Agama dan Artifisialitasnya Oleh: Fauzal Ihsan Membincang agama selalu tak habis-habisnya di mata manusia.

Keengganan manusia keluar dari pembicaraan tentang agama membuktikan bahwa agama adalah esensial bagi manusia. Tetapi perbincangan mengenai agama pun tak lekas usai hanya pada satu waktu. Semisal, nabi sebagai eksekutor nilai-nilai ilahiyyah tak cukup hanya satu atau dua orang saja; nabi sebagai perumus terus memperbaiki kekurangan; menyempurnakan agama menjadi akumulasi ajaran nabi sebelumnya, yang diakhiri oleh Muhammad SAW. Rumusan mengenai agama secara ontologis berasal dari Tuhan, tetapi secara praktik-sosial nabi beserta ummatnya lah sebagai perumus. Agama selalu dikaitkan dengan realitas transenden sebagai penopang bagi kehidupan real di dunia ini. Para nabi, sebagai peletak dasar norma agama—secara momentual—menjawab persoalan di tengah keterasingan ummatnya mengenai nilainilai ilahiyyah. Ummat beragama selalu butuh nabi sebagai pengejawantah [B]ahasa Tuhan supaya dimengerti dengan struktur bahasa manusia. Bahasa sebagai konvensionalitas dari prosesi komunikasi masyarakat tertentu berujung pada pembuntalan [B]ahasa Tuhan, sehingga norma ketuhanan bisa dimengerti oleh lanskap kebudayaan setempat. Nasr Hamid Abu Zaid misalkan, mengungkapkan apa yang dia sebut muntajtsaqafi; Al-Quran—sebagai norma ketuhanan dalam bentuk bahasa manusia—adalah produk budaya pada satu sisi. Pada sisi yang lain norma agama (baca: Al-Quran) pun muntijtsaqafi: yaitu sebentuk aturan transendental yang datang dari Allah, sebagai Yang Transenden. Bahasa agama yang me”langit” itulah yang diusahakan oleh para nabi sebagai perumus dan penafsir resmi kitab suci. Kitab suci sebagai norma agama bersifat ambivalen: pertama, datang dari yang Maha Sunyat, sebentuk transendentalitas dengan bahasa langit; kedua, sekapan bahasa manusia sebagai produk kebudayaan dan konvensi masyarakat tertentu, khususnya bahasa Arab pada Al-Quran. Artinya, pada sisi yang lain pun Al-Quran imanen. Meminjam perkataan Heidegger, “language, is the house of Being” “bahasa adalah rumah bagi Ada”. Bahasa hanya membungkus realitas yang sedemikian jelimetnya apabila tidak dipahami oleh kode. Kode bahasa yang dibangun oleh Al-Quran adalah sekapan tirai yang menutup kemurniaannya. Tetapi pada sisi yang lain, justru Bahasa Tuhan akan—dan hanya—dimengerti dengan kode bahasa manusia. Kitab suci yang ada adalah model tanda yang tak lebih dari ketertutupan—meminjam istilah fenomenologi—eidosnya. Makna kitab suci sebagai eidos murni hanya akan dimengerti oleh Pengarangnya saja. Beruntung kiranya para nabi diutus, terutama Muhammad dalam membincang Al-Quran sebagai anggaran dari agama Islam. Muhammad SAW seakan jadi penerjemah ulung yang diutus dengan bahasa kaumnya. Mirip dengan Hermes pada

1

kecuali diwujudkan oleh representasi wacana keagamaan pemeluknya. maka ijtihad lah yang diperlukan. Sistem agama murni yang berupa aturan dan titah Gusti itu direpresentasikan dalam pola prilaku berdasarkan pembacaan dan tafsirannya terhadap kitab suci. realitas keagaman bisa dibagi dengan konsep diadik: ad-dien dan khitab ad-dien.mitologi Yunani. Ad-dien adalah agama itu sendiri. Selamanya agama tidak akan muncul. Robert Hodge dan Ghunter Kress pada Social Semiotics megungkapkan dengan istilah logonomic system. Idealisasi dari pembacaan terhadap Al-Quran adalah untuk menangkap. Ejawantah itulah yang disebut Hassan Hanafi dengan khitab ad-dien. Semenjak Rasulullah meninggal. Butuh penafsiran dan pengisian kode tafsiran yang lebih baru dan relevan: itulah pembacaan ala logonomic system. Ad-dien selamanya tidak akan mewujud kecuali setelah diejawantahkan oleh pemeluknya. 2 . realitas keagamaan yang ditafsir oleh pemeluknya. Sedangkan khitab addien adalah wacana keagamaan. pembacaan terhadap Al-Quran sebagai pedoman kaum beragama bisa dengan beragam rupa. Salah satu yang sekarang 1 Pada beberapa tempat. Muhammad SAW berhasil memilin jalan ke pemahaman eidosnya Al-Quran. apa yang dikatakan Lacan dengan le Réel: berusaha mewujudnya “Sang Antah” pada pola kehidupan. Menurut Hassan Hanafi. system logonomic memberi arti yang sangat penting dalam pengisian wacana keagamaan yang relevan dengan kondisi sosiologis-kulturil dimana kita tempati. yaitu perumusan ulang tafsiran kitab suci dengan maksud tertentu. semisal ayat-ayat muqatha’ah maknanya begitu sulit dicari—kalau tak bisa dikatakan tak bisa—walaupun setingkat Nabi Muhammad. Rentang waktu turunnya Al-Quran dengan pembaca sangatlah jauh. Kitab suci sebagai rujukan ummat beragama mempunyai problematika tersendiri karena penafsiran terhadap Al-Quran akan terus berkesinambungan beserta penafsirnya sendiri. yaitu pembacaan yang menanggalkan kode bahasa teks supaya sesuai dengan konteks sosio-kultural yang ditempati si pembaca. seakan membuka ruang bagi pembaca untuk menafsir. wacana keagaman hasil tafsiran seseorang terhadap agamanya. Pembacaan terhadap Al-Quran secara metodis mempunyai berbagai rupa. kaum beragama harus membuka tabir dengan usahanya sendiri. apalagi kondisi sosiologis dimana kita hidup.1 Berbicara agama (Islam) secara utuh berarti masuk pada aturan main yang diperintah Sang Maha Sunyat pada kitab suci-Nya. mengingat Rasulullah adalah rujukan bagi ummat yang ingin bertanya. Apalagi pembacaan kitab suci itu dilakukan dengan fetisisme system. agama pada system murninya yang berusaha diejawantahkan oleh pelaku agama. Agama—menurut Hassan Hanafi—adalah realitas yang disentuh dengan pembacaan ala optik “kemanusiaan”: yaitu lewat wacana keagamaan lah agama akan ada. Fetisisme agama dan komodifikasi Seperti yang disebut dimuka. Pada konteks pembacaan Al-Quran.

demi menyihir para pengguna (user) untuk mengikuti alur yang telah dilesatkan oleh kaum kapitalis. 3 . pada era post-industri sekarang ini. Arti dan makna yang selalu dicari pemeluk agama ketika membaca Al-Quran. Alih-alih sebagai pedoman. Hal tersebut dimungkinkan karena dibentuk oleh pikiran pasar dan profit: ideologi banalitas. Ayat suci yang seyogianya menjadikan manusia berperadaban tinggi. kultur bawah serta kebudayaan yang banal.—khususnya kitab suci—si pembaca dengan segala upayanya. yaitu pemelorotan nilai-nilai— yang seharusnya spiritual—dengan profit dan keuntungan. Al-Quran dipelintir habis-habisan demi sebentuk hal yang sangat rendah. kemudian lekas diisi oleh kepentingan pribadi ataupun kelompok.marak digunakan adalah pembacaan fetish terhadap kitab suci. terutama dengan virtualisasi citra piktorial dan audiosasi citra akustik: itulah yang menurut pendekatan Marxian dengan fetisisme. keagungan kebudayaan hasil dari akumulasi praktik keagamaan digeser terhadap low culture. Pada pembacaan fetis terhadap agama. menghapuskan nilai-nilai retrospektif keagamaan dan keasliaanya (fixed origin) dengan artifisialitas dan kesemuan atas prospeksi kepentingannya. Agama yang seyogianya dipandang luhur karena transendentalitasnya. Konsep fetisisme menjadi kesohor karena Karl Marx memperbincangkannya dalam komodifikasi produksi yang dihasilkan kaum kapitalis. saya akan sebut “ideolog banalis” bagi setiap siapa saja yang menggunakan pembacaan fetish terhadap agama. Theodore Adorno membagi dua kualitas kebudayaan: yaitu high culture dan low culture. Kapitalis sengaja menciptakan sihirya untuk menjerat para pengguna produk supaya lebih dalam dan lebih terperangah. berubah menjadi banalitas duniawiyyah yang mementingkan arti exchange value. dipelintir oleh pembacaan fetis demi “nilai profit”. Nalar dan transferensi yang selalu diusung dalam pembacaan terhadap Al-Quran diganti dengan nilai rendah dari sifat keduniawian: banalitas pembacaan agama. Secara sederhana. Selanjutnya. Fetisisme berlaku dimana saja. yaitu sebentuk kebudayaan beragama yang rendahan dan banal. Energi ideologi banalitas itu terrepresentasi pada berbagai jargon agama yang digunakan sebagai komodifikasi. Pembacaan fetis terhadap kitab suci—sebagai pegangan kaum beragama—mengandaikan kekosongan makna di dalamnya. Komoditaslah yang selalu diusung dibalik artikulasi ayat-ayat Tuhan yang didengungkan. berorientasi untuk ibadah dengan dipicu bacaan Al-Qurannya. komodifikasi berjalan secara massif lewat berbagai media. fetisisme diambil dari kata Portugis fetico. pada pembacaan fetish. Misalnya. Komodifikasi adalah sebentuk penyalah gunaan produksi dengan menjuruskan pada nilai tukar (use excange). membentuk kebudayaan yang agung (high culture) dengan pemahaman komprehensifnya terhadap Al-Quran. yang berarti menyihir dan menipu.

maka yang ada hanya gambaran palsu (pseudo image). bukan kepasrahan meditatif (Gelassenheit) terhadap segala bentuk keber”lain”an. apabila citra (image) agama—yang selalu didengungkan ideolog banalis— menjadi cermin bagi realitas keagamaan seseorang. Celakanya. 4 . ada semacam power yang menggerakan setiap bentuk praktik dan pembacaan. menjadi masalah serius ketika kebudayaan banal tersebut menjadi ideologi yang terbenam kuat pada setiap pembaca: dialah ideologi banalitas. padahal dengan maksud mengadakan komodifikasi.. padahal ada nilai profit sebagaimana dijadikannya agama sebagai komoditas. Imagologi adalah pembentukan citra (image) sebagai yang “ada” pada dirinya. Agama pada titik itu hanya dijadikan komodifikasi oleh pembacanya: yaitu pembacaan fetis dari setiap individu dan golongan. Pun.. Ungkapan Allah SWT: “. power pada discourse itu tidak lain dan tidak bukan adalah nilai profit. komodifikasi agama menjadi struktur yang merasuk kebanyakan aktivis dan intelektual dewasa ini. Ketika menjadi discourse. pemerkosaan ayat-ayat suci dengan rangkaian kerendahannya: yakni kepentingan profit. baik mengerti sesama manusia. Pembacaan dekonstrukstif terhadap ayat suci digunakan demi mencari petanda (signefied) lain. struktur terdalam dalam konotasinya. yang lebih ideologis dan politis. sesampai makna kitab suci diisi dengan kepentingan individu atau kelompok saja. Ketika sudah menjadi budaya. kekuasaan politik dan hasrat “perut” saja. mengahncurkan keluhuran agama..Masalahnya.”4 2 3 Jangan-jangan bukan pembacaan dekonstruktif. Jargon agama hanya sebagai topeng bagi sebentuk realitas sesungguhnya. kedua. Kaum ideolog banalis melakukan imagologi 3 terhadap agama dengan menggambarkan citra baiknya. 4 Potongan QS..wa la tasytaru bi aayatiy tsamanan qalilan. yaitu hasrat akan profit dan kuasa lainnya (desiring to any power). Seyogianya pembacaan terhadap kitab suci menjadi lebih mengerti terhadap Sang Liyan.2 Struktur agama yang demikian mempunyai dua dimensi: pertama. karena kitab suci adalah salah satu tanda ketuhanan (devine sign). Wacana keagamaan adalah diskursus yang mesti membawa exchange value pada segala bentuk praktiknya. Michel Foucault misalkan menyebut discourse pada segala bentuk wacana yang mengalir dalam praktik kehidupan yang dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan hasil bacaannya. Al-Baqarah: 41. Pada kajian ini. apalagi kepada Sang Maha Sempurna (Allah SWT). imagologi digunakan untuk memberikan image—seakan-akan—baik pada agama. dimensi permukaan yang denotatif. Jacques Lacan menandaskan posisi gambaran palsu diri itu dengan istilah Spaltung. tapi destruktif. menggunakan ayat-ayat sebagai topeng.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful