You are on page 1of 5

HARGA SEBUAH KEGADISAN

Flash back Aku terdiam tak bergeming di depan komputerku, memandangi e-mail yang dikirim Dendi, kakak tertuaku yang berada di Jakarta. Dear Saskia, Apa kabar sist? Masih betah di negeri orang? Kapan mau pulang kampong? Kita semua kangen banget sama kamu, cuma yang dikangenin kayaknya enggak peduli ya? Apa Australia lebih menyenangkan dari negeri sendiri non? Sorry kalau terdengar jutek nadanya. Sudah beberapa kali mama bercerita padaku, bahwa beliau meminta kamu pulang tapi, kamu tidak pernah

memberikan respon yang bagus. Pulang ya Sas, at least buat tahun baruan bareng tahun ini. Selain itu, ada yang mau berkenalan denganmu. Aku enggak ngejodohin lho! Cuma ngenalin aja. Ada teman satu kantorku ingin berkenalan sama kamu. Namanya Yoga, umurnya 35 tahun. Ganteng Sas! Kata mama lho, he..he..he.. Tapi itu terserah kamu ya. Aku cuma suka sedih, kalau mendengar mama, ingin melihat kamu bersanding dengan pangeran pujaanmu sebelum mama meninggal. Tapi, bagaimanapun semua kembali kepada keputusanmu sendiri ya. Yang jelas sih, kita semua sudah kangen sama kamu. Memang, kamu enggak kangen sama kita Sas? Enggak mau lihat keponakan-keponakan kamu yang lucu di sini? Kabarin aku, kapan kamu mau pulang ya Sas (he..he..agak maksa ni ye). Love always, Your Bro, Dendi
2

Pikiranku seketika melayang ke mama. Ah, mama, aku sebenarnya kangen sekali dengan mama. Ingin rasanya kembali ke masa-masa dimana aku masih bisa berlari ke pelukan mama setiap kali ada masalah yang aku hadapi. Pelukan mama dapat menghapus semua lara yang ada pada diriku. Kini, berada jauh dari mama seringkali membuatku menangis, tidak jarang sampai tersedu-sedu, membuat teman serumahku datang ke kamar dan menanyakan keadaanku. Isi surat Dendi bahkan membuatku lebih merindukan mama. Bagaimana mama sekarang? Hanya air mata yang bergulir membasahi mataku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengusir rasa rindu terhadap mama. Bingung harus menjawab apa, aku memilih untuk tidak membalas e-mail Dendi. Biarlah aku berpikir dulu tentang apa yang akan kukatakan kepada Dendi. Sekarang, aku memilih untuk pulang ke flat. Jarak dari kampusku ke flat memang tidak begitu jauh, aku
3

bisa berjalan setiap hari dari flat ke kampus dan sebaliknya. Terkadang teman satu kamarku Nancy, berangkat bersamaku jika jadwal kami berbarengan. Sudah hampir dua tahun ini aku tinggal di Australia. Tahun pertama memang aku mendapatkan beasiswa dari kantor tempatku bekerja untuk mengikuti short course tentang bagaimana menjadi seorang guru Bahasa Inggris yang lebih baik. Sebenarnya, short course tersebut sudah selesai, tapi aku memilih untuk tinggal lebih lama di negeri kangguru itu dan mengambil kelas khusus tentang mengajar kelas anak-anak dan teknik menulis dalam Bahasa Inggris. Alasanku betah berlama-lama di negeri ini, selain karena ingin menambah ilmu, agar saat kembali ke Jakarta, aku bisa lebih mengembangkan karir sebagai guru Bahasa Inggris di kantorku. Alasan lainnya adalah aku memang ingin menghindar dari orang-orang yang kukenal di Jakarta, terutama keluarga besarku. Aku sudah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan mereka seputar, sudah punya
4

pacar yang serius belum, kapan mau menikah, dan sebagainya yang lama-lama membuatku muak! Namun, rasa ini lebih menjurus ke SEDIH. Yasedih. Siapa sih orangnya yang tidak ingin menikah? Apa mereka tahu masalah yang aku hadapi? Lagipula, apa hak mereka menterorku setiap kali ada pertemuan keluarga?