ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA

)
o o
View clicks

Posted December 8th, 2009 by ogoy

y

Skripsi Lainnya

abstraks: Penelitian ini merupakan penelitian tentang kerusakan mangrove di Surabaya dengan judul ³Analisis Sistem Pendugaan Tingkat Kerusakan Ekosistem Mangrove (Studi Kasus di Pantai Timur Surabaya)´. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui faktor penyebab kerusakan mangrove dan membangun model hubungan tingkat kerusakan mangrove dengan faktor penyebabnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus ± September 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian mengambil 4 lokasi yaitu Kecamatan Gunung Anyar, Kecamatan Rungkut, Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo. Masing-masing kecamatan diambil tiga titik pengambilan sampel. Analisis data yang digunakan yaitu secara deskiptif kuantitaf, uji korelasi, pemodelan dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor penyebab utama kerusakan mangrove berdasarkan nilai korelasi (r) antara kerusakan mengrove dengan faktor lingkungan yaitu BOD dengan nilai r -0,769, tekstur tanah (persen liat) adalah -0,768, kekeruhan adalah -0,737 dan oksigen terlarut adalah 0,731, sedangkan faktor anthropogenic yaitu tingkat ekonomi dengan nilai r -0,901, tambak perikanan adalah 0,481, penebangan untuk kayu bakar adalah -0,451 dan tingkat pendidikan adalah 0,418. Model estimasi kerusakan mangrove (Y) dengan faktor-faktor tersebut adalah (a) Y (BOD) = 1.737.940,30 ± 17.356,98 x X2+ 698.740,40/ln (X), (b) Y (Tekstur Tanah) = 1.479,1 x exp((-(X44,57)2/2 x 11,782)), (c) Y (Kekeruhan) = X- 11,7702 x exp(73,7446 + 0,0121 x X), (d) Y (Oksigen Terlarut) = 24.014,12 ± 62.530,10/ln(X) + 176.744,26/X1,5, (e) Y (Tingkat Ekonomi) = 933,54 + 2,15E-16 x X3 198.562.510.531.277,00/X2, (f) Y (Tambak Perikanan) = 65,30 + 2.115.310.567,67 x ln(X)/X2 - 13342862045,53/X2, (g) Y (Penebangan) = 987,0251 + 0,0000042186 x X2,5 0,0000000591 x X3 (h) Y (Tingkat Pendidikan) = 1243,75± 144.923.015.093,62/X1,5 + 2.973.708.928.637,96 x ln (X)/X2. Kata kunci : Pantai Timur Surabaya, analisis sistem, kerusakan mangrove, faktor lingkungan mangrove, model. I. Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan suatu ekosistem yang berada pada kawasan pasang surut, muara sungai dan di dalamnya terjadi interaksi yang erat antara sekumpulan vegetasi dengan kondisi PENDAHULUAN

Hal ini dapat dijadikan sebagai analisis ilmiah untuk menentukan langkah dalam proses merehabilitasi dan merekontruksi wilayah ekosistem mangrove yang rusak. berikut : 1. . terutama salinitas (Pramudji. Pengukuran besaran laju degradasi mangrove yang terjadi di Pantai Timur Surabaya perlu dilakukan khususnya dalam menentukan luas dan laju kerusakan serta penentuan faktor penyebab kerusakan mangrove. topografi pantai dan pasang surut air laut. Kerusakan ekosistem mangrove disebabkan oleh faktor kondisi alam dan faktor anthropogenik. Faktor antrhopogenik yang menjadi penyebab kerusakan mangrove diantaranya adalah adanya konversi dan eksploitasi hutan mangrove yang tidak terkendali serta terjadinya polusi di perairan estuarin. iklim.7 juta hektar. Kegiatan penelitian analisis sistem pendugaan tingkat kerusakan ekosistem mangrove diharapkan dapat menentukan faktor yang paling dominan sebagai penyebab kerusakan mangrove. Tingkat kerusakan mangrove dan faktor penyebab kerusakan serta laju atau luas kerusakan mangrove di lokasi penelitian dapat diketahui dengan menggunakan data existing analisis baik secara langsung dengan survei lapangan maupun melalui analisis GIS.lingkungan seperti geomorfologi. 16 miliar (Silaban. Pada tahun 1993 luas hutan mangrove di Indonesia 3. Dari luas ekosistem mangrove yang ada di Surabaya. Hal ini perlu dilakukan untuk menyusun kegiatan pengelolaan mangrove lestari dan menentukan pola rehabilitasi dari ekosistem mangrove tersebut. 2008). Ekosistem mangrove merupakan daerah peralihan antara darat dan laut. 2001). Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan mangrove di Pantai Timur Surabaya? Bagaimana terdapat Pantai Surabaya? 3. pasang surut dan salinitas yang ditetapkan sebagai habitat. kemudian pembuatan model pendugaan faktor penyebab utamanya serta membuat langkah-langkah untuk pemulihan Penelitian 2.5 juta hektar (Hidayah. Kerusakan ekosistem mangrove di Pantai Timur Surabaya diperkirakan sudah menelan kerugian sebesar Rp. pantai dan lokasi tumbuhnya mangrove (Kusmana. Perumusan Masalah Kerusakan mangrove yang ada di wilayah Pantai Timur Surabaya dinilai sangat kritis. sekitar 40% atau seluas 472 hektar telah mengalami kerusakan. Kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik sangat berpengaruh terhadap kestabilan dan keberadaan ekosistem mangrove.180 hektar. Bagaimana model hubungan antara tingkat kerusakan mangrove dengan faktor penyebabnya? Tujuan Penelitian 1. hutan mangrove tersebut tinggal sekitar 1. namun pada tahun 2005. 1991). Potensi luas hutan mangrove yang ada di Pantai Timur Surabaya yang mencapai 1. diantaranya dengan menganalisa penyebab kerusakan. Faktor kondisi alam umumnya terjadi karena proses sedimentasi dan pengangkatan permukaan air laut. ini dibangun tingkat untuk kerusakan menjawab mangrove beberapa yang permasalahan di sebagai Timur kembali. Kerusakan ekosistem mangrove yang terjadi di wilayah pesisir indonesia sangat tinggi. Mengetahui faktor ini penyebab utama bertujuan kerusakan mangrove di untuk Pantai Timur Penelitian : Surabaya. Untuk mengurangi laju dan luas kerusakan mangrove maka diperlukan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan kerusakan tersebut. Wilayah Pantai Timur Surabaya merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan kondisi kerusakan mangrove yang sangat parah. yang banyak dipengaruhi oleh gelombang. 2007).

1.2. Setiawan dan Harianto. Kompleks. 3.1. hutan kecil atau rumpun tumbuhan jeruk) bila disatukan akan menjadi mangrove atau mangrave. LH No 201 tahun 2004). Dalam Malay. Analisis faktor kerusakan ekosistem mangrove dapat dijadikan desain dalam membangun wilayah pengelolaan ekosistem mangrove yang lestari. estuari atau muara sungai dan delta di tempat yang terlindung di daerah tropis dan sub tropis. Penentuan faktor dominan penyebab kerusakan ekosistem mangrove.2. air laut akan membawa mineral-mineral laut ke arah pantai. Pada saat air pasang. Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan serta pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk ekosistem yang ekstensif dan produktif (Pramudji. Hal ini bermanfaat untuk menganalisis dan menentukan arah kebijakan dalam mengurangi tingkat kerusakan mangrove. mangrove disebut sebagai mangi-mangi atau mangin (Murdiyanto. mineral dari hulu yang terbawa hanyut aliran sungai akan . 1991 dalam Zaitunah. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan memberikan informasi tentang : 1. Habitat mangrove TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem mangrove bersifat kompleks dan dinamis namun rentan. Membangun model hubungan antara tingkat kerusakan mangrove dengan faktor penyebabnya. Mangrove juga dapat diartikan sebagai sekumpulan tumbuh-tumbuhan Dicotyledoneae dan atau Monocotyledoneae terdiri atas jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan taksonomi sampai dengan taksa kelas (unrelated families) tetapi mempunyai persamaan adaptasi morfologi dan fisiologi terhadap habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut (SK. Istilah tersebut ternyata tidak hanya digunakan untuk satu spesies tumbuhan tetapi oleh beberapa spesies tumbuhan yang ada didalamnya (Saenger and Hutchings. Rentan. 1978). Dengan struktur vegetasinya yang khas memungkinkan mineral akan tertahan dan mengendap di atas habitat mangrove. Habitat mangrove sangat kaya akan mineral sebagai sumber makanan bagi berbagai jenis biota. 3. Men. sehingga bersifat komperhensif dan dapat menganalisis tingkat kerusakan dari banyak faktor. Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai. Mengetahui tingakat kerusakan yang terjadi di Pantai Timur Surabaya. Secara umum istilah mangrove telah dimengerti dengan baik. Pengertian Mangrove Mangrove dalam bahasa Portugis merupakan salah satu jenis pohon mangrove yang disebut sebagai mangue dan dalam istilah Inggris disebut grove (belukar.1. tetapi istilah tersebut sulit untuk mengidentifikasikannya secara tepat apa yang terdapat di dalam hutan mangrove. Dinamis. 2002). 2. Hal ini bermanfaat untuk mencegah tingkat kerusakan ekosistem mangrove yang lebih tinggi lagi. karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali (Nugroho. Sebaliknya pada saat surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut. 2. II. karena hutan mangrove dapat terus berkembang serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh. Mangrove 2. karena di dalam hutan mangrove dan perairan atau tanah di bawahnya merupakan habitat berbagai satwa dan biota perairan. 2001). 2003). Analisis sistem dibangun dengan memperhatikan banyak faktor.

jenis reptil seperti kadal (Varanus sp. Jenis akar tunjang . 2003). tetapi sebelum mencapai tanah biasanya masih bercabang lagi. Kondisi lingkungan mangrove sangat terbatas bagi jenis tumbuhan yang ada di wilayah pesisir. Akar tunjang pada Rhizophora sp. Mangrove tidak semuanya dapat tumbuh di seluruh kawasan pesisir Indonesia. jenis ikan seperti ikan glodok (Periopthalmodon sp. sehingga ekosistem ini merupakan merupakan suatu daerah transisi dan ekosistemnya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang ada di darat maupun di laut (Pramudji.. Hal ini karena dalam proses pertumbuhannya mangrove memerlukan habitat dengan beberapa persyaratan. ulat. Mangrove juga dapat tumbuh dengan baik di air tawar. ngengat (Attacu sp. 1984). tupai (Callosciurus sp. Habitat mangrove mempunyai sifat yang sangat khusus. jenis crustasea seperti lobster lumpur (Thalassina sp. serta penunjang tegaknya pohon. 2. ular air (Cerberus sp. 1997). genangan air pasang.). salah satu pemecahannya adalah dengan morfologi sistem perakaran yang istimewa dan berfungsi sebagai akar napas (Pneumatofora). salinitas penggenangan. Akar tunjang tumbuh pada bagian yang agak tinggi dari batang pohon dan tumbuh melengkung langsung menuju ke bawah. namun dari tiap jenis tumbuhannya memiliki kisaran ekologi yang berbeda.). ular pohon (Chrysopelea sp. sehingga tanaman mangrove dikenal dengan halofit fakultatif (Istomo.). Beberapa jenis hewan yang bisa dijumpai di habitat mangrove antara lain dari jenis serangga misalnya semut (Oecophylla sp. fenologi. kelelawar dan lain-lain (Murdiyanto. morfologi. erosi. Setiap tipe mangrove yang tebentuk berkaitan erat dengan faktor habitatnya seperti adanya pengaruh tanah. kutu (Dysdercus sp.).).). 2005). lebah madu. fisiografi pantai. 2001). 2002).). kondisi sungai dan aktivitas manusia (Sukardjo.tertahan dan diendapkan (Sudarsiman. Hal ini menyebabkan mangrove akan beradaptasi melalui perubahan ciri khusus pada fisiologi. ikan sumpit (Toxotes sp. mangrove juga dapat tumbuh pada sistem lingkungan yang lain.). Mangrove dari segi fisiologi yang menonjol adalah tanaman tersebut dapat tumbuh dan tahan pada tanah yang mengandung garam dan genangan air laut sehingga dikenal istilah halofit. golongan primata (Nasalis larvatus) dan masih banyak lagi seperti nyamuk. penambahan lahan pesisir. akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan sangat lamban (Pramudji dan Suyarso. 1992). berfungsi untuk menopang pohon tersebut dan mungkin untuk mencegah tumbuhnya semai di dekatnya (Hilmi. 1997).. Nephila sp. fisiogami serta komposisi struktur vegetasi. landai dan terlindungi serta adanya suplai endapan lumpur dari muara sungai. Sistem perakakaran mangrove yang khas merupakan suatu cara dalam beradaptasi tehadap lingkungan yang memiliki kondisi tanah anaerob (Sudarsiman.3. berbentuk seperti jangka yang panjang. jenis mamalia seperti berang-berang (Lutrogale sp. Sistem yang dimiliki ekosistem mangrove terdiri atas lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove. Adaptasi Mangrove Ciri khusus habitat mangrove adalah keadaan tanah (lumpur atau pasir).). salinitas. antara lain adalah kondisi pantainya yang berasupan air relatif tenang. Mangrove tumbuh berbatasan dengan daratan pada jangkauan air pasang tertinggi. Sehingga relatif hanya sedikit jenis tanaman yang ada dalam formasi ekosistem mangrove.).). Walaupun demikian. jenis laba-laba (Argipe sp.). pasang surut dan kandungan oksigen tanah.1. (Cryptophora sp. Pada sisi lain tanaman mangrove harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap kondisi tanah yang berlumpur dan kekurangan oksigen.

pada Rhizophora sp... Contoh jenis mangrove yang termasuk pelepas garam adalah Avicennia sp. Beberapa jenis mangrove menghindari banyaknya garam dengan cara menyaring melalui bagian akarnya (salt-excluders). and Acanthus sp.. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat. Jenis Avicennia sp. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain karena berbeda pula faktor lingkungannya. merupakan jenis mangrove yang dapat menyaring kadar garam air laut hingga mencapai 90% 2. baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh dengan dinamis. 1984 dalam Hilmi. Bruguiera sp. Ciri lain yang terdapat dalam mangrove adalah ciri fenologi (pembungaan). dan berfungsi untuk memberi kesempatan bagi oksigen untuk masuk ke dalam sistem perakaran. dan Ceriops sp. Vegetasi Mangrove Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. 3..1. Jenis akar lain yang digunakan oleh mangrove untuk beradaptasi terhadap lingkungannya adalah akar napas yang berbentuk seperti papan dan lutut yang terdapat pada jenis Bruguiera sp. Jenis mangrove di atas mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan bersama-sama membentuk formasi mangrove yang khas dan sangat menentukan fungsinya sebagai buffer dan penagkap nutrisi dari laut dan sungai (Sudarsiman. Sonneratia sp..4. Sonneratia sp. 2001). 2003): 1. Sifat fenologi yang menonjol dari mangrove adalah vivipar. yaitu tumbuhan yang memiliki biji dan mampu berkecambah sebelum jatuh ke tanah. Rhizophora sp. Akar pinsil ini muncul pada interval tertentu dari akarnya yang berada di bawah tanah. sedangkan Ceriops sp. 2005). 1997). Akar pinsil ini tumbuh mengarah ke atas. Adaptasi lain yang dilakukan oleh mangrove adalah adaptasi terhadap salinitas. 1979). dan Avicennia sp. . Akar napas yang berbentuk pasak (muncul tegak dipermukaan tanah) pada jenis Sonneratia sp. 2.. Beberapa jenis mangrove mempunyai kelenjar khusus yang dapat mengeluarkan garam dari dalam sistem. Dapat bertahan pada tanah yang bertekstur lembek dan pada kondisi pasang surut yang besar (Sugianto. merupakan jenis mangrove yang memakai cara tersebut. Cara kedua adalah dengan secepatnya mengeluarkan garam yang masuk ke dalam sistem pohon melalui daun. Secara umum adaptasi mangrove untuk bertahan terhadap salinitas dibagi menjadi tiga yaitu (Murdiyanto. 2005).. Jenis mangrove yang mempunyai perakaran horisontal dengan pneumatofora berbentuk kerucut adalah Xylocarpus sp. Cara ketiga adalah menumpuk kelebihan garam pada kulit batang pohon dan daun tua yang akan terlepas dan jatuh dari pohon tersebut serta mengeluarkan kelebihan garam melalui pori-pori yang ada pada dasar daunnya. mempunyai fungsi untuk mencegah kekurangan oksigen karena terbenam di lumpur. Ceriops sp. pohon ini mempunyai akar pengisap udara berbentuk pinsil yang mencuat ke permukaan tanah lumpur. mempunyai perakaran yang terbuka dan bagian bawah batangnya berlentisel cukup besar.. untuk itu tanaman ini mempunyai morfologi akar berbentuk seperti gabus yang memiliki rongga-rongga untuk mengambil oksigen (Anwar et al. Hal ini berkaitan dengan kondisi vegetasinya yang relatif seragam dan adanya kodisi habitat mangrove yang sangat berbeda dengan kondisi hutan di daratan pada umumnya (Hilmi. beberapa cm di atas permukaan air (Bengen. Ciri fisiognomi mangrove yaitu mempunyai ciri-ciri yang khas bila dibandingkan dengan hutan lain.

5. b. Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang tampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan didaerah lain (Noor et. namun pada kenyataan di lapangan tidak sesederhana ini.. namun pada bagian-bagian transisi muncul jenis Crinum sp.. dengan jenis-jenis mangrove c. Semakin jauh dari laut maka suatu jenis akan menggantikan jenis lain.) membentuk d. Dewasa Tipe ini dicirikan dengan pohon jenis Rhizophora sp. laju pengendapan dan pengikisan serta ketinggian nisbi darat dan air. Zonasi Mangrove Zonasi hutan mangrove ditentukan oleh keadaan tanah. Community) Dicirikan dengan adanya jenis nipa (Nypa frutican) sebagai jenis utama yang tumbuh di dekat muara dan tempat pertemuan air tawar dan air asin. Acanthus sp. tidak ada vegetasi bawah. dan Nypa frutican. Rhizophora sp. setelah itu terjadi percampuran jenis Rhizophora sp. dan Conocarpus). Snaeda. al. tunas anakan. mempunyai banyak cabang. yaitu berbatasan dengan komunitas rawa. Lumnitzera. walaupun terdapat jenis-jenis pionir lainnya.. Zonasi juga menggambarkan tahapan suksesi yang sejalan dengan perubahan tempat tumbuh.. dan Bruguiera . kedua jenis mangrove utama (Rhizophora sp. hutan mangrove 1981 Vegetasi (Marsono. Laguncularia. Bruguiera. a. Hutan mangrove pada umumnya tediri dari tumbuhan dari jenis Avicenia sp. dalam Semak 1977 Hilmi. Daya adaptasi suatu jenis mangrove terhadap keadaan tempat tumbuh dapat menentukan komposisi jenis pada tiap zonasi. dan Hanjuana malayuna. 2005).. dan Bruguiera sp. Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia. Lingkungan biotik seperti adanya flora mangrove juga mempunyai peranan dalam pembentukan zonasi atau pemintakatan hutan mangrove. dan Sonneratia sp.1. Bruguiera sp. 1983 dalam Hilmi. dalam 2005) (Mangrove Irwanto. Aegiatilis. dan Bruguiera sp. pasang surut. Komposisi floranya dikuasai oleh Avicennia marina dan Sonneratia caseolaris. Munculnya vegetasi ini setelah perkembangan Avicennia sp. 2. salinitas. yang besar dan tinggi. Xylocarpus. dan proses ini dapat terjadi sampai ke daerah peralihan. Rhizophora. di bawah tajuk terdapat semai dan juga dijumpai Acrosticum aureum. air tawar dan hutan pedalaman (Hutchings and Saenger. membentuk rumpun. rimbun dan pendek. Vegetasi Mangrove Muda Dicirikan oleh vegetasi dengan satu lapis tajuk seragam seperti Rhizophora sp. salah satu contohnya adalah vegetasi (Soekardjo. Vegetasi semak mempunyai karakteristik diantaranya adalah tumbuh dengan sangat kuat. zone Nipah spesifik dengan (Nypa tinggi 50 Swamp ± 60 m.Vegetasi hutan selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Meskipun terlihat adanya zonasi dalam vegetasi mangrove. Johnstone. yaitu 2007). Sonneratia.. lain seperti Vegetasi Exoecaria agallocha Mangrove dan Xylocarpus sp. penggenangan. Ceriops. Perubahan tempat tumbuh bersifat sangat dinamis disebabkan oleh adanya laju penggendapan atau pengikisan. Aegiceras. 1987. : Scrub) Berdasarkan fisiognomi dan tingkat perkembangannya vegetasi mangrove dibagi menjadi 5 Vegetasi ini berasal dari jenis-jenis pionir yang berada di pantai berlumpur atau di tepi laut. 1999). Pada kondisi lingkungan yang sesuai.

Jenis Rhizophora sp. 1991 dalam Zaitunah. 1987 dalam Hilmi. Jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh di bagian tepi yang berbatasan dengan laut didominasi oleh Avicenia sp. obat-obatan dan bahan baku untuk industri pulp dan keras (Nontji.8±25. yaitu biomassa (62. 118 jenis fauna laut dan berbagai jenis fauna darat. arang. Fenomena zonasi ini belum sepenuhnya difahami dengan jelas. 2. mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan . mangrove di Indonesia terdiri atas 157 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan rendah. ekonomi dan lingkungan yang penting.sp. Ekosistem mangrove berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir. Mangrove merupakan suatu ekosistem yang sangat produktif dan memiliki peran yang besar bagi fungsi sosial. pada tingkat pemukiman yang berikutnya.6. Ekosistem mangrove merupakan sumber plasma nutfah yang cukup tinggi misal.. 2002). 2007). 2003). Zonasi penyebaran jenis mangrove secara umum Jika diperhatikan di daerah yang makin mengarah dari laut ke darat terdapat zonasi penguasaan oleh jenis-jenis mangrove yang berbeda. Secara fisik ekosistem mangrove berfungsi menjaga stabilitas lahan pantai yang didudukinya. Besarnya nilai produksi primer tersebut cukup berarti bagi penggerak rantai pangan kehidupan berbagai jenis organisme akuatik di pesisir dan kehidupan masyarakat pesisir (Hidayah.. mangrove mempertahankan fungsi dan kekhasan ekosistem pantai. 2007). yang berfungsi untuk menghubungkan kehidupan biota daratan dan laut Ekosistem mangrove juga memiliki fungsi ekologi yang sangat khas dan kedudukannya tidak akan bisa tergantikan oleh ekosistem lainnya. Pada mintakat berikutnya sering dijumpai Bruguiera sp. 1987 dalam Noor et. Menurut Saenger e. Mangrove yang kondisinya buruk karena terganggu atau berada pada derah pantai yang sempit tidak menunjukkan keteraturan dalam pembagian jenis pohon dan zonasi di sepanjang pantai. Secara ekonomis.8 ton/ha) dan guguran serasah (5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembagian zonasi terkait dengan respons jenis tanaman terhadap salinitas..9±398. al. Mangrove mempunyai nilai produksi bersih yang cukup tinggi.1. (1993) dalam Hilmi (2005) menyatakan bahwa ada sekitar 70 nilai pakai langsung dan tidak langsung dari tumbuhan mangrove. Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami (Hidayah. 2003).. Secara biologis. Di Indonesia.t al. produksi serasah mangrove berkisar anatar 7-8 ton/tahun (Notji. baik secara fisik maupun secara biologis. udang dan biota air lainnya. tempat bersarang berbagai jenis burung dan habitat berbagai jenis fauna. 2005). peralatan rumah tangga. penyamak kulit. Setiawan dan Harianto. Fungsi Mangrove Ekosistem mangrove merupakan ekoton atau daerah peralihan yang unik. pasang-surut dan keadaan tanah. . Misalnya sebagai tempat pencarian pakan. hutan mangrove merupakan penyedia bahan bakar dan bahan baku industri (Nugroho. termasuk kehidupan biotanya. Nilai pakai langsung mangrove yang ada di Indonesia yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat adalah kayu bakar. yang mengarah ke daratan dan kemudian diikuti oleh tumbuhan semak (Hutabarat dan Evans. 1985).8 ton/ha/th). Gambar 1. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. Kondisi tanah mempunyai kontribusi besar dalam membentuk zonasi penyebaran tanaman dan hewan seperti perbedaan spesies kepiting pada kondisi tanah yang berbeda (Murdiyanto. Dari arah laut menuju ke daratan terdapat pergantian jenis mangrove yang secara dominan menguasai masing-masing habitat zonasinya. pemijahan. asuhan berbagai jenis ikan. menggantikan jenis Avicenia sp. bahan bangunan.

Secara umum tanah hutan mangrove merupakan tanah aluvial hidromorf. Pantai yang landai memiliki komposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal. yang berpengaruh terhadap Tekstur kestabilan ekosistem mangrove adalah Tanah Terkstur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. al. Kandungan liat dan debu umunya tinggi. Tanah mangrove umumnya kaya akan bahan organik. Tekstur tanah adalah sifat fisis tanah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk tanah. debu (berukuran 50?m--2?m). Hal ini disebabkan karena pantai landai menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesies menjadi semakin luas dan lebar. Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora. Kedua. 1974 dalam Noor et.Pertama. al. muara. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove Faktor-faktor a. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dan sejajar dengan arah angin (Sukardjo 1984). yang disebut juga tanah liat laut (Sukardjo 1984). Tekstur tanah juga dapat didefinisikan sebagai susunan relatif dari tiga kelas ukuran partikel anorganik tanah. Pada pantai yang terjal komposisi. menyimpan dan menyediakan hara tanaman. Tekstur tanah hutan mangrove umumnya liat. mempunyai tingkat kematangan yang rendah. Fisiografi pantai dapat mempengaruhi komposisi. yaitu pasir (berukuran 2 mm²50?m). liat berlempung. 1993 dalam Noor et. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan c. dan liat (berukuran kurang dari 2?m) (Soil Survey Staff.. bila tanah banyak mengandung pasir atau karang didominasi oleh Rhizophora stylosa b. Di daerah-daerah dengan tanah berlumpur dalam. Tanah mangrove di Indonesia umumnya terdiri atas tanah-tanah yang bertekstur halus. memiliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfat masam atau bahan sulfidik (cat clay). moluska dan udang (Davies and Claridge. 2003). Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Tekstur tanah akan mempengaruhi kemampuan menyimpan dan menghantarkan air. Fisiografi 2005). mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya. Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbedaan hutan mangrove dari satu tempat ke tampat lainnya.. Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan. (Hilmi. parit dan hamparan lumpur. liat berdebu dan lempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai. 1998). 2003). Salinitas . kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang. sedangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh Rhizophora apiculata. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk ke dalam rantai makanan. pohon mangrove untuk tumbuh.

Nutrien-nutrien yang berasal dari hasil dekomposisi serasah maupun yang berasal dari runoff daratan dan terjebak di hutan mangrove kemudian akan terbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap. Pada lokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanya hutan mangrove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan.Salinitas merupakan suatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakan kadar garam yang terkandung dan dinyatakan dalam part per thousend (ppt) (Aksornkoae. Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkan tumbuhan lain yang menempel pada mangrove yang tidak mampu beradaptasi pada kondisi air yang mempunyai kandungan NaCl (Hilmi. Gelombang dan arus mempengaruhi daya tahan organisme akuatik melalui transportasi nutrien-nutrien penting dari mangrove ke laut. Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik turunnya permukaan laut yang hampir teratur. 1999). Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat menentukan zonasi tumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi dengan e. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukan substrat yang sesuai untuk menancap dan akhirnya tumbuh (http//wap. Pasang surut berhubungan dengan lamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. Di areal pesisir pantai. Tenaga pembangkit pasang surut adalah adanya gaya tarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besaran kisaran pasut. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas antara 10 ± 30 ppt.ipb. Di laut terbuka ketinggian air pasang tidak lebih dari 0.5 m tetapi di laut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari 3 meter. Gelombang ekosistem dan mangrove. 1992). dimana jumlah Cl yang terlarut dalam air laut ini rata-rata 55%. . Pengaruh tidak langsung dari gelombang dan arus adalah terhadap sedimentasi pantai dan pembentukan padatan-padatan pasir di muara sungai. 2005).ac.id). 2005). Lebih lanjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwa kandungan garam atau salinitas sangat menentukan kemampuan tumbuh dan reproduksi mangrove. namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuh pada kondisi kadar garam yang lebih tinggi. yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. Terjadinya sedimentasi dan padatan-padatan pasir ini merupakan substrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove. Pasang surut juga memberikan kontribusi bagi perubahan masa antara air tawar dan air asin. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat tumbuh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi.id). hal ini disebabkan karena adanya pengaruh daya tarik bulan lebih kecil dari matahari (Istomo.ipb. Perubahan salinitas akibat pasang surut merupakan suatu faktor yang membatasi penyebran jenis-jenis mangrove terutama penyebaran secara horisontal. Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Keberadaan dan fluktuasi pasang surut akan mempengaruhi tingkat salinitas air laut.ac. Gelombang dan arus juga berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies misalnya buah atau semai Rhizophora sp. 1993). merupakan jenis yang Pasang toleran terhadap garam. Hampir semua jenis mangrove d. 2005). Air pasang terjadi dua kali dalam satu hari. pasang surut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dan komunitas hewan yang ditemukan di wilayah hutan mangrove (Pariwono. Jenis garam yang paling banyak larut adalah NaCl.

Mangrove terdapat pula di kawasan beriklim kering. 1993). Oleh karena itu tidak memungkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo. hidup pada tanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6. seperi di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Cahaya merupakan salah satu komponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau.f. tetapi iklim yang bersifat mikro seperti kondisi cahaya.800 kkal/m2/hari. begitupun Xylocarpus sp. g. Intensitas cahaya optimal yang penting bagi pertumbuhan tanaman mangrove adalah 1. 1984). salinitas. Menurut Kennish (1990) mangrove tumbuh subur pada konsisi daerah tropik yang bersuhu di atas 200C. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam proses produktifitas daun-daun segar. Hal ini tidak berarti bahwa mangrove tidak dapat berkembang di kawasan beriklim kering. Komunitas Rhizophora sp. bermusim dan kering. dan Oksigen 6. Iklim Mangrove merupakan tumbuhan yang dalam hidupnya tidak terpengaruh terhadap iklim artinya bahwa mangrove terdapat di areal beriklim basah. Angin berpengaruh terhadap mangrove untuk proses penyerbukan dan seed dissemination. Adanya karbonat.6 h. hidroksida dan bikarbonat akan menaikan kebasaan air. Angin juga dapat meningkatkan evapotranspirasi bagi tanaman. dan Avicennia sp.2. pertumbuhannya baik pada suhu 21 ± 260C. 1993). Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. Secara umum curah hujan yang normal bagi kehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. pada suhu 270C. Curah hujan juga mempengaruhi faktor lingkungan lainnya seperti suhu air. serta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. dan aliran permukaan dan aliran bawah tanah.. 1993). Dengan keadaan iklim demikian ini mangrove tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Terlarut. Cahaya juga berpengaruh terhadap proses respirasi. Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat akan menaikan kemasaman (Saeni. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. Curah hujan merupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran dari tanaman dan hewan. Pada mangrove jenis Rhizophora stylosa. Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp.000 ± 3. . Bruguiera sp. Di Indonesia sebagian besar mangrove terdapat di kawasan dengan curah hujan tahunan dan bulanan yang tinggi. melainkan oleh kenyataan bahwa kondisi pantai dan tidak adanya sungai besar seperti di Sumatera. 1993). Nilai pH baku mutu untuk perairan laut berkisar antara 6-9. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yang lebih kecil. Kalimantan dan Irian Jawa. curah hujan dan angin mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. Hal ini menyebabkan zona pantai tropis merupakan suatu habitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae. transformasi. 1993). fisiologi dan struktur fisik dari tanaman mangrove. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologi seperti proses fotosintesis dan respirasi. untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daun segar pada suhu 18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. yaitu antara 26 ± 280C. suhu. 1989). Ceriops sp. Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh iklim.

pembuangan limbah memberikan pengaruh atau tekanan terhadap habitat mangrove. Mangrove menggunakan oksigen terlarut sebagai faktor pengontrol bagi komposisi jenis dan distribusinya serta pertumbuhannya.7 ± 3. yang terendah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari. Tingkat oksigen terlarut di dalam dan di luar mangrove sekitar 4. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata. 2002). pasang surut dan arus. Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula eksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri. (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan penelitian tentang hal tersebut dan menujukan bahwa oksigen terlarut di luar hutan mangrove (4.4 mg/L.4 mg/L) lebih tinggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. dan tersisa seluas 2.4 mg/L). Aksornkoae et.24 juta hektar pada tahun 1987. atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia.25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3. Bersumber dari keinginan manusia untuk mengkonversi hutan mangrove menjadi lahan perumahan. ketika itu luas hutan mangrove di negara ini mencapai 4. Kalimantan dan Papua. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak. Pada areal yang tertutup sekitar 2. terutama akibat dikonversi menjadi sawah..50 juta hektar pada tahun 1993. tambak dan pemanfaatan pertanian . pencemaran. al. estimasi yang paling dapat diandalkan berasal dari tahun 1993. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar satu juta ha hutan mangrove lenyap antara tahun 1969 dan 1980.Oksigen terlarut adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam proses respirasi dan fotosistesis. Konsentrasi oksigen di hutan mangrove berubah membentuk suatu area dan zonasi bagi tanaman.2 juta ha. 2006). Penyebab dan Tingkat Kerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera. sedimentasi. kegiatan-kegiatan komersial. 1997 dalam Irwanto. Kerusakan mangrove bisa sebababkan oleh beberapa faktor seperti aktivitas manusia. Estimasi terhadap hutan mangrove di Indonesia dipenuhi ketidakpastian dan sudah kadaluwarsa. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4. Namun. Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besar sehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan hutan mangrove secara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman. Kegiatan lain yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove adalah pembukaan lahan-lahan tambak untuk budidaya ikan. Aktivitas manusia yang berupa kegiatan penebangan liar. yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun..8 mg/L. yang telah diperbarui dengan peta-peta yang disediakan oleh Asian Wetlands Bureau untuk World Conservation Monitoring Centre. atau bahkan 2. pembukaan lahan. Oksigen terlarut juga merupakan suatu bagian essensial yang mempengaruhi tejadinya proses dekomposisi. Estimasi ini didasarkan dari hasil survei yang dilakukan pada tahun 1985.8 juta ha.25 juta ha (Spalding et. penebangan liar dan sebagainya (Dahuri.1 ± 3. al. industri dan pertanian. gelombang. estimasi lainnya untuk pertengahan tahun 1980-an hanya sekitar 3. Kegiatan terakhir ini memberikan kontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri. Konsentrasi oksigen di hutan mangrove berubah-ubah selama 24 jam.9 sampai dengan 2. 2004). Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006) . 2002). 2002).

Perubahan salinitas dapat diakibatkan oleh siklus hidrologi. 1993 dalam Irwanto. perkebunan dan permukiman terutama terjadi di wilayah yang berpenduduk padat dan dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. mengrove tersebut sangat peka terhadap pengendapan dan sedimentasi. Sedimentasi akan terjadi lebih berat apabila dalam penggunaan hutan di dalam Derah Aliran Sungai (DAS) yang bersangkutan kurang memperhatikan aspek konservasi tanah (Simbolon. Produksi kayu serpih dan pulp dari hutan mangrove juga semakin meningkat. kayu bakar dan lainnya.1. Sebab-sebab penurunan luas hutan mangrove lainnya adalah pengembangan tambak.000 ha hanya dalam waktu tiga tahun. dan bahkan ada pabrik besar yang dibangun di Teluk Bintuni. . Sedimentasi mengakibatkan permukaan tanah menjadi lebih tinggi dan membawa perubahan terhadap berkurangnya pengaruh pasang surut air laut serta menurunnya kadar garam air tanah. Inventarisasi Hutan Nasional pada tahun 1996 menghasilkan estimasi luas hutan mangrove adalah 3. banyak tempat pengolahan kayu serpih yang dibangun di Sumatera dan Kalimantan. 1999).5 juta ha. Hal ini dikarenakan terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Kawasan mangrove ditersebut dulunya merupakan wilayah mangrove yang terluas di dunia dan paling perawan. tinggi rata-rata permukaan air. Irian Jaya. pencucian serta tumpahan minyak. Mereka masih beranggapan bahwa hutan mangrove adalah milik bersama dan dapat dimanfaatkan kapan saja dan oleh siapa saja (Simbolon. 1990). kegiatan penebangan hutan dan eksploitasi hutan mangrove untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Konversi besar-besaran menjadi tambak khususnya terjadi di Jawa Timur. Keadaan ini mengakibatkan penurunan kadar oksigen dengan cepat untuk kebutuhan respirasi dan dapat menyebabkan kematian mangrove. 3. Akibat lebih lanjut adalah berkembangnya permudaan jenis lain menggantikn permudaan jenis mangrove.1 3. Namun penilaian terhadap tingkat kehilangan hutan mangrove secara akurat hampir tidak mungkin dilakukan. Di beberapa tempat pada muara sungai. Salinitas yang lebih dari 90 ppt dapat mengakibatkan kematian biota dalam jumlah yang besar.1 MATERI Materi DAN METODE Penelitian Alat Alat-alat yang digunakan untuk pengukuran tingkat kerapatan mangrove alat yang digunakan adalah transek ukuran 10 x 10 meter dan alat ukur meteran dengan panjang 100 meter dan tingkat ketelitian 1 cm. 2002). aliran air tawar dan pencucian terus menerus seperti kegiatan pengerukan dan penyekatan (Dahuri. yang berarti kehilangan sebanyak 750. sehingga dengan seenaknya membuka lahan di areal hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Perubahan faktor-faktor tersebut yang mengontrol salinitas subtrat dapat meyebabkan perubahan komposisi spesies. juga terjadi gangguan terhap ekosistem mangrove oleh endapan atau sedimentasi yang terbawa oleh sungai. Banyaknya lumpur yang terbawa oleh sungai akibat terjadinya kerusakan hutan di hulu sungai mengakibatkan semakin banyaknya sedimentasi yang terjadi di muara sungai. yang pasti perusakan terhadap tipe hutan ini masih terus berlangsung (Irwanto. Perombakan hutan mangrove melalui kegiatan tebang habis untuk tujuan seperti usaha perikanan atau pertambakan. 2006). Pada umumnya ekositem mangrove sangat tahan terhadap gangguan dan tekanan lingkungan.lainnya (Bappenas. 2006). Demikian pula penebangan liar untuk tujuan memperoleh kayu sebagai bahan bangunan. Namun demikian. III. Sulawesi dan Sumatera.

suhu udara.025 N) untuk mengukur kandungan DO dan BOD. arus.2. larutan MnSO4.2.2 menulis data pengamatan.2. Luas petak ukur untuk pengukuran tingkat kerapatan dilakukan pada pohon (trees) dengan ukuran petak 10 x 10 m (dengan diameter > 4 cm). pedoman wawancara dan beberapa daftar pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui konsisi fisik lingkungan. Lokasi I ditempatkan di Kecamatan Gunung Anyar. Petak ukur yang dibuat untuk menghitung kerapatan. larutan H2SO4 pekat.2. salinitas. larutan KOH-KI. komputer dan printer beserta perangkat lunak berupa software Arc View 3. kompas untuk penunjuk arah.2 untuk mendeliniasi lokasi tingkat kerapatan mangrove sebagai variabel dari tingkat kerusakan mangrove.1 Cara aktivitas Prosedur Pengukuran Kerapatan manusia).1 3. bola apung untuk pengukuran arus serta beberapa alat lain seperti botol winkler 250 ml.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lokasi penelitian.2 3. pasang surut.2 Variabel Variabel Variabel dan dan dan Parameter Variabel kerusakan terdiri atas beberapa parameter yaitu luas kerusakan.Pengukuran kualitas lingkungan dan kualitas air membutuhkan alat seperti handrefraktometer untuk mengukur salinitas air laut dengan ketelitian 1 Å. tiang statif. BOD.1 Metode dan Metode Teknik Pengambilan Penelitian Sampel Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode survey. Dalam penentuan dan penggambaran lokasi penelitian digunakan alat General Positioning System (GPS) merk Garmin V untuk menentukan lokasi sampling. 10 . lokasi II ditempatkan di Kecamatan Rungkut. fisiografi pantai. citra satelit atau peta potensi pesisir lokasi penelitian. tingkat ekonomi dan 3. kertas pH universal (0-14) untuk mengukur derajat keasaman. frekuensi dan dominansi vegetasi dapat dilihat pada gambar berikut:   1 minggu. suhu air. tiang pancang untuk pengukuran pasang surut dan gelombang. labu erlenmeyer 250 ml. larutan Na2S2O3 (0. nitrat dan fosfat) dan parameter faktor anthropogenik (tingkat pendidikan. gelas ukur iwaki 5. Penyebab Kerusakan Variabel penyebab kerusakan terdiri atas parameter faktor lingkungan (tekstur tanah. pipet tetes.05 ml.2 3. 100 dan 500 ml untuk mengukur DO dan BOD. Penelitian Vegetasi Pengukuran kerapatan vegetasi di lakukan dengan menggunakan metode jalur dan metode garis berpetak sehingga di dalam jalur-jalur tersebut dibuat petak-petak ukur (Kusmana. sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kerusakan mangrove akibat aktivitas manusia digunakan daftar pertanyaan (quesioner).1. buret pyrex 50 ml dengan ketelitian 0. alat tulis berupa kertas dan ballpoint untuk 3. lokasi III ditempatkan di Kecamatan Sukolilo serta lokasi IV ditempatkan di Kecamatan Mulyorejo. gelombang. kekeruhan. 3. termometer untuk mengukur suhu air dan udara dengan ketelitian 10 C. 1997). pH Tanah.2. Parameter Parameter Penelitian Kerusakan .2.3 3. Setiap lokasi dilakukan pengambilan sebanyak 3 titik dengan 5 kali ulangan dan dilanjutkan dengan pengamatan di laboratorium selama 3. pH air. Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan Cluster Random Sampling dengan membagi penelitian menjadi 4 lokasi. dan tingkat kerapatan.2.2. O2 terlarut.

<1500 Rusak Jarang < 50 <1000 3. Kriteria baku kerusakan mangrove (Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. diidentifikasi setiap jenis tumbuhan mangrove yang ada. potong bagian ranting. Tabel 1. oksigen terlarut dan sebagainya.2. Desain metode garis berpetak (Kusmana. 201 Tahun 2004.3. 3. Lebih lanjut dalam penelitian ini yang akan di ukur beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidup Tabel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 pH Nitrat Suhu O2 Kekeruhan NTU BOD ppm Gelombang 0C terlarut ppm Kolorimetri/Kertas Brussin Salinitas 2. Apabila belum diketahui nama jenis tumbuhan yang ditemukan. Faktor Tekstur Fisiografi ppm Pasang dan Pemuaian/Termometer ppm Nephelometri/Turbidimeter pH air Winkler Lamote model Winkler standar Spektofotometri mangrove Parameter lingkungan Lingkungan tanah pantai Handrefraktometer Surut Arus raksa m APHA APHA 2005 APHA APHA Sastrawidjaja APHA APHA antara dan Satuan kualitas % lain air Metode/alat yang : diukur Sumber Gravimetric Visual (2005) Visual Visual (2005) (2005) (2005) (2005) (2005) (1991) 12 Fosfat ppm Stannous Chloride Spektofotometri Sastrawidjaja (1991) . 201 Faktor lingkungan yang berperan dalam ekosistem mangrove diantaranya terdiri atas beberapa parameter yaitu suhu. salinitas.2 Proses Pendugaan Faktor Lingkungan Perairan dan Darat 50 <75 Sangat Padat 75 Tingkat Kerapatan Penutupan Pohon Menteri Lingkungan Hidup No.2. daun. hitung jumlah individu setiap jenis. 1997) Pada setiap petak contoh yang telah ditentukan.1 Cara Pengukuran Tingkat Kerusakan Mangrove Untuk mengukur tingkat kerusakan mangrove dilakukan dengan menghitung tingkat kerapatan pohon tiap hektar.2.Gambar 2. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan kriteria baku kerusakan mangrove dari Surat Keputusan Tahun 2004) Kriteria (%) (ind/ha) Baik 1500 Sedang 1000 . buah dan bunga selanjutnya dilakukan identifikasi berdasarkan pustaka.

Pelaksanaan pengamatan dan pengukuran secara eksitu dilakukan di Laboratorium Dinas Kesehatan Purbalingga. II. Penggunaan mangrove untuk kayu bakar m3/bulan Mengecek jumlah kebutuhan b.2.2.2. Untuk mengetahui tingkat ekonomi masyarakat akan dilakukan wawancara 3. Seberapa Beberapa besar pengetahuan pertanyaan mansyarakat tersebut tentang mangrove antara dan fungsi lain: mangrove? 2. Pengambilan dan pengukuran sampel ini dilakukan dengan 2 metode. Hal ini karena tingkat ekonomi dapat menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya penebangan hutan mangrove sehingga menyebabkan kerusakan.2.2.5 Proses Pendugaan atau Tingkat Ekonomi kerusakan? desanya? Masyarakat 4. yaitu insitu (lapangan) : suhu. pH. Apakah masyarakat mengetahui luas hutan mangrove yang ada di wilayah atau desanya? 3. pasang surut.2. tekstur. Pembukaan hutan mangrove untuk lahan perkebunan m3/bulan Mengecek luas konversi hutan mangrove yang digunakan untuk lahan perkebunan e. 1.6 kepada penduduk di sekiitar lokasi penelitian Faktor penggunaan data Sosial sekunder dari setempat. gelombang dan eksitu untuk BOD. Pembukaan hutan mangrove untuk pelabuhan m3/bulan Mengecek luas konversi hutan mangrove . Pendugaan faktor sosial masyarakat Desa/ Lokasi masyarakat Aktivitas terhadap Maysarakat kayu bakar Volume dari Keterangan mangrove I. Proses Pendugaan Masyarakat pemerintahan Penyebab kerusakan mangrove lainya adalah adanya aktivitas manusia seperti penebangan mangrove dan pembuangan sampah ke wilayah ekosistem mangrove. arus. salinitas. O2 terlarut serta kekeruhan.4 Proses Pendugaan Pengetahuan Masyarakat Tentang Mangrove Untuk mengetehui tingkat pengetahuan masyarakat tentang mangrove akan dilakukan dengan menggunakan tingkatan pendidikan (SD. nitrat. IV a. 3. SMP. Sarjana) dan beberapa pertanyaan tentang seberapa besar pengetahuan masyarakat tentang peran dan fungsi mangrove bagi masyarakat sekitar.2. Apakah masyarakat mengetahui bahwa mangrove yang ada di wilayah atau desanya telah mengalami wilayah 3.2. tanah. Penggunaan Mangrove untuk bahan bangunan m3/bulan Mengecek kebutuhan masyarakat akan kayu mangrove yang digunakan untuk bahan bangunan c. Pembukaan hutan mangrove untuk lahan pertanian m3/bulan Mengecek luas konversi hutan mangrove yang digunakan untuk lahan pertanian d.3. Apakah masyarakat mengetahui faktor yang menyebabkan kerusakan mangrove yang ada di Tingkat ekonomi masyarakat pesisir merupakan bagian penting dalam penelitian ini. Di bawah ini beberapa aktivitas masyarakat yang diduga menyebabkan tingkat kerusakan mangrove. Laboratorium Fakultas Pertanian dan Laboratorium Fakultas Biologi UNSOED. SMA.3 Pengukuran dan Pengambilan Sampel Sampel air diambil dengan menggunakan botol winkler 250 ml dan botol meneral. III. Tabel 3. fosfat.

kemudian dilanjutkan dengan analisis vegetasi mangrove dengan menggunakan analisis kuantitatif (Bengen. Propinsi Jawa Timur. Adanya industri besar diarea dekat hutan mangrove yang berpotensi menyenbabkan pencemaran m3/bulan Mengecek proses pembuangan limbah industri 3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di kawasan hutan mangrove Pantai Timur Surabaya. . kg/bulan digunakan digunakan Pembuangan sampah ke kegiatan Mengecek untuk sungai untuk lahan atau ke lahan jalan wilayah sampah ekosistem rumah pelabuhan raya mangrove tangga f.1416) adalah suatu konstanta dan DBH adalah diameter pohon jenis i. Frekuensi Jenis (Fi) adalah peluang ditemukannya jenis i dalam petak contoh /plot yang diamati : dimana. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli 2008. Kerapatan Relatif Jenis (RDi) adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis i (ni) dan jumlah total tegakan seluruh jenis (?n) : b. Frekuensi Relatif Jenis (RFi) adalah perbandingan antara frekuensi jenis i (Fi) dan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis (?F) d. Penutupan Relatif Jenis (RCi) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (?C) : Analisis Analisis Vegetasi Data Mangrove : Analisis tingkat kerusakan mangrove dilakukan dengan menghitung tingkat kerapatan pohon (Bengen. dan ?p adalah jumlah total petak contoh/plot yang diamati. Penutupan Jenis (Ci) adalah luas penutupan jenis i dalam suatu unit area : dimana. ni adalah jumlah total tegakan dari jenis i dan A adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/plot).4. Pembukaan hutan mangrove untuk jalan raya m3/bulan Mengecek luas konversi hutan mangrove pembuangan h.yang yang g. BA = ? DBH2/4 (dalam cm2). 3. A adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/plot). DBH = CBH/? (dalam cm). e. Kemudian hasil perhitungan tingkat kerapatan pohon dibandingkan dengan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. pi adalah jumlah petak contoh dimana ditemukan jenis i.4 3.1. 2001) yaitu sebagai berikut : a. Sedangkan untuk analisis data dan pengamatan di lakukan di Laboratorium Dinas Kesehatan Purbalingga. 201 Tahun 2004 untuk menentukan tingkat kerusakan mangrove (Tabel 1). 2001) Kerapatan jenis (Di) adalah jumlah tegakan jenis i dalam suatu unit area : dimana Di adalah kerapatan jenis i. Fi adalah frekuensi jenis i. CBH adalah lingkaran pohon setinggi dada. c. ? (3.

Jika.21 0. yang kriteria pemanfaatannya dijelaskan 1.20 0. nilai r =1 atau r = -1. 1. Apabila nilai r (determinasi) mendekati nilai positif satu (+1) atau negatif satu (-1). Nilai Penting ini memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam komunitas mangrove. 2. 3.71 0. berupa garis lurus. Apabila nilai r (determinasi) mendekati 0 (nol). artinya telah terjadi hubungan yang linier positif. 2008) berikut: Batas-Batas sebagai (Sujarweni. menunjukkan IVi = Nilai RDi Penting + Jenis RFi (IVi) + : RCi Nilai Penting suatu jenis berkisar antara 0 dan 300. sedangkan untuk r yang makin mengarah ke angka 0 (nol) maka garis makin tidak lurus. maka nilai r dari korelasinya adalah (Walpole. = koefisien : korelasi Nilai koefisien korelasi berkisar antara ±1 sampai +1. Analisis Korelasi Faktor Penyebab Kerusakan Mangrove Analisis korelasi dilakukan untuk mengukur variabel X (penyebab kerusakan mangrove) terhadap variabel respon Y (tingkat kerapatan mangrove) menggunakan koefisien korelasi (r) yang dapat diinterpretasikan bahwa 100% R-square variasi-variasi variabel Y disebabkan karena adanya hubungan dengan variabel X secara linear. Jika. yaitu makin besar nilai variabel X makin besar pula nilai variabel Y atau makin kecil nilai variabel X makin kecil pula nilai variabel Y.91 ± ± 1 nilai ± ± ± 0.Jumlah nilai kerapatan relatif jenis (RDi). nilai r = 0.2.4. 1995) : Keterangan r n = jumlah pasangan Untuk mengetahui hubungan atau korelasi antara nilai-nilai X dan Y adalah sebagai berikut (Walpole. yaitu makin besar nilai variabel X makin kecil nilai variabel Y atau makin kecil nilai variabel X maka makin besar pula nilai variabel Y . frekuensi relatif jenis (RFi) dan penutupan relatif jenis (RCi).40 0.00 0. maka dapat dikatakan telah terjadi hubungan linier sempurna. Jika.3.90 0. 1995) antara tidak X dan Y kuat dan terdapat ada korelasi yang tinggi antara sama kedua : variabel tersebut. Jika. 4.4. hubungan linier antara X dan Y sangat lemah atau Nilai r yang diperoleh akan menentukan sifat korelasi antara kerapatan mangrove (i) terhadap masing-masing faktor penyebab kerusakannya. nilai r < 0.41 0.70 = = = = = korelasi korelasi = korelasi korelasi korelasi korelasi memiliki memiliki diinterpretasikan memiliki keeratan memiliki memiliki keeratan keeratan sebagai sangat keeratan keeratan sangat kuat berikut: lemah lemah kuat kuat sekali sempurna korelasi 3. Batas-batas ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Mangrove 0. yaitu Apabila nilai rij >> maka terdapat korelasi antara kerapatan mangrove Koefisien dengan faktor Korelasi penyebab kerusakan mangrove. sekali. nilai r > 0. hubungan linier 2. Faktor Antrhopogenik dan Tingkat Kerapatan . artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X dan variabel Y. Analisis Perbandingan Faktor Lingkungan. artinya telah terjadi hubungan yang linier negatif.99 koefisien 0. 3.

5. b.Analisis yang digunakan untuk membandingkan faktor lingkungan antara kecamatan yang satu dengan yang lain digunakan uji t (Paired-Sample t test).4. b. t t dilakukan hitung hitung < dengan > t t tabel melihat tabel maka nilai t H0 hitung H0 diterima dan t tabel. ? kuadrat R2 Adapun ~ Apabila ~ 0 % maka model makin tidak terandalkan 3. yaitu ada apabila : maka ditolak (tidak (ada perbedaan) perbedaan) 3.4. Fungsi Laju Kerusakan Pendugaan model tingkat kerusakan dan faktor penyebab kerusakan dilakukan dengan menggunakan software DataFit dengan memperhatikan model hubungan antara nilai tingkat kerapatan dan nilai hasil pengukuran faktor penyebab. Adapun contoh model persamaan yang dihasilkan dari proses DataFit adalah Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Log Y = Y = b0 + b1 x1 + b2 x12 Keterangan Y X Adapun a. Analisis Spasial kriterium 100 keterandalan % model maka berdasarkan ukuran R2 adalah makin sebagai model total Sifat model = = yang Kesesuaian keterandalan Koefisien (JKT). Hal ini juga dilakukan untuk membandingkan faktor anthropogenik dan tingkat kerapatan antara satu kecamatan dengan kecamatan lain. Perbadingan a. dengan Tingkat Faktor terpilih didasarkan model determinasi rumus sebagai berikut kerapatan penyebab beberapa terhadap (data kriteria : mangrove kerusakan yaitu : fenomena reability) (R2) : = berikut: R2 terandalkan = = = = b0 ex1 = = = b0 + a b1(log x1) = = = b0 b0 b0 Log Y = + + b0 b1 a + = b0 b0 + + b0 + sebagai b0 b1 b1 + b1 b1(log b1log b1 log x1 x1 berikut + + + b1 x12 x1) b2 b2 : b1x1 x2 x22 x12 x2 x2 x1 x1 x1b0 xb xbx2 x2 Koefisien determinasi adalah perbandingan antara jumlah kuadrat regresi (JKR) dengan jumlah Analisis spasial dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran tentang persebaran .4.

Arc View memiliki kemampuan dalam pengolahan atau editing arc. tingktat kerusakan dan pola penyebab kerusakan ‡ Menghubungkan informasi spasial dengan atribut-atributnya yang terdapat (disimpan) dalam basisdata ‡ ‡ Melakukan ‡ Meng-customize aplikasi dengan menggunakan bahasa skrip atau bahasa pemrograman sederhana. atribut.html). fungsi-fungsi Membuat dasar SIG seperti peta analisis sederhana spasial. menerima atau konversi dari data digital lain seperti CAD atau dihubungkan dengan data image lain seperti format JPG. Hal ini dilakukan dengan proses pemetaan dengan menggunakan software ArcView 3. . Analisis ini diharapkan akan menghasilkan peta dasar vegetasi mangrove.com/yaslinus/indeks. (basisdata) (RBI) yang diperoleh dari Bakosurtanal Indonesia. Software ini memiliki berbagai keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan pengolah data spasial.geocities. mengexplore.mangrove yang ada di sepanjang Pantai timur Surabaya. Pemetaan dilakukan dengan mendigitasi Peta Rupa Bumi Indonesia mangrove.3. Secara umum kemampuan ArcView dapat dilihat melalui uraian berikut : ‡ Pertukaran data. 2005). menganalisis data secara geografis. menjawab query (baik basisdata spasial maupun non-spasial). dan sebagainya. TIFF atau image gerak (Budiyanto. ‡ ‡ Melalukan Menampilkan analisis informasi statistik dan operasi-operasi spasial maupun matematis. tematik. ArcView memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan visualisasi. membaca dan menuliskan data dari dan ke dalam format perangkat lunak SIG lainnya. ‡ Melakukan fungsi-fungsi SIG khusus lainnya (dengan menggunakan extension yang ditujukan untuk mendukung penggunaan perangkat lunak SIG ArcView) (www. atribut. ArcView merupakan salah satu perangkat lunak (software) pgoleh data spasial.