http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. masyarakat). Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Kirham (dalam Wellington. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. teknologi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. . penyadaran. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. process. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. nutrisi. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. 4. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. 5. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 1992:87-88) B. 2. (Varella. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. 1992: 19-20). 3.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut.

Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Process. definisi. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. dan terminologi. Pada awal perubahan tiap topik. teori. Untuk kepentingan itu. Context. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. National Science Teacher Association atau NSTA. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Content. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . prinsip. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 1994: 1). dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. strategi pertama.dan context. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. konsep. Strategi kedua. model.

masyarakat dan nilai-nilai manusia. teknologi. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. kreatif membuat produk teknologi sederhana. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. berpengaruh satu sama lain. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). (e) memilki pengertian hubungan antara sains. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. 1994: 34) . serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. tepat. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. dan masyarakat secara terintegrasi. 1993: 428). mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Literasi teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. teknologi. teknologi dan masyarakat. sadar akan efek hasil teknologi. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Strategi ketiga. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini.J. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Literasi sains (scientific literasi). dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (b) mampu menggunakan proses sains. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. efesien dan efektif.pembelajaran. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi.

L. (Eds). Teaching Children Science: An Inquiry Approach. (1980). R. Philadelphia: Saunders Co. Austin: Univercity of Texas.(1995).. Principlesof Instructional Desig. P. (1974). (1985). How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. (1990). Rinehort and Winston. The Stucture of Science Education. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Gordner. (1971). A. Dictionary of Education. et al. (1971). & Stone.V. Merrill Publishing.A. _______. Man and Siciety. 3 Mei. Science. Hall. Poerwadarminta. Disertai Doktor FPS IKIP. & Briggs. & Sund. A. W.W. 17-19 Januari. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “.’lay Company. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. C. Dahar.J. R. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang.B. et al. Good. . A. (1975). Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. G.M.B. Bandung. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. 1998: 276). (1983). (1973)..e. Kuslan. L. Kamus Umum Bahasa Indonesia. The Condition of Learning and Theory of Instruction. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. R.I. Carin. Balai Pustaka. New York: Mc Graw Hill Book Company. Belmount: Wadsworth Publishing Company. Gagne. Gagne. _______.S. (1989). DAFTAR PUSTAKA Bloom. New York: Rinehort and Winston. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. R. Columbus: Charles E.L. (1968). Jakarta: Erlangga. Teaching Science Through Discovery. New York: David Mc.M. Jakarta. Fischer. (1985). Teori-teori Belajar. New York: Holt. Jakarta: PN.J. R.H. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager.masyarakat. Inc. (1979). Poedjiadi.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. A.W. P.F. F. “Science-Technology-Society as Reform”. New York: Free Press.(1959). Varella. Pendahuluan 1. & Shoemaker. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. R. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya.F. ICASE YEARBOOK. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. ICASE YEARBOOK. H. 2-8. Titus.M. (1993). Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. (1971). retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. 407-431. E. (1992). eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. Living Issues In Philoshophy. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. namun retensinya berbeda signifikan. Rubba.Rogers. 87-92. Yager. Communication of Innovation: Crosscultural Approach.E. (1992). . R. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Science Education.. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. New York: American Book Company.H.A. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. G.

Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. dapat . Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. 1996:458). banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. mendorong siswa berfikir. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. B. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. 1991: 97).1985:122). Pada kenyataannya. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 2. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. 1996:117). Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Namun. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu.

Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.C. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Wrag dan George Brown . Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula.1987:72). Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. 1996: 18). Namun. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. (1978 & 1990) (dalam Semb et.C. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Retensi mengacu . (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. al. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.. Namun. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Retensi erat hubungannya dengan belajar. dalam Nuryani Rustaman. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). al. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Pertanyaan permintaan (compliance questions). misalnya topik polusi. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. 1991: 97). Hursh (1976).1999:4). 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak..1997: 43) 2. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Dalam mempelajari sains biologi. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Uzer Usman. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut.Wrag dan George Brown 1997: 43).menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Kulik et.

1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. 1959: 236). Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. metode pembelajaran. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. dalam Susan Hanley. tugas yang harus dipelajari. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Winkel (1996: 305). kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. 1959: 241). sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. dan perbedaan individual. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan.pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi).

Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. T2(1)= Pos-tes. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. C. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Tabel 1. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. Pos-tes. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. dan Retensi siswa . X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan.

Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel. Retensi.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.6%) 4 (11.58 8.8%) 4 (11.3%) Retensi K 33 E 35 (97. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.58 81.4%) 5 (13.7%) 18 (50%) 3 3 (8.3 26 63 63 78.83 78 100 89 125 67 100 96 116. Sd = standar deviasi.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41.48 1.Keterangan Konsep Kontrol & kel.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.9 95.3%) - - .5 9.36 80. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.07 11.16 1.8%) 10 (27.75 8.3%) (58.7 X = rata-rata nilai.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre.25 98.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33.3%) 16 (44.6 7.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.9%) 3 (8.93 10.1%) 3 (8. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp. dan R = nilai terendah Tabel 2. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.4 33 52 59 75.7%) (91.3%) (8.25 1.3%) 11 (30.98 50.03 79 74.27 8.2%) 1 (2. T = nilai tertinggi.4 12.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.

Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. 2000:75). 1989:159). Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). Uzer Usman.K= kelompok kontrol. maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. jelas dan stabil. Melalui pertanyaan yang mengarahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. pada struktur kognitif yang tidak stabil. kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. sebaliknya. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. dan E = kelompok eksperimen E. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . . stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Menurut Slameto (1995:123) makin jelas.

Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. Dalam selang waktu tiga minggu. F. 1996:158). pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu Hilgard dan Bower. retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. 1996:102). umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. umumnya sangat baik. lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. 2 dan persentase retensi (tabel 3). Kesimpulan Dan Saran 1. 1996:305). mengakomodasikan. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Namun. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Berdasarkan predikat skor pada postes 1. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. penggunaan memori. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. . 1975 (dalam Muhibbin Syah. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . penemuan sendiri.

Menjadi Guru Profesional. 1999. R. No. New York: Holt. The condition of Learning and theory of Instruction.M. 1995. London: Mc.. Rinehart and Winstron. and Briggs L. 1992. Psychology for Effective Teaching. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran. 1973. Teaching and The Science of Learning. James Deese. Principoles of Instructional Design. Bertanya. Jakarta: Gramedia George J. New York: Renehart and Winston George. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. Ratna Wilis Dahar. The Psychology of Learning. Semb and Ellis.M. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan.2: 305-316 . maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. Graw Hill Book Comp. 1997. b. Saran a. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman.85. J. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa.C. Long-term Memory For Knowledge Learned in School. 25. Gagne. Inc.. Alternatives to Practical Work. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. Journal of Education Psychology. Jim Flower and Lou Cohen. 1967. DAFTAR PUSTAKA Anderson. New York: Harper and Row Publishers Gagne. 1990. 1959. New York: Holt. (271): 117-123. Practical Statistics for Field Biology.M. 1985. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. 1974. Pertanyaan.2. R. R. 1993. B and Wragg.J. School Science Research. vol. Renehart and Winston. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. 1993.

New York: Mc. 1987. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat.. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Internet Travers. 1987. R. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. 1982. 1997. Graw Hill Book Comp. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar.S. 87. W. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. 1992. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. 1995.M. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. E. Wragg. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan.Slameto. Constructivist Theory. 1997.. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley.C. Jakarta: Gramedia. No. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. The Teaching of Science. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Journal of Education Psychology vol.W. Information. Processing and Learning. bahwa di dalam peristiwa pendidikan.3: 468-475 Winkel. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Wang and Thomas. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?.

Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. . maka pengertian itu relatif adanya. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”.yang baik. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. A. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. mempengaruhi. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk).

Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. 1. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Bagi seorang guru kita haris berani: . Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. sederhana tetapi terpelihara. Sikap di muka kelas. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Kelas menjadi gaduh. B. jangan menggangap. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Sikap berpakaian. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. yaitu. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. maka hal ini kita bicarakan.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. mungkin guru. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. mereka harus mengidahkan suruhannya. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. 2. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas.

matanya. Dalam kelas yang suasananya baik. yang selalu gaduh. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Sering guru merasa. umpamanya: murid yang tidak sopan . Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. dan sebagainya. Jangan mengajak murid-murid.a. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. 3. yang kotor. Ciptakan suasana kelas yang baik. 5. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. c. yang tolol. saling tolong menolong. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. e. Sikap sabar. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. . mencelanya. Jangan bersikap putus asa. Karena itu harap sabar. Berani memandang tiap-tiap murid. b. Sikap yang mengejek murid. memukulnya dan sebagainya. f. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. 4. Guru mudah marah menghukum anak. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. mengejek. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Jangan memberi hukuman badan. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. d. mencela. Janganlah guru lekas marah karena itu.

menedang. 9. dan kedua-duanya tidak baik. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. montir. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. ada yang meminta lebih . guru boleh memberi hukuman badan. insinyur. atau ia menjadi takut kepada guru. Guru yang baik. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. sebab biasanya perintahnya dituruti. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Murid-murid akan lekasa mengerti. jarang melarang. Menurut peraturan sekolah. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. untuk memberi hukuman badan. Sikap yang banyak memberi larangan. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Bersikap jujur dan adil. 7. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. karena itu jangan banyak melarang. ahli hukum. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Sikap yang memberi hukuman badan. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Menurut hemat penulis. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. mereka lekas melihat. Memukul murid dengan tongkat kecil. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. guru dilarang memberi hukuman badan. melempar dsb. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. tidak jujur. pilih kasih dan sebagainya. umpamanya: memukul. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik.6. 8.

I. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Simanjuntak M. ada pula pada syarat intelek. Semarang 1995. Toha Putra. Penutup Daripembahasan diatas ini. Jakarta 1989. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. DR. sosial dan sebagainya. Daftar pustaka Abu Ahmad. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. A. VI Januari 1993 M. Didaktik Metodik. cv. . Bambang Laksono. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar.33 Thn. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. cv. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. Prof. diterjemajkan. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Langevld. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. P. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. C. Majalah Mahasiswa No. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.banyak syarat-syarat emosi.. Mashoed. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Memang dalam mendidik. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya..J. nasco. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Baru Jakarta 1996.

Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. Bandung 1993. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. satu-ukuran-untuk-semua. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal).L. dan tidak efektif. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. kerja sama murni. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). Accelerated Learning (A. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. standardisasi. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja.) adalah cara belajar yang alamiah.Otang Kardi Saputra. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. lamban.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. pada kerja sama . Belajar dan Pembelajaran . variasi dan keragaman dalam metode belajar. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. organis bukan sekedar mekanis.L. pada prestasi individu. cetakan ketiga. Winarno Surakhmad. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. kontrol birokrasi terpusat. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. fragmentasi. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Metode-metode belajar konvensional. (A. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. pelatih sebagai pelaksana program. Tarsito. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. FKIP-UNLA 2000. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. kontrol luar. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan.

dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Georgi Lozanov. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. sugesti. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. statis. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. kesalingterkaitan. kita semua harus menjadi inovator. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. dan kita lamban menyadarinya. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Di setiap tingkatan. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. dan dapat diramalkan. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif.dan prestasi kelompok.

L. kreatif. dan aplikasi A. dan “hidup”. rasional. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. semua indra. nonmekanistis. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Pengetahuan bukanlah sesuatu . dan verbal). Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. 5. Ilmu kognitif modern. 2. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. 3.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. 6. Belajar adalah Berkreasi. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. 7. dan sarafnya. linear. memakai “otak kiri”. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. 2. metode. 1. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. kolaboratif. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. indra. seluruh tubuh. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). 4. diantaranya : 1. Bukan Mengonsumsi. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi.

Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Kita belajar berenang dengan berenang. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. jaringan saraf baru. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). 3. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. cara menual dengan menjual. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). merenung. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. S. Perasaan negatif menghalangi belajar. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri.yang diserap oleh pembelajar. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. otak bukanlah prosesor berurutan. Bagaimanapun juga. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. 6. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Perasaan positif mempercepatnya. 7. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. indra. dan menarik hati. 4. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar.Pd. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. mendapatkan umpan balik. santai. Belajar yang penuh tekanan. . Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. melainkan prosesor paralel. menyakitkan. dan menerjunkan diri kembali. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis.

pendidikan harus dipandang sebagai investasi. A. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Untuk menjawab hal tersebut di atas. Dengan demikian. Sudah saatnya. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. pembiayaan dalam pendidikan. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. investasi dalam pendidikan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung .

pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. telepon. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. yaitu 1. Pendapatan per-kapita 2. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. 6. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan . namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan kata lain.pembangunan adalah pendidikan masyarakat. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. 5. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Diantara ukuran-ukuran tersebut. dan 2. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. diantaranya: 1. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4.

Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. 1. 2. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Secara ringkas tampak berikut ini. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Ekonomi di negara sosialis. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Negara Industri vs Non-Industri. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . Di Amerika Serikat yang sudah maju. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Di negara maju. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. pemakaian teknologi yang canggih. Berdasarkan hal tersebut di atas.karakteristik khas setiap negara. Dari uraian di atas. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. 1. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Di negara non-industri. Pendapatan per-kapita 3.

Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Pendapatan nasional. Kenneth J. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Pendidikan. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Pendapatan Domestik Bruto. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. maupun Pendapatan Perkapita 3. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. sementara bentuk pendidikan formal. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Konsumsi energi A.5. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Perubahan peta ketenagakerjaan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Dengan demikian maka investasi dalam . baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. 1.

Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. 1991: 14). maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. yaitu: 1. 3. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). 2. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Dalam kaitan ini. 2. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. 4. Backer. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Sebagai fungsi investasi.

Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Di samping tenaga kerja. Oleh karena itu. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Jones melihat. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Tabungan ini akan menjadi investasi . untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. midle. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Menurutnya.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. distribusi. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. B. dan low management. dan konsumsi. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang.

Pd. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. C. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. yaitu: 1. M. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Hj. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. dan 2. . Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. sekolah maupun masyarakat. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Sebagai ilustrasi. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. pendidikan dalam keluarga. yaitu: 1. tingkat pendidikan. dan 3. Argumen ini memiliki dua sepek. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Elly Retnaningrum. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. baik di keluarga. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. tingkat pendalaman agama. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Kata Kunci: Konflik sosial.

beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kedua. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. kondisi ini mengakibatkan munculnya . yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Lebih jauh. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Sambas. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Ketiga. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Pertama.

Untuk mengantisipasi kondisi itu. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Keempat. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. menghilangkan nyawa orang lain. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. serta masyarakat. baik di lingkungan keluarga. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Misalnya. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. sekolah.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. dan semacamnya. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. merusak fasilitas umum. Dan yang lebih mendasar. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. . Selain itu. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Kelima. Ini bisa diperkuat di sekolah.

akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. kekerasan. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Untuk itu. Erman Suherman. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Drs. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Berbagai tindak penyimpangan.Demikianlah. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. agama. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Dalam situasi sehari-hari. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. sekolah. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. M. Dengan belajar aktif. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. dan ras dapat dihindarkan. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . H. Ar. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. secara langsung maupun tidak langsung.Pd. afektif.

potensi siswa. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Namun pada kenyataannya. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Padahal. tuntutan KBK. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. pada pihak siswa. dan guru itu sendiri. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. dan memang itu kewajiban utama. fasilitas. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. materi. Demikian pula. Guru masih dominan dan siswa resisten. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. yang saya hormati dan saya banggakan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. life skill. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. guru aktif dan siswa pasif. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). . pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. suasana belajar A. Dengan paradigma yang berubah. sehingga misi KBK dapat terwujud. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. model pembelajaran.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. kompetensi. Kata Kunci: model belajar.

pengendalian impulsi. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. hipotesis. observasi. kata kunci). komunikasi. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . empati). guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. tidak parsial terpisah satu . Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. Dengan memahami model-model belajar ini. dan tidak sebaliknya. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. kecakapan hidup. pemecahan masalah). terutama kognitif) disebut dengan hard skill. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya.B. yaitu: 1. penalaran. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. aplikasi. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. analisis. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. karena ia telah memiliki komptensi. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Istilah psikologi kontemporer. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. identifikasi. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. prilaku). C. motivasi aktivitas positif. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. kreativitas. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. presentasi. Dengan perkataan lain. generalisasi. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. membaca. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. investigasi. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). pengelolaan suasana hati. eksplorasi. koneksi. konjektur. sosialisasi. Inilah hakikat pembelajaran. inkuiri. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%.

atau ke tokoh lain Oneng. Dalam bidang studi keahlian anda. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. seperti gemuk. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Sebagai contoh. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. . Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Bagaimana dengan anda?. kocak. Ucup. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. dosen-dosen dan staf administrasi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. atau yang lainnya. mengobrol atau bercanda tanpa makna. misalnya berangan-angan. supir bajay. Hindun. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Ema. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Akuntansi. Yang produknya berupa peta konsep. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. misal kenakalan atau lamunan. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). menonton. Selanjutnya. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Agama. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Mengingat hal itu. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. sederhana. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. 2. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. pejabatnya. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. sebagai instrumen kecerdasan.

berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. yaitu kondisi individu. dan kreativitas. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. koneksi. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. dkk. strategi. tergantung dari variabel meta kognitif. Holler. Musical-rithmic. senyum-tertawa. Linguistic-verbal. Body-kinestic. dan regulasi. sintesis. 3. suasana nyaman dan menyenangkan. spasial. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. pertanyaan. verbal. natural. yaitu: kesadaran. teratur. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. dan aplikasi. sekuensial. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . dan ibadah lainnya. prediksi.misalnya keramahan. holistic. kompleksitas. ide. manfaat. rasional. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. emosional. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. kelembutan. Metakognitif Secara harfiah. Sebagai orang beragama. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. realitas. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. pengalaman. bantuan. Intrapersonal-reflective. yaitu Spacial-visual . Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. dan simbolik. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. monitoring. kesadaran diri. linier. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. intuitif. abstrak. dan regulasi. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. musik. pengetahuan. yaitu: refleksi kognitif. Logic-thinking-reasoning. monitoring. Interpersonalcommunication. dan strategi berpikir. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir.

menggunakan. partisipatidf. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. untuk kita simak dan renungkan. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. ataupun dengan guru. dan cemas. pribadinya berpola negative. Mencobapek (menyelidiki. m\udah menyerah. memanfaatkan. prasangka. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. dan sosok panutan). Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. Sebagai guru. menjawab. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. ingin mencoba. dikendalikan keadaan . Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. Akibatnya sungguh mengejutkan. 5. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. meng-identifikasi. bersikap mengajak dan bukan memerintah. keberanian. Agar bermakna. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. seperti pesimis. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. 4. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). presentasi. yaitu optimis. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. menduga. menemukan). sehingga dia tumbuh menjadi penakut. siswa dengan fasilitas belajar. ragu-ragu. dan mau memperbaiki diri. nada suara.presentasi). ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. katakana “saya …. Makin lama ia makin dewasa. mengembangkan). tumbuhkan citra positif. ada kebebasan memilih. punya alternative. pembenaran. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat.” bukan katanya. suka tantangan. menghindar. dan sibuk dengan alasan. menyimpulkan. diskusi). gerak tubuh. menimpakan kesalahan. berkomentar. mengerjakan. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. pemalu. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. mengendalikan keadaan. bertanya. mengkomunikasikan.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. membiarkan. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan.

kekonvergenan. mengeksplorasi. justifikasi. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. tindak lanjut. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. 6. refeleksi-eksplanasi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. koherensi. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. keterpaduan. Dengan perkataan lain. dari melihat 30%. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. dan sintaks (SOP). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. simbolisasi. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). dan daily life (kontekstual). yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). konstruksivis. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. berhipotesis.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). Selanjutnya. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. 7. mendengar dan melihat 50%. dan bukan dengan kegiatan mengajar. tepai harus dengan hands-on. berkonjektur. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. atau mungkin terjadi eksalahan. dari mendengar 20%. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. yaitu: konsistensi internal. menggunakan kesempatan . Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. minds-on. kontinuitas historical. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. menggeneralisasi.

membiarkan segalanya terjadi. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. tanya-jawab. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. tugas. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. seperti kemampuan sosialisasi. Dari indikator belajar aktif. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. melakukan-mengkomunikasikan. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. pengalaman. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. dan kondisi guru itu sendiri. sifat materi bahan ajar. D. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. menghindar dari kegiatan. mengerjakan). dan rasa senasib. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Oleh karena itu. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. tanggung jawab. structuralistic (terstrutur. mengabaikan kesempatan. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok.diskusi. empati dan pengendalian diri. 1. dan inklusif life skill. menyelesaikan persoalan. atau inkuiri. konstruksivis-inkuiri. pembegian tugas. Dalam prakteknya. presentasi. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. aksionmatik). Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. siawa . Dengan memanfaatkan kenyatan itu. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. belajar berkelompok secara koperatif. Koperatif (CL. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. sitematik.untuk meraih manfaat. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. kontekstual-trealistik. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. fasilitas-media yang tersedia. empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Cooperative Learning). berupaya terlaksana.

motivasi. dan pelaporan. yaitu matematika horizontal (tools. minds-on. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. 3. generalisasi. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. investigasi. inquiry (identifikasi. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. tindak lanjut). inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). gender. sharing). questioning (eksplorasi. evaluasi. menemukan). negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). karekter). analisis-sintesis). prinsip. inkuiri.heterogen (kemampuan. konjektur. Kontekstual (CTL. constructivism (membangun pemahaman sendiri. pengarahan-petunjuk. contoh). fakta. latihan . hipotesis. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. konsep. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. yaitu modeling (pemusatan perhatian. ada control dan fasilitasi. penilaian portofolio. mencoba. mengerjakan). informal ke formal). authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. terbuka.nyaman dan menyenangkan. rambu-rambu. mengkonstruksi konsep-aturan. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). siswa melakukan dan mengalami. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. tidak hanya menonton dan mencatat. sajian informasi dan prosedur. membimbing. pengemabngan mateastika). pengarahan-strategi. rangkuman. menuntun. generalisasi). hands-on. presentasi hasil kelompok. motivasi belajar muncul. 2. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). penyampaian kompetensitujuan. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. 4. kerja kelompok. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. Pembelajaran Langsung (DL. membentuk kelompok heterogen. dan suasana menjadi kondusif . Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. Realistik (RME. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. mengembangkan. mengarahkan. reflection (reviu. dunia pikiran siswa menjadi konkret. algoritma.

fluency). Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar.atau algoritma). Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. siapkan rencana bimibingan (sedikit . Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. komunikasi-interaksi. induksi. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. latihan mandiri. identifikasi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. keterbukaan. table). Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa.terbimbing. demokratis. dan evaluasi. interpretasi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. mengeksplorasi. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. sintesis. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. negosiasi. 5. menduga. keterbukaan. menyusun soalpertanyaan. kreativitas. belum dikenal cara penyelesaiannya. kognitif tinggi. cari alternative.menginvestigasi. eksplorasi. terbuka. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. kritis. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. 7. 8. jalan keluar. diagram. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. dan sosialisasi. keterpasuan. investigasi. Sintaknya adalah: pemahaman. . kaitakkan dengan materui selanjutnya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. cara. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. siswa mengidentifkasi. dan inkuiri 6. refleksi. identifikasi kekeliruan. Problem Terbuka (OE. dan ragam berpikir. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. dan akhirnya menemukan solusi. konjektur. aturan. sharing. elaborasi (analisis). jawaban siswa beragam. generalisasi. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. menimalisasi tulisan-hitungan.

SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. senyum. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Ada canda. bertanya. Auditory yang bermakna bahwa . kemudian eksplanasi (empiric). Jangan lupa. dan memotivasi diri. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. pengorganisasian pembelajaran. suara menyejukkan. membaca-merangkum. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. pengarahan. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. 9. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. dan ceria. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan.demi sedikit dilepas mandiri). Sintaknya adlaha menyajikan masalah. merangkum. perhatikan dan catat reson siswa. namun demikian bisa dibiasakan. 12. 11. yaitu: informasi. membuat kesimpulan. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). berkelompok mengerjakan LKSD-modul. yaitu bagaimana siswa belajar. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. ia telah berpartisipasi 10. berpikir. bimbingan dan pengarahan. sehingga suasana menjadi nyaman. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). menyenangkan. Untuk mewujudkan belajar efektif. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. mengingat. hipotesis. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. nada lembut. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. dan tertawa. Untuk mngurang kondisi tersebut. representasi.

belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. 13. menemukan. mengemukakan penndepat. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. menggambar. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. santun. . siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. very good.). mengkonstruksi. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. e. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. presentasi. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. berikan penghargaan kelompok dan individual. Siapkan meja turnamen secukupnya. menyimak. lembut. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. dan menerapkan. argumentasi. memecahkan masalah. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. medium. mencipta. membaca. Bumping. menyelidiki. mengidentifikasi. menggunbakan media dan alat peraga. dan ada sajian bodoran. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. SDetelah memperoleh tugas. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). d. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. dan mennaggapi. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. ramah . berbicara. good. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. mendemonstrasikan. c. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara.

dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.14. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. perluasan. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. saling tukar jawaban. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. 16. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. umumkan hasil kuis dan beri reward. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. VAK (Visualization. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Auditory. buat kelompok heterogen (4-5 orang). dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. 15. 18. AIR (Auditory. Intellectualy. . 17. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. mengembangkannya.

rencanakan pelaksanaan investigasi. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. 20. iformasi bahan ajar. kembali ke kelompok aasal. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. diskusi. 21. buat kelompok heterogen. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. misal mengukur tinggi pohon. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. umumkan hasil kuis dan berikan reward. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. penyimpulan dan evaluasi. tuiap kelompok bahan belajar sama. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. presentasi dan diskusi. presentasi. pilih strategi solusi 23. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. 24. 22.19. umumkan hasil kuis dan berikan reward. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. presentasi kelompok (share). refleksi. Sinatknya adalah: . TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. banyak guru dan staf sekolah). mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. buat skor perkem\angan siswa. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. Pengarahan. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. mengkritisi. dan alternative solusi). kuis individual. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. buat skor perkembangan tiap siswa. identifikasi perbedaan. kuis individual.

darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Read. Read. mendalami. 27. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Sintaknya adalah kerja kelompok. CORE (Connecting. Recite. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Ajukan pengujian pemahaman. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. dan konsep-ide. (0) organisasi ide untuk memahami materi. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Refleting. diskusi. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. kerja kelompok. Reflect. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. Organizing. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. menggunakan. memperluas. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. (R) memikirkan kembali. SQ4R (Survey. dan menemukan. analisi pengalaman. dan menggali. melaporkan. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. dan Introspeksi melalui . kembali ke kelompok asal. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Kerangka pikir untuk sukses. 25. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. kerja kelompok. Recite. presentasi.informasi. laporan kelompok. Question. Question. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). (E) mengembangkan. 26. SQ3R (Survey. 29.

mengidentifikasui kausal. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. 3 untuk sure. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. analisis kausal. pertimbangan solusi. 1 untuk amost guest. mengelompokkan gejala. Sintaksnya adalah: persiapan. Sintaknya adalah: identifkasi. deteksi kausal lain. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. refleksi. pendahuluan. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. siswa yang berada di lingkran luar . dan implementasi solusi utama. solusi tentative. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. Integrated. deteksi kausal. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. penggunaan. 4 untuk almost certain. 31. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. CIRC (Cooperative. 32. penerapan. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. imoplementasi solusi. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. pengemabangan. 2 untuk not sure. dan rencana solusi yang terpilih. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. identifikasi kausal utama. dan penutup. Reading.refleksi diri tentang gaya belajar. menemukan kata kunci. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. 34. 33. 35. presentasi hasil kelompok. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. dn 5 untuk certain. menemukan pilihan solusi utama.

41. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. dan seterusnya 36. bekerja . penyampaian kompetensi. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. sajian materi pokok. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. sajian materi. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. 37. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. presentasi di depan hasil diskusinya. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. pembentukan kelompok siswa. 40. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. membentuk kelompok. bimbingan penimpoulan dan refleksi. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. dan kembali berbagai informasi. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. 39. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. bentuk kelompok berpasangan sebangku. 38. presentasi hasil kelompok. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan.

46. penyimpulan dan evaluasi. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. Make-A Match . 48. tanya jawab untuk pemantapan. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. mengecek pemahaman dan balikan. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. refleksi. langkah demi langkah bertahap. bertukar peran. refleksi. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. 44. membimbing pelatihan-penerapan. refleksi. penyimpulan dan evaluasi. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. 47. penyimpulan dan evaluasi. refleksi dan evaluasi 42. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. penyuimpulan. sajian materi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. sajian materi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. pengecekan kebenaran jawaban. sajian gambaran umum materi bahan ajar. refleksi. refleksi. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. kesimpulan dan evaluasi. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. sajikan materi. 43. 45. pemberian reward. kelompok lain menjawab secara bergantian. penyimpulan dan evaluasi.kelompok. dikusi kelas. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok.

Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. 50. 51. bertukar peran. penyimpulan dan evaluasi. rencana. siswa latian dan bertanya. evaluasi dan refleksi. adakah alternative. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. Obtaining mastery. presentasi hasuil diskusi kelompok. bimbingan penyimpulan. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. 52. Reviewing and reducing difficulty. valuasi dan refleksi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. dan pengecekan. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. Verivication. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. Sintaks: pemahaman masalah.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. sajian materi. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. kartu dikumpul lagi dan dikocok. apakah bermanfaat. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. refleksi. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. evaluasi dan refleksi. 53. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. sajian permasalahan terbuka. Metakognitive questioning. Examples Non Examples Persiapkan gambar. diagram. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. evaluasi dan refleksi. penyimpulan. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. Enrichment. 49. solusi. apakah solusinya. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. penyimpulan. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. Practicing. presentasi hasil kelompok. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. 54. . setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. bagikan wacana materi bahan ajar.

tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. 58. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.dan nama yang diberi. dan refleksi 56. . siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. 60. 59. informasikan kompetensi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . berikan latihan soal bertingkat. sampaikan kompetensi. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. sajian materi.55. berupa opemecahan masalah. presentasi. siswa ditugaskan membaca wacana. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. pengungkapan ide-konsep awal. evaluasi. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. guru membentuk kelompok. setelah selesai kupon dikembalikan. sajian materi. Tanya jawab dan refleksi 57. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. ranguman. membentuk kelompok heterogen.bahan belajar . Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. aplikasi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. presentasi. evaluasi dan refleksi 61. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. siswa berkelompok melengkapi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap.

dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. kelompok-kerjasama. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. reward. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. interaktif. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. 65. kebebasan-terbuka. konsep harus dialami. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. latihan. 64. c = communication. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. Begitu pulal dalam pembelajaran. dan hipotesis. dan saling menghargai. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. semua mempunyai tujuan. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. menciptakan inovasi. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. kohesif. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. kerja individual. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. virtual workshop menggunakan computer-internet. tiap usaha siswa diberi reward.berikan sal tes bentuk super item. 63. integrasi. Oleh karena itu . namai-buat generalisasi sampai konsep. partisipatif. dengan E = energi yang diartikan sukses. lima kali salah guru membimbing. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. alami-dengan dunia realitas siswa. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. dinamis. ketrampilan. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. 62. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. E. koperatifinkuiri-solusi-workshop. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.

Quantum Learning.Ar. Burton. Emotional Intelligence. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Tony (1989). Jakarta. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. S. New York: Bantam Books. Goleman. Howard (1985). L (1993). New York: Dell Publishing. Use Both Sides of Yoru Brain. Gardner. What is Contextual Learning. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Cord (2001). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Semoga. Bandung: JICA-FPMIPA. The Constructivist Classroom Education in Profile. dkk. . Erman. CTL). dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. (2002). WWI Publishing Texas: Waco. Ditdik SLTP (2002). Emotional Spritual Quotient (ESQ). New York: Penguin Books. Buzan. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. dan model pembelajaran yang inovatif. komunikasi positif yang efektif. Bobbi (1992). tidak lagi takut dalam berpartisipasi. New York: Basic Bools. De Porter.:Depdiknas. 3rd ed.. Perth: Edith Cowan University.penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Daniel (1995). Jakarta: Arga.