Kg (Murtidjo, 2003). Peranan ayam broiler di Indonesia mulai menonjol sejak tahun 1980 untuk memenuhi kebutuhan daging ayam dimasyarakat. Hingga saat inipun usaha tersebut tetap bersprospek dan permintaan ayam broiler terus meningkat. Menurut Kartika (2003) bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan ayam pedaging /broiler terus meningkat karena harga yang relatif lebih rendah dibanding dengan daging sejenis, pertumbuhan penduduk tinggi, peningkatan pendapatan, peningkatan kesadaran pemenuhan gizi dan ketersediaan produk. Untuk konsumsi rumah tangga sampai akhir tahun 2002 konsumsi daging ayam masyarakat mencapai 964,1 Ribu ton dibanding pada tahun 1969 hanya 339,2 ribu ton atau kenaikan sebesar 60 % dari 13 % terhadap konsumsi daging nasional (Kartika, 2003). Usaha pemeliharaan ayam potong di kota Ternate dan sekitarnya telah lama dilaksanakan, bahkan baik secara perorangan (rumah tangga) dalam jumlah yang relatif kecil maupun secara kemitraan tentunya dalam jumlah yang relatif besar.
Tabel 1. Populasi Ayam Broiler Menurut Kab/Kota di Maluku Utara. Tahun 2007 No Kab/Kota (Ekor) 1. Halmahera Barat 3.221 2. Halmahera Tengah 3. Kep.Sula 698 4. Halmahera Selatan 2.500 5. Halmahera Utara 3.114 6. Halmahera Timur 1.288 7. Ternate 119.175 8. Tidore Kepulauan 17.404

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

Total

147.400

Sumber: BPS Propinsi Maluku Utara (2008).

Harapan Unggas dari berbagai peternakan yang ada di Ternate. 2.4. Metode Analisis Data Untuk mengetuhui besarnya pendapatan peternak ayam broiler degunakan analisis dengan rumus :

Banyaknya para peternak ayam potong merupakan suatu nilai yang positif untuk menunjang kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat dalam rangka ikut memenuhi permintaan pasar terhadap protein hewani asal ternak dari hari ke hari sejalan dengan semakin bertambahnya kebutuhan masyarakat. Hal ini juga yang menjadi Tantangan dan problema yang dihadapi oleh para peternak ayam potong mulai dari segi teknis yaitu menyangkut dengan sistem, metode dan tatalaksana pemeliharaan juga masalah non-teknis yaitu menyangkut segi manajemen bisnis ekonomi yang menguntungkan atau pendapatan yang diperoleh peternak. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian tentang sejauh mana pendapatan yang diperoleh peternak ayam broiler dan tingkat kelayakan usaha pemeliharaan ayam broiler di kota ternate, maluku Utara. 1.2. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pendapatan dan kelayakan usaha yang diperoleh para peternak ayam potong di kota Ternate khususnya pada lokasi penelitian. II. METODE PENELITIAN 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Desa Gambesi, Ternate Selatan, Maluku Utara, yang berlangsung pada bulan September sampai Oktober 2008 selama satu kali siklus produksi. 2.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapat dengan wawancara langsung dengan sipeternek sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi yang terkait. 2.3. Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dipergunakan metode stratified purposive random sampling, Pengambilan sampel secara sengaja pada perusahaan peternakan UD.

Π = TR − TC
Ket :
∏ : Profit (Keuntungan) TR : Total Revenue (Total Penerimaan) TC : Total Cost (Total Pengeluaran)

Total penerimaan di hitung dengan rumus:

TR =
Ket :

pi

x Hpi

Pi : Jumlah Produksi Hpi : Harga Jual

Total biaya di hitung dengan rumus : TC = Ket :
FC : Fixed Cost (Biaya Tetap) VC : Variable Cost (Biaya Variabel)

FC + VC

Untuk Mengetahui Layak tidaknya usaha pemeliharaan ayam broiler menggunakan rumus :

R / C Ratio =
Ket :

Total Revenue Total Cost

R/C Ratio > 1 Mendapatkan Keuntungan R/C Ratio = 1 Usaha Tidak Untung dan Rugi R/C Ratio < 1 Usaha Rugi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Selama penelitian berlangsung dilanjutkan dengan penyusunan kalkulasi biaya dan jumlah produksi pemeliharaan ayam broiler, maka berdasarkan alat analisis yang di dapat yaitu diperoleh pendapatan sebesar Rp. 7.806.000. Nilai R/C Ratio sebesar 1,4. Dengan angka tersebut maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan, berarti bahwa setiap penambahan biaya sebesar Rp. 1,00 akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,4. Berikut dapat dilihat kalkulasi biaya, penerimaan dan pendapatan pemeliharaan ayam broiler.

39

biaya pengeluaran lainnya. 4.2. Analisis Penerimaan dan Pendapatan Pemeliharaan Ayam Broiler. Hubungan antara Penerimaan total dengan total biaya di analisis dengan menggunakan analisis pendapatan. Untuk menghitung penerimaan usaha ternak ayam broiler diperlukan data produksi. Untuk lebih jelas lihat analisis berikut:
Tabel 4. Analisis Penerimaan dan Pendapatan Pemeliharaan Ayam Broiler No Uraian Nilai A Produksi (ekor) 1.075 B Harga (Rp) 25.000 C Total Biaya (Rp) 19.069.000 D Total Penerimaan 26.875.000 (A x B) (Rp) E Total Pendapatan 7.806.000 (D – C) (Rp)
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2008

3.1. Kalkulasi Biaya Ayam Broiler
Tabel 2.

Pemeliharaan

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Biaya Tetap yang dikeluarkan peternak ayam broiler UD. Harapan Unggas Uraian Nilai (Rp) Kandang 200.000 Tempat Minum Besar Tempat Makan Besar Tempat minum DOC Tempat Makan DOC Kompor Baskom Drom Gayung Total 8.000 1.189.000 252.000 252.000 15.000 15.000 367.000 20.000 60.000

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2008

Tabel 3.

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Biaya Variabel yang Dikeluarkan Peternak Ayam Broiler UD. Harapan Unggas Uraian Nilai (Rp) DOC 6.000.000 Pakan Vaksin B1 Sekam Minyak Tanah Gula Pasir Obat-obatan Listrik Tenaga kerja Transportasi Total 10.000.000 55.000 57.000 96.000 7.000 400.000 65.000 1.000.000 200.000 17.880.000

Pendapatan peternak ayam broiler UD. Harapan Unggas di Desa Gambesi Ternate Selatan, selama satu kali produksi menberikan hasil bersih sebesar Rp. 7.806.000. Usaha ini memberikan keuntungan yang cukup besar dan perlu penambahan skala usaha serta penanganan yang lebih baik. 4.3. Analisis Kelayakan Usaha

Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha pemeliharaan ayam broiler maka dapat dihitung dengan salah satu parameter yaitu R/C Ratio yang dilihat dari sisi tingkat penerimaan dan biaya, dimana usaha peternakan ayam broiler UD HarapanUnggas mendapatkan nilai R/C Ratio sebesar 1,4. Nilai 1,4 berarti usaha ini layak untuk dilakukan. Setiap penambahan biaya Rp. 1,00 akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,4.
V. PENUTUP Kesimpulan 1. Pendapatan diperoleh UD Harapan Unggas sebesar Rp. 7.806.000 selama satu siklus produksi. Nilai ini di peroleh setelah mengurangi jumlah penerimaan dengan total biaya produksi. 2. Menghitung Tingkat kelayakan

Sumber: Data Primer Setelah Dioleh, 2008

Biaya yang terdiri biaya tetap dan biaya variabel (Tabel 3) di peroleh biaya yang sangat besar pada pembelian pakan dan DOC. Hal ini menandakan bahwa pengaruh yang paling besar terhadap produksi ayam broiler. Dengan bibit DOC yang berkualitas dan pemberian pakan sesuai dosis kebutuhan maka dapat meningkatkan hasil produksi peternak sehingga dapat menutupi biaya-

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

usaha UD Harapan Unggas diperoleh biaya Rp. 1,00 akan memperoleh nilai R/C Ratio sebesar 1,4 berarti penerimaan atau keuntungan sebesar usaha peternakan ini layak untuk Rp. 1,4. dilakukan dengan setiap penambahan DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008. Poultry Indonesia Vol III Agustus 2008 Ancaman Pakan Global, Jakarta. Murtidjo Bambang A, 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta. , 2003. Pemotongan, Penanganan dan Pengolahan Daging Ayam. Kanisius, Yogyakarta. Mulyono Subangkit, 2004. Memelihara Ayam Buras Beriorentasi Agribisnis. Swadaya, Jakarta. Tobing Vick, 2004. Beternak Ayam Broiler Bebas Antibiotika: Murah & Bebas Residu, Penebar Swadaya, Jakarta. Widjaja, Kartika, 2003. Peluang Bisnis Ayam: Ras dan Buras. Penebar Swadaya, Jakarta.

41

PENGARUH PENAMBAHAN EMULSIFIER LEMAK DALAM PEMBUATAN SOSIS IKAN TENGGGIRI (Scomberomuros comerson)
Ahmad Talib Staf Pengajar FAPERTA UMMU-Ternate email: madoks75@yahoo.co.id ABSTRAK

Ikan tenggiri merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kemunduran mutu (high perishable food). Kemunduran mutu terjadi disebabkan oleh kondisi penangkapan yang kurang baik, penanganan pasca panen yang tidak mampu mempertahankan mutu ikan serta pengolahan pengolahan pasca panen yang kurang baik. Komponen kimia ikan tenggiri adalah sebagai berikut, air 66-84%, protein, 16-22%, karbohidrat, 1-3%, lemak 0,1-2,2% dan bahan organik lain adalah 0,82%. Proses pengolahan ikan tenggiri sebagai bahan sosis di Indonesia sudah banyak dimanfaatkan. Karena tenggiri mempunyai daging yang putih yang sangat baik dimanfaatkan untuk berbagai aneka produk. Salah satu bentuk diversifikasi produk adalah pembuatan sosis ikan. Sosis adalah makanan yang dipersiapkan dari daging yang digiling dan diberi bumbu, kemudian dimasukkan kedalam selongsong yang berbentuk silinder. Pengolahan sosis ikan merupakan salah satu usaha diversifikasi produk olahan hasil perikanan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan IPB dan bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian emulsifier pada produk sosis selain itu untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarkat Indonesia yaitu dengan memberikan lebih banyak pilihan produk yang dapat dibeli dan dikonsumen.
Kata kunci: emulsifier, ikan tenggiri, sosis. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan merupakan bahan pangan yang memiliki nilai gizi tinggi dan umumnya disukai oleh masyarakat, baik dari golongan ekonomi lemah sampai golongan ekonomi kuat, karena harganya yang relatif terjangkau. Di balik keunggulan kandungan gizinya, ikan merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kemunduran mutu (high perishable food). Kemunduran mutu yang terjadi dapat disebabkan oleh kondisi penangkapan yang kurang baik, penanganan pasca panen yang tidak mampu mempertahankan mutu ikan serta pengolahan pengolahan pasca panen yang kurang baik. Untuk memanfaatkan potensi tersebut, diperlukan upaya alternatif dalam memberikan nilai tambah terhadap ikan yang kurang diminati yaitu perbaikan penanganan dan pasca panen. Guna mempertahankan mutu ikan, penanganan atau diversifikasi pengolahan yang tepat perlu diperhatikan sejak ikan tertangkap sampai ke tangan konsumen karena ikan merupakan bahan pangan yang mudah busuk atau high perishable. Sejak ikan ditangkap harus tidak lepas dari rantai dingin untuk mempertahankan mutu ikan agar kesegarannya dapat terjaga atau menghambat proses kemunduran mutu ikan sebelum diolah menjadi produk perikanan. Potensi ikan tenggiri di Indonesia cukup besar, yaitu penyebarannya di Laut Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku. Selain dijual dalam bentuk segar ikan tenggiri diolah menjadi berbagai produk. Proses pengolahan ikan tenggiri sebagai bahan sosis di Indonesia sudah banyak dimanfaatkan. Karena tenggiri

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

mempunyai daging yang putih yang sangat baik dimanfaatkan untuk berbagai aneka produk. Salah satu bentuk diversifikasi produk adalah pembuatan sosis ikan. Sosis adalah makanan yang dipersiapkan dari daging yang digiling dan diberi bumbu, kemudian dimasukkan kedalam selongsong yang berbentuk silinder. Pengolahan sosis ikan merupakan salah satu usaha diversifikasi produk olahan hasil perikanan. Usaha ini sangat diperlukan terutama dalam rangka untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarkat Indonesia yaitu dengan memberikan lebih banyak pilihan produk yang dapat dibeli dan dikonsumsi. Salah satu alasan dibuatnya sosis pada praktikum ini adalah sebagai bentuk penerapan atau aplikasi teknologi formulasi, dalam hal ini adalah formulasi produk emulsi. Sosis merupakan salah satu bentuk produk emulsi dimana terdapat fase minyak dalam air. Selain itu sebagai bentuk diversifikasi produk hasil perikanan. 1.2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Membuat produk emulsi 2. Melihat pengaruh pemberian emulsifier pada sosis 3. Membedakan penggunaan sumber lemak yang berbeda pada sosis

