ANALISIS PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH DI PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE TAHUN ANGGARAN 2000-2002

SKRIPSI

Oleh: Nama : Ronald Hariyanto Nomor Mahasiswa : 00313045 Program Studi : Ekonomi Pembangunan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2005

ANALISIS PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH DI PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE TAHUN ANGGARAN 2000-2002

SKRIPSI
disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1 Program Studi Ekonomi Pembangunan, pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Oleh:

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Ronald Hariyanto : 00313045 : Ekonomi Pembangunan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2005

PENGESAHAN
ANALISIS PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH DI PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE TAHUN ANGGARAN 2000-2002

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Ronald Hariyanto : 00313045 : Ekonomi Pembangunan

Yogyakarta, Januari 2006 telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing,

Drs. Agus Widarjono, MA

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

“Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang merupakan penjiplakan karya orang lain seperti dimaksud dalam buku pedoman penyusunan skripsi Program Studi Ekonomi Pembangunan FE UII. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman/sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, Januari 2006 Penulis,

Ronald Hariyanto

et al.……40 4..2.6 1.36 4.……………………………..1..………………………….……..2.43 4.…………….15 2.…37 4.. Latar Belakang Masalah………………………………………………………1 1... The Displacment Effect………. Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah…………………………….1.3.………..2.1. Penelitian Jin..10 2. Luas Wilayah……………………………………………………………….4....3.. Konsep Otonomi Daerah…………………………………………………. Dana Perimbangan……………………………………………………..……………………25 BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS………………………………29 4...43 4.9. Sistematika Penulisan…………………………………………………….11 2. Penelitian Azwar. Dana Bagi Hasil………………………………………………….6.7.3...…….1.……………..………..………21 3...…44 . Wilayah Administrasi………………………………………………………...10 2.. Iklim…………………………………………………………………………11 2.1.1.1.……..10 2. Landasan Hukum………………………………………………………….. Model Pembangunan Perkembangan Pengeluaran Pemerintah……….1.…19 BAB III KAJIAN PUSTAKA……………………………………………. Manfaat Penelitian…………………………………………………………..5.3. Udjianto……………………….4.……………….vi Halaman Daftar Gambar………….2.……38 4..……….2.iv Halaman Daftar Tabel…………………………………………………………….4. Penelitian Agung Nugroho………………………….21 3..5.1..vii BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………1 1. Hukum Wagner…………………………………………………….3.2..……34 4. Dana Alokasi Umum…………………………………………….2.……....1.….8.8 BAB II TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN……………………….1.29 4. Qian.. Penelitian Didit W..……….4. Pendapatan Daerah…………………………………………………………...iii Halaman Daftar Isi……………………………………………………………….1. Letak Geografis………………………………………………………..……………………………………. Dana Alokasi Khusus………………………………………………….….…….17 2.1..…….2.1.7 1.2.……43 4. dan Weingast………………………………....6 1.1. Pengeluaran Daerah……………………………………………………….4.2.22 3.i Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme…………………………………. Hipotesis Penelitian……………………………………………………….1. Rumusan Masalah…………………………………………………. Pertumbuhan Ekonomi………………………………………………..ii Halaman Pengesahan Skripsi……………………………………………………..10 2.11 2.5.42 4.DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul………………………………………………………….….…………25 3.…………23 3.3. Tujuan Penelitian………………………………………………….4. Teori Pengeluaran Pemerintah……………………………………….………...4. Penelitian Litvack dan Seddon………………………. Dana Perimbangan………………………………………………………..

…………………...4..7..………………64 6.…………….60 6.46 5. Uji t-Statistik………………………….. Deskripsi Variabel……………………………….3.1.53 5. Uji F-Statistik………………………….51 5.69 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN . Koefisien Determinasi (R2)…………….48 5.…………………….3. Metode Analisis……………………………………………………………. Uji Signifikansi Fixed atau Random Effect……….1.2.1.2.……………61 6.3.. Implikasi………………………..66 BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI……..1. Slope Konstan Tetapi Intersep Berbeda antar Waktu……….3.…………………………………57 5.53 5.8. Uji Koefisien R2…………………………………………………………65 6. Uji Signifikansi Fixed Effect……………………………………….………. Pengujian Hipotesa………………………………………………………….……………………………………………. Uji Signifikansi Random Effect……………………. Metode Pengumpulan Data………………………………………………….55 5. Pengujian Hipotesis………………………………………………………….8.64 6.2..………….……………………………….1.3.6. Uji t-Statistik………….1.3.59 6.………………………….3.3. Model Random Effect……………………………………………………….67 7...4...3..57 5. Deskripsi Data…………………………………….………………………..…………………………………57 5. Uji F-Statistik………….1.3.1..……………………………67 7.2..…………………50 5.8.………..…………………………………………………65 6.54 5. Pemilihan Teknik Estimasi Regresi Data Panel………….BAB V METODE PENELITIAN……………………………………………….2..45 5. Uji Signifikansi Random Effect……………………………….5. Koefisien Tetap antar Waktu dan Individu……………….52 5..8. Metode Fixed Effect…………………………………………………………45 5.58 BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN………………………….…………………..1.2.46 5.…………………………………. Kesimpulan…………………………………………………………………...50 5. Uji Signifikansi Fixed Effect……………………………………………. Interpretasi……………………………………………….3.2..

Estimasi Persamaan Regresi ….DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman I..………………………………………………71 .

35 4.2. Perkembangan Pengeluaraan Pemerintah…………………………….DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2. Pertumbuhan Ekonomi Rata-rata perTahun………………………. Pengeluaran Pemerintah pada Keynesian Cross………………..1.…14 4.3.. Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah Menurut Wagner……….…….38 4..….40 .1..

Hal ini menunjukkan desentralisasi telah menjadi pilihan bagi banyak negara sebagai bagian dari kebijakan ekonomi pemerintah. Hal itu tidak terlepas dari kegagalan dari sejumlah birokrasi yang sentralistis dibawah rejim pemerintahan sebelumnya di negara berkembang yang mengalami transisi demokrasi. Meski demikian. Dalam MartinezVazquez dan McNab (2001) Brennan dan Buchanan (1980) menyatakan bahwa desentralisasi dipandang sebagai upaya untuk membedakan dengan rezim penguasa sebelumnya yang dianggap terlalu sentralistis sehingga tidak memberikan kesempatan kepada daerah untuk berkembang. Tailant (1994) menyatakan bahwa desentralisasi dipandang sebagai bentuk pelimpahan otoritas fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Peraturan dan hukum di tingkat daerah dan pusat yang berjalannya seiring lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Begitu pula sentimen . desentralisasi tidaklah menjamin keberhasilan suatu pemerintahan.1. Isu di banyak negara bukan lagi apakah akan melaksanakan desentralisasi. namun bagaimana bentuk desentralisasi yang terbaik.BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini desentralisasi dipandang sebagai suatu alat kebijakan yang efektif dalam menangani sejumlah masalah berkaitan dengan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di dalam suatu negara demokrasi.

sumberdaya. pada keadaan itu. et al. Banyak upaya desentralisasi di berbagai negara yang mengalami kegagalan. Bagi Propinsi Jawa Tengah. sistem fiskal dipandang sebagai sumber pemecahan masalah (Bird dan Wallich.separatisme yang seringkali membayangi upaya desentralisasi. 105 Tahun 1994 yaitu tentang penunjukan 26 daerah tingkat II sebagai proyek percontohan otonomi daerah yang tersebar di 26 propinsi di seluruh Indonesia (Koen. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. dan kesempatan ekonomi di berbagai daerah. serta lemahnya pengakuan hak milik (property rights) turut mendorong kegagalan itu. 2001. Selain itu. Semangat untuk melakukan otonomi daerah telah ditunjukkan oleh pemerintah sejak tahun 1992 dengan dikeluarkannya PP No. 45 Tahun 1992 tentang penyelenggaraan otonomi daerah dengan titik berat pada daerah tingkat II. 2001). kegagalannya seringkali dikaitkan dengan masalah ekonomi. xvi) Pada tanggal 1 Januari 2001 merupakan awal penerapan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. tidak sejalannya sistem perpajakan dan terbelakangnya hukum yang mengatur kontrak. Kebijakan tersebut mengacu pada UU No.. Kebijakan desentralisasi telah menjadi pilihan baik di negara maju maupun negara berkembang dalam menjalankan kebijakan ekonominya (MartinezVazquez dan McNab. Namun. 1994). otonomi daerah merupakan tantangan yang tidak ringan karena otonomi . Hal tersebut diikuti dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) No. Sumber kegagalan desentralisasi beragam. tidak terkecuali di Indonesia. yaitu ketimpangan pendapatan.

juga ditujukan bagi peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. lembaga ekonomi. Rendahnya kemampuan keuangan daerah akan sering menimbulkan siklus negatif. yaitu rendahnya tingkat pelayanan masyarakat yang pada gilirannya akan mengundang campur tangan pusat. Sebagai konsekuensi atas pelaksanaan UU No. kebijakan pemerintah daerah tidak dapat dipungkiri lagi harus menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan pada masyarakat. Hal ini berarti otonomi daerah tidak dapat dipandang sebagai sebuah kegagalan. atau bahkan dapat menyebabkan dialihkannya sebagian fungsi-fungsi pemerintah daerah ke tingkat pemerintahan yang lebih atas. serta seluruh potensi masyarakat dalam wadah NKRI. Maka melalui pengolaan keuangan daerah. Oleh karena itu. . politik. 25 Tahun 1999 adalah bahwa daerah harus mampu mengembangkan otonomi daerah secara luas. hukum. Kapasitas keuangan pemerintah daerah akan menentukan kemampuan pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahannya (Suwandi. 22 dan UU No.daerah yang didasari atas kesadaran bahwa peluang bagi daerah untuk membuktikan kemandiriannya. nyata. dan bertanggung jawab dalam memberdayakan masyarakat. selain bertujuan untuk meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan. Otonomi daerah harus diarahkan pada keberhasilannya dengan dukungan pendanaan yang memadai melalui perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah pemerintah daerah harus memiliki sumber-sumber keuangan yang memadai untuk membiayai penyelenggaraan otonominya. 2000).

dan pelayanan masyarakat di daerah (Halim. Peran pemerintah daerah dalam menggali dan mengembangkan berbagai potensi daerah sebagai sumber penerimaan daerah akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas pemerintahan. Akan tetapi ada fakta bahwa daerah tidak akan mampu membiayai pengeluarannya baik itu pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan jika hanya menggandalkan dari sektor Pendapatan Asli Daerah. Dana perimbangan tersebut diberikan sesuai dengan potensi daerah masing-masing atau arti lainnya daerah yang satu tidak sama dengan daerah lainnya. makin besar potensi daerah tersebut maka semakin besar dana . pembangunan. Oleh karena itu.Di sisi lain kemampuan keuangan pemerintah daerah masih sangat tergantung pada penerimaan yang berasal dari pemerintah pusat. 2001). Hal tersebut dapat dilihat dari Propinsi Jawa Tengah yang memilki 35 Daerah Tingkat II yang terdiri dari 29 Kabupaten dan 6 Kota memiliki penerimaan dan pengeluaran keuangan pemerintahan yang masing-masing berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya. yang mana setiap pengeluaran pemerintah yang dilakukan berdasarkan kepemilikan pendapatan yang berupa penerimaan dari potensi-potensi daerah. dalam rangka desentralisasi kepada setiap daerah dituntut untuk dapat membiayai diri melalui sumber-sumber keuangan yang dikuasainya. oleh karena itu pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan untuk pemberian bantuan dalam keuangan pemerintah daerah dengan dana perimbangan. penerimaan laba Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan penerimaan lain-lainnya yang sah. atau yang lebih dikenal dengan Pendapatan Asli Daerah yang antara lain komponen komponennya terdiri dari penerimaan pajak dan retribusi daerah.

278. 23.951.000 mendapatkan dana perimbangan sebesar Rp.063. 129.825.000 dan dana perimbangannya sebesar Rp.317. 8.876.556. .perimbangan yang diberikan untuk melakukan pengeluarannya yang kita ketahui berupa pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Sehubungan dengan hal tersebut maka penulis dalam penulisan skripsi ini memilih judul ANALISIS PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH DI PROPINSI JAWA TENGAH PERIODE TAHUN ANGGARAN 2000-2002.608.265.838. apabila di Kabupaten Cilacap memiliki jumlah penduduk sebesar 1.315.000 dengan jumlah PADnya sebesar Rp. selain itu jumlah penduduknya juga terpaut jauh. maka dapat diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai pengeluaran pemerintah 35 Kabupaten dan Kota di Propinsi Jawa Tengah. Beberapa variabel tersebut diduga mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai pengeluaran pemerintah.893 jiwa. Hal tersebut kita bandingkan dengan Kabupaten Sragen yang memiliki pengeluaran pemerintah sebesar Rp. Berdasarkan latar belakang masalah diatas. 155. yang mana Kabupaten Sragen ini tidak memiliki potensi daerah yang besar atau dalam arti lainnya tidak memilki sumber daya alam yang potensial.000.488 jiwa di Kabupaten Sragen hanya sebesar 844.922. 84. Dana Perimbangan dan Jumlah Penduduk.000. seperti contohnya adalah Kabupaten Cilacap yang merupakan Kota yang memiliki sumber daya alam berupa minyak yang cukup banyak mempunyai tingkat pengeluaran pemerintah sebesar Rp. 19. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pengeluaran Pemerintah. PAD.371.000 dengan tingkat PAD sebesar Rp.

Untuk menganalisa pengaruh pengaruh Jumlah Penduduk dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2000-2002. Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas.1. 2. Seberapa besar pengaruh tingkat PAD dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah. baik untuk mengantisipasi ataupun mengendalikan. Seberapa besar pengaruh Jumlah Penduduk dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah. 1. Seberapa besar pengaruh Dana Perimbangan dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah . mengetahui rumusan masalah merupakan suatu langkah yang harus dilakukan. Rumusan Masalah Dalam pemecahan suatu masalah.2. 2. 3. dapat dikemukakan masalah. . Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. langkah tersebut sangat penting sebagai landasan dalam menyikapi permasalahan tersebut dimasa yang akan datang. 3. Untuk menganalisa pengaruh Dana Perimbangan dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah tahun anggaran 20002002.3. yaitu: 1. Untuk menganalisa pengaruh PAD dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di Propinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2000-2002.

Dana Perimbangan. dan Jumlah Penduduk dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di 29 Kabupaten dan 6 Kota di daerah Jawa Tengah pada periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2002. yaitu variabel PAD. penelitian ini juga diharapkan dapat berguna sebagai langkah pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan tentang langkah yang diambil dalam menentukan kebijakan fiskalnya ( keuangan ). Bagi penulis penelitian ini merupakan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah diperoleh dibanku kuliah serta sebagai prasyarat untuk mendapat gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.4. . dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.1. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yakni memberikan informasi dan gambaran kepada pembaca mengenai seberapa besar pengaruh dari variabel-fiskal dan non-fiskal. Selain itu.

batasan masalah. perumusan masalah. BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang semua temuan – temuan dari hasil penelitian dan analisa data. BAB III KAJIAN PUSTAKA Bab ini membahas mengenai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. BAB IV LANDASAN TEORI Bab ini berisi tentang teori-teori yang digunakan untuk mendekati permasalahan yang akan diteliti. tujuan penelitian. BAB V METODE PENELITIAN Bab ini berisi tentang metode yang digunakan dalam penelitian untuk mencapai tujuan penelitian dan untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis.5. manfaat penelitian. Sistematika Penulisan Guna mempermudah dalam melakukan penulisan maka penulis menyusun dan membahas tulisan ke dalam 7 bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang. . BAB II TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN Bab ini berisi tentang uraian atau deskripsi atau gambaran secara umum atas obyek penelitian. hipotesis penelitian.1.

Implikasi Bagian ini berisi tentang implikasi praktis apa yang dimunculkan sebagai saran dan masukan atas hasil penelitian yang telah dilakukan. yaitu: 1. 2. . Kesimpulan Bagian ini berisi tentang simpulan-simpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya.BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Bab ini berisi dua hal.

letaknya diapit oleh dua Propinsi besar.25 juta hektar atau sekitar 25. Berikutnya lahan kering yang dipakai untuk tegalan/kebun/ladang/huma sebesar 34. Luas yang ada terdiri dari 1. selainnya berpengairan setengah teknis. Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa).04 persen dari luas pulau Jawa (1.36 persen dari . yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Letak Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa. Menurut penggunaannya. luas lahan sawah terbesar berpengairan teknis (38.80 persen) lahan sawah dan 2. Landasan Hukum Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. Letaknya 5o40' dan 8o30' Lintang Selatan dan antara 108o30' dan 111o30' Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa).00 juta hektar (30.2.26 persen).70 persen luas Indonesia). Luas Wilayah Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota.3.1. 2. potensi lahan sawah yang dapat ditanami padi lebih dari dua kali sebesar 69. tadah hujan dan lain-lain.25 juta hektar (69. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950. 2.BAB II TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN 2.56 persen.20 persen) bukan lahan sawah. Dengan teknik irigasi yang baik.

dari 73 persen samapai 94 persen. Tempat-tempat yang letaknya dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. 2. semakin membaik dari tahun sebelumnya. berkisar antara 17oC sampai 35oC. yaitu 3. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.5.48 persen (2001 = 3. meliputi : Wilayah Kota Kabupaten Kecamatan Kelurahan Desa Jumlah 6 29 534 8540 31820 2. suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18oC sampai 28oC. Sementara itu.6.total bukan lahan sawah. 2. dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi. Pertumbuhan Perekonomian Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2002 yang di tunjukkan oleh laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 1993. Wilayah Administrasi Propinsi Jawa Tengah dibagi kedalam beberapa Wilayah Administrasi. Rata-rata suhu air berkisar antara 21oC sampai 28oC.4.990 mm. suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 Cm). Persentase tersebut merupakan yang terbesar. Iklim Menurut Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang.33 . dengan hari hujan 195 hari.

Hal tersebut cukup beralasan mengingat perjalan perekonomian relatif membaik selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2002.39 triliun rupiah. Pertumbuhan riil sektoral tahun 2002 mengalami fluktuasi dari tahun sebelumnya. tahun 2001 atas dasar harga berlaku sebesar 18.82 persen.80 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor Listrik. konsumsi rumahtangga menguasai 58.41 persen dari tahun 2001. Gas dan Air bersih sebesar 10. konsumsi pemerintahan tahun 2002 naik 1. Menurut harga berlaku tahun 2002.20 triliun rupia. Sektor pertanian ternyata mengalami pertumbuhan yang paling rendah selama tahun 2002.persen).79 triliun rupiah. Jika didasarkan harga konsatn tahun 1993 nilainya mencapai 28.70 persen. pembentukan modal ekspor dan impor barang dan jasa PDRB dari sudut penggunaan yang terbesar adalah untuk pengeluaran konsumsi rumahtangga.42 persen. meskipun masih diwarnai kondisi politik yang belum kondusif. Meskipun peranannya terhadap PDRB hanya sekitar 1. perbaikan ekonomi pasca krisis sudah nampak beberapa tahun terakhir.41 triliun rupiah pada tahun berikutnya atau meningkat 16.83 persen dari tahun 2001. Jika diukur berdasarkan harga konstan 1993. yaitu sebesar 0. naik sebesar 4.04 persen dari total PDRB Propinsi Jawa Tengah atau senilai 90. Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang ekonomi memberikan tanda ke . Sedangkan PDRB menurut komponen penggunaannya terdiri dari konsumsi rumah tangga. naik menjadi 21. Konsumsi pemerintah yang dipakai untuk penyelenggaraan pemerintah pusat dan daerah serta perthanan dan keamanan.52 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya niali tersebut naik 20. konsumsi pemerintah. Secara nasional.

33 3.66 persen.49 3. Pertumbuhan ekonomi jawa tengah secara agregat cukup dinamis. Namun pertumbuhannya masih dibawah pertumbuhan nasional yang sebesar 3. Namun demikian pada periode 1999 sampai 2002.1 RATA-RATA PERTUMBUHAN EKONOMI PERTAHUN JAWA TENGAH TAHUN 1998 – 2002 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi per tahun -11.74 3.74 persen.48 Sumber : BPS Propinsi Jawa Tengah diolah . Sejak terjadinya krisis pada pertengahan tahun 1997 dan tahun 1998. kinerja ekonomi Jawa Tengah tahun 2002 mengalami peningkatan yaitu sebesar 3. Sama halnya dengan kondisi ekonomi nasional. pertumbuhan ekonomi tahun tersebut menurun drastis sekitar minus 11. perekonomian Jawa Tengah menunjukkan adanya perbaikan yaitu rata-rata tumbuh berkisar diatas 3 persen.93 3. TABEL 2.48 persen. Secara keseluruhan sektor ekonomi tahun 2002 mengalami peningkatan (tumbuh positif). Sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2001 (3.arah perbaikan ekonomi yang lebih baik.33 persen).

33 3.74 Sumber : BPS Propinsi Jawa Tengah diolah .5 1999 1999.49 3.GRAFIK 2.5 2000 TAHUN 2000.93 3.5 -2 -4 -6 -8 -10 -12 -14 3.48 1998 1998.1 PERTUMBUHAN EKONOMI RATA-RATA PERTAHUN Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi per tahun 6 4 2 0 1997.5 -11.5 2001 2001.5 2002 2002.

230 266.842 285.555.480. diolah .410. Grobogan 16 Kab.785 200.404 343.202 10.786.887.206 242.030.024 98.999 130.111 258.927.744 32.011 265.875.721 80.320.337.832 125.030.2 PENGELUARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA SE JAWA TENGAH PERIODE ANGGARAN 2000-2002 (dalam Ribuan Rupiah) No Kabupaten/Kota Kab.343.076 133. Kebumen 5 Kab.131 282.432.187 241.918.246 250.311.809.465 293.371 98.863.407.898.090.558. Banyumas 2 Kab.675 93.532 315.478 Tahun 2001 352.897 105.818 209.563 251.225.425 79.573.119 285.497 72.496. Magelang 8 Kab.589 176.246.737 258.315. Rembang 18 Kab.705 147. Sragen 15 Kab.436 246.127 62.163.287.488 71.350.818. Banjarnegara 4 Kab.772 177.102.771.063 145. Purbalingga 3 Kab.000 329.370.854 466.331 320. Wonosobo 7 Kab.005 258.029 96.842 83.317.801.681. Boyolali 9 10 Kab.737 287.376 73.447.401.748 243.481.263 80.490.062 90.113 241. Klaten 11 Kab.418 320.170 260.148.285 8.692.514 375.768 264. Karang Anyar 14 Kab. Batang 26 Kab.441 48.845 Sumber:BPS Propinsi Jawa Tengah 2003.816 281.403 280.189.256 203.715 236.595 233.268.397.943.674 120.832.161 186.789 257.247 366.161.050 103.905. Demak 22 Kab.142.380 105.756 86.532.133 342.009. Purworejo 6 Kab.222.695 321.797.889. Pengeluaran Daerah TABEL 2.413.403 312.354.814.787 235.016 272.554.571.795 216. Sukoharjo 12 Kab.667.360 208.134.383 69.826 70.244.667.716.315.271 65. Semarang 23 Kab.728 257.188.840. Kendal 25 Kab.854.549.514.985.601.307. Jepara 21 Kab.797.590.392.052.673.519.084.616.981. Brebes 30 Kota Magelang 31 Kota Surakarta 32 Kota Salatiga 33 Kota Semarang 34 Kota Pekalongan 35 Kota Tegal Total 2000 155.414 341.970.671 105. Kudus 20 Kab.161.176 390.115 101.341 97.674 414.918.717.289.022 121.245.876 2002 437.350 361.558 103.171 39. Pekalongan 27 Kab.368.345 274.844 223.318 455.070. Pati 19 Kab.059 105.201. Cilacap 1 Kab.742 23.887 251.866.151 38.941.040 364.646. Tegal 29 Kab.7.994.333.166 84.634.838.360 3.274.465.042 180.106 73.554 238.916 264.124.413 29.312 441. Wonogiri 13 Kab. Temanggung 24 Kab. Pemalang 28 Kab.067.241 230.334.2.038 205.069. Blora 17 Kab.603.609.059.301.186.359.948 288.

selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Brebes sebesar Rp.000. hal ini mungkin dapat di maklumi karena Kota Semarang sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah yang mana segala kegiatan perekonomian Jawa Tengah berpusat di sana. 437. 455.875.076. dan Kabupaten Cilacap sebesar Rp.918. .247.2.000.315.000. 466.999.Dari tabel 2. diatas dapat diketahui bahwa Kota Semarang pada tahun 2002 mempunyai pengeluaran yang terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang paling besar diantara semua Kabupaten dan Kota Rp. Seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah mengalami kenaikan dalam pengeluaran yang cukup signifikan per-tahunnya terlebih dari tahun 2000 ke tahun 2001 setelah diberlakukannya desentralisasi fiskal pada daerah.

705. Pekalongan Kab.034 6.779 19.596 18.414 9.992.428. Pemalang Kab. Banyumas Kab.136.088.498.396 9.366.910 24.277 11.867.598. Karang Anyar Kab. Kendal Kab.778 12.738.278.311. Temanggung Kab.504.179.907.808 18.539 16. Rembang Kab.553 6. Kudus Kab.117.724.167 13.235 18. Purbalingga Kab.948.000 11.884.528 11.194.265 8.832.298 25.790.343 35.978 9.074.450.001 745.975 11.095.599.549.773 24.281 10.791.449 10.039.330.259.381.011 8.810 23. Sragen Kab.587 12.109 2002 34.397 16.702 19.550.840 15.449.012.682 85.486 5.676 21.946.166 15. Kebumen Kab. Pati Kab.070 15.016.613 11.703.923.3 PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN/KOTA SE JAWA TENGAH PERIODE ANGGARAN 2000-2002 (dalam Ribuan Rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten/Kota Kab.219 8.258.445.678 5.240 12.495 6.611.250.049.919.964 20.520. Purworejo Kab. Tegal Kab.002.407 3.769. Cilacap Kab.183.000 15.753 23.737 48.438 10.212 359.368.734.216.623 17.227 14. Pendapatan Daerah TABEL 2.896.327. Sukoharjo Kab. Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Total Tahun 2001 32.373.441 5. Semarang Kab.717.439 6.897 11.731 12.663.823 11.286 12.411.447.315 8.382 14.075.128.270 15.022.328 11.737.129.787 674.970. Banjarnegara Kab.501.310.017 14.941 15.099.515.542.590 106.037.245 10.059 14. Batang Kab.435.302 15.205.000 29.214 21.020 44.179.576.527.063 11.077 14.454 5.8. Demak Kab. Blora Kab.120.715 19.524.040 6.744 13.518 22.2.675.141.256 4.111 17.684.088.247 25.590 Sumber:BPS Propinsi Jawa Tengah 2003. Grobogan Kab. Wonosobo Kab. Klaten Kab.034 10.133 6.112.223 14.132 9.481.353 17.842 16. diolah .787.582 6.290.014.741.950 30.492 24.822 7.914 7.624.906 12.732.269 24. Boyolali Kab.876.464 8.369.617 11. Jepara Kab.432 21.382 12.522.154 18.702. Magelang Kab.452.035.224.345 17.716 15.168 16.765. Wonogiri Kab.852.679.717.345 14.951 16.668 19.195.446.400.999.469 7.277.020 22.124.930 20.264.

106. .738. terutama pada tahun 2000 ke 2001. diatas dapat dilihat Kota Semarang pada tahun 2002 masih menduduki peringkat pertama dalam penerimaan pendapatan yang berasal dari daerah yaitu sebesar Rp.000 yang diantaranya berasal dari penerimaan pajak.Dari tabel 2.464. kenaikan pendapatan ini dipacu oleh penerapan otonomi daerah yang mengharuskan setiap daerah harus mampu menggali potensi daerahnya sendiri guna membiayai pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan daerah tersebut.3. Desentralisasi fiskal akibat diberlakukannya otonomi daerah juga membawa dampak pada nilai pendapatan daerah yang rata-rata meningkat pertahunnya. retribusi dan penerimaan lain-lain.

Wonogiri 13 Kab.745.709. Purworejo 6 Kab.453 340.000 301.929.899 80.526 192.506 304.339.421 242.611.263 77.649.143.027.685.000 246.697 109.315. Pekalongan 27 Kab.354.986 237. Rembang 18 Kab. Demak 22 Kab.273 105. Klaten 11 Kab. Sukoharjo 12 Kab.253 338.365.053 69. Boyolali 9 10 Kab.653.686.622.827.373.760. Kudus 20 Kab.718 238.515 172.298 289. Batang 26 Kab.424.757.556 256.286.845 215.604. Kendal 25 Kab.913.728 225.590.517 180.207. Sragen 15 Kab.096 218.223.039.998 8.520.638.332 114.931.471 215.253 291.071 71.889.681.000 306.663 108.821 317.309 280.512 188.419.867.860 128.055 84.944.237.006.750 86.362. Banjarnegara 4 Kab. Cilacap 1 Kab.317 234.817 59.150 27.613 31. Wonosobo 7 Kab. Temanggung 24 Kab.100 260.103 251.781 Sumber:BPS Propinsi Jawa Tengah 2003.001 64.313.846 72.844.772 208.148.300 59. diolah .163.110 171.291 128.544 89. Pati 19 Kab.930 129.995.096.293.350 284. Magelang 8 Kab.390.824 35.528.416.036.437 258.880.850. Grobogan 16 Kab.822 319. Kebumen 5 Kab.938.154 281.9.105 2002 350.886.538 310. Dana Perimbangan TABEL 2.278 262.104 187.415.249 276.000.970 94.070.265.405.4 DANA PERIMBANGAN KABUPATEN/KOTA SE JAWA TENGAH PERIODE ANGGARAN 2000-2002 (dalam Ribuan Rupiah) No Kabupaten/Kota Kab.704 25.321.630 75.962.307 64.297 109. Purbalingga 3 Kab.386 87.978 202.870.541.704 108.823.196 261. Pemalang 28 Kab.453.281.558.311.758 268.592.905.517.505.798 241.411 93.276.223 228.500 85.315 309.273 74.670.045 197.309.675 219.035.499.149 73.902 102.606.825. Brebes 30 Kota Magelang 31 Kota Surakarta 32 Kota Salatiga 33 Kota Semarang 34 Kota Pekalongan 35 Kota Tegal Total Tahun 2000 2001 336.324 298.129 62.056 230.975.861 93.922.722 292.838.138 213.000 353.962.715.342 8.340.216.775. Banyumas 2 Kab.076.960 65.525.2.879.109 251.024 204.116 221.636.351 225.838.865 90.864.090.474.035 171.838.958 218.968.181.451 215.000 313.059.983.323.226.491 164.335 222.906. Semarang 23 Kab.028 333. Blora 17 Kab.092 112.472 298.806. Jepara 21 Kab.052.624.792 2.985. Karang Anyar 14 Kab.692. Tegal 29 Kab.409 193.145.594.169.282 79.388 97.822 226.497.449 81.

704.4. dimana makin berpotensinya suatu daerah yang misalnya memiliki sumber daya alam yang melimpah dalam hal ini Kabupaten Cilacap dapat dijadikan contoh.Tabel 2. 338. 350. Dana perimbangan terdiri dari dana Bagi Hasil Bukan Pajak dan Dana Alokasi Umum serta Dana Alokasi Khusus yang merupakan cerminan potensi dari daerah tersebut. 353.163.335.692.000. diikuti dengan Kabupaten Cilacap sebesar Rp.000 dan Kabupaten Klaten Rp. diatas menunjukkan total dana perimbangan di Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah yang mana Kota Semarang sebagai Ibu Kota Propinsi tetap menduduki peringkat pertama dalam perolehan penerimaan dana perimbangan dengan nilai sebesar Rp.775. .000. akan mendapatkan dana perimbangan yang berbeda dengan daerah yang tidak memiliki sumber daya alam.000.

maka titik berat otonomi diletakkan pada daerah tingkat II dengan pertimbangan bahwa daerah tingkat II yang lebih berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga diharpakan dapat mengerti dan memenuhi aspirasi masyarakat. Dana untuk membiayai pembangunan daerah pada garis besarnya berasal dari dua sumber yaitu (1) penerimaan dari negara yang dalam RAPBD disebut pendapatan berasal dari pemerintahan daerah / instansi yang tertinggi dan (2) pendapatan dari daerah itu sendiri yang disebut Pendapatan Asli Daerah (PAD). Didit W.BAB III KAJIAN PUSTAKA Pada kajian pustaka ini terdapat beberapa penelitian empiris para peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan pengeluaran pemerintah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya didasari dari beberapa literatur. Udjianto (2003). . yang merupakan perencanaan keuangan daerah dan menentukan besarnya peneriamaan serta pengeluaran daerah untuk membiayai semua kegiatan pembangunan dalam setiap tahun anggaran. Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya adalah melihat posisi keuanannya. dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakt dan pelaksana dari pembangunan. mengatakan daerah tingkat II merupakan daerah otonom yang mempunyai hak untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Posisi keuangan daerah dapat dilihat dari APBD. yang antara lain yaitu: 1.

b. Semakin besar kebutuhan fiskal daerah. semakin besar kemampuan fiskal daerah. c. Litvack dan Seddon (2002) mendefinisikan desentralisasi sebagai kebijakan untuk menyerahkan sebagian kekuasaan (authority) dan tanggung jawab pelayanan publik dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah di bawahnya atau kepada pemerintah daerah otonom atau kepada sektor publik. Equity – pemerintah pusat harus mencegah semakin besarnya kesenjangan antara daerah kaya dengan daerah miskin sumber daya dengan memberikan alokasi dana bagi daerah yang miskin sumber daya. Autonomy – pemerintah daerah otonom harus memiliki kebebasan dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas program yang akan dijalankan di wilayah kerjanya. d. Shah (1994) menyebutkan bahwa ada beberapa kriteria dalam menerapkan kebijakan desentralisasi (Litvack dan Seddon. Predictability – mekanisme alokasi dana bantuan pemerintah pusat dipublikasikan kepada masyarakat sampai dengan proyeksi lima tahun kedepan. Alokasi dana disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. yaitu : a. . maka alokasi dana bantuan yang diterima harus semakin kecil. 2002). Namun sebaliknya. Revenue adequacy – pemerintah daerah harus memiliki anggaran dana yang cukup untuk menerima limpahan wewenang yang diberikan oleh pemerintah pusat.2. maka semakin besar alokasi dana yang diterima.

Azwar. . meningkatkan akuntabilitas pemerintah. 1999). Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan monitoring. yaitu meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. Safeguarding grantor’s objectives – mekanisme penyaluran dana bantuan pemerintah pusat harus diyakini digunakan secara tepat oleh pemerintah daerah penerima bantuan. yaitu : 1.. et al. technical assistance maupun pelaporan secara berkala kepada pemerintah pusat. Pemerintah lokal lebih mengetahui kebutuhan masyarakatnya. Menurut Hayek (1945) dan Musgrave (1959) kebijakan dalam mengalokasikan pengeluaran pemerintah untuk pelayanan publik akan lebih efisien bila diambil oleh pemerintah daerah yang dekat dengan masyarakat/publik dan memiliki kontrol geografis paling minimal karena disebabkan oleh beberapa faktor (Azwar. Sehingga alokasi dana yang diberikan dapat dilakukan seefisien mungkin oleh pemerintah daerah. (1999) menjelaskan bahwa untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat ditempuh dengan 3 jalan.. a. Efisiency – penggunaan dana bantuan pemerintah pusat kepada daerah menjadi tanggung jawab penuh pemerintah daerah penerima bantuan. Efisiensi Alokasi Sumber Daya Teori tentang desentralisasi yang utama adalah bahwa desentralisasi dapat meningkatkan efisiensi pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya.e. et al. 3. dan meningkatkan penerimaan melalui pajak daerah.

Peningkatan Penerimaan Daerah Dengan meningkatnya kualitas pelayanan publik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap pemerintahan yang menjalankan kebijakan terutama kebijakan-kebijakan yang berkaitan langsung dengan masyarakat. c. Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal dalam meningkatkan inovasinya dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. pemerintah daerah diyakini lebih mengetahui apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di wilayahnya daripada pemerintah pusat. Akuntabilitas Pemerintah Desentralisasi diyakini merupakan suatu kebijakan yang dapat meningkatkan akuntabilitas pemerintah daerah. Hal itu disebabkan oleh keyakinan bahwa kebijakan desentralisasi mampu mengurangi korupsi yang dilakukan oleh aparat pemerintah. b. maka pemerintah dapat menaikkan penerimaannya melalui sektor pajak. 3. .2. Masyarakat tidak akan berkeberatan membayar untuk mendapatkan barang atau jasa publik yang sesuai dengan yang mereka butuhkan. Keputusan pemerintah lokal lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat sehingga mendorong pemerintah lokal untuk melakukan efisiensi dalam penggunaan dana yang berasal dari masyarakat.

pertumbuhan angkatan kerja. Mereka menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara penerimaan daerah dengan pengeluaran daerah. inflation rate. Agung Nugroho (2005) melakukan penelitian mengenai pengaruh desentralisasi fiskal terhadap pengeluaran pemerintah di DIY serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan metode perhitungan fixed effect yang disertai dengan variabel dummy. dan Weingast melakukan penelitian dengan data panel tentang desentralisasi di Cina. 4.Selain itu. variabel dummy tahun kebijakan . guna mengukurut derajat desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi dengan dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah. 5. Untuk mencari hubungan antara derajat desentralisasi fiskal yang diukur dengan pendekatan pengeluaran dan kebijakan desentralisasi fiskal tahun 2001 dengan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota di Propinsi D.I. Dengan naiknya pengeluaran daerah setelah diberlakukannya kebijakan desentralisasi fiskal menyebabkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Cina. Yogyakarta menempatkan variabel pertumbuhan ekonomi yang diamati melalui persentase pertumbuhan PDRB riil perkapita kabupaten/kota sebagai variabel dependen. derajat desentralisasi fiskal yang diamati melalui sisi pengeluaran. peningkatan penerimaan daerah terjadi akibat dari konsekuensi penerapan desentralisasi dimana pengeluaran fiskal pemerintah diambil alih pembiayaannya oleh pemerintah daerah melalui dana kompensasi. Sedangkan variabel independen terdiri dari derajat distorsi ekonomi. Qian. Jin.

dan variabel dummy krisis ekonomi tahun 1998.Yogyakarta adalah variabel tingkat inflasi dan variabel dummy krisis ekonomi. dimana 0 untuk periode tahun sebelum dilaksanakannya desentralisasi fiskal (tahun 19942000). Maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota di Propinsi D. dan 1 untuk periode tahun setelah pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal.desentralisasi tahun 2001. Maka dalam penelitian ini menggunakan dummy tahun krisis. Sedangkan DKit merupakan variabel dummy untuk tahun. . Pada pertengahan tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter.I.I. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota di Propinsi D. Variabel ε it menunjukkan disturbance terms. Variable. Variabel dummy digunakan untuk memasukkan fluktuasi perekonomian nasional ke dalam model.I.di Kabupaten/Kota di Propinsi D. Dimana keduanya berhubungan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Yogyakarta. dan 1 untuk periode setelah krisis (1998-2003) dimana penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. dimana 0 untuk periode sebelum krisis moneter (1994-1997).Yogyakarta rentan terhadap fluktuasi ekonomi. Sedangkan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Yit = β 0 + β DIS DIS it + β L Lit + β R Rit + β DC DC it + β DF DFit + β K DK it + ε it dimana i menunjukkan nama kabupaten sedangkan t menunjukkan tahun. dan dampaknya mulai dirasakan pada tahun 1998. yaitu tahun 2001-2003. yaitu: a. DFit merupakan variabel dummy untuk mengetahui dampak penerapan desentralisasi fiskal tahun 2001.

namun tidak signifikan secara statistik. sehingga pengeluaran pemerintah daerah dapat dilakukan secara efektif dan efisien c.I. Hal ini diduga karena pengeluaran yang pemerintah daerah di Kabupaten/Kota di Propinsi D. Variabel dummy kebijakan fiskal tahun 2001 menunjukkan hasil yang positif namun tidak signifikan secara statistik dalam mempengaruhi tingkat pertumbuhan PDRB riil perkapita di kabupaten/kota di Propinsi D.b. Namun dalam penelitian dengan studi kasus Kabupaten/Kota di Propinsi D. Hal ini berarti tidak ada hubungan secara statistik antara penerapan kebijakan desentralisasi fiskal tahun 2001 dengan pertumbuhan ekonomi daerah penelitian.I. Sehingga tidak dapat disimpulkan apakah pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Propinsi D. Selama ini terjadi kekhawatiran bahwa dengan kebijakan desentralisasi fiskal dalam rangka otonomi daerah akan menyebabkan terjadinya kompetisi fiskal antar daerah. Secara teori. Dimana setiap daerah berlomba-lomba . Hal ini bertentangan dengan hipotesa penelitian yang menyatakan bahwa derajat desentralisasi fiskal berhubungan positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. semakin besar pengeluaran pemerintah daerah dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi.Y didapat kenyataan bahwa pengeluaran pemerintah daerah belum dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.Y semakin tinggi ataukah terjadi penurunan setelah kebijakan desentralisasi fiskal diterapkan pada tahun 2001. Yogyakarta.I.I. Selain itu diperlukan adanya skala prioritas dalam mengalokasikan pengeluaran daerah. Yogyakarta belum dilakukan secara efisien. Variabel derajat desentralisasi fiskal menunjukkan nilai koefisien yang positif.

Jangan sampai terjadi keinginan untuk meningkatkan PAD justru berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.untuk meningkatkan PAD melalui sektor pajak dan retribusi. Oleh sebab itu diperlukan kehati-hatian bagi pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan pajak dan retribusi. . Peningkatan pajak dan retribusi yang tidak dilakukan dengan hati-hati akan mendorong terjadinya ekonomi biaya tinggi yang pada akhirnya menyebabkan lesunya kegiatan investasi dimana hal tersebut akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bertanggung jawab berarti pemberian otonomi benar-benar sejalan dengan tujuan untuk melancarkan pembangunan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan serasi dengan pembinaan politik dengan kesatuan bangsa. b. 5 Tahun 1974 diutamakan bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah didasarkan pada prinsip-prinsip : (Soetrisno. a. c. prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab. . Dengan demikian akan terjalin hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pelaksanaan pemberian otonomi kepada daerah. Ph 1986 : 13).BAB IV LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 4. Pembagian otonomi kepada daerah harus merupakan otonomi yang nyata dan bertangung jawab. Asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan dekonsentrasi dengan memberikan kemungkinan pula pada pelaksanaan tugas asas pembantuan. yakni memperkokoh negara kesatuan dan mempertinggi tingkat kesejahteraan rakyat. Selanjutnya dalam penjelasan resmi UU No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. harus menunjang aspirasi perjuangan rakyat.1. Konsep Otonomi Daerah Sesuai dengan amanat yang digariskan dalam UU No. Nyata dalam arti bahwa pemberian otonomi didasarkan pada faktor-faktor perhitungan dan tindakan atau kebijakan yang benar-benar menjamin daerah yang bersangkutan mampu mengurus rumah tangganya sendiri.

maka ciri pokok dari otonomi daerah menjadi hilang. namun PAD mempunyai peranan yang strategis di dalam keuangan daerah karena bagi suatu daerah sumber pendapatan daerah merupakan tiang utama penyangga kehidupan daerah. Pemerintah Daerah dalam melaksanakan rumah tangganya memerlukan sumber pendapatan yang berasal dari PAD. Pemerintah daerah dalam melaksanakan berbagai keuangan dengan otonomi untuk mengatur dab mengurus rumah tangganya tentu membutuhkan dana. Pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk menyatakan daya guna (efektivitas) dan hasil guna (Efisiensi) penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat. karena kemampuan keuangan ini merupakan idikator penting dalam mengukur tingkatan otonomi daerah.d. Penyelenggaraan otonomi daerah dapat dicapai apabila sumber keuangan daerah dapat membiayai aktifitas daerah yang berasal dari PAD. karena tidak ada kegiatan pemerintah yang tidak membutuhkan biaya. Sumber keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua. . Keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari kemampuan daerah dalam bidang keuangan. Meskipun daerah juga mendapatkan sumber-sumber dari PAD. ksatabilan politik dan kesatuan bangsa. Tanpa adanya dana yang cukup. yaitu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber non Pendapatan Asli Daerah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya faktor keuangan untuk melaksanakan otonomi daerah. Oleh karena itu para ahli sering memakai PAD sebagai alat analisis dalam menilai tingkat otonomi suatu daerah.

Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan sehubungan dengan keuangan daerah yang penting adalah “wewenang di tepi” artinya memiliki penerimaan daerah sendiri yang cukup. Jika penerimaan PAD telah mencapai 20% dari pengeluaran daerah. Dengan demikian. Namun mengingat tidak semua sumbersumber pembiayaan dapat diberikan kepada daerah maka kepada darah diwajibkan untuk menggali segala sumber keuangannya sendiri berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku (Machfud Sidik dan Soewondo. maka kepadanya perlu diberikan sumber-sumber pembiayaan yang cukup. 32). Oleh karena itu sluit post diganti dengan sistem penyerahan bagi hasil pajak negara. . Sistem keuangan dalam UU No. dengan tujuan agar ketergantungan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. diharapkan daerah akan lebih hati-hati dalam menjalankan politik keuangannya. maka otonomi daerah dapat dikatakan semakin baik. Hal.sehingga membutuhkan sumber keuangan yang memadai untuk penyelenggaraan pemerintah daerah dengan menggali sumber PAD. 1992. Jadi semakain besar prosentase PAD terhadap pengeluaran daerah. sehingga ketrgantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat kecil.1 Tahun 1945 disebutkan mengenal sluit post (sistem menutupi kekurangan). Agar supaya daerahh dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya. maka sumber keuangan daerah sudah dapat dikatakan cukup. lalu memninta begitu saja kepada pemerintah pusat.

5 Tahun 1974 menjadi UU No. Pajak negara yang diserahkan pada daerah d.Didalam perkembangannya sistem sluit post ini ternyata masih tetap dipakai. Untuk lebih jelasnya. 22 Tahun 1948. 1995. sistem pembayaran bagi hasil dalam Undangundang itu mengatur mengenai sumber-sumber keuangan yang membolehkan daerah untuk memungutnya. Dengan demikian. Dalam pasal 37 Undang-undang ini mengenai keuangan daerah menyebutkan bahwa sumber-sumber pendapatan daerah berasal dari: a. Inimengandung arti bahwa untuk sementara waktu sistem sluit post akan dihapuskan secara perlahan-lahan. Pendapatan hasil perusahaan daerah c. 39-40). Dengan bergulirnya reformasi semenjak 7 tahun yang lalu telah terjadi perubahan yang mendasar dalam sistem pemerintahan di daerah yaitu dari ketentuan UU No. Lain-lain (seperti pinjaman.22 Tahun 1948 (pasal 37 c) tetap dijadikan sebagai dasar pengaturan keuangan daerah. sistem penyerahan bagi hasil pajak negara seperti yang disebutkan dalam UU No. 22 Tahun . Samudra. penjualan atau penyewaan barang-barang milik negara) Selanjutnya keuangan daerah harus dilaksankan dengan pembukuan yang terang. Sampai tahun 1956. subsidi. Hal. rapi dan pengurusan keuangan daerah harus dilaksanakan secara sehat termasuk sistem administrasinya. ada baiknya diuraikan tentang sistem yang dimaksud dalam UU No. Pajak daerah dan Retribusi b. diharapkan daerah menyusun dan menetapkan APBD nya sendiri (Azhari A.

hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah khususnya mengenai pembagian . Jadi mengatur dan mengurus rumah tanga sendiri adalah atas biaya sendiri pula. tiap daerah harus mempunyai sumbersumber pendapatan tertentu untuk mengisi kasnya. untuk membiayai berbagai pengeluaran untuk menyelenggarakan tugas perbantuan. Dengan UU No. kondisi ini merupakan peluang bagi daerah untuk memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola keuangan daerah tanpa banyak campur tangan pemerintah tingkat atas (Abdul Halim. 5 Tahun 1974. Oleh karena itu prinsip-prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab sebagaimana dinyatakan dalam UU No. karena daerah yang tahu tentang persoalan yang ada di daerah. 2001. Semakin luas dan rumitnya urusan yang diselenggarakan akan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. yang terpisah dengan keuangan pemerintah pusat.1999. Tentu saja untuk keperluan tersebut. 9) dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah maka suatu daerah membutuhkan biaya dan biaya itu harus dipikul oleh masing-masing daerah yang menyelenggarakan peraturan dan pengurusan. Hal. dengan ketentuan ini terjadi pula perubahan yang mendasr dalam manajemen keuangan daerah. Oleh karena itu. negara harus mempunyai keuangan tersendiri beserta sumber-sumbernya. menghendaki kesanggupan keuangan yang sebesar-besarnya pula bagi tiap-tiap daerah. 22 Tahun 1999 kewenangan pengelolaan keuangan daerah diberikan secara luas kepada daerah. 1 sub e. Untuk keperluan tersebut suatu daerah harus mempunyai kas (keuangan) tersendiri. perpajakan umum No. Begitu pula bagi pemerintah pusat untuk keperluan pemeritah.

sumber-sumber keuangan. 32 Tahun 1957 memuat tentang perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. Memberikan ketentuan sekedar menjamin keuangan daerah b. Wajong.22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan UU No. 1960. masing-masing haruslah diatur sebaik-baiknya agar dapat terpelihara keseimbangan keuangan yang harmonis dan tepat. Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa. 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangn antara pusat dan daerah diperkirakan akan memberikan angin segar bagi daerah untuk mengatur dan mengurus masyarakat dan daerahnya sendiri. 1993. Mendorong daerah untuk mengintensifkan sumber-sumber pendapatan daerah dan mengadakan sumber-sumber baru d. 4.1. pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut (Mangkoesoebroto. UU No. . (Abdul Halim. Memupuk rasa tanggung jawab daerah dalam menyelenggarakan kebijakan keuangan untuk melakukan tugas daerah (J. Teori Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah. 307-308).2. Hal. Mendorong ke arah penyehatan rumah tangga daerah c. UU No. Adapun maksud dan tujuan UU perimbangan keuangan ini adalah: a. 50-51) Sejalan dengan dinamika dan tuntutan perubahan di segala bidang maka untuk mengantisipasi kesalahan masa lalu. 2001 Hal.

yang berarti peningkatan pertumbuhan (Y). yaitu teori makro dan teori mikro. Y Pada grafik 4. Model makro dapat menjelaskan perhitungan jangka panjang pertumbuhan pengeluaran pemerintah. Bailey (1995. output.1 PENGELUARAN PEMERINTAHAN PADA KEYNESIAN CROSS Actual expenditure Pengeluaran Pemerintah Planned expenditure E 2= Y 2 DY B DG Planned expenditure E 1 =Y1 A 0 45 0 E 1 = Y1 DY E 2 = Y2 Income. 43) membagi teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah menjadi dua.1 dapat dilihat peningkatan pengeluaran pemerintah berdampak pada kenaikan pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui pendapatan dan tingkat output. 263). 2003.169). GRAFIK 4. . Hubungan antara pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi secara teori diterangkan dalam Keynesian Cross (Mankiw. Peningkatan besarnya pengeluaran pemerintah berhasil merubah keseimbangan dari titik A ke titik B.

namun pada tahap ini peranan investasi swasta sudah semakin membesar. Teori Peacock & Wiseman. Pada tahap menengah pembangunan ekonomi.1. 3. sebab pada tahap ini pemerintah harus menyediakan prasarana. Pada tingkat ekonomi yang lebih lanjut. Model Pembangunan Tentang Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Model ini dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi yang dibedakan antara tahap awal. 170). . investasi pemerintah tetap diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas. program pelayanan kesehatan masyarakat. dan tahap lanjut. Pada tahap awal perkembangan ekonomi. Teori makro mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah dikelompokkan menjadi tiga golongan. tahap menengah. kesehatan. Hukum Wagner mengenai perkembangan aktivitas pemerintah. dan sebagainya. dan sebagainya. Model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah. 169): 1.sedangkan model mikro menjelaskan perubahan secara particular komponenkomponen pengeluaran pemerintah. 4. prosentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar.1. 1993. prasarana transportasi.2. bahwa pembangunan ekonomi aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaranpengeluaran untuk aktivitas sosial seperti halnya program kesejahteraan hari tua. 2. Rostow mengatakan dalam Mangkoesoebroto (1993. yaitu (Mangkoesoebroto. seperti pendidikan.

1993.. 1993.1. 170). Hukum Wagner Teori Wagner tentang perkembangan pengeluaran pemerintah disebut sebagai Wagner law of increased government activity..2. Hukum Wagner dapat diformulasikan sebagai berikut : Pk PP1 P PP P PP 〈 k 2 〈 .2 dimana kenaikan pengeluaran pemerintah mempunyai bentuk eksponensial yang ditunjukkan oleh kurva perkembangan pengeluaran pemerintah (Mangkoesoebroto. 172). Teori ini mengemukakan perkembangan pengeluaran pemerintah yang semakin besar dalam prosentase terhadap GNP.. yaitu GDP/jumlah penduduk 1. Wagner mengemukakan pendapatnya dalam bentuk suatu hukum Wagner. . US. dan Jepang pada abad ke-19 (Mangkoesoebroto.〈 k n PPK 1 PPK 2 PPK n P PP : Pengeluaran Pemerintah perkapita PPK : Pendapatan perkapita. apabila pendapatan perkapita meningkat..n : Jangka waktu (tahun) Hukum Wagner ini ditunjukkan dalam grafik 4. dimana teori ini didasarkan pada pengamatan di negara-negara Eropa. secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat. sebagai berikut Dalam suatu perekonomian..2.2.4.

GRAFIK 4.1. dimana teori ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa pemerintah senantiasa memperbesar pengeluaran sedangkan masyarakat tidak suka membayar pajak yang semakin besar untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang semakin besar tersebut. 1993. Dalam Mangkoesoebroto (1993. 173) Peacock dan Wiseman mendasarkan teori mereka pada suatu teori bahwa masyarakat mempunyai suatu tingkat toleransi pajak. 173).2. teori Peacock & Wiseman dianggap sebagai teori dan model yang terbaik (Mangkoesoebroto. Teori mereka sering disebut sebagai The Displacement Effect.3. The Displacement Effect Dari ketiga teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah tersebut. suatu tingkat dimana masyarakat dapat memahami besarnya pungutan pajak yang dibutuhkan oleh .2 PERTUMBUHAN PENGELUARAN PEMERINTAH MENURUT WAGNER Pk PP PPK n h ga ta an eri n b m em rke n p Pe r a rv aelua Ku ng Pe 0 Waktu (tahun ) 4.

pemerintah untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Tingkat toleransi ini merupakan kendala bagi pemerintah untuk menaikkan pungutan pajak. Teori Peacock dan Wiseman adalah sebagai berikut (Mangkoesoebroto, 1993; 173) : “Perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah; dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat, oleh karena itu dalam keadaan normal, meningkatnya GNP menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar, begitu juga dengan pengeluaran pemerintah menjadi semakin besar.” Jadi berbeda dengan pandangan Wagner, perkembangan pengeluaran pemerintah versi Peacock dan Wiseman tidaklah berbentuk suatu garis, tetapi berbentuk seperti tangga.

GRAFIK 4.3 PERKEMBANGAN PENGELUARAN PEMERINTAH

Pengeluaran Pemerintah/GDP

Wagner, Solow Musgrave

Peacock dan Wiseman

0

Waktu (tahun)

4.1.3. Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan daerah yang potensinya berada di daerah dan dikelola oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah, diantaranya menggariskan sumber-sumber pendapatan asli daerah adalah sebagai berikut: a. Pajak Daerah Pengertian pajak daerah secara umum adalah pembayaran/iuran dari rakyat kepada pemerintah yang dapat dipaksakan dengan balas jasa secara langsung, misal: pajak kendaraan bermotor, pajak penjualan dan sebagainya.

b. Retribusi Daerah Pengertian retribusi tidaklah sama dengan pengertiian pajak. Perbedaan yang jelas antara retribusi dengan pajak adalah mengenai ada tidaknya balas jasa dari pemerintah kepada individu. Dari perbedaan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa retribusi adalah suatu pembayaran/iuran dari rakyat kepada pemerintah dengan balas jasa secara langsung yang diterima dengan pembayaran retribusi tersebut. Misalnya uang sekolah, uang langganan air minum, uang langganan listrik dan sebagainya. c. Bagian Laba Badan Usaha Milik Daerah Laba perusahaan daerah diharapkan sebagai sumber pemasukan bagi daerah. Oleh karena itu batas-batas tertentu pengolahan perusahaan harus bersifat profesional dan harus berpegang pada prinsip ekonomi secara umum, yakni efisiensi. Dalam penjelasan umum Undang-undang No. 5 Tahun 1974, pengertian perusahaan daerah dirumuskan sebagai berikut: yaitu suatu badan saha yang dibentuk oleh daerah untuk perkembangan perekonomian daerah dan untuk menambah penghasilan daerah. Dari kutipan di atas terdapat dua fungsi pokok, yakni sebagai dinamisator perekonomian daerah dan sebagai penghasilan daerah. d. Penerimaan dari Dinas-dinas Dinas-dinas daerah bertugas dan berfungsi untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat tanpa memperhatikan untung/rugi, tapi dalam batas-

batas tertentu dapat didayagunakan dan bertindak sebagai organisasi ekonomi dalam bidang pelayanan jasa. Sekalipun dinas-dinas daerah telah ditempatkan sebagai salah satu sumber PAD, tetapi tidak berarti sumbangan riil yang diberikan sektor ini cukup besar untuk menopang keuangan daerah pada umumnya. Karena dalam

kenyataannya, sektor ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan sektor perusahaan daerah dalam memberikan kontribusi bagi PAD dan pendapatan daerah pada umumnya. e. Penerimaan Lain-lain Penerimaan lain-lain adalah penerimaan yang diterima oleh pemerintah daerah selain yang disebutkan diatas. Penerimaan lain-lain ini merupakan penerimaan daerah yang sah (yaitu dengan peraturan daerah) yang diperoleh dari penjualan-penjualan milik daerah, penjualan barang-barang bekas, cicilan kendaraan bermotor dan cicilan rumah yang dibangun oleh pemerintah daerah, penerimaan jasa gro (kas daerah), biaya pembinaan dan penyewaan tempat pelelangan ikan dan lain-lain.

4.1.4. Dana Perimbangan Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil (DHB), dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK), selain ditujukan untuk konsolidasi desentralisasi fiskal dan memperkecil ketimpangan keuangn antara pusat dan daerah serta antar daerah dengan tetap menjaga netralitas fiskal, juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan daerah.

1. 4.4. daerah yang potensi penerimaannya tinggi. Dana Alokasi Umum Sesuai dengan pasal 7 Undang-undang No. akan dapat menikmati pendapatan yang lebih baik. pajak bumi dan bangunan (PBB). 4.1.1. pertambangan umum. Dana Bagi Hasil Dana bagi hasil merupakan bagian daerah yang bersumber dari penerimaan yang dihasilkan daerah. 25 Tahun 1999. Dana Alokasi Khusus Dana alokasi khusus (DAK) merupakan dana dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mengisi kesenjangan penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanaan dasar masyarakat.3. baik itu berupa pajak maupun sumber daya alam. Dengan demikian.4. serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). khususnya bagi daerah yang kemampuan fiskalnya rendah. Hal ini dimaksudkan selain untuk . dana bagi hasil juga berasal dari sumber daya alam (SDA).2.4. Di samping itu. besarnya dana alokasi umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan dalam negeri bersih. seperti penerimaan pajak penghasilan (PPh) pasal 21 dan PPh 25/29 orang pribadi. DAU diberikan kepada daerah-daerah dengan tujuan untuk menciptakan pemerataan antar daerah berdasarkan pertimbangan bahwa potensi fiskal dan kebutuhan dari masing-masing daerah berbeda. yaitu penerimaan dalam negeri setelah dikurangi dengan dana bagi hasil dan DAK yang bersumber dari dana reboisasi. gas alam.1. seperti minyak bumi. Besarnya bagian daerah tersebut ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.4. dan perikanan. kehutanan.

2. 4.secara bertahap dapat diarahkan utnuk mencapai keserasian tingkat pelayanan publik di berbagai wilayah. Diduga Dana Perimbangan (X2) berpengaruh positif dalam menentukan besaran pengeluaran pemerintah 35 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah. Hipotesis Penelitian Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. juga dapat mengarahkan sebagian dari pengeluaran daerah untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang merupakan prioritas nasional. 3. Diduga Jumlah Penduduk (X3) berpengaruh positif dalam menentukan besaran pengeluaran pemerintah 35 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah. Diduga Pendapatan Asli Daerah (PAD) (X1) berpengaruh positif dalam menentukan besaran pengeluaran pemerintah 35 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah. 2. .

perusahaan. kurang berkorelasi antar variabel. Model regresi dengan data panel. maka data tersebut adalah heterogen. derajat bebas lebih besar dan lebih efisien. negara. Data panel lebih baik mendeteksi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak dapat diukur oleh data time series atau cross-section. misalnya efek dari upah minimum. Kombinasi data time series dan cross-section akan memberikan informasi yang lebih lengkap. 5. secara umum mengakibatkan kita mempunyai kesulitan dalam spesikasi modelnya. Bila data penel berhubungan dengan individu. lebih beragam. Studi data panel lebih memudahkan untuk menentukan perubahan dinamis dibandingkan dengan studi berulang dari cross-section.BAB V METODE PENELITIAN Batalgi menyusun keuntungan data panel dibandingkan dengan data time series atau cross-section. yaitu: 1. 2. Data panel dapat meminimalkan bias yang dihasilkan oleh agregasi individu atau perusahaan karena unit data lebih banyak. 3. Data panel membantu studi untuk menganalisis perilaku lebih kompleks. Residualnya akan mempunyai . daerah dan lain-lain pada waktu tertentu. misalnya fenomena skala ekonomi dan perubahan teknologi. 4. 6. Teknik penaksiran data panel yang heterogen secara eksplisit dapat dipertimbangkan dalam perhitungan.

Ada beberapa kemungkinan yang akan muncul yaitu: 1.1. Metode Fixed Effect Teknik model Fixed Effect adalah teknik mengestimasi data panel dengan menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya perbedaan intersep. Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengestimasi model regresi dengan data panel. 5. 5.tiga kemungkinan yaitu residual time series. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar waktu dan antar individu. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar individu 5. Diasumsikan intersep dan slope adalah tetap sepanjang waktu dan individu dan perbedaan intersep dan slope dijelaskan oleh residual. 2. 4. Koefisien Tetap Antar Waktu dan Individu Teknik yang paling sederhana untuk mengestimasi data panel adalah hanya dengan mengkombinasikan data time series dan cross section dengan menggunakan metode OLS dikenal dengan estimasi Common Effect. cross section maupun gabungan keduanya. Model ini sangat tergantung dari asumsi yang kita buat tentang intersep. . 3.1. koefisien slope dan residualnya. Diasumsikan slope adalah tetap tetapi intersep berbeda antar individu. Dalam pendekatan ini tidak memperhatikan dimensi individu maupun waktu. Diasumsikan slope tetap tetapi intersep berbeda baik antar waktu maupun antar individu.1. diantaranya adalah metode Fixed Effect dan metode Random Effect.

namun intersepnya sama antar waktu (time invariant). 5.1. model ini juga mengasumsikan bahwa koefisien regresi (slope) tetap antar perusahaan dan antar waktu. Dalam asumsi ini kita memberikan subskrip I pada intersep untuk menunjukkan bahwa intersep beberapa variabel mungkin berbeda. Model Fixed Effect dengan teknik variabel dummy dapat ditulis sbb: . Model estimasi ini seringkali disebut dengan teknik Least squares Dummy Variabels (LSDV). Slope Konstan Tetapi Intersep Berbeda Antar Individu Pada pembahasan diatas kita mengasumsikan bahwa intersep maupun slope adalah sama baik antar waktu maupun antar variabel. Namun asumsi ini jelas sangat jauh dari realita sebenarnya. Model yang mengasumsikan adanya perbedaan intersep di dalam persamaan di atas dikenal dengan model regresi Fixed Effect. Untuk mengestimasi model Fixed Effect dimana intersep berbeda antar variabel digunakan metode teknik variabel dummy untuk menjelaskan perbedaan intersep tersebut. Perbedaan intersep ini bisa menggambarkan adanya perbedaan karakteristik antar variabel. Pengertian Fixed Effect ini didasarkan adanya perbedaan intersep antara variabel. salah satu cara paling sederhana mengetahui adanya perbedaan adalah dengan mengasumsikan bahwa intersep adalah berbeda antar variabel sedangkan slopenya tetap sama antar variabel. Karakteristik antar variabel jelas akan berbeda. Disamping itu.Diasumsikan bahwa perilaku data antar variabel sama dalam berbagai kurun waktu.2.

Untuk menjelaskan model random effect dapat ditulis sbb: ln Yit = β 0 + β 1 ln X 1it + β 2 ln X 2it + eit dalam hal ini β 0i tidak lagi tetap (nonstokastik) tetapi bersifat random sehingga dapat diekspresikan dalam bentuk persamaan sbb: .2. Didalam menjelaskan random effect diasumsikan setiap variabel mempunyai perbedaan intersep. Untuk mengatasi maslah ini kita bisa menggunakan variabel residual yang dikenal dengan model random effect. 5. kita mengasumsikan bahwa intersep adalah variabel random atau stokastik.ln Yit = β 0 + β 1 ln X 1it + β 2 ln X 2t + β 3 D1i + β 4 D2i + β 5 D3i + eit dimana : D1l D2l D3l = 1 untuk variabel 1 = 0 untuk variabel lainnya = 1 untuk variabel 2 = 0 untuk variabel lainnya = 1 untuk variabel 3 = 0 untuk variabel lainnya Jika ada empat variabel yang berbeda maka kita hanya memerlukan 3 variabel dummy untuk mengetahui perbedaan intersep antara keempat variabel tersebut. Namun demikian. Model ini sangat berguna jika individual variabel yang kita ambil sebagai sampel adalah dipilih secara random dan merupakan wakil dari populasi. Di dalam model ini kita akan memilih estimasi data panel dimana residual mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu. Model Random Effects Di dalam mengestimasi data panel dengan fixed effect melalui teknik variabel dummy menununjukkan ketidakpastian model yang kita gunakan.

model Fixed Effect dan model Random Effect. Untuk menentukan teknik mana yang paling tepat dalam mengestimasi data panel maka perlu dilakukan pengujian.β 0i = β 0 + µ i dimana i = 1. Nama metode random effect berasal dari pengertian bahwa residual vit terdiri dari dua komponen yaitu residual secara menyeluruh eit yaitu kombinasi time series dan cross section dan residual secara individu µi. dalam hal ini residual µi adalah berbeda-beda antar individu tetapi tetap antar waktu. Adapun pengujiannya terdiri dari. … n β 0 adalah parameter yang tidak diketahui yang menunjukkan rata-rata intersep populasi dan µ adalah residual yang bersifat random yang menjelaskan adanya perbedaan perilaku variabel secara individu.3. Metode yang tepat untuk mengestimasi model random effect adalah Generalized Least Square (GLS) dengan menggunakan alat bantu program E-views. 5. Yit = β 0 + β 1 ln X 1it + β 2 ln X 2it + vit dimana vit = eit + µ i persamaan diatas merupakan persamaan untuk metode random effect. Pemilihan Teknik Estimasi Regresi Data Panel Untuk mengestimasi data panel ada tiga teknik yang dapat digunakan yaitu model dengan metode OLS (common). pertama uji statistik F digunakan untuk memilih antara metode OLS tanpa variabel dummy atau Fixed Effect. uji Langrange Multiplier (LM) . Karena adanya korelasi antara residual di dalam persamaan diatas maka teknik metode OLS tidak bisa digunakan untuk mendapatkan estimator yang efisien. Kedua.

Adapun uji F statistiknya adalah sbb: F= ( RSS1 − RSS 2 ) / m ( RSS 2 ) /(n − k ) dimana RSS1 dan RSS2 merupakan residual sum of Squares teknik tanpa variabel dummy dan teknik fixed effect dengan dummy. 5. Terakhir. dimana n merupakan jumlah observasi dan k adalah jumlah paramater dalam model Fixed Effect.2. 5. .3. Adapun nilai statistik LM dihitung berdasarkan formula yang terdapat pada buku Ekonometrika karangan Agus Widarjono. Uji Signifikansi Fixed Effect Uji F digunakan untuk mengetahui teknik regresi data panel dengan Fixed Effect lebih baik dari model regresi data panel tanpa variabel dummy dengan melihat residual sum of squares (RSS). Metode Bruesch Pagan untuk uji signifikansi model Random Effect didasarkan pada nilai residual dari metode OLS.1. m merupakan jumlah restrikasi dalam model tanpa variabel dummy. Nilai statistik F hitung akan mengikuti distribusi statistik F dengan derajat kebebasan (df) sebanyak m untuk numerator dan sebanyak n-k untuk denumerator. untuk memilih antara Fixed Effect atau Random Effect digunkan uji yang dikemukakan oleh Hausman. Hipotesis nulnya adalah bahwa intersep adalah sama.3. Uji Signifikansi Random Effect Uji signifikansi Random Effect ini dikembangkan oleh Bruesch-Pagan.digunkan untuk memilih antara OLS tanpa variabel dummy atau Random Effect.

selanjutnya mengikuti kriteria Wald. Uji Hausman ini didasarkan pada ide bahwa LSDV di dalam metode Fixed Effect dan GLS adalah efisien sedangkan metode OLS tidak efisien. tetapi digunakan metode OLS. Karena itu uji hipotesis nulnya adalah hasil estimasi keduanya tidak berbeda sehingga uji Hausman bisa dilakukan berasarkan perbedaan estimasi keduanya tidak berbeda sehingga uji Hausman bisa dilakukan berdasarkan perbedaan estimasi tersebut. Estimasi Random Effect dengan demikian tidak dapat digunakan untuk regresi data panel. 5. Hasil metode Hausman adalah bahwa perbedaan kovarian dari estimator yang efisien dengan estimator yang tidak efisien adalah nol. Uji Signifikansi Fixed Effect Atau Random Effect Hausman telah mengembangkan suatu uji untuk memilih apakah menggunakan model Fixed Effect atau Random Effect. Jika nilai LM statistik lebih besar nilai kritis statistik chi-squares maka kita menolak hipotesis nul. Artinya. di lain pihak alternatifnya metode OLS efisiensi dan GLS tidak efisien. Sebaliknya jika nilai LM statistik lebih kecil dari nilai statistik Chi-squares sebagi niali kritis maka kita menerima hipotesis nul.3. estimasi yang tepat untuk model regresi data panel adalah metode Random Effect dari pada metode OLS. Statistik uji Hausman ini mengikuti distribusi statistik Chi Square dengan degree of freedom sebanyak k dimana k adalah jumlah variabel independen.Uji LM ini didasarkan pada distribusi chi-squares dengan degree of freedom sebesar jumlah variabel independen.3. Jika nilai statistik Hausman lebih besar dari . uji Hausman ini akan mengikuti distribusi chi-squares.

5. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari data time series dan cross section selama 2 Tahun di 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik (BPS) yang digunakan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi besaran pengeluaran pemerintah. Pemilihan rentang waktu yang dimulai dari periode anggaran 2001 sampai dengan 2002.5. Deskripsi Data Data yang digunakan adalah data panel yang merupakan gabungan antara data time series dan cross section dari 29 Kabupaten dan 6 Kota di Propinsi Jawa Tengah periode 2001 sampai dengan 2002. 5. . didasari karena pada periode tersebut terjadi kebijakan baru dalam pemerintahan dengan diberlakukannya otonomi daerah yang mendorong terjadinya desentralisasi fiskal dalam keuangan daerah.4.nilai kritisnya maka model yang tepat adalah model Fixed Effect sedangkan sebaliknya bila niali statistik Hausman lebih kecil dari nilai kritisnya maka model yang tepat adalah model Random Effect.

adalah: • Pengeluaran rutin • Pengeluaran pembangunan b. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan dengan memperhatikan potensi daerah. Jumlah Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran Pemerintah. bertujuan untuk membiayai kebutuhankebutuhan khusus daerah. Jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat. terdiri dari: • Bagian daerah dari perimbangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) • Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) • Dana Alokasi Umum (DAU). • Dana Alokasi Khusus (DAK). Deskripsi Variabel Adapun variabel-variabel yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini meliputi: a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Variabel PAD yang digunakan dalam penelitian ini adalah PAD masingmasing daerah di propinsi Jawa Tengah yang diambil dari BPS mulai tahun 2000 sampai 2002.5. c. luas daerah. merupakan total dari semua belanja yang dilakukan oleh suatu pemerintah. adapun macam dari Pengeluaran Pemerintah. sehingga perbedaan antara daerah yang belum berkembang dapat diperkecil. Jumlah Penduduk .6. d. geografis. Jumlah Dana Perimbangan Dana Perimbangan.

7. β1. β2.Jumlah penduduk di di suatu daerah tanpa di bedakan mana yang angkatan kerja maupun yang bukan. Jumlah penduduk ini merupakan suatu komponen penting dalam penyusunan DAU yang akan diterima suatu daerah tertentu. Metode Analisis Berkaitan dengan studi empiris ini. + β 38 D35i + eit Keterangan Yit X1it X2it X3it D1…D35 eit β0. untuk menganalisa data panel pada penelitian ini diduga akan mengunakan metode Fixed Effect yang secara umum ditulis sebagai berikut: ln Yit = β 0 + β 1 ln X 1it + β 2 ln X 2t + β 3 D1i ... 5. β3 = Pengeluaran Pemerintah = PAD = Dana Perimbangan = Jumlah Penduduk = Dummy = residual secara menyeluruh = koefisien penjelas masing-masing input nilai parameter Y Dari pendekatan regresi dengan metode fixed effect ini akan diperoleh parameter masing-masing variabel independen yang menunjukkan besarnya hubungan pengaruh variabel independen dengan variabel dependen. Koefisien yang akan didapat merupakan estimasi faktor-faktor tersebut dalam menentukan besaran nilai pengeluaran pemerintah di 35 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah terhadap koefisien regresi tersebut. dan kemudian akan dilakukan .

b. Uji F . β 2. β 2. kemudian data tersebut diuji dengan pengujian hipotesis. 5%. Pengujian hipotesis tersebut sebagai berikut: a. Jika thitung > ttabel berarti variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. hipotesis yang dikemukakan adalah : • • Hipotesis nol (H0) Hipotesis alternatif (Ha) : β1.Statistik Untuk mengetahui apakah variabel-variabel independent yang digunakan dalam model secara bersama-sama dapat menjelaskan variabel dependen. Semakin kecil derajat keyakinan yang digunakan. sehingga dapat disimpulkan variabel independen tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. maka kemungkinan penolakan H0 semakin kecil. Uji t .pengujian statistik. Pengujian Hipotesis Setelah data terkumpul akan dikelompokkan sesuai dengan variabel-variabel.Statistik t-statistik digunakan untuk mengetahui apakah suatu variabel independent berpengaruh signifikan secara individu terhadap variabel dependent. β n = 0 : β 1. β n ≠ 0 . Metode yang digunakan dalam t-test adalah dengan cara membandingkan nilai thitung dari masing-masing koefisien variabel bebas terhadap nilai ttabel pada derajat keyakinan 1%. Dalam pengujian ini. yaitu uji t-statistik serta uji F-statistik dan koefisien determinasi R2. atau 10%. 5.8.

. maka H0 diterima. Sehingga disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara variabel-variabel independent dengan variabel dependent. semakin besar nilai R2 (mendekati 1). maka dapat diartikan bahwa semua parameter estimasi sama dengan nol. Jika Fstatistik <Ftabel. Nilai R2 digunakan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independent yang digunakan dalam persamaan. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien Determinasi R2 digunakan untuk menyatakan tingkat keeratan hubungan antara variabel-variabel independent dan variabel-variabel dependent. Jika hipotesis nol diterima.Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai Fstatistik terhadap nilai Ftabel. dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan adalah baik. dapat menjelaskan variabel dependent. c. Nilai R2 terletak diantara 0 dan 1.

Pada ECM diketahui bahwa β0i = β0 + εi. pada FEM diperlakukan β0 adalah tetap atau tidak acak. Jika jumlah time series (T) besar dan jumlah cross-section (N) kecil mka nilai taksiran parameter berbeda kecil. 2. Bila diyakini bahwa individu atau crosssection tidak acak maka FEM lebih tepat.BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih FEM dan ECM.s pemilihan metode regresi data panel pada penelitian ini akan ditentukan dengan menggunakan 3 uji perbandingan yaitu uji . yaitu: 1. yaitu FEM. Akan tetapi selain menggunakan asumsi diata. sebaliknya jika cross-section acak maka ECM lebih tepat. 4. dimana T < N. dimana εi adalah komponen acak cross-sectional. Jika komponen penggangu individu εi berkorelasimaka penaksiran ECM adalah bias dan penaksir FEM tidak bias. 3. Menurut asumsi di atas dapat di pastikan metode yang akan digunakan utuk menganalisis data panel pada penelitian ini adalah metode Random Effect karena T = 2 tahun dan N = 35 Kabupaten/Kota. Jika N besar dan T kecil serta asumsi ECM dipenuhi maka penaksiran ECM lebih efisien dari penaksiran FEM. sehingga pilihan didasarkan pada kemudahan perhitungan. Bila N besar dan T kecil penaksiran dengan FEM dan ECM menghasilkan perbedaan yang signifikan.

(nT-n-k)] tolak H0.1. Uji perbandingan metode OLS dengan model Fixed Effect Uji ini menggunakan formula sbb: 2 2 ( RUR − RR ) /(n − 1) F (n − 1.001711 = 2. Model panel data yang tepat untuk menganalisis perilaku ketigapuluhlima Kota dan Kabupaten seJawa Tengah adalah metode Fixed Effect dengan teknik LSDV daripada model OLS . Asumsi bahwa koefisien intersep dan slope adalah sama tidak berlaku sebagaimana ditunjukkan oleh persamaan ln Yit = β 0 + β 1 ln X 1it + β 2 ln X 2it + β 3 ln X 3it + eit .34 yang berarti Fkritis ≤ Fhitung maka dengan demikian kita menolak hipotesis nul.perbandingan antara metode OLS dengan Fixed Effect dan uji perbandingan antara OLS dengan Random Effect serta uji Hausman. maka hasilnya adalah: F (35 − 1.82 dan 2.885352) / 67 0. 6.4374 sedangkan nilai Fkritis dengan numerator 34 dan denumarator 32 pada α=5% dan α=1% masing-masing adalah 1. .743546) / 34 (1 − 0.437384 Dari perhitungan diatas diketahui bahwa nilai dari Fhitung adalah sebesar 2.885352 − 0. nT − n − k ) = 2 (1 − RUR ) / nT − n − k dimana: n = Cross section T = Jumlah unit waktu k = Jumlah parameter yang akan diestimasi dengan asumsi Fkritis ≤ F[(n-1) .004171 0. (35 * 3) − 35 − 3) = = ( 0.

2. Uji signifikansi model Random Effect dikembangkan oleh Bruesch-Pagan.11 ⎤ − 1⎥ 2(35 − 1) ⎢ 2. maka dengan denikian secara statistik tidak signifikan sehingga kita menerima hipotesis nul. . Model OLS lebih tepat dibandingkan dengan metode Random Effect.345 dan 7. karena LM ≤ nilai chi squares.6E . Uji Perbandingan metode OLS dengan model Random Effect Dari hasil uji antara metode OLS dengan model Fixed Effect diatas mehasilkan bahwa metode Fixed Effect yang paling tepat untuk menganalisis data panel ini.6. namun ada satu uji lagi yang harus dilakukan untuk mendapatkan model yang paling tepat dalam menganalisis data panel pada penelitian ini yaitu membandingankan OLS dengan model Random Effect. Adapun nilai statistik LM dihitung berdasarkan formula yang terdapat pada buku Gujarati adalah: LM = 35 * 3 ⎡1.81473.8 ⎣ ⎦ 2 LM = 2 sedangkan nilai kritis tabel distribusi chi squares dengan df sebesar 3 pada α=1% dan α=5% masing-masing sebesar 11. Uji ini dilakukan berdasarkan uji Lagrange Multiplier (LM). Metode Bruesch-Pagan untuk uji signifikansi model Random Effect didasarkan pada nilai residual dari metode OLS.

Sesuai dengan hipotesis awal yaitu: H0 = metode FEM koeifisien dan tidak bias metode REM efisien H1 = metode FEM koefisien dan tidak bias metode REM bias Maka kita menolak hipotesis null karena nilai uji Hausman > nilai chi square karena REM akan menghasilkan estimasi yang bias.6.81473. Uji Perbandingan metode Fixed Effect dengan model Random Effect Menggunakan uji Hausman dengan alat bantu software Eviews didapat nilai H = 18. sebagai alat bantu analisis penulis mengunakan software Eviews yang mana hasilnya ditunjukkan oleh tabel berikut ini: .345 dan 7.3.60 Sedangkan nilai kritis dengan df sebesar 3 pada α=5% dan α=1% masing-masing sebesar 11. dengan demikian berdasarkan uji Hausman model yang tepat untuk menganalisa perilaku pengeluaran Pemerintah daerah di Propinsi Jawa Tengah adalah model Fixed Effect daripada Random Effect. Dari tiga uji diatas dapat diambil simpluan bahwa metode analisis data yang paling tepat dalam menganalisis data panel dalam penelitian ini adalah model Fixed Effect.

2502 0.990647 2.56E+10 1.04E+10 2.80550 1.30E+10 6.025362 2.49321 9.91E+10 6.0144 0.0000 0.71E+09 4.73E+10 3.999998 0.128030 6.14366 35.05E+10 -5.141966 0.0000 0.055690 -5.53E+11 9.61E+10 2.588307 1.22E+11 7.0153 0.11627 0.25E+11 1.52E+10 7.67E+10 1.2035 0.51E+10 3.0000 0.007327 -38.57E+10 1.07E+10 6.01E+11 -1.41E+10 -2. 0. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat Selanjutnya dari hasil regresi di atas dapat ditulis dalam bentuk persamaan non linear sebagai berikut : .0000 0.0000 0.49E+10 4.37E+10 1.0000 0.0000 0.4955 0.84E+09 -1.72E+10 -1.415313 10.41E+12 1.10163 11.0015 0.0000 0.95E+10 -5.76E+13 4.89E+09 -5.35E+11 0.11E+11 6.48E+09 2.2698 0.54E+10 1.0000 0.560489 -5.171037 11.535816 1.776877 -33.0851 0.00E+09 3.34E+11 -1.1 Hasil Regresi Model Fixed Effect Variable Log C Log X1 Log X2 Log X3 D_BANJARNEGARA D_BANYUMAS D_BATANG D_BLORA D_BOYOLALI D_BREBES D_CILACAP D_DEMAK D_GROBOGAN D_JEPARA D_KEBUMEN D_KENDAL D_KLATEN D_KMAGELANG D_KPEKALONGAN D_KSALATIGA D_KSEMARANG D_KSURAKARTA D_KTEGAL D_KUDUS D_MAGELANG D_PATI D_PEKALONGAN D_PEMALANG D_PURBALINGGA D_PURWOREJO D_REMBANG D_SEMARANG D_SRAGEN D_SUKOHARJO D_TEGAL D_TEMANGGUNG D_WONOGIRI D_WONOSOBO R-squared Adjusted R-squared S.0000 0.67E+10 2.332810 0.2632 0.07E+11 8.0000 0.563170 -2.418304 -1.21E+11 -1.68591 5.0000 0.51E+10 1.0000 0.695156 Prob.0000 0.726389 7.000000 Std.900179 2. of regression F-statistic Prob(F-statistic) Coefficient -3.72E+11 -6.999996 3.298167 1.35E+09 6.0000 0.17E+10 4.96E+10 -6.0111 6.46440 21.04E+10 1.67E+11 -3.002284 0.01E+10 0.2000 0.689485 -3.29E+10 1.07E+10 t-Statistic -16.33E+10 -1.0580 0.43E+10 1.04E+10 2.0000 0.093432 -7.54E+10 2.0000 0.35109 -1.67183 62.D.02E+12 9.0000 0.138794 -5.08E+11 1.59E+10 -8.0000 0.09350 2.442207 1.62E+10 2.466984 -1.64E+10 2.49E+10 6.52E+10 1.E.52236 14.778054 1.47E+10 5.77E+09 1.2990 0.48385 -50.94E+09 1.888889 Mean dependent var S.07E+10 5.83577 13.308493 2.0015 0.51E+11 1.268873 13.09E+10 1.22E+09 4.0215 0.90E+11 -2.966189 -2.76E+11 2.Tabel 6.78E+10 1.0000 0.27E+11 2.29E+10 0.98E+10 8.464408 9.0103 0. Error 2.29E+22 1.0000 0.0000 0.825737 -1.66E+10 4.71E+10 1.78E+10 1.123079 -3.04E+10 1.

535816 adapun untuk intercept diperoleh nilai sebesar -3.3.49321 Log (X2) 1.141966logX1 + 0.35E+11 + 0.2 Hasil Uji Signifikansi Variabel t-statistik t-tabel 1. sedangkan koefisien regresi Dana Perimbangan nilainya positif yaitu 0.6955 62. Pengujian Hipotesa 6.logY = -3. dengan tingkat signifikansi 5% Tabel 6. dan koefisien Jumlah Penduduk bernilai negatif yaitu 2. Hal ini untuk membandingkan antara t-hitung dengan t-tabel. .1.141966. H0 ditolak.35E+11.900179logX2 + 2.128030 Log (X1) 1.6955). n-k) k = 4 Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Dari tabel 6. 6.535816logX3 Dalam persamaan diatas dapat dilihat bahwa koefisie regresi PAD adalah positif yaitu sebesar 0. hal ini ditunjukkan dengan nilai t-hitung (9.3. dapat disimpulkan bahwa: 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing daerah Kota dan Kabupaten seJawa Tengah berpengaruh secara signifikan terhadap pengeluaran pemerintah masing-masing daerah Kota dan Kabupaten tersebut.2 diatas.6955 9.900179.14366 Log (X3) Dengan α= 5% n = 35 t-tabel = (α.6955 35.12) yang lebih besar dari nilai t-tabelnya (1. Uji T-Statistik Yaitu pengujian statistik terhadap parameter-parameter regresi secara individual.

hal ini ditunjukkan dengan nilai t-hitung (35. Dana Perimbangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada masingmasing daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah berpengaruh secara signifikan terhadap pengeluaran pemerintah masing-masing daerah Kota dan Kabupaten tersebut. H0 ditolak. 6. Dengan f-hitung lebih besar daripada f-tabelnya maka Ho ditolak. (α. F-hitung yang dihasilkan adalah 4.3. dengan membandingkan antara fhitung dengan f-tabelnya.6955).1) sedangkan f-tabel dengan tingkat signifikansi α= 5%.5) yang lebih besar daripada t-tabelnya (1. hal ini ditunjukkan dengan nilai t-hitung (62.2.6955).1) yang lebih besar daripada t-tabelnya (1. (3) (31)) = 2. (k-1) (n-k)) adalah (5%. Uji F-Statistik Yaitu pengujian secara serempak hubungan variabel-variabel independen secara keseluruhan dengan variabel dependen.9113.2.33 (lihat tabel 6. ini berarti variabel-variabel independen secara serempak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen. 3. . H0 ditolak. Jumlah Penduduk di masing-masing daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai besaran pengeluaran pemerintah masing-masing daerah tersebut.

Dana Perimbangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah masing-masing.4.9. Interpretasi Dari hasil estimasi yang didapat. dan jumlah penduduk pada daerah masing-masing. Variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) (X1). mempunyai koefisien positif sebesar 0. Uji Koefisien R2 Pengujian ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar variabel-variabel independen yang digunakan dalam penelitian mampu menjelaskan variabel dependennya. maka hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen dapat ditunjukkan sebagai berikut : 1.6.3. Variabel Dana Perimbangan (X2). yang berarti setiap ada kenaikan jumlah PAD pada masingmasing daerah di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan tingkat pengeluaran pemerintah pada masing-masing daerah sebesar 1.14. dengan asumsi variabel yang lain tetap (Cateris Paribus). Dari perhitungan diperoleh hasil bahwa R2 sebesar 0. yang berarti setiap ada kenaikan jumlah Dana Perimbangan pada masingmasing daerah di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan tingkat pengeluaran pemerintah pada masing-masing . 6.99 atau sekitar 99% dari variasi pengeluaran pemerintah masing-masing Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing daerah. 2. mempunyai koefisien positif sebesar 0.4%.3.

yang berarti setiap ada kenaikan jumlah penduduk pada masing-masing daerah di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan tingkat pengeluaran pemerintah pada masing-masing daerah sebesar 2. dengan asumsi variabel yang lain tetap (Cateris Paribus).9%.50. Variabel Jumlah Penduduk (X3). mempunyai koefisien positif sebesar 2.5%. dengan asumsi variabel yang lain tetap (Cateris Paribus). 3. .daerah sebesar 0.

yang berarti sesuai dengan hipotesa.BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 7. Variabel ini memiliki pengaruh yang telah ditunjukkan oleh tabel 2. Berarti secara bersama-sama variabel penjelas yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan serta Jumlah Penduduk mempengaruhi nilai pengeluaran pemerintah pada masing-masing daerah se Jawa Tengah.4%. . Yang mana setiap kenaikan 1% PAD hanya akan menyebabkan pengeluaran pemerintah pada masing-masing daerah bertambah sebesar 1. 2.3 di atas yang menggambarkan peranan PAD dalam membiayai pengeluaran pemerintah pada masing-masing daerah yang mana pengeluaran tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan pengujian secara keseluruhan (uji F) didapat nilai F hitung lebih tinggi dari F tabel.1. Dari hasil pengujian koefisien regresi secara individu (uji T) dapat disimpulakan bahwa variabel penjelas Pendapatan Asli Daerah (X1) dengan pengeluaran pemerintah di masing-masing daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah terdapat hubungan yang signifikan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisa data yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah pada daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah.

Penafsiran koefisien determinan (R2) menunjukkan bahwa besarnya persentase variabel bebas PAD. Pengujian t membuktikan bahwa nilai t-statistik berada pada daerah penolakan H0.5 %.9 %. sedangkan sisanya sebesar 1% dipengaruhi oleh faktor lainnya. 4.3. Pengujian t membuktikan bahwa nilai t-statistik berada pada daerah penolakan H0. artinya variabel independen Dana Perimbangan secara signifikan berpengaruh terhadap variabel pengeluaran pemerintah di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah. Kenaikan 1% Dana Perimbangan yang diberikan pemerintah pusat pada pemerintah daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah akan menyebabkan kenaikan pengeluaran pemerintah di masingmasing daerah sebesar 0. Variabel Dana Perimbangan mempunyai tanda parameter positif yang berarti sesuai dengan hipotesa. artinya variabel independen Jumlah Penduduk secara signifikan berpengaruh terhadap variabel pengeluaran pemerintah di Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah. Dengan kata lain Jumlah Penduduk mampu mempengaruhi pengeluaran pemerintah masing-masing daerah secara positif. Dengan kata lain Dana Perimbangan mampu mempengaruhi pengeluaran pemerintah masing-masing daerah secara positif. Variabel Jumlah Penduduk mempunyai tanda parameter positif yang berarti sesuai dengan hipotesa. 5. Kenaikan 1% Jumlah Penduduk pada setiap pemerintah daerah Kota dan Kabupaten se Jawa Tengah akan menyebabkan kenaikan pengeluaran pemerintah di masing-masing daerah sebesar 2. seperti Kebijakan masing- . Dana Perimbangan dan Jumlah Penduduk dengan variasi Variabel dependen yaitu Pengeluaran Pemerintah sebesar 99%.

2. dan kondisi geografis serta keamanan pada masing-masing daerah.738.000 yang berarti 75% pembiayaan dibiayai oleh Dana Perimbangan. Variabel Pendapatan Asli Daerah yang signifikan pada uji t dengan α=5% serta hanya mempengaruhi sebesar 1. 106. Kondisi diatas hendaknya memacu daerah-daerah di Propinsi Jawa Tengah untuk meningkatkan penerimaan PAD. adapun langkah yang dapat di tempuh adalah memberdayakan potensi daerah semaksimal mungkin terutama dari penerimaan pajak.000 akan tetapi jika dibandingkan dengan Dana Perimbangannya sebesar Rp. antara lain: . PAD yang tertinggi di peroleh Kota Semarang sebagai Ibukota Propinsi sebesar Rp.000 dan tingkat pengeluaran pemerintahnya Rp. Implikasi kebijakan itu antara lain : 1.4 % pada setiap kenaikan 1% menunjukkan peranan PAD dalam membiayai pengeluaran pemerintah pada masing-masing Kota dan Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. 466.163. retribusi dan Badan Usaha Milik Daerah.999. ada beberapa implikasi kebijakan yang dapat disampaikan dengan harapan dapat memberikan buah pikiran agar pengeluaran pemerintah dapat meningkat sehingga kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik lagi.704.918. 353.masing pemerintah daerah. 7. kebocoran fiskal.464. Salah satu caranya adalah memperbaiki kinerja pengelolaan pemungutan pajak. Implikasi Kebijakan Dari berbagai kesimpulan yang telah dikemukakan.

. Meningkatkan kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan sehingga kebocoran dapat dikurangi. sehingga biaya pemungutan pajak dapat dikurangi. Melakukan perhitungan efisiensi dan efekifitas pemungutan pajak. sehingga tidak menggangu dan membebani mereka. artinya peningkatan Dana perimbangan juga akan meningkatkan pengeluaran pemerintah. c. adapun cara yang dapat di tempuh adalah pemberdayaan PAD secara optimal seperti penulis telah sebutkan diatas. Keadaan ini harus disikapi dengan bijak oleh pemrintah daerah agar tidak terlalu mengandalkan bantuan pemerintah pusat untuk membiayai kegiatan pemerintahan mereka. d. Dana Perimbangan mempunyai hubungan yang positif dengan perkembangan tingkat pengeluaran pemerintah. 2. Pendataan kembali wajib pajak dan objek pajak yang sudah ada dalam rangka penggalian keuangan daerah. Hal tersebut menunjukkan adanya ketergantungan fiskal kepada pemerintah pusat. b.a. Penyusunan PERDA yang representatif bagi penduduk.

22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Badan Pusat Statistik. Litvack. Governance and Public Services The Impact Of Institutional Arrangements. (1993-2003). G. Yogyakarta. Undang-Undang No. PDRB menurut Kabupaten/Kota. Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Dalam Angka. Ekonisia. Econometrics. Badi (2003). untuk ekonomi dan bisnis. Pagan (1980).DAFTAR PUSTAKA Agus Widarjono (2005). Basic Econometrics. College Park.S (1977). (1993-2003). Badan Pusat Statistik. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah. . T and A. World Bank Institute Working Papers and PREM Network. 239254. Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. “Decentralization. H. “Decentralization Briefing Notes”. 47.”Review of Economic Studies. Jennie dan Seddon.” IRIS Center. Jawa Tengah. Jakarta: BPS. Jessica (2002). Econometric Analysis of Panel Data.”The LM Test and Its Application to Model Specification in Econometrics. Baltagi. (1993-2002). et al. pp. Undang-Undang No. New York:Mc Graw-Hill Mandala. Bruesch. Jakarta: BPS. fourth edition. Singapore: McGraw-Hill Azfar. New York: John Wiley&Son. N Gujarati (2003). University of Maryland. Omar. Jakarta: BPS Badan Pusat Statistik. Damoar. (1999).

128030 Prob.999998 0.01E+11 -4.34E+11 -4.002284 0.88E+11 -2.141966 0.25E+11 -3.0000 0.45E+11 -6.D.84E+11 -3.86E+10 -1.14366 35.68E+11 -1. 0.14E+11 -3.64E+11 -2.64E+11 -3. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 6.86E+11 -2.0000 0.70E+11 -2.20E+11 -2.52E+11 Coefficient 0.57E+11 -2.900179 2.35E+12 -3.45E+11 -2.38E+11 -1.59E+11 -2. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.35E+11 -6. 0.91E+11 -4.55E+11 -2.E.41E+12 1.76E+13 4.02E+11 -3.55E+11 -3.778054 t-Statistic 62.535816 Std.49321 9.27E+11 -1.000000 Mean dependent var S. Error 0.74E+11 -3.025362 2.89E+11 -3.21E+11 -5.66E+10 8015699.08E+11 -3.84E+11 -3.0000 Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.Metode Fixed Effect Dependent Variable: Y? Method: GLS (Cross Section Weights) Sample: 2001 2002 Included observations: 2 Total panel observations 70 Variable X1? X2? X3? Fixed Effects _BANJARNEGARA--C _BANYUMAS--C _BATANG--C _BLORA--C _BOYOLALI—C _BREBES--C _CILACAP--C _DEMAK--C _GROBOGAN--C _JEPARA--C _KEBUMEN--C _KENDAL--C _KLATEN--C _KMAGELANG--C _KPEKALONGAN--C _KRANYAR--C _KSALATIGA--C _KSEMARANG--C _KSURAKARTA--C _KTEGAL--C _KUDUS--C _MAGELANG--C _PATI--C _PEKALONGAN--C _PEMALANG--C _PURBALINGGA--C _PURWOREJO--C _REMBANG—C _SEMARANG--C _SRAGEN--C _SUKOHARJO--C _TEGAL--C _TEMANGGUNG--C _WONOGIRI--C _WONOSOBO--C -2.29E+22 1.28E+11 -4.888889 .26E+10 -9.999996 3.18E+11 -4.94E+11 -4.

dependent var Sum squared resid 2.61E+10 4.908498 0.68E+22 .67E+11 8.Unweighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.888889 Mean dependent var S.E.D. of regression Durbin-Watson stat 0.82E+10 1.802698 3.

97E+10 0.42E+08 GLS Transformed Regression R-squared Adjusted R-squared S. dependent var Sum squared resid 2.3530 0.919771 Prob. Error 1.826327 Std.15E+08 -5.0981 0.00E+08 3.E.793598 3.006692 0.91E+10 2.20E+09 -4.47E+09 1.11E+09 1.67E+11 8.01E+23 .08E+08 72726574 3.07E+08 -8.42E+09 8.337967 t-Statistic 0.18E+09 -2.83E+08 1.62E+08 -78834541 -1.18E+08 1.61E+10 1.94E+08 -5.63E+08 -60359734 -9.79E+08 2. of regression Durbin-Watson stat 0.337528 2.D.79E+09 -1.09E+08 12376218 -29237103 -91356196 1.39E+08 -81661043 -1.57E+08 65175036 -1.Metode Random Effect Dependent Variable: Y? Method: GLS (Variance Components) Sample: 2001 2002 Included observations: 2 Total panel observations 70 Variable C X1? X2? X3? Coefficient 1.89E+09 -1.003989 0.677802 5.139035 2.935392 1. 0.31E+09 -6.742103 6.0048 Random Effects _BANJARNEGARA--C _BANYUMAS--C _BATANG--C _BLORA--C _BOYOLALI--C _BREBES--C _CILACAP--C _DEMAK--C _GROBOGAN--C _JEPARA--C _KEBUMEN—C _KENDAL--C _KLATEN--C _KMAGELANG--C _KPEKALONGAN--C _KRANYAR--C _KSALATIGA--C _KSEMARANG--C _KSURAKARTA--C _KTEGAL--C _KUDUS--C _MAGELANG--C _PATI--C _PEKALONGAN--C _PEMALANG--C _PURBALINGGA--C _PURWOREJO--C _REMBANG--C _SEMARANG--C _SRAGEN--C _SUKOHARJO--C _TEGAL--C _TEMANGGUNG--C _WONOGIRI--C _WONOSOBO--C 2.09E+08 -3.48E+09 -5.802572 0.0000 0.19E+08 3.85E+08 3.48E+08 -9.85E+10 0.119057 Mean dependent var S.

of regression Durbin-Watson stat 0.D.61E+10 9.805886 0.Unweighted Statistics including Random Effects R-squared Adjusted R-squared S.155238 Mean dependent var S. dependent var Sum squared resid 2.797063 3.E.93E+22 .67E+11 8.88E+10 2.

27E+11 2.53E+11 9.33E+10 -1.0103 0.35109 -1.49E+10 6.0000 0.0015 0.72E+11 -6.990647 2.171037 11. 0.999998 0.128030 6.000000 Mean dependent var S.83577 13.52E+10 7.141966 0.0000 0.11627 0.52E+10 1.94E+09 1.30E+10 6.22E+11 7.900179 2.98E+10 8.0215 0.2990 0.560489 -5.0000 0.0000 0.91E+10 6.54E+10 2. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.09350 2.563170 -2.07E+10 6.14366 35.73E+10 3.0000 0.588307 1.41E+10 -2.72E+10 -1.29E+22 1.11E+11 6.07E+10 t-Statistic -16.52236 14.308493 2.0000 0.08E+11 1.35E+11 0.888889 Coefficient -3.67E+10 1.0000 0.67E+11 -3.46440 21. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 6.90E+11 -2.07E+10 5.67183 62.57E+10 1.61E+10 2.37E+10 1.0015 0.22E+09 4.59E+10 -8.0000 0.442207 1.71E+10 1.418304 -1.76E+13 4.04E+10 1.0000 0.464408 9.48385 -50.138794 -5.01E+10 0.776877 -33.2632 0.999996 3.466984 -1.268873 13.0851 0.17E+10 4.0000 0.29E+10 Std.D.0000 0. Error 2.71E+09 4.51E+10 1.29E+10 1.0153 0.0000 0.0111 .0000 0.62E+10 2.0000 0.78E+10 1.41E+12 1.96E+10 -6.78E+10 1.68591 5.0144 0.76E+11 2.2000 0.123079 -3.35E+09 6.51E+10 3.695156 Prob.47E+10 5.0580 0.2698 0.055690 -5.56E+10 1.95E+10 -5.04E+10 2.E.0 0.05E+10 -5.80550 1.04E+10 1.00E+09 3.Model Fixed Effect Dependent Variable: Y? Method: GLS (Cross Section Weights) Sample: 2001 2002 Included observations: 2 Total panel observations 70 Variable C X1? X2? X3? D_BANJARNEGARA? D_BANYUMAS? D_BATANG? D_BLORA? D_BOYOLALI? D_BREBES? D_CILACAP? D_DEMAK? D_GROBOGAN? D_JEPARA? D_KEBUMEN? D_KENDAL? D_KLATEN? D_KMAGELANG? D_KPEKALONGAN? D_KSALATIGA? D_KSEMARANG? D_KSURAKARTA? D_KTEGAL? D_KUDUS? D_MAGELANG? D_PATI? D_PEKALONGAN? D_PEMALANG? D_PURBALINGGA? D_PURWOREJO? D_REMBANG? D_SEMARANG? D_SRAGEN? D_SUKOHARJO? D_TEGAL? D_TEMANGGUNG? D_WONOGIRI? D_WONOSOBO? Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.0000 0.02E+12 9.64E+10 2.825737 -1.43E+10 1.007327 -38.04E+10 2.0000 0.54E+10 1.689485 -3.01E+11 -1.66E+10 433281.48E+09 2.0000 0.966189 -2.2035 0.535816 1.726389 7.84E+09 -1.4955 0.49321 9.093432 -7.49E+10 4.10163 11.298167 1.0000 0.2502 0.0000 0.67E+10 2.34E+11 -1.89E+09 -5.25E+11 1.415313 10.51E+11 1.77E+09 1.0000 0.778054 1.002284 0.025362 2.07E+11 8.21E+11 -1.09E+10 1.0000 0.0000 0.

E. of regression Durbin-Watson stat 0.61E+10 4.82E+10 1.888889 Mean dependent var S.68E+22 .D.802698 3. dependent var Sum squared resid 2.Unweighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.908498 0.67E+11 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful