P. 1
Kelas10 Smk Kimia Ratna

Kelas10 Smk Kimia Ratna

|Views: 441|Likes:
Published by NursandiKunciCahaya

More info:

Published by: NursandiKunciCahaya on Aug 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2011

pdf

text

original

Sections

  • 1 MATERI DAN WUJUDNYA
  • 1.1 Materi
  • 1.2 Perubahan fisika dan kimia
  • 1.3 Wujud materi
  • 4) Hukum Keadaan Standar
  • 5) Hukum Gas Ideal
  • 2 Struktur Atom
  • 2.1 Partikel-partikel Dasar Atom
  • 2.3 Elektron dalam atom
  • 2.4 Perkembangan model atom
  • 2.5 Perkembangan pengelompokan unsur
  • 2.6 Sifat periodik unsur
  • 3 Stoikhiometri
  • 3.1 Konsep mol
  • 3.2 Penerapan hukum Proust
  • 4 Ikatan Kimia
  • 4.1 Elektron dan Ikatan Aturan Oktet
  • 4.2 Ikatan ion
  • 4.3 Ikatan kovalen
  • 4.4 Polarisasi Ikatan Kovalen
  • 4.5 Sifat senyawa ion dan senyawa kovalen
  • 4.6 Ikatan Kovalen Koordinat
  • 4.7 Penyimpangan aturan oktet
  • 4.8 Struktur Lewis
  • 4.9 Ikatan logam
  • 5 Larutan
  • 5.1 Pendahuluan
  • 5.2 Larutan elektrolit
  • 5.3 Konsentrasi Larutan
  • 5.4 Stoikiometri Larutan
  • 5.5 Sifat Koligatif Larutan
  • 5.6 Hasil Kali Kelarutan
  • 5.7 Kelarutan
  • 6 KOLOID
  • Pengelompokan Koloid
  • 7 Kesetimbangan
  • 7.1. Definisi
  • 7.2 Karakteristik keadaan kesetimbangan
  • 7.4 Konstanta kesetimbangan
  • 7.5 Hukum Guldberg dan Wange :
  • 7.6 beberapa hal yang harus diperhatikan
  • 7.7 Azas Le Chatelier
  • 7.9 Hubungan Antara Harga Kc Dengan Kp
  • 8 Termokimia
  • 8.1 Definisi
  • 8.2 Pengukuran energi dalam reaksi kimia
  • 8.3 Panas reaksi dan termokimia
  • 8.4 Entalpi (H) dan perubahan entalpi (∆H)
  • 8.5 Istilah yang digunakan pada perubahan entalpi :
  • 8.6 Hukum Hess mengenai jumlah panas
  • 8.7 Panas pembentukan
  • 8.8 Keadaan standard
  • 8.9 Kapasitas panas dan panas spesifik
  • 8.10 Kalorimetri
  • 8.11 Energi Ikatan Dan Entalphi Reaksi
  • 9 Elektrokimia
  • 9.1 Reaksi redoks
  • 9.2 Harga bilangan oksidasi
  • 9.3 Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks
  • 9.4 Penyetaraan persamaan reaksi redoks
  • 9.5 Perbedaan oksidasi reduksi
  • 9.6 Sel elektrokimia
  • 10. 1 Definisi Laju Reaksi
  • 10.2 Hukum Laju
  • 10.4 Teori Tumbukan

Ratna dkk

KIMIA
JILID 1

SMK



Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang




KIMIA
JILID 1


Unt uk SMK

Penulis : Ratna
Didik Prasetyoko
Lukman Atmaja
Irmina Kris Murwani
Hendro Juwono

Perancang Kulit : TIM



Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm


















Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008

RAT RATNA
k Kimia Jilid 1 untuk SMK /oleh Ratna, Didik Prasetyoko,
Lukman Atmaja, Irmina Kris Murwani, Hendro Juwono ---- Jakarta :
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
viii. 219 hlm
Daftar Pustaka : A1
ISBN : 978-602-8320-45-0
978-602-8320-46-7
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat
dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan
buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta
buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku
pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk
SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk
digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus
2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak
cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk
digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh
masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial
harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan
akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun
sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses
dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan
semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK
iv

KATA PENGANTAR




Buku Ki mi a i ni di susun unt uk memenuhi kebut uhan buku aj ar di
Sekol ah Menengah Kej ur uan yang i si nya di dasar kan pada KTSP unt uk
Sekol ah Menengah Kej ur uan dan t er di r i dar i t eor i , cont oh soal ser t a
l at i han. Adapun ur ut an penyaj i an set i ap mat er i di dasar kan pada
i nst r umen penyusunan buku ki mi a yang di kel uar kan ol eh BNSP. Unt uk
memper kaya penget ahuan par a si swa Sekol ah Menengah Kej ur uan,
dal am buku i ni j uga di saj i kan t opi k yang seyogyanya di mi l i ki ol eh par a
si swa t er sebut , seper t i pol i mer , cat , l ogam dan sebagai nya.

Sebagai bahan acuan penyusunan buku i ni , di gunakan buku t eks Ki mi a
yang di gunakan ol eh par a si swa Sekol ah Menengah At as di Inggr i s,
Sekol ah Menengah Kej ur uan di Jer man ser t a beber apa buku t eks Ki mi a
Dasar yang l ai n.

Kami ber har ap, kehadi r an buku i ni dapat membant u si swa maupun
gur u dal am pembel aj ar an Ki mi a di Sekol ah Menegah Kej ur uan. Ti dak
l upa, ucapan t er i makasi h kami sampai kan pada Di r ekt ur Pembi naan
Sekol ah Menengah Kej ur uan at as keper cayaan yang t el ah di ber i kan.








Ti m Penyusun
v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................. iv
DAFTAR ISI............................................................................. v
JILID 1
1 MATERI DAN WUJUDNYA..................................... 1
1.1 Materi............................................................................ 1
1.2 Perubahan Fisika dan Kimia...................................... 3
1.3 Wujud Materi............................................................... 5
1.4 Hukum Keadaan Standar ........................................... 13
1.5 Hukum Gas Ideal ......................................................... 13
2 STRUKTUR ATOM.................................................... 23
2.1 Partikel-Partikel Dasar Atom..................................... 24
2.2 Nomor atom, nomor massa, isotop, isobar dan isoton32
2.3 Elektron Dalam Atom.................................................. 34
2.4 Perkembangan Model Atom....................................... 43
2.5 Perkembangan pengelompokan unsure..................... 46
2.6 Sifat periodik unsure ................................................... 52
3 STOIKHIOMETRI...................................................... 63
3.1 Konsep mol ................................................................... 63
3.2 Penerapan Hukum Proust........................................... 68
4 IKATAN KIMIA.......................................................... 75
4.1 Elektron dan Ikatan Aturan Oktet ............................ 76
4.2 Ikatan Ion ..................................................................... 77
4.3 Ikatan Kovalen............................................................. 79
4.4 Polaritas Ikatan Kovalen............................................. 81
4.5 Sifat senyawa ion dan senyawa kovalen..................... 83
4.6 Ikatan Kovalen Koordinat .......................................... 83
4.7 Penyimpangan Aturan Oktet...................................... 84
4.8 Struktur Lewis ............................................................. 84
4.9 Ikatan Logam............................................................... 85
5 LARUTAN.................................................................... 89
5.1 Pendahuluan................................................................. 90
5.2 Larutan Elektrolit........................................................ 91
5.3 Konsentrasi Larutan.................................................... 92
5.4 Stoikiometri Larutan................................................... 94
5.5 Sifat Koligatif Larutan ................................................ 96
5.6 Hasil Kali Kelarutan.................................................... 102
5.7 Kelarutan...................................................................... 103
6 KOLOID....................................................................... 107
6.1 Pendahuluan................................................................. 107
vi
6.2 Pengelompokan Koloid................................................ 109
6.3 Sifat-Sifat Koloid.......................................................... 110
6.4 Koloid Liofil dan Koloid Liofob ................................. 112
6.5 Pemisahan Koloid ........................................................ 115
6.6 Pembuatan Kolid ......................................................... 117
7 KESETIMBANGAN.................................................... 121
7.1 Definisi .......................................................................... 122
7.2 Karakteristik keadaan kesetimbangan...................... 123
7.3 Macam-macam Sistem Kesetimbangan..................... 124
7.4 Konstanta Kesetimbangan.......................................... 124
7.5 Hukum Guldberg dab Wange..................................... 125
7.6 Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan................... 126
7.7 Azas Le Chatelier......................................................... 128
7.8 Faktor-faktor yang Dapat Menggeser Letak
Kesetimbangan............................................................. 130
7.9 Hubungan Antara Harga Kc Dengan Kp.................. 133
7.10 Dissosialisasi ................................................................. 136
8 TERMOKIMIA............................................................ 141
8.1 Definisi .......................................................................... 141
8.2 Pengukuran Energi dalam Reaksi Kimia.................. 143
8.3 Panas Reaksi dan Termokimia................................... 144
8.4 Entalpi (H) dan Perubahan Entalpi (¨H).................. 146
8.5 Istilah yang Digunakan pada Perubahan Entalpi..... 147
8.6 Hukum Hess mengenai jumlah panas........................ 148
8.7 Panas Pembentukan..................................................... 153
8.8 Keadaan Standard ....................................................... 154
8.9 Kapasitas panas dan panas spesifik ........................... 157
8.10 Kalorimetri ................................................................... 157
8.11 Energi Ikatan Dan Entalphi Reaksi ........................... 158
9 ELEKTROKIMIA....................................................... 167
9.1 Reaksi Redoks .............................................................. 168
9.2 Harga Bilangan Oksidasi ............................................ 170
9.3 Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks........... 170
9.4 Penyetaraan persamaan reaksi redoks ...................... 171
9.5 Perbedaan Oksidasi Reduksi ...................................... 172
9.6 Sel Elektrokimia........................................................... 173
10 KINETIK KIMIA........................................................ 193
10.1 Definisi Laju Reaksi..................................................... 194
10.2 Hukum Laju ................................................................. 196
10.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi
........................................................................................ 196
10.4 Teori Tumbukan.......................................................... 202


1
1 MATERI DAN WUJUDNYA




Tersusun dari materi
apakah tabung gas LPG di gambar
1.1, dan bagaimana wujudnya?
¾ Apa materi penyusun
tabung?
¾ Apa materi penyusun
LPG?
¾ Perubahan wujud apa
yang terjadi pada LPG?
¾ Pembakaran, reaksi fisika
atau kimia?

Pada bab ini kita akan
mempelajari tentang materi,
istilah-istilah yang berhubungan
dengannya dan perubahan
wujudnya.
¾ Materi
¾ Perubahan fisika kimia
¾ Wujud materi




Gambar 1.1 Tabung LPG




1.1 Materi

Materi adalah material fisik yang menyusun alam, yang bisa diartikan
sebagai segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang.
Materi dapat berbentuk gas, cair, dan padat.
Contoh: udara, kapur, meja.
Kimia mempelajari komposisi, struktur dan sifat dari materi, serta
perubahan kimia yang terjadi dari materi satu ke yang lainnya.
Contoh: kayu terbakar menjadi arang.
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Memahami konsep materi dan
perubahannya
Mengelompokkan sifat materi
Mengelompokkan perubahan
materi
Mengklasifikasikan materi
Tujuan pembelajaran
mengenal sifat berbagai jenis materi dan wujudnya
memahami perubahan materi dengan cara mengamati
mampu menerapkan hukum-hukum gas pada beberapa contoh kasus
Materi
berhubungan
dengan massa dan
ruang


2

Penyusun materi. Materi dapat tersusun dari substansi murni atau
tunggal yang terdiri dari satu unsur atau beberapa unsur yang
membentuk suatu senyawa. Materi juga dapat tersusun dari senyawa
campuran, yang tercampur secara homogen atau heterogen (Gambar
1.2).


Gambar 1.2 Skema klasifikasi materi
Substansi murni :
materi yang mempunyai sifat dan komposisi tertentu.

Unsur :
substansi murni yang tidak dapat dipisahkan menjadi sesuatu yang
lebih sederhana, baik secara fisika maupun kimia, mengandung satu
jenis atom.
Contoh: hidrogen, oksigen.

Senyawa :
terbentuk dari ikatan antara atom penyusunnya, dan dapat dipisahkan
secara kimia menjadi unsur penyusunnya.
Contoh: air (H
2
O), gula, CaCO
3
.

Campuran :
materi yang tersusun dari beberapa substansi murni, sehingga
mempunyai sifat dan komposisi yang bervariasi.
Contoh: gula + air menghasilkan larutan gula, mempunyai sifat manis
yang tergantung pada komposisinya.
Homogen
MATERI
Heterogen
Senyawa Unsur
Campuran Substansi murni
Disusun oleh
satu jenis
atom
Disusun oleh
lebih dari satu
jenis atom
Mempunyai
komposisi dan
sifat yang
seragam pada
setiap bagian
campuran
Mempunyai
komposisi dan
sifat yang
bervariasi pada
setiap bagian
campuran
Mempunyai komposisi yang
dapat dipisahkan secara fisika
(dipanaskan, diayak)
Gula dan pasir,
pasir dan semen,
nasi campur
(nasi, lauk, dll)
oksigen,
nitrogen
Karbon dioksida,
air, gula, garam
Gula dan air,
aseton dan air,
udara, dll
Sifat fisika dan
kimia untuk
klasifikasi materi


3


Campuran homogen :
mempunyai sifat dan komposisi yang seragam pada setiap bagian
campuran, tidak dapat dibedakan dengan melihat langsung.
Contoh: garam dapur dan air.

Campuran heterogen :
mempunyai sifat dan komposisi yang bervariasi pada setiap bagian
campuran, dapat dibedakan dengan melihat langsung (secara fisik
terpisah).
Contoh: gula dan pasir.

Gambar 1.3 menunjukkan sebagian permukaan bumi. Unsur
aluminium, besi, oksigen, dan silikon merupakan 88% penyusun
permukaan bumi dalam bentuk padatan. Air pada permukaan bumi
dan dalam bentuk gas tersusun dari hidrogen dan oksigen. 99% udara
tersusun dari nitrogen dan oksigen. Hidrogen, oksigen, dan karbon
adalah 97% penyusun tubuh manusia.









Gambar 1.3 Permukaan bumi dan udara

Akt i vi t as si swa :

¾ Terdiri dari unsur apakah penyusun kursi yang Anda duduki?
¾ Cari benda di sekitar Anda, dan perkirakan unsur penyusunnya!

1.2 Perubahan fisika dan kimia

Perubahan yang melibatkan sifat fisika atau kimia.

Sifat fisika : sifat yang tidak mengubah sifat kimia suatu materi.
• Karakteristik fisika bau, kekerasan, titik didih, wujud materi.

Sifat kimia : sifat yang mengubah sifat kimia suatu materi.
• Menerangkan bagaimana suatu materi bereaksi dengan materi
yang lain membentuk suatu materi baru.







4
Sifat fisika Contoh

™ Suhu
™ Massa
™ Warna
™ Bau
™ Titik didih
™ Kelarutan
™ Berat jenis
™ Kekerasan
™ Kelistrikan

Air untuk mandi 40°C
5 gram Nikel
Belerang kuning
H
2
S busuk
Air pada 100°C
NaCl larut dalam air
Air 1 gram/mililiter
Intan sangat keras
Besi menghantar listrik


Substansi Sifat kimia
™ Besi (Fe)

™ Karbon (C)

™ Natrium

™ TNT
Korosi Æ Fe
2
O
3


Terbakar Æ CO
2


Dengan air Æ NaOH + H
2


Meledak (terurai) Æ gas

Ciri-ciri yang mengindikasikan adanya perubahan kimia :
¾ Perubahan warna
¾ Perubahan bau
¾ Pembentukan gas
¾ Timbulnya cahaya
¾ Pembentukan endapan baru
¾ Perubahan pH.

Contoh :

Gula adalah senyawa yang mudah terurai (dekomposisi) dengan
pemanasan menjadi senyawa yang lebih sederhana, misalnya karbon
hitam (arang), yang tidak dapat terurai lagi baik secara fisika maupun
kimia, tetapi dapat berubah struktur dan sifatnya menjadi grafit dan
intan (Gambar 1.4 - 1.6).










Gambar 1.4 Dekomposisi gula oleh panas

Perubahan fisika


5
Akt i vi t as si swa :

Perubahan kimia atau fisika?

¾ Hujan asam
¾ Besi meleleh oleh panas
¾ Gas alam dibakar















Gambar 1.5 Pelelehan besi

















Gambar 1.6 Pembakaran gas alam


1.3 Wujud materi

Setiap saat, kita berinteraksi dengan benda-benda di sekitar
kita seperti udara, air, dan bangunan. Benda-benda tersebut
mempunyai wujud yang berbeda-beda, dan dikelompokkan sebagai
gas, cair dan padat. Setiap kelompok mempunyai ciri-ciri dan sifat-
sifat yang akan dipelajari dalam bab ini. Diantaranya adalah susunan
Padat, cair dan gas
merupakan wujud
dari materi


6
dan gerakan molekul penyusun zat (Gambar 1.7). Molekul-molekul
wujud gas mempunyai susunan yang berjauhan dan setiap molekul
bebas bergerak. Cairan dan padatan mempunyai susunan molekul yang
berdekatan, dimana pada cairan, molekul masih bisa bergerak dengan
bebas, sementara molekul pada padatan tidak bebas bergerak atau
tetap pada posisinya.

Contoh :

Air mempunyai wujud cair pada suhu ruang, akan berubah wujudnya
menjadi padat apabila didinginkan, dan menjadi gas apabila
dipanaskan. Ini merupakan perubahan fisika karena tidak
menghasilkan materi dengan sifat yang baru










(a) (b) (c)











Gambar 1.7 Susunan molekul: (a) gas, (b) cair, dan (c) padat, serta perubahan
wujudnya


1.3.1 Keadaan gas

Ciri-ciri gas :
¾ Gas mempunyai susunan molekul yang berjauhan, kerapatan
rendah/tidak memiliki volume dan bentuk tetap/selalu bergerak
dengan kecepatan tinggi
¾ Campuran gas selalu uniform (serba sama)
¾ Gaya tarik-menarik antarpartikel dapat diabaikan.
¾ Laju suatu partikel selalu berubah-ubah tapi laju rata-rata
partikel-partikel gas pada suhu tertentu adalah konstan
¾ Gas dapat dimampatkan
Wujud dari materi
tergantung pada
keadaan sekitarnya


7
¾ Gas dapat dalam bentuk atom tunggal seperti golongan gas mulia
(He, Ar, Xe), diatomic (H
2
, O
2
, F
2
), dan senyawa (NO, CO
2
, H
2
S)
(Gambar 1.8).
















Gambar 1.8 Bentuk gas: tunggal, diatomik, dan senyawa

Udara
Susunan udara baru diketahui pada akhir abad ke-18 sewaktu
Lavoisier, Priestly, dan lainnya menunjukkan bahwa udara terutama
terdiri atas dua zat : oksigen dan nitrogen.
Oksigen dicirikan oleh kemampuannya mendukung kehidupan.
Hal ini dikenali jika suatu volume oksigen habis (dengan membakar
lilin pada tempat tertutup, misalnya), dan nitrogen yang tersisa tidak
lagi dapat mempertahankan hewan hidup. Lebih dari 100 tahun
berlalu sebelum udara direanalisis secara cermat, yang menunjukkan
bahwa oksigen dan nitrogen hanya menyusun 99% dari volume total,
dan sebagian besar dari 1% sisanya adalah gas baru yang disebut
“argon”. Gas mulia lainnya (helium, neon, krypton, dan xenon) ada di
udara dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Tabel 1.1 merupakan
komposisi udara.
Ada beberapa jenis gas lain yang dijumpai pada permukaan
bumi. Metana (CH
4
) dihasilkan lewat proses bakteri, terutama di
daerah rawa. Metana merupakan penyusun penting dalam deposit gas
alam yang terbentuk selama jutaan tahun lewat pelapukan materi
tumbuhan di bawah permukaan bumi. Gas dapat juga terbentuk dari
reaksi kimia.







Gambar 1.9
Antoine Laurent Lavoisier

Atom
tunggal
Molekul
diatomik
Senyawa


8
Tabel 1.1 Komposisi Udara
















Hukum-hukum Gas

™ Empat variabel yang menggambarkan keadaan gas:
o Tekanan (P)
o Volume (V)
o Temperatur (T)
o Jumlah mol gas, mol (n)

™ Hukum-hukum Gas : Boyle, Charles dan Gay-Lussac, Amonton,
Avogadro, Dalton, Gas ideal, Kinetika, Gas Nyata.

1) Hukum Boyle

Robert Boyle (Gambar 1.10) pada tahun 1622 melakukan
percobaan dengan menggunakan udara. Ia menyatakan bahwa volume
sejumlah tertentu gas pada suhu yang konstan berbanding terbalik
dengan tekanan yang dialami gas tersebut (Gambar 1.11).














Gambar 1.10 Robert Boyle

Penyusun Rumus Fraksi Volume
Nitrogen N
2
0.78110
Oksigen O
2
0.20953
Argon Ar 0.00934
Karbon Dioksida CO
2
0.00034
Neon Ne 1.82 x 10
-5

Helium He 5.2 x 10
-6

Metana CH
4
1.5 x 10
-6

Kripton Kr 1.1 x 10
-6

Hidrogen H
2
5 x 10
-7

Dinitrogen oksida N
2
O 3 x 10
-7

Xenon Xe 8.7 x 10
-8

Gas merupakan
salah satu wujud
dari materi yang
mempunyai sifat-
sifat tertentu


9
Hubungan tersebut dikenal sebagai Hukum Boyle, secara matematis
dapat dinyatakan sebagai berikut :
P
V
1
~
(atau PV = konstan)
V = volume
P = tekanan

Persamaan diatas berlaku untuk gas-gas yang bersifat ideal.

Contoh :

Silinder panjang pada pompa sepeda mempunyai volume 1131 cm
3
dan
diisi dengan udara pada tekanan 1,02 atm. Katup keluar ditutup dan
tangkai pompa didorong sampai volume udara 517 cm
3
. Hitunglah
tekanan di dalam pompa.





















Gambar 1.11 Kurva hubungan antara P – V dan 1/P – V
Penyelesaian :

Perhatikan bahwa suhu dan jumlah gas tidak dinyatakan pada
soal ini, jadi nilainya 22,414 L atm tidak dapat digunakan untuk
tetapan C. bagaimanapun, yang diperlukan adalah pengandaian bahwa
suhu tidak berubah sewaktu tangkai pompa didorong. Jika P
1
dan P
2

merupakan tekanan awal dan akhir, dan V
1
dan V
2
adalah volume awal
dan akhir, maka:

P
1
.V
1
= P
2
.V
2




10
Sebab suhu dan jumlah udara dalam pompa tidak berubah. Substitusi
menghasilkan :

(1,02atm)(1131cm
3
)=P
2
(517cm
3
)

Sehingga P
2
dapat diselesaikan:

P
2
= 2,23 atm

2) Hukum Charles

Pada tekanan konstan, volume sejumlah tertentu gas sebanding
dengan suhu absolutnya (Gambar 5.13). Hukum di atas dapat
dituliskan sebagai berikut:

V ≈ T
|
.
|

\
|
= tan kons
T
V

Hubungan di atas ditemukan oleh Charles (Gambar 1.12) pada tahun
1787 dan dikenal sebagai Hukum Charles. Secara grafik, hukum
Charles dapat digambarkan seperti pada gambar di bawah. Terlihat
bahwa apabila garis-garis grafik diekstrapolasikan hingga memotong
sumbu X (suhu), maka garis-garis grafik tersebut akan memotong di
satu titik yang sama yaitu – 273,15 °C. Titik ini dikenal sebagai suhu
nol absolute yang nantinya dijadikan sebagai skala Kelvin. Hubungan
antara Celcius dengan skala Kelvin adalah:

K = °C + 273,15

K = suhu absolut
°C = suhu dalam derajat Celcius














Gambar 1.12 Jacques Charles



11


Gambar 1.13 Volume suatu gas sebanding dengan suhunya

Sama hal-nya dengan hukum Boyle, hukum Charles juga berlaku untuk
gas ideal.

Contoh :

Seorang ilmuan yang mempelajari sifat hidrogen pada suhu
rendah mengambil volume 2,50 liter hidrogen pada tekanan atmosfer
dan suhu 25,00 °C dan mendinginkan gas itu pada tekanan tetap
sampai – 200,00 °C. Perkirakan besar volume hidrogen!

Penyelesaian :

Langkah pertama untuk mengkonversikan suhu ke Kelvin:

T
1
= 25°C ĺ T
1
= 298,15 K
T
2
= -200°C ĺ T
2
= 73,15 K

L V
K
K L
V
T
T V
V
T
V
T
V
613 , 0
15 , 298
15 , 73 5 , 2
2
2
1
2 1
2
2
2
1
1
=
×
=
=
=




12
3) Hukum Avogadro

Pada tahun 1811, Avogadro (Gambar 1.14) mengemukakan
hukum yang penting mengenai sifat-sifat gas. Dia menemukan bahwa
pada suhu yang sama, sejumlah volume yang sama dari berbagai gas
akan mempunyai jumlah partikel yang sama pula banyaknya (Gambar
5.15).

Hukum Avogadro dapat dinyatakan sebagai berikut:
V ≈ n
(V/n = konstan)
n = jumlah mol gas

Satu mol didefinisikan sebagai massa dari suatu senyawa/zat
yang mengandung atom atau molekul sebanyak atom yang terdapat
pada dua belas gram karbon (
12
C). Satu mol dari suatu zat
mengandung 6,023 x 10
23
molekul. Bilangan ini dikenal sebagai
Bilangan Avogadro.














Gambar 1.14 Avogadro

















Dua volume
hidrogen
satu volume
oksigen
+ Æ
Dua volume
air

Gb. 1.15 Gambaran hukum Avogadro


13
4) Hukum Keadaan Standar

Untuk melakukan pengukuran terhadap volume gas, diperlukan
suatu keadaan standar untuk digunakan sebagai titik acuan. Keadaan
ini yang juga dikenal sebagai STP (Standart Temperature and
Pressure) yaitu keadaan dimana gas mempunyai tekanan sebesar 1
atm (760 mmHg) dan suhu °C (273,15 K).
Satu mol gas ideal, yaitu gas yang memenuhi ketentuan semua
hukum-hukum gas akan mempunyai volume sebanyak 22,414 liter
pada keadaan standar ini (Gambar 1.16).

5) Hukum Gas Ideal

Definisi mikroskopik gas ideal, antara lain:

a. Suatu gas yang terdiri dari partikel-partikel yang dinamakan
molekul.
b. Molekul-molekul bergerak secara serampangan dan memenuhi
hukum-hukum gerak Newton.
c. Jumlah seluruh molekul adalah besar
d. Volume molekul adalah pecahan kecil yang diabaikan dari volume
yang ditempati oleh gas tersebut.
e. Tidak ada gaya yang cukup besar yang beraksi pada molekul
tersebut kecuali selama tumbukan.
f. Tumbukannya elastik (sempurna) dan terjadi dalam waktu yang
sangat singkat.

















Gambar 1.16 Gambaran gas ideal

Apabila jumlah gas dinyatakan dalam mol (n), maka suatu
bentuk persamaan umum mengenai sifat-sifat gas dapat diformasikan.
Sebenarnya hukum Avogadro menyatakan bahwa 1 mol gas ideal
mempunyai volume yang sama apabila suhu dan tekanannya sama.
Dengan menggabungkan persamaan Boyle, Charles dan persamaan


14
Avogadro akan didapat sebuah persamaan umum yang dikenal sebagai
persamaan gas ideal.

P
T
n V ~
atau
P
T
Rn V =

atau PV = nRT

R adalah konstanta kesebandingan dan mempunyai suatu nilai tunggal
yang berlaku untuk semua gas yang bersifat ideal. Persamaan di atas
akan sangat berguna dalam perhitungan-perhitungan volume gas.
Nilai numerik dari konstanta gas dapat diperoleh dengan
mengasumsikan gas berada pada keadaan STP, maka:

( )( )
( )( ) K mol mol atmK L
R L atm
15 , 273 1 ) 082056 , 0 (
414 , 22 1
1 1 ÷ ÷
×
=

Dalam satuan SI, satuan tekanan harus dinyatakan dalam Nm
-2

dan karena 1 atm ekivalen dengan 101,325 Nm
-2
, maka dengan
menggunakan persamaan diatas dapat diperoleh harga R dalam satuan
SI, sebagai berikut:

( )( )
( )( ) K mol
m x Nm
R
15 , 273 1
10 414 , 22 325 , 101
3 3 2 ÷ ÷
=
= 8,314 Nm K
-1
mol
-1

= 8,314 J K
-1
mol
-1


Contoh :

Balon cuaca yang diisi dengan helium mempunyai volume 1,0 x
10
4
L pada 1,00 atm dan 30 °C. Balon ini sampai ketinggian yang
tekanannya turun menjadi 0,6 atm dan suhunya –20°C. Berapa volume
balon sekarang? Andaikan balon melentur sedemikian sehingga
tekanan di dalam tetap mendekati tekanan di luar.

Penyelesaian:

Karena jumlah helium tidak berubah, kita dapat menentukan n
1
sama
dengan n
2
dan menghapusnya dari persamaan gas ideal menjadi:

2
2 2
1
1 1
T
V P
T
V P
=


15
( )
1 2
2 1 1
2
T P
T P V
V =
( )
) 303 6 , 0 (
253 00 , 1 10 0 , 1
4
2
K atm
K atm L x
V
×
×
=

V
2
= 14.000 L

Tekanan dan suhu

Tekanan



Gambar 1.17 Torricelli


Tekanan gas adalah gaya yang diberikan oleh gas pada satu
satuan luas dinding wadah. Torricelli (Gambar 1.17), ilmuan dari Italia
yang menjadi asisten Galileo adalah orang pertama yang melakukan
penelitian tentang tekanan gas ia menutup tabung kaca panjang di
satu ujungnya dan mengisi dengan merkuri. Kemudian ia menutup
ujung yang terbuka dengan ibu jarinya, membalikkan tabung itu dan
mencelupkannya dalam mangkuk berisi merkuri, dengan hati-hati agar
tidak ada udara yang masuk. Merkuri dalam tabung turun,
meninggalkan ruang yang nyaris hampa pada ujung yang tertutup,
tetapi tidak semuanya turun dari tabung. Merkuri ini berhenti jika
mencapai 76 cm di atas aras merkuri dalam mangkuk (seperti pada
gambar dibawah). Toricelli menunjukkan bahwa tinggi aras yang tepat
sedikit beragam dari hari ke hari dan dari satu tempat ke tempat yang
lain, hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh atmosfer bergantung pada
cuaca ditempat tersebut. Peralatan sederhana ini yang disebut
Barometer (Gambar 1.18).







16
















Gambar 1.18 Barometer


Hubungan antara temuan Toricelli dan tekanan atmosfer dapat
dimengerti berdasarkan hokum kedua Newton mengenai gerakan,
yang menyatakan bahwa:
Gaya = massa x percepatan
F = m x a

Dengan percepatan benda (a) adalah laju yang mengubah kecepatan.
Semua benda saling tarik-menarik karena gravitasi, dan gaya tarik
mempengaruhi percepatan setiap benda. Percepatan baku akibat
medan gravitasi bumi (biasanya dilambangkan dengan g, bukannya a)
ialah g = 9,80665 m s
-2
. Telah disebutkan di atas bahwa tekanan
adalah gaya persatuan luas, sehingga :

A
g m
A
F
P
.
= =

Karena volume merkuri dalam tabung adalah

V = Ah,

V
h g m
h V
g m
A
F
P
. .
/
.
= = = ,

V
m
= p ;

di mana ρ = massa jenis, sehingga

P = .g.h
Tekanan
atmosfer


17

Suhu

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan panas atau
dingin. Kita bisa mendeskripsikan bahwa kutub utara mempunyai suhu
yang sangat dingin atau mendeskripsikan bahwa Surabaya atau
Jakarta mempunyai suhu yang panas pada siang hari. Ilustrasi diatas
merupakan dua ekspresi dari suhu, akan tetapi apakah kita tau
definisi dari suhu itu sendiri? Definisi suhu merupakan hal yang sepele
tapi sulit untuk disampaikan tetapi lebih mudah untuk dideskripsikan.
Penelitian pertama mengenai suhu dilakukan oleh ilmuan Perancis
yang bernama Jacques Charles.

Campuran Gas

Pengamatan pertama mengenai perilaku campuran gas dalam
sebuah wadah dilakukan oleh Dalton (Gambar 1.19), ia menyatakan
bahwa tekanan total, P
tol
, adalah jumlah tekanan parsial setiap gas.
Pernyataan ini selanjutnya disebut sebagai Hukum Dalton, hukum ini
berlaku untuk gas dalam keadaan ideal. Tekanan parsial setiap
komponen dalam campuran gas ideal ialah tekanan total dikalikan
dengan fraksi mol komponen tersebut (Gambar 1.20).

P
A
= X
A
. P
Tot

V
RT n
P
A
A
=

Tekanan total:

P
tot
= P
A
+ P
B
+ P
C
+ …..

Mol total:

n
tot
= n
A
+ n
B
+ n
C
+ …..













Gambar 1.19 John Dalton



18
























Contoh :

Berapa tekanan total dalam wadah (container) yang mengandung:
• Metana dengan tekanan parsial 0.75 atm,
• Hidrogen dengan tekanan parsial 0.40 atm
• Propana dengan tekanan parsial 0.50 atm?

P
tot
= P
metana
+ P
hidrogen
+ P
propana

P
tot
= 0.75 atm + 0.40 atm + 0.50 atm
P
tot
= 1.65 atm

1.3.2 Padatan, cairan

Gas, cairan, dan padatan dibedakan, yang pertama atas dasar
struktur fisik dan sifat kimianya(Gambar 1.21 – 1.23). Struktur fisik
mempengaruhi interaksi antara partikel-partikel dan partikel-
lingkungan. Gambaran mengenai fase gas telah diilustrasikan pada
sub-bab sebelumnya. Pada sub-bab ini, pembahasan akan
dititikberatkan pada fase cairan dan padatan.


Gambar 1.21
Padatan

Gambar 1.20 Tekanan total dan parsial


19

Gambar 1.22
Cairan

Gambar 1.23
Gas mengisi
balon


A. Cairan

Secara umum ciri-ciri fase cairan berada diantara fase gas dan
fase padat, antara lain :

i. Mempunyai kerapatan yang lebih tinggi bila dibanding dengan
gas, namun lebih rendah bila dibandingkan dengan padatan
ii. Jarak antar partikel lebih dekat dekat
iii. Merupakan fase yang terkondensasi
iv. Merupakan fase yang bisa dikatakan tidak terkompresi
v. Bentuk cairan akan menyesuaikan dengan wadahnya

Pengamatan fisik dari fase cair dapat dilihat pada gambar struktur
molekul dalam sub-bab sebelumnya, dengan contoh pada Gambar
1.24.
















Gambar 1.24 Contoh cairan



20
B. Padatan

Sedangkan ciri-ciri fase padat, antara lain :
a. Kerapatannya sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada gas dan
cairan
b. Jarak antar partikel sangat dekat
c. Merupakan fase yang terkondensasi
d. Merupakan fase yang bisa dikatakan tidak terkompresi
e. Mampu mempertahankan bentuknya

Berikut ini adalah gambar beberapa contoh padatan (Gambar 1.25:





















Gambar 1.25
Gambar padatan








21
Ringkasan

Materi adalah sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang.
Materi dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat fisika dan kimia. Materi
dapat mengalami perubahan wujud dari gas menjadi cair dan menjadi
padat tergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan tekanan, suhu,
dan volume terhadap suatu materi dapat mengakibatkan perubahan
dari wujud satu ke wujud lainnya.


Latihan

1. Apa yang disebut materi?
2. Jelaskan perbedaan unsur dan senyawa serta sebutkan contohnya.
3. Jelaskan perbedaan campuran homogen dan heterogen serta
sebutkan contohnya.
4. Jelaskan ciri-ciri sifat fisika dan kimia, dan sebutkan contohnya.
5. Jelaskan masing-masing wujud materi serta berikan contohnya.
6. Jelaskan perbedaan wujud materi.
7. Sebutkan faktor yang mempengaruhi perubahan wujud suatu
materi.
8. Jelaskan hubungan antara tekanan, volume dan suhu pada suatu
materi.




























22









23
2 Struktur Atom




Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur atom
dan sifat-sifat periodik pada
tabel periodik unsur
Mendiskripsikan perkembangan
teori atom
Menginterpretasikan data dalam
tabel periodik
Tujuan pembelajaran
1. Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan proton, netron dan
elektron berdasarkan muatan relatif dan massa relatifnya
2. Siswa mampu mendeskripsikan massa dan muatan dalam atom
3. Siswa mampu mendeskripaikan kontribusi proton dan netron pada
inti atom berdasarkan nomor atom dan nomor massa
4. Siswa mampu mendeduksikan jumlah proton, netron dan elektron
yang terdapat dalam atom dan ion dari nomor atom dan nomor massa
yang diberikan
5. Siswa mampu membedakan isotop berdasarkan jumlah netron
berbeda yang ada
7. Siswa mampu mendeskripsikan jumlah dan energi relatif orbital s, p
dan d dari bilangan kuantum utama
8. Ssiwa mampu mendeduksi konfigurasi elektronik atom
9. Siswa mampu mendeskripsikan tabel periodik berdasarkan susunan
unsur dengan meningkatnya nomor atom, pengulangan sifat fisik dan
sifat kimia dalam satu periode dan sifat fisik dan sifat kimia yang
sama dalam satu golongan
10. Siswa mampu mendeskripskan unsur periode ketiga, variasi
konfigurasi elektronik, radius atom, konduktivitas listrik, titik leleh
dan titik didih, dan menjelaskan variasinya berdasarkan struktur dan
ikatan dalam unsur
11. Siswa mampu mendeskripsikan dan menjelaskan variasi energi
ionisasi pertama unsur yang meningkat dalam satu periode
berdasarkan peningkatan muatan inti
12. Siswa mampu mendeskripsikan dan menjelaskan variasi energi
ionisasi pertama unsur yang menurun dalam satu golongan
berdasarkan peningkatan radius atom
13. Siswa mampu menginterpretasikan data berdasarkan konfigurasi
elektronik, radius atom, konduktivitas listrik, titik leleh dan titik didih
untuk menjelaskan periodisitas






24
2.1 Partikel-partikel Dasar Atom

Atom terdiri atas inti atom dan elektron yang berada diluar
inti atom. Inti atom tersusun atas proton dan netron.

Tabel 2.1 Partikel Dasar Penyusun Atom

Partikel
Penemu
(Tahun)
Massa
Kg Sma
Elektron
J. J. Thomson
(1897)
9,1095x10
-31
5,4859x10
-4
Netron
J. Chadwick
(1932)
1,6749x10
-27
1,0087
Proton
E. Goldstein
(1886)
1,6726x10
-27
1,0073

2.1.1 Elektron

Elektron merupakan partikel dasar penyusun atom yang
pertama kali ditemukan. Elektron ditemukan oleh Joseph John
Thompson pada tahun 1897.



Gambar 2.1 Joseph John Thompson

Elektron ditemukan dengan menggunakan tabung kaca yang
bertekanan sangat rendah yang tersusun oleh:
- Plat logam sebagai elektroda pada bagian ujung tabung
- Katoda, elektroda dengan kutub negatif dan anoda, elektroda
dengan kutub positif.

Listrik bertekanan tinggi yang dialirkan melalui plat logam
mengakibatkan adanya sinar yang mengalir dari katoda menuju anoda
yang disebut sinar katoda. Tabung kaca bertekanan rendah ini
selanjutnya disebut tabung sinar katoda. Adanya sinar katoda
membuat tabung menjadi gelap. Sinar katoda tidak terlihat oleh mata
Materi tersusun
dari atom-atom

25
akan tetapi keberadaannya terdeteksi melalui gelas tabung yang
berpendar akibat adanya benturan sinar katoda dengan gelas tabung
kaca.

Sifat-sifat sinar katoda:
- Sinar katoda dihasilkan akibat adanya aliran listrik bertekanan
tinggi yang melewati plat logam
- Sinar katoda berjalan lurus menuju anoda
- Sinar katoda menimbulkan efek fluoresensi (pendar) sehingga
keberadaannya terdeteksi
- Sinar katoda bermuatan negatif sehingga dapat dibelokkan oleh
medan listrik dan medan magnet
- Sinar katoda yang dihasilkan tidak tergantung dari bahan pembuat
plat logam.

Sifat-sifat yang mendukung yang dihasilkan oleh sinar katoda
menyebabkan sinar katoda digolongkan sebagai partikel dasar atom
dan disebut sebagai elektron.




Gambar 2.2 Tabung sinar katoda







26



Gambar 2.3 Peralatan Thomson untuk menentukan harga e/m

Joseph John Thomson selanjutnya melakukan penelitian untuk
menentukan perbandingan harga muatan elektron dan massanya
(e/m). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinar katoda dapat
dibelokkan oleh medan listrik dn medan magnet. Pembelokan
memungkinkan pengukuran jari-jari kelengkungan secara tepat
sehingga perbandingan harga muatan elektron dan massanya dapat
ditentukan sebesar 1,76x10
8
coulomb/gram.
Robert Millikan pada tahun 1909 melakukan penelitian
penentuan muatan elektron menggunakan tetes minyak.



Gambar 2.4 Robert Millikan










27



Gambar 2.5 Peralatan tetes minyak Millikan

Penelitian membuktikan bahwa tetes minyak dapat menangkap
elektron sebanyak satu atau lebih. Millikan selanjutnya menemukan
bahwa muatan tetes minyak berturut-turut 1x(-1,6.10
-19
), 2x(-1,6.10
-
19
), 3x(-1,6.10
-19
) dan seterusnya. Karena muatan tiap tetes minyak
adalah kelipatan 1,6.10
-19
C maka Millikan menyimpulkan bahwa
muatan satu elektron sebesar -1,6.10
-19
C.
Hasil penelitian yang dilakukan Joseph John Thompson dan
Robert Millikan memungkinkan untuk menghitung massa elektron
secara tepat.
e/m=1,76.10
8
C/g

C x
g C x
C x
me elektron massa
28
8
19
10 11 , 9
/ 10 76 , 1
10 6 , 1
1
÷
÷
= = =

Contoh soal

Tentukan berapa elektron yang tertangkap oleh 1 tetes
minyak dalam percobaan yang dilakukan oleh Millikan apabila 1 tetes
minyak tersebut bermuatan -3,2 x 10
-19
C.

Jawab

Telah diketahui dari percobaan yang dilakukan oleh Millikan
bahwa muatan 1 elektron sebesar -1,6 x 10
-19
C. Maka jumlah elektron
yang ditangkap oleh 1 tetes minyak dengan muatan -3,2 x 10
-19
C
adalah

elektron
C x
C x
2
10 6 , 1
10 2 , 3
19
19
=
÷
÷
÷
÷





28
2.1.2 Inti atom

Ernest Rutherford pada tahun 1911 menemukan inti atom. W.
C. Rontgen yang menemukan sinar x pada tahun 1895 dan penemuan
zat radioaktif oleh Henry Becquerel mendasari penemuan Rutherford.
Zat radioaktif merupakan zat yang dapat memancarkan radiasi
spontan, misalnya uranium, radium dan polonium. Radiasi atau sinar
yang dipancarkan oleh zat radioaktif disebut sinar radioaktif. Sinar
radioaktif yang umum dikenal adalah sinar alfa (α), sinar beta () dan
sinar gama ().



Gambar 2.6 Ernest Rutherford


Gambar 2.7 Sinar alfa, beta dan gama

Ernest Rutherford melakukan penelitian dengan menggunakan sinar
alfa untuk menembak plat tipis emas (0,01 sampai 0,001mm).
Detektor yang digunakan berupa plat seng sulfida (ZnS) yang
berpendar apabila sinar alfa mengenainya.
Inti atom terdiri
dari proton
bermuatan positif

29



Gambar 2.8 Hamburan sinar alfa

Hasil yang diperoleh adalah bahwa sebagian besar sinar alfa
diteruskan atau dapat menembus plat tipis emas. Sinar alfa dalam
jumlah yang sedikit juga dibelokkan dan dipantulkan. Hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa sebagian besar sinar alfa diteruskan
memberikan kesimpulan bahwa sebagian besar atom merupakan ruang
kosong. Sedangkan sebagian kecil sinar alfa yang dipantulkan juga
memberikan kesimpulan bahwa dalam atom terdapat benda pejal dan
bermuatan besar. Adanya benda pejal yang bermuatan besar
didasarkan pada kenyataan bahwa sinar alfa yang bermuatan 4 sma
dapat dipantulkan apabila mengenai plat tipis emas. Hal ini berarti
massa benda pejal dalam atom emas jauh lebih besar daripada massa
sinar alfa. Selanjutnya Rutherford menyebut benda pejal tersebut
sebagai inti atom yang merupakan pusat massa atom. Penelitian juga
menunjukkan bahwa sinar alfa dibelokkan ke arah kutub negatif
apabila dimasukkan kedalam medan listrik. Hal ini berarti sinar alfa
menolak sesuatu yang bermuatan positif dalam atom emas dan lebih
mendekati sesuatu dengan muatan yang berlawanan. Rutherford
selanjutnya menyimpulkan bahwa inti atom bermuatan positif.
Hasil penelitian membuat Rutherford secara umum
mengemukakan bahwa:
- atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif yang
merupakan pusat massa atom
- elektron diluar inti atom mengelilingi inti atom dan berjumlah
sama dengan muatan inti atom sehingga suatu atom bersifat
netral.




30
2.1.3 Proton

Eugene Goldstein pada tahun 1886 melakukan percobaan dan
menemukan partikel baru yang disebut sebagai sinar kanal atau sinar
positif. Peralatan Goldstein tersusun atas:
- elektroda negatif (katoda) yang menutup rapat tabung sinar
katoda sehingga ruang dibelakang katoda gelap
- tabung katoda dilubangi dan diisi dengan gas hidrogen bertekanan
rendah
- radiasi yang keluar dari lubang tabung katoda akibat aliran listrik
bertegangan tinggi menyebabkan gas yang berada dibelakang
katoda berpijar
- radiasi tersebut disebut radiasi/sinar kanal atau sinar positif



Gambar 2.9 Gambar sinar positif/sinar kanal

31
Sinar kanal secara mendetail dihasilkan dari tahapan berikut yakni
ketika sinar katoda menjala dari katoda ke anoda maka sinar katoda
ini menumbuk gas hidrogen yang berada didalam tabung sehingga
elektron gas hidrogen terlepas dan membentuk ion positif. Ion
hidrogen yang bermuatan positif selanjutnya bergerak menuju kutub
negatif (katoda) dengan sebagian ion hidrogen lolos dari lubang
katoda. Berkas sinar yang bermuatan positif disebut sinar kanal atau
sinar positif.
Penelitian selanjutnya mendapatkan hasil bahwa gas hidrogen
menghasilkan sinar kanal dengan muatan dan massa terkecil. Ion
hidogen ini selanjutnya disebut sebagai proton. Beberapa kesimpulan
yang dapat diambil adalah bahwa sinar kanal merupakan parikel dasar
yang bermuatan positif dan berada dalam inti atom dan massa proton
sama dengan massa ion hidrogen dan berharga 1 sma. Rutherford
berikutnya menembak gas nitrogen dengan sinar alfa untuk
membuktikan bahwa proton berada didalam atom dan ternyata proton
juga dihasilkan dari proses tersebut. Reaksi yang terjadi adalah

P O N
1
1
16
8
4
2
14
7
+ ÷÷ ÷ + o


Beberapa sifat sinar kanal/sinar positif adalah
- sinar kanal merupakan radiasi partikel
- sinar kanal dibelokkan ke arah kutub negatif apabila dimasukkan
kedalam medan listrik atau medan magnet
- sinar kanal bermuatan positif
- sinar kanal mempunyai perbandingan harga muatan elektron dan
massa (e/m) lebih kecil dari perbandingan harga muatan elektron
dan massa (e/m) elektron
- sinar kanal mempunyai perbandingan harga muatan elektron dan
massa (e/m) yang tergantung pada jenis gas dalam tabung

Contoh soal

Tentukan muatan oksigen apabila kedalam tabung sinar kanal
dimasukkan gas oksigen dengan massa 1 atomnya sebesar 16 sma dan
akibat adanya tumbukan dengan sinar katoda yang dihasilkan, 2
elektron lepas dari atom oksigen.

Jawab

Karena terjadi pelepasan 2 elektron, maka muatan 1 atom
oksigen = 2.

2.1.4 Netron

Penelitian yang dilakukan Rutherford selain sukses
mendapatkan beberapa hasil yang memuaskan juga mendapatkan
kejanggalan yaitu massa inti atom unsur selalu lebih besar daripada
massa proton didalam inti atom. Rutherford menduga bahwa terdapat

32
partikel lain didalam inti atom yang tidak bermuatan karena atom
bermuatan positif disebabkan adanya proton yang bermuatan positif.
Adanya partikel lain didalam inti atom yang tidak bermuatan
dibuktikan oleh James Chadwick pada tahun 1932. Chadwick
melakukan penelitian dengan menembak logam berilium
menggunakan sinar alfa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu
partikel yang tak bermuatan dilepaskan ketikan logam berilium
ditembak dengan sinar alfa dan partikel ini disebut sebagai netron.
Reaksi yang terjadi ketika logam berilium ditembak dengan sinar alfa
adalah
n C Be
1
0
12
6
4
2
9
4
+ ÷÷ ÷ + o


Netron tak bermuatan dan bermassa 1 sma (pembulatan).

2.2 Nomor atom, nomor massa, isotop, isobar dan isoton

Telah diketahui bahwa penemu sinar x adalah Rontgen. Sinar
x terjadi ketika sinar katoda yang berupa elektron berkecepatan
tinggi menumbuk elektroda tembaga. Akibat tumbukan tersebut,
tembaga melepaskan elektron terluarnya dan tempat elektron yang
kosong ini selanjutnya diisi oleh elektron tembaga dari tingkat energi
lain yang lebih tinggi. Pengisian tempat kosong oleh elektron tembaga
dari tingkat energi yang lebih tinggi menyebabkan terjadinya
pemancaran radiasi. Radiasi ini oleh Rontgen disebut sebagai sinar x.
Pemahaman mengenai inti atom selanjutnya dijelaskan oleh
percobaan Moseley. Moseley melakukan penelitian untuk mengukur
panjang gelombang sinar x berbagai unsur. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa setiap unsur memancarkan radiasi sinar x dengan
panjang gelombang yang khas. Panjang gelombang yang dihasilkan
tergantung pada jumlah ion positif didalam inti atom. Penelitian juga
menunjukkan bahwa inti atom mempunyai muatan yang berharga
kelipatan dari +1,6x10
-9
C. Moseley selanjutnya menyebut jumlah
proton dalam atom adalah nomor atom.



Gambar 2.10 Tabung sinar X




33


















Gambar 2.11 Wilhelm Conrad Rontgen


2.2.1 Nomor atom dan nomor massa

Inti atom mengandung proton dan netron. Nomor atom sama
dengan jumlah proton didalam inti atom sedangkan nomor massa
sama dengan jumlah proton dan netron didalam inti atom. Notasi
untuk menyatakan susunan inti atom yaitu proton dan netron dialam
inti atom dapat dinyatakan sebagai berikut:








Contoh soal

Tentukan jumlah proton, elektron dan netron dalam atom
C
12
6
.

Jawab

Mengingat,
Nomor atom=jumlah proton dan elektron
Nomor massa=jumlah proton + netron
Maka, untuk C
12
6
jumlah proton 6, elektron 6 dan netron 6.


A
X
Z
Keterangan:
X = lambang atom unsur
A = nomor massa
= proton+netron
Z = nomor atom
= jumlah proton
Nomor atom Z
sama dengan
jumlah proton
dalam atom

34
Contoh soal

Tentukan jumlah proton dan elektron dalam atom
+ 4 30
15
P .
Jawab

Mengingat,
Nomor atom=jumlah proton dan elektron
Nomor massa=jumlah proton + netron
Maka, untuk
+ 4 30
15
P jumlah proton 15 dan elektron 15 - 4 = 11.

2.2.2 Isotop

Isotop adalah atom unsur sama dengan nomor massa berbeda.
Isotop dapat juga dikatakan sebagai atom unsur yang mempunyai
nomor atom sama tetapi mempunyai nomor massa berbeda karena
setiap unsur mempunyai nomor atom yang berbeda. Karbon
merupakan contoh adanya isotop.








Setiap karbon mempunyai nomor atom 6 tetapi nomor massanya
berbeda-beda. Dari contoh tersebut dapat dikatakan bahwa walaupun
unsurnya sama belum tentu nomor massanya sama.

2.2.3 Isobar dan isoton

Isobar adalah atom unsur yang berbeda tetapi mempunyai
nomor massa sama. Isobar dapat dimengerti dengan melihat contoh
berupa
Na
24
11
dengan
Mg
24
12
yang memiliki nomor massa sama sebesar
24. Sedangkan isoton adalahatom unsur yang berbeda tetapi
mempunyai jumlah netron yang sama. Contoh isoton adalah
Ca
40
20 dengan
K
39
19 yang sama-sama memiliki jumlah netron 20.

2.3 Elektron dalam atom

Model atom yang dikemukakan oleh Joseph John Thompson
mempunyai banyak kelemahan, demikian pula dengan model atom
yang dikemukakan oleh Ernest Rutherford. Model atom Rutherford
tidak dapat menjelaskan alasan mengapa elektron tidak dapat jatuh
kedalam inti. Fisika klasik menyatakan bahwa apabila terdapat suatu
partikel bermuatan yang bergerak menurut lintsan lengkung maka
energinya akan hilang dalam bentuk radiasi. Pernyataan fisika klasik
ini menjadi persoalan bagi model atom yang dikemukakan oleh
13
C
6
12
C
6
14
C
6
p=6
e=6
n=6
p=6
e=6
n=7
p=6
e=6
n=8
Isotop mempunyai
nomor atom sama
tetapi nomor
massa berbeda

35
Rutherford karena jika elektron bergerak mengelilingi inti, maka
elektron akan kehilangan energinya dan energi kinetik elektron akan
terus berkurang. Gaya tarik inti atom terhadap elektron akan menjadi
lebih besar daripada gaya sentrifugal lintasan elektron dan
menyebabkan lintasan menjadi spiral dan akhirnya elektron jatuh
kedalam inti atom. Apabila elektron jatuh kedalam inti atom, maka
atom menjadi tak stabil. Hal ini bententangan dengan pernyataan
umum bahwa atom stabil.



Gambar 2.12 Lintasan spiral elektron


2.3.1 Spektrum garis

Menurut Max Planck radiasi elektromagnetik bersifat
diskontinyu atau dalam bentuk kuanta. Diskontinyuitas radiasi
elektromagnetik dikuatkan oleh efek fotolistrik yang dikembangkan
oleh Albert Einstein. Sedangkan kuantisasi/kuanta energi digunakan
oleh Niels Bohr dalam momentum sudut elektron untuk
pengembangan teorinya tentang atom hidrogen.
Apabila berkas cahaya polikromatis seperti lampu listrik dan
sinar matahari dilewatkan melalui prisma maka akan diperoleh
spektrum kontinyu yang terdiri dari berbagai warna penyusunnya.
Spektrum garis dihasilkan apabila sumber cahaya polikromatik seperti
lampu listrik dan sinar matahari diganti oleh busur listrik berisi gas
hidrogen maka akan dihasilkan spektrum yang tidak kontinyu.
Spektrum yang tidak kontinyu berupa sederetan garis berwarna yang
disebut spektrum garis tak kontinyu.
spektrum garis didapat dengan cara sebagai berikut:
- zat yang diselidiki spektrumnya diuapkan pada temperatur tinggi
- uap yang terbentuk diletakkan diantara dua elektroda grafit
- listrik bertegangan tinggi dialirkan melalui elektroda grafit
Spektrum garis yang paling sederhana adalah spektrum garis atom
hidrogen. Balmer melakukan penelitian sehingga didapatkan deret
Balmer untuk atom hidrogen.
elektron

36



Gambar 2.13 Spektrum cahaya polikromatik




Gambar 2.14 Spektrum garis






Gambar 2.15 Deret Balmer untuk atom hidrogen
seri Lyman
seri Balmer
Kontinyu

37
2.3.2 Teori Bohr

Seperti telah diketahui bahwa menurut Max Planck radiasi
elektromagnetik bersifat diskontinyu atau dalam bentuk kuanta. Max
Planck menurunkan persamaan untuk pernyataan tersebut sebagai
berikut:













Pernyataan tersebut bertentangan dengan pandangan fisika klasik
yang mengemukakan bahwa energi bersifat kontinyu.
Untuk mengatasi perbedaan tersebut, Niels Bohr melakukan
penelitian dan mencoba menjelaskan dengan pendekatan pemecahan
spektrum garis hidrogen. Bohr menggunakan pendekatan Max Planck
untuk menjelaskan spektrum garis hidrogen.

Beberapa hasil penelitian Bohr diantara adalah
- Elektron mengorbit pada lintasan tertentu dan dengan tingkat
energi tertentu
- Lintasan orbit elektron berbentuk lingkaran dan disebut kulit
- Momentum sudut elektron yang mengorbit berharga kelipatan
t 2
h
. Setiap elektron yang mengorbit mempunyai momentum
sudut sebesar
t 2
h
n
dengan n=1, 2, 3,... yang merupakan
bilangan bulat positif dan disebut sebagai bilangan kuantum
utama

Bilangan kuantum utama menyatakan kulit

Tabel 2.2 Hubungan Lintasan, Kulit dan Bilangan Kuantum

Lintasan Kulit Bilangan kuantum
(n)
1 K n = 1
2 L n = 2
3 M n = 3
4 N n = 4

nhȞ E =
Keterangan:
n = bilangan bulat positif
h = tetapan Planck
(6,6,3.10
-34
J.s)
ν = frekuensi

38




Gambar 2.16 Pendekatan energi oleh Max Planck dan fisika klasik




Gambar 2.17 Niels Bohr

39
- Energi elektron berbanding terbalik dengan lintasan (kulit)
- Keadaan paling stabil adalah pada saat n = 1 yakni ketika elektron
memiliki energi paling minimal
- Elektron berada dalam keadaan stasioner, tidak memancarkan
dan menyerap energi, ketika elektron megorbit mengelilingi inti
atom.

Apabila elektron berpindah dari tingkat energi rendah menuju tingkat
energi tinggi maka energi akan diserap untuk melakukan proses
tersebut. Elektron yang berpindah dari tingkat energi rendah menuju
tingkat energi yang lebih tinggi menyebabkan elektron tereksitasi.
Akan tetapi keadaan elektron tereksitasi ini tidak stabil sehingga
elektron kembali dari tingkta energi tinggi menuju tingkat energi
rendah yang disertai pelepasan energi dalam bentuk radiasi.



Gambar 2.18 Model atom Bohr


Teori Bohr berhasil menjelaskan spektrum garis atom hidrogen dan
ion-ion berelektron tunggal seperti
2
He
+
dan
3
Li
2+
. Akan tetapi teori
Bohr juga masih menunjukkan kelemahan yaitu tidak mampu
menjelaskan spektrum garis atom berelektron banyak dan sifat
spektrum garis dalam medan magnet serta tidak dapa menjelaskan
garis-garis halus spektrum garis atom hidrogen.












40










Gambar 2.19 Proses eksitasi dan emisi

Contoh soal

Berapakah energi sinar laser dengan panjang gelombang
780nm.
m x
nm x
m
x nm
7
9
10 8 , 7
10 1
1
780
÷
=

Jawab

J x
m x
ms x x Js x hc
E
19
7
1 8 34
10 547 , 2
10 8 , 7
10 998 , 2 10 626 , 6
÷
÷
÷ ÷
= = =
ì




2.3.3 Konfigurasi elektron

Susunan elektron dalam atom dapat dijelaskan menggunakan
konfigurasi elektron. Penyusunan elektron dalam atom didasarkan
pada teori-teori berikut:
- Teori dualisme gelombang partikel yang dikemukakan oleh de
Broglie pada tahun 1924. Teori ini menyatakan bahwa elektron
dalam atom bersifat gelombang dan partikel
- Azas ketidakpastian yang dikemukakan oleh Heisenberg pada
tahun 1927. Teori ini menyatakan bahwa posisi dan momentum
partikel tidak dapat ditentukan secara pasti dalam waktu
elektron
foton teremisi
elektron tereksitasi
sebelum sesudah
foton terabsorpsi
sebelum sesudah
Konfigurasi
elektron atom
menjelaskan
jumlah elektron
dalam tingkat
utama

41
bersamaan. Teori ini menyiratkan bahwa lintasan elektron tidak
berbentuk lingkaran
- Teori persamaan gelombang yang dikemukakan oleh Erwin
Schrodinger. Teori ini dapat menerangkan pergerakan partikel-
apertikel mikroskopik termasuk elektron.

Azas ketidakpastian Heisenberg menyebabkan posisi elektron tidak
dapat ditentukan dengan pasti demikian pula dengan orbit elektron
dalam atom menurut mekanika kuantum. Walaupun orbit elektron
tidak dapat ditentukan dengan pasti tetapi peluang untuk menemukan
elektron pada posisi tertentu di sekitar inti masih mungkin untuk
ditentukan. Obital merupakan daerah disekiar inti dengan peluang
terbesar untuk menemukan elektron. Kapasitas maksimal orbital
untuk ditempati elektron sebesar 2 elektron. Orbital juga mempunyai
energi yang khas bagi tiap-tiap elektron untuk menempatinya. Energi
khas untuk tiap elektron ini sering disebut tingkat energi. Hanya
elektron dengan energi yang cocok dapat menempati orbital tersebut.
Sistem susunan elektron dalam atom dapat dilihat pada gambar 2.21
berikut.


Tabel 2.3 Susunan Bilangan Kuantum

Kulit Bilangan kuantum (n) Daya tampung elektron maksimal
K 1 2 x 1
2
= 2
L 2 2 x 2
2
= 8
M 3 2 x 2
3
= 18
N 4 2 x 2
4
= 32
... ...
... ...
... ...
n 2n
2


Jumlah maksimum elektron dalam kulit tertentu sebesar 2n
2
dengan n
adalah nomor kulit. Pengisian elektron dimulai pada kulit dengan
tingkat energi terendah yaitu kulit pertama atau kulit K yang
dilanjutkan dengan kulit L, M, N dan seterusnya. Pengisian dilakukan
dengan pengisian maksimum terlebih dahulu untuk tiap kulit. Apabila
terdapat 18 elektron maka elektron akan mengisi kulit K sebanyak 2
yang dilanjutkan dengan pengisian kulit L sebanyak 8 elektron dan
diakhiri dengan pengisian kulit L sebanyak 8 elektron.
Elektron valensi merupakan jumlah elektron yang terdapat
pada kulit terluar suatu atom unsur. Ikatan kimia dapat terbentuk
dengan memanfaatkan atau menggunakan elektron valensi sehingga
elektron valensi dapat dikatakan merupakan penentu sifat kimia atom
unsur.




42






Litium Oksigen Florin Neon




Natrium

Gambar 2.20 Elektron valensi beberapa unsur periode 2 dan periode 3


Contoh soal

Tuliskan konfigurasi elektron C (Z=6).

Jawab

Konfigurasi elektron C = [K = 2, L = 6]



Contoh soal

Berapakah jumlah elektron maksiumum yang dapat
menempati kulit O (n=5)?

Jawab

Jumlah elektron di kulit O (n=5) = 2(2)
5
= 64 elektron




IA
Golongan
VIA VIIA VIIIA

43
2.4 Perkembangan model atom

Penelitian-penelitian terbaru menyebabkan teori dan model
atom semakin berkembang dan kebenarannya semakin nyata. Teori
dan model atom dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh John
Dalton yang selanjutnya dikembangkan oleh Joseph John Thompson,
Ernest Rutherford, Niels Bohr dan teori atom menggunakan mekanika
gelombang.

2.4.1 Model atom John Dalton

Hukum kekekalan massa yang disampaikan oleh Lavoisier dan
hukum perbandingan tetap yang dijelaskan oleh Proust mendasari
John Dalton untuk mengemukakan teori dan model atomnya pada
tahun 1803. John Dalton menjelaskan bahwa atom merupakan partikel
terkecil unsur yang tidak dapat dibagi lagi, kekal dan tidak dapat
dimusnahkan demikian juga tidak dapat diciptakan. Atom-atom dari
unsur yang sama mempunyai bentuk yang sama dan tidak dapat
diubah menjadi atom unsur lain.



Gambar 2.21 Model atom Dalton


2.4.2 Model atom Joseph John Thompson

Joseph John Thompson merupakan penemu elektron.
Thompson mencoba menjelaskan keberadaan elektron mengguna-kan
teori dan model atomnya. Menurut Thompson, elektron tersebar
secara merata di dalam atom yang dianggap sebagai suatu bola yang
bermuatan positif. Model atom yang dikemukakan oleh Thompson
sering disebut sebagai model roti kismis dengan roti sebagai atom
yang bermuatan positif dan kismis sebagai elektron yang tersebar
merata di seluruh bagian roti. Atom secara keseluruhan bersifat
netral.


44


Gambar 2.22 Model atom Thompson



2.4.3 Model atom Ernest Rutherford

Penelitian penembakan sinar alfa pada plat tipis emas
membuat Rutherford dapat mengusulkan teori dan model atom untuk
memperbaiki teori dan model atom Thompson. Menurut Rutherford,
atom mempunyai inti yang bermuatan positif dan merupakan pusat
massa atom dan elektron-elektron mengelilinginya.




Gambar 2.23 Model atom Rutherford


Rutherford berhasil menemukan bahwa inti atom bermuatan
positif dan elektron berada diluar inti atom. Akan tetapi teori dan
model atom yang dikemukakan oleh Rutherford juga masih
mempunyai kelemahan yaitu teori ini tidak dapat menjelaskan
fenomena kenapa elektron tidak dapat jatuh ke inti atom. Padahal
menurut fisika klasik, partikel termasuk elektron yang mengorbit pada
lintasannya akan melepas energi dalam bentuk radiasi sehingga
elektron akan mengorbit secara spiral dan akhirnya jatuh ke iti atom.


45
2.4.4 Model atom Niels Bohr

Niels Bohr selanjutnya menyempurnakan model atom yang
dikemukakan oeh Rutherford. Penjelasan Bohr didasarkan pada
penelitiannya tentang spektrum garis atom hidrogen. Beberapa hal
yang dijelaskan oleh Bohr adalah
- Elektron mengorbit pada tingkat energi tertentu yang disebut
kulit
- Tiap elektron mempunyai energi tertentu yang cocok dengan
tingkat energi kulit
- Dalam keadaan stasioner, elektron tidak melepas dan menyerap
energi
- Elektron dapat berpindah posisi dari tingkat energi tinggi menuju
tingkat energi rendah dan sebaliknya dengan menyerap dan
melepas energi



Gambar 2.24 Model atom Bohr


2.4.5 Model atom mekanika gelombang

Perkembangan model atom terbaru dikemukakan oleh model
atom berdasarkan mekanika kuantum. Penjelasan ini berdasarkan tiga
teori yaitu
- Teori dualisme gelombang partikel elektron yang dikemukakan
oleh de Broglie pada tahun 1924
- Azas ketidakpastian yang dikemukakan oeh Heisenberg pada tahun
1927
- Teori persamaan gelombang oleh Erwin Schrodinger pada tahun
1926
Menurut model atom ini, elektron tidak mengorbit pada lintasan
tertentu sehingga lintasan yang dikemukakan oleh Bohr bukan suatu
kebenaran. Model atom ini menjelaskan bahwa elektron-elektron
berada dalam orbita-orbital dengan tingkat energi tertentu. Orbital
merupakan daerah dengan kemungkinan terbesar untuk menemukan
elektron disekitar inti atom.

46



Gambar 2.25 Model atom mekanika kuantum


2.5 Perkembangan pengelompokan unsur

Pada awalnya, unsur hanya digolongkan menjadi logam dan
nonlogam. Dua puluh unsur yang dikenal pada masa itu mempunyai
sifat yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setelah John Dalton
mengemukakan teori atom maka terdapat perkembangan yang cukup
berarti dalam pengelompokan unsur-unsur. Penelitian Dalton tentang
atom menjelaskan bahwa setiap unsur mempunyai atom-atom dengan
sifat tertentu yang berbeda dari atom unsur lain. Hal yang
membedakan diantara unsur adalah massanya.
Pada awalnya massa atom individu belum bisa ditentukan
karena atom mempunyai massa yang amat kecil sehingga digunakan
massa atom relatif yaitu perbandingan massa antar-atom. Berzelius
pada tahun 1814 dan P. Dulong dan A. Petit pada tahun 1819
melakukan penentuan massa atom relatif berdasarkan kalor jenis
unsur. Massa atom relatif termasuk sifat khas atom karena setiap
unsur mempunyai massa atom relatif tertentu yang berbeda dari
unsur lainnya. Penelitian selanjutnya melibatkan Dobereiner,
Newlands, mendeleev dan Lothar Meyer yang mengelompokkan unsur
berdasarkan massa atom relatif.






Gambar 2.26 Unsur klorin, bromin dan iodin
Klorin
Bromin
Iodin

47

2.5.1 Triad Dobereiner

Johann Wolfgang Dobereiner pada tahun 1829 menjelaskan
hasil penelitiannya yang menemukan kenyataan bahwa massa atom
relatif stronsium berdekatan dengan massa rata-rata dua unsur lain
yang mirip dengan stronsium yaitu kalsium dan barium. Hasil
penelitiannya juga menunjukkan bahwa beberapa unsur yang lain
menunjukkan kecenderungan yang sama. Berdasarkan hasil
penelitiannya, Dobereiner selanjutnya mengelompokkan unsur-unsur
dalam kelompok-kelompok tiga unsur yang lebih dikenal sebagai triad.
Triad yang ditunjukkan oleh Dobereiner tidak begitu banyak sehingga
berpengaruh terhadap penggunaannya.

48
Tabel 2.4 Massa Atom Relatif Unsur Triad Dobereiner

Triad Massa atom relatif
Rata-rata
massa atom relatif
Unsur pertama dan ketiga
Kalsium 40
( )
5 , 88
2
137 40
=
+

Stronsium 88
Barium 137




Gambar 2.27 Johann Wolfgang Dobereiner

Litium
(Li)
Kalsium
(Ca)
Klorin
(Cl)
Belerang
(S)
Mangan
(Mn)
Natrium
(Na)
Stronsium
(Sr)
Bromin
(Br)
Selenium
(Se)
Kromium
(Cr)
Kalium
(K)
Barium
(Ba)
Iodin
(I)
Telurium
(Te)
Besi (Fe)

Gambar 2. 28 Triad Dobereiner

2.5.2 Hukum oktaf Newlands

Hukum oktaf ditemukan oleh A. R. Newlands pada tahun 1864.
Newlands mengelompok-kan unsur berdasarkan kenaikan massa atom
relatif unsur. Kemiripan sifat ditunjukkan oleh unsur yang berseliih
satu oktaf yakni unsur ke-1 dan unsur ke-8 serta unsur ke-2 dan unsur
ke-9. Daftar unsur yang berhasil dikelompokkan berdasarkan hukum
oktaf oleh Newlands ditunjukkan pada tabel berikut.

49



Gambar 2.29 John Newlands


1
H
7
Li
9
Be
11
B
12
C
14
N
16
O
19
F
23
Na
24
Mg
27
Al
28
Si
31
P
32
S
35
Cl
39
K
40
Ca
52
Cr
48
Ti
55
Mn
56
Fe

Gambar 2.5 Tabel oktaf Newlands

Hukum oktaf Newlands ternyata hanya berlaku untuk unsur-unsur
dengan massa atom relatif sampai 20 (kalsium). Kemiripan sifat
terlalu dipaksakan apabila pengelompokan dilanjutkan.


2.5.3 Sistem periodik Mendeleev

Dmitri Ivanovich Mendeleev pada tahun 1869 melakukan
pengamatan terhadap 63 unsur yang sudah dikenal dan mendapatkan
hasil bahwa sifat unsur merupakan fungsi periodik dari massa atom
relatifnya. Sifat tertentu akan berulang secara periodik apabila unsur-
unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya.
Mendeleev selanjutnya menempatkan unsur-unsur dengan kemiripan
sifat pada satu lajur vertikal yang disebut golongan. Unsur-unsur juga
disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya dan ditempatkan
dalam satu lajur yang disebut periode. Sistem periodik yang disusun
Mendeleev dapat dilihat pada tabel berikut:

50



Gambar 2.30 Dmitri Ivanovich Mendeleev


Gambar 2.31 Sistem periodik Mendeleev

Mendeleev sengaja mengosong-kan beberapa tempat untuk
menetapkan kemiripan sifat dalam golongan. Beberapa kotak juga
sengaja dikosongkan karena Mendeleev yakin masih ada unsur yang
belum dikenal karena belum ditemukan. Salah satu unsur baru yang
sesuai dengan ramalan Mendeleev adalah germanium yang
sebelumnya diberi nama ekasilikon oleh Mendeleev.





51
2.5.4 Sistem periodik Moseley

Perkembangan terbaru mengenai atom menjelaskan bahwa
atom dapat terbagi menjadi partikel dasar atau partikel subatom.
Atom selanjutnya diketahui tersusun oleh proton, elektron dan
netron. Jumlah proton merupakan sifat khas unsur. Setiap unsur
mempunyai jumlah proton tertentu yang berbeda dari unsur lain.
Jumlah proton suatu unsur dinyatakan sebagai nomor atom.
Henry G. Moseley yang merupakan penemu cara menentukan
nomor atom pada tahun 1914 kembali menemukan bahwa sifat-sifat
unsur merupakan fungsi periodik nomor atomnya. Pengelompokan
yang disusun oleh Mendeleev merupakan susunan yang berdasarkan
kenaikan nomor atomnya. Penyusunan telurium dan iodin yang tidak
sesuai dengan kenaikan massa atom relatifnya ternyata sesuai dengan
kenaikan nomor atomnya.



Gambar 2.32 Henry G. Moseley

2.5.5 Periode dan golongan

Sistem periodik modern tersusun berdasarkan kenaikan nomor
atom dan kemiripan sifat. Lajur horisontal yang disebut periode,
tersusun berdasarkan kenaikan nomor atom sedangkan lajur vertikal
yang disebut golongan tersusun berdasarkan kemiripan sifat. Unsur
golongan A disebut golongan utama sedangkan golongan B disebut
golongan transisi. Golongan dapat dieri tanda nomor 1 sampai 18
berurutan dari kiri ke kanan. Berdasarkan penomoran ini, golongan
transisi mempunyai nomor 3 sampai 12.
Sistem periodik modern tersusun atas 7 periode dan 18
golongan yang terbagi menjadi 8 golongan utama atau golongan A dan
8 golongan transisi atau golongan B.

52



Gambar 2.33 Sistem periodik modern

Contoh soal

Tentukan periode dan golongan unsur X, Y dan Z apabila
diketahui konfigurasi elektronnya adalah
X = 2, 3
Y = 2, 8, 4
Z = 2, 8, 7

Jawab

Unsur Periode Golongan
X 2 IIIA
Y 3 IVA
Z 3 VIIA

2.6 Sifat periodik unsur

Sifat yang berubah secara beraturan menurut kenaikan nomor
atom dari kiri ke kanan dalam satu periode dan dari atas ke bawah
dalam satu golongan disebut sifat periodik. Sifat periodik meliputi
jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron dan
keelektronegatifan.

2.6.1 Jari-jari atom

Jari-jari atom adalah jarak elektron di kulit terluar dari inti
atom. Jari-jari atom sulit untuk ditentukan apabila unsur berdiri
sendiri tanpa bersenyawa dengan unsur lain. Jari-jari atom secara
lazim ditentukan dengan mengukur jarak dua inti atom yang identik
yang terikat secara kovalen. Pada penentuan jari-jari atom ini, jari-

53
jari kovalen adalah setengah jarak antara inti dua atom identik yang
terikat secara kovalen.



Gambar 2.34 Penentuan jari-jari atom




Gambar 2.35 Hubungan jari-jari atom gengan nomor atom

Kurva hubungan jari-jari atom dengan nomor atom memperlihatkan
bahwa jari-jari atom dalam satu golongan akan semakin besar dari
atas ke bawah. Hal ini terjadi karena dari atas ke bawah jumlah kulit
bertambah sehingga jari-jari atom juga bertambah.
jarak antar
iodin (I
2
) bromin (Br
2
) klorin (Cl
2
) fluorin (F
2
)
nitrogen (N
2
) oksigen (O
2
) hidrogen (H
2
)
radius atomik
Jari-jari atom versus nomor atom
j
a
r
i
-
j
a
r
i

a
t
o
m

(
p
m
)

nomor atom

54


Gambar 2.36 Jari-jari atom unsur

Unsur-unsur dalam satu periode (dari kiri ke kanan) berjumlah kulit
sama tetapi jumlah proton bertambah sehingga jari-jari atom juga
berubah. Karena jumlah proton bertambah maka muatan inti juga
bertambah yang mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti dengan
elektron pada kulit terluar semakin kuat. Kekuatan gaya tarik yang
semakin meningkat menyebabkan jari-jari atom semakin kecil.
Sehingga untuk unsur dalam satu periode, jari-jari atom semakin kecil
dari kiri ke kanan.
Jari-jari ion digambarkan sebagai berikut:




Gambar 2.37 Perbandingan jari-jari atom dengan jari-jari ion


Kecenderungan ukuran atom
ukuran atom turun
u
k
u
r
a
n

a
t
o
m

n
a
i
k

Golongan 1A Golongan 7A
Energi ionisasi
pertama menurun
dalam golongan I
dan II karena
elektron terluar
sangat terperisai
dari tarikan inti

55
2.6.2 Energi ionisasi

Energi minimum yang dibutuhkan untuk melepas elektron
atom netral dalam wujud gas pada kulit terluar dan terikat paling
lemah disebut energi ionisasi. Nomor atom dan jari-jari atom
mempengaruhi besarnya energi ionisasi. Semakin besar jari-jari atom
maka gaya tarik antara inti dengan elektron pada kulit terluar
semakin lemah. Hal ini berarti elektron pada kulit terluar semakin
mudah lepas dan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron
tersebut semakin kecil. Akibatnya, dalam satu golongan, energi
ionisasi semakin kecil dari atas ke bawah. Sedagkan dalam satu
periode, energi ionisasi semakin besar dari kiri ke kanan. Hal ini
disebabkan dari kiri ke kanan muatan iti semakin besar yang
mengakibatkan gaya tarik antara inti dengan elektron terluar semakin
besar sehingga dibutuhkan energi yang besar pula untuk melepaskan
elektron pada kulit terluar.


Gambar 2.38 Energi ionisasi



Gambar 2.39 Hubungan energi ionisasi dengan nomor atom

Kecenderungan energi ionisasi pertama
Energi naik
E
n
e
r
g
i

t
u
r
u
n

Energi ionisasi pertama versus nomor atom
nomor atom
E
n
e
n
r
g
i

i
o
n
i
s
a
s
i

p
e
r
t
a
m
a

(
k
J
/
m
o
l
)


56
Kurva tersebut menunjukkan unsur golongan 8A berada di puncak
grafik yang mengindikasikan bahwa energi ionisasinya besar. Hal
sebaliknya terjadi untuk unsur golongan 1A yang berada di dasar kurva
yang menunjukkan bahwa energi ionisasinya kecil. Atom suatu unsur
dapat melepaskan elektronnya lebih dari satu buah. Energi yang
dibutuhkan untuk melepaskan elektron keua disebut energi ionisasi
kedua dan tentu saja diperlukan energi yang lebih besar. Energi
ionisasi semakin besar apabila makin banyak elektron yang dilepaskan
oleh suatu atom.

2.6.3 Afinitas elektron

Afinitas elektron merupakan enegi yang dilepaskan atau
diserap oleh atom netral dalam bentuk gas apabila terjadi
penangkapan satu elektron yang ditempatkan pada kulit terluarnya
dan atom menjadi ion negatif. Afinitas elektron dapat berharga positif
dan negatif. Afinitas elektron berharga negatif apabila dalam proses
penangkapan satu elektron, energi dilepaskan. Ion negatif yang
trebrntuk akibat proses tersebut bersifat stabil. Hal sebaliknya terjadi
apabila dalam proses penangkapan satu elektron, energi diserap.
Penyerapan energi menyebabkan ion yang terbentuk bersifat tidak
stabil. Semakin negatif harga afinitas lektron suatu atom unsur maka
ion yang ter bentuk semakin stabil.



Gambar 2.40 Afinitas elektron golongan 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7

Golongan
A
f
i
n
i
t
a
s

e
l
e
k
t
r
o
n

(
k
J
/
m
o
l
)


57
Gambar menunjukkan bahwa atom unsur golongan 2A dan 8A
mempunyai afinitas elektron yang berharga positif. Hal ini
mengindikasikan bahwa unsur golongan 2A dan 8A sulit menerima
elektron. Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh unsur golongan
halogen karena unsur golongan ini paling mudah menangkap elektron.
Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa afinitas elektron, dalam
satu periode, dari kiri ke kanan semakin negatif dan dalam satu
golongan dari atas ke bawah, semakin positif.

2.6.4 Keelektronegatifan

Keelektronegatifan ada-lah skala yang dapat menjelaskan
kecenderungan atom suatu unsur untuk menarik elektron menuju
kepadanya dalam suatu ikatan. Keelektronegatifan secara umum,
dalam satu periode, dari kiri ke kanan semakin bertambah dan dalam
satu golongan, dari atas ke bawah keelekrnegatifan semakin
berkurang. Hal ini dapat dimengerti karena dalam satu periode, dari
kiri ke kanan, muatan inti atom semakin bertambah yang
mengakibatkan gaya tarik antara inti atom dengan elektron terluar
juga semakin bertambah. Fenomena ini menyebabkan jari-jari atom
semakin kecil, energi ionisasi semakin besar, afinitas elektron makin
besar dan makin negatif dan akibatnya kecenderungan untuk menarik
elektron semakin besar.



Gambar 2.41 Elektronegatifitas








Kecenderungan Elektronegatifitas alam Tabel Periodik
Lantanida
Aktinida
Elektronegatifitas naik dari bawah ke atas dalam satu
golongan
Elektronegatifitas naik dari kiri ke kanan dalam satu periode

58

H
2,1

Li
0,97
Be
1,5
B
2,0
C
2,5
N
3,1
O
3,5
F
4,1
Na
1,0
Mg
1,2
Al
1,5
Si
1,7
P
2.1
S
2,4
Cl
2,8
K
0,90
Ca
1,0
Ga
1,8
Ge
2,0
As
2,2
Se
2,5
Br
2,7
Rb
0,89
Sr
1,0
In
1,5
Sn
1,72
Sb
1,82
Te
2,0
I
2,2
Cs
0,86
Ba
0,97
Tl
1,4
Pb
1,5
Bi
1,7
Po
1,8
At
1,9

Gambar 2.42 Keelektronegatifan skala Pauling

Terlihat dari gambar bahwa untuk unsur gas mulia tidak mempunyai
harga keelektronegatifan karena konfigurasi elektronnya yang stabil.
Stabilitas gas mulia menyebabkan gas mulia sukar untuk menarik dan
melepas elektron. Keelektronegatifan skala pauling memberikan nilai
keelektronegatifan untuk gas mulia sebesar nol.



Gambar 2.43 Sifat periodik unsur

Lebih berkarakter nonlogam
Afinitas elektron lebih negatif
Energi ionisasi meningkat
Jari-jari atom meningkat
Lebih berkarakter logam
Tabel periodik

59
Ringkasan

Atom merupakan model paling penting dalam ilmu kimia.
Sebuah model sederhana yang dapat digunakan untuk menggambarkan
sitem yang lebih komplek. Jadi, dengan memikirkan atom sebagai
sebuah bola sederhana maka sifat-sifat padatan, cairan dan gas dapat
dijelaskan dengan mudah.
Dalam tabel periodik modern, unsur-unsur disusun dalam
baris-baris yang disebut sebagai periode dengan kenaikan nomor
atom. Baris-baris tersebut menjadikan unsur-unsur dapat tersusun
dalam satu baris yang sama yang disebut golongan yang mempunyai
kesamaan sifat fisika dan sifat kimia.

60
Latihan

1. Lengkapilah tabel berikut:
Partikel Muatan relatif Massa relatif
Netron 1
-1

3 Hitunglah jumlah proton, elektron dan netron dalam
6
Li dan
7
Li,
32
S dan
32
S
2-
,
39
K
+
dan
40
Ca
2+
. Jelaskan perbedaan dalam masing-
masing pasangan tersebut.
4 Tulislah simbol, termasuk nomor massa dan nomor atom, isotop
dengan nomor massa 34 dan mempunyai 18 netron.
5 Jelaskan apa yang dimaksud dengan nomor massa sebuah isotop.
6 Oksigen mempunyai 3 isotop yaitu
16
O,
17
O dan
18
O. Tuliskan
jumlah proton, elektron dan netron dalam
16
O dan
17
O.
7 Tuliskan konfigurasi elektron Cl dan Cl
-
, O
2-
dan Ca
2+

8 Asam fluorida dapat bereaksi dengan air membentuk asam
hidrofluorat. Hasil reaksi bersifat korosif dan karena dapat
bereaksi dengan glass maka disimpan dalam wadah nikel. Asam
hidrofluorat dapat bereaksi dengan nikel membentuk lapisan
pelindung nikel(II)fluorida. Tuliskan konfigurasi elektron nikel
dan ion nikel (II).
9 Unsur dengan nomor atom 23 mengion dengan muatan
3+
,
tuliskan konfigurasi elektron ion ini termasuk simbolnya.
10 Jelaskan perbedaan spektra kontinyu dan non-kontinyu
11 Tuliskan konfigurasi elektron kalsium, Ca (Z = 20)
12 Dengan menggunakan tabel periodik, tentukan lambang unsur
dengan nomor atom 35
13 Tentukan jumlah proton, elektron dan netron atom unsur Cu
69
29

14 Tentukan jumlah proton dan elektron atom unsur 24-Cr
6+

15 Ion Z
3+
mempunyai 20 elektron dan 22 netron, tentukan nomor
massa ion Z
3+

16 Jelaskan perbedaan dua isotop klorin 35-Cl dan 37-Cl
17 Tentukan jumlah proton, elektron dan netron serta buatlah
konfigurasi elektron 20-Ca
2+

18 Suatu unsur berwujud gas mempunyai massa 1 gram dan volume
560 liter (STP), tentukan nomor atom dan konfigurasi elektron
apabila jumlah netron dalam inti adalah 22
19 Berapakah jumlah kulit yang dimiliki unsur 17-Y.
20 1. Tabel periodik dibagi menjadi golongan s, p, d dan f.
21 Tuliskan konfigurasi elektron dari kalsium, silikon, selenium dan
nikel
22 Berikan blok tabel periodik dimana masing-masing unsur
kemungki-nan ditemukan
23 Jelaskan, berdasarkan konfigurasi elektron, sifat-sifat umum
unsur golongan p
24 Jelaskan energi ionisasi pertama dari natrium, magnesium dan
aluminium berdasarkan konfigurasi elektronnya

61
25 Jelaskan energi ionisasi pertama dari silikon, fosfor dan
belerang berdasarkan konfigurasi elektronnya
26 Helium merupakan unsur dengan energi ionisasi pertama paling
tinggi dalam tabel periodik. Prediksikan unsur yang mempunyai
energi ionisasi pertama paling rendah dan jelaskan kenapa
27 Hal apakah yang membedakan penelitian Mendeleev dengan
penelitian sebelumnya sehingga ilmuwan menerima konsep yang
diusulkan
28 Bagaimanakah tabel periodik dapat memudahkan pembelaja-ran
ilmu kimia
29 Bagaimanakah senyawa biner dan hidrogen dapat
mengilustrasikan konsep periodisitas
30 Jelaskan kenapa klorin an natrium berada dalam satu periode
31 Jari-jari atom unsur golongan alkali dan alkali tanah berturut-
turut adalah (dalam angstrom) 2,01; 1,23; 157; 0,80 dan 0,89.
manakah yang merupakan jari-jari atom litium, jelaskan
32 Diantara unsur golongan alkali dan alkali tanah, manakah yang
mempunyai energi ionisasi tertinggi, jelaskan
33 Pada tabel periodik bagian manakah yang menyatakan unsur
dengan kestabilan tinggi dan unsur golongan transisi
34 Jelaskan sifat yang mencrminkan kecenderungan unsur untuk
melepas elektronnya dan membentuk ion positif satu (+1)
35 Apakah yang dimaksud metaloid dan unsur manakah dalam tabel
periodik yang sering disebut unsur metaloid
36 Sifat-sifat apakah yang membedakan unsur logam dan non logam
37 Tabel berikut memberikan data titik leleh unsur-unsur periode
3.
Na Mg Al Si P S Cl Ar
371 922 933 1683 317 386 172 84
a. Jelaskan terjadinya peningkatan titik leleh antara
natrium dan magnesium
b. Jelaskan kenapa silikon mempunyai titik leleh
tertinggi
c. Jelaskan kenapa terjadi peningkatan konduktivitas
listrik dari golongan I sampai golongan III



62



63
3 Stoikhiometri



Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Memahami konsep mol Menjelaskan konsep mol
Menerapkan Hukum Gay Lussac
dan Hukum Avogadro
Tujuan pembelajaran
1 Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan proton, netron dan
elektron berdasarkan muatan relatif dan massa relatifnya
2 Siswa mampu mendeskripsikan massa dan muatan dalam atom
3 Siswa mampu mendeskripaikan kontribusi proton dan netron pada
inti atom berdasarkan nomor atom dan nomor massa
3 Siswa mampu mendeduksikan jumlah proton, netron dan elektron
yang terdapat dalam atom dan ion dari nomor atom dan nomor massa
yang diberikan
5 Siswa mampu membedakan isotop berdasarkan jumlah netron
berbeda yang ada
6 Siswa mampu mendeduksi konfigurasi elektronik atom

3.1 Konsep mol

Saat kita membeli apel atau daging kita selalu mengatakan
kepada penjual berapa kilogram yang ingin kita beli, demikian pula
berapa liter saat kita ingin membeli minyak tanah. Jarak dinyatakan
dalam satuan meter atau kilometer. Ilmu kimia menggunakan satuan
mol untuk menyatakan satuan jumlah atau banyaknya materi.



Gambar 3.1 Unsur dengan jumlah mol berbeda


64
3.1.1 Hubungan mol dengan tetapan Avogadro

Kuantitas atom, molekul dan ion dalam suatu zat dinyatakan
dalam satuan mol. Misalnya, untuk mendapatkan 18 gram air maka 2
gram gas hidrogen direaksikan dengan 16 gram gas oksigen.

2H
2
O + O
2
ĺ 2H
2
O

Dalam 18 gram air terdapat 6,023x10
23
molekul air. Karena jumlah
partikel ini sangat besar maka tidak praktis untuk memakai angka
dalam jumlah yang besar. Sehingga iistilah mol diperkenalkan untuk
menyatakan kuantitas ini. Satu mol adalah jumlah zat yang
mangandung partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang
terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12,
C-12).
Jumlah atom yang terdapat dalam 12 gram karbon-12
sebanyak 6,02x10
23
atom C-12. tetapan ini disebut tetapan Avogadro.

Tetapan Avogadro (L) = 6,02x10
23
partikel/mol

Lambang L menyatakan huruf pertama dari Loschmidt, seorang
ilmuwan austria yang pada tahun 1865 dapat menentukan besarnya
tetapan Avogadro dengan tepat. Sehingga,
1 mol emas = 6,02x10
23
atom emas
1 mol air = 6,02x10
23
atom air
1 mol gula = 6,02x10
23
molekul gula






3.1.2 Hubungan mol dengan jumlah partikel

Telah diketahui bahwa 1mol zat X = l buah partikel zat X,
maka
2 mol zat X = 2 x L partikel zat X
5 mol zat X = 5 x L partikel zat X
n mol zat X = n x L partikel zat X






Contoh soal
Berapa mol atom timbal dan oksigen yang dibutuhkan untuk
membuat 5 mol timbal dioksida (PbO
2
).


1 mol zat X = L buah partikel zat X
Jumlah partikel = n x L
Massa atom relatif
adalah massa
rata-rata atom
sebuah unsur
dibandingkan
dengan 1/12 massa
atom karbon 12

65
Jawab

1 mol timbal dioksida tersusun oleh 1 mol timbal dan 2 mol
atom oksigen (atau 1 mol molekul oksigen, O
2
). Sehingga terdapat
Atom timbal = 1 x 5 mol = 5 mol
Atom oksigen = 2 x 5 mol = 10 mol (atau 5 mol molekul oksigen, O
2
)

Contoh soal
Berapa jumlah atom besi (Ar Fe = 56 g/mol) dalam besi seberat 0,001
gram.

Jawab
mol
mol g
gram
besi mol jumlah 00001786 , 0
/ 56
001 , 0
= =

Jumlah atom besi = 0,00001786 mol x 6,02x10
23
= 1,07x10
19


3.1.3 Massa molar

Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang
mangandung partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang
terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12,
C-12). Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol C-12 adalah 12 gram.
Massa 1 mol zat disebut massa molar. Massa molar sama dengan massa
molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu zat yang
dinyatakan dalam gram.





Contoh,

Tabel 3.1 Massa dan Jumlah Mol Atom/Molekul

Atom/molekul Jumlah mol Mr/Ar (g/mol) Massa
H
2
O 1 18 18
N 1 13 13
(CO(NH
2
)
2
), Urea 1 60 60
Fe
2
(SO
3
)
3
1 300 300

Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau
massa atom relatif (Ar) suatu zat dapat dicari dengan




Massa molar = Mr atau Ar suatu zat (gram)
Gram = mol x Mr atau Ar
Massa molekul
relatif merupakan
penjumlahan
massa atom relatif
dalam sebuah
molekul

66
Contoh soal

Berapa mol besi seberat 20 gram jika diketahui Ar Fe = 56
g/mol

Jawab

Besi tersusun oleh atom-atom besi, maka jumlah mol besi

mol
mol gram
gram
besi mol 357 , 0
/ 56
20
= =

Contoh soal

Berapa gram propana C
3
H
8
dalam 0,21 mol jika diketahui Ar C
= 12 dan H = 1

Jawab

Mr Propana = (3 x 12) + (8 x 1) = 33 g/mol, sehingga,
gram propana = mol x Mr = 0,21 mol x 33 g/mol = 9,23 gram


3.1.3 Volume molar

Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada
suhu 0°C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76cmHg) didapatkan tepat 1
liter oksigen dengan massa 1,3286 gram. Maka,

mol gram
gram
oksigen gas mol
/ 32
4286 , 1
=

Karena volume gas oksigen (O
2
) = 1 liter,

Liter Liter x
gram
mol gram
oksigen gas mol 4 , 22 1
4286 , 1
/ 32
1 = =

Pengukuran dengan kondisi 0°C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir
(76cmHg) disebut juga keadaan STP(Standard Temperature and
Pressure). Pada keadaan STP, 1 mol gas oksigen sama dengan 22,3
liter.
Avogadro yang menyata-kan bahwa pada suhu dan tekanan
yang sama, gas-gas yang bervolume sama mengandung jumlah
molekul yang sama. Apabila jumlah molekul sama maka jumlah
molnya akan sma. Sehingga, pada suhu dan tekanan yang sama,
apabila jumlah mol gas sama maka volumenyapun akan sama.
Keadaan standar pada suhu dan tekanan yang sma (STP) maka volume

67
1 mol gas apasaja/sembarang berharga sama yaitu 22,3 liter. Volume
1 mol gas disebut sebagai volume molar gas (STP) yaitu 22,3
liter/mol.


3.1.4 Volume gas tidak standar

3.1.4.1 Persamaan gas ideal

Persamaan gas ideal dinyatakan dengan:

PV=nRT

keterangan:
P; tekanan gas (atm)
V; volume gas (liter)
N; jumlah mol gas
R; tetapan gas ideal (0,082 liter atm/mol K)
T; temperatur mutlak (Kelvin)


3.1.4.2 Gas pada suhu dan tekanan sama

Avogadro melalui percobaannya menyatakan bahwa pada
suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang bervolume sama
mengandung jumlah molekul yang sama. Apabila jumlah molekulnya
sama maka jumlah molnya sama. Jadi pada suhu dan tekanan yang
sama perbandingan mol gas sama dengan perbandingan volume gas.
Maka,
2
1
2
1
) , (
n
n
V
V
P T =


3.1.4.3 Molaritas

Larutan merupakan campuran antara pelarut dan zat terlarut.
Jumlah zat terlarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi.
Salah satu cara untuk menyatakan konsentrasi dan umumnya
digunakan adlah dengan molaritas (M). molaritas merupakan ukuran
banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter larutan.

) (
1000
) (
1000
) (
) (
mL V
x
Mr
g
mL V
x mol
liter V
mol n
M = = =

keterangan:
V = volume larutan
g = massa zat terlarut


68
pengenceran dilakukan apabila larutan terlalu pekat. Pengenceran
dilakukan dengan penambahan air. Pengenceran tidak merubah
jumlah mol zat terlarut. Sehingga,

V
1
M
1
= V
2
M
2

keterangan:
V
1
= volume sebelum pengenceran
M
1
= molaritas sebelum pengenceran
V
2
= volume sesudah pengenceran
M
2
= molaritas sesudah pengenceran





Gambar 3.2 Pembuatan Larutan



3.2 Penerapan hukum Proust

3.2.1 Perbandingan massa unsur dalam senyawa

Senyawa mempunyai susunan yang tetap. Hukum Proust
menyatakan bahwa perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu
senyawa selalu tetap. Contoh paling sederhana adalah perbandingan
massa hidrogen dengan oksigen dalam air (H
2
O) yang selalu tetap
yaitu 1:8. Perbandingan tersebut tidak tergantung pada jumlah air.
Dalam senyawa A
m
B
n
, 1 molekul mengandung m atom A dan n atom B.
Dalam setiap molekul A
m
B
n
, massa A = m x Ar A dan massa B = n x Ar
B. Sehingga untuk A
m
B
n
,

B Ar n
A Ar m
B massa
A massa
=


69
3.2.2 Persen komposisi

Persentase setiap unsur dalam senyawa dinyatakan dalam
persen komposisi. Sebagai contoh adalah perbandingan massa H
dengan O dalam H
2
O adalah

16
2
1
2
= =
O Ar
H Ar
O massa
H massa


3.2.3 Massa unsur dalam senyawa

Massa unsur dalam senyawa ditentukan dengan cara yang
sama untuk menghitung persen komposisi. Dalam air (H
2
O), misalnya

16
2
1
2
= =
O Ar
H Ar
O massa
H massa


jumlah total adalah 18. Apabila massa air adalah 32 maka massa H,

gram x air massa x
O H Mr
H Ar
air g x
H Ar
8 18
18
) 1 ( 2 2 2
2
= = =
E


Untuk senyawa A
m
B
n
secara umum dapat dinyatakan,


AmBn massa x
AmBn Mr
A Ar m
A massa =

AmBn massa x
AmBn Mr
B Ar m
B massa =


Dari contoh senyawa A
m
B
n
maka dapat ditentukan indeks untuk
masing-masing unsur,

B Ar n
A Ar m
B massa
A massa
=

Dari pernyataan tersebut maka m adalah indeks untuk unsur A
sedangkan n adalah indeks untuk unsur B, atau dapat ditulis

B mol
A mol
B Ar B massa
A Ar A massa
n
m
= =
/
/


70

Jadi untuk senyawa A
m
B
n
,






3.2.4 Menentukan rumus senyawa

Rumus senyawa berupa rumus empiris dan rumus molekul
sangat mutlak ditentukan untuk mengetahui jenis unsur dan komposisi
unsur senyawa tersebut.


3.2.4.1 Rumus empiris

Perbandingan sederhana atom unsur-unsur dalam senyawa
disebut rumus empiris. Rumus empiris dapat ditentukan dengan cara
- Menentukan jenis unsur penyusun senyawa
- Menentukan massa atau komposisi unsur dalam senyawa
- Mengubah massa atau komposisi dalam mol
- Menentukan massa atom relatif unsur penyusun senyawa


Contoh soal

Tentukan rumus empiris natrium sulfida yang didapatkan dari
reaksi 1,15 gram natrium dan 0,8 gram sulfur.

Jawab

Perbandingan
Natrium, Na (Ar = 23
g/mol)
Sulfur, S (Ar = 32 g/mol)
Massa 1,15 gram 0,8 gram
Mol
mol
mol g
gram
05 , 0
/ 23
15 , 1
= mol
mol g
gram
025 , 0
/ 32
8 , 0
=
Perbandingan
sederhana

0,05/0,025 = 2 0,025/0,025 = 1
Perbandingan terkecil = rumus empiris = Na
2
S


3.2.4.2 Rumus molekul

Jumlah atom (jumlah mol atom) yang bergabung dalam satu
molekul senyawa (satu mol senyawa). Rumus molekul dapat
ditentukan dengan memanfaatkan massa molekul relatif dan rumus
empiris.
m : n = mol A : mol B
Rumus empiris
memberikan
perbandingaan
masing-masing
atom atau
kelompok atom
dalam sebuah
molekul

71




Gambar 3.5 Alat Penganalisis Unsur

Penyerap H
2
O Penyerap C
2
O
Pemanas
Sampel

72
Contoh soal

Senyawa hidrokarbon terklorinasi mengandung 23,23% karbon, 3,03%
hidrogen dan 71,72% klorin. Tentukan rumus empiris dan rumus molekul jika massa
molekul diketahui sebesar 99. (% = gram)

jawab

Perbandingan
Karbon, C
(Ar = 12 g/mol)
Hidrogen, H
(Ar = 1 g/mol)
Klorin, Cl
(Ar = 35,5 g/mol)
Massa 23,23 3,03 71,72
Mol mol
mol g
gram
02 , 2
/ 12
24 , 24
= mol
mol g
gram
04 , 4
/ 1
04 , 4
= mol
mol g
gram
02 , 2
/ 5 , 35
72 , 71
=
Perbandingan
sederhana

2,02/2,02 = 1 3,03/2,02 = 2 2,02/2,02 = 1
Perbandingan terkecil = rumus empiris = (CH
2
Cl)n
Apabila diketahui massa molekul sebesar 99, maka
[(1 x Ar C) + (2 x Ar H) + (1 x Ar Cl)]n = 99
[(1 x 12) + (2 x 1) + (1 X 35,5)]n = 99
(12+2+35,5)n = 99
39,5n = 99
n = 2
Maka rumus molekul senyawa adalah (CH
2
Cl)
2
= C
2
H
3
Cl
2




73
Ringkasan

Definisi atom, isotop, dan massa molekul secara relatif
didasarkan pada karbon-12 yang mempunyai massa 12 tepat. Satu mol
senyawa adalah ukuran senyawa yang mempunyai jumlah partikel
yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram karbon-12.
Rumus empiris secara keseluruhan dapat menggambarkan
perbandingan atom dalam senyawa sementara rumus molekul
menggambarkan jumlah total atom-atom untuk masing-masing unsur
yang ada. Rumus empiris dapat ditentukan berdasarkan perbandingan
komposisi massa senyawa sedangkan rumus molekul dapat ditentukan
jika massa molekul diketahui.


Latihan

1. Gas nitrogen monoksida sebanyak 10 liter mengandung 3x1022
molekul. Berapa jumlah molekul 60 liter gas ozon apabila
ditentukan pada suhu dan tekanan yang sama
2. Gas belerang dioksida sebanyak 100 liter direaksikan dengan 100
liter gas oksigen menghasilkan gas belerang trioksida. Apabila
semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama, tentukan:
- pereaksi yang tersisa dan berapa volumenya
- volume gas yang dihasilkan
- volume akhir campuran
3. Tentukan massa molekul relatif Cu(H
2
O)SO
3
apabila diketahui Ar
Cu = 29g/mol, Ar H = 1g/mol, Ar O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol.
4. Tentukan massa molekul relatif MgSO
3
.7H
2
O apabila diketahui Ar
Mg = 23g/mol, Ar H = 1g/mol, Ar O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol.
5. Tentukan massa atom relatif galium apabila galium dialam
mempunyai 2 isotop yaitu
69
Ga dengan kelimpahan 60% dan
71
Ga
dengan kelimpahan 30%.
6. Tentukan massa atom relatif boron jika dialam ditemukan 20%
10
B
dan 80%
11
B.
7. Tentukan jumlah mol 10 gram tawas, K
2
SO
3
.Al(SO
3
)
3
.23H
2
O apabila
diketahui Ar K = 39g/mol, Ar Al = 27g/mol, Ar H = 1g/mol, Ar
O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol.
8. Tentukan massa Ca(H
2
PO
3
)
2
, massa fosfor dan jumlah masing-
masing atom unsur pupuk apabila diketahui pupuk TSP, Ca(H
2
PO
3
)
2

mempunyai berat 2,33 gram. Diketahui Ar Ca = 30g/mol, Ar H =
1g/mol, Ar P =31g/mol dan Ar O = 16g/mol.
9. Suatu senyawa karbon diketahui mempunyai rumus empiris CH
2
.
Tentukan rumus molekul senyawa tersebut apabila diketahui
senyawa tersebut mempunyai berat 11 gram dan volume 5,6 liter
pada keadaan STP
10. Kristal Na
2
CO
3
.xH
2
O memiliki 63% air kristal. Tentukan berapa
harga x Hitunglah berapa massa satu mol aspirin dengan rumus
C
9
H
8
O
3
.
11. Hitunglah berapa mol aspirin yang terdapat dalam 1 gram
senyawa ini.

74
12. Hitunglah berapa massa, dalam gram, 0,333 gram aspirin.
13. Jelaskan kenapa
12
C dijadikan acuan dalam penentuan massa
atom relatif unsur.
14. Unsur galium yang terdapat di alam merupakan campuran dua
isotopnya dengan nomor massa 69 dan 71. Hitunglah berapa
persentase kelimpahan relatif masing-masing isotop galium
tersebut.
15. Neon alam tersusun oleh 90,9%
20
Ne, 0,3%
21
Ne dan 8,8%
22
Ne.
Hitunglah massa atom relatif neon.
16. Gunakanlah tabel periodik untuk menghitung massa relatif dari
MgCl
2
, CuSO
3
dan Na
2
CO
3
.10H
2
O.
17. Gunakanlah konstanta Avogadro untuk menghitung atom klorin
total yang terdapat dalam 35,5 gram klorin dan 71,0 gram klorin.
18. Hitunglah massa 0,1 mol CO
2
dan 10 mol CaCO
3
.
19. Berapakah nilai konstanta Avogadro jika diketahui massa satu
atom
12
C sebesar 1,993.10
-23
.
20. Tulislah rumus empiris heksana C
6
H
13
dan hidrogen peroksida
H
2
O
2
.
21. Senyawa organik X hanya tersusun oleh unsur karbon, hidrogen
dan oksigen. Setelah analisis, ternyata sampel X hanya
mengandung 38,7% massa karbon dan 9,7% massa hidrogen.
Tentukan rumus empiris senyawa X.
22. Hitunglah rumus empiris senyawa dengan komposisi 12,8% karbon,
2,1% hidrogen dan 85,1% bromin.
23. Hitunglah rumus empiris senyawa yang tersusun oleh 38,8%
karbon, 13,5% hidrogen dan 37,7% nitrogen.
24. Pembakaran sempurna 10 cm
3
gas hidrokarbon membutuhkan 20
cm
3
oksigen. Reaksi menghasilkan 10 cm
3
karbondioksida, CO
2
.
Hitunglah rumus molekul hidrokarbon tersebut.
25. Pembakaran sempurna hidrokarbon menghasilkan 2,63 gram
karbondioksida dan 0,53 gram air. Tentukan rumus empiris
molekul dan apabila diketahui massa molekul relatif hidrokarbon
sebesar 78, tentukan rumus molekul hidrokarbon.
26. Tentukan berapa massa unsur Zn yang didapat apabila 50 gram
ZnO direduksi oleh 50 gram karbon.
27. Suatu permen karet mengandung 2,5% urea NH
2
CONH
2
. Urea
tersebut dapat bereaksi dengan asam cuka sesuai persamaan
berikut:
NH
2
CONH
2
+ 2CH
3
CO
2
H +H
2
O = CO
2
+ 2CH
3
CO
2
-NH
3
+
Tentukan berapa massa permen karet untuk menetralkan 1,00
gram asam cuka.
28. Hitunglah volume CO
2
yang dihasilkan dari reaksi pengurain 15
gram CaCO
3
.
29. Berapa volume O
2
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi 20 dm
3

NH
3
menjadi NO.
30. Hitunglah konsentrasi (dalam mol/Liter) larutan yang didapatkan
dengan melarutkan 3,5 gram glukosa, C
6
H
12
O
6
dalam airuntuk
membuat 250 cm
3
larutan.

75
4 Ikatan Kimia




Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Memahami terjadinya ikatan kimia Mendeskripsikan terjadinya ikatan
ion
Mendeskripsikan terjadinya ikatan
kovalen
Menjelaskan ikatan logam
Tujuan pembelajaran
1 Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan ikatan ionik sebagai
gaya tarik elektrostatik antara dua ion yang berbeda muatan; ;
deskripsi struktur kisi natrium klorida secara sederhana
2 Siswa mampu mendeskripsikan ikatan kovalen sebagai pasangan
elektron bersama yang digunakan diantara dua atom; ikatan kovalen
dan ikatan koordinasi
3 Siswa mampu mendeskripsikan elektronegativitas sebagai
kemampuan atom untuk menarik elektron ikatan dalam ikatan
kovalen
4 Siswa mampu menjelaskan polaritas ikatan yang akan terjadi
apabila atom-atom digabungkan oleh ikatan kovalen dengan
elektronegativitas berbeda dan polarisasi yang mungkin terjadi
5 Siswa mampu menjelaskan dan memperkirakan bentuk, termasuk
sudut ikatan, molekul dan ion menggunakan model kualitatif tolakan
pasangan elektron
6 Siswa mampu mendeskripsikan ikatan logam sebagai gaya tarik kisi
ion positif dalam lautan elektron yang bergerak






76
4.1 Elektron dan Ikatan Aturan Oktet

Unsur yang paling stabil adalah unsur yang termasuk dalam
golongan gas mulia. Semua unsur gas mulia di alam ditemukan dalam
bentuk gas monoatomik dan tidak ditemukan bersenyawa di alam.
Kestabilan unsur gas mulia berkaitan dengan konfigurasi elektron yang
menyusunnya seperti yang dikemukakan oleh Gibert Newton Lewis
dan Albrecht Kossel. Dilihat dari konfigurasi elektronnya, unsur-unsur
gas mulia mempunyai konfigurasi penuh yaitu konfigurasi oktet yang
berarti mempunyai delapan elektron pada kulit terluar kecuali untuk
unsur helium yang mempunyai konfigurasi duplet (dua elektron pada
kulit terluarnya).
Aturan oktet merupakan kecenderungan unsur-unsur untuk
menjadikan konfigurasi elektron-nya sama seperti unsur gas mulia.
Konfigurasi oktet dapat dicapai oleh unsur lain selain unsur golongan
gas mulia dengan pembentukan ikatan. Konfigurasi oktet dapat pula
dicapai dengan serah-terima atau pemasangan elektron. Serah terima
elektron menghasilkan ikatan ion sedangkan ikatan kovalen dihasilkan
apabila terjadi pemasangan elektron untuk mencapai konfigurasi
oktet.

Tabel 4.1 Susunan Bilangan Kuantum

Periode Unsur Nomor atom K L M N O P
1 He 2 2
2 Ne 10 2 8
3 Ar 18 2 8 8
4 Kr 36 2 8 18 8
4 Xe 44 2 8 18 18 8
6 Rn 86 2 8 18 32 18 8

Reaksi natrium dengan klorin membentuk natrium klorida merupakan
contoh pencapaian konfigurasi oktet dengan cara serah-terima
elektron.

10
Ne : 2 8

11
Na : 2 8 1, pelepasan 1 elektron akan menjadikan
konfigurasi menyeru-pai unsur gas mulia neon

17
Cl : 2 8 7, penerimaan 1 elektron menjadi-kan
konfigurasi menyerupai unsur gas mulia argon

18
Ar : 2 8 8


Gambar 4.1 Proses pembentukan NaCl

77
4.1.1 Teori Lewis dan Kossel

Gibert Newton Lewis dan Albrecht Kossel pada tahun 1916
mengemukakan teori tentang peranan elektron dalam pembentukan
ikatan kimia.
- Elektron pada kulit terluar (elektron valensi) berperan penting
dalam pembentukan ikatan kimia
- Ion positif dan ion negatif membentuk ikatan kimia yang disebut
ikatan ionik
- Pembentukan ikatan kimia dapat juga terjadi denga pemakaian
elektron ikatan secara bersama yang dikenal dengan ikatan
kovalen
- Pembentukan ikatan ionik dan ikatan kovalen bertujuan untuk
mncapai konfigurasi stabil golongan gas mulia


4.1.2 Lambang Lewis

Lambang Lewis merupakan lambang atom yang dikelilingi oleh
sejumlah titik yang menyatakan elektron. Lambang Lewis untuk unsur
golongan utama dapat disusun dengan mengikuti tahapan berikut:
- Banyaknya titik sesuai dengan golongan unsur
- Satu titik ditempatkan untuk tiap atom dengan jumlah maksimum
empat titik. Titik kedua dan selanjutnya berpasangan hingga
mencapai aturan oktet.



Gambar 4.2 Contoh lambang Lewis


4.2 Ikatan ion

Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik
listrik (gaya Coulomb) antara ion yang berbeda. Ikatan ion juga
dikenal sebagai ikatan elektrovalen.

78

4.2.1 Pembentukan ikatan ion

Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan antara natrium dan
klorin dalam narium klorida terjadi karena adanya serah terima
elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas tinggi karena
mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan
klorin merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya penagkapan
elektron yang tinggi. Apabila terjadi reaksi antara natrium dan klorin
maka atom klorin akan menarik satu elektron natrium. Akibatnya
natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Adanya ion
positif dan negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom
sehingga terbentuk natrium klorida. Pembentukan natrium klorida
dapat digambarkan menggunakan penulisan Lewis sebagai berikut:




Gambar 4.3 Pembentukan NaCl





Gambar 4.4 Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis


Ikatan ionik
melibatkan
transfer elektron
sehingga terbentuk
pasangan ion,
positif dan negatif

79
Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang
bereaksi mempunyai perbedaan daya tarik elektron
(keeelektronegatifan) cukup besar. Perbedaan keelektronegati-fan
yang besar ini memungkinkan terjadinya serah-terima elektron.
Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen semuanya
bersifat ionik. Senyawa logam alkali tanah juga bersifat ionik, kecuali
untuk beberapa senyawa yang terbentuk dari berilium.

4.2.2 Susunan senyawa ion

Aturan oktet menjelaskan bahwa dalam pembentukan natrium
klorida, natrium akan melepas satu elektron sedangkan klorin akan
menangkap satu elektron. Sehingga terlihat bahwa satu atom klorin
membutuhkan satu atom natrium. Dalam struktur senyawa ion
natrium klorida, ion positif natrium (Na
+
) tidak hanya berikatan
dengan satu ion negatif klorin (Cl
-
) tetapi satu ion Na
+
dikelilingi oleh
6 ion Cl
-
demikian juga sebaliknya. Struktur tiga dimensi natrium
klorida dapat digunakan untuk menjelaskan susunan senyawa ion.



Gambar 4.5 Struktur kristal kubus NaCl

4.3 Ikatan kovalen

Ikatan kovalen dapat terjadi karena adanya penggunaan
elektron secara bersama. Apabila ikatan kovalen terjadi maka kedua
atom yang berikatan tertarik pada pasangan elektron yang sama.
Molekul hidrogen H
2
merupakan contoh pembentukan ikatan kovalen.










Gambar 4.6 Pembentukan katan kovalen atom-atom hidogen
Atom-atom hidrogen Molekul hidrogen
Pasangan
elektron
bersama
Ikatan kovalen
melibatkan
pemakaian
elektron secara
bersama

80
Masing-masing atom hidrogen mempunyai 1 elektron dan
untuk mencapai konfigurasi oktet yang stabil seperti unsur golongan
gas mulia maka masing-masing atom hidrogen memerlukan tambahan
1 elektron. Tambahan 1 elektron untuk masing-masing atom hidrogen
tidak mungkin didapat dengan proses serah terima elektron karena
keelekronegatifan yang sama. Sehingga konfigurasi oktet yang stabil
dpat dicapai dengan pemakaian elektron secara bersama. Proses
pemakaian elektron secara bersama terjadi dengan penyumbangan
masing-masing 1 elektron ari atom hidrogen untuk menjadi pasangan
elektron milik bersama. Pasangan elektron bersama ditarik oleh kedua
inti atom hidrogen yang berikatan.


4.3.1 Pembentukan ikatan kovalen

Ikatan kovalen biasanya terjadi antar unsur nonlogam yakni
antar unsur yang mempunyai keelektronegatifan relatif besar. Ikata
kovalen juga terbentuk karena proses serah terima elektron tidak
mungkin terjadi. Hidrogen klorida merupakan contoh lazim
pembentukan ikatan kovalen dari atom hidrogen dan atom klorin.
Hidrogen dan klorin merupakan unsur nonlogam dengan harga
keelektronegatifan masing-masing 2,1 dan 3,0. Konfigurasi elektron
atom hidrogen dan atom klorin adalah

H : 1
Cl : 2 8 7

Berdasarkan aturan oktet yang telah diketahui maka atom hidrogen
kekurangan 1 elektron dan atom klorin memerlukan 1 elektron untuk
membentuk konfigurasi stabil golongan gas mulia. Apabila dilihat dari
segi keelektronegatifan, klorin mempunyai harga keelektronega-tifan
yang lebih besar dari hidrogen tetapi hal ini tidak serta merta
membuat klorin mampu menarik elektron hidrogen karena hidrogen
juga mempunyai harga keelektronegatifan yang tidak kecil.
Konfigurasi stabil dapat tercapai dengan pemakaian elektron
bersama. Atom hidrogen dan atom klorin masing-masing
menyumbangkan satu elektron untuk membentuk pasangan elektron
milik bersama.



Gambar 4.7 Pembentukan HCl





81
4.3.2 Ikatan kovalen rangkap dan rangkap tiga

Dua atom dapat berpasangan dengan mengguna-kan satu
pasang, dua pasang atau tiga pasang elektron yang tergantung pada
jenis unsur yang berikatan. Ikatan dengan sepasang elektron disebut
ikatan tunggal sedangkan ikatan yang menggu-nakan dua pasang
elektron disebut ikatan rangkap dan ikatan dengan tiga pasang
elektron disebut ikatan rangkap tiga. Ikatan rangkap misalnya dapat
dijumpai pada molekul oksigen (O
2
) dan molekul karbondiksida (CO
2
)
sedangkan ikaran rangkap tiga misalnya dapat dilihat untuk molekul
nitrogen (N
2
) dan etuna (C
2
H
2
).


4.4 Polarisasi Ikatan Kovalen

4.4.1 Ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar

Berdasarkan pengetahuan keelektronegatifan yang telah
diketahui maka salah satu akibat adanya perbedaan keelektronega-
tifan antar dua atom unsur berbeda adalah terjadinya polarisasi
ikatan kovalen. Adanya polarisasi menyebabkan ikatan kovalen dapat
dibagi menjaadi ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar.
Ikatan kovalen polar dapat dijumpai pada molekul hidrogen klorida
sedangkan ikatan kovalen nonpolar dapat dilihat pada molekul
hidrogen.




Gambar 4.8 Orbital H
2
dan HCl, polarisasi ikatan kovalen

Pada hidrogen klorida terlihat bahwa pasangan elektron bersama lebih
tertarik ke arah atom klorin karena elektronegatifitas atom klorin

82
lebih besar dari pada elektronegatifitas atom hidrogen. Akibat hal ini
adalah terjadinya polarisasi pada hidrogen klorida menuju atom
klorin. Ikatan jenis ini disebut ikatan kovalen polar. Hal yang berbeda
terlihat pada molekul hidrogen. Pada molekul hidrogen, pasangan
elektron bersama berada ditempat yang berjarak sama diantara dua
inti atom hidrogen (simetris). Ikatan yang demikian ini dikenal sebagai
ikatan kovalen nonpolar.


4.4.2 Molekul polar dan molekul nonpolar

Molekul yang berikatan secara kovalen nonpolar seperti H
2
,
Cl
2
dan N
2
sudah tentu bersifat nonpolar. Akan tetapi molekul dengan
ikatan kovalen polar dapat bersifat polar dan nonpolar yang
bergantung pada bentuk geometri molekulnya. Molekul dapat bersifat
nonpolar apabila molekul tersebut simetris walaupun ikatan yang
digunakan adalah ikatan kovalen polar.



Gambar 4.9 Susunan ruang (VSEPR) BF
3
, H
2
O, NH
3
dan BeCl
2


Molekul H
2
O dan NH
3
bersifat polar karena ikatan O-H dan N-H bersifat
polar. Sifat polar ini disebabkan adanya perbedaan keelektronegatifan
dan bentuk molekul yang tidak simetris atau elektron tidak tersebar
merata. Dalam H
2
O, pusat muatan negatif terletak pada atom oksigen
sedangkan pusat muatan positif pada kedua atom hidrogen. Dalam
molekul NH
3
, pusat muatan negatif pada atom nitogen dan pusat
muatan positif pada ketiga atom hidrogen. Molekul BeCl
2
dan BF
3

bersifat polar karena molekul berbentuk simetris dan elektron
tersebar merata walupun juga terdapat perbedaan
keelektronegatifan.
Kepolaran suatu molekul dapat diduga dengan menggam-
barkan ikatan menggunakan suatu vektor dengan arah anak panah dari
atom yang bermuatan positif menuju ke arah atom yang bermuatan
negatif. Molekul dikatakan bersifat nonpolar apabila resultan vektor
sama dengan nol. Sedangkan molekul bersifat polar apabila hal yang
sebaliknya terjadi, resultan tidak sama dengan nol.

83
4.5 Sifat senyawa ion dan senyawa kovalen

Ikatan ionik dapat dikatakan jauh lebih kuat dari pada ikatan
kovalen karena ikatan ionik terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya
Coulomb) sedangkan ikatan kovalen terbentuk karena pemakaian
elektron ikatan bersama. Perbandingan sifat senyawa ionik dan
senyawa kovalen disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Sifat Senyawa Ion dan Senyawa Kovalen

Senyawa ionik Senyawa kovalen
1. Titik leleh dan titik diddih
tinggi
1. Titik leleh dan titik didih
rendah
2. Lelehan dan larutannya
menghantarkan listrik
2. Lelehannya tidak menghantar-
kan listrik
3. Berwujud padat pada
temperatur
Kamar
3. Berwujud padat, cair dan gas
pada temperatur kamar


4.6 Ikatan Kovalen Koordinat

Ikatan kovalen koordinat terjadi apabila pasangan elektron
yang dipakai bersama berasal dari penyumbangan saah satu atom yang
berikatan. Ikatan kovalen koordinat dikenal juga sebagai ikatan dativ
atau ikatan semipolar. Amonia (NH
3
) dapat bereaksi dengan boron
trifklorida (BCl
3
) membentuk senyawa NH
3
.BCl
3
.



Gambar 4.10 Pembentukan ikatan kovalen koordinat NH
3
.BF
3

Atom nitrogen dalam NH
3
telah memenuhi aturan oktet dengan
sepasang elektron bebas. Akan tetapi atom boron telah berpasangan
dengan tiga atom klorin tetapi belum memenuhi aturan oktet. Akibat
hal ini, pasangan elektron bebas atom nitrogen dapat digunakan untuk
berikatan dengan atom boron. Dalam menggambarkan struktur
molekul, ikatan kovalen koordinat dinyatakan dengan garis berpanah
dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron bebas.

Ikatan koordinat
Ikatan koordinasi
merupakan ikatan
kovalen dengan
pasangan elektron
berasal dari atom
yang sama

84
4.7 Penyimpangan aturan oktet

Aturan oktet terbukti dapat digunakan untuk menggambarkan
struktur molekul senyawa biner sederhana secara mudah. Akan tetapi
aturan ini mengalami kesulitan dalam meramalkan struktur molekul
senyawa-senyawa unsur transisi

4.7.1 Senyawa dengan oktet tak lengkap

Senyawa kovalen biner sederhana dengan elektron valensi
kurang dari empat tidak memiliki oktet sempurna. Unsur dengan
elektron valensi kurang dari empat dapat dicontohkan oleh beriium
(Be), aluminium (Al) dan boron (B) sedangkan contoh senyawaya
adalah BeCl
2
, BCl
3
dan AlBr
3
.

4.7.2 Senyawa dengan elektron valensi ganjil

Senyawa dengan elektron valensi ganjil tidak mungkin
memenuhi aturan oktet. Hal ini berarti terdapat elektron yang tidak
berpasangan sehingga terdapat atom yang menyimpang dari aturan
oktet. Contoh senyawa ini NO
2
.

4.7.3 Senyawa dengan oktet berkembang

Unsur-unsur yang terletak pada periode ketiga atau lebih
dengan elektron valensi lebih dari delapan dapat membentuk senyawa
dengan aturan oktet yang terlampaui. Hal ini disebabkan karena kulit
terluar unsur tersebut (kulit M, N dan seterusnya) dapat menampung
18 elektron atau lebih. Contoh senyawa ini adalah PCl
4
, SF
6
, CIF
3
, IF
7

dan SbCl
4
.


4.8 Struktur Lewis

Struktur Lewis dituliskan dengan terlebih dahulu menentukan
kerangka atau struktur molekul yang cukup rasional yaitu dengan
membedakan atom pusat dan atom terminal. Atom pusat merupakan
atom yang terikat pada dua atau lebih atom lain sedangkan atom
terminal hanya terikat pada satu atom lain. Molekul air mempunyai
atom pusat oksigen dan atom hidrogen bertindak sebagai atom
terminal setelah mengetahui atom pusat dan atom terminal maka
selanjutnya adalah memberikan elektron-elektron valensi sampai
diperoleh rumus Lewis yang juga cukup rasional.
Struktur Lewis dapat dituliskan dengan metoda coba-coba
dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut:
- Seluruh elektron valensi harus dituliskan dalam struktur Lewis
- Secara umum seluruh elektron dalam struktur Lewis berpasangan
- Secara umum semua atom mencapai konfigurasi oktet (kecuali
duplet untuk hidrogen). Beberapa atom mengalami penyimpangan
aturan oktet.

85
- Ikatan rangkap atau rangkap tiga juga dapat terbentuk, umumnya
untuk unsur-unsur karbon, nitrogen, oksigen, fosfor dan sulfur.


4.9 Ikatan logam

Kulit terluar unsur logam relatif kosong karena elektron
valensinya berjumlah sedikit. Hal ini memungkinkan berpindahnya
elektron dari satu atom ke atom yang lain. Elektron valensi
mengalami penyebaran yang cukup berarti karena kemudahan untuk
berpindah sangat besar. Akibat penyebaran tersebut, elektron valensi
menjadi berbaur dan menyeruapai awan elektron atau lautan elektron
yang membungkus ion positif di dalam atom. Sehingga struktur logam
dapat dibayangkan sebagai pembungkusan ion-ion positif oleh awan
atau lautan elektron.




Gambar 4.11 Pembentukan ikatan logam

Struktur yang demikian dapat digunakan untuk menjelaskan
sifat-sifat khas logam seperti daya hantar listrik, daya tempa dan kuat
tarik. Akibat awan elektron valensinya yang mudah mengalir maka
logam juga bersifat sebagai konduktor yang baik. Penyebaran dan
pergerakan elektron valensi yang cukup besar membuat logam ketika
ditempa atau ditarik hanya mengalami pergeseran pada atom-atom
penysunnya sedangkan ikatan yang terbentuk tetap.


Ringkasan

Semua ikatan yang terbentuk melibatkan gaya tarik
elektrostatik. Ikatan ionik melibatkan gaya tarik antara dua ion yang
berbeda muatan. Ikatan kovalen atau ikatan kovalen datif melibatkan
gaya tarik antara dua inti atom dan pasangan elektron berada
diantaranya. Ikatan logam melibatkan gaya-gaya antara elektron
terdelokalisasi dan ion-ion positif.




P
a
n
a
s

Ikatan logam
melibatkan ion-ion
positif yang
dikelilingi lautan
elektron

86
Latihan

1. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan ikatan ionik dan
bagaimanakah proses terjadinya.
2. Jelaskan proses pembentukan ikatan dalam NaCl dengan
pendekatan konfigurasi elektron.
3. Jelaskan kenapa NaCl lebih cenderung bersifat ionik dari pada
kovalen.
4. Bandingkanlah titik leleh dan konduktivitas listrik berilium
fluorida dan berilium klorida.
5. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan ikatan kovalen dan ikatan
kovalen koordinasi dan bagaimanakah proses terjadinya.
6. Jelaskan proses pembentukan ikatan dalam CH
4
.
7. Jelaskan kenapa AlCl
3
lebih cenderung bersifat kovalen dari pada
ionik.
8. Jelaskan apakah yang dimaksud elektronegativi-tas.
9. Elektronegativitas hidrogen, karbon dan klorin berturut-turut 2,1;
2,4 dan 3,0. Gunakan nilai ini untuk memprediksi kenapa titik
didih hidrogen klorida lebih tinggi dari pada metana.
10. Asam fluorida, HF, merupakan senyawa florin yang sangat penting
dan dapat dibuat dengan mereksikan kalsium fluorida, CaF
2

dengan asam sulfat. Jelaskan proses pembentukan dan
prediksikan sifat HF dan CaF
2
.
11. Jelaskan bagaimana anion terpolarisasi berbeda dengan anion tak
terpolarisasi.
12. Jelaskan kenapa terjadi polarisasi ikatan pada hidrogen klorida
sedangkan pada hidrogen tidak terjadi.
13. Gambarkan bentuk molekul air dan perkirakan sudut ikatan yang
terjadi.
14. Gambarkan bentuk molekul BeCl
2
, NCl
3
dan SF
6
. Perkirakan sudut
ikatan yang terjadi.
15. Jelaskan perbedaan senyawa polar dan non polar apabila ditinjau
dari bentuk dan sudut ikatan dan resultan vektor yang dihasilkan.
16. Iodin dapat menyublim apabila dipanaskan hingga mencapai
114°C. Jelaskan perubahan yang terjadi dalam struktur iodin
ketika menyublim.
17. Karbon dengan bentuk intan menyublim pada temperatur yang
lebih tinggi dari pada iodin. Jelaskan kenapa dibutuhkan
temperatur yang lebih tinggi untuk proses ini.
18. Meskipun kripton (Kr) dan rubidium (Rb) mempunyai massa atom
relatif yang hampir sama, titik didih kripton adalah -142°C
sedangkan rubidium 686°C. Jelaskan pengamatan ini berdasarkan
struktur dan ikatan.
19. Jelaskan perbedaan ikatan kovalen dan ikatan ionik
20. Jelaskan perbedaan ikatan kovalen dengan ikatan kovalen
koordinat
21. Gambarkan struktur Lewis untuk SOF
2
, PCl
4
da XeF
4

22. Tentukan rumus molekul senyawa yang terbentuk dan jenis ikatan
hasil reaksi
12
X dengan
8
Y

87
23. Jelaskan rumus dan ikatan yang sesuai untuk hasil reaksi X dan Y
yang masing-masing mempunyai elektron valensi 6 dan 7
24. Senyawa LCl
3
dapat terbentuk dari unsur L. Tentukan
kemungkinan unsur L termasuk dalam golongan berapa dalam
sistem periodik
25. Diketahui unsur
6
P,
8
Q,
11
R,
18
S dan
20
T. Jelaskan kemungkinan
terbentuknya ikatan kovalen diantara unsur-unsur tersebut
26. Tentukan jenis ikatan yang terjadi dalam NH
4
OH
27. Tentukan jenis senyawa yang tidak memenuhi aturan oktet,
terbentuk dari unsur
14
X yang bereaksi dengan unsur
17
Y
28. Diketahui
11
Na,
12
Mg,
13
Al,
19
K dan
20
Ca. Tentukan senyawa klorida
yang trbentuk dari unsur tersebut dengan sifat paling ion

88



89
5 Larutan














Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Memahami konsep larutan
elektrolit dan elektrokimia
Membedakan larutan elektrolit
dan non elektrolit
Mengidentifikasi dan
mengklasifikasi berbagai larutan
Menerapkan konsep reaksi redoks
dalam elektrokimia
Menggunakan satuan konsentrasi
dalam membuat larutan
Tujuan pembelajaran
1. Siswa dapat mengelompokkan larutan ke dalam larutan
elektrolit dan non-elektrolit berdasarkan sifat hantaran
listrik.
2. Siswa dapat menghitung konsentrasi larutan.
3. Siswa mampu menjelaskan sifat koligatif larutan.
4. Siswa mampu menjelaskan pengaruh zat terlarut
terhadap tekanan uap pelarut dan menghitung tekanan
uap larutan.
5. Siswa dapat menghitung penurunan titik beku dan
tekanan osmosis larutan.
6. Siswa dapat menghubungkan tetapan hasil kali
kelarutan (K
sp
) dengan tingkat kelarutan atau
pengendapannya berdasarkan percobaan.










90

5.1 Pendahuluan


















Gambar 5.1 Proses pelarutan secara umum

Larutan merupakan fase yang setiap hari ada disekitar kita.
Suatu sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat yang
masing-masing komponennya tidak bisa dibedakan secara fisik disebut
larutan, sedangkan suatu sistem yang heterogen disebut campuran.
Biasanya istilah larutan dianggap sebagai cairan yang mengandung zat
terlarut, misalnya padatan atau gas dengan kata lain larutan tidak
hanya terbatas pada cairan saja.
Komponen dari larutan terdiri dari dua jenis, pelarut dan zat
terlarut, yang dapat dipertukarkan tergantung jumlahnya. Pelarut
merupakan komponen yang utama yang terdapat dalam jumlah yang
banyak, sedangkan komponen minornya merupakan zat terlarut.
Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni
yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur.
Semua gas bersifat dapat bercampur dengan sesamanya, karena itu
campuran gas adalah larutan. Proses pelarutan dapat diilustrasikan
seperti Gambar 6.1 di atas.

Jenis-jenis larutan
o Gas dalam gas - seluruh campuran gas
o Gas dalam cairan – oksigen dalam air
o Cairan dalam cairan – alkohol dalam air
o Padatan dalam cairan – gula dalam air
o Gas dalam padatan – hidrogen dalam paladium
o Cairan dalam padatan - Hg dalam perak
o Padatan dalam padatan - alloys




Larutan
Pelarut Zat Terlarut





91
5.2 Larutan elektrolit

Berdasarkan kemampuan menghantarkan arus listrik
(didasarkan pada daya ionisasi), larutan dibagi menjadi dua, yaitu
larutan elektrolit, yang terdiri dari elektrolit kuat dan elektrolit
lemah serta larutan non elektrolit. Larutan elektrolit adalah larutan
yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non
elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.

5.2.1 Larutan Elektrolit Kuat

Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya
hantar arus listrik, karena zat terlarut yang berada didalam pelarut
(biasanya air), seluruhnya dapat berubah menjadi ion-ion dengan
harga derajat ionisasi adalah satu (α = 1). Yang tergolong elektrolit
kuat adalah :

- Asam kuat, antara lain: HCl, HClO
3
, HClO
4
, H
2
SO
4
, HNO
3
dan lain-
lain.
- Basa kuat, yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah,
antara lain : NaOH, KOH, Ca(OH)
2
, Mg(OH)
2
, Ba(OH)
2
dan lain-lain.
- Garam-garam yang mempunyai kelarutan tinggi, antara lain :
NaCl, KCl, KI, Al
2
(SO
4
)
3
dan lain-lain.


5.2.2 Larutan Elektrolit Lemah

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang mampu
menghantarkan arus listrik dengan daya yang lemah, dengan harga
derajat ionisasi lebih dari nol tetapi kurang dari satu (0 < α < 1). Yang
tergolong elektrolit lemah adalah:

- Asam lemah, antara lain: CH
3
COOH, HCN, H
2
CO
3
, H
2
S dan lain-
lain.
- Basa lemah, antara lain: NH
4
OH, Ni(OH)
2
dan lain-lain.
- Garam-garam yang sukar larut, antara lain: AgCl, CaCrO
4
, PbI
2
dan
lain-lain.

5.2.3 Larutan non-Elektrolit

Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik, hal ini disebabkan karena larutan tidak
dapat menghasilkan ion-ion (tidak

meng-ion). Yang termasuk dalam larutan non elektrolit antara lain :
- Larutan urea
- Larutan sukrosa
- Larutan glukosa
- Larutan alkohol dan lain-lain


92
Mol zat terlarut
M =
Liter larutan
Catatan bahwa :
per kilogram
pelarut bukan
kilogram larutan
Akt i vi t as si swa :

- Susunlah alat penguji elektrolit di laboratoriummu sehingga
berfungsi dengan baik.
- Tuangkan 100 mL air destilasi ke dalam beker glass, kemudian uji
daya hantar listriknya. Amati apakah lampu menyala atau timbul
gelembung pada elektroda.
- Ujilah beberapa larutan di bawah ini dengan cara yang sama :
Larutan garam dapur
Larutan HCl
Larutan H
2
SO
4

Larutan NaOH
Larutan gula
Larutan asam cuka
Air sumur
Air sungai

Selanjutnya jawablah pertanyaan berikut :

1. Apa yang menunjukkan adanya hantaran arus listrik melalui larutan?
2. Dari semua larutan yang Anda uji, kelompokkanlah ke dalam
larutan elektrolit kuat, lemah, dan non-elektrolit!


5.3 Konsentrasi Larutan

Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan
hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.
o Konsentrasi : jumlah zat tiap satuan volum (besaran intensif)
o Larutan encer : jumlah zat terlarut sangat sedikit
o Larutan pekat : jumlah zat terlarut sangat banyak
o Cara menyatakan konsentrasi: molar, molal, persen, fraksi mol,
bagian per sejuta (ppm), dll

5.3.1 Molaritas (M)
Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan.
Rumus Molaritas adalah :





Contoh :
Berapakah molaritas 0.4 gram NaOH (Mr = 40) dalam 250 mL
larutan ?
Jawab :
L
mol
M
25 , 0
) 40 / 4 , 0 (
=
= 0.4 M


93
1000
m = mol terlarut x
Gram Pelarut
Massa pelarut yang
tepat berarti juga
jumlah mol yang
tepat, jadi
molalitas dapat
menunjukkan
perbandingan
secara tidak
langsung mol zat
telarut terhadap
mol pelarut

5.3.2 Normalitas (N)
Normalitas merupakan jumlah mol-ekivalen zat terlarut per liter
larutan.
Terdapat hubungan antara Normalitas dengan Molaritas, yaitu :

N = M x Valensi


Mol-ekivalen :
o Asam / basa : jumlah mol proton/OH
-
yang diperlukan untuk
menetralisir suatu asam / basa.
Contoh :
1 mol Ca(OH)
2
akan dinetralisir oleh 2 mol proton;
1 mol Ca(OH)
2
setara dengan 1 mol-ekivalen;
Ca(OH)
2
1M = Ca(OH)
2
2N

o Redoks : jumlah mol elektron yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi atau mereduksi suatu unsur
Contoh :
1 mol Fe
+3
membutuhkan 3 mol elektron untuk menjadi Fe;
1 mol Fe
+3
setara dengan 3 mol-ekivalen;
Fe
+3
1 M = Fe
+3
3 N atau Fe
2
O
3
6 N

5.3.3 Molalitas (m)
Molalitas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram
pelarut.
Rumus Molalitas adalah :






Contoh :
Berapa molalitas 4 gram NaOH (Mr = 40) dalam 500 gram air ?
Jawab :
molalitas NaOH
= (4/40)/500 g air
= (0.1 x 2 mol)/1000 g air
= 0,2 m

5.3.4 Fraksi Mol (X)
Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol suatu
komponen dengan jumlah total seluruh komponen dalam satu
larutan. Fraksi mol total selalu satu. Konsentrasi dalam bentuk ini
tidak mempunyai satuan karena merupakan perbandingan.
Contoh :
suatu larutan terdiri dari 2 mol zat A, 3 mol zat B, dan 5 mol zat
C. Hitung fraksi mol masing-masing zat !


94
Jawab :
X
A
= 2 / (2+3+5) = 0.2
X
B
= 3 / (2+3+5) = 0.3
X
C
= 5 / (2+3+5) = 0.5
X
A
+ X
B
+ X
C
= 1

5.3.5 Persen Berat (% w/w)
Persen berat menyatakan jumlah gram berat zat terlarut dalam
100 gram larutan.
Contoh :
larutan gula 5%, berarti dalam 100 gram larutan gula terdapat :
- (5/100) x 100 gram gula
= 5 gram gula
- (100 – 5) gram air
= 95 gram air

5.3.6 Bagian per juta (part per million, ppm)
ppm = massa komponen larutan (g) per 1 juta g larutan
• untuk pelarut air : 1 ppm setara dengan 1 mg/liter.


5.4 Stoikiometri Larutan

Pada stoikiometri larutan, di antara zat-zat yang terlibat
reaksi, sebagian atau seluruhnya berada dalam bentuk larutan.
Soal-soal yang menyangkut bagian ini dapat diselesaikan
dengan cara hitungan kimia sederhana yang menyangkut kuantitas
antara suatu komponen dengan komponen lain dalam suatu reaksi.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
a) Menulis persamaan reaksi
b) Menyetarakan koefisien reaksi
c) Memahami bahwa perbandingan koefisien reaksi menyatakan
perbandingan mol
Karena zat yang terlibat dalam reaksi berada dalam bentu larutan,
maka mol larutan dapat dinyatakan sebagai:

n = V . M

keterangan:
n = jumlah mol
V = volume (liter)
M = molaritas larutan

Contoh :
1. Hitunglah volume larutan 0,05 M HCl yang diperlukan untuk
melarutkan 2,4 gram logam magnesium (Ar = 24 g/mol).

Jawab :
Mg
(s)
+ 2 HCl
(aq)
MgCl
2(aq)
+ H
2(g)



95
Mol Mg =
Ar
g

=
mol g
g
/ 24
4 , 2

= 0,1 mol

Satu mol Mg setara dengan 2 mol HCl (lihat persamaan reaksi).

Mol HCl = 2 x mol Mg
= 2 x 0,1 mol
= 0,2 mol
Volume HCl =
M
n

=
05 , 0
2 , 0
= 4 L
2. Berapa konsentrasi larutan akhir yang dibuat dari larutan dengan
konsentrasi 5 Molar sebanyak 10 mL dan diencerkan sampai
dengan volume 100 mL.

Jawab :
V
1
. M
1
= V
2
. M
2


2
1
1 2
V
M
V M =
=
mL
M
mL
100
5
10
= 0,5M

3. Berapa konsentrasi larutan NaCl akhir yang dibuat dengan
melarutkan dua larutan NaCl, yaitu 200 mL NaCl 2M dan 200 mL
NaCl 4M.
Jawab :

M =

mL mL
M mL M mL
M
200 200
4 . 200 2 . 200
+
+
=
mL
mmol mmol
M
400
800 400 +
=

= 3 M








(V
1
. M
1
+ V
2
. M
2
)
(V
1
+ V
2
).


96
5.5 Sifat Koligatif Larutan




















Gambar 5.2 Gambaran umum sifat koligatif

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak
tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya
ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).
Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut
(Gambar 6.2), maka akan didapat suatu larutan yang mengalami:
1) Penurunan tekanan uap jenuh
2) Kenaikan titik didih
3) Penurunan titik beku
4) Tekanan osmosis
Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi
larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan
non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan
elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan
larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non
elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat
koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit
dan sifat koligatif larutan elektrolit.


5.5.1 Penurunan Tekanan Uap Jenuh

Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan
tertentu. Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu
tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan
penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu
mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan
penguapan berkurang (Gambar 5.3).
Temperatur
Titik didih
pelarut
Titik didih
larutan
Titik beku
larutan
Titik beku
pelarut
Titik triple
pelarut
Titik triple
larutan
Pelarut cair
murni
Cair
Gas
Padat
Pelarut
padat murni
Larutan
T
e
k
a
n
a
n

u
a
p



97
P
A
dan P
B
adalah
tekanan parsial
yang dihitung
dengan hukum
Raoult’s




















Gambar 5.3 Gambaran penurunan tekanan uap

Menurut Roult :

p = p
o
. X
B


keterangan:
p : tekanan uap jenuh larutan
p
o
: tekanan uap jenuh pelarut murni
X
B
: fraksi mol pelarut

Karena X
A
+ X
B
= 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :
P = P
o
(1 - X
A
)
P = P
o
- P
o
. X
A

P
o
- P = P
o
. X
A

Sehingga :

∆P = p
o
. XA

keterangan:
∆P : penunman tekanan uap jenuh pelarut
p
o
: tekanan uap pelarut murni
X
A
: fraksi mol zat terlarut

Contoh :
Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air, bila 45 gram glukosa (Mr
= 180) dilarutkan dalam 90 gram air ! Diketahui tekanan uap jenuh air
murni pada 20
o
C adalah 18 mmHg.


Pelarut Larutan


98
Jawab :
mol glukosa =
180
45
= 0,25 mol
mol air =
18
90
= 5 mol
fraksi mol glukosa =
5 25 , 0
25 , 0
+

= 0.048

Penurunan tekanan uap jenuh air :

∆P = P
o
. X
A

= 18 x 0.048
= 0.864 mmHg


5.5.2 Kenaikan Titik Didih

Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik
didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni.
Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:

∆T
b
= m . K
b

keterangan:
∆T
b
= kenaikan titik didih (
o
C)
m = molalitas larutan
K
b
= tetapan kenaikan titik didih
molal

Karena
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
p Mr
W
m
1000
;
(W menyatakan massa zat terlarut), maka kenaikan titik didih larutan
dapat dinyatakan sebagai :

b b
K
p Mr
W
T
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= A
1000


Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih
larutan dinyatakan sebagai :

T
b
= (100 + ∆T
b
)
o
C





99
5.5.3 Penurunan Titik Beku

Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan
sebagai:

∆T
f
= m . K
f

=
f
K
p Mr
W
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
| 1000


keterangan:
∆T
f
= penurunan titik beku
m = molalitas larutan
K
f
= tetapan penurunan titik
beku molal
W = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat
terlarut
p = massa pelarut

Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku
larutannya dinyatakan sebagai:

T
f
= (O - ∆T
f
)
o
C


5.5.4 Tekanan Osmosis

Tekanan osmosis adalah tekanan yang diberikan pada larutan
yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke
dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis)
seperti ditunjukkan pada Gambar 6.4.

Menurut Van’t hoff tekanan osmosis mengikuti hukum gas ideal:

PV = nRT

Karena tekanan osmosis = , maka :

=
VRT
n
= C R T

keterangan:
= tekanan osmosis (atmosfir)
C = konsentrasi larutan (M)
R = tetapan gas universal
= 0,082 L.atm/mol

K
T = suhu mutlak (K)



100
















Gambar 5.4 Tekanan osmosis

o Larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah dari yang
lain disebut larutan Hipotonis.
o Larutan yang mempunyai tekanan lebih tinggi dari yang lain
disebut larutan Hipertonis.
o Larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama disebut Isotonis.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan
elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk
mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah
partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada
konsentrasi yang sama

Contoh :

Larutan 0.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal
garam dapur.
o Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya)
tetap, yaitu 0.5 molal.
o Untuk larutan garam dapur: NaCl
(aq)
ĺ Na
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)
karena terurai
menjadi 2 ion, maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula
= 1.0 molal.

Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk
mengion adalah derajat ionisasi.
Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai :

α = jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula

Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1,
sedangkan untuk elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1
(0 < α < 1). Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit
mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya.
Larutan
encer
Larutan pekat
Membran
semipermeable


101
1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai :

∆T
b
= m . K
b
[1 + α(n-1)]
| | ) 1 ( 1
1000
÷ + = n K
p Mr
W
b
o
n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.

2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai :

∆T
f
= m . K
f
[1 + α(n-1)]
| | ) 1 ( 1
1000
÷ + = n K
p Mr
W
f
o

3. Untuk Tekanan Osmosis dinyatakan sebagai :

= C R T [1+ α(n-1)]

Contoh :

Hitunglah kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dari larutan
5.85 gram garam dapur (Mr = 58.5) dalam 250 gram air ! (untuk air,
K
b
= 0.52 dan K
f
= 1.86)

Jawab :
Larutan garam dapur,

NaCl
(aq)
ĺ NaF
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)


jumlah ion = n = 2.

∆T
b
=
| | ) 1 2 ( 1 1 52 , 0
250
1000
5 , 58
85 , 5
÷ + × ×

= 0,208 x 2
= 0,416
o
C

∆T
f
=
| | ) 1 2 ( 1 1 86 , 0
250
1000
5 , 58
85 , 5
÷ + × ×

= 0.744 x 2
= 1.488
o
C

Catatan:

Jika di dalam soal tidak diberi keterangan mengenai harga derajat
ionisasi, tetapi kita mengetahui bahwa larutannya tergolong elektrolit
kuat, maka harga derajat ionisasinya dianggap 1.





102
5.6 Hasil Kali Kelarutan

Fenomena apa yang dapat dijelaskan saat penambahan kristal
gula dalam air untuk membuat teh ? Dan apa yang akan terjadi jika
gula ditambahkan terus-menerus ?
Untuk memahami hal tersebut, lakukanlah kegiatan berikut!














Bila sejumlah garam AB yang sukar larut dimasukkan ke dalam
air maka akan terjadi beberapa kemungkinan:

o Garam AB larut semua lalu jika ditambah garam AB lagi masih
dapat larut ĺ larutan tak jenuh.
o Garam AB larut semua lalu jika ditambah garam AB lagi tidak
dapat larut ĺ larutan jenuh.
o Garam AB larut sebagian ĺ larutan kelewat jenuh.

K
sp
= HKK = hasil perkalian [kation] dengan [anion] dari larutan jenuh
suatu elektrolit yang sukar larut menurut kesetimbangan heterogen.

Kelarutan suatu elektrolit ialah banyaknya mol elektrolit yang sanggup
melarut dalam tiap liter larutannya.

Contoh :

AgCl
(s)
ĺ Ag
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)



| || |
| | AgCl
Cl Ag
K
÷ +
=

K [AgCl] = [Ag
+
][Cl
-
]
K
sp AgCl
= [Ag
+
] [Cl
-
]

Bila K
sp
AgCl = 10
-10
, maka berarti larutan jenuh AgCl dalam air pada
suhu 25
o
C, Mempunyai nilai [Ag
+
] [Cl
-
] = 10
-10


Akt i vi t as si swa :

1. Ambil 10 g kristal NaCl (garam dapur), kemudian masukkan
ke dalam 50 mL air. Aduk hingga larut. Masukkan lagi 10 g
NaCl dan diaduk. Ulangi terus sampai NaCl tidak dapat larut.
Catat berapa gram NaCl yang ditambahkan.
2. Ulangi percobaan di atas dengan air panas bertemperatur 50,
70, dan 90 °C. Catat hasilnya.
3. Buat grafik temperatur vs kelarutan (g terlarut/50 mL air)
4. Dari hasil percobaan, diskusikan dengan teman kelompok!


103
5.7 Kelarutan

1. Kelarutan zat AB dalam pelarut murni (air).
A
n
B
(s)
ĺ nA
+
(aq)
+ B
n-
(aq)

s ĺ n.s s

K
sp
A
n
B = (n.s)
n
.s
K
sp
A
n
B = n
n
.s
n+1

s = n+i Ksp A
n
B/n
n


keterangan: s = kelarutan

Kelarutan tergantung pada :
o Suhu
o pH larutan
o Ion sejenis

2. Kelarutan zat AB dalam larutan yang mengandung ion sejenis

AB
(s)
ĺ A
+

(aq)
+ B
-

(aq)

s ĺ n.s s

Larutan AX :
AX
(aq)
ĺ A
+
(aq)
+ X
-
(aq)

b ĺ b b

maka dari kedua persamaan reaksi di atas: [A
+
] = s + b = b, karena
nilai s cukup kecil bila dibandingkan terhadap nilai b sehingga dapat
diabaikan. B
-1
] = s

Jadi : Ksp AB = b . s

Contoh :
Bila diketahui Ksp AgCl = 10
-10
, berapa mol kelarutan (s) maksimum
AgCl dalam 1 liter larutan 0.1 M NaCl ?
Jawab:
AgCl
(s)
ĺ Ag
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)

s ĺ s s
NaCl
(aq)
ĺ Na
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)


Ksp AgCl = [Ag
+
] [Cl
-
]
= s . 10
-1

Maka s = 10
-10
/10
-1

= 10
-9
mol/liter

Dari contoh di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa makin besar
konsentrasi ion sojenis maka makin kecil kelarutan elektrolitnya.





104
a. Pembentukan garam-garam
Contoh:
kelarutan CaCO
3(s)
pada air yang berisi CO
2
> daripada dalam air.
CaCO
3(s)
+ H
2
O
(l)
+ CO
2(g)
ĺ Ca(HCO
3
)
2(aq)

larut

b. Reaksi antara basa amfoter dengan basa kuat
Contoh:
kelarutan Al(OH)
3
dalam KOH > daripada kelarutan Al(OH)
3
dalam
air.
Al(OH)
3(s)
+ KOH
(aq)
ĺ KAlO
2(aq)
+ 2 H
2
O
(l)

larut

c. Pembentukan senyawa kompleks
Contoh:
kelarutan AgCl
(s)
dalam NH
4
OH > daripada AgCl dalam air.
AgCl
(s)
+ NH
4
OH
(aq)
ĺ Ag(NH
3
)
2
Cl
(aq)
+ H
2
O
(l)

larut

Untuk suatu garam AB yang sukar larut berlaku ketentuan, jika:

- [A
+
] x [B
-
] < K
sp
ĺ
larutan tak jenuh; tidak terjadi pengendapan
- [A
+
] x [B
-
] = K
sp
ĺ
larutan tepat jenuh; larutan tepat mengendap
- [A
+
] x [B
-
] > K
sp
ĺ
larutan kelewat jenuh; terjadi pengendapan zat


Contoh :
Apakah terjadi pengendapan CaCO
3
. jika ke dalam 1 liter 0.05 M
Na
2
CO
3
ditambahkan 1 liter 0.02 M CaCl
2
, dan diketahui harga Ksp
untuk CaCO
3
adalah 10
-6
.

Jawab :

Na
2
CO
3(aq)
ĺ 2 Na
+
(aq)
+ CO
3
-

(aq)


[CO
3
2-
] =
1 1
05 , 0 1
+
×

= 0.025 M
= 2.5 x 10
-2
M

CaCl
2(aq)
ĺ Ca
2
+
(aq)
+ 2Cl
-
(aq)


[Ca
2+
] =
1 1
02 , 0 1
+
×

= 0.01
= 10
-2
M


105
maka :
[Ca
2+
] x [CO
3
2-
] = 2.5 x 10
-2
x 10
-2

= 2.5 x 10
-4


karena :
[Ca
2+
] x [CO
3
2-
] > Ksp CaCO
3
, maka akan terjadi endapan CaCO
3



Ringkasan:
1. Larutan yang dapat menghantarkan listrik disebut larutan
elektrolit, sedangkan larutan yang tidak dapat menghantarkan
listrik disebut larutan nonelektrolit.
2. Larutan elektrolit dapat ditunjukkan dengan alat penguji
elektrolit. Hantaran listrik melalui larutan elektrolit ditandai oleh
nyala lampu atau timbulnya gelembungpada elektrode.
3. Larutan elektrolit dapat menghantar listrik karena mengandung
ion-ion yang dapat bergerak bebas.
4. Elektrolit dapat berupa (i) senyawa ion, atau (ii) senyawa kovalen
polar yang dapat mengalami hidrolisis.
5. Elektrolit kuat dalam air mengion sempurna, sedangkan elektrolit
lemah hanya mengion sebagian kecil.
6. Pengertian oksidasi dan reduksi telah mengalami perkembangan
dalam urutan sebagai berikut :
Oksidasi: Pengikatan oksigen
Pelepasan elektron
Pertambahan bilangan oksidasi
Reduksi: Pelepasan oksigen
Penyerapan elektron
Penurunan bilangan oksidasi
7. Bilangan oksidasi adalah muatan yang diemban oleh suatu atom
jika elektron ikatan didistribusikan kepada unsur yang lebih
elektronegatif.
8. Bilangan oksidasi ditentukan dengan aturan-aturan tertentu
9. Oksidator adalah zat yang menyerap elektron, mengalami reduksi;
Reduktor menyerap elektron, mengalami oksidasi.
10. Metode lumpur aktif dapat digunakan untuk menguraikan limbah
organik dalam air kotor


SOAL
1. Tulislah pengertian oksidasi dan reduksi berdasarkan :
a. pengikatan/pelepasan oksigen
b. serah terima elektron
c. perubahan bilangan oksidasi

2. Tentukan bilangan oksidasi masing-masing unsur dalam senyawa
berikut :
a. NH
3

b. CF
4

c. CHCl
3



106
d. O
2
F
2

e. KO
2

f. CaH
2

g. BaO
2

h. SnO
i. Cu
2
O
j. Fe
2
S
3


3. Tentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks berikut :
a. 3CuO
(s)
+ 8NH
3

(aq)
Æ 3Cu(NO
3
)
2

(aq)
+ 2NO
(g)
+ 4H
2
O
(l)

b. MnO
2
+ 2H
2
SO
4
+ 2NaI Æ MnSO
2
+ Na
2
SO
4
+ 2H
2
O + I
2

c. Bi
2
O
3(s)
+ NaOH
(aq)
+ NaOCl
(aq)
Æ NaBiO
3(aq)
+ NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)



107
6 KOLOID


Kol oi d


Perhatikan gambar di bawah!
Berikan pendapat anda!



















Gambar 6.1 Contoh larutan, koloid, dan suspensi

Pendahuluan

Pada bab sebelumnya, kita sudah belajar tentang larutan,
campuran yang homogen antara dua macam zat atau lebih. Pada bab
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Memahami koloid, suspensi dan
larutan
Mengidentifikasi koloid, suspensi
dan larutan
Membedakan macam dan sifat
koloid
Menerapkan sistem koloid dalam
kehidupan
Tujuan pembelajaran
1. membedakan suspensi kasar, larutan sejati, dan koloid berdasarkan
data pengamatan (efek Tyndall, homogen/heterogen, penyaringan)
2. mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan
fase pendispersi
3. mendeskripsikan sifat-sifat koloid
4. menjelaskan proses pembuatan koloid
Sirup
(larutan)
Susu
(koloid)
Kopi
(suspensi)
Koloid melibatkan
zat terdispersi dan
zat pendispersi


108
ini, kita akan mempelajari koloid. Sistem koloid sebenarnya terdiri
atas dua fase, yaitu fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam
medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi
sedangkan sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan
disebut medium pendispersi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan
sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. Sebagai contoh,
hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran
koloid, seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu
juga termasuk koloid. Dalam bidang farmasi, kebanyakan produknya
juga berupa koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi.
Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban
semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray
untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid.
Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid.
Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Sistem Dispersi
Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi dijelaskan
dalam Tabel 6.1

Tabel 6.1 Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi

Larutan
(Dispersi
Molekuler)
Koloid
(Dispersi Koloid)
Suspensi
(Dispersi Kasar)

Contoh : Larutan
gula dalam air,
larutan alkohol

Contoh : Campuran
susu dengan air

Contoh : Campuran
tepung dengan air,
kopi dalam air
1) Homogen, tak
dapat dibedakan
walaupun
menggunakan
mikroskop ultra
2) Semua partikel
berdimensi
(panjang, lebar,
atau tebal) <1
nm
3) Satu fase
4) Stabil
5) Tidak dapat
disaring
1) Secara
makroskopis
bersifat
homogen, tetapi
heterogen jika
diamati dengan
mikroskop ultra
2) Partikel
berdimensi
antara 1 nm -
100 nm
3) Dua fase
4) Pada umumnya
stabil
5) Dapat disaring
dengan
penyaring ultra
1) Heterogen
2) Salah satu
atau semua
dimensi
partikelnya
>100 nm
3) Dua fase
4) Tidak stabil
5) Dapat
disaring
dengan
kertas saring
biasa


Larutan, koloid dan
suspensi dapat
dibedakan dari
sifat-sifatnya

109
Pengelompokan Koloid
Berdasarkan pada fase terdispersi dan medium pendisfersinya,
sistem koloid dapat digolongkan sebagaimana seperti dalam Tabel
6.2, dengan contoh pada Gambar 6.2

Tabel 6.2 Jenis-jenis koloid
Fase
Terdispersi
Fase
Pendispersi
Jenis
Koloid
Contoh

Padat

Padat

Padat


Cair


Cair


Cair


Gas

Gas

Gas

Cair

Padat


Gas


Cair


Padat


Cair

Padat

Aerosol
Padat

Sol

Sol Padat


Aerosol
Cair


Emulsi


Emulsi
Padat


Buih

Buih Padat

Asap (smoke), debu di
udara

Sol emas, tinta, cat

Kaca berwarna,
gabungan logam, intan
hitam

Kabut (fog), awan,
spray serangga

Susu, es krim, santan,
minyak ikan, kecap

Jelly, mayones,
mutiara, mentega

Buih sabun, krim kocok

Karet busa, batu apung

















Gambar 6.2 Contoh koloid



110
Gambar 6.3
John Tyndall
Macam-macam Koloid
- Aerosol : suatu sistem koloid, jika partikel padat atau cair
terdispersi dalam gas.
Contoh : debu, kabut, dan awan.
- Sol : suatu sistem koloid, jika partikel padat terdispersi
dalam zat cair.
- Emulsi : suatu sistem koloid, jika partikel cair terdispersi dalam
zat cair.
- Emulgator : zat yang dapat menstabilkan emulsi.
¾ Sabun adalah emulgator campuran air dan minyak.
¾ Kasein adalah emulgator lemak dalam air.
- Gel : koloid liofil yang setengah kaku.
Gel terjadi jika medium pendispersi di absorbs oleh partikel koloid
sehingga terjadi koloid yang agak padat. Larutan sabun dalam air
yang pekat dan panas dapat berupa cairan tapi jika dingin
membentuk gel yang relatif kaku. Jika dipanaskan akan mencair
lagi.


Sifat-Sifat Koloid

Efek Tyndall

Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki
oleh sistem koloid. Pada tahun 1869, Tyndall (Gambar 6.3)
menemukan bahwa apabila suatu berkas
cahaya dilewatkan pada sistem koloid maka
berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi
apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan
pada dilewatkan pada larutan sejati, berkas
cahaya tadi tidak akan tampak. Singkat kata
efek Tyndall merupakan efek penghamburan
cahaya oleh sistem koloid.



Pengamatan mengenai efek Tyndall dapat dilihat pada gambar 6.4 –
6.6 di bawah.












Koloid Larutan
Gambar 6.4 Efek Tyndal koloid
Sifat-sifat koloid
dapat diaplikasikan
pada kehidupan
sehari-hari

111
Gambar 6.6 Hamburan
cahaya oleh asap
















Dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat kita amati seperti:

¾ Di bioskop, jika ada asap
mengepul maka cahaya
proyektor akan terlihat lebih
terang.

¾ Di daerah berkabut, sorot
lampu mobil terlihat lebih
jelas.

¾ Sinar matahari yang masuk
melewati celah ke dalam ruangan berdebu, maka partikel
debu akan terlihat dengan jelas.

Pengamatan ini dapat dilakukan dengan melakukan percobaan sebagai
berikut:

Akt i vi t as si swa :
Alat dan Bahan :
1. 1 buah senter
2. 10 ml air + pasir
3. 10 ml air gula
4. 10 ml air sabun
5. 10 ml koloid Fe
2
O
3

6. 10 ml sol Fe(OH)
3

7. 10 ml susu
8. 10 ml tinta
9. 8 buah tabung reaksi
10. 1 buah rak tabung reaksi

Gambar 6.5 Hamburan cahaya oleh koloid


112
Cara Kerja :
1. Menyiapkan 10 ml suspensi, larutan dan koloid, seperti yang
tertera pada alat dan bahan, pada tabung reaksi yang
berbeda, diaduk rata, didiamkan sebentar. Kemudian
mengamati apakah zat tersebut homogen/heterogen dan
stabil atau tidak selama didiamkan.
2. Menyinari dan mengarahkan sinarnya pada masing-masing
tabung reaksi dengan menggunakan senter.
3. Mengamati apakah berkas sinarnya dihamburkan atau tidak
oleh larutan atau koloid tersebut dan mencatat hasilnya.
4. Menyaring campuran tersebut, dan mengamati mana yang
meninggalkan residu.

Tabel 6.3 Tabel hasil pengamatan
N
o
Campuran
Larut/tidak tabil/tidak
Mengham-
burkan
cahaya/tid
ak
Meninggalkan
residu/tidak
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1 Air + pasir
2 Air Gula
3 Air Sabun
4
Koloid
Fe
2
O
3


5
Sol
Fe(OH)
3


6 Susu
7 Tinta

Gerak Brown

Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain sifat optik
yang telah dijelaskan diatas. Sifat kinetik ini dapat terjadi karena
disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi. Dua hal ini
menyebabkan sistem koloid dapat bergerak zig-zag.













Gambar 6.7 Robert Brown


113
Gerakan ini pertama ditemukan oleh seorang ahli biologi yang
bernama Robert Brown (Gambar 6.7) yang melakukan pengamatan
pada serbuk sari dengan menggunakan mikroskop, sehingga
dinamakan gerak Brown.
Pengamatan mengenai gerak Brown dapat dilihat pada gambar
6.8 dibawah.








Gambar 6.8 Gerak Brown


Adsorbsi

Beberapa sistem koloid mempunyai sifat dapat melakukan penyerapan
(adsorbsi) terhadap partikel atau ion atau senyawa lain (Gambar 6.9).
Penyerapan pada permukaan disebut adsorbsi, sedangkan penyerapan
sampai pada lapisan dalam disebut absorbsi. Daya penyerapan ini
menyebabkan beberapa sistem koloid mempunyai muatan tertentu
sesuai muatan yang diserap.












Gambar 6.9 Adsorbsi ion oleh koloid

Koagulasi

Koagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan
oleh gaya gravitasi akan terjadi jika sistem koloid dalam keadaan
tidak bermuatan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid
bersifat netral, yaitu:
1. Menggunakan Prinsip Elektroforesis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid
yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan.
Ketika partikel ini mencapai elektrode, maka sistem koloid akan
kehilangan muatannya dan bersifat netral.

Sistem koloid Fe(OH)
3

bermuatan positif karena
meng-adsorbsi ion H
+

Sistem koloid As
2
S
3
bermuatan
positif karena meng-adsorbsi
ion S
2-



114
2. Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan
Ketika koloid bermuatan positif dicampurkan dengan koloid
bermuatan negatif, maka muatan tersebut akan saling
menghilangkan dan bersifat netral.
3. Penambahan Elektrolit
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka
partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid
dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga
sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif
(anion) dari elektrolit. Dari adsorpsi diatas, maka terjadi
koagulasi.
4. Pendidihan
Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar
partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah
banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada
permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Sistem koloid dimana fase terdispersinya mempunyai daya
adsorbsi relatif lebih besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih
stabil. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai daya
adsorbsi relatif lebih lemah disebut koloid liofob yang bersifat kurang
stabil. Sol liofil/liofob mudah terkoagulasi dengan sedikit
penambahan larutan elektrolit.
¾ Koloid liofil (suka cairan)
Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar
antara fase terdispersi dengan medium pendispersi. Contoh,
disperse kanji, sabun, dan deterjen.
¾ Koloid liofob (tidak suka cairan)
Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik antara fase terdispersi
dengan medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan tidak ada
sama sekali. Contoh, dispersi emas, belerang dalam air.




115
Tabel 6.4 Perbedaan antara sol liofil dan liofob
Sifat-Sifat Sol Liofil Sol Liofob
Pembuatan Dapat dibuat langsung
dengan mencampurkan
fase terdispersi dengan
medium pendispersi
Tidak dapat dibuat
hanya dengan
mencampur fase
terdispersi dengan
medium pendispersi
Muatan Partikel Mempunyai muatan
yang kecil atau tidak
bermuatan
Memiliki muatan positif
atau negatif
Adsorpsi
Medium
Pendispersi
Partikel-partikel sol
liofil mengadsorpi
medium pendispersi.
Terdapat proses
solvasi/hidrasi, yaitu
terbentuknya lapisan
medium pendispersi
yang teradsorpsi
disekeliling partikel
sehingga menyebabkan
partikel sol liofil tidak
saling bergabung
Partikel-partikel sol
liofob tidak
mengadsorpsi medium
pendispersi. Muatan
partikel diperoleh dari
adsorpsi partikel-partikel
ion yang bermuatan
listrik
Viskositas
(kekentalan)
Viskositas sol liofil >
viskositas medium
pendispersi
Viskositas sol liofob
hampir sama dengan
viskositas medium
pendispersi
Penggumpalan Tidak mudah
menggumpal dengan
penambahan elektrolit
Mudah menggumpal oleh
penambahan elektrolit
Sifat reversibel Reversibel, artinya fase
terdispersi sol liofil
dapat dipisahkan
dengan koagulasi,
kemudian dapat diubah
kembali menjadi sol
dengan penambahan
medium pendispersinya
Irreversibel, artinya sol
liofob yang sudah
menggumpal tidak dapat
diubah lagi menjadi sol
Efek Tyndall Memberikan efek
Tyndall yang lemah
Memberikan efek Tyndall
yang jelas
Migrasi dalam
medan listrik
Dapat bermigrasi ke
anode, katode, atau
tidak bermigrasi sama
sekali
Akan bergerak ke anode,
katode tergantung jenis
muatan partikel

Pemisahan Koloid

- Elektroforesis
Telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, elektroforesis
merupakan peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan
ke salah satu elektroda dalam suatu sistem sejenis elektrolisis.


116
Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu
sistem koloid. Jika koloid bergerak menuju elektroda positif maka
koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga
sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka
koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif. Salah satu
proses yang menggunakan sistem elektroforesis adalah proses
membersihkan asap dalam suatu industri dengan menggunakan
alat Cottrell. Penggunaan elektroforesis tidak hanya sebatas itu,
melainkan meluas untuk memisahkan partikel yang termasuk
dalam ukuran koloid, antara lain pemisahan protein yang
mempunyai muatan yang berbeda. Contoh percobaan
elektroforesis sederhana untuk menentukan jenis muatan dari
koloid X diperlihatkan pada Gambar 6.10.

- Dialisis
Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari
partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan
Pada proses digunakan selaput Semipermeabel (Gambar 6.11).
Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan laju transport
partikel. Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci darah bagi
penderita gagal ginjal, di mana fungsi ginjal digantikan oleh
dialisator.

- Penyaringan Ultra
Penyaringan ultra digunakan untuk memisahkan koloid melewati
membran. Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan
tekanan osmosis.



















Gambar 6.10 Rangkaian untuk elektrolisis


117















Gambar 6.11 Prinsip dialisis


Pembuatan Koloid

A. Kondensasi
Merupakan cara kimia.
Prinsip umum:
Terjadinya kondensasi partikel molekular membentuk partikel
koloid

Kondensasi partikel Æ koloid

Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi:
™ Reaksi Redoks
2H
2
S
(g)
+ SO
2(aq)
Æ 3S
(s)
+ 2H
2
O
(l)


™ Reaksi Hidrolisis
FeCl
3(aq)
+ 3 H
2
O
(l)
Æ Fe(OH)
3(s)
+ 3 HCl
(aq)


™ Reaksi Substitusi/Agregasi Ionik
2H
3
AsO
3(aq)
+ 3H
2
S
(g)
Æ As
2
S
3(s)
+ 6 H
2
O
(l)


™ Reaksi Penggaraman

B. Dispersi
Dapat dilakukan dengan cara mekanik maupun dengan cara kimia.

Prinsip umum :

Partikel Besar Æ Partikel Koloid

Yang termasuk cara dispersi:
™ Cara Mekanik


118
Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar
kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau
penggilingan.
™ Cara Busur Bredig
Digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan loncatan
bunga listrik. Instrument Busur Bredig dapat dilihat pada
Gambar 6.12.
™ Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah pembutan koloid dari butir-butir kasar
atau dari suatu endapan dengan bantuan pemeptisasi
(pemecah).


Contoh :
i. Agar-agar dipeptisasi oleh air ; Karet oleh bensin.
ii. Endapan NiS dipeptisasi oleh H
2
S, Endapan Al(OH)
3
oleh
AlCl
3
.














Gambar 6.12 Busur Bredig


119
Ringkasan

Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu fase
terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat
yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan sedangkan
medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium
pendispersi. Sistem koloid dapat digolongkan berdasarkan pada fase
terdispersi dan medium pendisfersinya. Koloid mempunyai sifat-sifat
seperti gerak Brown, efek Tyndal, adsorpsi, koagolasi. Koloid dapat
dipisahkan dengan dialisis, elektroforesis dan penyaringan ultra.
Koloid dapat dibuat dengan kondensasi dan dispersi.


Latihan

1. Jelaskan definisi koloid?
2. Jelaskan perbedaan koloid, larutan dan suspensi?
3. Sebutkan macam-macam koloid.
4. Jelaskan sifat-sifat koloid.
5. jelaskan apa yang dimaksud dengan elektroforesis?
6. sebutkan aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari.


120


121
7 Kesetimbangan
























Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Memahami konsep kesetimbangan
reaksi
Menguasai reaksi kesetimbangan
Menguasai faktor-faktor yang
mempengaruhi pergeseran
kesetimbangan
Menentukan hubungan kuantitatif
antara pereaksi dan hasil reaksi
dari suatu reaksi kesetimbangan
Menggunakan satuan konsentrasi
dalam membuat larutan
Tujuan pembelajaran
1. menjelaskan pengertian reaksi kesetimbangan serta
tetapan kesetimbangan.
2. menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil
reaksi dalam menghitung Kc dan Kp dari suatu reaksi
kesetimbangan.
3. menentukan pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi
kesetimbangan dalam suatu reaksi kesetimbangan.







122
7.1. Definisi

Kesetimbangan dinamis adalah keadaan dimana dua proses
yang berlawanan terjadi dengan laju yang sama, akibatnya tidak
terjadi perubahan bersih dalam sistem pada kesetimbangan.


Contoh :

Fe
(s)
+ HCl
(aq)
Æ FeCl
2(aq
) + H
2(g
)

Reaksi dapat berlangsung tuntas, yaitu zat yang direaksikan habis dan
terbentuk zat baru.














Gambar 9.1 Reaksi Tuntas

9 Uap mengembun dengan laju yang sama dengan air menguap.
9 Pelarutan padatan, sampai pada titik laju padatan yang terlarut
sama dengan padatan yang mengendap saat konsentrasi larutan
jenuh (tidak ada perubahan konsentrasi)
Reaksi yang dapat berlangsung dalam dua arah disebut reaksi
dapat balik.







Gambar 9.2 Reaksi Bolak-Balik


123
Waktu
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i


Reaksi dapat berlangsung bolak balik, zat semula (reaktan)
direaksikan akan habis dan terbentuk zat baru (produk). Zat baru yang
terbentuk dapat dapat direaksikan dengan zat lain menghasilkan zat
semula. Reaksi ini disebut reaksi bolak-balik.
Hal ini juga bisa digambarkan dengan hal sebagai berikut,
yaitu apabila dalam suatu reaksi kimia, kecepatan reaksi ke kanan
sama dengan kecepatan reaksi ke kiri maka, reaksi dikatakan dalam
keadaan setimbang. Secara umum reaksii kesetimbangan dapat
dinyatakan sebagai :

A + B C + D
Mula-mula zat A dan zat B sebagai reaktan (tidak harus dalam
jumlah yang sama) dicampur dalam suatu tabung reaksi. Konsentrasi A
dan B kemudian diukur pada selang waktu tertentu. Bila hasil
pengukuran itu digambarkan dalam sebuah grafik konsentrasi sebagai
fungsi dari waktu maka akan tampak gambar sebagai berikut:











Penurunan konsentrasi A dan B mula-mula terjadi dengan
cepat, makin lama semakin lambat sampai pada akhirnya konstan.
Sebaliknya yang terjadi pada produk zat C dan D. Pada awal reaksi
konsentrasinya = 0, kemudian bertambah dengan cepat tapi makin
lama semakin lambat sampai akhirnya menjadi konstan. Pada waktu t
= t~

konsentrasi masing-masing zat A, B, C, dan D menjadi konstan,
yang berarti bahwa laju reaksi kekiri = laju reaksi kekanan.

7.2 Karakteristik keadaan kesetimbangan

Ada empat aspek dasar keadaan kesetimbangan, yaitu :
1. Keadaan kesetimbangan tidak menunjukkan perubahan
makroskopik yang nyata
2. Keadaan kesetimbangan dicapai melalui proses yang berlangsung
spontan
3. Keadaan kesetimbangan menunjukkan keseimbangan dinamik
antara proses maju atau balik
4. Keadaan kesetimbangan adalah sama walaupun arah
pendekatannya berbeda
Gambar 9.3 Perubahan konsentrasi terhadap waktu

124
7.3 Macam - macam sistem kesetimbangan, yaitu :

1. Kesetimbangan dalam sistem homogen
a. Kesetimbangan dalam sistem gas-gas
Contoh : 2SO
2(g)
+ O
2(g)
ļ 2SO
3(g)

b. Kesetimbangan dalam sistem larutan-larutan
Contoh : NH
4
OH
(aq)
ļ NH
4+
(aq)
+ OH
-

(aq)


2. Kesetimbangan dalam sistem heterogen
a. Kesetimbangan dalam sistem padat gas
Contoh : CaCO
3(s)
ļ CaO
(s)
+ CO
2(g)

b. Kesetimbangan sistem padat larutan
Contoh : BaSO
4(s)
ļBa
2+
(aq)
+ SO
4
2-
(aq)

c. Kesetimbangan dalam sistem larutan padat gas
Contoh : Ca(HCO
3
)
2(aq)
ļ CaCO
3(s)
+ H
2
O
(l)
+ CO
2(g)


7.4 Konstanta kesetimbangan

Konstanta ksetimbangan yang dinyatakan dengan term
konsentrasi (Kc) dapat mempunyai harga yang sangat besar atau
sangat kecil. Bila konstanta kesetimbangan (Kc) kecil (Kc < 1), berarti
bahwa pada keadaan kesetimbangan konsentrasi dari produk adalah
kecil, sehingga konstanta kesetimbangan yang kecil menunjukkan
reaksi bolak-balik tidak berlangsung dengan baik. Misalnya jika
reaksi :

A
(g)
+ B
(g)
ļ C
(g)
+ D
(g)


Dengan Kc = 10
-5
berarti bahwa campuran A dan B tidak
banyak menghasilkan C dan D pada kesetimbangan. Bila konstanta
kesetimbangan besar (Kc > 1) berarti bahwa konsentrasi reaktan yang
tinggal pada kesetimbangan adalah kecil, sehingga harga konstanta
kesetimbangan yang besar menunjukkan bahwa reaksi berlangsung ke
kanan dengan baik. Misalnya untuk reaksi :

E
(g)
+ F
(g)
ļ G
(g)
+ H
(g)


Dengan harga Kc = 10
5
berarti campuran E dan F akan berubah
hampir sempurna menjadi G dan H. Harga konstanta kesetimbangan
dapat ditentukan berdasarkan data eksperimen.








125
7.5 Hukum Guldberg dan Wange :










Gambar 9.4 Guldberg

Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tetap, maka hasil
kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi dibagi dengan hasil kali
konsentrasi pereaksi yang sisa dimana masing-masing konsentrasi itu
dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap.
Pernyataan tersebut juga dikenal sebagai hukum
kesetimbangan.
Untuk reaksi kesetimbangan :
a A + b B ļ c C + d D

maka:
Kc = (C)
c
x (D)
d
/ (A)
a
x (B)
b

K
c
adalah konstanta kesetimbangan yang har ganya t et ap
sel ama suhu t et ap.

Berikut adalah contoh soal tentang pergeseran kimia.

Contoh 1 :

CO
(g)
+ 3H
2(g)
ļ CH
4(g)
+ H
2
O
(g)

Kc =
| || |
| || |
3
2
2 4
H CO
O H CH


2N
2(g)
+ 3H
2(g)
ļ 2NH
3(g)


Kc =
| |
| | | |
3
2
2
2
2
3
H N
NH







126
Contoh 2 :

Dalam ruang 2 L pada suhu t ºC direaksikan 0,7 mol gas N
2
dan 1 mol
gas H
2
. pada saat kesetimbangan dalam ruang terdapat 0,4 mol
gasNH3. tentukan harga Kc pada suhu tersebut !!!

Jawaban :
Reaksinya adalah : 2N
2(g)
+ 3H
2(g)
ļ 2NH
3(g)

Σ mol mula-mula 0,7 1
Σ mol yang berubah ½ x 0,4 2/3 x 0,4 ~ 0,4
0,2 0,6 --- -
Σ mol dalam keadaan 0,5 mol 0,4 mol 0,4 mol
setimbang
| | L mol N /
2
5 , 0
2
= | | L mol H /
2
4 , 0
2
= | | L mol NH /
2
4 , 0
3
=
= 0,25 M = 0,2 M = 0,2 M

Kc =
| |
| | | |
3
2
2
2
2
3
H N
NH
=
| |
| || |
3
2
2 , 0 25 , 0
2 , 0
= 20 M



7.6 beberapa hal yang harus diperhatikan








Gambar 9.5 kesetimbangan gas

Jika zat-zat terdapat dalam kesetimbangan berbentuk padat dan
gas, maka yang dimasukkan dalam persamaan kesetimbangan
hanya zat-zat yang berbentuk gas saja sebab konsentrasi zat
padat adalah tetap dan nilainya telah terhitung dalam harga Kc
itu.

Contoh : C
(s)
+ CO
2(g)
ļ 2CO
(g)
K
c
= (CO)
2
/ (CO
2
)

Jika kesetimbangan antara zat padat dan larutan yang dimasukkan
dalam perhitungan K
c
hanya konsentrasi zat-zat yang larut saja.

Contoh : Zn(s) + Cu
2+
(aq)
ļ Zn
2+
(aq)
+ Cu
(s)

K
c
= (Zn
2+
) / (CO
2+
)


127
Untuk kesetimbangan antara zat-zat dalam larutan jika
pelarutnya tergolong salah satu reaktan atau hasil reaksinya maka
konsentrasi dari pelarut itu tidak dimasukkan dalam perhitungan
Kc.

Contoh : CH
3
COO
-
(aq)
+
H
2
O
(l)
ļ CH
3
COOH
(aq)
+ OH
-
(aq)

K
c
= (CH
3
COOH) x (OH
-
) / (CH
3
COO
-
)

Cont oh soal :

1. Satu mol AB direaksikan dengan satu mol CD menurut persamaan
reaksi :

AB(g) + CD(g) ļ AD(g) + BC(g)

Setelah kesetimbangan tercapai ternyata 3/4 mol senyawa CD
berubah menjadi AD dan BC. Kalau volume ruangan 1 liter,
tentukan tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini !

Jawab:

Perhatikan reaksi kesetimbangan di atas jika ternyata CD berubah
(bereaksi) sebanyak 3/4 mol maka AB yang bereaksi juga 3/4 mol
(karena koefsiennya sama).
Dalam keadaan kesetimbangan:

(AD) = (BC) = 3/4 mol/l
(AB) sisa = (CD) sisa = 1 - 3/4 = 1/4 n mol/l

K
c
= [(AD) x (BC)]/[(AB) x (CD)] = [(3/4) x (3/4)]/[(1/4) x (1/4)] = 9

2. Jika tetapan kesetimbangan untuk reaksi :
A(g) + 2B(g) ļ 4C(g)

sama dengan 0.25, maka berapakah besarnya tetapan
kesetimbangan bagi reaksi:
2C(g) ļ 1/2A(g) + B(g)

Jawab:
- Untuk reaksi pertama:
K
1
= (C)
4
/[(A) x (B)
2
]
= 0.25
- Untuk reaksi kedua :
K
2
= [(A)
1/2
x (B)]/(C)
2

- Hubungan antara K
1
dan K
2
dapat dinyatakan sebagai :
K
1
= 1 / (K
2
)
2
& K
2
= 2




128
Pengaruh dari luar
sering dikatakan
dengan
memasukkan
gangguan pada
kesetimbangan.
sistem akan
mengatur untuk
mengurangi
gangguan.
7.7 Azas Le Chatelier











Gambar 9.6 Le Chatelier

Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka sistem
akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu
menjadi sekecil-kecilnya.
Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan
kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar
itu dikenal dengan pergeseran kesetimbangan.









Gambar 9.7 Pergeseran kesetimbangan

Bagi reaksi:
A + B ļ C + D















129
Reaksi bergeser ke
arah zat yang
ditambahkan atau
diganti dengan zat
yang dihilangkan









































Kemungkinan terjadinya pergeseran

1. Dari kiri ke kanan, berarti A bereaksi dengan B memhentuk C
dan D, sehingga jumlah mol A dan Bherkurang, sedangkan C
dan D bertambah.
2. Dari kanan ke kiri, berarti C dan D bereaksi membentuk A
dan B. sehingga jumlah mol C dan D berkurang, sedangkan A
dan B bertambah.


130
7.8 Faktor-faktor yang dapat menggeser letak kesetimbangan

a. Perubahan konsentrasi salah satu zat
b. Perubahan volume atau tekanan
c. Perubahan suhu


7.8.1. Perubahan Konsentrasi Salah Satu Zat













Gambar 7.8 Pengaruh Konsentrasi dalam Pergeseran Kimia

Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi
salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah
yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah
satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat
tersebut.
Contoh : 2SO
2(g)
+ O
2(g)
ļ 2SO
3(g)
Bila pada sistem kesetimbangan
ini ditambahkan gas SO
2
, maka
kesetimbangan akan bergeser ke
kanan.

Bila pada sistem kesetimbangan ini dikurangi gas O
2
, maka
kesetimbangan akan bergeser ke kiri.













131
7.8.2. Perubahan volume atau tekanan















Gambar 7.9 Pengaruh Volume / Tekanan dalam Pegeseran kesetimbangan

Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang
menyebabkan perubahan volume (bersamaan dengan perubahan
tekanan), maka dalam sistem akan mengadakan berupa pergeseran
kesetimbangan.

Jika tekanan diperbesar = volume diperkecil, kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah Koef i si en Reaksi Keci l .

Jika tekanan diperkecil = volume diperbesar, kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah Koef i si en r eaksi besar .

Pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koefisien reaksi
sebelah kiri = jumlah koefisien sebelah kanan, maka perubahan
tekanan/volume t i dak menggeser letak kesetimbangan.

Contoh : N
2
(g)+3H
2
(g) ļ 2NH
3
(g)

Koefisien reaksi di kanan = 2

Koefisien reaksi di kiri = 4

Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperbesar (=volume
diperkecil), maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperkecil (=volume
diperbesar), maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.








132
7.8.3. Perubahan suhu











Gambar 7.10 Pengaruh suhu dalam pergeseran kimia.


Menurut Van't Hoff:













Gambar 7.11 Van’t Hoff

Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan, maka
kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan
kalor (ke arah reaksi endoterm).

Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka
kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan
kalor (ke arah reaksi eksoterm).
Contoh: 2NO(g) + O
2
(g) ļ 2NO
2
(g) ; ΔH = -216 kJ
Jika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.

Jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke
kanan.

133
7.8.4. Pengaruh Katalisator Terhadap Kesetimbangan













Gambar 7.12 pengaruh katalisator

Fungsi katalisator dalam reaksi kesetimbangan adalah
mempercepat tercapainya kesetimbangan dan tidak merubah letak
kesetimbangan (harga tetapan kesetimbangan K
c
tetap), hal ini
disebabkan katalisator mempercepat reaksi ke kanan dan ke kiri sama
besar.

7.9 Hubungan Antara Harga K
c
Dengan K
p

Untuk reaksi umum:

a A
(g)
+ b B
(g)
ļ c C
(g)
+ d D
(g)


Harga tetapan kesetimbangan:

K
c
= [ (C)
c
. (D)
d
] / [ (A)
a
.

(B)
b
]
K
p
= (P
C
c
x P
D
d
) / (P
A
a
x P
B
b
)

Dimana : P
A
, P
B
, P
C
dan P
D
merupakan tekanan parsial masing-
masing gas A, B, C dan D.
Untuk gas ideal berlaku :
pV = nRt
C = p/RT
C
A
= pA/RT
C
B
= pA/RT dan seterusnya.

b a
d c
b a
d c
c
RT pB RT pA
RT pD RT pC
B A
D C
K
) / ( ) / (
) / ( ) / (
=
=

b a d c
b a
d c
c
RT
pB pA
pD pC
K
÷ ÷ +
= ) / 1 (

134
K
c
= K
p
(1/RT)
Δn

Secara matematis, hubungan antara K
c
dan K
p
dapat diturunkan
sebagai:

K
p
= K
c
(RT)
Δn


dimana Δn adalah selisih (jumlah koefisien gas kanan) dan (jumlah
koefisien gas kiri).
Contoh:
Jika diketahui reaksi kesetimbangan:
CO
2
(g) + C(s) ļ 2CO(g)
Pada suhu 300
o
C, harga K
p
= 16. Hitunglah tekanan parsial CO
2
, jika
tekanan total dalaun ruang 5 atm!

Jawab:
Misalkan tekanan parsial gas CO = x atm, maka tekanan parsial gas
CO
2
= (5 - x) atm.
K
p
= (PCO)
2
/ PCO
2
= x
2
/ (5 - x) = 16 Æ x = 4
Jadi tekanan parsial gas CO
2
= (5 - 4) = 1 atm

7.9.1. Kesetimbangan Heterogen













Gambar 7.13 kesetimbangan heterogen

Perhatikan reaksi dekomposisi berikut :
CaCO
3(p)
ļ CaO
(p)
+ CO
2(g)

Campuran dua zat padat yang tidak membentuk larutan padat terdiri
dari dua fasa, masing-masing adalah senyawa yang murni dan
mempunyai komposisi yang konstan.
K
c
= CO
2
K
p
= P
CO2
K
p
= K
c
. RT
Δn








135
7.9.2. Kesetimbangan Donnan












Gambar 7.14 Frederick G. donnan

Teori kesetimbangan Donnan (1911) adalah mengenai
kesetimbangan antara dua elektrolit yang terpisah oleh suatu selaput
ataupun jel, bilamana sekurang-kurangnya satu dari kedua elektrolit
itu mengandung suatu ion misalnya ion koloid yang tidak dapat
mendifusi melalui selaput itu.
Kesetimbanagn Donnan berperan pada berbagai gejala biologi
dan bukan biologi.














Gambar 7.15 Kesetimbangan donan dalam membran

Sebagai contoh elektrolit NaCl dengan konsentrasi awal c
1
dan
NaR dengan konsentrasi awal c
2
, terpisah oleh suatu membran MM
yang tak dapat dilalui oleh ion besar R
-
.ion R
-
misalnya ion protein,
ion kongo merah, atau suatu zat pewarna koloid. NaCl dengan
aktivitas a
1
diruang I akan berdifusi keruang II menjadi aktivitas a
2

dengan perubahan energi bebas Gibbs :

G = RT ln a
1
/a
2


Pada akhirnya terjadi kesetimbanagn jika :



136
ΔG = 0

a
1
= a
2

Dengan kesetimbangan Donnan dapat dipahami secara
kualitatif terjadinya potensial biolistrik dalam sel-sel dan badan
hewan namun potensial itu kerap lebih besar dari yang dapat dihitung
dengan menggunakan rumus diatas. Belut listrik mempunyai potensial
listrik ampai 100 Volt yang digunakannya sebagai senjata.

7.10 Dissosiasi

Disosiasi adalah penguraian suatu zat menjadi beberapa zat
lain yang lebih sederhana.












Gambar 7.16 dissosiasi

Derajat disosiasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai
dengan jumlah mol mula-mula.















Gambar 7.17 Dissosiasi Unimolecular

Contoh:
2NH
3
(g) ļ N
2
(g) + 3H
2
(g)
besarnya nilai derajat disosiasi (α):

137
Į = mol NH
3
yang terurai /
mol NH
3
mula-mula




Harga derajat disosiasi terletak antara 0 dan 1, jika:
a = 0 berarti tidak terjadi penguraian
a = 1 berarti terjadi penguraian sempurna
0 < α < 1 berarti disosiasi pada reaksi setimbang (disosiasi sebagian).
Contoh:
Dalam reaksi disosiasi N
2
O
4
berdasarkan persamaan
N
2
O
4
(g) ļ 2NO
2
(g)

banyaknya mol N
2
O
4
dan NO
2
pada keadaan setimbang adalah sama.
Pada keadaan ini berapakah harga derajat disosiasinya ?

Jawab:
Misalkan mol N
2
O
4
mula-mula = a mol
mol N
2
O
4
yang terurai = a α mol Æ mol N
2
O
4
sisa = a (1 - α) mol
mol NO
2
yang terbentuk = 2 x mol N
2
O
4
yang terurai = 2 a α mol

Pada keadaan setimbang:
mol N
2
O
4
sisa = mol NO
2
yang terbentuk
a(1 - α ) = 2a α Æ 1 - α = 2 α Æ α = 1/3


KESIMPULAN

Kesetimbangan dinamik. ketika dua zat kimia yang berbeda bereakasi
pada laju yang sama, maka sistem tersebut berada dalam keadaan
kesetimbangan dinamik dan konsentrasi dari reaktan dan produk
konstan.

Prinsip Le Chatelier’s. Prinsip ini adalah suatu keadaan dimana ketika
kesetimbangan terganggu, perubahan kimia terjadi pada arah yang
berlawanan dengan gangguan yang mempengaruhi dan membawa
sistem ke keadaan kesetimbangan lagi.

SOAL-SOAL

1. Pada suhu 21,5
0
C dan total tekanan 0,0787 atm N
2
O
4
terdisosias
sebanyak 48,3% menjadi NO
2
. tentukan harga K
c
. Pada tekanan
berapa disosiasi menjadi 10%?

2. Tetapan kesetimbangan pada 350 K untuk reaksi :

Br
2(g)
+ I
2(g)
ļ 2 IBr
(g)


138

Adalah 322. Brom ini dengan tekanan parsial awal 0,05 atm
dicampur dengan iodin dengan tekanan parsial 0,04 atm dan
dijaga keadaanya pada suhu 350 K sampai kesetimbangan tercapai.
Hitung tekanan parsial kesetimbanagn untuk tiap-tiap gas.

3. Sebuah kotak bejana yang berisi CO, Cl
2
, dan COCl
2
ada dalam
kesetimbangan pada suhu 1000 K. Tunjukkan secara kualitatif
bagaimana pengaruh
a. Konsentrasi
b. Jumlah mol masing-masing komponen bila kedalam bejana :
- dimasukkan CO
- diberi tambahan
tekanan
- CO dihilangkan

4. Diketahui reaksi kesetimbangan :
A.NH
3(g)
+ HCl
(g)
ļ NH
4
Cl
(g)

B.N
2(g)
+ 3H
2(g)
ļ 2NH
3
Cl
(g)
C.N
2
O
4(g)
ļ 2NO
2(g)

D.H
2(g)
+ I
2(g)
ļ 2Hl
2(g)

a. A dan B
b. A dan D
c. A dan C
d. C
e. D
f.
5. Pada kesetimbangan 2SO
2(g)
+ O
2(g)
ļ2SO
3(g)
+189,64 kj Konsentrasi
SO
3
dalam ruang akan bertambah jika......
a. Volume ruang diperbesar
b. Konsentrasi gas O
2
dikurangi
c. Tekanan ruang dikurangi
d. Suhu diturunkan
e. Konsentrasi gas SO
2
dikurangi

6. Reaksi kesetimbangan
H
2(g)
+ I
2(g)
ļ2HI
(g)

Tekanan dalam sistem diperbesar, maka kesetimbangan ....
a. Bergeser ke kanan
b. Bergeser ke kiri
c. Tidak bergeser
d. Berhenti sementara
e. Berhenti selamanya

7. Reaksi kesetimbangan
NH
3(g)
+ CO
2(g)
ļCO(NH
2
)
2(s)

Pada suhu dan volume tetap, ditambahkan katalis, maka ...
a. Kesetimbangan tidak bergeser
b. Kesetimbangan bergeser ke kiri
c. Kesetimbangan bergeser ke kanan

139
d. Kesetimbangan terhenti
e. Terjadi perubahan katalis

8. Reaksi kesetimbangan
N
2(g)
+ 3H
2(g)
ļ 2NH
3(g)
Pada 27 ºC mempunyai harga Kp = 2,5 x 10
-3
atm
-2
, maka harga
Kc-nya adalah..........
a. 1,26 mol
-2
L
2

b. 4,10 mol
-2
L
2
c. 16,81 mol
-2
L
2
d. 250 mol
-2
L
2
e. 400 mol
-2
L
2













SOAL :

1. Perhatikan grafik berikut ini :















Jelaskan grafik hubungan perubahan laju reaksi terhadap
waktu pada reaksi kesetimbangan, seperti yang digambarkan
pada grafik diatas
2. Tetapan kesetimbangan 2HI ļ H
2
+ I
2
adalah ¼ . Dari ½ mol
HI pada volume 1 dm
3
, berapa mol H
2
yang dihasilkan ?
3. Contoh aplikasi reaksi kesetimbangan dalam industri adalah
pembuatan ammonia yang reaksinya sebagai berikut :
N
2
(g) + 3H
2
(g) ļ 2NH
3
(g) AH = -92 kJ
Menurut proses Haber-Bosch, pembuatan ammonia tersebut
harus dilakukan pada tekanan dan suhu yang tinggi. Jelaskan
mengapa!
v
1

v
2

v
1
= v
2

setimbang
Waktu (t)
K
e
c
e
p
a
t
a
n

(
v
)

t
1


140



141
8 Termokimia















Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Menentukan perubahan entalpi
berdasarkan konsep termokimia
Menjelaskan entalpi dan
perubahan entalpi
Menentukan perubahan entalpi
reaksi
Menentukan kalor pembakaran
berbagai bahan bakar
Tujuan pembelajaran
1. Siswa mampu mendefinisikan pengertian istilah-istilah dalam
reaksi termokimia beserta contohnya
1. 2. Siswa mampu menjelaskan pengertian entalpi suatu zat
dan perubahannnya.

3. Siswa mampu menentukan AH reaksi berdasarkan hukum
Hess, data perubahan entalpi pembentukan standar,
eksperimen dan data energi ikatan


8.1 Definisi
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia
yang mempelajari dinamika atau perubahan reaksi kimia dengan
mengamati panas/termal nya saja. Salah satu terapan ilmu ini dalam
kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita dimana
produksi dari energi-energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk
semua tugas yang kita lakukan. Pembakaran dari bahan bakar seperti
minyak dan batu bara dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang
dibakar dalam mesin mobil akan menghasilkan kekuatan yang
menyebabkan mobil berjalan. Bila kita mempunyai kompor gas berarti
kita membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang
menghasilkan panas untuk memasak. Dan melalui urutan reaksi yang

142
disebut metabolisme, makanan yang dimakan akan menghasilkan
energi yang kita perlukan untuk tubuh agar berfungsi.
Hampir semua reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau
dikeluarkan. Mari kita periksa terjadinya hal ini dan bagaimana kita
mengetahui adanya perubahan energi.










Gambar 8.1 peristiwa termokimia

Misalkan kita akan melakukan reaksi kimia dalam suatu
tempat tertutup sehingga tak ada panas yang dapat keluar atau masuk
kedalam campuran reaksi tersebut. Atau reaksi dilakukan sedemikian
rupa sehingga energi total tetap sama. Juga misalkan energi potensial
dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi sehingga
waktu reaksi terjadi ada penurunan energi potensial. Tetapi energi ini
tak dapat hilang begitu saja karena energi total (kinetik dan
potensial) harus tetap konstan. Sebab itu, bila energi potensialnya
turun, maka energi kinetiknya harus naik berarti energi potensial
berubah menjadi energi kinetik. Penambahan jumlah energi kinetik
akan menyebabkan harga rata-rata energi kinetik dari molekul-
molekul naik, yang kita lihat sebagai kenaikan temperatur dari
campuran reaksi. Campuran reaksi menjadi panas.
Kebanyakan reaksi kimia tidaklah tertutup dari dunia luar.
Bila campuran reaksi menjadi panas seperti digambarkan dibawah,
panas dapat mengalir ke sekelilingnya. Setiap perubahan yang dapat
melepaskan energi ke sekelilingnya seperti ini disebut perubahan
eksoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi reaksi eksoterm, temperatur
dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia
yang bersangkutan akan turun.
Kadang-kadang perubahan kimia terjadi dimana ada
kenaikan energi potensial dari zat-zat bersangkutan. Bila hal ini
terjadi, maka energi kinetiknya akan turun sehingga temperaturnya
juga turun. Bila sistem tidak tertutup di sekelilingnya, panas dapat
mengalir ke campuran reaksi dan perubahannya disebut perubahan
endoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi suatu reaksi endoterm,
temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari
zat-zat yang ikut dalam reaksi akan naik.






143
















Gambar 8.2 Peristiwa kebakaran menghasilkan panas

8.2 Pengukuran energi dalam reaksi kimia
Satuan internasional standar untuk energi yaitu Joule (J)
diturunkan dari energi kinetik. Satu joule = 1 kgm
2
/s
2
. Setara dengan
jumlah energi yang dipunyai suatu benda dengan massa 2 kg dan
kecepatan 1 m/detik (bila dalam satuan Inggris, benda dengan massa
4,4 lb dan kecepatan 197 ft/menit atau 2,2 mile/jam).

1 J = 1 kg m
2
/s
2

Satuan energi yang lebih kecil yang dipakai dalam fisika
disebut erg yang harganya = 1x10
-7
J. Dalam mengacu pada energi
yang terlibat dalam reaksi antara pereaksi dengan ukuran molekul
biasanya digantikan satuan yang lebih besar yaitu kilojoule (kJ). Satu
kilojoule = 1000 joule (1 kJ = 1000J).
Semua bentuk energi dapat diubah keseluruhannya ke panas
dan bila seorang ahli kimia mengukur energi, biasanya dalam bentuk
kalor. Cara yang biasa digunakan untuk menyatakan panas disebut
kalori (singkatan kal). Definisinya berasal dari pengaruh panas pada
suhu benda. Mula-mula kalori didefinisikan sebagai jumlah panas yang
diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dengan suhu asal
15
0
C sebesar 1
0
C. Kilokalori (kkal) seperti juga kilojoule merupakan
satuan yang lebih sesuai untuk menyatakan perubahan energi dalam
reaksi kimia. Satuan kilokalori juga digunakan untuk menyatakan
energi yang terdapat dalam makanan.
Dengan diterimanya SI, sekarang juga joule (atau kilojoule)
lebih disukai dan kalori didefinisi ulang dalam satuan SI. Sekarang
kalori dan kilokalori didefinisikan secara eksak sebagai berikut :

1 kal = 4,184 J
1 kkal = 4,184 kJ



144
8.3 Panas reaksi dan termokimia


















Gambar 8.3 Hubungan sistem dengan lingkungan


Pelajaran mengenai panas reaksi dinamakan termokimia yang
merupakan bagian dari cabang ilmu pengetahuan yang lebih besar
yaitu termodinamika. Sebelum pembicaraan mengenai prisip
termokimia ini kita lanjutkan, akan dibuat dulu definisi dari beberapa
istilah. Salah satu dari istilah yang akan dipakai adalah sistim. Sistim
adalah sebagian dari alam semesta yang sedang kita pelajari. Mungkin
saja misalnya suatu reaksi kimia yang terjadi dalam suatu gelas kimia.
Di luar sistim adalah lingkungan. Dalam menerangkan suatu sistim,
kita harus memperinci sifat-sifatnya secara tepat. Diberikan suhunya,
tekanan, jumlah mol dari tiap zat dan berupa cairan, padat atau gas.
Setelah semua variabel ini ditentukan berarti semua sifat-sifat sistim
sudah pasti, berarti kita telah menggambarkan keadaan dari sistim.
Bila perubahan terjadi pada sebuah sistim maka dikatakan
bahwa sistim bergerak dari keadaan satu ke keadaan yang lain. Bila
sistim diisolasi dari lingkungan sehingga tak ada panas yang dapat
mengalir maka perubahan yang terjadi di dalam sistim adalah
perubahan adiabatik. Selama ada perubahan adiabatik, maka suhu
dari sistim akan menggeser, bila reaksinya eksotermik akan naik
sedangkan bila reaksinya endotermik akan turun. Bila sistim tak
diisolasi dari lingkungannya, maka panas akan mengalir antara
keduanya, maka bila terjadi reaksi, suhu dari sistim dapat dibuat
tetap. Perubahan yang terjadi pada temperatur tetap dinamakan
perubahan isotermik. Telah dikatakan, bila terjadi reaksi eksotermik
atau endotermik maka pada zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi
perubahan energi potensial. Panas reaksi yang kita ukur akan sama
dengan perubahan energi potensial ini. Mulai sekarang kita akan
menggunakan perubahan ini dalam beberapa kuantitas sehingga perlu

145
ditegakkan beberapa peraturan untuk menyatakan perubahan secara
umum.
Simbol ∆ (huruf Yunani untuk delta) umumnya dipakai untuk
menyatakan perubahan kuantitas. Misalnya perubahan suhu dapat
ditulis dengan ∆T, dimana T menunjukkan temperatur. Dalam praktek
biasanya dalam menunjukkan perubahan adalah dengan cara
mengurangi temperatur akhir dengan temperatur mula-mula.

∆T = T
akhir
– T
mula-mula

Demikian juga, perubahan energi potensial (Ep)

∆(E.P) = EP
akhir
– EP
awal

Dari definisi ini didapat suatu kesepakatan dalam tanda
aljabar untuk perubahan eksoterm dan endoterm. Dalam perubahan
eksotermik, energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi
potensial pereaksi berarti EP
akhir
lebih rendah dari EP
mula-mula
. Sehingga
harga ∆EP mempunyai harga negatif. Kebalikannya dengan reaksi
endoterm, dimana harga ∆EP adalah positif.

8.3.1 Reaksi eksoterm dan endoterm









Gambar 8.4 Peristiwa endoterm (kanan) dan eksoterm (kiri)


a. Reaksi Eksoterm

Pada reaksi eksoterm terjadi perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan atau pada reaksi tersebut dikeluarkan panas.
Pada reaksi eksoterm harga ∆H = negatif ( - )
Contoh :
C(s) + O
2
(g) Æ CO
2
(g) + 393.5 kJ ;
∆H = -393.5 kJ

b. Reaksi endoterm

Pada reaksi terjadi perpindahan kalor dari lingkungan ke
sistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas.
Pada reaksi endoterm harga ∆H = positif ( + )



146
Nama lain dari
entakpi adalah
panas.
Contoh :

CaCO
3(s)
Æ CaO
(s)
+ CO
2(g)
- 178.5 kJ ; ∆H = +178.5 kJ














Gambar 8.5 Proses eksoterm dan proses endoterm


8.4 Entalpi (H) dan perubahan entalpi (∆H)




















Gambar 8.6 Kalorimeter Bomb

Reaksi yang terjadi dalam ”kalorimeter bomb” berada pada
volume yang tetap karena bejana bomb tak dapat membesar atau
mengecil. Berarti bila gas terbentuk pada reaksi di sini, tekanan akan
membesar maka tekanan pada sistim dapat berubah. Karena pada
keadaan volume yang tetap maka panas reaksi yang diukur dengan
kalorimeter bomb disebut panas reaksi pada volume tetap.
Kalorimeter cangkir kopi berhubungan dengan udara dan bila ada

147
H = atom hidrogen
H = entalpi
reaksi yang menghasilkan gas, gasnya dapat menguap ke udara dan
tekanan pada sistim dapat tetap konstan. Maka perubahan energi
diukur dengan kalorimeter cangkir kopi adalah panas reaksi pada
tekanan tetap.
Pengukuran panas reaksi pada reaksi pada volume tetap dan
tekanan tetap tak banyak berbeda tapi tidak sama. Karena
kebanyakan reaksi yang ada kepentingannya bagi kita dilakukan dalam
wadah terbuka jadi berhubungan dengan tekanan udara yang tetap
dari atmosfir, maka akan dibicarakan hanya panas reaksi pada
tekanan tetap.
Panas reaksi pada tekanan tetap disebut perubahan entalpi
dan reaksi dan diberikan dengan simbol ∆H. Definisinya :

∆H = H
akhir
– H
mula-mula


Walaupun ini merupakan definisi yang biasa dari ∆H, keadaan entalpi
H, mula-mula dan akhir (yang sebenarnya berhubungan dengan jumlah
energi yang ada pada keadaan ini) tak dapat diukur. Ini disebabkan
karena jumlah energi dari sistem termasuk jumlah dari semua energi
kinetik dan energi potensialnya. Jumlah energi total ini tidak dapat
diketahui karena kita tidak mengetahui secara pasti berapa kecepatan
pergerakan molekul-molekul dari sistim dan juga berapa gaya tarik
menarik dan tolak menolak antara molekul dalam sistim tersebut.
Bagaimanapun definisi yang diberikan oleh persamaan yang diatas
sangat penting karena telah menegakkan tanda aljabar ∆H untuk
perubahan eksoterm dan endotermik. Perubahan eksotermik H
akhir

lebih kecil dari H
mula-mula
. Sehingga harga ∆H adalah negatif. Dengan
analisis yang sama kita mendapatkan harga ∆H untuk perubahan
endotermik harganya positif.

8.5 Istilah yang digunakan pada perubahan entalpi :









Gambar 8.7 Perubahan Entalphi

1. Entalpi Pembentakan Standar ( ∆H
f
):
∆H untuk membentuk 1 mol persenyawaan langsung dari unsur-
unsurnya yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm.
Contoh : H
2(g)
+ 1/2 O
2(g)
÷H
2
O
(l)
; ∆H
f
= -285.85 kJ




148
P
A
dan P
B
adalah
tekanan parsial
yang dihitung
dengan hukum
Raoult’s
2. Entalpi Penguraian:
∆H dari penguraian 1 mol persenyawaan langsung menjadi
unsur-unsurnya (= Kebalikan dari ∆H pembentukan).
Contoh : H
2
O
(l)
÷ H
2(g)
+ 1/2 O
2(g)
; ∆H = +285.85 kJ.
3. Entalpi Pembakaran Standar ( ∆H
c
):
∆H untuk membakar 1 mol persenyawaan dengan O
2
dari udara
yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm.
Contoh: CH
4(g)
+ 2O
2(g)
÷ CO
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
; ∆Hc = -802 kJ.
4. Entalpi Reaksi:
∆H dari suatu persamaan reaksi di mana zat-zat yang terdapat
dalam persamaan reaksi dinyatakan dalam satuan mol dan
koefisien-koefisien persamaan reaksi bulat sederhana.
Contoh: 2Al + 3H
2
SO
4
÷ Al
2
(SO
4
)
3
+ 3H
2
; ∆H = -1468 kJ
5. Entalpi Netralisasi:
∆H yang dihasilkan (selalu eksoterm) pada reaksi penetralan
asam atau basa. Contoh: NaOH
(aq)
+ HCl
(aq)
÷ NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)
; ∆H = -890.4 kJ/mol
6. Hukum Lavoisier-Laplace
"Jumlah kalor yang dilepaskan pada pembentukan 1 mol zat dari
unsur-unsurnya sama dengan jumlah kalor yang diperlukan untuk
menguraikan zat tersebut menjadi unsur-unsur pembentuknya."
Artinya : Apabila reaksi dibalik maka tanda kalor yang terbentuk
juga dibalik dari positif menjadi negatif atau sebaliknya.
Contoh:
N
2(g)
+ 3H
2
÷2NH
3
∆H = - 112 kJ
2NH
3(g)
÷ N
2(g)
+ 3H
2(g)
; ∆H = + 112 kJ


8.6 Hukum Hess mengenai jumlah panas










Gambar 8. 8 Hess





149
nilai dari ΔH
0
di
ambil dari sumber
referensi yang
tersedia
Contoh Soal : Diketahui diagram siklus sebagai berikut :












Gambar 8.9 Diagram siklus panas reaksi

Maka reaksinya bisa digambarkan sebagai berikut :

2 ) ( 3 ) ( 2 ) ( 2
1 ) ( 2 ) ( 2 ) (
; 2 2
; 2 2 2
H SO O SO
H SO O S
g g g
g g s
A ÷ +
A ÷ +


3 ) ( 3 ) ( 2 ) (
; 2 3 2 H SO O S
g g s
A ÷ +

Jadi ∆H
3
= ∆H
1
+ ∆H
2


















Gambar 8.10 Siklus Hess

Karena entalpi adalah fungsi keadaan, maka besaran ∆H dari
reaksi kimia tak tergantung dari lintasan yang dijalani pereaksi untuk
membentuk hasil reaksi. Untuk melihat pentingnya pelajaran
mengenai panas dari reaksi ini, kita lihat perubahan yang sudah
dikenal yaitu penguapan dari air pada titik didihnya. Khususnya, kita
perhatikan perubahan 1 mol cairan air, H
2
O
(l)
menjadi 1 mol air
berupa gas, H
2
O
(g)
pada 100
0
C dan tekanan 1 atm. Proses ini akan

150
kita membalik
persamaan dengan
merubah reaktan
dan produk. hal ini
berarti reaksi
berjalan dari kiri
ke kanan.
mengabsorbsi 41 kJ, maka ∆H = +41 kJ. Perubahan keseluruhan dapat
ditulis dengan persamaan :

) ( 2 ) ( 2 g l
O H O H ÷

kJ H 41 + = A

Persamaan yang ditulis diatas, dimana perubahan energi juga
diperlihatkan, dinamakan persamaan termokimia. Dalam persamaan
termokimia koefisiennya diambil sebagai jumlah mol dari pereaksi dan
hasil reaksi. Persamaan termokimia di atas ini menyatakan bahwa 1
mol cairan air telah berubah manjadi 1 mol air berbentuk uap dengan
mengabsorbsi 41 kJ kalori.
Perubahan 1 mol cairan air menjadi 1 mol uap air selalu akan
mengabsorbsi jumlah energi yang sama ini, tentunya bila keadaan
mula-mula dan akhirnya sama tak menjadi soal bagaimana kita
melakukan perubahan itu. Caranya dapat juga sedemikian jauh yaitu
dengan cara menguraikan air tersebut menjadi uap H
2
dan O
2
lalu
menggabungkan kedua unsur ini kembali menjadi uap air. Keseluruhan
perubahan entalpinya tetap sama yaitu +41 kJ. Sehingga kita dapat
melihat keseluruhan perubahan sebagai hasil urutan langkah-langkah
dan harga ∆H untuk keseluruhan proses adalah jumlah dari perubahan
entalpi yang terjadi selama perjalanan ini. Pernyataan terakhir ini
merupakan bagian dari Hukum Hess mengenai jumlah panas.

8.6.1 Tahap-tahap reaksi

1. Keadaan awal ÷ Keadaan transisi-1, ∆H
2
2. Keadaan transisi-1 ÷ Keadaan transisi-2, ∆H
3
3. Keadaan transisi-2 ÷ Keadaan akhir, ∆H
4
(+)


4. Keadaan awal ÷ Keadaan akhir, ∆H
1

Jadi, ∆H
1 =
∆H
2
+ ∆H
3
+ ∆H
4

Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua


Persamaan termokimia berlaku sabagai alat alat yang penting
untuk menggunakan hukum Hess. Misalnya persamaan termokimia
yang berhubungan dengan cara tak langsung yang baru saja
diperlihatkan untuk menguapkan air pada 100
0
C

) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
g g l
O O H O H + ÷
kJ H 283 + = A
) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
g g g
O H O O H ÷ +
kJ H 242 ÷ = A

Perhatikan bahwa koefisien pecahan dapat digunakan dalam
persamaan termokimia. Ini disebabkan karena koefisien ½ berarti ½
mol (dalam persamaan kimia biasa, koefisien ½ biasanya dihindarkan

151
karena untuk tingkat molekuler tak ada artinya ; setengah atom atau
molekul tak ada artinya dalam suatu zat kimia).
Kedua persamaan di atas menunjukkan bahwa diperlukan 283
kJ untuk menguraikan 1 mol H
2
O
(l)
menjadi unsur-unsurnya dan 242 kJ
dikeluarkan ketika unsur-unsur tersebut bergabung lagi membentuk 1
mol H
2
O(g). Hasil akhir perubahan (penguapan dari satu mol air)
didapat dengan menjumlahkan kedua persamaan reaksi dan
menghilangkan zat-zat yang ada di kedua belah pihak.

) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
2
1
g g g
g g l
O H O H
O H O H
+ +
÷ + +


Atau
) ( 2 ) ( 2 g l
O H O H ÷



Kita dapat juga mengatakan bahwa panas dari keseluruhan
reaksi sama dengan jumlah aljabar dari panas reaksi untuk kedua
langkah reaksi tersebut.


) 242 ( 283 kJ kJ H ÷ + + = A

kJ H 41 + = A


Jadi bila kita menjumlahkan persamaan kimia untuk
mendapatkan hasil akhir perubahan harus juga menjumlahkan panas
reaksi yang berhubungan.












Gambar 8.11 Diagram Endoterm dan Eksoterm


Untuk menerangkan perubahan termokimia, dapat juga
digambarkan secara grafik. Gambar semacam ini biasa disebut
diagram entalpi. Perhatikan bahwa titik 0,0 nya adalah entalpi dari
unsur-unsur bebasnya. Pemilihan ini hanya secara kesepakatan sebab

152
yang penting adalah menentukan perbedaan dari H. Harga yang pasti
dari entalpi absolut tak bisa diketahui. Hanya perbedaan entalpi (∆H)
yang bisa diukur.




















Gambar 8.12 Diagram tingkat energi Hess

Dimana ∆H
1 =
∆H
2
+ ∆H
3
+ ∆H
4
Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua

Diagram Siklus















Gambar 8.13 Diagram siklus Hess


Dimana ∆H
1 =
∆H
2
+ ∆H
3
+ ∆H
4
Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua



153
8.7 Panas pembentukan
Ada suatu macam persamaan termokimia yang penting yang
berhubungan dengan pembentukan satu mol senyawa dari unsur-
unsurnya. Perubahan entalpi yang berhubungan dengan reaksi ini
disebut panas pembentukan atau entalpi pembentukan yang diberi
simbol ∆H
f
. Misalnya persamaan termokimia untuk pembentukan air
dan uap air pada 100
0
C dan 1 atm masing-masing.

) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
l g l
O O H H + ÷
kJ H 283 + = A


) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
g g g
O H O H ÷ + kJ H 242 ÷ = A


Bagaimana dapat kita gunakan persamaan ini untuk
mendapatkan panas penguapan dari air? Yang jelas persamaan (1)
harus kita balik, lalu dijumlahkan dengan persamaan (2). Jangan lupa
untuk mengubah tanda ∆H. (Jika pembentukan H
2
O (l) eksoterm,
seperti dicerminkan oleh ∆H
f
yang negatif, proses kebalikannya
haruslah endoterm) yang berarti eksoterm menjadi positif yang
berarti menjadi endoterm.

a. Eksoterm








Gambar 8.14 Eksoterm (menghasilkan panas)

) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
l g g
O H O H ÷ +
kJ H H
f
283 ÷ = A = A

b. Endoterm
) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
2
1
g g l
O H O H + ÷ kJ H H
f
283 + = A ÷ = A


Bila kita jumlahkan persamaan (1) dan (2), kita dapat

) ( 2 ) ( 2 g l
O H O H ÷


154
Dan panas reaksinya =
) ( ) (
2 2
l O fH g O fH
H H H A ÷ A = A


kJ kJ kJ H 41 ) 283 ( 242 + = ÷ ÷ ÷ = A


Perhatikan bahwa panas reaksi untuk seluruh perubahan sama
dengan panas pembentukan hasil reaksi dikurangi panas pembentukan
dari pereaksi. Secara umum dapat ditulis :

|
.
|

\
| A
÷
|
.
|

\
| A
= A
pereaksi
H jumlah
i hasilreaks
H jumlah
H
f f
reaksi


8.8 Keadaan standard
Besarnya ∆H
f
tergantung dari keadaan suhu, tekanan dan
bentuk fisik (gas, padat, cair, bentuk kristal) dari pereaksi dan hasil
reaksi. Misalnya pada temperatur 100
0
C dan tekanan 1 atm, panas
pembentukan cairan air =-283 kJ/mol. Sedangkan pada 25
0
C dan
tekanan 1 atm, ∆H
f
untuk H
2
O(l) adalah -286 kJ/mol. Untuk
menghindarkan pengulangan menyebutkan keadaan dimana ∆H
f

diukur, juga agar dapat dibandingkan harga ∆H
f
bermacam-macam
senyawa dibuat keadaan standard pada 25
0
C dan tekanan 1 atm. Pada
keadaan ini dikatakan suatu zat berada dalam keadaan standar. Panas
pembentukan untuk zat-zat pada keadaan standar dinyatakan
dengan
0
f
H A . Misalnya panas pembentukan dalam keadaan standar
untuk cairan cair

mol kJ H
l O H
f
/ 286
) (
0
2
÷ = A

adalah panas yang dilepaskan ketika H
2
dan O
2
dalam bentuk
murninya pada temperatur 25
0
C dan 1 atm bereaksi untuk
menghasilkan H
2
O(l) pada 25
0
C dan 1 atm


















155

Tabel 8.1 Entalpi pembentukan Standard



Tabel Entalpi pembentukan standard tersebut mengandung
panas pembentukan standar untuk berbagai macam zat. Tabel
semacam ini sangat berguna agar persamaan (2) dapat digunakan
untuk menghitung panas reaksi standar,
0
H A , untuk berbagai
perubahan kimia. Dalam mengerjakan perhitungan ini, kita anggap
0
f
H A untuk setiap unsur pada keadaan murninya paling stabil pada
suhu 25
0
C dan 1 atm = 0. Harga panas pembentukan standar untuk
tiap elemen,
0
f
H A =0.
Hal ini dapat dimengerti, karena tidak aada perubahan bila
kita membentuk bentuk stabil dari unsurnya sendiri. Maka unsur
dipakai sebagai titik rujukan dan untuk sampai pada titik rujukan dari
titik rujukan tidak memerlukan energi. Berikut adalah contoh-contoh
pemakaian
0
f
H A dalam perhitungan.
No Zat H
f
(kj/mol)
1 Al
(s)
0
2 AlCl
2(s)
-704
3 Al
2
O
3(s)
-1676
4 Ba
(s)
0
5 BaCO
3(s)
-1219
6 BaCl
2(s)
-860,2
7 Ba(OH)
2
-998,22
8 BaSO
4(s)
-2465
9 Ca
(s)
0
10 CaCO
3(s)
-1207
11 CaCl
2(s)
-795,8
12 CaO
(s)
-635,5
13 Ca(OH)
2(s)
-986,6
14 Ca
3
(PO
4
)
2(s)
-4119
15 CaSO
3(s)
-1156
16 CaSO
4(s)
-1433
17 C(s, grafit) 0
18 C(s, diamond) +1,88
19 CCl
4(l)
-134
20 CO
(g)
-110
21 CO
2(g)
-394
22 CO
2(aq)
-413,8
23 H
2
CO
3(aq)
-699,65
24 CS
2(g)
+117
25 CH
4(g)
-74,9

156
Contoh : menghitung
0
H A suatu reaksi dari panas pembentukan
keadaan standar
Soal :
Tukang masak yang pandai selalu menyimpan natrium bikarbonat
(soda kue) karena dapat dipakai untuk mematikan api yang berasal
dari lemak. Hasil urainya dapat menolong mematikan api. Reaksi
penguraiannya adalah :

) ( 2 ) ( 2 ) ( 3 2 ) ( 3
2
g g s s
CO O H CO Na NaHCO + + ÷

Hitung
0
H A reaksi ini dalam kilojoule bila diketahui panas
pembentukan standar dari pereaksi dan hasil reaksinya.
ANALISIS: Kita gunakan persamaan (2) yang menyatakan

0
H A = ( jumlah
0
f
H A dari hasil reaksi ) – (jumlah
0
f
H A pereaksi)

Berarti kita harus menjumlahkan semua panas yang diberikan
atau yang diterima selama pembentukan hasil reaksi dari unsur-
unsurnya lalu dikurangi dengan panas yang diberikan atau diterima
oleh pereaksi selama pembentukan dari unsur-unsurnya. Tapi harus
diingat satuannya. Panas pembentukan adalah energi yag
berhubungan dengan pembentukan satu mol suatu senyawa yang
mempunyai satuan kJ/mol. Koefisien dari persamaan menunjukkan
jumlah mol dari tiap pereaksi sehingga untuk mendapatkan jumlah
energi yang diberikan oleh tiap senyawa, kita kalikan panas
pembentukan dengan koefisiennya seperti diperlihatkan sebagai
berikut ini :

Penyelesaian :
Dengan Memakai data pada tabel kita dapat :
kJ
CO molNa
kJ
x CO molNa
s
1131
1
1131
1
3 2
) ( 3 2
÷ =

÷


kJ
O molH
kJ
x O molH
g
g
242
1
242
1
) ( 2
) ( 2
=

÷



kJ
molCO
kJ
x molCO
g
g
394
1
394
1
) ( 2
) ( 2
÷ =

÷


Jumlah
0
f
H A dari hasil reaksi = -1767 kJ. Untuk pereaksinya (yang
tunggal) :

kJ
molNaHCO
kJ
x molNaHCO
s
s
1895
1
7 , 947
2
) ( 3
) ( 3
÷ =

÷


Harga-harga ini kita masukkan ke dalam persamaan

) 1895 ( ) 1767 (
0
kJ kJ H ÷ ÷ ÷ = A kJ 128 + =

157


8.9 Kapasitas panas dan panas spesifik
Sifat-sifat air yang memberikan definisi asal dari kalori adalah
banyaknya perubahan temperatur yang dialami air waktu mengambil
atau melepaskan sejumlah panas. Istilah umum untuk sifat ini disebut
kapasitas panas yang didefinisikan sebagai ”jumlah panas yang
diperlukan untuk mengubah temperatur suatu benda sebesar 1
0
C.
Kapasitas panas bersifat ekstensif yang berarti bahwa
jumlahnya tergantung dari besar sampel. Misalnya untuk menaikkan
suhu 1 g air sebesar 1
0
C diperlukan 4,18 J (1 kal), tapi untuk
menaikkan suhu 100 g air sebesar 1
0
C diperlukan energi 100 kali lebih
banyak yaitu 418 J. Sehingga 1 g sampel mempunyai kapasitas panas
sebesar 4,18 J/
0
C sedangkan 100 g sampel 418J/
0
C.
Sifat intensif berhubungan dengan kapasitas panas adalah
kalor jenis (panas spesifik) yang didefinisikan sebagai jumlah panas
yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 g zat sebesar 1
0
C. Untuk air,
panas spesifiknya adalah 4,18 Jg-1C-1. Kebanyakan zat mempunyai
panas spesifik yang lebih kecil dari air. Misalnya besi, panas
spesifiknya hanya 0,452 J g
-1 0
C
-1
. Berarti lebih sedikit panas
diperlukan untuk memanaskan besi 1 g sebesar 1
0
C daripada air atau
juga dapat diartikan bahwa jumlah panas yang akan menaikkan suhu 1
g besi lebih besar dari pada menaikkan suhu 1 g air.
Besarnya panas spesifik untuk air disebabkan karena adanya
sedikit pengaruh dari laut terhadap cuaca. Pada musim dingin air laut
lebih lambat menjadi dingin dari daratan sehingga udara yang
bergerak dari laut ke darat lebih panas daripada udara dari darat ke
laut. Demikian juga dalam musim panas, air laut lebih lambat
menjadi panas daripada daratan.

Rumus :
t m.c. = q A

Keterangan :
q = jumlah kalor (Joule)
m = massa zat (gram)
∆t = perubahan suhu t
akhir
- t
awal
)
c = kalor jenis

8.10 Kalorimetri








Gambar 8.15 Kalorimetri


158


a. Pengukuran perubahan energi dalam reaksi kimia

Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat
sebagai panas, sebab itu lebih tepat bila istilahnya disebut panas
reaksi. Alat yang dipakai untuk mengukur panas reaksi disebut
kalorimeter (sebetulnya kalori meter, walaupun diketahui sekarang
panas lebih sering dinyatakan dalam joule daripada kalori). Ada
beberapa macam bentuk dari alat ini, salah satu dinamakan
Kalorimeter Bomb yang diperlihatkan pada gambar diatas.
Kalorimeter semacam ini biasanya dipakai untuk mempelajari reaksi
eksotermik, yang tak akan berjalan bila tidak dipanaskan, misalnya
reaksi pembakaran dari CH
4
dengan O
2
atau reaksi antara H
2
dan O
2
.
Alatnya terdiri dari wadah yang terbuat dari baja yang kuat
(bombnya) dimana pereaksi ditempatkan. Bomb tersebut dimasukkan
pada bak yang berisolasi dan diberi pengaduk serta termometer. Suhu
mula-mula dari bak diukur kemudian reaksi dijalankan dengan cara
menyalakan pemanas kawat kecil yang berada di dalam bomb. Panas
yang dikeluarkan oleh reaksi diabsorpsi oleh bomb dan bak
menyebabkan temperatur alat naik. Dari perubahan suhu dan
kapasitas panas alat yang telah diukur maka jumlah panas yang
diberikan oleh reaksi dapat dihitung.


8.11 Energi Ikatan Dan Entalphi Reaksi










Gambar 8.16 Ikatan persahabatan











Gambar 8.17 Ikatan atom


159
Reaksi kimia antara molekul-molekul memerlukan pemecahan
ikatan yang ada dan pembentukan ikatan baru dengan atom-atom
yang tersusun secara berbeda. Para kimiawan telah mengembangkan
metode untuk mempelajari spesies antara yang sangat reaktif, yaitu
yaitu spesies yang ikatannya telah pecah dan belum tersusun
kembali. Sebagai contoh, atom hidrogen dapat diambil dari molekul
metana,

) ( ) ( ) (
3 4
g H g CH g CH + ÷


Dengan meninggalkan dua fragmen, yang keduanya tidak
mempunyai struktur elektron valensi yang stabil dalam gambaran
elektron-titik Lewis. Keduanya akan terus bereaksi secara tepat
dengan molekul atau fragmen lainnya, lalu mebentuk hasil reaksi yang
stabil. Namun demikian, selama keberadaan singkat spesies reaktif
tersebut, banyak sifatnya dapat diukur.
Suatu kuantitas penting yang diukur adalah perubahan entalpi
ketika suatu ikatan pecah dalam fasa gas yang disebut entalpi ikatan.
Entalpi ini selalu positif sebab kalor harus diberikan ke dalam
kumpulan moleku-molekul yang stabil untuk memecahkan ikatannya.
Sebagai contoh, entalpi ikatan untuk C-H dalam metana adalah 438
kJmol
-1
, perubahan entalpi standar yang diukur untuk reaksi :

) ( ) ( ) (
3 4
g H g CH g CH + ÷ kJ H 438
0
+ = A

Dimana satu mol ikatan C-H dipecah, satu untuk setiap molekul
metana. Entalpi ikatan agak berbeda sari satu senyawa senyawa
lainnya.

Contoh soal reaksi endoterm dan eksoterm:

) ( ) (
2
1
) (
2 2 2
g O H g O g H ÷ +
kJ H 242 ÷ = A

Persamaan di atas dapat diubah sebagai berikut :

) ( ) (
2
1
) (
2 2 2
g O H g O g H ÷ +
kJ H 242 + = A

Jika ∆H = - , reaksi yang terjadi adalah reaksi ekroterm (melepas
kalori)
Pada pembentukan 1 mol H
2
O(g), terjadi pelepasan panas sebesar 242
kJ.

kJ g O H g O g H 242 ) ( ) (
2
1
) (
2 2 2
+ ÷ +


Pada pembentukan 2 mol H
2
O (g), ∆H = -484 kJ.


160
) (
2
1
) ( ) (
2 2 2
g O g H g O H + ÷
kJ H 242 + = A
Hukum Hess :

) ( ) ( ) ( 4 ) ( 4
) ( 2 ) ( ) ( 2
) ( ) ( ) (
7 3 2 2
2 2 2
2 2
aq COOH H C g O g H s C
l O H g O g H
g CO g O s C
÷ + +
÷ +
÷ +


kJ H
kJ H
kJ H
125
136
94
÷ = A
÷ = A
÷ = A


Maka ∆H reaksinya sebagai berikut
) ( 4 ) ( 4 ) ( 5 ) (
2 2 2 7 3
l O H g CO g O aq COOH H C + ÷ +


Tips :
Posisi Unsur-unsur harus bersesuaian (arah reaksi dibalik jika tidak
sesuai sehingga ∆H berubah tanda)
Koefisien reaksi harus sebanding dengan besar ∆H
Hasil akhir harus sesuai dengan reaksi yang terjadi
Sehingga :
Reaksi ke-1 dikalikan 4 (4CO
2
(g))
Reaksi ke-2 dikalikan 2 (4H
2
O(l))

Arah reaksi ke-3 dibalik :

) ( 4 ) ( 2 ) ( 4
) ( 4 ) ( 4 ) ( 4
) ( ) ( 4 ) ( 4 ) (
2 2 2
2 2
2 2 7 3
l O H g O g H
g CO g O s C
g O g H s C aq COOH H C
÷ +
÷ +
+ + ÷
kkal H
kkal H
kkal H
272
376
125
÷ = A
÷ = A
+ = A


) ( 4 ) ( 4 ) ( 5 ) (
2 2 2 7 3
l O H g CO g O aq COOH H C + ÷ +
kkal H 523 ÷ = A

Contoh entalpi pembentukan :
1. ) ( ) ( 2 ) ( 2
2 2 2
g O g H l O H + ÷
Maka ∆H pembentukan H
2
O =
2
572 ÷

= -286 kJ
(Lihat arah reaksi dan kosfisien reaksi dari H
2
O)

2.∆H reaksi dari
VO O V O V 4 3
5 2 3 2
+ ÷
Jika diketahui :
∆H
f
V
2
O
3
= -290 kkal
∆H
f
V
2
O
5
= -370 kkal
∆H
f
VO = -100 kkal
∆H reaksi = {(-370 kkal) + 4(-100 kkal)}-{3(-290 kkal)} = -770 kkal
+ 870 kkal
= 100 kkal


161


Contoh energi ikatan :
Entalpi pembentukan NH
3
adalah -46 kJ. Jika energi ikatan H-H = 436
kJ, energi ikatan N-H = 390 kJ, berapakah energi ikatan ? N N ÷
Penyelesaian :
3 2 2
2
3
2
1
NH H N ÷ +

kJ H 46 ÷ = A
3 2 2
2 3 NH H N ÷ +

kJ H 92 ÷ = A
3 2
2 3 NH H N N ÷ + ÷


∆H
reaksi
={(energiIkatan + ÷ ) N N 3 (energi ikatan H-H))-{2(3 energi
ikatan N-H)}- 92 kJ
= {(energi ikatan ) N N ÷ +3(436))-{2(3x390)}- 92 kJ
= {(energi ikatan ) N N ÷ +1308)-{2340}

Jadi energi ikatan N N ÷ sebagai berikut = - 92 + 2340 – 1308 kJ =
940 kJ.
Contoh Entalpi pembakaran :
Entalpi pembakaran C
2
H
2
adalah -1300 kJ dapat dituliskan sebagai
berikut :

O H CO O H C
2 2 2 2 2
2
2
5
+ ÷ +
kJ H 1300 ÷ = A

Contoh Soal :
mol kj H HF F H
g g g
/ 61 , 268 ; 2 / 1 2 / 1 . 1
1 ) ( ) ( 2 ) ( 2
÷ = A ÷ +
mol kj H CF F C
g g s
/ 9 , 679 ; 2
2 ) ( 4 ) ( 2 ) (
÷ = A ÷ +
mol kj H H C H C
g g s
/ 3 , 52 ; 2 2
3 ) ( 4 2 ) ( 2 ) (
= A ÷ +
Tentukan ∆H reaksi (∆H
4
)

) ( ) ( 4 ) ( 2 ) ( 4 2
4 2 6
g g g g
HF CF F H C + ÷ +
Buatlah diagram siklus dan diagram tingkat energinya!

Jawab :
Ada 4 tahapan reaksi
Keadaan awal : C
2
H
4(g)
+ 6 F
2(g)
Keadaan akhir : 2CF
4(g)
+ 4 HF
(g)

Tahap reaksi 1,2 dan 3 diatur letaknya (kiri/kanan) dan koefisiennya
dicocokkan (dikalikan dengan suatu bilangan) agar jika dijumlahkan
hasilnya menjadi tahap reaksi 4.


∆H
4
= 2H
1
+ 2∆H
2
- ∆H
3


162
= {2(-268,61) + 2(-679,9) – 52,3} kj/mol
= -1949,32 kj/mol
Tahap-tahap reaksi :
1. H
2(g)
+ F
2(g)
÷ 2HF
(g)
; ∆H
1
x 2
2. C
(s)
+ 2F
2(g)
÷ CF
4(g)
; ∆H
2
x 2
3. C
2
H
4(g)
+ 2C
(s)
÷ 2H
2(g)
; ∆H
3
x -1

4.C
2
H
4(g)
+ 2C
(s)
÷ 2CF
4(g)
+ 4HF
(g)
; ∆H
4
















Gambar 8.18 Diagram siklus



















Gambar 8.19 Diagram tingkat energi

2. Diketahui :

Zn
(s)
+ S
(g)
÷ ZnS
(s)
; ∆H
1
= -48 kkal
Entalpi pembentukan (∆H
3
) ZnSO
4(s)
= -238 kkal
Tentukan ∆H
2
ZnS
(s)
+ O
2(g)
÷ ZnSO
4(s)
dalam kkal

163
Zn(s) + S(g) ÷ ZnS(s) ; ∆H
1
= -48 kkal
ZnS(s) + O
2(g)
÷ ZnSO
4
; ∆H
2
= ? kkal

Zn(s) + S(g) + 2O2(g) ÷ ZnSO
4
; ∆H
3
= -238 kkal
∆H
3
= ∆H
1
+ ∆H
2
∆H
2
= ∆H
3
- ∆H
1

= -238-(-48)
= -190 kkal

3. Diketahui tahap reaksi berikut :
2NO
2
+ H
2
÷ N
2
O
3
+ H
2
O ; ∆H
1
= 20 kkal
N
2
O
5
+ 3H
2
÷ 2NO + 3H
2
O ; ∆H
2
= 60 kkal
N
2
O
3
+ H
2
÷ 2NO + H
2
O ; ∆H
3
= 10 kkal
Tentukan ∆H
4
N
2
O
5
+ H
2
÷ 2NO
2
+ H
2
O!!!
Buatlah diagram siklus dan diagram tingkat energinya!!!


























KESIMPULAN

Panas spesifik dan kapasitas panas. dua sifat termal pada
semua zat adalah Panas spesifik dan kapasitas panas. kapasitas panas
seperti massa, yaitu fungsi dari ukuran sampel. kapasitas panas
adalah jumlah Joule yang dibutuhkan untuk merubah suhu dari sampel
yang masuk oleh 1 derajat celcius. panas spesifik adalah kapasitas
panas per gram.


164
Termokimia. panas rekasi, q, dapat dihitung dari perubahan suhu
ketika diketahui jumlah reaktan menuju reaksi pada sistem yang
diketahui sebagai kapasitas panas.


Latihan Soal :
1. Diketahui reaksi-reaksi :

1 2 2
; H H MgCl HCl Mg A + ÷ +

2 2
;
2
1
H MgO O Mg A ÷ +
3 2 2 2
; 2 2 ) ( H O H MgCl HCl OH Mg A + ÷ +
Maka ∆H
4
reaksi :

2 2 2 2
2
1
) ( 2 O H OH Mg O H MgO + + ÷ + adalah...
a. ∆H
3
+ ∆H
1
+ ∆H
2

b. ∆H
3
- ∆H
1
+ ∆H
2

c. ∆H
1
- ∆H
3
- ∆H
2

d. ∆H
3
+ ∆H
1
+ ∆H
2

e. ∆H
3
+ ∆H
1
+ ∆H
2


2. Diketahui reaksi-reaksi :
kj H CO SiO SiO CO
g g s g
90 , 520 ;
) ( 2 ) ( ) ( 2 ) (
+ = A + ÷ +
kj H CO O N SiO N Si CO
g g s s g
05 , 461 ; 8 2 3 8
) ( ) ( 2 ) ( 2 ) ( 4 3 ) ( 2
+ = A ÷ + ÷ +
Maka ∆H untuk reaksi :
) ( ) ( 2 ) ( ) ( 4 3 ) ( 2
5 2 3 5
g g g s g
CO O N SiO N Si CO + + ÷ + adalah...
a. 58,95 kj
b. 981,95 kj
c. 1101,65 kj
d. 1904,05 kj
e. 2023,75kj

3. Perubahan entalpi yang diukur pada pembakaran keton,
kj H O H CO O CO CH
g g g g
1 , 981 ; 2 2
1 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 2
÷ = A + ÷ +
Perubahan entalpi pada pembakaran metana,
kj H O H CO O CH
g g g g
3 , 802 ; 2 2
2 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 4
÷ = A + ÷ +
Perubahan entalpi untuk reaksi :

3 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 4
; 3 2 2 H O H CO CH O CH
g g g g
A + ÷ + adalah.
a. -623,5 kj
b. -178,8 kj
c. -2585,7 kj
d. -1783,4 kj
e. +178,8 kj

4. Perubahan entalpi pembakaran belerang monoklin menjadi
SO
2(g)
adalah -9,376 kj/g, dalam kondisi yang sama

165
pembakaran belerang berbentuk rombik menjadi SO
2(g)
adalah
-9,293 kj/g. Maka ∆H/g untuk perubahan S
(monoklin)
÷ S
(rombik)

adalah...
a. -0,083 kj
b. -0,991 kj
c. -1,009 kj
d. -18,669 kj
e. -87,132 kj

5. Diketahui :
kj H O H O H
l g g
8 , 285 ;
) ( 3 ) ( 2 ) ( 2
÷ = A ÷ +
kj H CO O C
g g s
5 , 393 ;
) ( 2 ) ( 2 ) (
÷ = A ÷ +
kj H HCl Cl H
kj H O H C O H CO
kj H HCl H C Cl H C
g g g
g g l g
g g g
9 , 184 ; 2
8 , 1410 ; 3 2 2
3 , 71 ;
) ( ) ( 2 ) ( 2
) ( 2 ) ( 4 2 ) ( 2 ) ( 2
) ( ) ( 4 2 ) ( 5 2
÷ = A ÷ +
+ = A + ÷ +
+ = A + ÷

Berdasarkan data ini, maka entalpi pembentukan kloroetana,
C
2
H
5
Cl(g) dalam kj/mol adalah ...
a. -112,3
b. -164,4
c. -252,3
d. -566,9
e. -2429,2

6. Perhitungan ∆H berikut ini yang benar adalah ...







a. ∆H
2
- ∆H
1
= ∆H
5

b. ∆H
1
+ ∆H
2
= ∆H
5

c. ∆H
3
+ ∆H
4
= ∆H
5

d. ∆H
1
+ ∆H
4
= ∆H
2
+ ∆H
3

e. ∆H
1
+ ∆H
3
= ∆H
2
+ ∆H
4


7. Dua unsur gas A dan B dapat bereaksi membentuk senyawa AB
sebagai berikut :
Z H AB B A
Y H AB B A
X H AB B A
s g g
l g g
g g g
+ = A ÷ +
+ = A ÷ +
+ = A ÷ +
;
;
;
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (
) ( ) ( ) (





166
Maka kalor penghabluran AB, adalah ...

a. Z
b. X-Y-Z
c. Z-X
d. X-Z
e. X+Y+Z


8. Jika gas A dan gas B dapat bersenyawa membentuk AB(g),
AB(l), AB(s) dengan ∆H berturut adalah +X,+Y, +Z maka
diagram siklus yang ∆Hnya tidak tepat adalah ...

























167
9 Elektrokimia























St andar Kompet ensi Kompet ensi Dasar
Menj el askan per bedaan r eaksi
oksi dasi dan r eduksi
Menj el asakan car a penyet ar aan
r eaksi r edoks
Menent ukan pot ensi al sel
el ekt r oki mi a
Tuj uan pembel aj ar an
1. Mempel aj ar i dan memahami per i st i wa r eaksi r eduksi dan
oksi dasi .
2. Mempel aj ar i dan menghaf al har ga bi l angan oksi dasi
unsur -unsur ki mi a ber dasar kan gol ongannya.

3. Mempel aj ar i dan memahami l angkah-l angkah
penyet ar aan r eaksi r edoks.
4. Mempel aj ar i dan memahami penyet ar aan per samaan
r edoks.
5. Mempel aj ar i dan memahami per bedaan oksi dasi dan
r eduksi .
6. Mengamat i dan mempel aj ar i r eaksi - r eaksi yang t er j adi
pada sel el ekt r oki mi a, komponen-komponen yang t er l i bat
dan apl i kasi nya.

168
7. Mempel aj ar i dan mengamat i pot ensi al el ekt r oda yang
mel i bat kan r eaksi , penghi t ungan dan apl i kasi .
8. Mempel aj ar i hukum Far aday pada r eaksi el ekt r ol i si s dan
apl i kasi nya dal am penghi t ungan.
9. Mempel aj ar i dan memahami f enomena kor osi , r eaksi
yang t er j adi , f akt or - f akt or yang mempengar uhi dan car a
menghambat r eaksi kor osi .

9.1 Reaksi redoks












Gambar 9. 1 Per i st i wa r edoks

Reaksi r eduksi adal ah r eaksi penangkapan el ekt r on at au r eaksi
t er j adi nya penur unan bi l angan oksi dasi . Sedangkan r eaksi oksi dasi
adal ah r eaksi pel epasan el ekt r on at au r eaksi t er j adi nya kenai kan
bi l angan oksi dasi . Jadi , r eaksi r edoks adal ah (r eduksi dan oksi dasi )
adal ah r eaksi pener i maan dan pel epasan el ekt r on at au r eaksi
t er j adi nya penur unan dan kenai kan bi l angan oksi dasi .

Cont oh soal :
1. Manakah yang t er masuk r eaksi r edoks?
a. NaOH + HCl Æ NaCl + H
2
O
b. Ag
+
(Aq)
+ Cl
- (
Aq)
Æ AgCl
( s)

c. CaCO
3
Æ CaO + CO
2

d. CuO + CO Æ Cu + CO
2

e. O
2
+ O Æ O
3

Jawab : d
Per hat i kan at om Cu dar i bi l oks +2 ( pada CuO) ber ubah
menj adi 0 ( pada Cu) . Ji ka sat u at om mengal ami per ubahan,
t er masuk r edoks kar ena past i akan di i kut i ol eh per ubahan
l ai nnya.

2. Manakah r eaksi ber i kut yang bukan t er masuk r eaksi r edoks?
a. Zn + 2H
2
SO
4
Æ ZnSO
4
+ H
2

b. 2Cr O
4
2-
+ 2H
+
Æ Cr
2
O
7
2-
+ H
2
O
c. Cu
2+
+ Ni Æ Cu + Ni
2+

d. C
3
H
8
+ 5O
2
Æ 3CO
2
+ 4H
2
O
e. Cl
2
+ 2KOH Æ KCl + KCl O + H
2
O


169
Jawab :
Per hat i kan pi l i han semua j awaban. semuanya ada at omi k
(bi l oks 0) membent uk senyawanya. Ber ar t i bi l oks ada yang
posi t i f ada yang negat i f . Dar i 0 ke posi t i f at au negat i f ber ar t i
ada per ubahan dan i ni ber ar t i r eaksi r edoks. Sedangkan
pi l i han b bi l oks pada Cr
2
O
4
2-
sebesar +6 dan pada Cr
2
O
7
2-

sebesar +6 j adi t i dak ada per ubahan bi l oks

Penger t i an Bi l angan Oksi dasi :
Muat an l i st r i k yang seakan- akan di mi l i ki ol eh unsur dal am suat u
senyawa at au i on.
Dasar : r eaksi r edoks (r eduksi oksi dasi ) Cont oh: Dal am r eaksi Fe
dan Cu
+2
, Fe mengal ami kenai kan bi l angan oksi dasi ( oksi dasi ) ; Cu
+2

mengal ami penur unan bi l angan oksi dasi (r eduksi )









Gambar an mol ekul ar r eaksi r edoks :

Zn + Cu
2+
Î Cu + Zn
2+























Gambar 9. 2 Gambar an mol ekul ar r eaksi r edoks

Setengah reaksi oksidasi :
Zn Î Zn
2+
+ 2e
Setengan reaksi reduksi :
Cu
2+
+ 2e Î Cu

170
9.2 Harga bilangan oksidasi
1. Unsur bebas bi l angan Oksi dasi = 0
2. Oksi gen
Dal am Senyawa Bi l angan Oksi dasi = - 2
Kecual i :
a. Dal am per oksi da, Bi l angan Oksi dasi = - 1
b. Dal am super oksi da, Bi l angan Oksi da = -1/ 2
c. Dal am OF
2
, Bi l angan Oksi dasi = +2
3. Hi dr ogen dal am senyawa, Bi l angan Oksi dasi = +1,
kecual i dal am hi br i da = - 1
4. Unsur -unsur Gol ongan IA
dal am senyawa, Bi l angan Oksi dasi = +1
5. Unsur -unsur Gol ongan IIA dal am senyawa,
Bi l angan Oksi dasi = +2
6. Bi l angan Oksi dasi
mol ekul = 0
7. Bi l angan Oksi dasi i on = muat an i on
8. Unsur hal ogen
F : 0, -1
Cl : 0, -1, +1, +3, +5, +7
Br : 0, -1, +1, +5, +7
I : 0, -1, +1, +5, +7

9.3 Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks
1. Car a bi l angan oksi dasi
a. Tent ukan mana r eaksi oksi dasi dan r eduksi nya.
b. Tent ukan penur unan Bi l angan Oksi dasi dar i oksi dat or dan
kenai kan Bi l angan Oksi dasi dar i r edukt or .
c. Juml ah el ekt r on yang di t er i ma dan yang di l epaskan per l u
di samakan dengan mengal i kan t er hadap suat u f akt or .
d. Samakan j uml ah at om oksi gen di kanan dan ki r i r eaksi
t er akhi r j uml ah at om hi dr ogen di sebel ah kanan dan ki r i
r eaksi .
2. Car a set engah r eaksi
a. Tent ukan mana r eaksi oksi dasi dan r eduksi .
b. Reaksi oksi dasi di pi sah- kan dar i r eaksi r eduksi
c. Set ar akan r uas kanan dan ki r i unt uk j uml ah at om yang
mengal ami per ubahan Bi l angan Oksi dasi unt uk r eaksi yang
j uml ah at om- at om kanan dan ki r i sudah sama, set ar akan
muat an l i st r i knya dengan menambahkan el ekt r on.
d. Unt uk r eaksi yang j uml ah at om oksi gen di kanan dan ki r i
bel um sama set ar akan kekur angan oksi gen dengan
menambahkan sej uml ah H
2
O sesuai dengan j uml ah
kekur angannya.
e. Set ar akan at om H dengan menambah sej uml ah i on H
+

sebanyak kekur angannya.
f . Set ar akan muat an, l i st r i k sebel ah kanan dan ki r i dengan
menambahkan el ekt r on pada r uas yang kekur angan muat an
negat i f at au kel ebi han muat an posi t i f .

171
g. Samakan j uml ah el ekt r on kedua r eaksi dengan mengal i kan
masi ng-masi ng dengan sebuah f akt or .

9.4 Penyetaraan persamaan reaksi redoks
Tahapan:
1. Tent ukan per ubahan bi l angan oksi dasi .
2. Set ar akan per ubahan bi l angan oksi dasi .
3. Set ar akan j uml ah l i st r i k r uas ki r i dan kanan dengan :
H
+
pada l ar ut an ber si f at asam
OH
-
pada l ar ut an ber si f at basa
4. Tambahkan H
2
O unt uk menyet ar akan j uml ah at om H.

Cont oh:
MnO
4
-
+ Fe
2+
Æ Mn
2+
+ Fe
3+
(suasana asam)


1. MnO
4
-
+ Fe
2+
Æ Mn
2+
+ Fe
3+

+7 +2 +2 +3



2. Angka penyer t a = 5
MnO
4
-
+ 5 Fe
2+
Æ Mn
2+
+ 5Fe
3+

3. MnO
4
-
+ 5 Fe
2+
+ 8 H
+
Æ Mn
2+
+ 5Fe
3+

4. MnO
4
-
+ 5 Fe
2+
+ 8 H
+
Æ Mn
2+
+ 5Fe
3+
+ 4 H
2
O

Contoh Soal:

1. Set ar akan per samaan r eaksi r edoks dengan car a bi l angan
oksi dasi dan nayat kan unsur yang mengal ami per ubahan
bi l angan oksi dasi .
Jawab :
















-5
+1

172
2. Set ar akan per samaan r eaksi r edoks dengan car a set engah r eaksi ! ! !
Jawab :

















9.5 Perbedaan oksidasi reduksi
Per bedaan oksi dasi r eduksi l ebi h j el asnya dapat di l i hat pada
Tabel 9. 1

Tabel 9. 1 Per bedaan oksi dasi dan r eduksi


Kl asi k
Oksi dasi : r eaksi ant ar a suat u zat dengan oksi gen
Reduksi : r eaksi ant ar a suat u zat dengan hi dr ogen











Moder n
Oksi dasi
- Kenai kan Bi l angan Oksi dasi
- Pel epasan El ekt r on
Reduksi
- Penur unan Bi l angan Oksi dasi
- Penangkapan El ekt r on
Oksi dat or
- Mengal ami Reduksi
- Mengal ami Penur unan Bi l angan Oksi dasi
- Mampu mengoksi dasi
- Dapat menangkap el ekt r on
Redukt or
- Mengal ami oksi dasi
- Mengal ami kenai kan Bi l angan Oksi dasi
- Mampu mer eduksi
- Dapat member i kan el ekt r on
Aut o Redoks
- Reaksi r edoks di mana sebuah zat
mengal ami r eduksi sekal i gus oksi dasi

173
sebuah anoda
l ogam t embaga
ber eaksi
member i kan
l ar ut an bi r u yang
mengandung i on
t embaga ( II)
ber samaan dengan
i on per ak yang
mel api si kat oda
per ak dal am
sebuah sel Gal vani .
9.6 Sel elektrokimia

















Gambar 9. 3. Sel el ekt r oki mi a


El ekt r oki mi a : Hubungan Reaksi ki mi a dengan daya ger ak l i st r i k ( al i r an
el ekt r on)
• Reaksi ki mi a menghasi l - kan daya ger ak l i st r i k (sel gal vani )
• Daya ger ak l i st r i k menghasi l kan r eaksi ki mi a ( sel el ekt r ol i sa)
Sel el ekt r oki mi a : si st em yang t er di r i dar i el ekt r oda yang t er cel up
pada l ar ut an el ekt r ol i t .


1. Sel Volta/Galvani

















a. Prinsip-prinsip sel volta atau sel galvani :
• Ger akan el ekt r on dal am si r kui t ekst er nal aki bat adanya r eaksi
r edoks.
Gambar 9. 4. Cont oh sel gal vani

174
• At ur an sel Vol t a:
- Ter j adi per ubahan : ener gi ki mi aÆ ener gi l i st r i k
- Pada anoda, el ekt r on adal ah pr oduk dar i r eaksi oksi dasi ;
anoda kut ub negat i f
- Pada kat oda, el ekt r on adal ah r eakt an dar i r eaksi r eduksi ;
kat oda = kut ub posi t i f
- El ekt r on mengal i r dar i anoda ke kat oda

b. Konsep - konsep sel volta:
Sel Vol t a
1. Der et Vol t a/ Ner st
a. Li , K, Ba, Ca, Na, Mg, Al , Mn, Zn
Fe Ni , Sn, Pb, (H), Cu, Hg, Ag, Pt , Au
b. Maki n ke kanan, mudah di r eduksi dan sukar di oksi dasi .
Maki n ke ki r i , mudah di oksi dasi , maki n akt i f , dan sukar
di r eduksi .
Pr i nsi p:
2. Anoda t er j adi r eaksi oksi dasi ; kat oda t er j adi r eaksi r eduksi
3. Ar us el ekt r on : anoda Æ kat oda ; ar us l i st r i k : kat oda Æ
anoda
4. Jembat an gar am : menyet i mbangkan i on- i on dal am l ar ut an
Cont oh dar i sel gal vani :















Gambar 9. 5. Sel Vol t a

Not asi sel : Zn/ Zn
+2
/ / Cu
+2
/ Cu
/ = pot ensi al ½ sel
/ / = pot ensi al sambungan Sel ( cel l j unct i on pot ent i al ;
j embat an gar am)








175
c. Macam-macam sel volta
















Gambar 9. 6 Al essandr o G. Vol t a

1. Sel Ker i ng at au Sel Lecl ance
Sel i ni ser i ng di pakai unt uk r adi o, t ape, sent er , mai nan
anak-anak, dl l .
Kat odanya sebagai t er mi nal posi t i f t er di r i at as kar bon
(dal am bent uk gr af i t ) yang t er l i ndungi ol eh past a kar bon,
MnO
2
dan NH
4
Cl
2

Anodanya adal ah l api san l uar yang t er buat dar i seng dan
muncul di bagi an bawah bat er ai sebagai t er mi nal negat i f .
El ekt r ol i t : Campur an ber upa past a : MnO
2
+ NH
4
Cl +
sedi ki t Ai r
Reaksi anoda adal ah oksi dasi dar i seng
Zn
( s)
Æ Zn
2+
( aq)
+ 2e
-

Reaksi kat odanya ber l angsung l ebi h r umi t dan suat u
campur an hasi l akan t er bent uk. Sal ah sat u r eaksi yang
pal i ng pent i ng adal ah :
2MnO
2(s)
+ 2NH
4
+
( aq)
+ 2e
-
Æ Mn
2
O
3( s)
+ 2NH
3( aq)
+ H
2
O
Amoni a yang t er j adi pada kat oda akan ber eaksi dengan
Zn
2+
yang di hasi l kan pada anoda dan memben- t uk i on
Zn( NH
3
)
4
2+
.

2. Sel Aki
Kat oda: PbO
2

Anoda : Pb
El ekt r ol i t : Lar ut an H
2
SO
4

Reaksi nya adal ah :
PbO
2( s)
+ 4H
+
( aq)
+ SO
4
2-
(aq)
Æ PbSO
4( s)
+ 2H
2
O ( kat oda)
Pb
( s)
+ SO
4
2-
( aq)
Æ PbSO
4(s)
+ 2e
-
(anoda)
PbO
2( s)
+ Pb
( s)
+ 4H
+
( aq)
+ 2SO
4
2-
( aq)
Æ 2PbSO
4( s)
+ 2H
2
O
(t ot al )
Pada saat sel nya ber f ungsi , konsent r asi asam sul f at akan
ber kur ang kar ena i a t er l i bat dal am r eaksi t er sebut .

176
Keunt ungan dar i bat er ai j eni s i ni adal ah bahwa i a dapat
di i si ul ang ( r echar ge) dengan member i nya t egangan dar i
sumber l uar mel al ui pr oses el ekt r ol i si s, dengan r eaksi :
2PbSO
4( s)
+ 2H
2
O Æ PbO
2( s)
+ Pb
( s)
+ 4H
+
( aq)
+ 2SO
4
2-
( aq)
(t ot al )
Ker ugi an dar i bat er ai j eni s i ni adal ah, secar a bent uk, i a
t er l al u ber at dan l agi i a mengandung asam sul f at yang
dapat saj a t er cecer ket i ka di pi ndah-pi ndahkan.

3. Sel Bahan Bakar
El ekt r oda : Ni
El ekt r ol i t : Lar ut an KOH
Bahan Bakar : H
2
dan O
2


4. Bat er ai Ni - Cd
Di sebut j uga bat er ai ni -cad yang dapat di i si ul ang
muat annya dan yang umum di pakai pada al at - al at
el ekt r oni k peka. Pot ensi al nya adal ah 1, 4 Vol t .
Kat oda : Ni O
2
dengan sedi ki t ai r
Anoda : Cd
Reaksi nya :
Cd
( s)
+ 2OH
-
( aq)
Æ Cd(OH)
2( s
) + 2e
-

2e
-
+ Ni O
2( s)
+ 2H
2
O Æ Ni (OH)
2( s)
+ 2OH
-
(aq)

Bat er ai i ni l ebi h mahal dar i bat er ai bi asa.

c. Potensial sel :
- Gaya yang di but uhkan unt uk mendor ong el ekt r on mel al ui si r kui t
ekst er nal

Not asi pot ensi al sel = E
cel
l ;

sat uan Vol t = Joul e/ Coul omb

• Pot ensi al sel di hasi l kan dar i sel Gal vani
• Pot ensi al sel t er gant ung pada suhu, konsent r asi i on dan t ekanan
par si al gas dal am sel ; Pot ensi al sel st andar E
0
sel : pot ensi al pada
25
0
C, konsent r asi i on 1 M dan t ekanan par si al 1 at m
• Pot ensi al sel st andar di hi t ung dengan menggunakan pot ensi al -
pot ensi al st andar zat -zat yang mengal ami r edoks
E
0
sel = E
0
oks + E
0
r ed ;
E
0
oks = pot ensi al st andar zat yang mengal ami oksi dasi
E
0
r ed = pot ensi al st andar zat yang mengal ami r eduksi
• Dal am t abel pot ensi al st andar sel al u di cant umkan pot ensi al
r eduksi st andar , sehi ngga E
0
oks = - E
0
r ed
• Pot ensi al r eduksi st andar di t ent ukan dengan elektroda standar

d. Reaksi sel
• Reaksi sel = j uml ah r eaksi ½ sel
• Reaksi r edoks sel gal vani si st em
Zn/ Zn
+2
/ / Cu
+2
/ Cu:

177
Cu
2+

( aq)
+ Zn
(s)
÷ Cu
( s)
+ Zn
2+

( aq)

• Reaksi ½ sel dapat di t ul i s:
Cu
2+

( aq)
+ 2 e
-
÷ Cu
( s)
Q = 1/ [ Cu
2+
]
Zn
2+

( aq)
+ 2 e
-
÷ Zn
( s)
Q = 1/ [ Zn
2+
]
Secar a umum ¬ Q
cel l
= [ Zn
2+
] / [ Cu
2+
]

e. Penentuan potensial reduksi dengan elektroda standar

Pot ensi al Zn/ Cu : Zn/ Zn
+2
/ / Cu
+2
/ Cu:
E
0
sel
= E
0
oks ( Zn)
+ E
0
r ed ( H+)
; + 0. 76
= - E
0
r ed (Zn) + 0

E
0
r ed (Zn)
= -0. 76 V (t anda negat i f menunj ukkan bahwa Zn l ebi h sul i t
di r eduksi di bandi ngkan dengan H
2
)

Reaksi yang t er j adi adal ah :
• Cu
2+

( aq)
+ 2 e
-
÷ Cu
( s)
E
0
1
= + 0. 34 V
Zn
2+

( aq)
+ 2 e
-
÷ Zn
( s)
E
0
2
= - 0. 76 V
• E
0
2
< E
0
1
, maka di dal am si st em, Cu
+2
akan mengal ami r eduksi
dan Zn akan t er oksi dasi :

• Cu
2+

( aq)
+ 2 e
-
÷ Cu
( s)
E
0
1
= + 0. 34 V
Zn
( s)
÷ Zn
2+

(aq)
+ 2 e
-
E
0
2
= + 0. 76 V
Cu
2+

( aq)
+ Zn
(s)
÷ Cu
( s)
+ Zn
2+

( aq)

E
0
sel
= + 1. 10 V

f. Spontanitas reaksi dan potensial sel

• Reaksi spont an: ΔG < 0
ΔG = - n F E
sel

Di mana : ΔG
0
= - n F E
0
sel
; n = j uml ah el ekt r on ( mol ) ; F =
muat an 1 mol el ekt r on; 1 F = 96500 C; E
sel
= pot ensi al sel ; E
0
sel

= pot ensi al sel st andar
ΔG < 0, maka Esel > 0
• Cont oh
Cr
+3

( aq)
+ 3e Æ Cr
( s)
E
0
Cr
= - 0. 74 V
Zn
+2
( aq)
+ 2e Æ Zn
( s)
E
0
Zn
= - 0. 76 V

Kar ena E
0
Zn
< E
0
Cr
, Zn akan mengal ami oksi dasi . Reaksi sel
yang akan t er j adi
Cr
+3
( aq)
+ 3e Æ Cr
( s)
} x 2 E
0
Cr
= - 0. 74 V
Zn
( s)
Æ Zn
+2
( aq)
+ 2e } x 3 E
0
Zn
= + 0. 76 V
2Cr
+3
( aq)
+ 3 Zn
( s)
Æ Zn
+2
+ 2 Cr
( s)

E
0
sel
= 0. 02 V > 0
Reaksi spont an





178
Tabel 9. 1. Pot ensi al r eduksi st andar

























g. Fenomena umum sel dengan reaksi spontan (galvani)























• Makin besar perbedaan harga
E°red, makin besar harga
E°cell.
• Dalam sel galvani dengan
reaksi spontan E°red (katoda)
lebih positif dari E°red
(anoda).

179
Contoh Soal :
Tul i skan r eaksi el ekt r ol i si s l ar ut an CuCl
2
dengan el ekt r oda Pt .

Jawab :
Kar ena bukan t er masuk l ogam gol ongan IA dan IIA, maka pada kat oda
yang di r eduksi adal ah kat i on l ogam Cu.
Cu
2+
+ 2e Æ Cu

Anoda dengan el ekt r oda i ner t (t i dak ber eaksi ) j i ka ani onnya t i dak
mengandung O, maka yang di oksi dasi adal ah ani on t er sebut .
2Cl
¯
Æ Cl
2
+ 2e

Kat oda : Cu
2+
+ 2e Æ Cu
Anoda : 2Cl
¯
Æ Cl
2
+ 2e
Reaksi t ot al : Cu
2+
+ 2Cl
¯
Æ Cu + Cl
2

CuCl
2
Æ Cu + Cl
2

Dengan demi ki an r eaksi el ekt r ol i si snya adal ah CuCl
2
Æ Cu + Cl
2


Aplikasi sel galvani
a. aki mobi l
b. bat er ai al kal i n
c. Pr ot eksi besi ol eh Zn t er hadap kor osi

a. Aki mobil



















Gambar 9. 7. Aki mobi l






- Baterai mobil 12 V dengan 6 pasang
katoda/anoda yang masing-masing
menghasilkan 2 V.
- Katoda : PbO
2
pada jaringan logam
dalam asam sulfat :
PbO
2(s)
+ SO
4
2-
(aq)
+ 4H
+
(aq)
+ 2e
-
÷
PbSO
4(s)
+ 2H
2
O
(l)
.
- Anode: Pb :
Pb
(s)
+ SO
4
2-
(aq)
÷ PbSO
4(s)
+ 2e
-


180
Bat er ai ber var i asi
dal am ukur an dan
bahan ki mi anya,
seper t i aki mobi l ,
sel al kal i n dan sel
ker i ng.
b. Baterai alkalin



















Gambar 9. 8. Bat er ai al kal i n

c. Proteksi besi oleh Zn terhadap korosi

















Gambar 9. 9. Pr ot eksi Fe ol eh Zn t er hadap kor osi


2. Sel Elektrolisis

• Ter j adi per ubahan : ener gi l i st r i k Æ ener gi ki mi a
• El ekt r ol i sa adal ah r eaksi non- spont an yang ber j al an aki bat adanya
ar us (al i r an el ekt r on) ekst er nal yang di hasi l kan ol eh suat u
pembangki t l i st r i k. .
• Pada sel el ekt r ol i t i k
„ Anoda: Zn cap:
Zn
(s)
÷ Zn
2+
(aq) + 2e
-

„ katoda: MnO
2
, NH
4
Cl dan pasta
karbon :
2 NH
4
+
(aq)
+ 2 MnO
2(s)
+ 2e
-
÷
Mn
2
O
3(s)
+
2NH
3(aq)
+ 2H
2
O
(l)

„ batang grafit didalam katoda inert
dipusat.
„ Baterai alkalin NH
4
Cl dapat

181
– Kat oda ber muat an negat i f
at au di sebut el ekt r oda –
Ter j adi r eaksi r eduksi
Jeni s l ogam t i dak di per - hat i kan, kecual i l ogam Al kal i (IA)
dengan Al kal i t anah(IIA), Al dan Mn
- Reaksi :
2 H
+
( aq)
+ 2e
-
Æ H
2( g)

i on gol ongan IA/ IIA t i dak di r eduksi ; dan penggant i nya ai r
2 H
2
O
(l )
+ 2 e
-
Æ basa + H
2(g)

i on-i on l ai n di r eduksi
– Anoda ber muat an posi t i f (+) at au di sebut el ekt r oda +
- Ter j adi r eaksi oksi dasi
- Jeni s l ogam di per hat i kan

a. Anoda : Pt at au C (el ekt r oda i ner t )
r eaksi :
# 4OH
-
( aq)
Æ 2H
2
O
( l )
+ O
2( g)
+ 4e
-

# gugus asam ber oksi gen t i dak t er oksi dasi , di gant i ol eh
2 H
2
O
(l )
Æ asam + O
2( g)

# gol ongan VIIA ( hal ogen) Æ gas
b. Anoda bukan : Pt at au C
r eaksi : ber eaksi dengan anoda membent uk gar am at au senyawa
l ai n.



























Gambar 9. 10. El ekt r ol i sa cai r an NaCl

182
a. Aplikasi elektrolisis

1. El ekt r opl at t i ng















Gambar 9. 11. El ekt r opl at t i ng


El ekt r opl at t i ng adal ah apl i kasi el ekt r ol i si s pada
pel api san suat u l ogam at as l ogam yang l ai n. Tekni k i ni bi sa
di pakai unt uk memper bai ki penampakan dan daya t ahan suat u
l ogam. Cont ohnya, suat u l api san t i pi s l ogam chr omi um pada
bemper baj a mobi l unt uk membuat nya menar i k dan
mel i ndungi nya dar i kar at . Pel api san emas dan per ak di l akukan
pada bar ang-bar ang per hi asan yang ber asal dar i bahan-bahan
l ogam yang mur ah. Ber bagai l api san- l api san t i pi s l ogam
t er sebut ket ebal annya ber ki sar ant ar a 0, 03 s/ d 0, 05 mm.

2. Pembuat an Al umi ni um
Bauksi t adal ah bi j i al umi ni um yang mengandung Al
2
O
3
-
.
Unt uk mendapat kan al umi ni um, bi j i h t er sebut di mur ni kan dan
Al
2
O
3
nya di l ar ut kan dan di di sosi asi kan dal am l ar ut an
el ekt r ol i t ‚ er yol i t e’ . Pada kat oda, i on-i on al umi ni um di r eduksi
menghasi l kan l ogam yang t er bent uk sebagai l api san t i pi s
di bagi an bawah wadah el ekt r ol i t . Pada anoda yang t er buat
dar i kar bon, i on oksi da t er oksi dasi menghasi l kan O
2
bebas.
Reaksi nya adal ah :
Al
3+
+ 3 e
-
Æ Al
( l )
( kat oda)
2 O
2-
Æ O
2( g)
+ 4 e
-
(anoda)

4 Al
3+
+6 O
2-
Æ 4Al
( l )
+ 3 O
2( g)
(t ot al )


3. Pembuat an Magnesi um
Sumber ut ama magnesi um adal ah ai r l aut . Mg
2+

mempunyai kel i mpahan t er besar ket i ga dal am l aut ,
kal ahannya ol eh i on nat r i um dan i on kl or i da. Unt uk

183
memper ol eh magnesi um, Mg( OH)
2
di endapkan dar i ai r l aut .
Pemi sahan i t u di l akukan dengan car a f i l t r asi dan l al u
di l ar ut kan dal am asam hi dr okl or i t .

Mg(OH)
2
+ 2HCl Æ MgCl
2
+ 2H
2
O

Lar ut an MgCl
2
di uapkan dan menghasi l kan MgCl
2
padat yang
l al u di l el ehkan dan akhi r nya di el ekt r ol i sa. Magnesi um bebas
akan di endapkan pada kat oda dan gas kl or i n di hasi l kan pada
anoda.

MgCl
2( l )
Æ Mg
( l )
+ Cl
2( g)

4. Penyul i ngan Tembaga
Sal ah sat u el ekt r ol i si s yang pal i ng menar i k adal ah
pemur ni an at au penyul i ngan l ogam t embaga. Tembaga dapat
di mbi l dar i bi j i nya, edngan car a i ni sampai ke t i ngkat
kemur ni an 99%. Pengot or nya sebagi an besar adal ah per ak,
emas, pl at i na, besi dan seng menur unkan kondukt i vi t as l i st r i k
t embaga secar a dr ast i s sehi ngga har us di sul i ng ul ang sebel um
di pakai sebagai kawat at au kabel .














Gambar 9. 12. Sel penyul i ngan t embaga


Tembaga t i dak mur ni di pakai sebagai el ekt r oda
sebagai anoda pada sel el ekt r ol i si s yang mengandung l ar ut an
t embaga sul f at dan asam sul f at (sebagai el ekt r ol i t ). Kat oda
pada si st em i ni adal ah t embaga dengan kemur ni an t i nggi . Ji ka
sel nya di j al ankan pada t egangan yang di per l ukan, hanay
t embaga dan pengot or nya yang l ebi h mudah t er oksi dasi
dar i pada t embaga, seng dan besi yang l ar ut di seki t ar anoda.
Logam-l ogam yang kur ang akt i f akan r unt uh dan mengendap
di bagi an dasar wadah. Pada kat oda, i on t embaga di r eduksi
t et api i on seng dan i on besi t er t i nggal di l ar ut an kar ena l ebi h
sukar t er eduksi dar i pada t embaga. Secar a pel an- pel an
Fe
2+
, Zn
2+
, Cu
2+
, SO
4
2-


184
t embaga anoda t er l ar ut dan t embaga kat oda maki n t umbuh.
Suat u saat t embaga akan mempunyai kemur ni an 99, 95%!
Kot or an yang t er kumpul di bagi an bawah bi asanya
di sebut sebgai anoda, dapat di pi ndahkan secar a per i odi k dan
ni l ai per ak, emas dan pl at i na dapat pul a di hi t ung unt uk
memper ol eh t ot al ef i si ensi pel aksanaan pr oses penyul i ngan.

5. El ekt r ol i si s Br i ne
Br i ne ( =’ ai r asi n’ ) adal ah l ar ut an nat r i um kl or i da
j enuh. Pada kat oda, ai r l ebi h mudah di r eduksi dar i pada i on
nat r i um dan gas H
2
akan t er bent uk.
Reaksi :
2e
-
+ 2H
2
O Æ H
2( g)
+ 2OH
-
( aq)

Wal aupun ai r l ebi h mudah t er oksi dasi dar i pada i on kl or i da,
namun seper t i t el ah di sebut bahwa ada f akt or -f akt or yang
kompl eks yang mempengar uhi sehi ngga yang t er oksi dasi
adal ah i on kl or i da.

9.7 Potensial elektroda













Gambar 9. 13. Pot ensi al el ekt r oda

1. Penger t i an
Mer upakan ukur an t er hadap besar nya kecender ungan suat u unsur
unt uk mel epaskan at au memper t ahankan el ekt r on
2. El ekt r oda Hi dr ogen
- E° H
2
di ukur pada 25° C, 1 at m dan {H
+
} = 1 mol ar
- E° H
2
= 0. 00 vol t
3. El ekt r oda Logam
- E° l ogam di ukur t er hadap E° H
2

- Logam sebel ah ki r i H : E° el ekt r oda < 0
- Logam sebel ah kanan H : E° el ekt r oda > 0
4. Car a Menghi t ung Pot ensi al El ekt r oda Sel
1. E° sel = E° r ed - E° oks
2. E sel = E°sel - RT/ nF l nC
Pada 25° C :
E sel = E°sel - 0. 059/ n l og C

185
El ekt r oda t er gant ung pada :
• Jeni s El ekt r oda
• Suhu
• Konsent r asi i onnya

Cat at an :
E° = pot ensi al r eduksi st andar ( vol t )
R = t et apan gas- vol t . coul omb/ mol . °K]
= 8. 314
T = suhu mut l ak (°K)
n = j uml ah el ekt r on
F = 96. 500 coul omb
C = [ bent uk oksi dasi ] / [ bent uk r eduksi ]

9.8 Hukum faraday













Gambar 9. 14. Mi chael f ar aday

Banyaknya zat yang di hasi l kan dar i r eaksi el ekt r ol i si s
sebandi ng dengan banyaknya ar us l i st r i k yang di al i r kan kedal am
l ar ut an. hal i ni dapat di Gambar kan dengan hukum f ar aday 1













Gambar 9. 15. Hukum Far aday



186
F
t i e
W
. .
=

W = massa zat yang di hasi l kan
n
A
e
r
=
i = ar us dal am amper e
t = wakt u dal am sat uan det i k
F = t et apan Far ady,
1 F = 96500 C
i . t = Q = ar us dal am sat uan C
=
F
t i.
ar us dal am sat uan Far ady
=
e
W
mol el ekt r on

Mol el ekt r on dar i suat u r eaksi sama dengan per ubahan bi l oks
1 mol zat . Dar i r umusan di at as di per ol eh :


Juml ah Far ady = mol el ekt r on
=per ubahan bi l . oksi dasi 1 mol zat

Dal am penent uan massa zat yang di hasi l kan dal am r eaksi el ekt r ol i si s,
bi asanya dat a yang di ket ahui adal ah Ar bukan e, sedangkan
n
A
e
r
= sehi ngga r umusan Hukum Far ady 1 menj adi :


F n
t i A
W
r
.
. .
=

n = val ensi at au banyaknya mol el ekt r on unt uk set i ap mol zat .















187
9.9 KOROSI

















Gambar 9. 16. Per i st i wa kor osi

Kor osi adal ah per i st i wa per usakan l ogam aki bat t er j adi nya r eaksi
ki mi a dengan l i ngkungan yang menghasi l kan pr oduk yang t i dak
di i ngi nkan. Li ngkungan dapat ber upa asam, basa, oksi gen dar i udar a,
oksi gen di dal am ai r at au zat ki mi a l ai n. Per kar at an besi adal ah
per i st i wa el ekt r oki mi a sebagai ber i kut :

- Besi di oksi dasi ol eh H
2
O at au i on hydr ogen
Fe
( s)
Æ Fe
2+
( aq)
+ 2e
-
(oksi dasi )
2 H
+
( aq)
Æ

2 H
(aq)
( r eduksi )

- At om- at om H ber gabung menghasi l kan H
2

2 H
( aq)
Æ H
2( g)

- At om-at om H ber gabung dengan oksi gen
2 H
( aq)
+ ½ O
2( aq)
Æ H
2
O
( l )

- Ji ka konsent r asi H+ cukup t i nggi (pH r endah), maka r eaksi
Fe + 2H
+
( aq)
Æ 2H
( aq)
+ Fe
2+
( aq)

2 H
( aq)
Æ H
2( g)

- Ion Fe
2+
j uga ber eaksi dengan oksi gen dan membent uk kar at
(cokl at keer ah-mer ahan ) dengan menghasi l kan i on H
+
yang
sel anj ut nya di r eduksi menj adi H
2-


4 Fe
2+
( aq)
+ O
2(aq)
+ 4 H
2
O
( l )
+ 2
x
H
2
O
( l )
Æ 2 Fe
2
O
3
H
2
O)
x( s)
+ 8H
+

Reaksi t ot al nya menj adi
4 Fe
( s)
+ 3 O
2( aq)
+ 2
x
H
2
O
( l )


Æ 2 Fe
2
O
3
H
2
O)
x( s)

188
9.9.1 Korosi dapat dihambat dengan beberapa cara, misalnya :

10. Pemakai an l ogam al l oy dengan car a
a. Pembent ukan l api san pel i ndung
b. Menai kkan t egangan el ekt r ode

11. Pemakai an l api san pel i ndung dengan car a :
a. Pengecat an
b. Pel api san senyawa or gani k ( pel umas)
c. Pel api san dengan gel as
d. Pel api san dengan l ogam
e. Di l api si l ogam yang l ebi h mul i a
f . Di l api si l ogam yang l ebi h mudah t er oksi dasi
g. Menanam bat ang- bat ang l ogam yang l ebi h akt i f dekat
l ogam besi dan di hubungkan
h. Di campur dengan l ogam l ai n
12. El ekt r oki mi awi dengan car a el i mi nasi per bedaan t egangan :
a. Menai kkan kemur ni an l ogam
b. Mencegah kont ak 2 l ogam
c. Memakai i nhi bi t or
d. Isol asi l ogam dar i l ar ut an, dan l ai n-l ai n.

9.9.2 Faktor yang berpengaruh terhadap korosi

1. Kel embaban udar a
2. El ekt r ol i t
3. Zat t er l ar ut pembent uk asam (CO
2
, SO
2
)
4. Adanya O
2

5. Lapi san pada per mukaan l ogam
6. Let ak l ogam dal am der et pot ensi al r eduksi


KESIMPULAN

El ekt r ol i si s. pada sel el ekt r ol i si s, al i r an l i st r i k menyebabkan r eduksi
pada muat an negat i f di kat oda dan oksi dasi pada muat an posi t i f di
anoda.
Apl i kasi el ekt r ol i si s. El ekt r opl at t i ng, pr oduksi Al umi ni um dan
Magnesi um, pemur ni an t embaga, dan el ekt r ol i si s dar i pel el ehan NaCl .

Kor osi l ogam adal ah sal ah sat u masal ah yang pal i ng pent i ng yang
di hadapi ol eh kel ompok i ndust r i maj u. pengar uh kor osi dapat t er l i hat
(pembent ukan kar at pada per mukaan besi ) dan t i dak t er l i hat
( ker et akan ser t a t er j adi nya pengur angan kekuat an l ogam di bawah
per mukaan).






189
Latihan soal
1. Ber apa Far aday ar us yang di per l ukan unt uk mer eduksi 40 gr am i on
kal si um menj adi l ogam kal si um ( Ar Ca = 40)
a. 1
b. 1, 5
c. 2
d. 2, 5
e. 3

2. Pada r eaksi el ekt r ol i si s l ar ut an CuSO4 dengan el ekt r oda Cu,
di anoda yang di oksi dasi adal ah. . . .
a. Cu
b. SO
4
2-

c. Cu
2+

d. H
2
O
e. H
2


3. Di ket ahui : Pb
2+
+ 2e Æ Pb Eº = - 0, 13 V
Zn
2+
+ 2e Æ Zn Eº = - 0, 76 V
Pot ensi al sel unt uk r eaksi Zn | Zn
2+
| | Pb
2+
| Pb adal ah. . . .
a. - 1, 20 V
b. + 1, 20 V
c. - 0, 32 V
d. – 0, 76 V
e. + 0, 32 V

4. Di ket ahui :





maka,










5. Pada el ekt r ol i si s PbCl
2
dengan menggunakan el ekt r oda Pt , di
kat oda akan di hasi l kan…. .
a. Cl
2

b. Cl ¯
c. Pb
d. Pb
2+

e. PbCl
2


190

6. Set ar akan r eaksi r edoks ber i kut :
a. Br O
3
-
+ Fe
2+
Æ Br
-
+ Fe
3+

b. Cu + HNO
3
Æ Cu(NO
3
)
2
+ NO
2
+ H
2
O
c. Cl
2
+ Br
-
Æ Br
2
+ Cl
-


7. Dengan manggunakan pot ensi al st andar t r eduksi dar i t abel ,
t ent ukan har ga pot ensi al sel dan apakah r eaksi ber l angsung at au
t i dak?

a. 2Ag
+
+ Zn
(s)
Æ 2Ag
( s)
+ Zn
2+


b. 3Cd
2+
+ 2Al
( s)
Æ 3Cd
( s)
+ 2Al
3+


c. Cu
2+
| Cu
(s)
ΠPb
( s)
| Pb
2+



8. Tul i skan r eaksi el ekt r ol i si s ber i kut :
a. Lar ut an KCl dengan kat oda baj a dan anoda pl at i na
b. Lar ut an K
2
SO
4
dengan el ekt r odeaCu.
c. Lar ut an CdSO
4
dengan el ekt r oda besi

9. Pada el ekt r ol i si s l ar ut an ZnSO
4
, di per ol eh 26 gr am endapan l ogam
Zn ( Ar = 65) sel ama 2, 5 j am. Ji ka 1 F = 96500 Coul omb, t ent ukan
ber apa amper e ar us yang di hasi l kan?

10. Dua l ar ut an AgNO
3
dan l ar ut an LSO
4
yang di susun secar a ser i
di al i r i ar us l i st r i k sehi ngga menghasi l kan 5, 4 gr am l ogam Ag dan
7, 2 gr am l ogam L. Ji ka Ar . Ag = 108, maka t ent ukan massa at om
r el at i f (Ar ) L.

11. Apa yang di maksud r eaksi r eduksi dan oksi dasi ?

12. Ber i kan cont oh per i st i wa r edoks!
13. Sebut kan ber apa saj a bi l angan oksi dasi unt uk unsur - unsur
hal ogen!

14. Sebut kan l angkah-l angkah unt uk menyet ar akan r eaksi r edoks!

15. Sebut kan t ahapan unt uk menyet ar akan per samaan r edoks!

16. Ber i kan cont oh r eaksi r edoks dal am suasana asam!

17. Jel askan per bedaan oksi dasi dan r eduksi kl asi k dan moder n!

18. Apa beda el ekt r oki mi a dan sel el ekt r oki mi a, ber i kan cont oh
r eaksi nya?

19. Sebut kan maam dan pr i nsi p sel vol t a/ gal vani !


191
20. Apa yang di maksud r eaksi spont an?

21. Ber i kan cont oh r eaksi set engah sel dan t ent ukan Q!

22. Sebut kan dan j el askan apl i kasi sel gal vani !

23. Apa penger t i an pot ensi al el ekt r oda?

24. Mengapa E
o
H
2
di j adi kan ener gi pot ensi al st andar ?

25. Bagai mana car a menghi t ung pot ensi al el ekt r oda sel ?

26. Sebut kan 3 hal yang mempengar uhi el ekt r oda!

27. Apa yang di maksud per i st i wa kor osi , ber i kan cont oh r eaksi kor osi
pada l ogam Fe?


192



193
10. Kinetika Kimia






















Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi
Menentukan laju reaksi dan orde
reaksi
Menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi
Menentukan kalor pembakaran
berbagai bahan bakar
Tujuan pembelajaran
1. Mengetahui dan memahami definisi laju reaksi dan
menentukan perubahan konsentrasi per satuan waktu
dalam bentuk persamaan laju reaksi.
2. Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip reaksi dalam
hukum laju.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan reaksi, yaitu: konsentrasi, sifat zat yang
bereaksi, suhu dan katalisator.
4. Mengetahui dan memahami teori dan peristiwa
tumbukan, serta prinsip-prinsip dan faktor-faktor yang
mempengaruhi tumbukan.
5. Mengetahui dan memahami definisi orde reaksi dan
ungkapan orde reaksi pada persamaan laju reaksi, serta
cara menentukan orde reaksi.




194
Mengapa beberapa reaksi kimia berlangsung secepat kilat
sementara yang lainnya memerlukan waktu berhari-hari, berbulan-
bulan bahkan tahunan untuk menghasilkan produk yang cukup banyak?
Bagaimana katalis bisa meningkatkan laju reaksi kimia? Mengapa
perubahan suhu yang sedikit saja sering memberikan efek besar pada
laju memasak? Bagaimana kajian mengenai laju reaksi kimia
memberikan informasi tentang bagaimana cara molekul bergabung
membentuk produk? Semua pertanyaan ini menyangkut kinetika kimia
belum selengkap seperti termodinamika. Masih banyak reaksi yang
tetapan kesetimbangannya telah diketahui dengan cermat, tetapi
perincian lintasan reaksinya masih belum dipahami. Ini terutama
berlaku untuk reaksi yang melibatkan banyak unsur reaktan yang
membentuk produknya.
Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang
mempelajari laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat
berkarat dalam udara lembab daripada dalam udara kering; makanan
lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan; kulit bule lebih cepat
menjadi gelap dalam musim panas daripada dalam musim dingin. Ini
merupakan tiga contoh yang lazim dari perubahan kimia yang
kompleks dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi.

10. 1 Definisi Laju Reaksi









Gambar 10.1 Mobil yang sedang melaju

Laju reaksi rerata analog dengan kecepatan rerata mobil. Jika
posisi rerata mobil dicatat pada dua waktu yang berbeda, maka :

aktu perubahanw
okasi perubahanl
h waktutempu
itempuh jarakyangd
= = rerata Kecepatan


Dengan cara yang sama, laju reaksi rerata diperoleh dengan
membagi perubahan konsentrasi reaktan atau produk dengan interval
waktu terjadinya reaksi :
aktu perubahanw
onsentrasi perubahank
rerata Lajureaksi =


195
Jika konsentrasi diukur dalam mol L
-1
dan waktu dalam detik,
maka laju reaksi mempunyai satuan mol L
-1
s
-1
. Kita ambil contoh
khusus. Dalam reaksi fasa gas
) ( 2 ) ( ) ( ) ( 2 g g g g
CO NO CO NO + ÷ +

NO
2
dan CO dikonsumsi pada saat pembentukan NO dan CO
2
. Jika
sebuah kuar dapat mengukur konsentrasi NO, laju reaksi rerata dapat
diperkirakan dari nisbah perubahan konsentrasi NO, ∆[NO] terhadap
interval waktu, ∆t:
| |
| | | |
i f
i f
t t
NO NO
t
NO
lajurerata
÷
÷
=
A
A
=

Jadi laju reaksi adalah besarnya perubahan konsentrasi
reaktan atau produk dalam satu satuan waktu. Perubahan laju
konsentrasi setiap unsur dibagi dengan koefisiennya dalam persamaan
yang seimbang/stoikiometri. Laju perubahan reaktan muncul dengan
tanda negatif dan laju perubahan produk dengan tanda positif.
Untuk reaksi yang umum:
dD cC bB aA + ÷ +
Lajunya ialah
| | | | | | | |
dt
D d
d dt
C d
c dt
B d
b dt
A d
a
Laju
1 1 1 1
= = ÷ = ÷ =

Hubungan ini benar selama tidak ada unsur antara atau jika
konsentrasinya bergantung pada waktu di sepanjang waktu reaksi.
Menentukan Laju Reaksi :
Perhatikan penguraian nitrogen dioksida, NO
2
menjadi nitrogen
oksida, NO dan oksigen, O
2
:
2 2
2 2 O NO NO + ÷

b. Tulislah pernyataan untuk laju rata-rata berkurangnya
konsentrasi NO
2
dan laju rata-rata bertambahnya konsentrasi
NO dan O
2
.
c. Jika laju rata-rata berkurangnya konsentrasi NO
2
ditetapkan dan
dijumpai sebesar 4x10
-13
mol L
-1
s
-1
, berapakah laju rata-rata
padanannya (dari) bertambahnya konsentrasi No dan O
2


Jawaban :

a. Laju rata-rata berkurangnya konsentrasi NO
2
dinyatakan sebagai :


196
| |
t
NO
A
A
÷
2

Laju rata-rata bertambahnya konsentrasi NO dan O
2
dinyatakan
sebagai:
dan
| |
t
O
A
A
2

b. Untuk tiap dua molekul NO
2
yang bereaksi terbentuk dua
molekul NO. Jadi berkurangnya konsentrasi NO
2
dan
bertambahnya konsentrasi NO berlangsung dengan laju yang sama
:
| | | |
1 1 13 2
10 4
÷ ÷ ÷
=
A
A
=
A
A
÷ s molL x
t
NO
t
NO

10.2 Hukum Laju

Dalam membahas reaksi kesetimbangan kimia telah
ditekankan bahwa reaksi ke kanan maupun ke kiri dapat terjadi begitu
produk terbentuk, produk ini dapat bereaksi kembali menghasilkan
reaktan semula.
Laju bersih ialah:
Laju bersih = laju ke kanan – laju ke kiri
Dapat dikatakan, pengukuran konsentrasi memberikan laju bersih,
bukannya sekedar laju ke kanan. Bagaimanapun, sesaat sebelum
reaksi yang dimulai dari reaktan murni, konsentrasi reaktan jauh lebih
tinggi dibandingkan produknya sehingga laju ke kiri dapat diabaikan.
Selain itu, banyak reaksi berlangsung sempurna (K>>1) sehingga laju
yang terukur hanyalah reaksi ke kanan atau eksperimen dapat diatur
agar produknya dapat dialihkan jika terbentuk. Dalam subbab ini,
persamaan diberikan pada laju ke kanan saja.
10.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi
antara lain konsentrasi, sifat zat yang bereaksi, suhu dan katalisator.








| |
t
NO
A
A


197
A. Konsentrasi

















Gambar 10.2 Pengaruh Konsentrasi


Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar
konsentrasi zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung.
Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga
makin besar kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian
makin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi.

B. Sifat Zat Yang Bereaksi

Sifat zat yang mudah atau sukar bereaksi akan menentukan
kecepatan berlangsungnya suatu reaksi.

Secar a umum di nyat akan bahwa: ”Reaksi ant ar a senyawa i on
umumnya ber l angsung cepat . ”

Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion
yang muatannya berlawanan.
Contoh:

Ca
2+
(aq)
+ CO
3
2+
(aq)
÷ CaCO
3(s)


Reaksi ini berlangsung dengan cepat.

Reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat.

Hal ini disebabkan oleh reaksi yang berlangsung tersebut
membutuhkan energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang
terdapat dalam molekul zat yang bereaksi.
Contoh:



198
CH
4(g)
+Cl
2(g)
÷CH
3
Cl
(g)
+HCl
(g)

Reaksi ini berjalan lambat reaksinya dapat dipercepat apabila diberi
energi, misalnya; cahaya matahari.

C. Suhu




















Gambar 10.3 Pengaruh suhu


Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu
dinaikkan. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-
molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih
banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea.
Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan
transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar.
Secara matematis hubungan antara nilai tetapan laju reaksi (k)
terhadap suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS:












Gambar 10.4 Svante August Arrhenius


199
kita menggunakan
symbol Ayang
berarti perubahan

RT E
a
Ae k
/ ÷
=

dimana:
k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E
a
: energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0,0821.atm/mol
o
K atau 8,314 Joule/mol
o
K
T : suhu reaksi (
o
K)
Setiap suhu naik 10
0
C, laju reaksi menjadi dua kali lipatnya.
0
10
2 V V
t A
=
∆t = kenaikan suhu

Contoh : Suatu reaksi berlangsung selama 2 jam pada suhu 25
0
C.
Berapa kalikah laju reaksi akan meningkat jika suhu diubah menjadi
45
0
C ?
Penyelesaian :
Kenaikan suhu (∆t) = 45 – 25
= 20
0
C
÷ = =
0 0
10
20
4 2 V V V
Laju reaksi menjadi 4X atau lama reaksi menjadi
2/4 jam.
Laju reaksi meningkat, reaksi akan semakin cepat berlangsung).

D. Katalisator









Gambar 10.5 Mekanisme Reaksi Tanpa Atau Dengan Katalis


Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu
reaksi yang mempunyai tujuan memperbesar kecepatan reaksi.
Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami
perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi


200
katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama
seperti sebelum reaksi.
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya
(mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan
suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan
menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi
dapat berlangsung lebih cepat.
Halaman ini menitik- beratkan pada perbedaan tipe-tipe
katalis (heterogen dan homogen) beserta dengan contoh-contoh dari
tiap tipe, dan penjelasan bagaimana mereka bekerja. Anda juga akan
mendapatkan deskripsi dari satu contoh autokatalis reaksi dimana
hasil produk juga turut mengkatalis.















Gambar 10.6 Fungsi katalis


E. Tipe-tipe dari reaksi katalis

Katalis dapat dibagi berdasarkan dua tipe dasar, yaitu
heteregon dan homogen. Didalam reaksi heterogen, katalis berada
dalam fase yang berbeda dengan reaktan. Dalam reaksi homogen,
katalis berada dalam fase yang sama dengan reaktan.
Apa itu fase?
Jika kita melihat suatu campuran dan dapat melihat suatu
batas antara dua komponen, dua komponen itu berada dalam fase
yang berbeda. Campuran antara padat dan cair terdiri dari dua fase.
Campuran antara beberapa senyawa kimia dalam satu larutan terdiri
hanya dari satu fase, karena kita tidak dapat melihat batas antara
senyawa-senyawa kimia tersebut.









201












Gambar 10.7 Campuran 2 fase dan 1 fase


Kita mungkin bertanya mengapa fase berbeda dengan istilah
keadaan fisik (padat, cair dan gas). Fase juga meliputi padat, cair dan
gas, tetapi lebih sedikit luas. Fase juga dapat diterapkan dalam dua
zat cair (sebagai contoh, minyak dan air) dimana keduanya tidak
saling melarutkan. Kita dapat melihat batas diantara kedua zat cair
tersebut.











Gambar 10.8 Campuran 2 fase

Jika Anda lebih cermat, sebenarnya diagram diatas
menggambarkan lebih dari fase yang diterakan. Masing-masing,
sebagai contoh, beaker kaca merupakan fase zat padat. Sebagian
besar gas yang berada diatas zat cair juga merupakan salah satu fase
lainnya. Kita tidak perlu memperhitungkan fase-fase tambahan ini
karena mereka tidak mengambil bagian dalam proses reaksi.

F.Katalis Homogen

Bagian ini meliputi penggunaan katalis dalam fase berbeda
dari reaktan. Contoh-contoh meliputi katalis padat dengan reaktan-
reaktan dalam fase cair maupun gas.






202
10.4 Teori Tumbukan

Teori tentang tumbukan didasarkan atas teori kinetik gas yang
mengamati tentang bagaimana suatu reaksi kimia dapat terjadi.
Menurut teori tersebut kecepatan reaksi antara dua jenis
molekul A dan B sama dengan jumlah tumbukan yang terjadi per
satuan waktu antara kedua jenis molekul tersebut. Jumlah tumbukan
yang terjadi persatuan waktu sebanding dengan konsentrasi A dan
konsentrasi B. Jadi makin besar konsentrasi A dan konsentrasi B akan
semakin besar pula jumlah tumbukan yang terjadi.


















Gambar 10.9 Tumbukan Molekul

Teori tumbukan ini ternyata memiliki beberapa kelemahan, antara
lain :
- Tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi sebab
ada energi tertentu yang harus dilewati (disebut energi aktivasi
= energi pengaktifan) untak dapat menghasilkan reaksi. Reaksi hanya
akan terjadi bila energi tumbukannya lebih besar atau sama dengan
energi pengaktifan (Ea).
- Molekul yang lebih rumit struktur ruangnya akan menghasilkan
tumbukan yang tidak sama jumlahnya jika dibandingkan dengan
molekul yang sederhana struktur ruangnya.
Teori tumbukan di atas diperbaiki oleh teori keadaan transisi
atau teori laju reaksi absolut. Dalam teori ini diandaikan bahwa ada
suatu keadaan yang harus dilewati oleh molekul-molekul yang
bereaksi dalam tujuannya menuju ke keadaan akhir (produk).
Keadaan tersebut dinamakan keadaan transisi. Mekanisme reaksi
keadaan transisi dapat ditulis sebagai berikut:
Dimana:
- A dan B adalah molekul-molekul pereaksi
- T* adalah molekul dalam keadaan transisi
-C dan D adalah molekul-molekul hasil reaksi.


203
Secara diagram keadaan transisi ini dapat dinyatakan sesuai
kurva berikut:




















Gambar 10.10 Kurva Hubungan Energi Reaksi Dengan Koordinat Reaksi


Dari diagram terlibat bahwa energi pengaktifan (Ea) merupakan
energi keadaan awal sampai dengan energi keadaan transisi. Hal itu
berarti bahwa molekul-molekul pereaksi harus memiliki energi paling
sedikit sebesar energi pengaktifan (Ea) agar dapat mencapai keadaan
transisi (T*) dan kemudian menjadi hasil reaksi (C + D).
Catatan : Energi pengaktifan (= energi aktivasi) adalah jumlah
energi minimum yang dibutuhkan oleh molekul-molekul pereaksi agar
dapat melangsungkan reaksi.
Dalam suatu reaksi kimia berlangsungnya suatu reaksi dari
keadaan semula (awal) sampai keadaan akhir diperkirakan melalui
beberapa tahap reaksi.
Contoh :
(g) Br 2 O(g) H 2 (g) O HBr(g) 4
2 2 2
+ ÷ +



D C T B A + ÷ ÷ +
*


204
Nilai dari k
bergantung pada
reaksi particular
yang diketahui
sebagai
temperature pada
saat reaksi terjadi
Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa tiap 1 molekul O
2

bereaksi dengan 4 molekul HBr.
Suatu reaksi baru dapat berlangsung apabila ada tumbukan yang
berhasil antara molekul-molekul yang bereaksi. Tumbukan sekaligus
antara 4 molekul HBr dengan 1 molekul O
2
kecil sekali
kemungkinannya untuk berhasil. Tumbukan yang mungkin berhasil
adalah tumbukan antara 2 molekul yaitu 1 molekul HBr dengan 1
molekul O
2
. Hal ini berarti reaksi di atas harus berlangsung dalam
beberapa tahap dan diperkirakan tahap-tahapnya adalah :
Tahap 1: (lambat) HOOBr
2
O HBr ÷ +
Tahap 2: (cepat) 2HOBr HOOBr HBr ÷ +
Tahap 3:
(cepat) 2 x ) Br O H HOBr (HBr
2 2
+ ÷ +
2 2 2
Br 2 O 2H - - O HBr 4 + > +

Dari contoh di atas ternyata secara eksperimen kecepatan
berlangsungnya reaksi tersebut ditentukan oleh kecepatan reaksi
pembentukan HOOBr yaitu reaksi yang berlangsung paling lambat.
Rangkaian tahap-tahap reaksi dalam suatu reaksi disebut
"mekanisme reaksi" dan kecepatan berlangsungnya reaksi keseluruhan
ditentukan oleh reaksi yang paling lambat dalam mekanisme reaksi.
Oleh karena itu, tahap ini disebut tahap penentu kecepatan reaksi.

10.5 Orde Reaksi
Orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen (dari
konsentrasi dalam persamaan laju. Orde reaksi juga menyatakan
besarnya pengaruh konsentrasi reaktan (pereaksi) terhadap laju reaksi
Jika laju suatu reaksi berbanding lurus dengan pangkat satu
konsentrasi dari hanya satu pereaksi
Laju = k [A]
Maka reaksi itu dikatakan sebagai reaksi orde pertama. Penguraian
N
2
O
5
merupakan suatu contoh reaksi orde pertama. Jika laju reaksi itu
berbanding lurus dengan pangkat dua suatu pereaksi,
Laju = k[A]
2

Atau berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari dua
pereaksi,
Laju = k [A][B]
Maka reaksi itu disebut reaksi orde kedua. Dapat juga disebut
orde terhadap masing-masing pereaksi. Misalnya dalam persamaan
terakhir itu adalah orde pertama dalam A dan orde dalam B, atau
orde kedua secara keseluruhan. Suatu reaksi dapat berorde ketiga
atau mungkin lebih tinggi lagi, tetapi hal-hal semacam itu sangat
jarang. Dalam reaksi yang rumit, laju itu mungkin berorde pecahan,


205
Satuan konstanta
laju umumnya
adalah mol L
-1
s
-1
.
misalnya orde pertama dalam A dan orde 0,5 dalam B atau berorde
1,5 secara keseluruhan.
Suatu reaksi dapat tak tergantung pada konsentrasi suatu
pereaksi. Perhatikan reaksi umum , yang ternyata berorde pertama
dalam A. Jika kenaikan konsentrasi B tidak menaikkan laju reaksi,
maka reaksi itu disebut orde nol terhadap B. Ini bisa diungkapkan
sebagai :
Laju = k[A][B]
0
= k[A]
Orde suatu reaksi tak dapat diperoleh dari koefisien pereaksi
dalam persamaan berimbangnya. Dalam penguraian N
2
O
5
dan NO
2
,
koefisien untuk pereaksi dalam masing-masing persamaan berimbang
adalah 2 tetapi reaksi pertama bersifat orde pertama dalam N
2
O
5
dan
yang kedua berorde kedua dalam NO
2
. Seperti dilukiskan oleh contoh.
Contoh: Perhatikan reaksi umum AB 2 B 2A
2
÷ +
dan data eksperimen berikut :

Tabel 10.1 Data hasil eksperimen

Eksperimen [A] [B] Laju ml.L
-1
s
-1

1 0,50 0,50 1,6x10
-4

2 0,50 1,00 3,2x10
-4

3 1,00 1,00 3,2x10
-4


Tulislah persamaan laju yang paling mungkin untuk reaksi ini:

Jawaban :
Dengan membandingkan data dalam eksperimen 2 dengan
data eksperimen 1, orang akan melihat bahwa bila konsentrasi B
2
diduakalikan, maka laju diduakalikan. Jadi reaksi itu berorde pertama
dalam B
2
. Dengan membandingkan data dalam eksperimen 3 dengan
data eksperimen 2, orang akan melihat bahwa bila konsentrasi A
diduakalikan, laju tidak berubah. Jadi reaksi itu berorde nol dalam A.
Maka persamaan laju yang paling mungkin adalah

| | | |
2
0
B A k Laju =

atau

| |
2
B k Laju =
Suatu pereaksi malahan dapat tidak muncul dalam persamaan
laju suatu reaksi. Orde suatu reaksi diberikan hanya atas dasar
penetapan eksperimental dan sekedar memberi informasi mengenai
cara laju itu bergantung pada konsentrasi pereaksi-pereaksi tertentu.
Ramalan teoritis mengenai orde-orde (dari) reaksi-reaksi yang kurang
dikenal jarang berhasil. Misalnya mengetahui bahwa reaksi antara H
2



206
dan I
2
adalah orde kedua mungkin orang akan meramal bahwa reaksi
antara H
2
dan Br
2
juga akan berorde-kedua. Ternyata tidak, malahan
reaksi ini mempunyai persamaan laju yang lebih rumit.
Menentukan Orde reaksi
a. Jika tahap reaksi dapat diamati, orde adalah koefisien pada tahap
reaksi yang berjalan lambat.
Contoh: reaksi
2 2 2
2 2 O 4HBr Br O H + ÷ +
Berlangsung dalam tahapan sebagai berikut :

2 2
2
2 2
2 2 2 2 . 3
2 . 2
. 1
Br O H HBrO HBr
HBrO HBrO HBr
HBrO O HBr
+ ÷ +
÷ +
÷ +
) (
) (
) (
cepat
cepat
lamba


Maka orde reaksi ditentukan oleh reaksi (1). Persamaan laju reaksi, V
= [HBr] [O
2
]. Orde reaksi total (lihat koefisien reaksi) = 1 + 1 = 2.
b. Jika tahap reaksi tidak bisa diamati, orde reaksi ditentukan melalui
eksperimen, konsentrasi salah satu zat tetap dan konsentrasi zat lain
berubah.

Contoh :
Reaksi : Y X R Q P + ÷ + +
diperoleh data percobaan sebagai berikut :

Tabel 10.2 Orde reaksi

orde reaksi terhadap P, dicari dengan melihat konsentrasi [Q] dan [R]
yang tetap. Dari data (1) dan (3) dari konsentrasi [Q] dan [R] tetap,
[P] dinaikkan dua kali.
Jadi reaksi berlangsung 2 kali lebih cepat.

2
m
= 2 ÷ m = 1
- Orde reaksi terhadap Q, lihat konsentrasi [P] dan [R] yang tetap
yakni sebagai berikut.
Data (4) dan (5) ÷ 1,5 kali lebih cepat
Data (1) dan (4) ÷ 2 kali lebih cepat
Data (1) dan (5) ÷ 3 kali lebih cepat
[P] [Q] [R] Waktu
1 0,1 0,1 0,2 6 menit
2 0,1 0,1 0,3 6 menit
3 0,2 0,1 0,2 3 menit
4 0,1 0,2 0,2 3 menit
5 0,1 0,3 0,2 2 menit


207
Ingat : orde reaksi ditentukan oleh tahap reaksi yang paling lambat
1,5
n
= 1,5
n = 1
- Orde reaksi terhadap R, lihat konsentrasi [P] dan [Q] tetap yakni
data (1) dan (2). Konsentrasi R dinaikkan 1,5 kali, ternyata reaksi
berlangsung sama cepat.
1,5
x
= 1
x = 0
Maka persamaan laju reaksinya sebagai berikut:
V = k[P] [Q]


KESIMPULAN

Laju reaksi. kecepatan atan laju reaksi di kontrol oleh 5 faktor :
1. sifat reaktan
2. kemampuan reaktan untuk bertemu
3. konsentrasi reaktan
4. temperatur
5. adanya katalis

penentuan lahu reaksi kimia menggunakan persamaan :
) ( / ) ( waktu i konsentras laju A A =

Hukum laju untuk reaksi berhubungan dengan laju reaksi dengan
konsentrasi molar reaktan.


Latihan Soal :
1. Kenaikan suhu akan memperbesar laju reaksi karena
pertambahan ...
a. Energi aktivasi
b. Konsentrasi zat pereaksi
c. Energi kinetik molekul pereaksi
d. Tekanan
e. Luas permukaan zat pereaksi
2. Korek api dapat menyala bila digesekkan, hal ini merupakan
pengaruh laju reaksi oleh :
a. Tekanan
b. Volume
c. Katalis
d. Konsentrasi
e. Suhu
3. Energi katalis adalah ...
a. Energi tabrakan yang menghasilkan reaksi
b. Energi minimum yang diperlukan untuk bereaksi
c. Energi kinetik molekul-molekul yang bereaksi
d. Energi yang dihasilkan dari suatu reaksi
e. Energi tambahan supaya zat bisa bereaksi
4. Faktor berikut akan menambah laju reaksi, kecuali ...


208
a. Pada suhu tetap ditambah katalis
b. Pada suhu tetap, tekanan diperbesar
c. Pada suhu tetap, volume diperbesar
d. Pada volume tetap ditambah zat pereaksi
5. Pada percobaan laju reaksi sebagai berikut :
1). 5 g keping seng, 2M, 30
0
C
2). 5 g butiran seng, 2M, 30
0
C
3). 5 g serbuk seng, 4M, 30
0
C
4). 5 g serbuk seng, 4M, 40
0
C
5). 5 g keping seng, 4M, 40
0
C
Manakah yang mempunyai laju reaksi yang paling cepat :
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
e. 5
6. Apa definisi laju reaksi dan bagaimana persamaannya?
7. Sebutkan prinsip-prinsip hukum laju reaksi!
8. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi!
9. Mengapa katalis dalam suatu reaksi memberikan peranan
penting?
10. Jika konsentrasi semakin besar apa yang terjadi pada reaksi?
11. Apa yang kamu ketahui tentang tumbukan? Ceritakan bagaimana
suatu tumbukan bisa terjadi dan faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi suatu tumbukan!
12. Sebutkan beberapa kelemahan teori tumbukan!
13. Apa yang dimaksud energi pengaktifan (Ea)?
14. Gambarkan dan jelaskan kurva hubungan energi reaksi dengan
koordinat reaksi!
15. Suatu reaksi berlangsung selama 4 jam pada suhu 25
o
C. Berapa
kalikah laju reaksi akan meningkat, jika suhu diubah menjadi
65
o
C?
16. Apa yang dimaksud orde reaksi? Berikan contoh ungkapan
persamaan laju reaksi dengan orde reaksi adalah 2!

A1

DAFTAR PUSTAKA





Nicholls L., Ratcliffe, M., (2000), Chemistry, 1
st
Ed.,
Collins Advanced Modular Sciences, London.

Ratcliff, B., Eccles, H., Johnson D., Nicholson, J.,
Raffan, J. (2002), Chemistry 1, 2
nd
Ed.,
Cambridge Advances, Sciences, Cambridges
University Press, Cambridge.

Ratcliff, B., Eccles, H., (2001), Chemistry 2, 1
st
Ed.,
Cambridge Advances, Sciences, Cambridges
University Press, Cambridge.

Brown, L. S., Holme, T. A., (2006), Chemistry for
Engineering Students, Thomson Books/Cole,
Canada.



Ratna dkk

KIMIA
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

KIMIA
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Ratna Didik Prasetyoko Lukman Atmaja Irmina Kris Murwani Hendro Juwono : TIM

Perancang Kulit

Ukuran Buku

:

17,6 x 25 cm

RAT k

RATNA Kimia Jilid 1 untuk SMK /oleh Ratna, Didik Prasetyoko, Lukman Atmaja, Irmina Kris Murwani, Hendro Juwono ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. viii. 219 hlm Daftar Pustaka : A1 ISBN : 978-602-8320-45-0 978-602-8320-46-7

Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

.

Tim Penyusun iv . cat. digunakan buku teks Kimia yang digunakan oleh para siswa Sekolah Menengah Atas di Inggris. dalam buku ini juga disajikan topik yang seyogyanya dimiliki oleh para siswa tersebut. Tidak lupa. Sebagai bahan acuan penyusunan buku ini. contoh soal serta latihan. logam dan sebagainya.KATA PENGANTAR Buku Kimia ini disusun untuk memenuhi kebutuhan buku ajar di Sekolah Menengah Kejuruan yang isinya didasarkan pada KTSP untuk Sekolah Menengah Kejuruan dan terdiri dari teori. kehadiran buku ini dapat membantu siswa maupun guru dalam pembelajaran Kimia di Sekolah Menegah Kejuruan. ucapan terimakasih kami sampaikan pada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan atas kepercayaan yang telah diberikan. seperti polimer. Sekolah Menengah Kejuruan di Jerman serta beberapa buku teks Kimia Dasar yang lain. Adapun urutan penyajian setiap materi didasarkan pada instrumen penyusunan buku kimia yang dikeluarkan oleh BNSP. Kami berharap. Untuk memperkaya pengetahuan para siswa Sekolah Menengah Kejuruan.

.

...................................................................................................................................... 96 Hasil Kali Kelarutan.................. isobar dan isoton32 2......1 Partikel-Partikel Dasar Atom................................................ 91 5........... 63 Penerapan Hukum Proust.................................. 92 5............................. iv DAFTAR ISI...........................3 Elektron Dalam Atom........................ 107 6............................................ 84 Struktur Lewis . 5 1.................. 103 6 KOLOID ........7 Kelarutan ................ 77 Ikatan Kovalen ...... 24 2............................................................ 89 5 5..........................................4 Polaritas Ikatan Kovalen...................................... 63 3... 83 Ikatan Kovalen Koordinat .................. 81 4..................................... 3 1. 79 4....5 Hukum Gas Ideal ......................... 43 2........................................... 23 2.......7 Penyimpangan Aturan Oktet...2 Perubahan Fisika dan Kimia ............. 13 2 STRUKTUR ATOM...........2 4 IKATAN KIMIA..........3 Konsentrasi Larutan.....................................6 4.......................................................................................................................... 34 2........ 84 4. 1 1.............................................................................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....8 4......................................2 Nomor atom............................ 76 4.... 13 1...3 4........................................................1 Konsep mol .................1 Elektron dan Ikatan Aturan Oktet ........ nomor massa......2 Larutan Elektrolit................................................................................................................................................................4 Perkembangan Model Atom ................................................................................. 52 3 STOIKHIOMETRI..................................... isotop..............................6 5................. 107 v ............................ 1 1....................... v JILID 1 1 MATERI DAN WUJUDNYA ..........6 Sifat periodik unsure .3 Wujud Materi........1 Pendahuluan.............................................. 46 2................... 94 5.................................................4 Hukum Keadaan Standar ................. 68 3..................5 Perkembangan pengelompokan unsure...........5 Sifat Koligatif Larutan ......................9 Ikatan Logam ...........................................2 Ikatan Ion .. 83 4................................................1 Materi........................................... 85 LARUTAN.........1 Pendahuluan...................... 90 5..............4 Stoikiometri Larutan ......................... 75 4.....5 Sifat senyawa ion dan senyawa kovalen.............. 102 5...

.. 126 Azas Le Chatelier.............................. 133 Dissosialisasi ................................................................2 10................5 7.....2 9................................................................. 167 Reaksi Redoks ..................................1 8.....6 7 7....... 146 Istilah yang Digunakan pada Perubahan Entalpi.................................................... 144 Entalpi (H) dan Perubahan Entalpi ( H)..................................10 8 8...........................8 7.........................................3 7. 147 Hukum Hess mengenai jumlah panas.................5 8.......1 7.....3 6....................5 9........... 124 Konstanta Kesetimbangan ............4 6..... 143 Panas Reaksi dan Termokimia .........................................................7 7...........................................8 8............4 7............ 170 Penyetaraan persamaan reaksi redoks ................... 122 Karakteristik keadaan kesetimbangan ........................6 10 10.................................................................................................4 8..... 154 Kapasitas panas dan panas spesifik ............................... 148 Panas Pembentukan...... 117 KESETIMBANGAN..4 9....................... 157 Kalorimetri .................. 128 Faktor-faktor yang Dapat Menggeser Letak Kesetimbangan............6 7.........................4 Pengelompokan Koloid.......... 136 TERMOKIMIA............. 193 Definisi Laju Reaksi.........................1 9.......................................... 202 vi ...........3 10............................. 115 Pembuatan Kolid ..........................9 7.............9 8...................... 196 Teori Tumbukan .................. 110 Koloid Liofil dan Koloid Liofob ....................... 141 Definisi .................. 112 Pemisahan Koloid ..............5 6.................... 194 Hukum Laju ............. 170 Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks.......................10 8............... 172 Sel Elektrokimia................................................ 125 Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan ... 196 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi ........................................... 157 Energi Ikatan Dan Entalphi Reaksi ..................... 168 Harga Bilangan Oksidasi .........3 9..........................11 9 9............... 141 Pengukuran Energi dalam Reaksi Kimia .................................................................... 123 Macam-macam Sistem Kesetimbangan............2 7.......................................2 8............................................. 158 ELEKTROKIMIA.....................................................................6...................... 153 Keadaan Standard ...1 10.......................................... 121 Definisi ..................7 8............ 124 Hukum Guldberg dab Wange........ 171 Perbedaan Oksidasi Reduksi ........................................... 130 Hubungan Antara Harga Kc Dengan Kp..................................2 6....... 109 Sifat-Sifat Koloid...6 8......3 8... 173 KINETIK KIMIA ...................................................

istilah-istilah yang berhubungan dengannya dan perubahan wujudnya. yang bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang.1 Materi berhubungan dengan massa dan ruang Materi Materi adalah material fisik yang menyusun alam. Contoh: udara. Contoh: kayu terbakar menjadi arang. kapur.1. Materi dapat berbentuk gas. cair. serta perubahan kimia yang terjadi dari materi satu ke yang lainnya. dan bagaimana wujudnya? Apa materi penyusun tabung? Apa materi penyusun LPG? Perubahan wujud apa yang terjadi pada LPG? Pembakaran.1 Tabung LPG 1. meja. Materi Perubahan fisika kimia Wujud materi Gambar 1. reaksi fisika atau kimia? Pada bab ini kita akan mempelajari tentang materi.1 MATERI DAN WUJUDNYA Standar Kompetensi Memahami konsep materi dan perubahannya Kompetensi Dasar Mengelompokkan sifat materi Mengelompokkan perubahan materi Mengklasifikasikan materi Tujuan pembelajaran mengenal sifat berbagai jenis materi dan wujudnya memahami perubahan materi dengan cara mengamati mampu menerapkan hukum-hukum gas pada beberapa contoh kasus Tersusun dari materi apakah tabung gas LPG di gambar 1. Kimia mempelajari komposisi. 1 . dan padat. struktur dan sifat dari materi.

Senyawa : terbentuk dari ikatan antara atom penyusunnya. Contoh: gula + air menghasilkan larutan gula. mengandung satu jenis atom. Campuran : materi yang tersusun dari beberapa substansi murni. nasi campur (nasi.Penyusun materi. Materi juga dapat tersusun dari senyawa campuran. Unsur : substansi murni yang tidak dapat dipisahkan menjadi sesuatu yang lebih sederhana.2). 2 Sifat fisika dan kimia untuk klasifikasi materi . Materi dapat tersusun dari substansi murni atau tunggal yang terdiri dari satu unsur atau beberapa unsur yang membentuk suatu senyawa. baik secara fisika maupun kimia. dll Heterogen Mempunyai komposisi dan sifat yang bervariasi pada setiap bagian campuran Gula dan pasir. Contoh: hidrogen. garam Homogen Mempunyai komposisi dan sifat yang seragam pada setiap bagian campuran Gula dan air. Contoh: air (H2O). udara. oksigen. gula. air. lauk. dan dapat dipisahkan secara kimia menjadi unsur penyusunnya. aseton dan air. dll) Gambar 1. yang tercampur secara homogen atau heterogen (Gambar 1. CaCO3. MATERI Substansi murni Unsur Disusun oleh satu jenis atom oksigen. pasir dan semen. sehingga mempunyai sifat dan komposisi yang bervariasi. diayak) Senyawa Disusun oleh lebih dari satu jenis atom Karbon dioksida. gula. nitrogen Campuran Mempunyai komposisi yang dapat dipisahkan secara fisika (dipanaskan.2 Skema klasifikasi materi Substansi murni : materi yang mempunyai sifat dan komposisi tertentu. mempunyai sifat manis yang tergantung pada komposisinya.

• Menerangkan bagaimana suatu materi bereaksi dengan materi yang lain membentuk suatu materi baru.3 menunjukkan sebagian permukaan bumi. oksigen. dan silikon merupakan 88% penyusun permukaan bumi dalam bentuk padatan. dapat dibedakan dengan melihat langsung (secara fisik terpisah). besi. Sifat kimia : sifat yang mengubah sifat kimia suatu materi.Campuran homogen : mempunyai sifat dan komposisi yang seragam pada setiap bagian campuran. Sifat fisika : sifat yang tidak mengubah sifat kimia suatu materi. wujud materi. Air pada permukaan bumi dan dalam bentuk gas tersusun dari hidrogen dan oksigen. Contoh: garam dapur dan air. Campuran heterogen : mempunyai sifat dan komposisi yang bervariasi pada setiap bagian campuran. dan karbon adalah 97% penyusun tubuh manusia. oksigen. Hidrogen. 99% udara tersusun dari nitrogen dan oksigen. Gambar 1.2 Perubahan fisika dan kimia Perubahan yang melibatkan sifat fisika atau kimia. 3 . Gambar 1. kekerasan.3 Permukaan bumi dan udara Aktivitas siswa : Terdiri dari unsur apakah penyusun kursi yang Anda duduki? Cari benda di sekitar Anda. Unsur aluminium. tidak dapat dibedakan dengan melihat langsung. Contoh: gula dan pasir. titik didih. • Karakteristik fisika bau. dan perkirakan unsur penyusunnya! 1.

4 .1. tetapi dapat berubah struktur dan sifatnya menjadi grafit dan intan (Gambar 1. yang tidak dapat terurai lagi baik secara fisika maupun kimia. Contoh : Gula adalah senyawa yang mudah terurai (dekomposisi) dengan pemanasan menjadi senyawa yang lebih sederhana. misalnya karbon hitam (arang).6).Perubahan fisika Sifat fisika Suhu Massa Warna Bau Titik didih Kelarutan Berat jenis Kekerasan Kelistrikan Substansi Besi (Fe) Karbon (C) Natrium TNT Contoh Air untuk mandi 40°C 5 gram Nikel Belerang kuning H2S busuk Air pada 100°C NaCl larut dalam air Air 1 gram/mililiter Intan sangat keras Besi menghantar listrik Sifat kimia Korosi Fe2O3 Terbakar Dengan air CO2 NaOH + H2 gas Meledak (terurai) Ciri-ciri yang mengindikasikan adanya perubahan kimia : Perubahan warna Perubahan bau Pembentukan gas Timbulnya cahaya Pembentukan endapan baru Perubahan pH.4 Dekomposisi gula oleh panas 4 . Gambar 1.

dan dikelompokkan sebagai gas. Diantaranya adalah susunan 5 .Aktivitas siswa : Perubahan kimia atau fisika? Hujan asam Besi meleleh oleh panas Gas alam dibakar Gambar 1. dan bangunan. kita berinteraksi dengan benda-benda di sekitar kita seperti udara.3 Padat. Setiap kelompok mempunyai ciri-ciri dan sifatsifat yang akan dipelajari dalam bab ini.6 Pembakaran gas alam 1. cair dan padat. cair dan gas merupakan wujud dari materi Wujud materi Setiap saat.5 Pelelehan besi Gambar 1. Benda-benda tersebut mempunyai wujud yang berbeda-beda. air.

serta perubahan wujudnya 1. dimana pada cairan.3. molekul masih bisa bergerak dengan bebas. Laju suatu partikel selalu berubah-ubah tapi laju rata-rata partikel-partikel gas pada suhu tertentu adalah konstan Gas dapat dimampatkan 6 .7 Susunan molekul: (a) gas. (b) cair. Molekul-molekul wujud gas mempunyai susunan yang berjauhan dan setiap molekul bebas bergerak. Cairan dan padatan mempunyai susunan molekul yang berdekatan. akan berubah wujudnya menjadi padat apabila didinginkan. dan menjadi gas apabila dipanaskan. kerapatan rendah/tidak memiliki volume dan bentuk tetap/selalu bergerak dengan kecepatan tinggi Campuran gas selalu uniform (serba sama) Gaya tarik-menarik antarpartikel dapat diabaikan. dan (c) padat.7). sementara molekul pada padatan tidak bebas bergerak atau tetap pada posisinya.dan gerakan molekul penyusun zat (Gambar 1. Ini merupakan perubahan fisika karena tidak menghasilkan materi dengan sifat yang baru Wujud dari materi tergantung pada keadaan sekitarnya (a) (b) (c) Gambar 1.1 Keadaan gas Ciri-ciri gas : Gas mempunyai susunan molekul yang berjauhan. Contoh : Air mempunyai wujud cair pada suhu ruang.

Gas dapat dalam bentuk atom tunggal seperti golongan gas mulia (He, Ar, Xe), diatomic (H2, O2, F2), dan senyawa (NO, CO2, H2S) (Gambar 1.8).

Atom tunggal Molekul diatomik Senyawa

Gambar 1.8 Bentuk gas: tunggal, diatomik, dan senyawa

Udara Susunan udara baru diketahui pada akhir abad ke-18 sewaktu Lavoisier, Priestly, dan lainnya menunjukkan bahwa udara terutama terdiri atas dua zat : oksigen dan nitrogen. Oksigen dicirikan oleh kemampuannya mendukung kehidupan. Hal ini dikenali jika suatu volume oksigen habis (dengan membakar lilin pada tempat tertutup, misalnya), dan nitrogen yang tersisa tidak lagi dapat mempertahankan hewan hidup. Lebih dari 100 tahun berlalu sebelum udara direanalisis secara cermat, yang menunjukkan bahwa oksigen dan nitrogen hanya menyusun 99% dari volume total, dan sebagian besar dari 1% sisanya adalah gas baru yang disebut “argon”. Gas mulia lainnya (helium, neon, krypton, dan xenon) ada di udara dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Tabel 1.1 merupakan komposisi udara. Ada beberapa jenis gas lain yang dijumpai pada permukaan bumi. Metana (CH4) dihasilkan lewat proses bakteri, terutama di daerah rawa. Metana merupakan penyusun penting dalam deposit gas alam yang terbentuk selama jutaan tahun lewat pelapukan materi tumbuhan di bawah permukaan bumi. Gas dapat juga terbentuk dari reaksi kimia.

Gambar 1.9 Antoine Laurent Lavoisier

7

Tabel 1.1 Komposisi Udara Penyusun Nitrogen Oksigen Argon Karbon Dioksida Neon Helium Metana Kripton Hidrogen Dinitrogen oksida Xenon Hukum-hukum Gas
Gas merupakan salah satu wujud dari materi yang mempunyai sifatsifat tertentu

Rumus N2 O2 Ar CO2 Ne He CH4 Kr H2 N2O Xe

Fraksi Volume 0.78110 0.20953 0.00934 0.00034 1.82 x 10-5 5.2 x 10-6 1.5 x 10-6 1.1 x 10-6 5 x 10-7 3 x 10-7 8.7 x 10-8

Empat variabel yang menggambarkan keadaan gas: o Tekanan (P) o Volume (V) o Temperatur (T) o Jumlah mol gas, mol (n) Hukum-hukum Gas : Boyle, Charles dan Gay-Lussac, Amonton, Avogadro, Dalton, Gas ideal, Kinetika, Gas Nyata. 1) Hukum Boyle Robert Boyle (Gambar 1.10) pada tahun 1622 melakukan percobaan dengan menggunakan udara. Ia menyatakan bahwa volume sejumlah tertentu gas pada suhu yang konstan berbanding terbalik dengan tekanan yang dialami gas tersebut (Gambar 1.11).

Gambar 1.10 Robert Boyle

8

Hubungan tersebut dikenal sebagai Hukum Boyle, secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

V

(atau PV = konstan) V = volume P = tekanan Persamaan diatas berlaku untuk gas-gas yang bersifat ideal. Contoh : Silinder panjang pada pompa sepeda mempunyai volume 1131 cm3 dan diisi dengan udara pada tekanan 1,02 atm. Katup keluar ditutup dan tangkai pompa didorong sampai volume udara 517 cm3. Hitunglah tekanan di dalam pompa.

1 P

Gambar 1.11 Kurva hubungan antara P – V dan 1/P – V Penyelesaian : Perhatikan bahwa suhu dan jumlah gas tidak dinyatakan pada soal ini, jadi nilainya 22,414 L atm tidak dapat digunakan untuk tetapan C. bagaimanapun, yang diperlukan adalah pengandaian bahwa suhu tidak berubah sewaktu tangkai pompa didorong. Jika P1 dan P2 merupakan tekanan awal dan akhir, dan V1 dan V2 adalah volume awal dan akhir, maka: P1.V1 = P2.V2

9

Sebab suhu dan jumlah udara dalam pompa tidak berubah. Substitusi menghasilkan : (1,02atm)(1131cm3)=P2(517cm3) Sehingga P2 dapat diselesaikan: P2 = 2,23 atm 2) Hukum Charles Pada tekanan konstan, volume sejumlah tertentu gas sebanding dengan suhu absolutnya (Gambar 5.13). Hukum di atas dapat dituliskan sebagai berikut: V≈T

V T

kons tan

Hubungan di atas ditemukan oleh Charles (Gambar 1.12) pada tahun 1787 dan dikenal sebagai Hukum Charles. Secara grafik, hukum Charles dapat digambarkan seperti pada gambar di bawah. Terlihat bahwa apabila garis-garis grafik diekstrapolasikan hingga memotong sumbu X (suhu), maka garis-garis grafik tersebut akan memotong di satu titik yang sama yaitu – 273,15 °C. Titik ini dikenal sebagai suhu nol absolute yang nantinya dijadikan sebagai skala Kelvin. Hubungan antara Celcius dengan skala Kelvin adalah: K = °C + 273,15 K = suhu absolut °C = suhu dalam derajat Celcius

Gambar 1.12 Jacques Charles

10

15K 0.15 K T2 = 73.15K 298.00 °C.50 liter hidrogen pada tekanan atmosfer dan suhu 25.13 Volume suatu gas sebanding dengan suhunya Sama hal-nya dengan hukum Boyle.5L 73. Contoh : Seorang ilmuan yang mempelajari sifat hidrogen pada suhu rendah mengambil volume 2.15 K V1 T1 V2 V2 V2 V2 T2 V1T2 T1 2. hukum Charles juga berlaku untuk gas ideal.613L 11 .Gambar 1. Perkirakan besar volume hidrogen! Penyelesaian : Langkah pertama untuk mengkonversikan suhu ke Kelvin: T1 = 25°C T2 = -200°C T1 = 298.00 °C dan mendinginkan gas itu pada tekanan tetap sampai – 200.

3) Hukum Avogadro Pada tahun 1811.15).15 Gambaran hukum Avogadro 12 . Hukum Avogadro dapat dinyatakan sebagai berikut: V≈n (V/n = konstan) n = jumlah mol gas Satu mol didefinisikan sebagai massa dari suatu senyawa/zat yang mengandung atom atau molekul sebanyak atom yang terdapat pada dua belas gram karbon (12C). Dia menemukan bahwa pada suhu yang sama. sejumlah volume yang sama dari berbagai gas akan mempunyai jumlah partikel yang sama pula banyaknya (Gambar 5.14) mengemukakan hukum yang penting mengenai sifat-sifat gas. Bilangan ini dikenal sebagai Bilangan Avogadro. Avogadro (Gambar 1. 1. Satu mol dari suatu zat mengandung 6. Gambar 1.023 x 1023 molekul.14 Avogadro Dua volume + satu volume hidrogen oksigen Dua volume air Gb.

16 Gambaran gas ideal Apabila jumlah gas dinyatakan dalam mol (n). diperlukan suatu keadaan standar untuk digunakan sebagai titik acuan. Charles dan persamaan 13 . Suatu gas yang terdiri dari partikel-partikel yang dinamakan molekul. Gambar 1.414 liter pada keadaan standar ini (Gambar 1.15 K).4) Hukum Keadaan Standar Untuk melakukan pengukuran terhadap volume gas. maka suatu bentuk persamaan umum mengenai sifat-sifat gas dapat diformasikan. Sebenarnya hukum Avogadro menyatakan bahwa 1 mol gas ideal mempunyai volume yang sama apabila suhu dan tekanannya sama. Volume molekul adalah pecahan kecil yang diabaikan dari volume yang ditempati oleh gas tersebut. b.16). c. Tumbukannya elastik (sempurna) dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. f. Tidak ada gaya yang cukup besar yang beraksi pada molekul tersebut kecuali selama tumbukan. antara lain: a. e. Jumlah seluruh molekul adalah besar d. Molekul-molekul bergerak secara serampangan dan memenuhi hukum-hukum gerak Newton. yaitu gas yang memenuhi ketentuan semua hukum-hukum gas akan mempunyai volume sebanyak 22. 5) Hukum Gas Ideal Definisi mikroskopik gas ideal. Keadaan ini yang juga dikenal sebagai STP (Standart Temperature and Pressure) yaitu keadaan dimana gas mempunyai tekanan sebesar 1 atm (760 mmHg) dan suhu °C (273. Satu mol gas ideal. Dengan menggabungkan persamaan Boyle.

414 L R (0.314 Nm K-1 mol-1 = 8. Penyelesaian: Karena jumlah helium tidak berubah.414 x10 3 m 3 1mol 273. kita dapat menentukan n 1 sama dengan n2 dan menghapusnya dari persamaan gas ideal menjadi: P1V1 T1 P2V2 T2 14 .0 x 104 L pada 1.00 atm dan 30 °C.15K Dalam satuan SI. V atau atau n T P T P V Rn PV = nRT R adalah konstanta kesebandingan dan mempunyai suatu nilai tunggal yang berlaku untuk semua gas yang bersifat ideal.15 K = 8. maka: 1atm 22. Balon ini sampai ketinggian yang tekanannya turun menjadi 0.314 J K-1 mol-1 Contoh : Balon cuaca yang diisi dengan helium mempunyai volume 1. Nilai numerik dari konstanta gas dapat diperoleh dengan mengasumsikan gas berada pada keadaan STP.082056L atmK 1mol 1 ) 1mol 273. maka dengan menggunakan persamaan diatas dapat diperoleh harga R dalam satuan SI. satuan tekanan harus dinyatakan dalam Nm-2 dan karena 1 atm ekivalen dengan 101. Persamaan di atas akan sangat berguna dalam perhitungan-perhitungan volume gas. Berapa volume balon sekarang? Andaikan balon melentur sedemikian sehingga tekanan di dalam tetap mendekati tekanan di luar. sebagai berikut: R 101.325 Nm-2.325 Nm 2 22.6 atm dan suhunya –20°C.Avogadro akan didapat sebuah persamaan umum yang dikenal sebagai persamaan gas ideal.

17 Torricelli Tekanan gas adalah gaya yang diberikan oleh gas pada satu satuan luas dinding wadah.18).17). ilmuan dari Italia yang menjadi asisten Galileo adalah orang pertama yang melakukan penelitian tentang tekanan gas ia menutup tabung kaca panjang di satu ujungnya dan mengisi dengan merkuri. 15 .000 L Tekanan dan suhu Tekanan Gambar 1. hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh atmosfer bergantung pada cuaca ditempat tersebut. meninggalkan ruang yang nyaris hampa pada ujung yang tertutup. Merkuri dalam tabung turun. Kemudian ia menutup ujung yang terbuka dengan ibu jarinya. Peralatan sederhana ini yang disebut Barometer (Gambar 1.0 x10 4 L 1. tetapi tidak semuanya turun dari tabung. Toricelli menunjukkan bahwa tinggi aras yang tepat sedikit beragam dari hari ke hari dan dari satu tempat ke tempat yang lain. dengan hati-hati agar tidak ada udara yang masuk.6atm 303K ) V2 = 14.00atm 253K (0.V2 V2 V1 P1T2 P2T1 1. Merkuri ini berhenti jika mencapai 76 cm di atas aras merkuri dalam mangkuk (seperti pada gambar dibawah). Torricelli (Gambar 1. membalikkan tabung itu dan mencelupkannya dalam mangkuk berisi merkuri.

g .80665 m s-2. Semua benda saling tarik-menarik karena gravitasi. P F A m.18 Barometer Hubungan antara temuan Toricelli dan tekanan atmosfer dapat dimengerti berdasarkan hokum kedua Newton mengenai gerakan.h . dan gaya tarik mempengaruhi percepatan setiap benda.g.g V /h m.h 16 .Tekanan atmosfer Gambar 1. bukannya a) ialah g = 9. Telah disebutkan di atas bahwa tekanan adalah gaya persatuan luas. sehingga : P F A m. yang menyatakan bahwa: Gaya = massa x percepatan F=mxa Dengan percepatan benda (a) adalah laju yang mengubah kecepatan. V di mana ρ = massa jenis. V m . sehingga P = .g A Karena volume merkuri dalam tabung adalah V = Ah. Percepatan baku akibat medan gravitasi bumi (biasanya dilambangkan dengan g.

Kita bisa mendeskripsikan bahwa kutub utara mempunyai suhu yang sangat dingin atau mendeskripsikan bahwa Surabaya atau Jakarta mempunyai suhu yang panas pada siang hari. PA = XA . Penelitian pertama mengenai suhu dilakukan oleh ilmuan Perancis yang bernama Jacques Charles. Tekanan parsial setiap komponen dalam campuran gas ideal ialah tekanan total dikalikan dengan fraksi mol komponen tersebut (Gambar 1.19). Ptol. adalah jumlah tekanan parsial setiap gas.20). Ilustrasi diatas merupakan dua ekspresi dari suhu. akan tetapi apakah kita tau definisi dari suhu itu sendiri? Definisi suhu merupakan hal yang sepele tapi sulit untuk disampaikan tetapi lebih mudah untuk dideskripsikan. Pernyataan ini selanjutnya disebut sebagai Hukum Dalton. ia menyatakan bahwa tekanan total..Suhu Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan panas atau dingin.. hukum ini berlaku untuk gas dalam keadaan ideal. Gambar 1. PTot PA n A RT V Tekanan total: Ptot = PA + PB + PC + …. Campuran Gas Pengamatan pertama mengenai perilaku campuran gas dalam sebuah wadah dilakukan oleh Dalton (Gambar 1. Mol total: ntot = nA + nB + nC + ….19 John Dalton 17 .

3.75 atm. Gambaran mengenai fase gas telah diilustrasikan pada sub-bab sebelumnya.Gambar 1.75 atm + 0.40 atm + 0. Pada sub-bab ini. yang pertama atas dasar struktur fisik dan sifat kimianya(Gambar 1.21 Padatan 18 . • Hidrogen dengan tekanan parsial 0. cairan. cairan Gas.65 atm 1. dan padatan dibedakan.20 Tekanan total dan parsial Contoh : Berapa tekanan total dalam wadah (container) yang mengandung: • Metana dengan tekanan parsial 0. Struktur fisik mempengaruhi interaksi antara partikel-partikel dan partikellingkungan.50 atm Ptot = 1. pembahasan akan dititikberatkan pada fase cairan dan padatan.21 – 1. Gambar 1.40 atm • Propana dengan tekanan parsial 0.23).50 atm? Ptot = Pmetana + Phidrogen + Ppropana Ptot = 0.2 Padatan.

23 Gas mengisi balon A. Cairan Secara umum ciri-ciri fase cairan berada diantara fase gas dan fase padat.22 Cairan Gambar 1.24 Contoh cairan 19 . namun lebih rendah bila dibandingkan dengan padatan Jarak antar partikel lebih dekat dekat Merupakan fase yang terkondensasi Merupakan fase yang bisa dikatakan tidak terkompresi Bentuk cairan akan menyesuaikan dengan wadahnya Pengamatan fisik dari fase cair dapat dilihat pada gambar struktur molekul dalam sub-bab sebelumnya. iii. Mempunyai kerapatan yang lebih tinggi bila dibanding dengan gas.24. v. Gambar 1. dengan contoh pada Gambar 1.Gambar 1. ii. antara lain : i. iv.

25 Gambar padatan 20 . Merupakan fase yang terkondensasi d. antara lain : a. Jarak antar partikel sangat dekat c. Mampu mempertahankan bentuknya Berikut ini adalah gambar beberapa contoh padatan (Gambar 1.25: Gambar 1. jauh lebih tinggi daripada gas dan cairan b. Merupakan fase yang bisa dikatakan tidak terkompresi e. Padatan Sedangkan ciri-ciri fase padat. Kerapatannya sangat tinggi.B.

2. Jelaskan perbedaan campuran homogen dan heterogen serta sebutkan contohnya. Jelaskan ciri-ciri sifat fisika dan kimia.Ringkasan Materi adalah sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang. Jelaskan masing-masing wujud materi serta berikan contohnya. Jelaskan hubungan antara tekanan. suhu. Perubahan tekanan. 21 . 5. dan sebutkan contohnya. 8. Apa yang disebut materi? Jelaskan perbedaan unsur dan senyawa serta sebutkan contohnya. Jelaskan perbedaan wujud materi. 7. Materi dapat mengalami perubahan wujud dari gas menjadi cair dan menjadi padat tergantung pada kondisi lingkungan. 6. 4. Materi dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat fisika dan kimia. 3. dan volume terhadap suatu materi dapat mengakibatkan perubahan dari wujud satu ke wujud lainnya. Sebutkan faktor yang mempengaruhi perubahan wujud suatu materi. Latihan 1. volume dan suhu pada suatu materi.

22 .

p dan d dari bilangan kuantum utama 8. Siswa mampu mendeskripaikan kontribusi proton dan netron pada inti atom berdasarkan nomor atom dan nomor massa 4. Siswa mampu membedakan isotop berdasarkan jumlah netron berbeda yang ada 7. pengulangan sifat fisik dan sifat kimia dalam satu periode dan sifat fisik dan sifat kimia yang sama dalam satu golongan 10. netron dan elektron yang terdapat dalam atom dan ion dari nomor atom dan nomor massa yang diberikan 5. variasi konfigurasi elektronik. konduktivitas listrik. Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan proton. titik leleh dan titik didih.2 Struktur Atom Standar Kompetensi Mengidentifikasi struktur atom dan sifat-sifat periodik pada tabel periodik unsur Kompetensi Dasar Mendiskripsikan perkembangan teori atom Menginterpretasikan data dalam tabel periodik Tujuan pembelajaran 1. konduktivitas listrik. dan menjelaskan variasinya berdasarkan struktur dan ikatan dalam unsur 11. Siswa mampu mendeskripskan unsur periode ketiga. Siswa mampu mendeskripsikan dan menjelaskan variasi energi ionisasi pertama unsur yang meningkat dalam satu periode berdasarkan peningkatan muatan inti 12. Ssiwa mampu mendeduksi konfigurasi elektronik atom 9. Siswa mampu mendeskripsikan dan menjelaskan variasi energi ionisasi pertama unsur yang menurun dalam satu golongan berdasarkan peningkatan radius atom 13. Siswa mampu mendeskripsikan tabel periodik berdasarkan susunan unsur dengan meningkatnya nomor atom. netron dan elektron berdasarkan muatan relatif dan massa relatifnya 2. Siswa mampu mendeskripsikan jumlah dan energi relatif orbital s. radius atom. radius atom. Siswa mampu mendeduksikan jumlah proton. titik leleh dan titik didih untuk menjelaskan periodisitas 23 . Siswa mampu menginterpretasikan data berdasarkan konfigurasi elektronik. Siswa mampu mendeskripsikan massa dan muatan dalam atom 3.

Adanya sinar katoda membuat tabung menjadi gelap.Plat logam sebagai elektroda pada bagian ujung tabung .1 Partikel Dasar Penyusun Atom Partikel Elektron Netron Proton 2. Listrik bertekanan tinggi yang dialirkan melalui plat logam mengakibatkan adanya sinar yang mengalir dari katoda menuju anoda yang disebut sinar katoda.0073 Elektron merupakan partikel dasar penyusun atom yang pertama kali ditemukan.1 Partikel-partikel Dasar Atom Materi tersusun dari atom-atom Atom terdiri atas inti atom dan elektron yang berada diluar inti atom.1 Joseph John Thompson Elektron ditemukan dengan menggunakan tabung kaca yang bertekanan sangat rendah yang tersusun oleh: .1. Tabel 2.1095x10-31 1. elektroda dengan kutub negatif dan anoda.2.1 Elektron Penemu (Tahun) J. Inti atom tersusun atas proton dan netron. Gambar 2.4859x10-4 1. Elektron ditemukan oleh Joseph John Thompson pada tahun 1897. Goldstein (1886) Massa Kg 9.6726x10-27 Sma 5. Chadwick (1932) E.0087 1.6749x10-27 1. elektroda dengan kutub positif. Sinar katoda tidak terlihat oleh mata 24 . J.Katoda. Thomson (1897) J. Tabung kaca bertekanan rendah ini selanjutnya disebut tabung sinar katoda.

akan tetapi keberadaannya terdeteksi melalui gelas tabung yang berpendar akibat adanya benturan sinar katoda dengan gelas tabung kaca.Sinar katoda menimbulkan efek fluoresensi (pendar) sehingga keberadaannya terdeteksi .Sinar katoda dihasilkan akibat adanya aliran listrik bertekanan tinggi yang melewati plat logam .Sinar katoda berjalan lurus menuju anoda . Sifat-sifat yang mendukung yang dihasilkan oleh sinar katoda menyebabkan sinar katoda digolongkan sebagai partikel dasar atom dan disebut sebagai elektron.Sinar katoda bermuatan negatif sehingga dapat dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnet . Gambar 2.Sinar katoda yang dihasilkan tidak tergantung dari bahan pembuat plat logam.2 Tabung sinar katoda 25 . Sifat-sifat sinar katoda: .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinar katoda dapat dibelokkan oleh medan listrik dn medan magnet. Pembelokan memungkinkan pengukuran jari-jari kelengkungan secara tepat sehingga perbandingan harga muatan elektron dan massanya dapat ditentukan sebesar 1. Gambar 2.3 Peralatan Thomson untuk menentukan harga e/m Joseph John Thomson selanjutnya melakukan penelitian untuk menentukan perbandingan harga muatan elektron dan massanya (e/m).Gambar 2.4 Robert Millikan 26 .76x108 coulomb/gram. Robert Millikan pada tahun 1909 melakukan penelitian penentuan muatan elektron menggunakan tetes minyak.

6 x10 19 C 1.6 x10 19 C 2 elektron 27 .76 x108 C / g 9.6 x 10-19 C. 2x(-1.10-19).2 x10 19 C 1. Maka jumlah elektron yang ditangkap oleh 1 tetes minyak dengan muatan -3. Hasil penelitian yang dilakukan Joseph John Thompson dan Robert Millikan memungkinkan untuk menghitung massa elektron secara tepat. Millikan selanjutnya menemukan bahwa muatan tetes minyak berturut-turut 1x(-1.6.108C/g massa 1 elektron Contoh soal me 1.5 Peralatan tetes minyak Millikan Penelitian membuktikan bahwa tetes minyak dapat menangkap elektron sebanyak satu atau lebih.11x10 28 C Tentukan berapa elektron yang tertangkap oleh 1 tetes minyak dalam percobaan yang dilakukan oleh Millikan apabila 1 tetes minyak tersebut bermuatan -3.6. Karena muatan tiap tetes minyak adalah kelipatan 1.6.1019 ).76.2 x 10 -19 C adalah 3.6.2 x 10-19 C.10-19C.6.10-19C maka Millikan menyimpulkan bahwa muatan satu elektron sebesar -1. Jawab Telah diketahui dari percobaan yang dilakukan oleh Millikan bahwa muatan 1 elektron sebesar -1. 3x(-1.Gambar 2. e/m=1.10-19) dan seterusnya.

2.1.2
Inti atom terdiri dari proton bermuatan positif

Inti atom

Ernest Rutherford pada tahun 1911 menemukan inti atom. W. C. Rontgen yang menemukan sinar x pada tahun 1895 dan penemuan zat radioaktif oleh Henry Becquerel mendasari penemuan Rutherford. Zat radioaktif merupakan zat yang dapat memancarkan radiasi spontan, misalnya uranium, radium dan polonium. Radiasi atau sinar yang dipancarkan oleh zat radioaktif disebut sinar radioaktif. Sinar radioaktif yang umum dikenal adalah sinar alfa (α), sinar beta ( ) dan sinar gama ( ).

Gambar 2.6 Ernest Rutherford

Gambar 2.7 Sinar alfa, beta dan gama

Ernest Rutherford melakukan penelitian dengan menggunakan sinar alfa untuk menembak plat tipis emas (0,01 sampai 0,001mm). Detektor yang digunakan berupa plat seng sulfida (ZnS) yang berpendar apabila sinar alfa mengenainya. 28

Gambar 2.8 Hamburan sinar alfa

Hasil yang diperoleh adalah bahwa sebagian besar sinar alfa diteruskan atau dapat menembus plat tipis emas. Sinar alfa dalam jumlah yang sedikit juga dibelokkan dan dipantulkan. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar sinar alfa diteruskan memberikan kesimpulan bahwa sebagian besar atom merupakan ruang kosong. Sedangkan sebagian kecil sinar alfa yang dipantulkan juga memberikan kesimpulan bahwa dalam atom terdapat benda pejal dan bermuatan besar. Adanya benda pejal yang bermuatan besar didasarkan pada kenyataan bahwa sinar alfa yang bermuatan 4 sma dapat dipantulkan apabila mengenai plat tipis emas. Hal ini berarti massa benda pejal dalam atom emas jauh lebih besar daripada massa sinar alfa. Selanjutnya Rutherford menyebut benda pejal tersebut sebagai inti atom yang merupakan pusat massa atom. Penelitian juga menunjukkan bahwa sinar alfa dibelokkan ke arah kutub negatif apabila dimasukkan kedalam medan listrik. Hal ini berarti sinar alfa menolak sesuatu yang bermuatan positif dalam atom emas dan lebih mendekati sesuatu dengan muatan yang berlawanan. Rutherford selanjutnya menyimpulkan bahwa inti atom bermuatan positif. Hasil penelitian membuat Rutherford secara umum mengemukakan bahwa: - atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif yang merupakan pusat massa atom - elektron diluar inti atom mengelilingi inti atom dan berjumlah sama dengan muatan inti atom sehingga suatu atom bersifat netral.

29

2.1.3

Proton

Eugene Goldstein pada tahun 1886 melakukan percobaan dan menemukan partikel baru yang disebut sebagai sinar kanal atau sinar positif. Peralatan Goldstein tersusun atas: - elektroda negatif (katoda) yang menutup rapat tabung sinar katoda sehingga ruang dibelakang katoda gelap - tabung katoda dilubangi dan diisi dengan gas hidrogen bertekanan rendah - radiasi yang keluar dari lubang tabung katoda akibat aliran listrik bertegangan tinggi menyebabkan gas yang berada dibelakang katoda berpijar - radiasi tersebut disebut radiasi/sinar kanal atau sinar positif

Gambar 2.9 Gambar sinar positif/sinar kanal

30

Sinar kanal secara mendetail dihasilkan dari tahapan berikut yakni ketika sinar katoda menjala dari katoda ke anoda maka sinar katoda ini menumbuk gas hidrogen yang berada didalam tabung sehingga elektron gas hidrogen terlepas dan membentuk ion positif. Ion hidrogen yang bermuatan positif selanjutnya bergerak menuju kutub negatif (katoda) dengan sebagian ion hidrogen lolos dari lubang katoda. Berkas sinar yang bermuatan positif disebut sinar kanal atau sinar positif. Penelitian selanjutnya mendapatkan hasil bahwa gas hidrogen menghasilkan sinar kanal dengan muatan dan massa terkecil. Ion hidogen ini selanjutnya disebut sebagai proton. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa sinar kanal merupakan parikel dasar yang bermuatan positif dan berada dalam inti atom dan massa proton sama dengan massa ion hidrogen dan berharga 1 sma. Rutherford berikutnya menembak gas nitrogen dengan sinar alfa untuk membuktikan bahwa proton berada didalam atom dan ternyata proton juga dihasilkan dari proses tersebut. Reaksi yang terjadi adalah
14 7

N

4 2

16 8

1 O 1P

Beberapa sifat sinar kanal/sinar positif adalah - sinar kanal merupakan radiasi partikel - sinar kanal dibelokkan ke arah kutub negatif apabila dimasukkan kedalam medan listrik atau medan magnet - sinar kanal bermuatan positif - sinar kanal mempunyai perbandingan harga muatan elektron dan massa (e/m) lebih kecil dari perbandingan harga muatan elektron dan massa (e/m) elektron - sinar kanal mempunyai perbandingan harga muatan elektron dan massa (e/m) yang tergantung pada jenis gas dalam tabung Contoh soal Tentukan muatan oksigen apabila kedalam tabung sinar kanal dimasukkan gas oksigen dengan massa 1 atomnya sebesar 16 sma dan akibat adanya tumbukan dengan sinar katoda yang dihasilkan, 2 elektron lepas dari atom oksigen. Jawab Karena terjadi pelepasan 2 elektron, maka muatan 1 atom oksigen = 2. 2.1.4 Netron

Penelitian yang dilakukan Rutherford selain sukses mendapatkan beberapa hasil yang memuaskan juga mendapatkan kejanggalan yaitu massa inti atom unsur selalu lebih besar daripada massa proton didalam inti atom. Rutherford menduga bahwa terdapat

31

Radiasi ini oleh Rontgen disebut sebagai sinar x. Moseley selanjutnya menyebut jumlah proton dalam atom adalah nomor atom. Moseley melakukan penelitian untuk mengukur panjang gelombang sinar x berbagai unsur. Akibat tumbukan tersebut. 2. Adanya partikel lain didalam inti atom yang tidak bermuatan dibuktikan oleh James Chadwick pada tahun 1932.6x10-9C. Sinar x terjadi ketika sinar katoda yang berupa elektron berkecepatan tinggi menumbuk elektroda tembaga. isotop. Reaksi yang terjadi ketika logam berilium ditembak dengan sinar alfa adalah 9 4 Be 4 2 12 6 C 1 0 n Netron tak bermuatan dan bermassa 1 sma (pembulatan). Panjang gelombang yang dihasilkan tergantung pada jumlah ion positif didalam inti atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur memancarkan radiasi sinar x dengan panjang gelombang yang khas. Gambar 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa inti atom mempunyai muatan yang berharga kelipatan dari +1.10 Tabung sinar X 32 . Pemahaman mengenai inti atom selanjutnya dijelaskan oleh percobaan Moseley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu partikel yang tak bermuatan dilepaskan ketikan logam berilium ditembak dengan sinar alfa dan partikel ini disebut sebagai netron. isobar dan isoton Telah diketahui bahwa penemu sinar x adalah Rontgen.2 Nomor atom. Pengisian tempat kosong oleh elektron tembaga dari tingkat energi yang lebih tinggi menyebabkan terjadinya pemancaran radiasi. nomor massa.partikel lain didalam inti atom yang tidak bermuatan karena atom bermuatan positif disebabkan adanya proton yang bermuatan positif. Chadwick melakukan penelitian dengan menembak logam berilium menggunakan sinar alfa. tembaga melepaskan elektron terluarnya dan tempat elektron yang kosong ini selanjutnya diisi oleh elektron tembaga dari tingkat energi lain yang lebih tinggi.

Notasi untuk menyatakan susunan inti atom yaitu proton dan netron dialam inti atom dapat dinyatakan sebagai berikut: Keterangan: X = lambang atom unsur A = nomor massa = proton+netron Z = nomor atom = jumlah proton A XZ Contoh soal Tentukan jumlah proton. 33 .1 Nomor atom Z sama dengan jumlah proton dalam atom Nomor atom dan nomor massa Inti atom mengandung proton dan netron.2. elektron dan netron dalam atom 12 6 C.11 Wilhelm Conrad Rontgen 2. Jawab Mengingat. Nomor atom=jumlah proton dan elektron Nomor massa=jumlah proton + netron Maka. Nomor atom sama dengan jumlah proton didalam inti atom sedangkan nomor massa sama dengan jumlah proton dan netron didalam inti atom. untuk 12 6 C jumlah proton 6.Gambar 2. elektron 6 dan netron 6.

Pernyataan fisika klasik ini menjadi persoalan bagi model atom yang dikemukakan oleh 34 . 12 C6 13 C6 14 C6 p=6 e=6 n=6 p=6 e=6 n=7 p=6 e=6 n=8 Setiap karbon mempunyai nomor atom 6 tetapi nomor massanya berbeda-beda.2.2. Sedangkan isoton adalahatom unsur yang berbeda tetapi mempunyai jumlah netron yang sama. Contoh isoton adalah 40 20 24 24 Ca dengan 39 19 K yang sama-sama memiliki jumlah netron 20. Isobar dapat dimengerti dengan melihat contoh berupa 11 Na dengan 12 Mg yang memiliki nomor massa sama sebesar 24. Fisika klasik menyatakan bahwa apabila terdapat suatu partikel bermuatan yang bergerak menurut lintsan lengkung maka energinya akan hilang dalam bentuk radiasi.4 = 11. P 4 jumlah proton 15 dan elektron 15 . Isotop adalah atom unsur sama dengan nomor massa berbeda. Karbon merupakan contoh adanya isotop. Isotop dapat juga dikatakan sebagai atom unsur yang mempunyai nomor atom sama tetapi mempunyai nomor massa berbeda karena setiap unsur mempunyai nomor atom yang berbeda. Nomor atom=jumlah proton dan elektron Nomor massa=jumlah proton + netron Maka. 2. Dari contoh tersebut dapat dikatakan bahwa walaupun unsurnya sama belum tentu nomor massanya sama. untuk 2.3 Isobar dan isoton Isobar adalah atom unsur yang berbeda tetapi mempunyai nomor massa sama.Contoh soal Tentukan jumlah proton dan elektron dalam atom Jawab Mengingat. demikian pula dengan model atom yang dikemukakan oleh Ernest Rutherford. Model atom Rutherford tidak dapat menjelaskan alasan mengapa elektron tidak dapat jatuh kedalam inti. 2.2 Isotop Isotop mempunyai nomor atom sama tetapi nomor massa berbeda 30 15 30 15 P4 .3 Elektron dalam atom Model atom yang dikemukakan oleh Joseph John Thompson mempunyai banyak kelemahan.

3.zat yang diselidiki spektrumnya diuapkan pada temperatur tinggi . spektrum garis didapat dengan cara sebagai berikut: . Gaya tarik inti atom terhadap elektron akan menjadi lebih besar daripada gaya sentrifugal lintasan elektron dan menyebabkan lintasan menjadi spiral dan akhirnya elektron jatuh kedalam inti atom. elektron Gambar 2. Balmer melakukan penelitian sehingga didapatkan deret Balmer untuk atom hidrogen. Sedangkan kuantisasi/kuanta energi digunakan oleh Niels Bohr dalam momentum sudut elektron untuk pengembangan teorinya tentang atom hidrogen. Hal ini bententangan dengan pernyataan umum bahwa atom stabil. 35 . Spektrum yang tidak kontinyu berupa sederetan garis berwarna yang disebut spektrum garis tak kontinyu. Spektrum garis dihasilkan apabila sumber cahaya polikromatik seperti lampu listrik dan sinar matahari diganti oleh busur listrik berisi gas hidrogen maka akan dihasilkan spektrum yang tidak kontinyu. maka elektron akan kehilangan energinya dan energi kinetik elektron akan terus berkurang.uap yang terbentuk diletakkan diantara dua elektroda grafit .1 Spektrum garis Menurut Max Planck radiasi elektromagnetik bersifat diskontinyu atau dalam bentuk kuanta.listrik bertegangan tinggi dialirkan melalui elektroda grafit Spektrum garis yang paling sederhana adalah spektrum garis atom hidrogen.12 Lintasan spiral elektron 2. Diskontinyuitas radiasi elektromagnetik dikuatkan oleh efek fotolistrik yang dikembangkan oleh Albert Einstein.Rutherford karena jika elektron bergerak mengelilingi inti. Apabila elektron jatuh kedalam inti atom. Apabila berkas cahaya polikromatis seperti lampu listrik dan sinar matahari dilewatkan melalui prisma maka akan diperoleh spektrum kontinyu yang terdiri dari berbagai warna penyusunnya. maka atom menjadi tak stabil.

14 Spektrum garis Kontinyu seri Balmer seri Lyman Gambar 2.15 Deret Balmer untuk atom hidrogen 36 .13 Spektrum cahaya polikromatik Gambar 2.Gambar 2.

2 Hubungan Lintasan.10-34 J. Niels Bohr melakukan penelitian dan mencoba menjelaskan dengan pendekatan pemecahan spektrum garis hidrogen.Lintasan orbit elektron berbentuk lingkaran dan disebut kulit . 2. Max Planck menurunkan persamaan untuk pernyataan tersebut sebagai berikut: E nh Keterangan: n = bilangan bulat positif h = tetapan Planck (6. Bohr menggunakan pendekatan Max Planck untuk menjelaskan spektrum garis hidrogen. Untuk mengatasi perbedaan tersebut. Kulit dan Bilangan Kuantum Lintasan 1 2 3 4 Kulit K L M N Bilangan kuantum (n) n=1 n=2 n=3 n=4 37 .Momentum sudut elektron yang mengorbit berharga kelipatan h .2.6.3.Elektron mengorbit pada lintasan tertentu dan dengan tingkat energi tertentu . Beberapa hasil penelitian Bohr diantara adalah .s) ν = frekuensi Pernyataan tersebut bertentangan dengan pandangan fisika klasik yang mengemukakan bahwa energi bersifat kontinyu...2 Teori Bohr Seperti telah diketahui bahwa menurut Max Planck radiasi elektromagnetik bersifat diskontinyu atau dalam bentuk kuanta.3. 3. yang merupakan 2 bilangan bulat positif dan disebut sebagai bilangan kuantum utama Bilangan kuantum utama menyatakan kulit Tabel 2. Setiap elektron yang mengorbit mempunyai momentum 2 h sudut sebesar n dengan n=1..

16 Pendekatan energi oleh Max Planck dan fisika klasik Gambar 2.Gambar 2.17 Niels Bohr 38 .

Akan tetapi teori Bohr juga masih menunjukkan kelemahan yaitu tidak mampu menjelaskan spektrum garis atom berelektron banyak dan sifat spektrum garis dalam medan magnet serta tidak dapa menjelaskan garis-garis halus spektrum garis atom hidrogen.- Energi elektron berbanding terbalik dengan lintasan (kulit) Keadaan paling stabil adalah pada saat n = 1 yakni ketika elektron memiliki energi paling minimal Elektron berada dalam keadaan stasioner. Elektron yang berpindah dari tingkat energi rendah menuju tingkat energi yang lebih tinggi menyebabkan elektron tereksitasi. ketika elektron megorbit mengelilingi inti atom. Gambar 2. Akan tetapi keadaan elektron tereksitasi ini tidak stabil sehingga elektron kembali dari tingkta energi tinggi menuju tingkat energi rendah yang disertai pelepasan energi dalam bentuk radiasi. tidak memancarkan dan menyerap energi. 39 .18 Model atom Bohr Teori Bohr berhasil menjelaskan spektrum garis atom hidrogen dan ion-ion berelektron tunggal seperti 2He+ dan 3Li2+. Apabila elektron berpindah dari tingkat energi rendah menuju tingkat energi tinggi maka energi akan diserap untuk melakukan proses tersebut.

8 x10 7 m E hc 6.626 x10 34 Js x 2.elektron tereksitasi foton teremisi elektron sebelum sesudah foton terabsorpsi sebelum sesudah Gambar 2.Azas ketidakpastian yang dikemukakan oleh Heisenberg pada tahun 1927.Teori dualisme gelombang partikel yang dikemukakan oleh de Broglie pada tahun 1924.3. Penyusunan elektron dalam atom didasarkan pada teori-teori berikut: . Teori ini menyatakan bahwa posisi dan momentum partikel tidak dapat ditentukan secara pasti dalam waktu 40 .8 x10 7 m 1 2.3 Konfigurasi elektron atom menjelaskan jumlah elektron dalam tingkat utama Konfigurasi elektron Susunan elektron dalam atom dapat dijelaskan menggunakan konfigurasi elektron. Berapakah energi sinar laser dengan panjang gelombang 780 nm x Jawab 1m 1x10 9 nm 7. Teori ini menyatakan bahwa elektron dalam atom bersifat gelombang dan partikel .547 x10 19 J 2.998 x 10 8 ms 7.19 Proses eksitasi dan emisi Contoh soal 780nm.

3 Susunan Bilangan Kuantum Kulit K L M N Bilangan kuantum (n) 1 2 3 4 .. .. Ikatan kimia dapat terbentuk dengan memanfaatkan atau menggunakan elektron valensi sehingga elektron valensi dapat dikatakan merupakan penentu sifat kimia atom unsur. 2n2 Jumlah maksimum elektron dalam kulit tertentu sebesar 2n2 dengan n adalah nomor kulit.. Pengisian dilakukan dengan pengisian maksimum terlebih dahulu untuk tiap kulit. Teori ini menyiratkan bahwa lintasan elektron tidak berbentuk lingkaran Teori persamaan gelombang yang dikemukakan oleh Erwin Schrodinger.21 berikut.. n Daya tampung elektron maksimal 2 x 12 = 2 2 x 22 = 8 2 x 23 = 18 2 x 24 = 32 . . . Hanya elektron dengan energi yang cocok dapat menempati orbital tersebut. Teori ini dapat menerangkan pergerakan partikelapertikel mikroskopik termasuk elektron. Sistem susunan elektron dalam atom dapat dilihat pada gambar 2... Azas ketidakpastian Heisenberg menyebabkan posisi elektron tidak dapat ditentukan dengan pasti demikian pula dengan orbit elektron dalam atom menurut mekanika kuantum.. 41 . M. N dan seterusnya. Obital merupakan daerah disekiar inti dengan peluang terbesar untuk menemukan elektron. Walaupun orbit elektron tidak dapat ditentukan dengan pasti tetapi peluang untuk menemukan elektron pada posisi tertentu di sekitar inti masih mungkin untuk ditentukan.. . Tabel 2.. Pengisian elektron dimulai pada kulit dengan tingkat energi terendah yaitu kulit pertama atau kulit K yang dilanjutkan dengan kulit L.. Orbital juga mempunyai energi yang khas bagi tiap-tiap elektron untuk menempatinya.. Kapasitas maksimal orbital untuk ditempati elektron sebesar 2 elektron. Elektron valensi merupakan jumlah elektron yang terdapat pada kulit terluar suatu atom unsur. Energi khas untuk tiap elektron ini sering disebut tingkat energi..- bersamaan. Apabila terdapat 18 elektron maka elektron akan mengisi kulit K sebanyak 2 yang dilanjutkan dengan pengisian kulit L sebanyak 8 elektron dan diakhiri dengan pengisian kulit L sebanyak 8 elektron.

Jawab Konfigurasi elektron C = [K = 2.20 Elektron valensi beberapa unsur periode 2 dan periode 3 Contoh soal Tuliskan konfigurasi elektron C (Z=6). L = 6] Contoh soal Berapakah jumlah menempati kulit O (n=5)? Jawab Jumlah elektron di kulit O (n=5) = 2(2)5 = 64 elektron elektron maksiumum yang dapat 42 .Golongan IA VIA VIIA VIIIA Litium Oksigen Florin Neon Natrium Gambar 2.

Ernest Rutherford. Thompson mencoba menjelaskan keberadaan elektron mengguna-kan teori dan model atomnya. Atom-atom dari unsur yang sama mempunyai bentuk yang sama dan tidak dapat diubah menjadi atom unsur lain. Model atom yang dikemukakan oleh Thompson sering disebut sebagai model roti kismis dengan roti sebagai atom yang bermuatan positif dan kismis sebagai elektron yang tersebar merata di seluruh bagian roti. elektron tersebar secara merata di dalam atom yang dianggap sebagai suatu bola yang bermuatan positif. 43 . Gambar 2.2 Model atom Joseph John Thompson Joseph John Thompson merupakan penemu elektron.4. Atom secara keseluruhan bersifat netral. Niels Bohr dan teori atom menggunakan mekanika gelombang. 2. Teori dan model atom dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh John Dalton yang selanjutnya dikembangkan oleh Joseph John Thompson. kekal dan tidak dapat dimusnahkan demikian juga tidak dapat diciptakan. Menurut Thompson.2.4 Perkembangan model atom Penelitian-penelitian terbaru menyebabkan teori dan model atom semakin berkembang dan kebenarannya semakin nyata.4. John Dalton menjelaskan bahwa atom merupakan partikel terkecil unsur yang tidak dapat dibagi lagi.21 Model atom Dalton 2.1 Model atom John Dalton Hukum kekekalan massa yang disampaikan oleh Lavoisier dan hukum perbandingan tetap yang dijelaskan oleh Proust mendasari John Dalton untuk mengemukakan teori dan model atomnya pada tahun 1803.

Akan tetapi teori dan model atom yang dikemukakan oleh Rutherford juga masih mempunyai kelemahan yaitu teori ini tidak dapat menjelaskan fenomena kenapa elektron tidak dapat jatuh ke inti atom. 44 . Padahal menurut fisika klasik.3 Model atom Ernest Rutherford Penelitian penembakan sinar alfa pada plat tipis emas membuat Rutherford dapat mengusulkan teori dan model atom untuk memperbaiki teori dan model atom Thompson. Gambar 2.4. Menurut Rutherford. partikel termasuk elektron yang mengorbit pada lintasannya akan melepas energi dalam bentuk radiasi sehingga elektron akan mengorbit secara spiral dan akhirnya jatuh ke iti atom.23 Model atom Rutherford Rutherford berhasil menemukan bahwa inti atom bermuatan positif dan elektron berada diluar inti atom. atom mempunyai inti yang bermuatan positif dan merupakan pusat massa atom dan elektron-elektron mengelilinginya.22 Model atom Thompson 2.Gambar 2.

Model atom ini menjelaskan bahwa elektron-elektron berada dalam orbita-orbital dengan tingkat energi tertentu. Orbital merupakan daerah dengan kemungkinan terbesar untuk menemukan elektron disekitar inti atom.Teori dualisme gelombang partikel elektron yang dikemukakan oleh de Broglie pada tahun 1924 .4. Beberapa hal yang dijelaskan oleh Bohr adalah .4.Teori persamaan gelombang oleh Erwin Schrodinger pada tahun 1926 Menurut model atom ini.Tiap elektron mempunyai energi tertentu yang cocok dengan tingkat energi kulit .Elektron dapat berpindah posisi dari tingkat energi tinggi menuju tingkat energi rendah dan sebaliknya dengan menyerap dan melepas energi Gambar 2.Azas ketidakpastian yang dikemukakan oeh Heisenberg pada tahun 1927 . elektron tidak melepas dan menyerap energi .2.24 Model atom Bohr 2.4 Model atom Niels Bohr Niels Bohr selanjutnya menyempurnakan model atom yang dikemukakan oeh Rutherford. Penjelasan ini berdasarkan tiga teori yaitu . Penjelasan Bohr didasarkan pada penelitiannya tentang spektrum garis atom hidrogen.5 Model atom mekanika gelombang Perkembangan model atom terbaru dikemukakan oleh model atom berdasarkan mekanika kuantum. elektron tidak mengorbit pada lintasan tertentu sehingga lintasan yang dikemukakan oleh Bohr bukan suatu kebenaran.Elektron mengorbit pada tingkat energi tertentu yang disebut kulit .Dalam keadaan stasioner. 45 .

Dulong dan A. unsur hanya digolongkan menjadi logam dan nonlogam. Klorin Bromin Iodin Gambar 2. Penelitian Dalton tentang atom menjelaskan bahwa setiap unsur mempunyai atom-atom dengan sifat tertentu yang berbeda dari atom unsur lain. bromin dan iodin 46 . Pada awalnya massa atom individu belum bisa ditentukan karena atom mempunyai massa yang amat kecil sehingga digunakan massa atom relatif yaitu perbandingan massa antar-atom. Hal yang membedakan diantara unsur adalah massanya.Gambar 2.25 Model atom mekanika kuantum 2. Massa atom relatif termasuk sifat khas atom karena setiap unsur mempunyai massa atom relatif tertentu yang berbeda dari unsur lainnya. Setelah John Dalton mengemukakan teori atom maka terdapat perkembangan yang cukup berarti dalam pengelompokan unsur-unsur. Penelitian selanjutnya melibatkan Dobereiner. Berzelius pada tahun 1814 dan P. Newlands.5 Perkembangan pengelompokan unsur Pada awalnya. mendeleev dan Lothar Meyer yang mengelompokkan unsur berdasarkan massa atom relatif. Petit pada tahun 1819 melakukan penentuan massa atom relatif berdasarkan kalor jenis unsur.26 Unsur klorin. Dua puluh unsur yang dikenal pada masa itu mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Triad yang ditunjukkan oleh Dobereiner tidak begitu banyak sehingga berpengaruh terhadap penggunaannya.1 Triad Dobereiner Johann Wolfgang Dobereiner pada tahun 1829 menjelaskan hasil penelitiannya yang menemukan kenyataan bahwa massa atom relatif stronsium berdekatan dengan massa rata-rata dua unsur lain yang mirip dengan stronsium yaitu kalsium dan barium. Berdasarkan hasil penelitiannya. Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa beberapa unsur yang lain menunjukkan kecenderungan yang sama. 47 . Dobereiner selanjutnya mengelompokkan unsur-unsur dalam kelompok-kelompok tiga unsur yang lebih dikenal sebagai triad.2.5.

Newlands pada tahun 1864. 48 .2 Hukum oktaf Newlands Hukum oktaf ditemukan oleh A.5 Gambar 2.4 Massa Atom Relatif Unsur Triad Dobereiner Triad Kalsium Stronsium Barium Massa atom relatif 40 88 137 Rata-rata massa atom relatif Unsur pertama dan ketiga 40 137 2 88. Kemiripan sifat ditunjukkan oleh unsur yang berseliih satu oktaf yakni unsur ke-1 dan unsur ke-8 serta unsur ke-2 dan unsur ke-9. R.5. 28 Triad Dobereiner 2. Newlands mengelompok-kan unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatif unsur. Daftar unsur yang berhasil dikelompokkan berdasarkan hukum oktaf oleh Newlands ditunjukkan pada tabel berikut.27 Johann Wolfgang Dobereiner Litium (Li) Natrium (Na) Kalium (K) Kalsium (Ca) Stronsium (Sr) Barium (Ba) Klorin (Cl) Bromin (Br) Iodin (I) Belerang (S) Selenium (Se) Telurium (Te) Mangan (Mn) Kromium (Cr) Besi (Fe) Gambar 2.Tabel 2.

5. Unsur-unsur juga disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya dan ditempatkan dalam satu lajur yang disebut periode. Mendeleev selanjutnya menempatkan unsur-unsur dengan kemiripan sifat pada satu lajur vertikal yang disebut golongan. 2. Kemiripan sifat terlalu dipaksakan apabila pengelompokan dilanjutkan.5 Tabel oktaf Newlands Hukum oktaf Newlands ternyata hanya berlaku untuk unsur-unsur dengan massa atom relatif sampai 20 (kalsium).Gambar 2.29 John Newlands 35Cl 19F 1H 23Na 39K 7Li 24Mg 40Ca 9Be 52Cr 27Al 11B 48Ti 28Si 12C 14N 55Mn 31P 16O 56Fe 32S Gambar 2. Sistem periodik yang disusun Mendeleev dapat dilihat pada tabel berikut: 49 . Sifat tertentu akan berulang secara periodik apabila unsurunsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya.3 Sistem periodik Mendeleev Dmitri Ivanovich Mendeleev pada tahun 1869 melakukan pengamatan terhadap 63 unsur yang sudah dikenal dan mendapatkan hasil bahwa sifat unsur merupakan fungsi periodik dari massa atom relatifnya.

31 Sistem periodik Mendeleev Mendeleev sengaja mengosong-kan beberapa tempat untuk menetapkan kemiripan sifat dalam golongan. Salah satu unsur baru yang sesuai dengan ramalan Mendeleev adalah germanium yang sebelumnya diberi nama ekasilikon oleh Mendeleev. Beberapa kotak juga sengaja dikosongkan karena Mendeleev yakin masih ada unsur yang belum dikenal karena belum ditemukan.Gambar 2.30 Dmitri Ivanovich Mendeleev Gambar 2. 50 .

Golongan dapat dieri tanda nomor 1 sampai 18 berurutan dari kiri ke kanan.5 Periode dan golongan Sistem periodik modern tersusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Gambar 2. Moseley 2. Moseley yang merupakan penemu cara menentukan nomor atom pada tahun 1914 kembali menemukan bahwa sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik nomor atomnya. Henry G. golongan transisi mempunyai nomor 3 sampai 12. Pengelompokan yang disusun oleh Mendeleev merupakan susunan yang berdasarkan kenaikan nomor atomnya. Berdasarkan penomoran ini.2. Unsur golongan A disebut golongan utama sedangkan golongan B disebut golongan transisi. Jumlah proton suatu unsur dinyatakan sebagai nomor atom.5.32 Henry G. elektron dan netron. tersusun berdasarkan kenaikan nomor atom sedangkan lajur vertikal yang disebut golongan tersusun berdasarkan kemiripan sifat. 51 . Sistem periodik modern tersusun atas 7 periode dan 18 golongan yang terbagi menjadi 8 golongan utama atau golongan A dan 8 golongan transisi atau golongan B. Lajur horisontal yang disebut periode. Setiap unsur mempunyai jumlah proton tertentu yang berbeda dari unsur lain. Jumlah proton merupakan sifat khas unsur. Atom selanjutnya diketahui tersusun oleh proton.4 Sistem periodik Moseley Perkembangan terbaru mengenai atom menjelaskan bahwa atom dapat terbagi menjadi partikel dasar atau partikel subatom.5. Penyusunan telurium dan iodin yang tidak sesuai dengan kenaikan massa atom relatifnya ternyata sesuai dengan kenaikan nomor atomnya.

energi ionisasi.6.Gambar 2. 2. afinitas elektron dan keelektronegatifan. 8. 7 Jawab Unsur X Y Z 2. 3 Y = 2. 8. Sifat periodik meliputi jari-jari atom. Jari-jari atom secara lazim ditentukan dengan mengukur jarak dua inti atom yang identik yang terikat secara kovalen.6 Periode 2 3 3 Golongan IIIA IVA VIIA Sifat periodik unsur Sifat yang berubah secara beraturan menurut kenaikan nomor atom dari kiri ke kanan dalam satu periode dan dari atas ke bawah dalam satu golongan disebut sifat periodik. 4 Z = 2. jari- 52 . Y dan Z apabila diketahui konfigurasi elektronnya adalah X = 2.1 Jari-jari atom Jari-jari atom adalah jarak elektron di kulit terluar dari inti atom. Pada penentuan jari-jari atom ini.33 Sistem periodik modern Contoh soal Tentukan periode dan golongan unsur X. Jari-jari atom sulit untuk ditentukan apabila unsur berdiri sendiri tanpa bersenyawa dengan unsur lain.

jarak antar hidrogen (H2) oksigen (O2) nitrogen (N2) radius atomik fluorin (F2) klorin (Cl2) bromin (Br2) iodin (I2) Gambar 2.34 Penentuan jari-jari atom Jari-jari atom versus nomor atom jari-jari atom (pm) nomor atom Gambar 2. 53 .jari kovalen adalah setengah jarak antara inti dua atom identik yang terikat secara kovalen. Hal ini terjadi karena dari atas ke bawah jumlah kulit bertambah sehingga jari-jari atom juga bertambah.35 Hubungan jari-jari atom gengan nomor atom Kurva hubungan jari-jari atom dengan nomor atom memperlihatkan bahwa jari-jari atom dalam satu golongan akan semakin besar dari atas ke bawah.

Kecenderungan ukuran atom ukuran atom turun ukuran atom naik Gambar 2. jari-jari atom semakin kecil dari kiri ke kanan. Kekuatan gaya tarik yang semakin meningkat menyebabkan jari-jari atom semakin kecil. Karena jumlah proton bertambah maka muatan inti juga bertambah yang mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti dengan elektron pada kulit terluar semakin kuat.36 Jari-jari atom unsur Energi ionisasi pertama menurun dalam golongan I dan II karena elektron terluar sangat terperisai dari tarikan inti Unsur-unsur dalam satu periode (dari kiri ke kanan) berjumlah kulit sama tetapi jumlah proton bertambah sehingga jari-jari atom juga berubah. Jari-jari ion digambarkan sebagai berikut: Golongan 1A Golongan 7A Gambar 2. Sehingga untuk unsur dalam satu periode.37 Perbandingan jari-jari atom dengan jari-jari ion 54 .

dalam satu golongan. energi ionisasi semakin besar dari kiri ke kanan. Hal ini disebabkan dari kiri ke kanan muatan iti semakin besar yang mengakibatkan gaya tarik antara inti dengan elektron terluar semakin besar sehingga dibutuhkan energi yang besar pula untuk melepaskan elektron pada kulit terluar.39 Hubungan energi ionisasi dengan nomor atom 55 . Semakin besar jari-jari atom maka gaya tarik antara inti dengan elektron pada kulit terluar semakin lemah. Hal ini berarti elektron pada kulit terluar semakin mudah lepas dan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron tersebut semakin kecil. Nomor atom dan jari-jari atom mempengaruhi besarnya energi ionisasi. energi ionisasi semakin kecil dari atas ke bawah.2 Energi ionisasi Energi minimum yang dibutuhkan untuk melepas elektron atom netral dalam wujud gas pada kulit terluar dan terikat paling lemah disebut energi ionisasi.38 Energi ionisasi Energi ionisasi pertama versus nomor atom Enenrgi ionisasi pertama (kJ/mol) nomor atom Gambar 2. Kecenderungan energi ionisasi pertama Energi naik Energi turun Gambar 2. Akibatnya.6.2. Sedagkan dalam satu periode.

2. 6 dan 7 56 . 2. Hal sebaliknya terjadi apabila dalam proses penangkapan satu elektron.6. Afinitas elektron dapat berharga positif dan negatif.3 Afinitas elektron Afinitas elektron merupakan enegi yang dilepaskan atau diserap oleh atom netral dalam bentuk gas apabila terjadi penangkapan satu elektron yang ditempatkan pada kulit terluarnya dan atom menjadi ion negatif. Energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron keua disebut energi ionisasi kedua dan tentu saja diperlukan energi yang lebih besar. Penyerapan energi menyebabkan ion yang terbentuk bersifat tidak stabil. Ion negatif yang trebrntuk akibat proses tersebut bersifat stabil. Semakin negatif harga afinitas lektron suatu atom unsur maka ion yang ter bentuk semakin stabil.40 Afinitas elektron golongan 1. Hal sebaliknya terjadi untuk unsur golongan 1A yang berada di dasar kurva yang menunjukkan bahwa energi ionisasinya kecil. 3. 4. Atom suatu unsur dapat melepaskan elektronnya lebih dari satu buah. energi diserap. Afinitas elektron (kJ/mol) Golongan Gambar 2.Kurva tersebut menunjukkan unsur golongan 8A berada di puncak grafik yang mengindikasikan bahwa energi ionisasinya besar. Energi ionisasi semakin besar apabila makin banyak elektron yang dilepaskan oleh suatu atom. energi dilepaskan. 5. Afinitas elektron berharga negatif apabila dalam proses penangkapan satu elektron.

Kecenderungan Elektronegatifitas alam Tabel Periodik Lantanida Aktinida Elektronegatifitas naik dari bawah ke atas dalam satu golongan Elektronegatifitas naik dari kiri ke kanan dalam satu periode Gambar 2. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa afinitas elektron.41 Elektronegatifitas 57 . Fenomena ini menyebabkan jari-jari atom semakin kecil. afinitas elektron makin besar dan makin negatif dan akibatnya kecenderungan untuk menarik elektron semakin besar. semakin positif. dari kiri ke kanan.6. Hal ini dapat dimengerti karena dalam satu periode. Hal ini mengindikasikan bahwa unsur golongan 2A dan 8A sulit menerima elektron.Gambar menunjukkan bahwa atom unsur golongan 2A dan 8A mempunyai afinitas elektron yang berharga positif. Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh unsur golongan halogen karena unsur golongan ini paling mudah menangkap elektron. 2. dalam satu periode. dalam satu periode. dari kiri ke kanan semakin bertambah dan dalam satu golongan. muatan inti atom semakin bertambah yang mengakibatkan gaya tarik antara inti atom dengan elektron terluar juga semakin bertambah. dari atas ke bawah keelekrnegatifan semakin berkurang. Keelektronegatifan secara umum. dari kiri ke kanan semakin negatif dan dalam satu golongan dari atas ke bawah. energi ionisasi semakin besar.4 Keelektronegatifan Keelektronegatifan ada-lah skala yang dapat menjelaskan kecenderungan atom suatu unsur untuk menarik elektron menuju kepadanya dalam suatu ikatan.

0 Ba 0.0 Po 1.86 Be 1.5 S 2.4 C 2.0 Sr 1.2 At 1.97 Na 1.5 Si 1.97 B 2.0 Sn 1.9 Gambar 2.82 Bi 1.2 Ca 1. Keelektronegatifan skala pauling memberikan nilai keelektronegatifan untuk gas mulia sebesar nol.8 F 4.2 Sb 1.1 Cl 2.5 Te 2.5 Tl 1.43 Sifat periodik unsur 58 .42 Keelektronegatifan skala Pauling Terlihat dari gambar bahwa untuk unsur gas mulia tidak mempunyai harga keelektronegatifan karena konfigurasi elektronnya yang stabil.1 P 2. Stabilitas gas mulia menyebabkan gas mulia sukar untuk menarik dan melepas elektron. Lebih berkarakter nonlogam Afinitas elektron lebih negatif Energi ionisasi meningkat Tabel periodik Jari-jari atom meningkat Lebih berkarakter logam Gambar 2.0 K 0.1 Li 0.7 O 3.8 Br 2.5 Mg 1.H 2.89 Cs 0.72 Pb 1.0 Al 1.7 Ge 2.4 Se 2.8 In 1.90 Rb 0.5 Ga 1.1 As 2.5 N 3.7 I 2.

dengan memikirkan atom sebagai sebuah bola sederhana maka sifat-sifat padatan. cairan dan gas dapat dijelaskan dengan mudah.Ringkasan Atom merupakan model paling penting dalam ilmu kimia. Sebuah model sederhana yang dapat digunakan untuk menggambarkan sitem yang lebih komplek. Dalam tabel periodik modern. 59 . Jadi. Baris-baris tersebut menjadikan unsur-unsur dapat tersusun dalam satu baris yang sama yang disebut golongan yang mempunyai kesamaan sifat fisika dan sifat kimia. unsur-unsur disusun dalam baris-baris yang disebut sebagai periode dengan kenaikan nomor atom.

Jelaskan perbedaan spektra kontinyu dan non-kontinyu Tuliskan konfigurasi elektron kalsium. 39K+ dan 40Ca2+. selenium dan nikel Berikan blok tabel periodik dimana masing-masing unsur kemungki-nan ditemukan Jelaskan. tentukan nomor atom dan konfigurasi elektron apabila jumlah netron dalam inti adalah 22 Berapakah jumlah kulit yang dimiliki unsur 17-Y. Tulislah simbol. Hasil reaksi bersifat korosif dan karena dapat bereaksi dengan glass maka disimpan dalam wadah nikel. Unsur dengan nomor atom 23 mengion dengan muatan 3+. elektron dan netron atom unsur 29 Cu Tentukan jumlah proton dan elektron atom unsur 24-Cr 6+ Ion Z3+ mempunyai 20 elektron dan 22 netron. tuliskan konfigurasi elektron ion ini termasuk simbolnya. p. elektron dan netron serta buatlah konfigurasi elektron 20-Ca2+ Suatu unsur berwujud gas mempunyai massa 1 gram dan volume 560 liter (STP). Jelaskan perbedaan dalam masingmasing pasangan tersebut. termasuk nomor massa dan nomor atom. O2. Tuliskan konfigurasi elektron nikel dan ion nikel (II). 1. Tabel periodik dibagi menjadi golongan s. S dan 32S2-. tentukan lambang unsur dengan nomor atom 35 32 Massa relatif 1 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Tentukan jumlah proton. Tuliskan konfigurasi elektron dari kalsium. 17O dan 18O.Latihan 1. d dan f. Lengkapilah tabel berikut: Partikel Netron Muatan relatif -1 3 4 5 6 7 8 Hitunglah jumlah proton. berdasarkan konfigurasi elektron. Tuliskan jumlah proton. Asam hidrofluorat dapat bereaksi dengan nikel membentuk lapisan pelindung nikel(II)fluorida. Tuliskan konfigurasi elektron Cl dan Cl-. sifat-sifat umum unsur golongan p Jelaskan energi ionisasi pertama dari natrium. elektron dan netron dalam 16O dan 17O. Ca (Z = 20) Dengan menggunakan tabel periodik. magnesium dan aluminium berdasarkan konfigurasi elektronnya 69 60 . tentukan nomor massa ion Z3+ Jelaskan perbedaan dua isotop klorin 35-Cl dan 37-Cl Tentukan jumlah proton. isotop dengan nomor massa 34 dan mempunyai 18 netron.dan Ca2+ Asam fluorida dapat bereaksi dengan air membentuk asam hidrofluorat. elektron dan netron dalam 6Li dan 7Li. Jelaskan apa yang dimaksud dengan nomor massa sebuah isotop. silikon. Oksigen mempunyai 3 isotop yaitu 16O.

jelaskan Pada tabel periodik bagian manakah yang menyatakan unsur dengan kestabilan tinggi dan unsur golongan transisi Jelaskan sifat yang mencrminkan kecenderungan unsur untuk melepas elektronnya dan membentuk ion positif satu (+1) Apakah yang dimaksud metaloid dan unsur manakah dalam tabel periodik yang sering disebut unsur metaloid Sifat-sifat apakah yang membedakan unsur logam dan non logam Tabel berikut memberikan data titik leleh unsur-unsur periode 3. fosfor dan belerang berdasarkan konfigurasi elektronnya Helium merupakan unsur dengan energi ionisasi pertama paling tinggi dalam tabel periodik. manakah yang merupakan jari-jari atom litium. Na Mg Al Si P S Cl Ar 371 922 933 1683 317 386 172 84 a. 1.25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Jelaskan energi ionisasi pertama dari silikon. Jelaskan kenapa silikon mempunyai titik leleh tertinggi c. Jelaskan kenapa terjadi peningkatan konduktivitas listrik dari golongan I sampai golongan III 61 .01.89. 157. 0.23. Prediksikan unsur yang mempunyai energi ionisasi pertama paling rendah dan jelaskan kenapa Hal apakah yang membedakan penelitian Mendeleev dengan penelitian sebelumnya sehingga ilmuwan menerima konsep yang diusulkan Bagaimanakah tabel periodik dapat memudahkan pembelaja-ran ilmu kimia Bagaimanakah senyawa biner dan hidrogen dapat mengilustrasikan konsep periodisitas Jelaskan kenapa klorin an natrium berada dalam satu periode Jari-jari atom unsur golongan alkali dan alkali tanah berturutturut adalah (dalam angstrom) 2. manakah yang mempunyai energi ionisasi tertinggi. Jelaskan terjadinya peningkatan titik leleh antara natrium dan magnesium b.80 dan 0. jelaskan Diantara unsur golongan alkali dan alkali tanah.

62 .

1 Unsur dengan jumlah mol berbeda 63 . Jarak dinyatakan dalam satuan meter atau kilometer. Gambar 3. netron dan elektron yang terdapat dalam atom dan ion dari nomor atom dan nomor massa yang diberikan 5 Siswa mampu membedakan isotop berdasarkan jumlah netron berbeda yang ada 6 Siswa mampu mendeduksi konfigurasi elektronik atom 3. Ilmu kimia menggunakan satuan mol untuk menyatakan satuan jumlah atau banyaknya materi. netron dan elektron berdasarkan muatan relatif dan massa relatifnya 2 Siswa mampu mendeskripsikan massa dan muatan dalam atom 3 Siswa mampu mendeskripaikan kontribusi proton dan netron pada inti atom berdasarkan nomor atom dan nomor massa 3 Siswa mampu mendeduksikan jumlah proton. demikian pula berapa liter saat kita ingin membeli minyak tanah.1 Konsep mol Saat kita membeli apel atau daging kita selalu mengatakan kepada penjual berapa kilogram yang ingin kita beli.3 Stoikhiometri Standar Kompetensi Memahami konsep mol Kompetensi Dasar Menjelaskan konsep mol Menerapkan Hukum Gay Lussac dan Hukum Avogadro Tujuan pembelajaran 1 Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan proton.

maka 2 mol zat X = 2 x L partikel zat X 5 mol zat X = 5 x L partikel zat X n mol zat X = n x L partikel zat X Jumlah partikel = n x L Contoh soal Berapa mol atom timbal dan oksigen yang dibutuhkan untuk membuat 5 mol timbal dioksida (PbO2).1.02x1023 molekul gula 1 mol zat X = L buah partikel zat X 3. 2H2O + O2 2H2O Dalam 18 gram air terdapat 6. untuk mendapatkan 18 gram air maka 2 gram gas hidrogen direaksikan dengan 16 gram gas oksigen.1 Hubungan mol dengan tetapan Avogadro Massa atom relatif adalah massa rata-rata atom sebuah unsur dibandingkan dengan 1/12 massa atom karbon 12 Kuantitas atom.02x1023 atom air 1 mol gula = 6.023x1023 molekul air.02x1023 atom C-12.02x1023 partikel/mol Lambang L menyatakan huruf pertama dari Loschmidt. Tetapan Avogadro (L) = 6. molekul. seorang ilmuwan austria yang pada tahun 1865 dapat menentukan besarnya tetapan Avogadro dengan tepat.02x1023 atom emas 1 mol air = 6. Karena jumlah partikel ini sangat besar maka tidak praktis untuk memakai angka dalam jumlah yang besar. ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12. 64 .3. molekul dan ion dalam suatu zat dinyatakan dalam satuan mol. Sehingga iistilah mol diperkenalkan untuk menyatakan kuantitas ini. Misalnya. Jumlah atom yang terdapat dalam 12 gram karbon-12 sebanyak 6. 1 mol emas = 6. Satu mol adalah jumlah zat yang mangandung partikel (atom.2 Hubungan mol dengan jumlah partikel Telah diketahui bahwa 1mol zat X = l buah partikel zat X. Sehingga.1. C-12). tetapan ini disebut tetapan Avogadro.

00001786 mol Jumlah atom besi = 0. O 2) Contoh soal Berapa jumlah atom besi (Ar Fe = 56 g/mol) dalam besi seberat 0. O2). Jawab jumlah mol besi 0. molekul. Massa molar sama dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu zat yang dinyatakan dalam gram. C-12).00001786 mol x 6.Jawab 1 mol timbal dioksida tersusun oleh 1 mol timbal dan 2 mol atom oksigen (atau 1 mol molekul oksigen.001 gram.1.001 gram 56 g / mol 0. ion) sebanyak atom yang terdapat dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12. Urea Fe2(SO3)3 Jumlah mol 1 1 1 1 Mr/Ar (g/mol) 18 13 60 300 Massa 18 13 60 300 Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu zat dapat dicari dengan Gram = mol x Mr atau Ar 65 .02x1023 = 1.07x1019 3. Massa molar = Mr atau Ar suatu zat (gram) Contoh.1 Massa dan Jumlah Mol Atom/Molekul Atom/molekul H2O N (CO(NH2)2). Sehingga terdapat Atom timbal = 1 x 5 mol = 5 mol Atom oksigen = 2 x 5 mol = 10 mol (atau 5 mol molekul oksigen. Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol C-12 adalah 12 gram. Tabel 3.3 Massa molar Massa molekul relatif merupakan penjumlahan massa atom relatif dalam sebuah molekul Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang mangandung partikel (atom. Massa 1 mol zat disebut massa molar.

Sehingga.3286 gram.1. 1 mol gas oksigen 32 gram / mol x 1 Liter 1.21 mol x 33 g/mol = 9.4286 gram 22. maka jumlah mol besi Berapa mol besi seberat 20 gram jika diketahui Ar Fe = 56 mol besi Contoh soal 20 gram 56 gram / mol 0. Maka.3 Volume molar Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada suhu 0°C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76cmHg) didapatkan tepat 1 liter oksigen dengan massa 1. Keadaan standar pada suhu dan tekanan yang sma (STP) maka volume 66 . 1 mol gas oksigen sama dengan 22. gram propana = mol x Mr = 0. Apabila jumlah molekul sama maka jumlah molnya akan sma.23 gram 3.4286 gram 32 gram / mol Karena volume gas oksigen (O2) = 1 liter.Contoh soal g/mol Jawab Besi tersusun oleh atom-atom besi. Avogadro yang menyata-kan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama. Pada keadaan STP. mol gas oksigen 1. gas-gas yang bervolume sama mengandung jumlah molekul yang sama. pada suhu dan tekanan yang sama.3 liter.4 Liter Pengukuran dengan kondisi 0°C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76cmHg) disebut juga keadaan STP(Standard Temperature and Pressure).357 mol Berapa gram propana C3H8 dalam 0.21 mol jika diketahui Ar C = 12 dan H = 1 Jawab Mr Propana = (3 x 12) + (8 x 1) = 33 g/mol. sehingga. apabila jumlah mol gas sama maka volumenyapun akan sama.

3 liter/mol. Jadi pada suhu dan tekanan yang sama perbandingan mol gas sama dengan perbandingan volume gas. Volume 1 mol gas disebut sebagai volume molar gas (STP) yaitu 22. Apabila jumlah molekulnya sama maka jumlah molnya sama.1 Persamaan gas ideal Persamaan gas ideal dinyatakan dengan: PV=nRT keterangan: P.2 Gas pada suhu dan tekanan sama Avogadro melalui percobaannya menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama.1. tetapan gas ideal (0.082 liter atm/mol K) T. gas-gas yang bervolume sama mengandung jumlah molekul yang sama.4 Volume gas tidak standar 3. temperatur mutlak (Kelvin) 3.1 mol gas apasaja/sembarang berharga sama yaitu 22. jumlah mol gas R.1. P) V 1 V2 n n 1 2 3. M n (mol ) V (liter ) mol x 1000 V (mL) 1000 g x Mr V (mL) keterangan: V = volume larutan g = massa zat terlarut 67 .4.1. Salah satu cara untuk menyatakan konsentrasi dan umumnya digunakan adlah dengan molaritas (M).3 Molaritas Larutan merupakan campuran antara pelarut dan zat terlarut. 3.4. tekanan gas (atm) V.3 liter. Maka. volume gas (liter) N.4. Jumlah zat terlarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi. (T . molaritas merupakan ukuran banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter larutan.1.

V1M1 = V2M2 keterangan: = volume sebelum pengenceran V1 = molaritas sebelum pengenceran M1 = volume sesudah pengenceran V2 = molaritas sesudah pengenceran M2 Gambar 3.2.2 Pembuatan Larutan 3. Sehingga untuk AmBn.1 Perbandingan massa unsur dalam senyawa Senyawa mempunyai susunan yang tetap. 1 molekul mengandung m atom A dan n atom B. Sehingga. Pengenceran dilakukan dengan penambahan air. Dalam senyawa AmBn. massa A massa B m Ar A n Ar B 68 . Hukum Proust menyatakan bahwa perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa selalu tetap. Pengenceran tidak merubah jumlah mol zat terlarut. Contoh paling sederhana adalah perbandingan massa hidrogen dengan oksigen dalam air (H2O) yang selalu tetap yaitu 1:8.pengenceran dilakukan apabila larutan terlalu pekat.2 Penerapan hukum Proust 3. massa A = m x Ar A dan massa B = n x Ar B. Dalam setiap molekul AmBn. Perbandingan tersebut tidak tergantung pada jumlah air.

Apabila massa air adalah 32 maka massa H. massa A m Ar A x massa AmBn Mr AmBn m Ar B x massa AmBn Mr AmBn massa B Dari contoh senyawa AmBn maka dapat ditentukan indeks untuk masing-masing unsur.3 2 Ar H 1 Ar O 2 16 Massa unsur dalam senyawa Massa unsur dalam senyawa ditentukan dengan cara yang sama untuk menghitung persen komposisi. 2 Ar H x g air 2 Ar H x massa air Mr H 2O 2(1) x 18 18 8 gram Untuk senyawa AmBn secara umum dapat dinyatakan. atau dapat ditulis m n massa A / Ar A massa B / Ar B mol A mol B 69 . Sebagai contoh adalah perbandingan massa H dengan O dalam H2O adalah massa H massa O 3. massa A massa B m Ar A n Ar B Dari pernyataan tersebut maka m adalah indeks untuk unsur A sedangkan n adalah indeks untuk unsur B.2.2 Persen komposisi Persentase setiap unsur dalam senyawa dinyatakan dalam persen komposisi.2. misalnya massa H massa O 2 Ar H 1 Ar O 2 16 jumlah total adalah 18.3. Dalam air (H2O).

8 gram sulfur.025 mol 0.05/0. 3.Menentukan massa atau komposisi unsur dalam senyawa .4 Menentukan rumus senyawa Rumus senyawa berupa rumus empiris dan rumus molekul sangat mutlak ditentukan untuk mengetahui jenis unsur dan komposisi unsur senyawa tersebut. S (Ar = 32 g/mol) 0.15 gram 23 g / mol 0. Na (Ar = 23 g/mol) 1.Mengubah massa atau komposisi dalam mol .05 mol 0. Rumus empiris dapat ditentukan dengan cara .025 = 2 0.2.4.Jadi untuk senyawa AmBn.8 gram 32 g / mol 0.15 gram natrium dan 0.2 Rumus molekul Jumlah atom (jumlah mol atom) yang bergabung dalam satu molekul senyawa (satu mol senyawa).1 Rumus empiris Rumus empiris memberikan perbandingaan masing-masing atom atau kelompok atom dalam sebuah molekul Perbandingan sederhana atom unsur-unsur dalam senyawa disebut rumus empiris.2.2. Jawab Perbandingan Massa Mol Perbandingan sederhana Natrium. 70 .8 gram 1.025 = 1 Perbandingan terkecil = rumus empiris = Na2S 3. Rumus molekul dapat ditentukan dengan memanfaatkan massa molekul relatif dan rumus empiris.Menentukan jenis unsur penyusun senyawa . m : n = mol A : mol B 3.15 gram Sulfur.025/0.4.Menentukan massa atom relatif unsur penyusun senyawa Contoh soal Tentukan rumus empiris natrium sulfida yang didapatkan dari reaksi 1.

5 Alat Penganalisis Unsur Penyerap C2O 71 .Sampel Penyerap H2O Pemanas Gambar 3.

C (Ar = 12 g/mol) 23.5n = 99 n=2 Maka rumus molekul senyawa adalah (CH2Cl)2 = C2H3Cl2 72 .04 gram 1 g / mol 4.Contoh soal Senyawa hidrokarbon terklorinasi mengandung 23.02/2.02/2.5 g / mol 2. Cl (Ar = 35.02 = 2 2.23 Hidrogen.04 mol 71. maka [(1 x Ar C) + (2 x Ar H) + (1 x Ar Cl)]n = 99 [(1 x 12) + (2 x 1) + (1 X 35.24 gram 12 g / mol 2.72 gram 35.72% klorin.02 = 1 3. Tentukan rumus empiris dan rumus molekul jika massa molekul diketahui sebesar 99.02 mol 2. H (Ar = 1 g/mol) 3. 3.5 g/mol) 71.5)n = 99 39.5)]n = 99 (12+2+35.02 = 1 Perbandingan terkecil = rumus empiris = (CH2Cl)n Apabila diketahui massa molekul sebesar 99.23% karbon.03% hidrogen dan 71.02 mol 4.72 24.03/2.03 Klorin. (% = gram) jawab Perbandingan Massa Mol Perbandingan sederhana Karbon.

Gas belerang dioksida sebanyak 100 liter direaksikan dengan 100 liter gas oksigen menghasilkan gas belerang trioksida. Ar H = 1g/mol.7H2O apabila diketahui Ar Mg = 23g/mol. Ar P =31g/mol dan Ar O = 16g/mol. Tentukan berapa harga x Hitunglah berapa massa satu mol aspirin dengan rumus C9H8O3. isotop. Ca(H2PO3)2 mempunyai berat 2. Ar O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol. 6.volume akhir campuran 3.pereaksi yang tersisa dan berapa volumenya . dan massa molekul secara relatif didasarkan pada karbon-12 yang mempunyai massa 12 tepat. tentukan: . 4. Diketahui Ar Ca = 30g/mol. 8. K2SO3. 9. Ar H = 1g/mol. Gas nitrogen monoksida sebanyak 10 liter mengandung 3x1022 molekul. Tentukan jumlah mol 10 gram tawas. 7. Suatu senyawa karbon diketahui mempunyai rumus empiris CH2. 5. 73 . Ar H = 1g/mol. Ar O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol. Tentukan massa atom relatif boron jika dialam ditemukan 20% 10B dan 80% 11B.xH2O memiliki 63% air kristal. Ar O = 16g/mol dan Ar S = 32g/mol. Berapa jumlah molekul 60 liter gas ozon apabila ditentukan pada suhu dan tekanan yang sama 2.23H2O apabila diketahui Ar K = 39g/mol. Latihan 1. Hitunglah berapa mol aspirin yang terdapat dalam 1 gram senyawa ini. Tentukan rumus molekul senyawa tersebut apabila diketahui senyawa tersebut mempunyai berat 11 gram dan volume 5.33 gram. massa fosfor dan jumlah masingmasing atom unsur pupuk apabila diketahui pupuk TSP. Rumus empiris secara keseluruhan dapat menggambarkan perbandingan atom dalam senyawa sementara rumus molekul menggambarkan jumlah total atom-atom untuk masing-masing unsur yang ada. Apabila semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang sama.Ringkasan Definisi atom. Ar Al = 27g/mol. Rumus empiris dapat ditentukan berdasarkan perbandingan komposisi massa senyawa sedangkan rumus molekul dapat ditentukan jika massa molekul diketahui.6 liter pada keadaan STP 10. Ar H = 1g/mol. 11.Al(SO3)3. Tentukan massa Ca(H2PO3)2. Satu mol senyawa adalah ukuran senyawa yang mempunyai jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram karbon-12. Kristal Na2CO3. Tentukan massa molekul relatif MgSO3. Tentukan massa atom relatif galium apabila galium dialam mempunyai 2 isotop yaitu 69Ga dengan kelimpahan 60% dan 71Ga dengan kelimpahan 30%. Tentukan massa molekul relatif Cu(H2O)SO3 apabila diketahui Ar Cu = 29g/mol.volume gas yang dihasilkan .

15. 18. 74 . Berapakah nilai konstanta Avogadro jika diketahui massa satu atom 12C sebesar 1. Setelah analisis.5 gram klorin dan 71. Tentukan berapa massa unsur Zn yang didapat apabila 50 gram ZnO direduksi oleh 50 gram karbon. 14. 0. Neon alam tersusun oleh 90.5% urea NH2CONH2. tentukan rumus molekul hidrokarbon. hidrogen dan oksigen. Pembakaran sempurna hidrokarbon menghasilkan 2.1 mol CO2 dan 10 mol CaCO3. Suatu permen karet mengandung 2.7% massa karbon dan 9. 25. Hitunglah berapa massa. 16. Hitunglah rumus molekul hidrokarbon tersebut. Hitunglah massa atom relatif neon. 20.5% hidrogen dan 37. Hitunglah rumus empiris senyawa dengan komposisi 12. Tentukan rumus empiris molekul dan apabila diketahui massa molekul relatif hidrokarbon sebesar 78. Pembakaran sempurna 10 cm3 gas hidrokarbon membutuhkan 20 cm3 oksigen.8% 22Ne.10-23. Tulislah rumus empiris heksana C6H13 dan hidrogen peroksida H2O2. 17.1% bromin. Reaksi menghasilkan 10 cm3 karbondioksida.00 gram asam cuka. Senyawa organik X hanya tersusun oleh unsur karbon. C6H12O6 dalam airuntuk membuat 250 cm3 larutan. dalam gram. Hitunglah konsentrasi (dalam mol/Liter) larutan yang didapatkan dengan melarutkan 3. 13.12.993. Urea tersebut dapat bereaksi dengan asam cuka sesuai persamaan berikut: NH2CONH2 + 2CH3CO2H +H2O = CO2 + 2CH3CO2-NH3+ Tentukan berapa massa permen karet untuk menetralkan 1. 13. Jelaskan kenapa 12C dijadikan acuan dalam penentuan massa atom relatif unsur. 22. Tentukan rumus empiris senyawa X. 23.10H2O. Hitunglah massa 0. 24.7% nitrogen. 21. CuSO3 dan Na2CO3. 26. 2. Berapa volume O2 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi 20 dm3 NH3 menjadi NO. Gunakanlah konstanta Avogadro untuk menghitung atom klorin total yang terdapat dalam 35. CO2. Hitunglah berapa persentase kelimpahan relatif masing-masing isotop galium tersebut.3% 21Ne dan 8. 27.63 gram karbondioksida dan 0.333 gram aspirin. Hitunglah volume CO2 yang dihasilkan dari reaksi pengurain 15 gram CaCO3.53 gram air. 19. 28.0 gram klorin. 0. Gunakanlah tabel periodik untuk menghitung massa relatif dari MgCl2. Hitunglah rumus empiris senyawa yang tersusun oleh 38.1% hidrogen dan 85. ternyata sampel X hanya mengandung 38.7% massa hidrogen.8% karbon.9% 20Ne. Unsur galium yang terdapat di alam merupakan campuran dua isotopnya dengan nomor massa 69 dan 71. 29. 30.8% karbon.5 gram glukosa.

ikatan kovalen dan ikatan koordinasi 3 Siswa mampu mendeskripsikan elektronegativitas sebagai kemampuan atom untuk menarik elektron ikatan dalam ikatan kovalen 4 Siswa mampu menjelaskan polaritas ikatan yang akan terjadi apabila atom-atom digabungkan oleh ikatan kovalen dengan elektronegativitas berbeda dan polarisasi yang mungkin terjadi 5 Siswa mampu menjelaskan dan memperkirakan bentuk. molekul dan ion menggunakan model kualitatif tolakan pasangan elektron 6 Siswa mampu mendeskripsikan ikatan logam sebagai gaya tarik kisi ion positif dalam lautan elektron yang bergerak 75 . . deskripsi struktur kisi natrium klorida secara sederhana 2 Siswa mampu mendeskripsikan ikatan kovalen sebagai pasangan elektron bersama yang digunakan diantara dua atom.4 Ikatan Kimia Standar Kompetensi Memahami terjadinya ikatan kimia Kompetensi Dasar Mendeskripsikan terjadinya ikatan ion Mendeskripsikan terjadinya ikatan kovalen Menjelaskan ikatan logam Tujuan pembelajaran 1 Siswa mengerti dan mampu mendeskripsikan ikatan ionik sebagai gaya tarik elektrostatik antara dua ion yang berbeda muatan. termasuk sudut ikatan.

Konfigurasi oktet dapat dicapai oleh unsur lain selain unsur golongan gas mulia dengan pembentukan ikatan. Tabel 4. Aturan oktet merupakan kecenderungan unsur-unsur untuk menjadikan konfigurasi elektron-nya sama seperti unsur gas mulia. unsur-unsur gas mulia mempunyai konfigurasi penuh yaitu konfigurasi oktet yang berarti mempunyai delapan elektron pada kulit terluar kecuali untuk unsur helium yang mempunyai konfigurasi duplet (dua elektron pada kulit terluarnya). Dilihat dari konfigurasi elektronnya. :2 8 10Ne : 2 8 1. Serah terima elektron menghasilkan ikatan ion sedangkan ikatan kovalen dihasilkan apabila terjadi pemasangan elektron untuk mencapai konfigurasi oktet.4.1 Susunan Bilangan Kuantum Periode 1 2 3 4 4 6 Unsur He Ne Ar Kr Xe Rn Nomor atom 2 10 18 36 44 86 K 2 2 2 2 2 2 L 8 8 8 8 8 M 8 18 18 18 N O P 8 18 32 8 18 8 Reaksi natrium dengan klorin membentuk natrium klorida merupakan contoh pencapaian konfigurasi oktet dengan cara serah-terima elektron.1 Proses pembentukan NaCl 76 . pelepasan 1 elektron akan menjadikan 11Na konfigurasi menyeru-pai unsur gas mulia neon : 2 8 7. Semua unsur gas mulia di alam ditemukan dalam bentuk gas monoatomik dan tidak ditemukan bersenyawa di alam. Konfigurasi oktet dapat pula dicapai dengan serah-terima atau pemasangan elektron.1 Elektron dan Ikatan Aturan Oktet Unsur yang paling stabil adalah unsur yang termasuk dalam golongan gas mulia. penerimaan 1 elektron menjadi-kan 17Cl konfigurasi menyerupai unsur gas mulia argon :2 8 8 18Ar Gambar 4. Kestabilan unsur gas mulia berkaitan dengan konfigurasi elektron yang menyusunnya seperti yang dikemukakan oleh Gibert Newton Lewis dan Albrecht Kossel.

4. Gambar 4. 77 .Ion positif dan ion negatif membentuk ikatan kimia yang disebut ikatan ionik .1 Teori Lewis dan Kossel Gibert Newton Lewis dan Albrecht Kossel pada tahun 1916 mengemukakan teori tentang peranan elektron dalam pembentukan ikatan kimia. .Pembentukan ikatan kimia dapat juga terjadi denga pemakaian elektron ikatan secara bersama yang dikenal dengan ikatan kovalen .Elektron pada kulit terluar (elektron valensi) berperan penting dalam pembentukan ikatan kimia .Satu titik ditempatkan untuk tiap atom dengan jumlah maksimum empat titik.Pembentukan ikatan ionik dan ikatan kovalen bertujuan untuk mncapai konfigurasi stabil golongan gas mulia 4. Titik kedua dan selanjutnya berpasangan hingga mencapai aturan oktet.1.2 Contoh lambang Lewis 4.1.2 Lambang Lewis Lambang Lewis merupakan lambang atom yang dikelilingi oleh sejumlah titik yang menyatakan elektron.2 Ikatan ion Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya Coulomb) antara ion yang berbeda. Ikatan ion juga dikenal sebagai ikatan elektrovalen. Lambang Lewis untuk unsur golongan utama dapat disusun dengan mengikuti tahapan berikut: .Banyaknya titik sesuai dengan golongan unsur .

2. Akibatnya natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas tinggi karena mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan klorin merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya penagkapan elektron yang tinggi. positif dan negatif Pembentukan ikatan ion Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan antara natrium dan klorin dalam narium klorida terjadi karena adanya serah terima elektron.4.3 Pembentukan NaCl Gambar 4. Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan menggunakan penulisan Lewis sebagai berikut: Gambar 4.4 Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis 78 . Apabila terjadi reaksi antara natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron natrium.1 Ikatan ionik melibatkan transfer elektron sehingga terbentuk pasangan ion. Adanya ion positif dan negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk natrium klorida.

Apabila ikatan kovalen terjadi maka kedua atom yang berikatan tertarik pada pasangan elektron yang sama. Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen semuanya bersifat ionik. Perbedaan keelektronegati-fan yang besar ini memungkinkan terjadinya serah-terima elektron. Dalam struktur senyawa ion natrium klorida. Senyawa logam alkali tanah juga bersifat ionik. Struktur tiga dimensi natrium klorida dapat digunakan untuk menjelaskan susunan senyawa ion.demikian juga sebaliknya.6 Pembentukan katan kovalen atom-atom hidogen 79 . Gambar 4. Atom-atom hidrogen Molekul hidrogen Pasangan elektron bersama Gambar 4.2 Susunan senyawa ion Aturan oktet menjelaskan bahwa dalam pembentukan natrium klorida.2. Sehingga terlihat bahwa satu atom klorin membutuhkan satu atom natrium. kecuali untuk beberapa senyawa yang terbentuk dari berilium.Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang bereaksi mempunyai perbedaan daya tarik elektron (keeelektronegatifan) cukup besar. ion positif natrium (Na+) tidak hanya berikatan dengan satu ion negatif klorin (Cl-) tetapi satu ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl. 4. Molekul hidrogen H2 merupakan contoh pembentukan ikatan kovalen. natrium akan melepas satu elektron sedangkan klorin akan menangkap satu elektron.3 Ikatan kovalen Ikatan kovalen melibatkan pemakaian elektron secara bersama Ikatan kovalen dapat terjadi karena adanya penggunaan elektron secara bersama.5 Struktur kristal kubus NaCl 4.

3. Pasangan elektron bersama ditarik oleh kedua inti atom hidrogen yang berikatan. Tambahan 1 elektron untuk masing-masing atom hidrogen tidak mungkin didapat dengan proses serah terima elektron karena keelekronegatifan yang sama. Atom hidrogen dan atom klorin masing-masing menyumbangkan satu elektron untuk membentuk pasangan elektron milik bersama. Konfigurasi stabil dapat tercapai dengan pemakaian elektron bersama.Masing-masing atom hidrogen mempunyai 1 elektron dan untuk mencapai konfigurasi oktet yang stabil seperti unsur golongan gas mulia maka masing-masing atom hidrogen memerlukan tambahan 1 elektron. Ikata kovalen juga terbentuk karena proses serah terima elektron tidak mungkin terjadi. Hidrogen klorida merupakan contoh lazim pembentukan ikatan kovalen dari atom hidrogen dan atom klorin. 4. klorin mempunyai harga keelektronega-tifan yang lebih besar dari hidrogen tetapi hal ini tidak serta merta membuat klorin mampu menarik elektron hidrogen karena hidrogen juga mempunyai harga keelektronegatifan yang tidak kecil.7 Pembentukan HCl 80 .1 Pembentukan ikatan kovalen Ikatan kovalen biasanya terjadi antar unsur nonlogam yakni antar unsur yang mempunyai keelektronegatifan relatif besar. Proses pemakaian elektron secara bersama terjadi dengan penyumbangan masing-masing 1 elektron ari atom hidrogen untuk menjadi pasangan elektron milik bersama.1 dan 3.0. Hidrogen dan klorin merupakan unsur nonlogam dengan harga keelektronegatifan masing-masing 2. Sehingga konfigurasi oktet yang stabil dpat dicapai dengan pemakaian elektron secara bersama. Gambar 4. Konfigurasi elektron atom hidrogen dan atom klorin adalah H Cl :1 :2 8 7 Berdasarkan aturan oktet yang telah diketahui maka atom hidrogen kekurangan 1 elektron dan atom klorin memerlukan 1 elektron untuk membentuk konfigurasi stabil golongan gas mulia. Apabila dilihat dari segi keelektronegatifan.

4 Polarisasi Ikatan Kovalen 4.8 Orbital H2 dan HCl. 4. dua pasang atau tiga pasang elektron yang tergantung pada jenis unsur yang berikatan.4.2 Ikatan kovalen rangkap dan rangkap tiga Dua atom dapat berpasangan dengan mengguna-kan satu pasang. Ikatan dengan sepasang elektron disebut ikatan tunggal sedangkan ikatan yang menggu-nakan dua pasang elektron disebut ikatan rangkap dan ikatan dengan tiga pasang elektron disebut ikatan rangkap tiga. Gambar 4. Ikatan rangkap misalnya dapat dijumpai pada molekul oksigen (O2) dan molekul karbondiksida (CO2) sedangkan ikaran rangkap tiga misalnya dapat dilihat untuk molekul nitrogen (N2) dan etuna (C2H2). polarisasi ikatan kovalen Pada hidrogen klorida terlihat bahwa pasangan elektron bersama lebih tertarik ke arah atom klorin karena elektronegatifitas atom klorin 81 .3. Ikatan kovalen polar dapat dijumpai pada molekul hidrogen klorida sedangkan ikatan kovalen nonpolar dapat dilihat pada molekul hidrogen. Adanya polarisasi menyebabkan ikatan kovalen dapat dibagi menjaadi ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar.4.1 Ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar Berdasarkan pengetahuan keelektronegatifan yang telah diketahui maka salah satu akibat adanya perbedaan keelektronegatifan antar dua atom unsur berbeda adalah terjadinya polarisasi ikatan kovalen.

Molekul BeCl2 dan BF3 bersifat polar karena molekul berbentuk simetris dan elektron tersebar merata walupun juga terdapat perbedaan keelektronegatifan. NH3 dan BeCl2 Molekul H2O dan NH3 bersifat polar karena ikatan O-H dan N-H bersifat polar. Hal yang berbeda terlihat pada molekul hidrogen. pusat muatan negatif pada atom nitogen dan pusat muatan positif pada ketiga atom hidrogen.2 Molekul polar dan molekul nonpolar Molekul yang berikatan secara kovalen nonpolar seperti H2. Akibat hal ini adalah terjadinya polarisasi pada hidrogen klorida menuju atom klorin. Dalam molekul NH3. Kepolaran suatu molekul dapat diduga dengan menggambarkan ikatan menggunakan suatu vektor dengan arah anak panah dari atom yang bermuatan positif menuju ke arah atom yang bermuatan negatif.4. Molekul dapat bersifat nonpolar apabila molekul tersebut simetris walaupun ikatan yang digunakan adalah ikatan kovalen polar.lebih besar dari pada elektronegatifitas atom hidrogen. Sedangkan molekul bersifat polar apabila hal yang sebaliknya terjadi. Dalam H2O. 82 . Cl2 dan N2 sudah tentu bersifat nonpolar. Gambar 4. Sifat polar ini disebabkan adanya perbedaan keelektronegatifan dan bentuk molekul yang tidak simetris atau elektron tidak tersebar merata. Ikatan jenis ini disebut ikatan kovalen polar.9 Susunan ruang (VSEPR) BF3. pasangan elektron bersama berada ditempat yang berjarak sama diantara dua inti atom hidrogen (simetris). 4. Ikatan yang demikian ini dikenal sebagai ikatan kovalen nonpolar. Molekul dikatakan bersifat nonpolar apabila resultan vektor sama dengan nol. resultan tidak sama dengan nol. Pada molekul hidrogen. Akan tetapi molekul dengan ikatan kovalen polar dapat bersifat polar dan nonpolar yang bergantung pada bentuk geometri molekulnya. pusat muatan negatif terletak pada atom oksigen sedangkan pusat muatan positif pada kedua atom hidrogen. H2O.

Titik leleh dan titik diddih tinggi 2. Akan tetapi atom boron telah berpasangan dengan tiga atom klorin tetapi belum memenuhi aturan oktet. 83 . Titik leleh dan titik didih rendah 2. Berwujud padat. Berwujud padat pada temperatur Kamar 4.10 Pembentukan ikatan kovalen koordinat NH 3. Ikatan koordinat Gambar 4.2 Sifat Senyawa Ion dan Senyawa Kovalen Senyawa ionik 1.4. Amonia (NH3) dapat bereaksi dengan boron trifklorida (BCl3) membentuk senyawa NH3.BF3 Atom nitrogen dalam NH3 telah memenuhi aturan oktet dengan sepasang elektron bebas. pasangan elektron bebas atom nitrogen dapat digunakan untuk berikatan dengan atom boron.BCl3. Ikatan kovalen koordinat dikenal juga sebagai ikatan dativ atau ikatan semipolar. Akibat hal ini. ikatan kovalen koordinat dinyatakan dengan garis berpanah dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron bebas. Dalam menggambarkan struktur molekul. Perbandingan sifat senyawa ionik dan senyawa kovalen disajikan pada tabel berikut: Tabel 4. cair dan gas pada temperatur kamar Ikatan kovalen koordinat terjadi apabila pasangan elektron yang dipakai bersama berasal dari penyumbangan saah satu atom yang berikatan. Lelehannya tidak menghantarkan listrik 3.5 Sifat senyawa ion dan senyawa kovalen Ikatan ionik dapat dikatakan jauh lebih kuat dari pada ikatan kovalen karena ikatan ionik terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya Coulomb) sedangkan ikatan kovalen terbentuk karena pemakaian elektron ikatan bersama.6 Ikatan Kovalen Koordinat Ikatan koordinasi merupakan ikatan kovalen dengan pasangan elektron berasal dari atom yang sama Senyawa kovalen 1. Lelehan dan larutannya menghantarkan listrik 3.

SF6. Hal ini berarti terdapat elektron yang tidak berpasangan sehingga terdapat atom yang menyimpang dari aturan oktet. N dan seterusnya) dapat menampung 18 elektron atau lebih. BCl3 dan AlBr3.7.7 Penyimpangan aturan oktet Aturan oktet terbukti dapat digunakan untuk menggambarkan struktur molekul senyawa biner sederhana secara mudah.Secara umum seluruh elektron dalam struktur Lewis berpasangan . 4.7. Contoh senyawa ini adalah PCl4. Contoh senyawa ini NO2.2 Senyawa dengan elektron valensi ganjil Senyawa dengan elektron valensi ganjil tidak mungkin memenuhi aturan oktet. Molekul air mempunyai atom pusat oksigen dan atom hidrogen bertindak sebagai atom terminal setelah mengetahui atom pusat dan atom terminal maka selanjutnya adalah memberikan elektron-elektron valensi sampai diperoleh rumus Lewis yang juga cukup rasional.Secara umum semua atom mencapai konfigurasi oktet (kecuali duplet untuk hidrogen).Seluruh elektron valensi harus dituliskan dalam struktur Lewis . 84 . 4.8 Struktur Lewis Struktur Lewis dituliskan dengan terlebih dahulu menentukan kerangka atau struktur molekul yang cukup rasional yaitu dengan membedakan atom pusat dan atom terminal. Hal ini disebabkan karena kulit terluar unsur tersebut (kulit M. IF7 dan SbCl4.1 Senyawa dengan oktet tak lengkap Senyawa kovalen biner sederhana dengan elektron valensi kurang dari empat tidak memiliki oktet sempurna. Beberapa atom mengalami penyimpangan aturan oktet. aluminium (Al) dan boron (B) sedangkan contoh senyawaya adalah BeCl2. Akan tetapi aturan ini mengalami kesulitan dalam meramalkan struktur molekul senyawa-senyawa unsur transisi 4.4. Unsur dengan elektron valensi kurang dari empat dapat dicontohkan oleh beriium (Be). CIF3.7.3 Senyawa dengan oktet berkembang Unsur-unsur yang terletak pada periode ketiga atau lebih dengan elektron valensi lebih dari delapan dapat membentuk senyawa dengan aturan oktet yang terlampaui. Atom pusat merupakan atom yang terikat pada dua atau lebih atom lain sedangkan atom terminal hanya terikat pada satu atom lain. 4. Struktur Lewis dapat dituliskan dengan metoda coba-coba dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: .

Hal ini memungkinkan berpindahnya elektron dari satu atom ke atom yang lain. Ikatan logam melibatkan gaya-gaya antara elektron terdelokalisasi dan ion-ion positif.- Ikatan rangkap atau rangkap tiga juga dapat terbentuk. elektron valensi menjadi berbaur dan menyeruapai awan elektron atau lautan elektron yang membungkus ion positif di dalam atom. Akibat penyebaran tersebut.11 Pembentukan ikatan logam Struktur yang demikian dapat digunakan untuk menjelaskan sifat-sifat khas logam seperti daya hantar listrik. 85 . Sehingga struktur logam dapat dibayangkan sebagai pembungkusan ion-ion positif oleh awan atau lautan elektron.9 Ikatan logam Kulit terluar unsur logam relatif kosong karena elektron valensinya berjumlah sedikit. daya tempa dan kuat tarik. umumnya untuk unsur-unsur karbon. Ikatan ionik melibatkan gaya tarik antara dua ion yang berbeda muatan. fosfor dan sulfur. Ikatan kovalen atau ikatan kovalen datif melibatkan gaya tarik antara dua inti atom dan pasangan elektron berada diantaranya. Elektron valensi mengalami penyebaran yang cukup berarti karena kemudahan untuk berpindah sangat besar. Akibat awan elektron valensinya yang mudah mengalir maka logam juga bersifat sebagai konduktor yang baik. oksigen. Penyebaran dan pergerakan elektron valensi yang cukup besar membuat logam ketika ditempa atau ditarik hanya mengalami pergeseran pada atom-atom penysunnya sedangkan ikatan yang terbentuk tetap. Ringkasan Semua ikatan yang terbentuk melibatkan gaya tarik elektrostatik. Panas Gambar 4. Ikatan logam melibatkan ion-ion positif yang dikelilingi lautan elektron 4. nitrogen.

Bandingkanlah titik leleh dan konduktivitas listrik berilium fluorida dan berilium klorida. Jelaskan proses pembentukan ikatan dalam NaCl dengan pendekatan konfigurasi elektron. karbon dan klorin berturut-turut 2. PCl4 da XeF4 Tentukan rumus molekul senyawa yang terbentuk dan jenis ikatan hasil reaksi 12X dengan 8Y 11. 3. 6. Jelaskan pengamatan ini berdasarkan struktur dan ikatan. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan ikatan ionik dan bagaimanakah proses terjadinya. Jelaskan perubahan yang terjadi dalam struktur iodin ketika menyublim. 17. Jelaskan perbedaan senyawa polar dan non polar apabila ditinjau dari bentuk dan sudut ikatan dan resultan vektor yang dihasilkan. 22. 8. 16.0. CaF2 dengan asam sulfat. 12. 2. Perkirakan sudut ikatan yang terjadi. HF. 13. 10. Gambarkan bentuk molekul air dan perkirakan sudut ikatan yang terjadi. Iodin dapat menyublim apabila dipanaskan hingga mencapai 114°C. merupakan senyawa florin yang sangat penting dan dapat dibuat dengan mereksikan kalsium fluorida.1. 5. 86 . 18. Jelaskan apakah yang dimaksud elektronegativi-tas. Gambarkan bentuk molekul BeCl2. Asam fluorida. NCl3 dan SF6. titik didih kripton adalah -142°C sedangkan rubidium 686°C. Meskipun kripton (Kr) dan rubidium (Rb) mempunyai massa atom relatif yang hampir sama.Latihan 1. Jelaskan kenapa NaCl lebih cenderung bersifat ionik dari pada kovalen. Gunakan nilai ini untuk memprediksi kenapa titik didih hidrogen klorida lebih tinggi dari pada metana. Jelaskan bagaimana anion terpolarisasi berbeda dengan anion tak terpolarisasi. Jelaskan proses pembentukan dan prediksikan sifat HF dan CaF2. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan ikatan kovalen dan ikatan kovalen koordinasi dan bagaimanakah proses terjadinya. Karbon dengan bentuk intan menyublim pada temperatur yang lebih tinggi dari pada iodin. 7. 21. 9. Jelaskan proses pembentukan ikatan dalam CH4. 19. 14. Elektronegativitas hidrogen. Jelaskan kenapa terjadi polarisasi ikatan pada hidrogen klorida sedangkan pada hidrogen tidak terjadi.4 dan 3. Jelaskan perbedaan ikatan kovalen dan ikatan ionik Jelaskan perbedaan ikatan kovalen dengan ikatan kovalen koordinat Gambarkan struktur Lewis untuk SOF2. Jelaskan kenapa dibutuhkan temperatur yang lebih tinggi untuk proses ini. 4. 2. 15. 20. Jelaskan kenapa AlCl3 lebih cenderung bersifat kovalen dari pada ionik.

11R. Senyawa LCl3 dapat terbentuk dari unsur L. Diketahui unsur 6P. 13Al. Tentukan kemungkinan unsur L termasuk dalam golongan berapa dalam sistem periodik 25. 8Q. 18S dan 20T.23. Jelaskan rumus dan ikatan yang sesuai untuk hasil reaksi X dan Y yang masing-masing mempunyai elektron valensi 6 dan 7 24. 19K dan 20Ca. terbentuk dari unsur 14X yang bereaksi dengan unsur 17Y 28. 12Mg. Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan kovalen diantara unsur-unsur tersebut 26. Tentukan jenis senyawa yang tidak memenuhi aturan oktet. Tentukan jenis ikatan yang terjadi dalam NH4OH 27. Tentukan senyawa klorida yang trbentuk dari unsur tersebut dengan sifat paling ion 87 . Diketahui 11Na.

88 .

Siswa mampu menjelaskan sifat koligatif larutan. 5. 89 . 2. Siswa dapat menghitung penurunan titik beku dan tekanan osmosis larutan. Siswa dapat menghubungkan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) dengan tingkat kelarutan atau pengendapannya berdasarkan percobaan.5 Larutan Standar Kompetensi Memahami konsep larutan elektrolit dan elektrokimia Kompetensi Dasar Membedakan larutan elektrolit dan non elektrolit Mengidentifikasi dan mengklasifikasi berbagai larutan Menerapkan konsep reaksi redoks dalam elektrokimia Menggunakan satuan konsentrasi dalam membuat larutan Tujuan pembelajaran 1. Siswa dapat menghitung konsentrasi larutan. 4. 6. 3. Siswa dapat mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan non-elektrolit berdasarkan sifat hantaran listrik. Siswa mampu menjelaskan pengaruh zat terlarut terhadap tekanan uap pelarut dan menghitung tekanan uap larutan.

yang dapat dipertukarkan tergantung jumlahnya. Pelarut merupakan komponen yang utama yang terdapat dalam jumlah yang banyak. misalnya padatan atau gas dengan kata lain larutan tidak hanya terbatas pada cairan saja. Semua gas bersifat dapat bercampur dengan sesamanya. Jenis-jenis larutan o Gas dalam gas .1 di atas. Biasanya istilah larutan dianggap sebagai cairan yang mengandung zat terlarut. sedangkan komponen minornya merupakan zat terlarut.seluruh campuran gas o Gas dalam cairan – oksigen dalam air o Cairan dalam cairan – alkohol dalam air o Padatan dalam cairan – gula dalam air o Gas dalam padatan – hidrogen dalam paladium o Cairan dalam padatan . pelarut dan zat terlarut.1 Pendahuluan Pelarut Zat Terlarut Larutan Gambar 5. sedangkan suatu sistem yang heterogen disebut campuran. Komponen dari larutan terdiri dari dua jenis. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur.1 Proses pelarutan secara umum Larutan merupakan fase yang setiap hari ada disekitar kita. Suatu sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat yang masing-masing komponennya tidak bisa dibedakan secara fisik disebut larutan. karena itu campuran gas adalah larutan.Hg dalam perak o Padatan dalam padatan .alloys 90 . Proses pelarutan dapat diilustrasikan seperti Gambar 6.5.

Ni(OH)2 dan lain-lain. HNO3 dan lainlain. yaitu larutan elektrolit. KCl. 5. antara lain: CH3COOH. Yang termasuk dalam larutan non elektrolit antara lain : Larutan urea Larutan sukrosa Larutan glukosa Larutan alkohol dan lain-lain 91 . Garam-garam yang sukar larut.3 Larutan non-Elektrolit Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. antara lain : NaCl. karena zat terlarut yang berada didalam pelarut (biasanya air).2. yang terdiri dari elektrolit kuat dan elektrolit lemah serta larutan non elektrolit. sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. CaCrO4. dengan harga derajat ionisasi lebih dari nol tetapi kurang dari satu (0 < α < 1). Yang tergolong elektrolit lemah adalah: Asam lemah. antara lain : NaOH. HCN. H2S dan lainlain.2 Larutan Elektrolit Lemah Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang mampu menghantarkan arus listrik dengan daya yang lemah. HClO3. Basa kuat. 5. H2SO4.2. Basa lemah. Al2(SO4)3 dan lain-lain. Yang tergolong elektrolit kuat adalah : Asam kuat. 5. antara lain: AgCl. seluruhnya dapat berubah menjadi ion-ion dengan harga derajat ionisasi adalah satu (α = 1). Mg(OH)2. Garam-garam yang mempunyai kelarutan tinggi. KI. larutan dibagi menjadi dua.5. yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah. HClO4. H2CO3.2 Larutan elektrolit Berdasarkan kemampuan menghantarkan arus listrik (didasarkan pada daya ionisasi).2. Ca(OH)2. antara lain: HCl. PbI2 dan lain-lain. Ba(OH)2 dan lain-lain. antara lain: NH4OH. KOH. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. hal ini disebabkan karena larutan tidak dapat menghasilkan ion-ion (tidak meng-ion).1 Larutan Elektrolit Kuat Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya hantar arus listrik.

Rumus Molaritas adalah : Mol zat terlarut M= Liter larutan Contoh : Berapakah molaritas 0. Amati apakah lampu menyala atau timbul gelembung pada elektroda. o Konsentrasi : jumlah zat tiap satuan volum (besaran intensif) o Larutan encer : jumlah zat terlarut sangat sedikit o Larutan pekat : jumlah zat terlarut sangat banyak o Cara menyatakan konsentrasi: molar. dll 5. dan non-elektrolit! 5.25 L = 0.Apa yang menunjukkan adanya hantaran arus listrik melalui larutan? 2. fraksi mol. kemudian uji daya hantar listriknya.1 Molaritas (M) Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Ujilah beberapa larutan di bawah ini dengan cara yang sama : Larutan garam dapur Larutan HCl Larutan H2SO4 Larutan NaOH Larutan gula Larutan asam cuka Air sumur Air sungai Selanjutnya jawablah pertanyaan berikut : 1. persen. Tuangkan 100 mL air destilasi ke dalam beker glass.Aktivitas siswa : Susunlah alat penguji elektrolit di laboratoriummu sehingga berfungsi dengan baik. Dari semua larutan yang Anda uji. molal.4 / 40)mol 0.4 gram NaOH (Mr = 40) dalam 250 mL larutan ? Jawab : M (0.3. kelompokkanlah ke dalam larutan elektrolit kuat.3 Konsentrasi Larutan Catatan bahwa : per kilogram pelarut bukan kilogram larutan Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.4 M 92 . lemah. bagian per sejuta (ppm).

3 mol zat B. Fraksi mol total selalu satu. dan 5 mol zat C. yaitu : N = M x Valensi Mol-ekivalen : o Asam / basa : jumlah mol proton/OH. Fe+3 1 M = Fe+3 3 N atau Fe2O3 6 N 5. Konsentrasi dalam bentuk ini tidak mempunyai satuan karena merupakan perbandingan. Rumus Molalitas adalah : Massa pelarut yang tepat berarti juga jumlah mol yang tepat.2 m 5. Hitung fraksi mol masing-masing zat ! 93 . Contoh : suatu larutan terdiri dari 2 mol zat A.4 Fraksi Mol (X) Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol suatu komponen dengan jumlah total seluruh komponen dalam satu larutan. jadi molalitas dapat menunjukkan perbandingan secara tidak langsung mol zat telarut terhadap mol pelarut 1000 m = mol terlarut x Gram Pelarut Contoh : Berapa molalitas 4 gram NaOH (Mr = 40) dalam 500 gram air ? Jawab : molalitas NaOH = (4/40)/500 g air = (0.3.5.2 Normalitas (N) Normalitas merupakan jumlah mol-ekivalen zat terlarut per liter larutan. Terdapat hubungan antara Normalitas dengan Molaritas.yang diperlukan untuk menetralisir suatu asam / basa.3.3 Molalitas (m) Molalitas adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.3.1 x 2 mol)/1000 g air = 0. Ca(OH)2 1M = Ca(OH)2 2N o Redoks : jumlah mol elektron yang dibutuhkan untuk mengoksidasi atau mereduksi suatu unsur Contoh : 1 mol Fe+3 membutuhkan 3 mol elektron untuk menjadi Fe. 1 mol Fe+3 setara dengan 3 mol-ekivalen. Contoh : 1 mol Ca(OH)2 akan dinetralisir oleh 2 mol proton. 1 mol Ca(OH)2 setara dengan 1 mol-ekivalen.

Contoh : larutan gula 5%.5 Persen Berat (% w/w) Persen berat menyatakan jumlah gram berat zat terlarut dalam 100 gram larutan.2 XB = 3 / (2+3+5) = 0. Soal-soal yang menyangkut bagian ini dapat diselesaikan dengan cara hitungan kimia sederhana yang menyangkut kuantitas antara suatu komponen dengan komponen lain dalam suatu reaksi.Jawab : XA = 2 / (2+3+5) = 0. sebagian atau seluruhnya berada dalam bentuk larutan.3 XC = 5 / (2+3+5) = 0.M keterangan: n = jumlah mol V = volume (liter) M = molaritas larutan Contoh : 1. 5.3. Jawab : Mg(s) + 2 HCl(aq) 94 MgCl2(aq) + H2(g) .5 X A + X B + XC = 1 5. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah : a) Menulis persamaan reaksi b) Menyetarakan koefisien reaksi c) Memahami bahwa perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol Karena zat yang terlibat dalam reaksi berada dalam bentu larutan.6 Bagian per juta (part per million. maka mol larutan dapat dinyatakan sebagai: n=V.4 Stoikiometri Larutan Pada stoikiometri larutan.4 gram logam magnesium (Ar = 24 g/mol). di antara zat-zat yang terlibat reaksi. ppm) ppm = massa komponen larutan (g) per 1 juta g larutan • untuk pelarut air : 1 ppm setara dengan 1 mg/liter. Hitunglah volume larutan 0.05 M HCl yang diperlukan untuk melarutkan 2. berarti dalam 100 gram larutan gula terdapat : (5/100) x 100 gram gula = 5 gram gula (100 – 5) gram air = 95 gram air 5.3.

M1 = V2 . Mol HCl = 2 x mol Mg = 2 x 0.1 mol Satu mol Mg setara dengan 2 mol HCl (lihat persamaan reaksi).4 M M 200mL 400mmol 800mmol 400mL M =3M 95 .2 mol Volume HCl = n M 0. 200mL. Berapa konsentrasi larutan akhir yang dibuat dari larutan dengan konsentrasi 5 Molar sebanyak 10 mL dan diencerkan sampai dengan volume 100 mL.Mol Mg = = g Ar 2.2 M 200mL 200mL.05 2. Jawab : M= (V1 .5M 5M 100mL 3.1 mol = 0. M2) (V1 + V2). M1 + V2 . Berapa konsentrasi larutan NaCl akhir yang dibuat dengan melarutkan dua larutan NaCl. M2 M2 V1 M1 V2 = 10mL = 0. yaitu 200 mL NaCl 2M dan 200 mL NaCl 4M.4 g 24 g / mol = 0. Jawab : V1 .2 = =4L 0.

Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya. zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. maka akan didapat suatu larutan yang mengalami: 1) Penurunan tekanan uap jenuh 2) Kenaikan titik didih 3) Penurunan titik beku 4) Tekanan osmosis Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut. Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut (Gambar 6.3). 5. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit. sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. walaupun konsentrasi keduanya sama. 96 . Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan penurunan tekanan uapnya. sehingga kecepatan penguapan berkurang (Gambar 5.1 Penurunan Tekanan Uap Jenuh Pada setiap suhu.2).5.5.5 Sifat Koligatif Larutan Cair Tekanan uap Padat Pelarut padat murni Pelarut cair murni Titik triple pelarut Larutan Gas Titik triple larutan Titik beku larutan Titik beku pelarut Titik didih larutan Titik didih pelarut Temperatur Gambar 5.2 Gambaran umum sifat koligatif Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).

XA o P . bila 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan dalam 90 gram air ! Diketahui tekanan uap jenuh air murni pada 20oC adalah 18 mmHg.Pelarut Larutan Gambar 5.Po . XA Sehingga : ∆P = po .3 Gambaran penurunan tekanan uap Menurut Roult : p = po . maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi : P = Po (1 .XA) P = Po . XA keterangan: ∆P : penunman tekanan uap jenuh pelarut po : tekanan uap pelarut murni XA : fraksi mol zat terlarut Contoh : Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air. 97 .P = P o . XB PA dan PB adalah tekanan parsial yang dihitung dengan hukum Raoult’s keterangan: p : tekanan uap jenuh larutan po : tekanan uap jenuh pelarut murni XB : fraksi mol pelarut Karena XA + XB = 1.

25 5 fraksi mol glukosa = = 0. p (W menyatakan massa zat terlarut).Jawab : mol glukosa = mol air = 45 = 0.25 0.048 = 0.2 Kenaikan Titik Didih Adanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni.864 mmHg 5. XA = 18 x 0. maka titik didih larutan dinyatakan sebagai : Tb = (100 + ∆Tb) oC 98 .048 Penurunan tekanan uap jenuh air : ∆P = Po. Kb keterangan: ∆Tb = kenaikan titik didih (oC) m = molalitas larutan Kb = tetapan kenaikan titik didih molal Karena m W Mr 1000 . maka kenaikan titik didih larutan dapat dinyatakan sebagai : Tb W Mr 1000 Kb p Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm. Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan: ∆Tb = m .25 mol 180 90 = 5 mol 18 0.5.

082 L.3 Penurunan Titik Beku penurunan titik beku persamaannya dinyatakan Untuk sebagai: ∆Tf = m .4. Menurut Van’t hoff tekanan osmosis mengikuti hukum gas ideal: PV = nRT Karena tekanan osmosis = .∆Tf)oC 5.5.atm/mol K T = suhu mutlak (K) 99 .5. maka titik beku larutannya dinyatakan sebagai: Tf = (O .5.4 Tekanan Osmosis Tekanan osmosis adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis) seperti ditunjukkan pada Gambar 6. maka : = n =CRT VRT keterangan: = tekanan osmosis (atmosfir) C = konsentrasi larutan (M) R = tetapan gas universal = 0. Kf = W Mr 1000 Kf p keterangan: ∆Tf = penurunan titik beku m = molalitas larutan Kf = tetapan penurunan titik beku molal W = massa zat terlarut Mr = massa molekul relatif zat terlarut p = massa pelarut Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm.

harga derajat ionisasinya mendekati 1. 100 . Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah derajat ionisasi. Atas dasar kemampuan ini. Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai : α = jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula Untuk larutan elektrolit kuat. o Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya) tetap.Larutan pekat Membran semipermeable Larutan encer Gambar 5.5 molal.0 molal. sedangkan untuk elektrolit lemah. Na+(aq) + Cl-(aq) karena terurai o Untuk larutan garam dapur: NaCl(aq) menjadi 2 ion.4 Tekanan osmosis o Larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah dari yang lain disebut larutan Hipotonis. maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya. harganya berada di antara 0 dan 1 (0 < α < 1). Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama Contoh : Larutan 0. maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula = 1. o Larutan yang mempunyai tekanan lebih tinggi dari yang lain disebut larutan Hipertonis. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. yaitu 0. o Larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama disebut Isotonis.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal garam dapur.

101 . Kf [1 + α(n-1)] W 1000 Kf 1 Mr p (n 1) 3. Kb [1 + α(n-1)] W 1000 Kb 1 Mr p (n 1) n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.85 1000 0. Kb= 0.5 250 = 0.5) dalam 250 gram air ! (untuk air.52 1 1(2 1) 58.52 dan Kf= 1. maka harga derajat ionisasinya dianggap 1.208 x 2 = 0.86) Jawab : Larutan garam dapur.86 1 1(2 1) 58.5 250 = 0.1. Untuk Tekanan Osmosis dinyatakan sebagai : = C R T [1+ α(n-1)] Contoh : Hitunglah kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dari larutan 5.744 x 2 = 1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai : ∆Tb = m . NaCl(aq) NaF+ (aq) + Cl-(aq) jumlah ion = n = 2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai : ∆Tf = m .488 oC Catatan: Jika di dalam soal tidak diberi keterangan mengenai harga derajat ionisasi.416 oC ∆Tf = 5.85 1000 0.85 gram garam dapur (Mr = 58. ∆Tb = 5. tetapi kita mengetahui bahwa larutannya tergolong elektrolit kuat. 2.

Kelarutan suatu elektrolit ialah banyaknya mol elektrolit yang sanggup melarut dalam tiap liter larutannya. Garam AB larut sebagian larutan kelewat jenuh. Garam AB larut semua lalu jika ditambah garam AB lagi tidak dapat larut larutan jenuh. dan 90 °C.5. lakukanlah kegiatan berikut! Aktivitas siswa : 1. 2. Buat grafik temperatur vs kelarutan (g terlarut/50 mL air) 4. Masukkan lagi 10 g NaCl dan diaduk. Ulangi terus sampai NaCl tidak dapat larut. 3. 70. Contoh : AgCl(s) Ag+(aq) + Cl-(aq) K Ag Cl AgCl K [AgCl] = [Ag+][Cl-] Ksp AgCl = [Ag+] [Cl-] Bila Ksp AgCl = 10-10 . maka berarti larutan jenuh AgCl dalam air pada suhu 25 oC. Dari hasil percobaan. Ambil 10 g kristal NaCl (garam dapur).6 Hasil Kali Kelarutan Fenomena apa yang dapat dijelaskan saat penambahan kristal gula dalam air untuk membuat teh ? Dan apa yang akan terjadi jika gula ditambahkan terus-menerus ? Untuk memahami hal tersebut. Aduk hingga larut. Catat hasilnya. diskusikan dengan teman kelompok! Bila sejumlah garam AB yang sukar larut dimasukkan ke dalam air maka akan terjadi beberapa kemungkinan: o o o Garam AB larut semua lalu jika ditambah garam AB lagi masih dapat larut larutan tak jenuh. Catat berapa gram NaCl yang ditambahkan. Mempunyai nilai [Ag+] [Cl-] = 10-10 102 . kemudian masukkan ke dalam 50 mL air. Ksp = HKK = hasil perkalian [kation] dengan [anion] dari larutan jenuh suatu elektrolit yang sukar larut menurut kesetimbangan heterogen. Ulangi percobaan di atas dengan air panas bertemperatur 50.

Kelarutan zat nA+(aq) + Bn-(aq) AnB(s) s n. Kelarutan zat AB dalam larutan yang mengandung ion sejenis AB(s) s Larutan AX(aq) b A+ n. B-1] = s Jadi : Ksp AB = b . s Contoh : Bila diketahui Ksp AgCl = 10-10. Ksp AnB = (n.1 M NaCl ? Jawab: Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s) s s s NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq) Ksp AgCl = [Ag+] [Cl-] = s . 103 . 10-1 Maka s = 10-10/10-1 = 10-9 mol/liter Dari contoh di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa makin besar konsentrasi ion sojenis maka makin kecil kelarutan elektrolitnya.s s AB dalam pelarut murni (air). karena nilai s cukup kecil bila dibandingkan terhadap nilai b sehingga dapat diabaikan. berapa mol kelarutan (s) maksimum AgCl dalam 1 liter larutan 0.sn+1 s = n+i Ksp AnB/nn keterangan: s = kelarutan Kelarutan tergantung pada : o Suhu o pH larutan o Ion sejenis 2.s)n.5.s Ksp AnB = nn.s s (aq) + B- (aq) b b AX A+(aq) + : X-(aq) maka dari kedua persamaan reaksi di atas: [A+] = s + b = b.7 Kelarutan 1.

[A+] x [B-] < Ksp larutan tak jenuh. Reaksi antara basa amfoter dengan basa kuat Contoh: kelarutan Al(OH)3 dalam KOH > daripada kelarutan Al(OH)3 dalam air. Ag(NH3)2Cl(aq) + H2O(l) AgCl(s) + NH4OH(aq) larut Untuk suatu garam AB yang sukar larut berlaku ketentuan.[A+] x [B-] > Ksp larutan kelewat jenuh.02 1 1 . jika ke dalam 1 liter 0. Pembentukan senyawa kompleks Contoh: kelarutan AgCl(s) dalam NH4OH > daripada AgCl dalam air.01 = 10-2 M 104 1 0. terjadi pengendapan zat Contoh : Apakah terjadi pengendapan CaCO3. larutan tepat mengendap .a. Pembentukan garam-garam Contoh: kelarutan CaCO3(s) pada air yang berisi CO2 > daripada dalam air. tidak terjadi pengendapan . jika: .05 M Na2CO3 ditambahkan 1 liter 0.05 1 1 = 0.02 M CaCl2. Jawab : Na2CO3(aq) [CO32-] = 2 Na+(aq) + CO3(aq) = 0. KAlO2(aq) + 2 H2O(l) Al(OH)3(s) + KOH(aq) larut c. dan diketahui harga Ksp untuk CaCO3 adalah 10-6.5 x 10-2 M CaCl2(aq) [Ca2+] = Ca2+(aq) + 2Cl-(aq) 1 0.[A+] x [B-] = Ksp larutan tepat jenuh. Ca(HCO3)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(g) larut b.025 M = 2.

Tulislah pengertian oksidasi dan reduksi berdasarkan : a. Bilangan oksidasi adalah muatan yang diemban oleh suatu atom jika elektron ikatan didistribusikan kepada unsur yang lebih elektronegatif.5 x 10-4 karena : [Ca2+] x [CO32-] > Ksp CaCO3. Oksidator adalah zat yang menyerap elektron. serah terima elektron c.maka : [Ca2+] x [CO32-] = 2. Hantaran listrik melalui larutan elektrolit ditandai oleh nyala lampu atau timbulnya gelembungpada elektrode. sedangkan larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik disebut larutan nonelektrolit. 5. 8. maka akan terjadi endapan CaCO3 Ringkasan: 1. CF4 c. Elektrolit kuat dalam air mengion sempurna. Larutan elektrolit dapat menghantar listrik karena mengandung ion-ion yang dapat bergerak bebas. Reduktor menyerap elektron. sedangkan elektrolit lemah hanya mengion sebagian kecil. 10. Larutan elektrolit dapat ditunjukkan dengan alat penguji elektrolit. 4. atau (ii) senyawa kovalen polar yang dapat mengalami hidrolisis.5 x 10-2 x 10-2 = 2. Tentukan bilangan oksidasi masing-masing unsur dalam senyawa berikut : a. CHCl3 105 . Pengertian oksidasi dan reduksi telah mengalami perkembangan dalam urutan sebagai berikut : Oksidasi: Pengikatan oksigen Pelepasan elektron Pertambahan bilangan oksidasi Reduksi: Pelepasan oksigen Penyerapan elektron Penurunan bilangan oksidasi 7. Elektrolit dapat berupa (i) senyawa ion. Larutan yang dapat menghantarkan listrik disebut larutan elektrolit. mengalami reduksi. pengikatan/pelepasan oksigen b. 6. 2. Metode lumpur aktif dapat digunakan untuk menguraikan limbah organik dalam air kotor SOAL 1. perubahan bilangan oksidasi 2. NH3 b. mengalami oksidasi. 3. Bilangan oksidasi ditentukan dengan aturan-aturan tertentu 9.

O2F2 KO2 CaH2 BaO2 SnO Cu2O Fe2S3 3. 3CuO(s) + 8NH3 (aq) 3Cu(NO3)2 (aq) + 2NO(g) + 4H2O (l) MnSO2 + Na2SO4 + 2H2O + I2 b. MnO2 + 2H2SO4 + 2NaI NaBiO3(aq) + NaCl(aq) + H2O (l) c. Tentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks berikut : a. j. h. e. i. Bi2O3(s) + NaOH(aq) + NaOCl (aq) 106 .d. g. f.

suspensi dan larutan Kompetensi Dasar Mengidentifikasi koloid. mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi 3. mendeskripsikan sifat-sifat koloid 4. menjelaskan proses pembuatan koloid Perhatikan gambar di bawah! Berikan pendapat anda! Sirup (larutan) Susu (koloid) Kopi (suspensi) Gambar 6. koloid. campuran yang homogen antara dua macam zat atau lebih. larutan sejati. penyaringan) 2.6 KOLOID Koloid Standar Kompetensi Memahami koloid. dan suspensi Koloid melibatkan zat terdispersi dan zat pendispersi Pendahuluan Pada bab sebelumnya. suspensi dan larutan Membedakan macam dan sifat koloid Menerapkan sistem koloid dalam kehidupan Tujuan pembelajaran 1. homogen/heterogen. membedakan suspensi kasar. kita sudah belajar tentang larutan. Pada bab 107 . dan koloid berdasarkan data pengamatan (efek Tyndall.1 Contoh larutan.

Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. yaitu fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. cat. koloid. Dalam industri cat. Dalam bidang pertanian. tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra 2) Partikel berdimensi antara 1 nm 100 nm 3) Dua fase 4) Pada umumnya stabil 5) Dapat disaring dengan penyaring ultra Suspensi (Dispersi Kasar) Contoh : Campuran tepung dengan air. seperti protein. larutan alkohol 1) Homogen. dan sebagainya adalah juga koloid. dan industri karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. hair spray. tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid.1 Perbandingan sifat antara larutan. koloid. kopi dalam air 1) Heterogen 2) Salah satu atau semua dimensi partikelnya >100 nm 3) Dua fase 4) Tidak stabil 5) Dapat disaring dengan kertas saring biasa 108 . hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid. misalnya krim. Sebagai contoh. semen. dan salep yang termasuk emulsi. dan suspensi Larutan. lebar. atau tebal) <1 nm 3) Satu fase 4) Stabil 5) Tidak dapat disaring Koloid (Dispersi Koloid) Contoh : Campuran susu dengan air 1) Secara makroskopis bersifat homogen. Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sistem Dispersi Perbandingan sifat antara larutan.ini. dan suspensi dijelaskan dalam Tabel 6.1 Tabel 6. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. kita akan mempelajari koloid. Semua bentuk seperti spray untuk serangga. koloid dan suspensi dapat dibedakan dari sifat-sifatnya Larutan (Dispersi Molekuler) Contoh : Larutan gula dalam air. Dalam bidang farmasi. tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra 2) Semua partikel berdimensi (panjang. karbohidrat. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi. Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase. dan lemak. kebanyakan produknya juga berupa koloid.

dengan contoh pada Gambar 6. Susu. sistem koloid dapat digolongkan sebagaimana seperti dalam Tabel 6. intan hitam Kabut (fog). santan. batu apung Gambar 6.2.2 Tabel 6. kecap Jelly. es krim. spray serangga awan. mayones.2 Contoh koloid 109 . gabungan logam. cat Kaca berwarna.2 Jenis-jenis koloid Fase Terdispersi Padat Padat Padat Cair Cair Cair Gas Gas Fase Pendispersi Gas Cair Padat Gas Cair Padat Cair Padat Jenis Koloid Aerosol Padat Sol Sol Padat Aerosol Cair Emulsi Emulsi Padat Buih Buih Padat Contoh Asap (smoke). minyak ikan. mutiara. debu di udara Sol emas. krim kocok Karet busa.Pengelompokan Koloid Berdasarkan pada fase terdispersi dan medium pendisfersinya. tinta. mentega Buih sabun.

Jika dipanaskan akan mencair lagi. kabut. Pada tahun 1869.3 John Tyndall Pengamatan mengenai efek Tyndall dapat dilihat pada gambar 6. dan awan. Sabun adalah emulgator campuran air dan minyak. Sol : suatu sistem koloid. Gel : koloid liofil yang setengah kaku. berkas cahaya tadi tidak akan tampak. jika partikel padat terdispersi dalam zat cair. jika partikel cair terdispersi dalam zat cair. Contoh : debu.6 di bawah. Tetapi apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati. Gambar 6.Macam-macam Koloid Aerosol : suatu sistem koloid. Larutan sabun dalam air yang pekat dan panas dapat berupa cairan tapi jika dingin membentuk gel yang relatif kaku.3) menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya dilewatkan pada sistem koloid maka berkas cahaya tadi akan tampak. Gel terjadi jika medium pendispersi di absorbs oleh partikel koloid sehingga terjadi koloid yang agak padat. Emulgator : zat yang dapat menstabilkan emulsi. Kasein adalah emulgator lemak dalam air. jika partikel padat atau cair terdispersi dalam gas. Sifat-Sifat Koloid Efek Tyndall Sifat-sifat koloid dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki oleh sistem koloid. Singkat kata efek Tyndall merupakan efek penghamburan cahaya oleh sistem koloid. Tyndall (Gambar 6.4 – 6.4 Efek Tyndal koloid . Emulsi : suatu sistem koloid. Koloid 110 Larutan Gambar 6.

6 Hamburan cahaya oleh asap Sinar matahari yang masuk melewati celah ke dalam ruangan berdebu. 10 ml sol Fe(OH)3 7. efek Tyndall dapat kita amati seperti: Di bioskop. sorot lebih Gambar 6. 10 ml air gula 4. 10 ml air + pasir 3.5 Hamburan cahaya oleh koloid Dalam kehidupan sehari-hari. lampu mobil terlihat jelas. 1 buah rak tabung reaksi 111 . jika ada asap mengepul maka cahaya proyektor akan terlihat lebih terang. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan melakukan percobaan sebagai berikut: Aktivitas siswa : Alat dan Bahan : 1. maka partikel debu akan terlihat dengan jelas. 10 ml tinta 9. 10 ml susu 8. 10 ml air sabun 5.Gambar 6. 8 buah tabung reaksi 10. 1 buah senter 2. Di daerah berkabut. 10 ml koloid Fe2O3 6.

3. Menyiapkan 10 ml suspensi.3 Tabel hasil pengamatan N o 1 2 3 4 5 6 7 Menghamburkan Larut/tidak tabil/tidak cahaya/tid Campuran ak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Air + pasir Air Gula Air Sabun Koloid Fe2O3 Sol Fe(OH)3 Susu Tinta Gerak Brown Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain sifat optik yang telah dijelaskan diatas. didiamkan sebentar. Menyinari dan mengarahkan sinarnya pada masing-masing tabung reaksi dengan menggunakan senter. Sifat kinetik ini dapat terjadi karena disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi.7 Robert Brown 112 . pada tabung reaksi yang berbeda. Dua hal ini menyebabkan sistem koloid dapat bergerak zig-zag. Kemudian mengamati apakah zat tersebut homogen/heterogen dan stabil atau tidak selama didiamkan.Cara Kerja : 1. 4. Meninggalkan residu/tidak Ya Tidak Gambar 6. diaduk rata. Tabel 6. Mengamati apakah berkas sinarnya dihamburkan atau tidak oleh larutan atau koloid tersebut dan mencatat hasilnya. dan mengamati mana yang meninggalkan residu. Menyaring campuran tersebut. larutan dan koloid. seperti yang tertera pada alat dan bahan. 2.

yaitu: 1. Ketika partikel ini mencapai elektrode. sedangkan penyerapan sampai pada lapisan dalam disebut absorbsi. sehingga dinamakan gerak Brown. Pengamatan mengenai gerak Brown dapat dilihat pada gambar 6. Daya penyerapan ini menyebabkan beberapa sistem koloid mempunyai muatan tertentu sesuai muatan yang diserap.Gerakan ini pertama ditemukan oleh seorang ahli biologi yang bernama Robert Brown (Gambar 6. Gambar 6. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral.9). Menggunakan Prinsip Elektroforesis Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. 113 .8 dibawah. Sistem koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena meng-adsorbsi ion H+ Sistem koloid As2S3 bermuatan positif karena meng-adsorbsi ion S2- Gambar 6. Penyerapan pada permukaan disebut adsorbsi. maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan bersifat netral.8 Gerak Brown Adsorbsi Beberapa sistem koloid mempunyai sifat dapat melakukan penyerapan (adsorbsi) terhadap partikel atau ion atau senyawa lain (Gambar 6.7) yang melakukan pengamatan pada serbuk sari dengan menggunakan mikroskop.9 Adsorbsi ion oleh koloid Koagulasi Koagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan oleh gaya gravitasi akan terjadi jika sistem koloid dalam keadaan tidak bermuatan.

maka muatan tersebut akan saling menghilangkan dan bersifat netral. Pendidihan Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak. Contoh. belerang dalam air. maka terjadi koagulasi. maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Koloid Liofil dan Koloid Liofob Sistem koloid dimana fase terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif lebih besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih stabil. Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan Ketika koloid bermuatan positif dicampurkan dengan koloid bermuatan negatif.2. sabun. Penambahan Elektrolit Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid. Koloid liofil (suka cairan) Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi. 4. partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Sol liofil/liofob mudah terkoagulasi dengan sedikit penambahan larutan elektrolit. Koloid liofob (tidak suka cairan) Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik antara fase terdispersi dengan medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan tidak ada sama sekali. dispersi emas. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid. 114 . 3. dan deterjen. Dari adsorpsi diatas. Contoh. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif lebih lemah disebut koloid liofob yang bersifat kurang stabil. Begitu juga sebaliknya. Akibatnya partikel tidak bermuatan. disperse kanji.

kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya Memberikan efek Tyndall yang lemah Dapat bermigrasi ke anode. katode. artinya sol liofob yang sudah menggumpal tidak dapat diubah lagi menjadi sol Efek Tyndall Migrasi dalam medan listrik Memberikan efek Tyndall yang jelas Akan bergerak ke anode. Terdapat proses solvasi/hidrasi. artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi.Tabel 6.4 Perbedaan antara sol liofil dan liofob Sifat-Sifat Pembuatan Sol Liofil Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium pendispersi Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan Partikel-partikel sol liofil mengadsorpi medium pendispersi. katode tergantung jenis muatan partikel Pemisahan Koloid Elektroforesis Telah disinggung pada pembahasan sebelumnya. yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi disekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit Reversibel. elektroforesis merupakan peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda dalam suatu sistem sejenis elektrolisis. 115 . atau tidak bermigrasi sama sekali Muatan Partikel Adsorpsi Medium Pendispersi Sol Liofob Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dengan medium pendispersi Memiliki muatan positif atau negatif Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersi. Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang bermuatan listrik Viskositas (kekentalan) Penggumpalan Sifat reversibel Viskositas sol liofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi Mudah menggumpal oleh penambahan elektrolit Irreversibel.

Contoh percobaan elektroforesis sederhana untuk menentukan jenis muatan dari koloid X diperlihatkan pada Gambar 6. Penyaringan Ultra Penyaringan ultra digunakan untuk memisahkan koloid melewati membran. Penggunaan elektroforesis tidak hanya sebatas itu. jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif. Dialisis Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan Pada proses digunakan selaput Semipermeabel (Gambar 6. Gambar 6. Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan laju transport partikel.10.Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid.11). Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan tekanan osmosis. Salah satu proses yang menggunakan sistem elektroforesis adalah proses membersihkan asap dalam suatu industri dengan menggunakan alat Cottrell. Begitu juga sebaliknya. antara lain pemisahan protein yang mempunyai muatan yang berbeda. melainkan meluas untuk memisahkan partikel yang termasuk dalam ukuran koloid. Jika koloid bergerak menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. di mana fungsi ginjal digantikan oleh dialisator.10 Rangkaian untuk elektrolisis 116 . Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci darah bagi penderita gagal ginjal.

Kondensasi Merupakan cara kimia. Prinsip umum : Partikel Besar Partikel Koloid Yang termasuk cara dispersi: Cara Mekanik 117 . Prinsip umum: Terjadinya kondensasi partikel molekular membentuk partikel koloid Kondensasi partikel koloid Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi: Reaksi Redoks 3S(s) + 2H2O(l) 2H2S(g) + SO2(aq) Reaksi Hidrolisis Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq) FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Reaksi Substitusi/Agregasi Ionik As2S3(s) + 6 H2O(l) 2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) Reaksi Penggaraman B.Gambar 6. Dispersi Dapat dilakukan dengan cara mekanik maupun dengan cara kimia.11 Prinsip dialisis Pembuatan Koloid A.

Contoh : i. Instrument Busur Bredig dapat dilihat pada Gambar 6. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S. Cara Peptisasi Cara peptisasi adalah pembutan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan pemeptisasi (pemecah). Cara Busur Bredig Digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan loncatan bunga listrik. Agar-agar dipeptisasi oleh air .12 Busur Bredig 118 . Endapan Al(OH)3 oleh AlCl3.12. ii. Karet oleh bensin. Gambar 6.Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau penggilingan.

efek Tyndal. Koloid mempunyai sifat-sifat seperti gerak Brown.Ringkasan Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase. jelaskan apa yang dimaksud dengan elektroforesis? sebutkan aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari. Latihan 1. 4. koagolasi. yaitu fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. 2. Koloid dapat dibuat dengan kondensasi dan dispersi. 3. Koloid dapat dipisahkan dengan dialisis. elektroforesis dan penyaringan ultra. Jelaskan definisi koloid? Jelaskan perbedaan koloid. Jelaskan sifat-sifat koloid. 5. 119 . Sistem koloid dapat digolongkan berdasarkan pada fase terdispersi dan medium pendisfersinya. 6. adsorpsi. larutan dan suspensi? Sebutkan macam-macam koloid. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.

120 .

menentukan pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan dalam suatu reaksi kesetimbangan. 3. menjelaskan pengertian reaksi kesetimbangan serta tetapan kesetimbangan.7 Kesetimbangan Standar Kompetensi Memahami konsep kesetimbangan reaksi Kompetensi Dasar Menguasai reaksi kesetimbangan Menguasai faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan Menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan Menggunakan satuan konsentrasi dalam membuat larutan Tujuan pembelajaran 1. 121 . 2. menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dalam menghitung Kc dan Kp dari suatu reaksi kesetimbangan.

Gambar 9.7. Pelarutan padatan. Gambar 9. sampai pada titik laju padatan yang terlarut sama dengan padatan yang mengendap saat konsentrasi larutan jenuh (tidak ada perubahan konsentrasi) Reaksi yang dapat berlangsung dalam dua arah disebut reaksi dapat balik. akibatnya tidak terjadi perubahan bersih dalam sistem pada kesetimbangan.2 Reaksi Bolak-Balik 122 . Contoh : Fe(s) + HCl(aq) FeCl2(aq) + H2(g) Reaksi dapat berlangsung tuntas. yaitu zat yang direaksikan habis dan terbentuk zat baru.1 Reaksi Tuntas Uap mengembun dengan laju yang sama dengan air menguap.1. Definisi Kesetimbangan dinamis adalah keadaan dimana dua proses yang berlawanan terjadi dengan laju yang sama.

Pada awal reaksi konsentrasinya = 0. Konsentrasi A dan B kemudian diukur pada selang waktu tertentu. Sebaliknya yang terjadi pada produk zat C dan D.3 Perubahan konsentrasi terhadap waktu Penurunan konsentrasi A dan B mula-mula terjadi dengan cepat. Keadaan kesetimbangan menunjukkan keseimbangan dinamik antara proses maju atau balik 4. yang berarti bahwa laju reaksi kekiri = laju reaksi kekanan. kecepatan reaksi ke kanan sama dengan kecepatan reaksi ke kiri maka. Zat baru yang terbentuk dapat dapat direaksikan dengan zat lain menghasilkan zat semula. dan D menjadi konstan.Reaksi dapat berlangsung bolak balik. yaitu : 1. Keadaan kesetimbangan dicapai melalui proses yang berlangsung spontan 3. Keadaan kesetimbangan tidak menunjukkan perubahan makroskopik yang nyata 2. kemudian bertambah dengan cepat tapi makin lama semakin lambat sampai akhirnya menjadi konstan. C. Pada waktu t = t~ konsentrasi masing-masing zat A. Hal ini juga bisa digambarkan dengan hal sebagai berikut. Keadaan kesetimbangan adalah sama walaupun arah pendekatannya berbeda 123 . Bila hasil pengukuran itu digambarkan dalam sebuah grafik konsentrasi sebagai fungsi dari waktu maka akan tampak gambar sebagai berikut: Konsentrasi Waktu Gambar 9. Reaksi ini disebut reaksi bolak-balik. Secara umum reaksii kesetimbangan dapat dinyatakan sebagai : A + B C + D Mula-mula zat A dan zat B sebagai reaktan (tidak harus dalam jumlah yang sama) dicampur dalam suatu tabung reaksi. zat semula (reaktan) direaksikan akan habis dan terbentuk zat baru (produk). 7.2 Karakteristik keadaan kesetimbangan Ada empat aspek dasar keadaan kesetimbangan. makin lama semakin lambat sampai pada akhirnya konstan. yaitu apabila dalam suatu reaksi kimia. B. reaksi dikatakan dalam keadaan setimbang.

Kesetimbangan dalam sistem padat gas CaO(s) + CO2(g) Contoh : CaCO3(s) b. sehingga harga konstanta kesetimbangan yang besar menunjukkan bahwa reaksi berlangsung ke kanan dengan baik. Kesetimbangan sistem padat larutan Contoh : BaSO4(s) Ba2+(aq) + SO42. sehingga konstanta kesetimbangan yang kecil menunjukkan reaksi bolak-balik tidak berlangsung dengan baik.4 Konstanta kesetimbangan Konstanta ksetimbangan yang dinyatakan dengan term konsentrasi (Kc) dapat mempunyai harga yang sangat besar atau sangat kecil. Kesetimbangan dalam sistem gas-gas 2SO3(g) Contoh : 2SO2(g) + O2(g) b.3 Macam . Kesetimbangan dalam sistem larutan-larutan NH4+(aq) + OH. Kesetimbangan dalam sistem larutan padat gas CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(g) Contoh : Ca(HCO3)2(aq) 7. yaitu : 1.(aq) c.7. Kesetimbangan dalam sistem heterogen a. Kesetimbangan dalam sistem homogen a. Misalnya jika reaksi : A(g) + B(g) C(g) + D(g) Dengan Kc = 10-5 berarti bahwa campuran A dan B tidak banyak menghasilkan C dan D pada kesetimbangan. Harga konstanta kesetimbangan dapat ditentukan berdasarkan data eksperimen. berarti bahwa pada keadaan kesetimbangan konsentrasi dari produk adalah kecil. Bila konstanta kesetimbangan besar (Kc > 1) berarti bahwa konsentrasi reaktan yang tinggal pada kesetimbangan adalah kecil. Bila konstanta kesetimbangan (Kc) kecil (Kc < 1).macam sistem kesetimbangan. 124 .(aq) Contoh : NH4OH(aq) 2. Misalnya untuk reaksi : E(g) + F(g) G(g) + H(g) Dengan harga Kc = 105 berarti campuran E dan F akan berubah hampir sempurna menjadi G dan H.

maka hasil kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi dibagi dengan hasil kali konsentrasi pereaksi yang sisa dimana masing-masing konsentrasi itu dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap.5 Hukum Guldberg dan Wange : Gambar 9. Berikut adalah contoh soal tentang pergeseran kimia.7. Contoh 1 : CO(g) + 3H2(g) Kc = CH4(g) + H2O(g) CH 4 H 2 O CO H 2 3 2N2(g) + 3H2(g) Kc = 2NH3(g) 2 3 NH 3 N2 2 H2 125 .4 Guldberg Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tetap. Pernyataan tersebut juga dikenal sebagai hukum kesetimbangan. Untuk reaksi kesetimbangan : aA+bB cC+dD maka: Kc = (C)c x (D)d / (A)a x (B)b Kc adalah konstanta kesetimbangan yang harganya tetap selama suhu tetap.

6 beberapa hal yang harus diperhatikan Gambar 9.Contoh 2 : Dalam ruang 2 L pada suhu t ºC direaksikan 0. Contoh : Zn(s) Kc = (Zn2+) / (CO2+) + Cu2+(aq) Zn2+(aq) + Cu(s) 126 . Contoh : C(s) + CO2(g) Kc = (CO)2 / (CO2) 2CO(g) Jika kesetimbangan antara zat padat dan larutan yang dimasukkan dalam perhitungan Kc hanya konsentrasi zat-zat yang larut saja.25 0.5 mol / L 2 NH 3 2 3 H2 = 0.2 = 20 M 3 0. maka yang dimasukkan dalam persamaan kesetimbangan hanya zat-zat yang berbentuk gas saja sebab konsentrasi zat padat adalah tetap dan nilainya telah terhitung dalam harga Kc itu.4 2/3 x 0.4 mol 2NH3(g) ~ 0.2 M 0.2 M 2 0.4 0. pada saat kesetimbangan dalam ruang terdapat 0.4 mol / L 2 N2 2 H2 = 0. tentukan harga Kc pada suhu tersebut !!! Jawaban : Reaksinya adalah : Σ mol mula-mula Σ mol yang berubah Σ mol dalam keadaan setimbang + 3H2(g) 2N2(g) 0.2 7.6 0.4 --0.4 mol - N2 = 0.5 kesetimbangan gas Jika zat-zat terdapat dalam kesetimbangan berbentuk padat dan gas.25 M Kc = 0.4 mol gasNH3.7 1 ½ x 0.7 mol gas N2 dan 1 mol gas H2.2 0.5 mol 0.4 mol / L 2 NH 3 = 0.

maka kesetimbangan 1/2A(g) + B(g) 2C(g) berapakah bagi besarnya tetapan reaksi: Jawab: . Satu mol AB direaksikan dengan satu mol CD menurut persamaan reaksi : AB(g) + CD(g) AD(g) + BC(g) + OH-(aq) Setelah kesetimbangan tercapai ternyata 3/4 mol senyawa CD berubah menjadi AD dan BC.Untuk reaksi kedua : K2 = [(A)1/2 x (B)]/(C)2 . Kalau volume ruangan 1 liter.25 .3/4 = 1/4 n mol/l 3/4 mol/l Kc = [(AD) x (BC)]/[(AB) x (CD)] = [(3/4) x (3/4)]/[(1/4) x (1/4)] = 9 2. Jika tetapan kesetimbangan untuk reaksi : A(g) + 2B(g) 4C(g) sama dengan 0.Untuk kesetimbangan antara zat-zat dalam larutan jika pelarutnya tergolong salah satu reaktan atau hasil reaksinya maka konsentrasi dari pelarut itu tidak dimasukkan dalam perhitungan Kc. tentukan tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini ! Jawab: Perhatikan reaksi kesetimbangan di atas jika ternyata CD berubah (bereaksi) sebanyak 3/4 mol maka AB yang bereaksi juga 3/4 mol (karena koefsiennya sama).Hubungan antara K1 dan K2 dapat dinyatakan sebagai : K1 = 1 / (K2)2 & K2 = 2 127 . Contoh : CH3COO-(aq) + CH3COOH(aq) H2O(l) Kc = (CH3COOH) x (OH-) / (CH3COO-) Contoh soal: 1. Dalam keadaan kesetimbangan: (AD) = (BC) = (AB) sisa = (CD) sisa = 1 .Untuk reaksi pertama: K1 = (C)4/[(A) x (B)2] = 0.25.

7 Azas Le Chatelier Pengaruh dari luar sering dikatakan dengan memasukkan gangguan pada kesetimbangan. Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar itu dikenal dengan pergeseran kesetimbangan. Gambar 9. maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecil-kecilnya. sistem akan mengatur untuk mengurangi gangguan. Gambar 9.7 Pergeseran kesetimbangan Bagi reaksi: A + B C + D 128 .7.6 Le Chatelier Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi.

2. berarti A bereaksi dengan B memhentuk C dan D. Dari kanan ke kiri. sedangkan C dan D bertambah. 129 . sehingga jumlah mol C dan D berkurang. Dari kiri ke kanan. sehingga jumlah mol A dan Bherkurang. berarti C dan D bereaksi membentuk A dan B. sedangkan A dan B bertambah.Kemungkinan terjadinya pergeseran Reaksi bergeser ke arah zat yang ditambahkan atau diganti dengan zat yang dihilangkan 1.

8. maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. Perubahan konsentrasi salah satu zat Perubahan volume atau tekanan Perubahan suhu 7. maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Bila pada sistem kesetimbangan ini dikurangi gas O2. maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut. Sebaliknya.7. Contoh : 2SO2(g) + O2(g) 2SO3(g) Bila pada sistem kesetimbangan ini ditambahkan gas SO2. b. 130 . konsentrasi salah satu zat diperbesar.8 Pengaruh Konsentrasi dalam Pergeseran Kimia Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen.8 Faktor-faktor yang dapat menggeser letak kesetimbangan a. c. maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut. Perubahan Konsentrasi Salah Satu Zat Gambar 7. jika konsentrasi salah satu zat diperkecil.1.

Contoh : N2(g)+3H2(g) 2NH3(g) Koefisien reaksi di kanan = 2 Koefisien reaksi di kiri = 4 Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperbesar (=volume diperkecil). maka dalam sistem akan mengadakan berupa pergeseran kesetimbangan. Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperkecil (=volume diperbesar).8.7.9 Pengaruh Volume / Tekanan dalam Pegeseran kesetimbangan Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan). 131 . kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien reaksi besar. Jika tekanan diperbesar = volume diperkecil. maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. maka perubahan tekanan/volume tidak menggeser letak kesetimbangan. maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.2. Perubahan volume atau tekanan Gambar 7. Pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koefisien reaksi sebelah kiri = jumlah koefisien sebelah kanan. Jika tekanan diperkecil = volume diperbesar. kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien Reaksi Kecil.

maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor (ke arah reaksi eksoterm). ΔH = -216 kJ Contoh: 2NO(g) + O2(g) Jika suhu dinaikkan.8.11 Van’t Hoff Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan. maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. Perubahan suhu Gambar 7.3. 2NO2(g) . Jika suhu diturunkan. Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan.7. maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Menurut Van't Hoff: Gambar 7. maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi endoterm).10 Pengaruh suhu dalam pergeseran kimia. 132 .

Untuk gas ideal berlaku : pV = nRt C = p/RT CA = pA/RT CB = pA/RT dan seterusnya.9 Hubungan Antara Harga Kc Dengan Kp Untuk reaksi umum: a A(g) + b B(g) c C(g) + d D(g) Harga tetapan kesetimbangan: Kc = [(C)c .12 pengaruh katalisator Fungsi katalisator dalam reaksi kesetimbangan adalah mempercepat tercapainya kesetimbangan dan tidak merubah letak kesetimbangan (harga tetapan kesetimbangan K c tetap). B. C dan D. (B)b] Kp = (PCc x PDd) / (PAa x PBb) Dimana : PA. 7. hal ini disebabkan katalisator mempercepat reaksi ke kanan dan ke kiri sama besar. (D)d] / [(A)a . Pengaruh Katalisator Terhadap Kesetimbangan Gambar 7. Kc C cDd Aa B b ( pC / RT ) c ( pD / RT ) d ( pA / RT ) a ( pB / RT ) b pC c pD d (1 / RT ) c pA a pB b d a b Kc 133 . PB.4.7.8. PC dan PD merupakan tekanan parsial masingmasing gas A.

x=4 Kp = (PCO)2 / PCO2 = x2 / (5 .4) = 1 atm 7.Kc = Kp(1/RT)Δn Secara matematis.9. Kc = CO2 Kp = PCO2 Kp = Kc . maka tekanan parsial gas CO2 = (5 .13 kesetimbangan heterogen Perhatikan reaksi dekomposisi berikut : CaO(p) + CO2(g) CaCO3(p) Campuran dua zat padat yang tidak membentuk larutan padat terdiri dari dua fasa. RTΔn 134 . Contoh: Jika diketahui reaksi kesetimbangan: 2CO(g) CO2(g) + C(s) Pada suhu 300o C.1.x) atm. masing-masing adalah senyawa yang murni dan mempunyai komposisi yang konstan.x) = 16 Jadi tekanan parsial gas CO2 = (5 . jika tekanan total dalaun ruang 5 atm! Jawab: Misalkan tekanan parsial gas CO = x atm. harga Kp= 16. Hitunglah tekanan parsial CO2. Kesetimbangan Heterogen Gambar 7. hubungan antara Kc dan Kp dapat diturunkan sebagai: Kp = Kc (RT) Δn dimana Δn adalah selisih (jumlah koefisien gas kanan) dan (jumlah koefisien gas kiri).

9. atau suatu zat pewarna koloid. Kesetimbanagn Donnan berperan pada berbagai gejala biologi dan bukan biologi. Kesetimbangan Donnan Gambar 7.2. ion kongo merah. bilamana sekurang-kurangnya satu dari kedua elektrolit itu mengandung suatu ion misalnya ion koloid yang tidak dapat mendifusi melalui selaput itu.15 Kesetimbangan donan dalam membran Sebagai contoh elektrolit NaCl dengan konsentrasi awal c1 dan NaR dengan konsentrasi awal c2. donnan Teori kesetimbangan Donnan (1911) adalah mengenai kesetimbangan antara dua elektrolit yang terpisah oleh suatu selaput ataupun jel.ion R. terpisah oleh suatu membran MM yang tak dapat dilalui oleh ion besar R-.14 Frederick G. Gambar 7. NaCl dengan aktivitas a1 diruang I akan berdifusi keruang II menjadi aktivitas a 2 dengan perubahan energi bebas Gibbs : G = RT ln a1/a2 Pada akhirnya terjadi kesetimbanagn jika : 135 .7.misalnya ion protein.

16 dissosiasi Derajat disosiasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai dengan jumlah mol mula-mula.10 Dissosiasi Disosiasi adalah penguraian suatu zat menjadi beberapa zat lain yang lebih sederhana. 7.17 Dissosiasi Unimolecular Contoh: N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) besarnya nilai derajat disosiasi (α): 136 .ΔG = 0 a1 = a 2 Dengan kesetimbangan Donnan dapat dipahami secara kualitatif terjadinya potensial biolistrik dalam sel-sel dan badan hewan namun potensial itu kerap lebih besar dari yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus diatas. Gambar 7. Gambar 7. Belut listrik mempunyai potensial listrik ampai 100 Volt yang digunakannya sebagai senjata.

α) mol mol N2O4 yang terurai = a α mol mol NO2 yang terbentuk = 2 x mol N2O4 yang terurai = 2 a α mol Pada keadaan setimbang: mol N2O4 sisa = mol NO2 yang terbentuk a(1 .50C dan total tekanan 0. Tetapan kesetimbangan pada 350 K untuk reaksi : Br2(g) + I2(g) 2 IBr(g) 137 . ketika dua zat kimia yang berbeda bereakasi pada laju yang sama. Prinsip Le Chatelier’s.= mol NH3 yang terurai / mol NH3 mula-mula Harga derajat disosiasi terletak antara 0 dan 1. SOAL-SOAL 1. maka sistem tersebut berada dalam keadaan kesetimbangan dinamik dan konsentrasi dari reaktan dan produk konstan.3% menjadi NO2. Prinsip ini adalah suatu keadaan dimana ketika kesetimbangan terganggu. Pada keadaan ini berapakah harga derajat disosiasinya ? Jawab: Misalkan mol N2O4 mula-mula = a mol mol N2O4 sisa = a (1 .0787 atm N2O4 terdisosias sebanyak 48. jika: a = 0 berarti tidak terjadi penguraian a = 1 berarti terjadi penguraian sempurna 0 < α < 1 berarti disosiasi pada reaksi setimbang (disosiasi sebagian). Pada tekanan berapa disosiasi menjadi 10%? 2.α ) = 2a α 1-α =2 α α = 1/3 KESIMPULAN Kesetimbangan dinamik. Contoh: Dalam reaksi disosiasi N2O4 berdasarkan persamaan 2NO2(g) N2O4(g) banyaknya mol N2O4 dan NO2 pada keadaan setimbang adalah sama. Pada suhu 21. tentukan harga Kc. perubahan kimia terjadi pada arah yang berlawanan dengan gangguan yang mempengaruhi dan membawa sistem ke keadaan kesetimbangan lagi.

a. Tunjukkan secara kualitatif bagaimana pengaruh a. Pada kesetimbangan 2SO2(g) + O2(g) 2SO3(g) +189. dan COCl2 ada dalam kesetimbangan pada suhu 1000 K.. 5. Sebuah kotak bejana yang berisi CO.. e. Suhu diturunkan e.. Cl2. C e. Diketahui reaksi kesetimbangan : A. Reaksi kesetimbangan NH3(g) + CO2(g) CO(NH2)2(s) Pada suhu dan volume tetap. Konsentrasi gas SO2 dikurangi 6. 3. D f. Berhenti selamanya 7.. A dan B b. Tidak bergeser Berhenti sementara d. maka . Kesetimbangan bergeser ke kiri c. Tekanan ruang dikurangi d.04 atm dan dijaga keadaanya pada suhu 350 K sampai kesetimbangan tercapai.. Jumlah mol masing-masing komponen bila kedalam bejana : ...dimasukkan CO .NH3(g) + HCl(g) NH4Cl(g) B.Adalah 322.. Konsentrasi b.N2O4(g) 2NO2(g) D.diberi tambahan tekanan .N2(g) + 3H2(g) 2NH3Cl(g) C.H2(g) + I2(g) 2Hl2(g) a.. Konsentrasi gas O2 dikurangi c. Bergeser ke kiri c. A dan C d. Kesetimbangan bergeser ke kanan 138 . a. Kesetimbangan tidak bergeser b. ditambahkan katalis. A dan D c. Brom ini dengan tekanan parsial awal 0.Bergeser ke kanan b. Reaksi kesetimbangan H2(g) + I2(g) 2HI(g) Tekanan dalam sistem diperbesar. maka kesetimbangan . Hitung tekanan parsial kesetimbanagn untuk tiap-tiap gas.CO dihilangkan 4.64 kj Konsentrasi SO3 dalam ruang akan bertambah jika. a.. Volume ruang diperbesar b.05 atm dicampur dengan iodin dengan tekanan parsial 0.

. pembuatan ammonia tersebut harus dilakukan pada tekanan dan suhu yang tinggi. 4. Kesetimbangan terhenti e... berapa mol H2 yang dihasilkan ? 3.10 mol-2 L2 c. 1. maka harga Kc-nya adalah.... 16.. Dari ½ mol HI pada volume 1 dm3. Contoh aplikasi reaksi kesetimbangan dalam industri adalah pembuatan ammonia yang reaksinya sebagai berikut : N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92 kJ Menurut proses Haber-Bosch. Terjadi perubahan katalis 8. 400 mol-2 L2 SOAL : 1. a.d.81 mol-2 L2 d. Jelaskan mengapa! 139 ...26 mol-2 L2 b. seperti yang digambarkan pada grafik diatas 2. Reaksi kesetimbangan 2NH3(g) N2(g) + 3H2(g) Pada 27 ºC mempunyai harga Kp = 2. Perhatikan grafik berikut ini : Kecepatan (v) v1 v1 = v2 setimbang v2 t1 Waktu (t) Jelaskan grafik hubungan perubahan laju reaksi terhadap waktu pada reaksi kesetimbangan.5 x 10-3 atm-2. Tetapan kesetimbangan 2HI H2 + I2 adalah ¼ . 250 mol-2 L2 e.

140 .

data perubahan entalpi pembentukan standar. Siswa mampu menjelaskan pengertian entalpi suatu zat dan perubahannnya. Dan melalui urutan reaksi yang 141 . Pembakaran dari bahan bakar seperti minyak dan batu bara dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang dibakar dalam mesin mobil akan menghasilkan kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan. Salah satu terapan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita dimana produksi dari energi-energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua tugas yang kita lakukan. Bila kita mempunyai kompor gas berarti kita membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang menghasilkan panas untuk memasak. Siswa mampu mendefinisikan pengertian istilah-istilah dalam reaksi termokimia beserta contohnya 1.1 Definisi Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari dinamika atau perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termal nya saja.8 Termokimia Standar Kompetensi Menentukan perubahan entalpi berdasarkan konsep termokimia Kompetensi Dasar Menjelaskan entalpi dan perubahan entalpi Menentukan perubahan entalpi reaksi Menentukan kalor pembakaran berbagai bahan bakar Tujuan pembelajaran 1. Siswa mampu menentukan H reaksi berdasarkan hukum Hess. 3. eksperimen dan data energi ikatan 8. 2.

Gambar 8. makanan yang dimakan akan menghasilkan energi yang kita perlukan untuk tubuh agar berfungsi. Setiap perubahan yang dapat melepaskan energi ke sekelilingnya seperti ini disebut perubahan eksoterm.disebut metabolisme. Kebanyakan reaksi kimia tidaklah tertutup dari dunia luar. Penambahan jumlah energi kinetik akan menyebabkan harga rata-rata energi kinetik dari molekulmolekul naik. Perhatikan bahwa bila terjadi reaksi eksoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi suatu reaksi endoterm. Atau reaksi dilakukan sedemikian rupa sehingga energi total tetap sama. Campuran reaksi menjadi panas. Mari kita periksa terjadinya hal ini dan bagaimana kita mengetahui adanya perubahan energi. Kadang-kadang perubahan kimia terjadi dimana ada kenaikan energi potensial dari zat-zat bersangkutan. Sebab itu. Tetapi energi ini tak dapat hilang begitu saja karena energi total (kinetik dan potensial) harus tetap konstan. panas dapat mengalir ke campuran reaksi dan perubahannya disebut perubahan endoterm.1 peristiwa termokimia Misalkan kita akan melakukan reaksi kimia dalam suatu tempat tertutup sehingga tak ada panas yang dapat keluar atau masuk kedalam campuran reaksi tersebut. 142 . temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Bila sistem tidak tertutup di sekelilingnya. Juga misalkan energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi sehingga waktu reaksi terjadi ada penurunan energi potensial. temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat yang ikut dalam reaksi akan naik. Bila hal ini terjadi. Bila campuran reaksi menjadi panas seperti digambarkan dibawah. bila energi potensialnya turun. Hampir semua reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau dikeluarkan. panas dapat mengalir ke sekelilingnya. yang kita lihat sebagai kenaikan temperatur dari campuran reaksi. maka energi kinetiknya harus naik berarti energi potensial berubah menjadi energi kinetik. maka energi kinetiknya akan turun sehingga temperaturnya juga turun.

benda dengan massa 4. Setara dengan jumlah energi yang dipunyai suatu benda dengan massa 2 kg dan kecepatan 1 m/detik (bila dalam satuan Inggris. Dengan diterimanya SI.Gambar 8. Satu joule = 1 kgm 2/s2. biasanya dalam bentuk kalor.4 lb dan kecepatan 197 ft/menit atau 2.2 Peristiwa kebakaran menghasilkan panas 8. Dalam mengacu pada energi yang terlibat dalam reaksi antara pereaksi dengan ukuran molekul biasanya digantikan satuan yang lebih besar yaitu kilojoule (kJ). sekarang juga joule (atau kilojoule) lebih disukai dan kalori didefinisi ulang dalam satuan SI. Mula-mula kalori didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dengan suhu asal 150C sebesar 10C.2 Pengukuran energi dalam reaksi kimia Satuan internasional standar untuk energi yaitu Joule (J) diturunkan dari energi kinetik. Satuan kilokalori juga digunakan untuk menyatakan energi yang terdapat dalam makanan. Kilokalori (kkal) seperti juga kilojoule merupakan satuan yang lebih sesuai untuk menyatakan perubahan energi dalam reaksi kimia. Cara yang biasa digunakan untuk menyatakan panas disebut kalori (singkatan kal). Definisinya berasal dari pengaruh panas pada suhu benda. Semua bentuk energi dapat diubah keseluruhannya ke panas dan bila seorang ahli kimia mengukur energi. Sekarang kalori dan kilokalori didefinisikan secara eksak sebagai berikut : 1 kal = 4.184 J 1 kkal = 4. 1 J = 1 kg m2/s2 Satuan energi yang lebih kecil yang dipakai dalam fisika disebut erg yang harganya = 1x10-7 J. Satu kilojoule = 1000 joule (1 kJ = 1000J).2 mile/jam).184 kJ 143 .

Bila sistim diisolasi dari lingkungan sehingga tak ada panas yang dapat mengalir maka perubahan yang terjadi di dalam sistim adalah perubahan adiabatik. Telah dikatakan.3 Hubungan sistem dengan lingkungan Pelajaran mengenai panas reaksi dinamakan termokimia yang merupakan bagian dari cabang ilmu pengetahuan yang lebih besar yaitu termodinamika.3 Panas reaksi dan termokimia Gambar 8. kita harus memperinci sifat-sifatnya secara tepat. Sistim adalah sebagian dari alam semesta yang sedang kita pelajari. tekanan. Selama ada perubahan adiabatik. suhu dari sistim dapat dibuat tetap. jumlah mol dari tiap zat dan berupa cairan. bila terjadi reaksi eksotermik atau endotermik maka pada zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi perubahan energi potensial. Di luar sistim adalah lingkungan. akan dibuat dulu definisi dari beberapa istilah. Mulai sekarang kita akan menggunakan perubahan ini dalam beberapa kuantitas sehingga perlu 144 . Panas reaksi yang kita ukur akan sama dengan perubahan energi potensial ini. Setelah semua variabel ini ditentukan berarti semua sifat-sifat sistim sudah pasti. maka bila terjadi reaksi. maka suhu dari sistim akan menggeser. Sebelum pembicaraan mengenai prisip termokimia ini kita lanjutkan. maka panas akan mengalir antara keduanya.8. bila reaksinya eksotermik akan naik sedangkan bila reaksinya endotermik akan turun. Diberikan suhunya. Bila perubahan terjadi pada sebuah sistim maka dikatakan bahwa sistim bergerak dari keadaan satu ke keadaan yang lain. berarti kita telah menggambarkan keadaan dari sistim. Salah satu dari istilah yang akan dipakai adalah sistim. Dalam menerangkan suatu sistim. Bila sistim tak diisolasi dari lingkungannya. padat atau gas. Perubahan yang terjadi pada temperatur tetap dinamakan perubahan isotermik. Mungkin saja misalnya suatu reaksi kimia yang terjadi dalam suatu gelas kimia.

3.1 Reaksi eksoterm dan endoterm Gambar 8. dimana T menunjukkan temperatur. perubahan energi potensial (Ep) ∆(E. C(s) + O2(g) ∆H = -393.P) = EPakhir – EPawal Dari definisi ini didapat suatu kesepakatan dalam tanda aljabar untuk perubahan eksoterm dan endoterm. energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi berarti EPakhir lebih rendah dari EPmula-mula. Pada reaksi endoterm harga ∆H = positif ( + ) 145 . Dalam praktek biasanya dalam menunjukkan perubahan adalah dengan cara mengurangi temperatur akhir dengan temperatur mula-mula. Kebalikannya dengan reaksi endoterm. Reaksi Eksoterm Pada reaksi eksoterm terjadi perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau pada reaksi tersebut dikeluarkan panas. Dalam perubahan eksotermik. 8. Sehingga harga ∆EP mempunyai harga negatif.5 kJ b. Misalnya perubahan suhu dapat ditulis dengan ∆T. Pada reaksi eksoterm harga ∆H = negatif ( .4 Peristiwa endoterm (kanan) dan eksoterm (kiri) a. ∆T = Takhir – Tmula-mula Demikian juga. Simbol ∆ (huruf Yunani untuk delta) umumnya dipakai untuk menyatakan perubahan kuantitas.5 kJ .) Contoh : CO2(g) + 393. Reaksi endoterm Pada reaksi terjadi perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas.ditegakkan beberapa peraturan untuk menyatakan perubahan secara umum. dimana harga ∆EP adalah positif.

Karena pada keadaan volume yang tetap maka panas reaksi yang diukur dengan kalorimeter bomb disebut panas reaksi pada volume tetap.5 kJ . ∆H = +178. Kalorimeter cangkir kopi berhubungan dengan udara dan bila ada 146 .4 Entalpi (H) dan perubahan entalpi (∆H) Nama lain dari entakpi adalah panas.Contoh : CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g).6 Kalorimeter Bomb Reaksi yang terjadi dalam ”kalorimeter bomb” berada pada volume yang tetap karena bejana bomb tak dapat membesar atau mengecil. tekanan akan membesar maka tekanan pada sistim dapat berubah. Gambar 8. Berarti bila gas terbentuk pada reaksi di sini.178.5 Proses eksoterm dan proses endoterm 8.5 kJ Gambar 8.

Sehingga harga ∆H adalah negatif. Pengukuran panas reaksi pada reaksi pada volume tetap dan tekanan tetap tak banyak berbeda tapi tidak sama.85 kJ 147 . Dengan analisis yang sama kita mendapatkan harga ∆H untuk perubahan endotermik harganya positif.5 Istilah yang digunakan pada perubahan entalpi : Gambar 8. Definisinya : ∆H = Hakhir – Hmula-mula Walaupun ini merupakan definisi yang biasa dari ∆H. Jumlah energi total ini tidak dapat diketahui karena kita tidak mengetahui secara pasti berapa kecepatan pergerakan molekul-molekul dari sistim dan juga berapa gaya tarik menarik dan tolak menolak antara molekul dalam sistim tersebut.7 Perubahan Entalphi 1. Perubahan eksotermik Hakhir lebih kecil dari Hmula-mula. keadaan entalpi H. Contoh : H2(g) + 1/2 O2(g) H2O (l) . mula-mula dan akhir (yang sebenarnya berhubungan dengan jumlah energi yang ada pada keadaan ini) tak dapat diukur. Maka perubahan energi diukur dengan kalorimeter cangkir kopi adalah panas reaksi pada tekanan tetap. maka akan dibicarakan hanya panas reaksi pada tekanan tetap. Ini disebabkan karena jumlah energi dari sistem termasuk jumlah dari semua energi kinetik dan energi potensialnya. Karena kebanyakan reaksi yang ada kepentingannya bagi kita dilakukan dalam wadah terbuka jadi berhubungan dengan tekanan udara yang tetap dari atmosfir. 8. Bagaimanapun definisi yang diberikan oleh persamaan yang diatas sangat penting karena telah menegakkan tanda aljabar ∆H untuk perubahan eksoterm dan endotermik. Entalpi Pembentakan Standar ( ∆Hf ): ∆H untuk membentuk 1 mol persenyawaan langsung dari unsurunsurnya yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm.H = atom hidrogen H = entalpi reaksi yang menghasilkan gas. ∆Hf = -285. Panas reaksi pada tekanan tetap disebut perubahan entalpi dan reaksi dan diberikan dengan simbol ∆H. gasnya dapat menguap ke udara dan tekanan pada sistim dapat tetap konstan.

CO2(g) + 2H2O(l) . Entalpi Penguraian: ∆H dari penguraian 1 mol persenyawaan langsung menjadi unsur-unsurnya (= Kebalikan dari ∆H pembentukan). Contoh: NaOH(aq) + HCl(aq) .2." Artinya : Apabila reaksi dibalik maka tanda kalor yang terbentuk juga dibalik dari positif menjadi negatif atau sebaliknya. 4. Contoh : H2O(l) Entalpi Pembakaran Standar ( ∆Hc ): ∆H untuk membakar 1 mol persenyawaan dengan O2 dari udara yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm. 6. ∆H = -1468 kJ Contoh: 2Al + 3H2SO4 Entalpi Netralisasi: ∆H yang dihasilkan (selalu eksoterm) pada reaksi penetralan NaCl(aq) + H2O(l) asam atau basa.4 kJ/mol Hukum Lavoisier-Laplace "Jumlah kalor yang dilepaskan pada pembentukan 1 mol zat dari unsur-unsurnya sama dengan jumlah kalor yang diperlukan untuk menguraikan zat tersebut menjadi unsur-unsur pembentuknya. Al2(SO4)3 + 3H2 . ∆H = + 112 kJ 3. ∆Hc = -802 kJ. ∆H = +285.85 kJ. Contoh: CH4(g) + 2O2(g) Entalpi Reaksi: ∆H dari suatu persamaan reaksi di mana zat-zat yang terdapat dalam persamaan reaksi dinyatakan dalam satuan mol dan koefisien-koefisien persamaan reaksi bulat sederhana. 5. ∆H = -890. H2(g) + 1/2 O2(g) . PA dan PB adalah tekanan parsial yang dihitung dengan hukum Raoult’s = - 112 kJ 8.6 Hukum Hess mengenai jumlah panas Gambar 8. Contoh: + 3H2 2NH3 ∆H N2(g) 2NH3(g) N2(g) + 3H2(g) . 8 Hess 148 .

9 Diagram siklus panas reaksi Maka reaksinya bisa digambarkan sebagai berikut : 2S ( s ) 2 SO2 ( g ) 2O2( g ) O2 ( g ) 2 SO2( g ) . H2O(g) pada 1000C dan tekanan 1 atm. kita lihat perubahan yang sudah dikenal yaitu penguapan dari air pada titik didihnya. Proses ini akan 149 . Untuk melihat pentingnya pelajaran mengenai panas dari reaksi ini.10 Siklus Hess Karena entalpi adalah fungsi keadaan. H 3 Jadi ∆H3 = ∆H1 + ∆H2 Gambar 8. H 1 2 SO3( g ) . kita perhatikan perubahan 1 mol cairan air. H2O(l) menjadi 1 mol air berupa gas. maka besaran ∆H dari reaksi kimia tak tergantung dari lintasan yang dijalani pereaksi untuk membentuk hasil reaksi.Contoh Soal : Diketahui diagram siklus sebagai berikut : nilai dari ΔH0 di ambil dari sumber referensi yang tersedia Gambar 8. H 2 2S ( s ) 3O2 ( g ) 2SO3( g ) . Khususnya.

8. Keadaan awal 2. ∆H1 Jadi. Keadaan transisi-1 3. Caranya dapat juga sedemikian jauh yaitu dengan cara menguraikan air tersebut menjadi uap H2 dan O2 lalu menggabungkan kedua unsur ini kembali menjadi uap air. ∆H2 Keadaan transisi-2. Keadaan transisi-1. ∆H4(+) Keadaan akhir. Ini disebabkan karena koefisien ½ berarti ½ mol (dalam persamaan kimia biasa. Misalnya persamaan termokimia yang berhubungan dengan cara tak langsung yang baru saja diperlihatkan untuk menguapkan air pada 100 0C H 2 O( l ) H 2 O( g ) 1 H O2 2 (g) 283kJ 242kJ H 2 O( g ) 1 O2 ( g ) 2 H 2 O( g ) H Perhatikan bahwa koefisien pecahan dapat digunakan dalam persamaan termokimia. koefisien ½ biasanya dihindarkan 150 . dinamakan persamaan termokimia. ∆H3 Keadaan akhir. Dalam persamaan termokimia koefisiennya diambil sebagai jumlah mol dari pereaksi dan hasil reaksi. Perubahan keseluruhan dapat ditulis dengan persamaan : H 2 O( l ) H H 2 O( g ) 41kJ Persamaan yang ditulis diatas. Keadaan awal kita membalik persamaan dengan merubah reaktan dan produk. Perubahan 1 mol cairan air menjadi 1 mol uap air selalu akan mengabsorbsi jumlah energi yang sama ini. hal ini berarti reaksi berjalan dari kiri ke kanan. dimana perubahan energi juga diperlihatkan. ∆H1 = ∆H2 + ∆H3 + ∆H4 Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua Persamaan termokimia berlaku sabagai alat alat yang penting untuk menggunakan hukum Hess.1 Tahap-tahap reaksi 1. maka ∆H = +41 kJ. Persamaan termokimia di atas ini menyatakan bahwa 1 mol cairan air telah berubah manjadi 1 mol air berbentuk uap dengan mengabsorbsi 41 kJ kalori. Keseluruhan perubahan entalpinya tetap sama yaitu +41 kJ. Keadaan transisi-2 4. Pernyataan terakhir ini merupakan bagian dari Hukum Hess mengenai jumlah panas. Sehingga kita dapat melihat keseluruhan perubahan sebagai hasil urutan langkah-langkah dan harga ∆H untuk keseluruhan proses adalah jumlah dari perubahan entalpi yang terjadi selama perjalanan ini. tentunya bila keadaan mula-mula dan akhirnya sama tak menjadi soal bagaimana kita melakukan perubahan itu.mengabsorbsi 41 kJ.6.

H 2 O( l ) H 2 O( g ) H 2( g ) H 2( g ) 1 O2 ( g ) 2 1 O2 ( g ) 2 Atau H 2 O( l ) H 2 O( g ) Kita dapat juga mengatakan bahwa panas dari keseluruhan reaksi sama dengan jumlah aljabar dari panas reaksi untuk kedua langkah reaksi tersebut. Perhatikan bahwa titik 0.0 nya adalah entalpi dari unsur-unsur bebasnya. Gambar 8. H 283kJ ( 242kJ ) H 41kJ Jadi bila kita menjumlahkan persamaan kimia untuk mendapatkan hasil akhir perubahan harus juga menjumlahkan panas reaksi yang berhubungan. Pemilihan ini hanya secara kesepakatan sebab 151 . Gambar semacam ini biasa disebut diagram entalpi.11 Diagram Endoterm dan Eksoterm Untuk menerangkan perubahan termokimia. Hasil akhir perubahan (penguapan dari satu mol air) didapat dengan menjumlahkan kedua persamaan reaksi dan menghilangkan zat-zat yang ada di kedua belah pihak. dapat juga digambarkan secara grafik. setengah atom atau molekul tak ada artinya dalam suatu zat kimia).karena untuk tingkat molekuler tak ada artinya . Kedua persamaan di atas menunjukkan bahwa diperlukan 283 kJ untuk menguraikan 1 mol H2O(l) menjadi unsur-unsurnya dan 242 kJ dikeluarkan ketika unsur-unsur tersebut bergabung lagi membentuk 1 mol H2O(g).

Gambar 8.yang penting adalah menentukan perbedaan dari H.13 Diagram siklus Hess Dimana ∆H1 = ∆H2 + ∆H3 + ∆H4 Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua 152 . Hanya perbedaan entalpi (∆H) yang bisa diukur. Harga yang pasti dari entalpi absolut tak bisa diketahui.12 Diagram tingkat energi Hess Dimana ∆H1 = ∆H2 + ∆H3 + ∆H4 Keadaan transisi mungkin saja lebih dari dua Diagram Siklus Gambar 8.

H 2 (l ) H H 2 O( g ) 283kJ 1 O2 2 (l ) H 2(g) 1 O2 ( g ) 2 H 2 O( g ) H 242kJ Bagaimana dapat kita gunakan persamaan ini untuk mendapatkan panas penguapan dari air? Yang jelas persamaan (1) harus kita balik. lalu dijumlahkan dengan persamaan (2). a. Endoterm H 2 O( l ) H 2(g) 1 H O2 2 (g) Hf 283kJ Bila kita jumlahkan persamaan (1) dan (2).7 Panas pembentukan Ada suatu macam persamaan termokimia yang penting yang berhubungan dengan pembentukan satu mol senyawa dari unsurunsurnya. Jangan lupa untuk mengubah tanda ∆H. Eksoterm Gambar 8.14 Eksoterm (menghasilkan panas) H 2(g) 1 O2 2 (g) H 2 O( l ) H Hf 283kJ b. seperti dicerminkan oleh ∆Hf yang negatif.8. proses kebalikannya haruslah endoterm) yang berarti eksoterm menjadi positif yang berarti menjadi endoterm. Perubahan entalpi yang berhubungan dengan reaksi ini disebut panas pembentukan atau entalpi pembentukan yang diberi simbol ∆Hf. (Jika pembentukan H2O (l) eksoterm. Misalnya persamaan termokimia untuk pembentukan air dan uap air pada 1000C dan 1 atm masing-masing. kita dapat H 2 O( l ) H 2 O( g ) 153 .

padat. ∆Hf untuk H2O(l) adalah -286 kJ/mol. Panas pembentukan untuk zat-zat pada keadaan standar dinyatakan dengan H f . tekanan dan bentuk fisik (gas. panas pembentukan cairan air =-283 kJ/mol. Secara umum dapat ditulis : H reaksi jumlah H f hasilreaksi jumlah H f pereaksi 8. bentuk kristal) dari pereaksi dan hasil reaksi. juga agar dapat dibandingkan harga ∆Hf bermacam-macam senyawa dibuat keadaan standard pada 250C dan tekanan 1 atm.Dan panas reaksinya = H H H fH 2O ( g ) 242 kJ H fH 2O ( l ) 41kJ ( 283kJ ) Perhatikan bahwa panas reaksi untuk seluruh perubahan sama dengan panas pembentukan hasil reaksi dikurangi panas pembentukan dari pereaksi. Sedangkan pada 250C dan tekanan 1 atm. Misalnya panas pembentukan dalam keadaan standar untuk cairan cair 0 H 0 H O (l ) f 2 286kJ / mol adalah panas yang dilepaskan ketika H2 dan O2 dalam bentuk murninya pada temperatur 250C dan 1 atm bereaksi untuk menghasilkan H2O(l) pada 250C dan 1 atm 154 . cair. Untuk menghindarkan pengulangan menyebutkan keadaan dimana ∆Hf diukur.8 Keadaan standard Besarnya ∆Hf tergantung dari keadaan suhu. Pada keadaan ini dikatakan suatu zat berada dalam keadaan standar. Misalnya pada temperatur 1000C dan tekanan 1 atm.

f 155 .2 -998.6 -4119 -1156 -1433 0 +1. karena tidak aada perubahan bila kita membentuk bentuk stabil dari unsurnya sendiri.Tabel 8. grafit) C(s.22 -2465 0 -1207 -795.1 Entalpi pembentukan Standard No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Zat Al(s) AlCl2(s) Al2O3(s) Ba(s) BaCO3(s) BaCl2(s) Ba(OH)2 BaSO4(s) Ca(s) CaCO3(s) CaCl2(s) CaO(s) Ca(OH)2(s) Ca3(PO4)2(s) CaSO3(s) CaSO4(s) C(s.65 +117 -74.5 -986. Tabel semacam ini sangat berguna agar persamaan (2) dapat digunakan H .9 Tabel Entalpi pembentukan standard tersebut mengandung panas pembentukan standar untuk berbagai macam zat. perubahan kimia. Dalam mengerjakan perhitungan ini.8 -699.8 -635. 0 H 0 =0. Harga panas pembentukan standar untuk tiap elemen. kita anggap H 0 untuk setiap unsur pada keadaan murninya paling stabil pada f suhu 250C dan 1 atm = 0. Berikut adalah contoh-contoh pemakaian H 0 dalam perhitungan. untuk berbagai untuk menghitung panas reaksi standar. diamond) CCl4(l) CO(g) CO2(g) CO2(aq) H2CO3(aq) CS2(g) CH4(g) Hf (kj/mol) 0 -704 -1676 0 -1219 -860. Maka unsur dipakai sebagai titik rujukan dan untuk sampai pada titik rujukan dari titik rujukan tidak memerlukan energi. f Hal ini dapat dimengerti.88 -134 -110 -394 -413.

Untuk pereaksinya (yang f 947. ANALISIS: Kita gunakan persamaan (2) yang menyatakan H 0 = ( jumlah H 0 dari hasil reaksi ) – (jumlah f H 0 pereaksi) f Berarti kita harus menjumlahkan semua panas yang diberikan atau yang diterima selama pembentukan hasil reaksi dari unsurunsurnya lalu dikurangi dengan panas yang diberikan atau diterima oleh pereaksi selama pembentukan dari unsur-unsurnya. kita kalikan panas pembentukan dengan koefisiennya seperti diperlihatkan sebagai berikut ini : Penyelesaian : Dengan Memakai data pada tabel kita dapat : 1molNa 2 CO 3( s ) x 1131 kJ 1molNa 2 CO 3 1131 kJ 1molH 2 O( g ) x 242kJ 1molH 2 O( g ) 242kJ 1molCO2( g ) x 394kJ 1molCO2 ( g ) 394kJ Jumlah tunggal) : H 0 dari hasil reaksi = -1767 kJ. Reaksi penguraiannya adalah : 2 NaHCO3 ( s ) Na2 CO3( s ) 0 0 H 2 O( g ) CO2 ( g ) Hitung H reaksi ini dalam kilojoule bila diketahui panas pembentukan standar dari pereaksi dan hasil reaksinya.Contoh : menghitung H suatu reaksi dari panas pembentukan keadaan standar Soal : Tukang masak yang pandai selalu menyimpan natrium bikarbonat (soda kue) karena dapat dipakai untuk mematikan api yang berasal dari lemak. Tapi harus diingat satuannya. Panas pembentukan adalah energi yag berhubungan dengan pembentukan satu mol suatu senyawa yang mempunyai satuan kJ/mol. Koefisien dari persamaan menunjukkan jumlah mol dari tiap pereaksi sehingga untuk mendapatkan jumlah energi yang diberikan oleh tiap senyawa.7kJ 1molNaHCO3( s ) 2molNaHCO3( s ) x 1895kJ Harga-harga ini kita masukkan ke dalam persamaan H0 ( 1767kJ ) ( 1895kJ ) 128kJ 156 . Hasil urainya dapat menolong mematikan api.

Sehingga 1 g sampel mempunyai kapasitas panas sebesar 4. Pada musim dingin air laut lebih lambat menjadi dingin dari daratan sehingga udara yang bergerak dari laut ke darat lebih panas daripada udara dari darat ke laut.15 Kalorimetri 157 . Berarti lebih sedikit panas diperlukan untuk memanaskan besi 1 g sebesar 10C daripada air atau juga dapat diartikan bahwa jumlah panas yang akan menaikkan suhu 1 g besi lebih besar dari pada menaikkan suhu 1 g air. air laut lebih lambat menjadi panas daripada daratan. Kapasitas panas bersifat ekstensif yang berarti bahwa jumlahnya tergantung dari besar sampel. Misalnya besi. Istilah umum untuk sifat ini disebut kapasitas panas yang didefinisikan sebagai ”jumlah panas yang diperlukan untuk mengubah temperatur suatu benda sebesar 1 0C. Rumus : q = m. Kebanyakan zat mempunyai panas spesifik yang lebih kecil dari air.18 Jg-1C-1.10 Kalorimetri Gambar 8.18 J (1 kal).8. panas spesifiknya adalah 4. Misalnya untuk menaikkan suhu 1 g air sebesar 10C diperlukan 4.c.452 J g-1 0C-1. Besarnya panas spesifik untuk air disebabkan karena adanya sedikit pengaruh dari laut terhadap cuaca.9 Kapasitas panas dan panas spesifik Sifat-sifat air yang memberikan definisi asal dari kalori adalah banyaknya perubahan temperatur yang dialami air waktu mengambil atau melepaskan sejumlah panas. tapi untuk menaikkan suhu 100 g air sebesar 10C diperlukan energi 100 kali lebih banyak yaitu 418 J. t Keterangan : q = jumlah kalor (Joule) m = massa zat (gram) ∆t = perubahan suhu takhir . Sifat intensif berhubungan dengan kapasitas panas adalah kalor jenis (panas spesifik) yang didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 g zat sebesar 10C.18 J/0C sedangkan 100 g sampel 418J/0C.tawal) c = kalor jenis 8. panas spesifiknya hanya 0. Demikian juga dalam musim panas. Untuk air.

misalnya reaksi pembakaran dari CH4 dengan O2 atau reaksi antara H2 dan O2. Ada beberapa macam bentuk dari alat ini.a. 8. walaupun diketahui sekarang panas lebih sering dinyatakan dalam joule daripada kalori).17 Ikatan atom 158 . yang tak akan berjalan bila tidak dipanaskan. Panas yang dikeluarkan oleh reaksi diabsorpsi oleh bomb dan bak menyebabkan temperatur alat naik. Bomb tersebut dimasukkan pada bak yang berisolasi dan diberi pengaduk serta termometer. Alatnya terdiri dari wadah yang terbuat dari baja yang kuat (bombnya) dimana pereaksi ditempatkan.11 Energi Ikatan Dan Entalphi Reaksi Gambar 8. Dari perubahan suhu dan kapasitas panas alat yang telah diukur maka jumlah panas yang diberikan oleh reaksi dapat dihitung. sebab itu lebih tepat bila istilahnya disebut panas reaksi.16 Ikatan persahabatan Gambar 8. salah satu dinamakan Kalorimeter Bomb yang diperlihatkan pada gambar diatas. Kalorimeter semacam ini biasanya dipakai untuk mempelajari reaksi eksotermik. Pengukuran perubahan energi dalam reaksi kimia Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat sebagai panas. Suhu mula-mula dari bak diukur kemudian reaksi dijalankan dengan cara menyalakan pemanas kawat kecil yang berada di dalam bomb. Alat yang dipakai untuk mengukur panas reaksi disebut kalorimeter (sebetulnya kalori meter.

banyak sifatnya dapat diukur. yang keduanya tidak mempunyai struktur elektron valensi yang stabil dalam gambaran elektron-titik Lewis. perubahan entalpi standar yang diukur untuk reaksi : CH 4 ( g ) 0 CH 3( g ) H ( g ) H 438 kJ Dimana satu mol ikatan C-H dipecah..Reaksi kimia antara molekul-molekul memerlukan pemecahan ikatan yang ada dan pembentukan ikatan baru dengan atom-atom yang tersusun secara berbeda. entalpi ikatan untuk C-H dalam metana adalah 438 kJmol-1. atom hidrogen dapat diambil dari molekul metana. yaitu yaitu spesies yang ikatannya telah pecah dan belum tersusun kembali. Para kimiawan telah mengembangkan metode untuk mempelajari spesies antara yang sangat reaktif. Entalpi ini selalu positif sebab kalor harus diberikan ke dalam kumpulan moleku-molekul yang stabil untuk memecahkan ikatannya. CH 4 ( g ) CH 3 ( g ) H ( g ) Dengan meninggalkan dua fragmen. Sebagai contoh. lalu mebentuk hasil reaksi yang stabil. terjadi pelepasan panas sebesar 242 kJ. Namun demikian. reaksi yang terjadi adalah reaksi ekroterm (melepas kalori) Pada pembentukan 1 mol H2O(g). Suatu kuantitas penting yang diukur adalah perubahan entalpi ketika suatu ikatan pecah dalam fasa gas yang disebut entalpi ikatan. Keduanya akan terus bereaksi secara tepat dengan molekul atau fragmen lainnya. Sebagai contoh. Contoh soal reaksi endoterm dan eksoterm: H 2 (g) 1 O2 ( g ) 2 H 2 O( g ) H 242kJ Persamaan di atas dapat diubah sebagai berikut : H 2 (g) 1 O2 ( g ) 2 H 2 O( g ) H 242kJ Jika ∆H = . 159 . ∆H = -484 kJ. H2(g) 1 O2 ( g ) 2 H 2O ( g ) 242 kJ Pada pembentukan 2 mol H2O (g). satu untuk setiap molekul metana. selama keberadaan singkat spesies reaktif tersebut. Entalpi ikatan agak berbeda sari satu senyawa senyawa lainnya.

∆H reaksi dari 3V2 O3 V2 O5 4VO Jika diketahui : ∆Hf V2O3 = -290 kkal = -370 kkal ∆Hf V2O5 = -100 kkal ∆Hf VO ∆H reaksi = {(-370 kkal) + 4(-100 kkal)}-{3(-290 kkal)} = -770 kkal + 870 kkal = 100 kkal 160 . 2 H 2 O(l ) 2 H 2 ( g ) O2 ( g ) Maka ∆H pembentukan H2O = 572 2 = -286 kJ (Lihat arah reaksi dan kosfisien reaksi dari H2O) 2.H 2 O( g ) H 2 (g) Hukum Hess : 1 O2 ( g ) 2 H 242kJ C ( s) O2 ( g ) CO2 ( g ) 2 H 2 ( g ) O2 ( g ) 2 H 2 O(l ) 4C ( s) 4 H 2 ( g ) O2 ( g ) C3 H 7 COOH (aq) H H H 94kJ 136kJ 125kJ 4CO 2 ( g ) 4 H 2 O (l ) Maka ∆H reaksinya sebagai berikut C 3 H 7 COOH (aq ) 5O2 ( g ) Tips : Posisi Unsur-unsur harus bersesuaian (arah reaksi dibalik jika tidak sesuai sehingga ∆H berubah tanda) Koefisien reaksi harus sebanding dengan besar ∆H Hasil akhir harus sesuai dengan reaksi yang terjadi Sehingga : Reaksi ke-1 dikalikan 4 (4CO2(g)) Reaksi ke-2 dikalikan 2 (4H2O(l)) Arah reaksi ke-3 dibalik : C 3 H 7 COOH ( aq ) 4C ( s ) 4 H 2 ( g ) O2 ( g ) 4C ( s ) 4O2 ( g ) 4CO2 ( g ) 4 H 2 ( g ) 2O2 ( g ) 4 H 2 O (l ) H H H 125kkal 376kkal 272kkal 4CO2 ( g ) 4 H 2 O(l ) C3 H 7 COOH (aq) 5O2 ( g ) H 523kkal Contoh entalpi pembentukan : 1.

92 + 2340 – 1308 kJ = 940 kJ.Contoh energi ikatan : Entalpi pembentukan NH3 adalah -46 kJ. H 3 2CF4 ( g ) 268. energi ikatan N-H = 390 kJ.1 / 2 H 2( g ) 1 / 2 F2( g ) C( s) 2C ( s ) 2 F2( g ) 2 H 2( g ) 6 F2( g ) HF( g ) .92 kJ N ) +1308)-{2340} Jadi energi ikatan N N sebagai berikut = .∆H3 161 .2 dan 3 diatur letaknya (kiri/kanan) dan koefisiennya dicocokkan (dikalikan dengan suatu bilangan) agar jika dijumlahkan hasilnya menjadi tahap reaksi 4.92 kJ = {(energi ikatan N = {(energi ikatan N N N ) 3 (energi ikatan H-H))-{2(3 energi N ) +3(436))-{2(3x390)}. berapakah energi ikatan N N ? Penyelesaian : 1 N2 2 3 H2 2 NH 3 H N2 46kJ 3H 2 N 3H 2 2 NH 3 2 NH 3 H N 92kJ ∆Hreaksi={(energiIkatan ikatan N-H)}. ∆H4 = 2H1 + 2∆H2 . Jika energi ikatan H-H = 436 kJ. Contoh Entalpi pembakaran : Entalpi pembakaran C2H2 adalah -1300 kJ dapat dituliskan sebagai berikut : C2 H 2 5 O2 2 2CO2 H 2O H 1300kJ Contoh Soal : 1.9kj / mol 52. H 1 CF4 ( g ) .3kj / mol Tentukan ∆H reaksi (∆H4) C 2 H 4( g ) 4 HF( g ) Buatlah diagram siklus dan diagram tingkat energinya! Jawab : Ada 4 tahapan reaksi Keadaan awal : C2H4(g) + 6 F2(g) Keadaan akhir : 2CF4(g)+ 4 HF(g) Tahap reaksi 1.61kj / mol 679. H 2 C 2 H 4( g ) .

∆H4 Gambar 8. C2H4(g) + 2C(s) 2H2(g) .19 Diagram tingkat energi 2. ∆H1 = -48 kkal Zn(s) + S(g) Entalpi pembentukan (∆H3) ZnSO4(s) = -238 kkal ZnSO4(s) dalam kkal Tentukan ∆H2 ZnS(s) + O2(g) 162 . ∆H3 x -1 4. ∆H1 x 2 1. C(s) + 2F2(g) CF4(g) .3} kj/mol = -1949. ∆H2 x 2 3.61) + 2(-679.C2H4(g) + 2C(s) 2CF4(g) + 4HF(g) .18 Diagram siklus Gambar 8.32 kj/mol Tahap-tahap reaksi : 2HF(g) .= {2(-268.9) – 52. Diketahui : ZnS(s) . H2(g) + F2(g) 2.

∆H2 = 60 kkal N2O3 + H2 2NO + H2O . ∆H1 = -48 kkal ZnSO4 .Zn(s) + S(g) ZnS(s) + O2(g) ZnS(s) . dua sifat termal pada semua zat adalah Panas spesifik dan kapasitas panas. kapasitas panas seperti massa. ∆H3 = -238 kkal Zn(s) + S(g) + 2O2(g) ∆H3 = ∆H1 + ∆H2 ∆H2 = ∆H3 . panas spesifik adalah kapasitas panas per gram. ∆H1 = 20 kkal 2NO2 + H2 N2O5 + 3H2 2NO + 3H2O . ∆H2 = ? kkal ZnSO4 . kapasitas panas adalah jumlah Joule yang dibutuhkan untuk merubah suhu dari sampel yang masuk oleh 1 derajat celcius.∆H1 = -238-(-48) = -190 kkal 3. ∆H3 = 10 kkal Tentukan ∆H4 N2O5 + H2 2NO2 + H2O!!! Buatlah diagram siklus dan diagram tingkat energinya!!! KESIMPULAN Panas spesifik dan kapasitas panas. Diketahui tahap reaksi berikut : N2O3 + H2O . yaitu fungsi dari ukuran sampel. 163 .

∆H3 ∆H3 + ∆H1 ∆H3 + ∆H1 + ∆H2 + ∆H2 .∆H2 + ∆H2 + ∆H2 Mg (OH ) 2 H2 1 O2 adalah.. dapat dihitung dari perubahan suhu ketika diketahui jumlah reaktan menuju reaksi pada sistem yang diketahui sebagai kapasitas panas.95 kj 1101. Latihan Soal : 1. d. dalam kondisi yang sama 164 .5 kj -178. b. d.8 kj -2585. H 1 981.75kj 3. -623. Perubahan entalpi pembakaran belerang monoklin menjadi SO2(g) adalah -9. b.∆H1 ∆H1 .376 kj/g.90kj 461. CH 2 CO( g ) CH 4 ( g ) 2O2 ( g ) 2CO2( g ) CO2( g ) H 2 O( g ) . 2O2 ( g ) 2 H 2 O( g ) . H 2 MgCl 2 2 H 2 O. e. b.Termokimia. e. H 2 Perubahan entalpi untuk reaksi : 2CH 4 ( g ) a. e. H 2 N 2 O( g ) 520. 2O2 ( g ) CH 2 CO( g ) 3H 2 O( g ) .7 kj -1783.05kj 8CO 2 ( g ) Si3 N 4 ( s ) 3SiO 2 ( s ) Maka ∆H untuk reaksi : 8CO ( g ) . 2 2.3kj Perubahan entalpi pada pembakaran metana. panas rekasi. Si3 N 4 ( s ) 3SiO( g ) 2 N 2 O( g ) 5CO( g ) adalah.65 kj 1904. ∆H3 + ∆H1 ∆H3 . H 5CO2 ( g ) a.4 kj +178. c.8 kj 4. H1 Mg Mg (OH ) 2 1 O2 2 2 HCl MgO. q. Perubahan entalpi yang diukur pada pembakaran keton.1kj 802. 58. c.05 kj 2023.. Diketahui reaksi-reaksi : Mg HCl MgCl 2 H 2 . c...95 kj 981. H 3 adalah. Diketahui reaksi-reaksi : CO( g ) SiO2 ( s ) SiO( g ) CO2( g ) . d. H 3 Maka ∆H4 reaksi : MgO 2 H 2 O a.

pembakaran belerang berbentuk rombik menjadi SO2(g) adalah S(rombik) -9. Diketahui : H 2( g ) C( s) O2 ( g ) O2 ( g ) H 3 O( l ) .009 kj d.132 kj 5.8kj 393. -87.991 kj c.4 c. -18. b.. -1..8kj 3O2( g ) . c.9 e.∆H1 = ∆H5 ∆H1 + ∆H2 = ∆H5 ∆H3 + ∆H4 = ∆H5 ∆H1 + ∆H4 = ∆H2 + ∆H3 ∆H1 + ∆H3 = ∆H2 + ∆H4 7. a.669 kj e. C2H5Cl(g) dalam kj/mol adalah .3kj 1410. -0. H 285.3 d. -112.. H Berdasarkan data ini.5kj C 2 H 5 Cl ( g ) 2CO2 ( g ) H 2( g ) Cl 2 ( g ) C 2 H 4( g ) 2 H 2 O( l ) HCl ( g ) . -566. maka entalpi pembentukan kloroetana.. a.2 6. ∆H2 . a. Perhitungan ∆H berikut ini yang benar adalah . -2429. -0. H C 2 H 4( g ) 71.293 kj/g. Maka ∆H/g untuk perubahan S(monoklin) adalah.3 b. -252. H AB(l ) . H AB( s ) . H X Y Z 165 .. d. -164.083 kj b. H CO2 ( g ) . H 184. e. Dua unsur gas A dan B dapat bereaksi membentuk senyawa AB sebagai berikut : A( g ) A( g ) A( g ) B( g ) B( g ) B( g ) AB( g ) .9kj 2 HCl ( g ) ..

. adalah . a. Jika gas A dan gas B dapat bersenyawa membentuk AB(g).. 166 . AB(l). +Z maka diagram siklus yang ∆Hnya tidak tepat adalah . AB(s) dengan ∆H berturut adalah +X.. d. b. c.+Y. Z X-Y-Z Z-X X-Z X+Y+Z 8..Maka kalor penghabluran AB. e.

9 Elektrokimia Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menjelaskan perbedaan reaksi oksidasi dan reduksi Menjelasakan cara penyetaraan reaksi redoks Menentukan potensial sel elektrokimia Tujuan pembelajaran 1. 3. 167 . Mempelajari dan memahami penyetaraan persamaan redoks. 2. Mempelajari dan menghafal harga bilangan oksidasi unsur-unsur kimia berdasarkan golongannya. Mengamati dan mempelajari reaksi-reaksi yang terjadi pada sel elektrokimia. Mempelajari dan memahami perbedaan oksidasi dan reduksi. Mempelajari dan memahami peristiwa reaksi reduksi dan oksidasi. 6. 5. komponen-komponen yang terlibat dan aplikasinya. 4. Mempelajari dan memahami langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks.

Sedangkan reaksi oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron atau reaksi terjadinya kenaikan bilangan oksidasi. penghitungan dan aplikasi. 8. Contoh soal : 1. O2 + O Jawab : d Perhatikan atom Cu dari biloks +2 (pada CuO) berubah menjadi 0 (pada Cu). faktor-faktor yang mempengaruhi dan cara menghambat reaksi korosi. reaksi yang terjadi. Mempelajari hukum Faraday pada reaksi elektrolisis dan aplikasinya dalam penghitungan.1 Reaksi redoks Gambar 9. 2. Jika satu atom mengalami perubahan. Zn + 2H2SO4 Cr2O72. Cu + Ni 3CO2 + 4H2O d. termasuk redoks karena pasti akan diikuti oleh perubahan lainnya. Ag+(Aq) + Cl-(Aq) CaO + CO2 c. Mempelajari dan mengamati potensial elektroda yang melibatkan reaksi. NaOH + HCl NaCl + H2O AgCl(s) b. Mempelajari dan memahami fenomena korosi.1 Peristiwa redoks Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya penurunan bilangan oksidasi. reaksi redoks adalah (reduksi dan oksidasi) adalah reaksi penerimaan dan pelepasan elektron atau reaksi terjadinya penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi.+ H2O b. Manakah yang termasuk reaksi redoks? a. C3H8 + 5O2 KCl + KClO + H2O e. CaCO3 d. Cl2 + 2KOH 168 . 2CrO42.+ 2H+ 2+ Cu + Ni2+ c.7. 9. Jadi. Manakah reaksi berikut yang bukan termasuk reaksi redoks? ZnSO4 + H2 a. 9. CuO + CO Cu + CO2 O3 e.

Dari 0 ke positif atau negatif berarti ada perubahan dan ini berarti reaksi redoks. Sedangkan pilihan b biloks pada Cr2O42.2 Gambaran molekular reaksi redoks 169 . Fe mengalami kenaikan bilangan oksidasi (oksidasi). Dasar : reaksi redoks (reduksi oksidasi) Contoh: Dalam reaksi Fe dan Cu+2. Berarti biloks ada yang positif ada yang negatif.sebesar +6 dan pada Cr2O72sebesar +6 jadi tidak ada perubahan biloks Pengertian Bilangan Oksidasi : Muatan listrik yang seakan-akan dimiliki oleh unsur dalam suatu senyawa atau ion. Cu+2 mengalami penurunan bilangan oksidasi (reduksi) Gambar an molekular reaksi redoks : Zn + Cu2+ Cu + Zn2+ Setengah reaksi oksidasi : Zn Zn2+ + 2e Setengan reaksi reduksi : Cu2+ + 2e Cu Gambar 9. semuanya ada atomik (biloks 0) membentuk senyawanya.Jawab : Perhatikan pilihan semua jawaban.

9. setarakan muatan listriknya dengan menambahkan elektron. Bilangan Oksida = -1/2 c. Unsur-unsur Golongan IA dalam senyawa. Setarakan atom H dengan menambah sejumlah ion H+ sebanyak kekurangannya. +3. c. Dalam peroksida. Bilangan Oksidasi molekul = 0 7. Unsur-unsur Golongan IIA dalam senyawa. Bilangan Oksidasi ion = muatan ion 8. 2.kan dari reaksi reduksi c. f. 170 . Unsur halogen F : 0. Cara bilangan oksidasi a. Tentukan mana reaksi oksidasi dan reduksi. Dalam superoksida. +1. Jumlah elektron yang diterima dan yang dilepaskan perlu disamakan dengan mengalikan terhadap suatu faktor. +1. e. b. Cara setengah reaksi a. +5. -1. Dalam OF2. +1. Setarakan muatan. Bilangan Oksidasi = +1. Reaksi oksidasi dipisah. d. Tentukan penurunan Bilangan Oksidasi dari oksidator dan kenaikan Bilangan Oksidasi dari reduktor. Unsur bebas bilangan Oksidasi = 0 2. Samakan jumlah atom oksigen di kanan dan kiri reaksi terakhir jumlah atom hidrogen di sebelah kanan dan kiri reaksi. -1. kecuali dalam hibrida = -1 4. Bilangan Oksidasi = +2 3. Untuk reaksi yang jumlah atom oksigen di kanan dan kiri belum sama setarakan kekurangan oksigen dengan menambahkan sejumlah H2O sesuai dengan jumlah kekurangannya.3 Langkah-langkah penyetaraan reaksi redoks 1. listrik sebelah kanan dan kiri dengan menambahkan elektron pada ruas yang kekurangan muatan negatif atau kelebihan muatan positif. Setarakan ruas kanan dan kiri untuk jumlah atom yang mengalami perubahan Bilangan Oksidasi untuk reaksi yang jumlah atom-atom kanan dan kiri sudah sama. Bilangan Oksidasi = -1 b. d. Tentukan mana reaksi oksidasi dan reduksinya. Oksigen Dalam Senyawa Bilangan Oksidasi = -2 Kecuali : a.2 Harga bilangan oksidasi 1. +7 9. Hidrogen dalam senyawa. +5. +7 I : 0. Bilangan Oksidasi = +1 5. -1 Cl : 0. b. -1. Bilangan Oksidasi = +2 6. +5. +7 Br : 0.

Jawab : Mn2+ + 5Fe3+ Mn2+ + 5Fe3+ + 4 H2O 171 .+ 5 Fe2+ + 8 H+ 4. MnO4.+ 5 Fe2+ 3. 2. Setarakan persamaan reaksi redoks dengan cara bilangan oksidasi dan nayatkan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi. Setarakan jumlah listrik ruas kiri dan kanan dengan : H+ pada larutan bersifat asam OH. Samakan jumlah elektron kedua reaksi dengan mengalikan masing-masing dengan sebuah faktor.4 Penyetaraan persamaan reaksi redoks Tahapan: 1. Angka penyerta = 5 Mn2+ + 5Fe3+ MnO4.+ 5 Fe2+ + 8 H+ Contoh Soal: 1.g. Tambahkan H2O untuk menyetarakan jumlah atom H. 3. MnO4. 9. MnO4. Setarakan perubahan bilangan oksidasi. Contoh: MnO4.+ Fe2+ +7 +2 +1 2. Tentukan perubahan bilangan oksidasi.pada larutan bersifat basa 4.+ Fe2+ Mn2+ + Fe3+ (suasana asam) Mn2+ + Fe3+ +2 +3 -5 1.

1 Tabel 9.Dapat memberikan elektron Auto Redoks .1 Perbedaan oksidasi dan reduksi Klasik Oksidasi: reaksi antara suatu zat dengan oksigen Reduksi : reaksi antara suatu zat dengan hidrogen Oksidasi .Dapat menangkap elektron Reduktor .Mengalami Penurunan Bilangan Oksidasi .Mengalami oksidasi .Kenaikan Bilangan Oksidasi .Penurunan Bilangan Oksidasi .Reaksi redoks di mana sebuah zat mengalami reduksi sekaligus oksidasi Modern 172 .Mampu mengoksidasi .Mengalami Reduksi .2.5 Perbedaan oksidasi reduksi Perbedaan oksidasi reduksi lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.Mampu mereduksi .Penangkapan Elektron Oksidator . Setarakan persamaan reaksi redoks dengan cara setengah reaksi !!! Jawab : 9.Mengalami kenaikan Bilangan Oksidasi .Pelepasan Elektron Reduksi .

1.kan daya gerak listrik (sel galvani) • Daya gerak listrik menghasilkan reaksi kimia (sel elektrolisa) Sel elektrokimia : sistem yang terdiri dari elektroda yang tercelup pada larutan elektrolit. Prinsip-prinsip sel volta atau sel galvani : • Gerakan elektron dalam sirkuit eksternal akibat adanya reaksi redoks. Sel elektrokimia Elektrokimia : Hubungan Reaksi kimia dengan daya gerak listrik (aliran elektron) • Reaksi kimia menghasil. Gambar 9.9.6 Sel elektrokimia Gambar 9. Contoh sel galvani a. 173 .3. Sel Volta/Galvani sebuah anoda logam tembaga bereaksi memberikan larutan biru yang mengandung ion tembaga (II) bersamaan dengan ion perak yang melapisi katoda perak dalam sebuah sel Galvani.4.

elektron adalah produk dari reaksi oksidasi.konsep sel volta: Sel Volta 1.5. Ag. Ba. Pb. Cu. dan sukar direduksi. mudah direduksi dan sukar dioksidasi. Zn Fe Ni. arus listrik : katoda anoda 4. Makin ke kiri. Makin ke kanan. Mn. (H). Konsep . Na. Mg. Au b.• - Aturan sel Volta: Terjadi perubahan : energi kimia energi listrik Pada anoda. katoda = kutub positif Elektron mengalir dari anoda ke katoda b. Arus elektron : anoda katoda . Jembatan garam : menyetimbangkan ion-ion dalam larutan Contoh dari sel galvani : Gambar 9. Ca. katoda terjadi reaksi reduksi 3. jembatan garam) 174 . makin aktif. anoda kutub negatif Pada katoda. Sn. elektron adalah reaktan dari reaksi reduksi. Al. Pt. mudah dioksidasi. Sel Volta Notasi sel : Zn/Zn+2//Cu+2/Cu / = potensial ½ sel // = potensial sambungan Sel (cell junction potential. Deret Volta/Nerst a. Anoda terjadi reaksi oksidasi . Li. Prinsip: 2. K. Hg.

dll. 2. mainan anak-anak.(anoda) Pb (s) + SO42-(aq) 2PbSO4(s) + 2H2O PbO2(s) + Pb (s) + 4H+(aq) + 2SO42-(aq) (total) Pada saat selnya berfungsi.c.6 Alessandro G. senter. Elektrolit : Campuran berupa pasta : MnO2 + NH4Cl + sedikit Air Reaksi anoda adalah oksidasi dari seng Zn2+(aq) + 2eZn(s) Reaksi katodanya berlangsung lebih rumit dan suatu campuran hasil akan terbentuk. tape. konsentrasi asam sulfat akan berkurang karena ia terlibat dalam reaksi tersebut. Volta 1. Katodanya sebagai terminal positif terdiri atas karbon (dalam bentuk grafit) yang terlindungi oleh pasta karbon. MnO2 dan NH4Cl2 Anodanya adalah lapisan luar yang terbuat dari seng dan muncul dibagian bawah baterai sebagai terminal negatif.tuk ion Zn(NH3)42+. Sel Kering atau Sel Leclance Sel ini sering dipakai untuk radio. Salah satu reaksi yang paling penting adalah : Mn2O3(s) + 2NH3(aq) + H2O 2MnO2(s) + 2NH4+(aq) + 2eAmonia yang terjadi pada katoda akan bereaksi dengan Zn2+ yang dihasilkan pada anoda dan memben. 175 . Sel Aki Katoda: PbO2 Anoda : Pb Elektrolit: Larutan H2SO4 Reaksinya adalah : PbSO4(s) + 2H2O (katoda) PbO2(s) + 4H+(aq) + SO42-(aq) PbSO4(s) + 2e. Macam-macam sel volta Gambar 9.

Reaksi sel • Reaksi sel = jumlah reaksi ½ sel • Reaksi redoks sel galvani sistem Zn/Zn+2//Cu+2/Cu: 176 .4 Volt. Sel Bahan Bakar Elektroda : Ni Elektrolit : Larutan KOH Bahan Bakar : H2 dan O2 4.Cd Disebut juga baterai ni-cad yang dapat diisi ulang muatannya dan yang umum dipakai pada alat-alat elektronik peka.Keuntungan dari baterai jenis ini adalah bahwa ia dapat diisi ulang (recharge) dengan memberinya tegangan dari sumber luar melalui proses elektrolisis. ia terlalu berat dan lagi ia mengandung asam sulfat yang dapat saja tercecer ketika dipindah-pindahkan. E0oks = potensial standar zat yang mengalami oksidasi E0red = potensial standar zat yang mengalami reduksi Dalam tabel potensial standar selalu dicantumkan potensial reduksi standar. Potensial sel standar E0 sel : potensial pada 250C. secara bentuk.E0red Potensial reduksi standar ditentukan dengan elektroda standar • • d. c. Potensialnya adalah 1. konsentrasi ion dan tekanan parsial gas dalam sel.Gaya yang dibutuhkan untuk mendorong elektron melalui sirkuit eksternal Notasi potensial sel = Ecell. dengan reaksi : PbO2(s) + Pb (s) + 4H+(aq) + 2SO42-(aq) 2PbSO4(s) + 2H2O (total) Kerugian dari baterai jenis ini adalah. Potensial sel : . konsentrasi ion 1 M dan tekanan parsial 1 atm Potensial sel standar dihitung dengan menggunakan potensialpotensial standar zat-zat yang mengalami redoks E0sel = E0oks + E0red . Baterai Ni . Katoda : NiO2 dengan sedikit air Anoda : Cd Reaksinya : Cd(OH)2(s) + 2eCd(s) + 2OH-(aq) Ni(OH)2(s) + 2OH-(aq) 2e + NiO2(s) + 2H2O Baterai ini lebih mahal dari baterai biasa. satuan Volt = Joule/Coulomb • • • Potensial sel dihasilkan dari sel Galvani Potensial sel tergantung pada suhu. 3. sehingga E0oks = .

76 E sel = .n F Esel Dimana : ΔG0 = .0.76 V Zn (aq) + 2e Karena E0Zn < E0Cr . 1 F = 96500 C.10 V f.• Cu2+ (aq) + Zn (s) Cu (s) + Zn2+ (aq) Reaksi ½ sel dapat ditulis: Cu2+ (aq) + 2 eCu (s) Q = 1/ [Cu2+] 2+ Zn (s) Q = 1/ [Zn2+] Zn (aq) + 2 e Secara umum Qcell = [Zn2+] / [Cu2+] e.0.02 V > 0 Reaksi spontan • 177 . 76 V Zn (aq) + 2 e 0 0 • E 2 < E 1. Zn akan mengalami oksidasi.74 V Cr+3 (aq) + 3e +2 Zn(s) E0Zn = . Penentuan potensial reduksi dengan elektroda standar Potensial Zn/Cu : Zn/Zn+2//Cu+2/Cu: 0 0 0 = E oks (Zn) + E red (H+).E0red (Zn) + 0 E0red (Zn) = -0.n F E0sel . E0sel = potensial sel standar ΔG < 0. Cu+2 akan mengalami reduksi dan Zn akan teroksidasi : • Cu2+ (aq) + 2 eCu (s) E01 = + 0.76 V (tanda negatif menunjukkan bahwa Zn lebih sulit direduksi dibandingkan dengan H2) Reaksi yang terjadi adalah : Cu (s) E01 = + 0. n = jumlah elektron (mol).0.74 V Cr+3(aq) + 3e +2 Zn (aq) + 2e } x 3 E0Zn = + 0. + 0. Spontanitas reaksi dan potensial sel • Reaksi spontan: ΔG < 0 ΔG = . F = muatan 1 mol elektron. maka didalam sistem. 34 V 2+ Zn (aq) + 2 eE02 = + 0.76 V Zn(s) +3 Zn+2 + 2 Cr(s) 2Cr (aq) + 3 Zn(s) 0 E sel = 0. 76 V Zn (s) 2+ 2+ Cu (aq) + Zn (s) Cu (s) + Zn (aq) E0sel = + 1.0. 34 V • Cu2+ (aq) + 2 e2+ Zn (s) E02 = . maka Esel > 0 Contoh Cr(s) E0Cr = . Reaksi sel yang akan terjadi Cr(s) } x 2 E0Cr = . Esel = potensial sel.

Tabel 9. 178 . makin besar harga E cell. Fenomena umum sel dengan reaksi spontan (galvani) • • Makin besar perbedaan harga E red. Dalam sel galvani dengan reaksi spontan E red (katoda) lebih positif dari E red (anoda).1. Potensial reduksi standar g.

Contoh Soal : Tuliskan reaksi elektrolisis larutan CuCl2 dengan elektroda Pt. . Aki mobil PbSO4(s) + 2e- 179 .Baterai mobil 12 V dengan 6 pasang katoda/anoda yang masing-masing menghasilkan 2 V. Cl2 + 2e 2Cl¯ Katoda Anoda Reaksi total Cu : Cu2+ + 2e Cl2 + 2e : 2Cl¯ Cu + Cl2 : Cu2+ + 2Cl¯ Cu + Cl2 CuCl2 Dengan demikian reaksi elektrolisisnya adalah CuCl2 Cu + Cl2 Aplikasi sel galvani a. .7. maka yang dioksidasi adalah anion tersebut. Proteksi besi oleh Zn terhadap korosi a. Jawab : Karena bukan termasuk logam golongan IA dan IIA. maka pada katoda yang direduksi adalah kation logam Cu.Katoda : PbO2 pada jaringan logam dalam asam sulfat : PbO2(s) + SO42-(aq) + 4H+(aq) + 2ePbSO4(s) + 2H2O(l). Cu Cu2+ + 2e Anoda dengan elektroda inert (tidak bereaksi) jika anionnya tidak mengandung O. baterai alkalin c.Anode: Pb : Pb(s) + SO42-(aq) Gambar 9. Aki mobil . aki mobil b.

b.9. Baterai alkalin c. Sel Elektrolisis • • • 180 Terjadi perubahan : energi listrik energi kimia Elektrolisa adalah reaksi non-spontan yang berjalan akibat adanya arus (aliran elektron) eksternal yang dihasilkan oleh suatu pembangkit listrik. sel alkalin dan sel kering. Proteksi Fe oleh Zn terhadap korosi 2.. Baterai alkalin NH4Cl dapat Gambar 9. Baterai alkalin Baterai bervariasi dalam ukuran dan bahan kimianya. Anoda: Zn cap: Zn(s) Zn2+(aq) + 2ekatoda: MnO2. Pada sel elektrolitik . seperti aki mobil. NH4Cl dan pasta karbon : 2 NH4+(aq) + 2 MnO2(s) + 2eMn2O3(s) + 2NH3(aq) + 2H2O(l) batang grafit didalam katoda inert dipusat. Proteksi besi oleh Zn terhadap korosi Gambar 9.8.

Anoda bukan : Pt atau C reaksi : bereaksi dengan anoda membentuk garam atau senyawa lain.Terjadi reaksi oksidasi . kecuali logam Alkali (IA) dengan Alkali tanah(IIA).Reaksi : H2(g) 2 H+(aq) + 2eion golongan IA/IIA tidak direduksi.Jenis logam diperhatikan – a.10. Elektrolisa cairan NaCl 181 . diganti oleh asam + O2(g) 2 H2O(l) # golongan VIIA (halogen) gas b. dan penggantinya air basa + H2(g) 2 H2O(l) + 2 eion-ion lain direduksi – Anoda bermuatan positif (+) atau disebut elektroda + . Gambar 9.Katoda bermuatan negatif atau disebut elektroda – Terjadi reaksi reduksi Jenis logam tidak diper. Al dan Mn . Anoda : Pt atau C (elektroda inert) reaksi : 2H2O(l) + O2(g) + 4e# 4OH-(aq) # gugus asam beroksigen tidak teroksidasi.hatikan.

Berbagai lapisan-lapisan tipis logam tersebut ketebalannya berkisar antara 0.05 mm. kalahannya oleh ion natrium dan ion klorida. suatu lapisan tipis logam chromium pada bemper baja mobil untuk membuatnya menarik dan melindunginya dari karat. Pada katoda. Pembuatan Aluminium Bauksit adalah biji aluminium yang mengandung Al2O3-. Pelapisan emas dan perak dilakukan pada barang-barang perhiasan yang berasal dari bahan-bahan logam yang murah. Elektroplatting Elektroplatting adalah aplikasi elektrolisis pada pelapisan suatu logam atas logam yang lain. Pada anoda yang terbuat dari karbon.11. Contohnya. Untuk mendapatkan aluminium. Reaksinya adalah : Al(l) (katoda) Al3+ + 3 eO2(g) + 4 e(anoda) 2 O24 Al3+ +6 O24Al(l) + 3 O2(g) (total) 3. 2. Teknik ini bisa dipakai untuk memperbaiki penampakan dan daya tahan suatu logam. Pembuatan Magnesium Sumber utama magnesium adalah air laut. ion-ion aluminium direduksi menghasilkan logam yang terbentuk sebagai lapisan tipis dibagian bawah wadah elektrolit.a. Elektroplatting Gambar 9. Untuk 182 . Mg2+ mempunyai kelimpahan terbesar ketiga dalam laut.03 s/d 0. Aplikasi elektrolisis 1. bijih tersebut dimurnikan dan Al2O3 nya dilarutkan dan didisosiasikan dalam larutan elektrolit ‚eryolite’. ion oksida teroksidasi menghasilkan O2 bebas.

edngan cara ini sampai ke tingkat kemurnian 99%.12. ion tembaga direduksi tetapi ion seng dan ion besi tertinggal dilarutan karena lebih sukar tereduksi dari pada tembaga. Pemisahan itu dilakukan dengan cara filtrasi dan lalu dilarutkan dalam asam hidroklorit. Pada katoda. Penyulingan Tembaga Salah satu elektrolisis yang paling menarik adalah pemurnian atau penyulingan logam tembaga. besi dan seng menurunkan konduktivitas listrik tembaga secara drastis sehingga harus disuling ulang sebelum dipakai sebagai kawat atau kabel. Jika selnya dijalankan pada tegangan yang diperlukan. MgCl2(l) Mg(l) + Cl2(g) 4. hanay tembaga dan pengotornya yang lebih mudah teroksidasi daripada tembaga. emas. Zn2+. Tembaga dapat dimbil dari bijinya. Sel penyulingan tembaga Tembaga tidak murni dipakai sebagai elektroda sebagai anoda pada sel elektrolisis yang mengandung larutan tembaga sulfat dan asam sulfat (sebagai elektrolit). Secara pelan-pelan 183 . Katoda pada sistem ini adalah tembaga dengan kemurnian tinggi. Mg(OH)2 + 2HCl MgCl2 + 2H2O Larutan MgCl2 diuapkan dan menghasilkan MgCl2 padat yang lalu dilelehkan dan akhirnya dielektrolisa. SO42Gambar 9. Pengotornya sebagian besar adalah perak. Cu2+.memperoleh magnesium. Logam-logam yang kurang aktif akan runtuh dan mengendap dibagian dasar wadah. Fe2+. Magnesium bebas akan diendapkan pada katoda dan gas klorin dihasilkan pada anoda. platina. Mg(OH)2 diendapkan dari air laut. seng dan besi yang larut disekitar anoda.

Suatu saat tembaga akan mempunyai kemurnian 99. Elektrolisis Brine Brine (=’air asin’) adalah larutan natrium klorida jenuh.Logam sebelah kanan H : E° elektroda > 0 4. Reaksi : H2(g) + 2OH-(aq) 2e.E° H2 diukur pada 25° C. 9. Potensial elektroda 1. E° sel = E° red . 1 atm dan {H+} = 1 molar .E° oks 2. emas dan platina dapat pula dihitung untuk memperoleh total efisiensi pelaksanaan proses penyulingan. namun seperti telah disebut bahwa ada faktor-faktor yang kompleks yang mempengaruhi sehingga yang teroksidasi adalah ion klorida. dapat dipindahkan secara periodik dan nilai perak.7 Potensial elektroda Gambar 9. Elektroda Hidrogen . Cara Menghitung Potensial Elektroda Sel 1.+ 2H2O Walaupun air lebih mudah teroksidasi daripada ion klorida.tembaga anoda terlarut dan tembaga katoda makin tumbuh. air lebih mudah direduksi daripada ion natrium dan gas H2 akan terbentuk.E° H2 = 0.Logam sebelah kiri H : E° elektroda < 0 .13.059/n log C 184 . E sel = E°sel .00 volt 3.0. Pengertian Merupakan ukuran terhadap besarnya kecenderungan suatu unsur untuk melepaskan atau mempertahankan elektron 2. Elektroda Logam . 5.95%! Kotoran yang terkumpul dibagian bawah biasanya disebut sebgai anoda.RT/nF lnC Pada 25° C : E sel = E°sel .E° logam diukur terhadap E° H2 . Pada katoda.

500 coulomb C = [bentuk oksidasi]/[bentuk reduksi] 9.8 Hukum faraday Gambar 9.coulomb/mol.volt. Hukum Faraday 185 .Elektroda tergantung pada : • Jenis Elektroda • Suhu • Konsentrasi ionnya Catatan : E° = potensial reduksi standar (volt) R = tetapan gas.314 T = suhu mutlak (°K) n = jumlah elektron F = 96.15.°K] = 8. Michael faraday Banyaknya zat yang dihasilkan dari reaksi elektrolisis sebanding dengan banyaknya arus listrik yang dialirkan kedalam larutan.14.hal ini dapat diGambar kan dengan hukum faraday 1 Gambar 9.

F n = valensi atau banyaknya mol elektron untuk setiap mol zat.W e.t F W = massa zat yang dihasilkan e i = arus dalam ampere t = waktu dalam satuan detik F = tetapan Farady.t = Q = arus dalam satuan C Ar n i. 186 .t F W e arus dalam satuan Farady mol elektron Mol elektron dari suatu reaksi sama dengan perubahan biloks 1 mol zat.i.i. biasanya data yang diketahui adalah Ar bukan e.t n. Dari rumusan diatas diperoleh : Jumlah Farady = mol elektron =perubahan bil.oksidasi 1 mol zat Dalam penentuan massa zat yang dihasilkan dalam reaksi elektrolisis. 1 F = 96500 C i. sedangkan e Ar sehingga rumusan Hukum Farady 1 menjadi : n W Ar .

Perkaratan besi adalah peristiwa elektrokimia sebagai berikut : Besi dioksidasi oleh H2O atau ion hydrogen Fe(s) Fe2+(aq) + 2e. Peristiwa korosi Korosi adalah peristiwa perusakan logam akibat terjadinya reaksi kimia dengan lingkungan yang menghasilkan produk yang tidak diinginkan. oksigen didalam air atau zat kimia lain. oksigen dari udara.(oksidasi) 2 H+(aq) 2 H(aq) ( reduksi ) Atom-atom H bergabung menghasilkan H2 2 H(aq) H2(g) Atom-atom H bergabung dengan oksigen 2 H(aq) + ½ O2(aq) H2 O(l) Jika konsentrasi H+ cukup tinggi (pH rendah).9.16.9 KOROSI Gambar 9. basa. Lingkungan dapat berupa asam. maka reaksi Fe + 2H+(aq) 2H(aq) + Fe2+(aq) H2(g) 2 H(aq) Ion Fe2+ juga bereaksi dengan oksigen dan membentuk karat (coklat keerah-merahan ) dengan menghasilkan ion H+ yang selanjutnya direduksi menjadi H24 Fe2+(aq) + O2(aq) + 4 H2 O(l) + 2x H2 O(l) Reaksi totalnya menjadi 4 Fe(s) + 3 O2(aq) + 2x H2 O(l) 2 Fe2O3H2O)x(s) 187 2 Fe2O3H2O)x(s) + 8H+ .

Aplikasi elektrolisis. Pemakaian logam alloy dengan cara a. misalnya : 10. Menaikkan kemurnian logam b. Isolasi logam dari larutan. 9. 2.1 Korosi dapat dihambat dengan beberapa cara. dan elektrolisis dari pelelehan NaCl. Kelembaban udara Elektrolit Zat terlarut pembentuk asam (CO2. Pelapisan dengan logam e.9. aliran listrik menyebabkan reduksi pada muatan negatif di katoda dan oksidasi pada muatan positif di anoda.2 Faktor yang berpengaruh terhadap korosi 1. dan lain-lain. Dilapisi logam yang lebih mulia f. Pelapisan senyawa organik (pelumas) c. Menanam batang-batang logam yang lebih aktif dekat logam besi dan dihubungkan h. 5. pengaruh korosi dapat terlihat (pembentukan karat pada permukaan besi) dan tidak terlihat (keretakan serta terjadinya pengurangan kekuatan logam di bawah permukaan). Pengecatan b. Memakai inhibitor d. Pelapisan dengan gelas d. Mencegah kontak 2 logam c. 4. Elektroplatting. pemurnian tembaga. 6. Dicampur dengan logam lain 12.9. SO2) Adanya O2 Lapisan pada permukaan logam Letak logam dalam deret potensial reduksi KESIMPULAN Elektrolisis. 3. Pemakaian lapisan pelindung dengan cara : a. Elektrokimiawi dengan cara eliminasi perbedaan tegangan : a. Menaikkan tegangan elektrode 11. Pembentukan lapisan pelindung b. Dilapisi logam yang lebih mudah teroksidasi g. pada sel elektrolisis.9. Korosi logam adalah salah satu masalah yang paling penting yang dihadapi oleh kelompok industri maju. 188 . produksi Aluminium dan Magnesium.

Latihan soal 1. Berapa Faraday arus yang diperlukan untuk mereduksi 40 gram ion kalsium menjadi logam kalsium (Ar Ca = 40) a. 1 b. 1,5 c. 2 d. 2,5 e. 3 2. Pada reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Cu, dianoda yang dioksidasi adalah.... a. Cu b. SO42c. Cu2+ d. H2O e. H2 Pb Eº = - 0,13 V 3. Diketahui : Pb2+ + 2e Zn Eº = - 0,76 V Zn2+ + 2e Potensial sel untuk reaksi Zn | Zn2+ || Pb2+ | Pb adalah.... a. - 1,20 V b. + 1,20 V c. - 0,32 V d. – 0,76 V e. + 0,32 V 4. Diketahui :

maka,

5. Pada elektrolisis PbCl2 dengan menggunakan elektroda Pt, di katoda akan dihasilkan….. a. Cl2 b. Cl¯ c. Pb d. Pb2+ e. PbCl2 189

6. Setarakan reaksi redoks berikut : Br- + Fe3+ a. BrO3- + Fe2+ Cu(NO3)2 + NO2 + H2O b. Cu + HNO3 Br2 + Clc. Cl2 + Br7. Dengan manggunakan potensial standart reduksi dari tabel, tentukan harga potensial sel dan apakah reaksi berlangsung atau tidak? a. 2Ag+ + Zn(s) b. 3Cd2+ + 2Al(s) c. Cu2+ | Cu(s) 2Ag(s) + Zn2+ 3Cd(s) + 2Al3+ Pb(s) | Pb2+

8. Tuliskan reaksi elektrolisis berikut : a. Larutan KCl dengan katoda baja dan anoda platina b.Larutan K2SO4 dengan elektrodeaCu. c.Larutan CdSO4 dengan elektroda besi 9. Pada elektrolisis larutan ZnSO4, diperoleh 26 gram endapan logam Zn (Ar = 65) selama 2,5 jam. Jika 1 F = 96500 Coulomb, tentukan berapa ampere arus yang dihasilkan? 10. Dua larutan AgNO3 dan larutan LSO4 yang disusun secara seri dialiri arus listrik sehingga menghasilkan 5,4 gram logam Ag dan 7,2 gram logam L. Jika Ar . Ag = 108, maka tentukan massa atom relatif (Ar) L. 11. Apa yang dimaksud reaksi reduksi dan oksidasi? 12. Berikan contoh peristiwa redoks! 13. Sebutkan berapa saja bilangan oksidasi untuk unsur-unsur halogen! 14. Sebutkan langkah-langkah untuk menyetarakan reaksi redoks! 15. Sebutkan tahapan untuk menyetarakan persamaan redoks! 16. Berikan contoh reaksi redoks dalam suasana asam! 17. Jelaskan perbedaan oksidasi dan reduksi klasik dan modern! 18. Apa beda elektrokimia dan sel elektrokimia, berikan contoh reaksinya? 19. Sebutkan maam dan prinsip sel volta/galvani!

190

20. Apa yang dimaksud reaksi spontan? 21. Berikan contoh reaksi setengah sel dan tentukan Q! 22. Sebutkan dan jelaskan aplikasi sel galvani! 23. Apa pengertian potensial elektroda? 24. Mengapa Eo H2 dijadikan energi potensial standar? 25. Bagaimana cara menghitung potensial elektroda sel? 26. Sebutkan 3 hal yang mempengaruhi elektroda! 27. Apa yang dimaksud peristiwa korosi, berikan contoh reaksi korosi pada logam Fe?

191

192

Mengetahui dan memahami definisi orde reaksi dan ungkapan orde reaksi pada persamaan laju reaksi. 4. 193 . 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi. serta prinsip-prinsip dan faktor-faktor yang mempengaruhi tumbukan. Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip reaksi dalam hukum laju. Mengetahui dan memahami definisi laju reaksi dan menentukan perubahan konsentrasi per satuan waktu dalam bentuk persamaan laju reaksi. yaitu: konsentrasi. serta cara menentukan orde reaksi. Kinetika Kimia Standar Kompetensi Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Kompetensi Dasar Menentukan laju reaksi dan orde reaksi Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Menentukan kalor pembakaran berbagai bahan bakar Tujuan pembelajaran 1. 2. suhu dan katalisator. sifat zat yang bereaksi. Mengetahui dan memahami teori dan peristiwa tumbukan. 5.10.

kulit bule lebih cepat menjadi gelap dalam musim panas daripada dalam musim dingin.1 Mobil yang sedang melaju Laju reaksi rerata analog dengan kecepatan rerata mobil. 1 Definisi Laju Reaksi Gambar 10. maka : Kecepatan rerata jarakyangditempuh waktutempuh perubahanlokasi perubahanwaktu Dengan cara yang sama. Ini terutama berlaku untuk reaksi yang melibatkan banyak unsur reaktan yang membentuk produknya. Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari laju dan mekanisme reaksi kimia. 10. berbulanbulan bahkan tahunan untuk menghasilkan produk yang cukup banyak? Bagaimana katalis bisa meningkatkan laju reaksi kimia? Mengapa perubahan suhu yang sedikit saja sering memberikan efek besar pada laju memasak? Bagaimana kajian mengenai laju reaksi kimia memberikan informasi tentang bagaimana cara molekul bergabung membentuk produk? Semua pertanyaan ini menyangkut kinetika kimia belum selengkap seperti termodinamika. laju reaksi rerata diperoleh dengan membagi perubahan konsentrasi reaktan atau produk dengan interval waktu terjadinya reaksi : Lajureaksirerata perubahankonsentrasi perubahanwaktu 194 . Jika posisi rerata mobil dicatat pada dua waktu yang berbeda. Masih banyak reaksi yang tetapan kesetimbangannya telah diketahui dengan cermat.Mengapa beberapa reaksi kimia berlangsung secepat kilat sementara yang lainnya memerlukan waktu berhari-hari. tetapi perincian lintasan reaksinya masih belum dipahami. makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan. Ini merupakan tiga contoh yang lazim dari perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab daripada dalam udara kering.

Jika sebuah kuar dapat mengukur konsentrasi NO. Dalam reaksi fasa gas NO 2 ( g ) CO ( g ) NO ( g ) CO 2 ( g ) NO2 dan CO dikonsumsi pada saat pembentukan NO dan CO 2. Tulislah pernyataan untuk laju rata-rata berkurangnya konsentrasi NO2 dan laju rata-rata bertambahnya konsentrasi NO dan O2. ∆[NO] terhadap interval waktu. Menentukan Laju Reaksi : Perhatikan penguraian nitrogen dioksida.Jika konsentrasi diukur dalam mol L-1 dan waktu dalam detik. berapakah laju rata-rata padanannya (dari) bertambahnya konsentrasi No dan O2 Jawaban : a. Perubahan laju konsentrasi setiap unsur dibagi dengan koefisiennya dalam persamaan yang seimbang/stoikiometri. O2 : 2 NO2 2 NO O2 b. laju reaksi rerata dapat diperkirakan dari nisbah perubahan konsentrasi NO. c. NO2 menjadi nitrogen oksida. Kita ambil contoh khusus. maka laju reaksi mempunyai satuan mol L-1s-1. Untuk reaksi yang umum: aA bB cC dD Lajunya ialah Laju 1d A a dt 1d B b dt 1dC c dt 1dD d dt Hubungan ini benar selama tidak ada unsur antara atau jika konsentrasinya bergantung pada waktu di sepanjang waktu reaksi. ∆t: lajurerata NO t NO f NO ti i tf Jadi laju reaksi adalah besarnya perubahan konsentrasi reaktan atau produk dalam satu satuan waktu. Laju perubahan reaktan muncul dengan tanda negatif dan laju perubahan produk dengan tanda positif. Jika laju rata-rata berkurangnya konsentrasi NO2 ditetapkan dan dijumpai sebesar 4x10-13 mol L-1 s-1. NO dan oksigen.Laju rata-rata berkurangnya konsentrasi NO2 dinyatakan sebagai : 195 .

10. Jadi berkurangnya konsentrasi NO2 dan bertambahnya konsentrasi NO berlangsung dengan laju yang sama : NO2 t NO t 4 x10 13 molL 1 s 1 10.2 Hukum Laju Dalam membahas reaksi kesetimbangan kimia telah ditekankan bahwa reaksi ke kanan maupun ke kiri dapat terjadi begitu produk terbentuk. sesaat sebelum reaksi yang dimulai dari reaktan murni. sifat zat yang bereaksi. banyak reaksi berlangsung sempurna (K>>1) sehingga laju yang terukur hanyalah reaksi ke kanan atau eksperimen dapat diatur agar produknya dapat dialihkan jika terbentuk. persamaan diberikan pada laju ke kanan saja. produk ini dapat bereaksi kembali menghasilkan reaktan semula. konsentrasi reaktan jauh lebih tinggi dibandingkan produknya sehingga laju ke kiri dapat diabaikan. Bagaimanapun. Laju bersih ialah: Laju bersih = laju ke kanan – laju ke kiri Dapat dikatakan. suhu dan katalisator. 196 . Dalam subbab ini.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain konsentrasi.NO2 t Laju rata-rata bertambahnya konsentrasi NO dan O2 dinyatakan sebagai: NO t dan O2 t b. Untuk tiap dua molekul NO2 yang bereaksi terbentuk dua molekul NO. Selain itu. pengukuran konsentrasi memberikan laju bersih. bukannya sekedar laju ke kanan.

2 Pengaruh Konsentrasi Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung.” Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Konsentrasi Gambar 10.A. Secara umum dinyatakan bahwa: ”Reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat. Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga makin besar kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian makin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi. B. Reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat. Hal ini disebabkan oleh reaksi yang berlangsung tersebut membutuhkan energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam molekul zat yang bereaksi. Contoh: Ca2+(aq) + CO32+(aq) CaCO3(s) Reaksi ini berlangsung dengan cepat. Sifat Zat Yang Bereaksi Sifat zat yang mudah atau sukar bereaksi akan menentukan kecepatan berlangsungnya suatu reaksi. Contoh: 197 .

4 Svante August Arrhenius 198 . Secara matematis hubungan antara nilai tetapan laju reaksi (k) terhadap suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS: Gambar 10. cahaya matahari. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekulmolekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. C. Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar.3 Pengaruh suhu Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. misalnya.CH4(g)+Cl2(g) CH3Cl(g)+HCl(g) Reaksi ini berjalan lambat reaksinya dapat dipercepat apabila diberi energi. Suhu Gambar 10.

kita menggunakan yang symbol berarti perubahan

k

Ae

E a / RT

dimana: k : tetapan laju reaksi A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi Ea : energi pengaktifan R : tetapan gas universal = 0,0821.atm/moloK atau 8,314 Joule/moloK T : suhu reaksi (oK) Setiap suhu naik 100C, laju reaksi menjadi dua kali lipatnya.
t

V

2 10 V 0

∆t = kenaikan suhu Contoh : Suatu reaksi berlangsung selama 2 jam pada suhu 25 0C. Berapa kalikah laju reaksi akan meningkat jika suhu diubah menjadi 450C ? Penyelesaian : Kenaikan suhu (∆t) = 45 – 25 = 200C Laju reaksi menjadi 4X atau lama reaksi menjadi V 2 10 V 0 4V 0 2/4 jam. Laju reaksi meningkat, reaksi akan semakin cepat berlangsung). D. Katalisator
20

Gambar 10.5 Mekanisme Reaksi Tanpa Atau Dengan Katalis

Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi yang mempunyai tujuan memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi

199

katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi. Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat. Halaman ini menitik- beratkan pada perbedaan tipe-tipe katalis (heterogen dan homogen) beserta dengan contoh-contoh dari tiap tipe, dan penjelasan bagaimana mereka bekerja. Anda juga akan mendapatkan deskripsi dari satu contoh autokatalis reaksi dimana hasil produk juga turut mengkatalis.

Gambar 10.6 Fungsi katalis

E. Tipe-tipe dari reaksi katalis Katalis dapat dibagi berdasarkan dua tipe dasar, yaitu heteregon dan homogen. Didalam reaksi heterogen, katalis berada dalam fase yang berbeda dengan reaktan. Dalam reaksi homogen, katalis berada dalam fase yang sama dengan reaktan. Apa itu fase? Jika kita melihat suatu campuran dan dapat melihat suatu batas antara dua komponen, dua komponen itu berada dalam fase yang berbeda. Campuran antara padat dan cair terdiri dari dua fase. Campuran antara beberapa senyawa kimia dalam satu larutan terdiri hanya dari satu fase, karena kita tidak dapat melihat batas antara senyawa-senyawa kimia tersebut.

200

Gambar 10.7 Campuran 2 fase dan 1 fase

Kita mungkin bertanya mengapa fase berbeda dengan istilah keadaan fisik (padat, cair dan gas). Fase juga meliputi padat, cair dan gas, tetapi lebih sedikit luas. Fase juga dapat diterapkan dalam dua zat cair (sebagai contoh, minyak dan air) dimana keduanya tidak saling melarutkan. Kita dapat melihat batas diantara kedua zat cair tersebut.

Gambar 10.8 Campuran 2 fase

Jika Anda lebih cermat, sebenarnya diagram diatas menggambarkan lebih dari fase yang diterakan. Masing-masing, sebagai contoh, beaker kaca merupakan fase zat padat. Sebagian besar gas yang berada diatas zat cair juga merupakan salah satu fase lainnya. Kita tidak perlu memperhitungkan fase-fase tambahan ini karena mereka tidak mengambil bagian dalam proses reaksi. F.Katalis Homogen Bagian ini meliputi penggunaan katalis dalam fase berbeda dari reaktan. Contoh-contoh meliputi katalis padat dengan reaktanreaktan dalam fase cair maupun gas.

201

10.4 Teori Tumbukan Teori tentang tumbukan didasarkan atas teori kinetik gas yang mengamati tentang bagaimana suatu reaksi kimia dapat terjadi. Menurut teori tersebut kecepatan reaksi antara dua jenis molekul A dan B sama dengan jumlah tumbukan yang terjadi per satuan waktu antara kedua jenis molekul tersebut. Jumlah tumbukan yang terjadi persatuan waktu sebanding dengan konsentrasi A dan konsentrasi B. Jadi makin besar konsentrasi A dan konsentrasi B akan semakin besar pula jumlah tumbukan yang terjadi.

Gambar 10.9 Tumbukan Molekul

Teori tumbukan ini ternyata memiliki beberapa kelemahan, antara lain : Tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi sebab ada energi tertentu yang harus dilewati (disebut energi aktivasi = energi pengaktifan) untak dapat menghasilkan reaksi. Reaksi hanya akan terjadi bila energi tumbukannya lebih besar atau sama dengan energi pengaktifan (Ea). Molekul yang lebih rumit struktur ruangnya akan menghasilkan tumbukan yang tidak sama jumlahnya jika dibandingkan dengan molekul yang sederhana struktur ruangnya. Teori tumbukan di atas diperbaiki oleh teori keadaan transisi atau teori laju reaksi absolut. Dalam teori ini diandaikan bahwa ada suatu keadaan yang harus dilewati oleh molekul-molekul yang bereaksi dalam tujuannya menuju ke keadaan akhir (produk). Keadaan tersebut dinamakan keadaan transisi. Mekanisme reaksi keadaan transisi dapat ditulis sebagai berikut: Dimana: - A dan B adalah molekul-molekul pereaksi - T* adalah molekul dalam keadaan transisi -C dan D adalah molekul-molekul hasil reaksi. 202

10 Kurva Hubungan Energi Reaksi Dengan Koordinat Reaksi Dari diagram terlibat bahwa energi pengaktifan (Ea) merupakan energi keadaan awal sampai dengan energi keadaan transisi. Catatan : Energi pengaktifan (= energi aktivasi) adalah jumlah energi minimum yang dibutuhkan oleh molekul-molekul pereaksi agar dapat melangsungkan reaksi.Secara diagram keadaan transisi ini dapat dinyatakan sesuai kurva berikut: A B T* C D Gambar 10. Contoh : 4 HBr(g) O 2 (g) 2 H 2 O(g) 2 Br2 (g) 203 . Dalam suatu reaksi kimia berlangsungnya suatu reaksi dari keadaan semula (awal) sampai keadaan akhir diperkirakan melalui beberapa tahap reaksi. Hal itu berarti bahwa molekul-molekul pereaksi harus memiliki energi paling sedikit sebesar energi pengaktifan (Ea) agar dapat mencapai keadaan transisi (T*) dan kemudian menjadi hasil reaksi (C + D).

Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa tiap 1 molekul O2 bereaksi dengan 4 molekul HBr. Oleh karena itu. Dalam reaksi yang rumit. 204 Nilai dari k bergantung pada reaksi particular yang diketahui sebagai temperature pada saat reaksi terjadi . Tumbukan yang mungkin berhasil adalah tumbukan antara 2 molekul yaitu 1 molekul HBr dengan 1 molekul O2. 10. Laju = k [A][B] Maka reaksi itu disebut reaksi orde kedua. Penguraian N2O5 merupakan suatu contoh reaksi orde pertama. Orde reaksi juga menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi reaktan (pereaksi) terhadap laju reaksi Jika laju suatu reaksi berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari hanya satu pereaksi Laju = k [A] Maka reaksi itu dikatakan sebagai reaksi orde pertama. Misalnya dalam persamaan terakhir itu adalah orde pertama dalam A dan orde dalam B.2H 2 O 2 Br 2 Dari contoh di atas ternyata secara eksperimen kecepatan berlangsungnya reaksi tersebut ditentukan oleh kecepatan reaksi pembentukan HOOBr yaitu reaksi yang berlangsung paling lambat. Suatu reaksi dapat berorde ketiga atau mungkin lebih tinggi lagi. Dapat juga disebut orde terhadap masing-masing pereaksi. Jika laju reaksi itu berbanding lurus dengan pangkat dua suatu pereaksi. laju itu mungkin berorde pecahan. tahap ini disebut tahap penentu kecepatan reaksi.5 Orde Reaksi Orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen (dari konsentrasi dalam persamaan laju.. atau orde kedua secara keseluruhan. Tumbukan sekaligus antara 4 molekul HBr dengan 1 molekul O2 kecil sekali kemungkinannya untuk berhasil. Rangkaian tahap-tahap reaksi dalam suatu reaksi disebut "mekanisme reaksi" dan kecepatan berlangsungnya reaksi keseluruhan ditentukan oleh reaksi yang paling lambat dalam mekanisme reaksi. tetapi hal-hal semacam itu sangat jarang. Hal ini berarti reaksi di atas harus berlangsung dalam beberapa tahap dan diperkirakan tahap-tahapnya adalah : Tahap 1: HBr O HOOBr (lambat) 2 Tahap 2: HBr HOOBr 2HOBr (cepat) Tahap 3: (HBr HOBr H2O Br2 ) x 2 (cepat) 4 HBr O 2 . Suatu reaksi baru dapat berlangsung apabila ada tumbukan yang berhasil antara molekul-molekul yang bereaksi. Laju = k[A]2 Atau berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari dua pereaksi.

Dalam penguraian N2O5 dan NO2. Jadi reaksi itu berorde nol dalam A. Maka persamaan laju yang paling mungkin adalah Satuan konstanta laju umumnya adalah mol L-1s-1. laju tidak berubah.00 [B] 0.5 secara keseluruhan. maka reaksi itu disebut orde nol terhadap B. Orde suatu reaksi diberikan hanya atas dasar penetapan eksperimental dan sekedar memberi informasi mengenai cara laju itu bergantung pada konsentrasi pereaksi-pereaksi tertentu. 2 AB Contoh: Perhatikan reaksi umum 2A B 2 dan data eksperimen berikut : Tabel 10.00 Laju ml.L-1s-1 1.5 dalam B atau berorde 1. Suatu reaksi dapat tak tergantung pada konsentrasi suatu pereaksi.2x10-4 3.6x10-4 3. Jika kenaikan konsentrasi B tidak menaikkan laju reaksi.misalnya orde pertama dalam A dan orde 0. Ramalan teoritis mengenai orde-orde (dari) reaksi-reaksi yang kurang dikenal jarang berhasil. koefisien untuk pereaksi dalam masing-masing persamaan berimbang adalah 2 tetapi reaksi pertama bersifat orde pertama dalam N2O5 dan yang kedua berorde kedua dalam NO2. orang akan melihat bahwa bila konsentrasi B2 diduakalikan. maka laju diduakalikan. yang ternyata berorde pertama dalam A. orang akan melihat bahwa bila konsentrasi A diduakalikan. Seperti dilukiskan oleh contoh. Ini bisa diungkapkan sebagai : Laju = k[A][B]0 = k[A] Orde suatu reaksi tak dapat diperoleh dari koefisien pereaksi dalam persamaan berimbangnya. Jadi reaksi itu berorde pertama dalam B2.1 Data hasil eksperimen Eksperimen 1 2 3 [A] 0.00 1.2x10-4 Tulislah persamaan laju yang paling mungkin untuk reaksi ini: Jawaban : Dengan membandingkan data dalam eksperimen 2 dengan data eksperimen 1.50 0. Dengan membandingkan data dalam eksperimen 3 dengan data eksperimen 2.50 1. Perhatikan reaksi umum . Laju k A B2 atau 0 Laju k B2 Suatu pereaksi malahan dapat tidak muncul dalam persamaan laju suatu reaksi.50 1. Misalnya mengetahui bahwa reaksi antara H2 205 .

1.1 0. Menentukan Orde reaksi a. Orde reaksi total (lihat koefisien reaksi) = 1 + 1 = 2.1 0. Jika tahap reaksi dapat diamati.HBr HBrO 2HBrO 2 ) 3.3 [R] 0.Orde reaksi terhadap Q.1 0. Dari data (1) dan (3) dari konsentrasi [Q] dan [R] tetap.1 0.5 kali lebih cepat Data (4) dan (5) Data (1) dan (4) 2 kali lebih cepat Data (1) dan (5) 3 kali lebih cepat 206 .HBr O 2 (lamba ) (cepat ) 2.2 0.1 0. lihat konsentrasi [P] dan [R] yang tetap yakni sebagai berikut.2 0. Ternyata tidak.2 Waktu 6 menit 6 menit 3 menit 3 menit 2 menit orde reaksi terhadap P.2 0.2 0.2 Orde reaksi [P] 1 2 3 4 5 0. orde reaksi ditentukan melalui eksperimen. orde adalah koefisien pada tahap reaksi yang berjalan lambat.3 0.1 [Q] 0. dicari dengan melihat konsentrasi [Q] dan [R] yang tetap.2 0. Persamaan laju reaksi. Jadi reaksi berlangsung 2 kali lebih cepat. b. V = [HBr] [O2].dan I2 adalah orde kedua mungkin orang akan meramal bahwa reaksi antara H2 dan Br2 juga akan berorde-kedua.2HBr 2HBrO 2H2O 2Br (cepat 2 HBrO 2 Maka orde reaksi ditentukan oleh reaksi (1). [P] dinaikkan dua kali. m=1 2m = 2 . Contoh: reaksi 4HBr O 2 2 H 2 O 2 Br2 Berlangsung dalam tahapan sebagai berikut : 1.1 0. konsentrasi salah satu zat tetap dan konsentrasi zat lain berubah. Contoh : X Y Reaksi : P Q R diperoleh data percobaan sebagai berikut : Tabel 10. malahan reaksi ini mempunyai persamaan laju yang lebih rumit. Jika tahap reaksi tidak bisa diamati.

a. Konsentrasi zat pereaksi c. konsentrasi reaktan 4. Energi kinetik molekul pereaksi d. Konsentrasi R dinaikkan 1.Ingat : orde reaksi ditentukan oleh tahap reaksi yang paling lambat = 1. Katalis d. 207 . Korek api dapat menyala bila digesekkan. Energi tambahan supaya zat bisa bereaksi 4. Energi katalis adalah . Energi minimum yang diperlukan untuk bereaksi c. ternyata reaksi berlangsung sama cepat. a. kemampuan reaktan untuk bertemu 3. hal ini merupakan pengaruh laju reaksi oleh : a.. Suhu 3. temperatur 5. Kenaikan suhu akan memperbesar laju reaksi karena pertambahan . sifat reaktan 2.5 1.5n n =1 .. 1.. Energi yang dihasilkan dari suatu reaksi e. adanya katalis penentuan lahu reaksi kimia menggunakan persamaan : laju (konsentrasi ) / ( waktu ) Hukum laju untuk reaksi berhubungan dengan laju reaksi dengan konsentrasi molar reaktan. Tekanan e.. Konsentrasi e.. Faktor berikut akan menambah laju reaksi. kecepatan atan laju reaksi di kontrol oleh 5 faktor : 1.5 kali. Energi tabrakan yang menghasilkan reaksi b.. Energi aktivasi b. Volume c.Orde reaksi terhadap R. Luas permukaan zat pereaksi 2. kecuali . Tekanan b.5x = 1 x =0 Maka persamaan laju reaksinya sebagai berikut: V = k[P] [Q] KESIMPULAN Laju reaksi. lihat konsentrasi [P] dan [Q] tetap yakni data (1) dan (2). Energi kinetik molekul-molekul yang bereaksi d. Latihan Soal : 1.

Mengapa katalis dalam suatu reaksi memberikan peranan penting? 10. 5 g serbuk seng. 2 c. 4M. Pada suhu tetap. 300C 3). Apa definisi laju reaksi dan bagaimana persamaannya? 7. 2M. Pada suhu tetap. tekanan diperbesar c. 400C Manakah yang mempunyai laju reaksi yang paling cepat : a. 1 b. 300C 2). 300C 4). Sebutkan prinsip-prinsip hukum laju reaksi! 8. Apa yang kamu ketahui tentang tumbukan? Ceritakan bagaimana suatu tumbukan bisa terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi suatu tumbukan! 12. 5 g serbuk seng. Sebutkan beberapa kelemahan teori tumbukan! 13. Jika konsentrasi semakin besar apa yang terjadi pada reaksi? 11. Apa yang dimaksud orde reaksi? Berikan contoh ungkapan persamaan laju reaksi dengan orde reaksi adalah 2! 208 . volume diperbesar d. Pada volume tetap ditambah zat pereaksi 5. 5 g keping seng. Pada percobaan laju reaksi sebagai berikut : 1).a. 400C 5). 3 d. Suatu reaksi berlangsung selama 4 jam pada suhu 25oC. jika suhu diubah menjadi 65oC? 16. 5 g keping seng. Pada suhu tetap ditambah katalis b. Gambarkan dan jelaskan kurva hubungan energi reaksi dengan koordinat reaksi! 15. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi! 9. Berapa kalikah laju reaksi akan meningkat. 4M. 4M. 5 6. 4 e. Apa yang dimaksud energi pengaktifan (Ea)? 14. 5 g butiran seng. 2M.

Cambridge. Sciences. 1st Ed.. Canada. Cambridges University Press..DAFTAR PUSTAKA Nicholls L. Cambridges University Press. (2006). Holme.. London. Cambridge. M. (2000). B.. L. Sciences. Chemistry. B. 1st Ed.. Ratcliff.. Cambridge Advances.. Nicholson. H. Chemistry for Engineering Students. (2001). Chemistry 1.. Raffan. J. S.. A1 .. Brown. 2nd Ed. (2002). Eccles. Ratcliff.. A.. T. Collins Advanced Modular Sciences. J. Johnson D. Chemistry 2. Thomson Books/Cole. Eccles. Cambridge Advances.. Ratcliffe. H.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->