Sedangkan bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatan sosis adalah minyak sayur, lemak gajih, gelatin, tepung tapioka, lada bubuk, jahe, bawang putih, bawang merah, garam halus dan dan gula secukupnya. Sebagai bahan pembungkus sosis digunakan cassing dengan tipe edible dari collagen. 2.3. Prosedur kerja Dalam proses pembuatan sosis, tahapan yang dilakukan meliputi penyiangan, pemfiletan, penggilingan, penimbangan, pengadonan, pengisian kedalam casing, pengikatan, perebusan dan pendinginan. Daging merah ikan tenggiri diambil, dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan darah dan kotoran yang masih melekat pada daging. Selanjutnya daging ikan digiling dengan menggunakan grinder (untuk pelumatan daging). Pada saat pelumatan daging, selalu disertai atau di lakukan penambahan es batu (disekelilingi daging lumat) untuk mempertahankan suhu sekitar 5-10 °C. Setelah daging lumat terjadi, disertai pula penambahan bahan pembantu lain seperti minyak sayur, lemak gajih, tepung tapioka, air es, garam halus, bawang merah, bawang putih, lada bubuk, jahe bubuk dan gula secukupnya jka diinginkan. Untuk kelompok lemak gajih dan minyak sayur, penambahan minyak sayur kedalam daging lumat sebesar 4% sedangkan penambahan lemak gajih sebesar 4% dari daging lumat. Formulasi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Formulasi sosis ikan tenggiri Bahan Daging lumat Tepung tapioka Lada Air es Kondimen bawang merah bawang putih - jahe Gula Garam Jumlah 250 g 50 g 5g 200 ml

II. METODOLOGI
2.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan (Maret 2009) di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB)

2.2. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum adalah wadah plastik, timbangan, 12 g 5g grinder, talenan, pisau, baskom, gilingan 3g daging, blender, thermometer, panci, kain kasa, pemanas, pan pencetak, kompor, 5g mixer, dan stuffer. 15 g Bahan yang digunakan dalam pembuatan sosis adalah ikan tenggiri segar. Adonan yang sudah homogen dimasukkan ke dalam stuffer, bagian ujung cassing diikat dengan benang, lalu adonan dimasukkan kedalam cassing. Setelah itu dilakukan pengikatan dilanjutkan dengan perebusan. Sosis direbus dengan dua tahap. Perebusan pertama pada suhu 60 °C selama 15-20 menit, dan perebusan kedua pada suhu 80-90 oC selama 15 menit. Diagram alir proses pembuatan sosis dari daging ikan tenggiri dapat dilihat pada Gambar

43

1.Daging ikan tenggiri Penyiangan sekaligus pencucian Skinless filet penggrinderan Minced Fish Penambahan tepung dan bumbu Stuffering - Cassing Perebusan Suhu 50-60 °C (15-20 menit) Suhu 80-90 °C (15 menit) Sosis Ikan Tenggiri
Gambar 1. Alur Proses Pembuatan Sosis Ikan Tenggiri

3.3. Pengamatan Uji Fisik Kekuatan Gel
Sosis Pengamatan terhadap produk sosis yang dilakukan meliputi uji fisik kekuatan gel (uji gigit dan uji lipat) dan uji organoleptik.

3.3.1. Uji Lipat (folding test) (Suzuki, 1981) Uji lipat (folding test) merupakan salah satu pengujian mutu gel ikan yang dilakukan dengan cara memotong sampel dengan ketebalan 3 mm. Potongan sample tersebut diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk, kemudian dilipat untuk diamati ada tidaknya retakan pada gel ikan. Contoh lembar penilaian uji lipat dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tingkatan Mutu Uji Lipat Mutu 5 4 3 2 1 Keterangan Tidak retak setelah dilipat menjadi seperempat lingkaran Tidak retak setelah dilipat menjadi setengah lingkaran Retak berangsur-angsur setelah dilipat menjadi setengah lingkaran Langsung retak setelah dilipat menjadi setengah lingkaran Pecah apabila ditekan dengan jari

3.3.2. Uji gigit (Suzuki, 1981) Pengujian dilakukan dengan cara menggigit sampel antara gigi seri atas dan bawah. Sampel yang diuji mempunyai

ketebalan 5 mm dan berdiameter ±20 mm. Nilai (skor) sebagai atribut pengujian dalam hubungannya dengan uji gigit dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Mutu Uji Potong Nilai 10 9 Sifat Kekenyalan (Springness) Amat sangat kuat Sangat kuat

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

8 7 6 5 4 3 2 1

Kuat Cukup kuat Dapat diterima Dapat diterima, sedikit kuat Lemah Cukup lemah Sangat lemah Tekstur seperti bubur, tidak ada kekuatan

Sumber : Suzuki (1981).

3.3.3. Uji Organoleptik (Soekarto, 2000)
Uji organoleptik pada produk sosis meliputi penampakan, aroma, tekstur, warna dan rasa. Uji tekstur dilakukan dengan cara ditekan dengan tangan dan digigit.

Pengamatan dilakukan dengan skala hedonic bernilai satu sampai sembilan. Contoh lembar penilaian organoleptik dapat dilihat

pada Tabel 4.

Tabel 4. Lembar Penilaian Uji Organoleptik dengan Skala Hedonic (Soekarto, 2000) Skala Numerik 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Skala Hedonik Amat sangat kuat Sangat suka Suka Agak suka Biasa Kurang suka Tidak suka Sangat tidak suka Amat sangat tidak suka

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Hedonik Hasil uji hedonik panelis terhadap produk sosis yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 5. 4.1.1. Warna Hasil pengamatan warna pada Tabel 8 panelis tidak memberikan penilaian berapa pun berdasarkan score sheet yang diberikan.

Hal ini dikarenakan warna sosis yang dihasilkan yaitu putih tulang, tidak terdapat dalam daftar pilihan di dalam score sheet yang tersedia, dimana pilihan berkisar warna coklat dan kemerahan. Warna putih tulang disebabkan oleh warna asli daging ikan, tanpa penambahan pewarna seperti halnya sosis komersil pada umumnya.

Tabel 5. Nilai rata-rata pengamatan sensori panelis terhadap sosis Ikan Tenggiri Perlakuan Kelompok 1 Gelatin+minyak Gelatin+ lemak gajih Kelompok 2 ISP + minyak ISP + lemak gajih Kelompok 3 Kontrol + minyak Kontrol + lemak gajih
Ket: ISP = Isolat Soybean Protein

Warna

Penampakan 6 7 6 8 6 7

Tekstur 5 3 6 6 4 5

Aroma 5 4 5 5 7 6 5

Rasa 6 6 5 5 6

Warna merupakan efek atau hasil dari pengamatan indra penglihatan. Warna sosis ini dipengaruhi oleh warna daging lumat, dimana daging ikan tenggiri merupakan daging putih, ditambah pengaruh dari warna

minyak dan gaih yang ditambahkan. Namun demikian penambahan gajih dan minyak serta emulsifier tidak begitu memberikan pengaruh pada warna yang dihasilkan karena hampir semua nilai menunjukkan kesamaan.
45

4.1.2. Penampakan Penampakan, nilai tertinggi diperoleh pada sampel sosis dengan emulsifier ISP dan menggunakan gajih. Dibandingkan dengan kontrol, penambahan emulsifier ini sedikit meningkatkan nilai penampakan dimana penampilan sosis lebih utuh, rapi, dan ketebalan merata. Sementara itu, penggunaan gajih sebagai sumber lemak ternyata menghasilkan penampakan yang lebih bagus dibandingkan minyak sayur. Hampir semua kelompok panelis memberikan satu point nilai lebih tinggi pada sosis dengan penambahan gajih dibandingkan dengan penambahan minyak sayur. Penambahan lemak pada sosis ikan bertujuan untuk memperoleh produk sosis yang kompak (Amano, 1965). Selain itu untuk shorteningnya yang tinggi. Namun demikian, dari data di atas ternyata perbedaan sumber lemak ini tidak terlalu jauh berpengaruh terhadap penampakan sosis. Minyak sayur dan lemak gajih memberikan dampak yang hampir sama pada penampakan, dengan penambahan emulsifier yang berbeda. Fungsi emulsifier di sini adalah sebagai agen yang penstabil dan pembentuk gel, sehingga penampakan akhir dari sosis utuh, rapi, dan ketebalan merata. Penambahan lemak gajih terlihat lebih lembab (moist) dan spongy (berongga). Selain itu daya kerja masing-masing emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik pada minyak maupun air, maka dapat membantu terjadinya dispersi minyak dalam air sehingga terjadilah emulsi minyak dalam air (o/w) atau sebaliknya emulsi air dalam minyak (w/o). 4.1.3. Tekstur Dari Tabel 5 di atas, dtunjukkan bahwa, penambahan emulsifier berupa minyak sayur dan lemak gajih berpengaruh terhadap tekstur yang dihasilkan. Pada kontrol yang ditambahkan minyak sayur, medapatkan nilai 4 yang berarti kriterianya agak kurang disukai, namun pada kontrol yang ditambahkan lemak gajih memberikan hasil yang lebih baik, yaitu nilai 7 dibandingkan dengan gelatin dan ISP (nilai tertingginya adalah 6). Fenomena pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa tekstur yang dimiliki sosis adalah suka. Hal ini di duga bahwa perbedaan emulsifier yang

ditambahkan dan interaksi antara sumber lemak yang berbeda, bisa jadi menghasilkan tekstur yang berbeda pula. Tetapi, dalam masing-masing kelompok tidak menunjukkan perbedaan skor yang jauh. Tekstur sosis dengan pemberian emulsifier dan penggunaan sumber lemak yaitu minyak sayur dan gajih memberikan hasil yang sedikit elastis. Elastisitas merupakan parameter penting dari mutu produk termasuk sosis. Pembentukan gel sangat berpengaruh terhadap elastisitas yang dihasilkan. Kadar protein dalam daging lumat yang digunakan memberikan kontribusi pada pembentukan gel dan elastisitas produk. Protein miosin dari daging ikan memegang peranan utama dalam pembentukan gel tersebut. Titik kritis proses pembuatan sosis yang berhubungan dengan tekstur yaitu pada saat formulasi bahan dan suhu setting yang digunakan. Jika formulasi tidak tepat dan suhu setting terlalu tinggi maka pembentukan gel akan kurang bagus. Tepung tapioka berperan sebagai bahan pengisi sosis, dimana berperan sebagai pengisi protein myofibril. Tepung berinteraksi dengan protein secara tidak langsung maupun mempengaruhi formasi protein dimana proses pemasakan yang terlebih dahulu adalah gelasi protein diikuti dengan mengembangnya tapioka. 4.1.4. Aroma Dari Tabel 5. di atas menunjukkan bahwa nilai tertinggi dimiliki oleh kontrol, tanpa penambahan emulsifier. Hal ini diduga pengaruh interaksi antara emulsifier dengan bahan yang lain menghasilkan aroma baru yang cenderung lebih tidak disukai dibandingkan dengan aroma ketika belum ditambahkan emulsifier. Perbedaan aroma ini juga disebabkan oleh perbedaan cara memasak. Untuk emulsifier gelatin dan ISP, memiliki nilai 5 (untuk minyak sayur, yang berarti aromanya netral) dan 4 (untuk lemak gajih, yang berarti agak tidak suka). Hal ini dapat disebabkan oleh karena sifat lemak yang mudah menyerap bau. Kemungkinan lain adalah jika bahan pembungkus sosis dapat menyerap lemak yang terserap ini akan teroksidasi oleh udara sehingga rusak dan berbau. Bau dari bagian lemak yang rusak ini akan diserap oleh lemak yang ada dalam bungkusan yang mengakibatkan seluruh lemak menjadi rusak.

