DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

.. PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……. B..... SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F... D.. PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII............. KONTRIBUTOR 96 iii ...... TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C........... SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E.... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A......... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT . VI. PENYELENGGARA SKN …………………….E............

berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. tersebut. kemauan. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. .KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia.

manusia usia lanjut (manula). Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. dan keluarga miskin. desentralisasi. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. . antara lain ibu. cepat berubah dan. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. sering tidak menentu. adil dan merata.kemandirian. anak.

dr. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. Dr. Jakarta. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut.JP(K) . Sp.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. Siti Fadilah Supari.

seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. seperti: pengembangan Desa Siaga.BAB I PENDAHULUAN A. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. mencerdaskan kehidupan bangsa. Jaminan Kesehatan Masyarakat. perdamaian abadi dan keadilan sosial. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. kemauan. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 .

Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. perlu mengacu terutama pada arah. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kemauan. Dalam mengantisipasi ini. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. B. dasar. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan.

sumber daya. 3) Adil dan merata. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. swasta. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. baik oleh masyarakat. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. kesadaran masyarakat. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. distribusi kewenangan. pendapatan keluarga.setinggi-tingginya dapat terwujud. C. keamanan. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. 3 . serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. tingkat pendidikan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. Pasal 28 H ayat (1). setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. yaitu UUD 1945. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. Landasan Konstitusional. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. yaitu Pancasila. Landasan Idiil. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. dan 4) Kepemimpinan. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. bertempat tinggal. D. termasuk penguatan sistem rujukan. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . 2. khususnya: Pasal 28 A.

setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. dan berkembang. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. serta Pasal 34 ayat (2). Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. seni dan budaya. tumbuh. 5 . berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi.kesehatan dan ayat (3). Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasal 28 C ayat (1). Pasal 28 B ayat (2). setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. 3. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan.

harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.7% dan akses rumah tangga 6 . antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100. 1. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68.4% pada tahun 2007 (Riskesdas. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. 2007). Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70.5 tahun pada tahun 2007. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. 2007).

Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3.1% (Riskesdas. Secara keseluruhan. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. 2007). sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.8% pada tahun 2007.9% dan cakupan terendah 17. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. 7 . Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15. perbatasan.3% (Riskesdas.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. 2007). serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24.1% pada tahun 1996 menjadi 33. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. Namun pada daerah terpencil. Disamping itu. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34.7% pada tahun 2006.3% (2007).000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.46 per 100.4% pada tahun 2005 menjadi 41.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007. tertinggal. 2007).65 per 100.1% dan terendah 67%. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun.

Pengeluaran pemerintah untuk 8 . Framboesia cenderung meningkat kembali. Pada tahun 2007. terutama: TB Paru. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. DBD dan Diare.75 Triliun pada tahun 2007. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden). seperti Filariasis.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2.7% rumah tangga dan sebesar 63. 2. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases).09 % dari PDB. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.8%.Akses terhadap air bersih sebesar 57. 2007). HIV/AIDS. Kusta.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO.6–2. Malaria. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah.5%.

distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. baik jumlah. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. Selain itu. 3. jenis. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. yaitu 19 per 100.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN.2%. 9 . d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.kesehatan terus meningkat. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. seperti Filipina 58 per 100. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai.4 juta jiwa atau 34.000 pada tahun 2007.

dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. Di Indonesia terdapat 9.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Namun tidak diikuti 10 .pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. alat kesehatan. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. 4. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Sediaan Farmasi. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Pengembangan karier. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. sistem penghargaan. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Alat Kesehatan. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan.

Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. 11 . Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. baik jumlah. efisien. dan apotek kurang dari 47%. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). 5. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. jenis. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. rumah sakit swasta 49%. maupun efektifitasnya. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron.

B. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Jumlah UKBM. lokasinya jauh (26%). 12 . Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36.6%). namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009.6. regional.111 Desa Siaga dimana terdapat 47. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). yakni dengan target 60%. Di samping itu.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. termasuk pembangunan kesehatannya.3% pada tahun 2007.

13 . jejaring riset Asia Pasifik. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. budaya. dan lokal. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. sosial. adaptasi perubahan iklim (climate change). regional. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. teknologi. nasional. yang mencakup ekonomi. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. informasi. Komitmen Internasional.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. dan lingkungan. 2. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. politik. ASEAN Charter. 1. seperti desentralisasi. serta komitmen Nasional. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. seperti: MDGs. demokratisasi. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia.

diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. Di bidang lingkungan. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. Secara geografis. 14 .

memegang teguh etika profesi. 15 . kemauan. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Undang-undang tersebut. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. A.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai.

keluarga. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. masyarakat. golongan. dan lingkungannya. 4. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. tanpa memandang suku. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. berkewajiban. dan status sosial ekonominya.2. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. agama. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 3. tumbuh dan kembang. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup.

memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. golongan. bayi. B. b) Bertindak Cepat dan Tepat. 17 . agama. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. dan masyarakat miskin. anak. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. antara lain: ibu. jenis kelamin. beserta lingkungannya. dan status sosial ekonomi. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. c) Kerjasama Tim. manusia usia lanjut. d) Integritas yang Tinggi. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1.

termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. seperti pembangunan prasarana. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. dukungan. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. rasional. diperlukan komitmen yang tinggi. dan Sinergisme (KISS). agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. berkepastian hukum. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. 18 . profesional. Dengan tatanan ini. Sinkronisasi. antar subsistem SKN. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). terbuka (transparan). maka sistem atau seluruh sektor terkait. baik antar pelaku. 3. Integrasi. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional.2. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis.

diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement).4. 6. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. 5. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. 19 .

20 . Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN.7. walaupun dalam prakteknya. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan.

Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . abadi dan keadilan sosial. maupun pemerintah secara sinergis. KEDUDUKAN SKN 1. B. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. Dalam kaitan ini. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. berhasil guna dan berdaya guna. 2. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. baik masyarakat. swasta. perdamaian.

termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. dan Sistem nasional lainnya. 22 . Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 4. Di lain pihak. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. 3. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Sistem Hankamnas. Sistem Perekonomian Nasional. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan.kesehatan. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada.

dan pemulihan. pengobatan. 23 . 2) Kontingensi. C. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. dan 3) Sinergi yang dinamis. pencegahan. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. maka subsistem SKN meliputi: 1. terbuka. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional.

swasta. stabil. pembiayaan kesehatan yang adekuat. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. Oleh karena itu. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber.2. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. yakni: Pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). dan masyarakat itu sendiri. organisasi masyarakat. serta terdistribusi secara adil dan merata. Oleh karena itu. terintegrasi. Pemerintah Daerah. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. jenis dan kualitasnya. 3. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan.

Subsistem Sediaan Farmasi. penggunaan obat yang rasional. hukum kesehatan. ketersediaan. dan diseminasi data dan informasi. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. diperlukan manajemen kesehatan. alat kesehatan. sinkronisasi. 4. 5. Alat Kesehatan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. dan makanan yang beredar. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. termasuk peningkatan kesejahteraannya. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. dan keterjangkauan obat. analisa. pemerataan. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. integrasi. dan informasi kesehatan. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. terutama obat esensial. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. 2) Manajemen sistem informasi.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. efisien. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. administrasi kesehatan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 3) 25 . 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. validasi.

dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. D. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. SDM Kesehatan. ketersediaan sediaan 26 . Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. 6.

manfaat. alat kesehatan. teralokasi secara adil. terutama obat esensial. menjamin ketersediaan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. alat kesehatan.farmasi. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. terdistribusi secara adil. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. dan makanan yang beredar. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. 2. dan mutu semua produk sediaan farmasi. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. 4. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. terjangkau. dan keterjangkauan obat. khasiat. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. alat kesehatan. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. 3. subsistem sediaan farmasi. subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. manajemen dan informasi kesehatan. 27 . dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. dan makanan. serta pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan dan makanan. dan makanan. pemerataan. Subsistem sediaan farmasi.

kelompok. subsistem sumber daya manusia kesehatan. sumber daya kesehatan. administrasi kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan. serta penggunaan obat yang rasional. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. alat kesehatan. informasi kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. subsistem sediaan farmasi. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. 5. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. alat kesehatan. subsistem pembiayaan kesehatan. 28 . pembiayaan kesehatan. manajemen dan informasi kesehatan. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan makanan. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Subsistem sediaan farmasi. serta pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. subsistem sediaan farmasi. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. 6.

