P. 1
Perlunya Membangun Etika Ekonomi

Perlunya Membangun Etika Ekonomi

|Views: 187|Likes:
Published by Ncha Axelle

More info:

Published by: Ncha Axelle on Mar 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Perlunya Membangun Etika Ekonomi JATUHNYA bangsa Indonesia dalam kubangan krisis yang begitu lama, sebenarnya bukan

murni pada aspek permasalahan ekonomi saja. Ekonomi kalau pendapat saya, hanyalah sasaran antara yang menjadi biang kerok oleh para pengambil kebijakan dan koruptor. Filsuf ekonomi yang begitu agung tentang tata kelala rumah tangga yang baik mengalami pergeseran fungsi yang sangat fatal hanya karena perilaku yang serakah. Setiap kebijakan yang diambil pemerintah selalu berkalkulasi berapa keuntungan yang mereka ambil dalam bentuk biaya liar yang mungkin bisa mereka peroleh. Indonesia adalah contoh dari sebuah proses keserakahan oleh para elit dan stakeholder-nya. Mengapa tidak. Andaikan landasan moral dan etika yang dikuatkan dalam pengambilan kebijakan, mungkin apa yang pernah kita dengar tentang kontroversi kebijakan BLBI tidak akan pernah terjadi. Ini tidak usaha rekayasa ekonomi yang lebih ditonjolkan darpada aspek etika dan moral dari seorang pengambil kebijakan kala itu. Lantas bagaimana mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sekarang ini? Apakah memang persoalan ekonomi bangsa kita murni karena persoalan ekonomi semata? Apakah ekonomi itu berdiri sendiri layaknya sebuah bangunan yang di dalamnya banyak unsur pendukung? Tentu ekonomi dan konsekuensi logis yang ditimbulkannya tidak berdiri sendiri dan ditopang oleh unsur lain. "Sikap memisahkan pertimbangan ekonomi dari pertimbangan-pertimbangan etika umumnya berangkat dari asumsi bahwa ekonomi hanya berkembang maksimal ketika beroperasi semata-mata dengan motif ekonomi. Dengan kata lain, etika menghambat produktivitas. "Kemiskinan" kembali menjadi topik dalam Presidential Lecture yang disampaikan ekonom Harvard Prof David T Ellwood di Istana Negara, Jakarta pada tanggal 15 September 2010. Salah satu hal menarik dari paparan Ellwood adalah pesannya untuk tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga pemerataan. Catatan Ellwood menyadarkan kita bahwa tingginya angka pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan kwalitas kesejahteraan umum suatu bangsa. Pertumbuhan yang digenjot tanpa disertai distribusi yang adil akan bermuara pada akumulasi modal pada segelintir orang kaya, di satu pihak, dan kemiskinan massal yang dialami rakyat kecil, di lain pihak. Untuk konteks Indonesia, pesan Ellwood sangat penting. Mengapa? Keterjebakan "Mainstream" Banyak orang berpendapat bahwa apa yang disampaikan Ellwood sebagai strategi untuk keluar dari kemiskinan sesungguhnya tidaklah baru. Syarat "ekonomi yang kuat" serta "keunggulan komparatif jangka panjang" yang diajukan Ellwood, misalnya, pasti sudah dibicarakan banyak ekonom. Lalu, mengapa ekonomi tetap saja menjadi masalah? Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998, memberi jawaban menarik: karena para ekonom cendrung terjebak dalam ekonomi mainstream-ekonomi semata-mata sebagai ilmu rekayasa yang serbaformal kalkulatif (Amartya Sen, On Ethics and Economics, 1988). Pendekatan rekayasa dalam ekonomi diakui Sen telah membawa banyak manfaat bagi manusia. Banyak kemajuan yang dinikmati sekarang ini merupakan buah pendekatan ekonomi rekayasa yang bekerja dengan kalkulasi-kalkulasi kuantitatif.

Ekonomi rekayasa cenderung puas dengan capaian-capaian kuantitatif dan karenanya analisis-analisisnya steril dari pertimbangan-pertimbangan etika. Nicomachean Ethics. Misalnya. Argumen di atas bisa menyesatkan.7% pada tahun 2009. apalagi kota metropolitan seperti Jakarta. ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif dengan angka 4%. apalagi jauh lebih kecil. Angka satu dolar Amerika Serikat yang digunakan sebagai standar minimum pendapatan per orang per hari. Masih harus dihitung besaran riil angka penduduk kota dibandingkan dengan jumlah penduduk desa. yakni dari 24.8% pada tahun 2009 (Andre Ata Ujan: Suara Pembaruan. Padahal. juga di tengah kinerja positif ekonomi. barangkali sangat berarti bagi seorang penduduk desa.8% pada tahun 2001 menjadi 11. 25/09/2020: Ekonomi Rekayasa Tidak Cukup). Misalnya. seberapa pun tingginya. masih harus dipersoalkan apakah standar kemiskinan perkotaan juga relevan digunakan untuk pedesaan dan sebaliknya. kemajuan ekonomi dalam hitungan kuantitatif. Itu sebabnya. Ekonomi menjadi keahlian yang memungkinkan manusia secara cerdas memilih berbagai alternatif instrumen untuk memaksimisasi nilai sumber daya yang terbatas. Dalam arti ini. Apabila jumlah penduduk desa lebih kecil. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009 mencatat jumlah penduduk miskin perkotaan meningkat dari 9. orang masih bisa hidup karena masih bisa makan dengan uang sebesar itu. Mengapa? Upaya pendekatan ekonomi formalkalkulatif hanya bermuara pada menjawab pertanyaan "bagaimana manusia hidup?". tidak dengan sendirinya efektif menurunkan angka kemiskinan. Tanpa itu. Dengan satu dolar Amerika Serikat atau Rp 9. Sepintas. Sementara sekelompok orang meraih . Pendapatan satu dolar Amerika Serikat per hari untuk mereka yang sebelumnya hidup di bawah garis kemiskinan atau kemiskinan absolut. ekonomi hanya berperan sebagai science of choice (Karl Polanyi: The Great Transformation. para pembela ekonomi formal bisa saja berargumentasi bahwa pertumbuhan ekonomi telah membawa peningkatan kesejahteraan bagi rakyat banyak karena penurunan angka kemiskinan pada tingkat pedesaan terbukti signifikan. 2001). dari jumlah penduduk perkotaan maka tingginya angka statistik tidak dengan sendirinya merefleksikan kualitas signifikansi penurunan angka kemiskinan.Suskes itu menggoda sebagian ekonom mereduksi ekonomi menjadi semata-mata ekonomi formal-kalkulatif. tetapi pasti sangat tidak berarti bagi penduduk sebuah kota. apakah jumlah seperti itu layak untuk mendukung kehidupan yang berkualitas? Di dalam alam republik yang kaya raya ini. lantas apa upaya kita memerangi kemiskinan yang terus melilit bangsa ini? Tidak ada kata lain sebuah bangunan kebijakan ekonomi sehebat apapun itu harus didasari oleh niat yang baik (etika) untuk menyejahterakan masyarakat kita. Gejala ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ketidakadilan ekonomi terus saja berlangsung. Lebih dari itu. kenyataan itu tidak berpengaruh signifikan menurunkan angka kemiskinan. Tetapi. misalnya. Meskipun pada saat yang sama terjadi penurunan signifikan angka kemiskinan di pedesaan.000. krisis ekonomi hanya akan memperparah kehidupan masyarakat kecil. sementara gerak sebaliknya yang terjadi pada penduduk perkotaan ternyata kecil. Tetapi.8% pada tahun 2001 menjadi 17. tentu saja sangat berarti. 1999). apakah pantas kualitas kesejahteraan manusia dikuantifikasi sedemikian rendah? Tentu tidak. yang lebih penting: "bagaimana manusia seharusnya hidup?" (Aristoteles. Selama krisis tahun 2008.

(Drs Anton AP Sinaga MSi) .keuntungan dari krisis tersebut.*** Penulis adalah dosen Kopertis dpk STIE Nusa Bangsa Medan/Mahasiswa S-3 USU.

Dalam kasus Lapindo. Harus diakui. 2006) dalam buku Winners Never Cheat. kepentingan utama ekonomi adalah menghasilkan keuntungan maksimal bagi shareholders. melubernya lumpur dan gas panas di Kabupaten Sidoarjo yang disebabkan eksploitasi gas PT Lapindo Brantas. . Fokus itu membuat perusahaan yang berpikiran pendek dengan segala cara berupaya melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan keuntungan. dalam bisnis. Hal sama juga dikemukakan miliuner Jon M Huntsman. bagaimana perusahaan bersedia melakukan apa saja demi laba. Wajar bila ada kesimpulan. Dari kasus-kasus yang disebutkan sebelumnya. berargumen bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebih sukses dalam jangka panjang. Kompetisi semakin ketat dan konsumen yang kian rewel sering menjadi faktor pemicu perusahaan mengabaikan etika dalam ekonomi . Produk berbahaya itu masih beredar di pasaran. belakangan beberapa akademisi dan praktisi ekonomi melihat adanya hubungan sinergis antara etika dan laba. Sebelumnya. satusatunya etika yang diperlukan hanya sikap baik dan sopan kepada pemegang saham. Kedua. ada kesan permintaan maaf itu klise. Pada kasus HIT. Perusahaan pun terkesan lebih mengutamakan penyelamatan issa-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. 2005 (dalam Itpin. Atas kasus-kasus itu. meski perusahaan pembuat sudah meminta maaf dan berjanji akan menarik produknya. Pertama. kedua perusahaan terkesan melarikan diri dari tanggung jawab. kita semua dikejutkan dengan pemakaian formalin pada pembuatan tahu dan pengawetan ikan laut serta pembuatan terasi dengan bahan yang sudah berbelatung. bencana memaksa penduduk harus ke rumah sakit. 2006) penulis buku Moral Intelligence. obat antinyamuk HIT yang diketahui memakai bahan pestisida berbahaya yang dilarang penggunaannya sejak tahun 2004. Dikatakan. 2005 (dalam Itpin.ETIKA DALAM EKONOMI BAB I PENDAHULUAN Permasalahan Etika dalam Ekonomi Beberapa hari terakhir ada dua berita yang mempertanyakan apakah etika dan ekonomi berasal dari dua dunia berlainan. Doug Lennick dan Fred Kiel. Penarikan produk yang kandungannya bisa menyebabkan kanker itu terkesan tidak sungguh-sungguh dilakukan. Namun.

Praktik Ekonomi Masih Abaikan Etika Rukmana (2004) menilai praktik ekonomi yang dijalankan selama ini masih cenderung mengabaikan etika. Berkaca pada beberapa contoh kasus itu. Dalam kaitan dengan etika ekonomi. implementasi dan investasi etika dan nilai-nilai moral bagi para pelaku ekonomi/bisnis dan para elit politik. dan meminjam istilah guru bangsa yakni Gus Dur. dan Gerling. pemahaman para pelaku usaha terhadap ekonomi syariah selama ini masih cenderung pada sisi “emosional” saja dan terkadang mengkesampingkan konteks ekonomi itu sendiri. Monsanto. dan nepotisme yang semakin meluas di masyarakat yang sebelumnya hanya di tingkat pusat dan sekarang meluas sampai ke daerahdaerah. sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo. Peran masyarakat. dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi. rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktik-praktik bisnis tidak terpuji atau moral hazard. menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan. Padahal segmen pasar . terutama melalui pemerintah. Korupsi. korupsi yang sebelumnya di bawah meja. Imperial Chemical Industries. LSM. Hal ini mengindikasikan bahwa di sebagian masyarakat kita telah terjadi krisis moral dengan menghalalkan segala mecam cara untuk mencapai tujuan. Deutsche Bank. dan konsumen yang kritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis berbagai perusahaan di Indonesia. Memang beretika dalam ekonomi tidak akan memberi keuntungan segera. Karena itu.kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain. sekarang sampai ke meja-mejanya dikorupsi adalah bentuk moral hazard di kalangan ekit politik dan elit birokrasi. Electrolux. kolusi. Sebuah studi selama dua tahun yang dilakukan The Performance Group. terutama bisnis berbasis syariah. media. badan-badan pengawasan. Unilever. Terapi ini semua adalah pemahaman. sudah saatnya kita merenungkan kembali cara pandang lama yang melihat etika dan bisnis sebagai dua hal berbeda. baik tujuan individu memperkaya diri sendiri maupun tujuan kelompok untuk eksistensi keberlanjutan kelompok. mendongkrak profitability. para pengusaha dan praktisi ekonomi harus belajar untuk berpikir jangka panjang.

Demikian halnya dengan masalah penggelapan pajak. Dicontohkan. Sedangkan wilayah hukum adalah wilayah benar dan salah yang harus dipertanggungjawabkan di depan pengadilan. maka masalah itu haruslah didekati secara hukum. justru sangat lumrah di negeri ini untuk menyimpulkan bahwa berbisnis sama artinya dengan menyiasati hukum. baik itu untuk usaha perbankan maupun asuransi syariah. pencemaran lingkungan. Sebaliknya. kualitas etika dan moral seseorang atau sekelompok orang sewaktu-waktu dapat berubah. yang sebenarnya memiliki makna dan arti berbeda. BAB II EKONOMI DENGAN ETIKA Epistemologi Etika Ekonomi Etika penggunaannya sering dipertukarkan dan disinonimkan. Demikian pula perusahaan yang memiliki etika ekonomi . dan pelanggaran hak asasi manusia. sama sekali tidak dapat dibenarkan bila masalah korupsi masih didekati dari sudut etika dan moral. Pencampuradukan antara wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum seringkali menyebabkan kebanyakan orang Indonesia tidak bisa membedakan antara perbuatan yang semata-mata tidak sejalan dengan kaidahkaidah etik dan moral. masalah tertib hukum pun masih belum banyak mendapat perhatian. segmen pasar konvensional. Baswir (2004) berpendapat bahwa pembicaraan mengenai etika dan moral bisnis sesungguhnya tidak terlalu relevan bagi Indonesia. sehingga orang yang memiliki moral pasti dilandasi oleh etika. Sebagai issal. Karena masalah korupsi sudah jelas dasar hukumnya. meski tidak “mengenal” sistem syariah. Wilayah etika dan moral adalah sebuah wilayah pertanggungjawaban pribadi. dengan perbuatan yang masuk kategori perbuatan melanggar hukum. Akibatnya. para pebisnis di Indonesia tidak dapat lagi membedakan antara batas wilayah etika dan moral dengan wilayah hukum. Akan tetapi memang itulah kesalahan kedua dalam memahamimasalah etika dan moral di Indonesia. Terhadap pengaruh kualitas sistem kemasyarakatan. namun potensinya cukup tinggi.dari ekonomi syariah cukup luas. Moral dilandasi oleh etika. Jangankan masalah etika dan moral.

atau ”keharusan (oughtness)”. etika profesional (advokat. Kata etik juga berhubungan dengan objek kelakuan manusia di wilayah-wilayah tertentu. Disni ditekankan pada etika sebagai objek perilaku manusia dalam bidang bisnis. 2004). berasal dari bahasa Latin. penyalur. akuntan) dan lain-lain. pembeli. yang menimbulkan konskuensi. termasuk moral dan nilai-nilai individu dan masyarakat. Uno (2004) membedakan pengertian etika dengan etiket. Elemen-elemen normatif ini. pemakai dan lain-lain (Dalimunthe. moral berhubungan dengan pembicaraan tidak hanya apa yang dikerjakan. berarti falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya. Etiket (sopan santun) berasal dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Dengan demikian. Sementara itu etika. Nilai-nilai (values) adalah . Etika ekonomi sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. susila. Namun moral (morals) berbeda dari etika (ethics). dan agama. Ekonomi tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok.pasti manajernya dan segenap karyawan memiliki moral yang baik. Akhirnya. keputusan bahwa manajer membuat tentang pertanyaan yang bekaitan dengan etika adalah keputusan secara individual. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. yang mana di dalam moralitas terkandung suatu elemenelemen normatif yang tidak dapat dielakkan/dihindari (inevitable normativeelements). konflik dengan aspek-aspek perubahan etika bisnis. Secara sederhana etika ekonomi dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai ”baik (good) atau buruk (bad)”. sepert etika kedokteran. Catatan tanda kutip pada kata-kata baik dan buruk. etika ekonomi. yang berarti menekankan bahwapenentuan baik dan buruk adalah suatu masalah selalu berubah. Keputusan ini merefleksikan banyak faktor. Jika kata etika dikaitkan dengan kata bisnis akan menjadi Etika Ekonomi. tapi juga apa masyarakat seharusnya dikerjakan dan dipercaya. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika Ekonomi dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika dan moral (moralitas) sering digunakan secara bergantian dan dipertukarkan karena memiliki arti yang mirip dari mana ”ethics” berasal dan kata latin mores dari mana ”morals” diturunkan keduanya artinya kebiasaan (habit) atau custom (adat).

Semakin lama. Pencurian (Theft). tetapi pemberian hadiah (gift) tidak selalu dapat disebut sebagai suap. Paksaan (Coercion). adalah tindakan memperdaya. Penipuan (Deception). adalah merupakan tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak kita atau mengambil property milik orang lain tanpa persetujuan pemiliknya. Suap dimaksudkan untuk memanipulasi seseorang dengan membeli pengaruh. adalah tekanan. 2. atau meminta sesuatu yang berharga dengan tujuan mempengaruhi tindakan seorang pejabat dalam melaksanakan kewajiban publik. dorongan dengan paksa atau dengan menggunakan jabatan atau ancaman.standar kultural dari perilaku yang diputuskan sebagai petunjuk bagi pelaku bisnis dalam mencapai dan mengejar tujuan. pelaku bisnis menggunakan nilai-nilai dalam pembuatan keputusan secara etik apakah mereka menyadarinya atau tidak. Penipuan (Deception). memberi. 4. . batasan. Suap (Bribery). 3. adalah tindakan berupa menawarkan. yang masingmasing dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. manajer bisnis ditantang meningkatkan sensitivitas mereka terhadap permasalahan etika. 'Pembelian' itu dapat dilakukan baik dengan membayarkan sejumlah uang atau barang. Mereka menekankan pada evaluasi secara kritis prioritas nilai-nilai mereka untuk melihat bagaimana ini pantas dengan realitas dan harapan organisasi dan masyarakat. menerima. Pencurian (Theft). tergantung dari maksud dan respons yang diharapkan oleh pemberi hadiah. Suap kadangkala tidak mudah dikenali. Coercion dapat berupa ancaman untuk mempersulit kenaikan jabatan. pemecatan. Diskriminasi tidak jelas (Unfair discrimination)(lihat Nofielman. menyesatkan yang disengaja dengan mengucapkan atau melakukan kebohongan. atau penolakan industri terhadap seorang individu. Paksaan (Coercion). Dengan demikian. Pemberian cash atau penggunaan callgirls dapat dengan mudah dimasukkan sebagai cara suap. ?). maupun pembayaran kembali' setelah transaksi terlaksana. Etika Ekonomi: Suatu Kerangka Global Masalah etika dalam ekonomi dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori yaitu: Suap (Bribery).

Sebagai bagian dari masyarakat. Didalam ekonomi tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. baik etika itu antara sesama pelaku ekonomi maupun etika ekonomi terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang ekonomi. tentu ekonomi tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan ekonomi dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etikaetika tertentu dalam kegiatan bisnisnya. Suatu kegagalan untuk memperlakukan semua orang dengan setara tanpa adanya perbedaan yang beralasan antara mereka yang 'disukai' dan tidak. Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip- . Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. jenis kelamin. Tindakan mark up. Sebutan SEP sudah dilontarkan sebelumnya oleh Prof. Emil Salim (UI) sekitar tahun 1966 Pentingnya Etika dalam Dunia Ekonomi Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. 5. atau agama. tidak mengindahkan kepentingan masyarakat. adalah perlakuan tidak adil atau penolakan terhadap orang-orang tertentu yang disebabkan oleh ras. Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) Gagasan ekonom Prof. Mubyarto (UGM) sekitar tahun 1980-an. Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia ekonomi tampaknya tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya. Langkah apa yang harus ditempuh?. makin hari semakin meningkat. ingkar janji.Properti tersebut dapat berupa property fisik atau konseptual. Diskriminasi tidak jelas (Unfair discrimination). kewarganegaraan. tidak memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir contoh pengabaian para pengusaha terhadap etika ekonomi. Kalau sudah demikian.

ketika dunia usaha melaju pesat. (b) Kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa. dan (c) Ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa Jika salah satu subsistem dalam market system melakukan perilaku yang tidak etis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif. karena peranti hukum dan aturan main dunia usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah ekonomi. yaitu: (a) Hak memiliki dan mengelola properti swasta. Beberapa kondisi yang diperlukan market system untuk dapat efektif. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu menuntut segera dibenahinya etika ekonomi . Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara. kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta perkembangan dibidang ekonomi. ada pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan. Penyogokan atau suap. Salah satu contoh yang selanjutnya menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah masih adanya pelanggaran terhadap upah buruh. tetapi meliputi berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang nuansanya kini telah berubah. Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system dalam mengalokasikan barang dan jasa. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan . baik lingkup makro maupun mikro.prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif. yang akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Pengaruh dari perilaku tidak etik pada perspektif bisnis makro : a. Hal lni menyebabkan beberapa produk nasional terkena batasan di pasar internasional. Perspektif Makro. Contoh lain adalah produk-produk hasil hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga. Pasalnya. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya. maka hal ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan menghambat pertumbuhan sistem secara makro.

konsumen. (b) . c. Dalam Iingkup ini perilaku etik identik dengan kepercayaan atau trust. yaitu menjamin hak asasi manusia yang berhubungan dengan kewajiban untuk tidak saling melanggar hak orang lain. Unfair discrimination. Dimensi etik merupakan dasar kajian dalam pengambilan keputusan. sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan bisnis dapat terjaga dengan baik. Coercive act. Artinya keputusan dinilai etik atau tidak berdasarkan konsekuensi (dampak) keputusan tersebut.memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan. Standar moral merupakan tolok ukur etika ekonomi. Dua prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dimensi etik dalam pengambilan keputusan. Perspektif Bisnis Mikro. perusahaan. Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak lain dalam bisnis. b. yaitu: (1) Prinsip konsekuensi (Principle of Consequentialist) adalah konsep etika yang berfokus pada konsekuensi pengambilan keputusan. Deceptive information d. Tiap mata rantai penting dampaknya untuk selalu menjaga etika. Pecurian dan penggelapan e. Dalam Iingkup mikro terdapat rantai relasi di mana supplier. antara lain: (a) Prinsip Hak. Etika ekonomi cenderung berfokus pada etika terapan daripada etika normatif. karyawan saling berhubungan kegiatan bisnis yang akan berpengaruh pada Iingkup makro. 2. (2) Prinsip tidak konsekuensi (Principle of Nonconsequentialist) adalah terdiri dari rangkaian peraturan yang digunakan sebagai petunjuk/panduan pengambilan keputusan etik dan berdasarkan alasan bukan akibat.

dan serasi. yaitu keadilan yang sifatnya menyeimbangkan alokasi benefit dan beban antar anggota kelompok sesuai dengan kontribusi tenaga dan pikirannya terhadap benefit. Etika di dalam ekonomi sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. maka etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. kesejahteraan. Benefit terdiri dari pendapatan. (2) Keadilan retributive. Apabila moral merupakan suatu pendorong orang untuk melakukan kebaikan. pelayanan dan barang penebus kerugian. kejujuran. jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui adanya moral dan etika. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang. Beban terdiri dari tugas kerja. Masalah terjadi apabila kompensasi tidak dapat menebus kerugian. Kompensasi yang diterima dapat berupa perlakuan medis. Prinsip keadilan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: (1) Keadilan distributive. baik pengusaha.Prinsip Keadilan. jelas . pekerjaan. untuk mewujudkan etika dalam berekonomi perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak. Jadi. pajak dan kewajiban social. Seseorang bertanggungjawab atas konsekuensi negatif atas tindakan yang dilakukan kecuali tindakan tersebut dilakukan atas paksaan pihak lain. selaras. yaitu keadilan yang terkait dengan kompensasi bagi pihak yang dirugikan. pendidikan dan waktu luang. dan kesamaan. yaitu keadilan yang biasanya terkait dengan isu hak. masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. pemerintah. dalam hal ini. misalnya kehilangan nyawa manusia. dan (3) Keadilan kompensatoris. yaitu keadilan yang terkait dengan retribution (gantirugi) dan hukuman atas kesalahan tindakan.

Mempertahankan Jati Diri . melainkan lebih kompleks lagi. Inilah etika bisnis yang "etik". Jadi. 2.untuk menghasilkan suatu etika didalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian. dll. 3. Walau keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis. dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan. pelaku-pelaku bisnis mampu mengendalikan diri mereka masingmasing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility) Pelaku ekonomi disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat. Pengendalian Diri Artinya. pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan menggunakan keuntungan tersebut. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. kesehatan. pemberian latihan keterampilan. Dalimunthe (2004) menganjurkan untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Dalam menciptakan etika ekonomi. terutama dalam hal pendidikan. Disamping itu.

tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi. Menghindari Sifat 5K (Katabelece.Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar. Koneksi. dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku ekonomi besar dan golongan menengah kebawah. tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang. tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah. Kolusi dan Komisi) Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini. Menerapkan Konsep “Pembangunan Berkelanjutan" Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang. 4. sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Menciptakan Persaingan yang Sehat Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas. 5. kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi. 6. Namun demikian bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi. manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan . Kongkalikong. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatankekuatan yang seimbang dalam dunia ekonomi tersebut.

Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut.nama bangsa dan negara. 10. saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis. 8. jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu. baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi. 7. 11. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati. kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi. 9. Mampu Menyatakan yang Benar itu Benar Artinya. jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi"kepada pihak yang terkait. jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis. Menumbuhkan Sikap Saling Percaya antar Golongan Pengusaha Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada sikap saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah. Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak. sehingga pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Menuangkan ke dalam Hukum Positif . Memelihara Kesepakatan Memelihara kesepakatan atau menumbuhkembangkan Kesadaran dan rasa Memiliki terhadap apa yang telah disepakati adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. sementara ada "oknum".

toleran. Ahli pemberdayaan kepribadian Uno (2004) menjelaskan bahwa mempraktikkan bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Sedangkan berbisnis dengan etika ekonomi adalah menerapkan aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku ekonomi. kita yakin jurang itu akan dapat diatasi. dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan. kontrol diri. kreditur. maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Itu berupa senyum -. kontak sosial. kekayaan. tidak lekas tersinggung. Etika ekonomi menyangkut moral. hak-hak dan kewajiban. Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya. pemegang usaha maupun pesaing dan masyarakat.Perlunya sebagian etika bisnis dituangkan dalam suatu hukum positif yang menjadi Peraturan Perundang-Undangan dimaksudkan untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut. pelanggan. Dengan kata lain. tidak menyalahgunakan kedudukan. sikap menghadapi rekan-rekan bisnis. etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan. dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. . Etiket berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor. Intinya adalah bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan baik dengan cara peka dan toleransi. meningkatkan efisiensi kerja. Jika aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah tidak bermoral dan beretika. menimbulkan rasa saling menghargai. maka setiap insan ekonomi yang tidak berlaku jujur dengan pegawainya. prinsip-prinsip dan aturan-aturan. dan tidak memotong pembicaraan orang lain. seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah.sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih.

N. N.: Prentice-Hall.A and S. Etika ekonomi adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan ekonomi yang etik.J. Kamus Inggris Indonesia. Dalam Kompas Senin. 2006. Penerbit PT Gramedia. Upper Saddle River. Revrisond. R. Echols.J. DAFTAR PUSTAKA Baswir. 3. 2. reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika ekonomi merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru. Rita F. John M and Shadily. Dalimunthe. R. DeGeorge. 1998. Sedangkan Penentuan baik dan buruk adalah suatu masalah selalu berubah. B. Penerbit PT Gramedia.: Prentice Hall. Rosenthal. 5 th ed. Dalam Website Google: Etika Ekonomi danPengembangan Iptek. Business Ethics. Jakarta. Etika Ekonomi.BAB III PENUTUP 1. Oleh karena itu. Business Ethics. Hasan. Buchholtz. 2005. Upper Saddle River. Etika Ekonomi. 2004. Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan ”kebaikan (rightness)” atau moralitas (kesusilaan) dari perilaku manusia. Paradigma etika dan ekonomi adalah dunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan ekonomi atau mensinergikan antara etika dengan laba. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai ”baik (good” atau buruk (bad)”. . Jakarta. perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Justru di era kompetisi yang ketat ini. 1992.

Islam juga berbeda dengan konsep kapitalisme yang memisahkan akhlak dengan ekonomi. Manusia muslim individu maupun kelompok dalam lapangan ekonomi atau bisnis disatu sisi diberi kebebasan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh seorang individu.Hubungan Antara Ekonomi dan Etika Artikel ini dipublish pada 7 April 2010 at 18:04 oleh Choir Etika dilihat dari makna bahasa dari yunani yakni kata ethos yang berarti kebiasaan (custom) atau karakter (character).politik dengan etika.juga ingin memelihara keadilan dalam mengatur hubungan antara manusia untuk menyelamatkan masyarakat dari kejahatan yang timbul akibat buruknya kondisi ekonomi.perang dengan etika dan kerabat sedarah sedaging dengan kehidupan Islam. Namun disisi lain ia terikat dengan iman dan etika sehingga ia tidak bebas dan mutlak dalam menginvestasikan modalnya atau membelanjakan hartanya. Islam juga tidak memisahkan agama dengan negara dan materi dengan spiritual sebagaimana yang dilakukan Eropa dengan konsep sekulerismenya. Yang membedakan Islam dengan materialisme ialah bahwa islam tidak pernah memisahkan ekonomi dengan etika.Al-Qur’an menjanjikan kehidupan yang bahagia dan sejahtera kepada mereka yang berusaha membangun sistem yang semacam itu .Itulah sebabnya mengapa Islam ingin membina keadilan tidak satu aspek melainkan pada setiap segi kehidupan sosial.Islam adalah risalah yang diturunkan Allah melalui Rosul untuk membenahi akhlak manusia.disamping ingin memelihara keseimbangan hubungan antara Allah dengan manusia . Islam.sebagaimana tidak pernah memisahkan ilmu dengan akhlak.Sedangkan secara terminologi etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dan yang buruk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->