TUGAS MAKALAH AGAMA ISLAM

SEJARAH PENULISAN AL-QUR AN DAN PERKEMBANGANNYA
DISUSUN OLEH KELOMPOK VII : ASWAR SUHAIMI B A R RAHMAT ASRI BUDI DARMAWAN ALFIAN NURSALAM G41110270 G41110265 G41110283 G41110267 G41110263 G41110215 G41110264

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

PENDAHULUAN

Setelah panitia penulisan mushaf al-Qur¶an yang ditunjuk dan diawasi langsung oleh Khalifah µUtsman bin µAffan r.a. selesai menunaikan tugasnya, beliau kemudian melakukan beberapa langkah penting sebelum kemudian mendistribusikan mushaf-mushaf itu ke beberapa wilayah Islam. Langkah-langkah penting itu adalah: 1. Membacakan naskah final tersebut di hadapan para sahabat. Ini dimaksudkan sebagai langkah verifikasi, terutama dengan suhuf yang dipegang oleh Hafshah binti µUmar r.a. 2. Membakar seluruh manuskrip al-Qur¶an lain. Sebab dengan selesainya mushaf resmi tersebut, keberadaan pecahan-pecahan tulisan al-Qur¶an dianggap tidak diperlukan lagi. Dan itu sama sekali tidak mengundang keberatan para sahabat. Ali bin Abi Thalib r.a. menggambarkan peristiwa itu dengan mengatakan, ³Demi Allah, dia (µUtsman) tidak melakukan apa yang ia lakukan terhadap mushafmushaf itu kecuali (ia melakukannya) di hadapan kami semua.´ Setelah melakukan dua langkah tersebut, µUtsman bin µAffan r.a kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf al-Qur¶an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan pada waktu itu. Al-Zarkasyi misalnya menggambarkan ragam pendapat itu dengan mengatakan, ³Abu µAmr al-Dany menyatakan dalam kitab al-Muqni¶: mayoritas ulama berpandangan bahwa ketika µUtsman menuliskan mushaf-mushaf itu ia membuatnya dalam 4 (eksemplar), lalu mengirimkan satu eksemplar ke setiap wilayah: Kufah, Bashrah dan Syam, lalu menyisakan satu eksemplar di sisinya. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau menuliskan sebanyak 7 eksemplar. (Selain yang telah disebutkan ±pen) ia menambahkan untuk Mekkah, Yaman, dan Bahrain. (Al-Dany) mengatakan: µPendapat pertamalah yang paling tepat, dan itu dipegangi para imam.¶´ Sementara al-Suyuthi menyebutkan pendapat lain ±disamping pendapat di atas- yang menurutnya masyhur, bahwa jumlah mushaf itu ada 5 eksemplar. Semua naskah itu ditulis di atas kertas, kecuali naskah yang dikhususkan µUtsman bin µAffan r.a untuk dirinya ±yang kemudian dikenal juga dengan al-Mushaf al-Imam-. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa.[6] Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli

a. Dalam proses pendistribusian ini. pasca pendistribusian naskah-naskah mushaf µUtsmani tersebut. hingga sekarang terdapat banyak perkembangan baru dalam perbanyakan naskah tersebut. Ini sekaligus menegaskan bahwa pewarisan pembacaan al-Qur¶an ±yang juga berarti pewarisan al-Qur¶an itu sendiri. ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa dilakukan oleh µUtsman bin µAffan r. Dan semoga bermanfaat! . kaum muslimin telah memiliki sebuah mushaf rujukan ±karena itulah ia disebut sebagai al-mushaf alimam-. Tujuannya tentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Tanpa adanya para qari¶ penuntun itu. Meskipun upaya itu sama sekali tidak berarti merubah hakikat al-Qur¶an sebagai Kalamullah. Yaitu menyertakan seorang qari¶ dari kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut.a. mulailah upaya-upaya penulisan ulang naskah Al-Qur¶an berdasarkan mushaf µUtsmani untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin akan mushaf al-Qur¶an. kesalahan baca sangat mungkin terjadi. yang diperuntukkan untuk Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf µIraqy. dan yang dikirim ke Syam dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy. yaitu pasca kodifikasi Khalifah µUtsman r.al-Rasm kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. tanpa dibubuhi baris maupun titik. Sejak saat itu. Ini tentu saja sangat beralasan. Perkembanganperkembangan itulah yang akan dikaji secara singkat dalam makalah ini. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkah kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy. Tentu saja.sepenuhnya didasarkan pada proses talaqqi. sebab naskah-naskah mushaf µUtsmani tersebut hanya mengandung huruf-huruf konsonan. Dalam kurun yang cukup panjang. bukan pada realitas rasm yang tertuang pada lembaran-lembaran mushaf belaka.

disamping tentu saja meningkatnya interaksi muslimin Arab dengan orang-orang non Arab ±muslim ataupun non muslim-.a. namun juga di kalangan muslimin Arab sendiri.PERKEMBANGAN BARU PENULISAN MUSHAF PASCA UTSMAN Pemberian Harakat (Nuqath al-I¶rab) Sebagaimana telah diketahui. Saat µUbaidullah datang menghadapnya. salah seorang gubernur yang diangkat oleh Mu¶awiyah bin Abi Sufyan r. semuanya pun menerima langkah tersebut. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira¶at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk wilayah Bashrah (45-53 H). bahwa naskah mushaf µUtsmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-i¶jam) dan harakat (nuqath al-i¶rab) ±yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf alQur¶an-. Hal ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di kalangan penguasa muslim. Langkah ini sengaja ditempuh oleh Khalifah µUtsman r. Kisah munculnya ide itu diawali ketika Mu¶awiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya. Tidak hanya di kalangan kaum muslimin non-Arab. lalu kaum muslimin pun melakukan langkah duplikasi terhadap mushaf-mushaf tersebut. al-µujmah (kekeliruan dalam menentukan jenis huruf) dan al-lahn (kesalahan dalam membaca harakat huruf) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan. Terutama karena mengingat mushaf al-Qur¶an yang umum tersebar saat itu tidak didukung dengan alat bantu baca berupa titik dan harakat. Konsekwensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang non Arab yang kemudian masuk ke dalam Islam. Akibatnya. terjadilah berbagai perluasan dan pembukaan wilayah-wilayah baru. Dan ketika naskah-naskah itu dikirim ke berbagai wilayah. untuk menghadap Mu¶awiyah. Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide pemberian tanda bacaan terhadap mushaf al-Qur¶an adalah Ziyad bin Abihi. µUbaidullah. Mu¶awiyah terkejut melihat bahwa anak muda itu telah melakukan banyak al-lahn dalam .a. Dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penambahan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut. Dalam masa itu. terutama untuk keperluan pribadi mereka masing-masing.[9] Hal ini berlangsung selama kurang lebih 40 tahun lamanya.

Demikianlah. Tanda pertama yang diberikan oleh Abu al-Aswad adalah harakat (nuqath al-i¶rab). Harakat fathah ditandai dengan satu titik di atas huruf.´ (alTaubah: 3) Tapi ia mengganti bacaan ³wa rasuluhu´ menjadi ³wa rasulihi´. Metode pemberian harakat itu adalah Abu al-Aswad membaca al-Qur¶an dengan hafalannya. Maka cobalah Anda menuliskan sesuatu yang dapat memperbaiki bahasa orang-orang itu dan membuat mereka membaca al-Qur¶an dengan benar.pembicaraannya. Bacaan itu didengarkan oleh Abu al-Aswad. Ia menyuruh seseorang untuk menunggu di jalan yang biasa dilalui Abu al-Aswad. dhammah ditandai dengan titik didepannya. Mu¶awiyah pun mengirimkan surat teguran kepada Ziyad atas kejadian itu. orang inipun membaca firman Allah yang berbunyi: *WÜkYÒX£pTSÙ<Ö@« WÝYQÚ còv÷X£WT JðW/@« QWÜKV« I&SãRÖéSªW¤Wè ³Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. dan itu membuatnya terpukul. Tanpa buang waktu. lalu berpesan: ³Jika Abu al-Aswad lewat di jalan ini. Ziyad pun menulis surat kepada Abu al-Aswad al-Du¶aly: ³Sesungguhnya orang-orang non-Arab itu telah semakin banyak dan telah merusak bahasa orang-orang Arab. Ia pun menunjuk seorang pria dari suku µAbd al-Qais untuk membantu usahanya itu. Abu al-Aswad pun memeriksanya kembali sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya. kasrah ditandai dengan satu titik dibawahnya. Dan setiap kali usai dari satu halaman.´ Abu al-Aswad sendiri pada mulanya menyatakan keberatan untuk melakukan tugas itu. lalu stafnya sembari memegang mushaf memberikan harakat pada huruf terakhir setiap kata dengan warna yang berbeda dengan warna tinta kata-kata dalam mushaf tersebut. dan Abu al-Aswad pun membaca al-Qur¶an dan stafnya memberikan tanda itu. Murid-murid Abu al-Aswad kemudian mengembangkan beberapa variasi baru dalam penulisan bentuk harakat tersebut. dan tanwin ditandai dengan dua titik. Namun Ziyad membuat semacam µperangkap¶ kecil untuk mendorongnya memenuhi permintaan Ziyad. bacalah salah satu ayat al-Qur¶an tapi lakukanlah lahn terhadapnya!´ Ketika Abu al-Aswad lewat. Inilah yang kemudian membuatnya memenuhi permintaan yang diajukan oleh Ziyad. ³Maha mulia Allah! Tidak mungkin Ia berlepas diri dari Rasul-Nya!´ ujarnya. Ada yang menulis tanda itu dengan bentuk kubus .

Bashrah lebih berkembang. dan akhir abad kedelapan itu sama dengan tahun 184 H. tidak dalam huruf hidup bahasa Yunani maupun sistem tanda titiknya. tokoh besar tata Bahasa Arab penulis al-Kitab (sebuah referensi puncak dalam Nahwu) meninggal pada tahun 180 H (796 M). bahwa beberapa peneliti ±seperti Guidi. dan ada pula yang menulisnya dalam bentuk lingkaran yang dikosongkan bagian tengahnya. bahwa perbedaan ini sama sekali tidak mempengaruhi apalagi mengubah bacaan Kalamullah.[13] Dalam perkembangan selanjutnya. akhir abad ketujuh masehi itu sama dengan tahun 81 H. Biskop Damaskus. Hunain sendiri dilahirkan pada tahun 194 H (810 M). Ia masih tetap seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw.Yusuf Dawud Iqlaimis. Namun lagi-lagi perlu ditegaskan. Sistem titik yang digunakan penduduk Mekah ± misalnya. di sana tidak ada metode tanda diakritikal dalam bahasa Syriak.sistem diakritikal Syriak begitu mirip tanda yang digunakan oleh al-Du¶aly. Tetapi ±mengutip al-A¶zhamy. sedangkan Theophilus menemukan huruf hidup Bahasa Yunani pada abad ke delapan. sementara Sibawaih. Bila dihitung. Fakta lain adalah bahwa tata bahasa Syriak dapat dikatakan menemukan identitasnya melalui upaya Hunain bin Ishaq.(murabba¶ah).menemukan tanda bacaan pertama (untuk Bahasa Syriak) pada abad ketujuh. 170 H). Tepatnya pada Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w. µIzzat Hassan. hingga kemudian penduduk Madinah mengadopsi sistem mereka. Dalam hal ini. Israil Wilfinson. Ditambah lagi. mereka kemudian menambahkan tanda sukun (yang menyerupai bentuk kantong air) dan tasydid (yang menyerupai bentuk busur) yang diletakkan di bagian atas huruf. Yakub (Yacob?) Raha sendiri ±menurut B. ada yang menulisnya dengan bentuk lingkaran utuh. nampaknya setiap wilayah kemudian mempraktekkan sistem titik yang berbeda.berbeda dengan yang digunakan orang Irak. Sementara Abu al-Aswad al-Du¶aly ±penemu tanda diakritikal Bahasa Arab. -seperti yang dicontohkan oleh B. Maka tidak mungkin Hunain dapat disebut memberikan pengaruh pada tata Bahasa Arab. menyatakan: Ini jelas yakin tanpa diragukan bahwa pada zaman Yakub dari Raha. yang meninggal di awal abad kedelapan masehi. Apalagi sejarah mencatat bahwa Hunain pernah belajar Bahasa Arab di Bashrah. Dan seperti yang disimpulkan oleh al-A¶zhamy. .meninggal dunia pada tahun 69 H (688 M). dan DR. Satu hal lagi yang perlu disebutkan di sini.Davidson.Davidson.menyimpulkan bahwa tanda harakat ini sebenarnya dipinjam oleh Bahasa Arab dari Bahasa Syriak. Begitu pula sistem penduduk Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh penduduk Bashrah.

tha¶ dan zha¶. gubernur Irak waktu itu (75-95 H). huruf-huruf ini ditulis tanpa menggunakan titik pembeda. maka huruf-huruf pertama dari setiap pasangan itu diabaikan tanpa titik (al-ihmal). (ta). huruf pertama diabaikan tanpa titik satupun. Salah satu hikmahnya adalah ±seperti telah disebutkan. shad dan dhad. Al-Hajjaj pun memilih Nahsr bin µAshim dan Yahya bin Ya¶mar untuk misi ini. Pada penulisan mushaf µUtsmani pertama. namun pengucapannya berbeda. Penerapannya adalah sebagai berikut: a. Pemberian tanda ini bertujuan untuk membedakan antara huruf-huruf yang memiliki bentuk penulisan yang sama. keduanya lalu memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi nuqath al-i¶jam (pemberian titik untuk membedakan pelafalan huruf yang memiliki bentuk yang sama). sedangkan huruf-huruf yang kedua diberikan satu titik di atasnya (al-i¶jam). Seperti pada huruf (ba). Jadi pertanyaannya: siapa yang meminjam pada siapa? Pemberian Titik pada Huruf (Nuqath al-I¶jam) Pemberian tanda titik pada huruf ini memang dilakukan belakangan dibanding pemberian harakat. ( tsa). Muncullah metode al-ihmal dan al-i¶jam. ghain. dan pemberian satu titik saja diatasnya akan menyebabkan ia . Setelah melewati berbagai pertimbangan. Tapi seiring dengan meningkatnya kuantitas interaksi muslimin Arab dengan bangsa non-Arab. Namun pendapat yang paling kuat nampaknya mengarah pada Nashr bin µAshim dan Yahya bin Ya¶mar. b. sedangkan huruf kedua (syin) diberikan tiga titik. Ini disebabkan karena huruf ini memiliki tiga µgigi¶. untuk pasangan sin dan syin. Ini diawali ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan kepada al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafy. Ini kemudian mendorong penggunaan tanda ini. Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai siapakah yang pertama kali menggagas penggunaan tanda titik ini untuk mushaf al-Qur¶an. untuk memberikan solusi terhadap µwabah¶ al-µujmah di tengah masyarakat. dan al-i¶jam adalah memberikan titik pada huruf. sebab keduanya adalah yang paling ahli dalam bahasa dan qira¶at. serta µain dan ra¶ dan zay. untuk membedakan antara dal dan dzal.seorang tokoh ensiklopedi Bahasa Arab terkemuka.untuk mengakomodir ragam qira¶at yang ada. Al-ihmal adalah membiarkan huruf tanpa titik. kesalahan pembacaan jenis huruf-huruf tersebut (al-µujmah) pun merebak.

d. Pertimbangan yang sama juga menyebabkan pemberian titik berbeda pada huruf-huruf c. mereka memberikan satu titik bawah untuk fa¶. Disamping beberapa tanda lain. . Bahkan ada sebagian mushaf pribadi yang menggunakan warna berbeda untuk membedakan jenis i¶rab sebuah kata. merah untuk harakat.sama dengan huruf nun. nun. lalu lingkaran yang berlobang bagian tengahnya. fa¶ dan ta. dan hijau untuk hamzah al-washl. banyak terjadi kreasi dalam penggunaan warna untuk tanda-tanda baca dalam mushaf. di Andalusia. tsa. Nuqath al-I¶jam atau tanda titik ini pada mulanya berbentuk lingkaran. untuk rangkaian huruf sedangkan pasangan ba¶. Hanya saja kaum muslimin di wilayah Timur Islam lebih cenderung memberi satu titik atas untuk fa¶ dan dua titik atas untuk qaf.170 H). Di Madinah. Dan tradisi ini terus berlangsung hingga akhir kekuasaan Khilafah Umawiyah dan berdirinya Khilafah µAbbasiyah pada tahun 132 H. dan ya¶. ha¶. huruf pertama dan ketiga diberi titik. dan tinta merah untuk harakat. mereka menggunakan empat warna: hitam untuk huruf. maka yang pertama diabaikan dan yang kedua diberikan satu titik diatasnya. dan satu titik atas untuk qaf. sedangkan yang kedua diabaikan. Tetapi semuanya hampir sepakat untuk menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i¶jam. naskah-naskah mushaf pun berwarna-warni. Seperti telah dijelaskan. lalu berkembang menjadi bentuk kubus. kuning untuk hamzah. yaitu melingkar. seharusnya jika mengikuti aturan sebelumnya. Sedangkan tanwin dibentuk dengan mendoublekan penulisan masing-masing tanda tersebut. Hal ini rupanya menjadi sumber kebingungan baru dalam membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya. jim. kasrah dengan bentuk huruf ya¶ kecil dibawahnya dan dhammah dengan bentuk huruf waw kecil diatasnya. mereka menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i¶jam. Pada masa ini. Berbeda dengan kaum muslimin yang berada di wilayah Barat Islam (Maghrib). Tapi di sini muncul lagi sebuah masalah. agar tidak sama dan dapat dibedakan dengan tanda harakat (nuqath al-i¶rab) yang umumnya berwarna merah. meski berbeda untuk yang lainnya. Di sinilah sejarah mencatat peran Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w. Ia kemudian menetapkan bentuk fathah dengan huruf alif kecil yang terlentang diletakkan di atas huruf. qaf. Tanda titik ini ditulis dengan warna yang sama dengan huruf. Akhirnya. dan kha¶. baik nuqath al-i¶rab maupun nuqath al-i¶jam. keduanya ditulis dalam bentuk yang sama.

Keturunannya-lah yang kemudian mendirikan Dinasti Nabatean sekitar 600 SM hingga 50 M. mad. tapi mengakuinya sebagai teks yang sangat bernilai untuk para peneliti Arab.s. dhammah. para peneliti Barat dapat dikatakan berbeda pandangan.tumbuh dan besar di kota Mekkah. Cantineau dan Gruendler menganggapnya sebagai teks Nabatean (al-Nabth). sukun. Dengan metode ini.Al-Daly mengatakan: ³Dengan demikian. maka membedakan antara Bahasa Arab dan Nabatean adalah sebuah kesalahan yang dipaksakan.s. Ismail sendiri dikaruniai 12 putra. Khalil (al-Farahidy) telah meletakkan 8 tanda: fathah. Mereka semua dilahirkan dan dididik di sekitar Jazirah Arab yang logisnya menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa mereka. Batu nisan ini mencatat adanya tanda titik di atas huruf dal. Suku ini sendiri berbahasa Arab. Ada beberapa penemuan kuno yang menunjukkan hal tersebut. Gruendler sendiri mengakui bahwa para penulis teks Nabatean berbahasa Arab. Jadi sebenarnya Nabatean adalah bagian dari bangsa dan tradisi Arab itu sendiri. dan syakl (harakat) dengan warna yang sama. ada suatu fakta sejarah yang unik. . dan hamzah. shilah. sebuah inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua.. Dalam hal ini. Menyikapi batu nisan Raqusy ini. semestinya ia membawa serta alphabet dan Bahasa Arab bersamanya. kasrah. Diduga ditulis pada tahun 267 M. antara lain: 1. Yaitu bahwa tanda titik (nuqath al-i¶jam) ternyata telah dikenal dalam tradisi Bahasa Arab kuno pra Islam atau setidaknya pada masa awal Islam sebelum mushaf µUtsmani ditulis. Tetapi pertanyaannya adalah siapakah Nabatean itu sesungguhnya? Kita mengetahui bahwa Ismail a. O¶Conner menyebutnya sebagai gabungan acak antara Nabatean dan Arab. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke utara Jazirah Arab (wilayah Syam). Batu nisan Raqusy (di Mada¶in Shaleh). i¶jam (tanda titik huruf).´ Terkait dengan hal ini. sangat memungkinkan untuk menulis huruf. Sedangkan Healy dan Smith(1989) dengan yakin menyebutnya sebagai dokumentasi Arab tertua. diantaranya adalah Nabat (Nebajoth). Sehingga apabila fakta bahwa mereka berasal dari keturunan bangsa Arab (Ismail) dan mereka pun berbahasa Arab. Tepatnya di tengah komunitas suku Jurhum. ra¶ dan syin. al-A¶zhamy mengomentarinya dengan mengatakan. ±putra tertua Nabi Ibrahim a. tasydid.

setidaknya hingga tahun 58 H. kha. Berikut ini beberapa sisi penting perbedaan rasm µUtsmany dengan rasm imla¶i: Penghapusan alif. Dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus. Diantara karya yang mengulas ilmu ini adalah alMuqni¶ karya Abu µAmr al-Dany dan al-Tanzil karya Abu Dawud Sulaiman bin Najah. Ketiga kata ini jika ditulis berdasarkan rasm imla¶i adalah: . Dokumentasi ini menunjukkan penggunaan titik untuk huruf nun. waw. dan zay. . dan ya¶. lantas siapakah yang memberinya nama Bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka menyebut bahasa mereka sebagai Bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai µMuhammadan¶ (pengikut Muhammad). ÜISè‚WçÅ<Ö@«Wè (AsySyu¶ara¶:94).³Jika orang Nabatean berbicara dalam Bahasa Arab. Seperti yang terdapat pada ayat: òv÷N Y Wè (Az-Zumar:69). 2. 1. Terdapat 10 karakter huruf yang diberi tanda titik. syin. tsa. dan W WÝGTTQY~YÅ PVÞÖ@«@ (Al-Baqarah: 61). yRÑÿX¤OèKR Wª (al-A¶raf:145). Ditambah dengan beberapa temuan lainnya. dan al-Qur¶an sebagai µTurkish Bible¶ (Bible orang Turki)?´ 2. tahun 22 H (sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional Austria). Islam sebagai µMuhammadanism¶ (ajaran Muhammad). dzal. waw. Jenis yang pertama khusus digunakan untuk penulisan ayat al-Qur¶an sesuai dengan mushaf µUtsmany. Ketiga kata ini jika ditulis berdasarkan rasm imla¶i adalah: . dzal. fa. dan x O~T`TÿVK Y (alDzariyat: 47). bahwa cara penulisan (rasm) yang terdapat dalam mushaf µUtsmany berbeda dan tidak sama dengan cara penulisan yang umum digunakan dalam aturanaturan imla¶ Bahasa Arab. ba. Sedangkan yang kedua adalah aturan baku yang umum digunakan untuk penulisan kata-kata Arab sebagaimana ia diucapkan. Penambahan alif. Sehingga tepatlah jika disimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nashr bin µAshim dan Yahya bin Ya¶mar adalah sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi itu dengan beberapa inovasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan. kha. Antara Rasm µUtsmani dan Rasm Imla¶i Sebagaimana yang diketahui. . Karena itu para ulama membagi metode penulisan huruf Arab menjadi 2 jenis: rasm µUtsmany dan rasm imla¶i. para ulama al-Qur¶an kemudian menyusun sebuah ilmu yang dikenal dengan nama ilmu Rasm al-Qur¶an. yaitu: nun. ya. Untuk keperluan ini. Wallahu a¶lam. Seperti yang terdapat pada ayat: fûkYÙVÕHTWÅ<Ö@« (Al-Fatihah:1). atau ya¶. dan ta. syin. . zay.

Teori ini kemudian dijawab oleh beberapa ahli alQur¶an muslim. namun dipisahkan dalam rasm µUtsmany. ada yang seharusnya dipisah namun disambungkan dalam rasm µUtsmany. Seperti yang terdapat dalam ayat: QWÙWÆ (al-Baqarah: 74) dan . hampir tidak ada masalah berarti di tengah kaum muslimin dalam membaca al-Qur¶an. Tidak dapat dipungkiri. Salah satu teori yang ia kemukakan adalah bahwa perbedaan qira¶at itu muncul karena karakteristik rasm µUtsmany yang memang µbermasalah¶ ±tanpa titik dan harakat. Artinya ada kata seharusnya secara imla¶ disambung.(al-Nisa¶:91). bahwa ada upaya untuk mengganti sistem rasm µUtsmany dengan sistem imla¶ yang umum berlaku. Salah satunya adalah Goldziher dalam bukunya Madzahib al-Tafsir al-Islamy. Dengan alasan bahwa itu akan lebih memudahkan pembacaan. Sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Karena itu ia kemudian bersifat tauqifiyah. Kedua kata ini jika ditulis dalam rasm imla¶i adalah: . Adapun jika alasannya adalah untuk memudahkan pembacaan. Meskipun ini kemudian terbantahkan dengan dasar bahwa metode inilah yang digunakan oleh para sahabat menuliskan al-Qur¶an di hadapan Rasulullah saw. maka itu terbantahkan dengan kenyataan bahwa sejauh ini ±sejak 1400 tahun lamanya-. Pemisahan dan penyambungan. salah satunya adalah Syekh Abd al-Fattah Abd al-Ghany al-Qadhy[40] yang . sehingga membuka peluang untuk hal itu. orang-orang lain tidak akan melontarkan kecaman bahwa karya mereka (penulisan al-Qur¶an tanpa µrasm µUtsmany¶ ±pen) juga adalah usaha yang dilakukan oleh orang-orang jahil buta huruf?´ Perbedaan Qira¶at dalam Membaca al-Qur¶an ³Apakah ragam qira¶at muncul akibat karakteristik rasm µutsmany atau ia telah ada jauh sebelum itu?´ Ini adalah sebuah pertanyaan lain yang juga mengusik kalangan peneliti al-Qur¶an. Penulisan al-Qur¶an berdasarkan rasm µUtsmany memiliki banyak hikmah ±sebagaimana disebutkan oleh para ulama qira¶at-.3. Lagi pula ±kata al-A¶zhamy-. ³Apakah mereka percaya bahwa setelah beberapa abad nanti. Tapi salah satu yang terpenting adalah dengan metode ini ragam qira¶at yang berbeda dapat terwakili dalam mushaf µUtsmany. Begitu pula sebaliknya. terutama sebagian kalangan orientalis. kecuali yang memang tidak punya keinginan untuk mempelajari bacaannya.

menyusun buku kecil berjudul Al-Qira¶at fi Nazhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin.W£Jg±Ö@« ‚WTßY `å@« ¼ [6: ³Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Berikut ini adalah ikhtisar jawaban Syekh Abd al-Fattah terhadap teori Goldziher: Goldziher ±menurut al-Qadhy. Seperti: » (6) WØ~YÍW Tó©SÙ<Ö@« ð·. tidak akan lepas dari 2 kategori berikut: a. namun kedua makna itu tidak saling bertentangan.´ Dalam qira¶at yang lain. . huruf zay pada kata yang digarisbawahi diganti dengan syin ( ) dengan harakat yang sama. lalu menutupinya dengan daging. bila diteliti dari yang mutawatir. tidak dapat dipahami maknanya dengan jelas. Goldziher ±misalnya.´ Dalam qira¶at yang lain. Ia menyatakan bahwa ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan itu bermakna bahwa teks-teks al-Qur¶an dengan segala varian qira¶atnya saling bertentangan. namun sama sekali tidak ada pertentangan. meskipun kedua qira¶at ini berbeda. Qira¶at itu berbeda baik dari segi lafazh dan makna. Sebab bila Allah berkehendak untuk membangkitkan makhluq. Bila diperhatikan. dan tidak dapat dibuktikan mana yang valid (tsabit) dan yang tidak.nampaknya bermasalah dengan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya variasi qira¶at dalam al-Qur¶an. yang berarti ³Kami membangkitkannya (setelah mati)´. Kesimpulan ini tentu saja dibantah oleh al-Qadhy. Qira¶at itu berbeda lafazh. b. Padahal perbedaan qira¶at dalam al-Qur¶an. kata yang digarisbawahi dibaca dengan huruf sin.menganggap adanya variasi qira¶at itu sebagai bukti yang menunjukkan bahwa al-Qur¶an adalah satu-satunya teks wahyu yang dipenuhi dengan ketidakjelasan (idhthirab) dan ketidakkonsistenan (µadam atstsabat). namun dengan makna yang tidak berbeda. bagaimana Kami menyatukannya. maka Ia akan menyatukan tulang-belulangnya. Sebagai contoh adalah: ] WåS¥YÞSTß ðÈ`T~W{ Yz VÀ¹YÅ<Ö@ øVÖXM ó£TñÀ¹ß@ Wè ¼VK [259: ] » & _TÙ` VÖ WåéS©<ÑWTß QWØR ³Dan lihatlah tulang belulang itu. lalu menghidupkannya kembali. masyhur dan shahihnya. namun bermakna sama.

kesimpulan ini sama sekali tidak benar berdasarkan hal-hal berikut: Pertama. Ini menunjukkan bahwa varian qira¶at sepenuhnya didasarkan pada riwayat dan talaqqi. Hal lain yang diangkat oleh Goldziher dan dikritisi oleh al-Qadhy adalah kesimpulannya yang menyebutkan salah satu penyebab utama terjadinya perbedaan qira¶at al-Qur¶an kembali pada karakter asal huruf Arab yang digunakan dalam penulisan Mushaf µUtsmany. Atau dengan kata lain perbedaan yang terjadi dapat dijelaskan dan diarahkan kepada pengertian yang tepat. Tujuan utamanya untuk mencegah kemungkinan ada orang yang membacanya tidak sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. hanya karena menganggap bacaannya itu sesuai atau mungkin dibaca berdasarkan rasm µutsmany. Rasm µutsmany kemudian hanya berupaya menampung semua perbedaan qira¶at yang telah ada sebelumnya. Tidak hanya itu. Itu artinya sebelum al-Qur¶an tertuang dan tertulis dengan rasm µutsmany.telah ³terpelihara´ di tangan para sahabat Nabi jauh sebelum al-Qur¶an itu kemudian dibukukan di masa kekhalifaan Umar r. dan tidak didasarkan pada periwayatan dari Rasulullah saw. Sejarah Islam telah mencatat dan membuktikan. perbedaan qira¶at yang terdapat dalam al-Qur¶an dapat dikategorikan dalam apa yang disebut oleh para ulama dengan ikhtilaf tanawwu¶ (perbedaan yang bersifat variatif) dan bukan ikhtilaf tadharub. Dan untuk membuktikan kesimpulannya itu.a tidak cukup hanya mengirim beberapa eksemplar mushaf tersebut ke berbagai wilayah Islam. Al-Qadhy kemudian memberikan catatan kritisnya terhadap masalah ini. Namun bersama dengan itu. Ketika Mushaf µUtsmany selesai ditulis. Kedua. Menurutnya. . Khalifah µUtsman bin µAffan r. bahwa al-Qur¶an ±dengan semua riwayat dan varian qira¶atnya. ia mencontohkannya dengan beberapa ayat al-Qur¶an. riwayat dan varian qira¶at itu sendiri telah tersebar dan ³digunakan´ di berbagai wilayah Islam sejak masa Rasulullah saw. Sehingga variasi qira¶at itu tidak lebih dari sekedar ijtihad dan pilihan para qurra¶.Dengan demikian. Karakter asal itu adalah ketiadaan titik dan tanda baca (harakat) yang dapat membedakan satu huruf dengan huruf yang lain. Hal ini yang kemudian ±menurut Goldziher. beliau mengirim pula para ahli al-Qur¶an untuk mengajarkan cara membacanya sebagaimana yang mereka terima dari Rasulullah saw. perbedaan qira¶at itu sudah ada.a.menyebabkan lahirnya berbagai kemungkinan variasi dalam qira¶at. baik dari segi pembacaan maupun kedudukannya dalam kalimat (iµrab).

Dan untuk ayat ketiga (al-Nas: 2). Keempat. Namun kenyataannya tidak demikian. 154H). Tidak hanya itu. dan ada pula yang membaca panjang (dengan alif setelah mim). mereka bahkan memiliki madzhab tersendiri dalam ilmu Nahwu dan menjadi tujuan utama para pengkaji ilmu tersebut. Sebagai contoh misalnya. maka tentu qira¶at apapun yang shahih dan memungkinkan untuk dibaca berdasarkan rasm µutsmany adalah qira¶at yang legal secara syar¶i. yaitu huruf mim tanpa alif sesudahnya. terdapat para ulama ahli bahasa Arab yang telah mencapai puncak keahlian di dalamnya. Namun ternyata. mereka tidak berani melampaui dan berkreasi melebihi apa yang telah diriwayatkan kepada mereka. Mengapa ³kasus ayat pertama´ tidak terulang pada kedua ayat ini? Bukankah baik bacaan panjang maupun pendek pada mim di kedua ayat terakhir ini sangat memungkinkan bila ditinjau dari sudut rasm µutsmany? Ini menunjukkan bahwa baik kesepakatan mereka untuk berbeda pada ayat pertama dan sepakat pada kedua ayat selanjutnya sepenuhnya berdasarkan riwayat dari Rasulullah saw. Demikian beberapa jawaban al-Qadhy terhadap kesimpulan Goldziher terkait dengan sebab kemunculan varian qira¶at Al-Qur¶an. maka niscaya aku akan membaca seperti ini pada huruf yang ini dan yang ini«¶´. Seperti telah disinggung sebelumnya. Akan tetapi para qurra¶ ternyata hanya berbeda saat membaca ayat pertama (al-Fatihah: 4). mereka sepakat untuk membacanya pendek (tanpa alif setelah mim). Jika karakter asal huruf Arab itulah yang menjadi satu-satunya sebab munculnya varian qira¶at. dalam hal qira¶at al-Qur¶an. Sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Abu µAmr ³rela´ menyelisihi madzhabnya sendiri dalam ilmu Nahwu demi mengikuti atsar dan riwayat. µSeandainya aku tidak harus membaca (al-Qur¶an) sebagaimana ia dibaca. bahwa ketika . Sementara untuk ayat kedua (Ali Imran: 26). Lagi-lagi riwayat adalah tulang punggung utama dalam menentukan keabsahan sebuah qira¶at. al-Ashma¶iy (w. Di antara mereka adalah Imam Abu µAmr bin al-µAla¶ al-Bashry (w. mereka sepakat untuk membacanya panjang (dengan alif setelah mim). Dalam deretan para qurra¶ yang sepuluh (al-Qurra¶ al-µAsyarah).Ketiga. Firman Allah Ta¶ala: [26: Kata [4: ] » (4) XÛTÿJg Ö@« YzóéWTÿ gÐYÕHTWÚ ¼ ] » gÐ<ÕSÙ<Ö@ ðÐYÕHTWÚ JðySäPVÕÖ@ XÔSTÎ ¼ [2: ] » (2) X§ PVÞÖ@ YÐYÕWÚ ¼ dalam ketiga ayat ini memiliki bentuk tulisan yang sama. Ada yang membaca dengan pendek (tanpa alif setelah mim). 828M) mengatakan. ³Abu µAmr mengatakan padaku.

Tidak pula pada perawi tertentu. baik itu dari kalangan al-Qurra¶ al-µAsyarah. Tidak ada satupun yang membaca dengan menggunakan huruf tsa¶ sebagai ganti huruf ba¶. namun ±sekali lagi. Maka ia pun ±menurut Goldziher. Sehingga (qira¶at yang disebutkan Goldziher ini ±pen) tidak termasuk dalam kategori qira¶ah yang mutawatir. sehingga menjadi oleh al-Qadhy. ayat 48: _ W X¤ gÇ W£`ÆKKV ô@ ñ HTW p²KV vuüW WTßWè ¼ : TWÚ N éSTÖ WTÎ `ØSäHùWÙ~Y©Y ØSäWTßéSTÊX£`ÅWÿ `ØS ÞRÒ WÚWè `yRÑSÅ`ÙW `ØRÑÞWÆ uøWÞpTçÆKV [48: ] » (48) WÜèS¤Yi<ÑWT `©WT Menurut Goldziher. 117H) ketika membaca ayat 54 dalam surah al-Baqarah: . juga tidak ada seorang pun dari empat qurra¶ tambahan lainnya. masyhurah. Sebagai contoh ±menurut Goldziher. Ia mengatakan.adalah apa yang dilakukan oleh Qatadah al-Bashry (w.mengangkat hal ini. Namun pernyataan ini dibantah YzóéTWÍHTWTÿ -YãYYYÚóéTWTÍYÖ uøWªéSÚ WӂWTÎ <¢MX«Wè ¼ ØS|W©SÉßKV óØS `ÙVÕðÀº óØRÑPVßMX« vN éTST éS TWTÊ WÔ` YÅ<Ö@ SØRÒY¢ W PYT @ Y óØRÑW©SÉßKV vN éTRÕS T<Î@ WTÊ óØRÑMXúg¤ W uøVÖXM [54: ]» Qatadah memandang bahwa hukuman ³bunuh diri´ dalam ayat ini terlalu ekstrim dan tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan oleh Bani Israil.memindahkan 2 titik yang terdapat pada huruf ta¶ dari atas ke bawah. sebagian ahli qira¶at membaca dengan mengganti huruf ba¶ pada kata yang digarisbawahi dengan huruf tsa¶. Kesimpulan Goldziher lainya yang dibantah oleh al-Qadhy adalah yang menyatakan bahwa pemahaman seorang penafsir klasik terhadap sebuah ayat juga turut berperan dalam lahirnya sebuah varian qira¶at. Tidak ada seorang pun ulama qira¶at yang memperdulikan dan bersandar padanya« Cukuplah sebagai bukti kemunkarannya bahwa ia tidak disandarkan kepada qari¶ (baca: ahli qira¶at) tertentu. menurut al-Qadhy dua di antaranya memang benar sebagai varian qira¶at yang tsabit (seperti yang terdapat dalam surah al-Nisa¶: 94).munculnya varian itu tidak bertitik tolak pada rasm Al-Qur¶an. bukan rasm dan khat. Dari 5 contoh yang diangkat oleh Goldziher ±terkait dengan kesimpulannya ini-. sehingga . Goldziher juga menyertakan contoh ayat-ayat yang dianggapnya sebagai bukti kebenaran kesimpulannya itu. shahihah atau syadz. Ini adalah bukti paling jelas yang menunjukkan bahwa yang menjadi pijakan dalam qira¶at adalah naqli dan sanad. Diantaranya surat al-A¶raf. tetapi semata-mata karena berasal dari jalur periwayatan yang shahih. Ia tidak lebih dari sebuah qira¶at yang tertolak.

Rasm µutsmany justru disusun dengan karakternya yang khas untuk mengakomodir ragam qira¶at tersebut. tidak memiliki sanad yang dapat diandalkan.´ Al-Qadhy membantah hal ini dengan ±sekali lagi. Apakah Al-Hajjaj bin Yusuf (w. dan Qatadah alBashry sendiri tidak diletakkan dalam barisan para qurra¶ serta tidak ada satupun qira¶at yang dinisbatkan kepadanya. al-Qadhy bahkan hampir memastikan bahwa qira¶at ini adalah sesuatu yang µdisusupkan¶ kepada Qatadah. Ini menunjukkan bahwa Qatadah sendiri memahami bahwa ³perintah bunuh diri´ dalam ayat ini adalah ³saling membunuh´ yang sesungguhnya. bahwa Qatadah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: µMereka berdiri dalam dua barisan shaf. Syeikh al-Mufassirin Imam Ibn Jarir al-Thabary menyebutkan dalam tafsirnya. Maka (pembunuhan) itu menjadi taubat bagi yang hidup. Penjelasan ini semakin dikuatkan oleh Al-Qadhy dengan menyatakan. dan taubat bagi yang masih hidup. Lalu berjatuhanlah senjata itu dari tangan mereka. Lahirlah varian qira¶at baru yang berbunyi . lalu saling membunuh satu sama lain. Dari Qatadah sendiri telah dinukilkan bahwa ia menafsirkan ayat ini dengan tafsir yang justru menyelisihi qira¶atnya itu. hingga dikatakan pada mereka untuk berhenti. yang berarti ³maka bertaubatlah sungguh-sungguh dengan menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Kesimpulan dari ini semua adalah bahwa perbedaan qira¶at sepenuhnya bertumpu pada riwayat (baca: wahyu). kecuali apa yang disebutkan Goldziher ini. hingga Allah menuntaskan hukumannya pada mereka.berubah menjadi huruf ya¶.menegaskan bahwa dasar pemunculan varian qira¶at sama sekali tidak berangkat dari ³terbukanya´ rasm µutsmany untuk kemungkinan bacaan tertentu. Di samping itu ±menurut al-Qadhy-. Maka mereka pun berdiri saling membunuh senjata tajam. 95 H) Melakukan Perubahan Terhadap AlQur¶an? . dan kesyahidan bagi yang mati. dan bukan merupakan hasil penyesuain terhadap karakter rasm µustmany. qira¶at Qatadah ini tidak pernah dinukil oleh para qurra¶ yang diakui. Allah pun menghentikan pembunuhan itu dari mereka. Maka (pembunuhan) itu menjadi kesyahidan bagi yang terbunuh.¶ Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya: µQatadah mengatakan: µ(Allah) memerintahkan kaum itu (Bani Israil) dengan perintah yang sangat berat. dan bukan µsekedar¶ sebuah penyesalan.

Najiyah bin Rumh. Ia seorang yang matruk. Seandainya pun al-Hajjaj mampu melakukan itu dengan kekuasaannya. Dan seperti yang kita lihat. Dan para ulama telah memberikan jawabannya sebagai berikut: 1. 2. Jika mereka menemukan mushaf . 3. Dalam perubahan yang dituduhkan pada al-Hajjaj itu. Ia bahkan menyuruh µAshim al-Jahdary. Salah satu yang menjadi pegangan tuduhan ini adalah riwayat µAuf bin Abi Jamilah yang menyebutkan bahwa al-Hajjaj telah mengubah 11 huruf dalam mushaf µUtsmany. 4. Ia dituduh telah melakukan perubahan dan membuang beberapa huruf mushaf µUtsmany. Ditambah lagi µAuf bin Abi Jamilah ± meskipun ia seorang yang tsiqah-. Salah satu perawinya adalah µAbbad bin Shuhaib.Ini adalah tuduhan klasik yang ditujukan kepada al-Hajjaj bin Yusuf. tapi sangat mustahil ia dapat menundukkan hati ribuan penghafal al-Qur¶an dan mengapus hafalan yang telah terukir di hati mereka. Atsar yang diriwayatkan oleh µAuf bin Abi Jamilah ini misalnya dha¶if jiddan (lemah sekali). haditsnya lemah dan salah seorang da¶i qadariyah. bahwa al-Hajjaj dengan segala kezhalimannya tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang pemimpin yang sangat keras perhatiannya terhadap mushaf µUtsmany. Satu hal yang juga patut dicatat. Al-Hajjaj hanyalah seorang gubernur di sebuah kota Islam. riwayat ini terkesan menyudutkan Khilafah Umawiyah. Sangat tidak logis jika ia mampu melakukan sebuah ³revolusi´ sedahsyat ini tanpa mendapatkan penentangan. bahwa ia menulis 6 mushaf yang kemudian dikirim ke berbagai wilayah. dan justru menguatkan tuduhan kaum Syi¶ah bahwa al-Qur¶an telah mengalami penyimpangan. baik dari atasannya maupun para ulama Islam. lalu mengumpulkan semua mushaf tua kemudian melenyapkannya. Riwayat-riwayat yang dijadikan landasan tuduhan ini sangat lemah. dan bahwa semua itu ia lakukan demi mencari muka dengan cara meneguhkan Khilafah Umawiyah. tidak ada satupun yang menunjukkan dukungan terhadap Bani Umayyah dan pembatalan terhadap Khilafah Abbasiyah. Tuduhan ini sebenarnya sangat tidak berdasar. diantaranya : $`ãTPVÞW©W WTÿ ØVÖ (al-Baqarah: 259) dan &‚_TT± ‚Wä`ÞTYÚWè àWÆó£Y® (al-Ma¶idah:48). namun ia tertuduh qadariyah dan tasyayyu¶. dan µAli bin Ashma¶ untuk meneliti mushaf yang tersebar di tengah masyarakat.

Mushaf ini kemudian tetap berada di Madinah selama beberapa waktu setelah terbunuhnya µUtsman. dimana pada beberapa lembaran mushaf itu ditemukan noda darah beliau r. hingga akhirnya tidak terdengar kabarnya sejak tahun 745 H ±ketika mushaf itu dikembalikan oleh Portugal kepada Sultan al-Mariny di Fas. Istanbul.. 2. Lalu kemudian menghilang entah ke mana. bahwa mushaf ini ada di Tashkend 4. Adapun lembaran-lembaran lainnya. bahwa mushaf ini tersimpan di Museum Topkapi. Salah seorang peneliti yang menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar adalah DR. Sahar al-Sayyid dalam makalahnya yang berjudul ³Adhwa¶ µala Mushaf µUtsman Radhiyallahu µAnhu wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban´. Ia hanya mengandungi 4 lembar saja (dari naskah aslinya ±pen). ³Saya kira untuk menyingkap kekaburan yang menyelimuti mushaf µUtsman al-Imam adalah mushaf yang mulanya tersimpan di Jami¶ Cordova itu bukanlah mushaf utuh yang dahulu dibaca µUtsman pada hari kematiannya. beliau menjelaskan bahwa persoalan ini bermula dari keberadaan mushaf yang dahulu dipegang oleh Khalifah µUtsman hingga beliau menemui syahidnya. ia kemudian menyatakan.yang menyelisihi mushaf µUtsmany.a. Dr. maka ia adalah hasil transkrip yang sama dengan sistem mushaf µUtsmany. hingga kemudian beberapa mesjid di wilayah Islam mengaku menyimpan mushaf tersebut. Sahar al-Sayyid menyebutkan 5 tempat yang mengaku menyimpan mushaf tersebut ± dan ia juga sekaligus membantah kebenaran klaim tersebut secara panjang lebar: 1. Setelah membantah klaim keberadaan mushaf ini. maka mereka mengambilnya dan menggantinya dengan 60 dirham untuk pemiliknya. Masih Adakah Manuskrip al-Mushaf al-Imam? Yang dimaksud oleh pertanyaan ini adalah apakah dari sekian naskah mushaf µUtsmany yang disiapkan oleh Khalifah µUtsman dan timnya masih ada yang tersisa hingga saat ini? Persoalan ini telah lama menjadi pertanyaan dan karena itu pula ada banyak dugaan yang berkitar di sekelilingnya. bahwa mushaf ini ada di Himsh (Suriah) 5. Dalam makalah tersebut. bahwa mushaf tersimpan di Mesir.´ Lalu ia kemudian menggambarkan perpindahan mushaf itu dari satu tempat ke tempat lain. Meskipun ada yang bersikeras . bahwa mushaf ini tersimpan di Bashrah 3. saat terbunuh..

mesin cetak mulai dikenal pada tahun 1706. Yunani. 2. sebuah metode yang dari zaman ke zaman telah membuktikan bahwa ia tidak akan membiarkan satupun kesalahan yang menyimpang dari mushaf µUtsmany. Tetapi terlepas dari itu semua. Sedangkan di wilayah Arab lainnya. Ghanim Qaduri menguatkan pandangan bahwa sudah sangat sulit saat ini untuk menemukan naskah utuh dari mushaf yang ditulis pada abad pertama atau kedua hijriyah. Meskipun pada mulanya. negara asal Guttenberg. Dalam imigrasi itu mereka membawa serta mesin cetak untuk beberapa bahasa: Ibrani. Dan itu semua membutuhkan bukti materil yang kuat dan penelitian dari berbagai sudut. Tidak lama setelah itu. budaya dan peradaban. Guttenberg sangat merahasiakan penemuannya ini. karena landasan utama penukilan alQur¶an adalah riwayat dan talaqqi dari generasi ke generasi. Latin dan Spanyol. Adapun di wilayah Timur (Islam dan Arab). maka sejarah mencatat bahwa Turki merupakan negara yang pertama kali menerima teknologi ini.[58] Dan pada tahun 1486 M. pada tahun 1465. pada tahun 1471 di Barcelona.dengan keberadaan mushaf ini. namun DR. mesin yang sama muncul di Roma. ada atau tidaknya naskah manuskrip al-mushaf al-imam ini sama sekali tidak mempengaruhi orisinalitas al-Qur¶an. dan pada tahun 1474 di Inggris. di Lebanon. mesin cetak mulai dikenal pada tahun 1610. pada tahun 1470 di Paris. ditemukanlah mesin cetak pertama dengan menggunakan huruf Arab. pemunculan mesin cetak dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. di Suria. Ini terjadi sekitar tahun 1551 M. PENULISAN AL-QUR¶AN PASCA PENEMUAN MESIN CETAK PADA TAHUN 1436 M (840 H) Tidak dapat dipungkiri bahwa penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1436 M (840 H) menjadi awal baru yang cemerlang bagi penyebaran ilmu. . Diduga teknologi ini masuk bersama dengan masuknya imigran Yahudi ke wilayah Khilafah µUtsmaniyah. namun dengan cepatnya penemuan ini menyebar ke berbagai wilayah Eropa lainnya di luar Jerman.

pemunculan mesin cetak sangat terkait dengan invasi Napoleon Bonaparte terhadap Mesir pada tahun 1798. yaitu pada tahun 1879. dan kesalahan lain terkait dengan penamaan surat. terdapat perbedaan pandangan tentang hal ini. teknologi ini mulai dikenal pada tahun 1909. tapi untuk mempelajari Bahasa Arab dan Islam. sedangkan di kawasan Jazirah Arabia. Cetakan ini terdiri dari 560 halaman. percetakan al-Qur¶an pertama setidaknya dilakukan di tiga tempat di Eropa: 1. . 5. Venesia atau Roma pada kisaran tahun 1499 sampai 1538 M. 4. Cetakan ini memiliki kelebihan dari segi penggunaan jenis huruf yang lebih bagus dari 2 versi cetakan sebelumnya. Sedangkan di wilayah Hijaz (Saudi Arabia). Percetakan Al-Qur¶an Pertama Menurut DR. hilangnya huruf tertentu dari satu kata. 3. Yahya menyebutkan bahwa cetakan ini masih tersimpan hingga kini di beberapa perpustakaan dunia. Tetapi yang pasti salah satu dari versi cetak ini ditemukan oleh Angela Novo di perpustakaan seorang pendeta di Bunduqiyah. Terdapat penggantian posisi huruf. di Palestina dan Yordania pada tahun 1830. DR. Ia menegaskan bahwa tujuannya menjalankan proyek ini bukan untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan orang Protestan. serta terjemah dan catatan komentar terhadapnya. 2. Proyek percetakan ini dilakukan oleh seorang orientalis Jerman yang beraliran Protestan. Hamburg pada tahun 1694. Batavia pada tahun 1698. Yahya Mahmud Junaid. Ebrahami Hincklmani. dicetak dengan tinta hitam. negara pertama yang mengenal mesin cetak adalah Yaman. Termasuk juga siapa yang memimpin proyek ini.3. dengan berbagai dugaan seputar motivasi pemusnahan itu. Versi cetakan ini terdiri teks al-Qur¶an itu sendiri. seperti Dar al-Kutub al-Mishriyyah dan Perpustakaan Universitas King Su¶ud di Riyadh. Versi ini sendiri disiapkan oleh seorang pendeta Italia bernama Ludvico Marracei Lucersi. namun sangat disayangkan memiliki banyak sekali kesalahan. di Mesir. Di Irak juga mesin ini mulai dikenal pada tahun yang sama. Namun juga kemudian disepakati bahwa cetakan ini lalu dimusnahkan atas perintah Paus saat itu.

Salah satu sebabnya adalah karena cetakan-cetakan tersebut menyelisihi kaidah rasm µutsmany yang shahih. yang lebih dikenal sebagai al-Mikhallalaty. Syekh Muhammad µAli al-Najjar. semuanya memiliki kesalahan yang sama dengan mushaf-mushaf versi Eropa. muncul pula cetakan lain di Qazan yang dipimpin oleh Muhammad Syakir Murtadha. yang diupayakan oleh Flugel. yaitu tidak mematuhi tata rasm µustmany dan lebih banyak menggunakan rasm imla¶iy. meski tidak mencantumkan nomor-nomor ayat. muncul sebuah cetakan khusus mushaf al-Qur¶an di kota Luzig. Di sini patut dicatat bahwa meskipun kalangan Eropa memiliki perhatian khusus dalam upaya percetakan mushaf al-Qur¶an. Dan ia menjadi pilihan utama diantara semua jenis mushaf yang ada. Syekh Ali Muhammad al-Dhabba¶ dan Syekh µAbdul Halim Basyuni. Pittsburg-. beliau komitmen dengan rasm µutsmany dan memberikan tanda waqf . Mushaf versi ini kemudian dikenal dengan nama mushaf al-Mikhallalaty. Ketika cetakan pertama ini habis. Seperti yang muncul di Teheran pada tahun 1828 dan 1833 M. Versi ini juga disertai dengan lembar koreksi yang memuat kesalahan cetak dan koreksinya. Versi ini juga komitmen menggunakan rasm µutsmany dan penggunaan tanda waqf. Beberapa cetakan mushaf di wilayah Islam yang juga pernah muncul ternyata sama saja. dan mendapatkan sambutan di dunia Islam. Syekh Mushthafa µInany dan Syekh Ahmad al-Iskandary. suatu hal yang kemudian mendorong para ulama al-Azhar untuk membentuk panitia penulisan baru yang terdiri atas: Syekh Muhammad µAli Khalaf al-Husainy. Cetakan ini terdiri dari 466 halaman. Lalu di tahun 1848. Cetakan pertama mushaf ini muncul pada tahun 1923 M. Percetakan ini kemudian mencetak sebuah mushaf yang ditulis oleh seorang ulama qiraat bernama Syekh Ridhwan bin Muhammad. Hanya saja kualitas kertas dan cetakannya agak buruk. Kondisi terus berlanjut hingga tahun 1890 M. di Mesir kembali dibentuk sebuah lajnah yang dipimpin langsung oleh Syeikhul Azhar dan beranggotakan: Syekh Abdul Fattah al-Qadhy. ia juga menuliskan pengantar yang memuat penjelasan tentang sejarah penulisan al-Qur¶an dan rasm berdasarkan kitab al-Muqni¶ karya Imam al-Dany dan kitab al-Tanzil karya Abu Dawud. . juga muncul cetakan mushaf alQur¶an yang dipimpin oleh Maulaya µUtsman. Disamping itu.Pada tahun 1787. Syekh Hifny Nashif. namun hasil upaya ini belum mendapatkan perhatian kaum muslimin. Dalam mushaf ini. juga di India dan Turki sejak tahun 1887. di Rusia ±tepatnya di St. ketika sebuah percetakan bernama alMathba¶ah al-Bahiyyah berdiri di Kairo. Pada tahun 1834.

dan beberapa ulama lainnya. mereka juga telah bersepakat dengan seorang ahli khat ternama. awal setiap halaman dimulai dengan ayat baru. pada tahun 1947 dimulailah proses percetakan mushaf ukuran besar. Setelah melewati proses penulisan dan koreksi selama 5 tahun. 2. nisf hizb dan rubu¶ hizb ditandai dengan tanda lengkungan bulan sabit. dan akhir setiap halaman ditutup dengan akhir ayat pula. rasm. Surat kabar Umm al-Qura edisi 19 Mei 1950 menyebutkan beberapa karakteristik mushaf ini. Abd al-µAziz Al-Su¶ud memberikan dukungan moril dan materil kepada para pelaksana proyek ini. tafsir dan ulumul Qur¶an. Selain itu. Mushaf Makkah al-Mukarramah ini kemudian mendapatkan sambutan yang hangat. dicetaklah mushaf dengan ragam ukuran lainnya. Syekh µAbd al-Zhahir Abu al-Samh ±imam dan khathib Masjidil Haram-. setiap juz terdiri dari 20 halaman.Tim ini kemudian memeriksa ulang mushaf dengan merujuk kepada kitab-kitab qiraat. draft mushaf itu kemudian diperiksa ulang oleh sebuah team ulama.000 real. dan akhir setiap juz juga diakhiri pada akhir halaman. Seiring dengan itu. yang kemudian diselesaikan pada akhir tahun 1949. usaha percetakan al-Qur¶an pun berjalan di berbagai belahan dunia Islam. Setelah itu disiapkanlah cetakan kedua mushaf al-Qur¶an dalam bentuk yang lebih teliti. 3. Setelah diperiksa oleh tim ini. kecuali juz amma. antara lain: 1. Setelah al-Kurdy menyelesaikan tugasnya. ketika sebuah edisi mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf Makkah al-Mukkaramah dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah al-Mukarramah. hizb. Ustadz Muhammad Thahir alKurdy untuk menulis mushaf yang sesuai dengan kaidah rasm µutsmany. . Percetakan Mushaf di Saudi Arabia Percetakan mushaf di Saudi Arabia bermula pada tahun 1949. perusahaan ini mendatangkan sebuah mesin cetak dari Amerika untuk mencetak mushaf dengan berbagai ukuran. 4. permulaan juz dimulai dari awal halaman. Lalu setelah itu. Bahkan Raja Saudi waktu itu. di Saudi bahkan di luar Saudi. Dengan modal awal 200. draft tersebut kemudian dikirim kepada Masyikhah al-Azhar yang kemudian mengesahkan draft mushaf tersebut. Mekkah-. seperti al-Sayyid Ahmad Hamid al-Tijy ±seorang guru qiraat di Madrasah al-Falah.

2. PENUTUP . dan Nigeria. pusat perbelanjaan. Berikut ini sekilas program kerja Kompleks Percetakan ini: 1. Proses percetakan di Majma¶ ini berjalan sangat ketat. dan Mauritania). Merekam bacaan al-Qur¶an dengan suara para qurra¶ yang masyhur. restoran. Kompleks percetakan ini berdiri di atas tanah seluas 250. ditambah Senegal. tepatnya pada tahun 1979.Tiga puluh tahun kemudian. Tunisia. rumah sakit. Bahkan pekerja yang berhasil menemukan satu kesalahan akan mendapatkan imbalan bonus dari pihak penanggung jawab percetakan ini. muncul pula mushaf edisi baru yang dicetak di kota Jeddah. Mencetak mushaf al-Qur¶an sesuai qira¶at riwayat Hafsh dari µAshim ±qira¶at yang dibaca oleh mayoritas kaum muslimin di dunia-. Aljazair. jumlah ayatnya 6214 ayat. Qira¶at ini dibaca di sebagian besar negara-negara Maghrib (Maroko. 5. tepatnya di kota Madinah al-Munawwarah. 3. Saat ini sedang menyiapkan pencetakan mushaf berdasarkan qira¶at riwayat Qalun dari Nafi¶ al-Madany. dan tidak hanya mencakup kantor dan percetakan. Ditulis dengan khat maghribi yang sesuai dengan rasm µutsmany. Mencetak terjemahan al-Qur¶an dalam berbagai bahasa dunia. Chad. Ini untuk memudahkan pengusutan kesalahan yang terjadi dalam proses pengerjaan. Ditulis sesuai dengan rasm µutsmany. Setiap pengawas dan pemeriksa dilengkapi stempel khusus yang dibubuhkan pada bagian akhir mushaf. Mencetak mushaf al-Qur¶an sesuai qira¶at riwayat Warsy dari Nafi¶ al-Madany.000 meter persegi. 4. Hingga akhirnya pada tahun 1984 (bertepatan dengan bulan Muharram 1405 H). pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka sebuah percetakan alQur¶an terbesar di dunia. dan jumlah ayatnya 6236 ±sesuai versi kufy-. lapangan olah raga dan sarana lainnya. tapi juga perumahan.

Inovasi apapun yang dikembangkan dalam penulisannya. Hal ini terbukti oleh perjalanan sejarah. kita dapat melihat bahwa mushaf µUtsmany telah melalui perjalanan yang sangat panjang melintasi kurun waktu 14 abad lamanya. kalimat per kalimat.Dari uraian di atas. sama sekali tidak mengubah eksistensinya sebagai Kalamullah. khususnya yang menggeluti bidang al-Qur¶an dan semua bidang ilmunya. di media apapun ia ditorehkan. Berbagai inovasi kemudian dikembangkan dalam penulisan ulang dan penggandaan naskahnya. Ini tentu saja tidak lepas dari metode pewarisan yang sangat unik dalam menyampaikan al-Qur¶an dari kurun demi kurun. DAFTAR PUSTAKA . dimana tak satu pun upaya untuk menyimpangkan isinya melainkan dengan segera tersingkap di tangan para ulama. huruf demi huruf. alQur¶an yang termuat didalamnya tetap terjaga keasliannya. dengan tulisan siapapun ia dituliskan. Wallahu a¶lam bi al-shawab. Seperti yang dijelaskan para ulama akidah: dengan lisan siapapun ia dibacakan. kata per kata. Tetapi selama itu pula. al-Qur¶an tetaplah Kalamullah.

asp?section=4&l=arb&f+write0005&trans= 4.com/Display. Al-Khat al-Qur¶any wa al-Khat al-Imla¶iy. Thiba¶ah al-Mushaf al-Syarif fi al-Mamlakah al-µArabiyyah al-Su¶udiyyah.asp?section=4&l=arb&f+write0014&trans .com/Display. www.qurancomplex.com/Display.net/ver2/archive/printarticle.php?id=14680. Nuqath al-Mushaf al-Syarif.asp?section=4&l=arb&f+write0003&trans 6. Uslub al-µAmal fi Kitabah Mashahif al-Majma¶ wa Thab¶iha.qurancomplex. Al-Qur¶an Taufik Adnan Amal. www. Al-Thaba¶at al-Mubakkirah li al-Mushaf al-Syarif. www.php?page=article&mode=print&id=108 5. www.qurancomplex. www. antara Fakta dan Fiksi: www. 2.qurancomplex.asp?section=4&l=arb&f+write0010&trans 7.asp?section=4&l=arb&f+write00013&trans= 3. www.islamweb.1.islamlib. Tathawwur al-Kitabah al-µArabiyyah.asp?section=4&l=arb&f+write0011&trans 8.com/Display.com/Display. www.qurancomplex.com/Display.qurancomplex.com/id/index. Majma¶ al-Malik Fahd li Thiba¶ah al-Mushaf al-Syarif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful