P. 1
HOTD-zina

HOTD-zina

5.0

|Views: 2,411|Likes:
Published by api-3725701
Hadist riwayat Aisyah ra., ia berkata:
\
Sa`ad bin Abu Waqqash dan Abdu bin Zam`ah terlibat perselisihan mengenai seorang anak. Kata Sa`ad: Ini adalah anak saudaraku
\

\
`Utbah bin Abu Waqqash, yang dia amanatkan kepadaku, dia adalah putranya, perhatikanlah kemiripannya! Abdu bin Zam`ah
\

\
menyangkal dan mengatakan: Dia ini saudaraku, wahai Rasulullah! Dia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak
\

\
perempuannya. Sejenak Rasulullah saw. memperhatikan....
Hadist riwayat Aisyah ra., ia berkata:
\
Sa`ad bin Abu Waqqash dan Abdu bin Zam`ah terlibat perselisihan mengenai seorang anak. Kata Sa`ad: Ini adalah anak saudaraku
\

\
`Utbah bin Abu Waqqash, yang dia amanatkan kepadaku, dia adalah putranya, perhatikanlah kemiripannya! Abdu bin Zam`ah
\

\
menyangkal dan mengatakan: Dia ini saudaraku, wahai Rasulullah! Dia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak
\

\
perempuannya. Sejenak Rasulullah saw. memperhatikan....

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

[HOTD] zina Hadist riwayat Aisyah ra.

, ia berkata: Sa`ad bin Abu Waqqash dan Abdu bin Zam`ah terlibat perselisihan mengenai seorang anak. Kata Sa`ad: Ini adalah anak saudaraku `Utbah bin Abu Waqqash, yang dia amanatkan kepadaku, dia adalah putranya, perhatikanlah kemiripannya! Abdu bin Zam`ah menyangkal dan mengatakan: Dia ini saudaraku, wahai Rasulullah! Dia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak perempuannya. Sejenak Rasulullah saw. memperhatikan kemiripan anak itu, memang ada kemiripan yang jelas dengan Utbah. Kemudian beliau bersabda: Dia adalah untukmu, wahai Abdu. Nasab seorang anak itu dari perkawinan yang sah, dan bagi pezina itu adalah batu rajam. Hindarilah wahai Saudah binti Zam`ah dari perkara tersebut! Links: [macam-macam dosa dan jalan menuju taubat] http://www.al-ikhwan.net/index.php/at-tazkiyyah/2006/taubat-bagian-ke-3-macammacam-dosa-dan-jalan-menuju-taubat/ [Kafarat Zina Yang Belum Masuk] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/6419 [nikah mut'ah, zina beRkedOk ...!] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=223&Ite mid=19 [jauhi zina] http://ajimie.blogspot.com/2006/09/jauhi-zina.html [nikah kaRena calOn istRi sudah mengandung] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/6486 [fatwa MUI tentang abORsi] http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=101 [bOlehkah wanita yang peRnah zina menikah] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/5389 [pengkhususan hukuman zina dengan tiga hal] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=144&Ite mid=15 [teRlanjuR beRzina] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/6860 [peRkawinan setelah melakukan zina] http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/059.shtml [status anak hasil hubungan di luaR nikah] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=97&Ite mid=19 [batas batas zina] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/20769 [nasab anak yang dinikahi waktu hamil] http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=974 &Itemid=30 [caRa beRhenti zinah ?] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/11389 [status anak zina] http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg07562.html [hukum cambuk bagi pezina]

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/11163 [kRiteRia dOsa besaR menuRut al-quR'an dan hadis] http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-2.html [status anak hasil zina : dapat waRiskah daRi ibunya?] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/12/cn/7313 [budaya mendekati zina] http://www.tranungkite.net/v2/modules.php?name=News&file=article&sid=981 [malapetaka akibat zina] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=80&Ite mid=15 [halal dan haRam dalam islam] http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/3034.html -perbanyakamalmenujusurga-

http://www.al-ikhwan.net/index.php/at-tazkiyyah/2006/taubat-bagian-ke-3-macammacam-dosa-dan-jalan-menuju-taubat/ Taubat (bagian ke-3): Macam-Macam Dosa dan Jalan Menuju Taubat Al-Ikhwan.net | 5 November 2006 | 13 Syawal 1427 H | Hits: 316 Abu Nu'man Mubarok

Macam-Macam Dosa 1. Dosa Besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Tholib Al-Makki berkata: Dosa besar itu ada 17 macam.
• • • • • • •

4 macam di hati, yaitu: 1. Syirik. 2. Terus menerus berbuat maksiat. 3. Putus asa. 4. Merasa aman dari siksa Allah. 4 macam pada lisan, yaitu: 1. Kesaksian palsu. 2. Menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik. 3. Sumpah palsu. 4. mengamalkan sihir. 3 macam di perut. 1. Minum Khamer. 2. memakan harta anak yatim. 3. memakan riba. 2 macam di kemaluan. 1. zina. 2. Homo seksual. 2 macam di tangan. 1. membunuh. 2. mencuri. 1 di kaki, yaitu lari dalam peperangan 1 di seluruh badan, yaitu durhaka terhadap orang tua.

2. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa yang tidak tersebut diatas. 3. Dosa kecil yang menjadi besar

Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar. Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila

mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135) Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mu’min dalam melihat dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya, bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR. Bukhori Muslim) Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al Baqarah [2]: 206) Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Mujadilah [58]: 7) Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua ummatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang mujaharah (terangterangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: Seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu. Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR. Bukhori Muslim) Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah seorang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR. Muslim)

Jalan Menuju Taubat 1. Mengetahui hakikat taubat. Hakikat taubat adalah: Menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: Dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minum-nya. Seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang”. 2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya maksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”

3. Menghindar dari lingkungan yang jelek. Seperti dalam kisah seorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana … sesungguhnya disana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah disana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek.” 4. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya. 5. Berdo’a. Allah berfirman mengkisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Al Maraghi berkata: “Yang dimaksud ”terimalah taubat kami” adalah: Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.” 6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat akan kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.” 7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba. 8. Mempelajari ayat-ayat dan hadis-hadis yang menakuti orang-orang yang berdosa. 9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat. [] (Tamat)

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/6419 Konsultasi : Nikah Kafarat Zina Yang Belum Masuk Pertanyaan: Assalamu'alaikum wr.wb Ustadz, muda2an pertanyaan saya tdk termasuk kepada hal membuka aib sendiri yang dimurkai Allah. Saya sedang bingung dengan masalah yang saya hadapi. Ketika masa pacaran dulu kita pernah hampir melakukan hubungan suami istri dengan pacar saya ( sekarang istri saya), walaupun belum sampai penetrasi. Pertanyaan saya. apakah ini sudah termasuk zina yang hanya bisa disucikan dosanya dengan hukum cambuk? Kalau iya, dimana saya bisa menjalankan hukuman ini? Saya berusaha taubat sejak saya meminang istri saya. Apa saja cara bertaubat dari dosa zina ini ?

Tolong dijawab Pak ustadz. NB. Mohon dirahasiakan identitas email saya. Terimakasih Wasalam Doni Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Secara hukum fiqh, apa yang Anda lakukan itu belum bisa dihukum dengan hudud zina, tidak itu rajam dan tidak juga cambuk. Sebab beberapa syarat dalam hukuman hudud tentang zina itu belum tercukupi.

1. Belum adanya penetrasi atau masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kelamin
wanita. Hal ini oleh para ulama dijadikan syarat dari sebuah perzinaan. Dan hal itulah yang dahulu ditanyakan oleh Rasulullah SAW ketika ada orang yang mengaku telah berzina. Beliau sampai bertanya,�Apakah seperti masuknya ember ke dalam sumur ? �. Artinya bahwa bila sebelum kemaluan laki-laki masuk ke dalam kemaluan wanita pasangan zinanya, maka hal itu belum sampai kepada mewajibkan hukum hudud. Meski pun hal itu tetap berdosa dan masuk dalam kategori menedekati zina yang diharamkan.

2. Harus Dilakukan Oleh Pengadilan Syariat Yang Resmi
Kalau pun misalnya benar-benar terjadi zina, maka selama masalah itu tidak diangkat kepada hakim, maka pelakunya tidak bisa dijatuhi hukuman hudud. Dan untuk bisa sampai ke meja hakim, harus ada salah satu dari dua kemungkian. Pertama dengan pengakuan dan kedua dengan menghadirkan 4 saksi. 3. Zina itu sendiri harus terjadi atau dilakukan di dalam wilayah yang melaksanakan hukum syariat secara formal. Maka bila ada orang berzina di negara ini, tidak bisa datang ke Saudi Arabia untuk minta dirajam atau dicambuk, sebab harus terjadi di dalam wilayah hukum Islam.

Saat ini yang bisa Anda lakukan adalah bertobat nashuha, menyesal dan janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Kami sarankan Anda melakukan banyak amal ibadah agar timbangan amal Anda bisa lebih berat lagi. Misalnya kalau Anda punya sejumlah harta, silahkan wakafkan dengan jumlah besar tapi dengan ikhlas. Niatkan agar ini bisa menjadi penebus dari dosa-dosa di masa lalu. Meski ini bukan aturan baku, namun intnya adalah perbanyak amal-amal shalih yang serius. Misalnya Anda mewakafkan tanah, rumah, atau harta lainnya. Atau Anda mewajibkan diri Anda untuk bisa belajar agama Islam sampai jadi ulama melalui sistem pembelajaran yang profesional. Dan banyak lagi upaya yang melahirkan pahala besar yang terus mengalir. Di zaman canggih dan maju ini, Anda bisa mewakafkan buku syairah elektronik (ebook) yang dipasang di sebuah situs Islam, dimana Anda membiayai pembuatannya dengan niat wakaf dan semua orang akan bisa mengambil manfaat. Ini akan jadi pahala yang terus mengalir. Sebab buku ini adalah buku wakaf yang setiap kali ada orang di seluruh dunia ini yang belajar dari buku Anda, pahalanya itu akan dikirimkan ke rekening amal Anda. Makin banyak yang mendownload, makin banyak pahala Anda. Sungguh ini adalah wakaf yang tidak pernah kekurangan manfaat. Silahkan Anda coba dan hubungi kami� Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=223&Ite mid=19 Nikah mut'ah, Zina Berkedok ...! Dikirim oleh Cyber Muslim || Selasa, 15 Agustus 2006 - Pukul: 06:59 WIB Mungkin sebagian kita pernah mendengar ada seorang muslimah yang sangat aktif berdakwah dan berkumpul dalam kelompok-kelompok dakwah mengidap penyakit kemaluan semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, kita tidak mengatakannya karena terjerumus ke dalam lembah hitam pelacuran, karena hal itu sangat jauh untuk di lakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil, akan tetapi hal ini terjadi di sebabkan praktek nikah mut’ah atau nikah kontrak yang sesungguhnya telah dilarang dalam syariat Islam, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh bergonta ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya. Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemirikan nikah mut'ah, maka marilah kita berdoa semoga melalui tulisan ini Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita menuju jalan yang lurus. Pengertian Mut’ah Mut’ah berasal dari kata tamattu’ yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan

memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewariri antara keduanya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mu’ah itu. (Fathul Bari 9/167, Syarah shahih muslim 3/554, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/169). Hukum Nikah Mut’ah Pada awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya: Hadits Abdullah bin Mas’ud: "berkata: Kami berperang bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan kami tidak membawa istri istri kami, maka kami berkata bolehkan kami berkebiri? Namun Rasululloh melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu". (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404). Hadits Jabir bin Salamah: "Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah". (HR. Bukhari 5117). Namun hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah sebagaimana beberapa hadits diatas. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya niakh mut’ah tersebut dengan perselisihan yang tajam, namun yang lebih rajih-Wallahu a’lam- bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad 3/495, Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari 9/170, Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil 6/314. Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya: Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: "Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar" (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407). Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: "berkata:Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan" (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404). Hadits Salamah bin Akhwa Radiyallahu ‘anhu: "berkata:Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keringanan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang authos kemudian melarangnya" (HR. Muslim 1023). Syubhat dan Jawabannya Orang-orang yang berusaha untuk meracuni umat islam dengan nikah mut’ah, mereka

membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, tetapi tameng itu terlalu rapuh. Seandainya bukan karena ini telah mengotori fikiran sebagian pemuda ummat Islam maka kita tidak usah bersusah payah untuk membantahnya. Syubhat tersebut adalah Pemikiran Mereka Yang Menafsirkan bahwa: Firman Alloh Ta’ala: "Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka" (QS. An-Nisa: 24). Juga karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jelas pernah membolehkan nikah mut’ah, padahal beliau tidak mungkin berbicara dengan dasar hawa nafsu akan tetapi berbicara dengan wahyu, dan oleh karena ayat ini adalah satu-satunya ayat yang berhubungan dengan nikah mut’ah maka hal ini menunjukkan akan halalnya nikah mut’ah. (Lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh Al-Amili hal 9). Jawaban Atas Syubhat ini adalah: Memang sebagian ulama’ manafsirkan istamta’tum dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya sebagaimana sebuah kewajiban atas kalian. Berkata Imam Ath Thabari setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut: Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan haramnya nikah mut’ah. (Tafsir AthThabati 8/175). Berkata Imam Al-Qurthubi: Tidak boleh ayat ini digunakan untuk menghalalkan nikah mut’ah karena Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa Sallam telah mengharamkannya. (tafsir Al-Qurthubi 5/132). Dan kalau kita menerima bahwa makna dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. (Al-Qurthubi 5/133, Ibnu Katsir 1/474). Kesalahan Pemikiran Pendukung Nikah Mut'ah Berikutnya adalah: Hadits Abdullah bin Mas’ud, Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Akwa’ diatas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal. Maka Jawaban atas Hal ini adalah: Semua hadits yang menunjukkan halalnya nikah mut’ah telah di mansukh. Hal ini sangat jelas sekali dengan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu saya telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat" Berkata Imam Bukhari (5117) setelah meriwayatkan hadits Jabir dan Salamah: Ali telah menjelaskan dari Rasululloh bahwa hadits tersebut dimansukh. Syubhat Berikutnya adalah: Sebagian para sahabat masih melakukan nikah mut’ah sepeninggal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai umar melarangnya, sebagaimana disebutkan

dalam banyak riwayat, diantaranya: Dari jabir bin Abdullah berkata: Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam juga Abu Bakar sampai umar melarangnya.(Muslim 1023). Jawaban bagi Seorang Muslim yang Taat Kepada Alloh Ta'ala: Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Berkata Imam Nawawi: Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan nikah mut’ah pada Abu bakar da Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut. (Syarah Shahih Muslim 3/555, lihat pula fathul bari, zadul Ma’ad 3/462). Perkataan yang salah dari salah seorang tokoh Nikah Mut'ah kontermporer: Tidak senua orang mampu untuk menikah untuk selamanya terutama para pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka banyaknya godaan pada saat ini sangat memungkinkan mereka untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, oleh karena itu nikah mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji itu. (lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh husan Yusuf Al-Amili hal 12-14). Jawaban atas Syubhat ini adalah: Ucapan ini salah dari pangkal ujungnya, cukup bagi kita untuk mengatakan tiga hal ini : Pertama: bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah di jadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi. Kedua: ucapan ini Cuma melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun kepada wanita yang dijadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsu syahwatnya, lalu apa bedanya antara mut’ah ini dengan pelacuran komersil???? Ketiga: islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu pernikahan yang bersifat abadi dan kalau belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: "Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah menikah, karena itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya". (HR. Bukhari 5066, Muslim 1400). Wallahu a’lam.

http://ajimie.blogspot.com/2006/09/jauhi-zina.html Monday, September 25 Jauhi Zina . Allah SWT tidak melarang suatu perbuatan apapun melainkan untuk kebaikan dan kemuliaan kita, untuk menjauhkan kita dari kerugian, bahkan untuk melindungi kita dari kehinaan dan kenistaan. Termasuk larangan untuk mendekati zina misalnya, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan

yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS Al Isra [17] : 32) Bukan jangan berzina, tapi jangan mendekati zina. Dengan kata lain, mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Bagaimana cara untuk tidak mendekati zina? Hal ini tentu akan sangat berkaitan dengan bagaimana cara bergaul antara laki-laki dan perempuan: 1. Menutup aurat "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan wanitawanita mukminah, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,....." (QS Al Ahzab [33] : 59) Telah berkata Aisyah r.a, "Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar menemui Nabi saw dengan dengan memakai busana yang tipis, maka Nabi berpaling darinya dan bersabda, "Hai Asma, sesungguhnya apabila wanita itu telah baligh (sudah haidh) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini", sambil mengisyaratkan pada muka dan telapak tangannya." (HR Abu Dawud). Termasuk bagian dari penyempurnaan menutup aurat adalah menggunakan pakaian yang longgar (tidak ketat), tidak menggunakan kain yang transparan atau tipis, model dan warna pakaian pun sebaiknya tak terlalu menarik perhatian laki-laki, juga tak berlebihan dalam menggunakan wewangian. 2. Menundukkan Pandangan "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS An Nuur [24] : 30) "Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya..." (QS An Nuur [24] : 31) 3. Tegas (suara) dalam berbicara "Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.." (QS. Al Ahzab [33] : 32) 4. Menjaga jarak; tidak bersentuhan Telah berkata Aisyah r.a, "Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan." (HR Bukhari dan Ibnu Majah). 5. Tidak berikhtilath (berdua-duaan) "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki

sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR Ahmad). Dalam hal menutup aurat dan menjaga pandangan, walau laki-laki dan perempuan keduanya harus menutup aurat dan menjaga pandangan, tapi menjaga aurat lebih diutamakan bagi wanita sedangkan menjaga pandangan lebih diutamakan bagi lakilaki. Bila para wanita menutup aurat dengan baik, mudah-mudahan upaya tersebut bisa membantu kaum lelaki yang belum mampu mengendalikan diri agar lebih terjaga pandangannya. Sebaliknya, bila kaum lelaki senantiasa menjaga pandangannya, walau ada wanita yang kurang sempurna menutup auratnya, maka tetap akan lebih sukar terlihat. Source: CyberMQ Google Search: Jangan mendekati zina .

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/6486 Konsultasi : Nikah Nikah Karena Calon Istri Sudah Mengandung Pertanyaan: Assalamu'alaikum Wr.Wb. Pak Ustadz, saya dulu waktu nikah istri saya sudah hamil (telat mens 1 bln), sehingga kami buru2 nikah hanya di KUA saja tanpa pesta hajatan, khawatir kalau anak yang dikandungnya keburu lahir bisa dikatakan anak haram. Tapi setelah saya belajar agama lebih serius, ternyata tidak dibolehkan nikah pada saat calon istri sedang hamil walau itu dari benihnya si laki2 sendiri, masa iddahnya sampai bayinya lahir baru boleh dinikahkan. Jadi status saya selama ini atau nikah kami jadi tidah sah pak ustadz (semua ini karena ketololan saya yang tidak mengerti dengan aturan agama), terus saya harus bagaimana, padahal saya nikah sejak 1985 punya anak 3 orang sudah besar2, apa kami harus nikah ulang? terus status ke 3 anak saya bagaimana pak ustadz? Saya mohon penjelasannya dan jalan keluarnya untuk bertobat supaya Allah yang Maha Bijaksana bisa mengampuni kami. Sukron atas penjelasannya. Wassalam, Hamba Allah Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Menikahi Wanita Yang Dihamili Sendiri Para ulama telah sepakat bahwa wanita yang hamil karena hubungan di luar nikah boleh menikah dengan laki-laki yang menghamilinya. Dan jika anak yang dikandungnya lahir setelah enam bulan dari aqad nikah, maka anak tersebut dinisbahkan kepada bapaknya. Tetapi jika anak tersebut lahir kurang dari 6 bulan dari akad nikah maka anak tersebut tidak dapat dinisbahkan kepada bapaknya kecuali jika laki-laki tersebut menyatakan dengan tegas bahwa anak tersebut adalah anaknya dan bukan hasil perzinahan. Karena adanya pengakuan (iqrar) tersebut menjadi sebab penisbahan anak tersebut kepada bapaknya, karena ada kemungkinan telah terjadi aqad sebelumnya atau adanya hubungan yang samar (wath�u syabhah), dan ini juga berdasar kepada keadaan orang muslim yang biasanya sholeh dan untuk menjaga kehormatan orang tersebut. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, jika nasab anak tersebut dinisbahkan kepada bapaknya (laki-laki yang menzinahi ibunya) maka ia berhak menjadi wali. Jika tidak, maka ia tidak boleh menjadi wali bagi anak tersebut. Menikahi Wanita Yang Dihamili Oleh Orang Lain Sedangkan boleh tidaknya perempuan yang berzina menikah dengan laki-laki yang bukan menghamilinya, para ulama berbeda pendapat terhadap hal tersebut: 1. Haram Pendapat pertama menyatakan bahwa hal tersebut diharamkan, pendapat ini adalah pendapatnya Hasan al-Bishry dan lain-lainya. Mereka berdasar pada firman Allah SWT : �Dan perempuan yang berzina tidak menikahinya kecuali laki-laki yang berzina atau pun musrik dan hal tersebut diharamkan bagi orang-orang yang beriman� (An-Nur: 3). Ayat ini menurut mereka menyatakan akan keharaman menikahnya perempuan yang berzina dengan laki-laki yang bukan menzinahinya. 2. Boleh Pendapat kedua menyatakan bahwa hal tersebut dibolehkan. Sedang ayat di atas bukan menjelaskan keharaman hal tersebut tetapi mununjukan atas pencelaan orang yang melakukannya. Pendapat ini dikemukakan oleh Jumhur Ulama.

Mereka pun berdasar kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa�y dari Ibnu �Abbas, ia berkata: �Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, ia berkata: Sesungguhnya istriku tidak bisa menjaga dirinya dari perbuatan zinah. Nabi pun bersabda: �Jauhkalah dia�. Orang itu menjawab: �aku khawatir jiwaku akan mengikutinya (karena kecintaannya)�. Nabi pun bersabda padanya: �Kalau begitu bersenang-senanglah dengannya� (Nailul Author 6/145) Juga hadits yang diriwayatkan dari Aisyah: �Sesuatu yang harom tidak dapat menghalalkan yang haram�. (HR Baihaqy) Akan tetapi mereka yang berpendapat tentang kebolehan menikahnya seorang wanita yang berzinah dengan laki-laki yang bukan menzinahinya dalam beberapa hal : a. Fuqoha Hanafiyah Mereka menyatakan jika wanita yang berzina tidak hamil. Maka aqad nikahnya dengan laki-laki yang bukan menzinahinya adalah sah. Demikian juga jika si wanita tersebut sedang hamil, demikian menurut Abu Hanifah dan Muhammad. Akan tetapi ia tidak boleh menggaulinya selama belum melahirkan. Dengan dalil sebagai berikut: a. perempuan yang berzina tidak termasuk wanita yang haram dinikahi. Oleh karena itu hukumnya mubah (boleh) dan termasuk dalam firman-Nya: �Dan kami menghalalkan bagi kalian selain dari itu� (an-Nisaa: 24) b. Tidak ada keharaman karena disebabkan air (sperma) hasil zina. Dengan dalil hal tersebut tidak bisa menjadi sebab penasaban anak tersebut kepada bapaknya. Oleh karena itu zina tidak bisa menjadi penghalang pernikahan. Adapun sebab tidak bolehnya laki-laki tersebut menggauli wanita tersebut sampai ia melahirkan, adalah sabda Rasulullah SAW : �Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain� (HR Abu Daud dan at- Tirmidzy) yang dimaksud adalah wanita hamil disebabkan orang lain. b. Abu Yusuf dan Zufar Mereka berpendapat bahwa tidak boleh melakukan aqad nikah terhadap wanita yang hamil karena zina. Karena kehamilan tersebut menghalanginya untuk menggauli wanita tersebut dan juga menghalangi aqad dengannya. Sebagimana halnya kehamilan yang sah, yaitu; sebagaimana tidak bolehnya melaksankan aqad nikah dengan wanita yang hamil bukan karena zina maka dengan wanita yang hamil karena zina pun tidak sah. c. Fuqoha Malikiyah Mereka menyatakan bahwa tidak boleh melaksanakan aqad nikah dengan wanita yang

berzina sebelum diketahui bahwa wanita tersebut tidak sedang hamil (istibra�a), hal tersebut diketahui dengah haid sebanyak tiga kali atau ditunggui tiga bulan. Karena aqad dengannya sebelum istibra adalah aqad yang fasid dan harus digugurkan. Baik sudah nampak tanda-tanda kehamilan atau belum karena dua sebab, pertama adalah kehamilannya sebagimana hadits �janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain� atau dikhawtirkan dapat tercampurnya nasab jika belum nampak tanda-tanda kehamilan. d. Fuqoha Syafi�iyah Mereka Mengatakan jika ia berzina dengan seorang wanita, maka tidak diharamkan menikah dengannya, hal tersebut berdasr pada firman Allah: �Dan kami menghalalkan bagi kalian selain dari itu� (QS. An-Nisaa: 24) Juga sabda Rasulullah SAW : �sesuatu yang haram tidak dapat mengharamkan yang halal� e. Fuqoha Hanabilah < Mereka berpendapat jika seorang wanita berzinah maka tidak boleh bagi laki-laki yang mengetahu hal tersebut menikahinya, kecuali dengan dua syarat: a. Selesai masa �iddahnya dengan dalil di atas, �janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain� dan hadit shohih �Wanita yang hamil tidak boleh digauli sampai ia melahirkan� b. Wanita tersebut bertaubat dari zinanya berdasarkan firman Alloh SWT: �dan hal tersebut diharmkan bagi orang-orang mu�min� (an-Nur: 3) dan ayat tersebut berlaku sebelum ia bertaubat. Jika sudah bertaubat hilanglah keharaman menikahinya sebab Rasulullah SAW bersabda: �Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak memiliki dosa� Jika hukum hudud belum diterapkan di negeri ini, maka orang yang melakukannya harus banyak beristigfar dan segera bertaubat kepada Alloh dengan taubat nasuha, dan tidak boleh mengulangi lagi hal tersebut. Karena tidak mungkin orang tersebut melakukan hukuman hudud atau dirinya sendiri. Karena hukum hudud harus dilaksanakn oleh negara dalam hal ini mahkamah khusus yang telah ditunjuk. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=101 FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR : 4 TAHUN 2005

Tentang ABORSI

Bismillahirrahmaanirrahiim Majelis Ulama Indonesia, setelah Menimbang : a. bahwa akhir-akhir ini semakin banyak terjadi tindakan aborsi yang dilakukan oleh masyarakat tanpa memperhatikan tuntunan agama; b. bahwa aborsi tersebut banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi sehingga menimbulkan bahaya bagi ibu yang mengandungnya dan bagi masyarakat umumnya; c. bahwa aborsi sebagaimana yang tersebut dalam point a dan b telah menimbulkan pertanyaan masyarakat tentang hukum melakukan aborsi, apakah haram secara mutlak ataukah boleh dalam kondisi-kondisi tertentu; d. bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum aborsi untuk dijadikan pedoman. Mengingat :

1. Firman Allah SWT :

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). (QS. al-An`am[6]:151). ”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa besar.” (QS. al-Isra`[17]:31). ”Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: ”Ya, Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengahtengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alas an) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)

dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarbenarnya.” (QS. al-Furqan[25]:63-71). “Hai Manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. al-Hajj[22]:5) “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS: al-Mu`minun[23]:12-14) 2. ”Seseorang dari kamu ditempatkan penciptaannya di dalam perut ibunya dalam selama empat puluh hari, kemudian menjadi `alaqah selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi mudhghah selama itu pula (40 hari); kemudian Allah mengutus seorang malaikat lalu diperintahkan empat kalimat (hal), dan dikatakan kepadanya: Tulislah amal, rizki dan ajalnya, serta celaka atau bahagia-(nya); kemudian ditiupkan ruh padanya.” (Hadits riwayat Imam alBukhari dari `Abdullah). ”Dua orang perempuan suku huzail berkelahi. Lalu satu dari keduanya melemparkan batu kepada yang lain hingga membunuhnya dan (membunuh pula) kandungannya. Kemudian mereka melaporkan kepada Rasulullah. Maka, beliau memutuskan bahwa diat untuk (membunuh) janinnya adalah (memberikan) seorang budak laki-laki atau perempuan.” (Hadist muttafaq `alaih –riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim- dari Abu Hurairah; lihat `Abdullah bin`Abdur Rahman al-Bassam, Tawdhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, [Lubnan: Mu`assasah al-Khidamat al-Thiba`iyyah, 1994], juz V, h.185): ”Tidak boleh membahakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (Hadist riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin al-Shamit, Ahmad dari Ibn `Abbas, dan Malik dari Yahya). 3. Qaidah Fiqih : ”Menghindarkan kerusakan (hal-hal negatif) diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan.”

”Keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (diharamkan).” ”Hajat terkadang dapat menduduki keadaan darurat.”

Memperhatikan : 1. Pendapat para ulama : a. Imam al-Ghazali dari kalangan mazhab Syafi`I dalah Ihya` `Ulum al-Din, tahqiq Sayyid `Imrab (al-Qahirah: Dar al-Hadits, 2004), juz II, hal.67 : jika nutfah (sperma) telah bercampur (ikhtilah) dengan ovum di dalam rahim dan siap menerima kehidupan (isti`dad li-qabul al-hayah), maka merusaknya dipandang sebagai tindak pidana (jinayah). b. Ulama Al-Azhar dalam Bayan li-an-Nas min al-Azhar asy-Syarif (t.t.: Mathba`ah al-Mushhaf al-Syarif, t.th.), juz II, h. 256 : Jika aborsi dilakukan sebelum nafkhi ar-ruh, maka tentang hukumnya terdapat empat pendapat fuqaha`.Pertama, boleh (mubah) secara mutlak, tanpa harus ada alasan medis (`uzur); ini menurut ulama Zaidiyah, sekelompok ulama Hanafi –walaupun sebagian mereka membatasi dengan keharusan adanya alasan medis, sebagian ulama Syafi`i, serta sejumlah ulama Maliki dan Hanbali.Kedua, mubah karena adala alasan medis (`uzur) dan makruh jika tanpa `uzur; ini menurut ulama Hanafi dan sekelompok ulama Syafi`i. Ketiga, makruh secara mutlak; dan ini menurut sebagian ulama Maliki. Keempat,haram; ini menurut pendapat mu`tamad (yang dipedomani) oleh ulama Maliki dan sejalan dengan mazhab Zahiri yang mengharamkan `azl (coitus interruptus); hal itu disebabkan telah adanya kehidupan pada janin yang memungkinkannya tumbuh berkembang. Jika aborsi dilakukan setelah nafkhi ar-ruh pada janin, maka semua pendapat fuqaha` menunjukkan bahwa aborsi hukumnya dilarang (haram) jika tidak terdapat `uzur; perbuatan itu diancam dengan sanksi pidana manakala janin keluar dalam keadaan mati; dan sanksi tersebut oleh fuqaha` disebut dengan ghurrah. c. Syaikh `Athiyyah Shaqr (Ketua Komisi Fatwa Al-Azhar) dalam Ahsan alKalam fi al-Taqwa, (al-Qahirah: Dar al-Ghad al-`Arabi, t.th.), juz IV, h. 483: Jika kehamilan (kandungan) itu akibat zina, dan ulama mazhab Syafi`i membolehkan untuk menggugurkannya, maka menurutku, kebolehan itu berlaku pada (kehamilan akibat) perzinaan yang terpaksa (perkosaan) di mana (si wanita) merasakan penyesalan dan kepedihan hati. Sedangkan dalam kondisi di mana (si wanita atau masyarakat) telah meremehkan harga diri dan tidak (lagi) malu melakukan hubungan seksual yang haram (zina), maka saya berpendapat bahwa aborsi (terhadap kandungan akibat zina) tersebut tidak boleh (haram), karena hal itu dapat mendorong terjadinya kerusakan (perzinaan). 2. Fatwa Munas MUI No.1/Munas VI/MUI/2000 tentang Aborsi. 3. Rapat Komis Fatwa MUI, 3 Februari 2005; 10 Rabi`ul Akhir 1426 H/19 Mei 2005 dan 12 Rabi`ul Akhir 1426 H/21 Mei 2005.

Dengan memohon taufiq dan hidayah Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTANG ABORSI Pertama : Ketentuan Umum 1. Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati. 2. Hajat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan besar. Kedua : Ketentuan Hukum 1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi). 2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat. a. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilah yang membolehkan aborsi adalah: 1. Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter. 2. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu. b. Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi adalah: 1. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan. 2. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang didalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama. c. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari. 3. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.

Keputusan fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap muslim yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 12 Rabi`ul Akhir 1426 H 21 Mei 2005 MAJELIS ULAMA INDONESIA KOMISI FATWA,

Ketua

Sekretaris

K.H. Ma`ruf Amin

Hasanudin

http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=144&Ite mid=15 Pengkhususan Hukuman Zina Dengan Tiga Hal Dikirim oleh Kontributor || Rabu, 28 Juni 2006 - Pukul: 10:32 WIB Alloh ‘Azza wa Jalla mengkhususkan hukuman bagi perbuatan zina dibandingkan dengan hukuman-hukuman lainnya dengan tiga hal, yaitu Pertama , Alloh melarang hamba-hambaNya untuk merasa kasihan kepada para pelaku zina sehingga mencegah mereka untuk memberlakukan hukuman kepada para pezina itu. Sebab, Alloh ‘Azza wa Jalla mensyari'at kan hukuman tersebut didasarkan pada kasih sayang dan rahmatNya pada mereka. Alloh itu sangat sayang kepada kalian, namun kasih sayang tersebut tidaklah mencegah Alloh untuk memerintahkan berlakunya hukuman ini. Oleh karenanya janganlah kasih sayang yg ada di hati kalian itu mencegah kalian untuk melaksanakan perintah Alloh. Hal ini -walaupun sebenarnya juga berlaku pada seluruh macam hukuman (hudud)yang disyari'atkan- namun disebutkan dalam hukuman zina suatu kekhususan, karena memang sangat penting untuk disebutkan di sini, sebab kebanyakan orang tidak mempunyai perasaan marah dan sikap kasar terhadap pezina seperti sikap mereka pada pencuri, atau orang yang menuduh berbuat zina atau pemabuk. Hati mereka cenderung lebih kasihan pada pezina ketimbang kepada para pelaku dosa lainnya. Dan realita membuktikan hal itu. Oleh karena itu Alloh melarang mereka, jangan sampai rasa kasihan mereka itu membuat tidak diberlakukannya hukuman Alloh ‘Azza wa Jalla. Mengapa rasa kasihan pada mereka itu timbul? Penyebabnya yaitu karena perbuatan zina ini bisa terjadi pada orang golongan atas, menengah dan bawah. Kemudian, dalam jiwa manusia itu terdapat dorongan yang kuat untuk melakukannya (melampiaskan libido. pent) dan orang yang melakukannya juga berjumlah banyak. Dan yang paling banyak menjadi penyebabnya ialah cinta; sementara hati manusia itu secara tabiat, punya perasaan kasihan pada orang yang sedang jatuh cinta, bahkan banyak di antara mereka yang siap memberikan bantuan pada mereka, walaupun sebenarnya bentuk dari percintaan itu termasuk yang diharamkan. Dan hal seperti ini sudah tidak dipungkiri lagi. Dan hal itu memang sudah diakui oleh orang-orang. Selain itu juga, perbuatan dosa ini (zina) kebanyakan terjadi dengan adanya suka sama suka dari kedua belah pihak, bukan dengan pemaksaan, penganiayaan dan lainnya yang membuat jiwa orang-orang itu geram.

Dalam hal ini, syahwat banyak berpengaruh, sehingga timbullah perasaan kasihan yang mungkin akan menghambat ditegakkannya hukuman Alloh I. Ini semua timbul dari iman yang lemah. Kesempurnaan iman itu dapat dicapai dengan adanya kekuatan yang dengan itu perintah Alloh dapat ditegakkan, juga adanya rahmat (kasih sayang) terhadap orang yang dijatuhi hukuman tersebut, sehingga dia bisa sejalan dengan Alloh dalam perintah dan rahmatNya. Kedua, hukuman zina adalah dibunuh (dirajam) dengan cara yang mengerikan. Dalam hukuman zina yang ringan saja, Alloh menggabungkan antara hukuman terhadap fisik dengan cambuk dan hukuman terhadap hati/mentalnya dengan cara diasingkan dari negerinya selama satu tahun. Ketiga, Alloh‘Azza wa Jalla memerintahkan agar hukuman terhadap pelaku zina (baik itu cambuk ataupun rajam, pent) hendaknya dilakukan di hadapan khalayak orangorang mukmin, bukan di tempat yang sepi sehingga tidak ada orang yang dapat menyaksikannya. Hal ini dilakukan agar hukuman tersebut lebih efektif untuk tujuan "zajr" (membuat jera pelaku dan membuat takut orang lain melakukannya). Hukuman bagi pezina yang "muhshan" (sudah berkeluarga) diambil dari hukuman Alloh terhadap kaum Nabi Luth' u yang dilempar dengan batu. Yang demikian itu karena perbuatan zina dan liwath (homoseks yang dilakukan kaum Nabi Luth' u) adalah sama-sama perbuatan fahisyah (keji dan kotor). Keduanya dapat menimbulkan kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Alloh di dalam penciptaan perintahNya. Kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh praktek liwath (homosex) itu sungguh sulit untuk dihitung. Orang yang menjadi korban perbuatan tersebut lebih pantas dan lebih baik untuk dibunuh saja; sebab dia itu mengalami kerusakan yang tidak bisa diharapkan untuk baik kembali selamanya. Semua kebaikannya sudah hilang. Bumi sudah menyerap habis rasa malu dari mukanya, sehingga dia tidak akan malu lagi kepada Alloh, juga kepada makhlukNya. Hati dan jiwa orang tersebut sudah dipengaruhi oleh sperma pelaku liwath seperti berpengaruhnya racun dalam tubuh seseorang. Ada perbedaan pendapat di antara sebagian orang; apakah orang yang menjadi pelaku liwath itu bisa masuk Surga atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat. Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan dua pendapat ini. Mereka yang mengatakan tidak akan masuk Surga memberikan hujjah dengan beberapa hal: Di antaranya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan masuk Surga anak seorang pezina." Bila nasib dan kondisi anak hasil zina sudah demikian, padahal dia tidak mempunyai dosa apa-apa, hanya saja dia dicurigai sebagai tempat berbagai kejelekan dan kekotoran, serta dia pantas untuk tidak mendatangkan kebaikan apa pun selamanya, disebabkan karena dia tercipta dari nuthfah (sperma) yang kotor; bila tubuh yang tumbuh menjadi besar dengan barang yang haram saja sangat pantas untuk masuk api Neraka, maka bagaimana lagi dengan tubuh yang memang tercipta dari sperma yang haram? Mereka mengatakan: Orang yang menjadi pelaku liwath itu lebih jelek dari anak hasil zina, lebih hina dan lebih kotor pula. Dia itu memang pantas untuk tidak mendapat taufik kebaikan. Dia juga pantas dihalangi untuk mendapatkan taufik tersebut. Dan setiap kali dia melakukan amal yang baik, maka Alloh akan menggandengkannya

dengan amalan lain yang dapat merusaknya, sebagai hukuman baginya. Dan memang jarang kita dapati bahwa orang yang sudah seperti itu di masa kecilnya, kecuali dia akan lebih parah di masa tuanya. Dia tidak berhasil mendapatkan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan taubat yang nashuha. Namun setelah diteliti, yang lebih pas untuk dikatakan dalam masalah ini, yaitu bahwa bila orang tersebut bertaubat dan kembali kepada Alloh, kemudian mendapatkan karunia taubat yang nashuha serta amal yang shalih, lalu kondisinya di masa tua lebih baik dari kondisi di masa kecilnya, lalu merubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan berbagai macam kebaikan serta mencuci aibnya dengan beragam ketaatan dan pendekatan diri kepada Alloh, juga menjaga pandangan matanya, menjaga kemaluannya dari yang haram dan benar-benar jujur kepada Alloh dalam mu'amalahnya, maka orang yang semacam ini akan mendapat ampunan dan dia akan termasuk ahli Surga. Sebab, Alloh Maha mengampuni seluruh dosa. Bila taubat itu -kita ketahuidapat menghapus segala macam dosa, sampai dosa syirik kepada Alloh, membantai para nabi dan para waliNya, atau sihir, kufur dan lain semacamnya, maka kita tidak boleh membatasi penghapusan terhadap dosa yang satu ini, padahal, dengan keadilan dan karunia Yang Maha Kuasa, hikmah Alloh menetapkan bahwa: "Orang yang bertaubat dari dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa." Dan Alloh sendiri telah memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang bertaubat dari perbuatan syirik, pembunuhan jiwa dan zina, Alloh akan mengganti perbuatanperbuatan jeleknya dengan kebaikan-kebaikan, dan ini adalah ketentuan hukum yang umum mencakup setiap orang yang bertaubat dari berbagai macam dosa. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: "Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang aniaya terhadap diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Alloh, sesungguhnya Alloh akan mengampuni seluruh dosa, seungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Pengasih." (Az-Zumar: 53) Dan tidak akan keluar dari keumuman ayat ini satu macam dosa pun. Namun hal ini hanya khusus bagi mereka yang bertaubat. Bila ternyata orang yang menjadi pelaku perbuatan liwath itu di masa tuanya lebih jelek dari masa kecilnya, tidak mendapatkan karunia taubat nashuha dan amal shalih, tidak segera mengganti ketaatan yang dia tinggalkan dan tidak pula mau menghidupkan apa yang sudah ia matikan, juga tidak mengubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan, maka orang semacam ini sulit untuk mendapatkan husnul khatimah yang dapat memasukkannya ke dalam Surga di saat akan meninggal kelak. Hal itu sebagai hukuman baginya. Sungguh Alloh memberikan hukuman atas perbuatan yang jelek dengan kejelekan lainnya, sehingga bertumpuklah hukuman perbuatan jelek yang akan diterimanya, sebagaimana Alloh juga memberikan ganjaran bagi sebuah perbuatan baik dengan perbuatan baik lainnya. (Dikutip dan diolah dari: JANGAN DEKATI ZINA, Karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah)

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/5389

Konsultasi : Nikah Bolehkah Wanita yang Pernah Zina Menikah Pertanyaan: Ustad bagaimana hukumnya bagi wanita atau pria yang pernah berzina menikah dengan orang lain selain dengan orang yang pernah berzina dengannya? tolong disertakan dalil2nya. Rika Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Ada sebuah ayat yang kemudian dipahami secara berbeda oleh para ulama. Meski pun jumhur ulama memahami bahwa ayat ini bukan pengharaman untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu'min. (QS. An-Nur : 3) Lebih lanjut perbedaan pendapat itu adalah sbb : 1. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz �hurrima� atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.

Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS> An-Nur : 32). Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Umar bin AlKhattab ra dan fuqaha umumnya. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata,�Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,�Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal�. (HR. Tabarany dan Daruquthuny). Juga dengan hadits berikut ini : Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,�Istriku ini seorang yang suka berzina�. Beliau menjawab,�Ceraikan dia�. �Tapi aku takut memberatkan diriku�. �Kalau begitu mut�ahilah dia�. (HR. Abu Daud dan An-Nasa�i)

2. Pendapat Yang Mengharamkan Meski demkikian, memang ada juga pendapat yang mengharamkan total untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra� dan Ibnu Mas�ud. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah zahir ayat yang kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda,�Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts�. (HR. Abu Daud)

3. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah, maka nikahnya tidak syah. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka nikahnya syah secara syar�i. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Karena seseroang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/6860 Konsultasi : Masalah Umum Terlanjur Berzina Pertanyaan: Assalamualaikum pak Ustadz! Langsung saja apakah bila kita terlanjur melakukan zina, terus tak ada orang yang mengetahui, hanya kita berdua. Kemudian kita bertaubat tapi dalam hati kita masih ada perasaan mengganjal kalau belum dihukum rajam di dunia. Takut akan hukuman yang lebih pedih di akhirat. apakah langkah terbaik yang harus kita tempuh ustadz? syukron katsiron atas perhatiannya. Wassalam!! Musafak Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Zina adalah dosa besar, maka untuk itu wajiblah bagi mereka yang terlanjur melakukannya untuk bertobat dengan tobat yang sesungguhnya. Meminta ampunan dari Allah SWT dan bersumpah untuk meninggalkan perbuatan itu untuk selamalamanya.

Sedangkan di dunia ini, secara hukum syariah, pelaku zina harus dihukum sesuai dengan hukum Allah, yuitu dirajam dengan dilempari batu hingga mati. Itu berlaku bagi orang yang berzina dan sudah pernah menikah sebelumnya. Sedangkan bila belum pernah menikha sebelumnya, maka hukumannya adalah cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun ke luar tempat tinggalnya. Namun semua itu hanya bisa dilakukan bila seseorang melakukan zina di dalam wilayah hukum syariat yang tegak. Diputuskan perkaranya dan dijatuhkan vonisnya oleh sebuah mahkamah syriah yang formal, resmi dan diakui secara hukum. Begitu pula eksekusinya hanya dilakukan perdasarkan keputusan tetap dari institusi yang bersangkutan. Dalam konteks negeri kita, semua itu tidak bisa dilakukan. Karena negeri ini tidak mengakui syariah Islam. Padahal mayoritas penduduknya muslim, namun apresiasi syariah mereka teramat rendah, apalagi pemimpinnya yang buta syariah. Sejak penjajah datang ke negeri ini, huklum Islam sudah lenyap, bahkan ketika penjajah pergi, justru hukum penjajah-lah yang mendominasi. Maka tidak mungkin bagi kita untuk merajam pezina atau mencambuknya. Sehingga bagi pezina, yang bisa dilakukan hanyalah bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Apalagi kewajiban untuk menjalankan hukum rajam dan cambuk itu bukan sematamata kewajiban yang bersangkutan, melainkan kewajiban seluruh umat Islam, terutama para penguasanya. Di akhirat mereka akan ditanya tentang hal itu. Entah mereka akan menjawab apa. Yang penting sekarang ini kita sudah menyampaikan kepada para penguasa yang beragama Islam itu bahwa hukum Islam itu wajib dijalankan. Dan sebagai penguasa, kewajiban itu ada di atas pundak mereka. Tetapi bila mereka menolak, itu urusan mereka dengan Allah SWT. Semoga saja mereka bisa menjawab pengadilan akhirat yang tidak bisa dipolitisir itu. Sebab kalau tidak bisa menjawab dengan benar, bersiaplah untuk dibakar hidup-hidup di neraka. Nauzu billahi min zalik.!!! Semoga kita dicatat oleh para malaikat sebagai orang-orang yang selalu memperjuangkan syariat Islam ini, sehingga nanti di akhirat bisa menjawab dengan bukti bahwa kita sudah berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/059.shtml Perkawinan Setelah Melakukan Zina Seri ke-59, Kamis, 14 Desember 2000 Tanya: Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Yang ingin saya tanyakan: Apakah bila seseorang (laki-laki) menikah dengan seseorang (perempuan) yang perempuan dalam keadaan hamil (oleh perbuatan silaki-laki tsb.) harus diulang setelah kelahiran si anak? Saya menanyakan ini - karena ada pendapat lain yang mengatakan tak perlu nikah ulang, selama pernikahan itu dilakukan antara perempuan dan lakilaki, ayah dari anak tsb. Apakah ini termasuk aib yang harus ditutupi? Tidak boleh diketahui orang lain? bahkan keluarga dekat. Bagaimana dengan hak silaturahmi anak tersebut, juga hak kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari lingkungan terdekat (keluarga) juga perkembangan jiwa si anak - karena dia seakan ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Demikian, terima kasih atas jawabannya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Saya ingin menanyakan masalah yg berkaitan Zinah, hal ini sering kali ditanyakan oleh teman-teman saya namun saya masih bingung untuk menjelaskannya yaitu bagaimana hukumnya bagi seorang pasangan yg hamil duluan sebelum pernikahan dilaksanakan walaupun akhirnya mereka menikah. Karena saya pernah dengar bahwa jikalau seorang pasangan menikah karena kecelakaan maka setelah sijabang bayi lahir kedunia maka mereka wajib melaksanakan pernikahan sekali lagi bagaimana hal ini ditanggapi dalam agama Islam dan apakah ada cara lain yg membuat perkawinan mereka menjadi sah apalagi mereka menyesali dan bertobat atas kelakuan mereka terdahulu. Demikianlah pertanyaan saya semoga saudara-saudaraku di pesantren virtual bisa memberikan jawaban yg bisa saya jelaskan kepada teman-teman saya. Atas bantuannya semoga Allah memberikan ganjaran yg sepantasnya kepada saudara. Jawab: Para ulama dari keempat madzhab sepakat membolehkan perkawinan antara 2 insan yang berzina sebelumnya. Jadi tidak perlu diulangi akad pernikahannya setelah sang perempuan melahirkan anak. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran surat al-Nur ayat 3 : "Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak mengawini melainkan laki-laki yang berzina atau yang musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman". Adapun masalah status anak, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah, maka si anak sah dinasabkan pada si bapak. Namun jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan, maka anak ini tidak bisa langsung dinasabkan pada Bapaknya, kecuali jika si Bapak menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya. Yang menjadi perdebatan antar ulama adalah jika seorang laki-laki baik-baik mengawini seorang perempuan yang telah melakukan zina. Sebagian ulama seperti Imam Hasan al-Basri melarang hal tersebut dengan argumentasi dalil di atas yang jelas-jelas mengharamkan seorang perempuan yang berzina untuk menikah dengan

laki-laki mukmin. Sementara mayoritas ulama membolehkan perkawinan ini dengan berdasar pada ayat 24 surat al-Nisa`, "Dan dihalalkan bagi kamu sekalian selain yang demikian". (selain yang tersebut dalam daftar perempuan yang tidak boleh dinikahi, disini perempuan yang berzina tidak masuk kategori). Juga berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i dari Ibnu Abbas, diceritakan bahwa "Seorang laki-laki datang mengadu pada Nabi saw, "Isteriku tidak menjauhi tangan-tangan nakal (maksudnya berzina -red). Rasul pun menasehatinya, "Jauhilah dia!!" Laki-laki tadi menjawab, "Tapi saya kahwatir hatiku masih terikat padanya." Rasul menimpali, "(kalau begitu) pertahankan saja" (Nail al-Authar 6/145). Mayoritas ulama ini juga memberikan catatan-catatan sbb: 1- Madzhab Hanafy: Jika si perempuan yang berzina tersebut terbukti tidak hamil, maka akad pernikahannya sah. Dan jika si perempuan sudah hamil akad nikahnya sah juga, tapi si suami tidak boleh menggaulinya hingga ia melahirkan bayi hasil zinanya. 2- Madzhab Maliky: Tidak boleh menikahi seorang perempuan yang berzina kecuali setelah berlalu 3 bulan (3 masa haid). Kurang dari itu, perkawinannya batal, baik perempuan itu sudah hamil atau belum. 3- Madzhab Syafii : Membolehkan perkawinan tersebut dengan dalil hadis Aisyah di atas. 4- Madzhab Hanbaly: Boleh mengawini perempuan yang berzina, dengan 2 syarat: - Setelah masa 'iddah selesai, yaitu sampai si perempuan melahirkan. - Si perempuan bertaubat dari perbuatan haram tersebut. Tata cara perkawinannya tetap mengikuti prosedur biasa, yaitu dengan mendatangkan 2 saksi dan wali. Juga disunnahkan mengadakan walimah. Yang penting perkawinan tersebut telah memenuhi syarat-syarat pernikahan. Adapun nikah sirri, di mana wali, saksi dan kedua mempelai menyembunyikan perkawinan ini dari masyarakat walaupun keluarganya sendiri, menurut Imam Hanbal boleh-boleh saja meski makruh. Apakah perzinahan yang mereka lakukan itu adalah 'aib? Iya, 'aibnya tetap saja 'aib. Tak perlu diperbincangan. Bahkan dosa memperbincangkannya dengan nada mencemoohkan. Apalagi menghina. Karena apapun bentuk cemoohan dan hinaan itu tindakan berdosa. Kalau memang perlu diketahui, dan ada maslahat di situ, juga tak ada maksud lain kecuali kebaikan, ya tak apa-apa diberitahukan saja. Perlu disadari keluarganya, bukankah betapapun besarnya sebuah dosa, Allah swt. lebih luas pintu ampunannya? Perkawinan mereka sah. Tinggal yang terpenting mereka menyesali sedalam-dalamnya perbuatan dosanya itu, dan kini menjadi pasangan yang baik-baik. Sudah tak ada masalah. Anaknya yang hasil zina itu juga mempunyai hak yang sama dengan manusia biasa. Dia terlahir atas kehendak Allah, dalam keadaan fitri, tak punya dosa. Kamran As'ad Irsyady

Tanggapan dari Anda Assalamu'alaikum Saya seorang muslim berumur 20 tahun yang tinggal di Jakarta ingin menanyakan lebih lamjut kepada PV mengenai pernikahan dua orang yang berzina. Saya pernah mendengarkan ceramah seorang ustadzah terkenal di Indonesia bahwa memang pernikahannya sah secara hukum nikah akan tetapi secara moral belum. Ibarat kita ingin mengecat ulang tembok karena bernoda yang tidak dapat dihilangkan, maka cara terbaik adalah bukan dengan menimpa noda tersebut dengan cat baru dengan maksud menutupinya, akan tetapi kita mengerok tembok tersebut terutama pada noda hingga catnya bersih, barulah kita mengecatnya dengan cat yang kita inginkan. Begitu pula dengan pernikahan dua orang yang berzina, mereka memiliki aib dan noda yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan hukum Allah di dunia yaitu rajam, setelah mereka dirajam maka ibarat kita membersihkan noda dan mengerok cat di tembok tadi, mereka sudah suci kembali. Maka pernikahan yang mereka lakukan setelah dirajam akan membuat mereka tidak termasuk pezina yang menikahi pezina akan tetapi menjadi mukmin yang menikah dengan mukminah. Bagaimana pendapat Anda? Tanggapan: Terima kasih atas tanggapan Anda. Ada beberapa hal yang urgen kita diskusikan lagi, 1Islam adalah agama toleran, noda sehitam apapun dapat hilang dengan kebaikan, bahkan noda tersebut memang harus ditimpa dengan kebaikan. Allah berfirman dalam surat al-Anfal:8/38, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu". Rasulullah dalam sebuah hadits juga menyatan, "Bertaqwalah dimana kamu berada. Ikutilah kejelekan (yang telah kamu perbuat) dengan kebaikan, maka (kebaikan itu) akan menghapusnya". 2- Islam adalah agama yang menjunjung tinggi penegakan hukum, akan tetapi syariat Islam juga mengenal mekanisme taubat dan dispensasi bahkan bebas hukum. Syehk Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam kitab A`lam al-Muwaqi`in mengatakan bahwa Allah menjadikan hudud (vonis) sebagai hukuman bagi para pelaku kejahatan, namun Dia (Allah) membebaskan pelaku kejahatan yang bertaubat nashuha secara syara` dan ketentuan hukum. Dengan demikian, tidak ada sama sekali dalam syariat Allah mengenai vonis hukuman bagi orang yang bertaubat. Dalam al-Quran dan hadits banyak sekali kita jumpai statemen Allah dan RasulNya yang pada intinya mengungkapkan Maha Kasihnya Allah bagi orang-orang yang bertaubat bahwa orang yang bertaubat dari dosa statusnya seperti orang yang tidak berdosa. (Lihat alMaidah:5/39, Al-Anfal:8/37, Al-Nisa:4/16). Bahkan secara spesifik dan lugas, al-Qur'an menegaskan pembebasan vonis zina dengan taubat sebagaimana firman Allah dalam alNisa: 4/16, "Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Namun jika kemudian mereka bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang". Tersebut juga dalam Shahih Bukhori dan Muslim sebuah hadits riwayat Anas bin Malik, dia berkata, "Saya bersama Rasul saw, kemudian ada seorang laki-laki datang dan berkata: 'Saya telah berbuat kejahatan yang berhak divonis had, laksanakanlah

hukuman atas saya'. Rasulpun tidak menanyakan apa-apa, kemudian datanglah waktu salat. Laki-laki tersebut pun kemudian salat bersama Nabi saw. Setelah selesai salat, laki-laki itu menghadap Rasul dan mengulangi pengakuannya. Rasulpun berkata, 'Bukankah kamu tadi salat bersama kami?'. Dijawab: 'Iya.' Rasulpun bersabda, 'Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa kamu.' Sebagai catatan, memang ada pendapat tegas yang mengatakan bahwa taubat tidak bisa menggugurkan seluruh vonis had yang khusus menyangkut 'hak' Allah, seperti zina, pencurian, minum khamr, baik setelah diajukan di pengadilan ataupun belum, sebab jika dibolehkan pengguguran vonis had dengan hanya taubat, maka tentunya setiap penjahat bisa saja bebas dari hukuman dengan hanya mengaku bertaubat. Dan ini tentunya malah akan lebih mendorong tumbuhnya kejahatan. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Malikiyyah, Syafi'iyah, Zhahiriyyah, Zaidiyah dan Ibazhiyyah. Namun berpijak dari ekplisit ayat-ayat al-Quran dan hadis, serta berpegang dengan asas penutupan aib dalam Islam -apalagi dalam konteks hukum Indonesia yang lebih menitik-beratkan pada hukum konvensional, kami lebih memilih pembebasan vonis had zina dengan taubat selama memang benar-benar ikhlas demi kemaslahatan dibuktikan dengan perkawinan antara keduanya, apalagi perbuatan zina tersebut tidak menyangkut hak-hak individu orang lain. 3- Islam mempunyai 2 vonis hukuman bagi pezina, yaitu rajam (bagi pezina yang sudah menikah) dan jilid seratus kali (bagi pezina yang belum menikah). 4- Adapun masalah status keimanan pezina setelah divonis hukuman had, ia memang telah benar-benar seorang mukmin/mukminah bukan fasiq lagi. Seorang pezina yang sudah dirajam/jilid, ia memang sudah terbebas dari konsekuensi vonis Allah, tapi ia masih mempunyai beban konsekuensi kemanusian atas anak hasil hubungan mereka. Maka sebagai realisasi tanggung jawab kemanusian (hablun minannas) dan demi menghindarkan kesemrawutan penasaban si jabang bayi hasil perzinahan tersebut, maka Islam secara bijak mengatur mekanisme perkawinan antar-pezina, di samping sebagai apresiasi taubat nashuha dengan menutupinya dengan berbuat kebaikan. Wassalam Kamran Asad Irsyady

http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=97& Itemid=19 Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah Dikirim oleh Kontributor Special || Kamis, 08 Juni 2006 - Pukul: 13:07 WIB Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu tidak memiliki bapak, meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang mena-burkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini tidak dianggap, karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. Jadi anak itu tidak berbapak. (Al Mabsuth 17/154, Asy Syarhul Kabir 3/412, Al Kharsyi 6/101, Al Qawanin hal : 338, dan Ar Raudlah 6/44. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828.)

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: "Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)." (HR: Al-Bukhari dan Muslim) Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya, keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasab-kan kepada pemilik firasy. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. (Taudlihul Ahkam 5/103.) Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth, "Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya, maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya, berdasarkan sabda Rasulullah: "Anak itu bagi pemilik firasy, dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)" (HR: Al Bukhari dan Muslim) Rasulullah telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina, yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina, sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Al Mabsuth 17/154) Ibnu Abdil Barr berkata, Nabi bersabda, "Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam." (At Tamhid 6/183 dari At Taisir) Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka :
• •

Anak itu tidak berbapak. Anak itu tidak saling mewarisi de-ngan laki-laki itu.

Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali. Rasulullah bersabda, "Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?" (Hadits hasan Riwayat Asy Syafi\'iy, Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi dan Ibnu Majah.) Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra dengan satu kali haidh, lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak, atau dinikahi sewaktu hamil, kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir, wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah, maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah, baik karena taqlid kepada orang yang memboleh-kannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa

pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya, maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama, berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. (Al-Mughniy 6/455.) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa, beliau berkata, ? Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah), maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui, meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan Rasul-Nya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). (Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104) Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta\'ala, sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/20769 Konsultasi : Ibadah batas Batas Zina Pertanyaan: Assalamualaikum Wr.Wb

Saya Ingin bertanya, sebenarnya yang dimaksud zina tuh apa? dan apa batas batas nya? apakah berpegangan tangan juga sudah termasuk zina?

terimakasih Ikhsan Jawaban: Assalamu alaikum wr.wb. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Saudara Ikhsan, zina adalah hubungan seksual atau kelamin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang belum atau tidak memiliki ikatan pernikahan.Hubungan seksual yang dimaksud menurut Abdul Qadir Audah adalah memasukkan penis meskipun hanya sebagian ke dalam vagina, baik itu menyebabkan sperma keluar maupun tidak. Sementara menurut ulama madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali hubungan sesksual tersebut tidak hanya dilakukan pada vagina, tetapi juga pada dubur. Menurut mereka,

status hukum dari hubungan seksual yang dilakukan pada vagina dan dubur adalah sama. Keduanya dikatakan zina. Nah, Islam memandang zina di atas bukan hanya sebagai dosa besar; tetapi juga sebagai tindakan yang akan membuka gerbang berbagai perbuatan memalukan lainnya, akan menghancurkan pilar-pilar keluarga, akan mendatangkan perselisihan dan pembunuhan, meruntuhkan nama baik, serta menyebarluaskan sejumlah penyakit baik jasmani maupun rohani. Karena itu Allah befirman, "Janganlah kalian mendekati zina. Sebab zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk" (QS 17: 32). Hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah adalah dera atau cambuk sebanyak seratus kali. Sementara, hukuman bagi pelaku zina yang sudah menikah adalah rajam (dilempari batu sampai mati). Dalilnya adalah sabda Rasul saw. yang berbunyi,"Ambillah oleh kalian dari-Ku dan terimalah ketentuan-Ku. Sungguh kini Allah telah menetapkan keputusan bagi mereka yang berzina hukumannya adalah cambuk seratus kali serta diasingkan (dipenjarakan) selama satu tahun. Sedangkan bagi pezina yang telah menikah dicambuk seratus kali cambukan dan dirajam sampai mati" (HR Bukhori). Walaupun demikian ada pula yang berpendapat bahwa keduanya (baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah sama-sama dihukum dengan cambuk sebanyak seratus kali sesuai dengan makna lahiriah surat an-Nur ayat 2. Dengan demikian, zina semacam itulah yang mendapatkan hukuman cambuk dan rajam.Hanya saja, perbuatan memperturutkan hawa nafsu dan syahwat dengan cara yang salah dan mendekati bentuk perzinahan di atas juga menurut sebagian ulama juga termasuk zina dan dosa meskipun tidak mendapatkan hukuman seperti di atas.Misalnya melihat wanita dengan syahwat disebut dengan zina mata, mendengar suara wanita yang bukan istrinya dengan disertai syahwat disebut zina telinga, dan seterusnya termasuk di dalamnya memegang dan menyentuh wanita yang bukan mahramnya.Jika hal itu dilakukan berarti telah melakukan dosa dan harus bertobat kepada Allah Swt. Wallahu a'lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr.wb.

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=974 &Itemid=30 Nasab Anak yang Dinikahi Waktu Hamil Ditulis oleh Dewan Asatidz Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang hamil karena zina? Yth. Pengasuh Rubrik Tanya Jawab Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sungguh, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Bapak untuk menjawab pertanyaan saya beberapa

waktu yang lalu. Sekarang, ada satu persoalan yang membuat saya bingung: Saat ini, barangkali sudah tidak begitu asing dengan adanya perempuan yang hamil di luar nikah (meski jelas ini adalah perbuatan zina). Dan sebagai tindak lanjut dari keadaan yang sudah terlanjur tersebut orang biasanya melakukan aborsi (saya sudah tahu bahwa yang semacam ini adalah termasuk pembunuhan) atau melakukan pernikahan. Pertanyaan saya, apakah pernikahannya ini sah? sebab, ada ustadz yang bilang bahwa pernikahannya ini tidak sah sebab harus menunggu bayi itu lahir dan baru menikah. tapi, yang seperti ini sepertinya tidak lazim dan malah membuat malu (aib) di kalangan masyarakat kita. Bagaimana ini Bapak? sebab, kasus ini memang terjadi di tetangga saya, dan sebagian orang yang percaya terhadap ungkapan ustadz tersebut (barangkali didukung dengan hadits Nabis SAW) menganggap bahwa pernikahan tetangga saya tersebut tidak sah. katanya, ketika anaknya sudah lahir kelak, ia harus menikah ulang lagi. lho, pertanyaan saya, berarti pernikahaan kemarin hanya mainmain dong, apakah boleh main-main dengan agama? berarti hubungan yang dijalin selama belum nikah ulang berarti zina dong (karena belum sah) Sungguh, atas jawabannya (bagaimana dengan pada zaman Nabi SAW) dihaturkan banyak terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Harianto Widodo Jawaban: Assalamualaikum Wr.Wb, Saudara Harianto yang baik, Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang hamil karena zina? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang secara ketat tidak memperbolehkan, ada pula yang menekankan pada penyelesaian masalah tanpa mengurangi kehati-hatian mereka. Sejalan dengan sikap para ulama itu, ketentuan hukum Islam menjaga batas-batas pergaulan masyarakat yang sopan dan memberikan ketenangan dan rasa aman. Patuh terhadap ketentuan hukum Islam, insya Allah akan mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat. Dalam Impres No. 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam(KHI), Bab VIII Kawin Hamil sama dengan persoalan menikahkan wanita hamil. Pasal 53 dari BAB tersebut berisi tiga(3) ayat , yaitu : 1. Seorang wanita hamil di laur nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya. 2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat(1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya. 3. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Persoalan menikahkan wanita hamil apabila dilihat dari KHI, penyelesaiaanya jelas dan sederhana cukup dengan satu pasal dan tiga ayat. Yang menikahi wanita hamil adalah pria yang menghamilinya, hal ini termasuk penangkalan terhadap terjadinya pergaulan bebas, juga dalam pertunangan. Asas pembolehan pernikahan wanita hamil ini dimaksudkan untuk memberi perlindungan kepastian hukum kepada anak yang ada dalam kandungan, dan logikanya untuk mengakhiri status anak zina. Dalam kasus wanita hamil yang akan menikah dengan laki-laki lain yang tidak menghamilinya, ada dua pendapat yaitu : pertama, harus menunggu sampai kelahiran anak yang dikandung wanita tersebut. Dan status anak yang dilahirkan kelak, dapat dianggap sebagai anak laki-laki yang mengawini wanita tersebut dengan kesepakatan kedua belah pihak. Kedua, siapapun pria yang mengawini dianggap benar sebagai pria yang menghamili, kecuali wanita tersebut menyanggahnya. Ini pendapat ulama Hanafi yang menyatakan bahwa menetapkan adanya nasab (keturunan) terhadap seorang anak adalah lebih baik dibanding dengan menganggap seorang anak tanpa keturunan alias anak haram. Perkawinan dalam kasus ini dapat dilangsungkan tanpa menunggu kelahiran bayi, dan anak yang dikandung dianggap mempunyai hubungan darah dan hukum yang sah dengan pria yang mengawini wanita tersebut. Di sinilah letak kompromistis antara hukum Islam dan hukum adat dengan menimbang

pada kemaslahatan, aspek sosiologis dan psikologis. Sebagai akhir dari penjelasan ini adalah pembolehan Jumhur ulama berdasar pada hadis 'Aisyah dari Ath-Thobary dan ad-Daruquthny, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan dan ia mau mengawininya. Beliau berkata:"Awalnya zina akhirnya nikah, dan yang haram itu tidak mengharamkan yang halal."Sahabat yang mebolehkan nikah wanita berzina adalah Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas yang disebut madzab Jumhur. (Ali Assobuny/I/hlm49-50). Demikian penjelasan saya, semoga Allah menjauhkan kita dan saudara-saudara kita dari perbuatan dosa, Amien. Wassalamulaikum , Kuni Khairunnisa

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/11389 Konsultasi : Nikah Cara Berhenti Zinah ? Pertanyaan: Assalamualaikum Wr Wb selamat malam pak ustad, langsung to the point saja, saya adalah seorang yang telah beberapa kali berzina, saya tau perbuataan ini adalah perbuatan hina dan dibenci Allah, saya pernah taubat karena takut akan siksa Allah kepada orang2 yang berzina, tapi selang beberapa waktu saya kembali berzina lagi, tolong bimbingan pak ustad, bagimana saya bisa menjauhkan diri saya dari zina ini sebelum saya terlalu jauh. Saya ingin sekali berhenti tetapi hati saya masih suka goyah dan kembali terjerumus kembali ke perbuatan hina tersebut. tolong bantuan pak ustad. Waalikumsalam Wr Wb Hamba Allah Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Anda memang sudah waktunya untuk bertaubat untuk terakhir kalinya. Sebab Anda tidak pernah tahu kapankah Allah SWT akan mencabut nyawa Anda. Bisa saja dalam waktu sebulan lagi, atau seminggu lagi atau malah dua tiga hari lagi. Bahkan bisa saja sekarang ini nyawa Anda dijemput malaikat Izrail. Malaikat yang satu ini tidak pernah merasa punya kewajiban untuk memberikan info sebelumnya bahwa dia akan segera mencabut nyawa seseorang. Dia bisa datang kapan saja tanpa ba` bu` lagi. Tinggal masalahnya kembali kepada kita ini, apakah kita sudah siap untuk menghadap Allah dengan segala dosa yang belepotan ini ?. Sudah

siapkan kita mempertanggung-jawabkan semua kelakuan tak bermoral kita ini di hadapan Sang Maha Adil ? Tahankah kulit kita ini untuk dibakar api neraka yang panas membakar ? Maka dari itu, selagi kesempatan taubat nashuha masih ada, selagi ajal belum sampai batang tenggorok dan selagi semua belum terlambat, taubatlah untuk yang terakhir kalinya. Dan jauhilah semua hal yang membawa Anda tergoda kembali melakukan zina. Tinggalkan semua teman perempuan Anda. Batasi pergaulan dengan mereka sebatas yang memang dibolehkan saja. Jangan berduaan tanpa mahram, jangan melihat aurat mereka, jangan berikan peluang syetan untukmenggoda iman Anda. Sebaiknya Anda bergaul dengan teman laki-laki. Semua itu adalah jalan-jalan untuk menjauhi zina. Apalah artinya air mata penyesalan bila kita tidak merubah ruang pergaulan kita dengan teman-teman yang kuat imannya. Tinggalkan jauh-jauh teman-teman Anda yang selama ini hanya membiarkan Anda berzina. Carilah teman yang beriman dan bertakwa yang akan selalu mengingatkan Anda untuk menjauhi zina. Tinggalkan semua wanita yang bisa dan biasa Anda ajak berzina. Bila Anda belum beristri, maka menikah sudah fardhu `ain hukumnya bagi Anda. Carilah wanita shalihah yang menarik hati Anda. Dia akan menjaga kecintaan Anda dan mencegah Anda dari perbuatan terkutuk itu. Terakhir, semoga Allah SWT melapangkan hati Anda dan membukakan pintu-pintu hidayah-Nya. Dan tentunya semoga Allah SWT menerima taubat Anda dan dijauhkan dari neraka. Amien Ya Rabbal Alamin. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg07562.html [media-dakwah] STATUS ANAK ZINA yudith intanwidya Wed, 09 Aug 2006 03:56:24 -0700 Assalamu'alaikum wr wb Aduh, afwan baru bangun neh.... lom gitu ngeh apa maksudnya. Emang ada ya yg namanya "anak haram". Kok bisa sih disebut "anak haram"? Yang haram itu yg mananya? Kenapa anak yg baru lahir itu yg nanggung sebutan "haram"? Bukankah yg haram itu kelakuan emak dan bapak si jabang bayi itu?? Setau saya, anak yg lahir walaupun tanpa nasab itu adalah masih menyandang nasab ibunya. Contohnya : nabi Isa a.s , nasabnya kan Isa bin Maryam (klo gk

salah inget neh) Afwan klo rada tulalit. Mohon penjelasan lbh lajut. Jazakumullah.... Wassalamu'alaikum wr wb Henny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saat ini, barangkali sudah tidak begitu asing dengan adanya perempuan yang hamil di luar nikah (meski jelas ini adalah perbuatan zina). Dan sebagai tindak lanjut dari keadaan yang sudah terlanjur tersebut orang biasanya melakukan aborsi (saya sudah tahu bahwa yang semacam ini adalah termasuk pembunuhan) atau melakukan pernikahan. Pertanyaannya, apakah pernikahannya ini sah? Ada ustadz yang bilang bahwa pernikahannya ini tidak sah sebab harus menunggu bayi itu lahir dan baru menikah. tapi, yang seperti ini sepertinya tidak lazim dan malah membuat malu (aib) di kalangan masyarakat kita. Ada ustadz berpendapat atau (barangkali didukung dengan hadits Nabis SAW) menganggap bahwa pernikahan tetangga saya tersebut tidak sah. katanya, ketika anaknya sudah lahir kelak, ia harus menikah ulang lagi. lho, berarti pernikahaan kemarin hanya main-main dong, apakah boleh main-main dengan agama? berarti hubungan yang dijalin selama belum nikah ulang berarti zina dong (karena belum sah) Pencarian tentang ayat-ayat, hadis dan pendapat ulama mengenai permasalahan ini Saya rangkum sbb : Tentang hamil diluar nikah sendiri sudah kita ketahui sebagai perbuatan zina baik oleh pria yang menghamilinya maupun wanita yang hamil. Dan itu merupakan dosa besar. QS 17 : 32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. QS 24 : 2. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. QS 3 : 135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[*], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[*]. Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil. Persoalannya adalah bolehkah menikahkan wanita yang hamil karena zina? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang secara ketat tidak memperbolehkan, ada pula yang menekankan pada penyelesaian masalah tanpa mengurangi kehati-hatian mereka. Sejalan dengan sikap para ulama itu, ketentuan hukum Islam menjaga batas-batas pergaulan masyarakat yang sopan dan memberikan ketenangan dan rasa aman. Patuh terhadap ketentuan hukum Islam, insya Allah akan mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat. Dalam kasus wanita hamil yang akan menikah dengan laki-laki lain yang tidak menghamilinya, ada dua pendapat yaitu : pertama, harus menunggu sampai kelahiran anak yang dikandung wanita tersebut. Dan status anak yang dilahirkan kelak, dapat dianggap sebagai anak laki-laki yang mengawini wanita tersebut dengan kesepakatan kedua belah pihak. Kedua, siapapun pria yang mengawini dianggap benar sebagai pria yang menghamili, kecuali wanita tersebut menyanggahnya. Ini pendapat ulama Hanafi yang menyatakan bahwa menetapkan adanya nasab (keturunan) terhadap seorang anak adalah lebih baik dibanding dengan menganggap seorang anak tanpa keturunan alias anak haram. Perkawinan dalam kasus ini dapat dilangsungkan tanpa menunggu kelahiran bayi, dan anak yang dikandung dianggap mempunyai hubungan darah dan hukum yang sah dengan pria yang mengawini wanita tersebut. Di sinilah letak kompromistis antara hukum Islam dan hukum adat dengan menimbang pada kemaslahatan, aspek sosiologis dan psikologis. Sebagai akhir dari penjelasan ini adalah pembolehan Jumhur ulama berdasar pada hadis 'Aisyah dari Ath-Thobary dan ad-Daruquthny, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan dan ia mau mengawininya. Beliau berkata:"Awalnya zina akhirnya nikah, dan yang haram itu tidak mengharamkan yang halal."Sahabat yang mebolehkan nikah wanita berzina adalah Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas yang disebut madzab Jumhur. (Ali Assobuny/I/hlm49-50). Nasab anak Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Sa`ad bin Abu Waqqash dan Abdu bin Zam`ah terlibat perselisihan mengenai seorang anak. Kata Sa`ad: Ini adalah anak saudaraku `Utbah bin Abu Waqqash, yang dia amanatkan kepadaku, dia adalah putranya, perhatikanlah kemiripannya! Abdu bin Zam`ah menyangkal dan mengatakan: Dia ini saudaraku, wahai Rasulullah! Dia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak perempuannya. Sejenak Rasulullah saw. memperhatikan kemiripan anak itu, memang ada kemiripan yang jelas dengan Utbah. Kemudian beliau bersabda: Dia adalah untukmu, wahai Abdu. Nasab seorang anak itu dari perkawinan yang sah, dan bagi pezina itu adalah batu rajam. Hindarilah wahai Saudah binti Zam`ah dari perkara tersebut! (HR Bukhari & Muslim).

Anak angkat atau anak di luar nikah adalah haram menasabkannya kepada seseorang yang tidak bersambung nasab dengan anak tersebut. Larangan menasabkan anak kepada orang yang bukan bapanya yang sebenar dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wata‘ala dalam firmanNya: (Surah Al-Ahzâb: 4-5) 4. Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). 5. Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Perempuan (isteri) yang mengandung bukan melalui pernikahan yang sah atau bukan dengan suaminya, kemudian perempuan itu menasabkan kanak-kanak yang lahir daripada kandungannya itu kepada suaminya, dia telah membuat dosa yang sangat besar serta melakukan pembohongan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Abu Daud daripada Sa‘ad bin Abi Waqqas Radhiallahu ‘anhu, bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata: Kedua telingaku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang mengakui seseorang dalam Islam sebagai ayah, sedangkan ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, maka diharamkan baginya surga (HR Muslim 95) Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Nasab anak itu dari perkawinan yang sah sedangkan bagi pezina itu adalah batu rajam (HR Muslim 2646) Maksudnya: “Anak itu bagi siapa yang menggauli ibunya (dalam nikah yang sah).” (Diriwayatkan oleh Jamaah melainkan at-Tirmidzi) Para ulama telah ijmâ‘ bahwa tempo minimum seorang wanita itu hamil dan melahirkan anak ialah enam bulan. Penentuan enam bulan itu berdasarkan maksud 2 ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang masa hamil (tempo mengandung) dan penyusuan. Firman Allah Subhanahu Wata‘ala: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh

bulan, (Surah Al-Ahqâf: 15) Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Surah Luqman: 14) Ke-2 ayat diatas, jika dilihat menyatakan tempo penyusuan anak adalah 2 tahun atau 30 bulan (dari sejak hamil hingga melahirkan 30 bulan – masa menyusui 24 bulan = masa hamil 6 bulan). Asy-Syeikh Mohammad Ali ash-Shabuni dalam kitabnya Rawâi‘ al-Bayân menyebutkan bahawa telah diriwayatkan, bahwa seorang perempuan menikah, kemudian melahirkan anak setelah enam bulan daripada perkawinannya. Dia dihadapkan kepada khalifah Utsman Radhiallahu ‘anhu. Beliau akan merejam perempuan tersebut, tetapi Ibnu Abbas berkata kepada Utsman: “Perempuan ini, jika dia menentang kamu dengan kitab Allah, kamu akan kalah. Allah berfirman (Surah Al-Ahqâf: 15; Surah Luqman: 14) Begitu pula sebaliknya, jikalau anak tersebut lahir kurang daripada enam bulan, maka anak tersebut tidaklah bersambung nasabnya dengan suami atau tidak boleh dinasabkan kepada suami wanita yang melahirkan anak tersebut. Dia dinasabkan kepada ibunya yang melahirkannya saja dan jika hendak dibinkan atau dibintikan bolehlah kepada ibunya atau kepada nama Abdullah atau salah satu daripada Asmâ’ullah al-Husna. Tersebut dalam kitab Hâsyiah al-Baijuri ‘alâ Fath al-Qarîb dan dalam kitab al-Tuhfah karangan al-Imam Ibnu Hajar bahwa enam bulan itu setiap bulan dihitung 30 hari. Ini berarti enam bulan itu ialah 180 hari dan dua lahzhah ialah tempo wathi‘ dan tempo mengeluarkan anak. Pendapat ulama Syafie, 180 hari itulah juga yang menjadi pendapat jumhûr ulama, kecuali Imam Malik yang menyatakan 175 hari. Bahkan terdapat sebagian negara seperti Syria telah menetapkan dalam undang-undangnya bahwa tempo minimum hamil atau mengandung itu ialah 180 hari. (lihat Fiqh al-Islami wa Adillatuh 7/678) Pengiraan 180 hari itu adalah bermula dari waktu suami isteri itu boleh bersatu yang memungkinkan anak itu lahir daripada benih suami berkenaan setelah akad nikah yang betul (sah). Oleh karena itu, anak-anak yang lahir kurang dari 180 hari atau 6 bulan sejak tanggal pernikahan suami istri maka tidak boleh di bin dan bintikan kepada suami perempuan tersebut. Berkata Dr. Sobri Abdul Rauf iaitu seorang Ustaz Fiqh al-Muqaran di University al-Azhar : "Jika lelaki yang berzina kawin dengan perempuan yang berzina dengannya,

kemudian mereka memperolehi anak selepas 6 bulan daripada al-Dukhul al-Syar'ie. Maka anak itu dinasabkan kepada bapaknya, karena ia datang dari jalan yang dibenarkan. Adapun jika ia dilahirkan sebelum tempoh 6 bulan dari tarikh al-Dukhul, maka anak itu tidak dinasabkan kepada suaminya, maka ia dinasabkan kepada ibunya saja. Apabila wanita itu menegaskan bahwasanya ia telah hamil dari perbuatan zina dgn lelaki yang sama yang menikahinya selepas kehamilan. Maka anak tersebut adalah anak zina, maka ia tidak dinasabkan kepada bapanya, dan tidak mewarisi antara bapa dan anaknya itu, ia hanya waris ibunya saja...." wallahu a'lam. abdulkadir k_Scholar/FatwaA/FatwaA&cid=1122528614604> http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?pagename=IslamOnline-Arabic-Ask _Scholar/FatwaA/FatwaA&cid=1122528614604 Akan tetapi mereka yang berpendapat tentang kebolehan menikahnya seorang wanita yang berzinah dengan laki-laki yang bukan menzinahinya dalam beberapa hal; 1. Fuqoha Hanafiyah menyatakan: Jika wanita yang berzina tidak hamil. Maka aqad nikahnya dengan laki-laki yang bukan menzinahinya adalah sah. Demikian juga jika si wanita tersebut sedang hamil, demikian menurut Abu Hanifah dan Muhammad. Akan tetapi ia tidak boleh menggaulinya selama belum melahirkan. Dengan dalil sebagain berikut: a. perempuan yang berzina tidak termasuk wanita yang haram dinikahi. Oleh karena itu hukumnya mubah (boleh) dan termasuk dalam firman-Nya: Dan kami menghalalkan bagi kalian selain dari itu (an-Nisaa: 24) b. Tidak ada keharaman karena disebabkan air (sperma) hasil zina. Dengan dalil hal tersebut tidak bisa menjadi sebab penasaban anak tersebut kepada bapaknya. Oleh karena itu zina tidak bisa menjadi penghalang pernikahan. Adapun sebab tidak bolehnya laki-laki tersebut menggauli wanita tersebut sampai ia melahirkan, adalah sabda Rasulullah SAW : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain (HR Abu Daud dan at- Tirmidzy) yang dimaksud adalah wanita hamil disebabkan orang lain. 2. Abu Yusuf dan Zufar berpendapat: tidak bolah melakukan aqad nikah terhadap wanita yang hamil karena zina. Karena kehamilan tersebut menghalanginya untuk menggauli wanita tersebut dan juga menghalangi aqad dengannya. Sebagimana halnya kehamilan yang sah, yaitu; sebagaimana tidak bolehnya melaksanakan aqad nikah dengan wanita yang hamil bukan karena zina maka dengan wanita yang hamil karena zina pun tidak sah. 3. Fuqoha Malikiyah menyatakan: tidak boleh melaksanakan aqad nikah dengan

wanita yang berzina sebelum diketahui bahwa wanita tersebut tidak sedang hamil (istibraa), hal tersebut diketahui dengah haid sebanyak tiga kali atau ditunggui tiga bulan. Karena aqad dengannya sebelum istibra adalah aqad yang fasid dan harus digugurkan. Baik sudah nampak tanda-tanda kehamilan atau belum karena dua sebab, pertama adalah kehamilannya sebagimana hadits janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain atau dikhawtirkan dapat tercampurnya nasab jika belum nampak tanda-tanda kehamilan. 4. Fuqoha Syafiiyah: Jika ia berzina dengan seorang wanita, maka tidak diharamkan menikah dengannya, hal tersebut berdasar pada firman Allah: Dan kami menghalalkan bagi kalian selain dari itu (an-Nisaa: 24) juga sabda Rasulullah SAW : sesuatu yang haram tidak dapat mengharamkan yang halal 5. Fuqoha Hanabilah berpendapat jika seorang wanita berzinah maka tidak boleh bagi laki-laki yang mengetahu hal tersebut menikahinya, kecuali dengan dua syarat: a. Selesai masa iddahnya dengan dalil di atas, janganlah ia menyirami dengan airnya ladang orang lain dan hadit shohih Wanita yang hamil tidak boleh digauli sampai ia melahirkan b. Wanita tersebut bertaubat dari zinanya berdasarkan firman Allah SWT: dan hal tersebut diharamkan bagi orang-orang mumin (an-Nur: 3) dan ayat tersebut berlaku sebelum ia bertaubat. Jika sudah bertaubat hilanglah keharaman menikahinya sebab Rasulullah SAW bersabda: Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak memiliki dosa Jika hukum hudud belum diterapkan di negeri ini, maka orang yang melakukannya harus banyak beristigfar dan segera bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, dan tidak boleh mengulangi lagi hal tersebut. Karena tidak mungkin orang tersebut melakukan hukuman hudud atau dirinya sendiri. Karena hukum hudud harus dilaksanakn oleh negara dalam hal ini mahkamah khusus yang telah ditunjuk. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. sumber: Syariahonline Status Anak Zina Di Akhirat Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Anak zina itu menyimpan 3 keburukan” [Hadits Riwayat Ahmad dan Abu Daud]

Sebagian ulama menjelaskan, maksudnya dia buruk dari aspek asal-usul dan unsur pembentukannya, garis nasab, dan kelahirannya. Penjelasannya, dia merupakan kombinasi dari sperma dan ovum pezina, satu jenis cairan yang menjijikkan (karena dari pezina) sementara gen itu terus menjalar turun temurun, dikhawatirkan keburukan tersebut akan berpengaruh pada dirinya untuk melakukan kejahatan. Dalam konteks inilah, Allah menepis potensi negative dari pribadi Maryam dengan firmaNya. “Artinya : Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina” [Maryam : 28] Walaupun demikian adanya, dia tidak dibebani dosa orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” [Al-An’am : 164] Pada prinsipnya, dosa dan sanksi zina di dunia dan akhirat hanya ditanggung oleh orang tuanya. Tetapi dikhawatirkan sifat bawaan yang negative itu akan terwarisi dan akan membawanya untuk berbuat buruk dan kerusakan. Namun hal ini tidak selalu menjadi acuan, kadangkala Allah akan mempebaikinya sehingga menjadi manusia yang alim, bertakwa lagi wara’, dengan demikian menjadi satu kombinasi yang terdiri atas tiga komponen yang baik. Wallahu a’alam. [Fatawa Islamiyah 4/125] [Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu] Jika anak zina itu adalah perempuan jika tiba masa anak itu menikah, beliau berkemungkinan tidak boleh diwalikan oleh bapaknya. Tidak ada masalah perwalian bagi anak lelaki. Perlu diterangkan di sini bahwa tidak ada halangan bagi bapaknya untuk bertanggungjawab atas anak tersebut dengan membiayai perbelanjaan kehidupan anak.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/5/cn/11163 Konsultasi : Nikah Hukum Cambuk Bagi Pezina Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warrahmatullah.. Pak Uztad, saya ingin bertanya sekaligus berkeluh kesah. Pada masa lampau saya pernah melakukan perbuatan keji dan termasuk dosa yang teramat besar, yaitu berzina. Sampe sekarang perbuatan itu masih menghantui saya. Insyaallah saya sudah tobat nasyuha. Saya alhamdulillah sudah merasa dekat dengan Allah sekarang. Setiap kali sholat saya bisa merasakan kedekatan denganNya. Dan juga dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Namun bagaimanapun juga, perbuatan zina yang telah saya lakukan dimasa lalu masih mengganjal dalam hati saya. Saya tahu Allah maha pengampun dan penyayang. Jika mengingat kedekatan saya dengan Allah sekarang ini saya terkadang yakin bahwa Dia mengampuni saya. Tapi kalau ingat bahwa zina adalah perbuatan yang termasuk dosa besar dan ada hukumannya (yaitu cambuk) maka saya merasa ada yang mengganjal. Saya ingin bertanya mengenai hukuman cambuk ini. Apakah jika sudah dihukum cambuk berarti dosa kita bisa diampuni sepenuhnya oleh Allah? Kemudian siapa yang berhak mencambuk kita? Apakah saya boleh menunjuk seorang teman dan melakukan hukuman cambuk itu dengan rahasia? Karena dalam hal ini tidak banyak orang yang tahu mengenai perbuatan zina saya. Saya tidak ingin orang tua saya tahu mengenai hal ini, karena akan menghancurkan kebanggan mereka terhadap saya. Mengingat mereka sudah tua, saya tidak ingin melukai hati mereka dengan perbuatan saya yang hina di masa lalu. Pak Uztad, saya mohon penjelasan atas kegundahan hati saya. Wassalamu'alaikum warrahmatullah Hamba Allah Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d. Hukuman cambuk 100 kali atau rajam bagi pelaku zina adalah ketetapan (hudud) dari Allah SWT yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hukum cambuk 100 kali bagi pelaku zina yang belum pernah menikah dan rajam (dilempari batu hingga mati) bagi pelaku zina yang sudah pernah menikah sebelumnya. Dan pelaksanaan hukuman itu menjadi bagian rangkaian taubatnya seseorang. Artinya, belumlah lengkap taubat seorang pelaku zina manakala belum menjalani hukuman cambuk / rajam. Tentunya bila yang bersangkutan berada di dalam wilayah huku Islam yang menerapkan hukum hudud. Namun semata-mata menjalani hukuman cambuk / rajam saja tanpa didasari dengan taubat, tidaklah akan menghilangkan dosa zina. Tetapi perlu dipahami bahwa hukum cambuk atau rajam hanya boleh dilakukan oleh sebuah mahkamah syar`iyah yang formal dan legitimate. Artinya, berlakunya hukum itu harus diakui secara syah dan formal di dalam suatu negara, meski barangkali wujud sebuah negara itu belum 100 % berbentuk negara Islam. Dengan demikian, tindakan

eksekusi cambuk atau rajam yang dilakukan oleh perorangan, kelompok pengajian, jamaah, ormas atau pesantren tertentu, tidak bisa dibenarkan dalam hukum syariah. Sebab pelaksananya haruslah seorang penguasa negara, yang kemudian dia bisa mewakilkannya kepada para hakim yang resmi diangkat oleh negara itu. Selain itu, di dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa hanya zina yang dilakukan di wilayah hukum Islam saja-lah yang bisa diproses dan divonis sesuai hukum Islam. Bila zina dilakukan di luar wilayah hukum Islam, maka pengadilan / mahkamah syar`iyah tidak berhak melakukan proses hukum pada kasus itu, sebab terjadi di luar wilayah hukumnya. Maka dalam kasus Anda, vonis dan eksekusi hukum cambuk atau rajam tidak mungkin dilakukan, karena Anda tinggal di Indonesia yang pemerintahnya secara resmi menolak hukum Islam, nauzu billahi min zalik. Maka yang bisa Anda lakukan hanyalah bertaubat saja kepada Allah SWT, minta ampun sejadi-jadinya dan menyesali semua perbuatan zina itu. Dan tentunya yang paling utama adalah bertekad kuat dan serius untuk tidak mengulanginya lagi. Bila taubah nashuha seperti ini berhasil Anda lakukan, insya Allah Dia akan menerimanya dengan bahagia. Adapun tidak terlaksananya hukum cambuk atau rajam, bukanlah salah Anda, selama Anda siap untuk menjalani hukuman. Namun karena negara ini dipimpin oleh mereka yang anti hukum Islam sehingga hukum Islam tidak bisa diterapkan, maka menjadi semacam `dosa kolektif` dari penguasa umat ini yang telah meninggalkan penerapan hukum Islam di negerinya sendiri. Terutama mereka yang punya kemampuan untuk bisa memproses berlakunya hukum Islam di negeri ini. Mereka berdosa besar karena tidak memperjuangkan penerapan hukum Islam. Yang paling besar doanya tentu saja adalah mereka yang selalu menggembar-gemborkan gerakan anti hukum Islam. Dan buat rakyat muslim pada umumnya, akan ikut berdosa bila tidak ikut mendukung gerakan penerapan hukum Islam, sebab hukumnya wajib. Sebagaimana firman Allah SWT yang teramat jelas dan terang di dalam Al-Quran. Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa : 65) Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(QS. Al-Maidah : 44) Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Maidah : 45) Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.(QS. Al-Maidah : 47)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-2.html KRITERIA DOSA BESAR MENURUT Al-QUR'AN DAN HADIS Oleh : Burhan Djamaluddin Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur'an dan Hadis, dua sumber agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar dan dosa kecil. Dalam al-Qur'an, misalnya surat al-Nisa' ayat 37, dan surat al-Najm ayat 32, disebut kata kaba'ir dan kaba'ir al-ism. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur'an yang mengandung kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut kaba'ir tidak jelas. Kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism, yang biasanya diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur'an sebanyak 3 kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut dosa besar. Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam al-Qur'an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-kaba'ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu, mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan, ungkapan-ungkapan dalam al-Qur'an atau Hadis yang mengacu kepada arti dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama (al-Qur'an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber ajaran Islam tersebut. Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti dosa besar dalam al-Qur'an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur'an Dalam al-Qur'an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, alkhith'u, al -sayyi'at dan al-hub. Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf, kata al-itsm, berarti 'amila ma la yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma'luf, umum sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-Qur'an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina, mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-

Qur'an. Berbeda dengan Lewis Ma'luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-Qur'an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi perbuatanperbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan. Berbeda dengan Lewis Ma'luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb. Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi "syaribtu al-itsm hatta dlalla 'aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-'uqul" (saya meminum al-ism, "al-khamar", maka ingatanku hilang. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan). Dalam al-Qur'an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang ditunjukkan oleh al-Qur'an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya. Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur'an, terlihat bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat. Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak 48 kali dalam al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf, kata al-zanb berarti tabi'ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah). Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu, menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur'an adalah terdapat dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina. Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur'an adalah mengubur hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti

diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia. Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar. Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur'an, dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah. Al-khith'u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli (kata kerja lampau) dari kata alkhith'u ialah khati'a. Penggunaan kata khathi'a fi dinih berarti salaka sabila khatha'in amidan aw ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith'u ini dianggap sama dengan kata al-zanb oleh Lewis Ma'luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat lain bahwa al-khith'u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan yang tidak disengaja. Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-khith'u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian melenceng seperti diungkap alAsfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan alkhith'u al-tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-khith'u dalam alQur'an, menurut perhitungan Muhammad Fu'ad Abd al-Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith'u yang muncul dalam al-Qur'an ialah dalam surat al-Isra' ayat 31. Kata al-khith'u dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran adalah sifat dari kata al-khith'u, sehingga rangkaian dua kata yang disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-khith'u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika dirangkai dengan kata kabiran. Dari sekian banyak ayat al-Qur'an yang mengandung kata al-khith'u dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa alQur'an, ketika menggunakan kata al-khith'u atau al-khathiat, tidak menjelaskan secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa kecil. Untuk

membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra' yang dikutip di depan. Seperti disebut di depan, kata al-sayyi'at juga termasuk kata yang diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-Qur'an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi'at atau al-su' dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa alukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi). Ternyata kata al-sayyi'at yang muncul dalam al-Qur'an, semuanya merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-Qur'an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai mu'jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su', dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su' diartikan juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-su', dan karena itu kata al-su' dalam hal ini dilawankan dengan al-husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat, seperti terdapat dalam surat al-Nisa' ayat 79. Dalam al-Qur'an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara lain: perzinaan (Surat al-Nisa' ayat 22), menjadikan syetan sebagai teman (surat al-Nisa' ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa' ayat 58-59). Dari sekian banyak kata al-su' atau al-sayyi'at yang muncul dalam al-Qur'an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa kecil. Terkadang kata al-su' digunakan untuk menyebut dosa besar, seperti zina (surat al-Isra' ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-su' ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat alNisa' ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su' dalam al-Qur'an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-A'raf ayat 95, surat al-Ra'd ayat 6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40, dan lain-lain. Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-Qur'an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa' ayat 2. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur'an, tidak dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara umum. Khusus dalam surat al-Nisa' ayat 2 di atas, karena kata al-hub dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan dengan dosa besar. Kriteria Dosa Besar

Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur'an. Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa besar. Bila al-Qur'an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman, isman kabiran, zanban adiman, khith'an kabiran, atau huban kabiran, untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata ism, zanb, khith' saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya sebagai dosa besar. Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosadosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macammacam dosa besar, menurut al-Qur'an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur'an ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah bahasa yang digunakan oleh al-Qur'an atau Hadis tersebut. Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi, seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori, yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang ditandai dengan ungkapan "fahisyah", dosa besar karena pelanggaran yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan "shalat yang dikerjakan seseorang ditolak Allah", dosa besar karena pelakunya dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan "bukan dari golongan kami", dosa besar ditandai dengan ungkapan "Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa", dosa besar ditandai dengan ungkapan "kemaksiatan menghabiskan kebaikan", dosa besar ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan "Allah tidak menyenangi pelaku dosa", dan dosa besar ditandai dengan ungkapan "tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku dosa". Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini. 1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had. Terdapat sejumlah ayat al-Qur'an yang mengancam sebuah pelanggaran dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini membicarakan hukuman

had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf (tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) . Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah 'anna al-syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan). Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-muzniba berarti aqama 'alyhi al-had bima yamna'u ghairahu wa yamna'uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya. Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga. Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan hukuman had oleh al-Qur'an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar. 2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan "Fahisyat'. Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat untuk menunjuk suatu

pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa'. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani'at (jelek dan keji). Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut. Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya' (bentuk jamak dari fahisyat). Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya' dalam ayat 169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A'raf, ayat 24 surat Yusuf, ayat 22 surat al-Nisa' dan sebagainya, muncul dengan makna yang sangat umum. Kata-kata fahsya' atau fahisyat dalam konteks seperti ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau fahsya', dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran sebagai dosa besar. 3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat. Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang digunakan alQur'an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas, yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52 surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari orangorang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata "la'ana" yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan mencaci) dan dapat juga berarti ab'adahu min al-khair (menjauhkan dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la'ana berarti 'azzaba (menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la'ana dengan ab'adahu min al-khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la'ana seperti dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la'ana mengakibatkan jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar). Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-Qur'an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur'an), seperti merubah arti dan mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur'an tersebut. Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la'ana, yaitu sabda Rasulullah: "la'ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi" (Allah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la'ana yang muncul, baik dalam al-Qur'an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap

dengan kata la'ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata la'ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang ditunjuknya sebagai dosa besar. 4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan "Kemaksiatan Dapat Merusak Kebaikan". Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur'an, tetapi ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: "Iyyakum wa al-hasad fa inna alhasad ya'kul al-hasanat kama ta'kul al-nar al-hathab" (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan "hasada fulan ni'matahu wa 'ala ni'matihi" yang berarti "tamanna zawala ni'matih wa tahawwulaha ilayhi" (Seseorang berharap hilangnya ni'mat yang didapat orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu, adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan: Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat, seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya, berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad dikategorikan sebagai dosa besar. 5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka). Dalam al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl (celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi, merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan, tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang. Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila al-Qur'an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Lewis Ma'luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula. Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur'an surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa. 6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan"Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa". Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan "la yandhuru" (tidak melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja yandhuru, dalam al-Qur'an ditemukan lebih seratus kali dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur'an, tidak ditemukan ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis, misalnya "la yandhuru Allah 'azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan aw imrataan fi duburiha" (Allah tidak senang melihat seseorang yang menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan perempuan melalui duburnya (sodomi). Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas, disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru ilayhim wa lahum 'azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa 'ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong). Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah), bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya. Kesimpulan Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa al-Qur'an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam al-Qur'an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menghukumi sebuah

pelanggaran itu sebagai sebuah dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur'an maupun Hadis.

Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Tamat S-3 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/12/cn/7313 Konsultasi : Waris Status Anak Hasil Zina : Dapat Wariskah Dari Ibunya? Pertanyaan: As.\ Sebelumnya ana ucapakan jazakallah. Begini ustadz, ana punya kenalan muallaf (perempuan / msulimah). Profesi pengacara. Sebelum Islam, dia punya dua anak, perempuan dan laki-laki. Tetapi kedua anak itu hasil tanpa nikah resmi (maaf - zina). Pekan kemarin dia resmi menyatakan Islam. Bagaimanakah setatus kedua anak itu ? Baik berkaitan hal waris, perwalian dan kedudukan kedua anak itu di dalam Islam. Mengingat ibunya sudah resmi muslimah. Jazakamullah Was..., Sholihun - Jogja Sholihun Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du, Nasab kepada ayah yang dulunya menzinai seorang ibu dan tidak menikahinya secara syah, jelas terputus. Artinya, meski secara biologis seorang anak adalah anak dari seorang laki-laki, tetapi karena laki-laki itu tidak pernah menikahi ibu anak itu, maka

tidak ada hubungan nasab antara anak dan ayah biologis itu dalam pandangan hukum Islam. Sedagkan kepada ibunya, kedudukannya jelas sebagai ibu dan punya hubungan nasab. Sebab ibu itulah yang mengandungnya, sehingga meski disebut anak haram yang sebenarnya salah kaprah, namun dengan ibunya tidak bisa diputuskan hubungan nasabnya. Namun dalam kasus yang anda sampaikan, sayangnya tidak ada keterangan apakah kedua anak itu ikut masuk Islam juga atau tidak. Sebab meski secara nasab bisa dianggap anak ibu itu, tetapi kondisi mereka yang berlainan agama dengan ibunya menimbulkan adanya penghalang yang mencegah bolehnya mereka mewarisi harta ibu mereka. Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,� Orang Islam itu tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang Islam. (HR. Bukhari 6267, Muslim 3027, Tirmizy 2033, Abu Daud 2521, Ibnu Majah 2719) Maka bila bisa dipastikan bahwa kedua anak itu tidak atau belum masuk Islam sebagaimana ibunya, jelaslah bahwa mereka tidak akan mendapatkan harta warisan dari ibu mereka. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.tranungkite.net/v2/modules.php?name=News&file=article&sid=981 Budaya Mendekati Zina Dilulus terbit pada Saturday, April 16 @ 14:05:40 MYT oleh LinuxPro SriBunian05 menulis " OLEH: SriBunian Assalamu’alaikum wm.wrt. KEBANYAKAN umat Islam menganggap perzinaan itu adalah semata-mata melakukan persetubuhan haram dan inilah perbuatan maksiat yang dilarang keras dan merupakan satu daripada dosa-dosa besar. Sebenarnya, dalam agama Islam, bukan perbuatan zina itu saja yang dilarang keras, tetapi termasuk juga sebarang tindak- tanduk yang membawa kepada berlakunya perbuatan yang terkutuk itu, iaitu sebarang perlakuan ke arah menghampiri zina yang disebut sebagai "budaya taqrabul-zina". Lebih dua dekad perbuatan zina semakin menjadi-jadi. Hasilnya, pada satu ketika dulu seluruh Negara heboh dengan pembuangan bayi yang masih lagi bertali pusat dan bersalut dengan darah menandakan ia baru dilahirkan, masyarakat menjadi gempar dan ada seorang menteri wanita UMNO yang bernama Shahrizat Jalil [adiknya Ketua UMNO Lembah Pantai Shahrir Jalil digantung sepenggal oleh Lembaga Disiplin UMNO

kerana mengamalkan politik wang] telah memberi cadangan penubuhan sebuah ‘bank bayi’ yang akan menjadi tempat menyimpan bayi-bayi terlibat dan diletakkan di bawah jagaan Jabatan Kebajikan Masyarakat dan Marina Mahathir lebih berani dari itu mencadangkan agar muda-mudi diberi pengajaran seks selamat dengan penggunaan kondom bagi mengelak dari kehamilan. Kita telah dapat membaca, melihat, mendengar dan menonton ada bayi-bayi ini dibuang di merata-rata tempat seperti di tepi-tepi jalan, di longkang-longkang, di tong-tong sampah sehingga ada bayi-bayi berkenaan di makan oleh anjing-anjing liar dan bagi yang ada sedikit peri kemanusiaan, mereka meletakkan bayi-bayi yang tidak berdosa ini di masjid-masjid, di surau-surau atau di tempat-tempat awam yang lain dengan harapan bayi-bayi [yang tidak diundangkan kehadirannya] dapat diselamatkan oleh pihak berkuasa atau oleh orang ramai. Amat malang, kes-kes pembuangan bayi ini kebanyakannya melibatkan orang-orang Islam. Maruah umat Islam amat tercemar dengan insiden ini yang menyebabkan orang-orang bukan Islam hilang hormat kepada umat, budaya, amalan [ritual] dan ajaran Islam lagi. Perangai umat Islam [bukan semua] semacam haiwan. Umat Islam dihina dan dianggap sebagai ‘terrorist’ mengancam keamanan dunia dan perlu dihapuskan. Apabila muncul kepemimpinan baru dalam Negara ini dengan membawa mesej Islam Hadharinya yang dijangkakan memberi sinar baru, lantas secara terburu-buru umat Islam di Negara ini [diselewengakan fakta maklumat, diugut, diancam dan dirasuahkan] memberi sokongan sampai 80% undi dalam pilihan raya umum tahun lalu dengan harapan masalah-masalah penyakit sosial ini dapat diatasi, tetapi rupa-rupanya ia semakin membiak dan berkembang subur dalam masyarakat. Salah satu asas ajaran utama konsep Islam Hadhari ialah memperjuangkan ‘Islam Liberal’ . Unsur-unsur yang ada dalam Islam Liberal ini ialah perkara-perkara yang berkaitan dengan maksiat diberi liputan positif dan orang-orang yang menegakkan amal makrof nahi mungkar dihina, diperlecehkan dan diberi gambaran yang burukburuk agar rakyat turut membenci kepada golongan ini, orang buat maksiat dipertahankan, dianggap mulia, berakhlak, bermoral, keperluan hak asasi manusia dan kebebasan lebih penting walaupun ianya bertentangan dengan ajaran Islam [hak asasi dan kebebasan dalam demokrasi yang sudah mati di negara ini tidak dipedulikan], kebebasan dan kepuasan individu dibolehkan membelakangkan hukum dosa-pahala, menuntut persamaan hak di antara lelaki-wanita dari segi peranan dan tanggungjawab dalam budaya, social, ekonomi, politik, mengalakkan dan memberi sokongan menghidupkan budaya ‘hedonisme’ yang memetingkan hiburan dan pesta-pestaan bercampur-baur lelaki-perempuan, mabuk-mabuk dan menentang peraturan syariah serta menentang Allah s.w.t secara langsung kerana ianya terkeluar dari kerangka pemikiran Islam moderate dan progresif serta logic aqal manusia biasa sepertimana Mohamad Nazri Aziz bersama-sama dengan 50 NGO dan lebih 200 orang individu berpakat menolak undang-undang moral. Bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menghayati ajaran Islam sebenar, peristewa Zouk dan peristewa di Genting Highland amat menakutkan dan membimbangkan terhadap masa depan umat, tetap bagi orang-orang yang tidak menghayati ajaran agama seperti Nazri dan kumpulannya tidak akan merasai apa-apa kerana mereka adalah ‘haiwan bertopengkan manusia kerana sebagai haiwan Allah s.w.t tidak kurniakan aqal dan sebab itu mereka [haiwan] tidak berakhlak’, tetapi

sekiranya mereka [Nazri dan kumpulannya] manusia yang mempunyai aqal dengan tersendirinya dipertanggungjawabkan terhadap akhlak. Nazri dan kumpulannya ini adalah golongan anti kawalan moral bermakna mereka sebenarnya yang tidak bermoral dan berakhlak. Mingguan Malaysia pada 7.11.2004 melaporkan, gejala negatif ini menjadi semakin teruk pada hari ini. Laporan Kajian Kesihatan Seksual dan Reproduktif Remaja di Malaysia 2003 oleh Kementerian Kesihatan menunjukkan, remaja terutama pelajar sekolah di negara ini begitu aktif melakukan kegiatan seksual termasuk hubungan seks luar nikah. Semua ini menunjukkan budaya zina ini sedang berkembang pesat seiring dengan pembangunan negara mengikut acuan ‘budaya barat’ bukan acuan budaya Islam. Apabila gejala ini dibiarkan, dikhuatiri suatu hari nanti jerebu nilai yang menghancurkan akan menyerang masyarakat Malaysia secara amnya. Lambakan VCD lucah, filem dan drama selain gaya fesyen wanita yang pakai baju singkat, seluar nampak pusat dan berbaju nipis. Faktor-faktor ini yang merangsang keinginan. Psikologi manusia, benda yang singkat-singkat yang tertutup sikit, terbuka sikit ini yang mereka hendak. 13% peratus remaja negara ini yang berusia 15 hingga 21 tahun pernah mengadakan hubungan seks sebelum berkahwin. Satu kajian yang dijalankan bersama antara Kementerian Kesihatan, Pertubuhan Kesihatan Sedunia, Universiti Malaya dan sebuah syarikat swasta terhadap remaja dalam kelompok itu mendapati 76% daripada responden itu adalah remaja lelaki manakala remaja perempuan pula sebanyak 61%. Soal selidik yang dijalankan oleh satu jenama kondom mendapati, rakyat Malaysia kini melakukan hubungan seks pertama kali pada usia lebih awal iaitu 19.3 tahun berbanding purata tahun pada 2001. Dalam satu kajian lain yang dijalankan oleh Kementerian Kesihatan terhadap kalangan remaja yang masih bersekolah (berumur 13 hingga 18 tahun), mendapati sebanyak 1.8% daripadanya mengaku pernah terbabit dalam aktiviti seks. Satu lagi kajian yang dibuat oleh Jabatan Psikologi dan Kaunseling Universiti Malaya mendapati pelajar awal remaja berusia 12 hingga 15 tahun menggunakan seks bebas sebagai alasan untuk berseronok dan melepaskan tekanan perasaan ekoran terlalu banyak tegahan daripada ibu bapa. Daripada cubaan pertama, mereka kemudian menjadi ketagih. Kajian ini mendapati kebanyakan mereka yang melakukan hubungan seks bebas secara aktif adalah golongan pelajar di sekolah menengah atas dan penuntut institut pengajian tinggi. Kebanyakan mereka ini beranggapan perlakuan seks ini bukan sesuatu yang luar biasa malah ada di antara mereka berbangga. Antara lambang kejayaan seorang mukmin ialah mampu mengawal keinginan nafsu seksnya. Dalam surah al-Mukminun ayat 6 hingga 7, Allah berfirman yang bermaksud, “(Orang mukmin yang berjaya) ialah mereka yang memelihara kemaluan mereka melainkan kepada isteri-isteri dan hamba-hamba perempuan mereka dan yang demikian itu tidaklah dicela. Dan sesiapa yang mencari yang lain daripada ini, mereka adalah golongan yang melampaui batas.” Hal tersebut jelas dalam firman Allah yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan seburuk-

buruk jalan” – (Sura al-Israk: 32). Takrif “zina” itu luas, meliputi banyak aspek perlakuan. Rasulullah s.a.w memperincikannya sebagaimana dalam sabda-sabda Baginda s.a.w. yang bermaksud: “Zina dua mata itu menilik (memandang) perempuan yang ajnabi”. “Zina kedua mata itu memandang, zina kedua telinga itu mendengar, zina kedua tangan itu menjabat, zina kedua kaki itu melangkah dan zina hati itu mengingini, mengangan-angankannya” – ( Riwayat Bukhari dan Muslim) Demikianlah, semua perlakuan dalam perhubungan antara lelaki dan perempuan yang sudah akil baligh dan bukan mahram itu, sama ada zahir atau batin, dikira perbuatan zina belaka. Apa lagi perhubungan fizikal yang lebih rapat (bercumbu-cumbuan, berdansa, berkepitan-kepitan atau berhimpit-himpitan), terutama dalam keadaan aurat yang terdedah. Bila sudah berdua-duaan, yang pasti yang ketiga itu adalah syaitan. Berdasarkan hadis tersebut, jelaslah, pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram itu sudah dikira perbuatan zina atau sekurang-kurangnya termasuk dalam kegiatan “budaya taqrabul-zina” itu. Dalam agama Islam, pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan ajnabi itu dilarang keras. Ini kerana segala tindak-tanduk dalam pergaulan bebas itu membuka peluang atau menimbulkan dorongan dan memberi laluan mudah kepada mereka yang terlibat melakukan mukadimah zina dan seterusnya melakukan kemuncak perbuatan yang terkutuk itu. Itulah sebabnya Mufti Perak “menfatwakan” Konsert Sure Heboh sebagai HARAM kerana menjurus kepada “budaya taqrabul-zina”. Larangan melakukan tindak-tanduk yang membawa kepada perbuatan zina itu bukan khusus ditujukan kepada pasangan yang berkenaan sahaja, tetapi termasuk juga orang lain yang terbabit (bersyubahat). Ramai orang tidak sedar, bahawa mereka turut terlibat dalam melakukan perbuatan menghampiri zina itu. Di kalangan kita, masih ramai ibu dan bapa yang sengaja [sportinglah kononnya seperti ibubapa Jeslina Hashim] memberi peluang kepada anak gadis mereka berdua-duaan dengan teman lelakinya. Sebenarnya dalam Islam, tidak ada istilah “teman lelaki” bagi perempuan atau “teman perempuan” bagi lelaki. Ada-ada sahaja helah ibu bapa untuk tidak mengganggu anak gadis mereka yang melakukan khalwat [berdua-duaan, berbual-bual mesra] dengan teman lelakinya. Umpamanya, ada ibu yang masuk ke dapur, ada bapa yang ada-ada sahaja urusan yang hendak dilakukannya, lalu keluar rumah atau masuk ke biliknya sendiri. Ramai ibu bapa membenarkan anak gadis mereka keluar berdua-duaan dengan teman lelakinya [tanpa pihak ketiga] dalam keadaan tidak dharurat. Mereka tidak sedar atau sengaja tidak mahu menyedarinya, bahawa dengan tindakan itu mereka turut terlibat atau bersyubahat atau secara tidak langsung meluaskan peluang kepada anak gadis mereka menceburkan diri dalam kegiatan budaya taqrabul-zina, walaupun sebenarnya mereka tidak mengharapkan anak gadis mereka melakukan perbuatan zina yang sebenarnya itu. Ramai yang tidak terfikir, kalau belum lagi melakukan zina, mungkin anak gadis

mereka melakukan mukadimah zina. Yang pastinya, anak gadis mereka sudah melakukan zina mata, zina tangan, zina kaki atau zina hati dengan teman lelakinya itu. Kerana jahil dan terlalu terpengaruh kepada amalan budaya soial Barat yang dikatakan moden, ramai orang menganggap apa yang mereka lakukan itu adalah perkara biasa, sudah menjadi tradisi [seperti yang diperjuangkan oleh Sister In Islam dan Marina Mahathir]. Malah, mereka menganggap itulah tindakan yang selari dengan zaman moden sekarang ini. Tambahan lagi jika terhadap mereka ketika masa muda dulu, ibu bapa mereka pernah bertindak demikian, membiarkan mereka berdua-duaan dengan kekasih mereka. Pengaruh budaya Barat dalam bidang ini harus disedari sebagai virus berbahaya yang merosakkan budaya Islam, sekali gus meruntuhkan kekuatan umat Islam. Pada peringkat awal orang-orang Barat [Keristian khususnya] melancarkan perang bersenjata terhadap kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi mereka gagal. Lalu mereka menukarkan perang bersenjata itu kepada perang psikologi. Dalam tahun 1268, seorang raja Perancis pernah mengemukakan saranan: “Adalah suatu yang amat sukar dan mustahil untuk mengalahkan umat Islam melalui peperangan dengan senjata dan kekerasan. Bedasarkan pengalaman yang disokong oleh fakta sejarah sebelumnya, maka yang penting sekarang ialah mengatur langkah lain untuk umat yang degil itu”. Antara “langkah lain” itu ialah melancarkan perang psikologi dengan cara mengumpankan corak hiburan yang membawa kepada amalan pergaulan bebas antara muda-mudi Islam yang boleh diistilahkan sebagai “budaya taqrabul-zina” itu. Hiburan dari Barat itu sengaja dieksport ke Negara Islam sebagai satu strategi perang psikologi untuk melemahkan umat Islam. Tanpa kesedaran ini, umat Islam, bukan sahaja tidak peka dengan “umpan” atau matlamat dan misi hiburan dari Barat itu, malah mereka menerimanya sebagai hasil seni dan budaya yang mereka iktiraf sebagai “budaya global”. Sebenarnya apa yang disebutkan sebagai “budaya global” itulah yang merupakan “budaya taqrabul-zina” itu. Tuduhan terhadap Barat dalam hal ini bukan tidak berasas. Kaum Yahudi dan Nasrani memang selamanya mendendami dan memusuhi umat Islam. Allah SWT mengingatkan Rasulullah s.a.w melalui firman-nya yang mafhumnya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali menyukaimu (Hai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka” – (al-Baqarah: 120) Perkembangan budaya taqrabul-zina memang dirancang oleh musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam. Inilah yang dikatakan sebagai strategi dalam perang psikologi mereka terhadap umat Islam. Seorang orientalis pernah berkata, “Gelas minuman keras dan penyanyi perempuan dapat menghancurkan umat Muhammad. Ini lebih berkesan daripada apa yang dapat dilakukan oleh seribu meriam”. Mudah sahaja manusia terseret dan tergelincir jatuh ke kubang maksiat zina yang amat terkutuk itu, kerana kegiatan dan pergaulan bebas dalam dunia hiburan bercorak Barat – musik, sukan dan sebagainya – itu adalah meliputi ciri-ciri “budaya taqrabul-zina”. Di

mana-mana sahaja, perbuatan maksiat dalam dunia budaya ini telah dan sedang berlaku. Fenomena keruntuhan akhlak yang amat teruk sekarang, di kalangan muda mudi Islam khususnya, sehingga merebaknya wabak bohsia, bohjan, kelahiran dan pembuangan bayi luar nikah dan sebagainya adalah antara bukti-buktinya. Kita ada dua persimpangan. Satu persimpangan yang dibawa oleh UMNO dengan Islam Hadharinya akan memusnahkan umat dan tamadun Melayu-Islam di Malaysia ini pada suatu hari nanti. Ini satu kepastian kerana tanda-tandanya jelas kelihatan sekarang seperti pelbagai kes jenayah dan social kadarnya semakin meningkat dari masa ke semasa. Bagaimana generasi yang akan datang yang lahir dalam system yang kotor dan berbau ‘shit’, tidak berakhlak dan bermoral akan mewarisi mentadbir negara ini? Kehancuran pasti akan datang. Bala Allah diturunkan dengan pelbagai kaedah dan caranya. Salah satu kaedah bala dari Allah ialah mengwujudkan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh orang-orang yang zalim, hilang pertimbangan kemanusiaan, pentingkan diri, tindakan memilih bulu, tidak adil dalam perlaksanaan undang-undang, pembohong, penipu, perasuah, pemecah amanah yang diberi, gilakan kuasa dan kekayaan tanpa mengenal batas-batas halal-haram [contohnya : UMNO/BN menang dalam pilihan raya dengan melakukan pelbagai penipuan dan penyelewengan serta menggunakan kuasa yang ada untuk mengekalkan kuasa], pangkat dan kedudukan serta hidup dipenuhi dengan kemewahan yang diperolehi secara haram tanpa perlu berusaha mengeluarkan peluh, hanya perlukan air liur dan ‘connection’ dengan pemimpin-pemimpin yang berkuasa memfaraidkan khazanah negara sesama mereka, sedangkan sebahagian besar rakyat hidup menderita dengan kemiskinan. Rakyat terus ditekan dengan pelbagai masalah kehidupan harian. Kos belanja hidup yang tinggi. Kerajaan telah hilang tanggungjawab sebagai kerajaan kebajikan, sebaliknya ia lebih mementingkan golongan peniaga yang mana pemimpin itu sendiri mempunyai kepentingan dalam setiap urus niaga yang berlaku. Persimpangan kedua ialah memilih jalan yang betul lagi benar. Jalan yang ditunjukkan oleh Allah s.w.t dan NabiNya. Untuk mengikuti persimpangan kedua ini, jalan yang benar ini banyak duri dan ranjaunya, penuh dengan cabaran, dugaan dan memerlukan kesabaran serta ketakwaan tinggi kepada Allah s.w.t. Sekiranya kita berjaya mengikut jalan kedua ini, maka seluruh rakyat tanpa mengira kaum dan agama akan hidup bahagia dunia dan akhirat [bagi orang Islam]. Jadi, terpulanglah kepada kita untuk memilih, sama ada untuk menuju ke jalan kehancuran atau untuk menuju ke jalan kebenaran dan kebahagian. Sebagai penutup, ikuti tulisan Dr. Ismail Ibrahim, Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan dalam Mingguan Malaysia pada 10.4.2005 yang banyak mendapat perhatian masyarakat, beliau berkata :”Di London tidak ada gerai untuk kita melepak, tetapi di Bangsar atau Sri Hartamas, terlalu banyak gerai yang menarik kehadiran generasi tua dan muda untuk berjaga malam. Di London bar atau pubnya kebanyakannya hanya dibuka sehingga pukul 11 malam., tetapi di Bangsar dan tempat-tempat lain, mungkin dibuka sehingga pukul 2 atau 3 pagi. Kalau undang-undang mengatakan mereka boleh membuka hingga pukul 2 pagi umpamanya, mereka cuba-cuba juga membukanya hingga pukul 3 atau 4 pagi, kerana biasanya pihak berkuasa tidak menghantar penguat kuasanya untuk melihat sama ada para peniaga itu mematuhi peraturan dan undangundang yang dikuatkuasakan ataupun tidak[kalau bertindak, pihak penguatkuasa pula akan dipersalahkan-penulis].

Sekian, terima kasih. Wassalam.

http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=80&Ite mid=15 Malapetaka Akibat Zina Dikirim oleh Kontributor || Ahad, 28 Mei 2006 - Pukul: 08:26 WIB Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan bahaya yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan dengan aturan universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan nasab keturunan, menjaga kesucian dan kehormatan diri, juga mewaspadai hal-hal yang menimbulkan permusuhan serta perasaan benci di antara manusia disebabkan pengrusakan terhadap kehormatan isteri, putri, saudara perempuan dan ibu mereka. Dan ini jelas akan merusak tatanan kehidupan. Melihat hal itu semua, pantaslah bahaya praktek zina itu -bobotnya- setingkat di bawah praktek pembunuhan. Oleh karena itu, Allah menggandeng keduanya di dalam Al-Qur'an dan juga Rasulullah dalam keterangan hadits beliau. Al-Imam Ahmad berkata: "Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina." Dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmanNya: "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orangorang yang bertaubat ..." (Al-Furqan: 68-70). Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan cara bertaubat, beriman dan beramal shalih. Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk." (AlIsra': 32). Di sini Allah menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan kata "fahisyah" maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan dapat diakui kekejiannya oleh setiap orang berakal bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Amr bin Maimun AlAudi, dia berkata: "Aku pernah melihat -pada masa jahiliyah- seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya sampai mati." Kemudian Allah juga memberitahukan bahwa praktek zina adalah seburuk-buruk jalan; karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan kehinaan di dunia, siksaan dan azab di akhirat nanti.

Dan karena menikahi mantan isteri-isteri ayah itu termasuk perbuatan yang sangat jelek sekali, Allah secara khusus memberikan "cela" tambahan bagi praktek menikahi isteri orang tua. Allah berfirman (setelah secara tegas melarang kaum muslimin untuk menikahi isteri-isteri ayah mereka, pent): "Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)." (An-Nisa': 22). Allah juga menggantungkan keberuntungan seorang hamba pada kemampuannya dalam menjaga "kehormatan"nya. Tak ada jalan menuju keberuntungan tanpa menjaga "kehormatan". Allah berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang me- nunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (Al-Mukminun: 1-7). Dalam ayat-ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan, yaitu, pertama, bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak akan termasuk orang yang beruntung, kedua , dia akan termasuk orang yang tercela, dan ketiga, dia termasuk orang yang melampaui batas. Jadi, dia tidak akan mendapat keberuntungan, serta berhak mendapat predikat "melampaui batas' dan jatuh pada tindakan yang membuatnya tercela, padahal beratnya beban dalam menahan syahwat itu, lebih ringan ketimbang menanggung sebagian akibat yang disebutkan tadi. Selain itu pula, Allah telah menyindir manusia yang selalu berkeluh kesah, tidak sabar dan tidak mampu mengendalikan diri saat mendapatkan kebahagiaan, demikian pula kesusahan. Bila mendapat kebahagiaan, dia menjadi kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat kesusahan, dia banyak mengeluh. Begitulah sifat umum manusia, kecuali orang-orang yang memang dikecualikan dari hambaNya, yang diantaranya adalah mereka yang disebut di dalam firmanNya : "Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (AlMa'arij: 29-31). Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasulullah untuk memerintahkan orangorang mukmin agar menjaga pandangan dan kemaluan mereka, juga diberitahukan kepada mereka bahwa Allah selalu menyaksikan amal perbuatan mereka. "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Ghafir: 19). Dan karena ujung pangkal dari perbuatan zina yang keji ini dari pandangan mata, maka Allah lebih mendahulukan perintah untuk memalingkan pandangan mata sebelum perintah untuk menjaga kemaluan, karena banyak musibah besar yang asal muasalnya adalah dari pandangan; seperti kobaran api yang besar asalnya adalah percikan api yang kecil. Mulanya hanya pandangan, kemudian khayalan, kemudian langkah nyata, kemudian terjadilah musibah yang merupakan kesalahan besar(zina). Oleh karenanya, ada yang mengatakan, bahwa barangsiapa yang bisa menjaga empat

hal maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya: Al-Lahazhat (pandangan pertama), Al-Khatharat (pikiran yang melintas di benak), Al-Lafazhat (lidah dan ucapan), Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan). Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjadi penjaga dirinya dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari situlah musuh akan datang menyerangnya, merasuk ke dalam dirinya dan merusak segala sesuatu. (Dikutip dari: JANGAN DEKATI ZINA, ditulis oleh Al Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah)

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/3034.html Halal dan Haram dalam Islam oleh Yusuf Qardhawi 3.3.4 Pencangkokan Sperma (Bayi Tabung) Kalau Islam telah melindungi keturunan, yaitu dengan mengharamkan zina dan pengangkatan anak, sehingga dengan demikian situasi keluarga selalu bersih dari anasir-anasir asing, maka untuk itu Islam juga mengharamkan apa yang disebut pencangkoan sperma (bayi tabung), apabila ternyata pencangkoan itu bukan sperma suami. Bahkan situasi demikian, seperti kata Syekh Syaltut, suatu perbuatan zina dalam satu waktu, sebab intinya adalah satu dan hasilnya satu juga, yaitu meletakkan air laki-laki lain dengan suatu kesengajaan pada ladang yang tidak ada ikatan perkawinan secara syara' yang dilindungi hukum naluri dan syariat agama. Andaikata tidak ada pembatasan-pembatasan dalam masalah bentuk pelanggaran hukum, niscaya pencangkoan ini dapat dihukumi berzina yang oleh syariat Allah telah diberinya pembatasan; dan kitab-kitab agama akan menurunkan ayat tentang itu. Apabila pencangkoan yang dilakukan itu bukan air suami, maka tidak diragukan lagi adalah suatu kejahatan yang sangat buruk sekali, dan suatu perbuatan mungkar yang lebih hebat daripada pengangkatan anak. Sebab anak cangkokan dapat menghimpun antara pengangkatan anak, yaitu memasukkan unsur asing ke dalam nasab, dan antara perbuatan jahat yang lain berupa perbuatan zina dalam satu waktu yang justru ditentang oleh syara' dan undang-undang, dan ditentang pula oleh kemanusiaan yang tinggi, dan akan meluncur ke derajat binatang yang tidak berperikemanusiaan dengan adanya ikatan kemasyarakatan yang mulia.27 3.3.5 Menisbatkan Anak Kepada Selain Ayahnya Sendiri Menyebabkan Laknat Sebagaimana Islam telah mengharamkan seseorang ayah mengingkari anaknya tanpa suatu alasan yang dapat dibenarkan, maka begitu juga Islam tidak membenarkan seorang anak menyandarkan nasabnya kepada orang lain; dan dipanggil bukan dengan panggilan ayahnya sendiri. Nabi menilai perbuatan tersebut sebagai kemungkaran yang menyebabkan laknat dari Allah dan manusia.

Hal ini telah diriwayatkan dari atas mimbar oleh Ali r.a. dari suatu lembaran yang ada padanya, dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda: "Barangsiapa mengaku ayah bukan ayahnya sendiri atau membangsakan dirinya kepada keluarga lain, maka dia akan mendapat laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya,Allah tidak akan menerima daripadanya nanti di hari kiamat, taubat maupun tebusan." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dan dari Saad bin Abu Waqqash dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda: "Barangsiapa mengaku ayah bukan ayahnya sendiri, sedang dia tahu bahwa dia itu bukan ayahnya, maka sorga tidak mau menerima dia." (Riwayat Bukhari dan Muslim) 3.3.6 Jangan Membunuh Anak Sesudah Islam melindungi masalah nasab dengan cara demikian, kemudian Islam juga menetapkan untuk anak dan orang tua, masing-masing mempunyai hak, sesuai dengan kedudukannya sebagai orang tua dan anak. Di samping itu Islam juga mengharamkan beberapa hal kepada mereka masing-masing, demi melindungi dan menjaga hak-hak tersebut. Anak mempunyai hak hidup. Ayah dan ibu tidak boleh merenggut hidupnya si anak, baik dengan membunuh ataupun dengan menanam hidup-hidup, sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang Arab di zaman jahiliah. Ketentuan ini berlaku untuk anak laki-laki maupun wanita. Firman Allah: "Jangan kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut kelaparan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka maupun kepadamu; sesungguhnya membunuh mereka suatu dosa besar." (al-Isra': 31) "Dan apabila diperiksa anak perempuan yang ditanam hidup-hidup. Sebab dosa apakah dia dibunuh?" (at-Takwir: 8-9) Karena dorongan untuk berbuat yang mungkar ini ada kalanya soal ekonomi, misainya karena takut kelaparan dan kemiskinan, atau alasan non-ekonomis, misalnya kaiena takut tercela kalau si anak itu kebetulan perempuan, maka Islam mengharamkan perbuatan biadab ini dengan sangat keras sekali. Sebab perbuatan seperti itu dapat memutuskan kekeluargaan dan menyebabkan permusuhan. Untuk masalah ini Rasulullah s.a.w. pernah ditanya: dosa apakah yang teramat besar? Jawab Nabi: yaitu engkau menyekutukan Allah padahal Dialah yang menjadikan kamu. Kemudian apa lagi? Maka jawabnya: yaitu engkau bunuh anakmu lantaran kamu takut dia makan bersamamu. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Rasulullah s.a.w. pernah juga membai'at orang-orang perempuan sebagaimana halnya ia membai'at orang laki-laki; yaitu dengan melarangnya perbuatan jahat tersebut dan supaya dihentikan.

Bai'at tersebut berbunyi demikian: "Hendaknya mereka (perempuan) tidak menyekutukan Allah sedikitpun dan tidak mencuri dan tidak berzina dan tidak membunuh anak-anak mereka." (al-Mumtahinah: 12) Dan di antara hak anak yang harus ditunaikan oleh ayahnya, ialah memberikan nama yang baik. Seorang ayah tidak boleh memberi nama anaknya dengan nama yang dapat mengganggu perasaan anak apabila dia sudah cukup dewasa. Dan diharamkan memberi nama anaknya dengan Hamba Lain Allah misalnya: Abdun Nabi, (hamba Nabi), Abdul Masih (hamba Isa al-Masih) dan sebagainya. Di samping itu anak juga mempunyai hak perlindungan, pendidikan dan nafkah yang samasekali tidak boleh diabaikan. Sabda Nabi: "Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang dipimpinnya itu." (Riwayat Bukhari dan Muslim) "Cukup berdosa seseorang yang mengabaikan orang yang menjadi tanggungannya." (Riwayat Abu Daud, Nasa'i dan Hakim) "Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin terhadap yang dipimpinnya, apakah dia itu memperhatikan, ataukah mengabaikan, sampai pun Ia akan minta pertanggungjawaban kepada seorang laki-laki tentang keluarga rumahnya." (Riwayat Ibnu Hibban) 3.3.7 Persamaan dalam Pemberian Kepada Anak-anak Seorang ayah harus menyamakan antara anak-anaknya dalam pemberian, sehingga dengan demikian mereka akan berbuat baik kepada ayah dengan lama. Di samping itu seorang ayah dilarang mengistimewakan pemberiannya kepada salah seorang di antara mereka tanpa ada suatu kepentingan yang sangat, sebab yang demikian itu akan menjengkelkan hati yang lain dan akan mengobarkan api permusuhan dan kebencian sesama mereka. Ibu dalam hal ini sama dengan ayah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut: "Berlaku adillah kamu terhadap anak-anakmu." 3 kali. (Riwayat Ahmad, Nasa'i dan Abu Daud) Kisah timbulnya hadis ini adalah sebagai berikut: Isteri Basyir bin Saad al-Ansari meminta kepada suaminya supaya memberikan harta dengan istimewa kepada anaknya yang bernama Nu'man --berupa kebun dan hamba-- dan ia bermaksud akan

mengkukuhkan hibah ini dan ia minta kepada Basyir supaya disaksikan oleh Nabi s.a.w. Kemudian pergilah Basyir kepada Nabi dan berkata: "Ya Rasulullah! Anak perempuan si fulan (isteriku) minta kepadaku supaya aku memberikan hambaku kepada anaknya. Kemudian Nabi bertanya: Apakah dia mempunyai saudara? Ia menjawab: Ya. Nabi bertanya lagi: Apakah semuanya kamu beri seperti apa yang kamu berikan kepadanya? Ia menjawab: Tidak! Kemudian Nabi bersabda: Yang demikian ini tidak baik, dan saya sendiri tidak akan mau menjadi saksi kecuali pada hal yang baik." (Riwayat Muslim, Ahmad dan Abu Daud) Dalam satu riwayat dikatakan oleh Nabi: "Jangan kamu jadikan aku untuk menyaksikan sesuatu dosa. Sesungguhnya anakmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan, yaitu hendaknya kamu berlaku adil di antara mereka; sebagaimana kamu mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh anakanakmu, yaitu hendaknya mereka itu berbuat baik kepadamu." (Riwayat Abu Daud) Dan dikatakan pula oleh Nabi: "Takutlah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, bahwa melebihkan itu diperbolehkan jika ada sebab, misalnya si anak sangat membutuhkan karena suatu kesengsaraan dan sebagainya yang tidak diderita oleh saudara-saudaranya yang lain.28 3.3.8 Menegakkan Hukum Waris dalam Batas Ketentuan Allah Termasuk ketentuan seperti tersebut di atas, ialah dalam hal warisan. Seorang ayah tidak dibenarkan menghalangi warisan untuk sebagian anaknya. Dia tidak dibenarkan menghalangi waris untuk anak-anaknya yang perempuan atau menghalang waris untuk anak-isterinya yang tidak berada di sampingnya. Begitu juga seorang kerabat tidak boleh menghalangi kerabatnya yang berhak mendapat waris, dengan suatu policy (siasat) yang dibuat-buat. Sebab masalah warisan adalah suatu undang-undang yang telah ditetapkan Allah dengan segala pengetahuannya, keadilannya dan kebijaksanaannya. Ia akan memberikan haknya masing-masing dan Ia perintahkan kepada segenap manusia untuk melaksanakannya menurut garis-garis yang telah ditentukan. Oleh karena itu barangsiapa menyalahi aturan ini, baik dalam pembagiannya maupun batas-Batas ketentuannya, sama dengan menuduh jahat kepada Allah. Persoalan waris ini telah disebutkan Allah dalam tiga ayat; yang pada penutup ayat pertama Allah berfirman sebagai berikut: "Ayah-ayah kamu dan anak-anak kamu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka itu yang lebih dekat manfaatnya buat kamu. (Yang demikian itu) adalah satu ketentuan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (an-Nisa': 11)

Dan pada akhir ayat kedua Ia berfirman: "(Yang demikian itu) tidak akan menyusahkan (ahli waris). Sebab sudah menjadi satu ketentuan dari Allah, sedang Allah Maha Mengetahui dan Maha Sabar. Demikian itu adalah ketentuan-ketentuan Allah. Oleh karena itu barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka akan kekal abadi di dalamnya; dan yang demikian itu adalah kebagiaan yang sangat besar. Dan barangsiapa durhaka kepada Allah dan RasulNya serta melanggar ketentuan-ketentuan Allah, maka Ia akan memasukkannya ke dalam neraka yang kekal abadi di dalamnya, dan dia akan mendapat siksaan yang sangat hina, " (an-Nisa': 12-14) Dan di akhir ayat ketiga Ia berfirman: "Allah menjelaskan kepadamu supaya kamu tidak sesat; dan Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu." (an-Nisa': 176) Justru itu, barangsiapa yang menyalahi hukum Allah dalam masalah warisan ini, berarti dia telah sesat dari jalan yang benar yang telah dijelaskan oleh Allah sendiri, dan berarti pula dia melanggar ketentuan-ketentuan Allah, Oleh karenanya tunggulah hukuman Allah, yaitu: Neraka yang dia akan kekal di dalamnya, dan dia akan beroleh siksaan yang sangat hina.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->