P. 1
SKN final

SKN final

|Views: 25|Likes:
Published by dendi_pratama

More info:

Published by: dendi_pratama on Nov 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2011

pdf

text

original

Sections

  • PENDAHULUAN
  • A. LATAR BELAKANG
  • B. PENGERTIAN SKN
  • C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN
  • D. LANDASAN SKN
  • B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS
  • ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL
  • A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN
  • B. DASAR SKN
  • A. TUJUAN SKN
  • B. KEDUDUKAN SKN
  • C. SUBSISTEM SKN
  • A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN
  • B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN
  • A. PROSES PENYELENGGARAAN SKN
  • B. TATA PENYELENGGARAAN SKN
  • C. PENYELENGGARA SKN
  • D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN
  • E. KERJASAMA INTERNASIONAL
  • DAFTAR SINGKATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F.. D..... SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E..E.. TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C... VI......... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT .......................... KONTRIBUTOR 96 iii .... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……..... B...... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII.... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.... PENYELENGGARA SKN ……………………... PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN …………………………………….

UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. kemauan.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. . Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. tersebut.

cepat berubah dan. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. anak. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. desentralisasi. sering tidak menentu. dan keluarga miskin. antara lain ibu. . Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi.kemandirian. manusia usia lanjut (manula). Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. adil dan merata. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

JP(K) . Sp. Siti Fadilah Supari. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini.dr. Dr. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. Jakarta.

perdamaian abadi dan keadilan sosial. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. seperti: pengembangan Desa Siaga. mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 .BAB I PENDAHULUAN A. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. kemauan. Jaminan Kesehatan Masyarakat. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting.

dasar. Dalam mengantisipasi ini. B. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. kemauan. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. perlu mengacu terutama pada arah. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan.

memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. 3 . melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. 3) Adil dan merata. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. distribusi kewenangan. baik oleh masyarakat. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. pendapatan keluarga.setinggi-tingginya dapat terwujud. keamanan. kesadaran masyarakat. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. tingkat pendidikan. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. C. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. swasta. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. sumber daya. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

termasuk penguatan sistem rujukan. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. khususnya: Pasal 28 A. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. bertempat tinggal. dan 4) Kepemimpinan. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. yaitu Pancasila. Pasal 28 H ayat (1). setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. D. Landasan Idiil. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Landasan Konstitusional. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. 2.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. yaitu UUD 1945. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata.

setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. dan berkembang. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. Pasal 28 C ayat (1).kesehatan dan ayat (3). Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. tumbuh. Pasal 28 B ayat (2). Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. 5 . 3. seni dan budaya. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. serta Pasal 34 ayat (2). Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

2007). PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru.5 tahun pada tahun 2007. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). 2007). harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. 1.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1.4% pada tahun 2007 (Riskesdas. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68.7% dan akses rumah tangga 6 .5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18.

sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15. tertinggal. 7 . jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13.8% pada tahun 2007.65 per 100. 2007).1% pada tahun 1996 menjadi 33. 2007). kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. 2007). Secara keseluruhan. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.46 per 100.4% pada tahun 2005 menjadi 41. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. perbatasan.3% (Riskesdas. Disamping itu. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi.3% (2007).1% (Riskesdas. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. Namun pada daerah terpencil. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.1% dan terendah 67%. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan.7% pada tahun 2006.9% dan cakupan terendah 17.

terutama: TB Paru. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Pengeluaran pemerintah untuk 8 . Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. 2. Demikian pula dengan anggaran kesehatan. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. HIV/AIDS. seperti Filariasis.09 % dari PDB. Framboesia cenderung meningkat kembali.5%. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. 2007).Akses terhadap air bersih sebesar 57. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Malaria. DBD dan Diare. Kusta.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1.8%. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun.7% rumah tangga dan sebesar 63.6–2. Pada tahun 2007.75 Triliun pada tahun 2007.

maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan.kesehatan terus meningkat. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. yaitu 19 per 100. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil.000 pada tahun 2007. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. seperti Filipina 58 per 100. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. Selain itu. 3. 9 .2%. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.4 juta jiwa atau 34.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. baik jumlah.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. jenis. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai.

Namun tidak diikuti 10 . sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Di Indonesia terdapat 9. sistem penghargaan. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. 4. Pengembangan karier. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Alat Kesehatan. alat kesehatan. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. Sediaan Farmasi. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. namun masih banyak kendala yang dihadapi. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku.

jenis. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. 5. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. 11 . baik jumlah. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. rumah sakit swasta 49%. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. efisien. maupun efektifitasnya.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. dan apotek kurang dari 47%. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%.

dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. regional. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49.3% pada tahun 2007. namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009.111 Desa Siaga dimana terdapat 47. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global.6. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. Di samping itu. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. lokasinya jauh (26%). yakni dengan target 60%. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). 12 . dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). B. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. Jumlah UKBM. termasuk pembangunan kesehatannya. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat.6%).

informasi. 13 . 1. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. 2. seperti: MDGs. teknologi. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. politik. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. budaya. dan lingkungan. jejaring riset Asia Pasifik. dan lokal. demokratisasi. yang mencakup ekonomi. sosial. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. regional. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. nasional. ASEAN Charter. serta komitmen Nasional. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. adaptasi perubahan iklim (climate change). Komitmen Internasional. seperti desentralisasi.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia.

Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. Di bidang lingkungan. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. 14 . sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Secara geografis.

DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kemauan. 15 . Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. Dalam Undang-undang tersebut. memegang teguh etika profesi. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. A. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai.

Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. agama. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. dan status sosial ekonominya. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. 4. tanpa memandang suku. tumbuh dan kembang. masyarakat. keluarga. berkewajiban. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. golongan. dan lingkungannya. 3. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan.2. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

manusia usia lanjut.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. d) Integritas yang Tinggi. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. jenis kelamin. golongan. beserta lingkungannya. bayi. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. c) Kerjasama Tim. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. 17 . yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. agama. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. dan status sosial ekonomi. antara lain: ibu. anak. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. B. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. dan masyarakat miskin. b) Bertindak Cepat dan Tepat.

profesional. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. diperlukan komitmen yang tinggi. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. maka sistem atau seluruh sektor terkait. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). berkepastian hukum. dan Sinergisme (KISS). seperti pembangunan prasarana. Dengan tatanan ini. 18 . antar subsistem SKN. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. Integrasi. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. terbuka (transparan).2. dukungan. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. 3. Sinkronisasi. baik antar pelaku. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. rasional.

Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. 19 . yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN.4. 5. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. 6. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender.

walaupun dalam prakteknya. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan.7. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. 20 . yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani.

yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Dalam kaitan ini. maupun pemerintah secara sinergis. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. abadi dan keadilan sosial. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. baik masyarakat. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. swasta. KEDUDUKAN SKN 1. B. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . berhasil guna dan berdaya guna. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. 2. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. perdamaian.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan.

sebagai sistem kemasyarakatan yang ada.kesehatan. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sistem Hankamnas. 4. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Sistem Perekonomian Nasional. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. dan Sistem nasional lainnya. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. 3. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. Di lain pihak. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 22 .

Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. dan 3) Sinergi yang dinamis. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. terbuka. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. pengobatan. dan pemulihan. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. pencegahan. 23 . Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. 2) Kontingensi.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. maka subsistem SKN meliputi: 1. C.

pembiayaan kesehatan yang adekuat. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. Pemerintah Daerah. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. stabil. dan masyarakat itu sendiri. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. jenis dan kualitasnya. organisasi masyarakat. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. 3.2. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. Oleh karena itu. yakni: Pemerintah. Oleh karena itu. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. terintegrasi. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). swasta. serta terdistribusi secara adil dan merata. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah.

hukum kesehatan. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. 3) 25 . dan keterjangkauan obat. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. termasuk peningkatan kesejahteraannya. 2) Manajemen sistem informasi. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. integrasi. validasi. analisa. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. dan diseminasi data dan informasi. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. 5. 4. Subsistem Sediaan Farmasi. alat kesehatan. ketersediaan. sinkronisasi. dan informasi kesehatan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. penggunaan obat yang rasional. diperlukan manajemen kesehatan. pemerataan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. administrasi kesehatan. efisien. terutama obat esensial. Alat Kesehatan.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. dan makanan yang beredar. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan.

melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. SDM Kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. ketersediaan sediaan 26 . Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. D. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. 6. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif.

serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. Subsistem sediaan farmasi. terutama obat esensial. alat kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan. dan keterjangkauan obat. khasiat. alat kesehatan dan makanan. alat kesehatan. dan mutu semua produk sediaan farmasi. pemerataan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. 4. serta pemberdayaan masyarakat. subsistem sediaan farmasi. dan makanan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. teralokasi secara adil. menjamin ketersediaan. manajemen dan informasi kesehatan. 27 . terdistribusi secara adil. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. alat kesehatan. 2. dan makanan yang beredar. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. manfaat. 3.farmasi. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan. terjangkau. subsistem sediaan farmasi. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi.

dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. subsistem sediaan farmasi. serta penggunaan obat yang rasional. subsistem sumber daya manusia kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. subsistem sumber daya manusia kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 6. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. alat kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. dan makanan. manajemen dan informasi kesehatan. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. subsistem sediaan farmasi. informasi kesehatan. kelompok. 28 . alat kesehatan. 5. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. alat kesehatan. subsistem pembiayaan kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. pembiayaan kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. sumber daya kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. administrasi kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu.

Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. nasional. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. yang meliputi: ideologi. sosial budaya. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan.dan makanan. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. politik. Dalam kaitan ini. Selain itu. maupun global. 29 . ekonomi. regional. dan pertahanan keamanan.

pencegahan. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. dan pemulihan. meliputi upaya peningkatan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. terjangkau. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. dan berkualitas. pengobatan.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. pengobatan. Unsur-unsur a. 30 . pencegahan. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. merata. 2. terpadu. dan pemulihan.

c. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. termasuk swasta. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. pencegahan. antara lain: ibu. sediaan farmasi dan alat kesehatan. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. 31 . lisensi. biaya. pengobatan. manusia usia lanjut. akreditasi. sertifikasi. baik peningkatan. dan masyarakat miskin.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. b. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. anak. bayi. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. sarana dan prasarana. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi.

efektif dan sesuai. pencegahan. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai.d. c. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. Prinsip a. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. pengobatan hingga pemulihan. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. Aman. 32 . b. Bermutu. dapat diterima masyarakat. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. sumber daya kesehatan. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. serta rujukan antar tingkatan upaya. 4.

melibatkan semua pihak yang kompeten. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. moral. mental. yaitu upaya kesehatan primer. dan 33 . 5. Terdapat tiga tingkatan upaya.d. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. g. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. e. f. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. budaya dan agama. dan nilai agama. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. Penyelenggaraan a. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. upaya kesehatan sekunder. termasuk intelegensia dan sosial.

terpadu. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat.upaya kesehatan tersier. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). dan pengetahuan tentang penyakit. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. 34 . teknologi. spesimen. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. dan operasional. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. dan paripurna melalui sistem rujukan.

Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . tempat kerja. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. Sstandar. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

yang aman. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. efektif. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. teknologi. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. sesuai. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan.

dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). seperti laboratorium kesehatan. 40 . maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). dan lain-lain. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK).

baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. dan rujukan operasional. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. sumber daya manusia kesehatan. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. teknologi. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Unit 41 . seperti pusat radioterapi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum.

Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. b. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Departemen Kesehatan.kerja terkait di tingkat Provinsi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. 42 . Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Organisasi Profesi. dan masyarakat.

43 . berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pemerintah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. Pemerintah Provinsi. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah Provinsi. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif.

seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. 44 . Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. swasta. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. dan dokumentasi Iptek kesehatan. jaringan informasi. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan.c. dan pemerintah.

Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. pengalokasian. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. teralokasi secara adil. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dari masyarakat. 3. 2. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan.B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. Unsur-unsur a. 45 .

dan pembelanjaan dana kesehatan. dan swasta. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. 4. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. sarana. regulasi. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. masyarakat. 46 . terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. meliputi: SDM pengelola. Prinsip a.b. pengalokasian. c. swasta. pengalokasian. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. standar. baik pusat maupun daerah.

maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. transparan. masyarakat. baik dari pemerintah. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. berhasil guna dan berdaya guna. akuntabel. c. dikelola secara adil. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. b. 47 . serta menjamin terpenuhinya ekuitas. berkelanjutan. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif.

5. swasta. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. dan sumber lainnya. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. pajak khusus. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. dana dari masyarakat. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. mengalokasikannya secara rasional.transparan. bersumber dari pemerintah. dan sumber lainnya. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. masyarakat. a. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. dan mengacu perundangan yang berlaku. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. dana APBN/APBD. serta berbagai sumber lainnya.

dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. serta yang tidak diminati swasta. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. sekunder. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. 49 . dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. daerah terpencil. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). b. pulau-pulau terluar dan terdepan. perbatasan. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.

akuntabel. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan.c. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. pendayagunaan. pengadaan. C. yang meliputi: upaya perencanaan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. 50 .

Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. 3.2. serta mempunyai etika. Unsur-unsur a. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. b. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. berakhlak luhur. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. dana. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. cara 51 .

memberikan dukungan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. jumlah. pengadaan. c. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Prinsip a. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. 4. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. pendayagunaan. kualifikasi. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . pendayagunaan.atau metode. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan.

nilai budaya. b. d. kompetensi. dan kemajemukan bangsa. bertaqwa. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. dan berdaya saing tinggi. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. mandiri. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. 53 . c. nilai keagamaan. profesional. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. beriman. bertanggung-jawab.

jumlah. Penyelenggaraan a. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . b. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional.5. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan.

pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. menentukan kompetensi umum. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. 55 . dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan.

seperti: daerah terpencil. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. terbuka. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya.c. serta daerah bencana dan rawan konflik. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah. daerah perbatasan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . pulau-pulau terluar dan terdepan. daerah tertinggal. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan.

berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. 57 . perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). modal. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia.

dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. uji kompetensi.d. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. registrasi. penggajian. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan.

alat kesehatan. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . ALAT KESEHATAN. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. DAN MAKANAN 1. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. bahan obat. khasiat/manfaat. D. dan kosmetika. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. 2. Sediaan farmasi adalah obat. dan makanan yang terjamin aman. mutu sediaan farmasi. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. alat kesehatan. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. alat kesehatan. dan makanan. obat tradisional. alat kesehatan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI.

baik di fasilitas produksi. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. dan khasiat yang tepat. Standar. dan fungsinya. b. Fasilitas sediaan farmasi. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. Prosedur. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. alat kesehatan. sekunder. dan Kriteria yang telah ditetapkan. alat kesehatan tersedia dalam jenis. 60 . Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. jumlah. dosis. alat kesehatan. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. 3. jumlah. Unsur-unsur a. dan tersier. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. bentuk. bentuk.

e. d. secara rasional. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. aman. khasiat/manfaat. alat kesehatan. dan kriteria yang ditetapkan. alat kesehatan dan makanan. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. alat kesehatan. prosedur. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan.c. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. 61 . standar. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi.

b. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. Bermanfaat. Prinsip a.4. dan pelaku pelayanan kesehatan. Tersedia. khasiat/manfaat. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. c. 62 . distributor. dan mutu sediaan farmasi. d. bertanggungjawab. pengawasan. dan makanan dari produsen. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. lengkap. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. Berkhasiat. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. Aman. alat kesehatan. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. manfaat. dan pengendalian secara profesional. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. alat kesehatan. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. dan makanan melalui pembinaan. Merata. transparan. independen. dan berbasis bukti ilmiah. khasiat.

Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. 5. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Pemerataan. serta daerah bencana. daerah tertinggal dan perbatasan.e. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Penyelenggaraan a. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. sistematis. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). 63 . Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. Upaya Ketersediaan.

pengambilan dan pengujian sampel. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. kerjasama internasional. independen. dan Mutu Sediaan Farmasi. dilakukan melalui penilaian keamanan. khasiat/manfaat.b. dan pengendalian impor. pengawasan. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan dan penyempurnaan norma. survailan dan vijilan setelah pemasaran. dan mutu sediaan farmasi. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. serta pemantauan label atau penandaan. ekspor. 64 . dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. standar. alat kesehatan. Pembinaan. Upaya Jaminan Keamanan. yaitu pemerintah. prosedur. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. iklan dan promosi. produksi dan distribusi sediaan farmasi. khasiat/manfaat. sistem manajemen mutu. alat kesehatan. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. dan transparan. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. Alat Kesehatan. pelaku usaha. alat kesehatan. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Khasiat/manfaat.

Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. kuratif. c. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. transparan. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. serta lingkungannya. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. alat kesehatan. dan rehabilitatif. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. masyarakat. Psikotropika. menyeluruh. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. dan makanan. mutu dan gizi. preventif.

d. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. sekunder. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . dan tersier. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. menjamin mutu. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan.

e. apoteker. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. 4) Komitmen semua 67 . Informasi dan Edukasi (KIE). serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. dan lain-lain. Informasi kepada masyarakat. serta kepastian proses perijinan. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. seperti penyakit diare. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional.

penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. administrasi kesehatan. E. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. alat kesehatan.pemangku kepentingan. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. para pelayan kesehatan dan konsumen. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. SUBSISTEM KESEHATAN 1. dan masyarakat. 68 . obat. pengaturan hukum kesehatan. bermutu tinggi. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. swasta/dunia usaha. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.

Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. dan akuntabel. b. berdaya guna. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. pelaksanaan. Unsur-unsur a. berbasis bukti dan operasional. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah.2. swasta. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. baik pemerintah. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. penerapan. 3. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. c. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. dana. 70 . meliputi: SDM. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. Prinsip a. keteladanan. 4. penyelenggaraan pembangunan d. b. standar. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik.memfasilitasi kesehatan. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. sarana prasarana. e.

kontingensi. d. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. transparansi. Prosedur. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. 5. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. administrasi. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Standar. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. dan transparansi sangat penting. dan informasi kesehatan. dan sinergi yang dinamis. program. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. efektifitas. hukum. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. Untuk itu. Perencanaan kebijakan. a. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional.c. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem.

dan pembiayaan yang mencukupi. responsif gender. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. didukung dengan SDM yang kompeten. c.berbagai sumber yang tersedia. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). berorientasi pada kepentingan masyarakat. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. berorientasi pada kepentingan masyarakat. serta 72 . terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. b. didukung SDM yang kompeten. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. pelaksanaan dan pengendalian. pelayanan advokasi hukum. memanfaatkan teknologi informasi.

F. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). peraturan. valid. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. transparan. sosialisasi. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. 73 . dilakukan melalui koordinasi. keadilan. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. pengolahan dan analisis data. pengembangan dan penelitian kesehatan. penerapan. integrasi. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. akurat. termasuk regulasi kesehatan internasional. kesetaraan. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini.pembinaan dan pengawasan. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. cepat. serta sesuai dengan kebutuhan. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. manajemen informasi kesehatan. d. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi.

2. motivator. kelompok (organisasi kemasyarakatan. b. tokoh agama. kelompok. maupun masyarakat secara terencana. Unsur-unsur a. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). masyarakat. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan swasta menjadi inisiator. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. politisi.baik perorangan. terpadu. figur masyarakat. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. 3. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. baik formal maupun non formal. kelompok masyarakat). organisasi profesi. 74 . mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. dan sebagainya).

dan kemampuan. permasalahan. kebutuhan. metode. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. swasta. d. serta potensi masyarakat (modal sosial). b. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. sarana dan prasarana. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. keluarga. 4. budaya. dan pemerintah yang meliputi: dana. oleh.c. tumbuh dan berkembang. pedoman. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. kemauan. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Prinsip a.

kesetaraan. Tumbuhnya rasa kepedulian. c. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. 5. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. solidaritas. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. Penyelenggaraan a. dan saling memperoleh manfaat. tenggang rasa. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . keluarga.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. masyarakat. serta kemudahan akses informasi. d. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. dan lingkungannya. empati.

Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. dan untuk masyarakat. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan.kesehatan. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. pencegahan. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. kelompok. 77 . pemantauan. dari. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. pelaksanaan. termasuk penggerakan masyarakat. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. penyembuhan. b. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. Pemberdayaan masyarakat. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan.

tempat umum. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). seperti: rumah tangga. menyiapkan regulasi. institusi pendidikan. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. seperti masyarakat di desa. Musholla Sehat. daerah pegunungan. tempat kerja. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. dan aliran sungai. kota. kemauan. seperti: Poskestren. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. 78 . memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. kesadaran.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. daerah pesisir. Desa Siaga.

dunia usaha. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . d. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. lembaga legislatif. organisasi kemasyarakatan. perguruan tinggi. c. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. seperti seluruh sektor terkait. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan.

dan kompetisi. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. pembiayaan yang memadai. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat.melalui berbagai cara. lomba. antara lain pemberian insentif. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. pendampingan. komunikator. 80 . e.

dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. subsistem pemberdayaan masyarakat. merata. A. sosial. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. dan makanan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. bermutu. pertahanan dan keamanan baik nasional. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. politik. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. 3. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. sebagai berikut: 1. proses. dan subsistem sediaan farmasi. luaran. ekonomi. regional maupun global.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. 4. subsistem pembiayaan kesehatan. dan berkeadilan. alat kesehatan. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . 2. budaya. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna.

dan kebijakan teknis operasional. antar subsistem SKN. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-undang Dasar 1945. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. berjenjang. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. dan sinergisme yang dinamis. sebagai berikut: 1. sinkronisasi. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. baik antar pelaku. transparan. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. 82 . dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. integrasi.pembangunan kesehatan. 2. Pancasila. kebijakan manajerial. pelaksanaan dan pengendalian. akuntabel. Wawasan Nusantara. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.

3. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . dinamika. 2. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. dan berkelanjutan. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. Penyelenggaraan SKN. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. Penyelenggaraan SKN. baik di pusat maupun daerah. yaitu: 1. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. sistematis. terpadu. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. 3. Penyelenggaraan SKN. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

3. standar. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. nasional. regional.kebijakan. provinsi. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. dan kabupaten/kota sampai 84 . dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan SKN. 2. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. 4. demokratisasi. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional.

Prosedur. Provinsi. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. inklusif. Standar. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . berorientasi pada konsensus. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. efisien. Pedoman tentang Norma. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. transparan. Selain tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. Kabupaten/Kota). Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. meliputi: partisipatif. swasta. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik.ke tingkat desa. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. B. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). Untuk menjaga kepentingan rakyat. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. efektif.

penggerak. serta masyarakat luas. sektor perdagangan. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. pembangunan fasilitas umum. 2. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. akademisi. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. media massa. praktisi. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. sektor keuangan. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. keluarga. antara lain: sektor pendidikan. Pemerintah. sektor perikanan dan kelautan. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. Untuk Pemerintah. Di sektor publik. lembaga swadaya masyarakat. C. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . sektor pertanian. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. organisasi profesi. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. Pemerintah daerah. sektor keamanan. pelaksana. pengawasan sosial. Individu. dan sektor terkait lainnya.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. memberikan insentif. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. pemenuhan 90 . Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. perguruan tinggi. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. pembelian hasil produksi. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. E.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.

Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. Sebaliknya. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. penyediaan insentif finansial dan non finansial. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. 91 . peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. seperti UNDP. UNFPA. dan ASEAN. UNICEF. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. koordinasi penyelenggaraan. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik.SDM dengan kompetensi yang sesuai.

serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. serta kondisi lingkungannya. termasuk swasta. serta masyarakat. badan legislatif dan yudikatif. interelasi. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. baik pemerintah secara lintas sektor. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam pelaksanaannya. 92 . Dengan demikian.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. Dengan demikian. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. termasuk swasta. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. pemerintah pusat dan daerah. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat.

Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. regional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. maupun internasional. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. tantangan. bersifat dinamis. regional. Oleh karenanya. Oleh karenanya. 93 . baik nasional. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. dan perubahan lingkungan strategis nasional. maupun global.

SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi.AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .WASANTARA.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL. bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . REGIONAL.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.PERILAKU MASYARAKAT BURUK .) (UU 23/1992 Kesehatan. UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah. dasar. UUD 1945. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . TANNAS.LINGKUNGAN BURUK . NASIONAL. Politik.KETIDAKPASTIAN HUKUM .

SDM Kesehatan.GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .

Standar.DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Informasi dan Edukasi Koordinasi. Integrasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 . Sinkronisasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Prosedur.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Dr. Drs. Dr. Iis Sin Sin.Kes. MPH. Dr. M. Arum Atmawikarta. Bambang Hartono.Kes. Ida Bagus Indra Gotama. Charles Suryadi. Dr. . Triono Soendoro. Dr. Mulya A Hasymi. Kustantinah. Mulyadi. SE. Dr. SKM . Drg.Rita Ratna Puri. MPH. M. . H. M. Lily S.Kes. MPH. MPH. Ph. Dr. MPH. Sp. Jemfy Naswil.B(K). Yaslis Ilyas. Titte Kabul Adimidjaja. Naydial Roesdal. Apt. Setiawan Soeparan. Dr. H. M. SE.SKM. SKM. MM.J. MPH. MKM. DR. MS. Drs.D. MPH. DR. Ruhayati . MPH. Ahmad Nizar S. Agus Iriawan. MPH. MSc. MPH . Dr. MPPM. Rustam S Pakkaya. Ratna Rosita Hendardji. Bambang Giatno Rahardjo. SKM. M. MSi. M.Kes . Abidinsyah Siregar. MPH. Hary Purwanto. MSc. Msi. SKM. Dr. Dr. SKM. Indariwati.Kes. MS. Drs. Lenny Evanita. MPH. MSc. SKM. Taufik. Delnalis. SKM. Kodrat Pramudho. Ruhayati . Dr. SKM. Drg. M. MSc. Dr. SH. Tjipto Rahardjo.PH. Dr. Dr. Toto Heryanto . SS . dr. Zulkarnain Kasim. Madiono. MPH. Soenarjo Soejoso. Dr.Sos. Donald Pardede. dr. Dr.Sos. dr. M. Dr.Meinarwati. Louventus P . Dr.Kes. Ina Hernawati. Bambang Widodo. Dr. Prof. Bambang Hartono. Gatot Soetomo. M.M. DHSM. MPH. Drg. DPH. M. Sri Muljati. Dr. Sulistyowati. Dr. DR. SKM. dr. M. Herma Trillas Purba. MSc. Drs. MSc. MPH. M. Ruslidjah. dr.Kes. Krishnajaya.Epid. DR. Suamsul Bahri. Suhardjono. MPH. Dr. Krissna Tirtawidjaja. Dr.JP. Dra. SKM. Dr. SKM. SH. DM Wismarini. SKM . drg. Dra. Imran Agus Nurali. Indah Yuningprapti. Bambang Widodo. Sri Suhariningsih. DHSM. Dr.JP(K). Bambang Hartono. SpF(K). Harmein Harun. Nasirah Bahaudin. Andi Saguni. MBA. Sp. dr. . Yoserizal. DR. Dr. Bambang Sardjono. Gemala Hatta. Abdurachman. MSi. MM. T. R. Drs.Kes. MM. MKKK . SKM.Kes. MM.H. Rahmat Kurniadi. Ir. Adang Bachtiar. Firman Lubis. DR. Suginarti . Siti Fadilah Supari. Dr. Drs.Kes. Dr. Dr.Tugijono. Apt. Fresly. MKM. SK Amdani. S. Marwan Nusri. Drg. Drs. SKM. SKM.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Apt. Prof. M.B. Liliana. Drg. Syamsul Bahri. Bambang Sardjono.A. MPH. MSc.MSc(PH). Sardikin Giriputro. Widyawati. Dr. DR. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. dr. Dra. Diah Puspitasari. Dr. Prof. SKM . Hasbullah Thabrani. SE. Dr.Kes. Apt. Jajang Subagya. Dr. DR. Nagiot CT. Hardini Kusumadewi. Riza Sultoni. Sutoto. Dr. Geral Mario S.Kes. Marius W. Untung Suseno Sutarjo.Kes. Achmad Soebagio T. M. Dr. Dr. Iswandi Mourbas.D. Dr. SKM. MPH.DR. Dr. Farid Wadjdi Husain. Abidinsyah Siregar. Rusmiati.Kom.W. Rachmi Untoro.B. Sp. Faiq Bahfen. Widjaja Lukito. Indriyono Tantoro. Sp. SKM. Pakkaya. Ph. Rustam S.Kes.Sukowidodo. Sp. DCN. M. M. Bambang W. MA. Dr. H. MPH. Mustikowati. MSc. Dr.DTM&H. Prof.Chalik Masulili. Msi. Ida Bagus Indra Gotama. MPH. Dr. Dr. M. S. Apt. Taufik Izwan. Yuniar S. I Nyoman Kandun. MPP. Sontang Tambunan.Syihab. SH. Sonny P.Kes. Faisal Barabas. DR. Apt. MBA.Kes. dr. Lovita T. Dr. Yusharmen D Comm. dr. MPH). Agus Purwadianto. Rita Djupuri. . Slamet Sudi Santoso. Dr. Emiliya Roza. Dr. Budhihardja. M.KO. S. Zulkarnain. R. dr. Peter Andreas. MSc. M. M. M. MPH. MSc. SKM.Sc. Wandaningsih. PhD. DR. Purwadi. Mary S Maryam. DR. Sri Hermiyanti. SKM. Trisa Wahjuni Putri. Royan. Hapsara Habib Rahmat. Dr. M. Dr.Kes. Richard Panjaitan.Epid . Sp. Drs. Agus Sunario. Dra.Appt. MPH. Sjafii Achmad. dr. MPH. Edi Suranto. Mulya A Hasjmy. Drg. Chirul R Nasution. Rahbudi Helmi.

Entos Z. Mahmud Fauzi. MPH. Drg. Drg. Didi Suswanto. S. Sofia Wirda. Irwan. Kiswanto. Dr. Dr. M. Bambang Agus Legowo. Dr.SKM. SKM. Lily Mulyasari. Nizwardi Azkha. Dr. MPH. SKM.P. MPH. Dr. Dr. Slamet Soesilo. Shermina Oruh. Lita R Siampar. Endro Buono.SKM. Tri Martiana. Yanti Nurbayanti. Drg. Tjipto Rahardjo. Dr. Dr. Zaura Rini Anggraini. Sardikin Giriputro. MPH. Isti Ratnaningsih. Dien Emawati. Noto Basuki. Melzan Dharmayuli. Ishak. Dr. Jeni Haju. Kuswati Ningsih. Tri Martiana. E. Mkes. A. Okti Palupi . Siti Aisyah. Andreas Meliala. M. dr. One Widyawati. MKes. Herry Tjahjono. Emmilya Rosa. Rosihan Adhani. Sultan Akbar Torutju . DESS. Sugito. Dr. M. Suharto. Abdul Gani Sitepu. Nina Kurnia.Kes . Adnan Mahmud. Drs. Vita. Ibnu Alferbaly. Hanni Rono S. MKes. Ade Erma. Suteja.Kes. Kartini Rustandi. Broto Wasisto. Drg. Lukman HL. T. SpOG. Syahrul A.Kes.Kes . SKM. Risma Julius. Dr.Sos . MM. Dr. Drg. DESS. M. Agussalim Mooduto. I Wayan A. Dedi Supratman. Syafri. Drs. MPPM. Jauhari. Dyah RB. MSCPH. Dr. Apt. Drs. Arbiansyah Alam. Tin tin F. Indro Darmadji. Kodrat Pramudho.Kes. Drs.Kes. H. Prof. Dr. Peter Andreas). Julistio TB Djais. Dr. Yanti. MPAM. Abd.Kes. Jimmy Lee. SKM. Oslinda Martony. MPH. Bachtiar Oesman. Sudono. M.Sp. Tingkat Daerah: Drg.Kes. M. Kamaruzaman. RE. HJ. Tukijan.Kes.Kes. SE. Benny Patiasina. Eny Susilowati. Drg. SKM. M. Dr. Muninjaya. M. Wirabrata. Dr. Eryta W. Dian Damairini. SKM. Kuwat S Hudoyo. Hasnawati. MKes. Adi Wirachjanto. Lovita T . Munzelly Husivevi. Julistio Djais. Eny Setiowati. Apt. Poedjo Praseptio. atau pertemuan lainnya . Rita Kusriastuti. MPH. Entos Rusna.GDE Agung Wiadnya P. SKM. M. Djayusmantoko. MKes. Sugeng LA. Emi Nurjasmi. SKM. SpA (K). Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Dr. Sri Rachmani. Dr. MKes.Kes. Drs. S.S. Prijono. SKM. Durachman. Agung Indarto. M. Ockti Palupi. Harif Fadhillah. rapat. Bairizal. MKes. Widyawati. M. Dr. Dr. Sutrisno. Munzir Purba. Dr. Ridwan Thaha. Dr. SH. Prof. Dr. Drs. Rais Lamangkona.Kes. Syafrudin Rasyid. SKM. DR. Bambang Sugeng W. Rudi Arif. Dr.Sos. Fauzi Ali Amin. Poedjo Prasetyo. Dr.Kes. Bondan Agus Susyanto. SKM. MSc. M. Jorizal Jannis. Guntur DW. Ni Wayan Mariani. Ridarson.A. Drg. Pius Weraman.Kes. Choirul Anwar. Jeane Pangemanan. Pande Putujaraga. Drs. Ratna Dewi Umar. Nurbaiti. Sasli Adis. Razak Thaha. Syahrani Djedi. SKM. M. Drg. H.Ahmad Said. Drg. Dr. Dr. Amin Yohannis. Ninin S . Andi M. MARS. Drg. SpACKI.M. SE. Dr.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->