Dalam kaitan ini. 29 . yang meliputi: ideologi. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. nasional. politik. Selain itu. maupun global. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. sosial budaya.dan makanan. ekonomi. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. dan pertahanan keamanan. regional.

dan pemulihan. pengobatan. dan pemulihan. pencegahan. pengobatan. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 30 . terpadu. 2. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. Unsur-unsur a. merata. meliputi upaya peningkatan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. 3. pencegahan. dan berkualitas. terjangkau. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna.

Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. bayi. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. anak. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. c. sarana dan prasarana. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. 31 . akreditasi. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. b. biaya. lisensi. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. termasuk swasta. sertifikasi. pencegahan. sediaan farmasi dan alat kesehatan. dan masyarakat miskin.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. antara lain: ibu. manusia usia lanjut. pengobatan. baik peningkatan.

pencegahan. 4. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. 32 . Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. pengobatan hingga pemulihan. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. b. Aman. Bermutu. dapat diterima masyarakat. serta rujukan antar tingkatan upaya. sumber daya kesehatan. c. efektif dan sesuai. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. Prinsip a. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas.d.

Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. yaitu upaya kesehatan primer. termasuk intelegensia dan sosial. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. Terdapat tiga tingkatan upaya. 5. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi.d. e. budaya dan agama. moral. upaya kesehatan sekunder. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. Penyelenggaraan a. f. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. g. melibatkan semua pihak yang kompeten. mental. dan nilai agama. dan 33 . Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti.

Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). dan paripurna melalui sistem rujukan. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. spesimen. dan operasional. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik.upaya kesehatan tersier. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. dan pengetahuan tentang penyakit. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. teknologi. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. terpadu. 34 . sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan.

serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . Sstandar. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. masyarakat. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. maupun swasta. tempat kerja.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . efektif. teknologi. sesuai. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya.yang aman.

administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. 40 . Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. dan lain-lain. a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK).

b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. seperti pusat radioterapi.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. dan rujukan operasional. teknologi. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. sumber daya manusia kesehatan. Unit 41 . baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus.

Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. 42 . harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. b. Organisasi Profesi. dan masyarakat.kerja terkait di tingkat Provinsi. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. Departemen Kesehatan. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan.

Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. Pemerintah Provinsi. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pemerintah. Pemerintah Provinsi. 43 . dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan.

Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. dan pemerintah.c. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. 44 . Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. swasta. jaringan informasi. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. dan dokumentasi Iptek kesehatan. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan.

dari masyarakat. Unsur-unsur a. 45 . tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. 2. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. teralokasi secara adil. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. pengalokasian. 3.B. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna.

Prinsip a. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. sarana. pengalokasian. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. dan pembelanjaan dana kesehatan. regulasi. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. meliputi: SDM pengelola. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. baik pusat maupun daerah. pengalokasian. c. 4. 46 . swasta. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. masyarakat.b. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. dan swasta. standar.

Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). akuntabel. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. dikelola secara adil. berkelanjutan. c. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. baik dari pemerintah. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. berhasil guna dan berdaya guna.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. transparan. 47 . b. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. masyarakat.

agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. serta berbagai sumber lainnya. mengalokasikannya secara rasional. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. dan mengacu perundangan yang berlaku.transparan. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. a. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . dan sumber lainnya. pajak khusus. masyarakat. dana APBN/APBD. dana dari masyarakat. dan sumber lainnya. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. swasta. 5. bersumber dari pemerintah. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib.

dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). serta yang tidak diminati swasta. 49 . Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. sekunder. daerah terpencil. pulau-pulau terluar dan terdepan. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. perbatasan. b.

SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. yang meliputi: upaya perencanaan. akuntabel. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.c. pendayagunaan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. C. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. 50 . pengadaan.

Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. berakhlak luhur. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. dana. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. cara 51 . Unsur-unsur a. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. b.2. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. serta mempunyai etika.

4. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. pendayagunaan. jumlah. pengadaan.atau metode. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. memberikan dukungan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. pendayagunaan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. Prinsip a. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. c. kualifikasi. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan.

pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. nilai budaya. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. 53 . dan berdaya saing tinggi. bertaqwa. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. kompetensi. profesional. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. bertanggung-jawab. nilai keagamaan. beriman. dan kemajemukan bangsa. b. d. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. c. mandiri. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan.

Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan.5. b. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Penyelenggaraan a. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. jumlah. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan.

sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. menentukan kompetensi umum. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). 55 . Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan.

terbuka. serta daerah bencana dan rawan konflik. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.c. seperti: daerah terpencil. Pemerintah. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. daerah tertinggal. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. daerah perbatasan. pulau-pulau terluar dan terdepan. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 .

Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. 57 . diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. modal.

dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . penggajian. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. registrasi. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait.d. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. uji kompetensi. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.

dan makanan yang terjamin aman. dan kosmetika. obat tradisional. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. dan makanan. D. ALAT KESEHATAN. mutu sediaan farmasi. alat kesehatan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. khasiat/manfaat. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. alat kesehatan. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . bahan obat. alat kesehatan. Sediaan farmasi adalah obat. alat kesehatan. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. DAN MAKANAN 1.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. 2.

alat kesehatan tersedia dalam jenis. jumlah. Standar. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. 60 . dan khasiat yang tepat. b. sekunder. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. baik di fasilitas produksi. dan Kriteria yang telah ditetapkan. 3. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. Fasilitas sediaan farmasi. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. dan fungsinya. Prosedur. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. alat kesehatan. dosis. dan tersier. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. bentuk. Unsur-unsur a.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. alat kesehatan. bentuk. jumlah. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan.

secara rasional. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. khasiat/manfaat.c. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. alat kesehatan. d. prosedur. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. dan kriteria yang ditetapkan. e. aman. alat kesehatan. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. standar. alat kesehatan dan makanan. 61 . Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices).

b. transparan. dan makanan dari produsen.4. bertanggungjawab. dan makanan melalui pembinaan. Bermanfaat. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. lengkap. manfaat. dan berbasis bukti ilmiah. Aman. khasiat/manfaat. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. dan pengendalian secara profesional. Berkhasiat. Prinsip a. dan pelaku pelayanan kesehatan. c. alat kesehatan. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. dan mutu sediaan farmasi. pengawasan. d. independen. 62 . dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. Merata. distributor. khasiat. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Tersedia. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. alat kesehatan.

Penyelenggaraan a. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. Pemerataan.e. sistematis. 5. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. serta daerah bencana. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). 63 . Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Upaya Ketersediaan. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. daerah tertinggal dan perbatasan.

64 . independen. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Upaya Jaminan Keamanan. pengambilan dan pengujian sampel. alat kesehatan.b. alat kesehatan. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. yaitu pemerintah. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. ekspor. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. dan transparan. alat kesehatan. pelaku usaha. produksi dan distribusi sediaan farmasi. serta pemantauan label atau penandaan. dan mutu sediaan farmasi. dilakukan melalui penilaian keamanan. khasiat/manfaat. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. sistem manajemen mutu. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. iklan dan promosi. dan pengendalian impor. kerjasama internasional. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. Khasiat/manfaat. pengawasan. standar. prosedur. Pembinaan. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. Alat Kesehatan. khasiat/manfaat. survailan dan vijilan setelah pemasaran. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. dan Mutu Sediaan Farmasi. Pengembangan dan penyempurnaan norma.

serta lingkungannya. masyarakat. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. menyeluruh. alat kesehatan. c. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. transparan. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. dan makanan. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. Psikotropika. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. preventif. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. mutu dan gizi. dan rehabilitatif. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. kuratif.

3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. dan tersier. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. menjamin mutu. sekunder. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. d. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya.

Informasi dan Edukasi (KIE). 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. Informasi kepada masyarakat. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. apoteker. 4) Komitmen semua 67 . antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. seperti penyakit diare. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. serta kepastian proses perijinan. e. dan lain-lain. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi.

alat kesehatan. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. SUBSISTEM KESEHATAN 1. obat. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. bermutu tinggi. para pelayan kesehatan dan konsumen.pemangku kepentingan. pengaturan hukum kesehatan. 68 . administrasi kesehatan. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. dan masyarakat. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. E. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. swasta/dunia usaha. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi.

berbasis bukti dan operasional. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. b. pelaksanaan. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. berdaya guna. dan akuntabel. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. c. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.2. penerapan. Unsur-unsur a. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. swasta. baik pemerintah. 3. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan.

e. standar. Prinsip a. 4. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. keteladanan. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. meliputi: SDM. sarana prasarana. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. penyelenggaraan pembangunan d. b.memfasilitasi kesehatan. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. dana. 70 .

c. hukum. Prosedur. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. 5. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. efektifitas. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . administrasi. a. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. d. dan transparansi sangat penting. program. dan informasi kesehatan. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. Standar. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. transparansi. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Untuk itu. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. Perencanaan kebijakan. kontingensi. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. dan sinergi yang dinamis.

Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. berorientasi pada kepentingan masyarakat. didukung SDM yang kompeten.berbagai sumber yang tersedia. pelaksanaan dan pengendalian. pelayanan advokasi hukum. memanfaatkan teknologi informasi. dan pembiayaan yang mencukupi. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. c. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. b. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. didukung dengan SDM yang kompeten. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. serta 72 . dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. responsif gender. berorientasi pada kepentingan masyarakat.

integrasi. manajemen informasi kesehatan. F. kesetaraan. 73 . serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. keadilan. termasuk regulasi kesehatan internasional. pengolahan dan analisis data. serta sesuai dengan kebutuhan. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). dilakukan melalui koordinasi. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. valid. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. cepat. sosialisasi. penerapan. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. peraturan. d. pengembangan dan penelitian kesehatan. transparan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan.pembinaan dan pengawasan. akurat.

politisi. 2. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. organisasi profesi. b. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. dan swasta menjadi inisiator. 74 . serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. figur masyarakat. tokoh agama. motivator. dan sebagainya). dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. terpadu. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. masyarakat. baik formal maupun non formal.baik perorangan. 3. maupun masyarakat secara terencana. kelompok. kelompok (organisasi kemasyarakatan. kelompok masyarakat). Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Unsur-unsur a.

serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. budaya. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan.c. kemauan. metode. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. kebutuhan. permasalahan. keluarga. swasta. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. dan pemerintah yang meliputi: dana. d. dan kemampuan. oleh. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. sarana dan prasarana. serta potensi masyarakat (modal sosial). Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. tumbuh dan berkembang. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. 4. b. pedoman. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. Prinsip a. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 .

Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . serta kemudahan akses informasi. c. kesetaraan. keluarga. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. dan lingkungannya. solidaritas. empati. masyarakat. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. Penyelenggaraan a. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. d. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. 5. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. Tumbuhnya rasa kepedulian. tenggang rasa. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. dan saling memperoleh manfaat.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain.

termasuk penggerakan masyarakat. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. b. Pemberdayaan masyarakat. penyembuhan. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan.kesehatan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. pencegahan. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. dari. pelaksanaan. dan untuk masyarakat. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. 77 . Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. pemantauan. kelompok.

seperti masyarakat di desa. daerah pesisir. kesadaran. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. daerah pegunungan. Desa Siaga. kemauan. Musholla Sehat. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. 78 . Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. kota. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. dan aliran sungai. tempat umum. tempat kerja. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. institusi pendidikan. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. menyiapkan regulasi. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. seperti: Poskestren. seperti: rumah tangga. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. d. dunia usaha. c. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. lembaga legislatif. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. perguruan tinggi. organisasi kemasyarakatan. seperti seluruh sektor terkait. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 .

pendampingan. antara lain pemberian insentif. 80 . termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. dan kompetisi. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. e. komunikator.melalui berbagai cara. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. pembiayaan yang memadai. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. lomba. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi.

bermutu. dan subsistem sediaan farmasi. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. A. alat kesehatan. sosial. regional maupun global. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. dan makanan. subsistem pemberdayaan masyarakat. politik. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. proses. luaran. sebagai berikut: 1. 4. budaya. dan berkeadilan. pertahanan dan keamanan baik nasional. ekonomi. subsistem pembiayaan kesehatan.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. 3. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. 2. merata.

SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Wawasan Nusantara. baik antar pelaku. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. integrasi. akuntabel. Undang-undang Dasar 1945. transparan. berjenjang. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. sebagai berikut: 1. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. pelaksanaan dan pengendalian. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. kebijakan manajerial. 2. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.pembangunan kesehatan. 82 . Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. sinkronisasi. Pancasila. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. dan kebijakan teknis operasional. antar subsistem SKN. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. dan sinergisme yang dinamis.

dan berkelanjutan. Penyelenggaraan SKN. 3. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. Penyelenggaraan SKN. sistematis. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. 3. dinamika. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 .Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. baik di pusat maupun daerah. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. terpadu. yaitu: 1. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. Penyelenggaraan SKN. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D).

Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. regional. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. 4. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. 2.kebijakan. 3. nasional. dan kabupaten/kota sampai 84 . dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Penyelenggaraan SKN. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. provinsi. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. standar. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. demokratisasi. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu.

Untuk menjaga kepentingan rakyat. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). B. efektif. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . Prosedur. meliputi: partisipatif. Kabupaten/Kota). Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. swasta. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. Selain tata pemerintahan yang baik. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. Standar. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. Provinsi. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. berorientasi pada konsensus. Pedoman tentang Norma. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. transparan.ke tingkat desa. efisien. inklusif.

dan sektor terkait lainnya. sektor perikanan dan kelautan. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . lembaga swadaya masyarakat. organisasi profesi. 2. pengawasan sosial. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. penggerak. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. sektor pertanian. sektor perdagangan. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. Pemerintah daerah. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. Untuk Pemerintah. serta masyarakat luas. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. pelaksana. Individu. Di sektor publik. C. antara lain: sektor pendidikan. pembangunan fasilitas umum. media massa. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. Pemerintah. sektor keuangan. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. keluarga. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. sektor keamanan. akademisi. praktisi.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. memberikan insentif. perguruan tinggi. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. pembelian hasil produksi. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. pemenuhan 90 . Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. E. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor.

Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. penyediaan insentif finansial dan non finansial. UNFPA. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. seperti UNDP. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. dan ASEAN. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis.SDM dengan kompetensi yang sesuai. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. koordinasi penyelenggaraan. 91 . peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. UNICEF. Sebaliknya. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan.

termasuk swasta. interelasi. termasuk swasta. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. serta masyarakat. badan legislatif dan yudikatif. Dalam pelaksanaannya. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. pemerintah pusat dan daerah.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. baik pemerintah secara lintas sektor. 92 . dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. Dengan demikian. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. Dengan demikian. serta kondisi lingkungannya. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya.

semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. Oleh karenanya. maupun internasional. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. bersifat dinamis. dan perubahan lingkungan strategis nasional. baik nasional. tantangan. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. regional. regional. Oleh karenanya. 93 . maupun global.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional.

ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA. dasar. TANNAS. NASIONAL. REGIONAL. bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: .) (UU 23/1992 Kesehatan. Politik. UUD 1945.KETIDAKPASTIAN HUKUM .RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah.PERILAKU MASYARAKAT BURUK . Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.LINGKUNGAN BURUK .WASANTARA.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 .AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .

serta Sediaan Farmasi. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. Alat Kesehatan. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. SDM Kesehatan.

Sinkronisasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Informasi dan Edukasi Koordinasi. Prosedur. Standar. Integrasi.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Royan. Soenarjo Soejoso. S. Dr. MSc. MSc. M. MPH. Widjaja Lukito. SKM.Epid.Kes. SKM . Dr. M. Dr.H. M. Marius W. MPH . Abidinsyah Siregar. Sjafii Achmad. MPH. Dr.Appt. SKM . SK Amdani. S. Lily S. SKM. M. Dr. dr. SKM. MKKK . Setiawan Soeparan. Ida Bagus Indra Gotama. Taufik. dr. Drs. Louventus P . Delnalis. Mary S Maryam. Triono Soendoro. MPH. Dr.Tugijono. MSi. Sp.Sc. DR. M. Drs.Kes. Farid Wadjdi Husain. Nagiot CT. DR. SH. MPH. Dr.Kes. Lenny Evanita. MS. Chirul R Nasution. M. Tjipto Rahardjo. Abdurachman. Apt.Sukowidodo. Ina Hernawati. Abidinsyah Siregar. Dr. Rita Djupuri. Apt. MSc.Kes . dr. Kodrat Pramudho. Bambang Sardjono. Dr. MPH. Budhihardja. Suamsul Bahri. Dr. Untung Suseno Sutarjo. M. DR. Widyawati. Siti Fadilah Supari. Sp.W. Jemfy Naswil. Toto Heryanto .A. SE. Bambang Hartono. Dr. Dr. MPH. Prof. MSc. Slamet Sudi Santoso. SpF(K).Chalik Masulili. Drg. Indariwati. dr. Hardini Kusumadewi. Herma Trillas Purba.JP(K). Drs. Ruslidjah. DR. Dr. dr. M. SE. Dr. Indriyono Tantoro. SKM. PhD. SKM. Dr.Sos. Dr. MKM. SKM. MPH.Kes. Yusharmen D Comm. DPH. MPH. Faisal Barabas.D. Yoserizal. DR. M. Zulkarnain Kasim. Krishnajaya. M.D. Dr. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Ir. Dra. Riza Sultoni. Dr. MM. Dr. MPH. DHSM. Bambang Sardjono. Bambang Hartono. Sri Suhariningsih. M.Kes.PH. M. MPH. DR. Jajang Subagya. Firman Lubis. Rahbudi Helmi. Richard Panjaitan. MPP. SKM. Sp. Dr. Charles Suryadi. H. Geral Mario S. drg. Dr. Drs. Bambang Widodo. Ruhayati . MPH. SKM. Drg. Apt. Hary Purwanto. MM. Ahmad Nizar S. M. dr. dr. Donald Pardede. Msi.JP. Drg. Apt. MPH. Prof. Pakkaya. dr. Iis Sin Sin. Achmad Soebagio T. DCN. Iswandi Mourbas.B(K).J. Mulya A Hasymi. Nasirah Bahaudin. Suginarti . Bambang W. DR. Drg.Sos. Sutoto. Dr. SKM. Dr. M. MPH. Sp.Kes. SE. Fresly. Sri Muljati. Dra. Imran Agus Nurali. Dr. Adang Bachtiar.Meinarwati. dr. Naydial Roesdal.Kes. MSc. Dr. SKM. MM. Dr. Prof. Gatot Soetomo.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. M. Dr.Kes. Liliana. Yuniar S. dr. MSi. SS . R. I Nyoman Kandun. MBA. SKM. SKM. MPH. Dr.DTM&H. Dr. MSc. Dr. dr. M. Apt. Dr. Mulya A Hasjmy. Andi Saguni. Agus Sunario.B. MSc.KO. T. Dr. Drs. Marwan Nusri. MPH. MPH. SKM.Syihab. M. Rachmi Untoro. Titte Kabul Adimidjaja. DR. Lovita T. Harmein Harun.B. Dr. Taufik Izwan.Kes. MPH. Sp. Sardikin Giriputro. Dr. Suhardjono. Gemala Hatta. H. Drs. Purwadi. Msi. R. Dr. Drs. Sonny P. H. Diah Puspitasari. Dr. MPH). Edi Suranto. Wandaningsih. S. Sontang Tambunan.Rita Ratna Puri. Mustikowati. SKM.Kes. DM Wismarini. DR. Agus Purwadianto. MPH. . Dra. SKM. Dr. MSc. Sp. M.M. Hapsara Habib Rahmat. Madiono. Emiliya Roza. Trisa Wahjuni Putri. MKM. Rusmiati.MSc(PH). Dr. Dr. Arum Atmawikarta.Kes. Ida Bagus Indra Gotama. MS. Indah Yuningprapti. Rustam S Pakkaya. Ruhayati . Mulyadi. .Kes. Zulkarnain. Agus Iriawan. Ph. MPH.SKM. Drg. MPH. MA. SH. MM. Dr. Bambang Widodo. Dr. MSc. M. . Apt. Drg. Krissna Tirtawidjaja. Dr. DR. Bambang Hartono. MPPM. Rustam S. Sulistyowati. Dr. Kustantinah. Peter Andreas. SKM . Ph. Ratna Rosita Hendardji. Dr. DR. Faiq Bahfen.Kes. Dr.Kes. M. Drs. DHSM. Dr. M. Yaslis Ilyas. Hasbullah Thabrani. SKM.Kom. M. Rahmat Kurniadi. Syamsul Bahri. SH. MPH. SKM. MSc. Dr. Bambang Giatno Rahardjo. Prof. MPH.Epid . .DR. MBA. Sri Hermiyanti.Kes. Dr.Kes. Dra.

Apt.Kes. Bachtiar Oesman.Sp. Sudono. Entos Rusna. Prijono. Dr. Drg. Adnan Mahmud. MSc. S. Drg. Abdul Gani Sitepu. Drs. Poedjo Prasetyo. Julistio Djais. Eny Setiowati. SpA (K). Endro Buono. Agung Indarto. M. Munzir Purba. H. Dr. Agussalim Mooduto. Tjipto Rahardjo. SKM. Tukijan. SE. Poedjo Praseptio. Dien Emawati. Ridarson. DESS. Drg. Sugeng LA. Tri Martiana. M. SKM. Ratna Dewi Umar. Pius Weraman. Drs.Kes. Bairizal. Razak Thaha. Hanni Rono S. MPAM. MPH. M. Drg. I Wayan A. Lita R Siampar. Jimmy Lee. Dr. Kuswati Ningsih. Sasli Adis. Arbiansyah Alam.Kes. MPH. Rais Lamangkona. MKes. Shermina Oruh. Kodrat Pramudho.Kes. Noto Basuki. Dr. A. Dr. Drg. Drs. Prof. MPH. Syafrudin Rasyid. Siti Aisyah. Drs. Prof.GDE Agung Wiadnya P. E.Kes. dr.Kes. Nizwardi Azkha. M. Mkes. Dr. Yanti.SKM. Drs. Dr. Isti Ratnaningsih.Kes. SpACKI.P. Zaura Rini Anggraini. Suharto. Tin tin F. Dr. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Dr. Jorizal Jannis. Emi Nurjasmi. Amin Yohannis. SKM. Lily Mulyasari.Sos .A. SKM. Lovita T . Andi M. MARS. Fauzi Ali Amin.Kes. Syahrani Djedi. Yanti Nurbayanti. Dr. Dr.Kes . Dr. Oslinda Martony. Tri Martiana. Dr. Dr.Kes. Sultan Akbar Torutju . Dr. Dr. Benny Patiasina. Dr. Dr. Dian Damairini. Dr. SKM. MKes. Ninin S . M. Didi Suswanto. MKes.Kes.SKM. Syafri. Ibnu Alferbaly. Sutrisno. Jauhari. M. DR.Kes. M. Julistio TB Djais. HJ. Dr. Sugito. MPPM. Entos Z. Dr. Munzelly Husivevi. Slamet Soesilo. Pande Putujaraga. Dr. Ridwan Thaha. SH.Sos. Adi Wirachjanto. SKM. Wirabrata. Risma Julius. MSCPH. Jeane Pangemanan.S. Vita.Kes. Ni Wayan Mariani. Melzan Dharmayuli. Widyawati. M. Drg. H. Kartini Rustandi. MKes. Hasnawati. MPH. Herry Tjahjono. Lukman HL. Okti Palupi . Suteja. M. Dyah RB. Emmilya Rosa.Kes . S. Drg. Djayusmantoko. Peter Andreas). Dr. RE. Indro Darmadji. Abd. SKM. Dr. SKM. Andreas Meliala. One Widyawati. Ade Erma. M. Rosihan Adhani. Eny Susilowati. Durachman. Bondan Agus Susyanto. Muninjaya. Drg. Dr. Drg. Sardikin Giriputro. Apt. DESS. Kamaruzaman. SpOG. M. Bambang Sugeng W. Drs. Rudi Arif. Sofia Wirda. rapat. Drg. Drs. Irwan. Nurbaiti. Syahrul A. Tingkat Daerah: Drg. Dr. Ishak. MPH. Broto Wasisto. SKM. Kuwat S Hudoyo. M.Ahmad Said. Bambang Agus Legowo. MKes. Eryta W. MPH. Dr.M. Sri Rachmani. atau pertemuan lainnya . T. Ockti Palupi. Dr. Dedi Supratman. Harif Fadhillah. Choirul Anwar. M. Kiswanto. SKM. MKes. SKM. Dr. SE. Jeni Haju. Guntur DW. MM. Mahmud Fauzi. Nina Kurnia. SKM. Rita Kusriastuti.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.