You are on page 1of 2

Dialog Antar Agama Oleh: Bari Muchtar, 5 Desember 2002 Serial dialog antar agama Yahudi, Kristen dan

Islam di Belanda.

Seorang pendeta diaken Gereja Protestan Belanda, di kota Zwolle, Belanda Timur Laut sudah sepuluh tahun menyelenggarakan pertemuan dialog antara pemeluk agama Yahudi, Kristen dan Islam. Pendeta Egbert van Veldhuizen namanya. Dalam jilid 1 serial dialog antar tiga agama Abraham (Ibrahim) ini Anda kami ajak berkenalan dengan pendeta yang penuh dedikasi. Apa motivasi dan pengalamannya menyelenggarakan dialog antara pemeluk agama Yahudi, Kristen dan Islam ini. Motivasi dari pendidikan Kristen Menurut pendeta Hervormde Kerk ini motivasinya berkaitan dengan pendidikan Kristen. Dia tertarik untuk mempelajari motivasi perbuatan manusia. "Kenapa ia melakukan sesuatu dan kenapa ia tidak melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan", katanya. Setelah menjalani studi di bidang zending (penginjilan) , anak pendeta yang lulusan studi teologi ini menekuni masalah dunia ketiga. Usai studinya ia bertugas di Gana, Afrika Barat. Bekalnya ditambah dengan studi sosiologi non Barat. Bersama istrinya dia belajar bahasa suku Kusasi. Dengan mengenal bahasa mereka, Ebert dan istrinya diterima oleh suku Kusasi. Mereka dianggap sebagai bagian dari suku itu. Pengalaman di kawasan Sahel mengubah sikap Pengalaman yang paling mengesankan pasangan suami istri Van Veldhuizen ini adalah ketika terjadi kelaparan di kawasan Sahel (Sahara Afrika). Di sana mereka dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana orang menderita kelaparan. "Ketika saya mau pergi kerja dan mau membuka pintu, pintu tidak bisa terbuka. Terus saya dorong pintu berkali-kali. Akhirnya pintu terbuka dengan susah payah. Ternyata ada mayat tergeletak di depan pintu", cerita pendeta Van Veldhuizen. Pengalaman ini mengubah sikapnya terhadap kehidupan Barat. Tak bakal damai tanpa perdamaian antar agama Setelah pulang ke Belanda Van Veldhuizen mulai mempertanyakan gereja sebagai intsitusi. "Saya pun mulai tertarik dengan agama Yahudi sebagai akar dari agama Kristen dan Islam", tandas Van Veldhuizen. Setelah itu Van Veldhuizen bertugas di kawasan pinggir kota Amsterdam, Bijlmermeer, yang dihuni banyak penduduk imigran. Di sanalah sekitar sepuluh tahun lalu ia mendirikan kelompok dialog antara umat Yahudi, Kristen dan Islam. Van Veldhuizen mengaku simpati dengan pendapat professor Kun yang mengatakan bahwa dunia tidak bakal damai tanpa perdamaian antar agama.

Jangan mau menang sendiri Peristiwa serangan World Trade Center di New York pada 11 September 2001 menambah motivasi untuk meneruskan dialog antar agama. Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya kebencian antara sesama manusia. Oleh karena itu manusia perlu saling mengenal. Entah apa itu agamanya, atau malah tidak beragama sama sekali. Semua manusia harus saling mengenal sehingga hilanglah permusuhan. Syarat terpenting dalam dialog ini adalah bahwa kita jangan mau menang sendiri. "Kalau sudah demikian, maka dialog sudah mati sebelum dimulai," tegas Van Veldhuizen. Ajaran Yesus juga ditemukan dalam ajaran Yahudi & Islam Sebagai seorang pemeluk agama Kristen pendeta Van Veldhuizen mengadakan dialog antar agama ini karena didorong oleh ucapan Yesus tentang biji gandum. Yesus mengatakan bahwa kalau biji gandum mati, maka tidak bakal berbuah. "Bagi saya ini berarti bahwa kalau saya mau berbuah, maka ada bagian dari diri saya yang harus mati," tegasnya. Di dalam Al Kitab disebutkan: "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, dia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan hidup, dia akan mendapatkannya untuk selama-lamanya." Ajaran Yesus tetap hidup karena dia mengorbankan nyawanya demi cintanya kepada manusia. Inilah inti ajaran Yesus yang juga ditemukan di dalam ajaran Yahudi dan Islam. "Hampir semua surat dalam Al Quran diaawali dengan 'Bismilhahirrahmanirrahim," tandas pendeta van Veldhuizen. Mengkritik Bush Pendeta yang sangat toleran ini juga menyinggung konflik yang pernah terjadi di Maluku. Menurutnya apa yang pernah terjadi di Maluku itu sebenarnya perang saudara. Orang yang mempunyai nama keluarga yang sama justru bertikai karena berbeda agama. Namun dia juga sadar bahwa konflik di Maluku itu tentu saja disulut oleh faktor-faktor lain. Van Veldhuizen juga mengkritik presiden Amerika Serikat George W. Bush yang menyebut negara-negara seperti Irak dan Iran sebagai poros setan. "Ucapan itu sangat tidak bernuansa. Dia sembarangan mengecap orang begitu saja. Padahal belum pernah diadakan dialog yang baik," tegas sang pendeta. Ramalan yang belum terjadi Memang tidak mudah menyelenggarakan dialog yang baik. Namun kalau memang mau pasti bisa. Van Veldhuizen mengusulkan sebaiknya dana untuk mengirim tentara ke Timur Tengah itu digunakan saja untuk mengembangkan program dialog antar agama, pendidikan dan lain-lain saja. "Inilah yang menjadi visioner saya yang mengatakan bahwa kita tidak melakukan perang lagi dan pedang diubah menjadi pisau pemangkas rumput. Memang ini suatu ramalan kenabian yang belum terjadi. Tapi ini tertera di kitabkitab suci," tegas Van Veldhuizlen. (05/12/2002) Cuplikan dari acara Fokus Akhir Pekan yang sudah disiarkan pada 02/11/02.