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

4.1.5. Rasa Tabel 5. menunjukkan bahwa nilai rasa menunjukkan kecenderungan yang sama untuk semua perlakuan. Artinya bahwa penambahan emulsifier dan jenis lemak yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap penerimaan konsumen. Beberapa faktor yang mempengaruhi rasa adalah senyawa kimia, dalam hal ini

berbagai komponen dalam sosis, suhu, dan interaksi antar bahan yang lain (Winarno, 1997). 4.2. Uji Tingkat Kesukaan Tingkat kesukaan panelis terhadap sosis yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat kesukaan panelis terhadap sosis yang dihasilkan Perlakuan Kelompok 1 Gelatin+minyak Gelatin+gajih Kelompok 2 ISP + minyak ISP + gajih Kelompok 3 Kontrol + minyak Kontrol + gajih Warna 6 4 6 6 7 6 Penampakan 6 5 6 7 6 7 Tekstur 7 4 5 6 6 6 Aroma 7 6 6 6 6 7 Rasa 7 6 6 5 5 5

4.2.1. Warna Hasil uji tingkat kesukaan panelis terhadap warna sosis yang dihasilkan menunjukkan bahwa penambahan emulsifier tidak begitu berpengaruh terhadap tingkat kesukaan warna. Nilai tertinggi dicapai oleh kontrol yaitu tanpa penambahan emulsifier, meskipun dengan penambahan emulsifier nilai yang didapatkan tidak jauh berbeda. Sementara itu, secara umum pemakaian minyak sayur terhadap warna sosis yang dihasilkan ternyata lebih disukai panelis daripada penggunaan lemak gajih. 4.2.2. Penampakan Nilai kesukaan pada penampakan sosis tertinggi adalah pada perlakuan penggunaan ISP dengan gajih sebagai sumber lemak. Nilai 7 yang berarti pada tingkatan suka terhadap produk tersebut. Panelis lebih menyukai sosis dengan penampakan yang agak lembab karen pengaruh lemak gajih. Meskipun demikian, perlakuan yang lain tidak berbeda jauh, dengan melihat nilai yang didapatkan dalam Tabel 8. Sedangkan untuk kelompok kontrol yang ditambahkan lemak gajih juga menunjukkan nilai tertinggi yaitu angka 7 yang berarti suka terhadap sosis. Hal ini bisa di duga bahwa interaksi antara bahan baku dan emulsifier berjalan secara kompak dan menyatu sehingga menghasilkan penampakan yang lebih baik, 4.2.3. Tekstur Nilai kesukaan tertinggi didapatkan

oleh sosis dengan penambahan gelatin sebagai emulsifier. Namun demikian, secara umum semua perlakuan tidak begitu berpengaruh berdasarkan tingkat kesukaan panelis dimana nilai yang didapatkan tidak begitu jauh. Tujuan penambahan gelatin sebagai emulsifier dan interaksi lemak bisa yang memperbaiki tekstur dan cita rasa produk (sosis). Namun hasilnya ternyata tidak demikian, karena biasanya reaksi dari lemak sebagai emulsifier terhadap bahan pangan (ikan) sebagai lemak tersembunyi (invisible fat), sehingga nilainya menjadi 4 yang berarti produk tidak disukai. 4.2.4. Aroma Tingkat kesukaan panelis terhadap aroma yang dihasilkan juga tidak ada tren tertentu. Secara umum tingkat kesukaan terhadap semua perlakuan hampir sama, meskipun ada beberapa yang agak berbeda yaitu untuk gelatin dan kontrol yang lebih tinggi. Namun nilai yang didapat tidak berbda jauh. Dengan demikian dianggap bahwa penggunaan emulsifier dan sumber lemak yang berbeda tidak begitu berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis akan warna yang dihasilkan. 4.2.5. Rasa Berbeda dengan hasil uji hedonik, pada tingkat kesukaan akan rasa, nilai tertinggi dimiliki oleh sosis dengan penggunaan emulsifier. Di sini jelas bahwa nilai kontrol
47

lebih rendah dibandingkan dengan penambahan emulsifier. Artinya, interaksi yang ada antara bahan dan emulsifier memberikan dampak pada rasa, yang mempengarihi tingkat kesukaan konsumen. Jenis emulsifier terlihat tidak begitu jauh memberikan efek yang berbeda terhadap tingkat kesukaan panelis. 4.3 Uji Fisik Uji fisik disini meliputi uji lipat dan uji gigit sosis yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil uji lipat dan uji gigit sosis Perlakuan Uji Lipat Uji Gigit Kelompok 1 Gelatin+minyak 3 5 Gelatin+gajih 2 3 Kelompok 2 ISP + minyak 3 5 ISP + gajih 3 5 Kelompok 3 Kontrol + minyak 1 4 Kontrol + gajih 2 5

kurang bagus. Uji gigit tertinggi juga dimiliki oleh sosis dengan penambahan ISP sebagai emulsifier. Meskipun nilai yang didapatkan masih relatif rendah yaitu 5 yang berarti dapat diterima, sedikit kuat. Namun itu sudah menunjukkan bahwa penggunaan emulsifier mampu meningkatkan elastisitas sosis yang dihasilkan. V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari hasil praktikum yang dilakukan, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil, yaitu : 1. Emulsifier yang digunakan dalam pembuatan sosis seperti gelatin dan ISP, berpengaruh terhadap penampakan, tekstur, rasa dan aroma yang dihasilkan secara hedonik dan uji kesukaan maupun uji fisik. 2. Penggunaan ISP cenderung memberikan hasil lebih baik dibandingkan gelatin meskipun tidak jauh berbeda dengan kontrol (tanpa penambahan emulsifier). 3. Lemak hewan dan lemak nabati yang ditambahkan menghasilkan komponen adonan yang berbeda dalam sosis. 5.2. Saran 1. Perlu penelusuran lebih mendalam tentang pengaruh dan peranan lemak dan minyak dalam diversifikasi produk hasil perikanan lainnya. 2. Dengan teknologi pangan yang sudah maju dan modern, perlu dikembangkannya sumberdaya alam hasil laut yang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomis.

Hasil uji lipat selaras dengan hasil uji hedonik dimana nilai tertinggi dimiliki oleh sosis dengan penambahan ISP sebagai emulsifier. Di sini menunjukkan bahwa dengan interaksi yang ada dengan semua bahan, ISP cenderung memberikan hasil pembentukan gel yang lebih baik. Kemampuan pembentukan gel ini tercermin dalam tekstur yang dihasilkan. Uji lipat dengan nilai 3 artinya bahwa sosis retak berangsur-angsur setelah dilipat menjadi setengah lingkaran. Pengaruh penggunaan emulsifier jelas terlihat dari nilai kontrol dimana nilai uji lipat hanya 1 dan 2 dari jenis lemak yang berbeda. Nilai yang cenderung masih sedang atau belum pada tahap baik (nilai 5) kemungkinan disebabkan juga oleh proses pemasakan yang kurang tepat sehingga kemampuan pembentukan gel juga

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

DAFTAR PUSTAKA Amano, K.1963. Fish Sausage Manufacturing. G. Borgstrom (Eds.) Dalam Fish as Food Volume III. New York. Academic Press. Afrianto, E. 1995. Pengaruh Jenis Bahan Baku, Lama Penyimpanan Beku Dan Metode Pengasapan Terhadap Karakteristik sosis Ikan. Tesis. Program Pasca Sarjana, IPB. Bogor. Bacus J., 1984. Utilization of Microorganisms in Meat Processing. Reasearch Studies Press Ltd. England Cheng, C.S., D.D. Hamann, N.E. Webb and V. Sidwell. 1979. Effect Of Species And Storage Time In Minced Fish Gel Texture. Journal Food Science. 44 (4) : 1087-1092. Fennema, O.R. 1976. Principle of Food Science. New York. Marcel Deker Inc. Forrest JC, Alberen ED, Hedrick HB, Judge MD, Merkel RA., 1975. Principle of Meat Science. W.H. Freeman and Co. San Francisco. Haq, N., Ninoek I., N. E. Irianto and Suparno. 1994. Pengaruh Konsentrasi Garam Terhadap Mutu Sosis Ikan Fermentasi. Jurnal Penelitian Pasca Panen Perikanan, No. 78: 60 65. Hall. G.M dan N.H. Ahmad. 1992. Surimi and Fish Mince Products. Dalam G.M. Hall (Eds). Fish Processing Tecnology. New York . Blackie Academic and Profesional. Ilyas S., 1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan : Teknik Pendinginan Ikan. C.V. Paripurna. Jakarta. Ilyas, S. dan Suparno, 1993. Penelitian dan Pengembangan Limbah Pertanian dalam Limbah, F.G. Winarno, A.F.S.Boedimen, T. Silitonga dan B.Soewardi (Eds). Jakarta. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan. Kramlich WE., Pearson, AM, dan F.W Tauber. 1973. Processed Meats. AVI Connecticut. Publishing Company, Westport. Kramlich WE., Pearson, AM, dan F.W Tauber. 1971. Processed Meats. AVI Connecticut. Publishing Company, Westport. Kateren S.1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Romans JR.William JC, Carlos W, Marion LG, Jones KK. 1994. The Meat We Eat 3rd ed. Illinois: Interstate Publishers, Inc. Okada, M. 1990. Chemistry of Meat Tissue. Animal Science Departement. The Ohio State University dalam Surimi Tecnology. Editor: T.C. Lanier dan C.M.Lee. New York. Marcel Dekker, Inc. Radley JA. 1976. Starch Production Technology. London: Applied Science Publishher Ltd. Soeparno. 1994. Ilmu dan technology Daging. Yogayakarta: Gadjah Mada University Press. Soeparno. 1992. Ilmu dan technology Daging. Yogayakarta: Gadjah Mada University Press. Soekarto, Hubest. 2000. Metodologi Penelitian Organoleptik. Program Studi Ilmu Pangan. IPB. Standar Nasional Indonesia. 1992. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.01-2728-1992.
49

Standar Nasional Indonesia. 1995. Sosis Daging. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.013820-1995. Suzuki, T.1981. Fish and krill protein. Dalam Processing Tecnology. London. Applied Science Publishing. Ltd. Winarno, F.G.,S.Fardiaz. 1989. Pengantar Teknology Pangan.. Jakarta. PT.Gramedia. Winarno, F.G. 1993. Kimia Pangan Dan Gizi. Gramedia. Jakarta. Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan Dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

Analisis Finansial Usaha Ayam Ras Pedaging Pada Kelompok Tani Tunas Inti Di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan
Rukiyati Usman Staf Pengajar FAPERTA UMMU-Ternate ABSTRAK

Daging ayam merupakan pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga. Daging ayam banyak dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan jenis daging lainnya dan sesuai dengan selera masyarakat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dari segi Finansial yang terdiri dari jumlah produksi dan kelayakan usaha ayam ras pedaging di Peternakan Kelompok Tani Tunas Inti di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan. Penelitian ini dilaksanakan dari Maret sampai Mei 2008, dengan menggunakan metode survai. Hasil analisis usaha ayam ras pedaging diperoleh pendapatan sebesar Rp. 8.911.974, Selama 2 bulan. Jumlah populasi ternak 1200 ekor dengan jumlah penerimaan Rp. 24.500.000 dan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 15,588.026, layak untuk di kembangkan dimana BEP adalah Rp. 12.990, B/C Ratio adalah 0,57 dan R/C Ratio adalah 1,57.
Kata Kunci : Analisis finansial, ayam ras pedaging. I. PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang
Perkembangan Agribisnis dari tahun ke tahun semakin menunjukan pertumbuhan yang menggembirakan, baik secara kualitas maupun kuantitas (Johari, 2004). Namun, sering para pemula atau calon usahawan baru di bidang agribisnis masih kebingungan untuk memilih bidang usaha agribisnis yang akan dijalankannya. Banyak tawaran usaha bidang agribisnis yang menjanjikan tingkat keuntungan besar, bahkan di luar logika, sehingga banyak masyarakat yang tergiur dengan tawaran tersebut. Namun, kenyataannya para investor tersebut sering menuai kerugian, keadaan ini terjadi karena mereka tidak memahami karakteristik bidang usaha agribisnis yang dipilih. Mereka juga tidak paham bahwa bisnis yang menjanjikan tingkat keuntungan tinggi dan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Misi pembangunan pertanian periode 2005 - 2009 adalah mewujudkan pertanian yang profesional yang memiliki integrasi moral yang tinggi, mendorong pembangunan pertanian menuju pertanian yang tangguh, berdaya saing, berkelanjutan

dan berwawasan lingkungan, dan mewujudkan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi komoditi pertanian dan penganekaragaman konsumsi pangan. Peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB), ekspor, penciptaan lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, memfasilitasi pelaku usaha melalui pengembangan teknologi, pembangunan sarana prasarana, pembiayaan, akses pasar dan kebijakan pendukung lainnya, memperjuangkan kepentingan dan perlindungan terhadap petani dan pertanian Indonesia dalam system perdagangan nasional (Apriantono 2005) Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa telur, daging, susu, yang bernilai gizi tinggi, meningkatkan pendapatan ternak, meningkatkan devisa serta memperluas kesempatan kerja di pedesaan. Hal tersebut yang diperlukan mendorong pembangunan sub sektor peternakan, sehingga pada masa
51

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan bangsa. Banyak peternakan di Indonesia yang belum memahami proses pemasaran hasil peternakan, sehingga lebih banyak mengarah pada aktifitas proses produksi. Seorang peternakan akan berhasil apabila dapat merangkai antara teknis produksi, pemasaran dan manajemen. Ketiga unsur tersebut memang harus dimiliki seorang peternak yang ingin menjadikan kegiatan sebagai suatu usaha (Rasyaf, 1999) Usaha daging ayam ras merupakan salah satu pilihan yang cukup menjanjikan dan bersifat low risk (resiko rendah). Dengan syarat, usaha ini di lakukan secara profesional dengan memperhatikan aspek kualitas manajemen dan teknis yang terus berkembang. Dari teknis pemeliharaan, resiko kematian dapat diminimalkan karena pola bisnis daging ayam ras yang berkembang saat ini berupa pemeliharaan pullet. Pullet adalah istilah untuk anak ayam yang siap bertelur (dara) atau berumur 91 – 112 hari (Johari, 2004). Dengan populasi yang berkembang dari tahun ke tahun (kecuali pada saat krisis nasional tahun 1998), secara perlahan tetapi pasti, bisnis daging ayam ini cukup menjanjikan. Permasalahannya hanya pada modal karena bisnis ini relatif padat modal. Usaha daging ayam ras di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan belum dikelola secara optimal karena peternak dihadapkan pada keterbatasan pengetahuan pengelolaan biaya produksi, sehubungan dengan hal tersebut maka dipandang perlu adanya analisis usaha ayam ras pedaging yang dilakukan oleh peternak disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut : 1. Sebelum kegiatan usaha berlangsung, analisis usaha dapat memberikan gambaran atau kepastian mengenai untung ruginya suatu usaha 2. Pada saat kegiatan berlangsung, analisis ini merupakan pedoman dalam menjalankan usaha ternak ayam ras pedaging, dalam hal ini berfungsi sebagai rencana kegiatan usaha. 3. Setelah kegiatan berlangsung analisis ini merupakan bagian dari evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan. Hasil analisis dari usaha ternak dapat

digunakan sebagai salah satu pegangan atau catatan untuk usaha berikutnya. Berdasarkan uraian diatas sebagai latar belakang masalah maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Analisis Finansial Usaha Ayam Ras Pedaging Pada Kelompok Tani Tunas Inti Di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan.Propinsi Maluku Utara. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat diangkat permasalahan sebagai berikut : 1. Berapa banyak jumlah produksi ayam ras pedaging. 2. Kelayakan usaha ayam ras pedaging di peternakan ayam ras pedaging tunas inti di Kelurahan Kalumata. 1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan diatas tujuan dari penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui berapa banyak jumlah produksi ayam ras pedaging di Kelurahan Kalumata. 2. Menganalisis Usaha ayam ras pedaging di peternakan Tunas Inti di Kelurahan Kalumata. 1.3.2 Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian yaitu : 1. Sebagai bahan masukan bagi kelompok tani tunas inti untuk dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan produksi ayam ras pedaging. 2. Sebagai bahan informasi bagi kelompok tani tunas inti untuk lebih meningkatkan produksi sehingga dapat diperoleh pendapatan yang maksimal dan dapat menentukan kelayakan usaha. 3. Sebagai informasi bagi peneliti lanjutan yang masalahnya berkaitan dengan produksi dan pendapatan serta kelayakan usaha ayam ras pedaging. 1.4 Hipotesa. Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian maka hipotesa yang diajukan sebagai dasar dalam pemecahan masalah yang akan di teliti
52

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

adalah : Semakin banyak jumlah produksi ayam ras pedaging yang dihasilkan maka akan meningkatkan pendapatan yang diterima sehingga usaha ini layak untuk dikembangkan. II. METODE PENELITIAN 2.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan, Propinsi Maluku Utara pada Bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2008. Lokasi ini dipilih karena Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan Merupakan salah satu sentra produksi dan pemasaran telur ayam ras pedaging di Kota Ternate 2.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh di Kecamatan langsung atau observasi dan wawancara menggunakan kuisioner di ketua kelompok tani tunas inti. Data sekunder diperoleh di kantor Kelurahan Kalumata yang berhubungan langsung dengan penelitian, maupun referensi lainnya. 2.3. Metode Pengambilan Data Responden yang diambil dalam penelitian ini langsung ke Ketua Kelompok Tani Tunas Inti yang terlibat dilokasi penelitian. 2.4. Metode Analisa Data Penelitian ini data diperoleh kemudiaan dianalisis secara statistik deskriftif kuantitatif. Analisis deskriftif kuantitatif digunkan untuk melihat kelayakan usaha ditinjau dari aspek ekonomi. Adapun rumus yang digunakan dalam menganalisis data dalam kajian ini adalah sebagai berikut : 2.4.1. Analisis Pendapatan Untuk menghitung hipotesa yang pertama atau menghitung besarnya Pendapatan Usaha Produksi ayam ras petelur digunakan analisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh (Mosher, 1998). ∏ = TR – TC
Keterangan : ∏ = Profit ( Keuntungan )

TR = Total Revenue ( Total Penerimaan ) TC = Total Cost ( Total Pengeluaran )

Untuk menghitung kelayakan suatu usaha maka digunakan rumus : TR = Pi x Hpi
Keterangan : Pi = Jumlah Produk HPi = Harga Jual Produk

Untuk mengetahui Total Cost ( TC ) dengan menggunakan rumus : TC = VC + FC
Keterangan : VC = Biaya Variable ( Variable Cost ) FC = Biaya Tetap ( Fixed Cost )

2.4.2. Analisis Kelayakan Usaha Untuk menghitung kelayakan digunakan rumus : 2.4.2.1. BEP (Break Even Point)

usaha

2.4.2.2. R/C (Return Cost Ratio)

R/C

Ratio =

Total Penerimaan Total Biaya

Keterangan : R/C Ratio adalah perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya Dimana : R/C Ratio > 1 usaha mendapat laba R /C Ratio = 1 usaha seimbang R /C Ratio < 1 usaha rugi

2.4.2.3. B/C Ratio

B/C =

Total Keuntungan Total Biaya

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Analisis usaha ayam ras pedaging Memulai usaha ayam ras pedaging perlu diketahui besarnya biaya yang dibutuhkan. Berikut disajikan analisis disertai asumsi dan harga-harga yang berlaku

53

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009) Rp. Rp. 810.250 15.588.026

saat ini. 1. Jumlah ayam yang dipelihara sebanyak 1200 ekor. 2. Periode pemeliharaan dilakukan selama 2 bulan. Pemeliharaan dimulai dari DOC dengan harga Rp. 4500 per ekor. 3. Pemeliharaan ayam dilakukan dikandang ren secara intensif. 4. Modal yang digunakan merupakan modal kelompok tani. Demikian halnya dengan tanah yang digunakan untuk areal peternakan. 5. Masa pakai kandang lima tahuan, sedangkan masa pakai peralatan tiga tahun. 6. Harga jual ayam saat bobot potong mencapai 1 kg dengan harga Rp. 17.000 per kg. 7. Pakan yang digunakan adalah pakan komersial dengan kebutuhan pakan sebanyak 2,5 kg per ekor per dua bulan. 3.1.1. Biaya kandang dan peralatan. Biaya pembuatan kandang untuk 1200 ekor ayam adalah Rp. 7.500.000. Masa pakai kandang adalah 5 tahun. Dengan demikian, besarnya penyusutan per bulan adalah Rp. 125.000. Peralatan yang digunakan terdiri dari tempat pakan, tempat minum, sekop, alat vaksinasi, dan lain-lain. Total biaya peralatan adalah Rp. 500.000 dengan masa pakai 3 tahun. Besarnya biaya penyusutan peralatan per bulannya adalah Rp. 13.888. 3.1.2. Biaya dan penerimaan usaha. Biaya dan pendapatan dari usaha ayam pedaging ras menggunakan 1200 ekor induk selama dua bulan sebagai berikut : 3.1.2.1. Biaya

Sekam (240 Karung) Total Biaya

3.1.2.2. Penerimaan Analisis penerimaan usaha ayam ras pedaging di peternakan Tunas Inti di Kelurahan Kalumata terdiri dari hasil penjualan ayam pedaging dan penjualan kotoran ayam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.

Analisis Penerimaan usaha peternakan ayam ras pedaging
Aktivitas

Jumlah
Rp. Rp. Rp. 18.000.000 6.500.000 24.500.000,-

Penjualan ayam 1.200 ekor Penjualan Kotoran 1.200 karung Total Penerimaan

Besarnya keuntungan yang diperoleh merupakan selisih antara total penerimaan dikurangi total biaya (b-a). Dengan demikian total keuntungan yang diperoleh selama dua bulan adalah Rp. 8.911.974.

3.2. Analisis kelayakan usaha
Dalam suatu usaha tani diperlukan Evaluasi Kelayakan Usaha. Begitu juga untuk usaha peternakan Tunas Inti di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan. Hal ini untuk menentukan usaha tani tersebut dikatakan layak untuk dikembangkan . Evaluasi Kelayakan Usaha berdasarkan beberapa katagori antara lain : 3.2.1. BEP (break even point) Break Even Point (BEP) untuk volume produksi diperoleh dari selisih total biaya sebesar Rp.15.588.026 dan harga jual produk Rp.15.000 dan hasilnya 1.039,2. ekor ayam pedaging. Break Event Point (BEP) untuk harga produksi diperoleh dari selisih total biaya Rp.15.588.026 dan Total Produksi Rp.1200 dan hasilnya Rp.12.990. Titik impas bisa tercapai jika harga Rp. 12.990 per ekor atau jumlahnya mencapai 1.039,2 ekor ayam. 3.2.2. R/C (Return Cost ratio) Return Cost Ratio (R/C) diperoleh dari selisih total penerimaan sebesar Rp.24.500.0000 dan total biaya Rp.15.588.026 dan hasilnya 1,57. Dengan nilai R/C 1,57 berarti usaha ini

Biaya dan pendapatan dari usaha ayam ras pedaging menggunakan 1200 ekor induk selama dua bulan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Besarnya biaya-biaya dari usaha ayam ras pedaging.
Biaya-biaya Penyusutan Kandang (2 bulan) Penyusutan Pealatan (2 bulan) Pakan (3.000 kg) Obat-obatan Pembelian 1.200 ekor DOC Tenaga Kerja Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Nilai Penyusutan 250.000 27.776 7.450.000 300.000 5.400.000 1.200.000

54

Jurnal Ilmiah agribisnis dan perikanan (agrikan UMMU-Ternate)

Volume 2 Edisi 1 (Mei 2009)

dinilai layak untuk dikembangkan. Setiap Dengan nilai B/C > 0, berarti usaha ini penambahan biaya Rp. 1,00 akan layak dan dapat memberikan tambahan memperoleh penerimaan Rp. 1,57. keuntungan sebesar Rp. 0.57 dari setiap 3.2.3. B/C (Benefit Cost Rasio) penambahan biaya Rp. 1,00. Keuntungan Benefit Cost Ratio (B/C) diperoleh dari mencapai 29% dari biaya yang dikeluarkan selisih total keuntungan sebesar Rp.8.911.974 dan Total biaya Rp.15.588.026 IV. KESIMPULAN dan hasilnya 0,57. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Usaha ayam ras pedaging Pada Kelompok Tani Tunas Inti di Kelurahan Kalumata Kota Ternate Selatan diperoleh BEP (Break Event Point) Untuk volume produksi sebesar Rp. 1.039,2 , untuk harga produksi sebesar Rp. 12.990, Return Cost Rasio 1,57 dan Benefit Cost Rasio sebesar 0,57. DAFTAR PUSTAKA Anonym, 1976. Pemeliharaan Ayam Ras, Yayasan Kanisius Yogyakarta. Apriantono, 2005. Visi dan Masi Pengembangan Pertanian 2005-2009. Daniel. M., 2002, Pengantar Ekonomi Pertanian PT. Bumi Aksara. Jakarta. Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia 2007, Media Budidaya Ternak Unggas dan Aneka Ternak. Johari. S., 2004, Sukses Beternak Ayam Ras Petelur, PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. Nasheim, N.S, And E.Le. Card, 1972. Poultry Production Phyladelphia. Nuraeni I., M.Ed, 2002. Manajemen Agribisnis, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor. Rasyaf. M., 1999, Memasarkan Hasil Peternakan Penebar Swadaya. Jakarta. Siagian. M., 2002, Pengantar Manajemen Agribisnis Gajah Mada University Press. Soekartawi., 2003, Teori Ekonomi Produksi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. ., 2002, Analisis Usaha Tani Universitas Indonesia Press, Jakarta. Suharno. B, 2003 Agribisnis Ayam Ras, Penebar Swadaya Jakarta. Suratiyah K, 2006, Ilmu Usaha Tani, Penebar Swadaya, Jakarta. Widjaja. K, Ir 2003, Peluang Bisnis Ayam Ras, Penebar Swadaya, Jakarta. Wiharto., 1986. Petunjuk Beternak Ayam, Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya Malang.

55

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful