P. 1
MAKALAH PEMICU 3 BLOK 10

MAKALAH PEMICU 3 BLOK 10

|Views: 1,029|Likes:
Published by agung nugroho

More info:

Published by: agung nugroho on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

Makalah Skenario 3 Blok 10 (Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 6) “Ibu Sundari Ingin Memperbaiki Penampilannya”

Disusun oleh : Kelompok 3 Almasulah Alakmaliyah (0906554402) Astrid Dinda Renata H (0906554434) Brent Ryan Iovah (0906552763) Dina Hoppy (0906626686) Felicia Chika H (09066266710) Lidya Namora (0906508806) Lili Nur Indah Sari (0906626811) Muhammad Ihsan P (0906626856) Nurul Ramadiani (0906488092) Sarah Farahyati (0906552782) Silviana S (0906488123) Sima Novrita (0906626995)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Kata Pengantar

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan penyertaan-Nya lah kami dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini dibuat guna memenuhi tugas kami pada skenario 3 blok 10 (Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 6) serta sebagai laporan hasil diskusi kelompok kami (kelompok 3) pada skenario 3. Laporan ini dapat tersusun atas bantuan berbagai pihak yang sangat membantu dalam proses diskusi dan penyusunan makalah. Ucapan terima kasih kami ucapkan pada fasilitator kelompok 3, drg. Fadli Jazaldi, Sp.Ort, seluruh staf pengajar blok 10, serta seluruh anggota kelompok 3 yang telah ikut serta dalam penyusunan laporan ini, dan pihak-pihak lain yang ikut serta membantu penyusunan laporan ini. Kami berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan laporan ini. Namun sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, laporan ini tentu masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran sangat diharapkan oleh penyusun. Akhir kata, kami mengharapkan agar laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Jakarta, 24 November 2011

Kelompok 3

1

Apa yang menyebabkan profil wajah pasien cekung? Adakah hubungannya dengan kondisi oral pasien? (terutama kasus gigi hilang yang banyak) 3.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana kondisi intra oral pasien dapat mempengaruhi kondisi ekstra oral pasien? 4. Bagaimana cara mengembalikan oklusi normal pada pasien? I.4 Hipotesis Pasien wanita 35 tahun terlihat lebih tua dari usianya disebabkan oleh kondisi intra oral pasien sehingga diperlukan pengembalian dimensi vertikal dan oklusi yang normal agar dapat memperbaiki penampilan. meminta dibuatkan gigi tiruan. datang ke klinik integrasi RSGMP FKG UI. Pada masa kecilnya. pasien tinggal di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh PAM. 2 . Mengetahui cara pemasangan model gigi di artikulator. 3. Mengetahui metode pembuatan galangan gigit. tujuan bahkan metode yang digunakan dalam penetapan dimensi vertikal. Adakah hubungan tempat tinggal saat kecil yang tidak terjangkau oleh PAM dengan kondisi oral pasien? 2. jenis. 2. Bagaimana rencana perawatan untuk pasien dengan mempertimbangkan kondisi intra oral dan ekstra oralnya? 5.3 Tujuan Penulisan 1. single. Keinginan pasien membuat gigi tiruan adalah untuk memperbaiki penampilannya agar wajahnya tidak terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. usia 35 tahun. I.1 Latar Belakang Ibu Sundari. Memahami definisi dimensi vertikal.BAB I PENDAHULUAN I. seorang karyawati bank swasta. I.

Klasifikasi Relasi Rahang 1. Free way space ini merupakan hal yang penting pada kesehatan jaringan periodonsium saat gigi masih ada. Pada dimensi vertikal oklusal. Istilah lain: . Dimensi vertikal ada 2 macam: a. Dimensi vertikal oklusal yaitu hubungan rahang atas (maksila) dengan rahang bawah (mandibula) dalam arah vertikal saat gigi geligi atau galangan gigi atas dan bawah dalam kedudukan oklusi sentrik. sedangkan bibir atas dan bibir bawah berkontak ringan. tonusnya seimbang dan kondilus dalam kedudukan relaks di dalam fossa glenoid.BAB II PEMBAHASAN A. Dimensi vertikal istirahat fisiologis yaitu hubungan rahang atas (maksila) dan rahang bawah (mandibula) dalam arah vertikal saat mandibula dalam kedudukan istirahat fisiologis. b.Postural position Pada dimensi vertikal istirahat fisiologis. sedangkan bibir atas dan bibir bawah berkontak wajar. gigi geligi rahang atas dan rahang bawah berkontak maksimum. Selisih dimensi vertikal istirahat fisiologis dan dimensi vertikal oklusal adalah free way space.Physiological position . Relasi Vertikal Rahang Relasi vertical merupakan penentuan jarak anatara rahang bawah dan rahang atas secara vertical di bawah kondisi tertentu. gigi geligi rahang atas dan rahang bawah tidak berkontak. Posisi istirahat fisiologis dari mandibula adalah posisi mandibula saat otot-otot elevator dan depressor mandibula dalam keadaan istirahat fisiologis. Jaraknya kurang lebih 2-4 mm. Kegagalan dalam menyediakan jarak ini pada gigi tiruan akan menyebabkan clicking pada gigi tiruan serta rasa sakit pada jaringan basalis dan merusak sisa alveolar ridge yang masih ada secara cepat.Rest jaw relation . 3 .

Hubungan ini benar-benar hubungan gigi dengan gigi dan sama sekali tidak mempermasalahkan posisi tulang rahang. Relasi Horisontal Rahang Ada 2 macam hubungan horisontal rahang yang penting dalam penentuan oklusi GTSL. Walaupun pasien dapat melakukan gerakan dan mencapai oklusi sentrik. umumnya sekitar 1-2 mm.Interocclusal gap/clearance . Pada 90% manusia. Relasi ini merupakan posisi paling posterior dan tidak tegang dari mandibula terhadap maksila pada suatu kedudukan dimensi vertikal tertentu dimana gerakan mandibula ke lateral masih mungkin dilakukan.Interocclusal distance . dimana terjadi hubungan antar tonjol maksimum.Celah/ruang antar oklusal . kecuali bila terjadi injuri atau kelainan sendi temporomandibular. Oklusi sentrik selalu berada sedikit lebih depan daripada relasi sentrik. relasi sentrik tidak bertepatan dengan oklusi sentrik. dan merupakan gerak penutupan habitual. karena itulah hal ini dianggap sebagai titik referensi dalam mengembangkan oklusi pasien. hal ini dianggap tidak dapat diulangulang dan tetap diragukan apakah dapat dainggap sebagai titik referensi untuk mengembangkan pola oklusi seseorang pasien. B. disadari. Posisi relasi sentrik tetap sama atau hampir demikian selama hidup manusia. Relasi ini merupakan hubungan gigi geligi pada salah satu rahang dengan antagonisnya pada rahang lawannya. Relasi sentrik adalah hubungan tulang dengan tulang antara mandibula dengan maksila.Interocclusal rest space 2. Penentuan Relasi Rahang pada Gigi Tiruan Sebagian Lepas 1.Nama lain dari free way space: . Mandibula dapat secara berulang dikembalikan pada posisi ini. Yang pertama adalah relasi sentrik. Hubungan horisontal kedua adalah oklusi sentrik. Posisi ini merupakan suatu keadaan yang terjadi karena adanya suatu siklus yang memang sudah terlatih. Definisi dan Tujuan 4 . dan dalam hal ini relasi tonjol gigi tidak diperhatikan.

mengembalikan ekspresi wajah normal dari pasien b. kanan. Kemudian oklusi “ada” dibagi lagi menjadi dua macam. dan menelan c. yaitu oklusi “ada” dan oklusi “tidak ada”. Oklusi ada tapi tidak fixed 5 . kemungkinan oklusi pada kasus oklusi GTSL ada 2 macam. dan anterior yang beroklusi. Kegunaan penetapan dimensi vertikal dan oklusi sentris : a. Fixed Oklusi Kasus GTSL Oklusi Ada Oklusi Tidak Ada Semifixed a.Penentuan relasi rahang atau juga disebut penentuan gigit adalah menentukan relasi mandibula terhadap maksila dalam keadaan oklusi sentris. Harmonisasi oklusi harus ada dalam gerakan relasi sentris. Tujuan dari membentuk suatu oklusi yang baik dalam gigi tiruan adalah untuk memperbaiki dan menjaga hubungan yang harmonis antara seluruh struktur rongga mulut dan untuk menjaga fungsi serta komponen sistem pengunyahan yang efisien dan estetik. yaitu kiri. yaitu oklusi “ada dan fixed” dan oklusi “ada tapi tidak fixed/semifixed”. Kontak yang menyimpang akan membahayakan jaringan penyangga dan sistem neuromuskular yang mengontrol pergerakan mandibula. menjaga kesehatan jaringan pendukung gigi tiruan dan sisa gigi yang masih ada 2. interkuspasi maksimal dan semua posisi eccentric lainnya. fungsi kunyah. mengembalikan fungsi bicara. Oklusi ada dan fixed Minimal 3 regio gigi berkontak. Oklusi pada GTSL Pada dasarnya. b. Penentuan relasi rahang ini menjadi pedoman dalam penyusunan gigi di artikulator sehingga terbentuk oklusi yang baik dalam gigi tiruan. Sehingga dapat dioklusikan dengan mudah dan tidak diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit.

Sehingga diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit dengan bentuk galengan gigit. pada kasus gigi-gigi berkontak cukup banyak. atau kanan+anterior). c. Oklusi ada tapi tidak fixed/semifixed Ada 2 cara. kemudian pasien diinstruksikan untuk mengigit sehingga ada gambaran oklusal gigi lawan pada permukaan galangan gigit tersebut dan gigi yang dipakai sebagai pedoman harus beroklusi dengan benar. Dapatkan DV oklusal 3. Dengan memakai galangan gigit. c. Tentukan DV istirahat 2. Oklusi tidak ada Dengan basis dan galangan gigit pada rahang atas dan rahang bawah: 1. Dengan menggigit selapis malam. yaitu: 1. Sehingga diperlukan tahapan pembuatan catatan gigit/penentuan gigit dengan bentuk galengan gigit. atau kiri+anterior. Kemudian galangan gigit disesuaikan dengan sisi yang ada pada rahang atas dan bawah. b. karena model rahang atas dan rahang bawah sudah dapat beroklusi dengan baik dan mantap. Oklusi ada dan fixed Tidak perlu ditentukan.Hanya 2 regio gigi yang berkontak (kiri+kanan. tapi salah satu sisi rahang dimana gigi yang menentukan kunci oklusi tidak ada. missal molar 1 (umumnya kelas II Kennedy) 2. Cara Menentukan Gigit Menurut Oklusi Gigi yang Ada a. Tentukan relasi sentris 4. Oklusi tidak ada Tidak ada gigi yang beroklusi dengan benar. Fixasi galangan gigit rahang atas dan bawah Penjelasan:  Sebelum menentukan DV. perlu diperhatikan terlebih dahulu kedudukan basis dan galangan gigit di dalam mulut 6 . Pertama kali yang harus diperhatikan gigi yang berkontak dengan benar yang akan diupakai sebagai pedoman oklusi.

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Proses Penentuan Gigit 1. yaitu 2 daerah posterior dan 1 daerah anterior  Galengan gigit dibuat di atas lempeng gigit  Bahan terbuat dari malam model atau wax  Galengan gigit dibuat dengan membentuk wax menjadi suatu gulungan memanjang yang kemudian diletakkan di atas lempeng gigit. alveolaris  Bentuk segi empat atau trapesium  Guna galengan gigit untuk menentukan dukungan yang wajar bagi bibir dan pipi. kira-kira di pros. sehingga estetis terlihat baik. dan untuk tempat menyusun gigi-geligi Penentuan Relasi Rahang dengan Bantuan Galengan Gigit Cara ini digunakan bila ada satu atau lebih daerah perluasan distal. Pembuatan Galengan Gigit  Fungsi : menggantikan prosesus alveolar yang telah hilang setelah mengalami resorpsi karena hilangnya gigi  Memperhatikan 3 daerah kontak yang berbeda antara kedua rahang. 4. menetapkan hubungan antar rahang. 3.  Galangan gigit anterior dibuat tingginya sebatas bibir atas. sesuai lengkung rahang dan bagian insisal tidak terlalu tebal. Untuk bagian bukal. Bagian palatum dibuat agak melengkung. atau sadel tertutup yang cukup lebar atau bila gigi yang masih ada sudah tidak kontak. tebalnya ke bukal cukup untuk mendukung bibir. Bidang oklusal galangan gigit atas diatur sedemikian rupa hingga sejajar dengan garis ala trachus (untuk bagian posterior). Pastikan bahwa tidak ada gigi asli yang kontak prematur dan blocking 7 . sampai batas mukosa gerak dan tidak bergerak  Untuk rahang bawah. basis menutupi semua mukosa palatum durum sampai batas fibrating line di bagian posterior. Untuk rahang atas. Galangan gigit rahang bawah dibuat berkontak bidang dengan galangan gigit rahang atas bila dioklusikan. basis sampai menutupi ruang molar pad dan sampai batas mukosa gerak dan tidak bergerak dibagian bukal dan lingual.

Berkurangnya Dimensi Vertikal 8 . panjang mahkota klinis ataupun keduanya. Gigi yang Tipping atau Malposisi Gigi posterior cenderung tipping ke anterior ketika terdapat ruang di mesial. Bila gigi sudah ekstrud cukup parah. Gigi yang ekstrud Bila gigi ekstrud sampai dengan 2 mm dapat dilakukan enameloplasty. diindikasikan pemakaian gigi tiruan cekat. Bila ada gigi yang tidak sesuai dengan curve of spee: a. c. Bila ekstrud lebih dari 2 mm. Bila tulang alveolar telah mengikuti erupsi gigi tersebut maka gigi tersebut dapat di cabut atau merekontur tulang tersebut. Jika ukuran pulpa mengganggu reduksi gigi. Perawatan ortodontik untuk pergerakan gigi minor dapat digunakan untuk uprighting gigi tersebut. b. Reduksi gigi bisa terbatas oleh ukuran pulpa. misalnya berkontak dengan rigde antagonis dapat menimbulkan masalah. terapi endodontic harus dilakukan sebelum preparasi.2.

akan terlihat gambaran oklusal gigi antagonis pada galangan gigit dan tekanan yang diterima mukosa tidak besar. tidak boleh dengan tekanan yang besar karena dapat menyebabkan displacement (pergerakan) mukosa dibawah basis. (Setelah pencetakan model kerja) 3. 6.pandangan lurus ke depan .Gigi dapat mengurangi dimensi vertikal seperti pada kasus atrisi dan intrusi. sukar dilakukan 9 . Pencegahan: Sebelum pasien menggigit (beroklusi).rileks 2. Bila beroklusi. Bila hal ini terjadi perlu dilakukan peningkatan dengan menggunakkan resin acrylic overlay temporary removable device yang digunakan 24 jam selama 1-3 bulan.kepala tegak . terutama pada kasus free end sehingga dapat mengakibatkan oklusi modeh rahang atas dan rahang bawah tidak tepat. Bila ada gigi yang tidak sesuai dengan curve of spee: Pada saat menggigit galangan gigit. Posisi pasien : . Insisal gigi anterior tidak boleh menyentuh basis galangan gigit rahang atas 5. 4. Bila ada gangguan neuromuskular. karena dapat mengganggu oklusi model rahang atas dan rahang bawah. kemudian diganti dengan bahan cetak Zinc Oxide Eugenol Pasta atau gips cetak. Pada pembentukan basis model kerja. Cara Penetapan Dimensi Vertikal Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan dimensi vertikal: 1. bagian posterior tidak boleh terlalu tinggi.duduk tegak . 5. lunakkan permukaan galengan gigit sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan tekanan waktu beroklusi. Bagian posterior galangan gigit rahang atas tidak boleh menekan retromolar pad rahang bawah. Dapat juga dengan mengurangi galangan gigit ± 1mm.

mengerjakannya jangan terlalu lama. kemudian disuruh menutup mulut perlahanlahan sampai bibir berkontak ringan 10 . ada 2 macam: 1. Dimensi Vertikal Oklusal Adalah hubungan antara rahang atas dan rahang bawah dalam arah vertikal saat gigigeligi atau galengan gigit rahang atas dan rahang bawah dalam kedudukan oklusi sentrik. misal penderita jantung atau penyakit yang melemahkan. Dimensi Vertikal Istirahat Fisiologis Adalah hubungan antara rahang atas dan rahang bawah dalam arah vertikal saat mandibula dalam kedudukan istirahat fisiologis. Cara Penetapan Dimensi Vertikal Istirahat Fisiologis 1) Pengukuran wajah a. Demikian pula untuk pasien yang cepat merasa bosan 4. Perlu digunakan beberapa cara untuk membandingkan hasilnya. 2. Metode Sornsen : wajah dibagi menjadi 3 bagian yang sama panjang. Buat satu titik di ujung hidung dan satu titik di bagian yang lain di bagian dagu yang paling menonjol. kemudian pasien disuruh mengucapkan huruf “M” dan disuruh menahan pada posisi terebut lalu jarak kedua titik tersebut diukur b. karena hasil dari masing-masing cara secara sendiri biasanya kurang sempurna Dimensi vertikal. lalu diukur 3) Fonetik  Ajak pasien berbicara sampai lelah. Metode Willis : proyeksi sudut mata – proyeksi sudut mulut = basis hidung-basis dagu 2) Rasa “tactile” Pasien disuruh mebuka mulut lebar sampai otot terasa tegang kemudian disuruh relaks dan menutup mulut. Pasien yang cepat lelah. sehingga jarak dari batas rambut-glabella= glabella-basis hidung=basis hidung-dagu c.3.

Jarak papilla incisiva ke bagian insisal insisif bawah pada model diagnostik rata-rata adalah 4 mm pada gigi asli .Papilla incisiva merupakan bagian RA yang letaknya relatif stabil setelah processus alveolaris RA mengalami resorpsi akibat kehilangan gigi . Kesejajaran sisa alveolar .Menyejajarkan sisa alveolar RA dan RB ditambah pembukaan 5 derajat dibagian posterior sering memberikan petunjuk besarnya pembukaan rahang yang benar. Pasien disuruh mengucapkan huruf “M” dan disuruh menahan pada posisi tersebut.Tepi incisal gigi incisive central atas rata-rata 6 mm dibawha papilla incisiva . 11 . hilangnya gigi geligi tersebut cenderung meninggalkan sisa alveolar hampir sejajar satu sama lain. Cara Mekanik 1.Kesejajaran ini bersifat alamiah karena gigi geligi dalam keadaan oklusi normal meninggalkan sisa alveolar dibagian posterior sejajar satu sama lain. lalu diukur. Jarak dari papilla incisive ke incisif mandibula .Karena panjang mahkota klinis gigi geligi asli anterior dan posterior hampir sama. Hubungan sisa alveolar a.Papilla incisiva dipakai dalam mengukur dimensi vertical pasien . hal ini akan ideal bila ditinjau dari sudut pandang mekanikkarena gigi tiduran tidak akan cenderung bergeser ke anterior atau ke posterior. . bila tidak ada perubahan abnormal dari prosesus alveolaris. Cara Penetapan Dimensi Vertikal Oklusal i.Menutupnya gigi geligi atas anterior trhadap gigi geligi lawannya di RB kira-kira 2 mm . .Pengukuran ini merupakan ukuran rata-rata sehingga pemakaiannya harus berhati-hati dan tidak berlaku pada pasien dengan resorpsi berat b.

Pengukuran dari gigi tiruan sebelumnya Pengukuran dapat dihubungkan dengan pemeriksaan-pemeriksaan wajah pasien untuk mengetahui jumlah perubahan yang diinginkan. Tetapi masalah-masalah penentuan dimensi vertikal istirahat dan pembesaran bayangan menyebabkan ketidakcermatan. Kemudian apabila pemeriksaan menunjukkan bahwa wajah pasien jaraknya terlalu pendek. .Kebanyakan pasien kehilangan giginya tidak dalam waktu yang bersamaan . c. dalam wakut tidak terlalu lama akan sejajar. Pengukuran-pengukuran ini dibuat di antara tepi-tepi gigi tiruan atas dan bawah dengan memakai alat ukur (Boley Gauge). 2. 3.Pada akhirnya gigi geligi telah hilang semuanya. Profil radiograf Profil radiograf dari wajah mungkin dapat dipakai. bentuk sisa alveolar tentu tidak sejajar. Model-model gigi geligi dalam oklusi Suatu cara sederhana mencatat hubungan penutupan vertikal. besar dan bentuk gigi geligi adalah dengan mempergunakan model diagnostik yang dipasang di artikulator. Pengukuran. 12 .. b. perubahan yang diperlukan dapat dibuat pada gigi tiruan baru.pengukuran wajah Dengan mencatat jarak dari dagu ke dasar hidung dengan memakai jangka sebelum gigi geligi dicabut. Pencatatan-pencatatan pra pencabutan a. Model akan memberi petunjuk jumlah ruang yang diperlukan di antara sisa alveolar atas dan bawah untuk gigi dengan ukuran tersebut.Bila kehilangan gigi dalam jarak waktu yang tidak teratur atau menderita kehilangan tulang dalam jumlah besar karena penyakit periodontal atau resorpsi.

Galengan gigit posterior atas harus sejajar dengan garis Camper / garis ala treagus. Untuk menetapkan DV oklusal. 2.  Estetik juga dipengaruhi oleh hubungan vertical mandibula terhadap maksila. Kontur bibir tergantung pada struktur intrinsiknya dan dukungan yang diberikan oleh struktur di belakangnya. misalnya: saat mengucapkan huruf S. yaitu: pertama. Cara Fisiologis 1. harus ada celah kira-kira 1-2mm di antara galengan gigit atas dan bawah.Galengan gigit atas dimasukkan ke mulut pasien. . Sebagai petunjuk. dan dilihat dukungannya terhadap bibir atas. uji coba dengan pengucapan huruf labiodental (F. . Fonetik dan Estetik Dilakukan dengan mendengarkan hasil suara bicara dan dengan melihat hubungan gigi geligi selama berbicara:  Huruf „S‟ harus terdengar dengan jelas. . bukan seperti „SY‟ atau „SH‟.Setelah menentukan DV istirahat. maka DV oklusal diuji coba dengan berbagai cara. Kedua. dan W).ii. Bagian oklusal galengan gigit bawah harus berkontak merata dengan galengan gigit atas pada seluruh lengkung rahang. filtrum harus tetap tampak normal. Menelan harus dapat dilakukan dengan mudah.Setelah didapatkan hasil yang diinginkan. . dimensi vertical oklusal terlalu tinggi.Galengan gigit bawah dimasukkan ke mulut pasien. tonus bibir dibandingkan dengan kulit bagian lain dari wajah. Tinggi galengan gigit atas anterior +/. hubungannya dengan papilla insisivum. kemudian galengan gigit dimasukkan ke mulut pasien. Posisi Istirahat Fisiologis .Protrusi galengan gigit anterior dapat ditentukan dengan beberapa pedoman. Bila gigi anterior menyinggung pada saat suara-suara tersebut diucapkan.1-2mm di bawah bibir atas untuk panjang bibir yang normal . galengan gigit bawah dikurangi 2-4mm untuk free way space. 13 . V. Produksi suara desis ini hanya dapat terjadi secara jelas dan wajar apabila gigi geligi anterior atas dan bawah saling mendekat.

galengan gigit saling mendekat tetapi tidak berkontak. Ambang rasa menelan Berpedoman bahwa pada saat menelan. dinamakan Perleche  dalam waktu lama dapat menimbulkan TMD  ruang antara lidah terbatas 14 . Caranya adalah dengan membuat malam lunak dibentuk seperti kerucut pada basis gigitiruan bawah sehingga berkontak dengan galengan gigit atas pada saat rahang membuka sangat lebar. gigi saling mendekat dan berkontak dengan sangat ringan pada permulaan siklus menelan. Bila oklusi gigi secara terus menerus hilang pada saat menelan. Uji Coba Dimensi Vertikal dengan Galengan Gigit Caranya yaitu :  Keputusan dukungan fasial secara kesuluruhan  Terdapat celah sebesar 2-4 mm pada rahang dalam posisi istirahat fisiologis  Pengucapan kata-kata desis.3. besar celah 1-2 mm  Pendapatan pasien mengenai kenyamanan tinggi galengan gigit  Pasien harus dapat menelan dengan mudah  Estetik disesuaikan dengan usia pasien DV oklusal terlalu rendah bila freeway space lebih besar dari 2-4 mm dengan tandatanda:  pada saat bicara ucapan kurang jelas  wajah tampak lebih tua dari usia sebenarnya  efisiensi kunyah menurun  dapat terjadi di sudut mulut. Rasa taktil dan laporan penderita mengenai kenyamanan 6. Aksi menelan saliva yang berulang-ulang secara perlahan mengurangi tinggi malam tersebut sehingga mandibula mencapai tingkat dimensi vertikal oklusal yang baik 4. Lalu aliran saliva dirangsang dengan sepotong kain. maka dimensi vertikal oklusal terlalu rendah.

dan operator mendorong mandibula ke posterior.  Metode Rehm Ibu jari dan telunjuk diletakkan pada daerah vestibulum menekan lempeng gigit. bibir sukar ditutup  pasien sukar menelan  waktu berbicara gigi atas beradu dengan gigi bawah  setelah pemakaian gigi tiruan berapa lama. Pasien rileks. Kedua galengan gigit difiksasi 2. Pasien diminta menggigit dan kedua galengan gigit difiksasi. Lalu kedua galengan difiksasi. Pasien diminta menggigit sehingga posisi kondilus dalam fosa glenoid tidak tegang.  Metode Gravitasi Pasien diminta duduk di kursi sedemikian sehingga kepala menengadah ke atas. alveolaris  otot-otot pembuka dan penutup rahang lama-lama merasa lelah 7.DV oklusal terlalu tinggi bila freeway space kurang dari 1-2 mm dengan tanda :  pasien sukar bicara  mulut tampak penuh (otot muka tegang. dan jari tengah dibengkokkan ke bawah dagu.  Metode Green Pasien diminta menggigit kuat. Penetapan Relasi Sentris Cara penetapan relasi sentries secara garis besar ada 2 macam: 1. Cara pasif/ statis  Metode Gysi Ibu jari dan telunjuk operator diletakkan di bagian ventral muskulus masseter. Cara aktif/ fungsional 15 . Kedua galengan gigit difiksasi. Perlahan mandibula didorong ke posterior dan pasien diminta menggigit. pasien merasa sakit seluruh puncak pros. Oleh gaya gravitasi mandibula. mandibula akan terdorong ke posterior sehingga kondilus akan menempati posisi paling posterior tetapi tidak tegang dalam fossa glenoid. Bila relasi sentrik benar maka otot temporalis ventral akan terasa menggelembung pada saat diraba dengan jari-jari tangan kanan dan kiri.

Lalu kedua galengan gigit difiksasi. Dalam keadaan panas. Lalu pasien diminta membuka mulut dan di atas galengan gigit bawah dituangkan adonan gips. lalu ditunggu hingga keras. 8. salah satu ujung staples ditusukkan pada galengan gigit bawah. Pasien diminta menelan dan menggigit sehingga kedua galengan gigit berkontak kembali. dan tunggu sampai malam mengeras. pasien diminta menelan. atau pasta ZOE. Fiksasi dapat dilakukan dengan cara: a. sehingga membentuk huruf “V” dengan bagian yang terbuka ke arah oklusal. c. Lalu bulatan tersebut ditempelkan ke lempeng gigit rahang atas palatum paling posterior pada bagian tengah. lalu staples ditusukkan pada galengan gigit sampai staples dingin agar fiksasi kuat. Lalu galengan gigit bawah anterior antara kedua “V” dikurangi kurang lebih 1-2mm. b. galengan gigit tersebut selanjutnya dipindahkan ke articulator. Cara menelan Setelah dimensi vertikal oklusal ditentukan dengan benar. Sebagian dari malam galengan gigit bagian oklusal atas dan bawah di daerah premolar dan molar dihilangkan. dan dipanaskan. Fiksasi Setelah kita mendapatkan relasi rahang yang sesuai antara mulut pasien dan model kerja. Hal yang sama dilakukan pada region premolar dan molar kanan-kiri. Bagian galengan gigit yang telah dikurangi tadi akan terisi oleh adonan bahan tadi sebagai bahan untuk memfiksir 16 .  Cara Nukleus Walkhof Malam model dibentuk bulat sebesar biji jagung. Agar kedudukan galengan gigit tersebut tidak berubah maka diperlukan fiksasi galengan gigit. Staples dipegang dengan pinset. lalu galengan gigit atas dan bawah difiksasi. Lalu selagi malam masih cair. Pasien diminta menyentuh dengan ujung lidah bulatan malam tadi sambil menutup mulut. Pisau malam panas ditusukkan di daerah premolar dan molar kanan-kiri di sekitar bagian oklusal galengan gigit sehingga separuh daun pisau malam masuk ke galengan gigt atas dan separuh lago ke bawah. atau modeling compound yang telah dilunakkan. pisau segera ditarik keluar.

sendi dengan lengan yang bisa disetel. dan Whip Mix Bagian-bagiannya : lengan atas dan bawah.galengan gigit atas dan bawah pada posisi relasi sentrik. contoh : okludator Anatomis : dapat menirukan semua gerakan rahang  Non . facebow. meja insisal yang dapat diatur kemiringannya. pin insisal. Kedua galengan gigit dikeluarkan bersama-sama. 17 . ada penopang vertical yang stabil  Dapat memegang model rahang atas dalam hubungan horizontal yang baik.Hanau. contoh : dentatus ARH. Untuk memindahkan posisi maksila pada artikultor diperlukan alat tambahan . 9.adjustable : lereng sendinya tidak dapat disetel sesuai dengan keadaan pasien dan gerakannya rata-rata  Adjustable : unsur-unsur articulator dapat disetel sesuai dengan kondisi pasien dan gerakannya lebih mendekati gerakan pada mulut pasien  Semi-adjustable : hanya beberapa unsure yang dapat disetel. Artikulator Artikulator merupakan alat mekanis yang dapat menirukan gerakan rahang dan dapat memegang model rahang atas dan rahang bawah dalam hubungan seperti aslinya Kegunaan artikulator:  Alat bantu pembuatan gigi tiruan yntuk memperolah oklusi dan artikulasi yang baik dan seimbang  Alat bantu untuk mengevaluasi oklusi dan artikulasi di luar mulut dan mengidentifikasi kelainan yang ada Syarat-syarat artikulator:  Kuat dan mudah dibersihkan  Dapat memegang model rahang dalam hubungan vertical yang baik. jarak antar sendi mendekati sebenarnya Klasifikasi Artikulator:  o o Menurut Heartwell Non anatomis : hanya meniru gerakan buka tutup.

GTL dan GTC sederhana. Fully adjustable : semua unsure dapat disetel sehingga kondisi oklusi dan artikulasi pasien benar-benar diproyeksikan pada artikulator. sendi dengan sudut lereng rata. Indikasi pemakaiannya adalah untuk GTS kompleks. Contoh : whip mix Tipe Non. Pemasangan Model di Artikulator Artikulator yang umum digunakan adalah artikulator rata-rata (free plane articulator/ average articulator) yang terdiri dari lengan atas dan lengan bawah.Arcon : kondilus terletak di lengan atas articulator dan fossa di lengan bawah sehingga gerakan terbalik. dan meja insisal dengan kemiringan rata-rata.  Menurut Kemampuan Sendinya o o o Sendi Engsel (simple hinge): gerakannya hanya buka tutup seperti pada okludator Sendi dengan lintasan tertentu: sudut lerengsendi dan insisal ditentukan oleh pabrik berdasarkan rata-rata. ujungnya menempel pada incisor guide table dan sekrup dikencangkan. petunjuk oklusal. Persiapan artikulator  Lengan atas dan bawah sejajar  Iincisor guide pin dimasukkan maksimal ke dalam tempatnya. Contoh: Dentatus arch 10. Contoh: free plane Ukuran lereng sendi dan lereng insisl dapat disetel secara individual  Berdasarkan letak kondilusnya o o Tipe Arcon : kondils berada di lengan bawah articulator dsn fossa pada lengan atas.  Split cast plate difixir dengan gips pada lengan artikulator dengan posisi garis tengah berimpit dengan garis tengah artikulator  Permukaan dalam lengan atas dan bawah diberi Vaseline 18 . Cara pemasangan model di artikulator: a. insisal pin.

titik tengah antara tonjol rugae palatine kedua dan tengah-tengah papilla insisivum. Setelah itu. Pemasangan model pada artikulator  Menggunakan karet gelang. galengan gigit RA dan RB difixir dengan isi stapler dan lakukan pengecoran RB. Galengan gigit difixir dengan anak isi stapler dan model difixir dengan batak korek api yang dilekatkan dengan sticky wax c. 19 . titik tengah antara kedua fovea palatine.  Dibuat garis tengah pada galengan gigit berdasarkan garis tengah model  Dioleskan selapis tipis vaselin pada permukaan kunci dan dasarmodel. untuk rahang atas ditarik melalui frenulum labialis superior. oclusal plane table diposisikan pada tempatnya. Untuk rahang bawah ditarik melalui frenulum labialis superior dan titik tengah jarak tepi lingual prosesus alveolaris posterior.  Menggunakan tepi bidang oklusal.b. Kemudian rahang atas dipasang pada artikulator dengan gips. Garis tengah galengan gigit.  Galengan gigit dilekatkan pada model dengan meneteskan malam merah cair pada tepi lempeng gigit  Model difixir pada relasi sentris. garis tengah model dan garis tengah artikulator berimpit. model disatukan dan diletakkan pada artikulator dengan malam mainan untuk mengganjal dasar model bawah dengan posisi garis tengah model sebidang dengan artikulator. incisor indicator menyinggung perpotongan garis tengah galengan gigit dan bidang oklusal. Bidang oklusal galengan gigit terletak satu bidang dengan bidang oklusal artikulator (garis imajiner yang dibentuk oleh karet gelang). Persiapan pada model  Dibuat garis tengah pada model.

galengan gigit kemudian difiksasi lalu dipindahkan ke artikulator untuk kemudian dilakukan penyusunan gigi. Oklusi gigi pada kasus GTSL untuk Ibu Sundari ini termasuk oklusi tidak ada. sehingga perlu pembuatan basis/ lempeng gigit dan galengan gigit. serta kesehatan jaringan mulut terpelihara. 31. 20 . dan penelanan normal.BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari hasil pemeriksaan intra oral. gigi pasien yang tersisa yaitu 14. 32. dan GTSL akrilik gingival dengan cengkram vestibular finger di sisa gigi anterior pada rahang bawah. secara ekstra oral. Keadaan intra oral ini membuat penampilan pasien. menjadi terlihat lebih tua dari umurnya. Dilanjutkan dengan penentuan dimensi vertikal dan horisontal. 41 dan 42 tidak memiliki gigi antagonis sehingga gigi-gigi bawah yang tersisa berkontak dengan palatum dan gigi-gigi atas yang tersisa berada pada prosessus alveolaris mandibula. fungsi bicara. 25. Diagnosis: Pada rahang atas terjadi kehilangan gigi tipe I Kennedy modifikasi 1 Pada rahang bawah terjadi kehilangan gigi tipe I Kennedy Diperlukan rehabilitasi dan pemasangan GTSL untuk pasien Rencana perawatan: Penyampaian DHE Pemasangan GTSL dengan desain GTSL akrilik gingival dengan cengkram 2 jari gingival pada gigi 15 dan 25 untuk gigi rahang atas. pengunyahan. Setelah mendapatkan relasi rahang yang sesuai. Tujuan dari penetapan dimensi vertikal dan horisontal/ relasi sentries bagi pasien adalah untuk mengembalikan hubungan antar rahang yang normal. sehingga estetika. 15.

Chicago. Quintessence. Boucher’s Prosthodontic Treatment for Edentulous Patients. Stewart’s Clinical Removable Partial Prosthodontics. St. 21 . 1984. Louis. 2003. Lea and Febiger. McGivney GP. Cagna DR. McCracken’s Removable Partial Prosthodontics.. 11th ed. 2004 Heartwell CM. Rahn AO. Syllabus of Complete Dentures. 2005. Philadelphia. 12ed. Carr AB. Zarb GA. 3rd ed. Bolender CL.DAFTAR PUSTAKA Phoenix RD. CV Mosby Co.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->