LAPORAN TUGAS MAKALAH TUTORIAL KELOMPOK TUTORIAL 2 TEMA 2 (DERMATITIS VENENATA

)

DISUSUN OLEH 1. 2. 3. 4. 5. Teguh Sunar T Zakiyah Zahra K Sita Ardilla Priambodo Ilham Maulan S

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011 BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan bahan-bahan yang mun gkin dapat menimbulkan iritan maupun alergi bagi seseorang dan belum tentu bagi individu lain. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan kelainan pada kulit sesuai deng an kontak yang terjadi, kelainan ini disebut dermatitis kontak. Penyebab dermati tis kadang-kadang tidak diketahui, sebagian besar merupakan respon kulit terhada p agen eksogen maupun endogen. Dermatitis kontak ini dibagi menjadi Dermatitis K ontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi. Dalam makalah ini akan dijelaskan ten tang Dermatitis Kontak Iritan. Pembahasan Dermatitis kontak iritan dalam makalah ini di titik beratkan pada kon tak iritan karena serangga. Serangga ( Insecta) merupakan kelas dari filum Arthr opoda. Ordo yang paling sering mengakibatkan masalah kulit adalah klas Lepidopte ra (kupu-kupu),hemiptera (bed bug), Anoplura ( Pediculus sp.), Diptera (nyamuk), Coleoptera(blister beetle), Hymenoptera (lebah, tawon, semut), Shiponaptera (fl ea). Kelasarthropoda lain yang bermakna secara dermatologis adalah myriapoda (ke labang) dan arachnida (laba-laba, tick, mite, kalajengking). Dermatitis merupakan kelainan kulit yang sering dijumpai dalam praktek sehari-ha ri. Dari segi praktis penanganannya, kelainan ini dapat dimasukkan dalam kelompo k kelainan yang responsif terhadap steroid. Steroid adalah senyawa antiinflamasi kuat yang digunakan sejak kurang lebih tahun lima puluhan. Secara alamiah bahan ini merupakan hormon endogen yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Pembuatan ba han sintetik analognya telah berkembang dengan pesat dan merupakan terapi utama pada dermatitis. Berikut ini akan dibahas secara ringkas beberapa jenis dermatit is yang sering dijumpai dan peran steroid dalam penanganannya. Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras, dan je nis kelamin. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak , namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain ol eh banyak penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat. Pada kasus Dermatitis kontak iritan ini sangat penting dibahas karena banyak ter jadi pada masyarakat pada umumnya, yang tidak tahu asal muasal penyebab penyakit kulit ini. Dan dari ketidak tahuan inilah yang dapat mengakibatkan prognosis ya

ng buruk bagi penderita karena penanganan yang salah dan juga dihubungkan dengan mitos-mitos masyarakat setempat dengan pengobatan tradisional yang belum jelas khasiatnya. Dermatitis kontak iritan karena serangga banyak dijumpai di masyarakat di Indone sia karena berada di iklim tropis dan kebanyakan lingkungan masih berupa kebun, persawahan, semak-semak, bahkan hutan. Lingkungan inilah yang mendukung banyakny a jenis serangga dan dapat menjadi faktor iritan bagi individu yang sensitif ter hadap bahan iritan tersebut. Selain lingkungan disekitar rumah, faktor pendukung yang lain adalah lingkungan didalam rumah, kebanyakan masyarakat kita kurang me mperhatikan kebersihan rumah sehingga banyak serangga yang hidup didalamnya. Sal ah satu serangga penyebab dermatitis kontak iritan ini adalah Kumbang Rove terma suk dalam species Paederus fuscipes Curtis. Banyak ditemukan pada saat musim pen ghujan dan serangga ini sangat menyukai cahaya lampu atau tempat yang terang. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. DEFINISI Dermatitis merupakan epidermo-dermatitis dengan gejala subyektif pruritus. Obyek tif tampak inflamasi eritema, vesikula, eksudasi, dan pembentukan sisik. Tanda-t anda polimorfik tersebut tidak selalu timbul pada saat yang sama. Penyakit berte ndensi residif dan menjadi kronis. Dermatitis venenata merupakan dermatitis kontak iritan yaitu dermatitis yang dis ebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. Dermatitis venenata diseb abkan oleh racun serangga yang terbang pada malam hari, penderita baru merasa pe dih esok harinya. Pada awalnya terlihat eritem kemudian pada sore harinya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis. Salah satu serangga penyebab dermatitis ko ntak iritan ini adalah Kumbang Rove termasuk dalam species Paederus fuscipes Cur tis. 2. ETIOLOGI Penyebab munculnya dermatitis jenis ini ialah bahan yang bersifat iritan, misaln ya racun serangga, bahan pelarut, detergen, minyak pelumas, asam, alkali, dan se rbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, da ya larut, konsentrasi, kohikulum, serta suhu bahan iritan tersebut, juga dipenga ruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu : lama kontak, kekerapan (teru s-menerus atau berselang) adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel, demik ian juga gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembaban lingkungan juga ikut berp eran. Dan kebanyakan dermatitis venenata disebabkan oleh racun dari bulu ataupun gigitan serangga. Faktor individu juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan ini, misalnya per bedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; u sia (anak di bawah umur 8 tahun lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan dari pada kulit putih); jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan l ebih tinggi pada wanita); penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun). 3. PATOFISIOLOGI Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan mel alui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan irisan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air kulit. Keadan ini akan merusak sel epidermis. Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat aka n menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedan g iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulan g-ulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklu si, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut. Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan mel alui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan/toksik merusak membran lipid keratin

osid tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria , atau komponen inti. Krusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan a sam arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), da n inositida (IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrine (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingg a mempermudah transudasi komplemendan kinin, serta mengaktivasi sel mast untuk m elepaskan histamin. DAG menstimulasi sintesis protein, misalnya IL-1 dan granulosit makrofag colony stimulating factor (GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2 yang menimbulkan ploriferasi sel tersebut. Keratinos it juga melepaskan TNFα untuk mengaktivasi sel T, makrofag dan granulosit, untuk me lepaskan sitokin. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan ditem pat terjadinya kontak berupa eritema, edema, panas, dan nyeri. Teori lain mengenai patofisiologi yaitu adanya kelenjar Hemolympha pada Paedrus ini mengandung Paederine yang akan mengenai kulit apabila serangga ini menggigit , menyengat atau remuk akibat refleks menyingkirkan serangga ini. Paederine ini dapat memicu epidermal necrosis dan acantholisys sehingga timbul dermatitis. 4. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan yang terpenting adalah menyingkirkan pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisik maupun kimiawi. Bila hal ini dapat dilaksanakan den gan sempurna, dan tidak terjadi komplikasi, maka dermatitis iritan tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan topikal, mungkin cukup dengan pelemba b untuk memperbaiki kulit yang kering. Jika perlu berikan pengobatan secara topi kal. Pengobatan dapat dilakukan diantaranya : a. Medikamentosa : Amsinocid 0,1% cream, salep Dexametason cream Hirdrikortison cream, salep Betametason valerat 0,1% cream Desoximetason 0,25% cream, salep b. Non medikamentosa : Suportif; memberitahukan bahwa penyakit ini ti dak berbahaya, dan dapat sembuh. Edukasi; sering membersihkan rumah, terutama ka mar tidur, menjaga kebersihan, jika ada lesi/luka jangan digaruk agar tidak tamb ah parah.

BAB III 1. SKENARIO Seorang perempuan 50 tahun mengeluh bagian belakang lutut kanannya terdapat luka yang tidak sembuh-sembuh sejak satu minggu yang lalu. Semua luka tersebut diras akan pagi setelah bangun tidur berupa bintil bintil kecil memanjang yang rasanya panas. Menurut tetangganya bintil tersebut adalah dompo. Kemudian dia mengolesi luka tersebut dengan lidah buaya atas saran tetangganya. Luka tersebut bukannya membaik tapi bertambah parah. Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya perempuan itu memeriksakan dirinya ke dok ter praktek. Setelah melakukan anamnesis dokter tersebut melakukan pemeriksaan f isik, hasilnya didapatkan: TD 110/70 mm/hg, suhu 36,9oC. Nadi 90 kali/menit, RR 16 kali/menit. Pada posterior genu dextra tampak plak eritematous yang mulai keh itaman dengan bentukan kissing phenomenon dan nyeri jika disentuh. 2. PROBLEM KLINIS Problem klinis Assesment Diagnosis Banding Bagian lutut kanan luka Dermatitis Kontak Iritan 2. Herpes Zoster 3. Dermatitis Nomularis 1 minggu yang lalu Setelah bangun tidur pagi Kausa/Penyebab

1.

Psoriasis

Bintil bentil kecil memanjang, panas, nyeri bila disentuh. Toksik/racun dar i bulu ataupun gigitan serangga. (Paederus fuscipes Curtis) Vital sign normal Posterior genu dextra tampak plak eritematous yang mulai kehitaman Kissing phenomenon

3. PEMBAHASAN Dalam skenario ini pasien diperkirakan terkena sengatan atau cairan dari serangg a. Cairan dalam serangga tersebut dikenal dengan kelenjar Hemolympha. Cairan yan g terdapat pada Paedrus ini mengandung Paederine yang akan mengenai kulit apabil a serangga ini menggigit, menyengat atau remuk akibat refleks menyingkirkan sera ngga ini. Paederine ini dapat memicu epidermal necrosis dan acantholisys sehingg a timbul dermatitis. Dermatitis jenis ini sangat mirip dengan herpes, untuk membedakannya adalah dari gejala klinis yang muncul sebelumnya. Jika dermatitis maka tidak ada gejala pro dormal sebelumnya (lesu, lemah, nafsu makan menurun), lesi muncul tiba-tiba dipa gi hari, adanya â Kissing effectâ atau â kissing lesionâ , kulit yang tertempel atau ter kan berubah menjadi lesi baru. Pada diagnosa jika dermatitis sudah ditegakkan ma ka pengobatannya dengan kortikosteroid topikal bukan dengan acyclovir, dan jika salah diagnosa dengan herpes maka pengobatannya dengan acyclovir mungkin lesi te rsebut tidak akan sembuh. 4. DIAGNNOSIS BANDING 1. Psoriasis : bercak bercak plak eritem dengan squama, eritema sirku mskrip dan merata. 2. Herpe zoster : sebelum terdapat gejala di kulit ada gejala sistemik ( demam, pusing, malaise), nyeri tulang, gatal, pegal-pegal. Setelah itu timbut er itema kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar eritem dan edema. 3. Dermatitis numularis: vesikel, plak berbentuk coin, erima, sedikit edema dan berbatas tegas. Lama kelamaan vesikel pecah menjadi krusta. 5. TERAPI a. Medikamentosa: Amsinocid 0,1% cream, salep Dexametason cream Hirdrikortison cream, salep Betametason valerat 0,1% cream Desoximetason 0,25% cream, salep b. Non medikamentosa: ï ¼ suportif; memberitahukan bahwa penyakit ini tidak berbahaya, dan dapat sembuh. ï ¼ Edukasi; sering membersihkan rumah, terutama kamar tidur, menjaga kebersihan, ji ka ada lesi/luka jangan digaruk agar tidak tambah parah. BAB IV RESEP dr.sehat selalu NO.SIP:023/SIP-1/2010/SKA JL. Maju terus NO.123 SKA. TELP: 0271-856300 R/ betametason valerat krim 0,1% no.1 Ê t.d.d ue

Pro : Ny. Tumini Umur: 50 th

Alamat : Penumping BB :-

DAFTAR PUSTAKA Djuanda, A., 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI. Siregar, RS., 2004. Saripati Penyakit Kulit ed.2. Jakarta EGC. Graham, R, Tony burns., 2005. Lecture Notes Dermatologi ed.8. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful