BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih di dalam kandungan. Untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas dimasa yang akan datang, maka anak perlu dipersiapkan agar dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya (Narendra, 2008). Tumbuh kembang dikatakan terlambat jika seorang anak tidak mencapai tahap pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan pada umur yang semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal (Sacker,2011). Prevalensi keterlambatan di suatu populasi sangat bervariasi, studi yang dilakukan Dudley mencatat 3,3%-17% anak mengalami keterlambatan. (Dudley, 2010). Kemampuan motorik merupakan salah satu proses tumbuh kembang yang harus dilalui dalam kehidupan anak, baik motorik halus maupun motorik kasar (Kartika, 2002). Seringkali orang tua lebih terfokus pada perkembangan motorik kasar saja, padahal perkembangan motorik kasar merupakan indikator yang tidak sensitif dalam hal kemampuan mental keseluruhan (Alpers, 2006).

Sedangkan dari jurnal penelitian Indonesia yang diambil dari dua rumah sakit di Jakarta menyebutkan bahwa 11. dalam hal ini memerlukan pengetahuan yang baik dari orang tua khususnya ibu. sesuai dengan tahapan umur. Semakin erat dan semakin sering faktor di lingkungan tersebut berinteraksi dengan anak. (Handal. maka faktor tersebut semakin besar peranannya dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak (Widyastuti. ayah. 2005). Masa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan. 2007). Pengasuhan yang baik merupakan pengasuhan yang bertanggung jawab. . maka masa balita disebut sebagai “masa keemasan”(golden period). Kebutuhan-kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak terutama dicukupi oleh ibu.1% anak mengalami keterlambatan motorik halus. Upaya mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut dilakukan melalui interaksi yang adekuat. anggota keluarga serta lingkungan sekitar. tercatat 28. terus menerus. Sebagian besar pertumbuhan otak bayi terjadi setelah lahir dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk stimulasi.Penelitian yang dilakukan di Equador pada anak 48-61 bulan tahun 2003-2004. serta pengasuhan orang tua. “jendela kesempatan” (window of opportunity) dan “masa kritis” (critical period) (Departemen Kesehatan RI. (Narendra.3% anak mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus (Widyastuti. 2008). 2005). 2006).

494 orang (Dinas Kesehatan Kota Surakarta. sekitar 64. Dari hasil penelitian di daerah kumuh di Kelurahan Pulogadung Jakarta ditemukan bahwa pengetahuan ibu tentang stimulasi bagi perkembangan anak masih sangat kurang. 2003). 1.1 Tujuan Umum 1. Untuk penduduk yang menamatkan tingkat SLTP adalah sebanyak 15.3.2 Perumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas dapat disimpulkan satu pertanyaan pada penelitian ini. 2009). 2010).3. sedangkan untuk tamatan SD adalah 15. yaitu: “Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap tumbuh kembang batita usia 0-12 bulan?’ 1.2 Tujuan Khusus .450 orang yang menyelesaikan pendidikan tingkat SLTA. Latar belakang pendidikan seseorang berhubungan dengan tingkat pengetahuan (Wawan.3% berpengetahuan rendah (Hariweni. Dari data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan kota Surakarta.Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya suatu tindakan.3 Tujuan Penelitian 1.985 orang. di Kecamatan Laweyan tahun 2009 terdapat sebanyak 24. Di Indonesia seperti juga kemungkinan besar di negara-negara yang sedang berkembang lainnya masih banyak ditemukan praktik pengasuhan balita yang kurang kaya stimulasi mental dini.

1.4.4 Manfaat Penelitian 1. Medan Hubungan pengetahuan ibu tentang gizi dengan perkembangan kognitif Kaarthini Arjunam 2011 USU Redha Cipta Utama 2010 UMS balita usia 24-59 bulan di Posyandu abadi desa gonilan kecamatan kartasura Kabupaten sukoharjo .1 Manfaat Teoritis Judul Skripsi Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang anak dengan perkembangan motorik Penulis Sukesih Tahun 2008 Asal UNIMUS kasar pada balita di desa Parean Girang Pengaruh pola tidur terhadap tinggi badan anak yang berumur 15 hingga 18 tahun di SMA Raksana.

memiliki perkembangan anak abnormal (28.4%).4%). yang 18 . yang 15 sebesar 70 Seluruh ibu Penelitian yang mempunyai balita sebanyak 200 menggunakan metode penelitian deskriptif (52. perkembangan anak yang normal 55 (78.6%).No 1 Judul Hubungan pengetahuan tentang kembang dengan perkembangan motorik kasar pada balita di desa Parean Girang Peneliti tingkat Sukesih ibu tumbuh anak Tahun 2008 Populasi Metode Hasil ini Sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan tidak baik orang memiliki perkembangan anak abnormal (21. orang analitik dan sampel dengan yang diambil adalah sebanyak 133 pendekatan cross sectional sedangkan ibu yang mempunyai pengetahuan baik sebesar 63 orang (47.6%).6%).

undip.pediatrik.pdf .com/pkb/061022022956-57x6138.perkembangan anak yang normal 45 (71.4%) 2 Pengaruh pola tidur Kaarthini 2011 terhadap badan anak tinggi Arjunam yang berumur 15 hingga 18 tahun di SMA Raksana.pdf http://eprints.ac. Medan 3 Hubungan pengetahuan Redha ibu Cipta 2010 tentang gizi dengan Utama perkembangan kognitif balita usia 24-59 bulan di Posyandu abadi desa gonilan kecamatan kartasura Kabupaten sukoharjo http://www.id/260/1/satoto.

fik.4 Hubungan pengetahuan ibu dengan pertumbuhan anak usia 0-3 tahun 2.pdf 2.ui.5 Hubungan sikap ibu denga pertumbuhan anak usia 0-3 tahun .id/pkko/files/Reni%20Ilmiasih.ac.http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful